cover
Contact Name
Lukman Cahyadi
Contact Email
lukman.cahyadi@esaunggul.ac.id
Phone
+6289661704102
Journal Mail Official
lukman.cahyadi@esaunggul.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul Jakarta
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Fisioterapi: Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Published by Universitas Esa Unggul
ISSN : 18584047     EISSN : 25283235     DOI : https://doi.org/10.47007/fisio.v22i2
Core Subject : Health, Science,
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi aims to spread conceptual thinking or ideas, review and the research findings obtained in the field of Physioterapy Science. This journal focuses on the issues of Physioterapy Science involving : Pediatric Neurology Musculoskeletal Cardio pulmonal Sport Geriatric
Articles 188 Documents
HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DAN AGRESIVITAS DENGAN PRESTASI OLAHRAGA BELADIRI TARUNG DERAJAT PADA ATLET PETARUNG PUTRA
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 15, No 2 (2015): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v15i2.1429

Abstract

AbstractThe objective of research is to find out: 1) the relationship between anxiety and Tarung Derajat self-defense sport achievement in the male fighting athletes, 2) the relationship between aggressiveness and Tarung Derajat self-defense sport achievement in the male fighting athletes, and 3) the relationship between anxiety and aggressiveness, and Tarung Derajat self-defense sport achievement simultaneously in the male fighting athletes. The research method employed was a correlational descriptive method using product moment correlational statistical analysis and a multiple linear regression. The population taken from all male fighting athletes from 20 Branches Adminstrator of Tarung Derajat participating in the XI Provincial Sport Week – Aceh, 2010, consisting of 180 athletes. The sample employed was the male fighting athletes competing in the 49kg-lower consisting of 20 athletes determined using the purposive sampling. Technique of collecting data employed in this research was derived from the questionnaire completion, the variables of which are anxiety measured using the Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) and aggressiveness measured using the aggressive behavior assessment instrument.  Considering the result of research and the result of data analysis that has been conducted, it can be concluded as follows:1) there are negativity relationship which significant between anxiety and Tarung Derajat self-defense sport achievement in the male fighting athletes. 2) there are positive relationship wich significant between aggressiveness and Tarung Derajat self-defense sport achievement in the male fighting athletes.3) there are positive relationship wich significant between anxiety and aggressiveness, and Tarung Derajat self-defense sport achievement simultaneously in the male fighting athletes Keywords: Anxiety, Aggressiveness, Tarung Derajat  AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecemasan dan Derajat pertahanan diri prestasi olahraga atlet laki-laki,  hubungan antara agresivitas dan Tarung Derajat prestasi olahraga pada atlet. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif korelasional menggunakan product moment analisis statistik korelasional dan regresi linier berganda. Populasi diambil dari seluruh atlet laki-laki 20 Cabang dari Tarung Derajat berpartisipasi dalam Pekan Olahraga XI Provinsi - Aceh 2010, yang terdiri dari 180 atlet. Sampel yang digunakan adalah atlet laki-laki bersaing di 49kg-rendah yang terdiri dari 20 atlet ditentukan dengan menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari penyelesaian kuesioner, variabel yang kecemasan diukur dengan menggunakan (TMAS) dan agresivitas diukur menggunakan agresif instrumen penilaian perilaku (Modified Buss & Perry, 1992).Mengingat hasil penelitian dan hasil analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut ada hubungan negatif yang signifikan antara kecemasan dan Tarung Derajat pertahanan diri prestasi olahraga pada pria atlet. ada hubungan signifikan antara agresivitas dan Tarung Derajat prestasi olahraga dalam pertempuran athletes. ada hubungan signifikan antara kecemasan dan agresivitas, dan Tarung Derajat prestasi olahraga bela diri secara bersamaan laki-laki atlet. Kata kunci: Kecemasan, Agresivitas, Tarung Derajat
ANALISIS UJI VALIDITAS DAN UJI RELIABILITAS INSTRUMEN PENGUKURAN KESEIMBANGAN PADA ANAK USIA 3 – 7 TAHUN: PEDIATRIC BALANCE SCALE DAN SIXTEEN BALANCE TEST
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 15, No 2 (2015): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v15i2.1428

