cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017" : 16 Documents clear
REDESAIN STRUKTUR GEDUNG KULIAH UMUM FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO MENGGUNAKAN KONSTRUKSI BAJA BERDASARKAN SNI 1729-2015 DAN SNI 7972-2013 Maulin Dwi Septyani Putri; Gunawan Edi Wibowo; Sri Tudjono; Hardi Wibowo
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.535 KB)

Abstract

Struktur Gedung Kuliah Umum Fakultas Teknik Universitas Diponegoro ini dirancang menggunakan struktur baja dengan metode perencanaan Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Pedoman utama dalam perencanaan mengacu pada SNI 1729-2015 Baja, SNI 7972-2013 Sambungan Terprakualifikasi dan SNI 1726-2012 Gempa.Pemodelan struktur dirancang dengan menggunakan software Structure Analysis Program  (SAP 2000) dan AutoCad. Pemilihan profil awal dilakukan berdasarkan ukuran profil yang tersedia dipasaran. Kemudian setiap elemen dan profil dihitung berdasarkan gaya-gaya dalam yang harus dipikul. Begitu pula dengan sambungan-sambungan baik sambungan las maupun baut. Digunakan sendi plastis dengan tipe Penampang Balok Tereduksi untuk desain ketahanan terhadap gaya gempa.Hasil dari perhitungan menunjukkan bahwa struktur Gedung Kuliah Umum dengan menggunakan struktur baja aman secara analitis. 
ANALISIS FAKTOR PENURUNAN TANAH TERHADAP KINERJA AUTOMATED RUBBER TYRED GANTRY PADA TERMINAL PETI KEMAS SEMARANG Garin Ario Tetuko; Hana Sahayu Rurita; Bambang Riyanto; Wahyudi Kushardjoko
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.292 KB)

Abstract

Penurunan tanah yang terjadi di Terminal Peti Kemas Semarang, khususnya pada Container Yard 05 tempat Automated Rubber Tyred Gantry beroperasi menyebabkan sistem operasi ARTG terganggu. Hal tersebut dikarenakan penurunan tanah menyebabkan kemiringan pada ARTG pad. Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan tugas akhir ini adalah untuk memprediksi kapan kemiringan ARTG pad pada tiap blok melewati batas toleransi supaya segera dilakukan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut. Berdasarkan perhitungan konsolidasi, penurunan tanah pada Container Yard 05 seharusnya berhenti pada 300 sampai 360 hari setelah pekerjaan reklamasi selesai. Namun saat dilakukan pengukuran lapangan di bulan Agustus 2016 dan Maret 2017 masih terdapat penurunan tanah. Berdasarkan data pengukuran lapangan yang ada, dilakukan pendekatan berupa persamaan linear untuk memprediksi kapan masing-masing blok pelayanan ARTG sistemnya terganggu. Diprediksi Blok C akan terganggu sistemnya paling awal, yaitu pada bulan Maret 2017. Blok D akan terganggu sistemnya pada September 2017, kemudian pada bulan Februari 2018, Blok F sistemnya terganggu. Sistem Blok G akan terganggu di bulan April 2018, sedangkan sistem pada blok E diprediksi akan terganggu paling akhir yaitu bulan Juni 2019. Saran yang dapat diberikan ialah saat proses reklamasi, sebelum area reklamasi diberikan perkerasan, derajat konsolidasinya sudah harus mencapai atau mendekati 90%. Dengan demikian tanah yang ditimbun akan lebih stabil saat mulai diberikan beban operasional. Untuk blok yang sistemnya akan terganggu, dapat dilakukan pekerjaan leveling.
STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH INKLUSI BAJA TERHADAP PERILAKU MORTAR-INKLUSI Nauval Rabbani; Mona Dwi Anggraini; Purwanto Purwanto; Yulita Arni P
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.548 KB)

