cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 23 Documents
Search results for , issue "Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018" : 23 Documents clear
ANALISIS REGRESI LINIER TERHADAP POLA HISTOGRAM SPEKTRAL ALGORITMA NDVI, EVI DAN LSWI UNTUK MENGESTIMASI TINGKAT PRODUKTIVITAS PADI (Studi Kasus : Kabupaten Demak, Jawa Tengah) Kurnia Wisnu Aziz; Yudo Prasetyo; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.455 KB)

Abstract

ABSTRAKBeras merupakan salah satu bahan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Jumlah penduduk yang terus bertambah membuat permintaan beras semakin meningkat. Namun luas sawah semakin menurun. Pemerintah Indonesia ingin mewujudkan swasembada beras pada tahun 2017. Beberapa program ketahanan pangan dilaksanakan untuk mencapainya. Salah satunya adalah memprediksi atau memperkirakan produksi dan konsumsi beras. Kabupaten Demak merupakan salah satu kabupaten yang menjadi penyangga pangan nasional. Hal tersebut terbukti dengan capaian pada tahun 2015, produksi padi yang mencapai 653.547 ton gabah kering giling (GKG).Teknologi penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk memperoleh kecepatan dan ketepatan informasi dalam bidang pertanian. Dalam hal ini penginderaan jauh berperan dengan memanfaatkan citra satelit Landsat 8 multitemporal untuk mengestimasi produktivitas padi dengan algoritma NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), EVI (Enhanced Vegetation Index) dan LSWI (Land Surface Water Index). Metode pemodelan estimasi produktivitas padi dalam penelitian ini akan dibangun berdasarkan analisis regresi linier berganda antara produktivitas padi dan indeks vegetasi.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa algoritma NDVI dan LSWI merupakan kombinasi regresi linier berganda terbaik dalam estimasi tingkat produktivitas padi yang menghasilkan koefisien determinasi sebesar 0,639. Validasi persamaan model regresi terhadap data Dinas Pertanian Kabupaten Demak memiliki selisih sebesar 45,742 Kw/Ha dengan tingkat RMSE 8,394 Kw/Ha. Model yang terbentuk dapat berlaku pada subround kedua yaitu masa panen bulan Mei hingga Agustus.Kata Kunci : EVI, LSWI, NDVI, Produktivitas Padi ABSTRACTRice is one of the main foods for most Indonesians. The increasing population makes rice demand more and more. But the area of rice field decreased. The Indonesian government wants to realize rice self-sufficiency by 2017. Several food security programs are implemented to achieve it. One of them is predicting or estimating rice production and consumption. Demak Regency is one of the districts that become the national food support. This is prove with the achievements in 2015, rice production was reach 653,547 tons of dry milled grain (GKG).Remote sensing technology can be utilized to obtain the speed and accuracy of information in agriculture. In this case remote sensing acts by utilizing multilayered Landsat 8 satellite images to estimate the productivity of rice with NDVI algorithms (Normalized Difference Vegetation Index), EVI (Enhanced Vegetation Index) and LSWI (Land Surface Water Index) .The method of estimating rice productivity in this study will based on multiple linear regression analysis between rice productivity and vegetation index.The results of this research indicate that NDVI and LSWI algorithm is the best combination of linear regression in estimation of rice productivity level which produce coefficient of determination equal to 0.639. Validation of regression model equation to Demak District Agriculture Department data has difference 45,742 Kw / Ha with RMSE 8,394 Kw / Ha. The model can be applied in the second subround that is the harvest of May to August.Keywords: EVI, LSWI, NDVI, Rice Productivity
ANALISIS PERUBAHAN KUALITAS PERAIRAN DANAU RAWA PENING PERIODE 2013, 2015 DAN 2017 DENGAN MENGGUNAKAN DATA CITRA LANDSAT 8 MULTITEMPORAL Dewinta Heriza; Abdi Sukmono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.766 KB)

