cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 38 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3: Agustus 2013" : 38 Documents clear
Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM” Jeffry Septian Putra; Djoko Setiabudi; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.034 KB)

Abstract

JUDUL : Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM”NAMA : Jeffry Septian PutraNIM : D2C607024ABSTRAKSIPersaingan radio saat ini semakin ketat, industri media siaran perlu memahamidan mengenali ekspektasi atau apa yang diinginkan para pendengar. Pengelola radioperlu strategi untuk mendapatkan perhatian dari para pendengarnya terlebih dari sisipemasaran yang akan memberikan dampak bagi kelancaran merebut perhatianpendengar. Untuk menciptakan strategi yang tepat dalam membuat mengelola radioagar tetap disukai dan didengarkan oleh audience adalah dengan memperhatikan danmemahami perilaku pendengar mereka. Radio SSFM adalah radio anak muda yanginspiring, dynamic, dan entertaining. Dengan basic itulah Radio SSFM melakukanvisi misinya. Menjadi radio yang menginspirasi anak muda, menjadi radio yangdinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan jaman, serta radio yang syaratakan hiburan.Tujuan dari kampanye PR “Assik Ala SSFM” ini adalah memperkenalkan SSfmsebagai radio anak muda di Semarang dan meningkatkan awareness anak muda diSemarang terhadap radio SSFM melalui event roadshow yang diselenggarakan di 3Sekolah Menengah Atas di Semarang dengan mengedukasi target audiens bagaimanacara berkendara dengan baik dan benar (Safety Riding). Mengacu pada analisiskhalayak yang dituju, target audiens diberikan pengalaman secara langsung untukberpartisipasi didalam program acara melalui permainan-permainan dan informasimengenai Radio SSFM.Persiapan event dimulai dengan riset, konsep acara, penyusunan anggaran,pencarian sponsor, penentuan vendor untuk produksi acara, pembagian kerja untukanggota, dan perijinan tempat.Event dilaksanakan dengan mengambil jam pelajaran sekolah, dengan programdidalamnya berupa edukasi dalam ruangan mengenai safety riding dari pihak AstraHonda Semarang didalam aula sekolah masing-masing, selanjutnya praktek safetyriding dan 3 permainan mengenai safety riding dengan konten berisi informasimengenai Radio SSFM. Tidak lupa juga hiburan berupa pertunjukan music dari siswasekolah itu sendiri dan hadiah-hadiah yang menarik. Event ini adalah cara untukmemperkenalkan Radio SSFM dengan menampilkan para penyiar dari radio tersebutsecara langsung berinteraksi dengan audiens, mascot radio, informasi program radio,frekuensi radio, dan semua informasi mengenai radio tersebut.Kata kunci : Kampanye Humas, Radio SSFM2TITLE : Radio PR campaign SSFM "Ala Assik SSFM"NAME : Jeffry Septian PutraNIM : D2C607024ABSTRACTCompetition of radio industry is getting tougher, the broadcast media industryneeds to understand and recognize the expectations or what the audience want. Radioneeds a strategy business to get the attention of the audience especially from themarketing side that will give effect to grab the attention of listeners. To create theright strategies in order to make managing radio remains popular and is heard by theaudience to pay attention and understand the behavior of their audience. Radio SSFMis inspiring young, dynamic, and entertaining. With that basic vision Radio SSFMperform its mission. Being a radio that inspires young people, into a dynamic radioand can evolve with changing times, as well as the requirement of radioentertainment.The goal of the PR campaign "AlaAssik SSFM" This is introduced SSFM as ayouth radio in Semarang and increase the awareness of young people in Semarangagainst SSFM through radio roadshow event held at 3 high schools in Semarang toeducate the target audience how to drive properly and right (Safety Riding). Referringto the analysis of the target audience, they directly given experience to participate inthe program through games and information about Radio SSFM.Event begins with the preparation of research, concept of the show, budgeting,sponsorship, determination of vendors for event production, division of labor for themembers,and permitting place.Event held during the school hours, with the form of educational programs inthe indoor from Astra Honda Semarang professionals in each school hall, the nextprogram is practice and 3 safety riding games contains information about RadioSSFM, and also entertainment in the form of music performances from students theschool itself and attractive prizes. This event is a way to introduce radio SSFM withthe radio broadcasters from directly interacting with the audience, radio mascot,information radio program, radio frequency, and all the information about the radio.Keywords: Public Relations Campaign, Radio SSFM3Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM”Jurnal Laporan Project OfficerPenyusunNama : Jeffry Septian PutraNIM : D2C607024JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO20134PENDAHULUANSekarang ini, radio masih mempunyai tempat dalam dunia komunikasi sebagaisalah satu media komunikasi yang mempunyai keunggulan tersendiri dibanding mediakomunikasi lainnya. Radio sebagai media komunikasi dengan suara dan membuatpendengarnya berimajinasi atau membuat gambar di benak pendengar. Radiomerupakan media tercepat karena tidak membutuhkan proses produksi yang rumit,percetakan, atau perekaman. Dari segi pendengar radio dapat merasakan kedekatansecara personal dengan penyiarnya dan bersifat fleksibel karena tidak menggangguaktifitas lainnya. Semakin berkembangnya jaman, radio juga dapat digunakan secaramobile dengan menggunakan gadget atau alat elektronik yang memadai. Semua halini adalah karakteristik radio yang dijelaskan oleh Asep Syamsul M. Romli dalambukunya Broadcast Jurnalism: Panduan Menjadi Penyiar, Reporter, danScripwrite.Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar, yang menyalurkangagasan dan informasi dalam bentuk suara secara umum dan terbuka, berupa programyang teratur dan berkesinambungan. (Asti Musman dan Sugeng WA, 2011)Persaingan dalam pengelolaan radio saat ini semakin ketat, perlu adanya strategikhusus untuk merebut perhatian pendengar, pengelola media siaran harus benar-benarmemahami dan mengenali ekspektasi atau apa yang diinginkan para pendengar.Strategi yang tepat adalah memperhatikan dan memahami perilaku pendengaryang dapat ditemukan dari ketertarikan mereka pada isi radio tersebut. Program radio,penyiar radio, feature radio, dan lagu-lagu yang disajikan adalah beberapa contoh darikonten radio yang menjadi kesukaan dari pendengar. Pada umumnya perilakupendengar yang memiliki kegemaran mendengarkan radio, akan lebih prefer untukmemilih radio dari kesukaannya pada kategori tersebut, mereka suka pada programradio yang ada didalamnya contohnya program cerita misteri, program musik indie,program masalah rumah tangga, dan lainnya. Dari konsep program musik yangdirancang itulah tim produksi menjadi tahu apa saja yang menjadi tolak ukur suatuprogram musik radio terus bertahan lama dan tetap dicintai oleh pendengarnya, danjuga daya tarik apa yang menjadikan program musik begitu digemari dan terus diikutioleh pendengar. Dalam konsep radio anak muda, di Semarang sendiri terdapatbeberapa radio diantaranya Prambors, trax, RCT, SSfm dan lainnya. Masing-masingdari radio tersebut mempunyai ciri khas yang masih berbeda, mulai dari pemilihanmusik, program acara di dalamnya, gaya berbicara penyiarnya, dan juga kontenkontendi dalamnya.SSFM adalah sebuah brand yang baru walaupun sebenarnya radio ini sudahlama berdiri. Dulu SSFM bernama “Suara Sakti” dengan konsep konten-konten lagujazz, lalu berubah menjadi radio keluarga, radio untuk profesional muda, dankemudian barulah merubah namanya menjadi SSFM (tanpa singkatan) yangbersegmentasi anak muda, dengan range usia 15 – 34 tahun. Target audienceprimernya adalah usia 15 – 25 tahun, target bisa sampai dengan 34 tahun. Targetaudience yang diutamakan adalah usia SMA, kuliah, dan professional muda. Darisangat luasnya target audience yang dimiliki oleh SSFM, sangat sulit pula untukmengelola program sesuai dengan masing-masing karakteristik usia tersebut.Brand atau merek didefinisikan oleh American Marketing Association sebagainama, istilah, tanda, symbol, atau desain, atau kombinasi dari keseluruhannya yang5dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari penjual atausekelompok penjual agar dapat dibedakan dari kompetitornya. Seperti yang sudahdijelaskan di atas, SSFM sudah mempunyai sesuatu yang berbeda dibanding radiobersegmen anak muda di Semarang, hanya saja kurangnya promosi menjadikanSSFM kurang dikenal.Dari aspek psikografisnya, anak muda di Semarang dapat dibilang mengikutitren-tren yang ada baik itu positif maupun negatif. Tren yang positif diantaranyatermasuk dalam bidang olahraga, musik, seni, komunitas dan lainnya, sedangkan trennegatif nya adalah alcohol, pergaulan bebas, balapan liar, dan lainnya. Dalamkegiatan kampanye PR yang akan kami lakukan, kami mengambil isu kecelakaanyang diakibatkan lalainya pengendara motor khususnya pelajar di Semarang.Menurut Kepala Cabang PT Jasa Raharja (Persero) Jateng, Sukonomenjelaskan, data kendaraan yang terlibat kecelakaan selama Januari hingga Maret2012, didominasi oleh sepeda motor. Diikuti mobil pribadi dan truk.. Berdasarkanusia korban paling besar untuk rentang usia 15-29 tahun (39,22%), diikuti usia 30-49tahun (30.65%). Sedangkan jika berdasar profesi, sebagian besar adalah karyawan(28,33%) diikuti pelajar/mahasiswa (23.67%) dan wiraswasta (22,90%).Strategi yang akan digunakan untuk memperkenalkan SSFM sebagai radio lokalpendatang baru mengacu pada bentuk kegiatan dengan kemasan yang menarik danmenyasar langsung kepada audiens dan bersifat mendidik atau mengedukasi. RadioSSFM sabagai radio baru sudah melakukan berbagai kegiatan promosi beberapa tahunkebelakang ternyata belum mampu menyasar pada target audiencenya. Bahkan bagimasyarakat muda kota semarang yang merupakan target utama dari radio ini, namaSSFM itu sendiri pun belum terlalu dikenal. Melihat kondisi tersebut, sebuah kegiatanberupa event roadshow yang menjurus langsung kepada target primer yaitu siswaSMA merupakan cara yang efektif untuk membangun awareness terhadap SSFMkarena salah satu filosofi dari SSFM adalah radio yang berorientasi padapendengarnya.Dalam pelaksanaan kegiatan yang melibatkan siswa SMA sebagai target audiens,strategi yang mengacu pada experience target audiens dianggap efektif untukmencapai tujuan karena memungkinkannya terjadi interaksi dengan target audiencedalam kondisi yang nyaman dan menyenangkan. Dengan taktik seperti ini mampumemberikan pengalaman menarik dan kesan baik terhadap Radio SSFM, sesuaidengan karakter psikografis target audiens yang suka tantangan dan suka hal baruakan memungkinkan informasi diserap secara maksimal. Strategi experience ini jugamemberikan pengalaman langsung kepada target audiens mengenai program SSFM.Dengan keterlibatan audiens diharapkan mampu menciptakan kesan menyenangkansehingga akhirnya mereka merasa penasaran dan mencoba untuk mendengarkanSSFM. Kegiatan utama yang dilakukan adalah Assik ala SSFM (Aman SelamatSaat Naik Kendaraan ala SSFM).Assik ala SSFM sebagai proses untuk memasukan input berupa informasi ataupengetahuan mengenai radio SSFM dan juga edukasi mengenai cara berkendara yangbaik dan benar, input ini diproses secara menarik dengan permainan-permainan seruyang diikuti siswa-siswa tersebut sehingga menciptakan mood yang menyenangkandan dapat dengan mudah untuk menerima informasi mengenai SSFM. Didalampermainan tersebut dimasukan features dari SSFM baik dari tagline, frekuensi, dan6informasi lainnya, dalam edukasi mengenai safety riding akan dikemas secaramenarik dan interaktif. Untuk memperkuat ingatan mereka mengenai informasi ini,kami juga menambahkan gimmick yang akan diberikan kepada siswa berupa helmSNI, masker motor, sarung tangan berkendara, stiker, gantungan kunci sepeda motor,dan hadiah uang tunai, dengan tujuan siswa yang berkendara yang baik akan dianggapsebagai anak Assik SSFM. Output yang diharapkan adalah berupa awareness yangdimiliki siswa-siswa sma yang terlibat didalam kegiatan tersebut meningkat, baikdalam pengetahuan mengenai radio SSFM maupun behaviour mereka dalamberkendara. Dalam pemeragaan cara berkendara yang baik dan benar dilakukan olehtim dari SSFM “Laskar Kawi”, didalamnya juga terdapat komptisi-kompetisimenarik seputar berkendara dan hal-hal ang behubungan dengan SSFM. Tentunyadalam sebuah kompetisi, pemenang akan mendapatkan hadiah. Hadiah yang kamisiapkan dalam satu sekolah berjumlah Rp. 1.052.000,00 yang akan dibagi menjadi 21hadiah. Sistematika pemilihan sekolah dilakukan oleh klien yang menurut merekasekolah tersebut termasuk sasaran utama target dari radio SSFM.Konsep kegiatan berupa serangkaian acara dengan mengangkat isu disekitartarget audiens yaitu anak muda Semarang mengenai masalah berkendara sepedamotor yang dikemas dalam permainan dan kuis interaktif yang memunculkan featuresmengenai radio SSFM. Dalam program Assik ala SSFM dibagi menjadi tiga tahapanyaitu pre-event, event dan post event.Event ASSIK ALA SSFM sebagai kegiatan PR Campaign Radio SSFMmemperoleh hasil berdasarkan tujuan yang akan dicapai yaitu memperkenalkan RadioSSFM sebagai radio anak muda Semarang, hal ini dapat dilihat dari evaluasi kegiatanyang menganalisis hasil akhir apakah event ini berhasil dan dapat dilanjutkan lagikedepannya.Menurut Anne Gregory dalam bukunya Perencanaan dan ManajemenKampanye PR tahun 2004, terdapat 3 point penting dalam evaluasi, yang pertamayaitu input, penjelasan dari produk tersebut, latar belakangnya, kemasan, dan pilihansaluran distribusi. Yang kedua adalah output, bagaimana input digunakan oleh publikyang dihitung dari analisis pembaca atau audiens, penyebutan dalam media, dananalisis isi. Ketiga adalah outcome (hasil akhir) ini melibatkan pengukuran efek akhirdari komunikasi yang diukur dalam 3 cara yaitu kognitif (perubahan tingkatpemikiran atau kesadaran), afektif (perubahan sikap atau opini) dan konatif(perubahan dalam perilaku).Evaluasi kegiatan kampanye PR ”Assik Ala SSFM” tidak terlepas darioperasional pelaksanaan kegiatan yang dibagi menjadi tiga tahapan. Tahap praproduksi (planning), tahap produksi (acting), dan tahap pasca produksi (reporting).Seluruh tahapan dievaluasi mulai dari perencanaan sampai pelaporan. Tahap planning”Assik Ala SSFM” diuraikan menjadi beberapa kegiatan diantaranya penjabaran idemenjadi konsep berupa roadshow edukasi safety riding, pembentukan tim danpembagian jobdesk untuk eksekusi event, pengembangan konsep kreatif (rundown,talent, dan dekorasi), penentuan tempat, perlengkapan, akomodasi, dokumentasi),promosi dan publikasi, penyelesaian kontrak, perijinan tempat, dan lainnya. Tahapproduksi (acting) pada event ”Assik Ala SSFM” diantaranya kesiapan pengisi acarayaitu penyiar radio SSFM atau laskar kawi, kesiapan perlengkapan untuk produksievent ”Assik Ala SSFM” berupa tenda (stage), sound system, kesiapan team, danproses event yang diadakan sesuai dengan rundown. Tahap reporting diantaranyaevaluasi event, dan pembuatan laporan.7ASSIK ala SSFM merupakan Event yang berisi kegiatan edukasi mengenai safetyriding sepeda motor dan games-games yang dikemas secara menarik mengenai radio SSFM.Sebagai radio yang inspiring, dynamic, and entertaining, SSFM peduli anak muda Semarangsebagai target market mereka untuk lebih concern mengenai lalu lintas dan berkendara sepedamotor. Kegiatan ini melibatkan langsung target audience untuk berpartisipasi dalam gamesgamesdan konten acara didalamnya. Siswa-siswi di Sekolah yang terpilih dapat secaralangsung terlibat dalam kegiatan Radio 105.2 SSFM, bertemu dengan Laskar Kawi /penyiarRadio 105.2 SSFM secara langsung dan lebih mengenal mereka untuk mengetahui programprogramon air apa saja. Melalui Event ini Radio 105.2 SSFM juga mampu memperkenalkanlebih jauh mengenai radio 105.2 SSFM mengenai frekuensi radio tersebut, berbagai programradio SSFM, keunggulan yang dimiliki oleh Radio 105.2 SSFM, memperkenalkan maskotradio SSFM dan berbagai informasi lainnya.Selain itu melalui Event ini pihak manajemen Radio 105.2 SSFM juga dapat melihatkondisi target audiens secara langsung , hal ini menjadi penting karena dari sinilah fungsiPublic relation akan sangat dibutuhkan, agar dapat diselenggarakan sebuah kegiatan yangdapat meningkatkan awareness dan menjalin hubungan antara Radio 105.2 SSFM dengantarget audiens yaitu pelajar SMA/SMK secara langsung. Sudah menjadi tugas public relationsuntuk melakukan kegiatan komunikasi pemasaran yang mengutamakan interaksi,koneksivitas serta hubungan yang akrab dengan target audience untuk menciptakanpencitraan yang baik dan peningkatan awareness dari target audiens.Secara garis besar Event sebagai tools PR dalam IMC pada Event ASSIK ala SSFMterlakasana dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.PENUTUPKesimpulanKegiatan PR Campaign “ASSIK ALA SSFM berhasil diselenggarakan dan mencapaitujuan yang diinginkan berdasarkan evaluasi yang dilakukan. Terjalinnya hubungan yang baikdari pihak klien Radio SSFM dan juga sponsor pendukung acara seperti Astra MotorSemarang (Honda), AEOC, INKRAFT, Rinjani View, serta media lainnya.Dengan menganalisis target audiens dengan tepat, event ini telah menjadi tool PRCampaign yang efektif karena dapat menjadi rangsangan bagi siswa-siswi sekolah lainnyauntuk penasaran dan mencari tahu informasi mengenai “ASSIK ALA SSFM”. Dua diantaraketiga sekolah yang terpilih untuk menjadi target audiens dalam acara ini cukup berperanbesar dalam menyebarkan informasi dan menjadi teaser, namun SMK Perintis 29 kurangberperan dalam menjadi buzzer dalam social media dikarenakan siswa-siswinya kurang aktifdalam kegiatan social media.Saran Riset merupakan hal yang penting untuk menganalisis situasi dan target audiens.Untuk target anak muda, khususnya pelajar sebaiknya menggunakan metodewawancara sehingga hasil yang diperoleh benar-benar valid, dan communicationtools yang digunakan untuk menyampaikan pesan dapat efektif menuju targetaudiens, dan event yang diselenggarakan dapat memperoleh hasil maksimal. Penyebaran informasi event atau publikasi harus dilakukan dari jauh hari danmenggunaan media yang bersegmentasi sama dengan target audiens yaitu anakmuda. Publikasi event juga aharus mempunyai jangkauan luas, tidak hanyaditerima oleh target audiens di sekolah yang terpilih saja, social media danwebsite perlu dimaksimalkan penggunaannya untuk publikasi karena efektifmenjadi teaser untuk target audiens yang lain.8 Tujuan komunikasi dan penyampaian pesan dalam event akan efektif apabilamendatangi audiens secara langsung dan dilibatkan didalam acara tersebutsehingga memperoleh experience dan lebih kuat mengingat pesan yangdisampaikan. Intensif menjalin hubungan dengan perusahaan yang ditargetkan menjadi sponsordan melakukan proses lobby secara santai namun santun. Setelah mendapatkankesepakatan kerjasama, perusahaan sponsorship selalu diberikan informasiinformasimengenai event dan laporan event.9DAFTAR PUSTAKAAaker, David. 1991. Managing Brand Equity; Capitalizing on the Value of Brand Name. NewYork : Free Press(http://www.scribd.com/doc/76703520/Managing-Brand-Equity)Astute, Santi Indra. 2008. Jurnalisme Radio Teori dan Praktik. Bandung:Simbiosa RekatamaMediaDuncan, Tom. 2005. The Principle of Advertising and IMC. New York : McGraw HillGregory, Anne. 2004. Perencanaan dan Manajemen Kampanye Public Relations.Jakarta : ErlanggaKasali, Rhenald. 2009. Manajemen Public Relation Konsep dan Aplikasinya diIndonesia. Jakarta : GrafitiKottler. 2000. Marketing Management, The Millnium Edition. New Jersey :Prentice Hall International, Inc.Lattimore, Dan., Otis Baskin., Suzette T.Heiman & Elizabeth L.Toth. (2010).Public Relations : Profesi & Praktik. Jakarta : Salemba Humanika.Masterman, Guy & Wood, Emma. 2006. Innovative Marketing Communication, Strategiesfor the Events Industry. United Kingdom : Butterworth HeinemannMusman, Aswi & WA, Sugeng.2011.Marketing Media Penyiaran, BukanSekedar Jual Kecap. Yogyakarta: Cahaya Atma Pusaka.Peter, J Paul dan Olson, Jerry C. 1996. Customer Behaviour and MarketingStrategy. 4th Edition. New York : McGraw Hill Co.Tjiptono, Fandy. 2008. Pemasaran Strategik. Yogyakarta : Andi Publisher
SIKAP SURAT KABAR KOMPAS TERHADAP KONFLIK ANTARA KPK DAN POLRI Rezandi Ciptadewa; Wiwiet Noor Rakhmad; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.567 KB)

