cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014" : 25 Documents clear
STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON UNTUK MENGEVALUASI TINGKAT PENCEMARAN DALAM RANGKA PENGELOLAAN SUNGAI KALIGARANG SEMARANG Utami, Dian Ayu Sapta Nur; Afiati, Norma; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Kaligarang merupakan salah satu sungai terbesar di Kota Semarang yang berperan penting bagi masyarakat sekitarnya, karena menyediakan bahan baku air bersih dan di sisi lain juga dianggap sebagai tempat pembuangan sampah bagi masyarakat di sekitarnya, yang berdampak pada pencemaran perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan status mutu air berdasarkan tiga pendekatan, yaitu menggunakan struktur komunitas fitoplankton untuk menghitung kelimpahan fitoplankton, jumlah genera, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi; melalui perhitungan SI dan TSI; dan menggunakan Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001.Penelitian yang dilaksanakan bulan Desember 2013 ini menggunakan metode studi kasus yang bersifat deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga stasiun dimana setiap stasiun terdiri dari tiga titik. Pengambilan sampel fitoplankton menggunakan plankton net, kemudian diawetkan menggunakan Lugol iodine dan diidentifikasi di laboratorium. Analisis data yang dilakukan yaitu membandingkan data yang diperoleh dengan baku mutu perairan yang disyaratkan oleh pemerintah, kemudian data yang diperoleh diolah dengan metode Storet serta menentukan tingkat pencemaran air melalui perhitungan SI dan TSI.Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas fitoplankton yang diperoleh adalah kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Florideophyceae, Euglenophyceae, Charophyceae dan Synurophyceae. Komunitas fitoplankton yang mempunyai kelimpahan tinggi adalah Nitzschia. Kelimpahan fitoplankton yang didapatkan tergolong sedang (mesotroph). Parameter kualitas air sesuai dengan baku mutu yang disyaratkan oleh pemerintah, kecuali kandungan fosfat yang melebihi persyaratan yang telah ditentukan. Berdasarkan perhitungan SI, TSI dan metode Storet menunjukkan skor -8 yang mempunyai arti Sungai Kaligarang termasuk kelas B dengan mutu air baik tetapi tercemar ringan.  Kaligarang is one of the largest river in Semarang City. The river has an important role for the surrounding community, as it provides raw materials for clean water and also regarded as a waste basket for communities around the river. The purpose of this study was to determine pollution level in the river by means of three approaches i.e. phytoplankton community, Saprobic Index (SI) and Tropical Saprobic Index (TSI), as well as water quality standard of the Minister of Environment Decree No. 115, 2003 pursuant to rule the Government of the Republic of Indonesia No. 82, 2001. This study was conducted in December 2013 by using a descriptive method. Sampling was conducted at three stations, where each station consists of three points. Phytoplankton sampled passively by sieving 100 liter waters into the net bucket, preserved in Lugol iodine and identified in the laboratory. Phytoplankton data were analysed  for their indices of community structure and Saprobic indices, whereas the routine physical and chemical data were analysed by means of Storet methods according to the Minister of Environment Decree No. 115, 2003.The results showed that phytoplankton community consist of 7 classes, i. e. Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Florideophyceae, Euglenophyceae, Charophyceae and Synurophyceae. As a summary of the findings, Kaligarang river is lightly polluted. This has been withdrawn from the result of the study, i. e. planktonic diversity and dominance indices ranging from --- to --- and --- to --- consecutively, Saprobic and Tropic Saprobic Indices ranging from --- to --- and --- to ---, whereas Storet calculations gave a scor -8, means this B category river is still in good water quality but lightly polluted.
PERSEPSI DAN PARTISIPASI NELAYAN DALAM PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH UJUNGNEGORO-ROBAN KABUPATEN BATANG Adhian, -; Suprapto, Djoko; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.95 KB)

