cover
Contact Name
Lukman Cahyadi
Contact Email
lukman.cahyadi@esaunggul.ac.id
Phone
+6289661704102
Journal Mail Official
lukman.cahyadi@esaunggul.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul Jakarta
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Fisioterapi: Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Published by Universitas Esa Unggul
ISSN : 18584047     EISSN : 25283235     DOI : https://doi.org/10.47007/fisio.v22i2
Core Subject : Health, Science,
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi aims to spread conceptual thinking or ideas, review and the research findings obtained in the field of Physioterapy Science. This journal focuses on the issues of Physioterapy Science involving : Pediatric Neurology Musculoskeletal Cardio pulmonal Sport Geriatric
Articles 188 Documents
Latihan Jalan Tandem Lebih Baik Daripada Latihan Dengan Menggunakan Swiss Ball Terhadap Peningkatan Keseimbangan Untuk Mengurangi Resiko Jatuh Pada Lanjut Usia (LANSIA)
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 2 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v14i2.1111

Abstract

Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui latihan jalan tandem lebih baik daripada latihan dengan menggunakan Swiss ball terhadap peningkatan keseimbangan untuk mengurangi resiko jatuh pada lansia. Metode: Penelitian ini bersifat eksperimen, terdiri dari 28 orang WBS PSTW Budi Mulia 4, dipilih berdasarkan teknik simple random sampling kemudian dibagi kedalam 2 kelompok, 11 orang pada kelompok perlakuan 1 diberikan latihan jalan tandem, dan 13 orang pada kelompok perlakuan 2 diberikan latihan dengan Swiss ball. Hasil: Hasil uji normalitas dengan Shapiro-Wilk Test didapatkan data berdistribusi normal sedangkan uji homogenitas dengan menggunakan Levene’s Test didapatkan data bervarian homogen. Hasil uji hipotesis pada kelompok perlakuan 1 dengan t-Test Related didapatkan nilai p = 0,000 latihan dengan jalan tandem meningkatkan keseimbangan untuk mengurangi resiko jatuh pada lansia. Pada kelompok perlakuan 2 dengan menggunakan t-Test Related nilai p = 0,000 yang berarti latihan dengan menggunakan Swiss Ball meningkatkan keseimbangan untuk mengurangi resiko jatuh pada lansia. Pada hasil t-Test Independent menunjukkan nilai p = 0,001 yang berarti adanya peningkatan keseimbangan untuk mengurangi resiko jatuh pada lansia yang signifikan antara kelompok perlakuan 1 dan perlakuan 2. Kesimpulan: Latihan jalan tandem lebih baik daripada latihan dengan menggunakan Swiss Ball terhadap peningkatan keseimbangan untuk mengurangi resiko jatuh pada lansia. Kata kunci: jalan tandem, swiss ball, keseimbangan lansiaAbstractBackground: This study is determined that Tandem stance exercise is better than exercise with Swiss Ball to increase balance performance to reduce fall risk in older adults. Methods: An experimental methods was used with  28 independent older adults recruited from WBS PSTW Budi Mulia 4, recruited based on simple random sampling techniqueand divided into two different groups, 11 person into group 1 was ask to perform Tandem stance exercise, and 13 person into group 2 was ask to perform exercise with Swiss Ball. Results: the results of normality test with Shapiro-Wilk Test data showed normal distribution, whereas homogeneity test used Levene’s Test data showed homogeneous. The result in group 1 used t-Test Related, p = 0,000 which means tandem stance exercise increase balance performance to reduce fall risk in older adults. The results in group 2 used t-Test Related, p = 0,000 which means exercise with swill ball increase balance performance to reduce fall risk in older adults. The result used t-Test Independent showed p = 0,001 which means there is any increase balance performance to reduce fall risk in older adults that significant between group 1 and group2. Conclusion: Tandem stance exercise is better than exercise with Swiss Ball to increase balance performance to reduce fall risk in older adults.Keywords: tandem stance, swiss ball, balance in older adults
Latihan Lari Zig Zag Lebih Baik Dari Latihan Skipping Untuk Meningkat Agility pada Anak Perempuan Usia 10 – 12 Tahun
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 2 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v14i2.1110

