cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015" : 14 Documents clear
PENGARUH SRC DAN KONJAK TERHADAP KUALITAS SOSIS IKAN TENGGIRI (Scomberomorus sp.) Pratiwi, Arnyta Restu; Dewi, Eko Nurcahya; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.403 KB)

Abstract

Porang (Amorphophallus konjac) atau yang sering disebut sebagai konjak merupakan jenis tanaman berbentuk umbi yang berpotensi memiliki nilai ekonomis yang tinggi, sedangkan Semi refined-carragenan (SRC) merupakan karagenan setengah jadi. SRC dapat digunakan sebagai stabilizer, emulsifier dan thickener dalam industri. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsentrasi SRC maupun konjak terbaik yang bisa digunakan sebagai bahan tambahan pembuatan sosis ikan Tenggiri serta mengetahui kualitas sosis ikan Tenggiri dengan tambahan SRC dan konjak, meliputi: kadar air, kadar protein, kadar lemak, Aw serta gel strength. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan Tenggiri segar, SRC, konjak dan bahan pendukung lainnya. Metode penelitian bersifat eksperimental laboratories. Data kekuatan gel, kadar air, kadar lemak, kadar protein dan Aw dianalisis menggunakan uji ANOVA dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian dilakukan dua tahap, penelitian pendahuluan untuk mengetahui emulsi terbaik (1%, 3% atau 5%), sosis terpilih kemudian digunakan dalam penelitian utama. Di dalam penelitian ini menggunakan kontrol yaitu adonan sosis tanpa penambahan SRC maupun konjak. Hasil penelitian utama menunjukkan bahwa kadar air, lemak dan Aw terbaik pada penambahan SRC sedangkan gel strength dan kadar protein terbaik pada penambahan konjak. Penambahan SRC maupun konjak pada sosis ikan tenggiri mampu meningkatkan stabilitas emulsi pada sosis tersebut. Keduanya juga mampu meningkatkan kekompakan sosis dengan harga yang tidak terlalu mahal sehingga bisa menguntungkan pabrik pembuat sosis karena dapat meminimalisir biaya produksi sosis menjadi lebih ekonomis jika dibandingkan dengan penggunaan kasein. Oleh karena itu, sosis tidak hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas saja melainkan semua kalangan masyarakat secara merata.  Porang (Amorphophallus konjac) or often referred to as konjac is a tuber-shaped plant species that could potentially have a high economic value, while the Semi refined -carragenan (SRC) is a semi-finished carrageenan. SRC can be used as stabilizer, emulsifier and thickener in the industry. The purpose of this study was to determine the best concentration of the SRC and konjac that can be used as an additive on manufacture of mackerel sausages and to know the quality of sausages with additional SRC and konjac,  include: water content, protein content, fat content, Aw and gel strength. The material used in this study was fresh mackerel fish, SRC, konjac and other supporting materials. The research methods was laboratory treatment. Gel strength, water content, fat content, protein content and Aw were analyzed using ANOVA with Completely Randomized Design Methode. The study was done in two stages, a preliminary study to determine the best emulsion(1%, 3% or 5%), sausage elected then used in the main study. In this study using a control that sausage without the addition of SRC and konjac. The main research results showed that the water content, the fat and Aw the addition of SRC were the best while the gel strength and protein levels in addition konjac. The addition of SRC and konjac in sausage mackerel able to improve the stability of the emulsion in the sausage. Both are also able to increase the cohesiveness of sausages price, that is not too expensive to be profitable manufacturer of sausage because it can minimize the cost of production of sausages to be more economical when compared to the use of casein. Therefore, sausage not only be enjoyed by the upper class alone but all circles of society equally.
APLIKASI ALGINAT SEBAGAI EMULSIFIER DALAM PEMBUATAN KAMABOKO IKAN KUWE (Carangoides malabaricus) PADA PENYIMPANAN SUHU DINGIN Prakoso, Hendika Aris; Riyadi, Putut Har; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.948 KB)

