cover
Contact Name
Muhammad Ikhsan Ghofur
Contact Email
ikhsan.ghofur@uinssc.ac.id
Phone
+6285292771834
Journal Mail Official
empower@syekhnurjati.ac.id
Editorial Address
Fakultas Dakwa dan Komonikasi Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Kampus 3: Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Kota Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. 45132
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal empower : jurnal pengembangan masyarakat Islam
ISSN : 2580085X     EISSN : 25800973     DOI : https://doi.org/10.24235/empower.v10i2
Core Subject :
Jurnal Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam is an open access and peer-reviewed journal of the Muslim Society Development. The goal of this journal is community development in various fields of life especially in rural sociology, development sociology, Corporate Social Responsibility (CSR), social welfare, social demography, community development management, community development in disaster management, community education, communication development, creative economy, and gender. This journal is publishing original research articles and all papers are peer-reviewed by at least two reviewers.
Arjuna Subject : -
Articles 157 Documents
Pemberdayaan Umat Islam Melalui Pemaknaan Kembali Nilai-Nilai Keislaman Yayat Suryatna
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 2 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v2i1.1648

Abstract

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (QS. 3: 110). Terjemahan ayat Alquran di atas pernah direalisasikan oleh Rasulullah dan umat Islam terdahulu dalam kehidupan nyata. Mereka menjadi umat terbaik dalam artian yang sesungguhnya.Terbaik secara politik, terbaik secara ekonomi, terbaik secara budaya, terbaik secara moral atau akhlak, terbaik dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, terbaik dalam segala aspek kehidupan. Islam dan umat Islam terhebat dan tidak ada yang menandingi kehebatannya, bukan hanya jargon tetapi terbukti dalam realitas kehidupan. Dalam waktu yang amat singkat, mereka berhasil meruntuhkan hegemoni Persia dan Romawi, dua negara adidaya yang ada saat itu, dan melebarkan jangkauan teritorinya hingga mencapai dua pertiga belahan dunia saat itu. Pada zaman keemasannya daulah Islamiyah berperan laksana mercusuar di tengah kegelapan dunia dan menjadi referensi  bagi umat-umat agama lain.Namun saat ini, Dunia Islam secara keseluruhan masih berada dalam kultur pra-industri. yang mustahil dapat bersaing dengan Barat yang telah jauh berada  dalam kultur industri modern. Jargon kebangkitan Islam yang telah dicetuskan pada abad ke-14 Hijriyah masih belum mampu menghasilkan kemajuan yang signifikan. Di antara negara-negara Muslim di dunia, belum satu pun yang dapat dikategorikan ke dalam negara Industri. Paling banter, negara-negara muslim disebut sebagai negara sedang membangun (develoving countries).Di sebagian besar negara-negara Muslim, kemiskinan dan keterbelakangan masih menjadi fenomena yang akut. Negara-negara Muslim yang berhimpun dalam Organization of Islamic Cooperation/OIC yang merupakan asosiasi lintas negara terbesar kedua setelah PBB dengan anggota sebanyak 57 negara dengan penduduk mencapai 22,5% dari total populasi dunia namun secara akumulasi, negara-negara OIC hanya mampu memproduksi 7,2% saja dari total GDP dunia.Mereka hanya berkontribusi 9% dari total nilai perdagangan dunia (world trade) dan 12% dari nilai perdagangan di antara negara anggotanya (intra-trade).  Data di atas menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi umat Islam kontemporer masih sangat marjinal, kurang produktif, tidak kompetitif, dan tidak memiliki kerjasama dan networking yang baik di antara sesamanya maupun dengan negara-negara non-Muslim.Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, setidaknya, ada dua model pembaharuan umat Islam yaitu model Sekulerisme Turki yang memisahkan Islam dari kehidupan berbangsa dan bernegara dan model Islam Arab Saudi yng menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Kedua model pembaharuan dalam Islam tersebut belum menghasilkan kemajuan yang signifikan, karena kedua Negara tersebut sampai saat masih belum masuk kategori Negara industri maju.Berdasarkan realitas tersebut maka diperlukan terobosan-terobosan pemikiran baru guna mengatasi kemandegan ini. Antara lain melalui pemaknaan kembali nilai-nilai dan term-term Islam  sehingga Islam menjadi motivator dan dinamisator peradaban yang progresif revolusioner. Key World: keterbelakangan, kemajuan, pembaharuan, nilai-nilai, Islam.  Abstract "You (Muslims) are the best people born to mankind, (for you) enjoin the goodness, and prevent from the evil, and believe in God" (Surah 3: 110). The translation of the Qur'anic verse above has been realized by the Prophet and the early Muslims in real life. They become the best people in the true sense. Best in politics, best economically, best culturally, best morally, best in the mastery of science and technology, best in all aspects of life. Islam and the greatest Muslims and no one to match his greatness, not only the jargon but proven in the reality of life. In a very short time, they managed to undermine the Persian and Roman hegemony, the two superpowers that existed at that time, and widened the reach of its territory to two-thirds of the world at that time. In its golden age daulah Islamiyah acts as a lighthouse in the darkness of the world and a reference for the people of other religions.But today, the Islamic World as a whole is still in pre-industrial culture. Which is impossible to compete with the West that has been deep in modern industrial culture. The Islamic revival jargon that had been triggered in the 14th century Hijriyah still has not been able to produce significant progress. Among the Muslim countries of the world, not one can be categorized into the industrialized countries. At best, Muslim countries are called developing countries..In most Muslim countries, poverty and underdevelopment are still an acute phenomenon. Muslim countries comprising the Organization of Islamic Cooperation / OIC which is the second largest cross-border association after the UN with members of 57 countries with a population of 22.5% of the total world population but accumulated, OIC countries are only able to produce 7, Only 2% of the total GDP of the world. They only contribute 9% of the total world trade value and 12% of the trade value among its member countries (intra-trade). The data above show that the economic power of contemporary Muslims is still very marginal, less productive, uncompetitive, and has no good cooperation and networking between neighbors and non-Muslim countries.To catch up, at least, there are two models of Islamic renewal: the Turkish secularism model that separates Islam from the life of the nation and the state and the Islamic model of Saudi Arabia which applies Islam in all aspects of life. Both models of reform in Islam have not produced significant progress, because the two countries until now still not entered the category of industrialized countries developed.Based on the reality of the necessary new breakthroughs to overcome this stagnancy. Among others, through the re-interpretation of Islamic values and terminology so that Islam becomes a revolutionary progressive and revolutionary civilization motivator and dynamist. Key World: underdevelopment, progress, renewal, values, Islam. 
Donor Darah Kampung Siaga sebagai Gerakan Sosial Masyarakat Syaeful Badar
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 2 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v2i1.1655

