cover
Contact Name
Muhammad Ikhsan Ghofur
Contact Email
ikhsan.ghofur@uinssc.ac.id
Phone
+6285292771834
Journal Mail Official
empower@syekhnurjati.ac.id
Editorial Address
Fakultas Dakwa dan Komonikasi Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Kampus 3: Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Kota Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. 45132
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal empower : jurnal pengembangan masyarakat Islam
ISSN : 2580085X     EISSN : 25800973     DOI : https://doi.org/10.24235/empower.v10i2
Core Subject :
Jurnal Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam is an open access and peer-reviewed journal of the Muslim Society Development. The goal of this journal is community development in various fields of life especially in rural sociology, development sociology, Corporate Social Responsibility (CSR), social welfare, social demography, community development management, community development in disaster management, community education, communication development, creative economy, and gender. This journal is publishing original research articles and all papers are peer-reviewed by at least two reviewers.
Arjuna Subject : -
Articles 157 Documents
POLA KONSUMSI KELUARGA NELAYAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP KESEJAHTERAAN KELUARGA (Studi Kasus di Desa Citemu Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon) 'Afifah 'Afifah
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v1i1.1491

Abstract

Dalam undang-undang nomor 1 tahun 2004 tentang perikanan mengatakan bahwa nelayan ditunjukkan kepada setiap orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan. Nelayan merupakan salah satu bagian dari anggota masyarakat yang mempunyai tingkat kesejahteraan paling rendah, hal ini dicirikan dari lingkungan hidup yang kumuh serta rumah sederhana, jika terdapat rumah yang komplit pada umumnya di miliki oleh pemilik kapal dan pemodal. selain itu, masyarakat nelayan ketika mendapat penghasilan tinggi cenderung bergaya hidup boros (konsumtif), seperti di Desa Grajagan Kecamatan Purwaharjo Kabupaten Banyuwangi dan di Sumatera Barat khususnya Kabupaten Pesisir. Secara umum, masayarakat nelayan Desa Citemu terlihat seperti nelayan pada desa lainnya yaitu bergaya hidup boros, seperti banyaknya para pedagang keliling dan toko yang setiap hari selalu ramai pembeli dari masyarakat Desa Citemu, maka peneliti ingin menganalisis lebih mendalam mengenai pola konsumsi masyarakat nelayan Desa Citemu terutama keluarga, bagaimana pengaruh pola konsumsi terhadap kesejahteraan keluarga.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pola konsumsi terhadap kesejahteraan keluarga yang dapat direpresentasikan dari taraf hidup keluarga dan kondisi sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif. Teknik penarikan informan dengan menggunakan sampling purposive serta menggunakan empat teknik pengumpulan data, yaitu live in, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data di lapangan model Miles and Huberman, yakni dengan melakukan reduksi data, penyajian data serta verifikasi atau penarikan kesimpulan. Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah melakukan triangulasi atau penggabungan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola konsumsi keluarga nelayan diukur dari indikator ekonomi dapat dikatakan sejahtera yakni keluarga bakul dan keluarga juragan. hal ini disebabkan karena, banyaknya pendapatan rajungan yang diperoleh sehingga untuk memenuhi kebutuhan baik kebutuhan primer, sekunder, dan tersier itu terpenuhi. sedangkan bagi keluarga bidak hanya memperoleh pendapatan rajungan lebih sedikit dibanding bakul dan juragan, sehingga keluarga bidak hanya mampu memenuhi kebutuhan primer saja. tetapi ketika pola konsumsi diukur dari kesejahteraan sosial terdapat keluarga nelayan yang belum dikatakan sejahtera seperti keluarga juragan dan bidak, belum dikatakan sejahtera diukur dari tingkat pendidikan, resiko pekerjaan, tenaga kerja yang dikeluarkan, dan ketergantungan ekonomi.Kata kunci: Keluarga nelayan, pola konsumsi, pendapatan, pengeluaran, kesejahteraan.  ABSTRACT In Law No. 1 of 2004 on fisheries said that the fishermen pointed out to every person whose livelihood is fishing. Fisherman is one part of the community members who have the lowest levels of welfare, it is characterized from the slum environment and the house is simple, if there is a complete home are generally owned by ship owners and financiers. in addition, fishing communities when it gets high income tend extravagant lifestyles (consumer), such as in the village Grajagan Purwaharjo subdistrict in Banyuwangi and Coastal District of West Sumatra. In general, the community fishing village Citemu look like fishermen in other villages namely stylish living lavishly, as many traders around and shop every day always crowded with shoppers from the village community Citemu, the researchers wanted to analyze more deeply on consumption patterns fishing village Citemu especially family, how to influence consumption patterns on the welfare of the family. OBJECTIVE: To describe patterns of consumption on the welfare of families that can be represented on the standard of living of the family and social conditions. The method used in this research is descriptive qualitative. Mechanical withdrawal informants using purposive sampling and used four data collection techniques, namely live in, observation, interviews, and documentation. The analysis in this study using data analysis in the field model of Miles and Huberman, namely by performing data reduction, data presentation and verification or conclusion. After the data is collected, the next step is to perform triangulation or merger. The results of this study showed that the consumption patterns of families of fishermen measured prosperous economic indicators can be said that the family and the family basket skipper. it is due, the amount of income earned rajungan so as to meet the needs of both the needs of primary, secondary, and tertiary are met. while for families pawns only earn less than the crab baskets and skipper, so the family pawn only able to meet the primary needs of all. but when measured consumption patterns of social welfare are fishing families have not been prosperous like the family said skipper and pawns, yet say prosperity is measured from the level of education, job risks, labor incurred, and economic dependence. Keywords: Family fishing, consumption patterns, income, expenditure, welfare.
PERMASALAHAN SOSIAL KELOMPOK PETANI JAMBU BIJI TERHADAP PENINGKATAN KESEJAHTERAAN EKONOMI MASYARAKAT Siti Sukma Asih
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v1i1.1493