Abstract

ABSTRAKDanau Rawa Pening adalah danau yang yang terletak di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah yang di kelilingi oleh Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang dan Banyubiru. Salah satu faktor penyebab permasalahan pada danau Rawa Pening adalah tingkat kualitas perairan sehingga menyebabkan pendangkalan, penyusutan luas, persebaran vegetasi air (eceng gondok) serta tekanan sedimentasi. Parameter fisik yang digunakan untuk menilai kualitas air adalah dengan menggunakan konsentrasi Total Suspended Solid (TSS), luas sebaran vegetasi air dan kecerahan. Penelitian ini menggunakan algoritma terpilih yang didapatkan dari uji regresi pendugaan algoritma dengan data validasi lapangan. Pendugaaan algortima menggunakan algortima dari Syarif Budhiman, Parwati, dan Nurahida Laila, sedangkan pendugaan tingkat kecerahan dilakukan dengan menggunakan algoritma Doxaran. Analisis klasifikasi tutupan lahan dilakukan dengan menggunakan metode klasifikasi terbimbing secara multitemporal. Algoritma TSS terpilih yang diperoleh dari hasil pengujian algoritma adalah algortima Parwati dimana memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0,825 dengan koefisien determinasi sebesar 68%. Kualitas perairan danau Rawa Pening mengalami perubahan pada tingkat TSS, kecerahan dan luas sebaran vegetasi air. Persentase kualitas fisik perairan danau Rawa Pening pada tahun 2013 pada kondisi tercemar berat sebesar 1,2 %, pada tahun 2015 sebesar 0% dan pada tahun 2017 sebesar 0,1 %. Status trofik danau Rawa Pening termasuk dalam golongan rusak hipertrofik. Persentase kecerahan pada danau Rawa Pening pada kondisi hipertrofik dengan transparasi 0-0,5 m pada tahun 2013 adalah sebesar 35,3%, tahun 2015 sebesar 0,07% dan pada tahun 2017 sebesar 46,56%. Kualitas perairan danau Rawa Pening berdasarkan luas sebaran vegetasi air mengalami kenaikan dikarenakan penurunan jumlah kenaikan persentase vegetasi air sebesar 31,28% dari persentase vegetasi air pada tahun 2013 sebesar 51,6%.Kata Kunci          : Danau Rawa Pening, Kecerahan, Total Suspended Solid, Vegetasi air ABSTRACTRawa Pening Lake is a lake located in Semarang regency, Central Java surrounded by Ambarawa, Bawen, Tuntang and Banyubiru Districts. One of the factors causing problems in Rawa Pening lake is water quality level causing siltation, wide shrinkage, water vegetation spread (water hyacinth) and sedimentation pressure. Physical parameters used to assess the quality of water is to use the concentration of Total Suspended Solid (TSS), the extent of the spread of water vegetation and water brightness. This research uses the selected algorithm obtained from regression test of algorithm estimation with field validation data. Estimation of algortima using algortima from Syarif Budhiman, Parwati, and Nurahida Laili, while the prediction of brightness level is done by using Doxaran algorithm. The analysis of land cover classification is done by using multitemporal guided classification method. Selected TSS algorithm obtained from algorithm test result is Parwati algortima which has correlation coefficient value of 0.825 with determination coefficient of 68%. The quality of the waters of Rawa Pening lake has changed at TSS level, brightness and wide distribution of water vegetation. The percentage of physical quality of the waters of Rawa Pening in 2013 in the condition of heavy polluted by 1.2% in 2015 by 0% and in the year 2017 of 0.1%. Trophic status of Rawa Pening lake is included in hypertrophic fault class. The percentage of brightness in Rawa Penig in hypertrophic conditions with transparency 0-5 m in 2013 was 35.3%, by 2015 by 0.07% and by 2017 by 46.56%. The quality of the Rawa Pening waters watershed based on the widespread distribution of water vegetation increased due to the decrease in the percentage of water vegetation percentage increase by 31.28% of the percentage of water vegetation in 2013 by 51.6%Keywords: Brightness, Rawa Pening Lake, Total Suspended Solid, Water Vegetation
ANALISIS KESESUAIAN RUANG TERBUKA HIJAU DAN TAMAN KABUPATEN SUKOHARJO MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Pradipta, Carlo; Nugraha, Arief Laila; Hani’ah, Hani’ah
Jurnal Geodesi Undip Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.023 KB)