Abstract

AbstractThe research purpose is to know comparative analysis of validity test and reliability test of balance measurement instrument in children aged 3-7 years between pediatric balance test and sixteen balance test. And to result the proposal of combination modification form of pediatric balance test and sixteen balance test in indonesian version. The research method of this study is measured 49 children as selected random subject from some play groups and kindegartens around Jakarta and each subject measured once untill twice with measuring range one week until two week and with time three month duration. So that obtained four observation groups in this study. The research result is known that balance measurement instrument of pediatric balance test show rate 25% valid item and reliable (0,814 and 0,653) for all valid item in first and second measurement. Balance measurement instrument of sixteen balance test show rate 56,2% valid item and reliable (0,912 and 0,934) for all valid item in first and second measurement. And show valid item difference of 31,2% between instrument of pediatric balance test and instrument of sixteen balance test, and sixteen balance test instrument have more higher and more consistence of validity value dan reliability value from pediatric balance test instrument in first and second measurement. Keywords: Validity test and reliability test, children balance, pediatric balance scale.  AbstrakTujuan penelitian adalah mengetahui analisis perbedaan uji validitas dan uji reliabilitas instrumen pengukuran keseimbangan anak usia 3-7 tahun antara pediatric balance scale dan sixteen balance test. Dan menghasilkan usulan format modifikasi kombinasi antara pediatric balance scale dan sixteen balance test versi Indonesia. Metode penelitian dilakukan pengukuran sejumlah satu sampai dua kali pada setiap anak dengan jarak antar pengukuran sekitar satu sampai dengan dua minggu dan total waktu selama tiga bulan di beberapa kelompok bermain dan taman kanak-kanak di sekitar jakarta. Subjek penelitian sejumlah 49 anak yang dipilih secara acak. Sehingga didapat empat kelompok observasi pengukuran. Hasil penelitian adalah instumen pengukuran keseimbangan pediatric balance scale memiliki jumlah item valid rata-rata sebesar 25% dan reliabel (0,814 dan 0,653) untuk seluruh item yang valid pada pengukuran pertama dan kedua. Instumen pengukuran keseimbangan sixteen balance test memiliki jumlah  item valid rata-rata sebesar 56,2% dan reliabel (0,912 dan 0,034) untuk seluruh item yang valid pada pengukuran pertama dan kedua. Terdapat perbedaan jumlah item valid sebesar 31,2% antara instrumen pediatric balance scale dan instrumen sixteen balance test, dimana instrumen sixteen balance test memiliki tingkat nilai validitas dan nilai reliabilitas yang lebih tinggi dan lebih konsisten dari pada pediatric balance scale pada pengukuran pertama dan kedua. Kata Kunci: Uji Validitas dan Uji Reliabilitas, Keseimbangan Anak, Pediatric Balance Scale.
Hubungan Antara Karakteristik Atlet Dengan Masa Pemulihan Setelah Cidera Olahraga
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 15, No 1 (2015): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v15i1.1119

Abstract

Tujuan: Penelitian ini Untuk untuk mengetahui karateristik atlet dan lamanya masa pemulihan pasca cidera. Metode: Penelitian ini bersifat crossectional pada rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan antara karaterisktik atlet dengan waktu pemulihan cidera olahraga. Berdasarkan uji statistik yang dipilih dengan menggunakan chi square dengan α = 0,05. Jenis cidera dengan Waktu pemuliahan 0,148 Tidak ada hubungan, Usia atlet dengan Waktu pemuliahan 0,013 Ada hubungan, Jenis kelamin dengan Waktu pemuliahan 0,254 Tidak ada hubungan, Sifat atlet dengan Waktu pemuliahan 0,000 Ada hubungan, Frekwensi latihan dengan Waktu Pemuliahan 0,348 Tidak ada hubungan, Lama berkompetisi dengan Waktu Pemuliahan 0,077 Tidak ada hubungan , Tingkat pendidikan dengan Waktu pemuliahan0,218 Tidak ada hubungan, Posisi pemain dengan Waktu pemuliahan 0,297 Tidak ada hubungan, Tehnik bermain dengan Waktu pemuliahan 0,290 Tidak ada hubungan, Tingkat cidera dengan Waktu pemuliahan0,002 Ada hubungan, Kesimpulan: Adanya hubungan adalah antara waktu pemulihan dengan usia, sifat atlet dan tingkat cidera.Tidak adanya hubungan adalah antara waktu pemulihan dengan jenis cidera, jenis kelamin, lamanya kompetisi, frekwensi latihan, posisi pemain, tingkat pendidikan dan tehnik bermainKata kunci: usia atlet, tingkat cidera, masa pemulihan
Pemberian Latihan pada Lansia dapat Meningkatkan Keseimbangan dan Mengurangi Resiko Jatuh Lansia
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 15, No 1 (2015): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v15i1.1118

