cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1: Januari 2014" : 28 Documents clear
Representasi Pendidikan Pesantren dalam Film (Analisis Semiotika pada Film Negeri 5 Menara) Septia Hartiningrum; Sri Widowati Herieningsih; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.984 KB)

Abstract

Judul : Representasi Pendidikan Pesantren dalam Film (Analisis Semiotikapada Film Negeri 5 Menara)Nama : Septia HartiningrumNIM : D2C008101ABSTRAKFilm adalah media populer yang digunakan tidak hanya untuk menyampaikanpesan-pesan, tetapi juga menyalurkan pandangan-pandangan kepada khalayak.Film Negeri 5 Menara diangkat dari novel dengan judul yang sama merupakanfilm yang mengangkat tentang kerja keras, semangat, keikhlasan, dankesungguhan “Man Jadda Wajada” dengan background pendidikan pesantren. Didalam film ini dapat dijumpai adegan ketika para santri mengikuti prosespembelajaran di pesantren, serta kegiatan-kegiatan yang ada di pesantren.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi pendidikanpesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif denganmenggunakan teori represenasi Stuart Hall (1997) serta menggunakan analisissemiotika untuk menganalisis objek yang diteliti. Teknik analisis data dilakukandengan menggunakan “The Codes Of Television” (John Fiske ,1987). Analisisdilakukan dengan tiga level, yaitu level realias, level representasi, dan levelideologi. Level realitas dan level representasi dianalisis secara sintagmatik,sedangkan secara paradigmatik untuk level ideologi.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam film Negeri 5 Menara inipesantren digambarkan sebagai lembaga pendidikan yang sudah modern namuntetap masih memasukkan unsur-unsur tradisional yang sudah melekat padapendidikan di pesantren. Seluruhnya dapat dilihat melalui adegan-adegan yangada dalam film, dimana para santri di pesantren tidak hanya mempelajari bidangagama seperti fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist, menghafal al-quran semata, parasantri juga mempelajari pelajaran-pelajaran umum seperti bahasa asing,pengetahuan sosial, serta kemasyarakatan sebagai bekal untuk terjun dalammasyarakat.Dalam film Negeri 5 Menara ini menonjolkan sisi positif kehidupan parasantri selama menempuh pendidikan di pesantren hingga mereka suksesmenggapai mimpinya. Selain berusaha memberikan tontonan yang dapatmemotivasi penonton untuk tidak pernah takut bermimpi, film ini jugamenyiratkan makna bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang tidak kalahdengan lembaga pendidikan negeri lainnya. Terbukti dengan kesuksesan yangdicapai para santri khususnya Sahibul Menara meraih mimpi mereka untukmencapai menara-menara impian mereka sebagai tempat mereka bekerja sertamengabdikan diri pada masyarakat.Kata Kunci: film, representasi, pendidikan, pesantrenTitle : Representation in Film Islamic Boarding School Education(Semiotics Analysis on Film Negeri 5 Menara)Nama : Septia HartiningrumNIM : D2C008101ABSTRACTMovie is popular media that is used not only to give messages, but also distributethe perspective to the peoples. Negeri 5 Menara based on a novel with same titleare tells about hard work, spirit, heartiness and sincerity of “Man Jadda Wajada”with pesantren/islamic education. ”. In the movie, we will find so many sceneswhile the students (islamic students) during leraning process, also their activities.The purpose of this research is to find out the representation of the islamicboarding school education. This research used a qualitative approach,representation theory by Stuart Hall (1997) and semiotic analysis to analyzesobject of the research. The technique alaysis of data used by the theory of “TheCodes of Television” (John Fiske, 1987). Analyses by three level : reality,representation and ideology. On Realiy and Representation level analyzes bysintagmatic and paradigmatic for Ideology Level.The results of research indicate that the (Negeri 5 Menara), islamicboarding school describe as a education institution that have the modern yet stillhave traditional elements which is attached to the education in the islamic school.We can find them by the scenes, where the students (the islamic students) not onlylearn about religion like fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist, memorized Qur’an,they also learn common lesson like foreign language, social skill, so they can livein their society easily.In the movie of (Negeri 5 Menara) show positive side of islamic studenswhile study at islamic boarding school till they success reach their dreams. Notonly tried to give a movie that can motivated peoples to unafraid to reach theirdreams, the movie is also give meaning that islamic boarding school is aeducation institution that as good as another education institutions. Proven bytheir successful especialy by Sahibul Menara who can reach their dreams comingat their dreams tower as place their work for and society.keywords : movie, representation, education, islamic boarding schoolBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangPendidikan bagi umat manusia merupakan sistem dan cara meningkatkankualitas hidup dalam segala bidang. Dalam sejarah hidup umat manusiadimuka bumi ini hampir tidak ada kelompok manusia yang tidakmenggunakan pendidikan sebagai pembudayaan dan peningkatan kualitasnya,sekalipun dalam kelompok masyarakat primitif.Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yangbersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkannyasebagai pedoman hidup keseharian, dengan menekankan pentingnya moraldalam kehidupan bermasyarakat. Pesantren telah hidup sejak ratusan tahunyang lalu, serta telah menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat muslim.Pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah ikutmencerdaskan kehidupan bangsa (Mastuhu, 1994: 3).Film Negeri 5 Menara mengangkat tema seputar pendidikan di lingkunganpesantren. Cerita film Negeri 5 Menara diangkat dari novel berjudul samakarya Ahmad Fuadi. Novel yang pertama kali dirilis pada tahun 2009 inimasuk dalam jajaran best seller. Novel ini telah menjadi Buku Fiksi Terbaik,Perpustakaan Nasional Indonesia 2011. Serta menobatkan Ahmad Fuadisebagai Penulis dan Fiksi Terfavorit, Anugerah Pembaca Indonesia 2010.1.2. Rumusan MasalahFilm “Negeri 5 Menara” merupakan film yang mencoba menggambarkanpendidikan pesantren. Film Negeri 5 Menara merupakan representasi duniapendidikan pesantren. Pada kenyataannya saat ini, pesantren selalu menjadisorotan dan mendapat citra yang buruk, karena selau dikaitkan dengan kasuskasusterorisme, kekerasan, bahkan pelecehan seksual, pola pendidikan yangsering di pandang sebelah mata. Namun, film ini menyuguhkan sesuatu yangberbeda. Dalam film ini pesantren tidak hanya dijadikan sebagai tempatbuangan anak-anak nakal atau korban kekerasan dalam rumah tangga atauanak-anak yang nilainya tidak cukup untuk masuk ke lembaga pendidikannegeri atau tidak memiliki cukup dana untuk masuk ke lembaga pendidikanswasta. Film ini menggambarkan bahwa pesantren menjadi tempat untukmendidik bibit-bibit unggul calon-calon da’i dan menjadi tempat untukmendalami pendidikan agama.1.3. Tujuan PenelitianMendeskripsikan bagaimana dunia pendidikan pesantrendirepresentasikan dalam film Negeri 5 Menara.1.4. Signifikansi Penelitian1.4.1. Signifikansi TeoritisSecara teoritis penelitian ini diharapkan mampumemberikan sumbangan ilmiah di bidang kajian ilmu komunikasimengenai teori representasi Stuart Hall dan analisis semiotikamenggunakan teknik analisis data “The Codes of Television” dariJohn Fiske yang dikembangkan untuk mengkaji film sebagaikomunikasi massa. Sehingga dapat mendeskripsikan bagaimanapendidikan pesantren direpresentasikan dalam film.1.4.2. Signifikansi PraktisPenelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagipara pembuat film dengan tema pendidikan, khususnya pendidikanpesantren. Agar memberikan jalan cerita yang lebih variatif tentangdunia pendidikan.1.4.3. Signifikansi SosialPenelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif dalammencermati tayangan dan memahami makna pesan yang disajikanoleh media massa terutama film yang mengangkat tentangpendidikan khususnya pendidikan pesantren.1.5. Kerangka PemikiranFilm dimasukan dalam kelompok komunikasi massa yang mengandung aspekhiburan, juga memuat aspek edukatif. Namun aspek kontrol sosialnya tidak sekuatpada surat kabar, majalah, serta televisi yang memang menyiarkan beritaberdasarkan fakta yang terjadi (Rivers, Jensen dan Peterson, 2004: 252).Representasi menurut Stuart Hall (1997: 15) menghubungkan makna danbahasa kepada budaya. Representasi berarti menggunakan bahasa untukmengungkapkan makna atau untuk menghadirkan kembali (represent) maknakepada khalayak. Representasi merupakan bagian penting dari proses di manamakna diproduksi dan dipertukarkan antara beberapa budaya. Representasimelibatkan penggunaan bahasa, tanda dan simbol untuk mewakili ataumerepresentasikan sesuatu.Representasi berarti menggunakan bahasa untuk memaknai sesuatu, atauuntuk merepresentasikan dunia dengan penuh makna kepada orang lain.Representasi adalah sebuah bagian utama dalam sebuah proses tentang bagaimanamakna diproduksi di antara anggota masyarakat dari sebuah kebudayaan.Film dipandang sebagai representasi, maka film merupakan cermin darinilai budaya yang ada dalam masyarakat. Maka film tidak pernah lepas dariberbagai aspek kepentingan, baik kepentingan ideologi, ekonomi atau politik.Film pada akhirnya merupakan salah satu aspek yang memberi peran besarterhadap perubahan dalam masyarakat. Film sebagai media komunikasipenyampaian makna akhirnya merupakan media sebagai penyampai ideologi, filmsebagai pembawa dan penyebar ideologi ini yang membawa peran sebagai agenperubahan sosial.Ideologi pendidikan merupakan cara pandang yang dijadikan oleh parapemikir pendidikan untuk melihat implementasi pendidikan yang dilaksanakan.Ideologi-ideologi pendidikan terdiri dari enam sisitem dasar etika sosial, yangtergabung dalam ideologi konservatif dan ideologi liberal.1.6. Metode penelitianPenelitian tentang Representasi Pendidikan Pesantren pada film Negeri 5Menara ini menggunakan teknik analisis data berdasarkan kode televisi dariFiske (1987: 4-6). Tiga level kode tersebut adalah:1) Level Realitas, yang telah terkode secara sosial, meliputi tampilanvisual semacam penampilan, pakaian, make up, lingkungan, perilaku,ekspresi, suara, dll.2) Level Representasi, terkode secara elektronik yang bersifat teknis,meliputi: kamera, pencahayaan, musik, suara, narasi, konflik,karakter, dialog, dll.3) Kode-kode sosial yang mendasari realita dengan jelas dan relatifdinyatakan dalam warna kulit, pakaian, rambut, ekspresi wajah, dansebagainya.BAB IIPEMBAHASANBab ini akan menjelaskan uraian dari konsep kode-kode televisi yangdiungkapkan John Fiske dalam Television Culture, dalam mengkaji media audiovisual terutama film. Kode-kode televisi digunakan untuk menguraikan tandatandamenjadi makna. Kode-kode tersebut terdiri dari tiga level yaitu levelrealitas, level representasi, dan level ideologi. Level realitas meliputi kode-kodedengan aspek sosial seperti penampilan, kostum, riasan, gaya bicara, perilaku,lingkungan, setting, ekspresi, gestur, dan lain-lain. Pada level representasi terdapataspek teknis seperti kamera, pencahayaan, musik, narasi, konflik, dialog, dankarakter. Sedangkan level ideologi menguraikan kode-kode tersirat dalam film,seperti indivisualisme, ras, kelas, kapitalisme, dan sebagainya.Level realitas dan representasi merupakan hasil dari analisis sintagmatik,yaitu uraian yang berisi tanda-tanda dalam potongan-potongan shot dan adegan.Sedangkan level ideologi menganalisis secara paradigmatik hasil yang didapatdari level realitas dan level representasi. Namun level ideologi akan diuraikanpada bab berikutnya. Pada bab ini ditampilkan level realitas dan level representasisecara sintagmatik, melalui aspek-aspek sosial dan teknis yang terdapat dalampesantren di film Negeri 5 Menara.Aspek-aspek sosial pada level realitas tersebut dikodekan secara elektronikdalam aspek-aspek teknis level representasi. Dalam televison codes Fiske (2001:5), bagian ini meliputi aspek kamera (camera), pencahayaan (lighting),pengeditan (editing), serta musik dan suara (music and sound). Kemudianmembentuk kode representasi seperti yang terdapat dalam aspek narasi, konflik,dialog, karakter, dan pemeran.Level ideologis adalah level terakhir dari kode-kode televisi John Fiske.Bahwa realitas dan representasi yang direkam dalam gambar bergerak dalam filmmerupakan produk ideologi tertentu. Kode-kode ideologis ini sepertiindividualisme, patriarki, kelas, ras, materialisme, kapitalisme, dan lain-lain.Sementara Fiske mengatakan ideologi adalah sebuah jalan untuk melakukanpemaknaan, membuat sesuatu masuk akal, dan makna yang dibuat selalu memilikidimensi sosial dan politik. Ideologi di dalam cara pandam ini adalah sebuahpraktik atau tindakan sosial.BAB IIIPENUTUPKesimpulan1). Manajemen pendidikan dan pembelajaran di Pesantren telah mengalamiperubahan modernisasi, dari semula sebagai lembaga pendidikan tradisional,kini pesantren sudah berkembang menjadi lembaga pendidikan modern.Pesantren kini dibagi menjadi dua, yaitu pesantren tradisional dan pesantrenmodern. Pesantren tradisional adalah pesantren yang masih menitikberatkanpembelajaran berdasarkan rujukan kitab klasik atau yang dikenal dengankitab kuning, sedangkan pesantren modern adalah pesantren yang polapembelajarannya sudah menggabungkan antara pendidikan agama danpendidikan umum.Dalam film Negeri 5 Menara pesantren direpresentasikan sudah lebihmaju atau modern, sebagai suatu lembaga pendidikan yang tidak hanyamengajarkan pendidikan agama saja (fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist danlain-lain), namun juga pendidikan umum lainnya (bahasa asing, pengetahuansosial, serta kemasyarakatan). Untuk mewadahi minat dan bakat para santri,pesantren juga memfasilitasi mereka dengan beragam ekstrakurikuler, seperti;seni baca al-Qur’an (qira’ah), seni kaligrafi, seni bela diri, seni musik,jurnalistik, olahraga dan lain sebagainya.2). Film Negeri 5 Menara adalah sebuah film tentang kerja keras, semangat,keikhlasan, dan kesungguhan. “Man Jadda Wajada”. Siapa yangbersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Bukan yang paling tajam, tapi yangpaling bersungguh-sungguh. Mantra tersebut berhasil membuat para SahibulMenara dapat mencapai cita-cita mereka untuk bisa mengunjungi negaranegarayang memiliki menara. Mereka berhasil membuktikan bahwa denganbackground pendidikan pesantren mereka dapat bersaing dengan lulusansekolah umum.DAFTAR PUSTAKABUKUAmir, Matri. 1983. Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam. Jakarta:Logos.Azra, Azyumardi. 1999. Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi MenujuMillenium Baru. Jakarta: Logos.Beebe SA., and Masterson JT. 1994. Communicating in small groups: principlesand practices. Fourth Edition. New York: Harper Collins CollegePublisher.Bride, Sean Mac. 1983. Komunikasi dan Masyarakat Sekarang dn Masa Depan,Aneka Suara Satu Dunia. Jakarta: PT Balai Pustaka.Burton, Graeme. 2008. Pengantar untuk Memahami: Media dan Budaya Populer.Penerjemah Alfathri Aldin. Yogyakarta: Jalasutra.Chandler, Daniel. 2002. Semiotics: The Basics. New York. RoutledgeCroteau, David dan William Hoynes. 2000. Media/Society : Industries, Images,and Audiences. London: Pine Forge Press.Danesi, Marcel. 2010. Pengantar Memahami Semiotika Media. Yogyakarta:Jalasutra.Denzin, Norman K & Yvonna S. Lincoln. 2009. Handbook Of QualitativeResearch. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Dhofier, Zamakhsyari. 1994. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan HidupKyai. Jakarta: INIS.Effendy, Heru. 2006. Mari Membuat Film: Panduan Menjadi Produser.Yogyakarta: Panduan.Eriyanto. 2011. Analisis Isi: Pengantar Metodologi untuk Penelitian IlmuKomunikasi dan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Prenada Media Grup.Fiske, John. 1987. Television Culture. New York. Routladge.Friedman, Howard S., and Miriam W. Schustack. 2008. Kepribadian: Teori Klasikdan Riset Modern. Terjemahan Ikarinim Fansiska Dian, dkk. 2006.Personality: Classic Theories and Modern Research. Jakarta: Erlangga.Guba, Egon G and Lincoln, Yvonna S. 2005. The SAGE Handbook of QualitativeResearch; Paradigmatic Controversies, Contradictions, and EmergingConfluences. Sage PublicationHall, Stuart. 1997. Representations: Cultural Signifying and Practices. London:Sage Publication.Irawanto, Budi. 1999. Film, Ideologi, dan Militer. Yogyakarta: Media Pressindo.Littlejohn, Stephen W and Foss, Karen A. 2009. Teori Komunikasi (edisi 9)Theories Of Human Communication. Jakarta: Salemba Humanika.Madjid, Nurcholish. 1997. Bilik-Bilik Pesantren. Jakarta: Paramadina.Mangunhardjana, A Margija. 1976. Mengenal Film. Yogyakarta: YayasanKanisius.Mastuhu. 1994. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INISMuhaimin dan Mujib, Abdul. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Filosofisdan Kerangka Dasar Operasionalnya. Bandung: Trigenda Karya.Naratama. 2004. Menjadi Sutradara Televisi. Jakarta: Grasindo.O’neil, William F. 2001. Ideologi-Ideologi Pendidikan. Yogyakarta: PustakaPelajar.Panen, Paulina, dkk. 2005. Belajar dan Pembelajaran 1. Jakarta:UniversitasTerbuka.Pranajaya, Adi. 1993. Film dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Pusat Perfilman.Rahman, Chaidir. 1983. Festival Film Indonesia. Medan: Badan Pelaksana FFI.Roqib, Moh. 2007. Harmoni dalam Budaya Jawa: Dimensi Edukasi dan KeadilanGender. Yogakarta: Pustaka Pelajar.Rivers, W.L, J.W Jensen, dan T. Peterson. 2004. Media Massa dan MasyarakatModern. Jakarta: Kencana .Slavin, Robert E. 2008. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. TerjemahanSobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.__________. 2006. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,Analisis Semiotika, dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya.Stolley. S, Kathey. 2005. The Basic of Sociology. Green Wood Press. LondonSukmadinata. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:RosdakaryaSumarno, Marselli. 1996. Dasar-dasar Apresiasi Film. Jakarta: PT GramediaWidiasarana Indonesia.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Prenada Media Grup.Wahyoetomo. 1997. Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif MasaDepan. Jakarta: Gema Insani Press.Widagdo, M Bayu dan Gora, Winastwan. 2006. Bikin Film Indie Itu Mudah.Yogyakarta: Penerbit Andi.Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Gasindo.Yusuf, Muri. 1982. Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Ghalia Indonesia.Sumber InternetAdi, Danuk Nugroho. 2007. “Kekerasan di Pesantren, Tiga Santri DianiyayaSenior” (http://www.indosiar.com/fokus/kekerasan-di-pesantren-tigasantri-dianiayasenior_63929.html; diakses 12/12/12 23:00:17).Arrahman. 2012. “FUI: Penggerebekan Pesantren Dalul Akhfiya' tidakmenghormati Ulama dan Syuhada”(http://m.arrahmah.com/read/2012/11/14/24715-fui-penggerebekanpesantren-darul-akhfiya-tidak-menghormati-ulama-dan-syuhada.html;diakses 11/12/12 22:00:19).Film Indonesia. (http://filmindonesia.or.id/search/all/pendidikan; diakses23/5/2013 23:16:08).Gatra, Sandro. 2010. “Ba’aysir kembali Ditahan di Bareskrim”(http://nasional.kompas.com/read/2010/12/23/11362638/Baaysir.Kembali.Ditahan.di.Bareskrim?; diakses 11/12/12 20:09:56).Harian Analisa. 2012. “Mengembalikan Citra Positif Pesantren”(http://www.p3m.or.id/2013/02/mengembalikan-citra-positifpesantren.html 21/12/2013 pukul 12.48)Ofy. 2008. “Pak Guru Perkosa Murid di Kompleks Sekolah”(http://nasional.kompas.com/read/2008/08/16/14361132/pak.guru.perkosa.murid.di.kompleks.sekolah; diakses 12/12/1 21:49:54).Ruslan, Heri. 2013. “Pesantren, Sistem Pendidikan Asli Indonesia” .(http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/10/17/mut6fypesantren-sistem-pendidikan-asli-indonesia 21/12/2013 pukul 12.49)Salmah, Alfidah. 2008. “Kontroversi Pernikahan Syekh Pujiono”(http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&jd=Kontroversi+Pernikahan+Syekh+Pujiono&dn=20081110093019; diakses 11/12/201221:22:16).Sudibyo, Anton. 2011. “Guru Ponpes Cabuli 10 Santri Bertahun-tahun”(http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/12/17/104488/Guru-Ponpes-Cabuli-10-Santri-Bertahun-Tahun; diakses 12/12/1222:55:54).
OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM MAJALAH PRIA DEWASA (Analisis Semoiotika Foto pada Majalah For Him Magazine Indonesia) Annisa Arum Putri; Sunarto Sunarto; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.491 KB)

Abstract

OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM MAJALAH PRIA DEWASA (Analisis Semoiotika Foto pada Majalah For Him Magazine Indonesia)Annisa Arum Putri1ABSTRAKSIMajalah merupakan media massa yang kini hadir sesuai dengan segmentasi pembacanya. Salah satunya adalah ‘For Him Magazine’ (FHM) Indonesia, yang merupakan majalah dengan segmentasi pembaca pria dewasa. FHM Indonesia pada setiap edisinya menampilkan foto-foto perempuan dengan menonjolkan sisi sensualitasnya. Jika dicermati secara kritis, perempuan dalam majalah ini dijadikan objek. Lantas bagaimana bentuk-bentuk objektivikasi perempuan dalam majalah ini dan apa ideologi yang tersembunyi yang melatarbelakanginya?Penelitian ini bertujuan untuk melihat posisi perempuan sebagai objek dalam majalah FHM Indonesia melalui foto-foto perempuan yang terdapat di dalamnya dan menjelaskan ideologi dominan yang melatarbelakanginya. Teori yang digunakan adalah teori standpoint dan teori feminis radikal kultural. Metode yang digunakaan dalam penelitian ini adalah analisis semiotika Roland Barthes, yaitu dengan analisis leksia dan lima kode pembacaan.Temuan dalam penelitian ini adalah pada majalah FHM Indonesia terdapat dualitas objektivikasi seksual perempuan. Pertama, perempuan dijadikan “objek santapan” atau komodifikasi seksual yakni perempuan dan nilai seksualitasnya dijadikan komoditas yang dijual pada pembaca majalah ini. Kedua, perempuan dijadikan “objek tatapan“ atau objek hasrat seksual laki-laki pembaca majalah ini. Objektivikasi perempuan dalam majalah ini dilatarbelakangi oleh ideologi patriarki, dimana laki-laki memiliki posisi yang lebih berkuasa sehingga dapat melakukan kontrol seksualitas pada perempuan. Praktik objektivikasi perempuan agaknya disadari oleh masyarakat, namun praktik ini masih dianggap alami dan seolah dibiarkan saja.Kata kunci : majalah pria dewasa, objektivikasi, perempuan,1 Penulis merupakan mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoroannisaarumputri@gmail.comOBJECTIFICATION OF WOMEN IN MEN'S MAGAZINES (Semiotic Analysis Photos on the For Him Magazine Indonesia)Annisa Arum PutriABSTRACTMagazine was one of the mass media that present in accordance with the intended audience segmentation. One of them was For Him Magazine (FHM) Indonesia, which was the magazine with the adult male readership segmentation. FHM Indonesia, on each publication, features pictures of women with accentuated their sensuality side. In critically observed, women in this magazine became an object. Hence, what were the manifestations of women objectification in this magazine and what were the hidden dominant ideology that exist in this situation?The purpose of this study was to see the position of women as objects in FHM Indonesia through photographs of women contained in it and explain the background ideology of it. This study used standpoint theory and radical cultural feminist theory. The method in this study was semiotic analysis by Roland Barthes, include the lexias analysis and five major codes.The results of this research was there was duality of sexual objectification of women on FHM magazine Indonesia. First, commodification of women and their sensuality. The women became commodity which was sold on readers. Second, the women became object of sexual desire male readers of this magazine. Objectification of women in the FHM Indonesia distributed by patriarchal ideology, where men had a more powerful position, so they can control women including their sexuality. The practice of objectification of women presumably realized by the public, but the practice was still considered to be natural and seemed to be left alone.Key words: men’s magazine, objectification, women1. PendahuluanKonten majalah hadir mengikuti segmentasi pembacanya. Demikian pula dengan majalah For Him Magazine (FHM) Indonesia yang menjadi fokus bahasan penelitian ini. Konten majalah ini mengikuti segmentasi pembaca pria dewasa, yakni seputar gadget, gaya hidup, pengetahuan, karier, seks, dan perempuan. Namun, di dalamnya, FHM Indonesia menampilkan foto-foto perempuan berbusana minim dan artikel-artikel yang menngarah pada sensualitas dari perempuan.Perempuan dalam majalah ini adalah komoditas yang disajikan bagi pembacanya yang merupakan laki-laki dewasa berusia 21 tahun ke atas. Foto-foto perempuan berbusana minim merupakan bagian dari objektivikasi perempuan. Objektivikasi terjadi ketika seseorang melalui sarana-sarana sosial direndahkan derajatnya, dijadikan benda atau komoditas, dibeli atau dijual (Syarifah, 2006: 153).Laki-laki menonton perempuan dan perempuan disajikan sedemikian rupa untuk kesenangan laki-laki. Hal ini mengindikasikan bahwa wanita adalah pihak inferioritas sedangkan pria ada di posisi superior. Kondisi ini berbenturan dengan apa yang tertuang dalam pasal 5 (a) UU Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita disebutkan: “Negara-negara peserta wajib melakukan langkah-tindak yang tepat untuk mengubah pola tingkah laku sosial budaya pria dan wanita dengan maksud untuk mencapai penghapusan-penghapusan prasangka dan kebiasaan dan segala praktek lainnya yang berdasarkan atas inferioritas atau superioritas salah satu jenis kelamin atau berdasar peranan stereotip bagi pria dan wanita”. Secara garis besar, penelitian ini bertujuanuntuk melihat posisi perempuan sebagai objek dalam majalah ini dan menjelaskan ideologi dominan yang melatarbelakanginya.2. MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif serta menggunakan metode analisis semiotika milik Roland Barthes, yakni analisis sintagmatik melalui analisis leksia dan analisis paradigmatik melalui lima kode pembacaan. Lima kode pembacaan tersebut adalah kode hermeneutika, kode proairetik, kode simbolik, kode kultural, dan kode semik. Unit analisis dalam penelitian ini adalah: FHM Indonesia Mei 2011 halaman 44 dan 46, FHM Indonesia April 2011 halaman 46 dan 42, dan foto dengan subjek bernama Sitha Destya pada FHM Indonesia Januari 2012.3. Hasil Penelitian3.1 Analisis SintagmatikBerdasarkan analisis yang telah dilakukan, semua unit analisis menggunakan konsep glamour photography, yang menurut Pegram (2008: 90-93) adalah konsep fotografi yang memfokuskan pada keindahan tubuh subjek. Sehingga dapat disimpulkan bahwa foto-foto yang terdapat pada majalah FHM Indonesia di berbagai edisi memiliki fokus untuk menonjolkan keindahan tubuh subjek semata.3.2 Analisis Paradigmatik: Adanya Objektivikasi Perempuan dalam Majalah FHM Indonesia3.2.1 Kode HermeneutikaKode hermeneutika pertama dari teknik pengambilan gambar. Berdasarkan teknik pengambilan gambar yang digunakan dapat memperlihatkan detail subjek sepertilekukan tubuh subjek, detail kostum subjek, ekspresi subjek, dan setting foto.Kode hermeneutika kedua yang muncul selanjutnya adalah pose subjek. Gestur-gestur yang ditampilkan oleh subjek dalam majalah ini banyak diantaranya yang tergolong dalam isyarat-isyarat yang menggoda laki-laki. Kemudian dari aspek kostum, subjek pada kelima unit analisis dalam penelitian ini semuanya diarahkan untuk menggunakan kostum tertentu oleh majalah ini. Hal ini terlihat dari keterangan foto yang menyebutkan bahwa terdapat pengarah kostum dalam foto ini. Selanjutnya, kostum yang banyak digunakan adalah bra. Kemudian asesoris yang sering ditemukan adalah sepatu hak tinggi.Menurut Danesi (2012: 216), dalam representasi seksual pakaian memainkan peranan sentral dalam menekankan seksualitas. Sehingga disini bra dan celana dalam yang dikenakan subjek dapat dipahami sebagai penegasan seksualitas perempuan yang dapat merangsang laki-laki secara visual. Secara keseluruhan, perempuan pada unit-unit analisis di atas digambarkan sebagai sosok yang sensual dan berusaha mengundang gairah pembaca.3.2.2 Kode ProairetikHasil dari analisis kode proairetik menyebutkan bahwa pada foto-foto kelima unit analisis penelitian ini, terdapat 3 jenis implikasi yang tidak berpihak pada perempuan yang berada di dalamnyaImplikasi pertama yang muncul adalah eksploitasi bagian tubuh subjek dan kualitas fisik subjek. Kemudian implikasi kedua dari tindakan-tindakan pada kelima unit analisis ini adalah merupakan lanjutan dari implikasi pertama, dimana eksploitasi tubuh subjek dapat berlanjut pada memunculkan fantasi erotis bagi laki-laki ataumemberikan rangsangan secara visual bagi laki-laki.Implikasi ketiga yang kemudian berkaitan dengan perempuan dalam foto ini adalah ia dapat dipersepsikan sebagai perempuan “tidak baik”. Menunjukkan hasrat seksual atau bahkan pengalaman seksual ini berarti menjebloskan diri perempuan itu sendiri ke dalam kategori “perempuan jalang”. (Prabasmoro, 2006:53).3.2.3 Kode SimbolikKesimpulan dari kode simbolik yang ditelaah dalam kelima unit analisis di atas adalah terdapat simbol-simbol yang menyatakan bahwa perempuan adalah objek seksual bagi pembaca laki-laki majalah FHM Indonesia.Pada akhirnya, simbol-simbol perempuan yang ada merujuk kepada suatu simbol dominan yaitu simbol dominasi laki-laki. Perempuan ini diarahkan oleh majalah ini untuk menarik di mata laki-laki dan merangsang secara visual bagi laki-laki. Kostum seksi yang digunakan, pose yang merangsang hasrat seksual, kemudian bagian-bagian tubuh subjek yang ditonjolkan, kesemuanya itu diarahkan mengikuti selera atau kesukaan laki-laki.3.2.4 Kode KulturalSetelah menganalisis kode kultural dari masing-masing unit analisis dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa lima foto yang diambil dalam majalah FHM Indonesia tidak mencerminkan kultur Indonesia. Kesimpulan ini didasarkan pada dua aspek yang dianggap mampu mengarahkan peneliti pada kode kultural tersembunyi, yakni kostum subjek dan pose subjek.Kostum subjek secara eksplisit dapat dikatakan terbuka atau memamerkan bagian-bagian tubuh tertentu dan menonjolkan keindahannya. Keadaan ini tentu tidaksesuai dengan kultur masyarakat Indonesia dimana dijelaskan Hidayana (2013: 60) dalam Jurnal Perempuan No.77 bahwa perempuan yang berpakaian mengumbar aurat, terbuka, dan seksi dapat diberi label perempuan ‘tidak baik’. Dengan begitu, subjek sebagai perempuan Indonesia yang tampak mengenakan pakaian yang ‘terbuka’ dapat dianggap sebagai ‘perempuan tidak baik’.Tidak hanya itu, perempuan dalam kelima unit analisis ini terlihat mengekspresikan seksualitasnya melalui beberapa bentuk gestur dan ekspresi yang diterjemahkan menjadi isyarat-isyarat merangsang laki-laki. Keadaan ini bertolak belakang dengan kultur masyarakat Indonesia. Perempuan dituntut untuk membendung dan mengontrol hasrat seksualnya. Setiap gerak tubuh perempuan seperti kerling mata, senyuman, cara duduk, dan lainnya selalu diawasi dengan ketat (Hidayana, 2013: 61).Perempuan yang menjadi subjek foto memang perempuan Indonesia, namun bagaimana majalah ini merepresentasikannya jelas bukan menggunakan kultur Indonesia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perempuan Indonesia pada majalah waralaba asal Britania Raya ini dikontruksi menggunakan kultur barat.3.2.5 Kode SemikSetelah melakukan analisis pada kelima foto yang menjadi unit analisis penelitian ini, penulis melihat bahwa perempuan yang menjadi subjek foto dalam majalah FHM Indonesia digambarkan sebagai objek seksual bagi pembacanya yang merupakan laki-laki. Dengan begitu FHM Indonesia turut melanggengkan mitos bahwa perempuan adalah objek seksual bagi laki-laki.Pada saat pembaca laki-laki melihat foto-foto ini maka terjadi sebuah alur yakni: memandang foto secara keseluruhan, mengidentifikasi aspek-aspek yang ada dalam foto, memandang bagian-bagian tubuh subjek sekaligus nilai-nilai sensualitasnya (berupa kualitas fisik, pose, dan lainnya), kemudian terjadi stimulasi seksual. Dengan begitu, terciptalah suatu konsep dimana perempuan dalam majalah ini adalah objek ‘tatapan’ laki-laki dan laki-laki adalah subjek atau pelaku ‘tatapan’. Konsep ini meminjam konsep Laura Mulvey, bahwa perempuan dipajang sebagai objek seksual yang berfungsi secara simultan bagi khalayak laki-laki yang dapat memperoleh kepuasan scopophilis dari kehadiran mereka.4. PembahasanGambaran perempuan dalam foto-foto yang ada pada majalah FHM Indonesia ini merupakan perwujudan dari objektivikasi perempuan. Terkait dengan objektivikasi, Star menguraikannya sebagai berikut:Objektivikasi adalah analisis yang digunakan untuk menjelaskan perlakuan-perlakuan terhadap perempuan (seringkali citra perempuan) yang mereduksi kaum perempuan menjadi pasif dan objek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan) daripada menampilkan perempuan sebagai subjek manusia seutuhnya. Gagasan yang berhubungan dengan objektivikasi antara lain: tatapan (gaze), stereotip, komodifikasi, tontonan (spectatorship), dan pembelajaran peran-peran gender (Sunarto, 2009:163).Pada lima foto yang dianalisis terdapat indikasi adanya dualitas objektivikasi perempuan, dimana perempuan dijadikan “santapan“ dan “tatapan“ pada majalah FHM Indonesia. “Santapan“ disini merujuk pada posisi perempuan sebagai objek komodifikasi yang dijual oleh FHM Indonesia kepada pembaca laki-laki. Kemudian “tatapan“ yang merujuk pada posisi perempuan sebagai objek seksual bagi pembaca laki-laki.Pada tahapan pertama, perempuan dalam majalah ini dijadikan sebagai “objek santapan“, dimana perempuan dijadikan komoditas yang dijual kepada para pembaca. Hal ini merupakan perwujudan dari gagasan dalam objektivikasi yang diutarakan diatas, yakni komodifikasi perempuan. Majalah FHM Indonesia adalah majalah dengan segmentasi pembaca utama laki-laki dewasa atau berusia 21 ke atas, atau yang dikenal sebagai ‘majalah pria dewasa‘.Kemudian berbicara mengenai motif media dengan tema seperti ini. Hal ini pernah dideskripsikan Yasraf Amir Pilliang bahwa penggunaan unsur seks dan sensualitas di dalam berbagai media akibat diterapkannya prinsip ‘Libidinal Economy‘ atau merangsang hasrat setiap konsumen melalui strategi sensual komoditas (Syarifah, 2006: 7). Perempuan merupakan hal yang disukai laki-laki, majalah pria dewasa kemudian mengusung tema sensualitas untuk meraup lebih banyak keuntungan dari pembaca laki-laki yang menghasrati perempuan sensual.Kedua, perempuan dalam majalah ini dijadikan sebagai “objek tatapan“ yang merujuk pada posisi perempuan sebagai objek hasrat seksual bagi pembaca laki-laki. Subjek pada foto-foto ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan kesenangan pandang laki-laki, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Dengan begitu hal ini sesuai dengan gagasan objektivikasi yakni: tatapan (gaze). dimana perempuan adalah objek ‘tatapan’ laki-laki dan laki-laki adalah subjek atau pelaku ‘tatapan’.Namun terdapat temuan yang menarik disini. perempuan dalam kelima foto ini juga terlihat secara aktif mengekspresikan seksualitasnya dalam berpose. Penulismenyimpulkan bahwa perempuan dalam foto ini merupakan objek seksual aktif, yang berarti suatu kondisi dimana perempuan dalam majalah ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan male gaze, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Namun ia sendiri tidak bersifat pasif, melainkan memiliki keterlibatan aktif dimana ia terlihat secara sadar melakukan pose-pose yang kerap disebut “pose syur”.Terdapat suatu pola dimana semua berpusat pada pembaca laki-laki, termasuk pendefinisian seksualitas perempuan yang ada dalam majalah ini. Prabasmoro (2006: 293) menyebutnya dengan pemusatan seksualitas pada seksualitas laki-laki menyebabkan seksualitas perempua dimaknai dan ditandai sebagai sesuatu untuk seksualitas laki-laki .Laki-laki terkesan superior dan perempuan sebagai pihak dibawahnya. Hal ini yang kemudian sejalan dengan konsep penting teori standpoint, bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang bergantung pada konteks dan keadaan tertentu dimana perbedaan lokasi dalam kedudukan sosial akan menghasilkan standpoint yang berbeda, tergantung dari pengalaman masing-masing.Melalui posisi superior, laki-laki dapat melanggengkan kekuasaannya atas seksualitas perempuan. Salah satu bentuk kontrol laki-laki dalam seksualitas perempuan adalah objektivikasi seksual, yaitu perlakuan-perlakuan yang mereduksi kaum perempuan menjadi pasif dan objek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan) daripada menampilkan perempuan sebagai subjek manusia seutuhnya (Sunarto, 2009:163). Namun perempuan yang berada di posisi marjinal hanya bisa mengikutisudut pandang bentukan laki-laki bahkan terlibat aktif agar biasa diterima di lingkungan sosial. Feminis radikal kultural memandang bahwa objektivikasi seksual dimana laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek merupakan suatu bentuk opresi seksualitas.Objektivikasi perempuan dalam majalah FHM Indonesia terjadi karena adanya ideologi besar yang tersembunyi di dalamnya, yakni patriarki yang dianut oleh majalah ini dan masyarakat pada umumnya. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan.Patriarkisme menurut Bhasin (dalam Sunarto, 2009: 38), merupakan suatu pandangan yang menempatkan kaum laki-laki lebih berkuasa dibanding kaum perempuan. Pada penerapannya, seperti yang dijelaskan Soemandoyo (1999: 63) posisi laki-laki yang lebih dominan, lebih menentukan. Sedangkan posisi perempuan yang sub-ordinat, dalam beberapa hal, ditentukan dan dikuasai oleh laki-laki. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan. Keberadaan perempuan dalam masyarakat dilihat dari perspektif laki-laki.5. Penutup5.1 SimpulanPada majalah FHM Indonesia terdapat dualitas objektivikasi perempuan. Objektivikasi perempuan yang terjadi dalam majalah FHM Indonesia terdiri dari 2 poin. Pada tahapan pertama, perempuan dalam majalah ini dijadikan “objek santapan“ atau komoditas yang dijual kepada para pembaca. Ini merupakan perwujudan dari salah satu gagasan dalam objektivikasi, yakni komodifikasi seksual perempuan. Majalah ini mengusung tema sensualitas perempuan untuk meraup keuntungan daripembaca laki-laki. Kedua, perempuan dalam majalah ini dijadikan “objek tatapan“ atau objek hasrat seksual bagi pembaca laki-laki. Perempuan pada foto-foto ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan kesenangan pandang laki-laki, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Dengan begitu hal ini sesuai dengan gagasan objektivikasi yakni: tatapan (gaze).Objektivikasi perempuan berkaitan dengan struktur yang tanpa disadari telah lama tertanam di masyarakat yakni dominasi laki-laki. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan. Keberadaan perempuan dalam masyarakat dilihat dari perspektif laki-laki.5.2 RekomendasiSecara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan atau refrensi bagi peneliti-peneliti lainnya untuk dilakukannya penelitian yang lebih lanjut, detail dan komprehensif tentang objektivikasi perempuan. Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberi pemahaman bagi para praktisi industri media massa, mengenai ketimpangan relasi gender yang terjadi melalui penggambaran perempuan dalam media massa khususnya majalah. Para praktisi diharapkan dapat memperhatikan kepentingan kaum perempuan agar dapat melakukan pemberitaan atau penggambaran yang layak dan berimbang mengenai perempuan. Dengan demikian, tidak semakin mengecilkan posisi perempuan dalam struktur masyarakat.Secara sosial, penelitian ini berusaha mengungkap objektivikasi yang dialami perempuan dalam masyarakat sebagai implikasi dari ideologi dominan patriarki. Khalayak diharapkan dapat berpikir kritis dan terus mempertanyakan ketimpanganyang terjadi pada perempuan, sebagai berbagai bentuk diskriminasi yang dialami perempuan dalam masyarakat. Sehingga terwujudnya masyarakat yang berkeadilan gender.6. Daftar RujukanSumber Buku:Barthes, Roland. (2010). Imaji, Musik, dan Teks. Yogyakarta: Jalasutra.Brooks, Ann. (2011). Posfeminisme & Cultural Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: JalasutraBudiman, Kris. (2011). Semiotika Visual: Konsep, Isi, dan Problem Ikonitas. Yogyakarta: Jalasutra.Danesi, Marcel. (2012). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Ibrahim, Idi Subandy, (2011), Kritik Budaya Komunikasi, Yogyakarta: Jalasutra.Kurniawan, Heru. (2009). Sastra Anak: dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta: Graha IlmuPegram, Billy. (2008). Posing Techniques: For Photographing Model Portfolios. New York: Amherst Media.Prabasmoro, Aquarini Priyatna. (2006). Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra dan Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.Soemandoyo, Priyo. (1999). Wacana Gender dan Layar Televisi: Studi Perempuan dalam Pemberitaan Televisi Swasta, Jakarta, Yayasan Galang.Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan dan Perempuan. Jakarta: KompasSyarifah. (2006). Kebertubuhan Perempuan dalam Pornografi. Jakarta: Yayasan Kota Kita.Sumber JurnalApsari, Diani. (2010). “Visualisasi Wanita Indonesia dalam Majalah Pria Dewasa”. Wimba Jurnal Komunikasi Visual dan Multimedia Vol. 2 No. 1: hal 65-79.Hidayana, Irwan. M. (2013, Mei). “Budaya Seksual dan Dominasi Laki-Laki dalam Perikehidupan Seksual Perempuan”. Jurnal Perempuan Edisi 77 Vol.18. No.2: hal 57-67.Muhammad, Husein. (2013, Mei). “Bukan Soal Tubuh tetapi Ruh”. Jurnal Perempuan Edisi 77 Vol.18. No.2: hal 103-115.
Interpretasi Khalayak Terhadap Adegan Kekerasan Dalam Tayangan Sinetron Tendangan Si Madun Serial 3 Tommy Ardianto; Taufik Suprihatini; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.847 KB)

