cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014" : 17 Documents clear
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG YANG BERBEDA TERHADAP KUALITAS PRODUK PETIS DARI CAIRAN SISA PENGUKUSAN BANDENG (Chanos chanos Forsk) PRESTO Isnaeni, Ahmad Nur; Swastawati, Fronthea; Rianingsih, Laras
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.216 KB)

Abstract

Limbah cair dari proses pembuatan bandeng presto dapat digunakan untuk membuat petis. Penambahan tepung yang berbeda dapat mempengaruhi kualitas produk petis berdasarkan analisa kimiawi dan sensori. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan bahan pengisi terhadap kualitas kimia dan sensori petis serta untuk mengetahui potensi masing-masing tepung sebagai bahan pengisi petis. Materi penelitian berupa cairan sisa rebusan bandeng. Metode yang digunakan adalah experimental laboratories dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan perbedaan bahan pengisi. Parameter uji yang diamati adalah uji sensori, kadar asam glutamat, dan uji proksimat (kadar protein, lemak, air, karbohidrat dan abu). Hasil penelitian menunjukkan nilai uji sensori secara umum terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05). Kadar asam glutamat tertinggi pada terigu 4,09 ± 0,56; kadar protein tertinggi pada terigu 23,60 ± 2,73; kadar lemak tertinggi pada terigu 5,39 ± 1,70; kadar air terendah pada terigu 33,49 ± 0,61; kadar karbohidrat terendah pada terigu 34,99 ± 3,63; dan kadar abu tertinggi pada terigu 2,52 ± 0,17. Perbedaan bahan pengisi mempengaruhi kualitas petis dan penambahan terigu menghasilkan kualitas petis terbaik dalam hal nutrisi dan penerimaan konsumen. Liquid waste from milkfish presto can be used to produced petis. The addition of different flour can affect the qualityof petis, among others, based on chemical and sensory analysis. This study aims to determine the influence of difference flour to the chemical and sensory quality of petis and to determine the potential of each flour as filler of petis. The study material in the form is the waste water of stew milkfish. The methods used is an experimental laboratories by using Randomized Block Design with 3 different treatment of adding material. The test parameter were observe sensory test, glutamic acid content, and proximate analysis (protein, fat, carbohydrat, moisture, ash content). The results of sensory test showed that differences in fillers generally give a significant influence (P < 0,05). The highest of glutamic acid content is 4,09 ± 0,56 in wheat flour; the highest protein content is 23,60 ± 2,73 in wheat flour; the highest fat content is 5,39 ± 1,70 in wheat flour; the lowers moisture content is 33,49 ± 0,61 in wheat flour; the lowers carbohydrates content is 34,99 ± 3,63 in wheat flour; and the highest ash content is 2,52 ± 0,17 in wheat flour. Differences of the filler affect the quality of petis and the addition of flour produces the best quality of petis in nutrition and consumer acceptance.
PENGARUH PERBEDAAN KONSENTRASI TEPUNG KENTANG (Solanum tuberosum) TERHADAP KARAKTERISTIK PASTA DARI IKAN AIR TAWAR, PAYAU DAN LAUT Arumsari, Marchella Dharma; Darmanto, YS; Riyadi, Putut Har
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.555 KB)

