Articles
46 Documents
Search results for
, issue
"Vol 3, No 4 (2014): November 2014"
:
46 Documents
clear
KAJIAN KEBERADAAN WISATA BELANJA MALIOBORO TERHADAP PERTUMBUHAN JASA AKOMODASI DI JALAN SOSROWIJAYAN DAN JALAN DAGEN
Ahsanul Fathiyyatun Nisa;
Ragil Haryanto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (513.318 KB)
Kota Yogyakarta sebagai tujuan wisata ke dua di Indonesia. Yogyakarta berada di jalur lintas selatan menguntungkan bagi perkembangan potensi pariwisata, adanya pusat aktivitas perkotaan berdampak pada perubahan gaya hidup penduduk menjadi lebih konsumtif dan mendorong berkembangnya aktivitas komersial. Malioboro merupakan wisata belanja yang banyak diminati wisatawan, Malioboro memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri. Malioboro menawarkan atraksi belanja bagi pengunjung, sepanjang 2 km Jalan Malioboro dihuni para pedagang yang menawarkan barang dagangan dengan berbagai macam produk yang ditawarkan. Perkembangan Malioboro menyebabkan terjadinya keterkaitan terhadap pertumbuhan jasa-jasa akomodasi disekitar kawasan. Jalan Sosrowijayan dan Dagen sebagai pusat pertumbuhan jasa akomodasi perluasan dari Jalan Malioboro, pusat keramaian banyak dikunjungi oleh wisatawan. Akomodasi merupakan simpul penyaluran wisatawan dari tempat tinggal menuju lokasi objek wisata dengan objek wisata lainnya yang menjadi destinasi tujuan wisata. Jasa akomodasi yang mendominasi di Sosrowijayan dan Dagen berupa hotel, losmen, homestay, dan wisma. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis keterkaitan wisata belanja Malioboro dengan pertumbuhan jasa akomodasi di Jalan Sosrowijayan dan Jalan Dagen. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif dan teknik analisis deskriptif kualitatif. Untuk teknik sampling menggunakan purposive sampling dan accidental sampling yang berguna untuk menentukan informan dalam penelitian yaitu pemilik jasa akomodasi di Jalan Sosrowijayan-Dagen, masyarakat, instansi pemerintah dan wisatawan Malioboro. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yang terdiri dari identifikasi potensi Malioboro sebagai wisata belanja di Kota Yogyakarta, analisis karakteristik jasa akomodasi di Jalan Sosrowijayan dan Jalan Dagen, analisis persebaran dan pola pertumbuhan jasa akomodasi di Jalan Sosrowijayan dan Jalan Dagen, dan analisis perkembangan Malioboro terhadap pertumbuhan jasa akomodasi di Jalan Sosrowijayan dan Jalan Dagen. Berdasarkan hasil analisis diperoleh rumusan hasil analisis yaitu: Malioboro memiliki keterkaitan dengan pertumbuhan jasa akomodasi yang ada di Jalan Sosrowijayan dan Jalan Dagen. Malioboro mendatangkan wisatawan, wisatawan membutuhkan penginapan sebagai prasarana kebutuhan wisatawan, Jalan Sosrowijayan dan Dagen berada di lokasi yang strategis, sehingga terjalin keterkaitan untuk dibangun jasa akomodasi di kedua jalan tersebut. Ada kecenderungan wisatawan untuk memilih lokasi penginapan di lokasi strategis dalam mempermudah mobilitas menuju lokasi wisata lainnya, sehingga hasil analisis yang dilakukan tepat pada sasaran. Jalan Sosrowijayan dan Dagen berpotensi untuk pertumbuhan jasa akomodasi penunjang kebutuhan wisatawan dalam melakukan kegiatan pariwisata.
STUDI KINERJA PELAYANAN PDAM TIRTA SIAK BERDASARKAN PENDAPAT PELANGGAN (Studi Kasus: PDAM TIRTA SIAK PEKANBARU
Dalilul Islamy;
Widjonarko .