Abstract

ABSTRAK Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area memanjang atau mengelompok, tempat tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Adanya Ruang Terbuka Hijau di suatu wilayah adalah dapat berfungsi sebagai paru-paru kota, untuk membuat perkotaan tetap indah dan tidak penuh dengan polusi udara. Setiap wilayah kota harus menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 30% dari luas wilayah, dimana 20% RTH publik dan 10% RTH privat. Klasifikasi RTH publik Kabupaten Sukoharjo terdiri dari pemakaman, hutan kota, jalur hijau jalan, sempadan kereta api, sempadan sungai dan taman. Penelitian ini mengunakan citra Quickbird tahun 2009 untuk mengetahui sebaran dan luasan RTH pada Kabupaten Sukoharjo dengan cara interpretasi visual dan digitasi pada citra satelit tersebut. Kemudian dilakukan topologi pada hasil digitasi, selanjutnya dilakukan validasi lapangan untuk melihat kesesuaian dari hasil digitasi terhadap kondisi di  lapangan. Dari proses tersebut akan menghasilkan peta RTH Kabupaten Sukoharjo. Selanjutnya pada peta tersebut dilakukan analisis kesesuaian terhadap Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/PRT/M/2008 dan analisis ketersediaan taman terhadap jumlah penduduk.Berdasarkan pengolahan citra resolusi tinggi didapatkan luasan RTH Kabupaten Sukoharjo sebesar 9.319.144,411 m2 atau sekitar 1,89% dari total luas wilayah Kabupaten Sukoharjo yang sebesar 492.130.650 m2. Berdasarkan analisis ketersediaan taman terhadap jumlah penduduk dengan studi wilayah di Kecamatan Sukoharjo dengan luas per kapita sebesar 0,271 m2 per jiwa dimana standar kapasitas taman per kecamatan adalah 0,2 m2 per jiwa. Kata Kunci : Kabupaten Sukoharjo, Ruang Terbuka Hijau, Sistem Informasi Geografis, Taman           ABSTRACT Green Open Space is an area extending/lines or grouped area, that its use is more is open, where naturally occurring or intentionally planted crops grow. The function of the Green Open Space in this area is as the lungs of the city, to keep an urban area beautiful and not filled with air pollution only. Each municipality must provide 30% Green Open Space of the total area, of which 20% of public Green Open Space and 10% private Green Open Space. The classification of public Green Open Space in Sukoharjo Regency consists of cemeteries, forests, roadway lines, railway borders, river borders and parks. This research uses Quickbird image in 2009 to know the distribution and extent of Green Open Space in Sukoharjo Regency by visual interpretation and digitization on the satellite image. The next step is to do the topology on digitized results, then do the validation to see the suitability of the results of digitization on conditions in the field. From the process will produce Green Open Space map in Sukoharjo Regency. Furthermore on the map will be analyzed of the suitability to the Minister of Public Works Regulation Number 5/2008 and will be analyzed of park availability to the population.Based on the high resolution image processing, the Green Open Space area of Sukoharjo is 9,319,144.411 m2 or about 1.89% of the total area of Sukoharjo Regency which is 492,130,650 m2. From these results indicate that the total area of Green Open Space is not in accordance with the area recommended in the Minister of Public Works Regulation Number 5/2008. Based on the analysis of park availability to the total population in Sukoharjo Regency,  in Sukoharjo sub-district per capita area of 0.271 m2 per person, where the standard of park capacity per sub-district is 0.2 m2 per person. Keywords : Geographic Information System, Green Open Space, Park, Sukoharjo Regency
ANALISIS PERBANDINGAN MODEL GENANGAN TSUNAMI MENGGUNAKAN DATA DEM ASTER, SRTM DAN TERRASAR (Studi Kasus: Kabupaten Pangandaran) Anang Ikhwandito; Yudo Prasetyo; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.179 KB)