Abstract

Latarbelakang : Agility merupakan suatu aktifitas perpindahan gerak dari satu sisi ke sisi yang lain sehingga pola gerak dapat berpindah-pindah dan dapat mempengaruhi kegiatan kita sehari-hari. Pada anak perempuan usia 10-12 tahun, agility merupakan hal yang penting karena pada masa tersebut perubahan hormonal dan metabolisme tubuh dapat mempengaruhi tingkat agility pada anak perempuan di usia 10-12 tahun. Maka dari itu diperlukan suatu tantangan bagi setiap anak untuk memenuhi segala macam kebutuhannya demi perkembangan tubuh yang ideal. Bentuk penanganan yang dilakukan untuk meningkatkan agility pada anak peremuan usia 10-12 tahun yaitu dengan menggunakan latihan lari zig-zag dan latihan skipping. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatkan agility anak perempuan usia 10-12 tahun yang lebih baik dengan intervensi latihan lari zig-zag dan latihan skipping. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Neglasari 3 di daerah Tangerang pada tanggal 27 Januari 2014 sampai dengan 24 Februari 2014.Metode : Penelitian bersifat eksperimental dan menggunakan teknik pusposive sampling. Sample penelitian berjumlah 20 orang yang dibagi dalam dua kelompok. Kelompok perlakuan I berjumlah 10 orang diberi latihan lari zig-zag dan 10 orang lainnya dalam kelompok perlakuan II yang diberikan latihan skipping. Agility adalah kemampuan untuk merubah arah dan posisi tubuh dengan cepat dalam keadaan bergerak, tanpa kehilangan keseimbangan. Pemberian latihan lari zig-zag memberikan peningkatan yang lebih bermakna dibanding dengan latihan skipping terhadap peningkatan agility pada anak perempuan usia 10-12 tahun. Hal ini disebabkan karena terjadinya adaptasi neuromuskular pada latihan lari zig-zag. Hasil : Hasil uji T-test Independent selisih nilai akhir peningkatan agility pada kelompok perlakuan I dan kelompok perlakuan II menunjukkan perbedaan peningkatan agility yang signifikan pada kedua kelompok, yaitu nilai p = 0,003 (p<0,05). Kesimpulan :Dapat disimpulkan bahwa latihan lari zig-zagmempunyai peningkatan yang signifikan terhadap agility pada anak perempuan usia 10-12 tahun. Dengan demikian latihan lari zig-zag ini dapat digunakan sebagai solusi dan latihan dalam mendapatkan hasil peningkatan agility pada anak perempuan usia 10-12 tahun yang optimal.Kata kunci: latihan lari zig-zag, latihan skipping,agilityAbtractBackground: Agility is a displacement activity motion from one side to the other so that the pattern of motion can be moved around and can affect our daily activities. In girls aged 10-12 years, agility is important because at the time of the body's hormonal and metabolic changes may affect the level of agility in girls at age 10-12 years. Therefore we need a challenge for every child to fulfill all kinds of needs for the development of the ideal body. The form of treatment used to increase the confluence of agility in children aged 10-12 years that is by using a practice zigzagrun and skipping exercise. Objectives:This studyaims to determinethe differences increase agility girls aged 10-12 years better with exercise intervention zigzag running and skipping exercise. This study was conducted in SDN Neglasari 3 in Tangerang on January 27, 2014 until February 24, 2014. Method:The studyis experimental and sampling using pusposive techniques. Sample research about 20 people who were divided into two groups.Treatment group I were 10 people given a practice zig-zag run and 10 other people in a given treatment group II skipping exercise. Agility is the ability to change the direction and position ofthe body in motion quickly, without losing balance. Giving a practice zig-zag run gives a more meaningful improvement compared with skipping drills to increase agility in girls aged 10-12 years. This is because the neuromuscular adaptations to zig-zag run exercise. Result: Results of T-test Independent test the difference in the final value of agility improvement in the treatment group I and group II treatment showed a significant difference in the increase agility in both groups, ie the value of p =0.003(p <0.05). Conclusion:It is concluded that exercise has run zig-zag significant increase in agility in girls aged 10-12 years. Thusa practice zig-zag run can be used as an exercisein getting the solution and the resulting increase in agility in girls aged 10-12 years are optimal.Keyword: zig-zag run exercise, skipping exercise, agility
Intervensi Kombinasi Positional Release Technique dan Penerapan Microwave Diathermy Dalam Meningkatkan Fleksibilitas Otot Pada Kasus Myofacial Syndrome Gastrocnemius di RSUD Jendral Ahmad Yani
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 2 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v14i2.1109

Abstract

Latar belakang: Aktifitas dengan intensitas tinggi seperti lari dapat menimbulkan cidera pada jaringan, baik itu cidera berat dan cidera ringan, cidera ringan pada ekstremitas bawah sering di jumpai nyeri pada daerah betis hal tersebut berindikasi patologi myofascial syndrome M. Gastrocnemius, penanganan yang dapat dilakukan oleh fisioterapi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan cara memberikan Positional release technique, Myofascial release technique dan Microwave diathermy. Tujuan: 1) Untuk mengetahui intervensi Positional release technique dan penerapan Microwave diathermy dapat meningkatkan fleksibilitas otot pada Myofascial syndrome Gastrocnemius. 2) Untuk mengetahui intervensi Myofacial release technique dan penerapan Microwave diathermy dapat meningkatkan fleksibilitas otot pada Myofascial syndrome Gastrocnemius. 3) Untuk mengetahui Intervensi Positional release technique dan penerapan Microwave diathermy lebih baik dalam meningkatkan fleksibilitas otot daripada Myofascial release technique dan penerapan Microwave diathermy kasus myofascial syndrome gastrocnemius.Metode : Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Pre dan Post Test Control group Design. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien fisioterapi di RS U Ahmad Yani, Kondisi sampel diambil berdasarkan dengan prosedur assesment serta kriteria insklusif dan ekslusif. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan 1 dan kelompok perlakuan 2. Teknik pengelompokan sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan rumus Slovin. Kelompok perlakuan 1 berjumlah 14 orang dengan pemberian positional release technique dan microwave diathermy. Kelompok perlakuan 2 berjumlah 14 orang dengan myofascial release technique dan microwave diathermy.Hasil : Pada kelompok perlakuan I menggunakan uji wilcoxon rank test hasil nilai P adalah 0,016 dimana P< α (0,05) ho ditolak sehinga positional release techique dan microwave diathermy dapat meningkatkan fleksibilitas otot. Uji T Test Related pada kelompok perlakuan II menggunakan uji t-test related hasil nilai P adalah 0,001 dimana P< α (0,05) ho ditolak sehingga myofascial release technique dan microwave diathrmy dapat meningkatkan fleksibiltas otot. Pada uji Mann whintey U test hasil P adalah 0,31 dimana P > α (0,05) ho dierima, Dapat disimpulkan bahwa Intervensi kombinasi Positional release technique dan penerapan Microwave Diathermy sama dengan Myofascial release technique dan penerapan Microwave Diathermy dalam meningkatkan fleksibilitas otot Kata kunci: positional release technique, myofascial release technique, microwave diathermy 
Perbedaan Latihan Wooble Board dan Latihan Core Stability Terhadap Peningkatan Keseimbangan Pada Mahasiswa Esa Unggul
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 2 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v14i2.1108

