cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI INDONESIA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 16 No. 3 (2014)" : 5 Documents clear
Bencana Kabut Asap Akibat Kebakaran Hutan Dan Lahan Serta Pengaruhnya Terhadap Kualitas Udara Di Provinsi Riau Februari – Maret 2014 Mulyana, Erwin
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 16 No. 3 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1068.531 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v16i3.3417

Abstract

Analysis of land and forest fire has been conducted in relation with smoke haze disaster in Riau province during February and March 2014. Daily hotspot data from NOAA 18 and daily ISPU (Standard Air Pollutant Index) data of the ministry of environment are used in this study. Air quality has been categorized as dangerous for several days with ISPU exceeding 500. The number of hotspot indicating the forest fire reaches 2543, with 1319 hotspots detected in February 2014 and 1224 hotspots in March 2014. The highest number of hotspot is occurred on February 11 with 243 hotspots, while 171 hotspots are detected on March 27.The hotspot distribution is concentrated in Bengkalis with the number of 650 which is 25.6% of total hotspots in Riau Province, followed by Pelalawan with 350 hotspots (13.8%), Siak with 311 hotspots (12.2%), Indragiri Hilir with 309 hotspots (12.2%), Rokan Hilir with 286 hotspots (11.2%), Meranti with 232 hotspots (9.1%), and Dumai with 220 hotspots (8.7%).Telah dilakukan analisis kebakaran hutan dan lahan terhadap bencana kabut asap di Provinsi Riau pada bulan Februari dan Maret 2014. Data harian hotspot dari NOAA 18 dan data harian ISPU dari Kementerian Lingkungan Hidup digunakan dalam penelitian ini. Kualitas udara dalam beberapa hari sempat masuk kategori Berbahaya dengan nilai ISPU >500. Jumlah hotspot yang menunjukkan adanya kebakaran hutan dan lahan mencapai 2.543 titik Bulan Februari 2014 terdapat 1.319 titik hotspot sedangkan bulan Maret 2014 terdapat 1.224 titik hotspot. Jumlah hotspot terbanyak pada bulan Februari 2014 terjadi pada tanggal 11 Februari (243 titik) sedangkan pada bulan Maret 2014 terjadi pada tanggal 27 Maret (171 titik). Sebaran titik panas terkonsentrasi di Kabupaten Bengkalis sebanyak 650 titik atau 25,6 % dari total hotspot yang ada di Provinsi Riau. Jumlah terbanyak berikutnya adalah Kabupaten Pelalawan 350 titik (13,8 %), Kabupaten Siak 311 titik (12,2 %), Kabupaten Indragiri Hilir 309 titik (12,2 %), Kabupaten Rokan Hilir 286 titik (11,2 %), Kabupaten Meranti 232 titik (9,1 %), dan Dumai 220 titik (8,7 %).Keywords: Smoke haze, air quality, hotspot, land and forest fire.
Analisis Penggunaan Dan Kesesuaian Lahan Berdasarkan Potensi Bahaya Letusan Gunung Merapi Soewandita, Hasmana; Sudiana, Nana
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 16 No. 3 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1443.284 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v16i3.3418

