cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 38 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 4 (2016): Oktober" : 38 Documents clear
KARAKTERISTIK FISIK DAN ORGANOLEPTIK YOGHURT SUSU JAGUNG DENGAN PENAMBAHAN BESI DAN VITAMIN A Rafika, Muhana; Anjani, Gemala
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.163 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16458

Abstract

Latar Belakang : Prevalensi ibu hamil anemia merupakan masalah gizi di Indonesia. Jagung kaya komponen fungsional yang dibutuhkan untuk ibu hamil. Jagung diolah menjadi yoghurt dengan penambahan besi dan vitamin A karena meningkatkan nilai gizi, menurunkan asam fitat dan berperan dalam pencegahan anemia ibu hamil. Tujuan : Menganalisis pH, total BAL, organoleptik, kandungan besi dan betakaroten pada yoghurt susu jagung.Metode : Penelitian eksperimental rancangan acak lengkap 1 faktor yaitu rasio kadar air dan jagung dengan perbandingan 2:1, 1:1 dan 1:2. Yoghurt dengan organoleptik terbaik difortifikasi besi dan vitamin A. Analisis pH menggunakan pH meter, Total BAL menggunakan metode TPC, kadar besi menggunakan metode AAS, dan betakaroten menggunakan metode spektrofotometri. Analisis statistik pH dan total BAL menggunakan uji Kruskall  wallis. Analisis statistik hasil uji organoleptik menggunakan uji Friedman dengan uji lanjut Wilcoxon.Hasil : Yoghurt susu jagung dengan organoleptik terbaik yaitu yoghurt  dengan rasio kadar air dan jagung 1:1 memiliki pH 4,63, total BAL 1,01x1015 cfu/ml, dan rerata organoleptik warna 4,04 (suka), aroma 3,28 (netral), tekstur 3,48 (netral), rasa 3,56 (suka). Rerata nilai pH dan total BAL yoghurt yang difortifikasi sebesar 4,5 dan 2,5x1013 cfu/ml. Terdapat peningkatan kandungan besi (1,713 mg/100ml, 1,912 mg/100ml, dan 2,631 mg/100 ml) serta kandungan betakaroten (285,38 mcg/100ml).Simpulan : Yoghurt dengan organoleptik terbaik adalah perlakuan B (rasio air dan jagung 1:1). Terdapat peningkatan kandungan besi dan betakaroten yoghurt susu jagung. 
PENGARUH SUPLEMENTASI SENG DAN ZAT BESI TERHADAP BERAT BADAN BALITA USIA 3-5 TAHUN DI KOTA SEMARANG Yuniasri, Eka Endah; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.442 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16447

Abstract

Latar Belakang : Seng dan Zat Besi diketahui memiliki manfaat yang penting bagi tubuh. Peranan terpenting seng bagi mahluk hidup adalah pada pertumbuhan dan pembelahan sel. Defisiensi seng berhubungan dengan menurunnya nafsu makan serta dapat mengakibatkan lambatnya pertumbuhan. Zat besi berperan dalam masa tumbuh kembang bayi dan anak. Defisiensi zat besi dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan yang lambat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh suplementasi seng dan zat besi terhadap berat badan balita usia 3-5 tahun di Kota Semarang.Metode :  Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimental dengan randomized control group pre post test design. Subjek penelitian adalah balita usia 3-5 tahun di Kota Semarang yang dibagi kedalam 4 kelompok secara random sampling. Kelompok kontrol diberikan placebo, sedangkan kelompok perlakuan 2, 3, dan 4 berturut-turut diberikan suplementasi Seng, Zat Besi, dan Seng-Zat besi selama 60 hari. Dosis seng dan zat besi masing-masing sebesar 10 mg/hari dan 7,5 mg/hari. Pengukuran berat badan dilakukan pada awal dan akhir penelitian. Asupan makan di peroleh dengan metode Semi Quantitative Food Frequency Questionaire (SQ-FFQ). Analisis data menggunakan uji beda Paired T-Test dan One-way ANOVA. Hasil : Berdasarkan z-score BB/U, terdapat 1 subjek (2,8%) yang berstatus gizi buruk, 10 subjek (27,8%) berstatus gizi kurang, dan 25 subjek (69,4%) berstatus gizi baik. Berat badan pre-post pada keempat kelompok memiliki perbedaan yang bermakna (p<0,05), namun perubahan berat badan yang terjadi pada keempat kelompok tidak memiliki perbedaan yang bermakna antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya (p>0,05). Simpulan : Ada pengaruh yang signifikan terhadap berat badan subjek di 4 kelompok penelitian (p<0,05). Namun, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (p>0,05).
FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 1-3 TAHUN (STUDI DI DESA MENDURAN KECAMATAN BRATI KABUPATEN GROBOGAN) Vaozia, Syifa; Nuryanto, Nuryanto
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.965 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16426

