cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015" : 14 Documents clear
KESUBURAN PERAIRAN BERDASARKAN NITRAT, FOSFAT, DAN KLOROFIL-a DI PERAIRAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG PULAU KARIMUNJAWA Isnaeni, Nurannisa; Suryanti, -; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.041 KB)

Abstract

Perairan Pulau Karimunjawa banyak dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan manusia yang tentunya berpengaruh terhadap kesuburan perairan, salah satunya pada ekosistem terumbu karang yang kemudian akan berpengaruh juga pada biota karang yang ada di dalamnya. Kesuburan suatu perairan dipengaruhi oleh unsur hara (nitrat dan fosfat), klorofil-a, serta variabel fisika kimia perairan. Penelitian dilakukan pada bulan November – Desember 2014 di Pulau Karimunjawa, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kesuburan perairan berdasarkan kandungan NO3, PO4, dan klorofil-a di beberapa wilayah ekosistem terumbu karang Pulau Karimunjawa dan mengetahui keterkaitan antara klorofil-a dengan nitrat dan fosfat. Metode  yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik purposive sampling. Lokasi sampling ditentukan berdasarkan 3 stasiun dengan aktivitas pemanfaatan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesuburan perairan berdasarkan kandungan nitrat di  stasiun zona inti dan zona budidaya tergolong mesotrofik, sedangkan zona pariwisata tergolong oligotrofik. Berdasarkan kandungan fosfatnya, ketiga stasiun pengamatan tergolong dalam kategori tingkat kesuburan sangat baik sekali. Ketiga stasiun tergolong dalam kategori oligotrofik berdasarkan kandungan klorofil-a. Hubungan antara klorofil-a dengan nitrat lebih kuat daripada klorofil-a dengan fosfat yang dibuktikan pada hasil regresi linear dimana nilai (r) klorofil-a dengan nitrat sebesar 0,995 sedangkan nilai (r) klorofil-a dengan fosfat sebesar 0,143.    The marine area in Karimunjawa Island is widely-used for human activities. It influences the marine fertility as well; one of them is on the coral ecosystem which also will influence the coral biota within the area. The fertility of a marine area is also affected by the hara unsure (nitrate and phosphate), chlorophyll-a, as well as the variable of marine’s physics and chemist. This research was done on November-December 2014 in Karimunjawa Island, which was aimed to identify the level of fertility based on NO3, PO4, and Chlorophyll-a in the several zone on marine area of coral ecosystem in Karimunjawa Island, and to identify the relationship between Chlorophyll-a with NO3 and PO4. This research used the descriptive method using purposive sampling. The location of sampling was then identified based on 3 stations which have different application activities. The result of the study shows that the marine’s fertility based on the nitrate substance in the primary zone station and conservative zone were categorized as mesotropic, while in the tourism zone was categorized as oligotropic. Based on the phosphate substance, those three stations were categorized in the extremely good fertility level. In addition, the three stations were categorized as oligotropic category based on the chlorophyll-a substance. The relationship between chlorophyll-a and nitrate was stronger than the chlorophyll-a and phosphate. It can be proven by using the result of linear regression, where the score (r) of chlorophyll-a and nitrate was as much as 0,995, whereas the score (r) of chlorophyll-a and phosphate was as much as 0,143.
STATUS PENCEMARAN SUNGAI WAKAK KENDAL DITINJAU DARI ASPEK TOTAL PADATAN TERSUSPENSI DAN STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS Yasir, Muhammad; Haeruddin, -; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.318 KB)