Abstract

Tujuan: Penelitian ini Untuk mengetahui latihan pada lansia dapat meningkatkan keseimbangan dan mengurangi resiko jatuh lansia. Metode: Penelitian ini bersifat eksperimen, terdiri dari 28 orang WBS PSTW Budi Mulia 4, dipilih berdasarkan teknik simple random sampling kemudian dibagi kedalam 2 kelompok, 11 orang pada kelompok perlakuan 1 diberikan latihan jalan tandem, dan 13 orang pada kelompok perlakuan 2 diberikan latihan dengan Swiss ball. Hasil: Hasil uji normalitas dengan Shapiro-Wilk Test didapatkan data berdistribusi normal sedangkan uji homogenitas dengan menggunakan Levene’s Test didapatkan data bervarian homogen. Hasil uji hipotesis pada kelompok perlakuan 1 dengan t-Test Related didapatkan nilai p = 0,000 latihan dengan jalan tandem meningkatkan keseimbangan untuk mengurangi resiko jatuh pada lansia. Pada kelompok perlakuan 2 dengan menggunakan t-Test Related nilai p = 0,000 yang berarti latihan dengan menggunakan Swiss Ball meningkatkan keseimbangan untuk mengurangi resiko jatuh pada lansia. Pada hasil t-Test Independent menunjukkan nilai p = 0,001 yang berarti adanya peningkatan keseimbangan untuk mengurangi resiko jatuh pada lansia yang signifikan antara kelompok perlakuan 1 dan perlakuan 2. Kesimpulan: latihan pada lansia dapat meningkatkan keseimbangan dan mengurangi resiko jatuh lansiaKata kunci: jalan tandem, swiss ball, keseimbangan lansia
Penambahan Resistance Exercise Pada Senam Aerobik Lebih Baik Terhadap Penurunan Denyut Nadi 2 Menit Setelah Latihan Pada Remaja Putri Usia 17 – 21 Tahun
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 15, No 1 (2015): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v15i1.1117

Abstract

Latar belakang: Penurunan denyut nadi 2 menit setelah latihan dapat dijadikan suatu indikator apakah seseorang berpeluang terkena penyakit jantung koroner atau tidak. Seiring dengan perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi banyak para remaja putri yang jarang melakukan aktivitas fisik ataupun berolahraga, apabila hal ini berlangsung secara terus menerus maka peluang untuk terkena penyakit jantung koroner pada remaja putri di masa tua mereka menjadi lebih besar. Oleh sebab itu maka penanganan yang dapat dilakukan oleh fisioterapi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan cara memberikan senam aerobik atau dengan pemberian resistance exercise .Tujuan : 1) Untuk mengetahui penurunan denyut nadi 2 menit setelah latihan dengan senam aerobik pada remaja putri usia 17-21 tahun. 2) Untuk mengetahui penambahan resistance exercise pada senam aerobik dapat menurunkan denyut nadi 2 menit setelah latihan pada remaja putri usia 17-21 tahun. 3) Untuk mengetahui penambahan resistance exercise pada senam aerobik lebih baik dalam menurunkan denyut nadi 2 menit setelah latihan pada remaja putri usia 17-21 tahun. Metode :Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Pre dan Post Test Control group Design. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa remaja putri berusia 17-21 tahun yang berkuliah di universitas Esa Unggul.Kondisi sampel diambil berdasarkan dengan kriteria insklusif dan ekslusif.Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan 1 dan kelompok perlakuan 2.Teknik pengelompokan sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan rumus Slovin.Kelompok perlakuan 1 berjumlah 14 orang dengan pemberian senam aerobik. Kelompok perlakuan 2 berjumlah 14 orang dengan penambahan latihan resistance exercise pada senam aerobik. Hasil : Hasil uji hipotesis pada kelompok perlakuan 1 dengan T-test Related didapatkan nilai p=0.000 yang berarti senam aerobik yang diberikan pada remaja putri usia 17-21 tahun dapat menurunkan denyut nadi 2 menit setelah latihan. Pada kelompok perlakuan 2 dengan T-test Related didapatkan nilai p=0.000 yang berarti penambahan resistance exercise dalam senam aerobik yang diberikan pada remaja putri usia 17-21 tahun dapat menurunkan denyut nadi 2 menit setelah latihan. Pada kelompok pelakuan 1 dan kelompok perlakuan 2 digunakan uji T-Test Independent untuk menguji signifikansi komparatif dua sampel yang tidak berpasangan (independent) didapatkan nilai p=0.000 yang berarti penambahan resistance exercise dalam senam aerobik yang diberikan pada remaja putri usia 17-21 tahun lebih baik dalam menurunkan denyut nadi 2 menit setelah latihan. Kata kunci:resistance exercise, senam aerobik, denyut nadi 2 menit setelah latihan AbstractBackground:Decreased pulse 2 minutes after exercise can be an indicator of whether someone might get affected by heart disease or not. Along with the times and technological sophistication of many of the young women who rarely do physical activity or exercise. If this goes on comtinuosly exposed then the chances of coronary heart desease in young women in old age they become larger. Objectives: 1) To find out the decrease in pulse 2 minutes after exercises with aerobic gymnastics in young women ages 17-21 years old. 2) To find out the addition of resistance exercise on aerobic gymnastics can lower pulse 2 minutes after exercise in young women ages 17-21 years old. 3) To find out the addition of resistance exercise on aerobic gymnastics better in lowering the pulse 2 minutes after exercise in young women ages 17-21 years old. Method: In this study uses the approach pre and post test control group design. The sample in this study are students young women ages 17-21 years who lectures at the university of esaunggul. Conditions samples are taken based on an inclusive and exclusive criteria. The samples are divided into two groups, group 1 and group 2. Engineering sample grouping was used in this study uses the slovin’s formula. Treatment group 1 of 14 people by administering aerobic gymnastics. Treatment group 2 of 14 people with the addition of resistance exercise on aerobic gymnastics. Results : Hypothesis test results in group 1 with t test related, p value =0.000 which means the aerobics gymnastics which was given to young women ages 17-21 years old can decrease the pulse 2 minutes after exercise. In group 2 with t test related, p value=0.000 which means the addition of resistance exercise on aerobic gymnastics which was given to young women ages 17-21 years old can decrease the pulse 2 minutes after exercise. Group 1 and 2 use t test independent, p value=0.000 which means the addition of resistance exercise on aerobic gymnastics better in lowering the pulse 2 minutes after exercise in young women ages 17-21 years old       Keywords: resistance exercise, aerobic gymnastics, pulse 2 minutes after exercise
Pelatihan Core Stability dan Balance Board Exercise Lebih Baik Dalam Meningkatkan Keseimbangan Dibandingkan dengan Balance Board Exercise pada Mahasiswa Usia 18 – 24 Tahun dengan Kurang Aktivitas
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 15, No 1 (2015): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v15i1.1116