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (171.834 KB)
Perkembangan suatu kota, dapat dipastikan peningkatan kebutuhan terhadap pelayanan prasarana perkotaan. Salah satunya air bersih yang penting untuk di kaji mengingat air bersih merupakan kebutuhan pokok yang selalu di konsumsi oleh masyarakat dan juga berpengaruh besar pada kesehatan masyarakat tersebut. Sehingga pelayanan dan tidak tercakupnya pendistribusian air bersih yang di berikan oleh pihak penyedia air bersih yang di sini di layani oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terhadap pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat perkotaan mengakibatkan rumah tangga dan kegiatan perkotaan mengusahakan pelayanannya sendiri untuk mencukupi akan kebutuhan air bersih.Pengembangan Jaringan distribusi air bersih menjadi suatu tahap yang harus dilakukan untuk memenuhi permintaan air bersih yang setiap hari semakin meningkat. Dalam pelaksanaan pembangunan jaringan, prinsip dasar yang harus selalu diperhatikan adalah harus adanya kesesuaian antara rencana pengembangan jaringan dengan rencana tata ruang. Akibat terbatasnya sumber-sumber air baku yang ada. Penelitian ini di ambil karena pada awal tahun 2012 di bulan Januari banyak masyarakat yang mengeluhkan tentang tidak lancarnya pasokan air dari perusahaan yang mengolah air bersih di kota Pekanbaru. Hal tersebut di muat di media cetak lokal Riaupos. Permasalahan tersebut terjadi karena banyak pipa dan mesin pengolahan air yang digunakan oleh PDAM Tirta Siak sudah harus di ganti dengan yang baru dan lebih canggih mengingat usianya yang sudah lebih dari 35 tahun. Sehingga hal tersebut mengakibatkan tidak lancar dan keruhnya air yang di berikan PDAM Tirta Siak Pekanbaru kepada pelanggan. Karena itu hal ini menjadi menarik untk di dikaji lebih mendalam melalui suatu proses studi, sehingga diharapkan dapat di ambil suatu kesimpulan maupun rekomendasi yang lebih bersifat ilmiah dan dapat di sumbangkan pada pihak-pihak yang berkompeten, dalam hal ini PDAM Tirta Siak Pekanbaru di dalam meningkatkan kapasitas pelayanannya kepada pelanggan secara lebih baik.
ANALISIS KESELAMATAN BERLALU LINTAS DI LINGKUNGAN KAMPUS UNDIP
Waskito Ady;
Bambang Susantono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (731.149 KB)
Kampus sebagai suatu institusi pendidikan tinggi dengan beragam aktivitas, memegang peranan penting dalam memberikan contoh nyata bagi upaya mewujudkan transportasi yang mengutamakan keselamatan berlalu lintas. Universitas Diponegoro menjadi salah satu institusi pendidikan tinggi yang tengah gencar menyuarakan Green Campus. Sebagai Green Campus, Undip harus memiliki transportasi yang mengutamakan keselamatan berlalu lintas. Faktanya saat ini kondisi transportasi di Undip belum mencerminkan keselamatan berlalu lintas. Banyaknya on street parking yang mengganggu arus lalu lintas, banyaknya persimpangan rawan konflik dan kecelakaan, rendahnya kesadaran memakai helm pada pengendara motor, perilaku melanggar aturan lalu lintas, hingga rendahnya budayabersepeda dan berjalan kaki merupakan masalah transportasi Undip yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas. Penelitian ini bertujuan menganalisis keselamatan berlalu lintas di lingkungan Kampus Undip berdasarkan komponen perilaku berkendara dan kondisi prasarana jalan. Hasil analisis menunjukkan terdapat ruas jalan di Undip yang belum mendukung keselamatan berlalu lintas. Terdapat pula ketidaksesuaian antara pemahaman keselamatan dengan perilaku berkendara sehari-hari pada mahasiswa. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberi gambaran mengenai kondisi transportasi di Kampus Undip dalam mendukung keselamatan berlalu lintas, sehingga pada akhirnya dapat menjadi bahan masukkan bagi terwujudnya Undip sebagai Green Campus dengan transportasi yang mengutamakan keselamatan.