Abstract

SIKAP SURAT KABAR KOMPASTERHADAP KONFLIK ANTARA KPK DAN POLRIAbstraksiKonflik merupakan bagian dari dinamika sosial dan politik yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Konflik antara KPK dan Polri menarik perhatian masyarakat karena banyak diliput oleh media massa. Ketika terjadi konflik maka media massa akan menjalankan fungsinya sebagai pencerita. Kemudian dalam perannya itu media massa akan menentukan posisi keterlibatannya dalam konflik. Ada tiga kecenderungan sikap yang dapat ditunjukkan oleh media massa yaitu netral, mendukung, atau tidak mendukung salah satu pihak yang berkonflik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap surat kabar Kompas dalam memberitakan konflik antara KPK dan Polri. Dasar pemikiran yang digunakan adalah konsep imparsialitas yang dikemukakan oleh Westertahl meliputi keberimbangan dan netralitas. Objek penelitian ini adalah berita surat kabar Kompas selama periodesasi Agustus hingga Oktober 2012 sebanyak 67 item berita. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik sampel berstrata.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Metode yang digunakan adalah analisis isi dengan melakukan coding terhadap teks berita konflik KPK dan Polri. Kategori dalam penelitian ini meliputi tema, kecenderungan teras berita, percampuran fakta dan opini, penggunaan fakta psikologis, dan penggambaran pelaku konflik.Hasil penelitian menunjukkan ada empat tema yang muncul selama terjadinya konflik antara KPK dan Polri. Tema sengketa kewenangan menjadi isu yang paling banyak ditampilkan sebesar 41,8%. Dari kecenderungan teras berita surat kabar Kompas sebagian besar menampilkan kedua pihak yang berkonflik. Frekuensi kecenderungan teras berita yang melibatkan KPK dan Polri paling besar ada pada tema sengketa kewenangan dengan persentase 39,3%. Jurnalis surat kabar Kompas yang cenderung menghindari percampuran fakta dan opini dalam berita menunjukkan persentase sebesar 78,6%.Sementara untuk kategori penggunaan fakta psikologis peneliti menemukan adanya kecenderungan jurnalis surat kabar untuk menampilkannya dalam berita. Persentase penggunaan fakta psikologis mencapai 60,7%. Surat kabar Kompas menampilkan penggambaran pelaku konflik secara berbeda antara KPK dan Polri. Penggambaran KPK lebih positif dengan persentase sebesar 67,9%. Sementara Polri cenderung ditampilkan netral dengan persentase sebesar 82,1%. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa surat kabar cenderung mendukung institusi KPK.Kata kunci: sikap surat kabar, konflik, imparsialitasKompas Attitude Toward ConflictBetween the KPK and PolriAbstractConflict is a part of the social and political dynamics that coud not be separated from public life. Conflict between the KPK and Polri into public concern because mass media covered. During conflict media will act as a storyteller. Later mass media will determine the position of its involvement in the conflict. There are three possibilty that can be shown by mass media is neutral, supporting, or not supporting one of the parties to the conflict.This study aims to determine the attitude of the Kompas reported conflict between the KPK and Polri. The basic concept is used by impartiality’s Westertahl concept includes balanced and neutrality. This object of study is news for periodization August to October 2012 were 67 news items. This study use sample stratified sampling technique to determine the selected object.This approach research uses descriptive quantitative. The method used is content analysis by coding the conflict news text KPK and Polri. Category include themes, trend news terrace, mixing fact and opinion, the use of psychological facts, and the depiction of the conflict actors.The results showed four themes that emerged during the conflict between the KPK and Polri. Dispute the authority to issue the most frequently reported shown by 41.8%. From the news lead newspapers Kompas tend mostly showing both sides of the conflict. Frequency lead involving the KPK and Polri most of the work on the theme of authority dispute with the percentage of 39.3%. Journalist of Kompas newspaper who tend to avoid mixing fact and opinion in news shows percentage of 78.6%.While category of psychological fact researchers found a tend of newspaper journalists to display it in the news. Percentage psychological fact reached 60.7%. Kompas describes of different actors of the conflict between the KPK and Polri. KPK portrayed more positively with a percentage of 67.9%. While the police tend to appear neutral with a percentage of 82.1%. From this study it can be concluded that newspapers tend to favor institutional KPK.Keywords: newspaper attitude, conflict, impartialityPENDAHULUANKeberadaan media massa mampu membuat suatu peristiwa terasa lebih dekat dan menjadi penting bagi khalayaknya. Suatu peristiwa yang semula tidak berarti dan memiliki ruang lingkup terbatas dapat berubah menjadi isu besar manakala ada keterlibatan media massa di dalamnya. Begitu pula halnya saat terjadi konflik antara dua lembaga penegak hukum yaitu KPK dan Polri. Konflik yang seharusnya menjadi persoalan di tingkat elit pemerintah pusat ini berkembang menjadi isu publik karena adanya pemberitaan di berbagai media massa.Konflik antara intsitusi KPK dan Polri sendri bermula dari adanya perbedaan pandangan dalam penanganan kasus korupsi pengadaan alat simulator pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) di Korps Lalu Lintas Polri. Permasalahan ini berkembang karena adanya penolakan Polri atas permintaan KPK untuk memberikan perpanjangan bagi para penyidik yang telah habis masa tugasnya. Selain itu adanya upaya penangkapan salah satu penyidik KPK yaitu Kompol Novel Baswedan yang diduga melakukan penganiayaan terhadap narapidana kasus pencurian sarang burung walet saat masih bertugas di Polda Bengkulu (Kompas, 6 Oktober 2012, hal 1). Besarnya perhatian media massa terhadap konflik antara KPK dan Polri dapat dilihat dari maraknya pemberitaan semenjak permasalahan ini pertama kali mencuat ke permukaan. Salah satu media massa yang cukup aktif dalam memberitakan konflik ini adalah surat kabar Kompas. Selama hampir setengah abad surat kabar ini mampu menunjukkan eksistensinya di tengah pesatnya industri media massa di Indonesia. Berdasarkan catatan Serikat Perusahaan Pers (SPS) Kompas saat ini menjadi salah satusurat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki jaringan dengan lebih dari 80 surat kabar di daerah (Sudibyo, 2010:11). Dengan besarnya perhatian media massa termasuk pula yang ditunjukkan oleh surat kabar Kompas mengundang pertanyaan sejauh mana berbagai media massa tersebut telah menjalankan praktik jurnalistik sesuai dengan etika profesi yang berlaku. Dalam hal ini yang menjadi perhatian adalah apakah media massa telah bersikap independen dan menampilkan berita secara berimbang. Independen artinya memberitakan peristiwa sesuai fakta tanpa campur tangan pihak lain, sementara berimbang artinya semua pihak mendapat kesempatan setara di dalam pemberitaan. Pertanyaan tersebut perlu ditanyakan mengingat adanya kecenderungan tertentu yang ditunjukkan oleh media massa di dalam situasi konflik. Prajarto (1993:26) menjelaskan bahwa ketika sebuah konflik terjadi maka media massa akan menjalankan fungsinya sebagai pencerita (storyteller), kemudian dalam perannya itu media massa akan menentukan posisi keterlibatannya dalam konflik tersebut yaitu berposisi netral (third party) di mana media massa akan bereaksi secara netral atau mendukung salah satu pihak yang berkonflik. Sikap media massa sebagai bagian dari proses kerja redaksi media massa ditunjukkan melalui kecenderungan teks pemberitaannya. Setiap media massa mempunyai kecenderungan yang berbeda dalam menampilkan berita. Hal inilah yang kemudian menarik untuk diteliti bagaimana sikap yang ditunjukkan oleh surat kabar Kompas terhadap konflik yang melibatkan dua institusi yaitu KPK dan Polri. Penelitian ini merupakan bentuk kajian teks berita di media massa dengan menggunakan metode analisis isi.PEMBAHASANMedia massa telah menjadi instrumen penting dalam kehidupan masyarakat modern. Media massa memiliki lima fungsi utama yaitu informasi, korelasi, kesinambungan, hiburan, dan mobilisasi. Dari kelima fungsi itu informasi menjadi fungsi yang paling utama dan mendasar bagi media massa Fungsi informasi ini berkaitan dengan peran media massa untuk menyediakan informasi yang berkaitan tentang peristiwa atau kondisi dalam masyarakat serta dunia (McQuail, 1987:70).Salah satu jenis media massa yang dijadikan rujukan bagi sebagian masyarakat di Indonesia adalah surat kabar. Sebagai bagian dari sumber informasi masyarakat keberadaan surat kabar terus dipertahankan hingga saat ini meskipun muncul berbagai media massa dengan kemampuan teknologi yang lebih maju. Surat kabar memiliki karakteristik terdokumentasi sehingga berita atau artikel tertentu yang dianggap penting dapat diarsipkan atau dibuat klipping. Selain itu surat kabar juga memiliki kelebihan dalam hal kedalaman isi pesan.Informasi yang disampaikan dalam bentuk pemberitaan menjadi bagian penting dari surat kabar. Berita merupakan bentuk laporan atau pemberitahuan tentang segala peristiwa atau kejadian aktual dan faktual yang menarik perhatian orang banya (Suhandang, 2004:102). Berita sendiri tidak sesederhana seperti yang dipahami oleh masyarakat umum. Proses pembentukan berita merupakan proses kompleks. Setiap hari ada berbagai peristiwa yang terjadi di dunia ini namun tidak semuanya pula dapat menjadi berita karena media memiliki keterbatasan ruang. Jurnalis profesional yang menjadi perpanjangan tangan dari media masa meliput peristiwa yang memiliki nilai berita paling tinggi.Konflik termasuk peristiwa yang dianggap penting dan layak diangkat menjadi sebuah berita. Cara pihak-pihak yang berkonflik dalam menunjukkan kekuasaan dan pengaruhnya merupakan bagian yang menarik dari suatu pemberitaan konflik. Di samping itu konflik yang terjadi selalu menimbulkan dampak negatif serta membangkitkan emosi bagi mereka yang menyaksikan ataupun memiliki kepentingan langsung. Seperti halnya yang terjadi saat munculnya konflik antara intsitusi KPK dan Polri.Menurut Prajarto (1993:26) keterlibatan media massa dalam situasi konflik akan mengarahkan pada tiga kecenderungan yaitu1. Media sebagai issue intensifier yang memunculkan konflik dan menampilkan dimensi-dimensi isu secara tajam. Media masa juga cenderung akan mengambil posisi membela atau mendukung salah satu pihak yang berkonflik.2. Media sebagai conflict deminisher yang berusaha menutup-nutupi ataupun menenggelamkan suatu isu atau konflik. Saat media menempatkan posisinya untuk menutupi konflik maka intensitas pemberitaan konflik akan ditekan seminimal mungkin.3. Media dalam posisi netral (third party) di mana pemberitaan ditampilkan secara independen di mana media massa membebaskan dirinya dari tekanan atau tendensi dan kekuatan tertentu.Kecenderungan teks membawa konsekuensi pada munculnya sikap media massa. Sikap merupakan bentuk evaluasi dan reaksi afektif yang bersifat netral, positif atau mendukung maupun negatif atau tidak mendukung terhadap suatu objek psikologis (Azwar, 2011:5). Proses selektivitas yang dilakukan oleh redaktur media massa atasberbagai data dan fakta dari suatu peristiwa mempengaruhi terbentuknya sikap media massa tersebutBerkaitan dengan sikap media massa peneliti menggunakan konsep imparsialitas (impartiality) dari Westertahl sebagai landasan pemikiran. Imparsialitas memiliki kesamaan arti dengan jujur, adil, atau tidak memihak. Pada kajian jurnalistik imparsialitas dapat dijadikan ukuran untuk mengevaluasi kualitas sebuah berita. Menurut McQuail imparsialitas dilihat dari apakah teks berita secara sistematis menonjolkan satu sisi di atas sisi yang lain ketika berkenaan dengan isu-isu yang kontroversial dengan tujuan mengarahkan pembacanya pada suatu persepsi atau opini tertentu. Dimensi impartiality ini dapat dibagi menjadi dua sub dimensi yaitu balance dan neutralBalance atau keberimbangan berhubungan dengan seleksi atau penghilangan fakta-fakta yang mengandung nilai atau ekspresi point of view mengenai apa yang dianggap fakta oleh pihak-pihak yang berkonflik. Pengukuran balance didasarkan pada seberapa besar pembagian ruang dan waktu untuk menyajikan pendapat atau gagasan dari pihak yang berkonflik. Sementara sub dimensi yang kedua yaitu neutral atau netralitas berkaitan dengan bentuk presentasi suatu berita. Netralitas pemberitaan diketahui melalui cara yang dipilih media massa dalam mengatur penempatan atau posisi berita dan pemilihan kata (Rahayu, 2006:22-24).Pada konteks berita konflik antara KPK dan Polri surat kabar Kompas juga menunjukkan kecenderungan tertentu baik bersikap netral atau memihak salah satu pihak. Melalui penelitian yang bersifat deskriptif ini peneliti berusaha menggambarkan secara detail pesan atau teks berita di surat kabar Kompas. Adapun teknik penelitian yang akan digunakan ialah analisis isi. Riffe, Lacy, dan Fico mendefinisikan analisis isisebagai pengujian yang sistematis dan dapat direplikasi dari simbol-simbol komunikasi, di mana simbol ini diberikan nilai numerik berdasarkan pengukuran yang valid, dan analisis menggunakan metode statistik untuk menggambarkan isi komunikasi, menarik kesimpulan, dan memberikan konteks, baik produksi ataupun konsumsi (Eriyanto, 2011:15).Metode analisis isi termasuk dalam ranah penelitian kuantitatif. Oleh karena itu penelitian ini harus dikerjakan secara objektif. Syarat objektif baru dapat dilaksanakan apabila peneliti sebelumnya telah menentukan kategori analisis secara jelas dan operasional sehingga peneliti lain dapat mengikutinya dengan tingkat relialibilitas yang tinggi. Dalam penelitian ini kategori yang akan diukur meliputi meliputi tema, kecenderungan teras berita, percampuran fakta dan opini, penggunaan fakta psikologis, dan penggambaran pelaku konflik.Prosedur yang digunakan dalam penelitian analisis isi adalah dengan jalan menghitung aspek dari isi pesan dan menyajikannya secara kuantitatif. Langkah kerja tersebut dilakukan melalui pengcodingan atau pencatatan terhadap teks berita konflik KPK dan Polri di surat kabar Kompas. Unit pencatatan yang digunakan yaitu tematik dan referensial. Unit tematik digunakan untuk mengelompokkan berita konflik antara KPK dan Polri ke dalam tema atau topik yang utama dan melihat penggambaran media massa terhadap kedua pihak yang berkonflik. Sementara unit referensial yang menitikberatkan pada penggunaan kata-kata yang memiliki kesamaan makna digunakan untuk mengelompokkan narasumber serta mencatat kemunculan kata-kata yang dramatis dan opinionative yang muncul di dalam berita konflik KPK dan Polri.Objek penelitian ini peneliti memilih surat kabar Kompas yang terbit pada kurun waktu antara Agustus hingga Oktober 2012. Selama periodesasi tersebut penelitimengambil sampel 67 item berita yang dihitung dengan menggunakan rumus Slovin. Selama kurun waktu antara Agustus hingga Oktober sendiri setidaknya terdapat empat isu utama yaitu penanganan kasus korupsi simulator SIM, penarikan penyidik KPK, upaya penangkapan penydidik KPK, dan instruksi Presiden atas konflik ini. Peneliti menggunakan proporsional stratified sampling yaitu mengambil jumlah secara proporsional sesuai jumlah item total dari masing-masing tema.Dari hasil coding yang dilakukan oleh peneliti dengan dibantu oleh dua orang coder lain menemukan sejumlah hasil temuan penelitian di antaranya:1. Berita yang berkaitan dengan tema sengketa kewenangan paling sering muncul di surat kabar Kompas selama periode Agustus hingga Oktober 2012. Frekuensi pemunculan berita dengan tema tersebut sebesar 41,8% (28 item berita). Tema lainnya yang muncul dalam pemberitaan adalah penyidikan kasus simulator SIM sebesar 32,9% (22 item berita), penarikan penyidik KPK sebesar 11,9% (8 item berita), dan kriminalisasi Penyidik KPK sebanyak 13,4% ( 9 item berita).2. Pada tema sengketa wewenang, teras berita lebih banyak menampilkan kedua pihak yang bertikai yaitu KPK dan Polri yaitu sebesar 39,3% (11 item berita). Kecenderungan surat kabar Kompas dalam menampilkan kedua pihak yang berkonflik dalam teras berita juga terlihat dalam tema penyidikan kasus simulator SIM dan penarikan dengan persentase masing-masing sebanyak 41% (9 item berita) dan 50% (4 item berita). Sementara pada tema kriminalisasi penyidik KPK, penonjolan Polri sebagai subjek dalam teras berita justru memiliki persentase paling tinggi yaitu sebesar 44,4% ( 4 item berita).3. Untuk kategori percampuran fakta dan opini hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa surat kabar Kompas berusaha untuk menghindari penggunaan opini pribadijurnalis di dalam pemberitaannya. Hal ini dapat dilihat dari persentase dalam tiap tema berita. Pada tema sengketa kewenangan sebanyak 78,6% (22 item berita) mendasarkan berita sepenuhnya pada fakta di lapangan. Sebanyak 90,9% (20 item berita) pada tema penyidikan kasus simulator SIM, 87,5% (6 item berita) pada tema penarikan penyidik KPK, dan 55,6% (5 item berita) pada tema kriminalisasi Penyidik KPK juga menunjukkan kecenderungan yang yang sama. Meski begitu peneliti masih tetap menemukan adanya percampuran fakta dan opini dalam sejumlah pemberitaan konflik antara KPK dan Polri di surat kabar Konpas meski dengan persentase yang kecil.4. Surat kabar Kompas cukup banyak melibatkan penggunaan fakta psikologis di dalam pemberitaannya. Fakta psikologis adalah pernyataan narasumber yang tidak didasari sumber yang jelas. Dalam hal ini komentar narasumber berasal dari persepsi ata opini pribadinya. Pada tiga tema yaitu sengketa kewenangan, penyidikan kasus simulator SIM, dan penarikan penyidik penggunaan fakta psikologis cukup mendominasi dengan persentase masing-masing sebesar 60,7% ( 17 item berita), 68,1% (15 item berita), dan 62,5% (5 item berita). Sementara pada tema kriminalisasi penyidik KPK penggunaan fakta psikologis tidak cukup mendominasi yaitu hanya sebesar 44,4% (4 item berita).5. Hasil coding juga menunjukkan adanya penggambaran yang berbeda terhadap kedua pihak yang bertikai. Pemberitaan surat kabar Kompas menampilkan KPK secara positif terutama pada tema sengketa kewenangan yaitu sebanyak 69% (19 item berita) dan penyidikan kasus simulator SIM sebesar 47,6% (10 item berita). Pada tema penarikan penyidik persentase institusi KPK berimbang antar positif dan netral sebesar 44,4% (4 item berita). Sementara pada tema kriminalisasipenyidik KPK surat kabar Kompas cenderung netral dalam menampilkan penggambaran KPK yaitu sebanyak 66,7% (6 item berita).6. Surat kabar Kompas sendiri cenderung netral dalam menggambarkan institusi Polri. Penggambaran netral tersebut mendominasi terutama pada tiga tema yaitu sengketa wewenang sebesar 82,1% (23 item berita), penydidikan kasus simulator SIM sebesar 71,4% (15 item berita), dan penarikan penyidik KPK sebesar 55,6% (5 item berita). Sementara pada tema kriminalisasi penyidik KPK persentase penggambaran negatif lebih dominan yaitu sebesar 66,70%.7. Reliabilitas antar koder yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan Formula Holsti. Hasil uji reliabilitas pada penelitian ini telah memenuhi syarat yaitu di atas 0,7 atau 70%.PENUTUPDengan mengacu pada hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan pada keempat tema yang ada dapat ditarik kesimpulan surat kabar Kompas cenderung menunjukkan sikap mendukung kepada institusi KPK. Kecenderungan sikap Kompas mendukung institusi KPK didukung dengan adanya penggunaan fakta psikologis pada pernyataan narasumber. Melalui pernyataan narasumber yang didasarkan fakta psikologis kecenderungan sikap surat menjadi lebih terlihat.Selain itu sikap yang ditunjukkan surat kabar Kompas ini juga memperlihatkan bahwa selama terjadi konflik antara institusi KPK dan Polri media massa ini memposisikan dirinya sebagai issue intensifier. Selain mengangkat isu ini ke ruang publik dan membuka seterang-terangnya permasalahan ini, surat kabar Kompas juga membela kepentingan salah satu pihak dalam hal ini KPK karena intitusi ini dianggap merepresentasikan kepentingan rakyat.Melalui tulisan ini juga berusaha mengingatkan kembali bahwa perlunya pelaku media massa baik jurnalis lapangan maupun redaktur di Indonesia untuk menjaga profesionalisme kerja terutama yang berkaitan dengan imparsialitas pemberitaan. Media massa memiliki fungsi menyediakan informasi dan memberi edukasi kepada masyarakat luas. Dalam konteks konflik menyajikan berita perlu mengutamakan akurasi dan keberimbangan Dengan menampilkan informasi dari berbagai pihak maka khalayak akan mudah menemukan kebenaran dari persoalan konflik tersebut. Sementara pemberitaan yang tidak berimbang dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan yang baru seperti kebencian dari salah satu pihak yang bertikai.DAFTAR PUSTAKAAbrar, Ana Nadhya. (2011). Analisis Pers: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Cahaya Atma PusakaArdianto, Elvinaro. Lukiati Komala, Siti Karlinah. (2009). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar (Edisi Revisi Kedua). Bandung: Simbioasa Rekatama MediaAzwar, Syaifuddin. (2011). Sikap Manusia, Teori, dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka PelajarEriyanto. (2011). Analisis Isi: Suatu Pengantar Metodologi untuk Penelitian Komunikasi dan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media GroupIspandriarno, Lukas S, Thomas Hanitzch, Martin Loeffelholz. (2002). Media-Militer-Politik. Yogyakarta: Galang Press.Krippendorff, Klaus, (1991). Analisis Isi. Pengantar Teori dan Metodologi. Jakarta : Rajawali PersKriyantono, Rachmat. (2008). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media GroupLittlejohn, Stephen W. (2005). Theories of Human Communication, 8h Edition. Belmont CA: Wadsworth Publishing Company.Malarangeng, Rizal. (2010). Pers Orde Baru. Jakarta: Kepustakaan Populer GramediaMcQuail, Dennis. (1987). Teori Komunikasi Masssa Suatu Pengantar. Jakarta: ErlanggaPrajarto, Nunung. (1993). Media Berita dalam Sebuah Konflik. Yogyakarta: FISIPOL UGMSuhandang, Kustadi. (2004). Pengantar Jurnalistik Seputar Organisasi, Produk, dan Kode Etik. Bandung: NuansaSularto, St. (2007). Kompas Menulis Dari Dalam. Jakarta: Kompas Media NusantaraSumadiria, AS Haris. (2005). Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Feature. Bandung: Simbioasa Rekatama MediaSyahputra, Iswandi. (2006). Jurnalisme Damai: Meretas Ideologi Peliputan di Area Konflik. Yogyakarta: Nuansa AksaraTamburaka, Apriadi. (2012). Agenda Setting Media Massa. Jakarta: RajaGrafindo PersadaRahayu (ed). (2006). Menyingkap Profesionalisme Kinerja Surat Kabar di Indonesia. Jakarta: Pusat Kajian Media dan Budaya Populer, Dewan Pers, dan Departemen Komunikasi dan InformasiJurnalSudibyo, Agus, dkk. (2010). Media dan Politik Lokal. Jurnal Dewan Pers Edisi 3 (Desember):1-70.Internethttp:// dewanpers.or.id/page/kebijakan/peraturan/?id=513, akses tanggal 5 Januari 2013 http://hukumonline.com/klinik/detail/lt50269adb024b6/kewenangan-penyidikan-kpk-dan-polri, diakses pada 10 November 2012Surat kabarKompas, 1 Agustus 2012, hal.1 Kompas, 6 Oktober 2012, hal 1
Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuan dalam Tayangan Mata Lelaki Rindhianti Novita Sari; Taufik Suprihatini; Triono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.606 KB)