Abstract

Latar belakang: Gaya Hidup Sedentary menimbulkan dampak negative bagi kesehatan sehingga akan menimbulkan kegemukan atau obesitas, dimana hal ini akan juga menyebabkan gangguan keseimbangan dan juga resiko terjadinya jatuh bahkan akan menyebabkan terjadinya cidera, untuk memperbaiki hal ini maka aktivitas fisik harus di tingkatkan, dan juga untuk meningkatkan keseimbangan ada beberapa latihan seperti core stability dan balance board. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa apakah latihan core stability dan balance board exercise lebih baik dalam meningkatkan keseimbangan dibandingkan dengan balance board exercise pada mahasiswa usia 18-24 tahun dengan kurang aktivitas fisik. Metode: Design penelitian ini menggunakan metode penelitian experimental study pre dan post design. Dimana sampel didapatkan berjumlah 28 orang yang didapatkan dari hasil systematic random sampling. Pada kelompok pertama dilakukan latihan gabungan core stability dan balance board (n=14). Kelompok kedua dilakukan hanya latihan balance board. Hasil: Karakteristik subjek penelitian didapatkan nilai rerata aktivitas fisik pada kelompok latihan core stability dan balance board (314,68) Mets-menit/minggu, Dan rerata nilai keseimbangan sebelum pada kelompok 1 (14,00) detik pada kelompok balance board (286,4) Mets-menit/minggu.  dan rerata nilai keseimbangan sebelum (11,56) detik. dari data yang didapatkan diatas kemudian dilakukan uji normalitas dengan menggunakan Shapiro wilk didapat bahwa pada core stability dan balance board p<0,05 maka data tidak berdistribusi normal, pada kelompok balance board didapat nilai p>0,05 maka data berdistribusi normal. Uji beda sebelum dan sesudah pada kelompok core stability dan balance board dengan menggunakan Wilcoxon signed rank test didapatkan nilai p= 0,001. p<0,05. Uji beda sebelum dan sesudah pada kelompok balance board dengan menggunakan paired sample test didapatkan nilai p=0,0002 p<0,05 maka didapatkan hasil yang bermakna terdapat perbedaan signifikan. Kesimpulan: Kesimpulan pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa kelompok perlakuan core stability dan balance board dengan hanya balance board saja dapat meningkatkan nilai keseimbangan standing stork test mahasiswa dengan kurang aktivitas fisik. Kata kunci: keseimbangan, aktivitas fisik, core stability   AbstractBackground: Sedentary Lifestyle has negative impact on health that would lead to overweight or obesity, where it will also lead to impaired balance and risk of falling even cause bodily injury, to improve the physical activity it should be improved, and also to improve the balance there are some exercises such as core stability and balance board. Objective: The purpose of this study was to analyze whether core stability exercises and balance board exercise in improving balance better than the balance board exercise on students aged 18-24 years with less physical activity. Method: This research design using experimental research methods pre and post study design. Where the samples were obtained 28 in total obtained from the results of systematic random sampling. In the first group conducted joint exercises core stability and balance board (n = 14). The second group was only exercise balance board. Result: Characteristics of the study subjects obtained a mean value of physical activity in the group of core stability exercises and balance board (314.68) Mets-minute/week, and the mean value of the balance before in group 1 (14.00 s) in the group balance board (286.4) Mets-minute/week. and the mean value of the balance before (11.56 s). data obtained from the above then tested using the Shapiro Wilk normality is found that the core stability and balance board p <0.05, the data are not normally distributed, the balance board group obtained a p value> 0.05 then the data were normally distributed. Different test groups before and after the core stability and balance board using the Wilcoxon signed rank test p value = 0.001 is obtained. p<0.05. Different test groups before and after the balance board by using paired sample test found p value = 0.0002 p<0.05 then get a meaningful result there are significant differences. Conclusion: Conclusions in this study showed that the treatment group core stability and balance board compared with the only balance board can increase the value of the balance standing stork test students with less physical activity.  Keywords: balance, physical activity, core stability
Penambahan Latihan Eksentrik Quadriceps pada Intervensi Wooble Board Exercise Tidak Lebih Baik Dalam Meningkatkan Stabilitas Lutut Pada Kasus Jumper’s Knee
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 15, No 1 (2015): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v15i1.1115