Abstract

Interpretasi Khalayak Terhadap Adegan KekerasanDalam Tayangan Sinetron Tendangan Si Madun Serial 3AbstrakPenelitian ini dilakukan dengan latar belakang bahwa tayangan sinetron Tendangan SiMadun Serial 3 yang hanya menghibur tapi juga memberikan pendidikan ternyata menonjolkanunsur kekerasan di dalamnya baik itu kekerasan fisik maupun kekerasan verbal. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana interpretasi khalayak terhadap adegankekerasan fisik maupun verbal yang terdapat dalam sinetron Tendangan Si Madun Serial 3. Teoriyang digunakan yaitu Teori Stimulasi Agresif (John Vivian,1995), Teori Pembelajaran Sosial(Albert Bandura,1996), dan Teori Kekerasan (Johan Galtung,1992). Penelitian ini menggunakanmetode penelitian kualitatif,yang memerlukan keterlibatan yang lebih mendalam denganpenonton itu sendiri, termasuk teknik wawancara untk mengetahui perilaku penonton dalamkaitannya dengan konsumsi media,dengan pendekatan analisis resepsi yang bertujuan untukmenemukan bagaimana khalayak dengan konteks sosial dan latar belakang yang berbedamembuat bermacam-macam pengertian mengenai teks media.Penelitian ini merupakan kajianparadigma interpretative atau content media berupa teks. Teknik pengumpulan data dilakukandengan menggunakan indepth interview kepada enam informan yang telah dipilih oleh penelitiyakni khalayak anak SMA yang aktif menonton sinetron Tendangan Si Madun Serial 3. (Rayner,Wall dan Kruger,2004:96)Hasil penelitian ini ditunjukkan dengan pembagian posisi khalayak menurut Stuart Hallada tiga yakni posisi dominan hegemonik, posisi dinegosiasikan, dan posisi oposisional. Sepertiinforman 1 yang masuk dalam oposisional meihat sinetron ini dari segi alur ceritanya yangdiceritakan oleh Si Madun yang selalu pantang menyerah dan ingin menjadi pemain sepak bolayang hebat. Sedangkan informan 2 yang masuk posisi dinegosiasikan menganggap bahwaadegan kekerasan dalam sinetron ini hanya sebagian dari akting, meskipun informan ini jugatidak terlalu suka dengan adegan kekerasan tersebut, kemudian informan 3 yang masuk dalamdominan hegemonik menganggap bahwa adegan kekerasan ini tidak baik untuk perkembaganremaja yang menontonnya dan hanya membuang waktu saja. Informan 4 masuk dalam dominanhegemonic karena sinetron tersebut dianggap tidak layak ditonton setiap hari karena terdapatadegan kekerasannya.Sedangkan informan 5 masuk dalam dinegosiasikan karena informan initidak suka dengan adegan kekerasannya namun adegan verbalnya tidak perlu dihilangkan karenaadegan tersebut menghibur.Informan 6 masuk oposisional karena informan ini lebih melihat darisegi alur ceritanya yang menarik tentang perjalanan Si Madun yang semangat dalam menjalanikehidupannya. Berdasarkan hasil FGD menunjukkan bahwa keenam informan setuju terdapatadanya adegan kekerasan di dalam sinetron Tendangan Si Madun Serial 3, baik itu kekerasanfisik maupun kekerasan verbal. Kekerasan fisik yaitu kekerasan nyata yang dapat dilihat,dirasasakan oleh tubuh, contoh: penganiayaan, pemukulan, menendang. Sedangkan kekerasanverbal yaitu kekerasan yang memiliki sasaran pada rohani atau jiwa sehingga dapat mengurangibahkan menghilangkan kemampuan normal jiwa, contoh : mengejek, memfitnah, menyinggungorang lain.Kata Kunci : sinetron, media televisi, khalayak, resepsi.Audience Interpretation Against Violence ScenesImpressions Soap Opera Tendangan Si Madun Serial 3abstractThis study was conducted with a background that sinetrons kick Si 3 Serial Madun onlyentertain but also educate turns accentuating the violence in it either physical violence or verbalabuse . The purpose of this study was to determine how the public interpretation of the physicaland verbal violence contained in the soap opera The Madun Serial kick 3 . The theory used isAggressive Stimulation Theory ( John Vivian , 1995) , Social Learning Theory ( Albert Bandura, 1996) , and Theory of Violence ( Johan Galtung , 1992) . This study used a qualitative researchmethod , which requires a deeper engagement with the audience itself, including interviewtechniques to know the behavior of the audience remedy in relation to media consumption , witha reception analysis approach that aims to discover how the social context and the audience withdifferent backgrounds make diverse understanding of the text media.Penelitian interpretativeparadigm , we study the form of text or media content . Data was collected using in-depthinterview to six informants who had been chosen by the researchers active high school audiencewatching soap operas Madun Serial kick Si 3 . (Rayner,WallandKruger2004:96)The results of this study indicated the position of the division according to Stuart Hallaudience that there are three dominant hegemonic position , the position negotiated , andoppositional position . Like the first informant who fall into this soap opera meihat oppositionalterms of the plot is told by Si Madun who never give up and always wanted to be a great footballplayer . While the two informants who entered a negotiated position assumes that violence in theshow is only part of the act , although the informant is also not too happy with the scenes ofviolence , then the informant 3 are included in the dominant hegemonic assume that violence isnot good for teenagers perkembagan watch and just a waste of time . Informant 4 into thedominant hegemonic because soap is considered not worth watching every day because there isscene 5 kekerasannya.Sedangkan informants included in the negotiated because the informantdid not like the verbal scenes of violence but the scene does not need to be removed because thescene because menghibur.Informan 6 incoming oppositional this informant is more seen in termsof the plot is interesting about the Madun the journey through life in the spirit . Based on theresults of focus group discussions showed that the six informants agreed there has been noviolent scenes in the soap opera The Madun Serial Kick 3 , both physical violence and verbalabuse . Physical violence is real violence that can be seen , dirasasakan by the body , eg torture,beating , kicking . While verbal violence is violence that has targeted the spiritual or soul thatcan reduce or even eliminate the ability of normal life , eg, ridicule, slander , offend others .Keywords : soap operas , television media , audiences , receptions .BAB IPENDAHULUAN1.1.Latar BelakangSinetron Tendangan Si Madun Serial 3 ini menceritakan perjuangan Madun untukmenjadi pesepak bola yang terkenal dan hebat, namun dilarang oleh kedua orang tuanya,disebabkan ayah dan ibunya menginginkan Madun untuk menjadi Kyai atau Ustad saja,agar meniru seperti ayahnya. Namun Madun tetap memperjuangkan cita-citanya untukmenjadi pesepak bola walaupun banyak rintangan yang harus dihadapinya dari orangtuanya maupun dari lingkungan sekitarnya. Termasuk Martin yang selalu menjadipenghalang bagi Madun saat berada di lapangan,begitu juga ayahnya Martin,yangbernama Safe’i ini selalu menggunakan berbagai cara untuk menghalangi keinginanMadun untuk menjadi pesepakbola terkenal.1.2. Perumusan MasalahTendangan Si Madun Serial 3 merupakan sinetron yang cukup banyak disukaikarena program acara ini mempunyai unsur hiburan yang cukup banyak khususnyadalam permainan sepak bola, terutama bagi anak –anak. Apalagi isi ceritanyamenampilkan teknik-teknik menendang dengan cara yang menarik sehingga penontonpun semakin ingin menonton terus, selain itu juga memberikan hiburan atau canda tawadari para pemain.Namun tayangan ini kerap diabaikan oleh penonton mengenai adegan kekerasanyang selalu ada dalam setiap episodenya. Apalagi sebelumnya terdapat larangan dariKomisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar tidak menayangkan sinetron ini, karena KPI jugamelarang film naruto, Sponge Bob serta sinetron Tendangan Si Madun Serial 3. Untukitulah dalam penelitian ini dirumuskan bagaimana Interpretasi khalayak terhadaptayangan Sinetron Tendangan Si Madun Serial 3 yang di peruntukkan bagi anak-anak?1.3. Tujuan Penelitian:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interpretasi khalayak dalam menontontayangan Sinetron Tendangan Si Madun Serial 3 di MNC TV.1.4. Signifikansi Penelitian :1.4.1 Signifikansi Teoritis : penelitian ini secara teoritis diharapkan mampumemberikan kontribusi dalam mengkaji teori Stimulasi Agresif (AlbertBandura,1974) dan teori Pembelajaran Sosial (McCleland,1954) yangberhubungan dengan adegan-adegan kekerasan yang terdapat didalam televisidigunakan untuk mengkaji khalayak terutama anak atau remaja untukmeninterpretasikan pendapatnya terhadap tayangan sinetron.1.4.2 Signifikansi Praktis : dalam tataran praktis, peneliti menganjurkan kepadainforman yaitu para remaja yang menonton sinetron Tendangan Si Madun agarmemilih tayangan yang baik dan pantas untuk ditonton yaitu acara yang jauhdari adegan kekerasan karena dapat membahayakan perkembangandirinya,karena masa remaja merupakan masa yang cepat merekam sesuatuyang dilihat dan didengarnya secara cepat masuk ke otak sehingga butuhdidampingi serta bimbingan dari orang tua.1.4.3 Signifikansi Sosial : dalam tataran sosial, pemahaman dari penonton SinetronTendangan Si Madun Serial 3 ini memberikan masukan berharga agar dapatmemberikan tayangan yang lebih bermanfaat dan mempunyai unsurpendidikan di dalamnya, sehingga khalayak dapat selektif untuk memilihsinetron yang layak untuk ditonton anak-anak maupun remaja.1.5 Kerangka Pemikiran Teoritis1.5.1 Teori Stimulasi AgresifTeori ini menjelaskan bahwa seseorang cenderung mempraktikkan kekerasan yangdiganbarkan di media, bahwa khalayak dengan mudah terpengaruh atau menirukanterhadap hal-hal yang dilihat nya secara terus menerus melalui media televisi khususnyatelevisi.Dalam National Television Violence Study 1995-1997 menyatakan bahwa:“Menonton kekerasan di Televisi cenderung lebih meningkatkan perilaku kekerasanpemirsa dalam satu situasi di banding situasi lainnya.(Vivian,2008:487)1.5.2 Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory)Selain teori stimulasi agresif , teori pendukung lainnya yaitu teori PembelajaranSosial , teori ini menjelaskan bahwa kita cenderung melakukan tindakan kekerasansetelah menonton tayangan kekerasan yang ada di dalam televisi. Selain itu jugamenjelaskan bahwa menonton televisi yang penuh dengan kekerasan akan membuatpenonton merasa takut atau terjadi kekhawatiran karena televisi menanamkan didalamgamabaran dunia yang kejam dan berbahaya. Teori ini dapat menganalisis kemungkinandampak kekerasan yang ditayangkan ditelevisi. (Winarso,2005:184)1.5.3 Teori KekerasanKekerasan mengingatkan kita pada sebuah situasi yang menyakitkan danmenimbulkan dampak negatif. Kekerasan mengilustrasikan sifat, aturan sosial, yangmerupakan suatu pelanggaran aturan dan reaksi sosial terhadap pelanggaran aturan yangkompleks dan seringkali bertentangan.Namun kebanyakan orang hanya memahamikekerasan sebagai suatu bentuk perilaku fisik yang kasar, keras, dan penuh dengankekejaman. Istilah kekerasan digunakan untuk menggambarkan perilaku, baik yangterbuka (overt) atau yang tertutup (covert), dan baik yang bersifat menyerang (offensive)atau bertahan (defensive), yang disertai dengan penggunaan kekeuatan pada orang lain.(Sunarto,2009:11)1.5. Metode Penelitian1.7.1 Pendekatan dan Tipe PenelitianTipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif ini menghasilkandata deskriptif berupa kata-kata tertentu atau lisan dari orang-orang dan perilaku yangdapat diamati. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untukmenjelaskan fenomena sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya.Riset kualitatif tidak menggunakan besarnya populasi atau sampel. Persoalan kedalaman(kualitas) data lebih ditekankan daripada banyaknya (kuantitas) data. Peneliti adalahbagian integral dari data, artinya peneliti ikut dalam menentukan jenis data yangdiinginkan. Peneliti menjadi instrumen penelitian yang harus terjun langsung di lapangan.Oleh karena itu, penelitian ini bersifat subjektif dan hasilnya lebih kasuistik, bukan untukdigeneralisasikan. (Kriyantono,2006:58-59)BAB IIPEMBAHASANGambaran pengalaman didapat melalui indepth interview atau wawancaramendalam yang dilaksanakan peneliti terhadap beberapa informan terhadap kegiatankomunikasi yang dilakukan oleh para informan.Informan dalam penelitian ini yaitu para pelajar yang menonton sinetron ini.Peneliti mengambil informan dari kalangan pelajar dengan alasan mereka aktif atauselalu menonton sinetron tersebut. Wawancara merupakan suatu cara untuk mengetahuipendapat para informan mengenai adegan kekerasan dalam tayangan sinetron TendanganSi Madun Serial 3. Hasil dari wawancara tersebut kemudian dimasukkan dalam opencoding. Open coding dilakukan untuk mendapatkan pengelompokkan hasil wawancarainforman yang berbeda-beda ke dalam kategori, konsep, dan tema-tema pokok.Selanjutnya para informan dilibatkan kembali dalam focus group discussion (FGD). FGDini digunakan untuk mengetahui pendapat dari enam informan. Pendapat dari keenaminforman ini akan dianalisis menggunakan analisis resepsi dari Stuart Hall (dalam Barandan Dennis K. Davis,2000:262) berdasarkan penggolongan interpretasi informanberdasarkan tiga posisi pemaknaan khalayak yaitu posisi dominan hegemonik, posisidinegosiasikan, dan posisi oposisional.Enam informan dalam penelitian ini, yakni:2.1. Identitas informanTabel 3.1. Identitas InformanNo Nama Usia JenisKelaminPendidikan Keterangan1. Muhammad Fikar Prasetya 16 Laki-laki SMA Informan 12. Sekar Sae Khoirunnisa 17 Perempuan SMA Informan 23. Putri Kemala Sari 16 Perempuan SMA Informan 34. Cahyaningtyas Wahyuningrum 15 Perempuan SMA Informan 45. Damar Pratama Putra 16 Laki-laki SMA Informan 56. Bisma Narendra 16 Laki-laki SMA Informan 6Untuk mengetahui lebih dalam mengenai interpretasi khalayak terhadap adegankekerasan dalam tayangan sinetron Tendangan Si Madun Serial 3, hasil wawancaradikelompokkan menjadi dua sub pokok bahasan. Yang pertama, terkait penggunaan unsurkekerasan dalam tayangan sinetron ini yang menjadi teks dominan dalam tayangantersebut. Dalam bahasan ini juga disertakan hasil FGD yang membahas masalahkekerasan dalam tayangan ini. Kedua, terkait dengan kapasitas tayangan Tendangan SiMadun Serial 3 sebagai sebuah program hiburan. Masing-masing tema pembahasan inimasih dibagi lagi ke dalam beberapa sub bahasanPembahasan akan dikelompokkan ke dalam dua sub judul yang mengambil temasesuai dengan interpretasi khalayak dari hasil wawancara mendalam dan satu sub judulyang berisi penggolongan interpretasi khalayak berdasarkan tiga posisi pemaknaankhalayak (posisi dominan hegemonik, posisi dinegoisasikan, dan posisi oppositional).Tiga sub judul tersebut adalah : Interpretasi khalayak terhadap tayangan sinetronTendangan Si Madun serial 3, Komodifikasi remaja terhadap tayangan sinetronTendangan Si Madun Serial 3 terkait dengan norma di Indonesia dan Pedoman PerilakuPenyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) , serta tipe dan posisi pemaknaaninforman terhadap adegan kekerasan dalam tayangan sinetron Tendangan Si MadunSerial 3.Menurut Stuart Hall (dalam Baran dan Dennis K. Davis, 2000:262) ada 3 (tiga) tipeposisi pemaknaan khalayak yakni Posisi Dominan Hegemonik, Posisi Dinegosiasikan,dan Posisi Oppositional :1. Posisi Dominan HegemonikPosisi Dominan Hegemonik : ketika preferred reading atau pendapat daripeneliti mengenai adegan kekerasan yang ada di sinetron Tendangan Si Madun Serial3 sama dengan pendapat dari informan.2. Posisi DinegosiasikanPosisi Dinegosiasikan : ketika preferred reading atau pendapat dari penelititidak sepenuhnya sependapat dengan informan mengenai adegan kekerasan yangterdapat di sinetron Tendangan Si Madun Serial 3. Informan ada yang berpendapatbahwa dalam sinetron tersebut mempunyai tujuan untuk menghibur.3. Posisi OppositionalPosisi Oppositional : ketika informan sama sekali tidak sependapat denganpreferred reading atau pendapat dari peneliti mengenai adegan kekerasan tersebut,mereka berpendapat bahwa sinetron Tendangan Si Madun Serial 3 tidak adakekerasannya sama sekali,sinetron tersebut hanya bertujuan untuk menghibur.BAB IIIPENUTUPPenelitian mengenai interpretasi khalayak terhadap adegan kekerasan dalam tayangansinetron Tendangan Si Madun Serial 3 ini merupakan penelitian dengan menggunakanmetode analisis resepsi. Dalam pelaksanaannya, proses penelitian ini dilakukan denganmenggunakan teknik wawancara mendalam secara tatap muka dengan enam informan.Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakan khalayak yang masihaktif menonton tayangan Tendangan Si Madun, dan pernah aktif menonton tayangantersebut. Dalam wawancara tersebut masing –masing informan menyampaikaninterpretasi mereka terkait dengan tayangan tersebut. Khalayak yang dalam hal inimerupakan penghasil makna, memaknai tayangan tersebut secara beragam, karena teksyang berbeda dapat menghasilkan pemaknaan yang beragam.5.1. KesimpulanBerdasarkan hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkan sebagai berikut:1. Kesimpulan dari peneliti terhadap keenam informan yang mempunyai beranekaragam pendapatnya mengenai adegan kekerasannya maupun isi dari cerita sinetronTendangan Si Madun Serial 3 bahwa mereka mempunyai pendapat masing –masingseperti informan 1 , informan 2 dan informan 3 yang berpendapat bahwa sinetronTendangan Si Madun Serial 3 ini lucu dan menghibur, namun mereka mempunyaiketidaksamaan pendapat sewaktu ditanya mengenai pendapatnya tentang adegankekerasan yang terdapat dalam sinetron tersebut seperti informan 1 yang berpendapatbahwa adegan itu hanya akting yang tujuan hanya menghibur, informan 2berpendapat bahwa tidak setuju dengan adegan keekrasan tersebut dikarenakan jikayang melihat anak-anak maka akan terjadi hal peniruan adegan kekerasan. Sedngkaninforman 3 berpendapat bahwa tidak setuju terhadap adegan kekerasan itudikarenakan sering dibuatnya kaget sewaktu adegan kekerasan itu muncul.2. Lain lagi dengan pendapat dari informan 4, 5 dan 6 yang mempunyai pendapat yanghampir sama tentang sinetron Tendangan Si Madun Serial 3 yaitu suka karenasinetron ini bertema olahraga sepak bola. Informan 4 yang menyukai sinetron tersebutdikarenakan berbeda dengan sinetron lainya dan sinetron ini bertema sepak bola yangmenurut informan 4 pemainnya juga keren. Mengenai adegan kekerasan tidakmenjadikan masalah buat informan 4 menurutnya selagi masih ada adegan yangmembuat informan 4 ini tertawa itu tidak menjadikannya masalah.Informan juga sukadengan sinetron ini dikarenakan sinetron ini bertema olah raga sepak bola yangmenurutnya berbeda dengan sinetron yang lainnya. Mengenai adegan kekerasandalam sinetron tersebut informan 5 berpendapat bahwa jam taynagnya supaya di ubahmenjadi lebih malam lagi pendapat ini sama dengan pendapat dari informan6.Informan 6 juga hampir sama dengan informan 5 suka dengan sinetron ini karenabertema sepak bola .dan mengenai adegan kekerasan informan 6 berpendapat hampirsama dengan informan 5 supaya jam tayangnya diubah menjadi lebih malam lagi.5.2. Saran5.2.1 Implikasi TeoritisPenelitian ini berusaha mengembangkan pemikiran akademis atau teoritik dalam kajianmedia dan budaya khususnya media televisi dan media anak-anak yang mengandungkekerasan. Dengan menggunakan teori Pembelajaran Sosial dari Albert Bandura yangberkaitan dengan penelitian ini yang menjelaskan bahwa tidak semua sinetrondidalamnya terdapat unsur kekerasan namun juga terdapat unsur pendidikannya sepertidijelaskan dalam teori ini, acara di dalam televisi hampir sebagian mengandung unsurpendidikan dan pengetahuan yang berguna untuk menambah informasi. Dikaitkan denganhasil penelitian yang diungkapkan semua informan bahwa menonton tayangan di televisidilihat dari alur ceritanya dan tidak melihat dari adegan kekerasannya. Namun padapenelitian selanjutnya dapat menggunakan metode yang berbeda yaitu metode penelitiankualitatif dan menggunakan unit analisis resepsi semisal acara film kartun lain yang jugamengandung unsur kekerasan didalamnya.5.2.2. Implikasi PraktisTelevisi, sebagai media yang paling digemari oleh anak-anak maupun remaja,hendaknya mendapatkan lebih banyak perhatian dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia).Sebagai pengatur Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS),KPI dapat memilah siaran mana yang aman untuk dikonsumsi anak-anak. Selain itu, KPIjuga dapat mengajak masyarakat Indonesia supaya lebih melek media siaran (medialiteracy) yang mereka saksikan setiap harinya.5.2.3. Implikasi SosialOrang tua diharapkan mendampingi putra-putri mereka saat sedang menonton televisi.Walaupun acara-acara tersebut ditujukan untuk anak-anak maupun remaja, seringkalilebih banyak mengandung muatan negatif daripada positifnya. Orang tua juga diharapkanmampu menjadi gatekeeper (penyaring) acara mana yang boleh dikonsumsi serta acaraacarayang ternyata tidak baik untuk dikonsumsi oleh anak-anak mereka. Karena anakanaktanpa pengawasan orang tua dapat mengalami kesulitan untuk membedakan hal-halyang benar-benar terrjadi pada kehidupan sehari-hari serta hal hal-ahal lain yang hanyaterdapat di televisi. Selain itu, sebagai penonton pasif, mereka dpat dengan mudahnyamenelan apa saja yang mereka tonton tanapa adanya filter dari orang tua, sehingga orangtua perlu waspada terhadap tayangan-tayangan yang ditujukan untuk anak-anak tetapimemiliki muatan atau konten yang tidak baik untuk masa pertumbuhan mereka, seperticontohnya adalah sinetron Tendangan Si Madun Serial 3 ini.DAFTAR PUSTAKABUKU:Ardianto, Elvinaro, dan Lukiati Komala Erdinaya.2005.Komunikasi Massa suatuPengantar.Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Arswendo.2008. Pengertian sinetron atau soap opera.Jakarta:Gramedia.Burhan, Bungin.1990.Teori Komunikasi Massa,Jakarta:Gramedia.Burton.2007.Komunikasi Massa.Jakarta:GramediaByerly, Ross.2006. Kekerasan di media televisi.Bandung:SalembaDarwanto.2001.Sejarah dan perkembangan sinetron di Indonesia.Jakarta:GramediaDominick.1983.Teori kekerasan dalam media televisi.Jakarta:Salemba Humanika.Effendy.1996.Industri Pertelevisian Indonesia.Jakarta: Salemba Pustaka.Hadi,Baran.2008.Interview informan dan Interview guide.Jakarta:Gramedia.Hall,Storey.2007.Persepsi dalam analisis data.Jakarta:Salemba Pustaka.Jersey,Jensen.1993.Analisis Data Kualitatif.Jakarta:Salemba Pustaka.Kriyantono,Ahmad.2006.Metodologi penelitian: Pendekatan dan Tipe PenelitianKualitatif. Jakarta : Gramedia.Littlejohn, Stephen W dan Karen A.Foss.2005.Teori Komunikasi.(Terj)Jakarta:Salemba Humanika.Littlejohn, Stephen W.1996.”Communication Theory”. In Encyclopedia of Rhetoricand Composition :Communication from Ancient Times to the InformationAge, edited by Theresa Enos , 117-121.New York : Garland.Lynn.H.Turner,RichardWest.2008.Teori Komunikasi, Analisis dan Aplikasi.Jakarta:Salemba Humanika.McQuail, Denis. 1987.Mass Communication Theory. An Introduction.London:Sage.Mohammadi,Sreberny.1990.Pengertian Analisis Resepsi,Bandung:SimbiosaRekatama Media.Rakhmat,2003.Teori Komunikasi Massa,Jakarta:GramediaSunarto,2009.Televisi, Kekerasan, dan Perempuan.Jakarta:GramediaSuyanto,Sujarwa.2005.Tayangan sinetron Indonesia yang mengandung unsurkekerasan.Bandung:Simbiosa Rekatama Media.Vivian,John.2008.Teori Komunikasi Massa,Edisi Kedelapan.Jakarta:Kencana.Wawan, Kuswandi.2008.Komunikasi Massa. Jakarta: GramediaWinarso,Wiryawan.2005.Komunikasi Massa,.akarta:GramediaWindhu.1992.Teori Kekerasan Teori John Galtung.Jakarta: Salemba Humanika.SKRIPSI:Astuti, Indri.2010. Skripsi Penelitian “Menginterpretasikan Kekerasan DalamTayangan Komedi (Analisis resepsi terhadap tayangan Opera Van Java diTrans 7)” Universitas Diponegoro.Tripuspita,Hana.2010. Skripsi Penelitian “Naturalisasi Kekerasan dalam komediOpera Van Java (Analisis Semiotika)” Universitas Diponegoro.WEBSITE:Azis,I.2012.RatingSinetrondiTelevisi(http://hiburan.kompasiana.com/televisi/2013/07/01/ac-nielsen-rating-dan-pesanan/,diakses tanggal 11 November 2012, jam 13.00)Hermanto,Budi.2013.Acara tayangan Sinetron Tendangan Si Madun Season3(http://televisi_sinetrontendangansimadunseason3.com/,diakses tanggal 1 Juli 2013,jam 16.00)Budiono,Ardi.2013.kekerasanpadasinetronanakanak(http://wikipedia.kekerasan.sinetronanak-anak.com/,diakses tanggal 6 Maret 2013,jam 21.00)
Produksi Program Kebudayaan “Koboy Melukis Pusaka Jawa” Pada Program Acara Sluman Slumun Semarangan di Cakra Semarang Tv Wisnuadi Trianggoro; Djoko Setiabudi; I Nyoman Winata
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.609 KB)