Abstract

Pantai Utara Jawa Tengah khususnya kawasan pesisir Kabupaten Batang memiliki potensi sumberdaya perairan yang cukup tinggi dan dimanfaatkan manusia secara berlebihan. Pemanfaatan yang berlebihan menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan sehingga perlu adanya upaya konservasi untuk mengurangi kerusakan yang ditimbulkan. Sejak tahun 2005, Kabupaten Batang mengalokasikan sebagian wilayahnya yaitu kawasan pantai Ujungnegoro-Roban sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD), suatu kawasan konservasi di wilayah perairan laut yang dikembangkan oleh pemerintah daerah. Penetapan kawasan konservasi tersebut berdasarkan pada kriteria ekologi, sosial budaya, dan ekonomi sehingga diharapkan pemilihan lokasi konservasi sesuai dengan tujuan konservasinya dengan memperhatikan kondisi ekologis dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Tujuan Penelitian menganalisis persepsi dan partisipasi masyarakat nelayan dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Ujungnegoro, Kabupaten Batang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bersifat studi kasus. Data primer dikumpulkan yaitu melalui kuisioner ataupun hasil wawancara langsung terhadap 102 responden. Data sekunder dikumpulkan dari monografi desa lokasi penelitian berupa keadaan wilayah, kependudukan dan instansi/lembaga  terkait ini. Data primer dan data sekunder yang dikumpulkan berdasarkan variable persepsi masyarakat nelayan dan variable partisipasi masyarakat nelayan, instansi terkait, dan pengamatan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat nelayan mempunyai tingkat persepsi sedang (61,84%) mengenai kondisi terumbu karang dan mangrove, keberadaan KKLD yang perlu dipertahankan, manfaat KKLD, aturan KKLD dan sanksi KKLD. Tingkat partisipasi adalah sedang (61,07%) untuk kegiatan penanaman mangrove dan konservasi terumbu karang, walaupun untuk kegiatan pengawasan KKLD dan partisipasi dalam musyawarah Pokwasmas masih kurang.  North coast of Central Java, especially the coastal area of Batang Regency has very high aquatic resources potential and has been widely exploited caused environmental degradation’s. Therefore, there should be a conservation efforts to reduce the damages. Since 2005, the Batang Regency allocate territories in the Ujungnegoro coastal areas as District Marine Conservation Area (DMCA). District Marine Conservation Area (DMCA) a conservation area in the territorial which are developed by local governments. Determination of the conservation area is based on the criteria of ecological, socio-cultural, and economic criterias so the selection of conservation sites is compatible to the conservation purposes by taking into account the ecological conditions and the needs of surrounding communities. The purpose of the research are to analise perception and participation of fishing communities in management of the Ujungnegoro-Roban Marine Conservation Area. Research methods used in this research is descriptive methods as a case study. Primary data collected through interviews or questionnaire to 102 respondents. Secondary Data collected from the village monograph include the territory Status, population and related /institutions of this research. Primary Data and secondary data collected based on perceptions and participation of fishing communities variables, relevant agencies, and observations in the field. The research shows that fisher community have perception on average level (61,84%). about condition of coral reefs mangrove, benefits, regulation and conservation of DMCA. Participation level is on average (61,07%) for activities on mangrove plantation, coral reefs conservation, although surveillance of the DMCA and participation on community group discussion for surveillance discussion are low.
PENGARUH VARIASI JENIS MAKANAN TERHADAP IKAN KARANG NEMO (Amphiprion ocellaris Cuvier, 1830) DITINJAU DARI PERUBAHAN WARNA, PERTUMBUHAN DAN TINGKAT KELULUSHIDUPAN Sari, Okta Viana; Hendrarto, Boedi; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.939 KB)

Abstract

 Salah satu cara untuk  mencegah ikan nemo (Amphiprion ocellaris) dari kepunahan  adalah melakukan pelestarian jenis dengan menjaga kesehatan ikan yang dapat dilihat dari warna, pertumbuhan dan tingkat kelulushidupannya. Makanan merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui warna, pertumbuhan, dan tingkat kelulushidupan ikan nemo (A. ocellaris) yang diberikan jenis makanan yang berbeda. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah pemberian jenis makanan yang berbeda yaitu perlakuan A, B dan C berupa pemberian makanan pelet dan udang rebon, pelet dan cacing darah, serta pelet dan nauplius Artemia dengan metode pemberian makanan secara ad libitum (sampai kenyang). Ikan yang digunakan adalah benih dengan ukuran ± 3 cm dan rata – rata bobot awal 0,59 yang berasal dari kegiatan pembenihan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung yang dipelihara dalam 9 stoples berisi 3L air laut selama 28 hari. Warna ikan nemo dinilai dengan menerapkan modifikasi Adobe Photoshop dengan menggunakan metode Hue. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jenis makanan yang berbeda berpengaruh signifikan (Menggunakan T-tset, P=0,3) terhadap kecerahan warna ikan nemo (A. ocellaris). Pemberian jenis makanan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kelulushidupan ikan nemo namun memberikan pengaruh yang kurang signifikan terhadap pertambahan berat dan panjang totalnya. Pertumbuhan terbaik terjadi pada perlakuan C dengan nilai b tertinggi yaitu sebesar 1,5646. Kualitas air selama penelitian yaitu salinitas 32-33‰; suhu 26-280C; DO 3,74–6,4 mg/l; pH 7,73–8,03; NO2-N 0,002–0,727 mg/l; NH3-N 0,022–1,598 mg/l.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa makanan terbaik untuk warna, pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan ikan nemo (A. ocellaris) adalah makanan pelet dan nauplius Artemia. One way to prevent clownfish (Amphiprion ocellaris) from extinction is by preserve this species by keeping their health that can be seen from brightness colors, growth and survival rate. Food is one of important factor in life of the fish. The  research was aimed to know colors,  growth, and survival rate of clownfish (A. ocellaris) which  given a different kind of food. The method that used in this reaserch was a random complete design (RAL) with 3 treatments and 3 replicates. Different kind of food applied in the treatment were A, B and C or pellet and brine shrimp, pellet and blood worms, and pellet and nauplius of, respectively. Fish were feed ad libitum (until full). The fish size was  ± 3 cm with average body weigth was 0.59 from the hatchery in Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung.  Fishes were kept in 9 containers filled with 3 l seawater and the fish was reared for 28 days. The color of clownfish was assessed by applying modificated of Adobe Photoshop using hue method. Results showed that by giving a different kind of  foods affected significantly (by using t-test, p=0,3) to color of clownfish. Different kind of food also affected significantly to survival rate but different kind of food did not affect significantly on the increase of weight and total length of clownfish (A. ocellaris). The best growth occurred at treatment C with the highest level of b that was 1,5646.  Water qualities during the research that was salinity 32 - 33‰; temperature 26 - 280C; DO 3,74 - 6,4 mg/l; pH 7,73 - 8,03; NO2-N 0,002 - 0,727 mg/l; NH3-N 0,022 - 1,598 mg/l. It can be concluded the best food to enlighten colors, growth and survival rate of clownfish (A. ocellaris) was pellet and naupliusof  Artemia.
KANDUNGAN NITROGEN TOTAL DAN FOSFAT SEDIMEN MANGROVE PADA UMUR YANG BERBEDA DI LINGKUNGAN PERTAMBAKAN MANGUNHARJO, SEMARANG Chrisyariati, Ika; Hendrarto, Boedi; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.14 KB)

Abstract

Daerah mangrove merupakan daerah dengan produktivitas primer yang tinggi. Produktivitas primer sangat mempengaruhi pertumbuhan mangrove. Salah satu indikator pertumbuhan mangrove dipengaruhi oleh sedimen tempat hidupnya yang banyak mengandung makro dan mikronutrien, oksigen, serta air tawar untuk menjaga keseimbangan kadar garam dalam fisiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan Nitrogen Total dan Fosfat dalam sedimen mangrove dan hubungannya terhadap umur mangrove. Sampel diambil dari tiga stasiun yang memiliki umur mangrove berbeda dengan tujuh titik replikasi. Kedalaman pengambilan sampel adalah 30 cm. Pada masing-masing titik diambil sampel tanah untuk analisa tekstur dan analisa kandungan bahan organik. Pengukuran tinggi pohon dilakukan di setiap titik yang diasumsikan sebagai umur mangrove. Analisa data menggunakan uji regresi linear dan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang nyata antara Nitrogen Total dengan tinggi pohon (regresi linear P = 0,025 < P 0,05). Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang nyata antara Fosfat dengan tinggi pohon (regresi linear P = 0,524 > P 0,05). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti iklim, suhu, pH, dan jenis sedimen yang terdapat pada lokasi penelitian. Mangrove was an area with high primary productivity. The primary productivity greatly affects mangrove growth.One of the indicator mangrove growths was sediments by its place that contains macro and micronutrients, oxygen and fresh water to maintain salinity balanced in the physical. The purpose of this study was to determine the content of total nitrogen and phosphate in sediments of mangrove and mangrove relation to age and the results of this study were expected to provide an overview and information about the nutrient content in the form of Total Nitrogen and Phosphate in sediment of Mangunharjo village, Semarang. Samples were taken from three mangrove stations which have a different age with a seven point replication. Samples were collected from three stations of different ages of mangrove with seven replication points. The depth of sampling was 30 cm. At each of these points, soils were sampled for texture analysis and analysis of Total Nitrogen and Phosphate contents. Measurementstree height was applied at each point of different age of the mangrove. Analysis of the data used linear regression and correlation tests. The results showed that there was a significant relationship between Total Nitrogen with height of trees (linear regression P = 0,025 < P 0,05). Otherwise, there was no significant relationship between the phosphates with high of trees (linear regression P = 0,524 > P 0,05). It may be caused by other factors such as climate, temperature, pH, and type of sediment found in the study sites. 
KANDUNGAN TOTAL PADATAN TERSUSPENSI, BIOCHEMICAL OXYGEN DEMAND DAN CHEMICAL OXYGEN DEMAND SERTA INDEKS PENCEMARAN SUNGAI KLAMPISAN DI KAWASAN INDUSTRI CANDI, SEMARANG Andara, Diani Riezki; Haeruddin, -; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.855 KB)

Abstract

Sungai seringkali dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan akhir dari limbah hasil kegiatan manusia, yang dapat menambah beban pencemaran. Masukan bahan-bahan dari luar baik yang berguna bagi peningkatan kondisi perairan juga memberi dampak pada penurunan kualitas perairan bila badan sungai dimasuki oleh bahan-bahan tersebut dalam konsentrasi yang berlebih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan Total Padatan Tersuspensi (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD) serta menentukan nilai Indeks Pencemaran (IP) dari Sungai Klampisan yang terletak di Kawasan Industri Candi, Ngaliyan, Semarang. Penentuan lokasi pengambilan sampel (data primer) dengan cara melakukan observasi di sekitar aliran Sungai Klampisan yang bertujuan untuk mencari lokasi sebagai obyek pengambilan sampel parameter kualitas air. Pengambilan sampel pada Sungai Klampisan dilakukan pada tiga stasiun pengamatan. Stasiun pertama berada pada bagian upper stream sungai yang alirannya terletak sebelum sumber pencemar, stasiun kedua berada pada bagian mid stream sungai yang alirannya terletak dekat dengan sumber pencemar, stasiun ketiga berada pada bagian lower stream sungai yang alirannya terletak setelah sumber tercemar. Pengambilan air sampel dilakukan pada dua titik yang memiliki jarak yang sama pada lebar penampang sungai di setiap stasiun dengan dua kali pengulangan. Kandungan TSS paling tinggi terdapat pada bulan Februari 2014 di stasiun tiga yaitu 45 mg/l sementara kandungan BOD paling tinggi terdapat pada bulan Februari 2014 di stasiun satu yaitu 20,69 mg/l dan distribusi kandungan COD paling tinggi terdapat pada bulan Januari 2014 di stasiun satu yaitu 73,5 mg/l. Sungai Klampisan termasuk dalam kriteria tercemar ringan dengan nilai Pij berkisar antara 1,0 < Pij ≤  5,0. Rivers are often used as landfill waste from human activities , which can add to the pollution load. Supply of materials from outside which is useful for the improvement of water conditions also have an impact on river quality degradation when penetrated by these materials in excess concentrations. The purpose of this study were to determine the content of Total Suspended Solids (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD) and Chemical Oxygen Demand (COD) and determine the value of Pollution Index (PI) in Candi Industrial Area, Klampisan River, Ngaliyan, Semarang. This research held on January to February 2014. Determination of sampling sites (primary data) by means of observation around Klampisan river flow which aims to find the object of location sampling for water quality parameters. Sampling was carried out on the River Klampisan at three observation stations. The first station is located at the upper stream of the river flow which is located before the sources of pollution, second station is in the mid section of the river stream flow which is located close to pollution sources, the third station is located on the lower part of the river stream whichis polluted sources. Water samples was collected on two points that have the same distance to the cross section width of the river at each station with two replications. The highest TSS content is 45mg/l in February 2014 at third station, the highest BOD content is 20.69 mg/l in February 2014 at the first station and the highest COD content is 73.5 mg/l in January 2014 at the first station. River Klampisan is included in criteria of lightly polluted with Pij values ranging between 1.0 <Pij ≤ 5.0.
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN TERI (Stolephorus devisi) YANG TERTANGKAP PAYANG DI PERAIRAN KABUPATEN PEMALANG Dewanti, Rizky Oktarina Nur; Ghofar, Abdul; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.985 KB)

Abstract

Kabupaten Pemalang merupakan daerah yang terletak di Pantai Utara Jawa  yang memiliki luas wilayah 11.530 km2 dengan luas perairan laut seluas 259,28 km2. Ikan Teri umumnya dieksploitasi dengan menggunakan alat tangkap payang. Payang yang digunakan, memiliki ukuran mata jaring yang relatif kecil. Aspek biologi ikan Teri perlu dikaji untuk dikaitkan dengan perikanan yang bertangung jawab. Ukuran hasil tangkapan dapat menunjukkan sejauh mana tingkat pemanfaatan sumberdaya dan dapat dijadikan sebagai bahan kajian untuk pengelolaan apa yang dapat dilakukan di daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur ukuran, pola pertumbuhan, aspek reproduksi serta konsep pengelolaan ikan Teri di perairan Pemalang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, dengan teknik pengambilan sampel secara acak. Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari Ikan Teri hasil tangkapan payang. Sampel diambil sebanyak 1 kg dari total tangkapan satu alat tangkap payang. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 4 kali. Data sekunder yang dikumpulkan berupa jumlah produksi ikan Teri yang tertangkap payang selama tahun 2008-2013 yang di peroleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pemalang. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013-April 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan Teri (S. devisi) memiliki nilai b sebesar 3,125, ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan Teri bersifat alometrik positif dengan nilai faktor kondisi 1,09. Ukuran ikan pertama kali tertangkap adalah (Lc50%) 57,24mm. Ikan Teri yang telah matang gonad sebanyak 37%. Ukuran ikan Teri pertama kali matang gonad (Lm50%) adalah 60,67 mm. Pemalang is located on the North coast of Java, which has an area of 11.530 km2 with an area of sea waters covering area of 259,28 km2. Anchovy generally exploited by seine net were using small mesh sizes. Biological Aspects of anchovies need to examined and associated with the responsible fisheries. The measure catch shows the utilization of the resource as a review for management what can be used in the area. This research aimed to know the structure, the pattern of growth, reproductive aspects and the concept of management of anchovy in the waters of Pemalang. Survey method with random sampling was used in the research. The type of data use was primary data and secondary data. Primary data obtained from anchovy caught by seine net. Samples taken as much as 1 kg of the total catch one grap seine net which performed 4 times with one month interval for each sample collection. The secondary data used in this research taken from the total production of catch during 2008 to 2013 from Department of Marine and Fisheries in Pemalang. The research started from November 2013 until April 2014. The results shows that b value of the growth of anchovy (S. devisi) was 3,125, which mean that growth of anchovy (S. devisi) was allometric positive and condition factor value was 1,09. Size first fish caught (Lc50%)  was 57,24mm. Anchovy ripe gonads was 37%. Length at first maturity (Lm50%) is 60,67mm.
Mangrove Carbon Biomass at Kemujan Island, Karimunjawa Nasional Park Indonesia Cahyaningrum, Siska Tri; Hartoko, Agus; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.682 KB)

Abstract

Akumulasi dari gas-gas rumah kaca dapat menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut adalah meningkatkan peran hutan sebagai penyerap karbon melalui sistem pengelolaan yang baik. Ekosistem di kawasan pesisir yang memiliki fungsi ekologi sebagai penyerap karbon adalah hutan mangrove. Fungsi ekologi tersebut menjadikan hutan mangrove dapat menyimpan karbon dalam jumlah besar baik pada vegetasi (biomassa) maupun bahan organik lain yang terdapat di hutan. Tujuan dari penelitian ini untuk menghitung biomassa karbon vegetasi mangrove diatas permukaan melalui persamaan alometrik, dan membangun pemodelan algoritma kandungan karbon jenis mangrove pada kawasan berdasarkan teknologi pengindraan jauh menggunakan citra satelit Quickbird. Penelitian menggunakan metode survey lapangan dengan eksploratif, dan pengambilan sampel di kawasan mangrove secara purposive sampling. Pengukuran biomassa tersimpan diatas permukaan dilakukan dengan tidak merusak vegetasi (non destructive sampling) melalui pengukuran diameter batang (DBH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 21 spesies mangrove ditemukan di kawasan mangrove Pulau Kemujan. Total biomassa atas permukaan (batang, cabang, daun) adalah 182.4 ton (setara 91.2 ton C), dengan simpanan karbon terbesar pada bagian batang. Berdasarkan hasil regresi polynomial untuk pemodelan kandungan karbon tiap jenis, didapatkan hasil pemodelan untuk Ceriops tagal dengan algoritma y = -0.003(B2/B3)2 + 0.267(B2/B3) – 3.452; Rhizophora apiculata dengan algoritma y = 0.001(B2/B3)2 – 0.116(B2/B3)2 + 3.415; Bruguiera cylindrica dengan algoritma y = -0.003(B2/B3)2 + 0.336(B2/B3) – 7.265; Xylocarpus granatum dengan algoritma y = 0.000(B2/B3)2 – 0.058(B2/B3) + 2.101; Rhizophora mucronata dengan algoritma y = 0.000(B2/B3)2 – 0.022(B2/B3) +1.941. The accumulation of greenhouse gases cause climate change. One of the effort to decrease accumulation gas is increasing the role of forests as carbon sinks through good management system. Ecosystems in coastal areas that have ecological function as a carbon sink is a mangrove forest. The ecological functions of mangrove forests can save carbon in large numbers both on the vegetation (biomass) and other organic materials which found in the forest. The purpose of this research to calculate the carbon biomass of mangrove vegetation on the surface through allometric equations, and to build modeling algorithms the carbon content of mangrove species in the region based on remote sensing technology using Quickbird satellite imagery. The research used an exploratory field survey and purposive sampling method in mangrove area. Measurements was performed on the surface of stored biomass without damaging vegetation (non-destructive sampling) through the measurement of trunk diameter (DBH). The results showed that there are 21 mangrove species found in mangrove areas Kemujan Island. Total biomass on the surface (trunk, branches, leaves) is 182.4 ton (91.2 tons C), with the largest carbon storage in the trunk. Based  on the results of polynomial regression for modeling the carbon content of each spesies, the results of modeling algorithm for Ceriops tagal with y = -0.003(B2/B3)2+ 0.267(B2/B3) – 3.452; Rhizophora apiculata with the algorithm y = 0.001(B2/B3 )2 - 0.116 (B2/B3) + 3.415; Bruguiera cylindrica with the algorithm y = -0.003(B2/B3)2 + 0.336(B2/B3) – 7.265; Xylocarpus granatum with algorithm y = 0.000(B2/B3)2 - 0.058(B2/B3) + 2.101; Rhizophora mucronata with the algorithm y = 0.000(B2/B3)2 - 0.022(B2/B3) +1.941.
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN SWANGGI (Priacanthus tayenus) BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN YANG DIDARATKAN DI PPP MORODEMAK Anindhita, Galuh Kirana; Saputra, Suradi Wijaya; Ghofar, Abdul
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.533 KB)

Abstract

Ikan Swanggi merupakan salah satu jenis ikan yang ditangkap dengan alat tangkap Cantrang di PPP Morodemak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui struktur ukuran, nilai modus, ukuran pertama kali tertangkap (Lc50%), pola pertumbuhan, aspek reproduksi, serta strategi pengelolaan yang baik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – April 2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pengambilan sampel menggunakan metode sistematik random sampling. Data yang digunakan adalah data primer. Hasil tangkapan ikan Swanggi diambil 10% dari total hasil tangkapan dari 4 kapal selama 4 kali pengambilan sampel. Pengambilan sampel dilakukan selama 2 bulan dengan intensitas 2 minggu sekali. Kisaran panjang ikan yang tertangkap selama penilitian berkisar dari 123 – 305 mm dan berat berkisar dari 25,3 – 201,2 gram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan dengan kisaran panjang 174 – 190 mm paling banyak tertangkap dengan modus 358 ekor. Ukuran pertama kali tertangkap adalah 182 mm. Pertumbuhan ikan Swanggi bersifat allometrik negatif.Faktor kondisi sebesar 1,015. Ikan Swanggi jantan maupun betina sebagian besar belum matang gonad yaitu sebesar 63% dan 59%. Nilai IKG terendah pada ikan Swanggi jantan sebesar 0,05% dan nilai IKG tertinggi sebesar 3,02%, sedangkan nilai IKG terendah pada ikan Swanggi betina sebesar 0,13% dan nilai IKG tertinggi sebesar 7,73%. Ukuran pertama kali matang gonad adalah 184 mm. Fekunditas terendah sebesar 127928 butir dengan panjang tubuh 173 mm dan berat tubuh 69,5 gram, sedangkan fekunditas tertinggi sebesar 227571 butir dengan panjang tubuh 211 mm dan berat tubuh 132,4 gram. Hubungan fekunditas dengan panjang memiliki keeratan yang cukup kuat dan hubungan fekunditas dengan berat memiliki keeratan yang kuat. Hubungan fekunditas dengan berat lebih kuat dibandingkan hubungan fekunditas dengan panjang. Strategi pengelolaan yang dapat dilakukan adalah mempertahankan mesh size jaring Cantrang yang sekarang digunakan dan cara pengoperasiannya. Red Bigeye fish is one type of fish caught by fishing gear Cantrang in PPP Morodemak. The research was intended to determine the structure size, the value of the mode, the first caught size (Lc50%), the patterns of growth, the reproduction aspect, as well as good management strategy. The research was done in March – April 2014. The method used was surveying and sample was collected using systematic random sampling method. The data used was primary data. The catch of red bigeye fish was taken 10% from the total catch from 4 boats in 4 sampling. The sample was collected in 2 months, once in every 2 weeks. Length range of fish caught during penilitian ranged from 123 - 305 mm and weight ranged from 25,3 – 201,2 grams. The result has shown that fish as long as 174 – 190 mm are the most caught fish with the mode as much as 358 fish. The size of the first caught fish was 182 mm. Red bigeye fish growth is negatively allometric. The condition of the gonad of 1,015 of male and female red bigeye fish are mostly immature, as much as 63% and 59%. The lowest IKG of male red bigeye fish was 0,13% and the highest IKG was 7,73%. The size when the gonad is mature for the first time was 184. The lowest fecundity was 127.928 items with body length of 173 mm and body weight of 69,5 grams, while the highest fecundity was 227.571 items with a body length of 211 mm and a body weight of 132,4 grams. The relationship of fecundity to length was moderate and the relationship of fecundity to weight is strong. The relationship of fecundity to weight was stronger than the relationship of fecundity to length. The strategy that can be done would be maintaining the mesh size of the Cantrang nets that is currently used and the operation procedure of using the net. 
ANALISIS LAJU SEDIMENTASI DI DAERAH PADANG LAMUN DENGAN TINGKAT KERAPATAN BERBEDA DI PULAU PANJANG, JEPARA Hidayat, Moh; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.259 KB)

Abstract

Pulau Panjang merupakan salah satu wilayah di perairan Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragamanan ekosistem perairan, antara lain adalah ekosistem lamun yang merupakan habitat bagi biota-biota perairan. Secara ekologi, padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir yang salah satunya berfungsi untuk menstabilkan dasar-dasar lunak dimana kebanyakan spesies tumbuh, terutama dengan sistem akar yang padat dan saling menyilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju sedimentasi di daerah padang lamun dengan tingkat kerapatan berbeda dan mengetahui hubungan antara kerapatan  lamun dengan laju sedimentasi di Pulau Panjang. Metoda penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan pencarian fakta di interpretasikan dengan  tepat. Metode sampling dengan metode transek, sebaran lamun ditentukan 3 stasiun yaitu jarang, sedang, padat dan luasan yang sama (10 m x 10 m). Kuadran transect berukuran 1 m x 1 m digunakan untuk menghitung tegakan lamun dalam setiap meter persegi. Hasil penelitian menunjukkan 5 spesies lamun pada ketiga stasiun yaitu jenis Thalassia sp (65,292%), Cymodocea sp (18,539%), Enhallus sp (6,099%), Halodule sp (4,557%) dan Syringodium sp (5,512%). Laju sedimentasi di stasiun lamun jarang lebih besar dibanding pada stasiun lamun sedang dan padat. Laju sedimentasi sangat dipengaruhi oleh parameter kualitas air terutama kecepatan arus dan kedalaman. Hasil analisa uji Korelasi  Pearson sebesar menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara Laju sedimentasi pada kerapatan lamun yang berbeda di pulau Panjang Jepara.   Panjang island is one of the waters area in Jepara that have various aquatic ecosystems, such as seagrass which is habitat for aquatic biota. Ecologycally, seagrass has several important functions in the coastal areas, one of which serves to stabilize the soft bottom where more species grow, especially with it’s dense root system and crossing each other. The research aims to determine sedimentation rate in different seagrass density and to determine relation of seagrass density to sedimentation rate at the Panjang island. The research method used descriptive in whitc fact finding be interpreted correctly. Mapping os seagrass distribution method was done to classified 3 stations of namely ‘lisht’, ‘medium’, ‘dense’ in a same area (10m x 10m). 1m x 1m cuadrant transect was used to count the seagrass stands at each square meter. The result showed there are 5 species of seagrass in the third station ie Thalassia sp (65,292%), Cymodocea sp (18,539%), Enhallus sp (6,099%), Halodule sp (4,557%) dan Syringodium sp (5,512%). the sedimentation rate at the ‘lisht’ station of seagrass bed is bigger compared to the ‘medium’ and ‘dense’ stations. The sedimentation rate is strongly influenced by the water quality parameter,especially current and depth. The results of Pearson correlation analysis test shown a significant difference between the sedimentation rate at different seagrass density in the Panjang island of Jepara.
ANALISIS KELIMPAHAN JUVENIL UDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE PERANGKAP AGAR-AGAR DAN PEMBERIAN PAKAN UDANG DI PERAIRAN MOROSARI, DEMAK Putri, Nurul Fhitriany; Nitisupadjo, Mustofa; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.981 KB)

Abstract

Udang merupakan salah satu komoditas penting dari sektor perikanan. Sebagai salah satu usaha yang menjanjikan, usaha penangkapan udang terus menerus dilakukan. Upaya penangkapan yang tak terkendali dan perusakan ekosistem menyebabkan menurunnya potensi kelimpahan udang. Wilayah perairan yang potensial terhadap kelimpahan udang perlu dilakukan kajian untuk dapat dikelola dan dipertahankan kelestariannya. Sebaran juvenil udang di beberapa perairan khususnya di Pantai Utara Jawa masih belum banyak diketahui sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui jenis juvenil udang yang tertangkap dengan metode perangkap agar-agar di perairan sungai dan muara Morosari, Demak, mengetahui adanya pengaruh perbedaan lokasi, pemberian pakan atau tanpa pakan dan perbedaan periode terhadap kelimpahan juvenil udang; dan mengetahui pola pertumbuhan juvenil udang yang tertangkap dengan metode perangkap agar-agar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental lapangan. Pengambilan sampel juvenil udang dilakukan dengan menggunakan perangkap  agar-agar pada dua lokasi yaitu perairan sungai dan muara yang terdiri dari tiga titik lokasi dalam periode I sampai periode IV dengan interval sampling seminggu sekali. Hasil penempelan juvenil udang pada perangkap agar-agar disimpan dan diberi formalin 5 % untuk diawetkan. Hasil yang diperoleh didapatkan jenis juvenil udang dari genus Macrobrachium dan Penaeus. Jumlah seluruh juvenil udang yang didapatkan di perairan sungai sebanyak 743 individu/m2 dan di perairan muara sebanyak 333 individu/m2. Jumlah juvenil udang yang tertangkap dengan agar-agar yang diberi pakan udang berjumlah seluruhnya 943 individu/m2 dan jumlah seluruh tangkapan juvenil udang tanpa pemberian pakan udang sejumlah 133 individu/m2. Jumlah juvenil udang pada periode I sampai periode IV didapatkan hasil tangkapan berturut-turut yaitu 111 individu/m2, 122 individu/m2, 410 individu/m2, dan 433 individu/m2. Pola pertumbuhan juvenil udang adalah allometrik negatif.  Shrimp is one of the important commodity of the fisheries sector. As one of the promising economic efforts, the catch of the shrimps is continue to be done. Efforts to capture the uncontrolled will lead to destruction of ecosystem and decrease abundance of shrimps. Potential waters for shrimp is necessary to study in order to manage and maintain its sustainability. Distribution of juvenile shrimp in some waters, especially in North Coats of Java is not well known so that more research needs to be done. The purpose of this research was to know the species of juvenile shrimp are caught with agar traps method in estuarine waters of Morosari, Demak, investigate the effect of differences location, feeding and period to abundance of juvenile shrimp, and determined the pattern of juvenile growth shrimp caught by agar traps method. The method used was an field experimental method. Sampling was performed using juvenile shrimp agar traps at two locations the waters of the river and estuary that consisted of three point location of the first period to period IV of weekly sampling. Juvenile shrimps were kept in 5% formaldehyde. The results obtained juvenile shrimps of the genus Macrobrachium and Penaeus. Total number of juvenile shrimp in the waters of the river was as much as 743 idividuals/m2 and in estuarine waters was as much as 333 individuals/ m2. The numbers of juvenile shrimp caught with agar shrimp fed entirely was 943 individuals/m2, and the total catch of juvenile shrimp without shrimp feeding was 133 individuals/m2. The number of juvenile shrimp in weekly period I to period IV obtained 111 individuals/m2, 122 individuals/m2, 410 individuals/m2 and 433 individuals/m2, respectively. Patterns of juvenile shrimp growth was allometric negative.

Page 2 of 3 | Total Record : 25