Abstract

Siti Sukma Asih, 14123541358, Permasalahan Sosial Kelompok Petani Jambu Biji Terhadap Peningkatan Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat Desa Pajambon Kecamatan Kramatmulya Kabupaten Kuningan, Skripsi, Cirebon: Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Pertanian jambu biji di Desa Pajambon menjadi mata pencaharian masyarakat setempat. Hal ini sebabkan pertanian jambu biji dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di Desa Pajambon. Namun dengan demikian, pertanian jambu biji di Desa Pajambon sudah dikuasai oleh para pengepul (tengkulak). Dalam hal ini, petani jambu mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan jerih payah mereka, sedangkan pengepul mendapatkan hasil yang lebih besar dari petani. Selain dari sistem pengepul, salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan pada jambu biji dan rendahnya pendapatan terjadi akibat adanya hama. Hama menyebabkan jambu biji menjadi kurang produksi karena dengan adanya hama menjadikan hasil jambu sedikit. Adapun Salah satu bentuk upaya masyarakat terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dilakukan dengan cara tumpang sari, menjual sebagian jambu ke Bos luar, dan pembasmian hama secara mandiri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya permasalahan sosial kelompok petani jambu biji terhadap peningkatakan kesejahteraan ekonomi masyarakat di Desa Pajambon, pada dasarnya tidak disadari oleh banyak kalangan para petani, sehingga petani hanya bisa mengikuti kehendak pengepul (tengkulak) mengenai harga jambu. Adapun peran pemerintah lebih mendukung kepada pengepul (tengkulak)  untuk mengembangkan jambu biji petani Desa Pajambon, tanpa melihat bagaimana kesejahteraan ekonomi para petani jambu biji ketika jambu biji mengalami penurunan.
UpayaPencarian Model Tata Kelola Air Lokal (StudiTentangImplementasi Program Penyediaan Air MinumdanSanitasiBerbasisMasyarakatatau PAMSIMAS) Di DesaSukamuktiKec.JalaksanaKab. KuninganJawa Barat Leli Nur Laeli
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v1i1.1494