Abstract

Nama : Rindhianti Novita SariNIM : D2C009009Judul : Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuandalam Tayangan Mata LelakiABSTRAKProgram acara televisi yang menonjolkan kesensualan perempuan sebagai dayatarik utamanya, menjadi ajang bisnis bagi pekerja media untuk meraup untungsebesar-besarnya. Kata “pengetahuan” dan “hiburan” dijadikan alasan dalampenyajian tayangan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuibagaimana interpretasi khalayak pria terhadap sosok perempuan dalam tayanganMata Lelaki. Selain itu juga untuk mengetahui bagaimana para penonton programacara Mata Lelaki menggunakan materi acara tersebut sebagai rujukanpembicaraan dalam kehidupan sehari-hari. Teori yang digunakan yaitu encodingdecoding(Stuart Hall, 1980), everyday life (David Chaney, 2002), dan teorinormatif (McQuail,1987). Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif denganpendekatan resepsi dan dikaitkan dengan analisis ekonomi politik media. Teknikpengumpulan data dilakukan dengan menggunakan indepth interview kepadaempat informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni khalayak pria yang aktifatau pernah aktif menonton tayangan Mata Lelaki.Hasil penelitian ini menunjukkan khalayak menganggap bahwa tayangan MataLelaki merupakan sebuah tayangan yang menghibur, yang berorientasi padaseksualitas. Selain itu, ada pula keberagaman pendapat mengenai eksploitasisensualitas dan tubuh perempuan yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki.Secara keseluruhan khalayak setuju bahwa apa yang disajikan dalam tayanganMata Lelaki sudah sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan StandarProgram Siaran (P3SPS) yang ditetapkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).Dalam hal ini tayangan Mata Lelaki dianggap materi yang ringan, sehingga bisadijadikan pembicaraan dalam konteks bercanda atau selingan ketika waktu sela ditengah-tengah kesibukan bekerja. Tayangan Mata Lelaki digunakan sebagairujukan pembicaraan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun hal tersebut tidakdilakukan oleh semua khalayak. Penelitian ini menunjukkan bahwa khalayakmengetahui adanya istilah khusus yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki.Namun, meskipun hampir semua informan menggunakan tayangan Mata Lelakisebagai bahan pembicaraan sehari-harinya, mereka tidak serta mertamenggunakan istilah yang ada dalam tayangan tersebut ke dalam pembicaraansehari-harinya.Kata kunci: Sensualitas perempuan, everyday life, tayangan malam Indonesia.ABSTRACTTelevision programs that highlight the sensuality of women as the main attraction,also become a business event for media workers to reap maximum profit. Theword "knowledge" and "entertainment" as a reason in the presentation of theshow. The purpose of this study was to determine how the public interpretation ofthe figure of a man in a women's show Mata Lelaki. In addition, to know how toprogram the audience the show Mata Lelaki using the event as a referencematerial talks in everyday life. The theory used is encoding-decoding (Stuart Hall,1980), everyday life (David Chaney, 2002), and normative theory (McQuail,1987). This type of research is a qualitative descriptive approach was associatedwith the reception and analysis of the political economy of media. Data wascollected using in-depth interviews to four informants who had been chosen bythe researchers.The results showed that the audience assumes impressions Mata Lelaki is anentertaining show, which is oriented towards sexuality. In addition, there is also adiversity of opinion regarding the exploitation of sensuality and women's bodiesare used in the show Mata Lelaki. Overall the audience agreed that what ispresented in the Mata Lelaki impressions are in accordance with the BroadcastingCode of Conduct and Broadcasting Program Standards (P3SPS) established by theIndonesian Broadcasting Commission (KPI). In this sense impressions MataLelaki is considered as a lightweight material, so that it can be used in the contextof the conversation everyday or distraction joking in the spare time in the middleof busy work. Impressions Mata Lelaki is used as a reference in the conversationof everyday life, even if it is not done by all audiences.This study shows that theaudience aware of any specific terms used in the show Mata Lelaki. However,although almost all informants using impressions Mata Lelaki as a day-to-dayconversation, they do not necessarily use the term contained in these show intoeveryday conversation.Keywords: Sensuality women, everyday life, evening shows in Indonesia.Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuan dalam TayanganMata LelakiPENDAHULUANMenayangkan materi bermuatan seksualitas di media massa, memangmemiliki tujuan yang jelas dan hampir selalu disadari oleh pengelola media, yaituuntuk menarik perhatian pembaca, pendengar, atau penonton untuk membaca,mendengar, dan menonton materi tersebut. Jika perhatian khalayak telah berhasildirebut, hal ini selanjutnya dapat dijual ke pengiklan, yang artinya membawakeuntungan ekonomis bagi organisasi media. Jadi, memang tidak dapat dipungkiribahwa seks dan semua bentuk serta penggambarannya (yang memiliki unsurkenikmatan) akan selalu membangkitkan rasa ingin tahu khalayak dan juga dapatmembangkitkan fantasi pada khalayak tertentu. Salah satu isu utama dalam studipenonton menyangkut hubungan antara produser, teks, dan penonton. Dalambanyak persamaan ini adalah tentang keseimbangan kekuatan yakni menilaisejauh mana khalayak dipengaruhi dan terpengaruh oleh teks media (Rayner,Wall, dan Kruger, 2004: 96).Program tayangan televisi Indonesia yang sengaja disajikan pada tengahmalam seringkali mengusung tema seksualitas. Perempuan yang ditampilkanselalu menggunakan busana mini yang ditujukan agar penonton yangmenyaksikan tayangan tersebut semakin terbelalak, terutama pada kaum lelaki.Hal ini tidak terlepas dari adanya komodifikasi dari pihak-pihak tertentu yangmemiliki kepentingan untuk memperoleh keuntungan secara materi. John Dovey(dalam Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 126) berpendapat bahwa kita hidupdalam masyarakat pengakuan dan menggambarkan fenomena genre baru televisisebagai 'media orang pertama' di mana subjektivitas, personal, dan intim menjadiprioritas. Mata lelaki seringkali dibuat terbelalak manakala menyaksikan kamerayang menelusuri tubuh perempuan dari ujung kaki hingga ujung rambut, ditambahpula si perempuan yang dengan sengaja melekukkan tubuhnya agar terlihat lebihsensual dan menarik hasrat kaum lelaki.Perempuan yang kemudian dijadikan objek untuk dieksploitasi seakanakanpasif dan menerima saja atas perlakuan pihak-pihak yang berkepentingan.Dalam hal ini perlindungan hak-hak perempuan justru dikesampingkan danmengutamakan profit yang akan didapatkan pihak media. Perempuan dijadikankonsumsi khalayak dan dipandang sebagai makhluk yang lemah, sebagaikeindahan yang dinikmati oleh barbagai khalayak yang berbeda-beda, dan darilatar belakang yang berbeda pula.Dari uraian di atas, serta mengingat bahwa penelitian ini ingin mengupasruang pemaknaan, maka peneliti ingin melihat bagaimana pemaknaan khalayakterhadap sosok perempuan dalam tayangan Mata Lelaki berkaitan dengan gayahidup masyarakat di era modern saat ini. Selanjutnya masalah yang diteliti dalampenelitian ini dirumuskan ke dalam pertanyaan sebagai berikut:1. Bagaimana interpretasi lelaki terhadap sosok perempuan dalam tayanganMata Lelaki?2. Bagaimana para penonton program acara Mata Lelaki menggunakanmateri acara tersebut sebagai rujukan pembicaraan dalam kehidupansehari-hari?ISIPenelitian ini merupakan kajian interpretatif atas content media berupateks, yang merupakan kombinasi tanda-tanda yang berupa tanda visual dan audio,dengan analisis yang bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif memerlukanketerlibatan yang lebih mendalam dengan penonton itu sendiri. Ini termasukteknik seperti wawancara dalam rangka untuk sampai pada kesimpulan tentangperilaku penonton dalam kaitannya dengan konsumsi media (Rayner, Wall danKruger, 2004: 96).Jika dikaitkan dengan tema tersebut, penelitian ini menggunakanparadigma interpretatif untuk melakukan interpretasi dan memahami alasan darisubyek penelitian terhadap tindakan sosial yang mereka lakukan, yaitu bagaimanamereka mengonstruksikan kehidupan yang ditampilkan dalam sebuah tayangantelevisi Mata Lelaki dan memberikan makna dari tayangan tersebut. Penelitian inimenggunakan analisis resepsi yang memiliki cara pandang khusus mengenaikhalayak. Dalam hal ini khalayak adalah sebagai penghasil makna, bukan hanyapengonsumsi media semata. Tujuan resepsi secara umum adalah untukmenemukan bagaimana khalayak dengan konteks sosial dan latar belakang yangberbeda membuat bermacam-macam pengertian mengenai teks media.Televisi merupakan salah satu bentuk komunikator massa, di mana dalamhal ini khalayak adalah sebagai komunikan. Proses komunikasi massa padahakekatnya merupakan proses pengoperan lambang-lambang yang berarti(mengandung arti atau makna) yang dilakukan melalui saluran-saluran (chanel),biasanya dikenal dengan media cetak, media auditif (radio), media visual (gambar,lukisan), atau media audio visual seperti televisi dan film.Dalam hal ini hubungan antara media dan khalayak dijelaskan Stuart Halldalam model encoding dan decoding. Encoding, yang merupakan domain dariproduser, dan decoding domain dari penonton. Proses mengkomunikasikan pesanmensyaratkan bahwa dikodekan sedemikian rupa sehingga penerima pesanmampu untuk memecahkan kode itu (Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 97).Misalnya, pesan televisual dikodekan melalui penggunaan teknologi kamera,ditransmisikan sebagai sinyal dan kemudian diterjemahkan dengan menggunakantelevisi, kemudian khalayak memberikan pemaknaan atas tanda-tanda dan pesanyang disampaikan oleh media. Dalam hal ini pesan yang disampaikan oleh mediakepada khalayak mengandung sebuah ideologi. Sebagai salah satu media massa,televisi membawa ideologi-ideologi tertentu yang berusaha ditanamkan kepadakhalayak melalui teks. Model encoding dan decoding yang diajukan oleh StuartHall dan David Morley berpusat pada gagasan bahwa penonton bervariasi dalamrespon mereka terhadap pesan media. Hal ini karena khalayak dipengaruhi olehposisi sosial mereka, jenis kelamin, usia, etnis, pekerjaan, pengalaman dankeyakinan serta di mana mereka berada dan apa yang mereka lakukan ketikamereka menerima pesan.Dalam perspektif active audience khalayak dipandang sebagai penciptamakna yang aktif. Khalayak Mata Lelaki adalah khalayak yang aktif. Merekatidak langsung secara mentah-mentah menerima apa yang mereka tonton dalamsebuah tayangan televisi. Khalayak merupakan penerima pesan dan pengolahinformasi. Ien Ang menyebutkan bahwa khalayak media bukanlah sebagai“masses” yaitu sekumpulan orang anonym dan pasif yang tidak beridentitas.Bukan pula sebagai “market” yang menjadi target industri media. Namunkhalayak media aktif dalam menggunakan, menginterpretasikan dan menikmatiproduk media. (Ang, dalam Downing, Mohammad, dan Sreberny Mohammad,1990 : 165). Dalam pelaksanaannya, mereka seakan terlihat pasif dan hanya diamketika menonton sebuah tayangan televisi, namun pada kenyatannya banyak halyang sedang berlangsung dalam pikiran mereka (Burton, 2008: 222). Selain itukhalayak menginterpretasikan teks media dengan cara mereka sendiri dandihubungkan dengan keadaan sosial dan budaya mereka serta pengalaman pribadimereka (Ang dalam Downing, Mohammadi, dan Sreberny-Mohammadi [eds],1990: 160).Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakankhalayak yang masih aktif menonton tayangan Mata Lelaki, dan pernah aktifmenonton tayangan tersebut. Keempat informan memiliki tingkat pendidikan danlingkungan sosial yang berbeda. Dalam wawancara informan menyampaikaninterpretasi mereka masing-masing terkait dengan tayangan Mata Lelaki.Khalayak yang dalam hal ini merupakan penghasil makna, memaknai tayanganMata Lelaki secara beragam, karena teks yang berbeda dapat menghasilkanpemaknaan yang beragam.Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkan sebagaiberikut:1. Khalayak menganggap bahwa tayangan Mata Lelaki merupakan sebuahtayangan yang menghibur, yang berorientasi pada seksualitas. Meskipundemikian, ada pula anggapan bahwa perempuan yang tampil sensual danterbuka dalam media merupakan hal yang tidak wajar. Adapun yangmengatakan hal tersebut sebagai suatu kewajaran, yakni karena melihatdari pers yang ada di Indonesia. Bahwa pers di Indonesia sudah terbukadan bebas, sehingga hal tersebut merupakan konsekuensi yang harusditerima oleh kita sendiri dari kebebasan pers yang kita anut.2. Penelitian ini menunjukkan adanya keberagaman pendapat mengenaiekploitasi sensualitas dan tubuh perempuan yang digunakan dalamtayangan Mata Lelaki. Ada pendapat tidak setuju, dengan alasan haltersebut sama saja merendahkan derajat kaum perempuan. Namun adapula pendapat yang setuju mengenai hal tersebut, dikarenakan apa yangditampilkan dalam tayangan Mata Lelaki tidak sekadar seksualitas saja.Tetapi juga ada informasi baru yang diberikan kepada penonton. Meskipundemikian, secara keseluruhan khalayak setuju bahwa apa yang disajikandalam tayangan Mata Lelaki sudah sesuai dengan Pedoman PerilakuPenyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang ditetapkan olehKomisi Penyiaran Indonesia (KPI).3. Dalam hal ini tayangan Mata Lelaki dianggap materi yang ringan,sehingga bisa dijadikan pembicaraan dalam konteks bercanda atauselingan ketika waktu sela di tengah-tengah kesibukan bekerja. TayanganMata Lelaki digunakan sebagai rujukan pembicaraan dalam kehidupansehari-hari, meskipun hal tersebut tidak dilakukan oleh semua khalayak.4. Penelitian ini menunjukkan bahwa khalayak mengetahui adanya istilahkhusus yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki. Namun, meskipunhampir semua informan menggunakan tayangan Mata Lelaki sebagaibahan pembicaraan sehari-harinya, mereka tidak serta merta menggunakanistilah yang ada dalam tayangan tersebut ke dalam pembicaraan sehariharinya.PENUTUPMedia televisi melalui tayangan Mata Lelaki yang disajikan memangbertujuan untuk mengarahkan khalayak ke arah pembacaan yang diinginkan.Makna dominan (preferred reading) dalam sebuah tayangan selalu tersirat denganjelas, dalam hal ini bagaimana produser ingin menuntun khalayak kepadapemaknaan yang sesuai dengan kode-kode dominan tersebut. Dalam hal ini MataLelaki sebagai tayangan malam mempertontonkan kesensualan perempuan,dengan menggunakan busana yang sangat minim dan terlihat pada bagian dadanyadiharapkan dapat menjadi sebuah hiburan bagi khalayak yang menonton. Selainitu, tayangan ini juga menekankan pada sisi informatif untuk memberikanpengetahuan baru bagi khalayaknya seputar dunia malam dan seksualitas.Sosok perempuan dalam media hingga saat ini masih sering digambarkansebagai penarik perhatian. Tayangan televisi sebagai salah satu industri budayaseringkali menggunakan tubuh perempuan lengkap dengan segala“keperempuanannya” sebagai daya tarik yang paling utama. Tubuh perempuandieksploitasi dengan penonjolan pada bagian-bagian tubuhnya yang mampumenimbulkan kesan sensual seperti paha, payudara, rambut yang tergerai, bibir,atau tubuh yang sensusal secara utuh. Hal tersebut masih saja selalu terjadi karenadianggap mampu menaikkan rating program televisi mereka yakni sebagaipekerja media. Meskipun sering mendapat teguran keras dari KPI karenamenyajikan bagian-bagian intim tubuh perempuan seperti belahan dada dan paha.Para pekerja media hanya memikirkan keuntungan untuk mereka sendiri dan tidakpeduli apakah hal tersebut melanggar P3SPS yang sudah ditetapkan KPI. Itulahmengapa tayangan hiburan malam yang berorientasi pada seksualitas masih sajadiproduksi.Peran dari Pedoman Perilaku Penyiaran (P3SPS) terlihat masih sangatlemah. Hal tersebut dapat dilihat dari interpretasi informan yang secarakeseluruhan dari mereka mengatakan tayangan Mata Lelaki sudah sesuai denganP3SPS, karena sudah dilakukan sensor di dalamnya. Padahal jika kita lebihcermat, dalam tayangan tersebut dilakukan sensor hanya untuk melindungiidentitas narasumber yang dirahasiakan. Sedangkan untuk adegan yangmemperlihatkan bagian intim tubuh perempuan, seperti paha, belahan dada, danperut justru sama sekali tidak tersentuh sensor. Dari sini dapat dilihat bahwa perandari P3SPS masih sangat lemah. Selain itu, media seakan-akan masih bebasmelakukan apa pun demi mendapatkan keuntungan. Media sangat cerdas dalammemainkan perannya dan bersembunyi di balik kata sensor yang sudah merekalakukan, meskipun sensor tersebut tidak tepat dalam penggunaannya.Khalayak diharapkan lebih cermat mengkritisi tayangan malam yangdisuguhkan oleh pekerja media yang banyak mengeksploitasi tubuh perempuandan lebih mampu berperan sebagai khalayak aktif dalam menerima pesan yangdisampaikan oleh media.Penelitian terhadap tayangan Mata Lelaki yang mengeksploitasi tubuhperempuan yang menggunakan analisis resepsi, ini diharapkan dapat menjadireferensi untuk penelitian selanjutnya. Dengan menggunakan berbagai teori danpendekatan lainnya yang sesuai, untuk mengkritisi tayangan-tayangan televisiyang ada di Indonesia sesuai perkembangannya.DAFTAR PUSTAKABurton, Graeme. 2000. Membincangkan Televisi: Sebuah Pengantar KepadaStudi Televisi. (Terj.) Bandung: JalasutraDowning, John, Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. 1990.Questioning The Media a Critical Introduction. USA: Sage PublicationRayner, Philip, Peter Wall dan Stephen Kruger. 2004. Media Studies: TheEssentian Resource. London: Routledge
Pengaruh Terpaan Pemberitaan Teror di Surakarta dan Faktor Demografi (Usia, Jenis Kelamin, Tingkat Pendidikan) Terhadap Citra Polisi Ira Astri Rasika; Taufik Suprihatini; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.445 KB)

Abstract

Pengaruh Terpaan Pemberitaan Teror di Surakarta dan Faktor Demografi (Usia, JenisKelamin, Tingkat Pendidikan) Terhadap Citra PolisiAbstrakPemberitaan mengenai teror terhadap anggota kepolisian yang terjadi di kota Surakartapada Agustus 2012 lalu menjadi topik utama di media massa. Hal ini dapat memengaruhipersepsi masyarakat mengenai citra polisi itu sendiri karena instansi kepolisian langsung menjadisorotan utama berkaitan dengan aksi teror yang menyerang anggotanya. Akan tetapi, tidak semuaorang memiliki persepsi yang sama, hal ini dikarenakan masyarakat terdiri dari berbagai macamkomposisi demografi seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh terpaan media tentang pemberitaan teror solo dan faktor demografi(usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan) terhadap citra polisi di mata masyarakat. Penelitimenggunakan teori efek komunikasi kognitif yang dapat menjelaskan bagaimana pembentukancitra dapat terjadi karena terpaan media massa yang diterima oleh khalayak (Ardianto, 2004),teori kategori sosial dan teori perbedaan individual dari Melvin DeFleur dan Ball Rokeachmampu menjelaskan bagaimana faktor demografi penduduk dapat berpengaruh terhadappembentukan citra (Rakhmat, 2011). Populasi dari penelitian ini adalah warga kota Surakartayang berusia 15-64 tahun. Penarikan sampel dilakukan secara aksidental sebanyak 70 orang.Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis Structural Equation Model (SEM)untuk melihat besarnya pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel terpaanpemberitaan (X) terhadap variabel citra polisi (Y) melalui variabel usia, jenis kelamin, tingkatpendidikan (intervening variable). Hasil pengujian hipotesis adalah terpaan pemberitaan terorSolo berpengaruh terhadap citra tidak melalui usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan,dengan nilai pengaruh langsung terpaan terhadap citra (standardized direct effect) sebesar 0,278lebih besar dari nilai pengaruh tidak langsung terpaan terhadap citra melalui usia, jenis kelamin,tingkat pendidikan (standardized indirect effect) sebesar – 0,048. Jadi, hipotesis yang diajukandalam penelitian ini ditolak. Dari pengujian Regression Weights diperoleh hasil parameterestimasi pengaruh antara terpaan terhadap citra sebesar 0,778, pengujian hubungan keduavariabel tersebut menunjukkan nilai C.R (critical ratio) sebesar 2,637 lebih besar dari 1,96 danprobabilitas = 0,008 (p < 0,05), ini berarti terpaan berpengaruh positif terhadap citra. PengujianSquared Multiple Correlation untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalammenerangkan variasi variabel dependen, hasilnya adalah citra dipengaruhi oleh terpaan,pendidikan, usia, dan jenis kelamin sebesar 24,8%, sedangkan sisanya sebesar 75,2% (100%-24,8%) dijelaskan oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini.Keywords: terpaan, citra polisi, faktor demografi, SEMThe Effect Of Exposure To News Coverage Of Terror In Surakarta and DemographicFactors (Age, Gender, Level of Education) To The Image Of The PoliceAbstractNews coverage of terror against members of the police force in the Surakarta on August 2012and became the main topic in the mass media. It can affect people's perception about the imageof the police because the police agency directly became highlights related to the terror actionagainst its members. However, not everyone has the same perception, this is because thecommunity is made up of a wide variety of demographic composition, such as age, gender, andlevel of education. This study aims to determine the effect of exposure to the news media aboutthe terror solo and demographic factors (age, gender, education level) on the image of the policein the eyes of society. Researchers using cognitive communication effects theory that can explainhow the image formation can occur because of mass media exposure received by audiences(Ardianto, 2004), social categories theory and the theory of individual differences and BallRokeach Melvin DeFleur able to explain how demographic factors can affect the imageformation (Rakhmat, 2011). The population of this research are the citizen of Surakarta aged 15-64 years. Accidental sampling conducted as many as 70 people.Hypothesis testing is done using analysis of Structural Equation Modelling (SEM) to seethe magnitude of the direct and indirect effect between news exposure variable (X) to the policeimage variable (Y) through the variables of age, gender, level of education (interveningvariable). Results of hypothesis testing is preaching terror Solo exposure influence the image notthrough age, gender, and education level, with the direct effect value of exposure to the image(standardized direct effect) of 0.278, is greater than the indirect effect value of exposure to theimage through the ages, gender, level of education (standardized indirect effect) of - 0.048. Thus,the hypothesis presented in this research was rejected. Regression Weights of test resultsobtained parameter estimates the effect of exposure to images of 0,778, the relationship testbetween the two variables indicate the value of C.R (critical ratio) of 2,637 greater than 1.96and probability = 0.008 (p < 0,05), it means the exposure has a positive effect to the image.Squared Multiple Correlation test to measure how far the model’s ability in explaining variationof the dependent variable, the result image is affected by exposure, education, age, and sex of24,8%, while the remaining 75.2% is explained by other factors not examined in this study.Keywords: exposure, image of the police, demographic factors, SEMPENGARUH TERPAAN PEMBERITAAN TEROR DI KOTA SURAKARTA DAN FAKTORDEMOGRAFI (USIA, JENIS KELAMIN, TINGKAT PENDIDIKAN) TERHADAP CITRAPOLISI DI MATA MASYARAKATPENDAHULUAN: Media memang mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadapmasyarakat, disadari atau tidak, media massa mampu membuat masyarakat mempunyai penilaiantersendiri terhadap suatu informasi, terutama dalam hal mengubah persepsi atau sikapmasyarakat atas suatu realita. Dampak ini diperkuat dengan keseragaman para wartawan dalammenyajikan berita yang cenderung sama. Khalayak akhirnya tidak mempunyai alternatif yanglain sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya darimedia massa (Rakhmat, 2011:199). Meskipun media memiliki kekuatan untuk membentuk ataumengubah persepsi, namun hal tersebut tetap tidak bisa memaksa semua masyarakat untukmemiliki respon yang sama dalam menerima setiap terpaan informasi yang diberikan oleh media.Hal ini dikarenakan, masyarakat terdiri dari berbagai macam komposisi demografi seperti usia,jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Komposisi demografi itulah yang akan mempengaruhicara dan pola pikir masyarakat dalam memberikan stimulus terhadap setiap informasi yangditerimanya. Pemberitaan tentang aksi teror Solo yang terjadi di Kota Surakarta beberapa waktulalu, menyedot perhatian media massa karena modus baru yang dilakukan oleh para teroris.Selama bulan Agustus, tercatat terdapat empat aksi teror yang dilakukan oleh teroris bersenjatayang melakukan penyerangan terhadap anggota kepolisian yang sedang bertugas jaga di pos- pospolisi, mulai dari melempar granat sampai penembakan yang menewaskan satu anggota polisi.Oleh sebab itu, seluruh masyarakat Indonesia, tidak hanya masyarakat Solo saja, serta parapejabat pemerintahan terus mengawasi dan memonitor kinerja instansi Kepolisian RepublikIndonesia dalam menyelesaikan dan mengusut kasus ini sampai tuntas, karena pemberitaan yangnegatif di media massa tersebut dapat membuat citra masyarakat terhadap polisi menjadi negatif.Sementara itu, menurut Psikolog Forensik, Reza Indragiri Amriel, seperti yang dikutip dari salahsatu situs online, isu terorisme yang belakangan marak muncul di media massa dinilai semakinmemperburuk citra Polri. Kondisi tersebut dinilai kian menguatkan anggapan bahwa Polrisemakin lemah, dan masyarakat terguncang akibat berita- berita terorisme di media massa. Iamengatakan,”akibatnya, masyarakat semakin bersikap negatif terhadap Korps Tribata. Publikmenafsirkan, sudah korup, gagal pula menangkal beranak pinaknya teroris” (sumber:http://berita.plasa.msn.com/nasional/republika/isu-terorisme-dinilai-justru-perburuk-citra-polisi).Dalam hal ini, media telah menunjukkan kekuatannya sebagai pembentuk persepsi masyarakat,karena melalui pemberitaan- pemberitaan yang terus menerus mengenai aksi teror ini dapatmembentuk atau mengubah persepsi masyarakat tentang bagaimana citra kepolisian Indonesia dimata mereka. Berdasarkan hal tersebut, lantas sejauh mana pengaruh terpaan pemberitaan terordi Kota Surakarta dan faktor demografi (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan) terhadap citrapolisi di mata masyarakat?PEMBAHASAN: Terpaan (exposure) merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membacapesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesantersebut yang terjadi pada individu dan kelompok (Kriyantono, 2006 : 205). Masyarakat yangmengkonsumsi media massa dan mendapatkan informasi mengenai aksi teror Solo, baik itudengan melihat, mendengar, dan membaca, serta mempunyai perhatian dan pengalaman pribadisecara langsung terhadap aksi teror Solo dapat dikatakan sudah mendapatkan terpaanpemberitaan aksi teror Solo dari media massa. Proses bagaimana masyarakat mendapatkanterpaan pemberitaan aksi teror Solo tidak lepas dari faktor- faktor yang juga menjadi kekuatanbagi media massa dalam mempengaruhi masyarakat. Noelle- Neumann mencetuskan faktorfaktoryang saling bekerjasama dalam membentuk perspektif yang selektif (Rakhmat, 2011:198):ubiquity (serba ada), keseragaman wartawan, dan kumulasi pesan. Dalam pemberitaan aksi terorSolo hampir semua media massa, baik itu elektronik, media cetak, bahkan media online,memberitakan hal yang sama tentang kasus teror setiap harinya (keseragaman wartawan). Entahitu melaporkan langsung dari tempat kejadian perkara, wawancara dengan anggota instansikepolisian, hingga mengundang narasumber yang berbeda- beda dalam acara talk show danmembahas aksi teror. Hal yang dibahas pun semakin lama semakin merembet kemana- mana,dari aksi teror yang dilakukan, menyudutkan instansi kepolisian karena kelalaian kerjanya, motifdan tersangka aksi teror, hingga kontroversi seputar penangkapan teoris. Semua pesan- pesanmengenai aksi teror itu berakumulasi dan dapat mempengaruhi masyarakat. Namun menurutDeFleur dan Ball Rokeach tidak semua orang mempunyai respon yang sama terhadap terpaanpemberitaan di media massa. Hal tersebut dicetuskan dalam teori kategori sosial (social categorytheory) dan teori perbedaan individual (individual differences theory) (Rakhmat, 2011: 201-202).Menurut teori kategori sosial, respon setiap orang dalam menerima terpaan media tergantungdari faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Secara garis besar usiaadalah lamanya hidup individu yang terhitung sejak dia dilahirkan sampai berulang tahun. Usiadikelompokkan menjadi 3 yaitu usia belum produktif (0-14 tahun), usia produktif (15-64 tahun),dan usia tidak produktif (65 tahun ke atas). Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakatyang didasarkan pada perbedaan ciri fisik (organ reproduksi, bentuk tubuh) dan perbedaan sosial(perbedaan peranan), dan dikelompokkan menjadi laki- laki dan perempuan. Sedangkan tingkatpendidikan merupakan proses pembelajaran yang berstruktur yang mempunyai jenjang atautingkatan pada periode waktu tertentu, berlangsung dari sekolah dasar sampai perguruan tinggidan tercakup di dalamnya studi akademis umum. Asumsi dari teori kategori sosial adalah orangdengan usia dan jenis kelamin yang sama cenderung sama pula dalam merespon pesan yangdisampaikan oleh media massa. Orang dengan usia dewasa cenderung akan memiliki perhatianyang sama terhadap berita aksi teror Solo yang didapat melalui berbagai macam media,sedangkan orang dengan usia remaja yang lebih sering mengakses informasi melalui mediatelevisi dan online, cenderung merespon dengan biasa saja karena kejadian tersebut sedangmenjadi headline, tidak sampai terlalu mengikuti, karena orang dengan usia remaja cenderunglebih menyukai hal- hal yang bersifat hiburan. Tingkat pendidikan seseorang jika dilihat dariperspektif perbedaan individual (teori perbedaan individu), mempengaruhi respon atau stimulusyang diterima oleh setiap individu terhadap pesan yang disampaikan media massa. Perbedaanpengalaman belajar, yang ditentukan dari sekolah baik formal maupun informal yang berjenjangdari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, mampu mempengaruhi pola pikir dan prasangkaseseorang yang lebih baik, serta lebih mampu menerima informasi. Orang dengan pendidikanyang rendah cenderung lebih mudah terkena terpaan karena pengetahuannya yang terbatas.Sedangkan orang dengan pendidikan yang lebih tinggi, seperti eksekutif atau mahasiswa,cenderung lebih sulit terkena terpaan karena pengetahuannya lebih luas, lebih bisa berfikir, lebihmencari berbagai referensi sebelum membuat keputusan. Dominick (2000) menyebutkan tentangdampak komunikasi massa pada pengetahuan, persepsi dan sikap seseorang. Media massaterutama televisi yang menjadi agen sosialisasi memainkan peran penting dalam transmisi sikappersepsi dan kepercayaan (Ardianto, 2004 : 58). Efek kognitif sangat memengaruhi pembentukancitra oleh khalayak terhadap sesuatu karena efek kognitif terjadi apabila ada perubahan pada apayang diketahui, dipahami, atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisipengetahuan, ketrampilan, kepercayaan, dan keyakinan. Media massa bekerja untukmenyampaikan informasi, sedangkan untuk khalayak, informasi tersebut dapat membentuk,mempertahankan, atau mendefinisikan citra berdasarkan persepsi seseorang. Jadi, citra terbentukberdasarkan informasi yang kita terima. Tipe penelitian ini adalah eksplanatif yaitu untukmenemukan penjelasan tentang mengapa suatu kejadian atau gejala terjadi. Populasi daripenelitian adalah warga kota Surakarta yang berusia 15-64 tahun, tetapi karena peneliti tidakmemiliki kerangka sampel yang cukup, maka pengambilan sampel dilakukan dengan teknik nonprobability sampling dan ditetapkan besarnya sampel adalah 70 orang. Teknik penarikan sampeldilakukan dengan teknik accidental sampling, di mana sampel dapat terpilih karena berada padawaktu, situasi, dan tempat yang tepat. Instrumen penelitian yang digunakan adalah denganmenggunakan kuesioner yang berupa daftar pertanyaan yang disiapkan oleh peneliti untukdisampaikan kepada responden yang jawabannya diisi oleh responden sendiri. Sedangkan teknikpengumpul data adalah dengan teknik wawancara, di mana selain memberikan kuesioner,peneliti juga memberikan kesempatan kepada responden untuk menanyakan yang tidakdimengerti responden dalam menjawab kuesioner sehingga mendapatkan jawaban yang lebihmemuaskan dan mendalam. Selain itu, teknik wawancara digunakan untuk memastikan bahwaresponden menjawab semua pertanyaan dalam kuesioner secara lengkap, tidak sembarangan, dantidak diisikan orang lain. Karena dalam penelitian ini terdapat variabel antara (intervening),maka jenis analisis ini adalah analisis multivariat. Analisis multivariate yang digunakan adalahdengan menggunakan pendekatan Model Persamaan Struktural (Structural Equation Model/SEM). Model ini digunakan karena penelitian ini ingin menguji pengaruh terpaan (X) terhadapcitra polisi (Y) melalui usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan (intervening variabel). Sebelummelakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan evaluasi atas asumsi- asumsi SEMyang dapat menentukan criteria layak uji SEM. Dalam penelitian ini, semua asumsi- asumsiSEM diterima sehingga variabel- variabel tersebut layak diuji menggunakan SEM. Uji hipotesisdilakukan dengan melihat pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel eksogenterhadap variabel endogen. Analisis ini diperlukan untuk membuktikan variabel intervening.Variabel intervening dalam penelitian adalah pendidikan, usia, dan jenis kelamin. Variabelpendidikan, usia, dan jenis kelamin terbukti sebagai variabel intervening yang dapat dilaluiterpaan terhadap citra apabila koefisien pengaruh tidak langsungnya lebih besar daripadapengaruh langsung. Dari pengujian Regression Weights diperoleh hasil parameter estimasipengaruh antara terpaan terhadap citra sebesar 0,778, pengujian hubungan kedua variabeltersebut menunjukkan nilai C.R (critical ratio) sebesar 2,637 lebih besar dari 1,96 danprobabilitas = 0,008 (p < 0,05), ini berarti terpaan berpengaruh positif terhadap citra. PengujianSquared Multiple Correlation untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalammenerangkan variasi variabel dependen, hasilnya adalah citra dipengaruhi oleh terpaan,pendidikan, usia, dan jenis kelamin sebesar 24,8%, sedangkan sisanya sebesar 75,2% (100%-24,8%) dijelaskan oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil uji hipotesismenyatakan bahwa pengaruh langsung terpaan terhadap citra sebesar 0,278 lebih besar daripadapengaruh tidak langsungnya sebesar - 0,048. Jadi dapat disimpulkan bahwa terpaan berpengaruhterhadap citra tidak melalui pendidikan, usia, dan jenis kelamin, sehingga hipotesis yangdiajukan ditolak. Hasil hipotesis ini juga menunjukkan keperkasaan media (Noelle-Neumman,dalam Rakhmat, 2011:198). yang dapat memengaruhi hampir setiap orang dengan cara yangsama tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.PENUTUP: Polisi merupakan satu institusi pemerintahan yang mempunyai tugas berhubunganlangsung dengan masyarakat sebagai pelayan, pengayom, dan pelindung masyarakat. Oleh sebabitu, citra polisi di mata masyarakat pun harus dijaga agar hubungan antara masyarakat daninstansi kepolisian berlangsung dengan baik. Salah satu cara yang digunakan oleh kepolisianuntuk memperbaiki atau mempertahankan citranya di mata masyarakat adalah melalui mediamassa. Berkembangnya media massa sekarang ini, membuat media massa mempunyai perananpenting dalam membentuk persepsi dan keyakinan masyarakat tentang sesuatu. Kesimpulan daripenelitian ini adalah: 1. Hasil pengujian hipotesis adalah terpaan pemberitaan teror Soloberpengaruh terhadap citra tidak melalui usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan (hipotesisyang diajukan ditolak). Hasil ini diperoleh melalui berdasarkan pengolahan uji hipotesis yangdilakukan dengan menggunakan metode analisis Structural Equation Model (SEM), didapat hasilpengaruh langsung terpaan terhadap citra (standardized direct effect) sebesar 0,278 lebih besardari pengaruh tidak langsung terpaan terhadap citra melalui usia, jenis kelamin, tingkatpendidikan (standardized indirect effect) sebesar – 0,048; 2. Landasan teori yang diajukan untukmendukung hipotesis awal, yaitu teori kategori sosial dan teori perbedaan individual tidaksignifikan karena hasil uji hipotesis menyatakan bahwa terpaan berpengaruh terhadap citrasecara langsung tanpa melalui faktor- faktor demografi, seperti usia, jenis kelamin, dan tingkatpendidikan. Namun teori efek komunikasi dapat mendukung hasil uji hipotesis bahwa terpaanmempunyai pengaruh dalam pembentukan citra; 3. Berdasarkan temuan penelitian di lapanganyang didapatkan dengan membagikan kuesioner kepada 70 orang responden, sebanyak 44.3%menilai citra polisi cukup baik, disusul kemudian 27.1% menilai citra polisi kurang baik, 15.7%menilai citra polisi buruk, dan hanya 12. 9% yang menilai citra polisi baik. Berdasarkankesimpulan tersebut, maka sebaiknya media harus lebih berhati- hati dalam memberikaninformasi mengenai instansi kepolisian, misalnya dengan menyaring informasi mengenai instansikepolisian yang akan ditampilkan di media massa, tidak sembarangan mencari danmewawancarai narasumber, karena media memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhipersepsi masyarakat tentang citra kepolisian. Instansi kepolisian sebaiknya juga mempunyai jurubicara atau Humas yang bertugas memberikan informasi kepada masyarakat melalui mediasecara resmi melalui konferensi pers, tidak hanya di kantor pusat saja tetapi juga di daerahdaerah.Hal ini diperlukan agar informasi yang muncul di media massa dapat terkendali danterkontrol.DAFTAR PUSTAKA: Ardianto, Elvaro. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. SimbiosaRekatama Media: Bandung ; Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi.Kencana: Jakarta ; Rakhmat, Djalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya:Bandung ; Ferdinand, Augusty. 2006. Structural Equation Modeling dalam PenelitianManajemen, Edisi Keempat. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang ; Firdaus, M danFarid. 2008. Aplikasi Metode Kuantitatif Terpilih Untuk Manajemen dan Bisnis, Seri metodekuantitatif. IPB Press: Bogor ; Ghozali, Imam. 2008. Model Persamaan Structural: Konsep danAplikasi dengan Program Amos 16.0. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang ;Koentjaraningrat. 1977. Metode- metode Penelitian Masyarakat. PT Gramedia: Jakarta ;Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Kencana: Jakarta ; Muhidin,Sambas Ali dan Maman Abdurahman. 2007. Analisis Korelasi, Regresi, Dan Jalur DalamPenelitian (Dilengkapi Aplikasi Program SPSS). CV Pustaka Setia: Bandung ; Prasetyo,Bambang dan Lina Miftahul Jannah. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi.Rajawali Pers: Jakarta ; Rakhmat, Djalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. PT RemajaRosdakarya: Bandung ; Rakhmat, Djalaluddin. 1984. Psikologi Komunikasi. PT RemajaRosdakarya: Bandung ; Santoso, Singgih. 2007. Structural Equation Modelling, Konsep danAplikasi dengan Amos, Membuat dan Menganalisis Model SEM Menggunakan Program SPSS.PT Elex Media Komputindo: Jakarta ; Syah Putra, Dedi Kurnia. 2012. Media dan Politik:Menemukan Relasi Antara Dimensi Simbiosis- Mutualisme Media dan Politik. Graha Ilmu:Yogyakarta ; Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedelapan. Kencana: Jakarta ;http://berita.plasa.msn.com/nasional/republika/isu-terorisme-dinilai-justru-perburuk-citra-polisidiakses pada 20 Desember pukul 10.00 ;www.m.okezone.com/read/2012/09/01/337/683777/kapolri-aksi-di-solo-tidak-terkait-pilkada-DKI diakses pada 19 September pukul 13.00 ; http://suarapembaruan.com/home/teror-beruntundi-solo-polisi-ditembak-mati/24062 diakses pada 5 Maret 2013 pukul 18.00 ;http://m.tempo.co/read/news/2012/09/03/063427135/mabes-polri-motif-teror-solo-balas-dendamdiakses pada 5 Maret 2013 pukul 19.00 ; Laporan Harian Monitoring Isu Publik Depkominfodalam www.depkominfo.go.id di akses dan didownload pada 19 September 2012 pukul12.00.
VIDEO REPORTASE INVESTIGASI: “MENGUAK JOKI SKRIPSI DI PERGURUAN TINGGI DI SEMARANG” Louisa Yunita Pia Duna; Muchamad Yulianto; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.096 KB)