Abstract

Sungai Wakak merupakan perairan penerima limbah dengan volume cukup besar. Hal ini disebabkan adanya berbagai aktivitas ‘penyumbang’ limbah yang terdapat di kawasan ini, seperti kegiatan industri, pertanian, pemukiman, dan pertambakan. Peristiwa ini menyebabkan erosi, abrasi dan sedimentasi yang  berdampak pada kehidupan biota perairan khususnya makrozoobentos dan kultivan pada tambak yang memanfaatkan pengairan  Sungai Wakak . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi total padatan tersuspensi terhadap struktur komunitas makrozoobentos, serta status pencemaran Sungai Wakak. Metode sampling yang digunakan adalah sistematic sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada tiga stasiun yang berbeda selama tiga kali waktu sampling dimana stasiun 1 berada didaerah hulu sungai, stasiun 2 berada dilokasi yang terdekat dengan aktivitas masyarakat dan industri, dan stasiun 3 berada di hilir sungai yang dekat dengan muara . Hasil rata-rata konsentrasi total padatan tersuspensi antar waktu dan antar lokasi terendah yaitu sebesar 540 mg/l dan tertinggi sebesar 920 mg/l. Nilai kelimpahan individu dan kelimpahan relatif tertinggi yaitu makrozoobentos jenis Floridobia dengan KI 784 ind/m3. Indeks keanekaragaman (H’) tergolong rendah (tercemar sedang), indeks keseragaman (e) masuk dalam kategori tinggi. Indeks dominansi (D) mendekati nilai nol yang berarti tidak ada spesies yang mendominasi. Sedangkan berdasarkan analisis data dalam aspek Kurva ABC Makrozoobentos, diperoleh hasil bahwa perairan tersebut dalam kategori tercemar berat. Konsentrasi total padatan tersuspensi dapat berpengaruh terhadap struktur komunitas makrozoobentos meskipun dalam hal ini jumahnya sangat kecil. Berdasarkan konsentrasi total padatan tersuspensi dan kurva ABC makrozoobentos, Sungai Wakak termasuk sungai golongan tercemar berat. Wakak river is a large volume of water waste disposite. Various 'contributor' activities which are contained in this area are industrial activities, agricultural, domestic, and aquaculture. Real effects arising from such activities in the form of river pollution and erosion as well as the river bank abrasion. This causes the sedimentation process that impact on the aquatic biota, especially macrozoobenthos. The purpose of this study was to determine the effect of the concentration of total suspended solids makrozoobentos community structure and Wakak River pollution status. The sampling method is systematic sampling method. This study was conducted at three different stations during the three sampling times where first station located in the upstream of the river, second location is located in the closest area of the community and industrial activities, and third station is located in the downstream near the estuary. The average of total suspended solids concentration over time and between the lowest locations is in the amount of 540 mg/l and the highest was 920 mg/l. Abundance of individual values and the highest relative abundance of macrozoobenthos kind of Floridobia with KI 784 ind/m3. Diversity index (H') is low (modaretely polluted), uniformity index (e) included in the high category. The Dominance index (D) was nearly zero, which means there is no dominated species. Based on the concentration of total suspended solid and the macrozoobenthos ABC curve, the results showed that the water is highly polluted. The concentration of total suspended solids can affect the community structure of macrozoobenthos although in this case the amount is very small. Based on the concentration of total suspended solids and macrozoobenthos ABC curve, River Wakak is highly polluted.
KEPADATAN DAN DISTRIBUSI SPASIAL KERANG KIJING (Anodonta woodiana) DI SEKITAR INLET DAN OUTLET PERAIRAN RAWAPENING Yanuardi, Firman; Suprapto, Djoko; Djuwito, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.074 KB)

Abstract

Rawapening merupakan salah satu perairan air tawar yang banyak dihuni oleh kerang kijing Anodonta woodiana, kepadatan dan pola sebaran dari kerang tersebut di sekitar inlet dan outlet perairan Rawapening masih belum diketahui. Adanya perubahan ekosistem akibat sedimentasi di Rawapening kemungkinan akan berdampak pada populasi kerang tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan dan pola sebaran dari populasi Kijing di sekitar inlet dan outlet di Rawapening dan mengetahui distribusi spasial kijing A. woodiana berdasarkan ukuran panjang cangkang kerang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan rumus kepadatan populasi dan Indeks Morishita, untuk mengetahui distribusi spasial kerang berdasarkan ukuran panjang digunakan uji Analysis of Variance. Hasil penelitian bahwa jumlah kepadatan populasi pada stasiun I (inlet) DAS Panjang 1 ind/m² - 5 ind/m²; stasiun II (inlet) DAS Rengas 1 ind/m² - 9 ind/m²; stasiun III (inlet) DAS Ringis 1 ind/m² - 8 ind/m²; stasiun IV (outlet) DAS Kedungringin 1 ind/m² - 16 ind/m², dan angka rataan Indeks Morishita dari seluruh stasiun pengamatan kurang dari 1 (Id < 1) yang berarti bahwa pola sebaran dari kerang A. woodiana cenderung seragam dan teratur. Hasil analisis distribusi spasial berdasarkan ukuran panjang kerang diketahui F sebesar 4,952 dengan signifikansi sebesar 0,003. Oleh karena signifikansi sebesar 0,003 < 0,05, maka inferensi yang diambil adalah terdapat perbedaan panjang kerang berdasarkan empat stasiun dan panjang minimal kerang A. woodiana dari seluruh stasiun 8,03 cm dengan panjang maksimal sebesar 16,54 cm. Rawapening is one waters of freshwater that many inhabited by shells Kijing Anodonta woodiana, density and distributions paterns of the shells around inlet and outlet in Rawapening still unknown.  The ecosystem as a result of change in sediment in Rawapening would likely impact  on the population  of the shells. This research was conducted in September 2014. This research aimed to understand the density and the pattern of the population to scatter shells around inlet and outlet in Rawapening and knowing spatial distribution shells based on size A. woodiana the long shells. The method used in the survey was done by deskriptif the case study. Then analyzed the result of the research using formula density of population and morishita index, to know the spatial distribution shells used measure of length based on analysis of variance. The result showed that the population density in the station I (inlet) DAS Panjang 1 ind/m² - 5 ind/m²; station II (inlet) DAS Rengas 1 ind/m² - 9 ind/m²; station III (inlet) DAS Ringis 1 ind/m² - 8 ind/m²; station IV (outlet) DAS Kedungringin 1 ind/m² - 16 ind/m², and value an average of the index morishita an observation station less than 1 (Id < 1) which means that the distribution of shell A. woodiana inclined uniform and orderly. The results of the analysis of spatial distribution arrangement based on the length shell is known that the F of 4.952 with the significance of 0.003. Thus significance of 0.003 <  0.05, then the inference taken is there are difference of the shells long based on four station and the long minimal of shell A. woodiana from all stations of 8,03 cm long with the long maximum of 16,54 cm.
ANALISIS POTENSI TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) DALAM KAITANNYA DENGAN PROGRAM REVITALISASI TUNA DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA Sri Lestari; Anhar Solichin; Suradi Wijaya Saputra
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.835 KB) | DOI: 10.14710/marj.v4i2.8531

