cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jstni_batan@batan.go.id
Editorial Address
PSTNT BATAN Bandung Jalan Tamansari 71
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology)
Focus of Publication in Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology : Result of experiment in the field of nuclear science and technology and its applications in various fields. Acceptable topics include: Radioisotope, Radiopharmacy, Nuclear Medicine, Nuclear Radiation and its Measurement, Nuclear Physics and Reactors, Nuclear Instrumentation and Radioactive Waste including its applications in the fields of health, biology, industry, agriculture, metallurgy and environment
Articles 280 Documents
ANALISIS KONSEP CANDU ADVANCED PASSIVE MODERATOR PADA OPERASI NORMAL MENGGUNAKAN CATHENA. CANDU Sudjatmi K Alfa
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 2, No 1 (2001): Februari 2001
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2001.2.1.1671

Abstract

ANALISIS KONSEP CANDU ADVANCED PASSIVE MODERATORPADA OPERASI NORMAL MENGGUNAKAN CATHENA. CANDU – advanced passive moderator (APM) mempunyai konsep, bahwa reaktivitas positif fraksi hampa dihilangkan dengan jalan mengurangi densitas moderator. Secara sederhana model CANDU APM terdiri dari kalandria, penukar kalor, pompa, dan tangki stabilizer, yang seluruhnya dihubungkan dengan sistem pemipaan. Kalandria dibagi atas 2 bagian, dimana bagian pertama mensimulasikan daerah air yang turun, sedangkan bagian yang lain mensimulasikan daerah air yang naik. Untuk mendemonstrasikan perlakuan termohidraulika konsep CANDU APM, digunakan perangkat lunak Canadian algorithm for thermalhydraulic network analysis (CATHENA). Telah dibuat simulasi dengan kondisi batas tekanan 300, 330, 360 kPa dan kondisi batas laju aliran air pendingin 2000 dan 3000 kg/s. Hasil awal memperlihatkan bahwa terjadi pendidihan dalam teras reaktor, sedangkan di penukar kalor terjadi kondensasi. Perlu dicatat bahwa hasil tidak mencapai keadaan tunak bila terjadi pendidihan. 
PENGARUH KONDISI IRADIASI MoO3 DAN PROSES PREPARASI TERHADAP KUALITAS LARUTAN 9”Tc-PERTEKNETAT. Misyetti D; Nanny Kartini
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 4, No 3 (2003): Agustus Edisi Khusus 3 2003
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2003.4.3.1708

Abstract

PENGARUH KONDISI IRADIASI MoO3 DAN PROSES PREPARASI TERHADAP KUALITAS LARUTAN 99mTc-PERTEKNETAT. Teknesium-99m adalah radio nuklida yang paling banyak digunakan sebagai penanda radiofarmaka untuk tujuan diagnosis. Radionukiida 99mTc dlisiapkan dalam bentuk larutan natrium perteknetat (Na99mTcO4) dalam NaCl fisiologis. Teknesiuin-99m yang merupakan anak luruh dan 99Mo, dipisahkan dan radio nuklida induknya dengan metode ekstraks, menggunakan larutan pengekstrak metiletilketon. Proses ekstraksi ¡ni dilakukan setelah MoO3 diubah kedalam bentuk garam molibdat (Na299MoO4).Syarat dan larutan Na99mTcO4 yang boleh digunakan untuk tujuan medis antara lain: tidak bewarna/bening, jernih tanpa mengandung partikel atau koloid, kemurnian radiokimia> 95 %, kandungan Mo < 100 ppm, pH antara 4,5 - 75. Kadang-kadang persyaratan ini tidak dapat terpenuhi semua seperti terbentuknya larutan perteknetat yang bewarna kuning, sehingga tidak lolos dan pemeriksaan kualitas. Percobaan iradiasi MoO3 pada fasilitas centre thimble (CT) pada posisi 18 dan 13,5 inci dan botom grid (lempeng bawah) ke top grid (lempeng atas) tidak menimbulkan perbedaan pada kemurnian radio kimia dan radio nuklida larutan teknesium yang dihasilkan. Dan data MCA keluar puncak energi spesifik Teknesium-99m 140,6 keV dan dari kromatografi kertas maupun KLT diperoleh kemurnian radiokimia 99mTc > 99 %. Larutan 99mTc kadang-kadang diperoleh bewarna kuning, bersumber dan dua macam sebab yaitu karena kondisi pada saat iradiasi MoO3 sehingga terjadi reaksi kimia dan kondisi pada saat preparasi larutan 99mTc O4 Metiletilketon (MEK) adalah penyebab utama terjadinya warna kuning yang dipicu dengan pemanasan dan adanya NaCl. Percobaan penggunaan larutan perteknetat yang bewarna kuning ini untuk penandaan radiofarmaka menghasilkan efisiensi penandaan yang sangat bervariasi. Dalam penelitian ini ditelusuri penyebab dan penyimpangan kualitas ini mulai dan kondisi radiasi dalam reaktor sampai pada proses preparasi Na99mTc04. 
CHARACTERISTICS OF ZrO2 ADDED-MgAl2O4 CERAMICS FOR MATRIX OF INERT MATRIX NUCLEAR FUEL (IMF) Dani Gustaman Syarif; Sylvia Hildayanti Hildayanti; R Henny Mulyani; Syoni Soepriyanto Soepriyanto
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 12, No 1 (2011): Februari 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2011.12.1.335