Abstract

Beton merupakan material komposit yang tersusun dari mortar dan agregat kasar, serta disatukan oleh semen melalui proses hidrasi. Kuat tekan material beton sangat tergantung dari karakteristik material penyusunnya, dan kekuatan lekatan daerah peralihan antara mortar dengan permukaan agregat kasar yang disebut Interfacial Transition Zone (ITZ). Penelitian mengenai mortar inklusi sudah banyak dilakukan, namun masih sedikit penelitian yang memodelkan inklusi dengan baja. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pengaruh ITZ baja terhadap mortar inklusi, maka dalam penelitian ini menggunakan beberapa macam mutu mortar yaitu dengan kuat tekan 20, 40, dan 60 MPa. Benda uji menggunakan ukuran 150 x 150 x 50 mm dengan inklusi silinder baja tipe BJTP-40 berdiameter 25 mm dan 32 mm. Silinder baja diletakkan tepat di pusat titik berat benda uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu mortar dan diameter inklusi sangat mempengaruhi perilaku dari benda uji. Kuat tekan mengalami penurunan diakibatkan oleh semakin luasnya diameter inklusi, sedangkan angka deformasi menurun dengan kenaikan pada nilai mutu mortar. Pengamatan yang dilakukan saat pengujian menunjukkan bahwa pola retak yang terjadi adalah columnar yang terjadi di daerah inklusi yang merupakan daerah terlemah dikarenakan oleh ITZ.
ANALISIS TINGKAT PELAYANAN DAN PENYESUAIAN TARIF BUS ANTAR KOTA DALAM PROVINSI (AKDP) DI PROVINSI JAWA TENGAH Angga Kristiyanto; Febrina Dilianugrahani; Kami Hari Basuki; Bambang Riyanto
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.941 KB)

Abstract

Pelayanan bus AKDP Jawa Tengah terindikasi memiliki permasalahan antara lain tidak meratanya jaringan pelayanan angkutan umum, tidak sesuainya rute trayek yang terdaftar dengan kondisi di lapangan, kondisi bus yang sudah tidak layak dan kesenjangan load factor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pelayanan bus AKDP, tingkat isian pada tiap trayek, biaya operasi kendaraan dan kesesuaian tarif yang berlaku pada kondisi saat ini. Metodologi yang dilakukan untuk analisis tingkat pelayanan dengan menggunakan indikator efektivitas dan efisiensi. Sementara itu untuk analisis tingkat isian menggunakan data-data dari survei dinamis. Perhitungan BOK menggunakan panduan dari Dishubkominfo Jawa Tengah. Dari metode analisis tingkat pelayanan akan menentukan apakah trayek telah efektif dan efisien atau belum. Sedangkan dari metode analisis tingkat isian menghasilkan pola perjalanan yang menentukan trayek tersebut perlu dilakukan penggantian jenis armada atau tidak. Perhitungan BOK menghasilkan nilai yang digunakan untuk menghitung tarif yang sesuai. Hasil dari analisis tingkat pelayanan yaitu kelima trayek tersebut berada di bawah standar yang berlaku pada indikator kecepatan, headway, waktu tunggu penumpang, load factor, utilisasi, availability dan umur kendaraan. Sementara itu untuk analisis tingkat isian penumpang menghasilkan pola perjalanan yang mengharuskan adanya perubahan jenis armada pada beberapa trayek yang nilai load factornya berada di bawah 0,70. Kemudian dari perhitungan BOK menghasilkan tarif baru Rp257,55/km. Kelima trayek dinyatakan tidak efektif dan tidak efisien karena tidak memenuhi nilai standar pada sebagian besar indikator. Load factor yang memenuhi standar yaitu Semarang – Gubug - Purwodadi.PP dengan nilai load factor 0,90. Total BOK bus besar yaitu Rp7.366,16/bus/km. Perlu dilakukan perbaikan dan peningkatan pada semua indikator agar load factor dapat meningkat. Untuk mendapatkan data yang lebih valid, maka perlu dilakukan penelitian pada waktu peak dan off peak.  Kemudian melakukan survei statis agar nilai headway pada kondisi lapangan dapat lebih akurat.
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL OPERASIONAL PARKIR METER DI KOTA SEMARANG Bimo Fajar Muhammad; Robertus Widhi Septiawan; Bambang Riyanto; Kami Hari Basuki
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya kebutuhan parkir di daerah perkotaan akan meningkatkan jumlah titik parkir untuk memenuhinya. Semakin banyaknya titik parkir tidak berbanding lurus dengan jumlah titik parkir yang teridentifikasi, maka dibutuhkan Parkir Meter agar titik-titik parkir dapat dikontrol yang nantinya akan meningkatkan pendapatan asli daerah dari retribusi parkir. Oleh Karena itu perlu adanya analisis untuk mengetahui kelayakan operasional Parkir Meter khususnya di Kota Semarang. Penentuan lokasi didasarkan pada tipe jaringan jalan, seperti di Jalan Agus Salim yang mewakili jalan kolektor dan Jalan Pekodjan yang mewakili jalan lokal, Dua ruas jalan tersebut yang digunakan sebagai acuan dalam analisis kelayakan finansial operasional pakir meter. Survei lapangan dilakukan untuk inventarisasi kebutuhan parkir. Analisis dilakukan dalam empat skenario yang memiliki indikator berbeda-beda seperti lamanya investasi dan tarif parkir, dengan membandingkan retribusi parkir yang diterima pemerintah terhadap pendapatan parkir (existing), diolah menggunakan NPV (Net Present Value), BCR (Benefit Cost Ratio), dan rencana untuk suatu investasi Parkir Meter yang layak atau tidak menggunakan IRR (Internal Rate of Return). Nilai turn over pada tiap jalan yaitu pada Jalan Agus Salim sebesar 1,266 Kendaraan/SRP/Jam dan untuk Jalan Pekodjan sebesar 1,047 Kendaraan/SRP/Jam. Skenario IV menunjukkan kelayakan yang paling baik dibandingkan dengan skenario yang lain meskipun dengan catatan adanya tarif parkir yang baru, karena dengan skenario IV paling cepat mendapatkan modal kembali. Lebih baik lagi apabila ada penelitian atau kajian lanjutan untuk mendetailkan kedalaman teknis serta perijinan dan manajemen pengolahannya yang terintegrasi dengan beberapa aktivitas penggunaan lahan disekitar lokasi.
ANALISIS PERBANDINGAN WAKTU, BIAYA, DAN DIRECT WASTE PENGGUNAAN TULANGAN KONVENSIONAL, WIRE MESH, DAN FLOORDECK PADA PEKERJAAN PLAT LANTAI Dialona Prian; Ferry Kurniawan; M.Agung Wibowo; Arif Hidayat
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.484 KB)