Abstract

Alginat digunakan sebagai pengemulsi suatu bahan terutama pada bahan pangan.Kamaboko merupakan produk diversifikasi hasil perikanan yang terbuat dari lumatan daging ikan.Tujuan dari penelitian ini adalah peranan alginat sebagai subtitusi tepung tapioka untuk meningkatkan kestabilan emulsi kamaboko ikan kuwe dan juga untuk melihat pengaruh kestabilan emulsi dalam penyimpanan suhu dingin. Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimental laboratories. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu pertama penambahan konsentrasi alginat yang berbeda (0% dan 2,5%) dan kedua penyimpanan suhu dingin (hari ke-0, 7, 14, 21). Hasil penelitian pendahuluan didapatkan konsentrasi terbaik subtitusi alginat 2,5% dan tepung tapioka 7,5%. Hasil penelitian utama menunjukkan bahwa jenis kamaboko yang berbeda dan lama penyimpanan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap nilai stabilitas emulsi, nilai gel strength dan kadar air. Sedangkan pada nilai Aw hanya memberikan pengaruh yang nyata pada faktor penyimpanan. Nilai emulsi kamaboko ikan dengan subtitusi alginat penyimpanan hari ke-0, ke-7, ke-14, ke-21 berturut-turut yaitu 80,44%, 80,22%, 80,031% dan 79,64%, sedangkan tanpa subtitusi alginat (Kontrol) penyimpanan hari ke-0, ke-7, ke-14, ke-21 berturut-turut yaitu 79,96%, 79,66%, 79,29% dan 78,74%. Pengaruh jenis kamaboko yang berbeda dan lama penyimpanan menunjukan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap nilai hedonik. Kamaboko ikan subtitusi alginat dan kamaboko ikan tanpa subtitusi alginat (Kontrol) pada parameter kenampakan, aroma,dan rasa  diterima panelis selama penyimpanan hari ke-0, ke-7 dan ke-14. Sedangkan pada tekstur hanya penyimpanan hari ke-0 dan ke-7 yang diterima panelis. Alginate used as an emulsifier for food materials. Kamaboko is diversified fishery products made from minced fish. The objective of this researchwas the role of alginate as a substitute for tapioca flour to improve emulsion stability of malabar trevally fish kamaboko and even if to see the effect of emulsion stability during chilledstorage temperature. The research method used was experimental laboratories. The experimental design was factorial design which was consisted of 2 factors, firstly the addition of alginate concentration (0% and 2,5%) and secondly the kamaboko storage at chilled temperature (0, 7th, 14th, and 21st days of storage). The preliminary study showed that the best alginate concentration was 2,5%. The main research results showed that the different kamaboko and storage time showed significantly different (p<0,05) to the emulsion stability, gel strenght value, and moisture content. However, water activity showed significantly different (p<0,05) to storage time. The fish kamaboko emulsion at 0, 7th, 14th, and 21st days of storage were 80,44%, 80,22%, 80,03%, and 79,64% respectively. Whereas untreated kamaboko at 0, 7th, 14th, and 21st days of storage were 79,96%, 79,66%, 79,29%, and 78,74% respectively. The different kamaboko and time of storage showed significantly different (p<0,05) to hedonic value. The treated kamaboko and untreated kamaboko were accepted by panelist on the appearance, flavour, and taste during 0, 7th, 14th days of storage. However only texture was accepted by panelist at 0 and 7th days of storage.
KARAKTERISTIK LEM DARI TULANG IKAN DENGAN HABITAT YANG BERBEDA (PAYAU, TAWAR, LAUT) Rohmah, Dinar Yuliati Nur; Darmanto, YS; Amalia, Ulfah
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.106 KB)