Abstract

Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui adanya perbedaan pemberian latihan wobble board dan latihan core stability terhadap peningkatan  keseimbangan pada mahasiswa esa unggul.Sampel: Terdiri dari 20 orang mahasiswa dan mahasiswi di Universitas Esa Unggul dan dipilih berdasarkan teknik sampel random sampling dengan menggunakan kuesioner yang tersedia. Sampel dikelompokkan menjadi dua kelompok perlakuan, kelompok perlakuan I terdiri dari 10 orang dengan wooble board exercise dan kelompok perlakuan II yang terdiri dari 10 orang dengan diberikan core stability exercise. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi eksperimental pre-post test design. Analisis statistik penelitian ini menggunakan t-Test Related dan t-Test Independent. Hasil: uji homogenitas  kelompok perlakuan sebelum latihan dengan nilai p = 0,656. Hasil uji T-Test Related pada kelompok perlakuan I nilai p = 0,720 dan pada kelompok perlakuan II  nilai p = 0,720 berarti latihan yang diberikan pada masing-masing kelompok berpengaruh pada peningkatan keseimbangan pada mahasiswa esa unggul. Dan hasil t-Test Independent menunjukkan nilai p = 0,044 yang berarti ada pengaruh yang sangat signifikan antara kelompok perlakuan I dan kelompok perlakuan II. Dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan efek yang sangat signifikan antara wooble board exercise dengan core stability exercise terhadap peningkatan keseimbangan. Pada penelitian ini di sarankan agar metode latihan dapat diaplikasikan dengan prosedur yang benar, dilakukan dalam waktu lebih dari 1 bulan karena pada peningkatan keseimbangan akan lebih baik hasilnya jika dilakukan dalam waktu 2 bulan lebih, serta diharapkan agar hal-hal yang dapat mempengaruhi hasil penelitian dapat diminimalisir demi tercapainya hasil yang optimal.Kata Kunci: wooble board exercise, core stability exercise, keseimbangan Abstractresearch purposes: This study aims to determine the effects of different Granting exercise wobble board and core stability exercise against the increasing balance in mahasiswa esa unggul. Sample: The sample consisted of 20 people and college students and female student at the university of esa unggul and selected on the basis of sample random sampling technique by using a questionnaire available. The samples are grouped into two treatment groups, The first treatment consisting of 10 people to exercise wooble board And treatment group II consisting of 10 people with given its core stability exercise. Methods: This research is a quasi research pre-post test experimental designs. A statistical analysis of this research using a t-test Test test and Relatedt-Test Independent. Results: Test of homogeneity group treatment before of exercise with the value of  p = 0,656. The results of the test t-test related to a group of treatment I value p = 0,720 And in the treatment II of the value of p = 0,720 Means the exercise of which was given to each of a group influential in improving balance in mahasiswa esa unggul. t-test and the results of Independent Tests showed the value of p = 0,044 which means there is a very significant influence between the Group I and group treatment treatment II. It can be concluded that there is a very significant effect of the difference between the exercise with the core board wooble stability exercise against an increase in the balance. In this experiment in recommend a method of exercise can be applied with the correct procedure, done in more than a month because of an increase in the balance of the result would have been better if made within 2 months, and it is expected that things that can affect the results of the research can be minimised in order to achieve the optimal results.Keywords :wooble board exercise, core stability exercise, balance
Penambahan Teknik Manual Therapy Pada Latihan Pendular Codman Lebih Meningkatkan Lingkup Gerak Sendi Pada Sendi Glenohumeral Penderita Frozen Shoulder
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 1 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v14i1.1107