PENGARUH EKSISTENSIKAWASAN PENDIDIKAN UNNES TERHADAP PERKEMBANGAN GUNA DAN HARGA LAHAN DI SEKARAN, KOTA SEMARANG
Kemas Ramadhoni;
Iwan Rudiarto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (789.027 KB)
Pesatnya pertumbuhan Kota Semarang mengakibatkan dipecahnya aktivitas pendidikan tinggi ke pinggiran kota untuk mengurangi beban pusat. Salah satunya ialah perguruan tinggi Universitas Negeri Semarang di Sekaran. Perkembangan universitas tersebut menyebabkan terjadinya perubahan guna lahan yang ditandai dengan tumbuhnya kegiatan penunjang yang merespons kebutuhan mahasiswa, sebagai akibat dari tidak disediakannya kegiatan tersebut oleh pihak universitas. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa pengaruh eksistensi kawasan pendidikan UNNES menyebabkan perubahan guna lahan yang signifikan di Sekaran dari lahan non-terbangun menjadi lahan terbangun. Sesuai dengan mekanisme pasar, peningkatan kebutuhan akan lahan sementara supply dari lahan bersifat in elastis sempurna akan mengakibatkan terjadinya peningkatan harga lahan. Dengan melihat perubahan guna dan harga lahan yang terjadi dapat dilihat bahwa Kelurahan Sekaran memiliki tiga sub-pusat yang membentuk struktur ruang sektoral guna mendukung aktifitas utama pendidikan tinggi UNNES. Selain itu, dapat diketahui bahwa harga lahan dipengaruhi oleh perubahan lahan dengan peruntukkan rumah, kost dan fasilitas komersial. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk perencanaan kawasan-kawasan pendidikan selanjutnya, serta memberikan pemahaman bahwa ditetapkannya suatu wilayah menjadi suatu kawasan tertentu akan membawa pengaruh terhadap perubahan guna lahan dan harga lahan di wilayah sekitarnya.
KUALITAS LINGKUNGAN PERMUKIMAN DI TEPI SUNGAI KELURAHAN PELITA, KECAMATAN SAMARINDA ILIR
Noviana Rahmawaty Sari;
Parfi Khadiyanto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (232.43 KB)
Tepian sungai sangat akomodatif bagi manusia untuk bermukim dan melakukan usaha-usaha bagi kehidupannya. Tingginya intensitas pemanfaatan kawasan tepi sungai menimbulkan permasalahan-permasalahan yang sangat pelik. Kondisi ini memicu adanya kawasan permukiman salah satu tepi sungai di Kelurahan Pelita di perkotaan dalam dimensi ruang dan waktu menjadi kawasan yang padat, kumuh dan liar disertai dengan kondi rumah tidak layak huni. Tidak hanya itu saja, kodisi sungai menjadi kotor dan menyebabkan lingkungan sekitar terkena luapan air sungai saat hujan. Jika di liahat dengan komprehensif, maka permasalahan permukiman tepi sungai akan berkisar pada masalah kualitas lingkungan permukiman. Permukiman ini tumbuh oleh tradisi yang di susun secara organis (alami). Kawasan dari kota tersebut dibangun dalam suatu proses tanpa memperhatikan perancangan secara keseluruhan. Untuk mengatasinya, perlu adanya evaluasi agar terciptanya kawasan lingkungan permukiman yang tertata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kondisi fisik dan non fisik sepanjang sungai di Kelurahan Pelita . Tahap pertama yang di lakukan dalam penelitian ini adalah dengan mengetahui permasalahan yang sebenarnya terjadi di kawasan studi, serta sebagai