Abstract

Produksi Program Kebudayaan “Koboy Melukis Pusaka Jawa” PadaProgram Acara Sluman Slumun Semarangan di Cakra Semarang TvABSTRAKVideo dokumenter merupakan salah satu produk jurnalistik dalambentuk audio visual. Terdapat tim yang bekerja dari pra hingga pasca produksiuntuk pembuatannya, dokumentaris dalam hal ini menjabat posisi sebagaicameraperson dan merangkap sebagai editor. Pemilihan posisi tersebutmerupakan kemauan dan kemampuan jurnalis dalam menjalankan proyekdokumenter ini. Dokumentaris berkerja sesuai dengan naskah sekenario yang dibuat oleh sutradara. Dokumenter Komunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy)yang berjudul “Koboy Melukis Pusaka Jawa” menampilkan sekumpulan anakmuda yang gemar mengikuti kegiatan pewayangan di Sobokartti. Anak-anakmuda ini bersepakat untuk menggelorakan semangat cinta wayang padamasyarakat Semarang dan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap duniapewayangan. Namun sayangnya tidak banyak generasi muda yang tertarik kepadawayang kulit. Wayang kulit selama ini identik dengan generasi lama atau orangtua, kuno, serta kolot untuk anak muda saat ini, karena bahasa pengantarnyabahasa Jawa yang tidak populer lagi di kalangan generasi muda. Untuk menarikminat generasi muda pada wayang sebagai kesenian tradisional, akhirnya merekaberdua berusaha memberikan inovasi terhadap pewayangan dengan sentuhankreatif yaitu dengan membuat sebuah wayang kreasi baru, yaitu denganmenggunakan fiber, tekson, kardus, serta e-wayang yang bisa diaplikasikanmenjadi komik, poster, video animasi, dan yang bersentuhan dengan bidangdigital teknologi agar bisa lebih mendekatkan dan menarik minat anak mudasekarang.Mereka sangat totalitas dalam menggelorakan semangat cintawayang pada masyarakat semarang dan menghimpun siapa saja yang berminatterhadap dunia pewayangan, tergambar pada kegiatan-kegiatan yang dilakukanoleh Koboy. Dari sekolah ke sekolah mereka bawa tongkat estafet budaya wayangyang diwariskan oleh nenek moyang untuk mengenalkan kembali ke anak-anakmuda saat ini, Koboy menjembatani dengan ketulusan mereka, ketekunan sertasemangat dan upaya-upaya agar anak muda semakin mengenal dan bangga sertadapat ikut menjaga kelestarian seni tradisional wayang dalam wadah komunitasKomplotan Bocah Wayang atau Koboy. Melalui Koboy, diharapkan wayang bisalebih dekat dengan masyarakat khususnya anak muda.Alat yang digunakan oleh jurnalis cameraperson dalampengambilan gambar adalah DSLR. Jurnalis menggunkaan kamera DSLR karenapenggunaannya di Semarang TV sudah memiliki standart HD dalam setiapprogamnya, tentunya aspek itu perlu di perhatikan. Proses editing dilakukanberdasarkan naskah editing yang dibuat oleh sutradara. Editor melakukanpemotongan di setiap gambar sesuai dengan naskah editing yang dibuat olehsutradara, selain itu editor memberi beberapa efek untuk menambah estetika.Visual effects yang digunakan dokumentaris dibagi menjadi 3 antara lain yaituAudio Transitions, Video Effects, VideoTransitions. Dalam proses editing jurnalismenggunakan aplikasi Adobe Premier CS 5Kata kunci: jurnalis, camera person, Editor, Wayang, Koboy.ABSTRACTVideo documentary is one of audio-visual journalism product .There is a team working from pre to post-production to production, documentaryin this case serves as a cameraperson and a concurrent position as editor . Theselection of these positions is the willingness and ability of journalists to carry outthis documentary project . Documentary work in accordance with the scenarioscript made by the director . Komunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy)entitled “Koboy Draws Java‟s Heritage” featuring a bunch of young people wholove to take part in Sobokartti puppet . They are agreed to foster a spirit of lovepuppets in Semarang and gather people who are interested in the puppet world .But unfortunately not many young people are attracted to the shadow play .Wayang kulit is synonymous with the old generation or the old , ancient , and oldfashionedfor today's youth , because language introduction to the Java languageis no longer popular among the younger generation . To attract young people tothe puppet as traditional art , finally they both tried to deliver innovation to thepuppet with a creative touch to create a new puppet creations , using fiber , tekson, cardboard , as well as e - puppets that can be applied into comics , posters , videoanimation , and is in contact with the field of digital technology in order to getcloser and attract young people today .They are very total in spreading spirit of love puppets in Semarangand raise public who are interested in the puppet world , reflected in the activitiesundertaken by Koboy . From school to school they carry the baton puppet cultureinherited by the ancestors to introduce back to young kids today, Koboy bridgewith their sincerity , passion and perseverance as well as efforts to bring moreyoung people to know and be proud of and care for preservation of traditional artpuppets Komplotan Bocah Wayang or Koboy gang. Through Koboy , puppet isexpected to be closer to the public, especially young people .The tools used by the camera person is DSLR camera. Journalistsuse DSLR cameras because of the standart in TV program. The process of editingscript created by the director . Editor cuts in each image according to the script,and also gives some effect to add to the aesthetics . Visual effects are useddocumentary is divided into 3 parts : Audio Transitions , Video Effects ,VideoTransitions . In documentary, journalists using Adobe Premier CS 5 forediting.Keywords : Reporter , Camera Person , Editor , Puppet , Koboy .PENDAHULUAN1.1. Latar BelakangKegiatan Jurnalistik sangat berkaitan erat dengan media massacetak maupun elektronik, karena publikasi di media massa adalah salahsatu syarat utama agar sebuah produk tersebut dapat dikatakan sebagaiproduk jurnalistik. Media massa elektronik salah satunya televisimerupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasisecara cepat dan mampu mencapai pemirsa dalam jumlah banyak dalamwaktu bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditampilkan telahmampu menarik minat pemirsanya , dan mampu membius pemirsanyauntuk selalu menyaksikan berbagai tayangan yang disiarkan televisi.Terlebih lagi TV merupakan media yang menyuguhkan tampilan melaluibentuk audio visual (suara dan gambar) sehingga tentunya membuatmasyarakat lebih tertarik kepada televisi daripada media massa lainnya.Banyaknya audien televisi mejadikannya sebagai medium dengan efekyang besar terhadap orang, kultur dan juga terhadap media lain. Sekarangtelevisi adalah media massa dominan (Vivian, 2008:225).Televisi menjadi media komunikasi massa yang tidak terpisahkandengan masyarakat. Tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi jugamedia hiburan dan edukasi bagi masyarakat. Masyarakat dari segala usiamenjadi sangat akrab dengan TV. Banyaknya audien televisimejadikannya sebagai medium dengan efek yang besar terhadap orang,kultur dan juga terhadap media lain. Sekarang televisi adalah media massadominan (Vivian, 2008:225). Berbicara tentang televisi akan membawapada program-program yang ditayangkan di dalamnya, ada komedi situasi,berita, reality show, kuis, permainan dan salah satunya dokumenter.Dokumenter sebagai salah satu produk jurnalistik menjadi suatu programyang penting untuk tayang pada suatu stasiun televisi. Dokumenter sebagaisalah satu produk jurnalistik memiliki konten lengkap untuk dikonsumsi.Dokumenter mampu memberikan informasi, pendidikan, sekaligus hiburansecara mendalam terhadap suatu objek untuk audien.Beberapa jenis dan bentuk pengembangan documenter televisimeliputi expository documenter (penutur tunggal narrator), documenterdrama, news feature, reality show dan investigasi. Kami sebagai jurnalisingin mebuat sebuah produk jurnalistik dalam bentuk news feature denganformat documenter yang nantinya akan di publikasikan melalui mediatelevise. Alasan menggunakan format documenter karena kontendidalamnya lebih lengkap, yaitu seperti unsur informasi, ilmupengetahuan, dan yang dominan unsure hiburan yang kreatif (fachrudin,2012:314). Kami ingin mengangkat salah satu kesenian tradisional yangmulai terpinggirkan bahkan mulai ditinggalkan oleh anak muda khususnyaadalah kesenian wayang. Wayang selama ini kita kenal sebagai kekayaanbudaya jawa. Wayang telah menjadi etos dan pandangan hidup masyarakatjawa. Bahkan wayang menjadi esensi budaya jawa. Bagi masyarakat Jawa,wayang tidaklah hanya sekedar tontonan tetapi juga tuntunan.Wayangbukan hanya sekedar sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai mediakomunikasi, media penyuluhan dan media pendidikan. Wayang telahmenjadi asset kebudayaan nasional, maka kewajiban itu berarti terletak dipundak masyarakat Indonesia seluruhnya.Tetapi tentulah masyarakat Jawakhususnya yang harus merasa lebih terpanggil untuk nguri-uri kekayaanbudayanya yang indah dan sarat nilai-nilai budaya yang adiluhung ini.Berbicara tentang eksistensi keberadaan wayang di tengah-tengahmasyarakat. Wayang atau dunia pewayangan pastilah akan lenyapmanakala masyarakat sudah tidak menyukainya lagi. Dan kesukaan ataukegemaran masyarakat itu pun selalu berubah dari waktu ke waktu. Olehkarena itu yang paling penting dalam upaya pelestarian wayang adalahmengusahakan agar masyarakat tetap menyenangi dan mencintai wayang.Upaya strategis untuk melestarikan eksistensi wayang yang paling menarikminat para pemuda dan anak-anak untuk menyenangi dan mencintaiwayang. Dalam hubungan ini kita perlu ingat pada pepatah lama: “ Takkenal maka tak sayang” atau ungkapan Jawa dengan makna yang sama,yakni : Witing trisna jalaran saka kulina. Jadi, sejak kecil mereka harusdibiasakan untuk mengenal ( menonton ) wayang. Ini berarti frekuensipertunjukkan wayang perlu digalakkan atau dipersering.Berbicara mengenai upaya pelestarian wayang masih terhitungsedikit terutama generasi muda. Salah satunya komunitas koboy(komplotan bocah wayang) yang berpusat di Sobokartti yang melakukankegiatan pelestarian dan pengenalan wayang dengan pelatihan dalang bagianak maupun remaja dan proses pembuatan wayang dengan berbagaimedium. Meskipun mereka bukan pelaku seni atau orang yang terlibatdalam kegiatan pewayangan namun kegiatan yang mereka lakukan denganmengenalkan wayang melalui workshop ke sekolah-sekolah atau tempattempatumum, sudah menjadi salah satu cara pelestarian terhadap wayang.Meski hanya workshop, setidaknya kegiatan itu mampu memberi pesanuntuk mengenalkan tentang wayang terlebih dahulu kepada anak-anak danorang tua, apabila kedepannya wayang tetap tidak diminatipun itu bukanmerupakan kegagalan para koboy, yang terpenting adalah masyarakat yangterutama anak-anak mengetahui bahwa kita mempunyai peninggalankebudayaan yang sangat bernilai yaitu wayang. Koboy sangat berperandalam melestarikan wayang meski tidak mampu meneruskan kebudayaansebagai pelaku, setidaknya koboy dapat meneruskan tongkat estafetkepada generasi muda, yang seharusnya tongkat estafet tersebut dibawaoleh orangtua untuk anak-anaknya namun terbentur orang tua jamansekarang banyak yang tidak peduli atau malah tidak mengenal tentangpewayangan, maka para orang tua sendiri tidak mampu berperan untukmengenalkan wayang kepada anak-anaknya didalam sistem pelestariankebudayaan wayang saat ini.1.2. PermasalahanMaka kami selaku para jurnalis melihat adanya persoalan mengenaiwayang yang tersisihkan, dengan ini kami ingin mengangkat tema iniuntuk menumbuhkan kembali rasa bangga kepada budaya kesenianwayang melalui news feature yang dikemas dalam video documenter.1.3. TujuanProduk Jurnalistik yang akan kami produksi dalam bentuk videodokunmenter dengan mengambil contoh kongkrit Koboy (KomunitasBocah Wayang), yang bertujuan untuk menginformasikan kepada targetaudiens bahwa masih ada anak muda yang masih peduli dan mencintaiwayang, mereka mempunyai upaya untuk melestarikan seni budayawayang, dan dengan melalui news feature ini supaya bisa menumbuhkankembali rasa cinta dan bangga masyarakat terhadap budaya kesenianwayang.1.4. Kerangka Pemikiran1. Jurnalistik dalam DokumenterJurnalistik didefinisikan sebagai seni dan ketrampilan mencari,mengumpulkan, mengolah, menyusun dan menyajikan berita tentang peristiwayang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segalakebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga terjadi perubahan sikap, sifatpendapat, dan perilaku khalayak sesuai dengan kehendak para jurnalisnya.(Suhandang, 2004:21).Pengertian lain menyebutkan bahwa Good Journalism adalah kegiatan danproduk jurnalistik yang dapat mengajak kebersamaan masyarakat disaat krisis.Berbagai gambaran informasi dan krisis yang terjadi dan disampaikan mestimenjadi pengalaman bersama. Ketika sebuah kejadian terjadi, media mampumemberi sesuatu yang dapat dipegang oleh masyarakat. Fakta-fakta,penjelasan dan ruang diskusi yang menolong banyak orang terhadap sesuatuyang tak terduga kejadiannya. Downie dan Kaiser (dalam Santana, 2005:4).Video dokumenter merupakan sebuah produk jurnalistik berbentuk soft newsyang bertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan secaramenarik (Morrison, 2008:211). Sehingga dokumenter pun menjadi salah satudari sekian media yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi,pendidikan, pengaruh dan sekaligus hiburan untuk kahalayak atau cakupanmassa. Video dokumenter dapat diputar dan dipertunjukan kepada khalayakdan target audience melalui ruang-ruang komunitas maupun secara massiveyaitu televisi. Televisi sendiri telah menjadi media komunikasi massa yangtidak terpisahkan dengan masyarakat. Masyarakat dari segala usia termasuk didalamnya adalah remaja yang sangat akrab dengan televisi. Menurut Vivian(2008:16) televisi merupakan salah satu media yang tidak menuntutaudiensnya untuk terlalu aktif , bahkan cukup pasif saja (cool media). Mediaseperti televisi, radio dan film yang diputar pada televisi merupakan jenisjenismedia yang masuk kedalam kategori itu.Dalam televisi, pemirsa tidak membutuhkan usaha intelektual apapun untukmenikmati sebagian besar acara. Selain itu, televisi menjadi media yang cukupstrategis untuk menayangkan produk jurnalistik seperti video dokumenter,karena hampir seluruh kalangan bisa mengakses media ini. Beberapa stasiuntelevisi baik berskala lokal maupun nasional sendiri juga telah memiliki jenisprogram dokumenter. Sehingga dengan tayangnya video dokumenter ini ditelevisi diharapkan semua pemirsa, khususnya yang berusia antara 15-35tahun sebagai target audiens utama karena dalam masa-masa usia tersebutaudiens dapat mencerna makna dengan baik dari sebuah informasi yangdikemas dalam bentuk audio-visual ini.2. Gaya Bertutur dan Strukur DokumenterAda banyak tipe, kategori, dan bentuk penuturan dalam dokumenter. Dalambeberapa hal terlihat adanya kemiripan; yang membedakan adalahspesifikasinya. Beberapa contoh yang berdasarkan gaya dan bentuk bertuturitu, antara lain: laporan perjalanan, sejarah, potret atau biografi, perbandingan,kontradiksi, ilmu pengetahuan, nostalgia, rekonstruksi, investigasi, associationpicture story, buku harian, dan dokudrama.Dalam pembuatan dokumenter ini, kami para jurnalis memilih menggunakangaya rekonstruksi. Dalam tipe ini, pecahan-pecahan atau bagian –bagianperistiwa masalampau maupun masa kini disusun atau direkonstruksiberdasarkan fakta sejarah. Pada saat merekonstruksi suatu peristiwa,latarbelakang sejarah, periode, serta lingkungan alam dan masyarakatnyamenjadi bagian dari konstruksi peristiwa tersebut. Konsep penuturanrekonstruksi terkadang tidak mementingkan unsur dramatic tetapi lebihterkonsentrasi pada pemaparan isi sesuai kronologi peristiwa (Ayawaila, 2008:40-43).Selain itu terdapat pula tiga cara umum berkaitan dengan stuktur penuturandokumenter, yakni secara kronologis, tematis, dan dialektik. Berkaitan denganpembuatan dokumenter televisi Koboy, kami para jurnalis menggunakanstruktur penuturan tematis dimana cerita dipecah kedalam beberapa kelompoktema yang menempatkan sebab dan akibat digabungkan kedalam tiap sekuens.Struktur penuturan ini biasanya digunakan apabila fokus cerita adalah sebuahobjek lokasi yang merupakan tempat sejumlah orang melakukan aktivitasnya.Seperti halnya Perkumpulan Koboy dimana merupakan sebagai tempatberkumpulnya para para pencinta atau penggiat kesenian wayang dikalangananak muda dalam melakukan kegiatan-kegiatannya, yang berpusat diSobokartti.1.5. Signifikansi1. Signifikansi Praktis- Bagi media TV lokal yang menayangkan, video dokumenter ini bisamenjadi salah satu tayangan yang mendidik bagi masyarakat luas.- Video ini menjadi salah satu acuan bagi pelaku dokumenter baik yangsudah maupun baru akan memulai praktek dokumenter. Dokumenterini juga menjadi media komunikasi baru selain media-media yangtelah ada, seperti televisi, radio, surat kabar, internet dan lain-lain.2. Signifikansi Akademis- Laporan ini dibuat dalam bentuk video dokumenter, merupakan salahsatu dari aplikasi matakuliah konsentrasi jurnalistik dalam bidangjurnalistik televisi. Video dokumenter ini menjadi salah satu kontribusijurnalistik dalam betuk audio visual.- Agar tidak hanya melihat berita-berita hangat saja, tapi melihat sesuatujuga harus dapat mengedukasi ketika dibagikan.3. Signifikansi SosialVideo documenter ini akan dikemas semenarik mungkin agar dapat mudahditerima oleh permirsa/ masyarakat yang menonton, dan mengajakmasyarakat agar bisa lebih menyukai menonton tayangan videodocumenter, serta tertarik untuk menonton video documenter-documenterlainnya.1.6. Format sajian dan Konsep FilmFormat sajian yang digunakan dalam project ini adalah video Dokumenter.Dengan durasi 20 – 24 menit. Rencana akan ditayangkan di Cakra Tv Semarangdalam acara „Sluman-Slumun‟. Video dokumenter ini dibagi menjadi 3 segment,yaitu : Segment 1 : menyajikan sebuah permasalahan yang terjadi, karena jarakgenerasi muda dengan kesenian wayang sangat jauh, maka itu persoalanyang harus dipecahkan. Segment 2 : menyajikan sebuah komunitas koboy yang berusaha menjadipemecah permasalahan itu dengan berperan sebagai penyalur tongkatesatafet tersebut, agar kesenian wayang bisa sampai ke generasi muda. Segment 3 : menyajikan solusi-solusi yang ditawarkan oleh narasumber..1.7. Personel dan Job DescriptionKarya bidang ini dibuat oleh tim yang terdiri dari 3 mahasiswa dalamsebuah sistem kerja yang dirancang sedemikian rupa untuk penilaian yangindependen dalam laporan yang disusun. Personil dan Job descriptiontersebut sebagai berikut :1. Rizka Putra Dinanti (D2C607042) Producer : Penanggung jawab dalam suatu produksi acara Lobi dengan pihak stasiun televisi untuk penayangan Lobi Narasumber Penanggung jawab anggaran untuk produksi2. Wisnuadi Trianggoro (D2C009129) Juru Kamera (cameraman) : melakukan riset lokasi riset narasumber,riset stockshoot kota semarang, melakukan pengambilan gambarwawancara, melakukan pengambilan gambar saat kegiatan objekdokumenter, memindahkan file untuk editor. Editor : bertugas memilih dan menyambung gambar atau siaran audio.3. Yuniawan Eko (D2C009136) Program Director/Sutradara : Orang yang bertanggung jawab dalammengarahkan suatu proses produksi acara radio atau televisi. Penulis Naskah/Reporter : Orang yang berprofesi sebagai peliput ataupencari berita, menulis naskah atau melaporkan (to report) suatu eventatau peristiwa atau kejadian pada media radio tau televisi.1.8. Time ScheduleNOPROSES LANGKAH09/2013 10/2013 11/2013 12/20131 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 41 PraProduksi Riset danpembuatanproposalFilter proposalPembuatankonsep visualMembuatshooting scriptdan daftarinterviewPengajuanproposal keCakra TVDeal denganCakra TV2 Produksi Pengambilanstock shotsPengambilangambarPengambilangambarwawancaranarasumber3 PaskaproduksiEditing & mixingLaporan karyabidangFinal ReleasePENUTUPPertama-tama yang harus dilakukan dalam membuat sebuah news feature yaituriset objek yang akan anda angkat secara dalam, riset juga lokasi dan narasumberyang ingin dimunculkan, dan pilihlah dengan alasan yang tepat. Semisal dalampemilihan narasumber, pertimbangkan latar belakang objek, apakah objek yangakan diambil sebagai narasumber mempunyai kapasitas dalam tema dan judulyang akan diangkat atau tidak. Untuk. Penentuan lokasi untuk stockshoot danwawancara narasumber harus diperhatikan, dan jangan lupakan nilai etika danestetika.Kesimpulan4.1. Kesimpulan1. Jurnalis sesuai dengan naskah sekenario yang di buat oleh sutradara,video dokumenter ini menampilkan sebuah komunitas komplotanbocah wayang atau koboy yaitu sekumpulan anak muda yang cintadengan wayang. Koboy sendiri mempunyai visi misi menumbuhkanrasa cinta dan bangga kepada anak muda dengan melakukan kegiatanmengenalkan wayang ke sekolah-sekolah. Hal ini sangat menarik danpatut mendapatkan apresiasi yang tinggi.2. Terdapat beberapa tanggung jawab jurnalis sebagai Camera Personterutama pada saat persiapan produksi dan saat produksi berlangsung,yaitu: meninjau lokasi tempat pengambilan pada saat produksiberlangsung, menentukan dimana akan dilakukan wawancara,mempersiapkan kelengkapan alat yang akan digunakan, danmengambil beberapa stok gambar, baik dalam bentuk foto maupunvideo untuk kepentingan dokumentasi produksi. Stok gambar tersebutberfungsi untuk memberi gambaran awal pada saat produksi danmembantu pembuatan shoting script yang dilakukan sutradara besertapenulis naskah.3. Pendalaman tokoh narasumber dan objek yang akan diangkat menjadiperhatian khusus, karena dengan memiliki kedekatan yang lebih intim,tidak lupa juga riset objek yang akan diangkat dan stockshoot kotasemarang untuk memudahkan dalam menentukan angle saat prosespengambilan gambar.4. Jurnalis sebagai Camera Person sekaligus editor ikut membantusutradara melakukan proses pemilihan data. Serta Proses lainnyaadalahpemindahan data hasil gambar dari MMC ke Komputer PC dan lalu dihubungkan ke perangkat komputer editing dengan software tertentu.Software yang di pakai untuk transfer data adalah Adobe Premiere ProCS 5.5. Editor melakukan pemotongan di setiap gambar sesuai dengan naskaheditor yang dibuat oleh sutradara, selain itu editor memberi beberapaefek agar menjadi satu kesatuan. Visual effects yang digunakandokumentaris dibagi menjadi 3 antara lain yaitu Audio Transitions,Video Effects, VideoTransitions. Selain itu editor menambahkan titleyang dilakuakan untuk memperjelas video.6. Alat yang digunakan oleh jurnalis Camera person dalam pengambilangambar adalah DSLR. Dokumentaris menggunkaan kamera DSLRkarena fitur DSRL sangat memudahkan kami untuk mendapatkan hasilyang dibutuhkan televisi. Agar lebih mendalami pembuatan newsfeature ini, riset secara mendalam sangat perlu dilakukan agar sudutpandang/Angle news feature yang dikerjakan nanti memiliki kualitasyang dibutuhkan industri televisi.7. Pengetahuan tentang kamera, jenis lensa dan kegunaanya sangatmutlak bagi seorang juru kamera, sehingga jika terdapat kendaladilapangan khususnya pencahayaan, tidak menjadi hambatan ketikamemasuki proses editing.8. Penggunaan SOP dalam sebuah stasiun Tv sangat penting di berikankepada mahasiswa yang akan membuat karya bidang, karena ini akanberkaitan dengan produk yang akan dibuat oleh mahasiswa tersebut.Informasi tentang “apakah munculnya running text mengganggugrafis, tittle dalam karya tersebut. Pemotongan adegan, gambar ataustatement dan lain sebagainya. Pada proses ini jurnalis, melakukankesalahan perhitungan lebar running text. Pada saat editing grafis/tittleyang telah dibuat oleh editor tertutupi oleh keberadaan running texttersebut. Sehingga bisa membuat informasi yang disampaikan tidaksampai.Daftar PustakaBukuVivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana.Suhandang, Kustadi. (2004). Pengantar Jurnalistik. Bandung:Nuansa.Ayawaila, Gerzon R. 2008. Dokumenter dari Ide sampai Produksi.Jakarta: FFTV -IKJ PRESS.Ernanto. 2c005. Wawasan Jurnalistik Praktis. Y0gyakarta: M humAndi fachrudin. 2012. Dasar – Dasar Produksi Televisi. Jakarta:Kencana Prenada Media GroupMorisson. (2008). Manajemen Media Penyiaran : Strategi MengelolaRadio dan Televisi. Jakarta : Kencana.Santana, Setiawan K. ( 2005). Jurnalisme Kontemporer. Jakarta :Yayasan Obor Indonesia.Internethttp://sobokartti.wordpress.com/ (diakses tanggal 5 September 2013)http://www.shnews.co/detile-26402-kutang-antakusuma-vs-%E2%80%9Ctank-top%E2%80%9D.html (diakses tanggal 16 oktober2013)
PENGARUH TERPAAN PUBLISITAS HIJABERS COMMUNITY DI MEDIA MASSA DAN INTENSITAS INTERAKSI DENGAN PEER GROUP TERHADAP SIKAP DAN PERILAKU DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENGGUNAKAN HIJAB DI KALANGAN REMAJA Intan Mashitasari; Tandiyo Pradekso; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.248 KB)