Abstract

Pasta Ikan merupakan salah satu produk diversifikasi perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Banyak metode yang dilakukan untuk meningkatkan tekstur produk pasta ikan, misalnya penambahan tepung. Tepung kentang dapat ditambahkan karena mempunyai viskositas yang tinggi dan kemampuan mengikat air yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi tepung kentang pada karakteristik pasta ikan dari ikan patin, belanak dan kurisi. Penelitian ini menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan perlakuan jenis ikan dan konsentrasi tepung kentang dan dilakukan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor jenis ikan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kekuatan gel, kadar air, EMC, kadar protein, derajat putih, uji gigit, uji lipat dan nilai hedonik. Sedangkan faktor konsentrasi tepung kentang berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kekuatan gel, EMC, derajat putih, uji gigit, uji lipat dan nilai hedonik. Interaksi kedua faktor berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kekuatan gel, kadar protein, uji gigit, uji lipat dan nilai hedonik. Pasta ikan patin dengan penambahan tepung kentang 5% merupakan produk yang terbaik dengan kriteria mutu: kekuatan gel (2558,443 g.cm); nilai uji lipat 4,87 (A); uji gigit 8,03; uji derajat putih 65,8; uji hedonik 7,28; kadar air 70,42%; kadar protein 19,03%; pH 6,96 dan EMC 10,46%. Fish Paste is one of fisheries diversification product which have high economic value. Many methods have been developed to enhance the textural properties of fish paste products, such as flour addition. Potato flour with a high viscosity and good water holding ability. The aim of this research was to know the effect of potato flour concentration on the characteristics of fish paste from catfish, mullet, and threadfin bream. This research used completely randomized factorial experimental design with species and potato flour concentration treatments in three replication. Results of this research showed that species factor had significantly (P<0.05) for gel strength, moisture content, EMC, protein content, whiteness, teeth cutting test, folding test and hedonic value. Meanwhile, potato flour concentration had significantly (P<0.05) for gel strength, EMC, whiteness, teeth cutting test, folding test, and hedonic value. Interaction of each factor had significantly (P<0.05) for gel strength, protein content, teeth cutting test, folding test and hedonic value. Catfish paste with 5% potato flour adding was the best product which had the quality criteria : gel strength (2558.443 g.cm); folding test score 4.87 (A); teeth cutting test 8.03; whiteness test 65.8; hedonic score 7.28; moisture content 70.42%; protein content 19.03%; pH value 6.96 and EMC  10.46%. 
PENGARUH WAKTU PENGUKUSAN TERHADAP KUALITAS KEPITING BAKAU (Scylla serrata) PRESTO DENGAN ALAT “TTSR” Prasetyo, Medi; Riyadi, Putut Har; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.338 KB)

Abstract

Kepiting  bakau  mempunyai  potensi  untuk  dikembangkan karena  rasa  dagingnya  yang  enak  dan kandungan  protein  yang  tinggi. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah membandingkan secara deskriptif alat “TTSR” dengan Autoclave dan mengetahui waktu optimum pemasakan agar diperoleh kepiting presto dengan kualitas yang diharapkan dan mengetahui kualitas kepiting presto dengan adanya variasi waktu dalam proses pemasakkan kepiting presto tersebut. Keunggulan alat “TTSR”  dengan Autoclave adalah dari segi waktu pemasakan yang lebih singkat dengan suhu yang stabil di akan menghemat dari penggunaan bahan bakar yang di gunakan. Penggunaan suhu yang stabil  ≤ 100 ˚C akan menjaga kualitas gizi dalam kepiting tidak terlalu rusak. Selain itu, tekanan yang dihasilkan “TTSR” adalah 4-4,5 atm. Hal ini, menjadi kelebihan yang tidak ada pada alat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu pemasakan menggunakan alat “TTSR” yang terbaik adalah 100 menit. Nilai tertinggi berdasarkan uji organoleptik kenampakan 7,7, bau 7,9 dan tekstur 7,97 pada waktu pemasakan 60 menit. Nilai kekerasan cangkang yang terbaik 2222,56 N pada waktu pemasakan 100 menit. Sedangkan perebusan dengan Autoclave konvensional selama waktu 150 menit memiliki nilai kerapukan 4420,95 N. Sedangkan pengujian kimiawi pada kepiting presto yaitu kadar air 75,36% pada waktu pemasakan 60 menit, kadar protein 19,83% pada waktu pemasakan 60 menit, kadar lemak 1,553% pada waktu pemasakan 60 menit. Muds crab is a crab that has commercial value and potential to be developed because the meat is delicious and high protein content. The purpose of the research is to compare two instruments “TTSR” and the Autocleve instrument determine the optimum cooking time for crab presto obtained with the expected quality and to know the quality of crab presto with the variation in cooking time. Descriptively, the best from a “TTSR” with Autoclave is the short time of boiling with the stable range of temperatures, it would save the fuel. The use of stable temperature ≤ 100 ˚C will keep the quality nutrition in crab is not too badly damaged. In addition, pressure produced by “TTSR” is 4-4.5 atm. This is to better thing than Autoclave instruments.  The result showed that the best time used for cooking presto crabs using “TTSR” is 100 minutes. The highest value based on organoleptic test are appearance 7.7, odor 7.9 and texture 7,97 during 60 minutes cooking. The best value brittleness of the shells is 2222,56 N in 100 minutes of cooking time. While chemical testing on the crab presto showed 75.36% moisture content during 60 minutes cooking, 19.83% protein content during 60 minutes cooking, the fat content is 1,553% at 60 minutes of cooking time.
KARAKTERISTIK PERMEN JELLY DENGAN PENGGUNAAN CAMPURAN SEMI REFINED CARRAGEENAN DAN ALGINAT DENGAN KONSENTRASI BERBEDA Mahardika, Bani Chandra; Darmanto, YS; Dewi, Eko Nurcahya
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.397 KB)