Abstract

Latar belakang:pada kasus jumper’s kneedapat disipulkan bahwa masalah yang timbul salah satunya ialah penurunan stabilitas lutut.. Stabilitas yang terganggu mengapa karena otot pada quadriceps mengalami penurunan kekuatan dan tidak stabil karena adanya nyeri inflamasi chronic dimana tendon merupakan jaringan hipovasculer sehingga dapat memicu terbentuknya abnormal crosslink yang kemudian menjadi fibrous. Sehingga fungsional lutut saat berjalan, berlari, melompat dan jongkok menjadi terganggu. Pada kondisi ini banyak latihan-latihan fisioterapi yang dapat diberikan. Dengan cara memberikan latihan eksentrik quadriceps atau wooble board exercise,Tujuan:1) Untuk mengetahui wooble board exercise meningkatkan stabilitas lutut pada kasus jumper’s knee. 2) Untuk mengetahui penambahan latihan eksentrik quadriceps meningktkan stabilitas lutut pada kasus jumper’s knee. 3) Untuk mengetahui penambahan latihan eksentrik quadriceps pada intervensi wooble exercise lebih baik dalam meningkatkan stabilitas lutut pada kasus jumper’s knee. Metode:Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Pre dan Post Test Control group Design.Dalam penelitian ini adalahdilakukan di Komplek Blok-k RT 03/02 Kunciran indah berusia 19-29 tahun. Kondisi sampel diambil berdasarkan dengan kriteria insklusif dan ekslusif.Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan 1 dan kelompok perlakuan 2. Teknik pengambilan sampel yang digunakan untuk penelitian ini dengan purposive sampling. Kelompok perlakuan 1 berjumlah 10 orang dengan pemberian wooble board exercise. Kelompok perlakuan 2 berjumlah 10 orang dengan pemberian latihan eksentrik.Hasil: Hasil uji hipotesis pada kelompok perlakuan 1 dengan T-test Related didapatkan nilai p=0.001sehingga dapat disimpulkan bahwa wooble board exercise meningkatan stabilitas lutut. Pada kelompok perlakuan 2 dengan T-test Related didapatkan nilai p=0.001 sehingga dapat disimpulkan bahwa latihan eksentrik quadriceps dan wooble exercise dapat meningkatkan stabilitas lutut.Pada kelompok pelakuan 1 dan kelompok perlakuan 2 digunakan uji T-Test Independent untuk menguji signifikansi komparatif dua sampel yang tidak berpasangan (independent) didapatkan nilaip=0.461. Sehingga latihan eksentrik quadriceps dan wooble exercisetidak lebih baik dari pada wooble board exercise saja untuk meningkatkan stabilitas lutut. Kata kunci: jumper’s knee, eksentrik quadriceps,  wooble board exercise
Perbandingan Terapi Ultra Sound Pulsed 0,5 Watt/cm² dan 1,0 Watt/cm² dalam Menurunkan Nyeri Weight Bearing Pasca Fraktur 1/3 Tengah Tibia
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 15, No 1 (2015): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v15i1.1114