Abstract

Nama : Intan MashitasariNIM : D2C009137Judul : Pengaruh Terpaan Publisitas Hijabers Community Di MediaMassa dan Intensitas Interaksi Dengan Peer GroupTerhadap Sikap Dan Perilaku Dalam PengambilanKeputusan Menggunakan Hijab Di Kalangan RemajaABSTRAKDewasa ini banyak bermunculan komunitas muslim di Indonesia, salah satunya adalah HijabersCommunity yang bertujuan mengajak muslimah untuk berhijab. Namun, meskipun HijabersCommuniy telah memberikan terpaan publisitas di media massa, masih banyak muslimah diIndonesia yang enggan memutuskan untuk berhijab. Memang tidak dapat dipungkiri bahwabanyak faktor yang melatarbelakangi seseorang dalam memutuskan untuk menggunakan hijab,salah satunya adalah faktor intensitas interaksi dengan peer group. Tujuan penelitian ini untukmengkaji seberapa besar pengaruh antara terpaan publisitas Hijabers Community di media massadan intensitas interaksi dengan peer group terhadap sikap dan perilaku dalam pengambilankeputusan menggunakan hijab di kalangan remaja. Teori yang digunakan adalah Teori NilaiEkspektasi (Expectancy-Value Theory) dari Martin Fishbein dan Teori Pemrosesan-Informasi(Information Processing Theory) dari McGuire. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitianini adalah tipe penelitian explanatory (penjelasan). Sedangkan Teknik pengambilan sampelnyaadalah Non Random dengan total sampel sebanyak 45 responden. Alat yang digunakan untukanalisis data adalah uji statistik Kendall’s tau_b, Konkordasi Kendall (W), dan Multinominallogistic regression.Hasil penelitian pada pengujian hipotesis pertama menunjukkan terdapat pengaruh yangsignifikan antara terpaan publisitas Hijabers Community di media massa dan intensitas interaksidengan peer group terhadap sikap remaja pada penggunaan hijab. Ditunjukkan pada angkasignifikan sebesar 0,000 dengan koefisien korelasi 0.927 dan 0,842. Lain halnya dengan hasilpengujian hipotesis kedua yang menunjukkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antarasikap remaja pada penggunaan hijab terhadap perilaku dalam pengambilan keputusanmenggunakan hijab di kalangan remaja. Hipotesis kedua dalam penelitian ini ditolak denganangka signifikan pada variabel sikap sebesar 0,171 atau p > 0,05. Variasi variabel dependen yangdapat dijelaskan oleh variabel independen hanya sebesar 7,5% dan sisanya sebesar 92,5%dijelaskan oleh sebab-sebab lain. Artinya adalah sikap hanya mampu memberikan kontribusipada perubahan perilaku hanya sebesar 7,5%, sehingga tidak cukup kuat pengaruhnya karenaperubahan perilaku 92,5% nya justru dipengaruhi oleh faktor lain di luar sikap.Kata Kunci : Hijabers Community, Peer Group, HijabABSTRACTNowadays many of the emerging muslim community in Indonesia, one of which is the HijaberCommunity which aims to spurring muslim women to thhe use of hijab. However, despiteHijabers Communiy has given exposure to publicity in the mass media, many muslim women inIndonesia who reluctantly decide to the use of hijab. It cannot be denied that a lot of factors thataffect a person's aspect in deciding to use a hijab, one of which is the factor intensity ofinteraction with peer group. The purpose of this research was to examine the extent of theinfluence of exposure publicity to Hijabers Community in the mass media and the intensity ofthe interaction with the peer group against attitudes and behaviors in decision-making using hijabamong adolescents. Theory used is Expectancy-Value Theory from Martin Fishbein andInformation Processing Theory of Mcguire. Research type used in this research is type researchexplanatory. While the technique of making sampelnya was a Non Random sample totaling asmany as 45 of the respondents. While the tools used for data analysis is statistical tests Kendall’sTau_b, Konkordasi Kendall (W), and Multinominal logistic regression.The results of research on the testing of hypotheses first shows that there are significantinfluence between of exposure publicity to Hijabers Community in the mass media and intensityof interaction with peer group with the teenager on the use of hijab. A significant number areshown on the registration of the correlation coefficient 0.000 and 0.927 and 0.842. Another is thecase with the results of the testing of hypotheses second which indicates there is no significantinfluence between attitude teenagers on the use of hijab against behavior in decision making useof hijab among teenagers. The second hypothesis in this research rejected with the number ofsignificant on the variables of attitude of 0,171 or p > 0,05. Variation the dependent variable thatcan be described by the independent variable is only 7.5 % and the rest by 92,5 % described byother causes. That means attitude could only contributed to change behavior only 7.5 %, so notstrong enough its influence because of 92,5 % behavioral change influenced by these factorsbeyond attitude.Keywords : Hijabers Community, Peer Group, Hijab.1. Latar BelakangDewasa ini, perkembangan media komunikasi yang semakin maju berdampak padaperubahan bentuk sarana komunikasi massa yang semakin beragam. Jika adanya perkembanganmedia komunikasi biasanya berkaitan dengan media massa sebagai sarana untuk berkomunikasi,kini tidak hanya media massa saja yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan.Namun, penyampaian pesan dapat pula dilakukan dengan membentuk suatu komunitas.Komunitas menjadi salah satu media komunikasi yang dapat menciptakan kedekatantersendiri dengan khalayak. Karena komunitas dianggap sebagai wadah yang tepat untukberkumpul dan mengekspresikan diri di antara orang-orang yang memiliki kesamaan hobi,interest, serta visi dan misi. Hal ini dapat terlihat dengan banyaknya komunitas-komunitas yangmuncul di tengah masyarakat. Salah satunya adalah munculnya Hijabers Community yang akhirakhirini ‘happening’ di kalangan remaja muslim Indonesia.Hijabers Community merupakan komunitas wanita berhijab yang didirikan pada 27November 2010 di Jakarta. Sekitar 30 perempuan dari berbagai latar belakang dan profesiberkumpul untuk berbagi visi mereka untuk membentuk sebuah komunitas yang mengakomodasikegiatan yang terkait dengan hijab dan muslimah. Dari fashion untuk studi Islam dan dari gayahijab untuk belajar Islam.Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai visi dan misi tersebut adalah melaluikegitan publisitas. Jika dibandingkan dengan sosialisasi, iklan, maupun berita, aktivitas publisitasakan lebih mudah masuk ke benak target sasaran. Sebab, kerja publisitas sering mempromosikanapa saja, siapa saja, di mana saja, dan dengan cara apa saja. Selain itu, publisitas sendirimempunyai fungsi untuk menarik perhatian dan menciptakan kesadaran dengan cara apapunyang kredibel dan relevan. Oleh karenanya, publisitas terkait dua pihak yakni pihak yangmendapatkan publisitas dan pihak yang membuat publisitas (Liliweri, 2011: 457).Sejak berdiri November 2010 lalu, dengan memanfaatkan media massa, baik itu mediatradisional, media elektroik, media luar ruangan, hingga new media, berbagai bentuk upayamewujudkan visi dan misi Hijabers Community pun telah banyak dilakukan. Sebagai bentukkegiatan terpaan publisitas di media massa tersebut, setiap Selasa berita mengenai HijabersCommunity menjadi rubik khusus di surat kabar Republika bagian Suplemen Republika yaituLeisure, dengan nama Hijabers Community Corner. Hijabers Community juga membuat bukumengenai fashion muslimah yang di dalamnya berisi ulasan cara bergaya dan berhijab stylistyang terinspirasi dari street style wanita modern di Eropa. Bahkan untuk menunjukkaneksistensinya, Hijabers Community juga membuat fans page di new media berupa blogkomunitas, Facebook, Twitter, Instagram, dan Account Youtube yang selalu mengupdateinformasi-informasi seputar hijab dan muslimah.Langkah Hijabers Community untuk mengajak muslimah di Indonesia agar tidak ragu dalamberhijab juga banyak diikuti oleh komunitas muslim di kota-kota besar di Indonesia, salahsatunya Kota Semarang yang menyebut dirinya sebagai Hijabi Community Semarang. Secaragaris besar, komunitas yang didirikan pada Juni 2011 ini memiliki fokus orientasi yang samadengan Hijabers Community. Dengan anggota kurang lebih 300 wanita muslimah di Semarangdan jumlah followers twitter yang mencapai 985 serta 3.674 orang teman di facebook, HijabiCommunity Semarang ini muncul sebagai wadah untuk menyampaikan syiar Islam dalammendorong muslimah di Semarang untuk menggunakan hijab. (http//14fo%20hs/berdirinyaforum-hijabers-fhb.html diunduh pada 13 Januari 2013 pukul 21:25 WIB).Lahirnya komunitas muslim di Semarang bukan tanpa alasan. Menurut Badan Pusat StatistikJawa Tengah, jumlah penduduk di Wilayah Semarang pada 2010 sebanyak 978.253 jiwa, dimana 873.421 jiwa (93,54 %) dari jumlah tersebut adalah pemeluk agama Islam. Hal inimenunjukkan bahwa Semarang adalah daerah yang sesuai untuk dijadikan sebagai sasaranpublisitas dari komunitas hijabers, sebab sebagian besar penduduknya adalah muslim.Publisitas yang dilakukan Hijabers Community merupakan upaya yang bisa berhasil bilamasing-masing individu dalam merespon pesan akan berperilaku seperti yang diharapkan.Keberhasilan bisa terjadi bila pesan yang disampaikan telah dapat menyentuh aspek behaviordari masing-masing individu.Secara global di awal 2010, berdasarkan Data Sensus Penduduk 2010: Badan Pusat StatistikRepublik Indonesia, tercatat jumlah penduduk Indonesia saat itu adalah 237.556.363 jiwa. Darijumlah penduduk tersebut, 207.176.162 jiwa atau sekitar 87,18% memeluk agama Islam.Sedangkan berdasarkan data dari Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM) KementerianPerindustrian terkait dengan acara Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF) 2012, menurut EuisSaidah, kurang lebih hingga 2012 hanya 20 juta penduduk Indonesia yang telah menggunakanhijab. (http://ikm.kemenperin.go.id/ diunduh pada 14 Januari 2013 pukul 10:15 WIB).Melihat minimnya pengguna hijab di Indonesia tersebut menunjukkan meskipun telahbanyak upaya strategi komunikasi yang telah dilakukan melalui kegiatan publisitas sejak 2010lalu, tidak berdampak pada perubahan perilaku muslimah dalam memutuskan untuk berhijab.Hal tersebut berarti kegiatan publisitas yang dilakukan Hijabers Community tidak efektif, sebabvisi dan misi telah dikomunikasikan, namun tetap tidak berdampak pada perubahan perilaku darimuslimah Indonesia.Memang tidak dapat dipungkiri jika banyak faktor yang melatarbelakangi seseorang dalammemutuskan untuk menggunakan hijab. Tidak hanya peran media massa saja yang dapatmemberikan rangsangan seseorang untuk memutuskan menggunakan hijab, namun faktorintensitas interaksi dengan peer group pun diduga mampu memberikan dorongan tersendiri.Intensitas interaksi dengan peer group dapat menimbulkan pengaruh perubahan perilaku/kepercayaan menuju norma yang dianut dalam kedekatan hubungan mereka. Bila sejumlah orangdalam peer groupnya mengatakan atau melakukan tindakan tertentu, ada kecenderungan orangorangyang terjalin kedekatan hubungan dengan peer group ikut berinteraksi untuk mengatakandan melakukan tindakan yang sama.2. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji seberapa besar pengaruh antara terpaan publisitasHijabers Community di media massa dan intensitas interaksi dengan peer group terhadap sikapdan perilaku dalam pengambilan keputusan menggunakan hijab di kalangan remaja.3. Kerangka TeoriPenelitian ini menggunakan Teori Nilai Ekspektasi (Expectancy-Value Theory) dariMartin Fishbein yang secara garis besarnya menjelaskan bahwa perubahan perilaku seseorangtidak hanya dipengaruhi oleh terpaan informasi saja, namun faktor lain di luar informasi punmemiliki pengaruh yang signifikan. Faktor lain di luar informasi tersebut adalah faktor intensitasinteraksi dengan teman. Perlu disadari bahwa setiap rangsangan yang melalui media massabukanlah satu-satunya rangsangan yang menerpa individu dalam suatu saat tertentu, melainkanmerupakan salah satu dari sekian banyak rangsangan yang ada. Dalam menerima pesan-pesankomunikasi dari media massa, orang tidak hanya memperoleh dari interaksinya dengan mediasaja, akan tetapi terkadang diperoleh melalui hubungan atau kontak sosial dengan orang lain(lingkungan). Hubungan sosial seperti itulah yang merupakan salah satu variabel yang turutmenentukan besarnya pengaruh media massa. Meskipun sesungguhnya individu yang menerimapesan, akan tetapi tidak dapat dipungkiri jika pengaruh kelompok sosial dan masyarakat melekatdan memberikan pengaruh.Meskipun asumsi dasar dalam Expectancy-Value Theory menjelaskan bahwa informasi danteman hanya mampu menyentuh aspek sikap (afektif) saja. Namun, dalam penjelasannyaFishbein mengemukakan bahwa fungsi sikap seseorang mampu mempengaruhi tujuan seseorangdalam melakukan sebuah perilaku (behavior) tertentu, karenanya perilaku seseorang seringditentukan oleh sikap mereka.Dan diperkuat dengan menggunakan Teori Pemrosesan-Informasi (InformationProcessing Theory) dari McGuire yang menjelaskan tentang adanya hubungan bahwa perubahanperilaku seseorang dapat terlihat dari sikapnya. Ketika seseorang mengalami perubahan sikapbisa jadi diikuti pula dengan perubahan perilaku. Sebab, perilaku seseorang seringkali ditentukanoleh sikap mereka. Pernyataan yang mengemukakan bahwa terdapat hubungan antara sikap danperilaku sesuai dengan penjelasan di atas diperkuat oleh Teori Pemrosesan-Informasi(Information Processing Theory) dari McGuire. Teori ini menyebutkan bahwa perubahan sikapterdiri dari beberapa tahapan yang masing-masing tahapannya merupakan kejadian penting yangdijadikan patokan untuk tahap selanjutnya, yaitu tahap perubahan perilaku. Tahapan-tahapantersebut adalah sebagai berikut :1. Pesan dikomunikasikan2. Penerima pesan memperhatikan3. Muncul rasa suka atau tertarik4. Penerima memahami pesan (mempelajari sesuatu)5. Penerima terpengaruh dan yakin dengan argumen dari pesan (perubahan sikap)6. Penyimpanan informasi pesan dalam memori7. Kesepakatan dan pemunculan kembali informasi8. Pengambilan keputusan berdasarkan pemunculan kembali informasi9. Berperilaku sesuai dengan keputusan(Severin & Tankard, 2005: 204).Selain itu, mengutip dari Werner J. Severin dan James W. Tankard, yang menyebutkanbahwa sikap memiliki tiga komponen yaitu : komponen afektif (mengacu pada kesukaan atauperasaan terhadap sebuah objek), komponen kognitif (mengacu pada keyakinan terhadap sebuahobjek), dan komponen perilaku (yang mengacu pada tindakan terhadap objek) menunjukkanbahwa ketika seseorang mengalami perubahan sikap diikuti pula dengan perubahan perilakuyang nyata. Misalnya, ketika remaja memiliki sikap tertarik dengan informasi tentang hijab yangdisampaikan oleh Hijabers Community, maka : Afektif, tertarik dan menyukai informasi-informasi yang berkaitan dengan trend berhijab Kognitif, yakin bahwa informasi tentang trend hijab tersebut baik dan sesuai untuk remajadan dapat membuatnya lebih gaya dan tampak lebih alim/ muslimah Perilaku, mencari informasi tentang trend hijab yang lebih rinci di media massa misalnya,mengumpulkan tutorial hijab, dan memutuskan untuk berhijab.4. Hasil PenelitianHubungan variabel terpaan publisitas Hijabers Community (X1) dan intensitas interaksidengan peer group (X2) dengan sikap remaja (Z) diketahui dari angka taraf signifikan dankoefisien korelasi hasil pengujian uji statistik Kendall's Tau_b. Taraf signifikan pada penelitianini menunjukkan angka signifikansi sebesar 0.000. Sedangkan koefisien korelasi ditunjukkandengan angka 0.927 dan 0,842 yang artinya Ha1 (Hipotesis Alternative) dalam penelitian iniditerima yaitu terdapat hubungan antara terpaan publisitas Hijabers Community di media massadan intensitas interaksi peer group dengan sikap remaja pada penggunaan hijab.Ketentuan pengujian hipotesis diterima atau ditolak adalah dengan melihat signifikansi dankoefisien korelasi. Nilai signifikansi yang digunakan adalah <1% dengan koefisien korelasi >0,3.Apabila signifikansi kurang dari sama dengan 1% dan koefisien korelasi lebih dari sama dengan0,3 maka Ha1 diterima dan Ho1 ditolak. Signifikansi untuk variabel terpaan publisitas danintensitas interaksi (X) adalah 0,000 berarti di bawah 0,01 dengan koefisien korelasi 0.927 dan0,842 (lebih dari 0,3) maka Ho1 ditolak dan Ha1 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwavariabel terpaan publisitas Hijabers Community di media massa (X1) dan intensitas interaksidengan peer group (X2) benar-benar berhubungan dengan sikap remaja pada penggunaan hijab(Z).Hubungan variabel independen terhadap dependen ini signifikan pada taraf kepercayaanpada level 0,01 sehingga dapat dikatakan hubungan variabel terpaan publisitas HijabersCommunity di media massa (X1) dan intensitas interaksi dengan peer group (X2) dengan sikapremaja pada penggunaan hijab (Z) sangat signifikan pada taraf kepercayaan 99%.Sedangkan pada Konkordasi Kendall (W) menghasilkan nilai koefisien korelasi sebesar0,925 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Dengan hasil tersebut dapat diinterpretasikanbahwa hipotesis pada Ha1 yang menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara terpaanpublisitas Hijabers Community dan intensitas interaksi dengan peer group terhadap sikap remajapada penggunaan hijab diterima. Artinya bahwa tingginya terpaan publisitas yang disampaikanoleh Hijabers Community di media dan tingginya intensitas berinteraksi dengan peer group dapatmemberikan pengaruh yang signifikan terhadap sikap remaja pada penggunaan hijab.Pengaruh variabel sikap remaja pada penggunaan hijab (Z) terhadap perilaku dalampengambilan keputusan menggunakan hijab di kalangan remaja (Y) diketahui dari angka PseudoR-Square (nilai R2), Likelihood Ratio Test (angka taraf signifikan), dan Parameter Estimates(angka persentase variabel prediktor).Perhitungan Pseudo R-Square pada penelitian ini menunjukkan anka R2 sebesar 7,5%, yangberarti variasi variabel dependen (perilaku dalam pengambilan keputusan menggunakan hijab dikalangan remaja) yang dapat dijelaskan oleh variabel prediktor adalah hanya sebesar 7,5% dansisanya sebesar 92,5% dijelaskan oleh variasi lain di luar model. Intinya adalah semakin kecilnilai R2 berarti semakin terbatas kemampuan prediktor atau variabel independen (X) dalammenjelaskan variasi variabel dependen (Y).Sedangkan perhitungan Likelihood ratio test menunjukkan kontribusi setiap variabelprediktor terhadap model sebesar 0,171. Yang berarti bahwa variabel prediktor tersebut tidakmemberikan kontribusi pada model atau bisa dikatakan tidak memberikan pengaruh padavariabel dependen yaitu perilaku dalam pengambilan keputusan menggunakan hijab di kalanganremaja karena angka pada taraf signifikan Likelihood ratio test adalah p > 0,05 yaitu 0,171. Padaperhitungan Parameter Estimates, diperoleh hasil bahwa sikap remaja pada penggunaan hijabtidak mempengaruhi probabilitas remaja dalam memutuskan menggunakan hijab dengan nilaikoefisien -0,061 dan signifikan pada 0,691 atau p > 0,05 dengan nilai Odd Ratio 0,941.Berdasarkan semua perhitungan dalam Multinominal Logistic Regression di atas dapatdisimpulkan bahwa penelitian dalam Ha2 ini tidak signifikan sehingga Ha2 ditolak yang artinyatidak terdapat pengaruh yang signifikan antara sikap remaja pada penggunaan hijab (Z) terhadapperilaku dalam pengambilan keputusan menggunakan hijab di kalangan remaja (Y).5. KesimpulanDari hasil penelitian pengaruh antara terpaan publisitas Hijabers Community di media massadan intensitas interaksi dengan peer group terhadap sikap dan perilaku dalam pengambilankeputusan menggunakan hijab di kalangan remaja dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :a. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan uji statistik Kendall’s Tau_b danKonkordasi Kendall (W) didapatkan hasil bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antaraterpaan publisitas Hijabers Community (X1) dan intensitas interaksi dengan peer group (X2)terhadap sikap remaja pada penggunaan hijab (Z). Yang artinya semakin tinggi terpaanpublisitas yang disampaikan oleh Hijabers Community di media massa dan semakin tinggiintensitas interaksi dengan peer group maka sikap remaja terhadap penggunaan hijab positif.b. Lain halnya dengan hasil pengujian hipotesis kedua. Berdasarkan pengujian hipotesis keduayang menguji adanya pengaruh antara variabel sikap (Z) terhadap variabel perilaku dalampengambilan keputusan (Y) didapati hasil bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikanantara sikap remaja pada penggunaan hijab terhadap perilaku dalam pengambilan keputusanmenggunakan hijab di kalangan remaja. Yang artinya meskipun sikap remaja terhadappenggunaan hijab menunjukkan sikap positif namun tidak berpengaruh pada perilaku remajadalam memutuskan untuk menggunakan hijab.6. Daftar PustakaBungin, Burhan. (2006). Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan DiskurusTeknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Prenada Media Group.Fajar, Marhaeni. (2009). Ilmu Komunikasi: Tori dan Praktik. Jakarta: Graha Ilmu.Ghozali, Imam. (2009). Analisis Multivariate Lanjutan Dengan Program SPSS.Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Hurlock, Elizabeth B. (1980). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan SepanjangRentang Kehidupan. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama.Kriyantono, Rachmat. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Liliweri, Alo. (2011). Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta: Kencana.Nina Winangsih Syam & Dadang Sugiana (2001). Perencanaan Pesan dan Media.Jakarta: Pusat Penerbit Universitas Terbuka.Rakhmat, Jalaluddin. (2006). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Santrock, John W. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja (Edisi Keenam). Jakarta:Erlangga.Slamet, Santosa. (2006). Dinamika Kelompok (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara.Sutisna. (2003). Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung: PT. RemajaRosdakarya Offset.Sugiyono, (2008). Statistik Non Parametris Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D. Bandung:Alfabeta.Venus, Antar. (2007). Manajemen Kampanye. Bandung: Simiosan Rekatama Mada.Vivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Prenada Media Group.Werner J. Severin & James W. Tankard. (2005). Teori Komunikasi : Sejarah, Metode,dan Terapan di Dalam Media Massa (edisi kelima). Jakarta: Kencana.W. Littlejohn, Stephen, & A. Foss, Karen. (2009). Teori Komunikai: Theories of HumanCommunication (Edisi 9). Jakarta: Salemba Humanika.W. Littlejohn, Stephen. (1996). Theories of Human Communication (5th edition).California: Sage Publication, Inc.Jurnal :Alfiana, Miftakhul N. (2013). Hubungan Terpaan Iklan Provider di Televisi dan InteraksiTeman Sebaya Dengan Perilaku Imitasi Bahasa Iklan Oleh Remaja. Skripsi.Universitas Diponegoro.Suhaemi, Susi. (2010). Pengaruh Intensitas Membaca Rubrik Mode Majalah Gadis danDukungan Orang Tua terhadap Perilaku Imitasi pada Penampilan Diri RemajaPutri. Skripsi. Universitas Diponegoro.Sunaryo, Ahmad. (2012). Hubungan Terpaan Iklan Produk Fashion di Majalah Remajadan Interaksi Peer Group terhadap Perilaku Konsumtif Remaja dalam Berpakaian.Skripsi. Universitas Diponegoro.Internet :http//%20hs/9747-cantik-dan-gaya-bersama-hijabers-community.html diunduh pada 13Januari 2013 pukul 21:15 WIBhttp//20hs/Hijabers%20Community%20Indonesia%20_%20Blog%20Telur.htm diunduhpada 21 Mei 2013 pukul 21:45 WIBhttp//14fo%20hs/berdirinya-forum-hijabers-fhb.html diunduh pada 13 Januari 2013 pukul21:25 WIBhttp://ikm.kemenperin.go.id/ diunduh pada 14 Januari 2013 pukul 10:15 WIBhttp://id.wikipedia.org/wiki/Jilbab diunduh pada 10 November 2013 pukul 20:37 WIB
Representasi Figur Ustaz/Ustazah pada Iklan Televisi Niki Hapsari Fatimah; Wiwid Noor Rakhmad; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Representasi Figur Ustaz/Ustazah pada Iklan TelevisiABSTRAKFenomena ustaz/ustazah masuk dalam ranah dunia entertaiment di Indonesiatidaklah menjadi hal yang tabu bahkan sudah menjadi trend. Termasuk keikutsertaanustaz/ustazh sebagai endorser untuk produk-produk komersial. Menunjukanbagaimana representasi figur ustaz/ustazah dalam iklan Larutan Penyegar Cap KakiTiga dan provider Telkomsel, peneliti menggunakan konsep yang dikemukakan olehJohn Fiske dalam buku Television Culture, yaitu tentang The Codes of Television.Setelah melakukan analisis sintagmatik pada level reality dan level representation,peneliti kemudian melakukan analisis secara paradigmatik untuk level ideology.Analisis paradigmatik dilakukan untuk mengetahui makna terdalam dari teks iklanLarutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel dengan melihat hubungan eksternalpada suatu tanda dengan tanda lain. Selain itu, analisis paradigmatik juga berfungsiuntuk menunjukkan adanya arti „kedua‟ dan realitas lain yang mungkin bersifatabstrak yang ada di balik gagasan-gagasan yang teridentifikasi dalam analisissintagmatik.Setelah melakukan analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik, makadidapat beberapa temuan penelitian, yaitu adanya eksploitasi simbol-simbolkeislaman, di mana figur ustaz/ustazah di jadikan sebagai komoditas, representasiustaz/ustazah sebagai icon dunia konsumsi, serta mitos di balik representasi figurustaz/ustazah pada iklan televisi. Temuan-temuan penelitian yang didapat olehpeneliti menjelaskan bahwa ustaz/ustazah yang ditampilkan di iklan televisi oleh sipembuat iklan bukan lagi sebagai ustaz seperti yang masyarakat kenal sebagaiseorang suri tauladan, seorang yang berilmu dan nasehatnya dituruti banyak orangatau pun penyambung wahyu Tuhan yang diterima nabi, melainkan sebagai iconkonsumsi dan tidak berbeda dengan endorser-endorser lain dari kalangan bintangfilm, penyanyi, dsb.Kata Kunci: Iklan, Representasi, Simbol-simbol keislaman, Ustaz/ustazah, Semiotika.ABSTRACTThe phenomenon ustaz/ustazah entered in the realm of entertainment world inIndonesia is not a taboo even has become a trend. Including participationustaz/ustazah as endorser of commercial products. Researcher use John Fiske‟s ideain Television Culture, about The Codes of Television to show how ustaz/ustazahfigure representation on Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga and Telkomsel commercialads. After conducted syntagmatic analysis at the level of reality and level ofrepresentation, researcher then conduct a paradigmatic analysis to the level ofideology. Paradigmatic analysis conducted to know meaning of text in LarutanPenyegar Cap Kaki Tiga and Telkomsel commercial ads within looking at eksternalrelation on a symbol with another. Besides, paradigmatic analysis usefull to show thesecond meaning and another reality that may be abstract behind some ideas whichindentified with sintagmatic analysis.After conducting sintagmatic analysis and paradigmatic analysis, then thereare some research finding, that is Islamic symbol exploitation where ustaz/ustazahfigure used as commodity, ustaz/ustazah representation as communication icon, andthe myth behind ustaz/ustazah figure representation on television ads. Researchfindings which obtained explain that exposed ustaz/ustazah on commercial tv ads byadvertiser is not the ustaz whom people know as role models/knowledgeable personwhose their advice obeyed/connector of God‟s revelation which accepeted by theprophet anymore, but as the commercial icon and hasn‟t difference from anotherendorsers fo movie stars, singers, ect.Keywords: Ads (advertising), Representation, Islamic symbols, Ustaz/ustazah,SemioticI. PendaguluanSekarang ini banyak sekali iklan di layar televisi yang menawarkan berbagaimacam produk dengan variasi dan kreativitas bermacam-macam. Pada umumnyaiklan televisi menampilkan model iklan wanita yang cantik, atau jika pria yangditampilkan berparas tampan. Seringkali iklan-iklan televisi menggunakan modeliklan yang dikenal oleh masyarakat seperti bintang film, bintang sinetron, penyanyi,peragawati atau peragawan, musisi, pelawak hingga tokoh ustaz/ustazah yangmerupakan simbol keislaman bagi masyarakat Indonesia. Pengiklan dalam hal iniprodusen memang menganggarkan dana untuk promosi dalam bentuk iklan televisidan sesuai kebutuhan dari produknya masing-masing.Popularitas televisi kemudian membuat televisi tidak lagi dipandang sebagaiseperangkat kotak elektronik yang berkemampuan audio visual, tapi lebih dari itu,televisi merupakan seperangkat media transfer nilai, ideologi serta budaya yang saratakan kepentingan dan perebutan pengaruh/kekuasaan. Popularitas juga dirasakan olehustaz/ustazah di ranah pertelevisian dengan memiliki banyak jamaah pada gilirannyamenyeret tokoh masyarakat tersebut untuk ikut terlibat dalam iklan-iklan produkkomersial. Sayangnya, ustaz/ustazah yang ditampilkan di iklan televisi oleh sipembuat iklan bukan lagi sebagai ustaz seperti yang masyarakat kenal sebagaiseorang suri tauladan, seorang yang berilmu dan nasehatnya dituruti banyak orang,penyambung wahyu Tuhan yang diterima nabi, melainkan sebagai icon konsumsi dantidak berbeda dengan endorser-endorser lain dari kalangan bintang film, penyanyi,dsb.Masyarakat di Indonesia sejatinya mengenal ustaz adalah pemuka masyarakat,karena dianggap sebagai orang yang berilmu dan nasehatnya diturut oleh banyakorang. Masyarakat menetapkan siapa yang bakal menjadi 'ustaz' mereka.Ustaz/ustazah yang merupakan simbol keislaman muncul di layar televesi tidak lagihanya berada di balik mimbar untuk berdakwah, melainkan menjadi endorser iklanproduk-produk yang bersifat komersial, seperti iklan untuk produk helm GM, AXIS,Ekstra Joss, Fresh Care yang dibintangi oleh ustaz Jefri Al Buchori (Uje), iklanLarutan Penyegar Cap Kaki Tiga, “Bintang Toedjoe Masuk Angin” oleh MamahDedeh, serta iklan Telkomsel, oleh ustaz Maulana, dan beberapa iklan produkkomersial lainnya. Kemuculan ustaz/ustazah pada iklan-iklan tersebut bukanlahsebuah kebetulan, melainkan tanda pada media iklan televisi yang bisa dikaji denganperspektif semiotika.Secara teoretis semua teks media termasuk iklan merupakan representasi darirealitas. Namun realitas tersebut bukan realitas yang sesungguhnya, akan tetapirealitas dalam versi si pembuat teks, yakni realitas yang dibentuk oleh pihak-pihakyang terlibat dalam proses mediasi teks. Demikian pun representasi figur paraustaz/ustazah merupakan realitas yang dikemas sesuai kebutuhan si pembuat iklan.Akan banyak arti ‟kedua‟ yang muncul dari tanda berupa representasi ustaz/ustazahyang ada pada iklan Telkomsel versi Ustaz Maulana, serta Larutan Penyegar CapKaki Tiga oleh Mamah Dedeh. Pada penelitian ini, peneliti akan membahas masalahseperti yang telah dirumuskan yaitu, bagaimana figur ustaz/ustazah sebagai simbolkeislaman direpresentasikan pada iklan televisi?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap makna ‟kedua‟ atau maknakonotatif dari representasi ustaz/ustazah sebagai simbol keislaman di dalam iklantelevisi.II. Kerangka Teori dan Metode Penelitian.Mengungkap makna di balik repesentasi ustaz/ustazah dalam iklan televisiartinya mengkaji tentang tanda. Ilmu tentang tanda yang mampu menemukan maknatersembunyi di balik sebuah teks seperti pada iklan yang melibatkan ustaz/ustazahadalah bidang semiotika. Semiotika adalah cabang ilmu yang berhubungan denganpengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistemtanda dan proses yang berlaku bagi pengguna tanda (Zoest, 1993: 1). Semiotika yangmengulas masalah-masalah, katakanlah, tanda tanpa disengaja dan konotasi dikenaldengan semiotika konotatif. Seperti munculnya figur ustaz/ustazah pada iklan televisitentu saja tidak kemudian diartikan sebagai siar agama seperti halnya ketikaustaz/ustazah tersebut berdiri di balik mimbar. Ada arti „kedua‟ di balik representasiustaz/ustazah sebagai simbol keislamaan.Memaknai representasi melibatkan faktor-faktor yang kompleks. Representasididefinisikan sebagai penggunaan “tanda-tanda” (gambar, suara, dan sebagainya)untuk menampilkan ulang sesuatu yang diserap, diindrakan, dibayangkan, ataudirasakan dalam bentuk fisik. Representasi bergantung pada tanda dan citra yangsudah ada dan dipahami secara kultural, dalam pemahaman bahasa dan penandaanyang bermacam-macam atau sistem tekstual secara timbal balik (Hartley, 2004: 265).Kemunculan Ustaz Maulana dan Mamah Dedeh pada iklan televisi misalnya,merupakan bentuk representasi, yakni mewakili suatu fakta figur ustaz/ustazah yangdikenal masyarakat sebagai pemuka agama. Melalui fungsi tanda „mewakili‟ kitamempelajari realitas.Agama memainkan peranan yang sangat penting di dalam mempertahankanikatan anatara individu dan kelompok yang lebih luas, baik sebagai dasar persekutuanmaupun sebagai sarana untuk mengungkapkan nilai-nilai yang di hayati bersama(Raho, 2013: 77). Ilmu sosiologipun memiliki pendekatan teoritis untuk mempelajariAgama di tengah masyarakat. Sosiolog Prancis Emile Durkheim mengidentifikasisalah satu fungsi utama agama untuk operasi masyarakat, adalah membangun kohesisosial. Agama menyatukan orang melalui simbolisme bersama, nilai-nilai, dan norma.Pemikiran keagamaan dan ritual mendirikan aturan fair play, mengatur kehidupansosial kita.Simbol merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam kehidupanberagama. Hubungan yang suci tidak dapat dilakukan tanpa simbol-simbol. Simbolsimbolkeagamaan tersebut membangkitkan perasaan keterikatan dan kesatuan padaanggota-anggota pemeluk agama yang sama. Memiliki simbol yang sama merupakancara efektif untuk semakin memperkuat rsa persatuan di dalam kelompok pemeluk.Dalam budaya dominan yang telah mapan di masyarakat. Indonesia yangmayoritas beragama islam, ustaz/ustazah sebagai simbol agama merupakan figuryang memiliki pengaruh terhadap pengikutnya. Tokoh agama seperti misalnyaustaz/ustazah adalah figur yang dijadikan panutan dan memiliki pengaruh pada parajamaah, ummat, atau pengikutnya dan dianggap memiliki kharisma. Kharismamerupakan suatu kualitas tertentu dalam kepribadian seseorang dengan mana diadibedakan dari orang biasa dan diperlakukan sebagai seseorang yang memilikanugrah kekuasaan adikodrati, adimunusiawi, atau setidaknya kekuatan/ kualitas yangsangat luar biasa.Ustaz/ustazah di mana istilah tersebut merupakan salah satu status yang ada ditengah masyarakat dan memiliki peranan. Sosiologi menggunakan duaistilah, status dan peran, untuk menggambarkan bentuk dasar interaksi dalammasyarakat (Kimmel & Aronson, 2010: 76). Status Ustaz/ustazah merupakanpencapaian status yang dianggap begitu penting sehingga membayangi, mendominasidan mengendalikan posisi di masyarakat serta menjadi status master.Peran sosial adalah set perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menempatistatus tertentu. Peran sebagai tokoh masyarakat dalam hal ini ustaz/ustazah, tentunyamerupakan representasi dari adanya sifat-sifat tanggung jawab, mampumenyampaikan pesan-pesan agama.Iklan adalah sebuah message, artinya bahwa iklan mengandung suatu sumberyang mengeluarkannya, yaitu perusahaan yang menghasilkan produk yangdiluncurkan dengan semua keunggulannya, suatu titik resepsi-penerimaan, yaitupublik, dan suatu saluran transmisi, yang disebut media (Barthes, 2007: 281).Untuk mengkaji iklan dalam perspektif semiotika, bisa dikaji lewat sistemtanda dalam iklan. Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri atas lambang, baikyang berupa verbal maupun yang berupa ikon. Iklan juga menggunakan tiruan indeks,terutama dalam iklan radio, televisi, dan film.Menunjukkan bagaimana representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi,peneliti menggunakan konsep yang dikemukakan oleh John Fiske dalam bukuTelevision Culture, yaitu tentang The Codes of Television. John Fiske menyatakanbahwa untuk menganalisis iklan di media televisi dibagi menjadi tiga level, yaitulevel reality, level representation dan level ideology. Pada level reality kode-kodeyang diamati dapat berupa penampilan, pakaian, riasan, lingkungan, gaya bicara, danekspresi. Sedangkan pada level kedua, yaitu representation meliputi kamera,pencahayaan, musik dan suara, penarasian, dialog, karakter, dan pemeranan. Danpada level terakhir, level ideology yaitu berusaha menampilkan kode-kode yangtersembunyi dalam sebuah gambar seperti patriarki, kelas, individu, feminisme danjuga kode-kode di balik representasi figur ustaz/ustazah pada iklan produk komersialdi televisi (Fiske, 2001: 4-5).Tiga level tersebut diurai dalam dua bagian, yakni analisis sitagmatik danparadigmatik. Pada analisis sintagmatik menjelaskan tanda-tanda atau makna-maknayang muncul dalam shot atau adegan dari berbagai aspek teknis yang merujuk padarepresentasi figur ustaz/ustaz pada iklan televisi pada level reality dan levelrepresentation. Level ideology akan diuraikan dengan analisis paradigmatik, dimanaanalisis paradigmatik berusaha mengetahui makna terdalam dari sebuah teks denganmelihat hubungan eksternal pada suatu tanda dengan tanda lain. Analisisparadigmatic berguna dalam penelitian representasi, dan khususnya untukmemastikan tanda apa yang telah dipilih pada pengeluaran yang lain (Hartley, 2004:221).III. PembahasanAnalisis sintagmatik menguraikan tanda-tanda atau makna-makna yangmuncul dalam shot-shot dan adegan-adegan yang terjalin dari berbagai kombinasiaspek teknis yang merujuk pada representasi figur ustaz/ustazah pada iklan LarutanPenyegar Cap Kaki Tiga yang dibintangi oleh Mamah Dedeh dan juga iklanTelkomsel yang dibintangi oleh Ustaz Maulana. Secara sintagmatik, iklan-iklantersebut akan dianalisis sebatas tanda-tanda yang muncul dari hal-hal teknis produksiiklan.Kode sosial dalam sebuah iklan televisi terlihat jelas dan nyata pada level ini,sehingga pemirsa bisa lebih dekat dengan unsur-unsur yang ada dalam iklan. Sepertisaat pemirsa melihat penampilan yang ditunjukkan oleh para endorser iklan.Penampilan yang ditambah dengan kostum dan riasan yang digunakan dan dipakaioleh para pemain akan memperjelas karakter seseorang dalam sebuah iklan.Lingkungan yang menjadi latar dalam iklan juga memberikan pengaruh yang sangatpenting dalam iklan. Bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh para pemain melalui mimikmuka dan ekspresi dapat membuat para pemirsa lebih memahami perasaan sangtokoh.Hal-hal dalam level reality telah diencode secara elektronik oleh kode-kodeteknis (technical code), sedangkan dalam level ke-2, yaitu level representation.Seperti halnya dalam produksi film, yang penting dalam sebuah iklan adalah gambardan suara, tanpa gambar dan suara yang mendukung maka tidak akan tercipta sebuahiklan yang bagus. Oleh sebab itu, untuk mendukung terciptanya gambar dan musikyang bagus terdapat beberapa aspek penting yang dibutuhkan. Aspek-aspek yangterdapat dalam level representation sebuah iklan bisa merepresentasikan pesan atauide yang ingin diutarakan oleh sutradaranya.Misalnya dalam level ini terdapat aspek kamera. Pengambilan gambar olehkamera akan membawa pemirsa kepada gambar-gambar yang dapatmerepresentasikan pesan dari sebuah iklan. Sebuah gambar dengan menggunakanteknik-tekniknya dapat membawa pemirsa mengenal tokoh-tokoh, tempat dansuasana dalam sebuah iklan. Dengan didukung pencahayaan yang baik, maka akanmenghasilkan gambar yang baik. Pencahayaan bertujuan untuk lebih memperjelasmaksud dari sebuah gambar. Demikian juga pada musik yang dapat mendukungterciptanya suasana dalam iklan. Dialog dan konflik juga menjadi aspek pentingdalam sebuah iklan. Dengan adanya konflik dan dialog yang menarik, maka akantercipta jalan cerita yang juga menarik.Secara garis besar pada level reality Mamah Dedeh dan Ustaz Maulana ditampilkan sesuai dengan statusnya di masyarakat, yakni dengan busanamuslim/muslimah sesuai dengan identitas agama islam, gaya bicara yang santun danpenuh ajakan, setting dan suasana yang akrab dengan statusnya sebagai ustaz/ustazahseperti tanah suci Mekah, dsb. Tetapi, masuk pada level representation aspek-aspekdi dalamnya mengerucut pada kepentingan si pembuat iklan. Seperti, pengambilangambar yang didominasi gambar produk komersial, dialog yang mengarah pada pesanpromosi produk, dsb.Berikutnya, pada analisis paradigmatik, berusaha mengetahui makna terdalamdari teks iklan Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel dengan melihathubungan eksternal pada suatu tanda dengan tanda lain. Selain itu, analisisparadigmatik juga berfungsi untuk menunjukkan adanya arti „kedua‟ dan realitas lainyang mungkin bersifat abstrak yang ada di balik gagasan-gagasan yang teridentifikasidalam analisis sintagmatik.Setelah melakukan analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik darirepresentasi figur ustaz/ustazah pada kedua iklan, maka didapat beberapa temuanpenelitian, yaitu adanya eksploitasi simbol-simbol keIslaman, di mana figurustaz/ustazah, tempat peribadatan, busana yang merupakan identitasmuslim/muslimah di jadikan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan untukmendapat keuntungan. Kemudian, ustaz/ustazah yang muncul dalam iklan televisitidak lain adalah penanda dan memiliki kesamaan dari dunia konsumsi itu sendiri.Ustaz Maulana dan Mamah Dedeh hadir dalam iklan-iklan tersebut hanyalahmewakili dunia pemakaian atau penggunaan produk-produk yang mereka iklankan,dengan kata lain representasi ustaz/ustazah pada iklan televisi hanya sebagai icondunia konsumsi. Temuan berikuntya adalah adanya mitos yang menganggap bahwasemua pesan yang disampaikan ustaz/ustazah adalah benar dan pantas dijadikanpanutan di balik representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi.IV. KesimpulanTeori semiotika konotatif milik Barthes membawa peneliti menemukan arti„kedua„ di dalam iklan Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel, dimanaMamah Dedeh dan ustaz Maulana yang merupakan figur ustaz/ustazah hadir dalamiklan televisi justru bukan sebagai penyampai pesan agama yang melainkanmenyampaikan pesan-pesan untuk mempromosikan produk komersial.Representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi untuk produk komersialpada akhirnya menggeser peran ustaz/ustazah di masyarakat. Jika peran merupakanset perilaku yang diharapkan pada seseorang yang memiliki status, dalam hal iniustaz/ustazah dengan perannya menyampaikan pesan Tuhan, maka representasiustaz/ustazah pada iklan televisi untuk produk komersial pesan ustaz/ustazah adalahmenyampaikan pesan promosi produk komersial yang diiklankan.Agama menurut Email Durkheim diidentifikasikan sebagai pembangun kohesimasyarakat salah satunya melalui simbol. Ustaz/ustazah merupakan salah satu bentuksimbol agama Islam dimana figur tersebut juga menjadi alat untuk membangunkohesi di masyarakat. Teori tersebut kemudian digunakan pembuat iklan untukmenggiring jamaah dari ustaz/ustazah yang memiliki kohesi tersebut untukmenggunakan produk yang sama atau yang digunakan oleh panutannya seperti yangdirepresentasikan dalam iklan.Representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi yang diperlihatkan peneliti,serta temuan-temuan penelitian yang didapat, diharapkan mampu membuat pembacasebagai penikmat televisi untuk lebih berfikir kritis ketika akan memaknai pesanpesaniklan televisi yang kenyataannya sarat akan kepentingan.Daftar PustakaBarthes, Roland. 2007. Petualang Semiologi. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.Fiske, J. 2001. Television Culture. London: Methuen & Co. Ltd.Hartley, John. 2004. Communication, Cultural, & Media Studies.Yogjakarta:Jalasutra.Kimmel, Michael. Amy Aronson. 2010. Sociology now: the essentials (2nd ed.).Boston: Allyn & Bacon.Stout, Daniel A. 2006. Encyclopedia of Religion, Communication, and Media.London and New York: Routledge.Zoest, Art Van. 1993. Semiotika. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.
Hubungan Tingkat Pendidikan dan Intensitas Mengakses Pemberitaan melalui Media Online dengan Citra DPR RI Rosita Kemala Sari; Tandiyo Pradekso; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.964 KB)