Abstract

Desa Sukamukti merupakan salah satu desa di Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan yang mendapatkan bantuan Program Penyediaan  Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS).  Program PAMSIMAS mulai masuk ke Desa Sukamukti pada bulan Desember tahun 2012. Program ini dikelola oleh Badan Pengelola Sarana Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (BPSPAM).Keberadaan PAMSIMAS di Desa Sukamukti mendapatkan respon yang berbeda dari masyarakat, ada yang pro dan ada yang kontra. Perbedaan pendapat ini terjadi karena masyarakat Desa Sukamukti sudah memiliki sistem pengelolaan air sendiri yaitu sistem Tuk (bak penampungan air).Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1). Bagaimana respon masyarakat Desa Sukamukti terhadap program PAMSIMAS?, (2) Bagaimana model-model pengelolaan air di desa Sukamukti?, (3) Bagaimana model tata kelola air yang seharusnya diterapkan di Desa Sukamukti berdasarkan kearifan lokal?.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana respon masyarakat Desa Sukamukti terhadap program PAMSIMAS dan mengetahui bagaimana model tata kelola air yang seharusnya di terapkan di Desa Sukamukti berdasarkan kearifan lokal.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data pada penelitan ini menggunakan (1) Wawancara (2) Observasi dan (3) Dokumentasi. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan analisis data dari Miles dan Huberman yang terdiri atas (1) Reduksi data (2) Penyajian data dan penarikan kesimpulan.Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa respon masyarakat terhadap program PAMSIMAS saat ini ada yang pro dan ada yang kontra. Masyarakat yang pro terhadap program PAMSIMAS beranggapan bahwa program tersebut membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air setiap harinya. Sedangkan masyarakat yang kontra terhadap program PAMSIMAS beranggapan bahwa program tersebut justru memberatkan masyarakat karena harus membayar setiap  air yang digunakan. Oleh karenanya, masyarakat yang kontra terhadap program PAMSIMAS lebih memilih tetap mempertahankan sistem pengelolaan air menggunakan tuk yang sudah ada sejak dahulu. Adapun bentuk pengelolaan air yang baik untuk diterapkan di Desa Sukamukti adalah sistem tuk air. Hal ini dilakukan dengan alasan pengelolaan sistem tuk air mengutamakan prinsip kearifan lokal dalam pengelolaanya. Keikutsertaan masyarakat serta pengambilan keputusan dalam pengelolaan sistem tuk air menjadi prioritas utama.  Namun, agar fungsi tuk lebih efektif maka  diperlukan pengembangan dalam pengelolaannya.Kata Kunci: PAMSIMAS, Tuk Air
Peran Keluarga Sekolah Dan Masyarakat Dalam Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual Pada Anak di Desa Astanajapura Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon Meliyawati Meliyawati
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v1i1.1495

Abstract

Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan (UUPA No. 23 Tahun 2002) Anak juga memiliki hak asasi manusia yang harus diakui dan dihargai oleh masyarakat. Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak semua lapisan masyarakat dituntut ikut berperan aktif dalam melindungi anak-anak Indonesia tidak terkecuali pihak sekolah dan lapisan masyarakat luas. Undang-Undang Perlindungan Anak pasal 45B ayat 1 berbunyi “pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat dan orangtua wajib melindungi anak dari perbuatan yang mengganggu kesehatan dan tumbuh kembang anak”. Dalam penelitian ini yang di maksud perlindungan anak lebih spesifik pada perlindungan anak terhadap kekerasan seksual.  Faktor terjadinya kekerasan seksual di Desa Astanajapura Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon di sebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya kebiasaan lingkungan masyarakat yang menerapkan pola asuh primisif. Semakin banyaknya kasus kekerasan seksual mendorong keluarga, sekolah dan masyarakat untuk menjalankan perannya masing-masing dalam upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak. Ketiganya melakukan upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak secara intern dan ekstern. Secara intern contohnya, seperti memberikan pemaham tentang anggota tubuh yang dilarang di sentuh oleh orang lain dan cara-cara melawan ketika ada yang melakukan hal yang tidak menyenangkan. ekstern yaitu dengan cara mengontrol, dan mengawasi anak, selain dari tiga unsur ranah tumbuh kembang anak (keluarga, sekolah, masyarakat) ada beberapa lembaga lain yang turut melakukan upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak seperti Pemerintah desa, kepolisian dan Lembaga Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Kata kunci: keluarga, sekolah, masyarakat, upaya pencegahan, kekerasan seksual AbstractChild is a person under 18 (eighteen) years, including children who are still in the womb (BAL No. 23 of 2002) Children also have human rights that must be recognized and valued by the community. In the Child Protection Act required all levels of society to actively participate in protecting children Indonesia is no exception the schools and society at large. Child Protection Act Article 45B, paragraph 1 states that "governments, local governments, communities and parents must protect children from acts that damage the health and development of the child". In this study is the purpose of child protection more specifically on the protection of children against sexual abuse. Factors sexual violence in the village Astanajapura Astanajapura District Cirebon caused by several factors, one of which custom communities that implement primisif parenting. The increasing number of cases of sexual violence encouraging families, schools and communities to carry out their respective roles in the prevention of sexual abuse in children. All three take steps to prevent sexual abuse of children in internal and external. Internally for example, such as providing abiding of the body which is prohibited in touch by others and ways to resist when there are doing things that are not pleasant. External namely by controlling and supervising the children, aside from the three elements of the realm of child development (family, school, community) there are several other institutions participating in the prevention of sexual abuse of children as village government, police and Child Protection Agency Integrated Community Based (PATBM)  Keywords: family, school, community, prevention, sexual violence
Implementasi Program Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) Dan Dampaknya Bagi Keluarga Di Kelurahan Kenanga Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon Robiatul Adawiyah
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 1 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v1i2.1496