Abstract

INVESTIGATION REPORT VIDEO: “INVESTIGATING THESIS “JOKI” IN AUNIVERISITY AT SEMARANGABSTRACTThesis is one of the requirements in achieving undergraduate degree. The purpose isenable the students to arrange and write their scientific paper according to their subject major.The problem raises when the students feel that they are unable to compose thesis by themselves.It causes a phenomenon called thesis jockey. Thesis jockey is an illegal action where a personearns someone to do a thesis. Thesis jockey appears because there is a demand and order fromthe students. It is also because of the low academic culture, market doer (a thesis jockey), andunclear regulation. The government regulation also becomes the problem. This investigation canbe a reflection that this case really happens in Indonesian education. It can be a bad image foreducation. The investigation of the fact was based on the curiosity of the journalist inellaborating the truth. This bussiness, thesis jockey is influenced by some factors. One of themis the low awareness of the students in doing scientific research among the academicenvironment in university.This bussiness has been spreading out throughout the universities and it challenges forthe university to overcome it. Thesis jockey is an ilegal action that can give bad image foreducation. It will produce unqualified undergraduate students. The students tended to use thesisjockey because there was no regulation which can give punishment to the doer. Thisinvestigation could be a reflection on the existance of thesis jockey within education institution.The result of investigation could be used as the reference for the parents, educators, and thestudents in order to increase the quality of education in Indonesia.The investigation was done in order to obtain the facts. This investigation also used amethod which consists of some phases namely, pre-production, production, and post production.This investigation report has been broadcasted by Cakra TV Semarang on Monday June 17th2013. This investigation video was broadcasted after getting an agreement and negoitation.Keywords: investigation, students, thesis jockey, televisionVIDEO REPORTASE INVESTIGASI: “MENGUAK JOKI SKRIPSI DI PERGURUANTINGGI DI SEMARANG”____________________________________________________________________ABSTRAKSkripsi merupakan syarat seorang mahasiswa menyelesaikan pendidikan sarjanadengan tujuan agar mahasiswa mampu menyusun dan menulis suatu karya ilmiah, sesuai denganbidang ilmunya. Permasalahan muncul ketika mahasiswa merasa tidak cukup mampu untukmenyelesaikan tugas penulisan skripsi. Fenomena joki skripsi hadir karena adanya permintaandan penawaran. kultur akademik yang rendah, adanya pelaku pasar (para joki), serta regulasiyang tidak jelas. Regulasi pemerintah juga menjadi problem tersendiri. Investigasi ini dapatmenjadi gambaran bagi masyarakat dan dunia akademik tentang adanya praktek joki skripsi yangmencoreng institusi pendidikan. Penelusuran fakta dalam jurnalisme investigasi didasarkan padakeinginan wartawan untuk mengetahui. Penelusuran fakta dilakukan untuk memaparkankebenaran. Maraknya bisnis joki skripsi dipengaruhi pula oleh beberapa faktor, diantaranyaadalah rendahnya budaya penelitian di kalangan civitas akademika perguruan tinggi.Maraknya jasa pembuatan skripsi di beberapa kota merupakan tantangan serius bagiperguruan-perguruan tinggi. Joki skripsi merupakan salah satu hal yang merusak citra pendidikankarena melahirkan sarjana yang tidak berkualitas. Mahasiswa cenderung menggunakan jasa jokiskripsi karena belum adanya sanksi yang menjerat. Sanksi terhadap pengguna jasa joki skripsibelum ada. Investigasi ini menjadi gambaran bagi masyarakat dan dunia akademik tentangadanya praktek joki skripsi yang mencoreng institusi pendidikan. Hasil dari investigasi ini dapatmenjadi referensi bagi orang tua, tenaga pendidik, dan mahasiswa agar menghindari praktekperjokian skripsi untuk memperbaiki kualitas pendidikan.Investigasi perlu dilakukan untuk mendapatkan fakta lebih lanjut. Cara kerjamenggunakan metode investigasi yang terdiri dari beberapa tahap: pra produksi, produksi danpaska produksi. Reportase investigasi ini ditayangkan oleh stasiun televisi yaitu programTarget Investigasi di Cakra TV Semarang pada hari Senin tanggal 17 Juni 2013.Penyangan karya bidang pada program Target Investigasi dilakukan setelah proses negosiasi dandirasa cocok dengan program acara tersebut.Kata kunci : investigasi, mahasiswa, joki skripsi, televisiPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangBerdasarkan definisi awam yang dirumuskan skripsi mengandung komponenpengertian berikut : karya tulis ilmiah hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswaberkualifikasi sarjana (Rahyono FX,2010:23). Skripsi merupakan syarat seorangmahasiswa menyelesaikan pendidikan sarjananya dengan tujuan agar mahasiswa mampumenyusun dan menulis suatu karya ilmiah, sesuai dengan bidang ilmunya. Mahasiswayang mampu menulis skripsi dianggap mampu memadukan pengetahuan danketrampilannya dalam memahami, menganalisis, menggambarkan dan menjelaskanmasalah yang berhubungan dengan bidang keilmuan yang diambilnya. Skripsi merupakanpersyaratan untuk mendapatkan status sarjana (S1) di setiap Perguruan Tinggi Negeri(PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ada di Indonesia. Menurut kamusbesar bahasa Indonesia, skripsi diartikan sebagai suatu karangan ilmiah yang diwajibkansebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis.Permasalahan mulai muncul ketika mahasiswa merasa tidak cukup mampu untukmenyelesaikan tugas penulisan skripsi. inilah yang membuat beberapa pihakmemanfaatkan kesempatan untuk sekedar membuka jasa pengetikan ataupun melayanipengolahan data. Selain itu muncul juga jasa pembuatan skripsi yang semakin bertebarandan mudah untuk ditemui. Jika dahulu mungkin dilakukan dengan sembunyi-sembunyi,dan informasi di sebarkan dari mulut ke mulut, maka saat ini jasa penulisan skripsidengan mudah diakses oleh mahasiswa melalui internet. Hanya dengan memasukkan katakunci “konsultasi skripsi” dengan mesin pencari, hasilnya adalah 23.400 file padawww.yahoo.com, 90.300 file pada www.google.com. Bahkan para penyedia jasapembuatan skripsi tidak segan untuk menempel iklan di beberapa tempat misalnyadinding atau pohon di sekitar kampus. Jasa seperti ini seolah-olah dilegalkan, karenatidak pernah terdengar ada yang biro jasa skripsi yang dimeja hijaukan. Fenomena jokiskripsi hadir karena adanya permintaan dan penawaran. Sistem yang dibangun duniapendidikan ternyata memuat kekuatan-kekuatan pasar yang terbilang anomin (Wahono,2001:4-9).Ada berbagai alasan mengapa joki skripsi menjadi hal yang makin marak dan jasaini diminati oleh mahasiswa tingkat akhir. Menurut Nugroho, Dosen Fakultas IlmuPendidikan (FIP) Unnes, ada tiga variabel yang menyebabkan maraknya bisnis jokiskripsi. Yakni kultur akademik yang rendah, adanya pelaku pasar (para joki), sertaregulasi yang tidak jelas. Regulasi pemerintah juga menjadi problem tersendiri.Pemerintah memaksakan agar kuantitas lulusan perguruan tinggi meningkat. Program ituditangkap secara jeli oleh perguruan tinggi dengan menyelenggarakan perkuliahan"instan", model ekstensi atau semester pendek. Alhasil, perguruan tinggi menjadiprodusen sarjana berkualitas fast food. (Suara Merdeka, 21 April 2005). Programperkuliahan ekstensi banyak dinilai menjadi salah satu faktor mengapa joki skripsi tetapberjaya di tengah-tengah masyarakat. Bisnis joki skripsi ini kian menyeruak saatperguruan tinggi ramai-ramai membuka program ekstensi. (Suara Merdeka, 14 April2005, hal 10).Alasan lain mengapa joki skripsi kian marak juga tidak lepas dari dosenpembimbing yang kurang maksimal dalam memberikan pelayanan pada mahasiswa.Wakil Direktur Bidang Akademik Sekolah Pascasarjana UGM menyatakan, ketikapembimbing itu overload, punya kesibukan yang banyak di luar kegiatan belajarmengajarmaka ada kecenderungan di dalam menyikapi tugas pembimbingan hanyasebagai rutinitas yang harus dia lakukan. Akhirnya, dosen-dosen pembimbing akancenderung untuk kemudian menjadi stereotipik. (Edhi Martono, 2009).1.2 Perumusan MasalahRumusan masalah yang dapat ditarik dari hal ini adalah : Bagaimanakah modus parapenyedia jasa joki skripsi?1.3 JudulMenguak joki skripsi di Perguruan Tinggi1.4 TujuanProgram ini dibuat untuk menginvestigasi praktek joki skripsi yang dilakukan olehmahasiswa S1 di Semarang.1.5 Penayangan karya bidangProgram : Target InvestigasiStasiun TV : Cakra TV SemarangPenayangan : Senin, 19.00-19.30 WIB1.6 Analisis target audiensPenayangan karya bidang ini akan ditayangkan di salah satu stasiun TV lokal diSemarang yaitu Cakra TV. Cakra TV Semarang merupakan salah satu stasiun televisilocal Semarang yang dimiliki oleh Indonetwork yang saat ini mempunyai beberapaprogram tayangan berita yang berkonten lokal cukup tinggi dan dinilai memiliki peluanguntuk dapat menayangkan program investigasi karya bidang tersebut. Target audienceCakra Semarang TV:Jenis Kelamin : Pria dan WanitaUmur : Primer 15-65 tahunSekunder <14 tahunTersier > 65 tahunDapat disimpulkan bahwa audiens Cakra Semarang TV merupakan masyarakat di usiaproduktif sehingga karya bidang berupa investigasi ini nantinya dapat disaksikan olehmasyarakat dari berbagai lapisan umur untuk dijadikan pengalaman dan pengetahuan.1.7 Durasi30 menit durasi penayangan di Cakra TV dengan rincian sebagai berikut:-Video : 26 menit-Iklan : 3 menit-Credit title : 1 menit1.8 Signifikansia. AkademisInvestigasi dibuat dalam bentuk video berdurasi 30 menit, merupakan salah satu bagiandari aplikasi mata kuliah konsentrasi jurnalistik yaitu Produksi Berita TV dan JurnalistikInvestigasi. Diharapkan karya bidang ini dapat memberikan kontribusi dalam bidangjurnalistik.b. PraktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang fenomenajoki skripsi. Investigasi ini merupakan bentuk aplikasi riil mahasiswa dari berbagai matakuliah seperti : Produksi Berita TV, dan Jurnalisme Investigasi yang sudah diajarkan diperkuliahan, sehingga apa yang telah dipelajari di perkuliahan dapat diaplikasikan dalambentuk karya bidang.c. SosialInvestigasi ini dapat menjadi gambaran bagi masyarakat dan dunia akademik tentangadanya praktek joki skripsi yang mencoreng institusi pendidikan. Selain itu dapat jugamenjadi referensi bagi orang tua, tenaga pendidik, dan mahasiswa agar menghindaripraktek perjokian skripsi untuk memperbaiki kualitas pendidikan.SEKILAS BISNIS JOKI SKRIPSI DAN PROGRAM TARGET INVESTIGASIBanyaknya perjokian skripsi dapat dilihat dari berbagi sisi, secara sosiologis, Soekantomenyebutkan bahwa maraknya perjokian skripsi merupakan salah satu budaya tanding terhadapkultur akademik perguruan tinggi, yang muncul dalam bentuk penyimpangan ataupenyelewengan (Soekanto,1995:190-191). Penyimpangan layanan bimbingan skripsi dianggapsebagai praktek penyelewengan di dunia akademik. Penulisan skripsi menjadi pranata sosialyang menuntut mahasiswa untuk dapat menyelesaikannya..Dari hasil survei maka, banyak data dan informasi yang membantu dalam menelusurilayanan perjokian skripsi. Berdasarkan penelusuran, cara pemasaran yang dilakukan oleh biropenyedia layanan bimbingan skripsi ini adalah dari mulut ke mulut. Selain itu untuk menunjangpemasaran bisnisnya, para penyedia jasa ini memasang iklan di jalan-jalan yang mudah dilihatorang bahkan ada juga yang memasang iklan di media massa seperti surat kabar. Cara klienmelakukan komunikasi juga dapat dilakukan melalui SMS dan juga telfon untuk membuat janjidan jadwal pertemuan. Sedangkan untuk proses bimbingan,klien dapat bertatap muka langsungdengan pembimbing yang telah ditunjuk atau dapat juga memalui email. Email menjadi andalankarena merupakan sarana yang praktis untuk mengirimkan data-data, sehingga pemakai jasahanya cukup berkonsultasi melalui email, apabila ada revisi maka hanya cukup denganmengirimkan melalui email saja. Waktu bimbingan dapat ditentukan bersama, klien dapatdengan mudah kapanpun menghubungi pembimbing atau joki skripsinya. Berbeda denganpembimbing dari kampus yaitu dosen yang memberikan batasan waktu untuk konsultasi,penyedia layanan joki skripsi menyediakan waktu secara maksimal bagi para kliennya. Waktulayananpun 2-3 kali pertemuan dalam satu minggu dengan durasi 1-2 jam dalam tiappertemuannya.Para penyedia layanan bimbingan skripsi ini rata-rata mampu mengerjakan skripsi parakliennya selama kurang dari satu semester, apabila semakin sering melakukan bimbingan, makasemakin cepat proses penyelesaian skripsi tersebut. Jaminan ini yang menjadi titik kuncikepuasan para pengguna jasa joki skripsi. Penyedia jasa layanan bimbingan atau pembuatanskripsi menerima berbagi bidang dalam pengerjaan skripsi, hanya saja tarif yang ditawarkanpunberagam tergantung tingkat kesulitan, bidang hukum berbeda tarif dengan bidang teknik, begitujuga penelitian kualitatif akan berbeda dengan kuantitatif. Joki skripsi memberikan garansi mulaidari dari pemilihan judul, revisi tiap bab, bahkan hingga revisi setelah ujian skripsi. Pengarahanjuga diberikan sebelum klien menghadapi sidang supaya klien benar-benar mempersiapkan diriuntuk menghadapi sidang.Cakra Semarang TV memiliki jam siaran sebanyak 17 jam per harinya dimulai pukul06.30- 23.30 WIB. Cakra Semarang TV memiliki tak kurang dari 30 program acara. Targetinvestigasi sendiri, termasuk dalam salah satu program Cakra Semarang TV. Program ini tayangsetiap hari Senin pukul 19.00- 19.30 WIB. Target Investigasi adalah program yang mengulassecara mendalam mengenai suatu peristiwa atau isu yang hangat untuk disajikan dengan formatinvestigasi. Penayangan karya bidang kami dalam program Target Investigasi sangat tepat karenaprogram tersebut khusus menayangkan reportase investigasi.PELAKSANAAN, EVALUASI, DAN ANALISISJurnalisme investigatif adalah sebuah terminologi yang memberikan atribut penyelidikan,keingintahuan dan misi tertentu dari para wartawannya. Penelusuran fakta dalam pada jurnalismeinvestigasi didasarkan pada keinginan wartawan untuk mengetahui sesuatu, bukan seperti liputanregular seperti pada bentuk jurnalisme biasa. Penelusuran fakta dilakukan untuk memaparkankebenaran. Kebenaran yang ditemukan mempunyai tujuan untuk memperbaiki suatu keadaan didalam masyarakat yang salah. Jurnalisme investigasi mengungkap kebenaran dengan landasannilai-nilai moral.Tujuan reportase investigasi adalah sebagai berikut:1. Mengungkapkan informasi yang menyangkut kepentingan masyarakat, sehinggamasyarakat dapat berpartisipasi mengambilo keputusan2. Tidak hanya menyampaikan hal-hal yang secara operasional tidak sukses, namun jugasampai pada konsep yang keliru3. Beresiko tinggi dan bisa menimbulkan kontroversi, kontradiksi hingga konflik. Olehkarenanya harus menggali bahan-bahan yang dirahasiakan4. Karena beresiko tinggi, maka sebelumnya harus dipertimbangkan lebih dulu manfaat dankerugian bagi pihak-pihak yang terlibat5. Diperlukan idealisme, integritas, sikap adil, tenang dan tidak emosional pada diriwartawan maupun medianya.Tahap kerja wartawan investigasi:1. Tahap Pra ProduksiTahapan ini merupakan tahap awal dimana dilakukan persiapan perencanaan.Dimulai dari munculnya ide hingga pengembangan ide tersebut. (Darwanto, 2007; 175).Dalam pengembangan ide-ide awal, diperlukan langkah-langkah untuk mengumpulkandata awal.2. Tahap ProduksiPembuatan janji dengan narasumber dan pemilihan lokasiPenulis membuat janji dengan narasumber untuk melakukan wawancara dengan paranarasumber. Ada beberapa narasumber yaitu pengguna jasa joki skripsi, joki skripsi,pakar pendidikan dan psikolog.3. Pasca ProduksiPenulis sebagai reporter pada tahap paska produksi bertugas sebagai presenteryang menyajikan acara. Pengambilan gambar dilakukan sebanyak 2 kali, pertamapengambilan gambar dilakukan di rumah Amelia, namun karena oleh produser TargetInvestigasi dirasa kurang maka untuk pembuka dan penutup dirubah dengan melakukanpengambilan gambar ulang yaitu di kampus salah satu kampus perguruan tinggi swasta.Pemilihan lokasi dilakukan oleh pihak Cakra TV. Dalam tahap ini video sudah siapditayangkan karena sudah pada tahap akhir dan pihak dari Cakra TV bersediamenayangkan karya tersebut pada hari Senin 17 Juli 2013.SIMPULAN DAN SARANDalam karya bidang berbentuk produk jurnalistik dengan format video investigasi ini, adabeberapa kesimpulan yang dapat diambil selama proses pengerjaan yang dimulai dari tahap praproduksi, produksi, dan paska produksi.4.1 Kesimpulan1. Sebagai ReporterPenulis yang menjadi reporter melaksanakan tugas mulai dari mencari informasi,melakukan wawancara dan juga mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama kuliahkhusunya dalam mata kuliah jurnalistik investigasi.2. Sebagai EditorPenulis memegang tanggung jawab sebagai editor dengan meminta bantuan daripihak luar sebagai operator edit yang bekerja saling membantu dengan penulis dalamproses editing video. Proses editing ini dilakukan selama kurang lebih 2 minggu dandisesuaikan dengan naskah.4. 2 SaranBagi reporter selanjutnya: mempersiapkan diri sebaik mungkin dan mempertajaminformasi yang diperoleh dari narasumber yang ada. Dalam melakukan pengamatanlangsung dilapangan, siapkan catatan. Bagi editor selanjutnya: editor harus lebih jelidalam melakukan proses pemilihan gambar.Daftar PustakaDarwanto. (2007). Televisi Sebagai Media Pendidikan. Yogyakarta: PustakaBelajar.Gaines, William. C. (2007). Laporan Investigasi untuk Media. Jakarta: ISAI.Kovach, Bill., dan Rosenstiel, Tom. (2006). Sembilan Elemen Jurnalisme.Jakarta: Yayasan Pantau.Laksono, Dhandy D. (2009). Menyingkap Fakta: Panduan Liputan InvestigasiMedia Cetak, Radio, dan Televisi. Jakarta: AJI.Muda, Deddy Iskandar. (2003). Jurnalistik Televisi. Bandung: Rosdakarya.Sanaky, Hujair dkk. (2011). Academics Underground. Yogyakarta: PusatStudi Islam UII.Santana K, Septiawan.( 2003). Jurnalisme Investigatif. Jakarta: YayasanObor.Santana K, Septiawan. (2005). Jurnalisme Kontemporer. Jakarta: YayasanObor.Suhandang, Kustadi. (2004). Pengantar Jurnalistik. Bandung: PenerbitNuansa.Vivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana.
REPRESENTASI NASIONALISME DALAM FILM SOEGIJA 100% INDONESIA Theresa Christya A; Hedi Pudjo Santosa; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.601 KB)