Abstract

Latar Belakang: Kejadian anak stunting merupakan salah satu permasalahan gizi yang belum terselesaikan. Prevalensi anak stunting di Kabupaten Grobogan cukup tinggi yaitu sebesar 31,1%. Tujuan penelitian untuk menentukan faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 1-3 tahun di Desa Menduran Kecamatan Brati Kabupaten Grobogan.Metode: Penelitian observasional dengan desain kasus kontrol pada anak usia 1-3 tahun di Desa Menduran Kecamatan Brati Kabupaten Grobogan. Jumlah sampel meliputi 36 kasus dan 36 kontrol. Status anak gizi stunting dikategorikan berdasarkan tinggi badan menurut umur dengan z-score (<-2SD). Data tinggi badan diukur dengan menggunakan microtoise. Data identitas subjek dan responden, riwayat BBLR, riwayat ASI ekslusif, dan pendidikan ibu diperoleh dengan wawancara dan kuesioner. Data asupan didapat dari recall 3x24 jam. Analisis data dilakukan dengan uji Chi Square.Hasil: Berdasarkan hasil analisis yang merupakan faktor risiko adalah asupan protein (OR=1,71,95%CI:1,30-2,26) dan asupan seng (OR=1,29, 95%CI:1,08-1,53). Sedangkan riwayat BBLR, riwayat ASI ekslusif, asupan energi dan tingkat pendidikan ibu bukan merupakan faktor risiko.Simpulan: Asupan protein dan seng merupakan faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 1-3 tahun di Desa Menduran Kecamatan Brati Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
PENGARUH SUPLEMENTASI SENG DAN ZAT BESI TERHADAP TINGGI BADAN BALITA USIA 3-5 TAHUN DI KOTA SEMARANG Ghazian, Muhammad Isyraqi; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.436 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16463

Abstract

Latar Belakang : Stunting merupakan masalah gizi yang dapat dipengaruhi oleh kekurangan asupan makronutrien dan mikronutrien kronis. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, prevalensi stunting di Indonesia sebesar 37,2 %. Seng dan zat besi diketahui memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tubuh. Suplementasi dapat digunakan untuk meningkatkan asupan seng dan zat besi.Metode : Jenis Penelitian ini adalah quasi experimental dengan randomized control group pre-post test design. Subjek penelitian adalah balita usia 3-5 tahun di Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang sebanyak 36 subjek yang diambil secara purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan dibagi kedalam 4 kelompok (9 subjek/kelompok) secara random sampling. Kelompok 1 / kontrol diberikan placebo, sedangkan kelompok perlakuan 2, 3, dan 4 berturut-turut diberikan suplementasi Seng, Zat Besi, dan Seng-Zat Besi selama 60 hari. Dosis seng dan zat besi masing-masing sebesar 10 mg/hari dan 7,5 mg/hari. Pengukuran tinggi badan dilakukan di awal dan di akhir penelitian. Asupan makan di peroleh dengan metode Semi Quantitative Food Frequency Questionaire (SQ-FFQ). Analisis data menggunakan uji beda paired t-test, dan uji Kruskal-Wallis.Hasil : Berdasarkan z-score TB/U, terdapat 4 subjek (11,1 %) yang berstatus severe stunted, 8 subjek (22,2 %) berstatus stunted, dan 24 subjek (66,7 %) berstatus normal. Tinggi badan pre-post pada keempat kelompok memiliki perbedaan yang bermakna (p<0,05), namun perubahan tinggi badan yang terjadi pada keempat kelompok tidak memiliki perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (p>0,05).Kesimpulan : Adanya pengaruh yang signifikan terhadap tinggi badan subjek di 4 kelompok penelitian (p<0,05). Namun, tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (p>0,05).
HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN, ZAT BESI, VITAMIN C DAN SENG DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA BALITA STUNTING Roziqo, Ikhfina Oktokenia; Nuryanto, Nuryanto
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.162 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16453