landasan dasar untuk mengetahui tujuan dan sasaran dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi kondisi fisik dan non fisik kualitas ingkungan permukiman tepi sungai. Kemudiaan melakukan analisis untuk mengevaluasi kondisi fisik dan non fisik kawasan studi. Pada akhir akan diketahui kualitas lingkunan permukiman. Dengan menggunakan metode analisis kuisoner dan observasi dengan teknik analisis kuantitatif deskriptif. Identifikasi kualitas lingkungan permukiman tepi sungai di Kelurahan Pelita menunjukan bahwa kualitas permukiman tepi sungai adalah sedang baik secara fisik maupun non fisik. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya penduduk yang datang, sehingga menimbulkan permukiman baru dan tumbuh di Tepian Sungai dan munculnya budaya baru, perlu adanya evaluasi untuk pemerintah sebagai upaya penataan lingkungan permukiman di Kelurahan Pelita Samarinda
KAJIAN KARAKTERISTIK PREFERENSI PENGGUNAAN MODA TRANSPORTASI PRIBADI DAN PUBLIK KASUS : PERJALANAN HARIAN KE UNDIP TEMBALANG
Mulya Syoufrizha Rangkuti;
Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (483.207 KB)
Dalam melakukan pergerakan harian manusia dari satu tempat ke tempat lain membutuhkan moda transportasi.Dalam konteks ini, kepemilikan dan penggunaan kendaraan pribadi dan umum dapat dikatakan sebagai salah satu alternatif bagi masyarakat dalam memenuhi tuntutan pergerakan. namun disisi lain fenomena ini telah menjadi salah satu masalah terhadap timbulnya kepadatan lalu lintas dan penurunan kualitas lingkungan di perkotaan. Seiring dengan hal tersebut, penelitian tentang perilaku preferensi penggunaan kendaraan transportasi mahasiswa, dosen,dan pegawai tata usaha, bertujuan mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi penggunaan moda dalam perjalanan harian ke UNDIP Tembalang, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh. Instrumennya meliputi form kuesioner serta menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dalam penelitian ini terdapat 4 sasaran yaitu mengidentifikasi karakteristik pengguna jalan, mengidentifikasi karakteristik civitas dalam pemilihan moda transportasi, Mengidentifikasi karakteristik fasilitas moda, Menganalisa faktor yang paling mempengaruhi dalam penggunaan moda transportasi civitas kampus dengan analisis crosstab dalam penggunaan moda transportasi pribadi dan umum untuk perjalanan harian ke UNDIP Tembalang . Hasil penelitian menunjukan Dalam studi kasus penelitian tentang landasan civitas kampus UNDIP dalam memilih moda transportasi baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum dengan mengambil studi kasus kasus preferensi penggunaan moda dalam perjalanan harian ke UNDIP Tembalang terdapat beberapa kesimpulan yaitu diketahui bahwa dari 99 responden 74 orang menggunakan kendaraan pribadi, 25 orang menggunakan kendaraan umum,dan faktor yang paling mempengaruhi dalam pemilihan moda adalah faktor karakteristik pelaku pergerakan civitas kampus dengan variabelnya kepemilikan moda Hal inilah yang menyebabkan preferensi pemilihan moda transportasi oleh civitas kampus dalam melakukan perjalanan hariannya ke UNDIP Tembalang.