Abstract

NATIONALISM REPRESENTATION OF SOEGIJA 100% INDONESIA MOVIEAbstractRepresentation is the act of bringing back or represent the process as well as productfrom the meaning of a sign, whether in the form of person, event or object. Representation inthe movie was built by human, as social actor who define meaning. It has similarity withstory of the movie. Story of the movie is the construction of the author and the audience whoproduce that meaning.In the Soegija 100% Indonesia movie, nationalism was illustrated by the strugle of itsmain character Soegija, the first Catholic prelate in Indonesia. He fights for independency ofIndonesia through diplomacy with Western countries. He has compassion to social life,prosperity, and sanity of people around him.The purpose of this research is exposing nationalism’s form in Soegija 100%Indonesia movie. It uses Representation theory from Stuart Hall. Researcher analyzesmeaning that emerge by John Fiske’s semiotics analysis, that put social codes in three levels,reality, representation and ideological level.The result shows that natioalism of Soegija was manifest in the form ofcompassionate capitalism, religious nationalism, filia and agape love. Compassionatecapitalism was showed by Soegija’s attitude. Although he is a religion leader, he can controlhis human desire with a logicality that nation’s importance have to be considered as the mostimportant. Reigious nationalism of Soegija was showed in his struggling through religion forindepency of Indonesia. Filia and agape love which showed by Soegija emerge as his feelingthat he and others are in the same boat, struggle for independency of their country.Key words : representation, movie, nationalism, semioticsREPRESENTASI NASIONALISME DALAM FILM SOEGIJA 100% INDONESIAAbstraksiRepesentasi merupakan tindakan menghadirkan kembali atau merepresentasikanproses maupun produk dari pemaknaan suatu tanda, baik berupa orang, peristiwa ataupunobjek. Representasi dalam film dibangun oleh manusia sebagai aktor sosial yang membangunmakna, begitu pula dengan cerita di dalam film merupakan konstruksi pembuatnya danpenonton yang memproduksi makna tersebut.Nasionalisme dalam film layar lebar banyak diangkat oleh para sineas dengan lebihkreatif dan dikemas berbeda dengan film-film tema nasionalisme yang dibuat setelah masamasakemerdekaan. Pada film Soegija 100% Indonesia, nasionalisme digambarkan denganperjuangan tokoh utamanya Soegija seorang Uskup Katholik pertama di Indonesia. Diamemperjuangkan kemerdekaan bukan dengan mengangkat senjata maupun hal-hal berbaukekerasan, tetapi melalui jalan diplomasi dengan negara-negara Barat untuk membantuproses kemerdekaan Indonesia. Rasa kemanusiaannya sangat besar terhadap kehidupansosial, kesejahteraan dan kesehatan masyarakat sekitarnya selama masa penjajahan tanpamempedulikan latarbelakang dari orang yang dibantunya .Penelitian ini bertujuan untuk untuk membongkar bentuk-bentuk nasionalisme yangterdapat dalam film Soegija 100% Indonesia. Teori yang digunakan adalah teori Representasiyang dikemukakan oleh Stuart Hall. Peneliti menganalisis makna yang muncul melaluianalisis semiotika John Fiske yang memasukkan kode-kode sosial ke dalam tiga level yaknirealitas, representasi dan level ideologi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasionalisme tokoh Soegija diwujudkan dalambentuk compassionate capitalism, nasionalisme religius, dan termasuk dalam cinta filia sertaagape. Compassionate capitalism (kapitalisme berwajah lemah lembut) ditampilkan padasikap Soegija dimana dia ditempatkan sebagai pemimpin suatu agama, tetapi dia mampumengontrol hasrat manusiawinya dengan penalaran bahwa kepentingan bangsa harusdiutamakan. Nasionalisme religius Soegija ditampilkan dalam bentuk perjuangannya melaluijalur agama untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Cinta filia dan agape yangditampilkan Soegija muncul sebagai wujud rasa senasib sepenanggungannya sebagai pribumiyang membuat dirinya berjuang untuk kemerdekaan negaranya.Key words : representasi, film, nasionalisme, semiotikaBAB IPENDAHULUANLatar BelakangMunculnya film Soegija 100% Indonesia yang mengusung tema nasionalisme melaluijalan perjuangan yang berbeda yaitu perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia lewat jaluragama. Hal ini membuat masyarakat Indonesia menganggap bahwa kemunculan film tersebutmerupakan bentuk Kristenisasi padahal di dalam film ini tidak menampilkan ajaran ataudoktrin-doktrin agama terkait. Jika menilik ke belakang, film-film di Indonesia banyakmenuai kontroversi terutama film yang mengusung tema keagamaan. Film ini sendiriditekankan oleh pembuatnya bukan sebagai film agama melainkan film yang menampilkansisi-sisi nasionalisme seorang Uskup (pemimpin agama Katholik) pada jaman penjajahanJepang dan Belanda menuju kemerdekaan Indonesia.Perumusan MasalahBagaimana representasi nasionalisme ditampilkan dalam Film Soegija 100%Indonesia?Tujuan PenelitianBerdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untukmembongkar Representasi Nasionalisme dalam Film Soegija 100% IndonesiaSignifikasi TeoritisPenelitian ini diharapkan bermanfaat untuk menambah kajian komunikasi masaterutama dalam konteks film. Lebih khusus lagi penelitian menggunakan semiotika inidiharapkan mampu memberikan penjelasan mengenai ideologi apa yang terjadi dalam proseskreatif sebuah film.Signifikasi PraktisSecara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada masyarakat luasbahwa film ini tidak menyiarkan keagamaan melainkan penghargaan terhadapmultikulturalisme serta rasa nasionalisme yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya.Kerangka Pemikiran TeoritisParadigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivis. Kajianpokok dalam paradigma konstruktivis menerangkan bahwa substansi bentuk kehidupan dimasyarakat tidak hanya dilihat dari penilaian objektif saja, melainkan dilihat dari tindakanperorangan yang timbul dari alasan-alasan subjektif.a. Media MassaMedia merupakan lokasi (atau forum) yang semakin berperan untukmenampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat baik yang bertaraf nasionalmaupun internasional. Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagiindividu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas sosial tetapi juga bagimasyarakat dan kelompok secara kolektif, media juga turut menyuguhkan nilai-nilaidan penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan (McQuail,2005:8).Menurut Melvin DeFleur dalam Deddy Mulyana (2008:129-131) mengatakanbahwa pada dasarnya media massa (termasuk film) lewat sajiannya yang selektif dantekanannya pada tema-tema tertentu, menciptakan kesan-kesan pada khalayaknyabahwa norma-norma budaya bersama mengenai topik-topik yang ditonjolkandidefinisikan dengan suatu cara tertentu artinya media massa termasuk film berkuasamendefinisikan norma-norma budaya untuk khalayaknyab. FilmFilm merupakan salah satu media komunikasi karena film memiliki pesantertentu yang disampaikan baik tersirat atau pun tersurat di dalamnya. Dalam duniaseni, film merupakan media yang paling efektif dalam proses pembelajaranmasyarakat.Oey Hong Lee dalam Sobur (2003: 126) mengemukakan bahwa film sebagaialat komunikasi massa yang kedua muncul di dunia, mempunyai massapertumbuhannya pada akhir abad ke-19 dengan perkataan lain pada waktu unsurunsuryang merintangi perkembangan surat kabar sudah dibuat lenyapFilm tidak menangkap kenyataan realitas apa adanya, tetapi manusia sebagai aktorsosial yang membangun makna. Cerita di dalam film adalah konstruksi pembuatnya(yang memilih realitas-realitas tertentu untuk dimasukkan ke dalam karyanya), danpenonton pun memproduksi makna.Menurut Seno Gumira Adijarma dalam Buku Membaca Film Garin, diamenjelaskan bahwa film adalah reproduksi dari kenyataan seperti apa adanya. Ketikafilm ditemukan orang berbondong-bondong memasuki ruang gelap hanya untukmelihat bagaimana kenyataan ditampilkan kembali sama persisnya seperti jika terlihatdengan matanya sendiri. Dengan kata lain, sinematografi memang menjadi ekstensifotografi.c. Representasi dalam FilmRepresentasi sendiri adalah tindakan menghadirkan kembali ataumerepresentasikan proses maupun produk dari pemaknaan suatu tanda, baik berupaorang, peristiwa atau pun objek. Representasi ini belum tentu bersifat nyata, tetapidapat juga menunjukkan dunia khayalan, fantasi, dan ide-ide abstrak (Hall, 1997: 28).Stuart Hall (1997: 24) melalui teori representasinya mengambil dimensipraktek-praktek pemaknaan yang diproduksi dalam pikiran pikiran melalui bahasa.Tiga teori pada representasi: reflective, intentional, constructive approaches.Dalam pendekatan reflektiv, makna ditujukan untuk menglabuhi objek yangdimaksudkan, abik itu orang, ide atau pun suatu kejadian di dunia yang nyata danfungsi bahasa sebagai cermin untuk merefleksikan maksud sebenarnya sepertikeadaan yang sebenarnya di dunia. Sedangkan pendekatan intensional merupakanpendekatan yang berkaitan erat dengan pembicara atau penulis yang menekankanpada diri sendiri mengenai pemaknaan yang unik di dunia ini melalui bahasa. Katakatayang dihasilkan memiliki makna sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis(Hall, 1997: 24-25).d. Tanda dan Makna dalam SemiotikaDalam semiotika, penerima atau pembaca dipandang memainkan peran yanglebih aktif. Istilah “pembaca” untuk “penerima” dipilih karena hal tersebut secara taklangsung menunjukkan deajat aktivitas yang lebih besar dan juga pembaca merupakansesuatu yang dipelajari untuk melakukannya, karena itu pembacaan tersebutditentukan oleh pengalaman kultural pembacanya. Pembaca membantu menciptakanmakna teks dengan membawa pengalaman, sikap dan emosinya terhadap teks tersebut(Fiske, 2007: 61).Ideologi dipegang sebagai ide-ide, makna-makna dan praktek ketika merekamengakui sebagai kebenaran universal, ideologiadalah peta dari makna yangmendorong kekuatan dari kelas sosial tertentu. Disini, ideologi tidak terpisah dariaktivitas praktek dari kehidupan namun menyediakan bagi masyarakat mengenai tatacara berperilaku dan kebiasaan moral pada kehidupan sehari-hari (Burton, 2005:62-63).Metode PenelitianTipe PenelitianPenelitian tentang representasi nasionalisme dalam film Soegija 100% Indonesiamenggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan menggunakan analisis semiotika untukmenganalisis obyek yang diteliti. Penelitian ini mengacu pada semiotika televisi John Fiske.Semiotika televisi John Fiske memasukkan kode-kode sosial ke dalam tiga level yaitu levelrealitas (reality), representasi (representasi) dan level ideologi (ideology) (Fiske, 1987:5).Pada level reality kode-kode sosialnya antara lain adalah appearance (penampilan),dress (kostum/pakaian), make-up (riasan), environment (lingkungan), behavior (tingkahlaku), speech (gaya bicara), gesture (bahasa), expression (ekspresi), sound (suara)dan lainlain(Fiske, 1987: 4).Hal-hal dalam level reality telah diencode secara elektronik oleh kode-kode teknis(technical code), sedangkan dalam level ke-2, yaitu level representation di dalamnya terdapatbeberapa aspek, seperti camera (kamera), lighting (pencahayaan), editing (pengeditan), music(musik), dan sound (suara) dan aspek-aspek lain dalam level representation adalahpenarasian, konflik, dialog, karakter dan pemeranan (Fiske, 2001: 5).Analisis paradigmatik kode-kode ideologis konsep nasionalisme dalam film Soegija 100%Indonesia meliputi :a. Prinsip-Prinsip Nasionalisme dalam Film Soegija 100% IndonesiaTerdapat begitu banyak jenis cinta karena ada demikian banyak cara yang kitatempuh untuk mencerminkan dan menginterpretasikan berbagai dorongan, motivasi danrelasi interpersonal (Beall dan Stenberg dalam Friedman, 2008:144). Menurut MichaelAflag dari Syria, “Nasionalisme adalah cinta”. Kedourie mengatakan bahwa nasionalismemerupakan cinta abstrak yang telah menyulut tindakan-tindakan teror terhebat (Smith,2003:38). Menurut Douglas Weeks nasionalisme merupakan formalisasi dari kesadarannasional yang membentuk bangsa dalam arti politik yaitu negara nasional (CliffordGeertz dalam Pigay, 2000:55)Rollo may mendeskripsikan berbagai tipe cinta. Tipe-tipe cinta ini terdiri dari :seks (peredaan ketegangan, nafsu); eros (cinta prokreatif-pengalaman yang enak); filia(cinta persaudaraan); agape(pengabdian pada kesejahteraan orang lain, cinta yang tidakhanya memikirkan diri sendiri); cinta otentik, yang menggabungkan tipe-tipe cintalainnya (Friedman, 2008: 145).Berdasarkan pendapat tersebut maka nasionalisme yang ditunjukkan oleh Soegijatermasuk jenis filia (cinta persudaraan) dan agape (pengabdian pada kesejahteraan oranglain, cinta yang tidak hanya memikirkan diri sendiri). Hal ini dikarenakan nasionalismetidak lepas dari rasa persaudaraan, rasa senasib sepenanggungan (filia) danmengutamakan kepentingan bangsa (agape).b. Compassionate Capitalism Rich de VosCompassionate capitalism dikenal dengan kapitalisme berwajah lemah lembut danbelas kasih dengan kepedulian social. Pernyataan ini dikenalkan oleh Rich de Vos daripemikiran Adam Smith. Pengertian compassionate capitalism sendiri adalah meskipunmanusia diatur oleh hasrat-hasrat (dan energi libido) mereka, namun mereka memilikikemampuan penalaran dan juga belas kasih. Ia mampu mengontrol hasrat tersebut denganpenalarannya sendiri dengan kekuatan moralnya sendiri. (Piliang, 2010: 118)c. Nasionalisme ReligiusNasionalisme religius sendiri adalah paham mengenai kebangsaan yangmeletakkan nilai-nilai keagamaan sebagai sendi dasar dalam kehidupan bernegara. Padafilm Soegija 100% Indonesia, pengamalan dari Nasionalisme religius ditunjukkan olehtokoh Soegija bukan berarti bahwa dia mengunggulkan kebaikan-kebaikan dari agamayang dipimpinnya ataupun memiliki misi khusus penyebaran agamanya yang diselipkandalam misi kemanusiaan selama masa perjuangan kemerdekaan,Nasionalisme religius dari tokoh Soegija tercermin melalui salah satu bentukperjuangannya melalui jalur agama untuk memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsaIndonesia. Dapat kita lihat pada gerakan diplomasi yang Soegija lakukan dengan pihakRoma, Vatikan. Roma Vatikan merupakan pusat dari agama Katholik dunia.Implikasi SosialFilm ini menyajikan tentang gambaran keadaan Indonesia saat masa penjajahanJepang dan Belanda, khususnya perjuangan seorang Uskup pribumi pertama Albertus Soegijadalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Banyak hal positif yang dapat ditarik darifilm tersebut untuk kemajuan kehidupan sosial diantaranyaa. Sikap Soegija yang memiliki kepedulian yang besar terhadap masyarakat disekitarnyasecara umum dengan tidak membedakan latar belakang agama,suku maupunperbedaan apapun yang ada pada tiap individub. Melalui film ini kita semakin memahami bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsayang kaya akan perbedaan baik suku, agama, ras dan kebudayaan.Perbedaan rakyatIndonesia ditampilkan pada film ini secara jelas melalui bahasa, logat, warna kulit,ciri-ciri tubuh dan juga agama.c. Dalam film ini digambarkan secara jelas bahwa perang akan membawa penderitaanserta kesedihan pada semua pihak. Penderitaan dan kesedihan muncul pada pihakyang menjajah maupun pihak yang dijajahImplikasi TeoritisPenelitian mengenai representasi nasionalisme dalam film ini diharapkan dapatmemberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu komunikasi media massa khususnyaperfilman. Penelitian ini diharapkan mampu memperkaya pengetahuan mengenai bentukbaru dari film-film yang mengusung tema nasionalisme. Terkait dengan teknik analisis yangdigunakan, yaituberdasarkan teori “The Codes Of Television” merupakan teori yang cocokuntuk digunakan dalam menganalisa moving object seperti filmImplikasi PraktisSecara praktis, film yang mengusung tema nasionalisme dan multikulturalisme inidiharapkan menjadi inspirasi bagi sineas lain untuk mengembangkan karyanya dalammembuat film tentang nasionalisme yang dikemas lebih kreatif lagi untuk dapat diterima olehgenerasi muda selanjutnya sehingga pesan-pesan cinta tanah air serta penghargaan terhadapmultikulturalisme dapat disisipkan di dalamnya dengan lebih kuatDAFTAR PUSTAKASumber Buku:Burton, Graeme. (2008). Yang Tersembunyi di Balik Media. Yogyakarta: JalasutraCheach, Philip dkk.(2002). Membaca Film Garin. Yogyakarta: PustakaPelajarChandler, Daniel. (2002). Semiotics, the Basics. New York : RooutledgeDanesi, Marcel. (2010). PesanTandadanMakna. Yogyakarta: JalasutraDenzin, K Norman.(2009). Qualitative Research. Yogyakarta: PustakaPelajarEffendy, Onong Uchjana. (1989). Kamus Komunikasi. Bandung: Mandar MajuFiske, John. (1987). Television Culture. London and New York : RoutledgeFiske, John. (2007). Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: JalasutraFriedman, Howard. S dan Miriam W. Schustack. (2008). Kepribadian, Teori Klasik dan RisetModern Jilid 2. Penerjemah Sumitro. Jakarta, ErlanggaHall, Stuart. (1997). Representation : Cultural Signifying and Practices, London: SagePublicationKohn, Hans. (1984). NasionalismedanArtiSejarahnya, Jakarta: ErlanggaKristanto, JB. (2004). Nonton Film Nonton Indonesia. Jakarta : Penerbit Buku KompasMcQuail, Denis. (2005) .TeoriKomunikasi Massa, Erlangga: JakartaMoleong, J Lexy. (2010). MetodologiPenelitianKualitatif. Bandung: RemajaRosdakaryaMulyana,Deddy. (2008). Komunikasi Massa Kontroversi, TeoridanAplikasi. Bandung:WidyaPadjajaranNaratama. (2004). Menjadi Sutradara Televisi. Jakarta : GrasindoNasution, M. Arif. (2005). NasionalismedanIsu-IsuLokal, Medan: USU PressNoviani, Ratna.(2002). JalantengahMemahamiIklan, Yogyakarta: PustakaPelajarPigay, Decki Natalis. (2000). Evolusi Nasionalisme dan Sejarah Konflik Politik di Papua.Jakarta : PT. Sinar HarapanPiliang, Amir Yasraf. (2011). Dunia Yang Dilipat, Bandung : MatahariPratista, Himawan. (2008). Memahami Film. Yogyakarta : Homerian PustakaPurnamawati, Sri. (2009). Teknik Pembuatan Film. Surabaya : Iranti Mitra UtamaSen, Khrisna. (2009). Kuasa dalam Sinema : Negara, Masyarakat dan Sinema Orde Baru.Yogyakarta : OmbakSobur, Alex. (2003). SemiotikaKomunikasi, Bandung: RemajaRosdakaryaSumarno, Marselli. (1996). Dasar-DasarApresiasi Film, Jakarta: GrasindoSmith, D Anthony.(2003). NasionalismeTeoriIdeologiSejarah. Jakarta: ErlanggaUtami, Ayu. (2012). Soegija 100% Indonesia, Jakarta: PT. GramediaVivian, John. (2008). TeoriKomunikasiMassa.Kencana, Media: JakartaWidagdo, M Bayu dan Winastwan Gora. (2007). Bikin Film Indie ItuMudah, Yogyakarta:Andi Offset.Sumber Lain :Wardani, Krisna. (2010). Representasi Distorsi Islam dalam Film “My Name is Khan”.Skripsi. Universitas DiponegoroMega, Mahar (2009). Mitos Yesus dalam film The Da Vinci Code. Skripsi. UniversitasDiponegoroGaspar, Matej (2010).Representasi Nasionalisme dalam Film Merah Putih.Skripsi.Universitas DiponegoroSumber Internet :Bandung LautanApi. (2013).http://www.indonesianfilmcenter.com/pages/filminfo/movie.php/uid_c2ddiakses pada15 Januari 2013Hadi Murti. (2012). Soegija Bukan Film Dakwah. http://filmindonesia.or.id/article/murtihadi-sj-soegija-bukan-film-dakwah diaksespada 15 Oktober 2012KeretaApiTerakhir. (2013)http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-k017-81-049431_ diaksespada 15 JanuariLima Unsur Komunikasi. (2011). http://organisasi.org/analisis-pengertian-komunikasi-dan-5-lima-unsur-komunikasi-menurut-harold-lasswelldiaksespada 20 November 2012Long March DarahdanDoa.(2013). Dalam http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-l023-50-918455Diunduh pada 15 Januari 2013SehelaiMerahPutih. (2013). Dalam http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-s017-60-211376Diunduhpada15 Januari 2013Soegija Mau Diboikot Karena Berbau Kristenisasi. (2012).http://indonesia.faithfreedom.org/forum/film-soegija-mau-diboikot-karena-berbaukristenisasi-t48732/diakses pada 15 Oktober 2012Soegija Presentasi Kolosal Non Religius. (2012).http://www.fimela.com/read/2012/06/12/soegija-presentasi-kolosal-non-religiusdiaksespada 15 Oktober 2012Soegija Sebuah Film Perenungan. (2012).http://oase.kompas.com/read/2012/05/26/21323439/.Soegija.Sebuah.Film.untuk.Perenungan.diaksespada 15 Oktober 2012Soegija Film Kontroversial 2012. (2012). http://www.beritaremaja.com/2012/05/soegijafilm-kontroversial-2012.html diaksespada 17 Oktober 2012Soerabaia 45. (2013). http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-s011-90-726785Diunduh pada15 Januari 2013Tanda Wewenang Uskup. (2013). Dalamhttp://yesaya.indocell.net/id763.htm/TandaWewenangUskupdiakses pada 5 April2013Tanggapan Garin Nugroho Tentang Boikot Soegija. (2012).http://www.tabloidbintang.com/film-tv-musik/kabar/54358-ada-ajakan-boikotqsoegijaq-apa-tanggapan-garin-nugroho-.htmldiakses 17 Oktober 201210 Film Indonesia terlaris. (2011). http://www.tabloidbintang.com/film-tvmusik/kabar/19294 diakses pada 18 Desember 201210 Film Indonesia terlaris. (2012). http://hot.detik.com/topten/read/111445/2121204/1468diakses pada 18 Desember 2012
Persepakbolaan Indonesia dalam Kartun (Analisis Semiotika Editorial Cartoon Tabloid Bola) SANDY ALLIFIANSYAH D2C009024 JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013 Sandy Allifiansyah; Triyono Lukmantoro; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.651 KB)