Abstract

Latar belakang:Keterbatasan gerakan ke segala  arah ciri khas dari penderita  frozen shoulder, dan banyak dijumpai di berbagai lahan praktek fisioterapi. Para fisioterapis sering tertantang karena terapi pada penderita frozen shoulder umumnya memerlukan waktu yang panjang untuk memperoleh aktivitas fungsional. Akhir-akhir ini Latihan Pendular Codman diragukan efektivitasnya untuk meningkatkan ROM sendi glenohumeral pada penderita frozen shoulder. Sebaliknya beberapa  penelitian dan studi kasus membuktikan teknik Manual Therapy efektif memperbaiki hipomobilitas pada penderita frozen shoulder. Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efektivitas penambahan teknik Manual Therapy pada Latihan Pendular Codman lebih meningkatkan Lingkup Gerak Sendi pada sendi glenohumeral daripada Latihan Pendular Codman pada  penderita frozen shoulder. Metode:Penelitian ini menggunakan metode eksperimental murni dengan pre-test dan post-test control group design. Eksperimen ini dilaksanakan di Praktek Fisioterapi, “Sriwijaya” Medan. Sampel penelitian berjumlah 16 orang yang dibagi ke dalam 2 kelompok sampel yaitu 8 orang pada kelompok kontrol dan 8 orang pada kelompok perlakuan. Kelompok kontrol yang diberikan intervensi Latihan  Pendular Codman dan kelompok perlakuan yang diberikan  teknik Manual Therapy dan Latihan Pendular Codman. Alat ukur yang digunakan untuk pengumpulan data adalah goniometer, dimana goniometer digunakan untuk mengukur lingkup gerak fleksi, ekstensi, abduksi, eksotorotasi dan endorotasi  baik sebelum intervensi maupun sesudah intervensi. Hasil:Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t-test independent untuk fleksi, ekstensi, abduksi,  endorotasi dan uji Mann-Whitney Test untuk eksorotasi. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara rerata sesudah intervensi ROM fleksi, ekstensi, abduksi, eksorotasi dan endorotasi pada sendi glenohumeral kelompok kontrol dan rerata sesudah intervensi ROM  kelompok perlakuan, dengan nilai p < 0,05. Kesimpulan: Penambahan teknik Manual Therapy pada Latihan Pendular Codman lebih efektif meningkatkan ROM sendi glenohumeral daripada  Latihan Pendular Codman pada penderita frozen shoulder. Peningkatan ROM sendi glenohumeral secara signifikan akan mengoptimalkan aktivitas fungsional sendi glenohumeral. Kata kunci :frozen shoulder,  teknik manual therapy, latihan pendular codman.  AbstractBackground:Limitation of movement in all directions is the characteristic of patients with frozen shoulder, and often found in various fields of physiotherapy practice.The physiotherapist is often challenged therapy in patients with frozen shoulder; the patient usually requires a long time to find out the best functional activity. Lately, the  effectiveness of Codman’spendulum exercises was in doubt as a method to increase  the range of motion for frozen shoulder in glenohumeral joint patients. Instead, some research and case studies have proven manual therapy  techniques effectively repair hipomobility in patients with frozen shoulder.Objective:This study aims to prove the effectiveness of the addition of manual therapy techniques on  Codman’s pendulum exercises in inreasing the range of motion in patients with frozen shoulder in the glenohumeral joint.  Method:This study is true experimental research, the methods pre-test and post-test  control group design. The ekperiment was conducted in Physiotherapy Practice “ Sriwijaya” Medan. This study sample of 16 people were divided into 2 groups, 8 people in the control group and 8 people in the treatment group. A control group given  Codman’s pendulum exercises and a treatment group who was given the manual therapy techniques and  Codman’s pendulum exercises. The measuring instrument used for data collection was the goniometer.The goniometer was used to measure the range of motion of flexion, extension, abduction, exorotation, and endorotation of both pre-intervention and post-intervention. Results of the hypothesis were gathered by using the independent t-test for flexion, extension, abduction, endorotation,  and the Mann-Whitney test for exorotation. Result:Hypothesis testing results showed that significant difference in post-intervention mean of the control group and the mean of the treatment group for Range Of Motion (ROM) of the glenohumeral joint in flexion, extension, abduction, endorotation, exorotation, with a value of p < 0.05. Conclusion: The addition of manual therapy techniques on the Codman’s pendulum exercise is better than just Codman’s pendulum exercises in increasing ROM for frozen shoulder in glenohumeral joint patients. The increased ROM of the glenohumeral joints will significantly affect the activity of the glenohumeral joint and help it to function optimally. Keywords : frozen shoulder, manual therapy techniques, codman’s pendulum  exercise.
Latihan Aerobik Intensitas Sedang Dengan Diet Rendah Kolesterol Lebih Baik Dalam Memperbaiki Kognitif Daripada Intensitas Ringan Pada Penderita Sindroma Metabolik
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 1 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v14i1.1106