PENILAIAN KEBERLANJUTAN PERMUKIMAN KAMPUNG LAMA DI KELURAHAN LEMPONGSARI
Virgawasti Dyah P;
Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (370.766 KB)
Kampung lama Lempongsari berdiri pada tahun 1920 dan merupakan bagian dari permukiman Candi Baru yang pembangunannya ditangani oleh Ir. Herman Thomas Karsten, seorang penasehat perencana kota, pada masa kolonial. Pertumbuhan di Kota Semarang yang semakin meningkat menyebabkan permukiman meluas hingga merambah ke daerah-daerah penyangga. Sangat disayangkan bahwa saat ini kualitas lingkungan permukiman di Kelurahan Lempongsari telah mengalami penurunan karena kepadatan permukiman yang semakin tinggi dan berkurangnya ruang terbuka hijau. Permasalahan yang menjadi inti dari penelitian ini adalah terancamnya keberlanjutan lingkungan permukiman di kampung lama Kelurahan Lempongsari sebagai permukiman bersejarah yang aman dan nyaman untuk ditinggali, mengingat kondisi topografi yang berupa perbukitan dan adanya longsor di beberapa lokasi yang dapat membahayakan keberlanjutan permukiman di Kelurahan Lempongsari. Dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dan pembobotan menggunakan skala linkert, maka hasil dari penelitian ini adalah keberlanjutan Kelurahan Lempongsari belum sepenuhnya mengarah ke permukiman yang berkelanjutan dan termasuk dalam kategori SEDANG dengan nilai 2,25. Dari indikator sarana prasarana, lingkungan permukiman, kehidupan sosial masyarakat, dan kondisi perekonomian hanya kehidupan sosial yang masuk dalam kategori BAIK dengan skor 2,45. Sedangkan indikator lainnya masuk dalam kategori SEDANG. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi sosial merupakan pendukung keberlanjutan di permukiman kampung lama Kelurahan Lempongsari, di mana aspek kehidupan masyarakat kampung tercermin dari kehidupan sosial budaya yang kental yaitu terus mengembangkan prinsip-prinsip keragaman dan toleransi antar masyarakat beragama sehingga keamanan lingkungan di mana minim terjadi konflik dan mengutamakan kesetiakawanan dapat terwujud.
PERBANDINGAN KARAKTERISTIK PENGUNJUNG RITEL MODERN SKALA BESAR DI PUSAT DAN PINGGIRAN KOTA SEMARANG
Rima Mustika;
Imam Buchori
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (438.093 KB)
Kota Semarang sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, bahkan Kota Semarang merupakan salah satu kota metropolitan yang mengalami perkembangan kota yang cukup pesat. Perkembangan Kota Semarang salah satunya dipengaruhi olah modernisasi yang mengubah karakter ruang Kota Semarang. Pesatnya proses modernisasi di Kota Semarang membuat perubahan dalam pembangunan fisik perkotaan seperti semakin banyaknya bangunan-bangunan baru yang dimanfaatkan sebagai aktifitas masyarakat setempat. Begitu juga dengan pusat perbalanjaan, dalam perkembangannya pusat perbelanjaan semakin modern yaitu ditandai dengan penampilan bentuk fisik yang lebih mewah dan fasilitas yang lebih cangih. Di dalam pusat-pusat perbelanjaan tersebut terdapat ritel modern yang saat ini keberadaanya telah banyak dikenal bukan hanya oleh masyarakat Kota Semarang sendiri namun juga dikenal oleh masyarakat diluar Kota Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbandingan karakteristik pengunjung ritel modern skala besar di pusat dan pinggiran Kota Semarang. Untuk mengetahui hal tersebut, tahapan yang dilakukan adalah mengidentifikasi karakteristik pasar modern yang terletak di pinggir kota dan pusat kota, dan setelah itu menganalisis perilaku konsumen ritel modern yang ditinjau dari variabel permintaan yaitu demografi, lokasi, pendapatan dan gaya hidup. Penelitian ini mengunakan metode penelitian kuantitatif dimana teknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan kuesioner kepada pengunjung/konsumen pasar modern.Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan karakteristik perilaku pengunjung ritel modern di pusat dan pinggiran Kota Semarang. Pasar modern yang terletak di pusat kota dapat menjangkau konsumen secara meluas ke seluruh wilayah Kota Semarang, dan bahkan jangkauan layanan konsumen sampai ke kabupaten-kabupaten sekitar Kota Semarang seperti kabupaten Semarang, Ungaran, Kabupaten Demak, Kabupaten Kendal. Sedangkan jangkauan layanan pasar modern yang terletak di pinggiran kota hanya menjangkau konsumen di kawasan sekitar pasar modern tersebut.