Abstract

Latar belakang : Anemia merupakan salah satu penyakit penyerta pada balita stunting. Kejadian anemia dapat diketahui berdasarkan kadar hemoglobin darah (Hb). Zat besi merupakan faktor penyebab utama terjadinya anemia. Namun, pada kenyataannya anemia dapat disebabkan karena asupan zat gizi lain seperti protein, vitamin C dan seng.Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain cross-sectional pada 20 balita berusia 24 – 59 bulan di Kelurahan Jangli. Kadar Hemoglobin (Hb) diperoleh dari analisis dengan metode cyanmethaemoglobin. Kadar Hb <11g/dL dinyatakan sebagai anemia pada balita. Data stunting diperoleh menggunakan standar prosedur antropometri. Data asupan zat besi, protein vitamin C dan seng diperoleh melalui metode Semi Quantitative-Foof Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan produk moment korelasi tes (Pearson test) dengan mempertimbangkan norrmalitas data.Hasil : Rerata kadar hemoglobin sebesar 11,27±0,22 g/dL. Rerata asupan protein sebesar 27,10±2,57 gr, zat besi 3,8±0,95 mg, vitamin C 15,96±8,07 mg, seng 2,88±0,30 mg. Terdapat hubungan antara asupan protein dengan kadar hemoglobin pada balita stunting (r=0,499, p-0,025). Sedangkan asupan zat besi, vitamin C, dan seng tidak terdapat hubungan dengan kadar hemoglobin pada balita stunting (p>0,05).Simpulan : Terdapat hubungan antara asupan protein dengan kadar hemoglobin pada balita stunting. Sedangkan asupan zat besi, vitamin C, dan seng tidak terdapat hubungan dengan kadar hemoglobin pada balita stunting (p>0,05).
HUBUNGAN ASUPAN ENERGI, PROTEIN, SENG, DAN KEJADIAN INFEKSI KECACINGAN STATUS GIZI ANAK UMUR 12-36 BULAN Febrindari, Ayu Puspita; Nuryanto, Nuryanto
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.82 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16435

Abstract

Latar Belakang: Faktor penyebab langsung masalah status gizi anak berupa asupan makan dan infeksi. Asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan akan mengganggu status gizi. Adanya infeksi dapat menyebabkan malabsorpsi, turunnya nafsu makan, dan meningkatnya kebutuhan zat gizi sehingga dapat mengganggu status gizi. Penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh faktor asupan makan dan infeksi kecacingan terhadap status gizi balita 12-36 bulan di Desa Menduran, Grobogan.Metode: Penelitian cross-sectional dilakukan pada 53 anak umur 12-36 bulan di Desa Menduran, Grobogan. Data asupan makan didapat dengan metode recall. Infeksi kecacingan didapat dari tes telur cacing pada feses dengan metode direct smear. Status gizi dilihat dengan menghitung z-skor panjang/tinggi badan menurut umur (TB/U atau PB/U) dan berat badan menurut panjang/tinggi badan (BB/TB atau BB/PB). Uji statistik menggunakan uji Rank Spearman.Hasil: Semua subjek 100% tidak terinfeksi kecacingan. Asupan energi tidak memiliki hubungan dengan z-skor TB/U atau PB/U dan z-skor BB/TB atau BB/PB (p>0,05). Asupan protein memiliki hubungan dengan z-skor BB/TB atau BB/PB (r=0,331, p=0,015). Asupan seng memliki hubungan dengan z-skor TB/U atau PB/U (r=0,272, p=0,049) dan z-skor BB/TB atau BB/PB (r=0,327, p=0,017).Kesimpulan: Infeksi kecaingan tidak ditemukan pada penelitian ini. Terdapat hubungan positif antara asupan protein dan z-skor BB/TB atau BB/PB. Terdapat hubungan positif antara asupan seng dengan z-skor TB/U atau PB/U dan z-skor BB/TB atau BB/PB. 
EFEK PEMBERIAN SEDUHAN KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP KADAR HDL TIKUS SPRAGUE DAWLEY DISLIPIDEMIA Faadlilah, Nourah; Ardiaria, Martha
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.811 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16422