Abstract

Donor darah adalah kegiatan seseorang yang dengan secara sukarela menyumbangkan darahnya untuk kepentingan kemanusiaan, yang secara periodik dilakukan dengan interval waktu per tiga bulan sekali. Kegiatan donor darah  yang dilakukan oleh seseorang diangap sangat penting, karena kebutuhan darah di Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia selanjutnya ditulis UTD PMI di Kota Cirebon, baru terpenuhi sekitar  75% dari kebutuhan yang ada, terutama untuk rujukan dari beberapa Rumah Sakit Umum Swasta dan Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Djati Cirebon. Sehingga kegiatan donor darah yang semula dilakukan oleh seseorang, kemudian dilakukan oleh kelompok masyarakat yang berada di tingkat Rukun Warga atau RW yang tergabung dalam kegiatan Kampung Siaga, donor darah menjadi kegiatan yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat setiap per tiga bulan sekali.                                                 Kata Kunci:  Donor darah secara kelompok di masyarakat melalui kegiatan Kampung Siaga, berlangsung secara ter-organisir dan tersistem.  AbstractBlood donation is the activity of a person who voluntarily donates his blood for humanitarian purposes, periodically conducted at intervals of once every three months. Blood donor activities conducted by a person is considered very important, because the blood needs in the Blood Transfusion Unit of Indonesia Red Cross then written UTD PMI in Cirebon City, only fulfilled about 75% of the existing needs, especially for referrals from several Private Private Hospitals and Houses General Hospital of Gunung Djati Cirebon. So that the blood donor activity that was originally done by someone, then done by community group which is in level of Rukun Warga or RW which joined in Kampung Siaga activity, blood donor become routine activity implemented by society once every three month. Key Word: Group of blood donation in community through Kampung Siaga activity, organized and systemized.
Peran Ulama dalam Pemberdayaan Masyarakat Marjinal: Ahmad Asmuni
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 2 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v2i1.1656