Abstract

Kemiskinan merupakan situasi kesengsaraan dan ketidakberdayaan yang dialami seseorang baik akibat ketidakmampuannya memenuhi kebutuhan hidup maupun akibat ketidakmampuan negara atau masyarakat memberikan perlindungan sosial kepada warganya. Sejak kemerdekaan banyak yang direncanakan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Salah satunya upaya pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan dalam hal pangan yakni Program Raskin yang sudah 14 tahun dilaksanakan oleh pemerintah.Program Raskin adalah program subsidi beras untuk keluarga miskin. Upaya pemerintah membuat program ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan Nasional serta perlindungan sosial pada Rumah Tangga Miskin-Penerima Manfaat (RTS-PM) dari program Raskin. Program Raskin muncul pada tahun 2002 sebagai bentuk evaluasi dari Program Operasi Pasar Khusus (OPK) Beras pada pertengahan tahun 1998.Salah satu Desa/Kelurahan yang memperoleh Program Raskin adalah Kelurahan Kenanga Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan implementasi program Raskin di Kelurahan Kenanga terhadap kesejahteraan masyarakat yang dapat direpresentasikan dari kondisi hidup masyarakatnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif. Teknik penarikan informan dengan menggunakan purposive serta menggunakan tiga teknik pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data di lapangan model Miles dan Huberman, yakni dengan melakukan reduksi data, penyajian data serta verifikasi atau penarikan kesimpulan. Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah melakukan triangulasi atau penggabungan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi program Raskin yang ada di Kelurahan Kenanga tidak sesuai dengan aturan pemerintah. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, baik itu faktor dari masyarakat maupun dari pihak pemerintahnya itu sendiri. Namun pada dasarnya, ketidaksesuaian program Raskin tersebut merupakan kesalahan pemerintah dalam hal pendataan warga miskin dan proses implementasi yang kurang perhatian khusus, sehingga program Raskin yang ada di Kelurahan Kenanga tidak berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat Kenanga.Kata kunci: Kemiskinan, implementasi, program Raskin, RTS-PM.AbstractRobiatul Adawiyah, 14123541355, Implementation Program Rice for Poor Families (Raskin) and Impacts For Families In the village Sumber District Kenanga Cirebon, Thesis, Cirebon: Islamic Community Development Department (PMI) of the Faculty of Islamic Theology Preaching Adab IAIN Sheikh Nurjati Cirebon. Poverty is a situation of misery and helplessness experienced by a person either due to inability to meet their daily needs as well as due to the inability of the state or society provide social protection to its citizens. Since the independence of many planned by the government to alleviate poverty. One of them is the government's efforts to alleviate poverty in terms of food that Raskin is already 14 years carried out by the government. Raskin is rice subsidy program for poor families. Government efforts to make this program is expected to improve national food security and social protection to poor households-beneficiaries (RTS-PM) of the Raskin program. Raskin appeared in 2002 as a form of evaluation of the program Special Market Operation (OPK) Rice in mid-1998.Salah the Village / Sub obtaining Raskin is Kenanga village Sumber District Cirebon. The purpose of this study to describe the program implementation in Sub Kenanga Raskin on the welfare of society can be represented on the conditions of life in society. The method used in this research is descriptive qualitative. Mechanical withdrawal informants by using purposive and used three data collection techniques, ie observation, interviews, and documentation. The analysis in this study using data analysis in the field model of Miles and Huberman, namely by performing data reduction, data presentation and verification or conclusion. After the data is collected, the next step is to perform triangulation or merger. The results of this study indicate that the implementation of Raskin program in the Village Boxwood is not in accordance with government regulations. This is due to several factors, both factors of society and of the government itself. But basically, the mismatch of the Raskin program is the government's fault in terms of data collection and the implementation process of the poor who lack special attention, so programs that exist in the Village Raskin Kenanga no impact on improving the economy of the community Kenanga. Keywords: Poverty, implementation, Raskin program, RTS-PM 
Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) Melalui Program CSR PT Indocement (Studi Kasus Di Blok Kebon Gedang Desa Ciwaringin Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon) Satori Satori
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 1 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v1i2.1497