Abstract

Latar Belakang : Kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus berpotensi menurunkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular melalui peningkatan kadar kolesterol HDL oleh agen hipokolesterolemik. Kulit buah naga merah mengandung total fenol, antosianin, betasianin, vitamin C, flavonoid dan serat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek seduhan kulit buah naga merah terhadap kadar kolesterol HDL tikus dislipidemia.Metode : Penelitian true experimental dengan rancang acak kelompok. Tikus jantan Sprague dawley dibagi menjadi 5 kelompok dengan 6 tikus pada tiap kelompok. Selama 7 hari, tikus (K+, P1, P2, P3) dibuat menjadi dislipidemia setelah masa adaptasi, kemudian diberi seduhan kulit buah naga merah selama 14 hari dengan perlakuan dosis yang berbeda: K- (pakan standar), K+ (pakan standar), P1 (pakan standar+200 mg/ml), P2 (pakan standar+400 mg/ml) and P3 (pakan standar+800 mg/ml). Kadar HDL diukur menggunakan metode CHOD-PAP dan presipitasi HDL. Hasil data dianalisis dengan Paired t-test, ANOVA, Kruskall Wallis,  post hoc Tamhane, Bonferroni dan Mann Whitney dengan tingkat kepercayaan 95%.Hasil : Adanya penurunan kadar kolesterol HDL pada kelompok kontrol negatif (K-), kelompok kontrol positif (K+) sebesar 11,6% (p=0,018), 3,4% (p=0,003) dan peningkatan kadar kolesterol HDL pada kelompok perlakuan (P1, P2, P3) berturut-turut 25,2% (p=0,006), 66% (p=0,000) dan 105% (p=0,000). Terdapat perbedaan rerata yang bermakna antar semua kelompok pada uji ANOVA ( p=0,001). Kesimpulan : Pemberian seduhan kulit buah naga merah dosis 200 mg/ml, 400 mg/ml dan 800 mg/ml selama 14 hari dapat meningkatkan kolesterol HDL tikus dislipidemia secara bermakna. Dosis perlakuan paling tinggi menunjukkan peningkatan kolesterol HDL yang paling besar. 
EFEK PEMBERIAN SEDUHAN KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocererus Polyhizus) TERHADAP KADAR KOLESTEROL LDL TIKUS SPRAGUE DAWLEY DISLIPIDEMIA Irmayanti, Lusi; Ardiaria, Martha
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.61 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16469

Abstract

Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian di dunia. Salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular adalah dislipidemia yaitu abnormalitas profil lipid dalam darah. Pengendalian kadar kolesterol dapat dilakukan dengan mengkonsumsi pangan fungsional yang berpotensi menurunkan kadar kolesterol salah satunya adalah kulit buah naga merah. Kulit buah naga merah mengandung flavonoid, serat, antioksidan, dan fenol yang berpotensi menurunkan kadar kolesterol LDL darah.Metode: Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan pre- post test randomized control group design terhadap 30 ekor tikus Sprague dawley yang kemudian dibagi secara acak dalam 5 kelompok. Keempat kelompok diberi pakan tinggi kolesterol, kecuali kontrol negatif selama 7 hari. Selanjutnya kelompok kontrol negatif dan positif diberi pakan standar, sedangkan kelompok perlakuan diberi seduhan kulit buah naga dengan dosis 200 mg/ml, 400 mg/ml, dan 800 mg/ml selama 14 hari. Kulit buah naga kering diseduh dengan air hangat (70-75˚C) selama 2-3 menit.  Kadar kolesterol LDL diperiksa dengan metode CHOD-PAP dan presipitasi LDL. Data dianalisis dengan uji Paired t-test dan ANOVA serta uji Post- Hoc dengan LSD pada tingkat kepercayaan 95%.  Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna sebelum dan setelah intervensi pada kelompok K(-). Namun terdapat perbedaan bermakna sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok K(+), P1, P2 dan P3. Pada kelompok K(+) terdapat peningkatan LDL secara bermakna, sedangkat pada kelompok perlakuan dengan pemberian seduhan kulit buah naga merah selama 14 hari dapat menurunkan kadar LDL (15,36±4,20), (29,55±1,81), dan (41,18±4,78). Setelah intervensi terdapat perbedaan rerata kadar LDL antar kelompok p=0,000.Kesimpulan: Pemberian seduhan kulit buah naga merah selama 14 hari pada dosis 800 mg/ml paling efektif menurunkan kadar kolesterol LDL pada tikus dislipidemia.
HUBUNGAN ASUPAN SERAT, LEMAK DAN KALSIUM DENGAN KEJADIAN KARSINOMA KOLOREKTAL DI SEMARANG Hapsari, Prima Kusuma; Murbawani, Etisa Adi
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.663 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16459