Abstract

ABSTRACTName : Sandy AllifiansyahNIM : D2C009024Title : Indonesian Football Affairs in Cartoons (Semiotic Analysisof Editorial Cartoons in Tabloid Bola)Editorial Cartoons has a unique position in mass media. As a pictoral editorial, itcan stimulate the readers to see and represent it. In journalism, editorial cartoonwere also known as political cartoon. This term based on the politics issues thatoften represented in editorial cartoons of several mass media. In Indonesia someeditorial cartoon were also appear with a strong aspect of politics and policy.Neverthelss, Bola has a special theme of their editorial cartoons. The editorsalways represent the issue of the national sport affairs in their editorial cartoons,especially football issues.Indonesian football affairs in 2012 became the main focus in this research.This consideration based on the situation of Indonesian football affairs in 2012intself. As the the most popular sport in Indonesia, football has became themedium to get a power and interest. Beside that, football also became the favoriteentertainment for society and the people needs in Indonesia.This research used several theory for the basic ideas to reveal and examinehow editorial cartoons in Bola represented The Indonesia football affairs in 2012.Several theories used in this research are the representation by Stuart Hall, EllisCashmore notable ideas about sport and values, and the way Seno GumiraAjidarma thoughts about editorial cartoon from humorous and critical side. Alleditorial cartoons in this research are examined by semiotic approach from RolandBarthes and Saussure with syntagmatic, paradigmatic and the aspect of denotationand conotation. This semiotic approach used to understand how the Indonesianfootball affairs were represented in editorial cartoons of Bola in the 2012. Thisresearch reveals that Bola’s editorial cartoons represented the delapidatedconditions of Indonesian football affairs. Neverthless, this editorial cartoons alsogave the support for Indonesian national team and represented how the societymeans football in their everyday life.Keywods : representation, cartoons, editorial, humor, sportABSTRAKSINama : Sandy AllifiansyahNIM : D2C009024Judul : Persepakbolaan Indonesia dalam Kartun (Analisis SemiotikaEditorial Cartoon Tabloid Bola)Editorial Cartoon dalam media massa cetak memiliki posisi yang unik. Posisinyasebagai sebuah tajuk rencana dalam bentuk gambar, menjadi rangsangan bagimasyarakat untuk melihat dan merepresentasikannya. Istilah editorial cartoonsering pula disebut sebagai political cartoon. Di Indonesia, beberapa editorialcartoon juga hadir dalam balutan unsur politik yang kuat. Namun, tabloid Bolamemiliki ciri khasnya tersendiri dalam menyajikan editorial cartoon mereka.Konsistensi redaksi untuk selalu menghadirkan situasi keolahragaan, khususnyapersepakbolaan di Indonesia, menjadi keunikan yang tidak dimiliki media massaolah raga lain di Indonesia.Persepakbolaan Indonesia pada tahun 2012 menjadi fokus dalam penelitianini dengan pertimbangan bahwa situasi persepakbolaan nasional sepanjang tahuntersebut terjadi pergolakan kepentingan dalam tubuh kepengurusan dan prestasitimnas Indonesia. Beberapa teori yang berkaitan dengan representasi, humor, danolah raga, digunakan untuk menjelaskan bagaimana sebuah editorial cartoon Bolamerepresentasikan situasi persepakbolan Indonesia di tahun 2012. Teori-teoritersebut adalah teori representasi dari Stuart Hall, teori dari Ellis Cashmoretentang olah raga, pemikiran dari Seno Gumira Ajidarma tentang editorialcartoon yang dikaji dengan menggunakan pendekatan semiotika yang mengambilinspirasi dari pemikiran-pemikiran dari Roland Barthes dan Saussure tentangporos sintagmatik, paradigmatik dan aspek denotasi serta konotasi.Penelitian ini menunjukkan bahwa Bola melalui editorial cartoonnyamerepresentasikan buruknya situasi persepakbolaan Indonesia di tahun 2012,yang direpresentasikan lewat hadirnya dualisme kepemimpinan, dualisme timnasional, bentrokan suporter, dan anjloknya posisi Indonesia pada rangking FIFA.Meskipun demikian, editorial cartoon Bola tetap memberikan ruang untukmendukung timnas di laga-laga internasional. Selain itu editorial cartoon Bolajuga merepresentasikan bagaimana masyarakat Indonesia memaknai sepak boladalam kehidupan sehari-hari mereka.Kata kunci : representasi, kartun, editorial, humor, olah ragaJURNALPersepakbolaan Indonesia dalam Kartun(Analisis Semiotika Editorial Cartoon Tabloid Bola)PENDAHULUANTabloid Bola adalah salah satu tabloid olah raga di Indonesia yang sangat populer.Semenjak pertama kali tampil sebagai sisipan di harian Kompas, tabloid Bolahingga kini tetap mendapat tempat khusus di hati para penikmat dan pemerhatiolah raga di Indonesia. Salah satu indikasinya adalah konsistennya Bola dalammemberitakan kejadian dan berita seputar olah raga di Indonesia bahkan dibelahan dunia.Bola mempunyai sebuah editorial cartoon atau yang mereka sebutsebagai kartun opini. Kartun editorial ini mempunyai posisi yang unik karenaselalu merepresentasikan kondisi keolahragaan di Indonesia, terutama sepak bola.Kartun ini juga memuat Si Gundul sebagai maskot Bola. Pada edisi Bola pada hariSenin dan Kamis di tahun 2012, kartun Si Gundul muncul dua kali dalam duarubrik, yakni rubrik Forum Pembaca dan rubrik Kartun “Sepakbolaria” atau “SiGundul”. Dalam dua kali kemunculannya tersebut, Si Gundul hadir dalam duatampilan yang berbeda, pada rubrik Forum Pembaca, Si Gundul secara eksplisitmenghadirkan permasalahan mengenai pengelolaan dan kondisi olah raga diIndonesia. Sedangkan pada rubrik Kartun “Sepakbolaria” dan “Si Gundul”, kartunini hadir dalam sajian yang netral dan hanya menghadirkan humor-humor khasolah raga.Sosok Si Gundul yang kerap muncul dalam kartun opini di rubrik ForumPembaca Bola setiap Senin dan Kamis di tahun 2012, ternyata tidak hanyamenyuguhkan humor dan lelucon saja, melainkan juga merepresentasikan sebuahkondisi keolahragaan di Indonesia di tahun 2012, khususnya dalam bidang sepakbola, semisal konflik kepengurusan PSSI serta prestasi timnas Indonesia diberbagai ajang internasional. Bagaimanakah situasi persepakbolaan di Indonesiadirepresentasikan dalam kartun opini yang terdapat dalam rubrik Forum Pembacatabloid Bola di tahun 2012?Penelitian diharapkan dapat menambah dan mengembangkan kajianhumor dalam teori komunikasi yang implementasinya tidak hanya sebatas padaaspek politik, tetapi juga merambah pada aspek lain, yakni olah raga. Penelitianini mengambil pemikiran-pemikiran tentang representasi dari Stuart Hall, teorihumor dari Ermida yaitu ketidakbernalaran, penghinaan/superioritas, dan release.Ada pula teori-teori tentang olah raga dari Ellis Cashmore yang memandang olahraga dari berbagai pemikiran seperti Weberian, Marxis dan lain sebagainya.Penelitian ini menggunakan analisis semiotika yang melibatkan porossintagmatik, paradigmatik, dan aspek-aspek seperti denotasi dan konotasi untukmengungkap pesan tersembunyi dari editorial cartoon tersebut yang nantinya bisamenunjukkan posisi Bola terkait situasi persepakbolaan di Indonesia pada tahun2012.Penelitian ini membagi editorial cartoon Bola ke dalam dua sisi, yaknisatire dan support. Dari sisi satire, kartun ini dibagi ke dalam tujuh tema, yakniKonflik PSSI dan KPSI, ancaman sanksi FIFA, dualisme timnas, politisasi timnas,rekonsiliasi, campang-campingnya kondisi timnas dan prestasi timnas yangmencapai titik nadir di kancah internasional. Namun, editorial cartoon Bola tidakselamanya memberikan kritik dan evaluasi terhadap kondisi persepakbolaan diIndonesia selama tahun 2012. Unsur support juga dihadirkan saat timnasIndonesia berlaga di kancah internasional. Perhelatan piala AFF 2012 menjadifokus utama editorial cartonn Bola dalam menghimpun dukungan bagi timnasIndonesia. Selain itu, Bola juga menyajikan editorial cartoon yangmerepresentasikan kondisi masyarakat Indonesia dalam memaknai tayangansepak bola dan menggunakannya sebagai candu atas kesakitan sosial yang ada disekitar mereka. Pada penelitian ini, aspek tersebut disebut soccer and society.ISIPenelitian ini terbagai ke dalam dua bab pembahasan yang membahas editorialcartoon Bola dari dua sisi tersebut. Dari sisi satire dapat diketahui bahwa posisiBola mengenai konflik yang mendera persepkabolaan Indonesia di tahun 2012adalah sebagai berikut :1.Konflik PSSI dan KPSI : Bola memposisikan diri sebagai pihak yangmenyerukan persatuan dan penyelesaian konflik. Pada isu ini, Bola tidak memihakpada satu kubu, dan lebih menekankan pada percepatan penyelesaian konflik. Takjarang pula Bola menggunakan pendapat tokoh dan perayaan hari besar nasionalsebagai sarana introspeksi penyelesaian konflik.2. Rekonsiliasi : Rekonsiliasi bagi tabloid Bola hanyalah khayalan. Pada isurekonsiliasi ini, Bola tampak realistis, dan sangat mengacu pada kenyataan bahwasampai akhir tahun 2012 pun, rekonsiliasi belum juga tercapai. Hal yang menariktersaji pada kartun opini tanggal 13 Februari 2012. Pada kartun tersebut, Bolamenempatkan pihak KPSI sebagai pengacau terciptanya rekonsiliasi.3. Ancaman Sanksi FIFA : Secara keseluruhan kartun opini Bolamenempatkan diri sebagai wake up call atau pengingat bagi PSSI akan dekatnyasanksi dari FIFA. Mengingat pada tahun 2012, persepakbolaan Indonesia selaluditeror oleh deadline penyelesaian konflik oleh FIFA. Atas dari itulah kartun opiniBola selalu menjadi pengingat akan datangnya sanksi tersebut. Tujuannya agarkepengurusan PSSI peka terhadap ancaman tersebut.4. Politisasi di Tubuh PSSI : Pada kasus ini Bola memberikan kritikterhadap campur tangan Partai Demokrat dalam realisasi dana untuk timnasIndonesia. Hal tersebut juga ditunjukkan Bola saat terpilihnya Ramadhan Pohansebagai manajer timnas, sekaligus menjadi ketidaksetujuan Bola akan adanyapolitisasi di tubuh timnas Indonesia.5. Dualisme Timnas Indonesia : FIFA adalah organiasi tertinggi yangmempunyai hak mutlak untuk menentukan legalitas sebuah timnas untukmengikuti turnamen Internasional. Saat FIFA memutuskan bahwa timnas PSSIadalah timnas Indonesia yang legal dan berhak mengikuti Piala AFF 2012, makaBola juga memposisikan diri mereka sebagi media yang berdiri di atas legalitasFIFA. Bahkan pada kartun opini tanggal 18 Oktober 2012, Bola dengan tegasmengatakan bahwa timnas Indonesia bentukan KPSI adalah ilegal.6. Compang-campingnya Timnas Indonesia di Laga Internasional : Bolarealistis memandang kondisi compang-campingnya timnas di laga-lagainternasional, di antarnya saat partai persahabatan dan Pra Piala Asia. Sudutpandang Bola terhadap kondisi compang-campingnya timnas ini tampak padakartun opini tanggal 5 Juli 2012. Pada kartun tersebut Bola secara ekplisitmenunjukkan bahwa penyebab dari kondisi ini adalah buruknya kepengurusanPSSI, dan berimbas pada timnas Indonesia yang menjadi tumbal perselisihan.7. Prestasi Timnas Indonesia : Pada isu ini, Bola membandingakan posisitimnas Indonesia pada rangking FIFA dengan gelar akademik ketua umum PSSI.Selain itu, Bola juga membandingakan prestasi sepak bola Indonesia dengan juaraPiala Afrika 2012, Zambia, yang mempunyai penduduk lebih sedikit dantergolong negara miskin. Ada pula sindiran Bola akan rentetan hasil buruk timnasdi laga internasioanl, di antaranya kekalahan 0-10 melawan Bahrain, 0-6 melawanMalaysia Selection, dan 0-5 melawan Yordania.. Hal ini menunjukkan bahwaBola menempatkan kartun opini mereka sebagai satire sekaligus penggugahprestasi persepakbolaan nasional.Sementara itu dari sisi support atau soccer and society, Bolamerepresentasikan kondisi tersebut dalam pokok pembahasan sebagai berikut :8. Kontroversi Format dan Pendanaan Liga Indonesia : Editorial cartoonBola melauimenyotot keputusan Djohar Arifin sebagai ketua umum PSSI yangtidak segera menyatukan liga, dan malah mempertahankan format liga yangsebelumnya bermasalah di era kepemimpinan Nurdin Halid. Pendanaan liga jugadisorot oleh Bola dengan memberikan perhatian pada minimnya dana dansalahnya pengelolaan dari PT LPIS sebagai lembaga pengelola. Bahkan Bolamenunjukkan keprihatinannya terhadap tiga pemain asing Persipro Probolinggoyang terpakasa mengemis di jalanan demi menyambung hidup, sebagai akibat daritidak dibayarnya gaji mereka secaar penuh oleh pihak klub.9. Vandalisme Suporter Tanah Air : Isu ini direpresentasikan Bola denganwujud keprihatinan, tercatat dua kartun yang mengangkat demi ini munculberturut-turut dalam dalam kurun waktu seminggu. Peristiwa bentrokan suporteryang memilukan hingga merenggut korban jiwa tersebut terjadi saat partai Persijamelawan Persib di Gelora Bung Karno. Bola menjadikan tragedi ini sebagairangkaian permasalahan sepak bola nasional di tahun 2012 selain lain dualismeliga, dualisme kepemimpinan dan sanksi FIFA. Akumulasi masalah tersebutsemakin menambah runyam lingkaran setan persepakbolaan nasional di tahun2012.10. Tayangan Sepak Bola Adalah Candu Masyarat Indonesia : Bola ternyatamemiliki cara yang unik dalam menggambarkan situasi keseharian masyarakatIndonesia menjelang kejuaran dunia seperti Euro 2012. Bola merepresentasikanmelalui kartun opininya bahwa sepak bola telah masuk ke ruang-ruang keluargamasyarakat Indonesia, dan menjadi candu bersama untuk sejenak melupakankonflik politik yang mendera bangsa.11. Dukungan untuk Timnas Garuda : Tak hanya merepresentasikan konflikPSSI dan sanksi FIFA. Kartun opini Bola juga tidak sepenuhnya bersikap apatisterhadap timnas Indonesia. Hal tersebut ditunjukkan saat Piala AFF 2012berlangsung, Bola menjadikan kartun opininya sebagai sarana untuk menghimpundukungan bagi timnas Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa kartun opini Bolabersifat prososial yang mengedepankan keinginan dan harapan masyarakatIndonesia.PENUTUPPenelitian mengenai representasi persepakbolaan Indonesia dalam kolom kartunopini Bola di tahun 2012 adalah penelitian yang berfokus pada kajian tentangeditorial cartoon Bola di tahun 2012. Editorial cartoon yang diteliti adalahbeberapa editorial cartoon yang membahas tentang situasi persepakbolaanIndonesia di tahun 2012. Tahun tersebut dipilih karena 2012 adalah tahun-tahunsaat persepakbolaan Indonesia mengalami banyak permasalahan dan menyitaperhatian publik. Di antaranya konflik kepengurusan, dualisme tim nasional,ancaman sanksi FIFA dan, bentrokan suporter.Kartun opini Bola sangat menarik, sebab topik yang dibahas spesifik dankonsisten, yaitu olah raga. Pada penelitian ini, editorial cartoon yang dibahasadalah editorial cartoon yang spesifik membahas sepak bola, denganpertimbangan bahwa sepak bola adalah olah raga yang paling populer diIndonesia, lengkap dengan berbagai situasi dan permasalahannya di tahun 2012.Mengacu pada pendapat dari Marco Impiglia bahwa olah raga dan politik adalahsaudara kandung. Kadang olah raga berada di bawah pengaruh politik. Kondisipersepakbolaan Indonesia di tahun 2012 adalah pembenaran argumen tersebut,dan kartun opini Bola menjadi watchog untuk mengawasi segala kepentingan dankonflik yang terkait pada persepakbolaan Indonesia. Lebih dari itu, kartun opiniBola juga tak ragu untuk tetap memberikan dukungan pada timnas Indonesia kalabertanding.Penelitian mengambil kesimpulan bahwa Kartun opini Bola memiliki duasisi dalam merepresentasikan persepakbolaan Indonesia di tahun 2012. Sisipertama adalah satire yang berarti memberikan kritik dan tanggapan terkait situasipersepakbolaan di tahun 2012. Sisi kedua adalah support, yang berartimemberikan dukungan untuk timnas Indonesia saat berlaga di partai internasional.Selain itu, Persepakbolaan Indonesia dalam kolom kartun opini Bola tidak hanyadirepresentasikan pada sisi konflik belaka. Aspek soccer and society juga hadirdalam kolom ini. Bola merepresentasikan hal tersebut dan menunjukkan bahwasepak bola telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia, sekaligusmenjadi candu bagi masyarakat itu.Kesimpulan lain yang sekaligus merupakan kritik kepada Bola adalah Boladalam kartun opininya menunjukkan bahwa mereka berpihak pada otoritastertinggi sepak bola dunia, yakni FIFA. Hal tersebut tercermin dari keberpihakanBola pada timnas PSSI yang berhak tampil pada Piala AFF 2012 atas restu FIFA.Bola juga merepresentasikan FIFA pada kartun opininya sebagai pihak yangmemiliki kuasa penuh dalam menentukan nasib persepakbolaan Indonesia. Padatahun 2012, Bola tidak pernah memberi ruang untuk mengkritik berbagaikeputusan-keputusan FIFA terkait situasi persepakbolaan Indonesia. Kondisisebenarnya berbanding terbalik dengan tanggapan-tanggapan lain yang beredar dimedia massa nasional yang berani mengkritik keputusan terkait selalu terkatungkatungnyadeadline sanksi yang diberikan FIFA kepada Indonesia.DAFTAR PUSTAKAAlvarado, Buscombe, dkk. 2001. Representation and Photography. China:PALGRAVEBairner, Alan. 2001. Sport, Nasionalism, and Globalization. New York: StateUniversity of New York PressBarker, Chris. 2004. The SAGE Dictionary of Cultural Studies. London: SAGEPublications LtdBennett, Andy.2005. Culture and Everyday Life. London: SAGE Publications LtdBerger, Arthur Asa. 2010. The Object of Affection. Semiothics and ConsumerCulture. New York: PALGRAVE MACMILLANBilig, Michael. 2005. Laughter and Ridicule. London: SAGE Publications LtdBottomore, Tom. 1991. Dictionary of Marxist Thought. Oxford: BlackwellPublishers LtdCashmore, Ellis. 2000. Making Sense of Sports. London: RoutledgeChandler, Daniel. 2007. Semiotics. The Basic. Abingdon: RoutledgeCribb, Robert & Kahin. 2004. Kamus Sejarah Indonesia. Depok:Komunitas BambuDanesi, Marcel. 2009. Dictionary of Media and Communications. United States ofAmerica: M.E. Sharpe, Inc.Ermida, Isabel. 2008. The Language of Comic Narratives. Humor Construction inShort Stories. Berlin: Walter de GruyterFranklin, Hamer, dkk. 2005. Key Concepts of Journalism Studies. London: SAGEPublications LtdGardiner, Michael E. 2000. Critiques of Everyday Life. New York. RoutledgeHall, Stuart. 1997. Representation. London: SAGE Publications LtdHebdige, Dick. 1979. Subculture. The Meaning of Style. London: RoutledgeKamus Bahasa Indonesia. 2008. Jakarta: Pusat Bahasa DepartemenPendidikan NasionalJackson, Steven J. & David L. Andrews. 2005. Sport, Culture and Advertising.Identities, Commodities and The Politics of Representation. New York:Taylor & Francis e-LibraryKuncoro, Hanung. 2011. Si Gundul. Jakarta: Kompas GramediaLincoln, Yvonna S. & Guba. 1985. Naturalistic Inquiry. California: SAGEPublicationsLeeuwen, Theo Van. 2005. Introducing Social Semiotics. New York: Taylor &Francis e-LibraryMazid, Bahaa-Eddin M. 2008. Discourse and Communication. Los Angeles:SAGE PublicationsNorrick, Neal R. & Delia Chiaro. 2009. Humor in Interaction. Amsterdam: JohnBenjamins Publishing CoO’Sullivan, Tim. Hartley, Saunders, dkk. 1994. Key Concept in Communicationand Cultural Studies. London: RoutledgePoire, Beth A. Le. 2005. Family Communication. Nurturing and Control in aChanging World. California Lutheran University: California Lutheran UniversityPressPrendergast, Chistopher. 2000. The Triangle of Representation. New York:Columbia University PressRachmadi, Benny & Muhammad Misrad. 2009. Lagak Jakarta. Jakarta: KompasGramediaRoss, Alison. 1998. The Language of Humor. London: RoutledgeRowe, David. 2004. Sport, Culture, and The Media. England: The OpenUniversity PressSchement, Jorge Reina. 2002. Encyclopedia of Communication and Infornation.United Stetes of America: Gale GroupSebeok, Thomas A. 2001. Signs: An Introduction to Semiotics. Toronto:University of Toronto PressSchnurr, Stephanie. 2009. Leadership Discourse at Work. Interactions of Humor,Gender and Workplace Culture. London: PALGRAVE MACMILLANSteier, Elena. 2008. Frince. A Cartoon History of The George Dubya Bush Years.United States of AmericaSterling, Christopher H. 2009. Encyclopedia of Journalism. California: SAGEPublications LtdStott, Andrew. 2005. Comedy. New York: RouledgeTamburrini, Claudio & Torbjörn Tännsjö. 2001. Values in Sport. New York:Taylor and Francis e-LibraryTalbot, Mary. 2007. Media Discourse. Representation and Interaction.Edinburgh: Edinburgh University PressThwaites, Davis, dkk. 2002. Introducting Cultural and Media Studies. SemioticApproach. New York: PALGRAVEWebb, Jean. 2009. Understanding Representation. London: SAGE PublicationsLtdWest, Richard & Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi. Analisisdan Aplikasi. Jakarta: Salemba HumanikaInternet :republikaonline.com. Kronologi perseteruan PSSI dan KPSI. Dikutip tanggal 1Mei 2013 jam 17.46kompas.com. Indonesia Tersingkir dari Piala AFF. Dikutip tanggal 4 Juni 2013kompas.com. Menpora Peringatkan KPSI Soal Adu Timnas. Dikutip tanggal 12Mei 2013 jam 23.45bola.net. Peringkat Indonesia Tertahan di Posisi 151. Dikutip tanggal 16 Mei2013 jam 20.12tempo.co. Piala Asia, Indonesia Satu Grup dengan Irak. Dikutip tanggal 14 Mei2013 jam 22.02detik.com. PSSI Tunjuk Ramadhan Pohan Jadi Manajer Timnas Senior. Dikutiptanggal 12 Mei 2013 jam 23.47kompas.com. Rangking Indonesia di FIFA Tembus Peringkat Terburuk. Dikutiptanggal 16 Mei 2013 jam 20.30bolaindo.com. Terus Ditagih, PT MBI Tak Bergeming. Dikutip 27 Mei 2013 jam23.13tribuntimur.com. Timnas KPSI Akan Uji Coba ke Australia. Dikutip 12 Mei 2013jam 23.48tempo.co. Tim Rekonsiliasi AFF Panggil PSSI. Dikutip tanggal 29 April 2013 jam18.17inilah.com. Dramatis! Zambia Juara Piala Afrika. Dikutip tanggal 16 Mei 2013jam 20.15kompasiana.com. Zambia, Indonesia, dan Pengurus PSSI. Dikutip tanggal 16 Mei2013 jam 20.18duniasoccer.com. Diego Michiels Dipastikan Tak Ikut ke Piala AFF. Dikutiptanggal 9 Juni 2013 jam 21.33bbc.co.uk. Kematian Diego Mendieta Akan Dibawa ke FIFA. Dikutip tanggal 1Mei 2013 jam 15.23fifa.com. Dikutip tanggal 10 Mei 2013 jam 13.12okezone.com. Di balik Sejarah Angry Birds. Dikutip tanggal 10 Mei 2013 jam13.45suarapembaharuan.com. Klub-klub ISL Tetap Menolak Pemainnya Begabung keTimnas. Dikutip tanggal 12 Mei 2013 jam 23.58suarapembaharuan.com. Rekonsiliasi PSSI dan KPSI Terancam Buntu. Dikutiptanggal 9 Mei 2013 jam 18.35bola.net. Gaji Tak Terbayar, Tiga Pemain Asing Persipro Mengemis. Dikutiptanggal 29 mei 2013 jam 21.09okezone.com. Kronologis Java Cup 2012 Ditunda. Dikutip tanggal 30 Mei 2013jam 21.05kaskus.co.id Kronologi Perseteruan PSSI dan KPSI. Dikutp tanggal 15 Juni 2013jam 20.05detik.com. 0-10 Kekalahan terbesar Indonesia. Dikutip tanggal 16 Mei 2013 jam20.19duniasoccer.com. Diego Dipastikan Tidak Ikut Piala AFF 2012. Dikutip 9 Juni2013 jam 21.36anneahira.com. Tabloid Bola, Pelopor Media Massa Bertema Olah Raga. Dikutiptanggal 25 April 2013 jam 20.32indomanutd.org, dikutip tanggal 4 Juni 2013 jam 22.34indonesiacitizens.org, dikutip 4 Juni 2013 jam 23.35Media Cetak :Kompas 5 April 2012. Rekonsiliasi PSSI Terancam Status LSIKompas 11 Oktober 2012. Peringkat Terburuk Indonesia dalam Sejarah
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI ORANG TUA,GURU, DENGAN ANAK TUNAWICARA DALAM MENANAMKAN NILAI PROSOSIAL DAN ANTISOSIAL DI MASYARAKAT Maya Puji Lestari; Agus Naryoso; Wiwied Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.075 KB)