Abstract

ABSTRAKPesisir Kabupaten Pangandaran merupakan wilayah di Indonesia yang pernah mengalami bencana tsunami. Tsunami tersebut terjadi pada tanggal 17 juli 2006 dengan jumlah korban sekitar 700 orang. Secara umum pesisir Kabupaten Pangandaran memiliki karakteristik yang rentan terhadap limpasan gelombang tsunami. Kerentanan yang tinggi tersebut dikarenakan sebagian besar wilayah pesisir Pangandaran merupakan wilayah pariwisata, oleh karena itu diperlukan upaya mitigasi bencana untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan. Salah satu upaya mitigasi bencana tsunami dapat dilakukan dengan pembuatan model genangan tsunami. Pemodelan genangan tsunami menggunakan formulasi yang dikembangkan Berryman (2006) dengan mempertimbangkan tiga parameter utama yaitu topografi, koefisien kekasaran permukaan dan ketinggian tsunami di garis pantai. Parameter topografi menggunakan DEM ASTER 30 meter, SRTM 30 meter dan TerraSAR 9 meter, sedangkan koefisien kekasaran diperoleh dari tutupan lahan yang dihasilkan dengan klasifikasi terbimbing dengan menggunakan Citra Landsat-8 tahun 2016. Penelitian ini menggunakan dua ketinggian tsunami yaitu 8 dan 15 meter sesuai dengan data historis tsunami Kabupaten Pangandaran. Berdasarkan pemodelan yang dibentuk, diperoleh luas terdampak yang dihasilkan model genangan dari DEM ASTER untuk tinggi tsunami 8 dan 15 meter yaitu 1600,98 dan 4279,23 hektar, model genangan dari DEM SRTM untuk tinggi tsunami 8 dan 15 meter yaitu 1703,02 dan 4027,33 hektar dan model genangan dari DEM TerraSAR yaitu 1348,59 dan 2025,35 hektar. Model genangan tsunami terbaik yaitu model yang dihasilkan berdasarkan DEM TerraSAR, dimana model tersebut baik secara visual maupun kemiripan dengan kejadian tsunami di Kabupaten Pangandaran. Tingkat visual pada pemodelan genangan tsunami dipengaruhi oleh resolusi spasial data yang digunakan. Sedangkan pada kemiripan tsunami terdapat pada model genangan tsunami dari DEM TerraSAR dengan tinggi tsunami 15 meter. Model tersebut memiliki selisih kedalaman tsunami terkecil pada titik validasi yakni 0,5 meter.Kata Kunci: DEM, Pangandaran, Tsunami ABSTRACTCoastal Pangandaran Regency is an area in Indonesia that had experienced a tsunami disaster. The tsunami occurred on 17 July 2006 with a casualty of about 700 people. In general, coastal Pangandaran Regency has characteristics that are vulnerable to runoff of  tsunami wave. The high vulnerability due to most of the coastal area of Pangandaran is a tourism area, therefore it takes disaster mitigation efforts to reduce the losses incurred. One of the tsunami disaster mitigation efforts can be done by making tsunami inundation model. Tsunami modeling using developed formulation by Berryman (2006) with considering three main parameters: topography, coefficient of surface roughness and tsunami height at coastline. Topographic parameters using ASTER DEM 30 meters, SRTM 30 meters and TerraSAR 9 meters, while coefficient of surface roughness obtained from land cover produced by supervised classification process using Landsat-8 Image 2016. This study used two tsunami heights of 8 and 15 meters according with historical data of tsunami of Pangandaran Regency. Based on the formed model, the result of impacted area produced by the inundation model from DEM ASTER for tsunami height 8 and 15 meter is 1600,98 and 4279,23 hectare, the inundation model from DEM SRTM for tsunami height 8 and 15 meter is 1703.02 and 4027.33 hectares and the inundation models of DEM TerraSAR are 1348.59 and 2025.35 hectares. The best tsunami inundation model is a model based on TerraSAR DEM, in which the model is both visually and resemblance to the tsunami event in Pangandaran Regency. The visual level on tsunami inundation modeling is influenced by the spatial resolution of the data used. Meanwhile, the tsunami similarity is in the tsunami inundation model from DEM TerraSAR with a tsunami height of 15 meters. Where the model has the smallest tsunami depth difference at the validation point of 0.5 meters.Keywords: DEM, Pangandaran, Tsunami
ANALISIS PERBANDINGAN KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN KOMBINASI DATA POINT CLOUD LIDAR DAN FOTO UDARA BERBASIS METODE SEGMENTASI DAN SUPERVISED ATIKA MARWATI; Yudo Prasetyo; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.45 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Pemerintah saat ini merencanakan pembagunan fisik secara cepat untuk seluruh kawasan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Strategi pembangunan fisik secara cepat tentu saja memerlukan adanya peta. Peta terdiri dari peta dasar dan peta tematik. Salah satu contoh dari peta tematik adalah peta tutupan lahan. Upaya pemerintah untuk menuntaskan kebijakan one map policy membuat kebutuhan akan sumber daya manusia geospasial semakin meningkat sedangkan masih sedikit sumber daya manusia yang tersedia. Hal ini menyebabkan diperlukannya sebuah metode yang relatif lebih cepat dan efektif untuk pengklasifikasian tutupan lahan.Saat ini telah banyak dikembangkan metode klasifikasi untuk tutupan lahan menggunakan data penginderaan jauh, diantaranya klasifikasi berbasis piksel dan klasifikasi berbasis objek. Klasifikasi berbasis piksel salah satunya dengan metode supervised dan klasifikasi berbasis objek dapat dilakukan dengan metode segmentasi. Segmentasi dalam konteks OBIA (Object-Based Image Analysis) dapat diartikan sebagai proses pengelompokan dari piksel-piksel bertetangga ke dalam area atau segmen berdasarkan kemiripan kriteria seperti digital number atau tekstur. Pada kedua metode ini dapat dibedakan antara kelas vegetasi, air dan sebagainya. Dari algoritma segmentasi multiresolusi yang telah dilakukan untuk data LiDAR didapatkan nilai parameter skala 90, bentuk 0,3, kekompakkan 0,7. Sedangkan untuk data foto udara nilai parameter skala sebesar 250, bentuk 0,3 dan kekompakkan 0,5. Pada data foto udara menghasilkan 7.930 segmen dengan nilai overall acuracy 93,907%. Kemudian untuk data LiDAR menghasilkan 7.960 segmen dengan nilai overall acuracy sebesar 92,810%. Metode supervised dilakukan dengan kelas yang sama yaitu 12 kelas untuk foto udara dan 7 kelas untuk LiDAR. Berdasarkan hasil supervised foto udara didapatkan nilai overall accuracy sebesar 83,530%. Sedangkan LiDAR hanya sebesar 64,595% untuk nilai overall accuracy.Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan yang bermanfaat bagi penelitian selanjutnya serta menjadi referensi bagi pemerintah dalam melakukan klasifikasi tutupan lahan dengan data point cloud dan foto udara.Kata Kunci : Klasifikasi, LiDAR, OBIA, Segmentasi, Supervised ABSTRACTIndonesia is an archipelagic country with extending islands from Sabang to Merauke. The government is currently planning on a rapid physical development for each region of The Unitary State of Republic of Indonesia. Rapid physical development indeed needs a map. Map consists of base map and thematic map. One of the thematic maps is land cover map. Government’s effort on completing the one map policy causing the increasing needs of geospatial human resources while available human resources are limited. As a result a relatively fast and effective method is needed in land cover classification.Classifying land cover methods with remote sensing data are currently much developed, like pixel and object-based land cover classifications. Some of the pixel-based classification methods, supervised and object-based classification can be done with segmentation method. In OBIA (Object-Based Image Analysis) context, segmentation is a process of grouping neighborhood pixels into one area (or segment) based on characteristic similarities such as digital number or texture. From both of the methods it is enabled to differentiate between classes of vegetation, water, etc. Based on the completed multi-resolution segmentation algorithm, LiDAR data obtained parameter scale value of 90, shape 0.3, compactness 0.7. Whereas aerial image data obtained parameter scale value of 250, shape 0.3 and compactness 0.5. The aerial image generaed 7.930 segments wirh overall accuracy value of 93,9077%. Lidar data obtained 7.960 segments with overall accuracy value of 92,810%. Supervised method is completed with same amount of 12 classes for aerial image and 7 classes for LiDAR. Based on the supervised aerial image overall accuracy of 85.530% is generated. Meanwhile LiDAR only generated overall accuracy of 64.595%.It is hoped that this research can contribute in useful insights for the next upcoming research and also as a reference for the government in classifying land covers with point cloud data and aerial images.Keywords: Classification, LIDAR, OBIA, Segmentation, Supervised
APLIKASI UAV (UNMANNED AERIAL VEHICLE) FOTOGRAMETRIUNTUK PERENCANAAN PENGEMBANGAN JALUR TRANSMISISUTET 500 kV (Studi Kasus : Kec. Ambarawa, Kab. Semarang) Agree Isnasatrianto; Yudo Prasetyo; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.202 KB)