Abstract

CHARACTERISTICS OF ZrO2 ADDED-MgAl2O4 CERAMICS FOR MATRIX OF INERTMATRIX NUCLEAR FUEL (IMF). Some ZrO2 added-MgAl2O4 ceramics for inert matrix of inertmatrix nuclear fuel (IMF) had been fabricated from powders prepared using precipitationmethod. Effect of ZrO2 addition on crystal structure, microstructure and mechanical properties ofthe ZrO2 added-MgAl2O4 ceramics was studied. The ceramics were prepared by mixing ZrO2,MgO and Al2O3 followed by pressing and sintering. The concentrations of ZrO2 additive were 0,5, 10 and 15 mole %. The mixed powder was pressed into green pellets with pressure of4 ton/cm2. The green pellets were sintered at 1600 oC for 2 hours in air. The sintered pelletswere evaluated visually. For microstructure examination, the fractured samples were examinedusing a scanning electron microscope (SEM). Crystal structure of the samples was analyzedusing x-ray diffraction (XRD). Hardness and fracture toughness of the sintered pellets weredetermined using microindentation method with aid of a Vickers microhardness tester fromZwick. It was known that the sintered pellets were visually good. The XRD data showed that theceramics crystallized in spinel cubic with second phase of ZrO2.. The hardness and fracturetoughness of the ceramics increased with the increase of ZrO2 concentration.
PENGEMBANGAN PREPARASI RADIOFARMAKA 186RE(v) - DMSA Azmairit Azis; Iswandi Idris
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 5, No 2 (2004): Agustus 2004
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2004.5.2.2135