Abstract

Fraktur perlu mendapat penanganan serius dan komprehensif untuk mencegah komplikasi yang dapat mengakibatkan gangguan gerak dan fungsi seperti nyeri, atrofi dan kelemahan otot, kontraktur jaringan lunak, kekakuan sendi, serta keterlambatan weight bearing dan ambulasi.Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah  terapi ultra sound (US) pulsed intensitas 0,5 watt/cm² lebih unggul dalam menurunkan nyeri weight bearing dibandingkan intensitas 1,0 watt/cm² pada pasca fraktur 1/3 tengah tibia.Subjek penelitian dari RSU UKI, RS Siaga Raya, RSUP Fatmawati, dan Klinik Fisio Depok Timur, berjumlah16 orang, laki-laki dan perempuan, berumur 18-29 tahun,yang mengalami fraktur obliq dan spiral 1/3 tengah tibia. Nyeri weight bearing dengan beban 25% berat badan diukur dalam skalavisual analoque scale (VAS). Penelitian dilakukan pada bulan Pebruari - April 2012. Pengambilan sampel dengan teknik random sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experimental denganrancangan predan post test control group. Kelompok I diberikan intevensi US pulsedintensitas 0,5 watt/cm² sedangkan kelompok II 1,0 watt/cm², setiap hari selama dua minggu. Kedua kelompok diberikan kontraksi isometrik pada otot-otot tungkai dan pergelangan kaki setelah diberikan intervensi US. Intervensi dilakukan setelah mendapat persetujuan pasien. Uji komparasiindependentsamples t-test  menggunakan data selisih nilai VAS sebelum dan sesudah intervensi antara kelompok I dengan kelompok II,menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok. (p = 0,533). Kata kunci: VAS, weight bearing, US pulsed 0,5 dan 1,0 watt/cm²  AbstractFractures need to get serious and comprehensive treatment to prevent complications that can result in movement disorders such as pain and function, muscle atrophy and weakness, soft tissue contractures, joint stiffness, and delayed weight bearing and ambulation.This study a imed to evaluate whether ultrasound (U.S.) therapy pulsed intensity of 0.5 watts/cm² could reduce pain of weight bearing better than 1.0 watts/cm² in subjects with shaft tibia fracture. Sixteen subjects, men and women, aged 18-29 years with spiral and oblique tibia fracture,were recruited from UKI Hospital, Siaga Raya Hospital, Fatmawati Hospital and Fisio Clinic East Depok,two weeks after the reduction. Weight bearing pain with aload of 25% weight was measured with the visual analogue scale (VAS). The study was conducted from February to April 2012. Subjects were sampled with random sampling techniques. The research design used was a quasi experimental with pre-test and post-test control group design. The first group was given the pulsed ultrasound (U.S.) with an intensity of 0.5 watts/cm² while the second group 1.0 watts/cm², every day for two weeks. Both groups were given an isometric contraction of the muscles of the legs and ankles.Treatment was administered after obtaining consent from the subjects.Comparison testof independentsamplest-test usingtheVASscoreafter interventionbetween the first groupswiththe second group;showedno significant difference (p = 0.533). Keywords: VAS, weight bearing, U.S. pulsed 0.5 and 1.0 watts/cm²
Penambahan NMES (Neuromuscular Electrical Stimulation) Pada Pilates Exercise Lebih Baik dalam Meningkatkan Core Stability Pada Remaja Putra Tidak Terlatih
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 2 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v14i2.1113