Abstract

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah ( UMKM) merupakan kelompok yang telah mempunyai usaha meskipun skalanya kecil ataupun mikro. UMKM punya potensi untuk tumbuh besar sehingga mampu menyerap tenaga kerja tenaga kerja dan mengurangi pengangguran. Untuk itu dibutuhkan pemberdayaan pada kelompok usaha ini agar tumbuh dengan baik. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. PT Indocement yang berada di Palimanan-Cirebon adalah suatu perusahaan besar yang bergerak dibidang industri semen, CSR Indocement ada pada tahun 2011.                                Penelitian ini bertujuan untuk menjawab bagaimana proses, manfaat, dan dampak pemberdayaan UMKM Batik Tulis melaui Program CSR oleh PT.Indocement terhadap ekonomi pengrajin Batik Tulis. Untuk mengidentifikasi masalah tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan metode observasi,wawancara mendalam, dan studi pustaka. Analisis data yang digunakan yaitu analisis data model Miles dan Huberman yang terdiri atas data reduction, data display, dan conclusion drawing. Validasi data menggunakan triangulasi dan member checking. Trianggulasi adalah proses penguatan bukti dari individu-individu yang berbeda, jenis data, dalam deskripsi dan tema-tema dalam penelitian kualitatif. Member checking adalah suatu proses dimana peneliti menanyakan pada seorang atau lebih partisipan dalam studi untuk mengecek keakuratan dari keteranagn tersebut.        Hasil penelitian menunjukan bahwa pengrajin batik tulis Ciwaringin mendapatan manfaat pemberdayan UMKM melalui permodalan, sarana prasarana, dukungan pemasaran, dukungan non materil,serta selalu mengingatkan pengrajin tentang tujuan utama pada setiap kegiatan yang dilaksanakan, dan dampak pemberdayaan memiliki positif negative. dampak positif yang di proleh pengrajin menpunyai penghasilan, mempunyai ketrampilan lebih, mempunyai koprasi sebagai wadah bagi pengrajin dapat mengembangkan usaha bersama. dan dampak negatif pun tak luput dari antara pengrajin yang dipicu oleh kecemburuan sesame pengrajin. untuk mencegah konflik antar pengrajin sesekali diadakan training motivasi, bertujuan agar pengrajin mendapat pemahaman pentingnya membangun kebersamaan, serta menghindari persaingan antar pengrajin yang tidak sehat. Kata kunci : Pemberdayaan, UMKM, Program CSR
Pengembangan Industri Kreatif Kerajinan Gamelan Kening Dan Upaya Peningkatan Ekonomi Keluarga Wahyudin Wahyudin
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 1 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v1i2.1498

Abstract

Desa Kondangsari adalah salah satu Desa yang berada di Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon yang terkenal dengan salah satu kerajinannya yaitu Gamelan Kening atau Saron. Masyarakat Kondangsari mata pencahariannya sebagian besar sebagi buruh tani. Namun dengan adanya kerajinan Gamelan Kening  masyarakat banyak yang menjadi pedagang, dan karyawan kerajinan Gamelan Kening. Sudah 100 orang lebih yang sudah diberdayakan, baik itu menjadi pedagang keliling maupun menjadi karyawan. Proses pemberdayaannya ialah salah satunya dengan cara memberikan bimbingan dalam hal pembuatan kerajinan kening, dan memberikan modal baik itu modal materi ataupun non materi. Fokus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengembangan Industri Kreatif melalui kerajinan Gamelan Kening  dan upaya peningkatan ekonomi keluarga di Desa Kondangsari Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, pengembangan Industri kreatif  kerajinan Gamelan Kening semakin berkembang dilihat dari tahun ketahun para pedagang banyak permintaan Gamelan Kening untuk di jual, sehingga sampai saat ini kerajinan Gamelan Kening berkembang sampai keluar pulau Jawa penjualannya dan upaya peningkatan ekonomi keluarga semakin meningkat dengan cara bimbingan pembuatan Gamelan Kening. Selain itu juga dampak yang di rasakan oleh masyarakat khususnya Desa Kondangsari ialah menambah perekonomian masyarakat, membuka lowongan pekerjaan dan menetaskan angka kemiskinan. Namun sayang sekali dari aparat kepemerintahan Desa maupun Kecamatan tidak ada bantuan secara materi ataupun non materi sehingga produk kerajinan Gamelan Kening belum menjadi produk unggulan dan hampir kalah saingannya dengan mainan lainnya. Namun ini adalah kerajinan Gamelan warisan yang merupakan aspek penting karena tidak dimiliki oleh setiap Negara.
Developing Practices in Multicultural Society Rosita Tandos
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 2 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v2i1.1645