Abstract

Permen jelly merupakan permen yang terbuat dari air atau sari buah dan bahan pembentuk gel yang berpenampilan jernih, transparan serta mempunyai tekstur dengan kekenyalan tertentu. Dalam pembuatan permen jelly, kekenyalan dan tekstur permen banyak dipengaruhi oleh bahan gel yang digunakan. Bahan pembentuk gel yang biasa digunakan antara lain gelatin, karaginan dan agar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan campuran SRC dan alginat dengan konsentrasi berbeda terhadap karakteristik permen jelly dan mengetahui karakteristik permen jelly. Manfaat dari penelitian ini adalah dapat memberikan pengetahuan dan menambah informasi mengenai formulasi terbaik dari penggunaan SRC dan alginat pada permen jelly. Hasil penelitian pengujian SRC diperoleh bahwa tepung SRC yang digunakan telah sesuai standar yang ditetapkan. Hasil penelitian pengujian SRC diperoleh nilai gel strength 403,65 gf/cm2, viskositas 20 cps dan kadar sulfat 16,54%. Hasil penelitian utama penggunaan campuran SRC dan alginat dengan konsentrasi 100%:0%; 80%:20%; 70%:30%; dan 60%:40% diperoleh nilai kekerasan masing-masing 0,580Kgf/cm2; 0,193Kgf/cm2; 0,365Kgf/cm2; 0,517Kgf/cm2. Nilai elastisitas masing-masing 0,498Kg/Kg; 0,799Kg/Kg; 0,7Kg/Kg; 0,594Kg/Kg. Nilai kadar air masing-masing 18,17%; 18,91%; 18,69%; 18,23%. Nilai kadar abu masing-masing 1,30%; 2,28%; 1,86%; 1,53%. Hasil uji hedonik permen jelly diperoleh nilai masing-masing 6,64≤µ≤6,86; 6,78≤µ≤7,00; 6,98≤µ≤7,18; 6,74≤µ≤6,94 dengan indikator disukai. Jelly candy is candy made from water or juice and gel-forming materials with clear and transparent look, and certain elasticity texture. In the making of jelly candy, elasticity and texture much influenced by the gel-forming materials used. Gel-forming materials commonly used include gelatin, carrageenan and so on. This study aimed to determine the influence of the different concentration of SRC and alginate mixture to jelly candy characteristics. The benefit of this research was to inform about the best formulation of SRC and alginate mixture in the making of jelly candy. The result of SRC test obtained that gel strength value was 403,65 gf/cm2, 20 cps of viscosity and 16,54% of ash content. The result of main research show the use of SRC and alginate mixture with concentrations of 100%:0%; 80%:20%; 70%:30%; dan 60%:40% obtained 0,580Kgf/cm2; 0,193Kgf/cm2; 0,365Kgf/cm2; 0,517Kgf/cm2 of hardness value, 0,498Kg/Kg; 0,799Kg/Kg; 0,7Kg/Kg; 0,594Kg/Kg of elasticity value, 18,17%; 18,91%; 18,69%; 18,23% of moisture content value and 1,30%; 2,28%; 1,86%; 1,53% of ash content value. The hedonic test on jelly candy was obtained 6,64≤µ≤6,86; 6,78≤µ≤7,00; 6,98≤µ≤7,18; 6,74≤µ≤6,94.
PENGARUH PENAMBAHAN ISOLAT PROTEIN KEDELAI TERHADAP KARAKTERISTIK BAKSO DARI SURIMI IKAN SWANGI (Priacanthus tayenus) Astuti, Rahayu Tri; Darmanto, YS; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.097 KB)