Abstract

1ABSTRAKSIJudul : MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI ORANG TUA, GURU, DENGAN ANAK TUNAWICARA DALAM MENANAMKAN NILAI PROSOSIAL DAN ANTISOSIAL DI MASYARAKATNama : MAYA PUJI LESTARINIM : D2C009032Anak tunawicara merupakan anak yang memiliki keterbatasan dan gangguan dalam berkomunikasi. Keterbatasan komunikasi ini yang membuat proses penyampaian dan pemaknaan pesan sulit dipahami oleh orang tua dan guru. Orang tua dan guru mempunyai peran sangat besar dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat kepada anak tunawicara, karena keterbatasan komunikasi seringkali membuat anak tunawicara sulit melakukan interaksi dengan masyarakat. Melakukan interaksi dengan orang lain merupakan hal yang perlu dilakukan oleh setiap orang tidak terkecuali anak tunawicara, sehingga salah satu hal yang harus dipahami oleh anak tunawicara ketika anak berinteraksi dengan masyarakat adalah berperilaku prososial dan mengindari perilaku antisosial.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini berusaha menjelaskan pengalaman unik orang tua, guru, dan anak tunawicara mengenai proses penyampaian pesan menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal serta pemaknaan pesan terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara. Penelitian ini menggunakan Teori Manajemen Makna Terkoordinasi dan Teori Kinesik, yang menjelaskan bahwa dalam proses komunikasi dengan anak tunawicara, hal yang paling penting adalah pemaknaan pesan dan tindakan setelah menerima pesan. Proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh orang tua, guru, dan anak tunawicara seringkali menggunakan gerak tubuh sebagai bentuk komunikasi nonverbal yang merupakan cara komunikasi yang dilakukan.Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa orang tua dan guru harus memiliki komitmen dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara. Kendala dalam berkomunikasi dengan anak tunawicara adalah proses penyampaian dan pemaknaan pesan.Cara efektif yang dilakukan orang tua dan guru dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial kepada anak tunawicara adalah mendemonstrasikan pesan dengan menggunakan gerak tubuh. Selain proses penyampaian pesan secara verbal dan nonverbal, anak tunawicara memahami perilaku prososial dan antisosial dari perilaku yang ditunjukkan oleh orang tua dan guru dalam interaksi sehari-hari. Komunikasi Antar Pribadi antara orang tua, guru, dengan anak tunawicara dikatakan berhasil ketika anak tunawicara dapat memaknai pesan secara interpersonal bukan sekedar makna pribadi. Ketika anak tunawicara mampu memaknai pesan secara interpersonal, perilaku yang ditunjukkan oleh anak tunawicara akan sesuai dengan perilaku prososial yang diajarkan oleh orang tua dan guru. Anak tunawicara juga akan memahami bahwa perilaku antisosial harus dihindari di masyarakat.Kata kunci : keterbatasan dan gangguan komunikasi, prososial dan antisosial, makna dan tindakan2ABSTRACKTitle : UNDERSTANDING INTERPERSONAL COMMUNICATION EXPERIENCE BETWEEN PARENTS AND TEACHERS WITH COMMUNICATION DISORDER CHILD IN INCLUCATING PROSOCIAL AND ANTISOCIAL VALUES IN SOCIETYName : MAYA PUJI LESTARINIM : D2C009032Communication disorder child is a child who has limitations and disorders in communication. This limitations communication makes the process of delivering and meaning of messages is difficult to understood by parents and teachers. Parents and teachers have a very big role in inclucating prosocial and antisosial values in society to communication disorder child, because of limited communication often makes communication disorder child difficult to interact with the society. Interaction with other people is the thing to be done by every person no exception communication disorder child, so one of the things that must be understood by communication disorder child when the child interact with the society is prosocial behavior and avoid antisocial behavior.This study uses a qualitative descriptive type with phenomenological approach. This study attempts to explain the unique experience of parents, teachers, and communication disorder child about process of delivering a message using verbal and nonverbal communication as well as the meaning of messages related with prosocial and antisocial values are delivered by parents and teachers to communication disorder child. This study uses Coordinated Management of Meaning Theory and Kinesik Theory, which explains that in the process of communication with communication disorder child, the most important thing is the meaning of messages and the action after receiving messages. The process of delivering messages that is done by parents, teachers, and communication disorder child often use gestures as a form of nonverbal communication that is the way communication is done.Based on the results of the study, suggests that parents and teachers should have a commitment to nurturing and educating communication disorder child. Constraints in communication with communication disorder child is the process of delivering and meaning of messages. The effective way that done by parents and teachers in inculcating prosocial and antisosial values to communication disorder child is demonstrate with using gestures messages. Besides the process of delivering messages verbally and nonverbally, communication disorder child understanding the prosocial and antisocial from the behaviors are shown by parents and teachers in their daily interactions. Interpersonal communication between parents and teachers with communication disorder child is successful when the child can meaning of messages in interpersonal rather than personal meaning. When communication disorder child are able meaning of messages in interpersonal, the behaviors are shown by communication disorder child interpersonal, will suit with prosocial behavior that is taught by parents and teachers. Cmmunication disorder child will also understand that antisocial behavior should be avoided in the society.Key words : limitations and disorders communications, prosocial and antisocial, meaning and action3MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI ORANG TUA,GURU, DENGAN ANAK TUNAWICARA DALAM MENANAMKAN NILAI PROSOSIAL DAN ANTISOSIAL DI MASYARAKATLatar BelakangPerilaku masyarakat yang seringkali mengasingkan atau membedakan anak tunawicara seperti menolak anak tunawicara untuk sekolah di sekolah umum dan juga terbatasnya sekolah inklusi bagi anak berkebutuhan khusus, sehingga hak anak untuk mendapatkan pendidikan tidak dimiliki oleh anak tunawicara. Hal seperti ini yang membuat anak tunawicara semakin bersikap antisosial di masyarakat, selain itu anak tunawicara juga memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan anak normal biasa seperti sering membentak, berteriak keras, berkemauan keras, dan juga sulit untuk diajarkan sesuatu. Sikap yang ditunjukkan anak tunawicara seperti ini membuat orang tua dan guru memiliki peran besar dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat, karena pada dasarnya setiap orang merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang lain,tidak terkecuali anak tunawicara.Penanaman nilai prososial dan antisosial merupakan salah satu hal yang penting, karena dalam berinteraksi dengan masyarakat, anak tunawicara harus memahami akan perilaku yang harus dilakukan dan harus dihindari. Anak tunawicara merupakan anak berkebutuhan khusus yang memiliki gangguan komunikasi, hal ini membuat proses komunikasi tidak berjalan dengan baik. Proses komunikasi bukan sekedar proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan, akan tetapi lebih menekankan kepada proses sharing meaning atau berbagi makna. Perilaku prososial yang diajarkan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara ditunjukkan dengan komunikasi instruksional dengan cara mendemontrasikan menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal. Penggunaan komunikasi verbal dan nonverbal merupakan salah satu cara untuk memudahkan anak memaknai pesan dengan mudah.Perumusan Masalah dan TujuanGangguan komunikasi yang dialami oleh anak tunawicara membuat orang tua, guru serta anak tunawicara mengalami kesulitan dalam memaknai setiap pesan yang dikomunikasikan. Sehingga dalam penelitian ini ingin mengetahui “Bagaimana4pengalaman komunikasi antarpribadi orang tua, guru dengan anak tunawicara dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat?”Sehingga melalui penelitian ini ingin mendeskripsikan pengalaman komunikasi antarpribadi orang tua, guru dengan anak tunawicara dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat yang fokus pada 1)mengetahui komitmen orang tua dan guru dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara, 2)mengetahui kendala komunikasi selama proses penyampaian pesan kepada anak tunawicara, 3)mengetahui konsistensi penggunaan komunikasi verbal dan nonverbal dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat.Kerangka Teori dan Metodologi PenelitianPeneilitian ini menggunakan Teori Manajemen Makna Terkoordinasi atau Coordinated Management of Meaning yang dikembangkan oleh W.Bernett Pearce, Vernon Cronen yang mengatakan bahwa ini merupakan pendekatan komprehensif terhadap interaksi sosiak yang memakai tata cara kompleks dari tindakan dan makna yang selaras dalam komunikasi. Teori ini membantu kita dalam memahami proses pemaknaan dan tindakan. Kunci pada teori ini adalah makna dan tindakan, interaksi serta cerita. (Littlejohn,2009:225)Keterbatasan komunikasi anak tunawicara tidak menghalangi hubungan interaksi diantara orang tua dan guru dengan anak tunawicara. Dalam proses penyampaian makna terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara diharapkan dapat dimaknai sebagaimana makna tersebut disampaikan oleh orang tua maupun guru dalam berkomunikasi dengan anak tuanawicara. Sehingga makna tersebut terbentuk dalam makna interpersonal bukan hanya sekedar makna pribadi. Manusia mengkoordinasikan makna dengan cara yang hierarkis, ini merupakan salah satu ciri inti dari CMM. Terdapat enam level makna dalam hierarki yang dibentuk yaitu isi, tindak tutur, episode, hubungan, naskah kehidupan, dan pola budaya. (Turner,2008:118-119)Proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh orang tua dan guru adalah menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal yang dalam penelitian ini menggunakan Teori Kinesik dari Birdwhistel yang menjelaskan tentang isyarat nonverbal yang menggunakan tubuh untuk mengisyaratkan pesan (Liliweru,1997:72).5Ray Birdwhistell dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa semua tubuh dan anggota tubuh mempunyai fungsi tertentu dan komunikasi antar manusia.Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata – kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah dan cenderung menggunakan analisis induktif.Penelitian ini menggunakan pendekatan atau tradisi fenomenologi yang fokus pada pengalaman pribadi objek yang diteliti. Fenomenologi diartikan sebagai 1) pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal, 2) suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang. Istilah fenomenologi sering digunakan sebagai anggapan umum bahwa menunjuk pada pengalaman subjektif dari berbagai jenis dan tipe subjek yang ditemui. Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia. (Moelong, 2007: 14-15)Dapat dikatakan bahwa penelitian deskriprif kualitatif ini digunakan untuk menggambarkan pengalaman pribadi objek yang diteliti. Sehingga seseorang dapat memahami tentang pengalaman pribadi objek yang diteliti karena semua informasi yang didapatkan oleh peneliti berdasarkan pengalaman pribadi yang dikomunikasikan dan informasi yang didapatkan dideskripsikan dan ditulis dalam bentuk naratif.Deskripsi Tekstural dan Struktural Pengalaman Komunikasi Antarpribadi Orang Tua, Guru dengan Anak Tunawicara dalam Menanamkan Nilai Prososial dan Antisosial di MasyarakatDeskripsi struktural merupakan deskripsi mengenai bagaimana fenomena dimaksud sebagai pengalaman. Deskripsi struktural meliputi perilaku sadar dalam berpikir dan memutuskan, berimajinasi, dan mengingat kembali untuk menemukan makna struktural dasar yang hanya dipahami melalui refleksi. Deskripsi tekstural adalah deskripsi dari sesuatu yang tampak sedangkan deskripsi struktural mendeskripsikan pengalaman yang tersembunyi. (Moustakas,1994:79)6Pengalaman unik yang ditemukan dari pengalaman informan dalam tiga bagian yang dikelompokkan adalah 1) komitmen orang tua dan guru dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara. Pengalaman unik orang tua dalam mengasuh anak tunawicara adalah dalam berkomunikasi dengan anak tunawicara orang tua harus konsisten menggunakan satu bahasa yang mana bahasa merupakan media komunikasi. Guru mempunyai pengalaman dalam mendidik anak tunawicara seorang guru harus mampu memahami bahasa isyarat nonverbal SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) yang seringkali digunakan anak tunawicara untuk melakukan komunikasi.Bagian yang ke 2) kendala komunikasi dengan anak tunawicara. Pengalaman orang tua ketika berkomunikasi dengan anak tunawicara adalah orang tua mengalami kesulitan dalam menanamkan iman dan kepercayaan kepada anak, karena orang tua tidak dapat memberikan contoh secara nyata kepada anak tunawicara. Penggunaan bahasa isyarat SIBI yang dilakukan oleh anak tunawicara sulit untuk dipahami oleh orang tua. Sedangkan kendala yang dialami oleh guru adalah dalam mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia yang lebih kepada mengenalkan kata dan makna kepada anak tunawicara.Bagian yang ke 3) konsistensi penggunaan komunikasi verbal dan nonverbal sebagai pembelajaran penanaman nilai prososial dan antisosial di masyarakat. Pengalaman komunikasi yang diungkapkan oleh orang tua dan guru ketika mengajarkan anak untuk memahami nilai prososial dan antisosial adalah dengan mendemonstrasikan pesan kepada anak tunawicara yaitu menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal.Sintesis Makna Tekstural dan StrukturalCara berkomunikasi yang digunakan oleh orang tua dan guru dengan anak tunawicara adalah komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi nonverbal biasanya digunakan untuk menekankan pesan yang disampaikan. Orang tua dan guru lebih menggunakan komunikasi verbal untuk melatih anak berkomunikasi, dalam penyampaikan pesan terkait dengan penanaman nilai prososial dan antisosial, orang tua lebih sering mendemontrasikan kepada anak tentang perilaku prososial. Dalam mendemonstrasikan, orang tua lebih banyak menggunakan bahasa nonverbal.Teori Kinesik dari Birdwhistel menjelaskan tentang isyarat nonverbal yang menggunakan tubuh untuk mengisyaratkan pesan (Liliweri, 1997:72). Ray Birdwhistell dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa semua gerakan tubuh dan7anggota tubuh mempunyai fungsi tertentu dan komunikasi antar manusia (Liliweri, 1997:72). Bagi anak tunawicara isyarat nonverbal merupakan cara komunikasi yang dilakukan anak dalam menyampaikan setiap pesan. Gerakan tangan dan gerakan tubuh lainnya yang dilakukan oleh anak tunawicara dalam berkomunikasi mengisyaratkan pesan, setiap gerakan isyarat yang dilakukan memiliki makna pesan, sehingga semua gerakan tubuh dan anggota tubuh mempunyai fungsi tertentu dalam proses komunikasi dengan orang lain.Hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh anak tunawicara saja, akan tetapi orang tua dan juga guru yang akan berkomunikasi dengan anak tunawicara. Ketika orang tua dan guru menyampaikan pesan kepada anak tunawicara dengan menggunakan komunikasi nonverbal, orang tua dan guru menggunakan gerakan tubuh untuk menekankan pesan yang disampaikan. Terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang diajarkan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara, proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh orang tua adalah lebih menggunakan demonstrasi yang didalamnya menggunakan gerak tubuh, isyarat tangan dan ekspresi wajah. Setiap gerakan tangan dan tubuh lainnya memiliki makna pesan yang harus diinterpretasikan oleh anak tunawicara sesuai dengan makna pesan yang dimaksudkan oleh orang tua.Orang tua menjelaskan kepada anak akan nilai prososial dan antisosial , dengan menggunakan bahasa nonverbal dan mendemonstrasikannya seperti contoh anak tidak boleh berbohong orang tua menjelaskan bohong itu dosa dengan mendeskripsikan menunjuk keatas yang artinya Tuhan ditambah dengan ekspresi nonverbal yang memperlihatkan wajah dengan raut muka yang marah, mata melotot. Selain itu dipertegas lagi dengan orang bohong mulutnya lebar, dengan ekspresi mulut dibuka lebar dengan mata melotot. Deskripsi itu menjelaskan bahwa bohong tidak boleh, sehingga dapat dilihat bahwa setiap gerakan tubuh dan ekspresi yang digunakan untuk mengkomunikasikan setiap pesan memiliki makna.Paul Eckmandan Wallace V.Friesen memberikan beberapa klasifikasi gerakan tubuh yaitu emblems, ilustrator, affect display, regulator, dan adaptor (Devito,1997:187). Berdasarkan penuturan sebelumnya, orang tua dan guru mendemonstrasikan dengan menggunakan beberapa klasifikasi gerakan tubuh seperti ilustrator adalah perilaku nonverbal yang mengilustrasikan pesan verbal dengan menggunakan isyarat badan dengan gerakan gerakan tangan. Kemudian affect display8merupakan gerakan wajah yang mengandung makna emosional, seperti ekspresi marah dengan mata melotot, mulut dan mulut dibuka lebar yang ditunjukkan orang tua ketika menjelaskan suatu pesan kepada anak tunawicara.Berdasarkan penelitian mengenai pengalaman komunikasi antar pribadi antara orang tua, guru dengan anak tunawicara dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat ini menunjukkan bahwa penelitian ini merujuk pada paparan teoritis dari Teori Manajemen Makna Terkoordinasi (Coordinated Management of Meaning) yang fokus pada hubungan antar individu dan bagaimana seseorang memberi makna pada pesan dan pentingnya mengatur koordinasi mengenai suatu makna pesan. Koordinasi adalah usaha untuk mengartikan pesan-pesan yang berurutan. (Turner, 2008:122)Kesesuaian Teori Manajemen Makna Terkoordinasi dengan penelitian ini adalah proses komunikasi antar pribadi antara orang tua dengan anak tunawicara serta guru dengan anak tunawicara yang membentuk suatu hubungan atau relasi diantara keduanya, baik hubungan dalam keluarga maupun di lingkungan sekolah. Relasi yang terbangun tersebut akan membantu anak tunawicara yang memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi untuk menyampaikan pesan yang dimaksudkan. Hubungan dalam suatu komunikasi akan sangat membantu antara komunikator dan komunikan yaitu orang tua, guru, serta anak tunawicara yang masing-masing dapat berperan sebagai komunikator dan komunikan.Anak tunawicara merupakan anak berkebutuhan khusus yang secara spesifik memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, sehingga proses pemaknaan pesan yang disampaikan tidak semudah ketika seseorang menyampaikan pesan dengan orang lain yang tidak memiliki keterbatasan komunikasi. Anak tunawicara memiliki kendala dalam mengkoordinasikan setiap pesan secara berurutan yang ditangkapnya dan kesulitan dalam memaknai setiap pesan yang ada. Hal yang terpenting dalam berkomunikasi adalah makna yang disampaikan dapat diterima dan dimaknai sesuai dengan makna pesan yang dimaksudkan. Sehingga yang ditekankan dan sangat penting dalam penelitian ini adalah proses pemaknaan pesan yang dilakukan oleh anak tunawicara terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang disampaikan oleh orang tua dan guru. Dalam penyampaian pesan tersebut, tidak terlepas dari sebuah interaksi komunikasi yang berada dalam sebuah hubungan atau relasi antar keduanya.9Pearce (1989) menyatakan bahwa koordinasi lebih mudah ditunjukkan daripada dijelaskan, maksudnya cara terbaik untuk memahami koordinasi adalah dengan mengamati orang-orang berinteraksi dalam sehari-hari. Karena orang memasuki suatu percakapan dengan kemampuan dan kompetensi yang berbeda-beda, mencapai koordinasi dapat menjadi sulit pada saat-saat tertentu. Selain itu, koordinasi dengan orang lain merupakan hal yang penuh tantangan sebagiannya karena orang lain juga sedang berusaha untuk mengkoordinasikan tindakannya dengan tindakan kita. (Turner,2008:122)Anak tunawicara memahami koordinasi atau mengartikan pesan-pesan yang disampaikan orang tua mengenai nilai prososial dan antisosial lebih kepada anak mengamati orang tua dalam berinteraksi sehari-hari. Seperti perilaku sopan santun, saling menolong, menghormati orang lain, anak tunawicara mengerti mengenai perilaku tersebut dari dia melihat sikap orang tuanya kepada orang lain ketika bertemu dengan tetangga yang memberikan senyuman. Pesan tersebut dikoordinasikan oleh anak karena dia mengamati orang tuanya, orang tua dalam menjelaskan nilai prososial dan antisosial ini juga lebih mengkomunikasikan melalui contoh atau demontrasi. Hal tersebut ternyata sangat membantu anak mengkoordinasikan pesan yang disampaikan. Hanya menggunakan komunikasi secara verbal dirasa susah untuk dikoordinasikan oleh anak karena kemampuan komunikasi verbal lisan yang sangat kurang dari anak tunawicara.Pembelajaran nilai prososial dan antisosial di masyarakat yang dilakukan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara ini menerangkan mengenai instruksi yang ditunjukkan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara untuk berperilaku prososial. Instruksi yang disampaikan tersebut menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal seperti gerak tangan dan tubuh. Pesan yang disampaikan tersebut kemudian diterima oleh anak tunawicara, dalam proses penerimaan pesan, anak kemudian akan memaknai pesan yang disampaikan sesuai dengan pemahaman anak untuk mentafsirkan pesan. Tahapan selanjutnya adalah mengenai umpan balik yang diberikan oleh anak tunawicara kepada orang tua dan guru. Umpan balik adalah komunikasi yang diberikan pada sumber pesan oleh penerima pesan yang menunjukkan pemahaman makna. (Turner,2007:13)Umpan balik atau feed back merupakan suatu respon yang ditunjukkan oleh anak tunawicara kepada orang tua dan guru. Ketika pesan yang ingin disampaikan10kepada anak tunawicara dalam menyampaikan pesan kepada anak tunawicara. Proses penyampaian pesan yang dilakukan tersebut menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal yang diharapkan pesan tersebut dapat dimakanai oleh anak tunawicara. Setelah proses pemaknaan terjadi, anak tunawicara kemudian menunjukkan perilaku yang merupakan hasil dari komunikasi instruksional yang dapat dikontrol dan dikendalikan dengan baik.KesimpulanBerdasarkan pembahasan yang sudah dipaparkan mengenai pengalaman unik dari temuan penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa :1. Mengasuh dan mendidik anak tunawicara harus didasari dengan komitmen yang diambil oleh orang tua. Komitmen yang ditunjukkan orang tua adalah kesiapan dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara. Cara pengasuhan yang tepat bagi anak tunawicara adalah cara pengasuhan authoritative yaitu cara pengasuhan yang memiliki keseimbangan antara responsiveness dan demandingness. Pola pengasuhan ini menunjukkan bahwa orang tua memberikan kasih sayang, keluasan, dan kebebasan kepada anak tunawicara akan tetapi tetap memberikan pengawasan kepada anak tunawicara. Keterbatasan komunikasi anak tunawicara juga harus dipahami oleh orang tua dengan orang tua memiliki komitmen dalam berkomunikasi menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal seperti mendeskripsikan, mengilustrasikan, dan mendemonstrasikan pesan supaya mudah dipahami oleh anak serta konsisten menggunakan satu bahasa ketika melakukan komunikasi dengan anak tunawicara.2. Guru SMALB memiliki komitmen dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara, komitmen yang ditunjukkan oleh guru adalah dalam control atau mengawasi perilaku prososial dan antisosial anak tunawicara selama berada di sekolah. Guru juga berperan dalam memberikan pembelajaran bagi anak tunawicara. Sikap yang ditunjukkan guru kepada anak tunawicara adalah penuh kasih sayang dan penuh kesabaran yang merupakan salah satu hal yang terpenting untuk membuat proses belajar mengajar menjadi nyaman dan menyenangkan. Selain itu, guru SMALB juga harus memiliki kemampuan dalam menguasai bahasa nonverbal seperti isyarat SIBI yang merupakan salah satu cara komunikasi yang dilakukan oleh anak tunawicara. Kemampuan guru11dalam berkomunikasi secara verbal dan nonverbal akan membantu proses penyampaian pesan kepada anak tunawicara.3. Kendala komunikasi yang dialami oleh orang tua dan guru adalah pada cara penyampaian pesan kepada anak tunawicara. Orang tua merasa kesulitan ketika menjelaskan kepada anak mengenai sesuatu yang sifatnya tidak dapat dilihat dan ditunjukkan secara nyata seperti menjelaskan mengenai iman dan kepercayaan kepada anak tunawicara. Selain itu, orang tua juga mempunyai kendala dalam memaknai pesan yang disampaikan oleh anak tunawicara ketika anak menggunakan isyarat SIBI. Hal ini disebabkan karena orang tua tidak mengerti arti dari setiap gerak jari yang digunakan oleh anak tunawicara.4. Orang tua dan guru dalam berkomunikasi dengan anak tunawicara tetap menggunakan komunikasi verbal untuk melatih kemampuan berbicara anak tunawicara, sedangkan komunikasi nonverbal yang digunakan orang tua dan guru berfungsi untuk menekankan, melengkapi dan untuk mengatur pesan yang disampaikan kepada anak tunawicara. Anak tunawicara cenderung lebih memilih menggunakan komunikasi nonverbal dalam berkomunikasi karena komunikasi nonverbal bagi anak tunawicara adalah untuk menggantikan komunikasi verbal.5. Proses penyampaian pesan oleh orang tua dan guru mengenai nilai prososial dan antisosial untuk mengajarkan perilaku baik dan buruk kepada anak tunawicara ini disajikan dengan menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal dengan cara mendemonstrasikan kepada anak tunawicara. Selain mendemonstrasikan, orang tua dan guru juga memberikan contoh yang dapat dilihat oleh anak tunawicara. Anak tunawicara akan lebih mudah memahami pesan mengenai perilaku baik dengan melihat sikap atau perilaku prososial yang ditunjukkan orang tua dan guru dalam keseharian seperti sopan santun dan saling menolong dengan orang lain.6. Proses pemaknaan pesan tidak sekedar memaknai pesan secara pribadi, akan tetapi lebih pada pemaknaan interpersonal. Makna pribadi merupakan makna yang dicapai seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain sambil membawa pengalamannya yang unik kedalam interaksi, sedangkan makna interpersonal merupakan pemaknaan bersama yang diartikan sebagai hasil yang muncul ketika dua orang sepakat akan interpretasi satu sama lain mengenai sebuah12interaksi. Pesan yang disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara mengenai perilaku yang baik yang harus dilakukan dan perilaku antisosial yang harus dihindari dapat dimaknai secara berbeda oleh anak tunawicara, tergantung pemaknaan yang dilakukan oleh anak yaitu pemaknaan pribadi atau interpersonal. Proses pemaknaan pesan yang baik adalah ketika seseorang dapat memaknai pesan secara interpersonal, yaitu pencapaian makna secara bersama.7. Perilaku yang ditunjukkan anak tunawicara adalah berdasarkan pemaknaan pesan yang dilakukan. Ketika pesan dari orang tua dan guru dimaknai secara interpersonal, perilaku anak tunawicara akan sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tua dan guru yaitu anak akan berperilaku baik sesuai dengan nilai prososial. Perilaku anak tunawicara tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tua dan guru ketika anak hanya memaknai pesan secara pribadi, yang menunjukkan bahwa anak memiliki kecenderungan berperilaku antisosial.Daftar PustakaAbdurrachman, Muljono dan Sudjadi.1994.Pendidikan Luar Biasa Umum.Jakarta:Departemen Pendidikan dan KebudayaanAbercrombie, Nicholas dkk.2010. Kamus Sosiologi. Yogyakarta:Pustaka PelajarArsjad, Maidar G. Dan Mukti U.S.1987.Pembinaan Kemampuan BerbicaraBahasa Indonesia.Jakarta:ErlanggaBeebe, Steven A., Susan J. Beebe, Mark V. Redmond.2005.InterpersonalCommunication Relating to Others.Fourth Edition.USA:Pearson Education,IncDevito, Joseph.1997.Human Communication. Jakarta : Pustaka Utama GrafitiDjamarah,Syaiful Bahri.2002.Psikologi Belajar.Jakarta:Rineka CiptaEffendi, Onong Uchjana. 1992. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung:PT Remaja RosdakaryaLe Poire, Beth A.2006.Family Communication.London: Sage PublicationsLiliweri, Alo.1997.Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: PT Citra Aditya BaktiLittlejohn, Stephen W.2007. Theories of Human Communication.Jakarta:Salemba HumanikaLittlejohn, Stephen W.2009. Teori Komunikasi. Jakarta : Salemba Humanika13Moelong, Lexy Jhon.2008.Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung :PT Remaja RosdakaryaMoustakas, Clark.1994.Phenomenological Research Methods.London:Sage PublicationsMuhammad, Arni.2009.Komunikasi Organisasi.Jakarta:PT Bumi AksaraMulyana, Dedy.2001.Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar.Bandung: PTRemaja RosdakaryaPurwanto, Heri . 1998. Ortopedagogik Umum. Yogyakarta : IKIP YogyakartaRahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural. Yogyakarta:Pustaka PelajarSardjono.2000. Ortopedagogik Anak Tunarungu. Surakarta:UNS PressSoekanto, Soerjono.2006.Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta:RajaGrafindo PersadaSoewito dan Soejono.1999.Komunikasi Total. Jakarta: Bumi AksaraSutaryo.2005.Sosiologi Komunikasi.Yogyakarta:Arti Bumi IntaranTelford, Charles W. dan James M. Swrey.1995 Education for Children withSpecial Needs. Bandung: Remaja RodsakaryaTubbs, Stewart L.2001.Human Communication.Bandung: PT Remaja RosdakaryaTurner, Richard West. 2009. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta :Salemba HumanikaYusuf, Pawit M.1990.Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi Instruksional.Bandung:PT Remaja Rosda Karya
Akomodasi Komunikasi Dalam Rekonsiliasi Konflik Antaretnis (Kasus : Relasi Etnis Madura dengan Etnis Dayak) NIKOLAUS AGENG PRATHAMA; Turnomo Rahardjo; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.584 KB)