Abstract

Limbah tulang ikan dalam industri perikanan saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan limbah sisa olahan ikan tersebut perlu dikembangkan sehingga tidak menjadi sumber pencemaran lingkungan. Salah satu inovasi pemanfaatan limbah tulang ikan yaitu dapat dijadikan lem ikan. Lem ikan adalah bahan perekat yang berasal dari bagian ikan seperti kulit atau tulang, dan merupakan hasil ekstraksi kolagen dengan menggunakan pelarut bersifat asam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis tulang ikan yang digunakan terhadap karakteristik dan mutu lem ikan yang dihasilkan.  Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tulang ikan bandeng, nila dan manyung yang masing-masing didapatkan dari sentra pengolahan Bandeng Semarang Indah, PT Aquafarm Nusantara Semarang, dan sentra pengasapan Bandarharjo. Pada penelitian ini tulang ikan diekstraksi menggunakan larutan asam asetat 5% selama 4 jam dengan suhu 65 – 70°C. Parameter pengujian dalam penelitian ini adalah keteguhan rekat, kerusakan kayu, viskositas, derajat keasaman (pH), dan kadar air. Penelitian ini dilakukan dengan metode percobaan laboratoris menggunakan rancangan dasar acak lengkap dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tulang ikan manyung sebagai bahan baku pembuatan lem ikan merupakan perlakuan terbaik karena karakteristik lem ikan yang dihasilkan memenuhi SNI 06-6049-1999 tentang Polivinil Asetat untuk Pengerjaan Kayu dengan hasil: kerusakan kayu 68.13%, viskositas 6.14 poise, pH 4.45, dan kadar air 54.84%. Nowadays, fishbone waste in fisheries industries are not yet used optimally. Waste utilization from fish processing need to be developed so that it won’t become environmental contamination. An innovation to utilize fishbone waste is to make it to be fish glue. Fish glue is an adhesive from parts of fish such as skin and fishbone and is the result from collagen extraction process by using acidic solvent. The main purpose of this research is to find out the effect of different types of fishbone toward the fish glue’s characteristic and quality. The used materials in this research are milkfish bones, tilapia bones, and seawater catfish bones which obtained from Semarang Indah Milkfish processing center, PT Aquafarm Nusantara Semarang, and Bandarharjo smoked fish center. In this research fishbones were extracted using acetic acid 5% for 4 hours in 65 – 70°C. The testing parameters in this research are bonding strength, timber damage, viscosity, pH, and water content. This research was conducted with a laboratory experiment using a completely basic randomized design with three replications. The result of this research showed that by using seawater catfish bones as the glue’s raw material, it shows the best result and the characteristic meet Indonesia’s National Standart (SNI) 06-6049-1999 about Polivinyl Acetat for Wood Processing which are: timber damage 68.13%, viscosity 6.14 poise, pH 4.45, and water content 54.84%.
PENGARUH PENGGUNAAN GAMBIR (Uncaria gambier) SEBAGAI BAHAN PENYAMAK PADA PROSES PENYAMAKAN KULIT TERHADAP KUALITAS FISIK KULIT IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Setiawan, Agus; Riyadi, Putut Har; Sumardianto, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.963 KB)

Abstract

Tanning atau Penyamakan merupakan salah satu tahapan dari proses penyamakan dimana tanning bertujuan untuk menghentikan laju pembusukan kulit dengan memantapkan protein oleh agensia penyamak pada tempat yang reaktif, salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan penyamak nabati adalah gambir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan tannin gambir terhadap kualitas fisik dari kulit ikan nila samak. Parameter pengujian adalah suhu kerut, kemuluran, kekuatan sobek, kekuatan tarik dan kadar kelemasan. Penelitian menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan bertambahnya konsentrasi bahan penyamak belum tentu akan menghasilkan kulit samak yang terbaik pula. Nilai terbaik terdapat pada konsentrasi 15%, karena semua nilai rata-ratanya pada pengujian lain paling mendekati nilai yang terbaik yaitu penelitian pendahuluan dengan nilai kekuatan tarik 2054,82 N/cm2, nilai kemuluran 79,14% dan nilai suhu kerut 102,67 0C. Penelitian utama dengan nilai kekuatan tarik 1963,80 N/cm2, nilai kemuluran 77,22 %, nilai suhu kerut 104,00 0C, nilai kekuatan sobek 300,22 N/cm2 dan nilai kelemasan 4,41 mm. Tanning is a process which aims to stop the rate of decay of skin to stabilize proteins by agnesia tanner in reactive place. One of the materials that can be used as a vegetable tanning material is gambier. The purpose of this study was to determine the influence of using tannin of gambier for the physical quality of tilapia that have been tanned. The parameter tests are the value of : shrinkage temperature, elongation, tearing strength, tensile strength and softness test. The study war used experimental Completely Randomized Design (CRD) with three times treatmentss. Data were analyzed by variance analysis (ANOVA). To determine the differences between the treatment of tested data with Honestly Significant Difference (HSD). The results showed that with increasing concentration of tanners will not necessarily produce the best leather anyway. The best values are at a concentration of 15%, because of all the average value in other testing closest best value that preliminary treatment with values of tensile strength 2054,82 N/cm2, elongation value of 79,14% and shrinkage temperature value 102,67 0C. The main treatment with the value of tensile strength 1963,80 N/cm2, elongation value 77,22%, shrinkage temperature value of 104,00 0C, tearing strength value of 300,22 N/cm2 and softness value of 4,41 mm.

Page 2 of 2 | Total Record : 14