Abstract

Pekerjaan plat lantai merupakan suatu elemen pada pekerjaan konstruksi gedung yang memiliki biaya besar. Hal ini dikarenakan pekerjaan plat lantai memiliki volume yang cukup besar. Analisa yang dilakukan adalah membandingkan pekerjaan plat lantai dengan menggunakan metode konvensional, menggunakan wire mesh sebagai tulangannya, dan floordeck sebagai bekisting pada pekerjaan plat lantai Proyek Apartemen Taman Melati Yogyakarta terhadap biaya, waktu, direct waste, dan metode pengerjaannya. Analisa harga satuan pekerjaan plat lantai mengacu pada harga material, dan upah tenaga kerja tahun 2016. Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan tugas akhir ini adalah menentukan metode mana yang tepat untuk digunakan pada suatu pekerjaan plat lantai pada Proyek Taman Melati Yogyakarta ditinjau dari perbandingan waktu, biaya, direct waste tulangannya, dan metode pengerjaannya. Analisa dilakukan dalam beberapa tahap sesuai dengan standar SAVE 2007. Setelah melakukan berbagai tahapan dalam melakukan value engineering pekerjaan plat lantai dan perhitungan mulai dari menganalisa struktur untuk mengetahui kebutuhan wire mesh dan tebal bondek yang diperlukan, menghitung luas dan volume dari pekerjaan plat dan menghitung kapasitas produksi dari metode yang digunakan kemudian didapat besarnya biaya, lamanya waktu pengerjaan, dan besarnya direct waste penulangan dari masing-masing metode yang telah dianalisa. Menggunakan metode zero-one untuk mengetahui metode mana yang lebih cocok diterapkan pada Proyek Apartemen Taman Melati. Berdasarkan metode zore-one Proyek Apartemen Taman Melati lebih efisien jika menggunakan wire mesh M9 sebagai tulangan lapis atas, wire mesh M6 ataupun tulangan konvensional D10-200 sebagai tulangan lapis bawah, dan floordeck W-1000 BMT 0,7 mm sebagai pengganti bekistingnya. 
PERENCANAAN STRUKTUR APARTEMEN CANDILAND, JALAN DIPONEGORO SEMARANG Mario Jesayas Baringin; Fernando Daniel Mulatogi Tindaon; Sri Tudjono; Parang Sabdono
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.971 KB)