Abstract

Hubungan Tingkat Pendidikan dan Intensitas MengaksesPemberitaan melalui Media Online dengan Citra DPR RIABSTRAKLatar belakang penelitian ini didasarkan pada tingginya tingkat ekspos mediaonline terhadap penyimpangan – penyimpangan yang dilakukan DPR (korupsi,gratifikasi). Media mencitrakan seolah-olah DPR memang lembaga yang buruk.Akibatnya persepsi masyarakat mengenai citra DPR juga ikut buruk. Bagaimanaseseorang mencitrakan berasal dari kognisi seseorang dan di tandai dengan adanyapersepsi. Persepsi seseorang ditentukan oleh dua faktor yaitu media dan faktorpersonal seseorang. Dalam penelitian ini faktor personal yang sangat pentingdalam menilai kinerja DPR adalah tingkat pendidikan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikandan intensitas mengakses pemberitaan melalui media online dengan citra DPR RI.Teori utama yang digunakan pada penelitian ini adalah teori ekologi media dariMcLuhan. Pada asumsi kedua teori ekologi media mengatakan bahwa mediamemperbaiki dan memperjelas persepsi seseorang, walaupun ada faktor lain yangmempengaruhi yaitu faktor personal atau diasumsikan adalah tingkat pendidikan.Tingkat pendidikan akan berdampak pada bagaimana seseorang mempersepsikandan bagaimana mempersepsikan isu-isu yang berkembang.Penelitian ini merupakan tipe penelitian eksplanatif dengan pendekatankuantitatif, dan menggunakan paradigma positivistik. Populasi dalam penelitianini adalah warga kota Semarang yang berusia 16 – 50 tahun yang pernahmengakses pemberitaan melalui media online selama satu tahun terakhir. Sampelyang digunakan adalah non random dengan tekhnik accidental samplingdikarenakan jumlah populasi yang tidak diketahui dengan jumlah sampelsebanyak 50 responden. Berdasarkan perhitungan statistik dengan menggunakanrumus uji korelasi Rank kendall, maka diperoleh terdapat hubungan negatif yangsignifikan antara tingkat pendidikan(X1) dengan citra DPR RI (Y) dan antaraintensitas mengakses pemberitaan melalui media online (X2) dengan citra DPR RI(Y). Jadi semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin burukpersepsinya mengenai citra DPR RI dan semakin tinggi intensitas mengaksespemberitaan melalui media online maka semakin buruk persepsi masyarakatmengenai citra DPR RI.Kata kunci: Tingkat Pendidikan, Intensitas dan CitraRelationship of Level of Education and Accesing Intensity onOnline Media with DPR’s imageABSTRACTThe background of the research is based on online expose of media to distorsionsthat DPR’s done all time high (corruption and dividend). Media Tells us that DPRis bad bureau. So people’s perception to DPR be bad, also. How people consider itfrom people cognition and marked with perception. People’s perception has beendefined by two factors are media and personal. In this research personal factor,that has a significant effect to price DPR’s performance is level of educations.The purpose of this research is to figure out the connection between thelevel of education and accesing intensity of online media with DPR’s image. Usedmajor theory to this research is ecological theory of media from McLuhan. In thesecand assumption of that theory says that media corrects and clear the peopleperception. Although, there is another factor which is personal factor that isconsidered as level of education. It impacts to how people percept and howpercept the developing issues.This reaserch is type of explanatory with a quantitative, and uses paradigmof positivisme. The reaserch's subjects are the people who reach 16-50 years oldaccesing news on online media in a last year. The used sample is non-randomwith accidental sampling technique that caused by unknown population numberwith 50 respondents. Based on the statistic computation with Rank Kendall'scorrelation of correction, then there is known a significant negative connectionbetween education level and DPR's image, and between online media accesingintensity and DPR' image. So, the higher of education level is the worseperception of DPR's image and the higher of accesing online media is the worseperception of DPR's image.Keywords: Level of education, Intensity and ImagePENDAHULUANSaat ini media online sudah menjadi sesuatu yang wajib bagi masyarakat, dengantujuan yang berbeda – beda. Tujuan masyarakat mengakses pemberitaan adalahmencari informasi, hiburan dan tak kalah pentingnya adalah mengawasi danmengkontrol kinerja pemerintahan. Hal ini dilakukan masyarakat agar pemerintahdalam hal ini DPR untuk selalu berada pada koridor yang benar, ketika terjadipenyimpangan maka masyarakat dapat dengan cepat mengetahuinya. Padakenyataannya media lebih sering mengekspos pemberitaan negatif jikadibandingkan dengan pemberitaan positif, media mencitrakan bahwa DPR adalahlembaga yang buruk.Pemberitaan yang sedang hangat – hangatnya adalah kasus Hambalangyang menyeret beberapa anggota dewan, kasus korupsi pengadaan simulator SIMoleh Djoko Susilo yang menyeret beberapa anggota dewan pada komisi hukum.Selain korupsi adanya gratifikasi seks dikalangan DPR, gratifikasi ini dilakukanoleh perusahaan yang diberikan oleh anggota dewan demi memuluskan sebuahproyek dan suap yang diberikan adalah berupa wanita, kemudian ditemukannyakondom bekas pakai di gedung Nusantara. Serta survey – survey yang dilakukanoleh beberapa instasi terkait DPR, SSS (Soegang Sarjadi Syndicate) yangmengungkapkan bahw DPR merupakan lembaga terburuk, survey LSI yangmengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat sering mendengar masalahmoralitas di kalangan masyarakat, dan yang tak kalah menghebohkan adalahsurvey LSI mengenai persepsi masyarakat terkait kinerja DPR dan hasilnya punsebagian responden menganggap bahwa kinerja DPR masih buruk.Jika melihat persepsi masyarakat terhadap kinerja DPR, tentunya tidakbisa dilepaskan dari tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang beragam.Tingkat pendidikan beruhubungan dengan banyak hal seperti bagaimanaseseorang akan mempersepsikan apa yang terjadi di lingkungannya, tingkatpendidikan juga akan mempengaruhi keterbukaan terhadap informasi-informasiyang ada kemudian akan berdampak pada perilaku atau responnya kepadalembaga negara tersebut. Tingkat pendidikan bisa dilihat dari jenjang pendidikanyang ditempuh, yaitu SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.Ketika seseorang yang menempuh pendidikan maka akan berdampak padapersepsi yang dianutnya. Persepsi adalah penginderaan terhadap suatu kesan yangtimbul dalam lingkungannya. Kemampuan seseorang dalam mempersepsi segalasesuatunya pasti berbeda antar satu dengan lainnya bergantung pada tingkatpendidikan yang dimiliki, karena tingkat pendidikan akan menentukan intelegensiseseorang dan bagaimana seseorang menelaah mengenai apa yang terjadi padalingkungannya.Krech dan Crutchfield juga menerangkan bahwa ada dua faktor yangmembentuk persepsi seseorang yaitu faktor fungsional dan faktor struktural.Faktor fugsional sendiri berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hallain yang termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal salahsatunya adalah tingkat pendidikan seseorang, sedangkan faktor struktural berasaldari sifat stimulus fisik dan efek-efek saraf pada sistem saraf Individu.Keterbukaan masyarakat mengenai isu-isu DPR juga merupakan hal yangpenting. Salah satu faktor yang mempengaruhi keterbukaan masyarakat adalahtingkat pendidikan masing-masing individu. Semakin tinggi tingkat pendidikanseseorang maka lebih terbuka dengan isu-isu yang ada dan semakin tinggi pulainteraksi sosial yang kemudian akan memungkinkan adanya penggalian informasidan penerimaan informasi dari orang lain akan lebih terbuka banyak. Jadi tingkatpendidikan tidak hanya mempengaruhi seseorang dalam menerima informasi yangada, tetapi juga ia akan lebih banyak berinteraksi dengan cara tidak hanya melihatdari satu sudut pandang dan lebih melihat dari berbagai sudut dengan menggaliinformasi dari berbagai pihak.Penelitian ini menggunakan teori ekologi media dari Marshall McLuhanyang berpusat pada prinsip bahwa tekhnologi akan tetap menjadi pusat perhatianbagi semua bidang profesi dan kehidupan. Teori ekologi media dari McLuhanberkaitan dengan persimpangan antara tekhnologi dan hubungan manusia danbagaimana media mempengaruhi persepsi dan pemahaman manusia. Ada duaprinsip yang dikemukakan dalam teori ekologi media yaitu kita tidak dapatmelarikan diri dari media di dalam hidup kita, bahwa dalam keadaan apapun kitapasti selalu dekat dengan media. Saat ini media online merupakan media yangtidak bisa dipisahkan oleh masyarakat, bertambahnya pengguna internet setiaphari membuat internet dapat mengisolasi orang seperti yang dilakukan olehtelevisi. Dan asumsi yang kedua adalah media dapat memperbaiki ataumemperjelas persepsi dan mengorganisasikannya dalam kehidupan kita. Samaseperti ketika seseorang mengaskes pemberitaan pada media online, dimana orangyang mengakses pemberitaan lebih sering pasti akan berbeda persepsinya denganorang yang mengaksesnya dalam kategori ringan atau jarang. Persepsi dan sikapkita secara tidak langsung dapat dipengaruhi oleh apa yang kita ketahui darimedia, selain dari media tentunya ada banyak faktor lainnya yang akanmempengaruhi sikap dan persepsi seseorang. West dan Turner mencontohkanfaktor lain yang mempengaruhi adalah faktor individu seseorang.Asumsi kedua ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Jalaludin Rakhmatbahwa persepsi ditentukan oleh adanya beberapa faktor yaitu faktor fungsionaldan struktural dimana faktor struktural berasal dari stimulus fisik yang datangsalah satunya adalah dari media dan faktor fungsional yang merupakan faktor daripersonal seseorang salah satunya adalah tingkat pendidikan individu. Ketikamedia online memberitakan mengenai kepercayaan masyarakat yang mulaimenurun kepada DPR, maka kita sebagai audiens akan secara tidak langsungmembahas mengenai korupsi yang dilakukan DPR, kemudian perilaku anggotadewan dan media membuat atau seolah-olah kinerja DPR buruk. MenurutMcLuhan hal ini bisa terjadi, karena kita sebagai audiens telah termanipulasi olehberita yang ada pada media online.Tingkat pendidikan adalah tahapan pendidikan formal terakhir dariseseorang yang sudah ditempuh dengan suatu kelulusan. Sedangkan IntensitasMengakses Pemberitaan melalui Media Online adalah keteraturan seseorangmenonton/mendengarkan/ mengakses informasi dengan menggunakan mediaonline secara berkali-kali disertai dengan variasi, dimana tingkat keteraturantersebut terdiri dari aspek kuantitas dan kualitas. Dan citra DPR RI adalahpersepsi seseorang terhadap DPR mengenai fungsi dan tugas DPR.Tipe penelitian ini adalah tipe penelitian eksplanatif dengan metodesurvey, dimana metode ini berusaha untuk mengevaluasi hubungan dua atau lebihvariabel. Populasi yang digunakan adalah kota Semarang, dimana kota Semarangmerupakan kota dengan masyarakat yang heterogen dilihat dari segi demografisdan psikografisnya. Sedangkan sampel yang digunakan adalah non probabilitasatau non random dengan usia 16 – 50 tahun karena merupakan usia yang aktifdalam mengakses informasi, menggunkan teknik accidental sampling, sedangkanjumlah sampel sebesar 50 responden.Validitas dilakukan dengan mengkonsulkan teori yang digunakan daninstrumen kepada para ahli, jika menggunakan spss dapat melalui correlated item– total correlation, sedangkan untuk reabilitas menggunakan uji coba kepada 10responden dan menggunakan uji crocobanch alfa.Tekhnik analisis data menggunakan beberapa uji coba. Untuk mengujihubungan tingkat pendidikan (X1) dengan citra DPR RI (Y) dan hubunganintensitas mengakses pemberitaan melalui media online (X2) dengan citra DPR RI(Y) menggunakan uji coba rank Kendall. Sedangkan untuk menguji bagaimanakeselarasan ketiga variabel menggunaka uji coba konkordansi Rank Kendall.ISIDari hasil kuesioner yang disebar kepada 50 responden didapatkan hasil bahwaterdapat hubungan negatif yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan citraDPR RI dan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara intensitasmengakses pemberitaan melalui media online dengan citra DPR RI. Berartisemakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin negatif persepsi masyarakatmengenai citra DPR RI dan semakin tinggi intensitas mengakses pemberitaanmelalui media online maka semakin negatif persepsi mereka mengenai citra DPRRI. Sedangkan hubungan ketiga variabel, didapatkan bahwa variabel bebas(tingkat pendidikan, intenistas mengakses pemberitaan melalui media online)secara bersama – sama berhubungan dengan citra DPR RI.Seperti halnya yang dijelaskan pada teori ekologi media dari Marshall McLuhanbahwa media dapat memperjelas, memperbaiki persepsi seseorang danmengorganisasikannya dalam kehidupan kita (Lihat Bab I, hal 20). Pada CitraDPR RI, disini media berusaha memberikan berita yang dapat membukapandangan masyarakat mengenai DPR, dan media mencitrakan seolah – olahbahwa DPR memang lembaga yang buruk, sehingga masyarakat punmempercayai dan mempersepsikan sama dengan apa yang dikatakan oleh media.Semakin seseorang mengakses media online maka akan semakin sering tertepaberita mengenai DPR dan sayangnya pemberitaan yang ada lebih sering beritanegatif mengenai DPR sehingga membaut persepsi mereka buruk mengenai citraDPR. berbeda dengan responden yang jarang mengakses pemberitaan melaluimedia online, tentunya mereka hanya sedikit tertepa mengenai berita buruk DPR.Salah satu efek yang ditimbulkan oleh media massa adalah efek kognitif,dimana efek ini memberikan perubahan pada apa yang diketahui, dipahami dandipersepsikan. Semakin tinggi responden mengakses maka semakin negatif pulacitra yang didapat dan begitupula sebaliknya (lihat Bab III, hal 23). Efek yangditimbulkan berbeda-beda setiap responden juga dipengaruhi oleh seberapa seringintensitas yang dilakukan dalam mengakses pemberitaan melalui media online.Responden yang mengakses media online termasuk dalam heavy viewersdimana mereka akan lebih sering terterpa dengan berbagai pemberitaan yang adapada situs media online termasuk pemberitaan mengenai DPR RI, sehinggamereka akan lebih mudah terpengaruh untuk memberikan kesan buruk kepadaDPR RI sesuai dengan apa yang dicitrakan oleh media mengenai DPR saat ini.Bahwa media mencitrakan DPR merupakan lembaga yang banyak sekalimenerima suap, gratifikasi dan hal – hal lain yang cenderung negatif. Sementarabagi responden yang mengakses pemberitaan melalui media online dalam kategorirendah atau masuk kategori light viewers, dimana mereka tidak terlalu seringtertepa pemberitaan negatif mengenai DPR dan memandang bahwa DPR hanyasekedar lembaga negara tanpa mengerti tugas, kewajiban dan fungsi yang harusdijalankan.Dengan demikian, kegiatan mengakses pemberitaan melalui media onlinedapat memberikan pengaruh tetapi hal tersebut bergantung pada intensitasnya.Diungkapkan oleh Burgin (Lihat Bab I, hal 28) bahwa intensitas seseorang dalammengakses media dapat mempengaruhi besarnya pengaruh media terhadapbagaimana seseorang mempersepsikan dan berperilaku. Begitupula dengankeadan sebaliknya, semakin rendah intensitas seseorang dalam mengaksespemberitaan maka semakin rendah pula pengaruhnya terhadap persepsi danperilaku orang tersebut.Namun pada asumsi ekologi media yang kedua menjelaskan bahwapersepsi dan sikap kita secara tidak langsung dapat dipengaruhi oleh apa yang kitaketahui dari media, tetapi ada faktor lain yang mempengaruhi yaitu faktorpersonal. Disini yang dimaksud faktor personal adalah tingkat pendidikan yangdapat mempengaruhi bagaimana tingkat pendidikan dapat berpengaruh padapersepsi mengenai Citra DPR RI.Responden yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung terbukaterhadap sebuah isu yang memungkin adanya penggalian informasi lebih dalamsehingga menerima lebih banyak informasi dan membuat masyarakat yangberpendidikan tinggi tidak hanya melihat dari satu sudut pandang melainkanmelihat dari sudut pandang lainnya. Responden yang berpendidikan tinggi sudahmemiliki kebutuhan akan politik yang terbukti bahwa responden berpendidikantinggi lebih mengerti mengenai fungsi dan tugas DPR itu seperti apa, berbedadengan responden berpendidikan rendah yang hanya mengetahui DPR tanpamengerti tugas dan fungsi yang harus dijalankan.PENUTUPKesimpulan dari hasil pembagian kuesioner yang dilakukan didapatkan hasilsebagai berikut:1. Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara variabel tingkatpendidikan dengan variabel citra DPR RI. Dengan demikian,tingginya tingkat pendidikan membuat persepsi masyarakat mengenaicitra DPR RI semakin buruk.2. Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara variabel intensitasmengakses pemberitaan melalui media online dengan variabel citraDPR RI. Maka intensitas mengakses pemberitaan melalui mediaonline mendorong masyarakat untuk mempersepsikan mengenai citraDPR RI. Semakin tinggi intensitas mengakses pemberitaan melaluimedia online maka semakin buruk persepsi masyarakat mengenaicitra DPR RI.3. Tingkat pendidikan dan intensitas mengakses pemberitaan melaluimedia online dengan citra DPR secara bersama – sama berhubungandengan citra DPR RI.Sedangkan saran ditujukan kepada media, masyarakat dan penelitianselanjutnya, berupa:1. Media sebaiknya tidak hanya menampilkan keburukan danpenyelewengan yang dilakukan DPR RI melainkan juga prestasi –prestasi yang didapatkan DPR. Selain itu, media dalammemberitakan sebuah kasus DPR hendaknya tidak dilebih – lebihkanatau dengan kata lain harus memberikan berita yang seimbang, akuratdan objektif.2. Masyarakat pun harus lebih jeli dalam menilai kinerja DPR, tidakhanya melihat dari satu sudut pandang (sudut pandang media)melainkan juga dari sudut pandang lain.3. Pada penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan citra DPR RI,hendaknya dapat dilakukan dengan melihat faktor – faktor lain yangberhubungan, di luar intensitas mengakses dan tingkat pendidikan,misalnya persepsi terhadap pemberitaan, keterlibatan masyarakatdalam pembuatan kebijakan, dll. Disamping itu, penelitian juga dapatdilakukan dengan menggunakan teknik pengembilan sampel yangberbeda.
Representasi Orang Jawa dalam Iklan Televisi Djarum 76 Diandini Nata Pertiwi; Hedi Pudjo Santosa; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.782 KB)