Abstract

Globalization has brought people and cultures closed one another that affect the aspects of life. It has impact in shaping a multicultural society that consists of various ethnicity, race, class, and gender. Then, multiculturalism has been considered significantly in addressing issues experienced mainly by ethnicities and religious groups. Moreover, it play an important role in the current global condition in which the world recently becoming closer and inter-dependence.Therefore, community workers or any helping profession need to work for managing diversity, not just sufficiently celebrating and acknowledging it. Furthermore, social interventions and services at any aspects of life (social, cultural, education, economic and political) should also integrate the notion of diversities and pluralism, shaping the life of multicultural society.This paper aims to introduce the need for understanding and developing localities multiculturalism as a process that is always contextual, affecting significantly on community organizing and education programs. In discussing the main topic, this paper also focuses on three main frameworks: Islamic perspective and community development theories. These frameworks are used to figure out the challenges or issues existing in the life of communities, with identifying resources and developing a logical framework for community organizing and development as one of interventions to change system and policy.The paper covers two main points of multicultural society and developing practice in multicultural society. The last point specifically focus on the ideas of localities, mentioned by Ife (2002) and apply it in community work or practice. The discussion of this paper include the questions that want to be answered, followed by the discussion of the two main points, while the last session is conclusion that provides some recommendations for changing policy, improving program and services. Key words: multiculturalism, Islamic perspective, and community development
Membangun Jiwa Entrepreneurship Fathurohmman Fathurohmman,
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 2 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v2i1.1646

Abstract

The soul is not a physical part of a person's mind and personality include, synonymous with the spirit, mind, or the crew themselves. The use of the term is more often associated with life compared to the mundane spirit. Personality includes mental and physical attitude. According to Professor Edwood Chapman, mental attitude is a way of communicating or expressing a mood or character to others. If our expression to others positively, then we called the person a positive mental attitude. Conversely, if our expression to others negative, then we called the person a negative mental attitude. While enrteprenuer is one who is able to create a new business as well as creative and innovative to take the risk and uncertainty in order to achieve profit and growth by identifying opportunities and threats as well as combining with its available resources.Entrepreneurship is the human soul owner who has a bit of foresight. He will always coexist interdependent with each other. Interdependent souls will bring glory to the appropriate disposition of individuals, human dignity has created for mutual interdependence, and able to take advantage of any of anything in the world.Key Word: Build, enrteprenuer.
Perlindungan Anak Buruh Migran di Kabupaten Cirebon (Analisis Terhadap Konsep Dampak Anak yang Ditinggalkan) Suryadi Suryadi
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 2 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v2i1.1647

Abstract

Migration is a natural process of human population dynamics that move from place to place for a wide variety of orientations. The phenomenon of international migration is often an overview of the economic situation of a country in equality. Child is the mandate of Almighty God, in their houlders the future of the family, the nation and the state will be handled. Therefore the completion of their optimal growth and development is the duty of the parents and all community elements, including the state to participate in its favor. Child Rights and Protection Act (UUPA) is a manifestation of the seriousness of the state in implementatng the ringhts of the children while protecting them from potential violence that is always threatening. The phenomenon of migrant workers makes children face problem by lack of primary escort their growth process, especially the mother. The role of the father or mother became the sole companion of children and family members assisted potentially unable to meet the data protection and rights of children. Based on the survey results in general the proportion of the fulfillment of 4 (four) children’s fundamental rights, namely the right to life, growng rights, protection rights and the rights of the opinion can be met by one if his parents or both become migrant workers. In the midst of the stuggle to fulfillment of social and economic needs by migrant workers, beside economic pressures and the exsistence of self in community life, international migration is a quick way to meet all needs, most sources person said needs serious attention to the problems of migrant workers children, by optimizing the existence of regulation with the synegy and policies and programs by both government and non-government organizations and community. Keyword: migrant workers, the rights and protection of children. 

Page 1 of 16 | Total Record : 157