Abstract

Manusia dengan potensi akal yang dikaruniakan oleh Allah swt kepadanya, mestinya dapat mengantarkannya pada kehidupan yang bermakna dan sejahtera. Namun demikian, pada kenyataannya, ada sekelompok manusia yang termarjinalkan dari kelompok lainnya. Kelompok yang demikian dikenal dengan istilah kelompok marjinal atau masyarakat marjinal. Kelompok marjinal terbagi menjadi dua yakni; kelompok marjinal yang tradisional dan kelompok marjinal yang modern. Pada dasarnya kedua kelompok marjinal tersebut memerlukan solusi untuk bisa lepas dari ketermarjinalannya. Oleh karena itu, kelompok marjinal tersebut memerlukan sosok yang mampu menjadi perantara bagi terlepasnya mereka dari “symbol” sebagai masyarakat marjinal yang disandangnya. Dalam hal ini salah satu sosok yang dibutuhkan oleh mereka untuk bisa lepas dari symbol ketermarjinalan adalah sosok ulama yang dengan dakwahnya mampu mengantarkan mereka terlepas dari stempel sebagai masyarakat marjinal.    Kata Kunci: Ulama, Pemberdayaan, dan Masyarakat Marjinal. AbstractMan with the potential of reason which Allah granted to him, should be able to deliver it to a meaningful and prosperous life. However, in reality, there is a group of people marginalized from other groups. Such groups are known by the term marginal or marginal society. Marginalized groups are divided into two namely; Traditional marginalized groups and modern marginalized groups. Basically, the two marginal groups need a solution to get out of ketermarjinalannya. Therefore, the marginal group needs a figure capable of intermediary for their release from the "symbol" as the marginal society it bears. In this case one of the figures required by them to get away from the symbol of ketermarjinalan is a figure of scholars who with dakwah able to deliver them regardless of the stamp as a marginal society. Keywords: Ulama, Empowerment, and Marginal Society.
Urgensitas Ulama dan Dakwah dalam Membangun Masyarakat Pedesaan Mustopa Mustopa
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 2 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v2i1.1657

Abstract

Manusia selalu berusaha untuk selalu bisa maju dan berkembang. Perkembangan kehidupan manusia yang lebih baik diantaranya ditandai dengan adanya pembangunan dalam berbagai aspek kehidupan, baik yang bersifat  jasmani maupun rohani. Untuk menghindari kesalahan/ kerusakan dalam pembangunan yang dilakukan masyarakat tentu perlu adanya arahan dari orang-orang atau pihak-pihak yang memiliki kompetensi terkait dengan masalah tersebut. diantaranya adalah pemerintah dan ulama. Masyarakat, dalam upanya membangun perlu mendapatkan arahan dari pemerintah dan ulama. Hal ini mutlak perlu agar pembangunan yang dilakukannya tidak bertentangan dengan nilai-nilai budaya dan agama. Dengan adanya arahan dan masukan dari pemerintah dan ulama, tentunya pembangunan dapat terarah dan terkontrol dengan baik. Sehingga pembangunan tidak merusak lingkungan yang pada gilirannya justru akan menjadi sumber kehancuran bagi masyarakat itu sendiri. Kata Kunci: Ulama, Dakwah, Pembangunan dan Masyarakat Perdesaan. AbstractHumans always try to always be able to move forward and develop. The development of human life is better marked by the presence of development in various aspects of life, both physical and spiritual. To avoid errors / damage in the development of the community would need the direction of the people or parties who have competence associated with the problem. Among them are government and ulama. The community, in its building, needs to get direction from the government and ulama. It is absolutely necessary that the development undertaken does not conflict with cultural and religious values. With the direction and input from the government and ulama, of course, development can be well directed and controlled. So that development does not damage the environment which in turn will be a source of destruction for society itself. Keywords: Ulama, Da'wah, Development and Rural Community. 
Urgensitas Ulama dan Dakwah Islamiyyah dalam Meningkatkan Pemberdayaan Masyarakat (Ambigu Antara Idealitas Dan Realitas) Idham Kholid
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 2 No. 1 (2017)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v2i1.1658