Abstract

ABSTRAK Pertumbuhan konsumsi listrik nasional semakin tinggi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. Peningkatan kebutuhan listrik ini diperkirakan akan terus tumbuh dengan rata-rata pertumbuhan 6,5% per tahun hingga tahun 2020. Salah satu upaya PLN yang bergerak pada bidang ketenagalistrikan di Indonesia untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan listrik tersebut adalah dengan membangun SUTET untuk pendistribusian listrik dari sumber listrik ke gardu induk.Pada penelitian ini UAV akan dimasukkan pada proses perencanaan penentuan jalur SUTET sesuai dengan peraturan yang berlaku dan dikombinasikan dengan survei GPS untuk menghasilkan data koordinat yang teliti. Data yang dihasilkan dari UAV berupa foto udara yang kemudian akan diolah menjadi orthofoto, DSM (Digital Surface Model) dan DTM (Digital Terrain Model). Untuk penentuan jalur perencanaan SUTET memiliki kriteria ruang bebas dan jarak bebas minimum  horizontal dapat digunakan orthofoto karena memiliki tingkat kedetailan visual yang tinggi. Sedangkan untuk ruang bebas dan jarak minimum vertikal digunakan DSM yang memiliki nilai ketinggian dari pohon maupun bangunan pada area perencanaan sebagai acuan dan data DTM yang memiliki nilai ketinggian tanah saja dapat digunakan untuk acuan penentuan lokasi menara SUTET didirikan. Sehingga dapat menentukan lokasi perencanaan SUTET sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dilakukan validasi berupa koordinat X dan Y pada orthofoto dan koordinat Z pada DEM dengan menggunakan ICP (Independent Check Point) hasil pengukuran GPS metode statik.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, hasil orthofoto maupun DEM dapat digunakan untuk perencanaan penentuan lokasi titik SUTET sesuai dengan peraturan ruang bebas dan jarak minimum yang berlaku dengan nilai RMSE horizontal untuk orthofoto sebesar 0,158 meter dan RMSE vertikal dari DEM 0,201 meter.Kata Kunci          : DSM, DTM, Listrik, SUTET, UAVABSTRACT The growth of national electricity consumption is getting higher with the increase of population and national economic. This increase in electricity demand is expected to grow with an average growth of 6.5% per year until 2020. One of PLN's efforts as provider in the electricity sector in Indonesia to equal the electricity demand is to build SUTET for the distribution of electricity from a power source to the substation.In this case, UAV will be incorporated in the planning process of determining SUTET lines in accordance with prevailing regulations and combined with GPS survey to produce accurate coordinate data. The data generated from the UAV in the form of aerial photography which will be processed into orthophoto, DSM (Digital Surface Model) and DTM (Digital Terrain Model). For the determination of the SUTET planning path which has certain criteria such as free space of horizontal minimum distance can be used orthophoto because it has a high level of visual detail then, the free space and minimum distance vertically used DSM which has the height value of trees and buildings in the planning area as a reference and DTM data has a value height of bare earth can be used for reference determination of tower location. So it can determine the location of SUTET planning in accordance with the applicable regulations. Product of orthophoto which have coordinate X, Y data and DEM which have X, Y, Z coordinate data will be validated with higher accuracy data using ICP (Independent Check Point) from GPS survey static method.The results in this case indicate that orthophoto and DEM can be used for planning the determination of SUTET location accordance with the free space regulation and the minimum distance applicable with the horizontal RMSE value for orthophoto of 0.158 meters and the vertical RMSE of DEM 0.201 meters. Keywords              : DSM, DTM, Electricity, SUTET, UAV
PEMBUATAN SISTEM INFORMASI GNSS CORS UNDIP BERBASIS WEB Cahya Wisuda Hukama; Bambang Darmo Yuwono; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.018 KB)