Abstract

PENGEMBANGAN PREPARASI RADIOFARMAKA 186Re(V)-DMSA. Dalam bidang kedokteran nuklir, senyawa 186Re(V)-DMSA merupakan radiofarmaka yang banyak digunakan untuk terapi kanker tiroid medular. Senyawa tersebut telah berhasil disintesis melalui penandaan ligan DMSA dengan radioisotop 186Re menggunakan reduktor SnCI2.2H2O. Senyawa tersebut kurang stabil (hanya stabil selama 3 hari pada temperatur kamar) dan terakumulasi lebih tinggi pada ginjal dibanding organ tiroid tikus putih normal, karena dengan menggunakan reduktor SnCI2.2H2O terbentuk campuran kompleks l86Re(V)-Sn(II)-DMSA secara in vivo di dalam darah dan cenderung terakumulasi pada ginjal. Pada penelitian ini dilakukan pengembangan preparasi radiofarmaka 186Re(V)-DMSA tersebut agar diperoleh sediaan yang lebih stabil dengan kemurnian radiokimia yang lebih tinggi dan dapat terakumulasi pada organ tiroid. Penelitian dilakukan dengan menggunakan larutan perenat (186ReO4-) yang  berasal dari hasil iradiasi logam renium, sedang pada penelitian sebelumnya menggunakan larutan perenat yang berasal dari hasil iradiasi amonium perenat. Telah dilakukan pengembangan preparasi radiofarmaka 186Re(V)-DMSA dengan menggunakan reduktor natrium metabisulfit (Na2S2O5) sebagai pengganti SnCI2.2H2O karena reduktor tersebut dapat juga berfungsi sebagai blocking agent untuk mengurangi akumulasi 186Re(V)-DMSA pada ginjal. Disamping itu, dilakukan juga penambahan asam askorbat (Vit.C) untuk menghindari terjadinya autoradiolisis dan meningkatkan kestabilan 186Re(V)-DMSA. Kondisi optimum reaksi diperoleh pada pH 1 dengan jumlah DMSA, Na2S2O5 dan asam askorbat masing-masing sebanyak 10, 30 dan 2 mg, waktu inkubasi selama 60 menit pada temperatur 70°C. Kompleks yang terbentuk diatur sampai pH 8 dengan penambahan larutan NaOH 1N yang memberikan efisiensi penandaan maksimum sebesar 98,75 ± 0,73%. Uji stabilitas radiofarmaka 186Re(V)-DMSA terhadap waktu penyimpanan menunjukan, bahwa setelah disimpan selama 8 hari pada temperatur kamar, senyawa tersebut masih stabil dengan tingkat kemurnian radiokimia di atas 95% (96,90 ± 0,40%).
FORMULASI KIT HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA)-NANOSFER SEBAGAI RADIOFARMAKA UNTUK STUDI LIMFOSINTIGRAFI DI KEDOKTERAN NUKLIR Eva Maria Widyasari; Nanny Kartini Oekar
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 13, No 1 (2012): Februari 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2012.13.1.935

Abstract

ABSTRAKFORMULASI KIT HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA)-NANOSFER SEBAGAIRADIOFARMAKA UNTUK STUDI LIMFOSINTIGRAFI DI KEDOKTERAN NUKLIR. Untukkeperluan limfosintigrafi, formula kit HSA-nanosfer dirancang sedemikian sehingga setelahditandai dengan 99mTc menghasilkan radiofarmaka 99mTc-HSA-nanosfer dengan kemurnianradiokimia >90%. Jumlah SnCl2.2H2O sebagai reduktor, Na-pirofosfat sebagai ko-ligan, danHSA-nanosfer yang optimum, beserta cara dan waktu inkubasi, kondisi penandaan, danmetode sterilisasi dipelajari dan dievaluasi sehingga dapat digunakan untuk membuat kit HSAnanosferkering dan stabil selama penyimpanan. Pengaruh umur partikel HSA-nanosferterhadap efisiensi penandaan juga diteliti. Hasil menunjukkan bahwa SnCl2.2H2O sebanyak 250μg yang telah direaksikan dengan 1,875 mg natrium pirofosfat, merupakan jumlah yang ideal.Jumlah optimal partikel HSA-nanosfer terdispersi dalam air adalah 25-50 μL, dan volumesediaan diatur kurang dari 225 μL. Campuran diinkubasi pada 37 oC selama 15 menit dalamkeadaan vakum atau tidak vakum, kemudian ditambah larutan 99mTc-perteknetat dan diinkubasipada suhu kamar selama 15 menit. Volume akhir 99mTc-HSA-nanosfer sebanyak 525 μLmenghasilkan efisiensi penandaan lebih tinggi dari pada volume akhir 2 mL. Umur partikel HSAnanosferyang disimpan pada temperatur 4 oC sampai 2 bulan tidak berpengaruh nyataterhadap hasil penandaan. Metode sterilisasi yang sesuai untuk pembuatan kit ini adalahpenyaringan menggunakan millipore steril dengan ukuran pori 0,22 μm untuk masing-masinglarutan komponen kit sebelum proses pencampuran.Kata kunci: limfosintigrafi, HSA-nanosfer, 99mTc, kit-radiofarmakaABSTRACTFORMULATION OF HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA)-NANOSPHERES KIT ASRADIOPHARMACEUTICAL FOR LYMPHOSCINTIGRAPHY STUDY IN NUCLEARMEDICINE. In order to the application in lymphoscintigraphy, the HSA-nanospheres kit hasbeen designed and formulated to have radiochemical purity more than 90 % after it was labeledwith 99mTc. Total amount of SnCl2.2H2O as reducing agent, sodium pyrophosphate as coligandand HSA-nanospheres as primary ligand, as well as the labeling condition andsterilization method were studied and evaluated. The influence of the storage time of HSAnanosphereswas also studied. The use of 250 μg SnCl2.2H2O have been reacted with 1.875mg of sodium pyrophosphate was found to be an ideal number. The optimal amount of thewater-dispersed HSA-nanospheres was 25 - 50 μL and the total solution volume was set lessthan 225 μL. This mixture was incubated at 37 oC for 15 minutes in a vacuum or not and afterthe labeling process with 99mTc, it was incubated at room temperature for 15 minutes. The99mTc-HSA-nanopheres final volume of 525 μL gives a higher labeling efficiency than the finalvolume of 2 mL. The age of HSA-nanospheres stored at 4 oC did not significantly influence thelabeling results. The sterilization method suitable for this kit making is sterile filtration by amillipore of 0.22 μm pore size for each kit component solution before mixing process.Keywords: lymphoscintigraphy, HSA-nanospheres, 99mTc, radiopharmaceutical kit
ANALISIS UNSUR Cu DAN Zn DALAM RAMBUT MANUSIA DENGAN SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM (SSA) Achmad Hidayat; Muhayatun .; Dadang Supriatna
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 9, No 2 (2008): Agustus 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2008.9.2.2171