Abstract

Masyarakat Modern dengan segudang kesibukan yang selalu melilitnya telah berada diujung kehidupan yang “pemisahan yang dalam” antara si kaya dan si miskin. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Kemiskinan yang teramat sangat ataupun kekayaan yang berlebihan bisa menempatkan manusia pada kondisi yang tak seimbang. Karena itu perlu diadakan penyadaran lewat dakwah Islamiyyah oleh para ulama. Dengan dakwah Islamiyyah diharapka bai8k si kaya maupun si miskin bisa saling toleran dan saling menimbang rasa. Terutama si miskin perlu dipahamkan bahwa kemiskinan bukan memicu munculnya sikap ketidak berdayaan ataupun bukan akhir dari segalanya dalam hidup ini. Karena masih banyak hal yang bisa dilakukan oleh si miskin dalam kehidupan ini. Si miskin perlu diberdayakan agar lebih bisa membantu dirinya sendiri. Kata Kunci: Ulama, Dakwah islamiyyah dan Pemberdayaan masyarakat   AbstractModern society with a myriad of activities that always wrapped around it has been at the end of life a "deep separation" between the rich and the poor. The rich get richer and the poor get poorer. Extremely poverty or excessive wealth can put people in an unbalanced state. Therefore it is necessary to establish awareness through Islamiyyah dakwah by the scholars. With Islamiyyah dakwah expected bai8k the rich and the poor can be mutual tolerance and mutual taste. Especially the poor need to be understood that poverty does not trigger the emergence of the attitude of helplessness or not the end of everything in life. Because there are still many things that the poor can do in this life. The poor need to be empowered to be more able to help himself. Keywords: Ulama, Islamiyyah Da'wah and Community Empowerment
ANALISIS PRODUKTIVITAS TAMBAK BANDENG DAN DAMPAKNYA BAGI KESEJAHTERAAN EKONOMI MASYARAKAT PESISIR Tiar Muslim
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 4 No. 1 (2019)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v4i1.2567

Abstract

Produktivitas merupakan salah satu tolak ukur tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat. Semakin tinggi tingkat produktivitas tambak maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraanya. Penelitian ini dilakukan di Desa Prapag lor Kecamatan Losari Kabupaten Brebes..Berdasarkan hasil peneltian, diperoleh bahwa hasil memasang udang memberikan pendapatan yang sangat melimpah terhadap masyarakat desa Prapag Lor. Produktivitas tambak dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya faktor teknologi, faktor musim dan faktor manusia.  Hasil budidaya tambak membuat tingkat kesejahteraan petani tambak meningkat pada kondisi menegah. Secara umum ada berbagai faktor yang mebuat hasil menjadi berkurang salah satunya adalah bibit bandeng yang hasil ternakan yang lebih rentan dalam menghadapi berbagi macam kondisi.  Meningkatnya produktivitas tambak membuat pola pikir masyarakat menjadi lebih terbuka terhadap hal-hal yang terkait masa depan. Seperti menyekolahkan anaknya, menabung di bank dan sebagainya.Kata kunci : produktivitas, peningkatan, tambak  
PERAN INTELEKTUAL MUSLIM DALAM MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT MENUJU MASYARAKAT MADANI (Sebuah Gagasan dan Harapan) A.R Idham kholid
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v3i1.2903

Abstract

ABSTRAKSecara historis, aktivitas dakwah pada awalnya hanyalah merupakan tugas sederhana yakni kewajiban untuk menyampaikan apa yang diterima dari RasuluIIah SAW., walaupun hanya satu ayat. Terkait dengan persoalam pemberdayaan masyarakat menuju masyarakat Madani ternyata disamping menjadi tugas para ulama pun menjadi tugas para intelektual Muslim.Peran intelektual Muslim dalam pemberdayaan masyarakat menuju masyarakat madani mulai terlihat bentuknya secara jelas pada masa rezim Soeharto dan terus menemukan bentuknya pasca runtuhnya kekuasaan rezim Soeharto dan beralih ke masa Reformasi. Kata Kunci: Cendikiawan Muslim, Pemberdayaan, dan Masyarakat Madani.  ABSTRACTHistorically, da'wah activity was originally only a simple task, namely the obligation to convey what is received from Rasulullah SAW, although only one verse. Related to the problem of community empowerment to the society Madani was in addition to the duties of the scholars became the duty of Muslim intellectuals.The role of Muslim intellectuals in the empowerment of civil society towards civil society began to be seen clearly in the Soeharto regime and continues to find its form after the collapse of Soeharto regime power and move to the Reformation. Keywords: Muslim Scholars, Empowerment, and Civil Society.
PERAN FP KIBBLA SEBAGAI UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI KABUPATEN CIREBON khusnul khotima
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v3i1.2904