Abstract

Gedung Apartemen Candiland Semarang memiliki desain struktur yang relatif besar, dengan jumlah tingkat 20 lantai, dimana terdapat 2 lantai untuk keperluan mechanical, electrical, dan plumbing, 3 lantai semi basement untuk keperluan parkir, 1 lantai ground floor untuk keperluan kantor, 16 lantai diatasnya sebagai ruang tinggal apartemen, dan 1 lantai atap. Total dari ketinggian gedung ini 63,45 meter, dimana untuk bangunan high rise building yang didesain terhadap ketahanan gempa perlu adanya penentuan kelas situs bangunan, kontrol terhadap batasan base shear, sistem rangka, partisipasi massa, dan defleksi bangunan yang sesuai dengan peraturan SNI 1726-2012 mengenai Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non-Gedung. Peraturan lainnya yang digunakan yaitu peraturan SNI 1727-2013 mengenai Beban Minimum untuk Perencanaan Bangunan Gedung dan Struktur Lain, dan peraturan SNI 2847-2013 mengenai Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung. Dengan digunakannya peraturan-peraturan tersebut, diharapkan bangunan yang didisain sudah aman dan layak terhadap kekuatan dan efektifitas material.Konfigurasi bangunan yang memanjang dan tidak simetris, dan kolom sebagai pengaku ke arah yang pendek sedikit menunjukkan ada pengaruh gaya lateral gempa yang mempengaruhi desain struktur, sehingga digunakan struktur dual system, yaitu gabungan Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus dan penggunaan Dinding Geser Khusus. Untuk mengefektifkan fungsi dari dual sytem ini diatur bahwa Rangka Pemikul Momen harus mampu mengaku minimal 25% gaya geser dasar yang terjadi di bangunan untuk masing- masing kombinasi pembebanan.
PERENCANAAN SALURAN BYPASS SUNGAI KEDUANG UNTUK MEMINIMALISASI SEDIMENTASI DI WADUK WONOGIRI Gandha Yugo Prasetyo; Syukur Adi Utomo; Dyah Ari Wulandari; Salamun Salamun
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1320.007 KB)

Abstract

Waduk Wonogiri terletak di bagian selatan Kabupaten Wonogiri. Sepanjang pengoperasiannya waduk ini mengalami sedimentasi  3,1 juta m3/tahun, aliran sedimen terbesar disumbang oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) Keduang. Diperlukan upaya untuk mengurangi sedimentasi, antara lain dengan membuat saluran bypass agar aliran dengan konsentrasi sedimen yang tinggi dapat dialihkan sebelum masuk ke waduk. Perencanaan ini bertujuan untuk menentukan debit operasional, struktur dan dimensi penampang saluran bypass Sungai Keduang hingga rencana anggaran pembangunan. Metode yang digunakan dalam perencanaan ini adalah dengan melakukan analisis hidrologi melalui pendekatan konsep debit dominan dan angkutan sedimen sehingga dapat diketahui besarnya debit, waktu pelepasan, dan tingkat efisiensi. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, volume air yang dilepas melalui saluran bypass rata-rata sebesar 482.044.742 m3/tahun, dan batasan debit operasional saluran bypass sebesar 10-30 m3/s. Dengan batasan tersebut dihasilkan tingkat efisiensi saluran bypass rata-rata sebesar 29,36%. Pengoperasian saluran bypass menggunakan pintu air tipe angkat dan pintu klep otomatis, dengan perkuatan sisi mengggunakan dinding penahan pasangan batu. Perkiraan nilai biaya pembangunan saluran bypass sebesar Rp 217.540.837.000 (dua ratus tujuh belas milyar lima ratus empat puluh juta delapan ratus tiga puluh tujuh ribu rupiah) dengan durasi pelaksanaan pekerjaan selama 37 minggu.
PERILAKU CLAY SHALE TERHADAP KUAT GESER RESIDUAL PADA LOKASI BANYUMENENG, PENAWANGAN, DAN WONOSEGORO Anindya Yusuf Wirmanda; Idham Dio Fathullah; Siti Hardiyati; Kresno Wikan S
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.872 KB)

