cover
Contact Name
Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.
Contact Email
heru.prasetyo59@fkip.unila.ac.id
Phone
+628117285959
Journal Mail Official
wiyatabudaya.fkipunila@gmail.com
Editorial Address
Alamat: Jl. Prof. Dr. Ir. Sumantri Brojonegoro, Gedong Meneng, Kec. Rajabasa, Kota Bandar Lampung, Lampung Kode Pos 35145.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Wiyata Budaya
Published by Universitas Lampung
ISSN : -     EISSN : 31242537     DOI : https://doi.org/10.23960/wiyatabudaya
Core Subject :
Jurnal Wiyatabudaya merupakan jurnal open acces sebagai sarana media dikusi, deskripsi, dan pengembangan ilmu pendidikan yang memuat naskah-naskah ilmiah dan penelitian empiris. Jurnal Wiyatabudaya menerima artikel pada bidang pendidikan dalam konteks humaniora dengan menggunakan berbagai metode yang memenuhi standar publikasi dalam jurnal ini. Fokus dan Ruang Lingkup Jurnal Wiyatabudaya adalah ilmu pendidikan, bahasa dan sastra Indonesia, pendidikan seni, bahasa dan sastra daerah, budaya dan tradisi lisan yang terbit dua kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Mei dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
ANALISIS GAYA BAHASA DALAM PUISI EPIGRAM 60 KARYA JOKO PINURBO (KAJIAN STILISTIKA) Shinta Oktafiani; Heru Prasetyo; Munaris Munaris; Latifatul Azizah
WIYATA BUDAYA: Jurnal Pendidikan Dalam Konteks Humaniora Vol. 2 No. 2 (2025): WIYATA BUDAYA: Jurnal Pendidikan Dalam Konteks Humaniora
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/wiyatabudaya.v2i2.1199

Abstract

Poetry is an intellectual expression that uses rhyme and a methodical framework to arouse emotions and stimulate the senses. Stylistics is the area of literary science that focuses on object- based style. Language style serves as the research object. One of the things that makes poetry better is linguistic style, which includes the author's viewpoint that enhances the writer's words or language. There are four categories of language styles: repetitious, connective, contrastive, and comparative. Examining the language types in Joko Pinurbo's collection of poetry "Epigram 60" is the goal of this study. The poems "Tembang Tidur," "Kesusu," and "Anak Wesel" are among the sources of data used in this investigation. Qualitative research methodology is used. Stylistic analysis techniques are used in the study of Joko Pinurbo's collection of poems "Epigram 60": (1) reviewing earlier studies on the poems in the book, (2) taking notes or writing down passages from the poems, and (3) examining the language styles and meanings in the quoted passages. Based on the results presented, the stylistic devices used in the book Epigram 60 by Joko Pinurbo, specifically in the poems titled 'Tembang Tidur,' 'Kesusu,' 'Anak Wesel,' and 'Parkiran Elit,' include comparative language, irony, metonymic connections, and repetition. Puisi adalah ekspresi intelektual yang menggunakan rima dan kerangka kerja sistematis untuk membangkitkan emosi dan merangsang indra. Stilistika adalah bidang ilmu sastra yang berfokus pada gaya berdasarkan objek. Gaya bahasa berfungsi sebagai objek penelitian. Salah satu hal yang membuat puisi lebih baik adalah gaya bahasa, yang mencakup sudut pandang penulis yang memperkaya kata-kata atau bahasa penulis. Ada empat kategori gaya bahasa: repetitif, konektif, kontrastif, dan komparatif. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis jenis-jenis bahasa dalam kumpulan puisi Joko Pinurbo “Epigram 60”. Puisi-puisi “Tembang Tidur”, ‘Kesusu’, dan “Anak Wesel” merupakan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini. Metodologi penelitian kualitatif digunakan. Teknik analisis gaya bahasa diterapkan dalam studi kumpulan puisi Joko Pinurbo “Epigram 60”: (1) meninjau studi sebelumnya tentang puisi-puisi dalam buku tersebut, (2) mencatat atau menuliskan kutipan dari puisi-puisi, dan (3) menganalisis gaya bahasa dan makna dalam kutipan yang dipilih. Berdasarkan hasil yang disajikan, perangkat stilistik yang digunakan dalam buku Epigram 60 karya Joko Pinurbo, khususnya dalam puisi berjudul ‘Tembang Tidur,’ 'Kesusu,‘ 'Anak Wesel,’ dan ‘Parkiran Elit,’ meliputi bahasa perbandingan, ironi, hubungan metonimik, dan pengulangan.
ANALISIS KAJIAN SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE PADA PUISI “TEDUH HUTAN JATI” DAN “BERJALAN DI PEMATANG SAWAH” KARYA BAMBANG SUPRANOTO Vinna Cahya Safitri; Heru Prasetyo; Munaris Munaris
WIYATA BUDAYA: Jurnal Pendidikan Dalam Konteks Humaniora Vol. 2 No. 2 (2025): WIYATA BUDAYA: Jurnal Pendidikan Dalam Konteks Humaniora
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/wiyatabudaya.v2i2.1200

Abstract

This research analyzes two poems by Bambang Supranoto, namely "Shady Teak Forest" and "Walking On The Rice Fields", using Ferdinand de Saussure's semiotic theory with a descriptive qualitative approach. This semiotic theory focuses on the relationship between signifier and signified in poetry. The aim of this research is to reveal the meaning contained in the language elements used by poets to convey messages and emotions. The results of the analysis show that in the poem "Shady Teak Forest", markers such as "wind" and "lush teak leaves" describe the soothing calm of nature, with signs of peace and blessings given by God through nature. Meanwhile, in the poem "Walking On The Rice Fields", markers such as "joyful singing" and "lush rice" describe an atmosphere of joy and gratitude for God's grace which is manifested from fertile nature. This second poem shows the harmony between humans and nature, as well as the importance of protecting and being grateful for the existence of nature as a gift from God. It is hoped that this research can add more insight into the dynamics of signs in poetry and enrich readers' understanding of the hidden meanings contained in literary works. Penelitian ini menganalisis dua puisi karya Bambang Supranoto, yaitu “Teduh Hutan Jati” dan “Berjalan di Pematang Sawah”, menggunakan teori semiotika Ferdinand de Saussure dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Teori semiotika ini menitikberatkan pada hubungan antara penanda (signifier) dan petanda (signified) yang ada dalam puisi. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap makna yang terdapat dalam elemen-elemen bahasa yang digunakan oleh penyair untuk menyampaikan pesan dan emosi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam puisi “Teduh Hutan Jati”, penanda seperti “angin” dan “rimbun daun-daun jati” menggambarkan ketenangan alam yang menyejukkan, dengan petanda berupa kedamaian dan keberkahan yang diberikan Tuhan melalui alam. Sedangkan dalam puisi “Berjalan di Pematang Sawah”, penanda seperti “lagu gembira” dan “rimbun padi” menggambarkan suasana gembira dan rasa syukur terhadap karunia Tuhan yang tercermin dalam alam yang subur. Kedua puisi ini menunjukkan keharmonisan antara manusia dengan alam, serta pentingnya menjaga dan mensyukuri keberadaan alam sebagai berkah Tuhan. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan lebih dalam tentang dinamika tanda dalam puisi dan memperkaya pemahaman pembaca terhadap makna tersembunyi yang terkandung dalam karya sastra.

Page 2 of 2 | Total Record : 12