Abstract

Latar belakang: Sindroma metabolik merupakan sekumpulan faktor resiko penyebab terjadinya atherosklerosis. Adanya mikroemboli kolesterol dari plak karotis dianggap sebagai satu mekanisme yang dapat mengganggu kognitif. Latihan aerobik adalah salah satu intervensi yang dapat memperbaiki fungsi kognitif. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui latihan aerobik intensitas sedang dengan diet kolesterol lebih baik dalam memperbaiki kognitif daripada intensitas ringan pada penderita sindroma metabolik. Metode: Metode penelitian ini eksperimental dengan rancangan randomized control trial pre and post test design. Sampel sebanyak 26 penderita sindroma metabolik. Sampel dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diberikan latihan intensitas ringan sedangkan kelompok kedua diberikan latihan intensitas sedang yang keduanya ditambah dengan diet rendah kolesterol. Penelitian dilakukan selama dua belas minggu di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Subyek penelitian dengan rentang  usia 45-55 tahun, indeks masa tubuh dengan rentangan 23-29. Hasil: Hasil statistik uji beda sebelum dan sesudah kelompok perlakuan aerobik intensitas ringan dengan diet rendah kolesterol menggunakan uji paired sampel t-test didapatkan hasil p= 0,001 (p<0,05). Uji beda sebelum dan sesudah kelompok perlakuan aerobik intensitas sedang dengan diet rendah kolesterol menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test dengan p=0,001 (p<0,05). Uji beda sesudah perlakuan kelompok aerobik intensitas ringan dan sedang dengan diet rendah kolesterol menggunakan Mann-Whitney U dengan p=0,005 (p<0,05) bermakna terdapat perbedaan antara kedua kelompok perlakuan. Kelompok latihan aerobik sedang dengan diet rendah kolesterol 22,1% lebih meningkatkan kognitif dibandingkan dengan kelompok perlakuan aerobik intensitas ringan dengan diet rendah kolesterol. Kesimpulan: Kesimpulan pada penelitian ini adalah kelompok perlakuan aerobik intensitas sedang dengan diet rendah kolesterol lebih baik dalam memperbaiki kognitif daripada aerobik intensitas ringan dengan diet rendah kolesterol. Kata kunci: Sindroma metabolik, fungsi kognitif, latihan  aerobik AbstractBackground: Metabolic syndrome is a group of risk factors causing atherosclerosis. The presence of cholesterol mikroemboli carotid plaque is considered as one of the mechanisms that can interfere with cognitive. Aerobic exercise is one of the interventions that can improve cognitive function. Objective: The purpose of this study was to determine the aerobic exercise of moderate intensity with more cholesterol diet improve cognitive rather than light intensity in patients with metabolic syndrome. Method: The experimental research method to design randomized control trial of pre and post test design. Sample of 26 patients with metabolic syndrome. samples were divided into two groups. The first group was given exercise intensity light with a low cholesterol diet (n = 13) while the second group was given moderate intensity exercise with low-cholesterol diet (n = 13).Characteristics of study subjects with age range of 45-55 years old, with a body mass index 23-29 range. Data before and after the treatment with a light intensity aerobic low cholesterol diet obtained p> 0.05 normally, while the data before and after the treatment of moderate-intensity aerobic with low cholesterol diet p <0.05 distribution is not normal. Different test groups before and after treatment with a mild intensity aerobic low cholesterol diet using paired sample t-test test showed 0,001 (p <0,05). Different test before and after the treatment of moderate-intensity aerobic with low cholesterol diet results obtained using the Wilcoxon Sign Rank Test 0,001 (p <0,05). Different test groups after the treatment of mild and moderate intensity aerobics with low cholesterol diet results obtained using the Mann-Whitney U 0,005 (p <0.05) there is a significant difference between treatment groups with a light aerobic low-cholesterol diet with moderate intensity aerobic treatment group with a low-cholesterol diet. The conclusion of this research is that the treatment group showed moderate aerobic intensity with a low cholesterol diet improve cognitive more than mild intensity aerobics with low-cholesterol diet.       Keywords: metabolic syndrome, cognitive function, aerobic exercise
AplikasiIce Massage Sesudah Pelatihan Lebih Baik Mengurangi Terjadinya DOMS Daripada Tanpa Pemberian Ice Massage PadaOtot Hamstring
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 1 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v14i1.1105

Abstract

Latar belakang: Delayed onset muscle soreness adalah suatu rasa yang tidak nyaman  dan nyeri yang mengenai pada otot. DOMS dapat mengakibatkan terjadinya penurunan kekuatan otot, penurunan lingkup gerak sendi dan terjadinya kerusakan pada jaringan otot yang terjadi selama 12 – 24 jam setelah melakukan pelatihan. DOMS dapat memburuk apabila tidak diberikan penanganan secara tepat dan cepat dalam waktu 48 – 72 jam. Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pemberian  ice massage sesudah pelatihan dalam mengurangi terjadinya DOMS. Metode:Rancangan penelitian yang digunakan dengan menggunakan metode penelitian Post Test Only With Control Group Design,  jumlah sample sebanyak 20 orang mahasiswa. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok I adalah kelompok perlakuan (ice massage) dan kelompok 2 adalah kelompok kontrol (tanpa pemberian ice massage). Subjek melakukan kontraksi maksimal dan melebihi beban pelatihan. Subjek melakukan 75 kontraksi dan dibagi 3 set pelatihan. Setiap set 25 kontraksi dengan beban 18 kg. Setelah pelatihan, pada kelompok perlakuan diberikan ice massage, pemberian ice massage dilakukan  setelah 30 menit pelatihan pada kelompok perlakuan, kemudian  pada kelompok kontrol tidak diberikan ice massage. Pengukuran DOMS dilakukan menggunakan skala talaq, dimana pengukuran dilakukan setelah diberikan ice massage dan tanpa pemberian ice massage.Hasil:Hasil yang didapatkan pada aplikasi pemberian ice massagedengan  wilcoxon rank didapatkan probabilitas sebesar 0,102 > 0,05.  Pada variabel non ice massage dengan wilcoxon rank  probabilitas yang didapatkan, yaitu p sebesar  0,010 < 0,05.  Perbedaan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan menggunakan mann-whitney test didapatkan probabilitas sebesar 0,026 < 0,05. Kesimpulan: Dengan melihat dari hasil data yang diperolah dapat disimpulkan bahwa pemberian ice massage secepat mungkin dapat mengurangi resiko terjadi DOMS, sedangkan tanpa pemberian ice massage tidak dapat mengurangi resiko terjadinya DOMS. Untuk menghindarri terjadinya kerusakan yang lebih luas terhadap efek pemberian pelatihan yang overload, pemberian ice massage secara dini akan membantu mengurangi terjadinya resiko DOMS.Kata kunci: ice massage, DOMS, pelatihan AbstractBackground: Delayed onset muscle soreness is a uncomfortable feeling and pain on muscle. Doms involve reducing  muscle  strength, range of motion, and muscle tissue damage that occure 12 – 24 hours after trainning.DOMS poor in 48 – 72 hours otherwise getting treatment precisely and quickly. Objective: This  reasearch was aimed at testing  the effectifeness of ice massage pre and post exercise to reduce of delayed onset muscle soreness. Method: The sample 20 for college students, and devide into 10 students in each group. Treatment groups with ice massage 10 college student and control groups non ice massage 10 college students. The study was conductedby providingthe typeof trainingusing atreeentrainto measure the strength  of1RMwithHoltenmethodonhamstringmuscletogetthe datathemusclesoreness. Subject toa maximumcontractionand loadexceeds. Subject  toas many as75contractionswere divided into3setstrainning. Eachtrainingsetas much as25contractionswith a load of18 kg.  Icemassage was applicationsaftertrainingin the experimental group, thenin the control groupwas notgivenicemassageafter trainning. DOMSmeasurements performedusing ascaletalaq, which themeasurements were takenaftertrainingineachgroup. Result:The results obtainedin theapplication  oficemassage with wilcoxon rank p value 0,102 > 0,05. Non icemassageresultsobtainedarenotsignificantly with p value 0,010 <  0,05. Different from two variable with mann withney test p value 0,026 < 0,05. Conclusion: From this study showed thaticemassage immediately after exercise was reducing of risk DOMS, than without ice  massage after exercise to diminish of muscle damage from overload trainning.Keywords: ice massage, delayed onset muscle soreness, exercise
Metode Konvensional, Kinesiotaping, dan Motor Relearning Programme Berbeda Efektifitas Dalam Meningkatkan Pola Jalan Pasien Post Stroke di Klinik Ontoseno Malang
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 1 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v14i1.1104