Abstract

AKOMODASI KOMUNIKASIDALAM REKONSILIASI KONFLIK ANTARETNIS(KASUS : RELASI ETNIS MADURA DENGAN ETNIS DAYAK)Ringkasan SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata IJurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Nikolaus Ageng PrathamaNIM : D2C006063JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013ABSTRAKSIJUDUL :NAMA :NIM :Akomodasi Komunikasi Dalam Rekonsiliasi Konflik Antaretnis (Kasus : Relasi Etnis Madura dengan Etnis Dayak)NIKOLAUS AGENG PRATHAMAD2C006063Kembalinya sejumlah individu Madura ke daerah konflik di Provinsi Kalimantan Tengah, memunculkan fenomena upaya akomodasi verbal dan non verbal dalam proses komunikasi yang melibatkan individu Dayak dan individu Madura. Adanya sejarah konflik terbuka yang melibatkan kedua etnis, merupakan hal yang cenderung diingat masyarakat dan menjadi isu sensitif bagi etnis Dayak dan etnis Madura. Oleh karena itu, ketika terjadi kontak dan interaksi diantara kedua pihak, muncul prasangka dan stereotip negatif yang telah terbentuk sebelumnya, yang berpotensi dapat mengganggu terjadinya komunikasi antaretnis yang mindful.Penelitian ini menggunakan genre interpretif dan tradisi fenomenologi yang berusaha untuk menyelami dunia pengalaman perceiver dalam kasus ini, yaitu individu Dayak dan individu Madura ketika melakukan upaya akomodasi di dalam relasi mereka sehari-hari pasca konflik sosial 2001. Dengan menggunakan perspektif co-cultural theory yang menekankan pada tujuan akomodasi dalam interaksi antara anggota kelompok minoritas dan mayoritas, penelitian ini juga berupaya untuk memperoleh makna relasi individu etnis Dayak dan Madura yang dipahami oleh kedua pihak dalam bingkai rekonsiliasi konflik antaretnis.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa relasi yang melibatkan individu Dayak dan Madura dalam menjalani kehidupan bersama, mengalami perkembangan yang positif pasca konflik sosial 2001. Mereka dapat saling menegosiasikan identitas kultural masing-masing dalam proses interaksi sehari-hari. Namun demikian, diantara mereka masih terdapat stereotip negatif yang diarahkan oleh masing-masing individu. Meskipun dalam realitasnya, keberadaan stereotip tidak sepenuhnya menghalangi proses interaksi antarkultural mereka. Selain itu, penelitian ini juga mengungkap adanya upaya untuk memperoleh keadaan akomodasi yang dilakukan oleh kedua pihak secara bersama-sama, yaitu oleh individu Dayak dan Madura. Proses akomodasi dilakukan oleh para komunikator dalam menjalani kehidupan sehari-hari melalui adaptasi, asimilasi, dan kerjasama. Hal yang paling menonjol dalam relasi individu Dayak dan Madura pasca konflik ini adalah adanya kerjasama yang dilakukan oleh para tokoh untuk menjaga hubungan baik dan mencegah munculnya gejolak sosial di masyarakat, terutama yang melibatkan individu Dayak dan Madura.Key words: akomodasi, rekonsiliasi, konflik, Dayak, MaduraABSTRACTJUDUL :NAMA :NIM :Communication Accommodation in Inter Ethnics Conflict Reconciliations (Madurese Ethnics and Dayaknese Ethnics Relations Case)NIKOLAUS AGENG PRATHAMAD2C006063The return of a number of Madurese people in conflict area in Central Kalimantan has arisen a phenomena of verbal and non verbal accommodation in its communication process that involve Dayaknese and Madurese individual. Open conflict between both ethnics are still fresh in people‟s mind and prone to be sensitive issue for both Dayaknese and Madurese. Therefore, when a contact and interactions made by both ethnics, it stimulates prejudice and negative stereotype from the past that potentially emerged a chaos in creating a mindful interethnics communications.This research uses interpretive genre and phenomenology approach to deeply understanding the experience of perceiver‟s world, which is Dayaknese and Madurese as an individual when the conduct accommodation effort in their daily relations pasca social conflict in 2001. By accomodating co-cultural theory perspective that stressed on accomodations objectives in understanding interactions between minority groups and majority groups, the objective of this research is to gain a better understanding on individual relations between Madurese and Dayaknese in the frame of inter-ethnics conflict reconciliations.The result shows that relations involving Dayaknese individual and Madurese individual that live together developed positive relations pasca social conflict in 2001. They are able to negotiate their own cultural identity when they interact each other in their daily life. However, a slight of negative stereotype does exist that directed by individuals. In fact, the existence of those stereotype doesn‟t completely interfere their inter-cultural interactions. Besides that, this research also revealing efforts in accommodating situation by both ethnics, Dayaknese and Madurese, together. The accomdoations process conducted by communicators in their daily life through adaptation, assimilation, and cooperation. The most salient thing in Dayaknese and Madurese individual relation pasca conflict is a good cooperations that promoted by the leaders to maintain good relations and prevent any future social conflict in society especially those that involving Dayaknese and Madurese individuals.Key words: accommodations, reconciliations, conflict, Dayaknese, MadureseStudi komunikasi antarbudaya yang berjudul “Akomodasi Komunikasi dalam Rekonsiliasi Konflik Antaretnis (Kasus : Relasi Etnis Madura dengan Etnis Dayak)” ini berawal dari ketertarikan penulis untuk mendalami persoalan relasi individu Dayak dan Madura yang terjalin di daerah Kalimantan Tengah setelah keduanya terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam konflik sosial tahun 2001. Peristiwa konflik sosial 2001 menarik perhatian penulis karena merupakan salah satu dari tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi di Indonesia.Dari sisi akademis, studi ini diharapkan memberikan kontribusi dalam pengembangan riset komunikasi untuk kasus rekonsiliasi konflik antaretnis. Selain itu, secara praktis hasil studi ini juga dimaksudkan agar dapat memberikan tambahan informasi mengenai akomodasi komunikasi melalui pengalaman individu Dayak dan Madura pasca konflik. Dalam bidang sosial, studi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi informasi mengenai akomodasi komunikasi yang berlangsung dalam relasi individu Dayak dan Madura di Kalimantan Tengah.Pada proses penelitian, studi ini menggunakan genre interpretif dan tradisi fenomenologi yang berusaha untuk memperoleh pemahaman individu mengenai dunia pengalaman mereka sehari-hari dalam menjalani aktivitas komunikasi antaretnis pada konteks rekonsiliasi konflik. Proses awal penelitian ini adalah merumuskan tujuan penelitian dan menentukan pemilihan subyek penelitian yang berjumlah delapan orang, yang mewakili kelompok etnis Dayak dan Madura. Selanjutnya melalui instrumen indepth interview, penulis memperoleh data primer berupa pengalaman subyek, yang kemudian memandu peneliti untuk menyusun deskripsi tematis, deskripsi tekstural, dan deskripsi struktural individu.Setelah mendeskripsikan hasil temuan penelitian yang diperoleh melalui wawancara mendalam dengan para subyek secara tekstural dan struktural, selanjutnya penulis menyusun sintesis makna tekstural dan struktural yang bertujuan untuk menggabungkan secara intuitif(intuitive integration) deskripsi tekstural dan struktural ke dalam sebuah kesatuan pernyataan mengeni esensi pengalaman dari suatu fenomena secara keseluruhan. Dalam proses ini, peneliti menggunakan gagasan pemikiran teoritik self-disclosure dari para ahli psikologi humanistik, identity negotiation theory dari Stella Ting-Toomey, dan co-cultural theory dari Orbe untuk menjelaskan esensi pengalaman individu.Tahap akhir dari penelitian ini, penulis menyusun kesimpulan, implikasi penelitian (akademis, praktis, dan sosial), dan rekomendasi penelitian. Beberapa hasil temuan penelitian yang dapat disimpulkan antara lain :1) Dalam hidup bertetangga sehari-hari di perkampungan atau pemukiman padat, individu Dayak dan Madura hidup membaur dan dapat membahas persoalan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, persoalan yang cukup personal, serta persoalan yang cenderung sensitif yaitu mengenai konflik 2001.2) Stereotip masih ditemukan diantara relasi individu Dayak dan Madura. Namun keberadaan stereotip tidak sepenuhnya menghalangi proses komunikasi.3) Konflik tahun 2001 yang melibatkan individu Dayak dan Madura disebabkan oleh dua faktor, yaitu adanya ketidakadilan dalam hukum dan adanya provokasi politik dari „orang-orang tertentu‟.4) Pada awal kembalinya individu Madura ke Sampit Kalimantan Tengah, cenderung memperoleh hambatan berupa pertentangan verbal dan non verbal.5) Individu Dayak dan Madura melakukan usaha untuk mencapai akomodasi sebagai keadaan melalui adaptasi (verbal dan non verbal), asimilasi (perkawinan campur dan budaya), serta kerjasama yang melibatkan warga dan para tokoh dengan tujuan merekonsiliasi hubungan.6) Dalam proses akomodasi, terdapat satu faktor yang memberikan kontribusi yaitu elemen agama (Islam). Adanya kesamaan keyakinan membuat pembauran dan persatuan mereka berjalan lebih mudah.Dari segi akademis, hasil penelitian ini berupaya untuk memberikan tambahan referensi bagi pengembangan bangunan teoritik co-cultural theory, dimana dalam realitasnya individu minoritas (etnis Madura) tidak hanya terbatas pada satu tujuan ketika berinteraksi dengan individu mayoritas (etnis Dayak). Mereka dapat memilih dua tujuan sekaligus, yaitu asimilasi dan akomodasi. Selain itu, peneliti berpendapat bahwa gagasan konsep self-disclosure perlu mempertimbangkan adanya kontribusi faktor geografis yang mendampingi faktor psikologis dalam melihat pemahaman yang dicapai oleh para komunikator. Dalam sisi praktis, penelitian ini memberikan gambaran akomodasi komunikasi yang dilakukan secara variatif oleh individu Dayak dan Madura dengan tujuan merekonsiliasi hubungan mereka pasca konflik sosial 2001. Sedangkan dalam bidang sosial, hasil penelitian ini menjelaskan bahwa dalam masyarakat Indonesia, pluralitas atau keragaman bukan terbatas pada cita-cita, namun telah menjadi suatu fakta sosial-budaya. Setiap individu akan terafiliasi dengan identitas kultural kelompok sebagai latar belakang yang eksistensial.Selanjutnya, pada bagian akhir dari studi ini, peneliti memberikan beberapa rekomendasi yang terkait dengan penelitian mengenai relasi etnis Dayak dengan Madura yaitu :1) Penelitian ini menggunakan genre interpretif dan tradisi fenomenologi. Kajian selanjutnya dapat menggunakan pendekatan etnografi yang berusaha untuk mencatat kehidupan masyarakat sehari-hari dengan melakukan pengamatan secara terlibat. Tujuan penelitian dengan pendekatan etnografi dalam konteks kasus ini, untuk memperoleh data yang lebih rinci mengenai aktivitas komunikasi antaretnisDayak dan Madura, memahami tatanan nilai dan norma yang ada di dalam masyarakat tersebut, serta memahami kontribusi mereka dalam kegiatan kemasyarakatan di salah satu perkampungan atau pemukiman penduduk di Sampit dengan komposisi penduduk yang multietnis.2) Studi selanjutnya dapat mengkaji bagaimana proses adaptasi komunikasi yang dilakukan oleh para individu Madura yang berstatus sebagai pendatang baru di lingkungan wilayah tempat tinggal mereka, bagaimana mereka mengatasi adanya hambatan yang muncul dari persepsi negatif, dan bagaimana mereka mengkomunikasikan identitas kultural mereka sebagai orang Madura kepada tetangga Dayak.3) Sampit merupakan pemicu terjadinya konflik sosial di Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2001. Kajian selanjutnya dapat memindahkan lokasi penelitian, misalnya ke Kota Palangkaraya, yaitu salah satu daerah yang terkena dampak meluasnya konflik di Kalimantan Tengah. Studi yang dilakukan di Kota Palangkaraya diharapkan dapat memperoleh variasi akomodasi dalam tataran kajian komunikasi antarbudaya, karena adanya perbedaan kultural dengan studi yang dilakukan di Sampit. Perbedaan kultural yang dimaksud adalah mengenai elemen keagamaan, dimana host-culture Palangkaraya lebih mengarah pada agama Kristen dan Hindhu Kaharingan yang menjadi kepercayaan asli warga etnis Dayak.DAFTAR PUSTAKACahyono, Heru, Mardyanto Wahyu Tryatmoko, Asvi Warman Adam, Septi Satriani. (2008). Konflik Kalbar dan Kalteng : Jalan Panjang Meretas Perdamaian. Yogyakarta : Pustaka PelajarDenzin, Norman K. and Yvonna S. Lincoln. (1994). Handbook of Qualitative Research. California : SAGE Publication, IncGiring. (2004). Madura Di Mata Dayak : Dari Konflik ke Rekonsiliasi. Yogyakarta : Galang PressGriffin, EM. (2000). A First Look at Communication Theory fourth edition. New York : McGraw-HillGudykunst, William B and Bella Mody. (2002). Handbook of International and Intercultural Communication second edition. London : Sage PublicationsGudykunst, William B. (2005). Theorizing About Intercultural Communication. London : Sage Publications, IncKuswarno, Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi : Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. Bandung : Widya PadjadjaranLiliweri, Alo. (2001). Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta : Pustaka PelajarLiliweri, Alo. (2002). Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta : LKiSLiliweri, Alo. (2003). Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta : LKiSLiliweri, Alo. (2007). Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta : LKiSLiliweri, Alo. (2009). Prasangka dan Konflik : Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Yogyakarta : LKiSLittlejohn, Stephen W. (1999). Theories of Human Communication sixth edition. California : Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W. (2002). Theories of Human Communication seventh edition. California : Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W and Karen A. Foss. (2005). Theories of Human Communication eight edition. California : Wadsworth Publishing CompanyMartin, Judith N and Thomas K Nakayama. (2007). Intercultural Communication in Context fourth edition. New York : McGraw-HillMoleong, Lexy J. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif edisi revisi. Bandung : PT Remaja RosdakaryaMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. London : Sage PublicationsMulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat. (2009). Komunikasi Antarbudaya : Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Bandung : PT Remaja RosdakaryaRahardjo, Turnomo. (2005). Menghargai Perbedaan Kultural : Mindfulness Dalam Komunikasi Antaretnis. Yogyakarta : Pustaka PelajarSaad, Munawar M. (2003). Sejarah Konflik Antar Suku di Kabupaten Sambas. Pontianak : Kalimantan Persada PressSamovar, Larry A Samovar, Richard E. Porter, Edwin R. McDaniel. (2010). Komunikasi Lintas Budaya Edisi 7. Jakarta : Salemba HumanikaSoekanto, Soerjono. (2002). Sosiologi : Suatu Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaSurata, Agus dan Tuhana Taufiq Andrianto. (2001). Atasi Konflik Etnis. Yogyakarta : Global Pustaka UtamaWarnaen, Suwarsih. (2002). Stereotip Etnis dalam Masyarakat Multietnis. Yogyakarta : Mata BangsaWest, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta : Penerbit Salemba HumanikaWirawan. (2010). Konflik dan Manajemen Konflik : Teori, Aplikasi, dan Penelitian. Jakarta : Salemba HumanikaWiyata, A. Latief. (2006). Carok : Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura. Yogyakarta : LKiS YogyakartaINTERNETAnonim. (2011). Meretas Kebersamaan Anak Bangsa Pasca Tragedi Sampit. Dalam http://media.hariantabengan.com/index/detailspiritkaltengberitaphoto/id/7521/. Diunduh pada 22 Februari 2012, pukul 18.13 WIBAnonim. (2012). Kalimantan Tengah. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Tengah. Diunduh pada 9 Juni 2012 pada pukul 20.05 WIBAnonim. (2012). Suku Dayak. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak. Diunduh pada 9 Mei 2012 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Suku Madura. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Madura. Diunduh pada 5 Juni 2012 pukul 14.05 WIBCatatan penulis hasil interview dengan Fauziah (wartawan Kalteng Pos)Catatan penulis hasil pengamatanData dari Markas Kepolisian Resor Kabupaten Kotawaringin Timur
Memahami Pengalaman Komunikasi Wanita Bercadar dalam Pengembangan Hubungan dengan Lingkungan Sosial Yenny Puspasari; Turnomo Rahardjo; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.475 KB)

Abstract

MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI WANITA BERCADAR DALAM PENGEMBANGAN HUBUNGAN DENGAN LINGKUNGAN SOSIALABSTRAKKehidupan wanita bercadar di Indonesia menjadi sorotan masyarakat sejak kejadian teror di berbagai wilayah Indonesia yang sebagian besar melibatkan wanita bercadar di dalamnya. Wanita bercadar kemudian diidentikkan dengan terorisme sehingga dalam kehidupannya wanita bercadar menjadi sulit berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Masyarakat pun berusaha menutup diri dengan hadirnya wanita bercadar di lingkungan mereka, hal ini dibuktikan dengan banyak kasus wanita bercadar yang dikucilkan dari lingkungan.Studi ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang berupaya memberikan penjelasan tentang pengalaman komunikasi wanita bercadar dalam pengembangan hubungan dengan lingkungan sosialnya. Penulis menggunakan Teori Penetrasi Sosial, Teori Pengembangan Hubungan, Teori Kompetensi Komunikasi dan Teori Adaptasi untuk memahami bagaimana individu bercadar berkomunikasi dan menjalin kedekatan dengan orang lain. Informan dalam penelitian ini berjumlah empat orang, dimana terdiri dari dua wanita yang mengenakan cadar dan dua wanita yang tidak mengenakan cadar.Temuan penelitian menunjukkan bahwa wanita yang menggunakan cadar tidak selalu menutup diri dengan lingkungan sekitar. Bahkan di satu sisi, wanita bercadar memiliki potensi-potensi yang dapat dikembangkan dan bermanfaat bagi lingkungan. Kepercayaan diri dan konsep diri yang positif menjadi hal utama yang harus dimiliki oleh wanita bercadar dalam berkomunikasi dengan orang lain. Wanita bercadar juga mempunyai kompetensi komunikasi yang berbeda satu sama lain, artinya komunikasi dengan orang lain dipengaruhi oleh kompetensi komunikasi masing-masing individu. Jika seorang individu mempunyai kompetensi komunikasi yang baik, maka komunikasi akan berjalan dengan baik pula. Dalam hal pengembangan hubungan, informan bercadar juga pernah mengalami kegagalan maupun keberhasilan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kegagalan komunikasi biasanya terjadi karena mereka gagal melawan hambatan psikologis yang menghalangi mereka yaitu stigma masyarakat. Sementara itu, temuan penelitian juga menemukan bahwa kedua informan bercadar belum konsisten mengenakan cadar dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini dikarenakan adanya hambatan diantaranya keterbatasan komunikasi ketika berada di ruang publik dan adanya ketidaksetujuan keluarga dalam keputusan menggunakan cadar.Implikasi penelitian ini secara akademis adalah memperluas pengayaan teoritik mengenai hubungan komunikasi interpersonal dengan nilai-nilai dalam keyakinan. Dalam tataran praktis, studi ini menjelaskan tentang bagaimana seharusnya wanita bercadar melakukan komunikasi yang baik dalam masyarakat sehingga masyarakat dapat mengurangi stereotype dan menghapus stigma. Sementara sebagai implikasi sosial, penelitian ini merekomendasikan kepada masyarakat agar lebih terbuka terhadap wanita bercadar untuk menekan terjadinya konflik dalam hubungan dengan wanita bercadar karena prasangka yang dominan.Kata kunci: pengalaman, cadar, komunikasi, pengembangan hubunganUNDERSTANDING WOMEN WITH VEIL COMMUNICATION EXPERIENCE IN DEVELOPING RELATIONSHIP WITH SOCIAL ENVIRONMENTABSTRACTVeiled woman's life in Indonesia public spotlight since the incident of terror in various regions of Indonesia are mostly involved them. Veiled woman later identified by linkage to terrorist activities so that veiled women in their live find it difficult to communicate with the surrounding environment. The community tried to cover herself with presence of veiled women in their environment, this was evidence by many cases of veiled women were exclude from the environment.This study is a qualitative descriptive study with a phenomenological approach seeks to provide an explanation of veiled women communication experience in developing relationships with their social environment. The author uses social penetration theory, theory of relationship development, communication competence theory and theory of adaptation to understand how individual communicate and veiled attachment to another person. Informants in this study were four people in this study, which consist of two women wearing veils and two women who were not wearing a veil.The study findings indicate that women who use veil does not always cover themselves with their surrounding. Even on the one hand, the veiled woman has potential to be develop and benefit the environment. Confidence and a positive self-concept to be main thing that must be own by a woman veiled in communicate with other. Veiled women also have different communication competence of each other, that communication with other is influence by communication competence of each individual. If an individual has good communication competence, then relationship will run well too. In terms of develop relationship, veiled informants also experienced failures as well as success in communicating with other. Communication failure usually occurs because they fail to resist the psychological barriers that prevent them from stigma society. Meanwhile, the finding of the study also found that both informants veiled were not consistent to wear a veil in the day-to-day activities. This happen because in some situations they feel that they wear veil limitedness communications with others.Implication of this study is to expand academic enrichment of the theoretical relationship interpersonal communication with the values of the faith. In practical terms, this study describes how a woman should be veil to do good communication within the community so that people can receive their state. While the social implication, the study recommends to community to be more open to women veiled and suppress the occurrence of conflict in a relationship with a woman wearing a veil.Keywords: experience, veil, communication, relationship developmentSkripsi berjudul “Memahami Pengalaman Komunikasi Wanita Bercadar dalam Pengembangan Hubungan dengan Lingkungan Sosial” ini berawal dari keprihatinan penulis melihat kondisi dimana wanita bercadar di Indonesia khususnya menjadi kelompok yang minoritas dalam masyarakat. Wanita bercadar menjadi pihak yang berada dalam kondisi sulit untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar karena stigma masyarakat yang negatif tentang mereka yaitu cadar mereka dikaitkan dengan tindakan terorisme.Muncul gagasan di dalam diri penulis mengenai bagaimana sebaiknya wanita bercadar berkomunikasi di dalam masyarakat. Bagaimana mereka bisa diterima di masyarakat tanpa predikat “teroris” seperti yang mereka terima saat ini. Secara praktis, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana wanita bercadar menjalin komunikasi dengan orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya. Dari situ dapat diketahui apakah komunikasi yang mereka lakukan itu sudah tepat atau belum. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu mengembangkan pemikiran teoritik tentang teori pengembangan hubungan terutama hubungan komunikasi antara individu dari kelompok minoritas dengan individu dari kelompok mayoritas. Dan secara sosial, penelitian ini diharapkan mampu memberikan pengertian kepada masyarakat tentang pentingnya toleransi, mampu menerima kehadiran individu individu bercadar dalam masyarakat tanpa memberikan predikat “teroris” serta meminimalisir terjadinya konflik dalam interaksi.Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan fenomenologi yang berupaya menjelaskan pengalaman individu bercadar dalam mengembangkan hubungan dengan lingkungan sosialnya. Penelitian diawali dengan penetapan tujuan penelitian dan pemilihan subyek penelitian. Selanjutnya dengan menggunakan instrumen indepth interview penulis mengumpulkan data pengalaman individu dalam berkomunikasi dengan orang-orang di lingkungan sosialnya. Dalam penelitian ini penulis melibatkan dua informan bercadar dandua informan yang tidak bercadar yang berada di lingkungan sosial dimana wanita bercadar tersebut berinteraksi.Penelitian ini berfokus pada interaksi yang terjadi antara wanita bercadar dengan orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya. Interaksi yang terjadi meliputi latar belakang, motivasi, aktivitas komunikasi, stigma dan pengelolaan konflik serta kondisi psikologis wanita bercadar. Hasil wawancara dengan informan kemudian diterjemahkan secara tekstural dan struktural serta tekstural struktural gabungan dan dianalisis dengan menggunakan metode analisis data Van Kaam. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Kompetensi Komunikasi, Teori Pengembangan Hubungan, Teori Penetrasi Sosial dan Teori Adaptasi.Data berupa hasil wawancara mendalam terhadap para informan tersebut menjadi bekal bagi penulis untuk menyusun deskripsi tematis, deskripsi tekstural, dan deskripsi struktural. Setelah mendeskripsikan hasil temuan secara tekstural dan struktural tentang pengalaman individu bercadar dalam berkomunikasi dengan individu lain di lingkungan sosialnya, penulis menyusun sintesis makna tekstural dan struktural yang bertujuan untuk menggabungkan secara intuitif (intuitive integration) deskripsi tekstural dan struktural ke dalam sebuah kesatuan pernyataan mengenai esensi pengalaman dari suatu fenomena secara keseluruhan. Dan pada tahap terakhir penulis merumuskan kesimpulan beserta implikasi teoretis, praktis, dan sosial dari keseluruhan hasil penelitian.Pembahasan mengenai temuan studi ini menghasilkan beberapa hal, diantaranya:1)Masyarakat cenderung melekatkan stereotype negatif kepada wanita bercadar sebagai bagian dari terorisme dan dianggap mengancam.2)Masyarakat menganggap bahwa wanita bercadar cenderung menutup diri dan tidak mau bergaul dengan lingkungan.3)Tidak semua wanita bercadar itu hidup tertutup dan tidak mau bergaul dengan lingkungan. Salah satu subyek penelitian ini membuktikan bahwa sebagai wanita bercadar, dia mampu menunjukkan keberhasilannya dalam menjalankan bisnis. Cadar tidak menghalanginya dalam menjalankan roda bisnisnya.4)Wanita bercadar mencoba menerima keadaan mereka yang dianggap sebagai bagian dari terorisme. Namun mereka mencoba melawan pandangan masyarakat itu dengan melakukan hal-hal positif sehingga mereka berharap masyarakat akan menilai mereka positif.5)Meskipun sebagian besar masyarakat mempercayai bahwa wanita bercadar dekat dengan terorisme, ternyata ada sebagian masyarakat yang masih menganggap mereka sebagai seorang individu, bukan sebagai seseorang yang mempunyai atribut tertentu seperti cadar. Mereka menjalin komunikasi sebagaimana menjalin komunikasi dengan orang lain.6)Seorang wanita bercadar membutuhkan kompetensi komunikasi yang baik ketika akan menjalin komunikasi dengan orang lain. Ada pengetahuan, kemampuan dan motivasi yang harus mereka miliki untuk lebih dekat dengan orang lain.7)Wanita bercadar dan orang-orang yang berada di lingkungan sosialnya juga harus memiliki kemampuan adaptasi yang baik dengan orang lain. Self Disclosure merupakan hal yang penting dalam berkomunikasi agar mereka tidak dianggap sebagai kelompok eksklusif.8)Dalam menghadapi konflik, wanita bercadar dan orang di lingkungan sosialnya hendaknya memahami cara-cara penyelesaian konflik yang baik sehingga tercipta win-win solution dalam suatu hubungan.Secara akademis (teoritis) penelitian ini berhasil memberikan kontribusi bagi penelitian ilmu komunikasi dalam mengkaji teori-teori yang berkaitan denganpengembangan hubungan dalam komunikasi interpersonal. Dalam Teori Pengembangan Hubungan, penelitian ini membuktikan bahwa ada tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang individu dalam melakukan aktivitas komunikasi dengan individu lain. Dengan mengkiuti fase-fase tersebut diharapkan individu mampu menjalin komunikasi yang baik sehingga tercipta iklim komunikasi yang baik juga. Sementara dalam Teori Kompetensi Komunikasi, seorang individu harus memiliki kompetensi komunikasi yang baik (meliputi pengetahuan, motivasi dan kemampuan komunikasi) sehingga dia mampu menjalin hubungan dengan baik dengan lingkungannya. Kompetensi komunikasi yang tidak baik, akan membuat individu menjadi kesulitan dalam berkomunikasi. Dalam Teori Adaptasi, seorang individu yang berasal dari golongan minoritas memang harus lebih pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar tempat dia berada sehingga kehadirannya dapat diterima dengan baik. adaptasi yang tidak baik akan membuat individu meraa terkucil dari lingkungan. Terakhir dalam Teori Penetrasi Sosial, individu yang ingin mencapai tataran hubungan yang akrab membutuhkan pengungkapan diri secara pribadi sehingga masing-masing pihak saling mengetahui satu sama lain. Pemikiran teoritik yang bisa dikembangkan dari penelitian ini adalah sebuah pengayaan mengenai hubungan komunikasi interpersonal dan nilai-nilai dalam keyakinan.Dalam tataran praktis, penelitian ini dapat memberikan referensi tentang pengalaman komunikasi antara wanita bercadar dengan orang-orang di sekitarnya. Penelitian ini menjelaskan bagaimana proses adaptasi, kompetensi komunikasi seperti apa yang lakukan oleh informan dalam pengembangan hubungan. Penelitian ini memberikan suatu referensi bagi wanita bercadar agar mampu menciptakan aktivitas komunikasi yang baik sehingga keberadaan mereka di masyarakat dapat diterima dengan baikpula. Secara sosial, melalui pengalaman-pengalaman komunikasi informan bercadar dan yang tidak bercadar dalam penelitian ini, masyarakat hendaknya memahami bahwa berkomunikasi dengan wanita bercadar bukanlah hal yang menakutkan. Memandang seorang wanita yang mengenakan cadar dengan sebelah mata dan stigma yang negatif juga sebaiknya tidak dilakukan karena mereka juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama dengan orang lain. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan implikasi yaitu mengurangi stigma negatif mengenai wanita bercadar dan mengeliminasi terjadinya konflik di dalam masyarakat.Penelitian ini tentunya memiliki keterbatasan-keterbatasan yaitu di antaranya:1) Dalam penelitian ini, penulis tidak bisa menghadirkan sosok laki-laki sebagai informan, sehingga pengalaman interaksi wanita bercadar dengan laki-laki kurang bisa digali secara lebih detil. Misalnya bagaimana pola komunikasi yang terjadi antara informan bercadar dengan laki-laki. Bagaimana romantic relationship yang terjadi diantara wanita bercadar dengan seorang laki-laki, bagaimana penyelesaian konflik antara wanita bercadar dengan laki-laki dll.2) Penggalian informasi oleh penulis kurang mendalam karena pada tema-tema tertentu, informan merasa bahwa penulis sudah banyak mengetahui tentang tema tersebut sehingga informan memberikan penjelasan yang kurang detil.DAFTAR PUSTAKABuku•Budyatna, Muhammad dan Leila Mona Ganiem. (2011). Teori Komunikasi Antarpribadi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.•Bungin, Burhan (Eds). (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.•Cupach, William R and Daniel J. Canary. (1997). Competence in Interpersonal Conflict. United States of America: Waveland Press, Inc.•Denzin, Norman K and Yvonna S. Lincoln. (2005). Qualitative Research 3rd Edition. California: SAGE Publication.•Devito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia, Kuliah Dasar Edisi Ke-lima. Jakarta: Professional Books.•Littlejohn, Stephen W and Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi, Theories of Human Communication Edisi 9. Jakarta: Salemba Humanika.•Moustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. California: Sage Publication.•Saverin, J Werner dan James W. Tankard Jr. (2007). Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan terapan di Dalam Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.•Soemanto, Wasty. (1987). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Bina Aksara.•Tubbs, Steward L and Sylvia Moss. (1996). Human Communication, Prinsip-prinsip Dasar.. Bandung: PT Remaja Rosadakarya.•Winardi. (1992). Manajemen Perilaku Organisasi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.•Tim Penyusun Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro tahun 2010.Proceeding Konferensi•Chariri, Anis. (2009). Landasan Filsafat dan Metode Penelitian Kualitiatif (pdf). Makalah. Disajikan dalam Workshop Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro Semarang (31 Juli-1 Agustus 2009) : 1-13.Jurnal•Jubaedah, Edah. (2009). Jurnal Ilmu Administrasi (pdf), Analisis Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Kompetensi Komunikasi Dalam Organisasi: 370-375•Ratri, Lintang. (2011). Cadar, Media dan Identitas Perempuan Muslim (pdf). Jurnal Ilmiah Forum Universitas Diponegoro: 29-37.Skripsi•Sapto, Hari. (2009). Memahami Makna Jilbab dan Mengkomunikasikan Identitas Muslimah. Universitas Diponegoro.Internet:• (http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatfatwa&id=760).• (http://www.artikata.com/arti-124402-cadar.html).• (http://news.detik.com/read/2013/05/03/001115/2236851/10/polisi-amankan-seorang-wanita-di-rumah-terduga-teroris-di-jl-bangka).•(/berita/dunia-islam/perancis-tolak-masuk-tiga-wanita-saudi-yang-bercadar.htm#.UWjE91bTOt8).• (http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/muslim-denmark-larangan-cadar-di-prancis-ancam-kebebasan-individu.htm#.UWjFsVbTOt8).• (http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/setelah-mahasiswi-kini-giliran-dosen-bercadar-dilarang-mengajar-di-mesir.htm#.UWq4blbTOt8).• (http://hizbut-tahrir.or.id/2010/07/26/dua-mahasiswi-bercadar-dilarang-naik-bus-di-london/).•(http://www.anashir.com/2012/05/102159/46553/10-negara-dengan-jumlah-penduduk-muslim-terbesar-di-dunia).• (http://nasional.kompas.com/read/2009/08/23/06021424/).• (http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110420201913AAWG8qA• (http://kelaspshama2012.blogspot.com/2012/03/sikap-diskriminasi-di-sekitar-kita.html).• (http://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=68450).• (http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/label-teroris-dan-hilangnya-kenyamanan.html).• http://links.org.au/node/1351

Page 3 of 4 | Total Record : 38