Abstract

Latar Belakang: Remaja putra sangat perlu core muscles yang bagus untuk menunjang seluruh kegiatan yang ditekuninya. Jika core muscles yang dimilikinya tidak bagus, maka sangat berakibat cukup fatal terhadap pertumbuhan posture, dan ketidakmampuan mengantisipasi macam-macam cidera yang bisa dialaminya (low back pain, hernia nucleus pulposus, dll). Peranan core muscles terhadap posture sangatlah besar dan sangat berkaitan dengan keseluruhan extremitas tubuh karena merupakan topangan utama tubuh. Oleh karena itu, core muscles yang lemah dan tidak stabil bisa berakibat fatal ketika melakukan variasi kegiatan olahraga (futsal, basket, dll) yang mengakibatkan cidera pada extremitas  (seperti: rupture anterior cruciatum ligament, illiotibial band syndrome, patellofemoral pain, dll). Oleh karena itu, penanganan yang dapat dilakukan oleh fisioterapi sebagai langkah pencegahan/prevention adalah dengan intervensi NMES (Neuromuscular Electrical Stimulation) dan pilates exercise. Tujuan: 1) Untuk mengetahui penambahan NMES (Neuromuscular Electrical Stimulation) pada pilates exercise lebih baik dalam meningkatkan core stability pada remaja putra tidak terlatih. 2) Untuk mengetahui penambahan NMES (Neuromuscular Electrical Stimulation) pada pilates exercise dapat meningkatkan core stability pada remaja putra tidak terlatih. 3) Untuk mengetahui pilates exercise dapat meningkatkan core stability pada remaja putra tidak terlatih. Metode: Rancangan yang digunakan yaitu True Eksperimental. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Pre dan Post Test Control group Design. Sampel dalam penelitian ini adalah remaja putra berusia 13-22 tahun yang bukan atlit. Kondisi sampel diambil berdasarkan dengan kriteria inklusif dan eksklusif. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan berjumlah 7 orang dengan pemberian NMES dan pilates exercise. Kelompok kontrol berjumlah 7 orang dengan pemberian pilates exercise. Hasil: Hasil dari uji normalitas dengan menggunakan saphiro-wilk test menunjukkan bahwa sampel penelitian berdistribusi normal. Sedangkan hasil uji homogenitas dengan menggunakan levene’s test diperoleh hasil data yang homogen. Data pada kelompok perlakuan sebelum (pre) intervensi mean = 41 (SD = 5.033) dan sesudah (post) intervensi mean = 116 (SD = 3.146). Hasil uji hipotesis pada kelompok perlakuan dengan t-test related didapatkan nilai p = 0.000 yang berarti penambahan NMES pada pilates exercise dapat meningkatkan core stability pada remaja putra tidak terlatih. Pada kelompok kontrol, data sebelum (pre) intervensi mean = 41.71 (SD = 3.729) dan sesudah (post) intervensi mean = 98.29 (SD = 2.812). Dilakukan pengujian dengan t-test related didapatkan nilai p = 0.000 yang berarti pilates exercise dapat meningkatkan core stability pada remaja putra tidak terlatih. Pada kelompok pelakuan dan kelompok kontrol dengan data sesudah (post) intervensi kelompok perlakuan mean = 116 (SD = 3.830) dan data sesudah (post) intervensi kelompok kontrol mean = 98.29 (SD = 2.812) diuji dengan t-test independent untuk menguji signifikansi komparatif dua sampel yang tidak berpasangan (independent) didapatkan nilai p = 0.000 yang berarti penambahan NMES pada pilates exercise lebih baik dalam meningkatkan core stability pada remaja putra tidak terlatih. Kesimpulan: Penambahan NMES (Neuromuscular Electrical Stimulation) pada pilates exercise lebih baik dalam meningkatkan core stability pada remaja putra tidak terlatih.Kata kunci: NMES, pilates exercise, core stabilityAbstractBackground: Young men desperately need a good core muscles to support all activities are  practiced. If the core muscles its not good, it is quite fatal consequences on growth posture, and the inability to anticipate the kinds of injuries that can be suffered (low back pain, herniated nucleus pulposus, etc.).The role of the core muscles of the posture is very large and very related to the extremities of the body as a whole is the main strut body. Therefore, the core muscles are weak and unstable can be fatal when doing variations of sports activities (indoor soccer, basketball, etc.) which result in injury to the extremities (such as rupture of the anterior cruciate ligament, illiotibial band syndrome, patellofemoral pain, etc.). Therefore, the treatment can be carried out by physiotherapists as a prevention measure is to intervention of NMES (Neuromuscular Electrical Stimulation) and Pilates exercise.Objectives: 1) To know the addition of NMES (Neuromuscular Electrical Stimulation) at pilates exercise better in improving core stability in untrained young men. 2) To know the addition of NMES (Neuromuscular Electrical Stimulation) at pilates exercise can increase core stability in untrained young men. 3) To know pilates exercise can increase core stability in untrained young men. Methods: The design used is True Experimental. In this study, using the approach of Pre and Post Test Control Group Design. The samples in this study were young men aged 13-22 years who are not athletes. Condition of the sample taken based on the inclusive and exclusive criteria. The samples were divided into 2 groups: the treatment group and the control group. Treatment groups amounted to 7 people with the provision of NMES and pilates exercise. The control group amounted to 7 people with the provision of pilates exercise. Results: The results of the test for normality by using the Shapiro-Wilk test showed that the study sample are normally distributed. While the results of the homogeneity test using Levene's test result data obtained homogeneous. Data in the treatment group before (pre) intervention mean = 41 (SD = 5,033) and after (post) the intervention mean = 116 (SD = 3.146). Hypothesis test results in the group treated with t-test related p value = 0.000, which means the addition of NMES on the pilates exercise can improve core stability in untrained young men. In the control group, the data before (pre) intervention mean = 41.71 (SD = 3,729) and after (post) the intervention mean = 98.29 (SD = 2.812). Tested with t-test related p value = 0.000 which means that pilates exercise can increase core stability in untrained young men. In the experimental group and the control group with the data after (post) the intervention of treatment group mean = 116 (SD = 3.830) and the data after (post) intervention of control group mean = 98.29 (SD = 2,812) were tested with t-test independent to test the significance of comparative unpaired two-sample (independent) p value = 0.000, which means the addition of NMES on the pilates exercise better in improving core stability in young untrained.Conclusion: The addition of NMES (Neuromuscular Electrical Stimulation) at pilates exercise better in improving core stability in young untrainedKeywords: NMES, pilates exercise, core stability
Perbedaan Pemberian Latihan Hamstring Curl On Swiss Ball Dengan Latihan Lying Leg Curl Terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Hamstring Pada Pemain Futsal
Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 2 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/fisio.v14i2.1112