Abstract

Bencana longsor pada daerah Manyaran, Semarang merupakan salah satu potensi bencana dari Clay Shale. Clay Shale adalah sedimen berbutir halus yang terbentuk dari konsolidasi mineral lempung. Untuk menangani longsoran dilakukan penelitian terhadap Clay Shale sehingga mengetahui parameter sudut geser residualnya. Daerah penelitian yaitu Desa Banyumeneng Kabupaten Demak, Desa Penawangan Kabupaten Grobogan, dan Desa Wonosegoro Kabupaten Boyolali  termasuk material Clay Shale.  Hasil analisis pengujian geser langsung didapatkan nilai sudut geser residual efektif (f’r) Sampel Wonosegoro 12,82o dengan nilai Liquid Limit 49; Sampel Penawangan 9,69odengan  Liquid Limit 54, dan Sampel Banyumeneng 8,98o dengan Liquid Limit 60. Jika hasil sudut geser residual dan Liquid Limit di plot dalam grafik Stark (1994) didapat hasil yang memuaskan karena mendekati hasil pengujian dari Stark. Uji pengembangan bebas dilakukan untuk mengetahui persentase Swelling pada Clay Shale, didapatkan nilai persentase sebesar 10-25%. Hubungan korelasi dalam penelitian diperoleh dari hasil pengujian Properties Index, pengujian Direct Shear dalam parameter kuat geser residual serta pengujian pengembangan bebas dalam parameter Free Swell Index (FSI) dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam perencanaan geoteknik.
ANALISIS KINERJA DAN NILAI MANFAAT DIBERLAKUKANNYA SISTEM SATU ARAH (STUDI KASUS SIMPANG LIMA SEMARANG) Alibaggio, M.Aulia; Ramadhanti, Intan; Ismiyati, Ismiyati; Setiadji, Bagus Hario
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.605 KB)

Abstract

Peningkatan arus lalu lintas dari waktu ke waktu yang melewati bundaran Simpang Lima Kota Semarang menyebabkan menurunnya kinerja bundaran. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan dalam rangka meningkatkan kinerja bundaran ialah dengan memberlakukan sistem satu arah (SSA) pada dua ruas jalan yang berhubungan langsung dengan Simpang Lima yaitu Jalan Gajah Mada dan Jalan KH Ahmad Dahlan. Secara terinci, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kinerja bundaran, nilai biaya operasional kendaraan (BOK) serta nilai manfat terhadap lingkungan pada kondisi sebelum dan sesudah diberlakukan sistem satu arah serta kondisi apabila solusi alternatif diterapkan dalam hal ini overpass.Metode yang digunakan dalam analisis kinerja bundaran Simpang Lima mengacu pada Manual Kapasitas Jalan Indonesia (1997), dan metode yang digunakan dalam analisis biaya operasional kendaraan (BOK) mengacu pada  Pacific Consultan International (PCI).Hasil analisis menunjukkan bahwa derajat kejenuhan (DS) pada jalinan Jl. Pandanaran – Jl. Gajah Mada sebelum SSA 0,853 , DS setelah SSA 0,94, dan  DS setelah overpass 0,79. BOK sebelum SSA Rp. 2222,48/km,  BOK setelah SSA Rp. 2817,64/km, dan BOK setelah overpass Rp. 2013,31/km. Angka pencemaran NO2 yang dihasilkan pada kondisi sebelum SSA 29,015 μg/m3, pada kondisi setelah SSA 33,873 μg/m3, dan pada kondisi setelah dibangun overpass 27,588 μg/m3. Angka pencemaran SO2 yang dihasilkan pada kondisi sebelum SSA 17,12 μg/m3, pada kondisi setelah SSA 19,99 μg/m3, dan pada kondisi setelah dibangun overpass 16,28 μg/m3. Angka pencemaran PM yang dihasilkan pada kondisi sebelum SSA 191,49 μg/m3, pada kondisi setelah SSA 223,56 μg/m3, dan pada kondisi setelah dibangun overpass 182,08 μg/m3. Angka pencemaran Pb yang dihasilkan pada kondisi sebelum SSA 0,039 μg/m3, pada kondisi setelah SSA 0,046 μg/m3, dan pada kondisi setelah dibangun overpass 0,037 μg/m3. Angka pencemaran CO yang dihasilkan pada kondisi sebelum SSA 138,62 μg/m3, pada kondisi setelah SSA 161,83 μg/m3, dan pada kondisi setelah dibangun overpass 131,81 μg/m3. 

Page 1 of 2 | Total Record : 16