Abstract

ANALISIS UNSUR Cu DAN Zn DALAM RAMBUT MANUSIA DENGANSPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM. Jenis dan konsentrasi unsur-unsur dalam rambutdapat merefleksikan status kesehatan seseorang dan di mana ia tinggal atau bekerja. Padakonsentrasi yang tinggi Zn dapat menjadi toksik terhadap tubuh atau menyebabkan defisiensiuntuk unsur Cu. Konsentrasi Cu yang rendah akan menyebabkan sel kekurangan oksigenakibatnya menjadi anemia. Pada penelitian ini dilakukan penentuan Cu dan Zn dalam rambutmanusia menggunakan spektrofotometri serapan atom (SSA) dengan metode nyala. Hasilanalisis terhadap 27 sampel rambut remaja kota Bandung usia 16 – 19 tahun menunjukkanbahwa konsentrasi geomean Cu = 15,7 ± 45 μg/g dan Zn = 201,4 ± 205 μg/g. Data Cu ini lebihrendah jika dibandingkan dengan data Cu remaja Nigeria (117,4 μg/g), sedangkan dua data Cuyang menyebabkan simpangan baku tinggi (45 μg/g) yaitu sampel nomor 13 (110 μg/g) dansampel nomor 18 (218 μg/g) mungkin berasal dari sumber pencemar di sekitar tempat tinggalremaja tersebut. Hampir sama dengan data Cu, simpangan baku data Zn juga tinggi (205μg/g).Hal ini disebabkan oleh data sampel nomor 6 (657 μg/g), sampel nomor 7 (356 μg/g), sampelnomor 9 (1058 μg/g), sampel nomor 21 (460 μg/g), dan sampel nomor 27(436μg/g). Jika datageomean Zn yang diperoleh (201,4 μg/g) dibandingkan dengan geomean orang Nigeria ( 125,9μg/g ), maka konsentrasi Zn anak remaja Bandung lebih tinggi. Konsentrasi Zn yang tinggi inimungkin merupakan karakteristik pada anak remaja Bandung atau Indonesia, akan tetapi halini masih memerlukan penelitian lanjutan.
KARAKTERISASI VARISTOR ZnO-Bi203-CuO Dani Gustaman Syarif; Bambang Ariwahjoedi; Saeful Hidayat; M Yamin
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 4, No 2 (2003): Agustus Edisi Khusus 2 2003
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2003.4.2.1697