Abstract

ABSTRAK Perkembangan teknologi yang pesat membawa dampak yang signifikan terhadap bidang ilmu geodesi khususnya dalam pekerjaan survei pengukuran dan pemetaan. Pada umumnya survei pengukuran dan pemetaan dilingkungan Teknik Geodesi dilaksanakan secara terestris.  Namum, Teknik Geodesi Universitas Diponegoro memanfaatkan teknologi CORS dalam penelitian dengan berbagai metode. Melihat kebutuhan yang mengharuskan adanya ketersediaan data dan optimalisasi keterbukaan informasi public secara cepat dan mudah melalui jaringan internet maka untuk mendukung perkembangan Teknik Geodesi Universitas Diponegoro dibidang teristris diperlukan sistem informasi GNSS CORS UNDIP.  Penelitian ini menggunakan metode Web sehingga dapat diakses secara cepat oleh pengguna melalui jaringan internet. Hasil penelitian ini adalah Web Server yang berisi tentang ketersediaan data CORS UNDIP dan data penelitian GNSS dengan beberapa studi kasus, sehingga diharapkan penilitian ini dapat mempermudah pengolahan dalam download data bagi mahasiswa Teknik Geodesi Universitas Diponegoro. Kemudian dalam pembuatannya website ini menggunakan struktur website HTML, bahasa pemograman PHP dengan framework codeigniter, MySQL sebagai pembuat database. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah aplikasi Web yang berisi data CORS UDIP serta data penelitian gps dengan alamat website gnsscorsudip.com yang berisi fitur-fitur berupa data cors udip, data penurunan muka tanah, data bendungan, data deformasi dan data jembatan, data tersebut dapat diunduh dengan persetujuan admin sehingga dapat dilihat oleh semua orang. Setelah dilakukan pengujian usability  menunjukan bahwa efektivitas aplikasi mendapatkan keberhasilan sebanyak 4,02 serta kemudahan mendapatkan keberhasilan sebanyak 4,04 sedangkan untuk kepuasan pengguna mendapatkan nilai 4,027 berada pada skala “Puas”. Kata Kunci : CORS UNDIP, GPS, Sistem Informasi, Teknik Geodesi, Web Server.  ABSTRACT Rapid technological developments have a significant impact on the geodetic sciences especially in measurement and mapping survey work. In general, measurement and mapping surveys in Geodetic Engineering are conducted terrestrially. However, Geodesy Engineering Diponegoro University utilizes CORS technology in research with various methods. Seeing the need for the availability of data and optimization of public information disclosure quickly and easily through the Internet network to support the development of Geodesy Engineering Diponegoro University in the field teristris required GNSS information system CORS UNDIP. This research uses Web method so that can be accessed quickly by user  through internet network. The result of this research is Web Server which contains about the availability of CORS UNDIP data and gps research data with some case study, so it is expected this research can simplify the processing in data download for the students of Geodesy Engineering Diponegoro University. Then in making this website using HTML website structure, PHP programming language with Codeigniter framework, MySQL as the database maker. The result of this research is a Web application that contains CORS UDIP data and gps research data with website address gnsscorsudip.com which contains features such as data cors udip, ground level data, dam data, deformation data and bridge data, the data can downloaded with admin approval so it can be seen by everyone. After usability  testing showed that the effectiveness of application to get success as much as 4.02 and ease of getting success as much as 4.04 while for user  satisfaction get value 4.027 is on the scale of "Satisfied".   Key Words: CORS UNDIP, Web Server, GPS, Information Systems, Geodetic Engineering
STUDI DEFORMASI WADUK PENDIDIKAN DIPONEGORO TAHUN 2017 Raka Angga Prawira; Bambang Darmo Yuwono; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.955 KB)