Abstract

Latar belakang: Pasien dengan kondisi stroke akan mengalami banyak gangguan-gangguan yang bersifat fungsional. Kelemahan ekstremitas sesisi, kontrol tubuh yang buruk serta ketidakstabilan pola berjalan. Rehabilitasi pada stroke, efektif dan dapat memperbaiki fungsi. Latihan dapat memberikan pembelajaran aktivitas fungsional serta menerapkan premis dasar bahwa kapasitas otak mampu untuk reorganisasi dan beradaptasi, sehingga dengan latihan yang terarah dapat saja menjadi sembuh dan membaik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektifitas metode Konvensional, aplikasi Kinesiotaping dan metode MRP dalam meningkatkan pola jalan pasien post stroke. Metode: Desain penelitian ini adalah  pre and post  test with control group design menggunakan 3 kelompok sampel. Jumlah sampel masing-masing kelompok adalah 10 orang. Kelompok I diberikan metode Konvensional, Kelompok II diberikan aplikasi Kinesiotaping, dan Kelompok III diberikan  metode MRP dengan durasi latihan 3 kali dalam seminggu dengan waktu 60 menit selama 4 minggu. Data berupa pre test dan post tes pola jalan pasien post stroke menggunakan Wisconsin Gait Scale. Sampel berjumlah 30 dibagi ke dalam 3 kelompok. Pada Kelompok Konvensional memiliki usia rerata 62,3 tahun dengan jumlah laki-laki 5 orang, dan perempuan 5 orang. Pada Kelompok Kinesiotaping memiliki usia rerata 65,1 tahun dengan jumlah laki-laki 6 orang, dan perempuan 4 orang. Sedangkan pada Kelompok MRP memiliki usia rerata 62,6 tahun dengan jumlah laki-laki 6 orang, dan perempuan 4 orang. Hasil: Hasil pengujian hipotesis menggunakan uji Anova menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara rerata skor WGS setelah intervensi dari ketiga kelompok dengan nilai p < 0,05. Namun perbandingan rerata skor WGS pada setiap kelompok  menunjukkan metode Kinesiotaping dan MRP memiliki perbedaan bermakna terhadap  metode Konvensional, tetapi antara Kinesiotaping dengan MRP tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa MRP tidak lebih efektif daripada Kinesiotaping tetapi lebih efektif daripada metode Konvensional, dalam meningkatkan  pola jalan pasien post stroke. Kata kunci: konvensional, kinesiotaping, motor relearning programme  AbstractBackground: Stroke patient would have impaired activities of daily living. One-sided weakness of extremities, poor body control, and gait instability. Rehabilitation in stroke patient, effective and can improve the function of the impaired limb. Exercise can provide the functional activity of learning and apply the basic premise that the capacity of the brain is able to reorganize and adaptable so with targeted exercises it can be improved. Objective: This study aimed to compare the efficiacy of conventional methods, applications kinesiotaping, and MRP method in improving the gait pattern of stroke patients. Method: The study has pre and post test with control group design using 3 groups. There are 10 people in each group. The first group was given conventional intervention methods, group II given Kinesiotaping application, and the third group was given the intervention using the MRP  with duration of exercise 3 times a week with a time of 60 minutes for 4 weeks. Data in the form of pre-test and post-test patterns of stroke patients analized by using Wisconsin Gait Scale. Samples were 30 divided into 3 groups. In the conventional group had a mean age of 62.3 years with a number of men 5 men and 5 women. At Kinesiotaping group had a mean age of 65.1 years with a number 6 men and 4 women. While the MRP group had a mean age of 62.6 years with a number 6 men and 4 women. Result: Results of hypothesis testing using Anova showed a significant difference between the (average of the WGS scores after intevention of the three groups, with value of p<0,05. The comparison on each method showed that the Kinesiotaping application and MRP have significant difference, but the Kinesiotaping application showed no significally difference with MRP. Conclusion: The conclusions in this study that the conventional methods, Kinesiotaping application and MRP has different efficacy on improfing gait pattern of stroke patient.Keywords: conventional, kinesiotaping, motor relearning programme
Kombinasi Ultrasound dan Traksi Bahu ke Arah Kaudal Terbukti Sama Efektifnya Dengan Kombinasi Ultrasound dan Latihan Codman Pendulum Dalam Menurunkan Nyeri dan Meningkatkan Kemampuan Aktifitas Fungsional Sendi Bahu Pada Penderita Sindroma Impingement Suba
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 1 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v14i1.1103