Abstract

Ikan swangi memiliki daging yang berwarna putih sehingga dapat diolah menjadi berbagai macam produk berbasis fish jelly seperti surimi. Bakso ikan merupakan salah  satu  usaha  diversifikasi  produk  perikanan  yang  dapat  dikembangkan dan berpeluang menambah nilai  tambah  (added  value). Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan isolat protein kedelai dalam bakso dari surimi ikan swangi (Priacanthus tayenus) terhadap karakteristik fisik, kimia dan sensori. Ikan diolah menjadi surimi dengan 3 kali proses pencucian. Surimi yang dihasilkan lalu diolah kembali menjadi bakso dengan penambahan isolat protein kedelai 4%,7% dan 10%. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan yang berbeda (penambahan isolat protein kedelai 4%, 7% dan 10%). Hasil penelitian menunjukkan penambahan isolat protein kedelai konsentrasi 7% pada pengolahan bakso ikan swangi memperoleh hasil yang terbaik dengan kekuatan gel (1229,19gf), stabilitas emulsi (88,3%), kadar protein (20,2%), kadar lemak (5,36%), kadar air (55,66%), nilai pH (6,37), uji lipat (4,9), uji gigit (7,57) dan uji hedonik disukai. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan isolat protein kedelai pada bakso ikan swangi menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap kekuatan gel, stabilitas emulsi, kadar protein, kadar lemak, kadar air, nilai pH, uji lipat dan uji hedonik parameter tekstur, tetapi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap uji gigit, uji hedonik parameter kenampakan, aroma dan rasa. Bigeye Snapper have white meat that can be processed into variety of jelly fish-based products such as surimi. A fish meatballs is one of efforts to diversify the fishery products can be developed and chance to add to the value added. The purpose of doing this research is knowing influence the soy protein isolate in meatballs of surimi bigeye Snapper (Priachantus tayenus) by analyzing physical characteristic chemical and sensory. Fish processed into surimi with 3 times the process of leaching. Surimi is produced and processed back into the meatballs eith the addition of soy protein isolate, 4%, 7% and 10%. The research experimental design used Completely Randomize Design (CRD) with different treatments (addition of soy protein isolate, 4%, 7% and 10%). The results Showed the addition of soy protein isolate concentration of 7% in the processing of fish balls swangi obtain the best results with gel strength (1229,19gf), emulsion stability (88,3%), protein (20,2%), fat (5,36%), moisture (55,66%), pH value (6,37), folding test (4,9), teeth cutting test (7,57), and hedonic test is preferably. Based on the results of this study concluded that the addition of soy protein isolate on fish balls swangi showed significant differences (P < 0.05) on levels of gel strength), emulsion stability, levels of protein, level of water, pH value, folding test, teeth cutting test, and hedonik-test the parameters of  texture, but didn’t  showed significant differences  on teeth cutting test, hedonik-test the parameters of appearance, smell and taste.
PENGARUH PENGGUNAAN BIOAKTIVATOR EM4 DAN PENAMBAHAN DAUN LAMTORO (Leucaena leucocephala) TERHADAP SPESIFIKASI PUPUK ORGANIK CAIR RUMPUT LAUT Eucheuma spinosum Ratrinia, Putri Wening; Ma'ruf, Widodo Farid; Dewi, Eko Nurcahya
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.582 KB)

Abstract

Pemakaian pupuk organik sangat dianjurkan karena dapat memperbaiki produktivitas tanah, baik secara fisik, kimia, maupun biologi tanah. Rumput laut E. spinosum mengandung unsur mikro dan makro nutrien, serta zat pengatur tumbuh tanaman seperti auksin, gibberellin, cytokinin, dan etilen sehingga sangat potensi yang besar sebagai pupuk organik penyubur tanaman. Penambahan daun lamtoro (L. leucocephala) basah berfungsi sebagai sumber nitrogen, fosfor dan kalium pada ekstrak pupuk rumput laut cair. Unsur tersebut merupakan unsur yang dibutuhkan tanaman, sehingga diharapkan akan meningkatkan mutu pupuk organik cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bioaktivator EM4 dan daun lamtoro (L.leucocephala) terhadap kandungan C-organik, nitrogen, phosphor, kalium, pH,dan bakteri patogen. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan penambahan dengan 3 taraf perlakuan kontrol (E1), penambahan EM4 (E2), dan penambahan EM4+daun lamtoro (E3) masing-masing tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan EM4 dan daun lamtoro memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap kadar C-organik (E1=6,53% ; E2=4,93% ; E3=4,19%), kadar nitrogen (E1=1,03% ; E2=2,43% ; E3=4,35%), kadar fosfor (E1=0,30% ; E2=0,31% ; E3=0,36%), kadar kalium (E1=0,96% ; E2=1,04% ; E3=1,23%),pH(E1=6,53; E2=5,54 ; E3=7,05) dan kandungan bakteri patogen Escherichia coli dan Salmonella sp pada semua perlakuan adalah negatif. The use of organic fertilizer is highly recommended because it can improve the productivity of the land, whether physical, chemical, and biological soil. E. spinosum seaweed contains elements of micro and macro nutrients, and plant growth regulators such as auxin, gibberellin, cytokinin, and ethylene so it is has great potential as an organic fertilizer for fertilising crops. Addition lamtoro (L. leucocephala) serves as a source of nitrogen, phosphorus and potassium in the liquid organic fertilizer. The element is needed by plants, which is expected to improve the quality of liquid organic fertilizer. This study aims to determine the effect of bio-activator EM4 and lamtoro (L. leucocephala) on the content of C-organic, nitrogen, phosphorus, potassium, pH, and bacterial pathogens. This research used exsperimental laboratories. The experimental design used was completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 3 replications, namely the control treatment (E1), the addition of EM4 (E2), and the addition of EM4 + leaf lamtoro (E3). Parameters measured were C-organic, nitrogen, phosphorus, potassium, pH, bacterial pathogens. Parametric data were analyzed by ANOVA.The results showed that the addition of EM4 and lamtoro significant effect (P <0.05) the levels of c-organic (E1 = 6.53%; E2 = 4.93%, E3 = 4.19%), nitrogen (E1 = 1.03%; E2 = 2.43%, E3 = 4.35%), phosphorus levels (E1 = 0.30%; E2 = 0.31%, E3 = 0.36%), potassium levels (E1=0,96% ; E2=1,04% ; E3=1,23%), pH (E1 = 6.53; E2 = 5.54; E3 = 7.05) and the content of pathogenic bacteria Escherichia coli and Salmonella sp was negative in all treatments.
PENGARUH PENAMBAHAN OZON SELAMA PENYIMPANAN DINGIN TERHADAP KADAR ASAM LEMAK BEBAS IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) Rahmahidayati, Ikfi; Agustini, Tri Winarni; Nur, Muhammad
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.02 KB)