Abstract

ABSTRAKBendungan Waduk Pendidikan Diponegoro berlokasi di kawasan Tembalang, Semarang. Waduk ini mampu menampung genangan air normal sampai 478.240 m3 dengan luas daerah tangkapan air mencapai 7,1338 Ha. Tahap pertama, pembangunan dimulai awal bulan Maret hingga Desember 2013 dengan dana hibah dari Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air sebesar Rp 42 miliar. Pembangunan waduk ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan, serta pengendali banjir di kawasan sekitar kampus Undip Tembalang. Dalam penelitian ini akan dilakukan pengamatan deformasi terhadap Waduk Pendidikan Diponegoro, dengan metode pengamatan GNSS (Global Navigation Satellite System) dilakukan pengamatan terhadap 9 titik pantau deformasi (bench mark) yang tersebar di sekitar tubuh bendungan. Data hasil pengamatan GNSS diolah menggunakan scientific software GAMIT 10.6. Titik pantau deformasi juga diamati perubahan jarak dan tingginya terhadap titik kontrol yang dipasang diluar tubuh bendungan. Pengamatan deformasi dilakukan dari bulan April sampai dengan Juni 2017 dengan dua kali periode pengamatan. Hasil dari pengamatan GNSS selama periode pengamatan menunjukkan titik pantau deformasi mengalami perubahan koordinat. Berdasarkan pada sistem koordinat kartesian toposentris, nilai perubahan berkisar antara 0,4 mm sampai dengan 45 mm untuk sumbu X, 0,02 mm sampai dengan 10 mm untuk sumbu Y, dan 1,8 mm sampai dengan 91 mm untuk sumbu Z. Perubahan jarak dan tinggi dari hasil pengamatan total station dan waterpass selama periode pengamatan berkisar antara 0,2 mm sampai dengan 1,7 mm dan 0,2 mm sampai dengan 8,7 mm. Dari hasil pengamatan deformasi bendungan menggunakan metode pengamatan GNSS dan total station pada sumbu horizontal terhadap titik pantau deformasi tidak menunjukan adanya deformasi, sedangkan pada metode pengamatan GNSS dan waterpass pada sumbu vertikal terhadap titik pantau deformasi menunjukan adanya deformasi pada beberapa titik pantau.Kata Kunci: Bendungan, Deformasi, GAMIT, GNSS ABSTRACTThe dam of Diponegoro Education Dam is located in Tembalang, Semarang. This dam is able to accommodate the normal water puddle up to 478,240 m3 with the water catchment area reaches 7,1338 Ha. The first phase, construction starts from March to December 2013 with grants from the Ministry of Public Works of the Directorate General of Water Resources amounting to Rp 42 billion. The construction of the reservoir is intended to maintain the balance of ecosystems and environment, as well as flood control in the area around the campus Undip Tembalang. In this research will be observation of the deformation of Pendidikan Diponegoro dam, with observation methods GNSS (Global Navigation Satellite System) will be observed of 9 monitoring points deformation (bench mark) spread around the body of the dam, the observed data GNSS processed using scientific software Gamit 10.6, deformation monitoring points were also observed changes in distance and height from the control points are placed outside the body of the dam, deformation observations carried out from April to June 2017, with twice the period of observation.  The results of GNSS observations during the observation period showed deformation monitoring points change the coordinate. Based on topocentric cartesian coordinate system, value with ranging from 0.4 mm to 45 mm for the X axis, 0.02 mm to 10 mm for the Y axis, and 1,8 mm to 91 mm for the Z axis. Distance and height changes based on total station and waterpass measurement during the observation period ranging from 0.2 mm to 1.7 mm and 0.2 mm to 8.7 mm. From observation of dam deformation with GNSS observation method and total station on horizontal axis to deformation monitoring point did not show deformation, whereas for GNSS and waterpass observation method on vertical axis to deformation monitoring point showed deformation at some monitoring point. Keywords: Dam, Deformation, GAMIT, GNSS
PEMETAAN KESESUAIAN LAHAN PUSAT PERBELANJAAN BARU BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus: Kota Semarang) Aulia Fikki Wicaksono; Moehammad Awaluddin; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.344 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang merupakan Ibu kota Provinsi Jawa Tengah yang dianggap pembangunannya lebih maju dibandingkan kota lain di sekitarnya meskipun jumlah pusat perbelanjaan di Kota Semarang tidak lebih banyak dari Ibu kota provinsi lain seperti Bandung, Surabaya, dan lain lain. Kondisi tersebut membuat Kota Semarang menjadi lokasi berprospek tinggi bagi para pengembang properti untuk berinvestasi baik dalam bentuk pusat perbelanjaan tunggal maupun mixed use development yang terdapat mall di dalamnya. Adanya permintaan pemenuhan properti serta pembangunan untuk aktivitas komersial secara besar-besaran akan membuat masalah dalam penataan ruang, yaitu akan timbul lahan dengan fungsi yang tidak sesuai dengan peruntukan kawasannya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat bagaimana tingkat kesesuaian lahan pembangunan pusat perbelanjaan baru di Kota Semarang menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) berdasarkan parameter yang ditentukan. Hasil kesesuaian lahan yang telah diperoleh selanjutnya akan dilakukan verifikasi menggunakan peta RTRW peruntukan kawasan perdagangan dan jasa. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peta kesesuaian lahan untuk pusat perbelanjaan baru di Kota Semarang. Berdasarkan hasil verifikasi peta kesesuaian lahan pembangunan pusat perbelanjaan baru menggunakan peta pola ruang peruntukan perdagangan dan jasa RTRW Kota Semarang tahun 2010-2030 didapatkan klasifikasi sangat sesuai seluas 192,378 ha (17,16%) dari total luas wilayah peruntukan perdagangan dan jasa. Klasifikasi cukup sesuai seluas 435,558 ha (38,86%). Klasifikasi kurang sesuai terdapat seluas 365,525 ha (32,01%), dan klasifikasi tidak sesuai seluas 127,329 ha (11,36%).Kata kunci : AHP, Kesesuaian Lahan, Kota Semarang, Pusat Perbelanjaan.ABSTRACTCity of Semarang is the capital of Central Java Province which is considered more advanced development compared to the surrounding city although the number of shopping center in Semarang is not as many as other provincial capital such as Bandung, Surabaya, and others. This condition makes Semarang as though as a location with a good prospects for property developers to invest both in the form of a single shopping center building or as mixed use development that there is a mall within it. Massive amount of the demand for property fulfillment and development for commercial activities will create problems in the spatial arrangement, that will brings up land that the function is not suite with the allocation of its area. This study is conducted with the aim to see the level of land suitability for new shopping center development in Semarang using Geographic Information System (GIS) based on specified parameters. The result that has been obtained will then  be verified using RTRW map of allocation of trade and service area. The result from verification of land suitability map for new shopping center development using map of allotment of trade and service of Semarang City’s RTRW years of 2010-2030 obtained very suitable class with an area of 192,378 ha (17,16%) from total area of allotment of trade and service, quite suitable class with an area of 435,558 ha (38,86%), less suitable class with an area of 365,525 ha (32,01%), and not suitable class with an area of 127,329 ha (11,36%).Key Words : AHP, Land Suitability, Semarang, Shopping Center.
STUDI PENURUNAN TANAH PERIODE 2016 - 2017 MENGGUNAKAN GAMIT 10.6 Mohammad Afif; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.837 KB)