Abstract

Representasi Orang Jawa dalam Iklan Televisi Djarum 76ABSTRAKPenelitian berjudul “Representasi Orang Jawa dalam Iklan Televisi Djarum 76”dengan subjek penelitian versi Matre, versi Pingin Sugih dan Ganteng, versi Ketipu,versi Takut Istri, versi Gayus, versi Ketiduran dilakukan untuk mengetahuibagaimana orang Jawa dan mitologi orang Jawa direpresentasikan dalam iklantersebut. Penelitian ini berlandaskan pada teori representasi dari Stuart Hall, teorisemiotika dari Roland Barthes, dengan menggunakan analisis Sintagmatik sebagaipemaknaan tataran pertama terhadap rangkaian teks. Penelitian ini jugamenggunakan analisis Paradigmatik untuk proses penggalian makna tataran keduayang bersifat konotatif dengan mengungkapkan mitologi, dan kode-kode ideologisdalam iklan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa orang Jawa dalam iklan Djarum76 tampil sebagai sosok yang merusak kerukunan, tidak memiliki keutamaan yangsangat dihargai oleh orang Jawa, tidak menjalankan tuntutan kerukunan yangdibebankan kepadanya sebagai orang Jawa dewasa, matre, sombong, mencerminkanfalsafah Jawa yaitu, inggah inggih ora kepanggih dan yen djiwit lara aja njiwit, tidakmawas diri, mencerminkan teori humor superioritas dan meremehkan, bersifatangkaramurka yang dibarengi dengan ungkapan umuk keblithuk, pemalas. Hal inisangat berseberangan sekali dengan stereotip yang ada di masyarakat. Penelitian inijuga berhasil mengungkapkan kepercayaan orang Jawa terhadap mahluk halus untukmengatasi masalah hidup.Kata kunci: Orang Jawa, Representasi, Iklan Djarum 76ABSTRACTResearch called representation the javanese in television commercial djarum 76 withthe subject of study version Matre, version Pingin Sugih dan Ganteng, versionKetipu, version Takut Istri, version Gayus, version Ketiduran conducted to determinehow The Javanese and mythology The Javanese represented in those ads. Thisresearch based on the theory of representation of the Stuart Hall, a theory ofsemiotics Roland Barthes, by using Sintagmatik analysis as the first level ofdefinition of the range of text. Research is also using analysis paradigmatik to thesecond process of extracting entendres a connotative by with reveals the mythology,and the ideological codes in ads. The results of this research show that the Javanesein ad Djarum 76 appeared as a destructive figure of harmony, Not having theprimacy of which is highly prized by The Javanese, don ' t run demands harmonycharged to him as The Javanese adult, matre, arrogant, reflecting of philosophy Javathat is, inggah inggih ora kepanggih, and yen djiwit lara is njiwit, not introspective,reflecting the humor theory of superiority and underestimate, spatiallyangkaramurka and as with expressions of umuk keblithuk, and a lubber. It isopposite the existing stereotypes in society. This research also managed to reveal inconfidence The Javanese against being ethereal to solve the problems of life.Keywords: The Javanese, Representation, Advertising Djarum 76PENDAHULUANA. Latar BelakangOrang Jawa adalah penduduk asli bagian tengah dan timur Pulau Jawa yang bahasaibunya adalah bahasa Jawa (Magnis-Suseno, 1991: 12). Rokok (udud) dan kebiasaanmerokok (ngudud) telah mewarnai kehidupan orang Jawa di berbagai lapisan.Aktivitas ngudud sudah menjadi bagian dari hidup bagi orang Jawa. Rokok dijadikansarana untuk melepas kepenatan permasalahan yang dihadapi dalam hidup seharihari.Beban psikologis yang dialami orang Jawa seakan-akan terasa berkurang danketentraman batin pun didapatkan setalah merokok. Selain itu, rokok juga dijadikansebagai media untuk memanggil makhluk yang tidak kasat mata untukmenyelesaikan masalah dalam kehidupan.Ritual orang Jawa ini diadopsi oleh Djarum 76 dalam pembuatan iklannya.Ritual orang Jawa dipilih oleh Djarum 76 untuk iklannya karena tembakau yangdipakai untuk memproduksi Djarum 76 semua berasal dari temanggung, danpengikut setia Djarum 76 kebanyakan berasal dari Jawa Tengah, dan Jawa Timur.Sosok orang Jawa yang dihadirkan dalam bentuk jin dalam iklan Djarum 76menggambarkan sisi religi Jawa yang masih menganut kepercayaan Kejawen, yangmenggunakan rokok sebagai media untuk memanggil makhluk ghaib. Iklan Djarum76 menggambarkan unsur etnisitas Jawa dengan menghadirkan sosok jin yangdirepresentasikan menggunakan baju adat Jawa, bahasa Jawa, dialek Jawa,karakteristik Jawa, dan lain sebagainya. Iklan rokok Djarum 76 berbeda sekalidengan iklan rokok pada umumnya. Iklan rokok pada umumnya menggambarkanimage maskulinitas atau syarat akan kebersamaan, dan persahabatan.Media televisi merupakan pilihan terbaik bagi kebanyakan pengiklan diIndonesia. Televisi merupakan salah satu media komunikasi yang sangat efektifuntuk memberikan informasi dibandingkan dengan media lainnya. Kelebihan mediatelevisi dalam menyampaikan pesan adalah pesan-pesan yang disampaikan melaluigambar, dan suara secara bersamaan, serta memberikan suasana hidup sehinggasangat mudah diterima oleh pemirsa. Siaran televisi juga memiliki sifat langsung,simultan, intim, dan nyata (Mulyana, 1997: 169). Budaya yang direpresentasikansecara terus-menerus dalam iklan televisi Djarum 76 akan mengakibatkan orangorangyang menonton iklan Djarum 76 memiliki stereotype bahkan prasangkaterhadap orang Jawa bahwa sikap, sifat, dan karakteristik orang Jawa itu seperti apayang direpresentasikan oleh sosok kedua jin itu. Padahal streotype yangmembuahkan prasangka tidak baik dihadirkan karena akan menghadirkan penilaianbaku yang tidak dapat diubah untuk satu etnis tertentu.B. Perumusan MasalahOrang Jawa dalam iklan Djarum 76 direpresentasikan melalui sosok jin yangmengenakan pakaian, dan juga menggunakan dialek Jawa. Tidak hanya di satu iklansaja namun direpresentasikan di beberapa iklan Djarum 76, sosok jindirepresentasikan secara terus menerus membuat orang memiliki asumsi ataupenilaian terhadap orang Jawa seperti apa yang digambarkan oleh jin dalam iklanDjarum 76. Oleh karena itu, rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimanaorang Jawa dan mitologinya direpresentasikan dalam iklan televisi Djarum 76?C. Tujuan PenelitianUntuk mengetahui mitologi orang Jawa, dan bagaimana orang Jawadirepresentasikan dalam iklan televisi Djarum 76.D. Kerangka Pemikiran Teoritis1. Representasi, dan orang JawaRepresentasi menurut Stuart Hall (1997: 15), “representasi menghubungkan makna,dan bahasa dengan budaya. Yang berarti menggunakan bahasa untuk mengatakantentang sesuatu, atau untuk mewakili dunia yang penuh arti, kepada orang lain.Representasi merupakan bagian penting dari proses di mana makna diproduksi, dandipertukarkan antara anggota suatu budaya. Ini melibatkan penggunaan bahasa,tanda-tanda, dan gambar yang berdiri untuk atau mewakili sesuatu”. Representasi inipenting untuk kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita memahami lingkungan kita dansatu sama lain. Pemahaman dihasilkan melalui campuran kompleks latar belakang,selera, kekhawatiran, pelatihan, kecenderungan, dan pengalaman, semua dibuat nyatabagi kita melalui prinsip-prinsip, dan proses representasi bahwa frame, dan mengaturpengalaman kami berada di dunia. Apa yang kita lihat adalah bukan apa yang ada,tapi apa tradisi sosial budaya, dan konteks melihat itu (Webb, 2009: 2).Iklan Djarum 76 juga menggunakan penandaan dalam produksi iklannya.Iklan Djarum 76 yang diproduksi dengan berbagai versi di dalamnyamerepresentasikan sosok orang Jawa. Orang Jawa diatur dalam pola pergaulannya dimana ada kaidah-kaidah yang harus diperhatikan. Hildred Greertz (dalam Magnis-Suseno, 1991: 38) mengatakan, “ada dua kaidah yang paling menentukan polapergaulan dalam masyarakat Jawa. Kaidah pertama disebut dengan rukun. Kaidahkedua disebut dengan prinsip hormat” Prinsip kerukunan tidak menyangkut suatusikap batin atau keadaan jiwa, melainkan penjagaan keselarasan dalam pergaulan.Yang perlu dicegah konflik-konflik yang terbuka. Ketentraman dalam masyarakatjangan sampai diganggu, jangan sampai nampak adanya perselisihan, danpertentangan. Oleh karena itu, Hildred Geertz menyebut keadaan rukun sebagaiharmonious social appearances. Mencegah terjadinya emosi-emosi yang bisamenimbulkan konflik atau sekurang-kurangnya dapat mencegah jangan sampaiemosi-emosi itu pecah secara terbuka (Magnis-Suseno, 1991: 40-41). Prinsip hormat,membawa diri sesuai dengan tuntutan-tuntutan tata krama sosial harus dilakukan.Mereka yang berkedudukan lebih tinggi harus diberi hormat. Sedangkan sikap yangtepat terhadap mereka yang berkedudukan lebih rendah adalah sikap kebapaan ataukeibuan, dan rasa tanggung jawab (Magnis-Suseno, 1991: 60-61).Orang Jawa memiliki watak nrima. Nrima adalah menerima segala sesuatudengan kesadaran tanpa merasa kecewa di belakang. Namun nrima tidak berartitanpa upaya gigih. Mereka tetap berpedoman jika masih ada hari, rezeki tentu ada,dan setiap orang yang mau bekerja tentu akan meraih rezeki (Endraswara, 2013: 35).Selain itu, orang Jawa dikenal memiliki sifat dermawan atau kanthong bolong.Kanthong bolong berarti memiliki sifat suka memberi. Kanthong bolong, kuncinyapada ikhlas, tulus, dan penuh perhatian (Endraswara, 2013: 51). Orang Jawa jugamempunyai karakteristik buruk yang biasa disebut dengan watak angkaramurka.Angkaramurka adalah watak yang didorong oleh keinginan, dan rasa ingin serba dariorang lain. Watak angkaramurka sering berbarengan dengan watak julig (licik) orangJawa (Endraswara, 2013: 37). Di setiap diri orang Jawa pun terdapat sifat sombong.Selalu merasa lebih dari orang lain, ingin dipuji, dan semua itu dilakukan untukmenaikan harga dirinya. Ungkapan umuk keblithuk, artinya yang sombong akancelaka (Endraswara, 2013: 101).2. Representasi dalam IklanIklan menurut Danesi (2009: 12), “Iklan berisikan pengumuman publik, promosi,dukungan, atau dukungan produk, layanan, bisnis, seseorang, suatu peristiwa, danlain-lain dalam rangka untuk menarik atau meningkatkan minat. Saat ini, iklan telahberubah menjadi bentuk dominan wacana sosial mempengaruhi gaya hidup,pandangan dunia, sistem ekonomi, politik, dan nilai-nilai bahkan tradisional, karenadirancang untuk menunjukkan bagaimana orang-orang terbaik yang bisa memenuhikebutuhan mereka dan mencapai tujuan mereka.” Iklan yang menampilkan gayahidup, trend, dan nilai-nilai sosial yang dianut oleh sebuah masyarakat dipercayadapat meningkatkan penjualan. Dengan cara seperti ini maka mengaburkan garisantara nilai guna produk dengan kesadaran sosial.Iklan merupakan suatu peralatan untuk membingkai ulang makna untukmenambah nilai komoditas (Goldman, 1994: 188). Tanda-tanda yang digunakaniklan merupakan praktek dari representasi. Representasi menggunakan bahasa agarbaik pengirim atau penerima memiliki pemahaman yang sama terhadap teks yangditampilkan. Bahasa yang mengandung tanda-tanda dalam suatu iklan yangmengakibatkan stereotip. Dengan bahasa yang digunakan iklan, iklan dapatmenunjukan dengan sengaja siapa, dan seperti apakah kita. Menurut Goddard (2001:62), “stereotipe bekerja pada tanda-tanda yang diberikan atas representasi sesuatudalam iklan”.E. Metoda Penelitian1. Tipe PenelitianTipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang mengacu pada pendekatansemiotika untuk mengungkap makna di balik tanda-tanda yang ditampilkan olehiklan yang dipilih peneliti. Penelitian ini menggunakan salah satu metode penelitiankualitatif yaitu studi analisis semiotika Roland Barthes dengan menggunakan teorirepresentasi Stuart Hall.2. Subyek PenelitianIklan Djarum 76 dengan berbagai versi yaitu versi Matre, versi Pingin Sugih, danGanteng, versi Jin Ketipu, versi Jin Takut Istri, versi Gayus, dan versi Jin Ketiduran.3. Jenis Data dan Sumber DataData Primer adalah data yang diperoleh langsung melalui pengamatan terhadapsubyek penelitian yaitu teks dan gambar audio visual dari iklan Djarum 76. DataSekunder, diperoleh dari pengumpulan data sekunder antara lain melalui berbagaibuku, jurnal atau pun literatur yang sesuai dengan tema penelitian ini.4. Teknik Analisis DataDidasarkan pada konsep The Codes of Television. The Codes of Television berartiperistiwa yang akan disiarkan telah dienkode oleh kode-kode sosial. Kode-kodetersebut terdiri dari beberapa level, sebagai berikut (Fiske, 1987: 4-5): level 1:“Reality”, level 2: “Representation”, level 3: “Ideology”.5. Unit AnalisisTampilan audio, video serta teks dalam iklan Djarum 76 dengan berbagai versi yaituversi Matre, versi Pingin Sugih dan Ganteng, versi Jin Ketipu, versi Jin Takut Istri,versi Gayus, dan versi Jin Ketiduran.PEMBAHASANA. HASIL PENELITIAN1. Aladdin Dengan Kepercayaan JawaJin yang keluar dari kendi, kemudian memberikan penawaran permintaan kepada“tuannya” (orang yang mengeluarkannya dari kendi), diadopsi dari budaya TimurTengah, yaitu kisah 1001 malam (Aladdin). Diadopsinya cerita Aladdin oleh iklan inidikarenakan, orang-orang Jawa juga mempercayai bahwa terdapat makhluk haluspenunggu suatu tempat yang dapat mengatasi masalah dalam hidupnya, danmenjadikan hidupnya menjadi lebih baik. Cerita Aladdin dalam iklan ini tidakdiadopsi secara penuh. Dalam iklan ini, tampilan jin diubah menjadi kejawaandengan mengenakan pakaian adat khas Jawa, memasukan karakteristik orang Jawa,dan lain sebagainya. Selain tampilan jin yang diubah, dalam iklan ini bentuk fisik,tempat di mana jin tersebut keluar juga diubah, dan cara mengeluarkan jin pundiubah. Jin tersebut dideskripsikan memang benar-benar memiliki perawakan sepertimanusia, yaitu tidak bertubuh raksasa, tidak seram, dan mempunyai bentuk fisikmanusia. Bentuk fisiknya sama seperti orang Jawa kebanyakan, yang tergolong rasmongoloid. Hal ini membuat jin dalam iklan ini dapat disebut dengan manusia,manusia yang merepresentasikan orang Jawa. Selain itu, identitas kejawaan jugadapat ditandai dalam penggunaan bahasa yang digunakan. Percakapan dalam iklanini banyak menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Jawa dengan dialek Jawa, danunggah-ungguh yang merupakan ciri orang Jawa. Dengan begitu, kita dapat melihatjati diri jin dalam iklan ini adalah orang Jawa karena bahasa tidak dapat dipisahkandari identitas pembicaranya.2. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi MatreKeadaan rukun tidak terwujud dalam iklan ini. Jin perempuan yang dapatdikategorikan dewasa sesuai dengan bentuk fisiknya, tidak mampu memprediksireaksi jin laki-laki dari pembicaraan yang dikeluarkannya, dan tingkah lakunya. Halini menyebabkan jin laki-laki mengambil sikap konfrontatif. Jin laki-laki jugaseharusnya tetap tenang, dan tidak menunjukan rasa kaget sehingga dirinyamenjalankan tuntutan yang dibebankan terhadap orang Jawa dewasa. Hawa nafsu jinperempuan akan harta disebut dengan serakah ataupun matre sesuai dengan watakangkaramurka yang dimiliki orang Jawa. Watak angkaramurka menyebabkankeserakahan yang menjadi-jadi pada jin perempuan. Jin perempuan tidak lagi mampumembungkus prakatanya dalam menyebutkan tuntutan-tuntutannya. Jin laki-lakiyang terpancing emosinya mengatakan berita yang tidak enak secara langsungkepada jin perempuan. Hal ini menyebabkan jin perempuan, dan laki-laki tidakmemiliki keutamaan yang sangat dihargai oleh orang Jawa.Keduanya dalam iklan ini berbicara, dan bertingkah laku sesuai dengankedudukan sosial. Kendi jin perempuan yang bergoyang terlebih dahulu sehinggamenyebabkan kendi keduanya terjatuh, dan mereka bisa terbebas dari dalam kendi.Oleh karena itu, jin perempuan menduduki hierarki sosial sebagai tuan. Dia memilikiderajat yang lebih tinggi, sehingga dia menggunakan tata krama ngoko ketikaberbicara. Jin laki-laki yang memiliki hierarki sosial lebih rendah, menghormati jinperempuan. Hal ini terlihat pada saat dia menawarkan permintaan, dia menggunakanunggah-ungguh Jawa, dan mempersilahkan dengan tata krama bahasa Jawa kramahalus. Pada saat jin perempuan menyebutkan permintaannya, terjadi perubahanhierarki sosial. Jin laki-laki menduduki hierarki sosial yang lebih tinggi dibandingkanjin perempuan. Hal ini membuat laki-laki tersebut bersikap sombong. Ketikaberbicara, jin laki-laki menggunakan ngoko, terlebih jin laki-laki kesal karena jinperempuan matre atau serakah. Permintaan-permintaan jin perempuan tidakdikabulkan oleh jin laki-laki. Hal tersebut mencerminkan falsafah atau sebutan orangJawa yang diungkapkan oleh Patria (2011) yaitu, inggah inggih ora kepanggih,dalam bahasa Indonesia berarti ya, ya tetapi tidak terlaksana.3. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi PinginSugih, dan GantengKeadaan rukun tidak terwujud dalam iklan ini. Jin tersebut memiliki karakter tidakmawas diri, sombong. Sifat sombongnya membuat dia tidak dapat mawas diri,sehingga dia tidak mampu melakukan self examination dengan baik. Jin tidakmencerminkan falsafah yen dijiwit lara aja njiwit, artinya jika dicubit sakit janganlahmencubit. Jin tidak dapat menjalankan tuntutan-tuntutan yang dituntut dari orangJawa dewasa. Sifat sombong yang mendominasi dalam dirinya membuat dirinya jugatidak memiliki keutamaan orang Jawa. Dalam iklan ini jin bertindak kasar dengancara memegang wajah laki-laki tersebut, dan langsung mengatakan hal yang tidakenak, dan juga berita buruk. Sifat sombongnya membuat dia tidak membungkusperkataannya.Perilaku, dan tutur kata jin sudah sesuai dengan kedudukan sosialnya. Jinyang memiliki hierarki sosial lebih rendah, menghormati laki-laki yangmengeluarkannya dari kendi. Laki-laki tersebut menduduki posisi sebagai tuan darijin tersebut. Layaknya tuan yang harus dihormati maka jin tersebut berperilakudengan unggah-ungguh Jawa, dan mempersilahkan dengan tata krama bahasa Jawa,yaitu krama halus. Namun, ketika laki-laki tersebut mengatakan permintaannyakepada jin terjadi perubahan hierarki sosial. Kedudukan hierarki sosial jin menjadilebih tinggi. Jin mulai bersikap sombong. Jin tersebut juga menggunakan padananngoko ketika menjawab permintaan dari tuannya. Permintaan kedua dari laki-lakitersebut dijawab dengan perkataan “ngimpiii”. Ngimpiii merupakan sinisme karenamuka laki-laki tersebut terlampau jelek sehingga permintaan ganteng untuk laki-lakiitu mustahil untuk dikabulkan. Kalau sudah jelek, jelek saja.Permintaan kedua dari laki-laki tersebut tidak dikabulkan oleh jin. Haltersebut mencerminkan falsafah orang Jawa yang diungkapkan oleh Patria (2011)yaitu, inggah inggih ora kepanggih. Jin yang tertawa setelah melihat lebih dekatwajah laki-laki tersebut, berkata “ngimpiii”, memberi penekanan bahwa itu adalahsuatu bentuk humor. Humor yang digunakan dalam iklan ini termasuk ke dalam teorihumor superioritas, dan meremehkan. Jin yang sedang berada dalam posisi super(hierarki sosialnya tinggi) menertawakan laki-laki yang merasa terhina, dandiremehkan. Jin tertawa karena di laki-laki di depannya saat dilihat dengan jelasternyata sangat jelek, jeleknya di luar kebiasaan.4. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi JinKetipuTindak-tanduk jin dalam iklan ini tidak mencerminkan tuntutan rukun. Watakangkaramurka yang mendominasi jin tersebut yang menyebabkan jin untuk tidakmau kalah dari lawannya. Hal tersebut karena diri jin juga didominasi oleh karaktersombong. Ungkapan umuk keblithuk terjadi pada iklan ini. Sifat sombong danangkaramurkanya dimanfaatkan oleh kedua laki-laki untuk memancing jin agar jinmemberikan penawaran lebih sesuai yang diinginkan oleh kedua laki-laki tersebut.Jin dalam berbicara, dan bertingkah laku sudah sesuai dengan derajatkedudukannya. Jin yang memiliki hierarki sosial lebih rendah, menghormati laki-lakiyang mengeluarkannya dari kendi. Laki-laki tersebut menduduki posisi sebagai tuandari jin tersebut. Layaknya tuan yang harus dihormati maka jin tersebut berperilakudengan unggah-ungguh Jawa, jin dibuat kesal dengan tingkah laku sosok yang miripdengan dirinya dari seberang. Jin yang kesal menggunakan padanan ngoko.Penggunakan padanan ngoko juga karena perubahan hierarki sosial. Laki-laki dansosok yang serupa dengan jin tersebut telah menduduki hierarki sosial yang lebihrendah daripada jin tersebut karena dianggap sebagai penipu.5. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi JinTakut IstriPerilaku jin perempuan mengganggu keselaran, dan ketenangan. Keduanya tidakdapat menjaga emosinya sehingga perselisihan, dan pertentangan di antara keduanyanampak kepermukaan, terlebih lagi disaksikan oleh laki-laki di depannya, sehinggaharmonious social appearances dapat terwujud. Hal di atas juga membuat jinperempuan, dan jin laki-laki tidak memiliki tuntutan rukun yang dituntut kepadaorang Jawa dewasa. Jin perempuan tidak membungkus perilakunya menjadi lebihsopan sehingga nampak kasar. Hal itu membuat dia tidak memiliki keutamaan orangJawa. Dalam iklan ini jin laki-laki memiliki suatu keutamaan yang dimiliki orangJawa yaitu suatu permintaan tidak langsung ditolak dan dijawab dengan inggih yangsopan.Perilaku, dan tutur kata jin sudah sesuai dengan kedudukan sosialnya. Dalamiklan ini hanya jin laki-laki yang berbicara, hal ini sesuai dengan konstruksi sosial dimasyarakat jika laki-laki yang selalu menjadi pemimpin dalam hal apa pun, danmempunyai kekuatan lebih besar. Namun, pada saat mempersilahkan laki-lakimenyebutkan satu permintaannya, jin tersebut tidak mempersilahkan dengan tatakrama krama halus, dan tidak membungkukkan badan, karena jin sudah merasacukup menghormati tuannya dengan perilakunya yang mencerminkan kesopananJawa. Sifat sombong yang mendasar pada dirinya membuat dia merasa gengsi untukmerendahkan diri lebih rendah karena di sampingnya terdapat jin perempuan.Perubahan hierarki sosial yang terjadi saat laki-laki tersebut menyebutkanpermintaannya menyebabkan jin tersebut menggunakan tata krama ngoko. Tatakrama ngoko yang digunakan jin dalam mengatakan, “sorry yo, aku yo weddi”merupakan bahasa tandingan dari laki-laki karena laki-laki tersebut menyebut bebiuntuk panggilan pacarnya. Hal tersebut untuk menaikan harga dirinya dihadapan jinperempuan. Permintaan dari laki-laki tersebut tidak dikabulkan olehnya. Hal tersebutmencerminkan falsafah orang Jawa yang diungkapkan oleh Patria (2011) yaitu,inggah inggih ora kepanggih.6. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi GayusKeadaan rukun tidak terwujud dalam iklan ini. Terlebih lagi sikap dan tutur katanyaketika menjawab permintan dari laki-laki tersebut, menjawab dengan kelicikan, dankesombongan. Hawa nafsu membuatnya tidak dapat membungkus kata-kata.Perilaku dan tutur kata jin tersebut tidak mencerminkan tuntutan yang dituntutkepada orang Jawa dewasa, dan keutamaan yang dimiliki oleh orang Jawa. Jin dalamiklan ini sudah bertingkah laku, dan bertutur kata sesuai dengan kedudukan sosialmereka di masyarakat. Jin yang baru keluar dari kendi menduduki hierarki sosialyang lebih rendah dibandingkan laki-laki yang berada di depannya. Laki-laki tersebutmenjadi tuan dari jin tersebut, karena laki-laki tersebut sudah mengeluarkan jin daridalam kendi. Rasa hormat terhadap tuannya membuat jin menggunakan tata kramakrama halus sewaktu mempersilahkan laki-laki tersebut menyebutkanpermintaannya.Ketika laki-laki tersebut mengatakan permintaannya kepada jin terjadiperubahan hierarki sosial. Jin yang merasa derajatnya sekarang lebih tinggidibandingkan laki-laki itu, mulai bersikap sombong. Jin tersebut juga menggunakanbahasa ngoko. Permintaan kedua dari laki-laki tersebut dijawab dengan perkataan“wani piro”. Wani piro berarti bayar berapa. Jin tersebut dapat mengabulkanpermintaan laki-laki jika laki-laki itu dapat membayarnya. Hal ini menggambarkankorupsi dapat dihilangkan dengan korupsi kembali. Menyiratkan bahwa tidakmanusia Jawa, dan jin Jawa sama-sama melakukan korupsi untuk mempermudah,dan mempercepat segala urusan. Sifat jin ini mencerminkan sifat angkaramurka yangdimiliki oleh orang Jawa. Watak angkaramurkanya dibarengi dengan sifat julig(licik). Permintaan laki-laki tersebut tidak dikabulkan, hal ini mencerminkan falsafahatau sebutan orang Jawa yang diungkapkan oleh Patria (2011) yaitu, inggah inggihora kepanggih.7. Message (Pesan) Dari Iklan Televisi Produk Rokok Djarum 76 Versi JinKetiduranJin yang tertidur saat kerja mengganggu keselarasan, dan ketenangan yang sudahada. Karakter malas ini sangat bertolak belakang dengan karakter orang Jawa yangidentik dengan kerja keras. Orang Jawa yang kerja keras sampai dengan usahamaksimalnya, sehingga orang Jawa dapat mensyukuri hasil kerja kerasnya tersebuttanpa mengeluh. Hal ini mencerminkan watak nrima. Orang Jawa berfikiranbagaimana dia mau meraih rezeki yang cukup jika dia bersifat malas. Jin yangterkejut karena bangun dengan cara dikagetkan membuat sikapnya menjadi tidaktenang, gugup, dan bingung. Jin tidak berlaku sesuai dengan tuntutan rukun yangdibebankan kepada orang Jawa dewasa.PENUTUPA. KESIMPULANReresentasi jin perempuan dalam iklan ini adalah sebagai berikut: perilaku, dan tuturkatanya merusak kerukunan, tidak menjalankan tuntutan rukun yang dibebankanterhadapnya sebagai orang Jawa dewasa, tidak memiliki keutamaan yang sangatdihargai oleh orang Jawa, memiliki sifat matre atau serakah sebagai cerminan watakangkaramurka, emosional, bertingkah laku sesuai dengan kedudukan social, sosokyang agung, wibawa, dan dominan. Representasi jin laki-laki dalam iklan ini adalahsebgai berikut: perilaku dan tutur katanya merusak kerukunan, tidak menjalankantuntutan rukun yang dibebankan kepadanya sebagai orang Jawa dewasa, tidakmemiliki keutamaan yang sangat dihargai oleh orang Jawa, bersifat sombong,mencerminkan falsafah Jawa, ya, ya tetapi tidak terlaksana, tidak mawas dirisehingga tidak dapat melakukan self examination, dan tidak mencerminkan falsafahJawa (jika dicubit sakit janganlah mencubit), memandang rendah sesuatu di luarkebiasaan, misalnya laki-laki jelek pada iklan Djarum 76 versi Pingin Sugih, danGanteng, mencerminkan teori humor superioritas dan meremehkan, bersifatangkaramurka yang dibarengi dengan ungkapan umuk keblithuk, licik (julig),pemalas, tidak mencerminkan watak nrima, perilaku dan tutur katanya sesuai dengankedudukan sosialnya di masyarakat, sosok yang agung, berwibawa, dan dominan.Representasi jin Jawa dalam iklan Djarum 76 berlawanan dengan stereotip, danterjadi demitologi, yaitu meninggalkan hal-hal yang bersifat mitologi, representasiorang Jawa tidak sesuai dengan mitos yang ada di masyarakat.B. DISKUSIPenelitian selanjutnya dapat meneliti kebahasaan yang ditampilkan dalam iklan ini,sehingga peneliti selanjutnya dapat memahami apa yang ingin disampaikanpengiklan melalui representasi bahasa dalam iklan Djarum 76.DAFTAR PUSTAKAAnderson, Sandra, Heather Bateman, Emma Harris dan Katy McAddam. 2006.Dictionary of Media Studies. London: A & C Black.Barker, Chris. 2004. SAGE Dictionary of Cultural Studies. London: SAGEPublication Ltd.Baskoro, Haryadi dan Sudomo Sunaryo, 2010. Catatan Perjalanan KeistimewaanYogya: Merunut Sejarah, Mencermati Perubahan, Menggagas Masa Depan.Pustaka Pelajar: Yogyakarta.Chandler, Daniel. 2007. Semiotics The Basics. London: Routledge.Danesi, Marcel. 2009. Dictionary of Media and Communications. London: M. E.Sharpe.Danesi, Marcel. Pesan, Tanda, dan Makna : Buku Teks Dasar Mengenai Semiotikadan Teori Komunikasi. Terjemahan Evi Setyarini, dan Lusi Lian Piantari.Yogyakarta: Jalasutra, 2004.Endraswara, Suwardi. 2013. Ilmu Jiwa Jawa: Etika dan Citarasa Jiwa Jawa.Penerbit Narasi: Yogyakarta.Fiske, John. 1987. Television Culture. London: Routledge.Fletcher, Winston. 2010. Advertising a Very Short Introduction. New York: OxfordUniversity Press.Odih, Pamela. 2007. Advertising in Modern and PostmodernTimes. London: SAGE Publications Ltd.Goldman, 1994.Geertz, Clifford. 2013. Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi dalam KebudayaanJawa. Jakarta: Komunitas BambuGoddard, Angela. 2001. The Language of Advertising. London: Routledge.Hall, Stuart dkk. 1980. Culture, Media Language. London: RoutledgeHall, Stuart. 1997. Representation. London: SAGE Publication Ltd.Kothari, R. C.. 2004. Research Methodology. New Delhi: New Age InternationalLtd.Magnis-Suseno, Franz. 1991. Etika Jawa. Jakarta: PT GramediaMartin, Bronwen dan Felizitas Ringham,. 2000. Dictionary of Semiotics. London:Cassel.Moleong, J. Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT RemajaRosdakarya.Mulyana, Deddy. 1997. Bercinta dengan Televisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Neuman, Lawrence W.. 2007. Basic of Social Research. Amerika: PearsonEducation.Rosidi, Ajip. 1977. Roro Mendut. PT Gunung Agung: JakartaSamovar, Larry A., Porter E Richard dan McDaniel Edwin R.. 2010.Communication between Culture. USA: Wadsworth.Santosa, Budhi Imam. 2012. Ngudud: Cara Orang Jawa Menikmati Hidup.Manasuka: Yogyakarta.Suwondo, Bambang. 1978. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah IstimewaYogyakarta. Balai Pustaka: JakartaWebb, Jen. 2009. Understanding Representation. London: SAGE Publication Ltd.Winarno, Bondan. 2008. Rumah Iklan. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.Nor, Russin Mariani Md., Sufean. 2004. Dasar Warga Sihat: Isu Psikologi FaktorRemaja Sekolah Merokok. http://www.scribd.com/doc/19784071/faktorremaja-merokok. Universitas Malaya. Diunduh 12 April 2013. Pukul 20. 35WIB.Patria, Asidigisianti Surya. 2 September 2011. Iklan Djarum 76 Tema Jin: KajianStruktur Dan Makna.asidigisiantipatria.cv.unesa.ac.id/bank/.../IklanDJARUM76_97-110__.pdf.Diunduh 5 Oktober 2013. Pukul 18. 48 WIB.Rahmanadji, Didiek. 2 Agustus 2007. Sejarah, Teori, Jenis, Dan Fungsi Humor.http://sastra.um.ac.id/wp-content/uploads/2009/10/Sejarah-Teori-Jenis-dan-Fungsi-Humor.pdf. Diunduh 23 November 2013. Pukul 19.28 WIB.Tanudjaja, Bing Bedjo. Kreativitas Pembuatan Iklan Produk Rokok Di Indonesia.Januari 2002. http://dgi-indonesia.com/wpcontent/uploads/2009/05/dkv02040108.pdf. Diunduh 13 Juli 2013.Universitas Kristen Petra. Pukul 07.05 WIB.Utama, Anggi Adhitya. 2012. Representasi Budaya Korupsi Dalam Iklan RokokDjarum 76 Versi Korupsi, Pungli dan Sogokan Di Media Televisi.jurnal.unpad.ac.id ejournal article download 1163 pdf . UniversitasPadjajaran. Diunduh 14 Juli 2013. Pukul 13.33 WIB.A., NURUL U. CHARISNA. 30 December 2012. Analisis Iklan DJARUM 76 dalamSemiotika Roland Barthes. http://nurul-u-c-fib09.web.unair.ac.id/. Diunduh14 Juli 2013. Pukul 12. 47 WIB.Aditya, Ivan. 9 Juli 2013. Antara Ritual dan Seks di Makam Roro Mendut.http://krjogja.com/read/179509/antara-ritual-dan-seks-di-makam-roromendut.kr. 20 Juli 2013. Diunduh 20 Juli 2013. Pukul 20. 19 WIB.Ahmeedalle. 29 November 2012. Aladdin Sinopsis.http://ahmeedalle.wordpress.com/2012/11/29/aladin-sinopsis/. Diunduh 18November 2013. Pukul 19.30 WIB.Ando, Cress. 2 Maret 2013. RORO JONGGRANG - LEGENDA CANDIPRAMBANAN (Cerita dari Jawa Tengah).https://www.facebook.com/notes/cress-ando/roro-jonggrang-legenda-candiprambanan-cerita-dari-jawa-tengah/429237253817823. Diunduh 19 Juli2013. Pukul 21.30 WIB.Anita. 30 Mei 2013 18:07 WIB. Komnas PA Desak Larangan Iklan Rokok.http://nasional.tvonenews.tv/berita/view/70846/2013/05/30/komnas_pa_desak_larangan_iklan_rokok.tvOne. Diunduh 13 Juli 2013. Pukul 06. 35 WIB.Asih, Reni. 25 November 2010. Sejarah vw combi camper.http://reninyip.blogspot.com/. Diunduh 19 Juli 2013. Pukul 22. 42 WIB.Bella, Aisah. 13 Maret 2013. Kisah Roro Mendut.http://mediaroromendot.blogspot.com/2012/03/kisah-roro-mendut.html.Diunduh 19 Juli 2013. Pukul 21.17 WIB.Diputra, Oka Jaya Made. 2012. Tiga Perusahaan Rokok Terbesar Di Indonesia.http://dablugen.blogspot.com/2012/04/3-perusahaan-rokok-terbesar-di.html.Diunduh 14 April 2013. Pukul 19. 55 WIB.Fitriya, Fahruddin. 22 April 2011. Manfaat Merokok Bagi Manusia.http://www.inouvetra.blogspot.com/2011/04/manfaat-rokok-bagimanusia.html?m=1.. Diunduh 19 Juli 2013. Pukul19. 43 WIB.http://www.djarum.com/index.php/en/brands/domestic/4. Diunduh 30 Mei 2013.Pukul 7.30 WIB.http://www.jogjakota.go.id/index/extra.detail/21, Sejarah Kota Yogyakarta. Diunduh21 Juli 2013. Pukul 20.07 WIB.Ifam. 19 Mei 2013. Menikmati Hidup Dengan “Ngudud”.http://berdiriberlari.blogspot.com/2013/05/menikmati-hidup-denganngudud.html. Diunduh 31 Mei 2013. Pukul 18.42 WIB.Ito. 9 Januari 2013. Tingwe, Bukan Sekedar Udud.http://sosbud.kompasiana.com/2013/01/09/ngudud-tingwe-516656.html.Diunduh 1 Juni 2013. Pukul 08.56 WIB.Labib, Zainul. 22 Novemer 2013. Macam-macam Ras Yang Ada Di Dunia.http://zain-corp.blogspot.com/2013/11/macam-macam-ras-yang-ada-didunia.html. Diunduh 22 November 2013. Pukul 21.00 WIBLynette. 12 Desember 2001. A Brief History of the VW Type II Bus, Edited by SillyWilly. http://www.bbc.co.uk/dna/ptop/plain/A649181. Diunduh 19 Juli 2013.Pukul 22.18 WIBMuhammad Yusuf. 2012. Televisi Menuju Online.http://inet.detik.com/read/2012/09/10/095558/2013074/398/televisi-menujuonline.Diunduh, Rabu 24 April 2013. Pukul 7. 47 WIB.Ninaa. 4 April 2012. Sinopsis Tentang Cerita Aladdin dan Lampu Ajaib.http://nseptianii.blogspot.com/2012/04/sinopsis-tentang-cerita-aladindan.html. Diunduh 18 November 2013. Pukul 19. 35 WIB.Rahinanugrahani. 16 April 2013. Citra Wanita Dalam Media Promosi Rokok DiIndonesia Tahun 1930-an.http://rahinanugrahani.blogspot.com/2013/04/citra-wanita-dalam-mediapromosi-rokok.html. Diunduh 12 Juli 2013. Pukul 09. 54 WIB.Robin. 20 April 2011. Buruh pabrik rokok PT Gudang Garam pulang kerja denganmengendarai sepeda di Kediri, Jawa Timur, 1989.http://store.tempo.co/foto/detail/P2004201100269/buruh-pabrik-rokok-ptgudang-garam-kediri. Diunduh 19 Juli 2013. Pukul 20. 30 WIB.Tia. 3 Maret 2005. Aladdin & Lampu Ajaib.http://dongeng1001malam.blogspot.com/2005/03/aladin-lampu-ajaib.html.Diunduh 18 November 2013. Pukul 20.00 WIB.Wibiono. 6 Oktober 2012. MaknaDan Filosofi Pakaian Adat Jawa Tengah: KebayaKartinian Dan Kain Jarik Batik.http://duniasosbud.blogspot.com/2012/10/makna-dan-filosofi-pakaian-adatjawa_6.html. Diunduh 2 Oktober 2013. Pukul 09.21 WIB.Widyastuti, Dhyah Ayu Retno. 29 mei 2012. Gerakan Anti Rokok Vs Iklan Rokok.http://fisip.uajy.ac.id/2012/05/30/gerakan-anti-rokok-vs-iklan-rokok/.Diunduh 12 Juli 2013. Pukul 10. 00 WIB.www.autolite.com. VW Combi. Diunduh 19 Juli 2013. Pukul 23.30 WIB.www.pustaka-kampar.com. Kegunaan Rokok. 22 Oktober 2012. Diunduh 1Sepetember 2013. Pukul 12.48 WIB.www.youtubedownloader.com. Iklan Djarum 76 Tahun 2007-2012. Diunduh 1 April2013. Pukul 05. 15 WIB.
Hubungan antara Intensitas Terpaan Iklan Rokok dan Tingkat Konformitas Peer Group dengan Pengambilan Keputusan Merokok Dikalangan Mahasiswi Di Semarang Cantya Cantya Darmawan Purba Dewanta; Hedi Pudjo Santosa; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.727 KB)