Abstract

Mount Merapi is a mountain that is classified as active and relatively frequent eruption frequency. The impact caused by the eruption of Mount Merapi classified terrible and the impact on the loss of property, infrastructure to fatalities. Merapi disaster-prone areas covering up areas inhabited and cultivated areas. The purpose of this activity is to provide direction and suitability of land use is associated with a disaster prone area. The method is based on the analytic descriptive field survey and analysis of maps (land use and disaster-prone areas). The analysis showed that the cultivated area is still occupied by the public is directed to land penmggunaan perennials with a combination of food crops. Plants are easy succession directed at plants that have root weevil, because these plants will quickly grow after the impact of the eruption of Merapi. Likewise perennials that have a Poster (grow) back as horticultural crops (Avocado, Lengkeng, Mahony), while the fast-growing plants sengon though but flammable.Gunung Merapi merupakan gunung yang tergolong aktif dan frekwensi erupsi tergolong sering terjadi. Dampak yang ditimbulkan akibat letusan Gunung Merapi tergolong dasyat dan berdampak terhadap kerugian harta benda, infrastruktur hingga korban jiwa. Kawasan rawan bencana Merapi meliputi hingga kawasan yang berpenghuni dan kawasan budidaya (tegalan dan kebun campuran). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan arahan penggunaan dan kesesuaian lahan dikaitkan dengan kawasan rawan bencana. Metoda yang digunakan adalah diskriptif analitik dengan berdasarkan hasil survey lapang dan analisis peta (penggunaan lahan dan kawasan rawan bencana). Hasil analisis menunjukkan bahwa kawasan budidaya yang masih diokupasi oleh masyarakat diarahkan untuk penggunaan lahan tanaman keras dengan kombinasi tanaman pangan. Tanaman yang mudah suksesi diarahkan pada tanaman yang mempunyai bonggol akar, dikarenakan tanaman ini akan cepat tumbuh setelah terjadi dampak letusan Merapi. Begitu juga tanaman keras yang mempunyai daya trubus (tumbuh) kembali seperti tanaman hortikultura (Alpukat, Lengkeng, Mahoni), sedangkan tanaman sengon meskipun cepat tumbuh akan tetapi mudah terbakar.Keywords: eruption, land use, land suitability
Analisis Longsor Cililin Dan Model Pengupayaan Kestabilan Lerengnya -, Wisyanto
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 16 No. 3 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1863.946 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v16i3.3419

Abstract

Landslides have occurred in various places in Indonesia. Likewise with West Java, there were many regions that has experienced repeated landslides. Having many experience of occurrences of landslides, we should have had a good landslide risk reduction program. Indeed, the incidence of landslides depends on many variables. Due to that condition, it may that a region would have different variable with another region. So it is impossible to generalize the implementation of a mitigation technology for all areas prone to landslides. Research of the Cililin's landslide is to anticipate the next disasters that may happen in around the area of 2013 Cililin Landslide. Through observation lithological conditions, water condition, land cover and landscape, as well as consideration of wide dimension of the building footing, the distance of building to the slopes and so forth, it has been determined some efforts of disaster risk reduction in the area around the landslide against the occurrence of potential landslide in the future.Bencana tanah longsor telah terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Demikian halnya dengan Jawa Barat, tidak sedikit daerahnya telah berulang kali mengalami longsor. Seharusnya dengan telah banyaknya kejadian longsor, kita mampu mengupayakan program penurunan risiko longsor secara baik. Memang kejadian longsor bergantung pada banyak variabel, dimana dari satu daerah dengan daerah yang lain akan sangat memungkinkan mempunyai variabel yang berbeda, sehingga tidak mungkin kita membuat generalisasi penerapan suatu teknologi mitigasinya untuk semua daerah rawan longsor. Penelitian longsor di Cililin dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya bencana di sekitar daerah Longsor Cililin 2013 yang lalu. Melalui pengamatan kondisi litologi, keairan, tutupan lahan dan bentang alam yang ada, serta pertimbangan akan dimensi luas pijakan bangunan, jarak batas bangunan dengan lereng dan lain sebagainya, telah ditentukan beberapa upaya penurunan risiko bencana di daerah sekitar longsor terhadap potensi kejadian longsor dimasa mendatang.Keywords: Landslide, risk reduction, footing of building, Cililin
Partisipasi Masyarakat Sebagai Upaya Untuk Mengurangi Risiko Bencana Tsunami Di Daerah Pantai Edyanto, CB Herman
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 16 No. 3 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.514 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v16i3.3415