Abstract

KARAKTERISASI VARISTOR ZnO-Bi203-CuO. Untuk mengetahui peran CuO dalam pembentukan varistor, pembuatan dan karakterisasi varistor ZnO-Bi2O3-CuO telah dilakukan. Dalam studi ini dilakukan penyinteran pelet ZnO-0,8% mol Bi203 yang ditambahi 0,5; 1 dan 2 % mol CuO pada suhu 1100°C selama 1 jam. Pelet sinter dianalisis memakai metode metalografi dan difraksi sinar-x. Karakteristik listrik dan pelet tersebut juga dievaluasi. Penambahan CuO menaikkan tegangan patah dan memperbesar arus bocor varistor ZnO-Bi203, tetapi tidak meningkatkan faktor kenon-linearannya. Dengan konsentrasi CuO 0,5-2 % mol, harga faktor kenon-linearan yang didapat masih lebih kecil dari pada harga faktor kenon-linearan untuk varistor ZnO Bi203 dan masih lebih kecil dari pada faktor kenon-linearan untuk kebutuhan pasar (lebih besar 20), karena penambahan CuO tidak dapat membentuk jebakan elektron dalam. Hasil analisis metalografi dan difraksi sinar-x memperlihatkan bahwa pada struktur mikro varistor ZnO-Bi203-CuO, lapisan batas butir dibentuk oleh ZnO.24Bi2O3 dan butirnya dibentuk oleh larutan padat ZnO-CuO
Safety Evaluation of the Ethyl Acetate Extract on Irradiated Tea Parasite: Acute Toxicity Study on Mice Hendig Winarno
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 12, No 2 (2011): Agustus 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2011.12.2.5

Abstract

Many studies of the pharmacological efficacy of tea parasite and the use of ionizing radiation for decontamination of microbes and extending shelf life have been reported, but there is no information on its safety, such as the acute toxicity. In this study, the acute toxicity of two ethyl acetate extracts from unirradiated and irradiated (irradiation dose of 10 kGy) tea parasites Scurrula atropurpurea on Swiss Webster mice have been examined. The observation was done after the treatment of a single oral dose of ethyl acetate extract in various dose groups, i.e.: control (0 g/kg of mice body weight), D1 (0.625 g/kg), D2 (1.25 g/kg), D3 (2.5 g/kg) D4 (5 g/kg), D5 (10 g/kg) by observing the effect on behavioral response (pharmacological profile), the body weight gains and mortality until the day 14 th . At the last day, the observation of vital organs has also been done. The result showed thatno acute toxicity was found in mice treated with a single oral dose of ethyl acetate extract from unirradiated tea parasite and irradiated tea parasite at the dose of 10 kGy. At the dose up to 10 g/kg (equivalent to 77.6 g of extract which administered to human), the normal body weight gains were observed in mice of all dose groups, no mice deaths in any of the dose groups, and no significant change (p > 0.05) in organ weights relative to the body weight i.e.: liver, spleen, kidneys, lung, heart, testes and seminal vesicle (for male), and ovaries and uterus (for female). The approximate lethal doses for male and female mice were determined to be higher than 10 g/kg of mice body weight. It is suggested that the treatment of ethyl acetate extract from unirradiated and irradiated tea parasites until dose up to 10 g/kg of mice body weight was stillsafe.
PENGARUH SUHU SINTER DAN ADITIF CoO TERHADAP KARAKTERISTIK KERAMIK Sn02-CoO Dani Gustaman Syarif; Engkir Sukirman; Zumrotul M
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 3, No 2 (2002): Agustus 2002
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2002.3.2.2124

Abstract

PENGARUH SUHU SINTER DAN ADITIF CoO TERHADAP KARAKTERISTIK KERAMIK Sn02-CoO. Pengaruh aditif CoO dan suhu sinter terhadap karakteristik keramik SnO2-CoO telah dipelajari melalul percobaan. Percobaan dilakukan dengan menambahkan CoO ke dalam SnO2 dengan konsentrasi 1-5 persen mol dan menyinternya pada suhu 1300°C dan 1500°C selama 2 jam di dalam atmosfer udara. Hasil analisis memperlihatkan bahwa rapat masa SnO2 naik secara drastis dengan panambahan CoO hingga 1 persen mol, namun, penambahan selanjutnya tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rapat masa. Perbedaan rapat masa paduan SnO2-CoO karena perbedaan suhu sinter juga tidak terlihat. Tetapi pengaruh suhu penyinteran yang signifikan sangat nampak pada struktur mikrokeramik SnO2-CoO. Butir-butir menjadi jauh lebih besar dengan peningkatan suhu dan 1300°C ke 1500°C. Data karakteristik E-J memperlihatkan bahwa penambahan CoO berpengaruh terhadap konduktifitas listrik. Konduktifitas listrik pelet keramik Sn02-CoO lebih besar dibanding dengan konduktifitas listrik Sn02 murni. namun peningkatan suhu sinter menurunkan konduktifitas listrik.  
SIFAT MAGNETORESISTANCE BAHAN KOMPOSIT Fe0,2C0,8 SEBELUM DAN SESUDAH IRADIASI SINAR GAMMA PADA DOSIS 250 kGy Yunasfi .; Setyo Purwanto; Wisnu A A
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia (Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology) Vol 10, No 1 (2009): Februari 2009
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2009.10.1.659