Abstract

Latar Belakang: Saat ini teknologi sudah sangat berkembang sehingga memudahkan semua kegiatan, sehingga membuat manusia menjadi kurang bergerak (hypokinetic), seperti contohnya tehnologi saat ini yang memudahkan manusia dalam kegiatannya yaitu penggunaan remotecontrol, komputer, lift, escalator. Sehingga aktifitas fisik menjadi berkurang dan akan menimbulkan berbagai masalah bagi anggota gerak, padahal bergerak merupakan kebutuhan dasar manusia untuk dapat melakukan kegiatan sehari-hari juga berinteraksi serta beradaptasi dengan lingkungan. Gerak merupakan kebutuhan dasar manusia dan juga sebagai tuntutan lingkungan hidup terhadap dirinya, untuk dapat melakukan aktifitas dengan menggunakan kapasitas individu yang dimiliki antara lain  kemampuan untuk melakukan gerak, aktifitas fungsional, aktifitas fisik.Tujuan: untuk mengetahui perbedaan pemberian latihan hamstring curl on swissball dengan latihan lying leg curl terhadap peningkatan kekuatann otot hamstring pada pemain futsal. Metode : penelitian ini bersifat quasi experiment dengan pre test-post testdesigncontrol group dimana peningkatan kekuatan otot hamstring dengan latihan hamstring curl on swissball dan latihan lying leg curl yang diukur dengan dynamometer. Sample terdiri dari 20 orang pemain futsal dari ukm futsal universitas esa unggul dan dipilih berdasarkan teknik purposive sampling dengan membagikan quisioner yang telah dibuat. Sample dikelompokan menjadi dua kelompok perlakuan, kelompok perlakuan 1 terdiri dari 10 sample dengan latihan yang diberikan adalah hamstring curl on swissball dan kelompok perlakuan 2 yang terdiri dari 10 sample dengan latihan yang diberikan adalah lying leg curl. Hasil: uji normalitas dengan shapiro wilk test didapatkan data berdistribusi normal dan ada yang berdistribusi tidak normal sedangkan uji homogenitas dengan levene’s test didapatkan data memiliki varian yang homogen. Hasil uji hipotesis pada kelompok perlakuan 1 dengan t-Test Related didapatkan nilai p=0,000 yang berarti latihan hamstring curl on swissball dapat meningkatkan kekuatan otot hamstring  pada pemain futsal. Pada kelompok perlakuan 2 dengan Wilcoxon Matched Pairs Test nilai p=0,005 yang berarti latihan lying leg curl dapat meningkatkan kekuatan otot hamstring pada pemain futsal. Pada hasil t-Test Independent menunjukannilaip=0,001 yang berarti ada perbedaan pengaruh yang signifikan peningkatan kekuatan otot hamstring antara kelompok perlakuan 1 dan kelompok perlakuan 2. Kesimpulan: adanya perbedaan pemberian latihan hamstring curl on swissball dengan latihan lying leg curl terhadap peningkatan kekuatan otot hamstring pada pemain futsal. Kata kunci: kekuatan otot hamstring, hamstring curl on swiss ball, lying leg curl  AbstractBackground: Currently, the technology has been highly developed to facilitate all activities, so that makes people become less mobile (hypokinetic), for example the current technologies that enable people in activities that use remote control, computers, elevators, escalators. So that physical activity be reduced and will cause many problems for members of the motion, whereas movement is a basic human need to be able to perform daily activities also interact and adapt to the environment. Motion is a basic human need and also the demands of the environment against him, to be able to perform activities using individual capacity owned by, among others, the ability to perform the motion, functional activity, physical activity.Objective: To determine differences in the provision of training on hamstring curl swissball with lying leg curl exercises to increase in hamstring muscle kekuatann in futsal players. Methods: This study is a quasi-experiment with pre-test-post-test control group design in which an increase in the strength of the hamstring muscles hamstring curl exercises on swissball and lying leg curl exercise as measured by the dynamometer. Sample consisted of 20 people from futsal players excel and selected one university based purposive sampling by distributing questionnaires that have been made. Sample grouped into two treatment groups, treatment group 1 consisted of 10 samples with a given exercise is the hamstring curl on swissball and 2 treatment groups consisting of 10 samples with a given exercise is lying leg curl. Results: Shapiro Wilk normality test to test the normal distribution of data obtained and there were not distributed normally while the test with Levene's test of homogeneity of data obtained have homogeneous variance. The results of hypothesis testing in the group treated with t-1 Related Test p value = 0.000, which means the hamstring curl exercises on swissball can increase the strength of the hamstring muscles in futsal players. In the 2 treatment groups with the Wilcoxon Matched Pairs Test p-value = 0.005, which means lying leg curl exercises to improve the strength of the hamstring muscles in futsal players. In the t-test results show the value of Independent p = 0.001, which means there are significant differences in the effect of an increase in hamstring muscle strength between treatment groups 1 and 2 treatment groups. Conclusions: the differences in the provision of training on hamstring curl swissball with lying leg curl exercises to increase in muscle strength hamstring in futsal players. Keywords: hamstring muscle strength, hamstring curl on swiss ball, lying leg curl

Page 10 of 19 | Total Record : 188


Filter by Year

2005 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 22, No 02 (2022): FISIOTERAPI: JURNAL ILMIAH FISIOTERAPI Vol 22, No 01 (2022): FISIOTERAPI: JURNAL ILMIAH FISIOTERAPI Vol 21, No 02 (2021): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 21, No 01 (2021): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 20, No 2 (2020): Fisioterapi: Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 20, No 1 (2020): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 19, No 2 (2019): FISIOTERAPI : JURNAL ILMIAH FISIOTERAPI Vol 19, No 1 (2019): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 18, No 2 (2018): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 18, No 1 (2018): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 17, No 2 (2017): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 17, No 1 (2017): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 16, No 2 (2016): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 16, No 1 (2016): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 15, No 2 (2015): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 15, No 1 (2015): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 2 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 14, No 1 (2014): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 13, No 2 (2013): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 13, No 1 (2013): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 12, No 1 (2012): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 11, No 1 (2011): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 9, No 2 (2009): Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) More Issue