Abstract

ABSTRAKJUDUL : Hubungan antara Intensitas Terpaan Iklan Rokok dan Tingkat Konformitas Peer Groupdengan Pengambilan Keputusan Merokok Dikalangan Mahasiswi Di SemarangNAMA : Cantya Darmawan Purba DewantaNIM : D2C009087Kenaikan jumlah perokok wanita yang termasuk di dalamnya adalah mahasiswi semakinmeningkat dari tahun ke tahun, hal ini terjadi karena beberapa factor, salah satunya adalahindustry rokok mulai membidik wanita sebagai sasaran pasarnya, selain itu mahasiswi lebihsering untuk bersama sama peer groupnya sebagai kelompoknya daripada menghabiskanwaktunya dirumah. Hal ini tentu saja akan mendorong mahasiswi untuk menganggap bahwamerokok merupakan hal yang biasa dilakukan, terlebih lagi teman-teman sebayanya jugaperokok.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan antara intensitasterpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokokdikalangan mahasiswi di Semarang. Peneliti mencoba mewawancarai mahasiswi di Semarangsebanyak 40 orang untuk mengisi kuesioner penelitian untuk mengetahui hubungan antaraintensitas terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilankeputusan mahasiswi perokok dimana dia memutuskan untuk terus merokok dan jugapengambilan keputusan merokok mahasiswi non-perokok dimana mereka memutuskan memulaimerokok atau tidak.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara terpaaniklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok dikalangan mahasiswi non-perokok di Semarang. Dengan Y1 sebesar 0.000 dan nilai koefisienkorelasi Kendall‟s W adalah 0,906 maka hubungan ketiganya dinyatakan positif dan sangatsignifikan. Dimana semakin tinggi terpaan iklan rokok dan semakin tinggi tingkat konformitaspeer group, maka semakin mendorong mahasiswi non-perokok untuk memulai merokok.Dan juga terdapat hubungan yang positif antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi perokokdi Semarang. Dengan Y2 sebesar 0.000 dan nilai koefisien korelasi Kendall‟s W adalah 0,776maka hubungan ketiganya dinyatakan positif dan sangat signifikan. Dimana semakin tinggiterpaan iklan rokok dan semakin tinggi tingkat konformitas peer group, maka semakinmendorong mahasiswi perokok untuk terus merokok.Key words : Terpaan iklan, Peer group, Pengambilan keputusan, MerokokABSTRACTTITLE : Corelation Between Cigarette Advertising Exposure and Peer Group Level OfConformity With The Decision Of Smoking Among Female Smokers CollegeStudent In Semarang.NAME : Cantya Darmawan Purba DewantaNIM : D2C009087The number of women smokers were increasing from year to year, including the female college student,this happens due to several factors, one of that several factors is the cigarette industry started targetingwomen as a target market, furthermore most of female college students more frequently spend their timewith the same friend as a peer group rather than spend their time at home. It absolutely will encouragefemale college students to consider that smoking is a common thing to do, even more their peers are alsoa smoker.This research‟s goal is to determine how was the relationship between the intensity of cigaretteadvertising exposure and peer group level of conformity, with the decision of smoking, among the femalestudents in Semarang. Researcher tried to interview 40 female college students at Semarang, and askedthem to fill out a research questionnaire to determine how was the relationship between the intensity ofcigarette advertising exposure and peer group level of conformity with the decision of smoking, wherethey decided to keep smoking and also a non-smoker college student decided to start smoking or not.The results of this research shows that there is a positive relationship between cigarette advertisingexposure and peer group level of conformity with the decision of smoking among non-smokers collegestudent in Semarang. With Y1 of 0.000 and the value of the correlation coefficient Kendall's W is 0.906then the relationship of the three tested are positive and highly significant. Where the higher cigaretteadvertising exposure and the higher peer group level of conformity, so it pushes a non-smokers collegestudents to start smoking.And also there is a positive relationship between cigarette advertising exposure and peer group level ofconformity with the decision of smoking among smokers college student in Semarang. With Y2 of 0.000and the value of the correlation coefficient Kendall's W is 0.776 then the relationship of the three testedare positive and highly significant. Where the higher cigarette advertising exposure and the higher peergroup level of conformity, so it pushes a smoker college students to keep smoking continously.Key words: Exposure of advertising, Peer group, Decide, SmokingBAB IPENDAHULUANLatar BelakangMerokok sudah menjadi kebiasaan di masyarakat yang dianggap tidak berbahaya.Dewasa ini merokok merupakan hal biasa yang dilakukan oleh masyarakat. Tidak sulit bagi kitauntuk menemukan seseorang yang merokok, baik di dalam maupun diluar rumah.Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya, baikmenggunakan rokok maupun menggunakan pipa (Sitepoe dalam Fatimah N, 2010: 1). Perilakuini bisa diamati melalui aktifitas subyek berdasarkan pengakuan mereka mengenai volume,frekuensi, tempat, waktu, dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari. Merokok sudahmenjadi kebiasaan tersendiri dalam masyarakat. Kegiatan ini bahkan telah menjadi suatukebutuhan bagi para pencandunya.Hal tersebut merupakan fenomena tersendiri karena setiap orang tidak dapat memungkiridampak negatif rokok. Tetapi dari tahun ke tahun jumlah perokok semakin meningkat, tingkatproduksi dan pemakaian rokok di dalam negeri terus meningkat (Danto,2010,http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/09/02/10292668/Industri.Rokok.Kian.Tak.Terbendung).Tabel 1.1Kenaikan Pasar Rokok NasionalJenis Rokok Kenaikan Di Tahun 2013Sigaret Kretek Tangan naik 4% menjadi 85 miliar batangSigaret Kretek Mesin Filter naik 2% menjadi 87 miliar batangSigaret Putih Mesin naik 5% menjadi 22 miliar batangSumber:anonim,2013,http://www.neraca.co.id/index.php/harian/article/23536/Nilai.Penjualan.Rokok.Nasional.Bakal.Capai.Rp.233.Triliun#.UUV0vTfotukKenaikan penjualan rokok tentu saja diikuti juga oleh naiknya jumlah perokok.Berdasarkan data dari World Health Organization tahun 2008, Indonesia menduduki posisiketiga di dunia setelah China dan India dengan jumlah perokok terbesar yakni lebih dari 68 jutapenduduk Indonesia. 4,8 persen dari 1,3 milyar perokok di dunia berasal dari Indonesia. Secarasosiologis bahkan kultural, masyarakat Indonesia adalah friendly smoking. Merokok dianggapsebagai budaya warisan, bukan sebagai masyarakat yang kecanduan.Kenaikan jumlah perokok aktif paling tinggi di kalangan perempuan remaja dan dewasa,lima kali lipat lebih dari 0,3% (2005) menjadi 1,6% (2010). Sedangkan pada laki-laki remajakenaikannya lebih dari dua kali lipat yaitu 14% pada 2005 menjadi 37% pada 2010. Dari dataWHO, rokok telah mengakibatkan kematian lebih dari 400 ribu orang per tahun di Indonesiasedangkan di dunia jumlah kematian adalah 5,4 juta atau satu kematian tiap 6,5 detik. Lebih dari80% perokok ada di negara sedang berkembang seperti Indonesia, dimana Riskesdas (RisetKesehatan Dasar) tahun 2010 menunjukkan prevalensi perokok adalah sebesar 34,7% (Antara,2012, http://www.regionaltimur.com/index.php/perokok-wanita-di-indonesia-naik-lima-kalilipat/).Peneliti juga menanyakan secara acak kepada 20 mahasiswi di semarang. Penelitimenanyakan “apakah anda merokok atau tidak?”. Hasil yang didapatkan adalah, diantara 20mahasiswi 14 diantaranya menjadi perokok aktif.Data yang diperoleh peneliti juga di dukung dengan data dari Dinas Kesehatan KotaSemarang pada tahun 2010 menyebutkan bahwa perokok anak atau remaja putri mencapai 4,0%dan perokok perempuan dewasa mencapai 4,5% dari jumlah penduduk kota semarang (Rika,2011.http://www.fkm. undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx=4311).Dari tahun ke tahun jumlah perokok aktif semakin meningkat. Seseorang dipengaruhioleh dua faktor dalam menyikapi keberadaan suatu produk. Faktor tersebut terdiri dari pengaruhinternal dan eksternal. Pengaruh internal merupakan faktor dari dalam diri seseorang, sedangkanpengaruh eksternal dapat berupa komunikasi dengan media (komunikasi pemasaran), kelompokacuan, kelas sosial, budaya, dan sub budaya (Prasetijo, 2003: 165). Faktor keduanya inilah yangmempengaruhi tingkat pengetahuan seserorang tentang rokok dan mempengaruhi seseoranguntuk pertimbangannya dalam melakukan keputusan merokok.Analisis baru-baru ini tentang iklan rokok di Indonesia juga menekankan bahwa sejak2002 hingga saat ini sejumlah iklan merek rokok melibatkan perempuan, beberapa iklan rokokmenampilkan perempuan muda penuh gaya dan memberi pesan yang secara tersirat yangmembenarkan bahwa merokok untuk perempuan di era modern seperti sekarang ini sudah bisaditerima.Secara tidak langsung iklan rokok yang sering di tayangkan di televisi menunjukkanbahwa perempuan yang merokok terkesan keren, mewah, hura-hura, kelas sosial atas, keakraban,have fun, seru, pesta,dan gemerlap. Tentu saja terpaan iklan memberikan andil dalam mendorongseseorang yang terterpa oleh iklan tersebut tertarik untuk merokok.Diantara faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan merokok, selain iklan rokok jugafaktor teman sebaya juga mempunyai andil besar mempengaruhi remaja untuk mulai merokokataupun terus merokok. Seperti yang kita tahu bahwa mahasiswi lebih banyak menghabiskanwaktu dengan teman sebayanya dibanding dengan keluarganya. Khususnya bagi mahasiswi yangmerantau dari kota lain dan berkuliah di Semarang. Situasi ini lebih cenderung untuk membuatmahasiswi melakukan keputusan untuk memulai merokok bagi yang belum merokok ataupunterus merokok bagi yang sudah menjadi perokok, karena tingkat kebebasan yang tinggi danpengawasan orang tua yang kurang.Sikap mengenai rokok akan berbeda-beda bagi setiap mahasiswi tergantung dari seberapatinggi pengetahuan mahasiswi mengenai rokok. Secara sadar maupun tidak sadar seseorang akanmelakukan penginderaan lewat iklan yang menerpanya. Iklan merupakan pesan yangmenawarkan sebuah produk yang ditujukan kepada khalayak lewat suatu media yang bertujuanuntuk menciptakan pengetahuan dan mempersuasi khalayak agar mencoba dan akhirnyamembeli produk yang ditawarkan.Perumusan MasalahDalam penelitian ini akan mencari tahu bagaimanakah hubungan antara intensitas terpaaniklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok dikalangan mahasiswi di semarang?Tujuan PenelitianPenelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitasterpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusanmerokok di kalangan mahasiswi di semarang, baik mahasiswi yang belum menjadi perokokmaupun yang sudah menjadi perokok.Kerangka TeoriSocial cognitive dari Albert BanduraDalam social cognitive theory keputusan akan terjadi jika seseorang melihat peristiwayang menarik perhatiannya dari model yang menampilkan suatu perilaku dan menghasilkan nilaidan sesuai harapan. Melalui hal tersebut, seseorang akan mengembangkan harapan-harapantentang apa yang akan terjadi jika ia melakukan perilaku yang sama dengan model. Harapanharapanini akan mempengaruhi hasil pengambilan keputusannya untuk berperilaku. Tetapi,proses ini akan bergantung oleh sejauh mana seseorang tersebut mengidentifikasi dirinya denganmodel dan sejauh mana ia merasa sesuatu yang dilakukannya sesuai dengan harapannya.Bandura menjelaskan dalam social cognitive theory terdapat empat tahapan proses:proses perhatian (attention), proses pengingatan (retention), proses reproduksi motoris(reproduction) dan proses motivasional (Rakhmat, 2007: 240).Populasi dan SampelPopulasiPopulasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi di Semarang yang pernah diterpa iklan rokok danmempunyai peer group yang merokok. Jumlah mahasiswi dalam populasi ini tidak diketahuijumlah pastinya.sebanyak 40 orang.Teknik Samplingnonprobability sampling (metode tak acak) dengan proses sampling accidental.Sumber DataData primerSumber data utama yang diperoleh langsung dari responden di lapangan, melalui wawancarauntuk mengisi kuesioner yang akan diisi oleh 40 responden.Data SekunderData yang diperoleh secara tidak langsung, yaitu dari dokumen dan arsip-arsip yang sudahdikumpulkan oleh pihak lain, serta sumber-sumber lain yang mempunyai relevansi denganmasalah yang sedang diteliti.Teknik Pengumpulan DataTeknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancaraTINGKAT TERPAAN IKLAN ROKOK, KONFORMITAS PEER GROUP, DANPENGAMBILAN KEPUTUSAN MEROKOK DIKALANGAN MAHASISWIDISEMARANG.Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas instrument PenelitianSebelum suatu instrument digunakan untuk mengambil data maka terlebih dahulu akandilakukan uji coba atas instrument yang telah disusun. Hal ini bertujuan untuk menentukan butirbutirinstrument yang sah. Instrument yang valid berarti instrument tersebut dapat digunakanuntuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Sedangkan instrument yang reliable adalahinstrument yang akan menghasilkan data yang sama bila digunakan untuk beberapa kali dalammengukur obyek yang sama.Penentuan butir yang sah menggunakan teknik konsistensi internal, yaitu denganmengkorelasikan skor tiap item dengan skor totalnya. Untuk mendapatkan koefisien korelasiantara skor total, digunakan teknik korelasi Product Momment dari Carl Pearson. Uji cobapenelitian ini dilakukan pada 40 mahasiswi. Setelah kuesioner terkumpul semua, maka langkahselanjutnya yang dilakukan peneliti adalah memberi skor pada tiap butir instrument dan skorkasar dari kuesioner tersebut kemudian dimasukkan dalam tabulasi untuk diuji validitas danreliabilitasnya.Pada penelitian ini perhitungan validitas dan reliabilitasnya menggunakan bantuan programSPSS 17. Uji signifikansi dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r table untukdegree of freedom (df) = n-2,dalam hal ini n adalah jumlah sampel. Jumlah sampel dalam ujicoba ini adalah (n) = 40 dan besarnya df dapat dihitung 40-2 = 38 dengan alpha 0,05 didapat rtable = 0,3120 (dengan melihat r table pada df 38 dengan uji dua sisi). Valid atau tidaknyapertanyaan diketahui dengan cara membandingkan Correlated Item- Totalcorrelation denganhasil perhitungan r table 0,3120. Jika r hitung lebih besar dari r table dan nilai positif, makapertanyaan itu dinyatakan valid.Pada pengukuran reliabilitas dilakukan dengan cara One Shot atau pengukuran sekali saja.Nugroho (2005: 72) menjelaskan bahwa SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitasdengan uji statistic Cronbach „ s Alpha > 0,60.Hasil uji validitas dan reliabilitas instrument-instrumen dalam kuesioner akanditampilkan dalam table 3.1 berikut :Table 3.1.Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pertanyaan KuesionerNO INDIKATOR ITEM DITERIMA ITEM GUGUR TOTAL1 Kuantitas terpaan - 1 , 2 22 Kualitas terpaan 3 , 4 5 , 6 43 Kekompakan 10 , 11 , 14 , 15 , 16 , 17 1 , 2 , 12 , 13 104 Kesepakatan 6 , 7 , 8 9 45 Ketaatan 3 , 4 , 5 - 36 Keputusan MerokokNon Perokok1 , 2 , 3 - 37 Keputusan MerokokPerokok1 , 2 , 3 - 3TOTAL 23 8 29Sumber : Data primer yang diolah, 2013Kualitas Terpaan Iklan RokokKualitas terpaan iklan rokok merupakan aspek psikologis yang merupakan perhatian yangdiberikan seseorang terhadap suatu iklan rokok. Kualitas terpaan yang dimiliki oleh mahasiswi diSemarang tergolong tinggi terhadap terpaan iklan rokok.Gambar 3.1Hasil Jawaban Variabel Terpaan Iklan RokokSumber : Data primer yang diolah, 2013Dari hasil penghitungan tersebut maka interval kelasnya tampak pada table 3.3 berikut :Tabel 3.3Pengelompokan Kelas Terpaan Iklan RokokINTERVAL INDIKATOR10 ≥ - ≤ 12 Tinggi7 ≥ - ≤ 9 Sedang4 ≥ - ≤ 6 RendahSumber : Data primer yang diolah, 20133.4 Tingkat Konformitas Peer GroupKonformitas merupakan suatu tuntutan yang tidak tertulis dalam kelompok teman sebayaterhadap anggotanya, namun memiliki pengaruh yang kuat dan dapat menimbulkan perilakutertentu pada anggota kelompok tersebut. Seorang anak seringkali melakukan konformitas agarditerima dalam kelompok dan menjaga hubungan sosialnya agar tetap harmonis. Konformitasmempunyai tiga indicator antara lain kekompakan, kesepakatan, dan ketaatan.42% dari 40 responden mahasiswi di Semarang memiliki tingkat konformitas terhadappeer group yang tinggi. Sebanyak 40 % dari mahasiswi tersebut mempunyai tingkat konformitasyang sedang dan sisanya yaitu sebesar 18 % memiliki konformitas terhadap kelompoknyadengan tingkat yang rendah. Dapat dibuktikan pada gambar 3.5 di bawah ini ;Gambar 3.5Diagram Tingkat Konformitas terhadap Peer GroupSumber : Data primer yang diolah, 2013Sehingga dapat disimpulkan bahwa mahasiswi tersebut mempunyai tingkat konformitasterhadap peer group mereka dengan kategori yang tinggi. Hal ini karena tingkat ketaatan dankekompakan yang mereka miliki sedang, meskipun hanya kesepakatan mereka terhadappendapat dan keputusan kelompok tinggi.3.5 Keputusan MerokokDalam menentukan pengambilan keputusan merokok, indicator yang digunakan adalahbagi mahasiswi perokok, mereka akan memutuskan untuk terus merokok. Sedangkan untukmahasiswi yang belum menjadi perokok atau non perokok, mereka akan mengambil keputusanuntuk memulai merokok.3.5.1 Mahasiswi Non-PerokokTabel 3.5Pengelompokan Norma Keputusan Merokok MahasiswiINTERVAL INDIKATOR9,5 ≥ - ≤ 15 Ya3 ≥ - ≤ 9,4 TidakSumber : Data primer yang diolah, 2013Dan hasil dari variable ini,memperoleh tanggapan 12 mahasiswi dari 40 responden diSemarang yang menjadi responden penelitian terhadap pengambilan keputusan merokok adalah75 % dari 12 responden mahasiswi non-perokok di Semarang memutuskan untuk tidak memulaiuntuk merokok. Sebanyak 25 % dari mahasiswi non-perokok tersebut memutuskan untukmemulai untuk merokok. Dapat dilihat lebih lanjut pada Gambar 3.6Gambar 3.6Diagram Keputusan Merokok Non-PerokokSumber : Data primer yang diolah, 2013Sehingga dapat disimpulkan bahwa mahasiswi non-perokok tersebut sebagian besarmemutuskan untuk tidak memulai untuk merokok. Mungkin memang keberadaan peer groupyang merokok dan juga terpaan iklan kurang mampu untuk membuat mereka memutuskan untukmulai merokok.3.5.2 Mahasiswi PerokokBanyak responden yang dilibatkan dalam penelitian ini merupakan perokok, yaitu berjumlah 28mahasiswi dari 40 mahasiswi, dan hasil jawaban dari mereka adalah 93 % dari 28 respondenmahasiswi perokok di Semarang memutuskan untuk terus merokok. Sisanya sebanyak 7 % darimahasiswi perokok tersebut memutuskan untuk tidak meneruskan merokok. Dapat dilihat padagambar 3.7 di bawah ini :Gambar 3.7Diagram Keputusan Merokok PerokokSumber : Data primer yang diolah, 2013Sehingga dapat disimpulkan bahwa mahasiswi perokok tersebut sebagian besarmemutuskan untuk terus merokok. Hal ini dapat terjadi karena tingkat konformitas peer groupmereka yang tinggi dan terpaan iklan rokok yang sedang.HUBUNGAN TERPAAN IKLAN ROKOK DAN TINGKAT KONFORMITAS PEERGROUP DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN MEROKOK DIKALANGANMAHASISWI DI SEMARANGUntuk mencari hubungan antara dua variabel bebas (X) yaitu hubungan terpaan iklanrokok (X1) dan tingkat konformitas peer group (X2) yang dihubungkan dengan variabel terikatpengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiwi di Semarang baik yang sudah menjadiperokok (Y1) maupun mahasiswi yang belum menjadi perokok (Y2) peneliti menggunakananalisis korelasi dengan bantuan aplikasi komputer SPSS 17.Uji HipotesisUji hipotesis penelitian hubungan terpaan iklan produk rokok dan tingkat konformitaskelompok sebaya dengan pengambilan keputusan merokok digunakan alat uji statistik Kendallmelalui program SPSS 17. Kriteria hasil uji statistik mengenai signifikansi hasil penelitiansebagai berikut :i. Jika nilai signifikansi < 0,01 : hubungan antar variabel sangat signifikan pada tarafkepercayaan 95%. Maka hipotesis penelitian dapat diterima.ii. Jika nilai signifikansi < 0,05 : hubungan antar variabel sangat signifikan pada tarafkepercayaan 95%. Maka hipotesis penelitian dapat diterima.iii. Jika nilai signifikansi > 0,05 : hubungan antar variabel tidak signifikan pada tarafkepercayaan 95%. Maka hipotesis penelitian dapat ditolak.Untuk menentukan seberapa kuat hubungan diantara 3 variabel, akan digunakan pedomansebagai berikut (Santoso dan Fandy Tjiptono, 1997 : 177) :1. Korelasi antara 0 – 0,5 merupakan korelasi lemah.2. Korelasi antara 0,5 – 1 merupakan korelasi kuatHipotesis 1 (H1) : Terdapat hubungan positif antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswiperokok di Semarang.Tabel 4.1Hasil Uji Kendall W Responden Non-PerokokN 40Kendall‟s W (a) .906Chi-Square 72.456Df 2Asymp. Sig. .000A Kendall‟s Coefficient ConcordanceSumber : data yang diolah 2010Demikian uji hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer groupdengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi non-perokok di Semarang.Dengan demikian hipotesis 1 (H1) yang diajukan dalam penelitian ini yaitu ada hubunganpositif antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilankeputusan merokok di kalangan mahasiswi non-perokok di Semarang dapat diterima.Hipotesis 2 (H2) : Terdapat hubungan positif antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswinon-perokok di Semarang.Tabel 4.2Hasil Uji Kendall W Responden PerokokN 40Kendall‟s W (a) .779Chi-Square 62.359Df 2Asymp. Sig. .000A Kendall‟s Coefficient ConcordanceSumber : data yang diolah 2010Demikian uji hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer groupdengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi perokok di Semarang.Dengan demikian hipotesis 2 (H2) yang diajukan dalam penelitian ini yaitu ada hubunganpositif antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilankeputusan merokok di kalangan mahasiswi perokok di Semarang dapat diterima.Analisis dan InterpretasiMahasiswi dengan terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group yang tinggisecara signifikan lebih memiliki kecenderungan untuk terus merokok daripada mereka yangmemiliki terpaan dan tingkat konformitas peer group yang rendah. Begitu juga halnya denganmahasiswi non-perokok, Mahasiswi dengan terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peergroup yang tinggi secara signifikan lebih memiliki kecenderungan untuk memulai merokokdaripada mereka yang memiliki terpaan dan tingkat konformitas peer group yang rendah. Haltersebut menunjukkan bahwa terpaan iklan rokok yang diterima akan dapat menuntun mahasiswiuntuk tetap terus merokok atau memulai untuk merokok. Pada prakteknya iklan rokokmemelihara citra produk dan makna penawaran dalam benak konsumen. Pemasar memahamidan mengeksplorasi nilai yang melekat pada endorser, tag line dan visualisasi iklan dalambentuk citra positif. Citra positif tersebut selanjutnya ditransfer kepada merek produk rokoktersebut. Hal ini dilakukan dengan harapan konsumen mempersepsikan produk rokok denganasosiasi yang positif.Pandangan positif mahasiswi dari pengalaman merek tersebut akan dikembangkan melaluilingkungan sosialnya. Hal ini karena pembentukan sikap dan perilaku dipengaruhi oleh prosesbelajar (sosialisasi) berupa pergaulan atau interaksi sosial. Interaksi social ialah suatu prosesdimana individu memperhatikan dan merespon individu lain sehingga dibalas dengan suatuperilaku tertentu. Reaksi yang ditimbulkan mengindikasikan bahwa individu tersebutmemperhatikan orang yang memberi stimulus sehingga terjadi interaksi sosial. Salah satuinteraksi sosial yang dapat diamati adalah interaksi sosial dalam komunikasi kelompok berupakonformitas kelompok.Seorang mahasiswi mengamati peristiwa dari lingkungannya dan memperlajarinya melaluiproses perhatian (social learning). Peristiwa yang menarik perhatian adalah yang menonjol,sederhana, dan berulang-ulang seperti penayangan iklan rokok. Setelah mahasiswimemperhatikan informasi dari iklan, mereka menyimpan hasil pengamatan dalam memorimereka. Proses membuat gambaran mental terhadap peristiwa yang diamati (visual imagery) danmenunjukkan representasi dalam bentuk bahasa merupakan proses retention.Selanjutnya adalah proses reproduksi motoris (reproduction), menghasilkan kembaliperilaku yang diamati. Mahasiswi cenderung memulai merokok dan meneruskan tetap merokokapabila didukung oleh lingkungan peer group mereka. Pada akhirnya bila penerapan perilakuyang diamati menghasilkan nilai dan sesuai harapan, mereka akan mengadopsi perilaku tersebutdan mengulang kembali pada waktu yang akan datang.KesimpulanMenurut hasil penelitian hubungan terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer groupdengan pengambilan keputusan merokok dikalangan mahasiswi di Semarang mendapatkesimpulan sebagai berikut :1. Terdapat hubungan yang positif antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitaspeer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi nonperokokdi Semarang. Dimana semakin tinggi terpaan iklan rokok dan semakintinggi tingkat konformitas peer group, semakin mendorong mahasiswi non-perokokuntuk memulai merokok. Hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas kelompok sebaya dengan pengambilan keputusan merokok di kalanganmahasiswi non-perokok di Semarang merupakan hubungan yang sangat signifikan,dengan demikian antara ketiga variable tersebut berhubungan erat satu sama lain.2. Terdapat hubungan yang positif juga antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalanganmahasiswi perokok di Semarang. Dimana semakin tinggi terpaan iklan rokok dansemakin tinggi tingkat konformitas peer group, semakin mendorong mahasiswiperokok untuk memulai merokok. Hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas kelompok sebaya dengan pengambilan keputusan merokok di kalanganmahasiswi perokok di Semarang merupakan hubungan yang sangat signifikan,dengan demikian antara ketiga variable tersebut berhubungan erat satu sama lain.Daftar PustakaArdianto, Elvinaro & Lukiati K E. (2007). Komunikasi Masa : Suatu Pengantar. Bandung :Remaja Rosdakarya.Bandura, A. 2001. Social Cognitive Theory: An Agentive perspective. Annual Review ofPsychology, 52, 1-26. Dalam Pulkkinen, Jyrki. 2003. The Paradigms of e-Education.Baron, R.A, & Byrne, D.(1994). Social Psychology : Understanding Human Interaction(edisi ke-7). Needham Heights, MA : Allyn & Bacon.Botvin, Gilbert J dkk. (1993).Smoking Behavior of Adolescents Exposed to CigaretteAdvertising. Public Health Report Vol.108 No 2. New York : Cornell University MedicalCollege.Bryant, Jennings dan Dolf Zillmann. (2002). Media Effects Advances in Theory andResearch. NJ : LEA.Bungin, Burhan. (2001). Erotika Media Massa. Surakarta : University Press.Burton, Graeme. 2008. Yang Tersembunyi di Balik Media. Yogyakarta : Jalasutra.Durianto, Darmadi, dkk. (2001). Strategi Menaklukkan Pasar : Melalui Riset Ekuitas danPerilaku Merek. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.Effendi, Onong Ochjana. 2003. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung : RemajaRosdakarya.Engel, James F, Roger P Blackwell, dan Paul W Miniard. 1995. Perilaku Konsumen Jilid2. Jakarta : Binarupa Aksara.Fatimah, Nurul. (2010).Hubungan Terpaan Produk Rokok di Televisi dan TingkatKonformitas Teman Sebaya Terhadap Kecenderungan Perilaku Merokok. Tidak diterbitkan.Semarang: FISIP Universitas Diponegoro.Kartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Mandar Maju.Kasali, Rhenald. 1995.Manajemen Periklanan Konsep dan Aplikasinya di Indonesia.Jakarta : Pustaka Utama Grafiti.Keller, Kevin Lane. (1998). Building Measuring and Managing Brand Equity. EnglewoodClifford, New Jersey : Prentice Hall Inc.Komalasari, Dian dan Avin F H.(2000). Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok PadaRemaja. http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/perilaku merokok_avin.pdf.Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana.Mar‟at. (1981). Sikap Manusia dan Pengukurannya. Jakarta : PT Ghalia Indonesia.McQuail, Denis.1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Erlangga.Nugroho, Bhuono Agung. (2005). Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian denganSPSS. Yogyakarta : ANDI.Nurudin. 2003. Komunikasi Massa. Malang : Cespur.Oktarinda, 2010, http://bataviase.co.id/node/2048Prasetijo, Ristiyani, dan John J.O.I Ihalauw.(2003). Perilaku Konsumen. Salatiga : FakultasEkonomi UKSW.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.Rasyid, Anuar, 2009. Pengaruh Sikap Siswa SMA Muhammadiyah Bangkinang terhadapBahaya Narkoba sebagai Efek Sosialis. Skripsi. Riau : Universitas Riau.Rika. 2011. Gambaran Perubahan Perilaku Merokok pada Mahasiswi KesehatanMasyarakat di Kota Semarang Tahun 2011. Skripsi. Semarang : Universitas Diponegoro.Santrock, John W. 1996. Adolescence, Perkembangan Remaja. Jakarta : Erlangga.Sarwono, S.W. (1989). Psikologi Remaja. Jakarta : Erlangga.Sears, D dan Peplau, L.A.(1994). Psikologi Sosial. Alih Bahasa : Michael, A. Jilit Kedua.Jakarta : Erlangga.Shadel, William G dkk. 2008. Exposure to Cigarette Advertising and Adolescents‟Intention to Smoke . The Moderating Role of the Developing Self Concept. Journal of PediatricPsychology vol 33 no 7. Oxford : Oxford University Press.Shimp, Terence. 2003. Periklanan Promosi, Aspek Tambahan Komunikasi Terpadu.Jakarta : Erlangga.Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi (editor). (1989). Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES.Sugiyono, DR. 2000. Metode Penelitian. Bandung : CV Alvabeta.Sutisna. 2002. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung : Rosdakarya.Tjiptono, Fandy. 1997. Strategi Pemasaran. Yogyakarta : ANDI.Trisnanto, Adhy. 2007. Cerdas Beriklan. Yogyakarta : Galangpress.Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : GrasindoZen, Bambang Hakim. (2007). Hubungan Antara Sikap Tentang Pesan Bahaya Merokokdan Ketertarikan Personal Lingkungan Perokok dengan Perilaku Merokok. Tidak diterbitkan.Semarang: FISIP Universitas Diponegoro.(Anonim, 2009, http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/458-rokokmembunuhlima-juta-orang-setiap-tahun.html) .(Anonim,2013, http://www.neraca.co.id/index.php/harian/article/23536/Nilai.Pen jualan.Rokok.Nasional.Bakal.Capai.Rp.233.Triliun#.UUV0vTfotuk).(Anonim,2012, http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/01/130124_majalahlain_perempuan_perokok.html ).(Anonim, 2009, http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/458-rokokmembunuh-lima-juta-orang-setiap-tahun.html).(Antara, 2012, http://www.regionaltimur.com/index.php/perokok-wanita-di-indonesianaik-lima-kali-lipat/)(Danto, 2010, http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/09/02/10292668/Industri.Rokok. Kian.Tak.Terbendung).(Nurmayanti, 2012, http://www.tembakausehat.com/index.php/berita/400-pangsa-pasarphilip-morris-diindonesia-naik-jadi-334)(Pramesthi, Olivia Lewi, 2012, http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/05 /meningkatperokok-pemula-di-indonesia).(Rika, 2011. http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx =4311)(Sila Ananda, Kun, 2012, http://www.merdeka.com/sehat/wanita-perokok-ringan-berisikomati-mendadak.html).(Wahyuningsih, Merry, 2012, http://health.detik.com/read/2012/04/26/142725/1902318/763/ylki-di-indonesia-rokok-dijual-bebas-seperti-beras)(Yuliana, Rika, 2011.http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&i dx=4311)http://psycholocious.blogspot.com/2013/02/teori-belajar-sosial-albertbandura.htmlhttp://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Kognitif_Sosialhttp://odasamodra.wordpress.com/2013/02/25/teori-kognitif-sosial-bandura/http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/39229/3/Chapter%20II.pdfhttp://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/11/pembuat-keputusan/http://oro.open.ac.uk/35093/http://www.youtube.com/watch?v=v-SFvtFCpjQhttp://www.youtube.com/watch?v=HBHng8zd5GIhttp://www.youtube.com/watch?v=FfgdKR9ZS94http://www.youtube.com/watch?v=Yr2sKIN0vo4http://www.youtube.com/watch?v=YUgz6EG9hs4
Analisis Framing Kasus Suap Kuota Impor Daging Sapi Di Partai KeadilanSejahtera (PKS) Dalam Koran Tempo Faurizka, Hani; Sunarto, Sunarto; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.074 KB)