Abstract

Sistem penyimpanan dingin ikan yang umum digunakan belum optimal dalam memperpanjang daya simpannya. Suatu bahan seperti ozon dapat ditambahkan pada sistem ini sebagai alternatif dalam mempertahankan mutu ikan dengan aman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan ozon pada penyimpanan dingin terhadap kadar asam lemak bebas ikan Nila Merah dan efektivitas ozon dalam pengawetan ikan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan Nila Merah utuh, ozon dan es slurry. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola terbagi oleh waktu ”Split Plot in Time”. Faktor konsentrasi ozon (0 ppm dan 3,5 ppm) sebagai sub plot dan lama penyimpanan (hari ke-0, 4, 8, 12 dan 16) sebagai main plot. Data nilai uji organoleptik dianalisis dengan uji Kruskal Wallis, sedangkan uji asam lemak bebas (FFA), pH dan Aw dianalisis menggunakan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi ozon dan lama penyimpanan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap nilai organoleptik, FFA dan Aw, namun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai pH (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai organoleptik berkisar antara 6,78 – 8,47; nilai FFA antara 0,340% – 0,865%; nilai pH antara 6,59 – 7,47; nilai Aw 0,894 – 0,992. Ikan Nila Merah dengan perlakuan ozon dapat diterima secara organoleptik hingga hari ke-16, namun perlakuan kontrol hanya bertahan hingga hari ke-12. Nilai FFA dengan perlakuan ozon lebih rendah daripada perlakuan kontrol.  Generally, chilling system of fish is not optimum to extending the shelflife. The substance such as ozone can be added to this system as an alternative method to maintain freshness quality of fish safely. This research was aimed to observe the effect of ozone addition on chilling system to free fatty acid of red tilapia and effectiveness of ozone for fish preservation. The material used were whole red tilapia, ozone and slurry ice. The method used in the research was experimental laboratories using Split Plot in Time Design. The factors consists of ozone concentration (0 ppm and 3.5 ppm) as sub plot and length of storage (0, 4, 8, 12 and 16 days) as main plot. The data of organoleptic value was analyzed by Kruskal Wallis, however free fatty acid (FFA), pH and Aw were analyzed by ANOVA. The result showed that different ozone concentration and length of storage gave significant effect (P < 0.05) to organoleptic value, FFA and Aw, but no significant effect on pH value (P > 0,05). Based on the results obtained organoleptic value range between 6.78 – 8.47; FFA value between 0.340% – 0.865%; pH value between 6.59 – 7.47; Aw value between 0.894 – 0.992. Organoleptic quality of red tilapia with ozone treatment can be accepted up to 16 days, but control treatment only lasted up to 12 days. FFA values with ozone treatment was also lower than control treatment.

Page 2 of 2 | Total Record : 17