Abstract

ABSTRAKFenomena maraknya kematian ibu dan anak bayi baru lahir menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan. Hal tersebut disebabkan kurangnya pengetahuan akan hal-hal terkait kehamilan bagi ibu, terutama di wilayah yang sulit tersentuh informasi. Fenomena tersebut menjadi alasan pentingnya pengadaan sosialisasi bagi kaum perempuan, terutama bagi calon ibu. FP KIBBLA Kabupaten Cirebon adalah salah satu lembaga kemasyarakatan yang peduli akan pentingnya pemberian informasi dan pengetahuan tentang kehamilan bagi masyarakat. Salah satu program yang telah dicanangkan adalah program EMAS dan MAMPU. Kata Kunci: FP KIBBLA, Program EMAS, Program MAMPU  ABSTRACTThe phenomenon of the rampant death of mother and newborn baby child becomes a matter that need to be paid attention. This is due to a lack of knowledge about pregnancy-related matters, especially in areas that are hard to touch with information. The phenomenon is the reason for the importance of socialization procurement for women, especially for prospective mothers. FP KIBBLA Kabupaten Cirebon is one of the social institutions concerned about the importance of providing information and knowledge about pregnancy for the community. One of the programs that has been announced is the program of EMAS and MAMPU. Keywords: FP KIBBLA, EMAS Program, MAMPU Program
PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN MELALUI HOME INDUSTRY BATIK DI DESA SENDANG DUWUR KECAMATAN PACIRAN KABUPATEN LAMONGAN Mir'atun Nisa Muhtadi
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v3i1.2906

Abstract

ABSTRAKDalam penulisan ini, ingin melihat bagaimana proses pemberdayaan yang dilakukan serta apa saja hasil yang dapat diperoleh masyarakat yang tergabung dalam  home industry  batik.Dengan demikian, metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif, yaitu pengamatan dan wawancara guna untuk melihat sejauh mana proses yang dilakukan oleh home industry  batik serta melihat hasil yang didapat oleh anggotanya. Teori yang digunakan adalah teori tahapan pemberdayaan yang dikemukakan oleh Sumodiningrat dan teori indikator pemberdayaan yang dikemukakan oleh Edi Suharto. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses pemberdayaan yang dilakukan home industry batik sesuai dengan tiga tahapan pemberdayaan yaitu tahap penyadaaran, tahap transformasi dan tahap peningkatan intelektualitas. Sedangkan hasil yang diperoleh oleh masyarakat dari home industry batik  hanya menggunakan 3 dari 8 indikator pemberdayaan yang dikemukakan  oleh Edi Suharto. Home industry batik dapat dikatakan sudah berhasil memberdayakan masyarakat disekitar lokasi home industry. Berhasil merubah masyarakat yang tidak produktif menjadi produktif serta memiliki penghasilan yang tidak hanya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan juga bisa diinvestasikan untuk dipergunakan di masa yang akan mendatang. ABTRACTIn this paper, want to see how the empowerment process is done and what the results can be obtained by people who are members of the home industry batik. Thus, the method used in this paper is a qualitative method, namely observations and interviews in order to see how far the process done by batik home industry and see the results obtained by its members. The theory used is the theory of empowerment stages proposed by Sumodiningrat and theory of empowerment indicators proposed by Edi Suharto. The results showed that the empowerment process conducted batik home industry in accordance with the three stages of empowerment stage of penyauaran, transformation stage and stage of intellectual improvement. While the results obtained by the community from the batik home industry use only 3 of the 8 indicators of empowerment proposed by Edi Suharto. Home industry batik can be said to have succeeded in empowering society around home industry location. Successfully transforming unproductive societies into productive ones and having income that is not only used to meet the needs of life, and can also be invested to be used in the future.
PENGEMBANGAN MASYARAKAT (Sebuah Kerangka Koseptual) Suryadi Suryadi
Empower : Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/empower.v3i1.2907

Abstract

ABSTRACT Community is a physical place, but it also can be defined as people who live in the same location, share common interests, jointly own or participate in something, share common characteristics, or have mutual relations. Development relates to realizing potential, growth or expansion of something, or making something more effective. Put together simply, community development is the act of growing, expanding or making more effective groups of people who have mutual interests. Many theories and strategies have been developed to attain community goals. There are also administrative and managerial aspects in designing approach in community development programs.Key words: community, development, strategies

Page 2 of 16 | Total Record : 157