Abstract

ABSTRACTJUDUL : Framing Analysist of Beef Import Quota Bribery Case in PartaiKeadilan Sejahtera (PKS) within The Koran TempoNAMA : HANI FAURIZKANIM : D2C009005The mass media always saw political issues as an attractive publicity and also something witha high news value. In several recent years, news reports in Indonesia has always marred by manyIndonesian political elites allegations of bribery cases. One of several authority and power abusementcases by cadres of political parties in Indonesia were the suspected fund bribery of beef imports quotain Partai Keadilan Sejahtera (PKS).Media reporting activities in political cases made them involved in making of politicaldiscourse. Media wasn’t act as news courier only but they act as political agent also, they do framingthe message for making up issues, and Koran Tempo is on the list with all of its interest attributewithin this case.This was descriptive research with framing analysis approach developed by Robert N.Enmant. This research was conducted to determine the frame formed by Koran Tempo in every theirnews about the bribery case of beef import quotas that occurred in PKS.Result of this study indicated that the Koran Tempo news was dominated by “news maker”frame pattern. Tempo tried to form a view that the names of PKS leaders who are involved in cases isseen as a mistake. The non-PKS resource persons been chosen to corroborate the indicationsstatements of the names of this Islamic-based party leaders involvement. Legal system and the KPK’sprocess of investigation considered as the only right way to solve the problem. In the end, KoranTempo is clearly not a neutral media. Koran Tempo’s news keep the journalists subjectivity that isbased on an ideology as a critical and courageous media in their every news publication.Key words : Political party, Bribery case, Koran TempoABSTRAKJUDUL : Analisis Framing Kasus Suap Kuota Impor Daging Sapi Di PartaiKeadilanSejahtera (PKS) Dalam Koran TempoNAMA : HANI FAURIZKANIM : D2C009005Media massa selalu melihat persoalan politik sebagai bahan pemberitaan yang menarik danmemiliki nilai berita yang tinggi. Beberapa tahun terakhir pemberitaan di indonesia selalu diwarnaioleh dugaan kasus suap yang banyak menimpa elite partai politik. Salah satu kasus penyalahgunaanwewenang dan jabatan oleh kader-kader partai politik di Indonesia adalah adanya dugaan dana suapkuota impor daging sapi yang mengalir di tubuh Partai Keadilan Sejahtera (PKS).Aktivitas media dalam melaporkan peristiwa-peristiwa politik membuat media seringkaliterlibat dalam pembuatan wacana politik. Media tidak hanya bertindak sebagai penyalur pesanmelainkan juga sebagai agen politik yang melakukan proses pembingkaian pesan untukmengkonstruksi sebuah isu, tak terkecuali Koran Tempo dengan segala atribut kepentingannya dalammenyoroti kasus ini.Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan analisis framing yang dikembangkan olehRobert N. Enmant. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui frame yang dibentuk oleh KoranTempo dalam setiap pemberitaannya mengenai kasus suap kuota impor daging sapi yang terjadi diPartai Keadilan Sejahtera (PKS).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberitaan Tempo di dominasi oleh pola bingkaiNews maker. Tempo mencoba membentuk konstruksi bahwa nama-nama petinggi PKS yang terlibatdipandang sebagai suatu hal yang salah. Pemilihan narasumber non-PKS dipilih Tempo untukmenguatkan keterangan adanya indikasi keterlibatan nama-nama petinggi partai berbasis islamtersebut. Jalur hukum serta proses penyidikan KPK dianggap sebagai satu-satunya cara yang tepatuntuk menyelesaikan masalah. Pada akhirnya jelas Tempo bukanlah media yang netral. PemberitaanTempo menyimpan subjektivitas wartawan yang dilandasi oleh ideologi sebagai media cetak yangkritis dan berani dalam setiap menurunkan berita kepada pembacanya.Key words : Partai politik, Praktik suap, Koran TempoPENDAHULUANA. Latar BelakangMaraknya kasus korupsi yang terjadi diIndonesia seakan – akan menjadi suatu budayayang tidak bisa dihilangkan sejak zaman orde baru dan telah menjadi fenomena sosialyang terjadi pada tatanan pemerintahan. Korupsi merupakan gejala salah pakai dansalah urus dari kekuasaan demi mengeduk keuntungan pribadi, dengan menggunakanwewenang dan kekuatan-kekuatan formal untuk memperkaya diri sendiri.Salah satu bentuk tindak korupsi yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan adalahmasalah suap. Berbagai bentuk praktik korupsi suap menyuap banyak terjadi dilingkungan pejabat birokrasi pemerintah ataupun lembaga publik yangpelaksanaannya bersentuhan dengan masyarakat, tak terkecuali partai politik. Jikadilihat dari Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 1999 Tentang PartaiPolitik, disebutkan bahwa terdapat tiga fungsi umum sebuah partai politik, yaitu (1)melaksanakan pendidikan politik dengan menumbuhkan dan mengembangkankesadaran atas hak dan kewajiban politik rakyat dalam kehidupan berbangsa danbernegara; (2) menyerap, menyalurkan dan memperjuangkan kepentingan masyarakatdalam pembuatan kebijakan negara melalui mekanisme badan-badanpermusyawaratan/ perwakilan rakyat; dan (3) mempersiapkan anggota masyarakatuntuk mengisi jabatan jabatan politik sesuai dengan mekanisme demokrasi. Namunsetelah melihat kasus-kasus diatas,bisa disimpulkan bahwa terjadi disfungsi darikeberadaan partai politik di Indonesia. Demokrasi partai dalam mencetak kader-kaderpartai yang bersih sebagai lembaga penyalur aspirasi rakyat, seakan jauh dari kataideal. Elite partai banyak yang menggunakan wewenang dan kekuasaannya untukmemperkaya kepentingan pribadi, yakni terlibat dalam praktik korupsi sepertipencucian uang maupun suap.Dari sekian banyak isu kasus suap yang melibatkan para elite partai politik diIndonesia, peneliti tertarik pada kasus aliran dana suap penambahan kuota impordaging sapi PT. Indoguna Utama yang mengalir di tubuh Partai Keadilan Sejahtera(PKS). Kasus ini terkuak sejak tertangkapnya sosok Ahmad Fathanah di hotel LeMeridien pada dini hari tanggal 29 Januari 2013, yang kemudian menyeret namakader sekaligus mantan presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq, serta petinggi PKS lainnyauntuk turut berurusan dengan KPK.Pada kasus dugaan suap impor daging sapi ini, Luthfi Hasan Ishaaq danFathanah ditetapkan sebagai tersangka bersama dua bos PT. Indoguna Utama(perusahaan pengimpor daging) yaitu Juard Effendi dan Arya Abadi Effendy. Selainsebagai presiden PKS kala itu, Luthfi juga tercatat sebagai anggota Dewan PerwakilanRakyat (DPR) 2009-2014. Ia duduk di Komisi I. Sebagai anggota Komisi I, Luthfihanya bertugas dalam urusan soal komunikasi, informasi, keamanan, dan pertahanan.Urusan peternakan dan impor daging menjadi ranah Komisi IV dan Komisi VI.Dugaan keterlibatan Luthfi dalam kasus ini adalah, ia diduga "menjual" otoritas yangdimilikinya untuk memengaruhi kebijakan soal kuota impor daging. Sebagai petinggiPKS, ia memiliki pengaruh yang besar. Kuota impor daging sapi menjadi kewenanganKementerian Pertanian, di mana menteri yang menjabat, Suswono, adalah kader PKS.Dari beberapa hasil penyidikan KPK, Luthfi pun diteteapkan sebagi tersangka kasussuap kuota impor daging sapi atas hubungannya dengan Suswono, kader PKS yangmenjabat sebagai Menteri Pertanian tersebut.Keterlibatan Luthfi Hasan Ishaaq dalam memanfaatkan jabatan/posisinya untukberhubungan dengan Mentan Suswono melatarbelakangi penetapan statusnya sebagaitersangka suap, dimana melanggar pasal 12 Huruf a atau b atau Pasal 5 Ayat (2) atauPasal 11 Undang-Undang No. 31/1999 sebagaimana telah diubah menjadi Undang-Undang No. 20/2001 jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP mengenai penyelenggaranegara yang menerima hadiah atau janji terkait kewajibannya.Dari awal tertangkapnya Ahmad Fathanah hingga ditetapkannya Luthfi HasanIshaaq sebagai tersangka pencucian uang, berbagai media massa berbondong-bondongmenyajikan laporan berita ter-update untuk mengulas kasus ini. Salah satu jenis mediamassa adalah media massa cetak yang disebut surat kabar atau koran. Dua nama suratkabar nasional di Indonesia yang tak luput mengulas perkembangan kasus suapdaging impor di PKS adalah Kompas dan Tempo. Dalam kurun waktu selama kuranglebih 5 bulan, yaitu dari tanggal 31 Januari hingga 30 Mei, pemberitaan mengenaikasus ini masih dibahas dalam kedua surat kabar tersebut. Untuk lebih jelas melihatragam berita yang dihadirkan oleh Kompas dan Tempo mengenai kasus suap di PKSedisi 31 Januari – 30 Mei 2013, disajikan dalam tabel berikut :Tabel 1.1Perbandingan jumlah ragam berita dalam surat kabar Kompas danTempo edisi 31 Januari – 30 Mei 2013Ragam BeritaMediaKompas TempoHeadline 8 judul 25 judulBerita Utama - 52 judulNasional - 25 judulPolitik danHukum35 judul -Skandal SuapGuncang PKS- 15 judulJumlah Berita 43 judul 117 judulKeterangan: rincian pada lampiranTerkait dengan berita kasus suap di PKS ini, Tempo menurunkan 25 judulheadline pada halaman cover surat kabar, dibandingkan dengan Kompas yang hanya 8judul headline. Mengingat pentingnya kedudukan sebuah Headline dalam surat kabar,dimana sangat mempengaruhi pembaca dimana memudahkan dalam mengetahuiperkembangan kasus yang terjadi serta menumbuhkan motivasi, mendorong danmengembangkan pola pikir bagi masyarakat untuk semakin kritis dan selektif dalammenyikapi berita-berita yang disajikan pada berbagai media cetak yang ada dimasyarakat.Perbedaan penyampaian suatu berita di berbagai media juga dipengaruhi olehlatar belakang seorang wartawan dari media yang bersangkutan. Dalam Kode EtikJurnalistik Indonesia dalam Undang-Undang Pers, pasal 1 disebutkan bahwa :“Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dantidak beritikad buruk”. Namun saat ini, seiring perkembangan pers serta kekebasan wartawandalam menghasilkan berita tak sedikit ditemukan berita-berita yang dinilai tidak berimbangsesuai dengan ketentuan kode etik jurnalistik. Bagi masyarakat biasa, pesan dari sebuahberita akan dinilai apa adanya. Berita akan dipandang sebagai barang suci yang penuhdengan objektifitas. Namun, berbeda dengan kalangan tertentu yang memahami betulgerak pers. Mereka akan menilai lebih terhadap pemberitaan, yaitu dalam setiappenelitian berita menyimpan ideology dan campur tangan wartawan. Seorangwartawan pasti akan memasukkan ide-ide mereka dalam analisis terhadap data-datayang diperoleh dilapangan.Dalam kasus yang diangkat ini dapat tersaji dengan jelas, bagaimana mediamassa menggambarkan identitas para actor yang menjadi sorotan utama mendominsiteks (profil) yang menjadi sorotan. Adanya proses seleksi isu dan penekanan pada isiberita yang dianggap layak ditampilkan, dipengaruhi juga oleh persepsi wartawan,yang jelas sangat beragam. Interpretasi sangat dilandasi dengan kepentingan masingmasingmedia massa tak terkecuali Koran Tempo dalam pemberitaannya seputarkasus suap impor daging sapi yang melibatkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).B. PermasalahanBagaimana majalah Tempo membingkai berita tentang kasus suap daging sapi imporyang melibatkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ?PEMBAHASANBerdasarkan data empirik penelitian, sejak kasus ini terkuak, Tempo tercatatmenurunkan 25 judul headline mengenai kasus suap kuota impor daging sapi. Namunpenelitian ini hanya merujuk pada 10 judul headline pada tanggal 10 Mei hingga 30Mei 2013, dimana dalam periode tersebut pembahasan berita kasus suap impor dagingsapi yang terjadi di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) lebih terfokus, serta menjadicover pemberitaan paling banyak. Dengan menggunakan perangkat framing Entman,akan diketahui bagaimana pembingkaian yang dilakukan Tempo terhadap kasus suapkuota impor daging sapi yang terjadi di PKS. Berikut penjabarannya :Define Problems atau pendefinisian masalah. Dalam membahas masalah kasussuap kuota impor daging sapi di PKS ini, 10 berita yang diturunkan oleh Tempohampir sebagian besar terfokus pada framing pola bingkai News Maker/Public Figure,berita-berita yang disajikan selalu terkait dengan nama-nama besar petinggi PKS yangterlibat didalamnya.Tercatat dari 10 berita tersebut, ada 9 berita menggunakan pola bingkai NewsMaker. Terlihat disini bagaimana Tempo mencoba untuk memberikan gambaranbahwa kasus yang menyeret nama orang-orang penting, orang-orang terkemuka,lembaga penting, menjadi salah satu hal yang menarik untuk dijadikan berita. Dalamhal ini baik itu petinggi partai, menteri dan lembaga tinggi negara yang bersentuhandengan kasus hukum mau tak mau akan ditindak lanjuti pula berdasarkan hukumyang berlaku.Diagnose Causes atau memperkirakan penyebab masalah. Dalam memberitakantentang kasus suap kuota impor daging sapi yang terjadi di PKS ini secara tidaklangsung tampak bahwa Tempo menganggap bahwa kesaksian sumber berita di luarPKS menjadi penyebab masalah dalam kisruh yang melibatkan nama-nama petinggipartainya dan lembaganya itu sendiri. Disini tampak bagaimana Tempo berusahamenyudutkan pihak PKS dengan dengan keterangan-keterangan sumber di luar PKSyang sebagian besar mengungkapkan fakta adanya keterlibatan para petinggi PKSdalam kasus suap kuota impor daging sapi.Make Moral Judgement atau membuat keputusan moral. Menanggapi kasus suapimpor daging yang yang melibatkan para petinggi Partai Keadilan Sejahtera ini, ada 5evaluasi moral yang diberikan oleh Tempo: pertama, keterlibatan para petinggi PKSdinilai salah karena tugas dan wewenang mereka dalam struktur kepartaian tidak adahubungannya dengan kasus penambahan kuota impor daging sapi. Kedua, statushukum Suswono dalam kasus impor daging masih sebatas saksi atas dua tersangkasebelumnya, Luthfi Hasan Ishaaq dan Fathanah . Ketiga, benda-benda yang terkaitdengan aliran dana dari Fathanah dikategorikan sebagai hasil pencucian uang dantindak suap. Keempat, KPK dinilai lamban dalam memproses status hukum danmelakukan pemeriksaan terhadap para petinggi PKS yang terlibat. Kelima, laporanPKS atas KPK termasuk dalam upaya mengkriminalkan KPK, alasannya karena PKSmelaporkan KPK dengan pasal pidana, yakni pencemaran nama baik.Kemudian dalam Treatment recommendation, menurut Tempo rekomendasiyang bisa dilakukan dalam menghadapi kisruh kasus suap kuota impor daging sapiyang terjadi di PKS ini adalah dengan menyerahkan proses dan penyelidikansepenuhnya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tempo menggarisbawahibahwa semua petinggi PKS yang terlibat kasus ini harus di sikapi secara serius, salahsatunya dengan penyelidikan dan pemeriksaan sesuai prosedur hukum yang berlaku.Koran Tempo melihat bahwa penyelidikan yang dilakukan pihak KPK merupakansuatu cara agar masyarakat melihat bahwa segala bentuk praktik korupsi yangdilakukan elite parpol adalah masalah yang serius dan harus ditangani oleh lembagayang berwenang.Dari keseluruhan pemberitaan yang di munculkan, Tempo mencobamengarahkan opini public bahwa kasus suap impor daging yang terjadi di PKS inidianggap salah dan melanggar ketentuan hukum sehingga pantas untuk diprosessesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Tempo juga menggunakanmenggunakan gaya bahasanya cenderung lebih berani. Apalagi, jenis berita yangdisampaikan berupa isu yang sensitif. Keberanian dalam menulis berita yang sensitifitu diikuti dengan kreativitas dalam mengolah berita menjadi sesuatu yang menarikatensi pembaca.PENUTUPKesimpulanMelalui hasil analisis dengan menggunakan perangkat framing Robert N. Enmant,penulis telah menemukan pola bingkai (frame) yang digunakan oleh Tempo dalamkasus suap kuota impor daging sapi yang terjadi pada Partai Keadilan Sejahtera (PKS)dalam periode 10-30 Mei 2013. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberitaanTempo didominasi oleh pola bingkai News maker. Nilai berita News maker padapemberitaan Tempo mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan nilai beritakonflik.Tempo menilai bahwa nama-nama petinggi PKS yang terlibat dalam kasus inipenting dan layak dijadikan berita, hal ini sesuai dengan teori jurnalistik yangmenyebutkan bahwa nama selalu menciptakan berita (names make news). Teoritersebut dapat dianalogikan dengan pernyataan bahwa segala sesuatu yang dikatakandan dilakukan oleh orang-orang penting selalu dikutip oleh media dan menjadi berita,sekalipun hal itu bersifat negatif.Tempo mencoba mengkonstruksikan bahwa petinggi PKS yang terlibat kasustindak pidana korupsi, baik dalam bentuk suap maupun pencucian uang, merupakansuatu bentuk penyalahgunaan wewenang dan kedudukan karena tidak seharusnyafigur yang menjadi panutan dalam partai terlibat dalam sebuah kasus. Hal inidipandang oleh Tempo sebagai suatu kesalahan, dan jalur hukum menjadi satusatunyacara yang tepat untuk menyelesaikan masalah.Sikap Tempo tersebut juga didukung dengan pemilihan narasumber yangdigunakan dalam pemberitaan. Mayoritas sumber berita yang ditampilkan Tempoadalah pihak-pihak non-PKS. Kesaksian sumber berita tersebut cenderungmembenarkan fakta keterlibatan para petinggi PKS dalam kasus suap impor daging.Pada akhirnya penulis menyimpulkan bahwa Tempo bukanlah media yang netraldalam mengkonstruksikan suatu isu. Pemberitaan Tempo menyimpan subyektivitaswartawan yang dilandasi oleh ideologi sebagai media cetak yang kritis dan beranidalam setiap menurunkan berita kepada pembacanya.Daftar PustakaReferensi BukuArdianto, Elvinaro., Erdinaya., Komala, Lukiati. (2004). Komunikasi Massa: SuatuPengantar. Bandung: RosdakaryaBungin, Burhan. (2008). Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Prenada Media GroupChaer, Abdul. (2010). Bahasa Jurnalistik. Jakarta: Rineka CiptaDenzin, Norman K., dan Yvonna S. Lincoln. (1994). Handbook of QualitativeResearch. London: SAGE PublicationsDenzin, Norman K., dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of QualitativeResearch. Diterjemahkan oleh Dariyanto dkk dengan judul Handbook ofQualitative Research. Yogyakarta: Pustaka PelajarEffendy, Onong Uchjana. (2005). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung:Remaja RosdakaryaEriyanto. (2002). Analisis Framing: Konstruksi Ideologi dan Politik Media.Yogyakarta: PT. LKis Pelangi AksaraEriyanto. (2007). Analisis Framing : Konstruksi, Ideologi dan Politik Media.Yogyakarta : PT. LKiS Yogyakarta.Junaedhi, Kurniawan. (1995). Rahasia Dapur Majalah di Indonesia. Jakarta: GramediaPustaka Utama.Hamad, Ibnu. (2004). Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta: GranitMoleong, J. Lexy. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT RemajaRosdakaryaRahardi, Kunjana. (2011). Bahasa Jurnalistik. Bogor: Ghalia IndonesiaRolnicky, Tom. E, C. Dow Tate, Sherri A Taylor. (2008). Pengantar DasarJurnalisme (Scholastis Journalism). Jakarta: KencanaSobur, Alex. (2005). Analisis Teks Media Massa, Suatu Pengantar Untuk AnalisisWacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: Remaja RosdakaryaSteelw, Janet E. (2007). Wars within: The Story of Tempo, an Independent Magazinein Soeharto’s Indonesia. Jakarta: PT Equinox Publishing Indonesia.Sudibyo, Agus. (2001) . Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta: LkiSSuhandang, Kustadi. (2004). Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk, danKode Etik. Bandung: NuansaSumadiria, Haris. (2006). Jurnalistik Indonesia:Menulis Berita dan Feature.Bandung: Remaja RosdakaryaSyah, Sirikit. (2011). Rambu-Rambu Jurnalistik. Yogyakarta:Pustaka PelajarTamburaka, Apriadi. (2012). Agenda Setting Media Massa. Jakarta : RajaGrafindo,PersadaWiryanto. ( 2005). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grameia WiiasaranaIndonesia.InternetDwi Wedhaswary , Inggried. (2013). Citra Partai Bersih PKS Tercoreng. Dalamhttp://nasional.kompas.com/read/2013/01/31/09280349/Citra.Partai.Bersih.PKS.Tercoreng. Diunduh pada 3 Juni 2013 pukul 20.30 WIBRuslan , Heri. (2013). Presiden PKS Bantah Terima Suap Impor Daging. Dalamhttp://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/13/01/31/mhgw0u-presidenpks-bantah-terima-suap-impor-daging. Diunduh pada 3 Juni 2013 pukul 21.00WIBSuharman, Tri. (2013). Presiden PKS Tersangka Suap Rp 1 Milyar. Dalamhttp://koran.tempo.co/konten/2013/01/31/299464/SKANDAL-IMPORDAGINGPresiden-PKS-Tersangka-Suap-Rp-1-Miliar. Diunduh pada 3 Juni 2013pukul 22.30 WIBDamanik, Caroline. (2013). Sudah Ditahan KPK Emir Masih Berstatus Ketua KomisiXI DPR. Dalamhttp://nasional.kompas.com/read/2013/08/19/1222009/Sudah.Ditahan.KPK.Emir.Masih.Berstatus.Ketua.Komisi.XI.DPR. Diunduh pada 16 Juli 2013 pukul 09.00WIBSuharman, Tri. (2011). Nazar Beberkan Peran Anas dan Angie di Kasus Hambalang.Dalam http://www.tempo.co/read/news/2011/12/22/063373280/Nazar-Beberkan-Peran-Anas-dan-Angie-di-Kasus-Hambalang. Diunduh pada 16 Juli 2013 pukul10.30 WIBKurniawam, Bahri. (2013). ICW: Kader Golkar Paling Banyak Jadi TersangkaKorupsi. Dalam http://www.tribunnews.com/nasional/2012/10/04/icw-kadergolkar-paling-banyak-jadi-tersangka-korupsi. Diunduh pada 16 Juli 2013 pukul13.00 WIBMeisikalesaran. (2011). Contoh Pelanggaran Kode Etik Pers. Dalamhttp://meisikalesaran.wordpress.com/2011/02/07/contoh-pelanggaran-kode-etikpers/.Diunduh pada 22 Juli 2013 pukul 20.00 WIBBlog Tempo Interaktif. (2007). Cergas. Dalamhttp://blog.tempointeraktif.com/tempo/cergas/. Diunduh pada 23 Juli 2013 pukul21.00 WIBDwi Wedhaswary, Inggried. (2013). Luthfi Diduga Jual Pengaruhnya Untuk AturImpor Daging. Dalamhttp://nasional.kompas.com/read/2013/01/31/15290283/Luthfi.Diduga.Jual.Pengaruhnya.untuk.Atur.Impor.Daging. Diunduh pada 28 Juli 2013 pukul 10.00 WIBAlfiyah, Nur. (2013). Luthfi Hasan Ishaaq Tersangka Pencucian Uang. Dalamhttp://www.tempo.co/read/news/2013/03/26/078469527/Luthfi-Hasan-Ishaaq-Tersangka-Pencucian-Uang. Diunduh pada 29 Juli 2013 pukul 22.00 WIBHendrawam, Parliza. (2013). Demokrat dan PKS Dianggap Juara Korupsi. Dalamhttp://www.tempo.co/read/news/2013/02/19/078462351/Demokrat-dan-PKSDianggap-Juara-Korupsi. Diunduh pada 29 Juli 2013 pukul 23.30 WIB

Page 1 of 3 | Total Record : 28