PERENCANAAN PERUMAHAN BAGI MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI KECAMATAN BANYUMANIKKOTA SEMARANG
Akbar Satio Putra;
Asnawi .
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (321.244 KB)
Masih banyak Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang belum mendapat dukungan Pemerintah dalam memperoleh Rumah sehingga harus memenuhinya secara swadaya. Padahal Perumahan Swadaya sangat identik dengan Permukiman Kumuh. Kota semarang menjadi salah satu kota di Indonesia dengan kasus permukiman kumuh tertinggi di Indonesia yaitu sebanyak 2.837 ha pada tahun 2004 (Rindarjono, 2006). Program dari Pemerintah yang berkembang selama ini cenderung bersifat Top Down dan hanya bisa dirasakan oleh segelintir orang saja (Tunas & Peresthu, 2010). Sedangkan Pihak Swasta berorientasi pada keuntungan dan focus dalam penyediaan rumah untuk kelas menengah keatas. Di Kecamatan Banyumanik terdapat 35.049 KK, sedangkan hanya terdapat 23.189 unit Rumah (BPS, 2011). Tentu hal ini akan menjadi pertanyaan kemana 11.000 KK lainnya tinggal. Dengan Penelitian yang menggunakan Metode Kuantitatif dengan objeknya adalah Karakteristik MBR, disimpulkan sebuah Perencanaan Perumahan Baru di Kecamatan Banyumanik sebagai salah satu lokasi Peruntukan Perumahan di Kota Semarang (Perda Kota Semarang No. 14 Tahun 2010).
HUBUNGAN TINGKAT KETERTARIKAN MASYARAKAT UNTUK BERKUNJUNG DENGAN KUALITAS TAMAN DI TAMAN MENTERI SUPENO
Astrid Noviana Putri;
Nurini .
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (226.918 KB)
Taman kota merupakan salah satu jenis dari RTH di kawasan perkotaan, berdasarkan Permen PU No 5/PRT/M/2008. Taman kota memiliki fungsi yang sangat penting dan strategis bagi suatu kota dan kehidupan masyarakat perkotaan di dalamnya, sehingga taman kota memerlukan perencanaan yang matang dalam pembangunannya. Namun saat ini banyak taman kota yang sepi pengunjung,dan bahkan tidak dimanfaatkan dengan semestinya oleh pengunjung, contohnya pada Taman Menteri Supeno banyak disalahgunakan sebagai gudang sekaligus rumah para pemulung dan gelandangan, atau sebagai tempat “mojok” saat pacaran. Saat ini kondisi sarana bermain anak-anak di Taman Menteri Supeno telah berkarat, banyak cat yang mengelupas (Sindonews, 2013). Salah satu upaya untuk merencanakan taman kota sehingga menarik dan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat perkotaan adalah dengan mengetahui persepsi masyarakat perkotaan terhadap tingkat ketertarikan untuk berkunjung dan kualitas dari taman tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis seberapa besar minat untuk berkunjung ke Taman Menteri Supeno dan hubungannya dengan kualitas taman menurut persepsi pengunjung. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara kualitas taman menurut persepsi pengunjung dengan tingkat ketertarikan mereka untuk berkunjung ke Taman Menteri Supeno. Berdasarkan data yang diperoleh melalui teknik kuisioner, diketahui kualitas Taman Menteri Supeno berdasarkan persepsi pengunjung berada dalam kondisi sangat baik, baik ditinjau dari aspek kualitas sarana prasarana, kondisi visual maupun tingkat kenyamanan di Taman Menteri Supeno. Sedangkan, minat untuk berkunjung ke Taman Menteri Supeno berdasarkan hasil kuisioner terhadap pengunjung Taman Menteri Supeno diketahui dalam kondisi buruk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas Taman Menteri Supeno berada dalam kondisi sangat baik, namun hal tersebut tidak ada hubungannya dengan tingkat ketertarikan untuk berkunjung ke Taman Menteri Supeno yang masih buruk.