Abstract

Latar belakang: Sindroma impingement subakromialis adalah nyeri yang disebabkan salah satunya oleh penekanan dari tendon otot supraspinatus di antara akromion dan tuberositas humerus. Nyeri pada sindroma impingement subakromialis menyebabkan penurunan aktivitas fungsional bahu. Ada beberapa modalitas untuk menangani problematika pada sindroma impingement subakromialis yaitu heating, ultrasound latihan Pendulum Codman dan traksi sendi bahu ke arah kaudal.  Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas kombinasi terapi ultrasound dan traksi bahu ke arah kaudal (kelompok I) dengan kombinasi terapi ultrasound dan latihan Pendulum Codman (kelompok II) durasi perlakuan diberikan seminggu 3 kali selama  2 minggu. Metode: Sampel penelitian berjumlah 32 orang dengan masing masing kelompok 16 orang. Penelitian ini bersifat eksperimental murni dengan desain pre dan post test control grup. Alat ukur yang digunakan adalah Shoulder Pain and Disability Index. Hasil: Hasil dari uji hipotesis menggunakan uji t- independent adalah p > 0,05 menunjukan tidak adanya  perbedaan bermakna antara Kelompok I dan Kelompok II. Kesimpulan: Simpulan pada penelitian ini adalah Kombinasi terapi ultrasound dan traksi bahu ke arah kaudal terbukti sama efektif dengan terapi ultrasound dan  latihan Pendulum codman terhadap penurunan nyeri dan peningkatan aktivitas fungsional pada sindroma impingement subakromialis. Kata Kunci: ultrasound traksi bahu ke arah kaudal, pendulum codman, impingement subakromialis AbstractBackground: Subacromial impingement syndrome is pain caused the emphasis of the supraspinatus muscle tendon between the acromion and the humeral tuberosity. Pain in subacromial impingement syndrome cause reduction of shoulder functional activity. Handling the problem of impingement syndrome, many modalities are heating, electrical stimulation, manual therapy and exercise therapy. Objective: This study aimed to compare result between the combination of ultrasound therapy and traction shoulder toward caudal (group 1) and combination of ultrasound therapy and Codman pendular exercise (group 2). The duration of treatment was given 3 times a week for 2 weeks long. Method: Sampling of this research was 32 people each group of 16 people. This research was true experimental study using pre test and post test design with measurement SPADI (Shoulder Pain and Disability Index). Result: Result of hypothesis testing using independent t-test is found p > 0.05 showed no significant differences between group 1 and group 2. Conclusion: Conclusions in this research that combining of ultrasound therapy and traction shoulder to caudal are proven equally effective with ultrasound therapy and codman pendular exercise to reduce pain and improve functional shoulder joint activity in patient with impingement subacromial syndrome Keywords: ultrasound caudal traction to the shoulder, codman pendular, impingement subakromialis 
Pemberian Teknik Mulligan dan Soft Tissue Mobilization Lebih Baik daripada Hanya Soft Tissue Mobilization Dalam Meningkatkan Lingkup Gerak Sendi Ekstensi, Rotasi, Lateral Fleksi Cervical Pada Mechanical Neck Pain
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 1 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v14i1.1102