Abstract

ABSTRAK Daerah pesisir Kecamatan Sayung, Demak merupakan daerah yang  rentan terhadap tekanan lingkungan, baik tekanan lingkungan secara alamiah seperti (tsunami, pasang surut, dan abrasi) maupun yang tekanan lingkungan  disebabkan oleh manusia (eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan dan pembuangan limbah ke tepi pantai). Wilayah pesisir pantai Kecamatan Sayung  merupakan wilayah yang sering terkena banjir rob. Banjir rob tersebut menggenangi daerah yang lebih rendah dari muka air laut pada saat pasang tertinggi yang ada di Kecamatan Sayung.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya deformasi dalam rentang waktu ± 1 tahun (2016-2017), dengan melakukan survei menggunakan metode pengamatan GPS. Deformasi adalah perubahan bentuk, posisi dan dimensi dari suatu benda (Kuang,1996). Pada penelitian ini memanfaatkan patok patok pengamatan yang ada di area penelitian, nilai deformasi di peroleh dengan acuan data 2016. Dan pengolahan  pada penelitian ini menggunakan GAMIT 10.6.Nilai penurunan tanah di Kecamatan Sayung pada tahun 2016-2017 menggunakan metode ikat IGS dan CORS CSEM berkisar antara -0,057 pada titik GEMA sampai -15,052 pada titik BDN1 cm/tahun dengan Penurunan tebesar berada di barat pesisir sayung  hal ini sesuai dengan pengambilan air tanah ,kondisi geologi dan  persebaran sumur yang ada di daerah tersebut.Kata Kunci : Deformasi, GAMIT, GPS, Sayung  ABSTRACT The coastal area of Sayung Demak is an area vulnerable to environmental pressures,both natural environmental pressures (tsunami, tidal and abrasion) as well  environmental stresses caused by humans (excessive exploitation of natural resources and waste disposal to the coast). The coastal area of Sayung District is an area often affected by rob floods. The rob flood that inundated the lower regions of the sea level at the highest tide in Sayung District. This study aims to determine the amount of deformation in the time span ± 1 year (2016-2017), by conducting surveys using GPS observation method. Deformation is a change in shape, position and dimension of an object (Kuang, 1996). In this study using benchmark observations that exist in the research area, the value of deformation obtained with reference data 2016. And the processing in this study using GAMIT 10.6. The value of land subsidence in Sayung Sub-district in 2016-2017 using the IGS and CORS CSEM binding methods ranged from -0.057 at the GEMA point to -15.052 at the point of BDN1 cm / year with the largest decrease in the western coastal area of Sayungaccording to groundwater extraction, geological conditions and the distribution of existing wells in the area.   Keywords : Deformation, GAMIT, GPS, Sayung

Page 1 of 3 | Total Record : 23


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue