cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 34 Documents
Search results for , issue "Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014" : 34 Documents clear
Depurasi Bahan Organik pada Berbagai Ukuran Cangkang Kerang Anodonta woodiana di Balai Benih Ikan (BBI), Siwarak, Ungaran Purnomo, Dwi Banu; Haeruddin, -; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.041 KB)

Abstract

Kerang Anodonta woodiana termasuk jenis kerang air tawar yang mempunyai potensi ekologi dan ekonomi yang besar. Secara ekologis kerang air tawar (Kijing) mampu menjernihkan air, mampu menyaring padatan tersuspensi dari sisa-sisa pakan ikan budidaya dan alga, serta menurunkan BOD air. Depurasi adalah suatu proses penanganan pasca panen yang bertujuan untuk membersihkan kerang-kerangan dari bahan-bahan pencemar dan beracun dalam jaringan lunak dan cangkang kerang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah proses depurasi berpengaruh terhadap kandungan bahan organik dalam jaringan lunak kerang Anodonta woodiana. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-September 2013 di Balai Benih Ikan (BBI) Siwarak, Ungaran dengan metode eksperimental laboratories. Sampel kerang Anodonta woodiana diambil dari kolam budidaya ikan nila di Balai Benih Ikan (BBI), Siwarak. Proses penelitian meliputi pengambilan sampel kerang Anodonta woodiana, aklimatisasi, tahap I (perlakuan biokonsentrasi), dan tahap II (perlakuan depurasi). Tahap I dan tahap II dilakukan masing-masing selama 96 jam untuk memperoleh nilai laju depurasi. Data dianalisis menggunakan Anova. Selanjutnya dilakukan analisis polinomial orthogonal untuk perbandingan rata-rata perlakuan pada berbagai ukuran cangkang kerang. Laju depurasi pada berbagai ukuran cangkang kerang A.woodiana berkisar antara 0,052 – 0,123 %/jam. Laju depurasi tertinggi terjadi pada kerang berukuran sedang dan yang terendah terjadi pada kerang berukuran besar. Hal ini dapat disebabkan karena perbedaan kemampuan kerang dalam menyerap dan mengeliminasi kandungan bahan organik. Variasi ukuran cangkang kerang besar, sedang, dan kecil memberikan pengaruh yang nyata terhadap laju depurasi kerang air tawar (Anadonta woodiana). Anodonta woodiana shell is including type of freshwater mussels which great potential in ecological and economic. In Ecologically, freshwater mussels (gravestone) can be able to purify water, capable of filtering suspended solids from the remnants of feed farmed fish and algae, and also reduce of BOD water. Depurasi is a post-harvest handling process which aims to clean up shellfish from pollutants and toxic in the soft tissues and shells of shellfish. The purpose of this study was to determine the effect on the depuration process of  rate organic matter content in soft tissue Anodonta woodiana shells. This study was done in August-September 2013 in the Balai Benih Ikan (BBI) Siwarak, Ungaran with laboratories experimental methods. Anodonta woodiana shells taken from a pool of cultivation farming in Balai Benih Ikan (BBI) , Siwarak. The research process involves taking samples of Anodonta woodiana mussels, acclimatization, phase I (bioconcentration treatment), and phase II (depuration treatment). Phase I and Phase II each  performed for 96 hours to obtain the value of the rate depuration. Data were analyzed  using ANOVA. Next step is analysis of orthogonal polynomials to the average ratio in the treatment of many- sized clam shell. Rate depuration on the various sizes of Anodonta.woodiana shells ranging from 0.052 to 0.123 % / hour. The highest depuration occurs at the rate of medium-sized shells and the lowest occurred in large shells. It’s caused by differences in the ability of shellfish to absorb and eliminate organic matter content. Variations of shell size large, medium, and small significantly giving effect on the rate of freshwater mussels depuration (Anadonta woodiana).
KELIMPAHAN ECHINODERMATA PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN DI PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA Oktavianti, Reny; Suryanti, -; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.665 KB)

Abstract

Lamun (Seagrass) merupakan tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang hidup dan tumbuh di laut dangkal. Kelompok echinodermata dapat hidup menempati berbagai macam habitat seperti zona rataan terumbu, daerah pertumbuhan algae, padang lamun, koloni karang hidup dan karang mati dan beting karang (rubbles dan boulders). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kerapatan lamun, kelimpahan Echinodermata, dan hubungan antara kerapatan lamun dengan kelimpahan Echinodermata di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta. Metode pemetaan lamun untuk menentukan kerapatan lamun yang padat, sedang dan jarang dengan menarik line sepanjang 200 meter sejajar garis pantai dan 100 meter tegak lurus pantai dengan menggunakan kuadran transek berukuran 5 m × 5 m sedangkan kelimpahan Echinodermata dilakukan dengan metode kuadran transek berukuran 1 m × 1 m. Hasil penelitian menunjukkan kerapatan lamun di stasiun A 359 tegakan/m2, stasiun B 179 tegakan/m2, dan stasiun C 83 tegakan/m2. Kelimpahan Echinodermata pada stasiun A 10 ind/75m2, stasiun B 9 ind/75m2 dan stasiun C 21 ind/m2. Terdapatnya hubungan erat antara kerapatan lamun dengan kelimpahan Echinodermata di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta.  Seagrass is a flowering plant (Angiospermae) that live and grow in a shallow sea. The groups of echinoderms can live to occupy various habitats such as reef zone, algae growth area, seagrass beds, live dead coral colony, coral rubbles and boulders. The purpose of this study were to determine the density of seagrass, abudance of Echinoderms in the Panggang island, Kepulauan Seribu, Jakarta. Seagrass mapping method used to determine the density of seagrass (dense, average and sparse) by appealing a line along 200 meters parallel to the shoreline and 100 meters perpendicular to the coast using 5 m x 5 m transect quadrant, whereas echinoderms abundance counted using 1 m x 1 m transect quadrant. The results showed that density of seagrass at A station is 359 stands/m2, B station is 179 stands/m2, and C station is 83 stands/m2. Abundance of echinoderms at A station is 10 ind/75m2, B station is 9 ind/75m2  and C station is 21 ind/75m2. There is a close correlation between seagrass density with echinoderms abundance in the Panggang island, Seribu islands, Jakarta.
KELIMPAHAN DAN POLA PERSEBARAN SAND DOLLAR BERDASARKAN LOKASI KEGIATAN YANG BERBEDA DI PERAIRAN PULAU PRAMUKA KEPULAUAN SERIBU Masruroh, Nurul Hidayati; Suryanti, -; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.974 KB)

Abstract

Sand dollar termasuk dalam kelas Echinoidea dari filum Echinodermata yang memiliki bentuk tubuh irregular yaitu bentuk tubuh bilateral dan pipih atau oval tanpa lengan, duri-duri menutup tubuh. Habitatnya di dasar perairan yang berpasir atau daerah berlumpur. Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau  yang mempunyai daerah rataan pasir yang luas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi jenis, kelimpahan dan pola sebaran sand dollar yang terdapat pada lokasi kegiatan yang berbeda di perairan Pulau Pramuka Kepulauan Seribu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2014 di Pulau Pramuka Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi lapangan yang bersifat deskriptif, pengambilan data dilakukan pada 3 stasiun, yakni stasiun 1 (lokasi pemukiman), stasiun 2 (lokasi alami), stasiun 3 (lokasi pariwisata). Tekhnik pengambilan sampel dilakukan pada setiap stasiun dengan menggunakan line transek 50 meter dengan jarak antar tali 10 meter, pada tiap line transek dilakukan pengamatan dan pengambilan sand dollar menggunakan kuadran 1 x 1 meter. Hasil penelitian menunjukkan di pulau Pramuka terdapat 11 corak jenis sand dollar, dengan kelimpahan pada stasiun 1 sebanyak 537 individu, sedangkan  pada stasiun 2 sebanyak 601 individu, dan stasiun 3 sebanyak 195 individu. Kelimpahan relatifnya terbesar yang didapatkan di pulau Pramuka pada jenis Laganum depresum dan L.depresum tonganense sedangkan kelimpahan relatif  terkecil adalah L. fudsiyama africanum, L. retins, L. decagonale rectum, L. central dan L. decagonale. Pola sebarannya sebagian besar termasuk mengelompok (clumped). Sand dollar belong to class of Echinoidea from phylum Echinodermata that have an irregular body shape bilateral and flat or oval without arms,  covered by spines. Sand dollar habitat is in the sandy or muddy areas.  Pramuka island is one island that has a large area of sand flat. The purpose of this study were to determine species composition, abundance and distribution patterns of sand dollars found in the location with different activities in the Pramuka Island waters Kepulauan Seribu. This study was conducted in May-June 2014 at the Pramuka Island Kepulauan Seribu National Marine Park. The research method used a descriptive field observations, data collected at 3 station, in which stations 1 (Residential location), stations 2 (Natural location), stations 3 (tourism location).The sampling method is done by pulling the line transect 50 meters long at each station with distance of each rope 10 meter.  On each 1 meter the sand dollar was observed and collected using 1 x 1 m quadrant. The results showed that Pramuka Island has 11 types of sand dollar. With abundance at station 1 is 537 individual, station 2 is 601 individual, and station 3 is 195 individual. The Largest relative abundance found in the Pramuka Island are Laganum depresum and L. depresum tonganense whereas the smallest relative abundance are L. fudsiyama africanum, L. retins, L. decagonale rectum, L. central and L. decagonale. Sand dollars distribution patterns mostly clumped.
PENGETAHUAN, PERSEPSI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM KONSERVASI DI KAWASAN CAGAR ALAM PULAU SEMPU KABUPATEN MALANG Rahajeng, Marina Alin; Hendrarto, Boedi; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.181 KB)

Abstract

Pulau Sempu merupakan Cagar Alam yang terletak di Desa Tambak Rejo, Kabupaten Malang. Secara umum masyarakat mengenal Pulau Sempu sebagai tempat wisata. Penelitian ini  bertujuan untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang konservasi, persepsi dan partisipasi masyarakat dalam menunjang konservasi di kawasan Cagar Alam Pulau Sempu serta mengetahui hubungan antara pengetahuan konservasi, persepsi dan partisipasi masyarakat dalam konservasi. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2014. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan di lapangan dan kuisioner dengan diberi skor menggunakan skala Likert. Uji Rank Spearman digunakan untuk menganalisis data yang didapatkan. Total Responden yang digunakan adalah 120 responden. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang konservasi 65% rendah,  tingkat persepsi masyarakat dalam konservasi 54 % rendah sedangkan tingkat partisipasi masyarakat dalam konservasi 56% tinggi. Hasil analisis tidak terdapat korelasi positif nyata antara pengetahuan konservasi dengan persepsi (F= 0,087), terdapat korelasi positif nyata antara konservasi dengan partisipasi (F= 0,000) dan terdapat korelasi positif  nyata antara persepsi dan partisipasi (F= 0,000).  Sempu Island is a Nature Reserve located in the village of Tambak Rejo, Malang. It is known as a tourism spot. This study were conducted to determine the public knowledge on conservation, public perception and public participation in supporting  conservation of the Sempu Island Nature Reserve area and to know the relationship between  knowledge of conservation, perception and public participation in the conservation. Research was conducted in May 2014. The study used a descriptive method. Data  collected by  field observations and scored questionnaires  using a Likert Scale's. The Spearman Rank test was used to analyse the data. Total number of respondent was 120 respondents. The results of this study show that 65% of public have low level of conservation knowledge, 54% of public had a low perception of the conservation program, while 56% of public had a high participation rate on  coservation . The result of the analysis showed that there was no significant positive correlation between knowledge for conservation and the public perception (F= 0,087). The analysis also show a significant positive correlation between conservation and the participation (F= 0,000) and the significant positive correlation was found on the correlation between perception and participation (F= 0,000).
HUBUNGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA PADA KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PANTAI PANCURAN BELAKANG PULAU KARIMUNJAWA, JEPARA Ristianti, Nisa; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.007 KB)

Abstract

Pulau Karimunjawa merupakan salah satu wilayah di perairan Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragaman ekosistem perairan, salah satunya adalah ekosistem lamun yang merupakan ekosistem pendukung di wilayah pesisir. Salah satu fungsi padang lamun sebagai habitat bagi organisme bentik khususnya epifauna sangat rawan apabila padang lamun terus menerus mendapat tekanan ekologis. Terjadinya perubahan lingkungan akibat eksploitasi dan pencemaran akan berpengaruh terhadap ekosistem padang lamun  dan kelimpahan epifauna. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kelimpahan epifauna pada kerapatan lamun yang berbeda dan hubungan kelimpahan epifauna pada kerapatan lamun yang berbeda di perairan Pantai Pancuran Belakang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi, sedangkan pengambilan sampel dilakukan dengan pemetaan sebaran lamun. Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya hubungan yang sangat kuat antara kerapatan lamun dengan kelimpahan epifauna dilihat dari hasil analisis korelasi sederhana dengan nilai (r) sebesar 0,967 dan signifikasi (0,138 > 0,05). Karimunjawa island is one of the areas in the waters of Jepara Regency that has a diversity of aquatic ecosystems, one of which is a seagrass ecosystem is one of the coastal areas of supporting ecosystems. One of the functions of the seagrass habitat for benthic organisms as particularly highly prone when the epifauna seagrass continuously gets the ecological pressures. The occurrence of environmental change as a result of exploitation and pollution will affect the ecosystem of the seagrass and abundance of epifauna. The purpose of this research is to know the abundance of epifauna on different seagrass density and abundance of epifauna on relationship of density in different seagrass coastal waters Pancuran Belakang. The research method used is the method of observation, whereas sampling is done by mapping the distribution of seagrass. Research showed that the a very strong between density seagrass beds with abundance of epifauna seen from the result analysis correlation simple with value (r)  0,967 and signification ( 0,138 > 0,05). 
SEBARAN STRUKTUR SEDIMEN, BAHAN ORGANIK, NITRAT DAN FOSFAT DI PERAIRAN DASAR MUARA MORODEMAK Amelia, Yusty; Muskananfola, Max Rudolf; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.894 KB)

Abstract

Padatnya aktivitas manusia di muara sungai Tuntang Morodemak dapat memberikan sumbangan terbesar dari proses sedimentasi di muara dan pesisir pantai. Kondisi ekologis ini dikhawatirkan akan semakin menurun, akibatnya keseimbangan dinamika muara, seperti kehidupan biota dasar perairan misalnya gastropoda, bivalvia, dan makrozoobenthos memegang peranan penting dalam proses mendaur ulang bahan organik dan proses mineralisasi serta menduduki beberapa posisi penting dalam rantai makanan akan terganggu. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sebaran struktur partikel sedimen, bahan organik, nitrat, dan fosfat sedimen serta mengetahui hubungan antara partikel sedimen dengan bahan organik, nitrat, dan fosfat sedimen di perairan muara sungai Tuntang Morodemak. Metode yang digunakan menggunakan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan metode Regresi Korelasi. Hasil yang diperoleh adalah sebaran struktur partikel sedimen di muara sungai Tuntang Morodemak terdiri dari pasir (0.5-0.0625 mm), lumpur (0.0625-0.0039 mm), dan liat (<0.0039 mm). Kandungan pasir terbanyak diperoleh di stasiun 1 dengan prosentase 4%, lumpur terbanyak diperoleh di stasiun 8 dengan prosentase 80%, dan liat terbanyak diperoleh di stasiun 6 dengan prosentase 61.56%. Sebaran bahan organik dan fosfat sedimen terbanyak di stasiun 1 dengan nilai 13.20% dan 7.13 mg/gr, sebaran nitrat sedimen terbanyak di stasiun 8 dengan nilai 22.13 ppm. Hubungan partikel sedimen dengan bahan organik yang mempunyai hubungan paling kuat adalah fraksi pasir dengan nilai koefisien korelasi 0.88. Hubungan partikel sedimen dengan nitrat tidak ada yang memiliki keeratan yang kuat antara pasir, liat, dan lumpur. Hubungan partikel sedimen dengan fosfat yang memiliki hubungan paling kuat adalah fraksi pasir dengan nilai koefisien korelasi 0.71. Density of human activities at the estuary of Tuntang Morodemak river is providing the biggest contribution of the sedimentation process in the estuarine and the coastal region. Sedimentation process will affect the ecological condition in the area of the estuary. When the ecological condition is decreasing, it will disrupt the balance of the estuary, for example the condition of aquatic biota, such as gastropods, bivalves, and macrozoobenthos which has the most important role in food chain, recycling process, and mineralization process. The purpose of the research is to find the distribution and the correlation between sediment particles, organic materials, nitrate, and sedimentary phosphate in the estuary of Tuntang Morodemak. The method used in this research was purposive sampling method. The regression and correlation method is used to analyze the data. The results showed that the distribution of sediment particles in Tuntang Morodemak consists of sand (0.5-0.0625 mm), silt (0.0625-0.0039 mm), and clay (<0.0039 mm). Station 1 has the biggest amount of sand, it was 4%. Station 8 has 80% of silt which is the biggest amount of all while station 6 has the highest presentation of clay (61.65%). The distribution of organic material and sedimentary phosphate in station 1 was the highest (13.20% and 7.13 mg/gr), while station 8 has the biggest amount of sediment nitrate (22.13 ppm). The strongest correlation between sediment particle and material organic was sand fraction which has 0.88 of correlation coefficient. Sediment particle and nitrate did not have a strong correlation with sand, silt, and clay while the strongest correlation between sediment particle and phosphate was sand fraction which has 0.71 of correlation coefficient.
HUBUNGAN KERAPATAN LAMUN (SEAGRASS) DENGAN KELIMPAHAN SYNGNATHIDAE DI PULAU PANGGANG KEPULAUAN SERIBU Tishmawati, Rr. Nadia Chairina; Suryanti, -; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.066 KB)

Abstract

Pulau Panggang terletak di Taman Nasional Kepulauan Seribu yang memiliki ekosistem lamun dengan cukup baik. Banyak biota yang berasosiasi dengan lamun, salah satunya famili Syngnathidae yang merupakan unsur kekayaan keanekaragaman hayati laut yang terdiri dari seahorses, pipefishes dan sea dragon. Tingginya harga pasar dan manfaat yang begitu besar bagi manusia, membuat permintaan komoditas tersebut meningkat dari waktu ke waktu sehingga mengancam kelestarian jenis tersebut di habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan lamun, mengetahui kelimpahan famili Syngnathidae, serta mengetahui hubungan antara kerapatan lamun dengan kelimpahan famili Syngnathidae di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2014 di perairan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode observasi dengan metode samplingnya random sampling. Pengambilan sampel syngnathidae dilakukan pada ketiga stasiun lamun dengan kerapatan jarang, sedang, dan padat. Penghitungan pemetaan lamun dan kelimpahan Syngnathidae menggunakan kuadran 1m x 1m dan dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 6 jenis lamun yaitu Enhallus acoroides, Cymodoceae serulata, Thalasia hemprichii, Syringodium isoerifolium, Halodule uninervis, dan Cymodoceae rotundata. Jumlah tegakan lamun pada kerapatan jarang 6185 tegakan/ 75m2, kerapatan sedang 13429 tegakan/ 75m2, dan kerapatan padat 26920 tegakan/ 75m2. Famili syngnathidae yang didapatkan di Pulau Panggang yaitu sebanyak 3 spesies pada kerapatan padat sejumlah 10 individu/ 75m2, kerapatan sedang 6 individu/ 75m2, dan pada kerapatan jarang 3 individu/ 75m2. Hasil analisa statistika kerapatan lamun dengan kelimpahan Syngnathidae terdapat korelasi r = 0.996, menunjukan korelasi erat sehingga semakin tinggi kerapatan lamun akan diikuti oleh melimpahnya syngnathidae. Panggang Island is located in the National Park of Kepulauan Seribu that has good enough seagrass ecosystem. Many biota associated to seagrass, is  Syngnathidae family is one of the elements of marine biodiversity which consists of seahorses, pipefishes, and sea dragon. The high market price and benefits to humans have made its demand commodity for this been increasing time to time, so threaten its sustainability in its habitat. This study aims to determine the density of seagrass, the abundance of family Syngnathidae as well as the relationship between the density of seagrass with the abundance of Syngnathidae family in the Panggang Island, Kepulauan Seribu. The research was conducted in May-June 2014 at Panggang Island waters, Kepulauan Seribu. The method used in this study is observation sampling using random sampling. The sampling of Syngnathidae at three stations seagrass on the difference density which are rarely, medium, and high. The calculation of seagrass mapping abundance Syngnathidae using 1m x 1m quadrant, were done in three times repetition. The results showed that there are six types of seagrass which are Enhallus acoroides, Cymodoceae serulata, Thalasia hemprichii, Syringodium isoerifolium, Halodule uninervis, and Cymodoceae rotundata. The number of seagrass stands obtained at a rarely 6185 stands/ 75m2, medium 13429/ 75m2, and high density 26920 stands/ 75m2. There are three species of Syngnathidae obtained in the Panggang Island in which at high density 10 individuals/ 75m2, at medium density 6 individuals/ 75m2, and at rarely density 3 individual/ 75m2. The result of statistical analysis showed closed correlation between seagrass density and Syngnathidae abundance with the r value of = 0.996, so that higher density of seagrass will be followed by abundance Syngnathidae.
ASPEK BIOLOGI IKAN GABUS (Ophiocephalus striatus) DI PERAIRAN RAWA PENING, KABUPATEN SEMARANG Puspaningdiah, Merantika; Solichin, Anhar; Ghofar, Abdul
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.452 KB)

Abstract

Perairan Rawa Pening merupakan sumber daya perairan yang memiliki potensi sumberdaya  perikanan yang dapat dimanfaatkan oleh nelayan dan petani ikan didalam kegiatan penangkapan dan budidaya ikan. Ikan Gabus memiliki banyak manfaat yang menyebabkan penangkapan terhadap ikan Gabus  semakin meningkat, sehingga populasi menjadi semakin menurun. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji aspek pertumbuhan, mengkaji aspek reproduksi dan strategi pengelolaan ikan Gabus.Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari hingga bulan Maret 2014.Metode yang digunakan yaitu metode simple sensus sampling. Materi yang digunakan yaitu  ikan Gabus (Ophiocephalus striatus) yang tertangkap dengan alat tangkap branjang di Perairan Rawa Pening. Hasil penelitian yang dilakukan pada ikan Gabus yang didapatkan sebanyak 66 ekor, yaitu pertumbuhan ikan Gabus bersifat allometrik negatif dengan nilai b sebesar 2,8019. Faktor kondisi yang diperoleh sebesar 1,099 yang tergolong dalam ikan yang pipih atau tidak gemuk.Ukuran ikan Gabus yang tertangkap belum layak untuk ditangkap, karena L50%< ½ L∞.Tingkat kematangan gonad ikan Gabus menurut Kestevan didominasi oleh TKG II yaitu fase dara berkembang.IKG tertinggi pada ikan Gabus betina selama penelitian yaitu 4,324% sedangkan pada ikan Gabus Jantan sebesar 0,292%. Fekunditas tertinggi sebesar 20035 butir dengan panjang tubuh 480 mm dan berat tubuh 875,6 gram, sedangkan yang terendah sebesar 1282 butir dengan panjang tubuh 318 mm dan berat tubuh 250,2 gram. Perbandingan jumlah ikan jantan dan ikan betina yaitu 1:2,143. Strategi pengelolaan yang dapat dilakukan yaitu pengaturan ukuran mata jaringalat tangkap branjang, keikutsertaan nelayan melepas ikan berukuran kecil, dan pembatasan jumlah penangkapan.  Rawa Pening has the potential fishery resources that can be utilized by fishermen and fish farmers in fish farming and fishing activities. Snakehead fish is one of the targeted fish that has many benefits which led to more capture of the snakefish that causes the declining population of the fish. The purpose of this study is to examine the aspects of growth, reproduction and examines the management strategies of Snakehead fish aspects.This research was held on January to March 2014. The method used in the research was simple census sampling method. The material used was the snakehead fish (Ophiocephalus striatus) which were caught by branjang fishing tool in Rawa Pening. The research done on the caught snakehead fish as many as 66 fish was the growth was negatively allometric in which b showed 2,8019. The condition factor was 1,099 which indicated that the fish were flat or not fat. Based on the size, the caught snakehead fish was not eligible to be caught because Lc50%< ½ L∞. The gonad maturity level according to Kestevan was dominated by TKG II, the phase of developing virgin. The highest IKG on female snakehead during the research was 4,324% while on male snakehead fish was 0,292%. The highest fecundity was 20035 items with the body length was 480 mm and body weight was 875,5 grams while the lowest fecundity was 1282 items with the body length was 318mm and body weight was 250,2 grams. Comparison of the number of male fish and female fish is 1: 2,143. Management strategies that could be done is to setting mesh size of Branjang fishing gear, fishing participation for removing small fish, and restrictions on the number of arrests.
BIOKONSENTRASI BAHAN ORGANIK PADA BERBAGAI UKURAN CANGKANG KIJING (Anodonta woodiana) DI BALAI BENIH IKAN SIWARAK UNGARAN, SEMARANG Pramesti, Dian Tri; Haeruddin, -; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.884 KB)

Abstract

Anodonta woodiana merupakan salah satu biota biofilter yang mampu menyerap bahan pencemar yang ada di dalam perairan salah satunya adalah bahan organik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat konsentrasi bahan organik dalam jaringan lunak pada berbagai ukuran cangkang dan melihat nilai faktor biokonsentrasi bahan organik pada kerang. Penelitian dilakukan dalam skala laboratorium. Rancangan percobaan adalah rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan dan 3 penggulangan. Proses biokonsentrasi berlangsung selama 96 jam dalam akuarium (panjang 50 cm, lebar 30 cm dan tinggi 20 cm) dan air yang digunakan adalah air kolam budidaya di Balai Benih Ikan (BBI) Siwarak, Ungaran. Hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah rata-rata konsentrasi bahan organik dalam jaringan lunak kijing setelah perlakuan biokonsentrasi adalah cangkang ukuran kecil 56,27 %, cangkang ukuran sedang 44,15 % dan cangkang ukuran besar 34,24 %. Rata-rata hasil faktor biokonsentrasi bahan organik pada jaringan lunak kijing adalah sebagai berikut: kerang ukuran kecil 781.705,1, kerang ukuran sedang 224.512,8 dan kerang ukuran besar 310.721,5. Terdapat perbedaan laju biokonsentrasi bahan organik antara ukuran cangkang kecil dan cangkang besar dimana cangkang lebih kecil memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan cangkang besar.   Anodonta woodiana is one of biofilter biota, that can absorb pollutants in the waters including organic matter. The purpose of this study were to determine organic matter content on the soft tissue and bioconcentration factor of total organic matter in various sizes of Anodonta woodiana shells. The study was conducted in the laboratory. Experimental design was a completely randomized design with 3 treatments and 3 repetation. Bioconcentration process lasts for 96 hours in aquarium (50 cm long, 30 cm wide and 20 cm high) and water medium used is water from aquaculture pond in the Hatchery (BBI) Siwarak, Ungaran. The results obtained in this study is the average concentration of organic matter in the soft tissues of Anodonta woodiana after bioconcentration at the small size shell 56,27%, medium size 44,15% and large size 34,24%. Average bioconcentration factor of organic matter results in soft tissue of Anodonta woodiana are as follows: 781,705.1 at the small size shells, 224,512.8 medium size and 310,721.5 large size. There are different value of organic matter bioconcentration between smalls size shells and large size shell in which the small shell has higher concentration value than the large size shell.
PENGARUH LIMBAH CAIR TAHU TERHADAP KELIMPAHAN MAKROBENTHOS DI SUNGAI ELO MAGELANG Wulandari, Angela Herma Gita Retno; Hutabarat, Sahala; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.013 KB)

Abstract

Sungai Elo digunakan sebagai salah satu lokasi pembuangan limbah cair tahu, diduga telah mengalami penurunan kualitas perairan. Adanya masukan polutan seperti bahan organik dari limbah cair tahu yang berlebih akan menyebabkan pencemaran dan akan berdampak pada kehidupan makrobenthos. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh limbah cair tahu terhadap kelimpahan makrobenthos, mengetahui kondisi perairan yang ditimbulkan oleh buangan limbah cair tahu berdasarkan bio-indikator makrobenthos, dan mengetahui korelasi antara kelimpahan makrobenthos dengan bahan organik di Sungai Elo. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2013 – Januari 2014 di Sungai Elo Magelang. Penelitian ini dilakukan pada 3 stasiun. Materi penelitian adalah makrobenthos dan bahan organik yang terdapat di Sungai Elo. Metode yang digunakan adalah metode survei dan metode deskriptif. Makrobenthos yang diperoleh selama penelitian di Sungai Elo terdiri dari 6 kelas yaitu Oligochaeta 2 genus, Polychaeta 1 genus, Clitellata 1 genus, Hexapoda 1 genus, Gastropoda 3 genus, dan Bivalvia 1 genus. Genus yang paling banyak ditemukan Melanoides sp. (144,38%), Tubifex sp. (53,30%), dan Elimia sp. (49,21%). Kelimpahan makrobenthos terbesar terdapat pada stasiun II sebesar 1284 ind/m3 dan terendah terdapat pada stasiun I sebesar 327 ind/m3. Kandungan bahan organik berkisar antara 5,63 – 17,67 mg/l termasuk dalam kategori sedang-tinggi. Nilai Saprobik Indeks (SI) dalam analisa Saprobitas adalah -3 yang berarti perairan tercemar berat. Hasil uji korelasi regresi antara kelimpahan makrobenthos dengan kandungan bahan organik diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,678. Koefisien korelasi (r) sebesar 0,823 dengan nilai koefisien 0,7 < r ≤ 0,9 yang menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut cukup kuat. Elo River was used as a location dismissal of Soybean Liquid Waste, has assumed been degradation of water quality. The existence of polutan like organic materials from soybean liquid waste will be contain and be affect to longlife of macrobenthos. The aim was to identify structure of macrobenthos community, the impact of soybean liquid waste based on macrobenthos bio-indicator, and corelation between macrobenthos abundance and organic materials in Elo River. The research was implemented on December 2013 - Januari 2014 in 3 location stations. The materials were organic materials and macrobenthos. The Method were Survey and Descriptive Method. The result was macrobenthos have been obtained consist of 6 classes, these were Oligochaeta (2 genus), Polychaeta (1 genus), Clitellata (1 genus), Hexapoda (1 genus), Gastropoda (3 genus), and Bivalve (1 genus). The most species founded was Melanoides sp. (144,38%), Tubifex sp. (53,30%), and Elimia sp. (49,21%). The biggest of macrobenthos abundance in station II, meanwhile the lowest of macrobenthos abundance in station I. Diversity index value all of stations ranging from 0,5 – 1,5. Content of organic material ranging from 5,63 – 17,67 mg/l include in moderate category. The value of saprobic index was -3, mean Elo River`s water wich high polutan. Result of regression test among macrobenthos abundance with content of organic material in Elo River obtained determination coefficient value (R2) was 0,678. Coefficient Corellation (r) was 0,823 with value of coefficient 0,7 < r ≤ 0,9 that sound was relationship among two variable strength enough.

Page 1 of 4 | Total Record : 34