Abstract

Latar belakang: Mechanical neck pain merupakan kasus yang memiliki prevalensi yang sama tingginya dengan low back pain, dan banyak dijumpai di berbagai lahan praktek fisioterapi. Kombinasi teknik Mulligan dan Soft Tissue Mobilization merupakan salah satu teknik manual terapi yang sangat efektif dan efisien di dalam menangani kasus mechanical neck pain namun masih sangat jarang digunakan oleh fisioterapis di lahan praktek. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas antara teknik Mulligan dan Soft Tissue Mobilization dengan hanya Soft Tissue Mobilization terhadap peningkatan lingkup gerak sendi (LGS) ekstensi, rotasi dan lateral fleksi cervical pada mechanical neck pain. Metode: Desain penelitian ini adalah pre test – post test control group design dengan menggunakan 2 kelompok sampel yaitu kelompok kontrol yang diberikan intervensi Soft Tissue Mobilization dan kelompok perlakuan yang diberikan kombinasi teknik Mulligan dan Soft Tissue Mobilization. Alat ukur yang digunakan untuk pengumpulan data adalah goniometer, dimana goniometer digunakan untuk mengukur lingkup gerak ekstensi, rotasi dan lateral fleksi cervical baik sebelum intervensi maupun sesudah intervensi. Sampel penelitian berjumlah 32 orang yang dibagi ke dalam 2 kelompok sampel yaitu 16 orang pada kelompok kontrol dan 16 orang pada kelompok perlakuan. Sampel pada kelompok kontrol memiliki usia rata-rata sebesar 35,69 dengan laki-laki sebanyak 7 orang (43,8%) dan perempuan sebanyak 9 orang (56,2%) serta arah keterbatasan kanan sebanyak 12 orang (75%) dan keterbatasan kiri sebanyak 4 orang (25%). Sedangkan pada kelompok perlakuan memiliki usia rata-rata sebesar 35,94 dengan laki-laki sebanyak 10 orang (62,5%) dan perempuan sebanyak 6 orang (37,5%) serta arah keterbatasan kanan sebanyak 11 orang (62,5%) dan keterbatasan kiri sebanyak 5 orang (31,2%). Hasil: Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan uji independent sampel t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara rerata sesudah intervensi LGS ekstensi, rotasi dan lateral fleksi kelompok kontrol dan rerata sesudah intervensi LGS ekstensi, rotasi dan lateral fleksi kelompok perlakuan, dengan nilai p < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa teknik Mulligan dan Soft Tissue Mobilization menghasilkan peningkatan lingkup gerak sendi (LGS) ekstensi, rotasi dan lateral fleksi cervical yang lebih besar secara signifikan dibandingkan hanya Soft Tissue Mobilization pada mechanical neck pain. Kesimpulan: Dengan demikian dapat ditarik simpulan bahwa teknik Mulligan dan Soft Tissue Mobilization lebih baik daripada hanya Soft Tissue Mobilization dalam meningkatkan lingkup gerak sendi ekstensi, rotasi, lateral fleksi cervical pada mechanical neck pain. Kata kunci : mechanical neck pain, teknik mulligan, soft tissue mobilization AbstractBackground: Mechanical neck pain has the same high prevalence with low back pain, and commonly found in many of physiotherapy practice. Combination of Mulligan technique and Soft Tissue Mobilization are one of manual therapy technique highly effective and efficient to care the case of mechanical neck pain but still very rarely used by physiotherapist in fields of practice. Objective: This study aimed to know the effectiveness between Mulligan technique – Soft Tissue Mobilization and only Soft Tissue Mobilization to the increasing range of motion extension, rotation and side flexion cervical on the mechanical neck pain. Method: The study design was a pre test – post test control group design using two group of samples are control groups that given intervention Soft Tissue Mobilization and treatment groups that given a combination of Mulligan technique and Soft Tissue Mobilization. Measuring instrument used for data collection was goniometer, that the goniometer was used to measure the range of motion extension, rotation and lateral flexion of the cervical either before the intervention and after the intervention. Sample of this study was 32 people who divided into 2 groups of samples were 16 people in the control group and 16 people in the treatment group. Samples in the control group had a mean age of 35,69 with male of 7 people (43,8%) and female of 9 people (56,2%) as well as limitations of the right direction were 12 people (75%) and left direction were 4 people (25%). Whereas in the treatment group had e mean age of 35,94 with male of 10 people (62,5%) and female of 6 people (37,5%) as well as limitations of the right direction were 11 people (62,5%) and left direction were 5 people (31,2%). Result: The results of hypothesis testing using independent sampel t-test showed a significant difference between the mean post-intervention ROM extension, rotation, lateral flexion of the control groups and the mean post-intervention ROM extension, rotation, lateral flexion of the treatment groups, with value p < 0,05. It is suggests that the Mulligan technique and Soft Tissue Mobilization resulting increase range of motion extension, rotation, and side flexion of the cervical that significantly greater than only Soft Tissue Mobilization on the mechanical neck pain. Conclusion: Thus, it can be concluded that the Mulligan technique and Soft Tissue Mobilization better than only Soft Tissue Mobilization to the increasing range of motion extension, rotation, and side flexion cervical on the mechanical neck pain. Keywords: mechanical neck pain, mulligan technique, soft tissue mobilization

Page 11 of 19 | Total Record : 188


Filter by Year

2005 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 22, No 02 (2022): FISIOTERAPI: JURNAL ILMIAH FISIOTERAPI Vol 22, No 01 (2022): FISIOTERAPI: JURNAL ILMIAH FISIOTERAPI Vol 21, No 02 (2021): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 21, No 01 (2021): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 20, No 2 (2020): Fisioterapi: Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 20, No 1 (2020): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 19, No 2 (2019): FISIOTERAPI : JURNAL ILMIAH FISIOTERAPI Vol 19, No 1 (2019): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 18, No 2 (2018): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 18, No 1 (2018): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 17, No 2 (2017): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 17, No 1 (2017): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 16, No 2 (2016): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 16, No 1 (2016): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 15, No 2 (2015): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 15, No 1 (2015): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 2 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 1 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 13, No 2 (2013): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 13, No 1 (2013): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 12, No 1 (2012): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 11, No 1 (2011): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 9, No 2 (2009): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) More Issue