Abstract

Latar belakang : Karsinoma kolorektal merupakan permasalahan kesehatan yang menempati urutan kelima dari penyakit keganasan dan mengalami peningkatan di Asia. Salah satu faktor risiko meningkatnya angka kejadian karsinoma kolorektal adalah perubahan diet pada masyarakat. Diet rendah serat, tinggi lemak, dan rendah kalsium memicu terjadinya karsinoma kolorektal.Tujuan : Menganalisis hubungan antara asupan serat, lemak dan kalsium dengan kejadian karsinoma kolorektal. Metode : Jenis penelitian adalah penelitian  analitik observasional retrospektif dengan rancangan case-control, yang dilaksanakan di RSUD Kota Semarang dan RSUP Dr. Kariadi Semarang selama Februari - Juni 2016. Subjek dalam penelitian berjumlah 36 orang. Data dikumpulkan dengan menggunakan lembar kuesioner food frequency dan wawancara. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis chi square.Hasil : Sebagian besar subjek memiliki asupan serat, lemak dan kalsium rendah. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan serat (p = 0,074, OR = 0,153, 95CI% = 0,016 – 1,473), lemak (p= 0,310, OR = 0,486, 95CI% = 0,345 – 0.483)  dan kalsium (p =146, OR = 0,471, 95CI% = 0,329 – 0,672). Simpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan serat, lemak dan kalsium dengan kejadian karsinoma kolorektal.
HUBUNGAN LINGKAR PINGGANG DAN RASIO LINGKAR PINGGANG PANGGUL DENGAN KADAR SERUM HIGH SENSITIVITY C-REACTIVE PROTEIN (hsCRP) PADA REMAJA OBESITAS Wahyuni, Nani; Murbawani, Etisa Adi
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.093 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16448

Abstract

Latar Belakang: Obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Pengukuran antropometri dari obesitas abdominal seperti lingkar pinggang (LP) dan rasio lingkar pinggang panggul (RLPP) memiliki hubungan yang lebih kuat dengan penyakit kardiovaskuar. Kadar serum hsCRP dapat digunakan sebagai prediktor risiko penyakit kardiovaskular dimasa yang akan datang.Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara LP dan RLPP dengan kadar serum hsCRP pada remaja obesitas.Metode: Studi observasional dengan desain cross sectional ini dilakukan di SMA Kolese Loyola Semarang dan SMA 6 Semarang. Kadar hsCRP dihitung pada 34 siswa obesitas (persentil IMT/U ≥95th) yang berusia 15-17 tahun. Data yang dikumpulkan adalah data identitas subjek, antropometri (berat badan, tinggi badan, LP, dan RLPP), kadar serum hsCRP (dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)), dan tingkat aktivitas fisik (menggunakan Physical Activity Questionnaire for Adolescencts (PAQ-A)) Hasil: Rerata LP remaja sebesar 94,95±1,42 cm, rerata RLPP remaja 0,86±0,05, rerata kadar hsCRP remaja 1,098±0,402 mg/L. Subjek dengan nilai LP dan RLPP tinggi memiliki level serum hsCRP yang juga tinggi (p=0,002 dan p=0,020).Simpulan: Lemak viseral lebih berkontribusi terhadap peningkatan hsCRP. 

Page 1 of 4 | Total Record : 38