Abstract

Telah dilakukan penelitianterhadap sifat magnetoresistance bahan komposit Fe0,2C0,8 sebelum dan sesudah iradiasidengan sinar gamma pada dosis 250 kGy. Bahan komposit Fe0,2C0,8 dibuat dari campuranserbuk Fe dan serbuk C, dengan rasio komposisi 20% berat Fe dan 80% berat C. Padapenelitian ini, diamati perubahan sifat magnetoresistance bahan komposit Fe0,2C0,8 setelahdiiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 250 kGy. Pengujian struktur Fe0,2C0,8 dilakukandengan difraktometer sinar-X (XRD) dan karakterisasi sifat magnetoresistance dilakukandengan metode Four Point Probe. Hasil pengujian dengan XRD menunjukkan penurunanintensitas puncak difraksi dari fasa Fe dan C oleh radiasi sinar gamma, sedangkan hasilpengukuran magnetoresistance menunjukkan peningkatan nilai magnetoresistance bahantersebut. Peningkatan nilai ini mencapai 5 kali pada medan magnet 7,5 kOe setelah diiradiasidengan sinar gamma. Hal ini disebabkan oleh adanya cacat struktur yang terbentuk dalambahan komposit Fe0,2C0,8 akibat interaksi sinar gamma dengan bahan komposit tersebut yangmenimbulkan perubahan intensitas interaksi magnetik di dalam bahan ini.

Filter by Year

2000 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 2 (2023): August 2023 Vol 24, No 1 (2023): February 2023 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): February 2022 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): February 2021 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): Februari 2016 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 15, No 2 (2014): Agustus 2014 Vol 15, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 14, No 2 (2013): Agustus 2013 Vol 14, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 13, No 2 (2012): Agustus 2012 Vol 13, No 1 (2012): Februari 2012 Vol 12, No 2 (2011): Agustus 2011 Vol 12, No 1 (2011): Februari 2011 Vol 11, No 2 (2010): Agustus 2010 Vol 11, No 1 (2010): Februari 2010 Vol 10, No 2 (2009): Agustus 2009 Vol 10, No 1 (2009): Februari 2009 Vol 9, No 2 (2008): Agustus 2008 Vol 9, No 1 (2008): Februari 2008 Vol 8, No 2 (2007): Agustus 2007 Vol 8, No 1 (2007): Februari 2007 Vol 7, No 2 (2006): Agustus 2006 Vol 7, No 1 (2006): Februari 2006 Vol 6, No 2 (2005): Agustus 2005 Vol 6, No 1 (2005): Februari 2005 Vol 5, No 2 (2004): Agustus 2004 Vol 5, No 1 (2004): Februari 2004 Vol 4, No 4 (2003): Agustus Edisi Khusus 4 2003 Vol 4, No 3 (2003): Agustus Edisi Khusus 3 2003 Vol 4, No 2 (2003): Agustus Edisi Khusus 2 2003 Vol 4, No 1 (2003): Agustus Edisi Khusus 1 2003 Vol 4, No 1 (2003): Februari 2003 Vol 3, No 2 (2002): Agustus 2002 Vol 3, No 1 (2002): Februari 2002 Vol 2, No 2 (2001): Agustus 2001 Vol 2, No 1 (2001): Februari 2001 Vol 1, No 2 (2000): Agustus 2000 Vol 1, No 1 (2000): Februari 2000 More Issue