Abstract

Indonesia is in a position 'ring of fire' (Ring of Fire), which means that the possibility of occurrence of disasters, particularly earthquakes is extremely high. Earth plate movements trigger earthquakes. When the epicenter was at sea, it can be expected to be a tsunami. Forecasting earthquakes can not be done, the tsunami itself occurs and is kept up preceded by an earthquake. A short time to escape, would create chaos on the location of the location where the high population concentration, thus requiring community participation in carrying out the evacuation. This study aims to introduce issues and acts as the tsunami disaster risk reduction. The participation of communities to disasters should be able to reduce the number of victims. The methodology of the discussion in this study conducted qualitatively by studying literature, which includes secondary data, observation, interviews and documentation. Results from this study are other steps undertaken in the tsunami disaster risk reduction.Indonesia berada pada posisi ̳cincin api‘ (ring of fire), yang berarti bahwa tingkatkemungkinan kejadian bencana, khususnya gempa bumi adalah sangat tinggi. Gerakan lempeng bumi memicu gempa. Bila pusat gempa berada dilaut, maka dapat diduga akan terjadinya tsunami. Peramalan bencana gempa belum dapat dilakukan, tsunami itu sendiri terjadi dan selalui didahului dengan adanya gempa. Waktu yang begitu singkat untuk penyelamatan diri, akan menciptakan kekacauan pada lokasi lokasi dimana konsentrasi penduduknya tinggi, sehingga mengharuskan adanya partisipasi masyarakat dalam melaksanakan proses evakuasi. Studi ini bertujuan untuk memperkenalkan permasalahan tsunami dan tindakan sebagai upaya pengurangan risiko bencana. Adanya partisipasi masyarakat terhadap bencana diharapkan mampu untuk menekan jumlah korban. Metodologi pembahasan dalam studi ini dilakukan secara kualitatif dengan melakukan studi literatur, yang mencakup data sekunder, observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari studi ini adalah langkah-langkah lain yang dilakukan dalam pengurangan risiko bencana tsunami.Keywords: community participation, disaster risk reduction, tsunami.
Kajian Kerentanan Gempabumi Gedung Bertingkat Dengan Bentuk Beaturan Dan Tidak Beraturan Pradono, Mulyo Harris
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 16 No. 3 (2014)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1189.466 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v16i3.3416

Abstract

Jakarta as the capital of the country has a lot of buildings. The number of multi-story buildings with a height of more than nine floors reaching more than 700 buildings. Meanwhile, Jakarta is also not free from the threat of earthquakes. According to the Ministry of Public Works, Jakarta was in zoning with moderate seismicity level. However, it does not avoid the possibility of the occurrence of large earthquakes, i.e. to the level of 2500 year earthquake. A seismic level of 500 years of occurrence probability would produce an earthquake tremor in Jakarta as large as that felt in Padang in September 2009, which is around MMI VII to VIII. Therefore, it is necessary to study the vulnerability of high-rise buildings in Jakarta in the face of the threat of earthquakes, so as to assess the level of the risk.Jakarta sebagai ibukota negara memiliki banyak sekali gedung bertingkat. Jumlah gedung bertingkat dengan ketinggian lebih dari sembilan lantai mencapai lebih dari 700 gedung. Sementara itu, Jakarta juga tidak lepas dari ancaman gempabumi. Menurut Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta berada pada zonasi dengan tingkat kegempaan sedang. Namun tidak terhindar dari kemungkinan terjadinya gempabumi besar, yaitu untuk level gempa 2500 tahun. Sedangkan gempa dengan probabilitas kejadian 500 tahun akan menghasilkan gempa tremor di Jakarta sebesar seperti yang dirasakan di Padang pada bulan September 2009, yaitu sekitar MMI VII sampai VIII. Oleh sebab itu, diperlukan kajian kerentanan gedung-gedung bertingkat di DKI Jakarta dalam menghadapi ancaman gempabumi, sehingga dapat diketahui tingkat risikonya.Keywords: multistory building, shape, vulnerability, risk, earthquake

Page 1 of 1 | Total Record : 5