Abstract

Analisis potensi ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) dan evaluasi program revitalisasi tuna bermanfaat untuk mengetahui seberapa besar pengaruh program tersebut terhadap peningkatan potensi dan pemanfaatan tuna khususnya di Kabupaten Gunungkidul. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui potensi ikan Tuna Sirip Kuning melalui analisis produksi, struktur ukuran ikan, L50% dan sifat pertumbuhan ikan Tuna Sirip Kuning, mengetahui perkembangan kapal dengan alat tangkapnya, mengevaluasi program revitalisasi tuna dan merumuskan langkah-langkah pengelolaan sumberdaya perikanan Tuna Sirip Kuning di perairan Kabupaten Gunungkidul. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober – 20 Desember 2014 yang berlokasi di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng, Gunungkidul. Metode  penelitian yang digunakan adalah metode survei, dengan teknik pengambilan sampel secara acak. Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Pengambilan sampel dilakukan  sebanyak 4 kali dengan rincian 8 kapal/ perahu setiap sampling. Data primer diperoleh dari perhitungan ukuran panjang dan berat ikan Tuna Sirip Kuning hasil tangkapan yang didaratkan di PPP Sadeng. Data sekunder yang dikumpulkan  berupa data jumlah produksi dan data revitalisasi Tuna Sirip Kuning yang terdiri dari data ukuran ikan dan data harga ikan pada tahun 2010-2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi penangkapan Tuna Sirip Kuning cenderung growth overfishing dan terjadi penurunan ukuran hasil produksi yang ditandai dengan nilai modus tertinggi 27 cm, L50% 32 cm dan L∞ sebesar 210,53 cm menunjukkan bahwa hasil tangkapan belum layak karena berdasarkan perhitungan nilai L50% < ½ L∞ sedangkan modus tertinggi selama penelitian < L50% menyebabkan ukuran hasil tangkapan tergolong kecil. Nilai CPUE dengan trip standart kapal motor selama penelitian tinggi tetapi, ukuran ikan produksi tergolong kecil dan belum layak tangkap. Sedangkan nilai faktor kondisi sebesar 1,28. Keadaan ini menggambarkan bahwa upaya revitalisasi tuna di Kabupaten Gunungkidul selama 5 tahun terakhir belum tercapai secara maksimal. Analysis of the potential of Yellow Fin Tuna (Thunnus albacares) and tuna revitalization program evaluation was useful to determine how much influence the program to increase the potential and utilization of tuna, especially in Gunungkidul. This study was conducted to determine the potential of Yellow Fin Tuna through the analysis of productions, the size of fish’s structure, L50% and growth properties of Yellow Fin Tuna, determine the development of the boat with fishing gear, evaluate tuna revitalization program and formulate measures Tuna fisheries resource management Yellow Fin in the waters of Gunungkidul. The study was conducted on 13 October to 20 December 2014 that was located in the Port of Coastal Fisheries (PPP) Sadeng, Gunung. The method used in this study was a survey method, with a random sampling technique. The data used were primary and secondary data. The sampling was carried out 4 times with details of 8 ships / boats each sampling. Primary data were obtained from the calculation of the length and weight of Yellow Fin Tuna that catches and landed in PPP Sadeng. Secondary data were collected in the form of data on the number of production and the data of Yellow Fin Tuna revitalization consisting of the data of fish size and fish price in 2010-2014. The results showed that the condition of the cathes of Yellow Fin Tuna tend to be growth overfishing and a the size of the products were too small that marked with the highest mode of value was 27 cm, L50% was 32 cm and L∞ 210.53 cm indicate that the catch was not feasible because the calculation was based on the value of L50% < ½ L∞ while the highest mode for research was < L50% caused the size of the catch was small. CPUE values with standard boat trip during studies was high, however, the size of the fish production was small and not worth to be catching. While the value of the condition factor was 1,28. This situation illustrates that the revitalization of tuna in Gunungkidul during the last 5 years has not reached its full potential.
PEMAHAMAN MASYARAKAT TENTANG POTENSI EKOSISTEM PESISIR UNTUK OBYEK WISATA DI DESA MOROREJO KECAMATAN KALIWUNGU KABUPATEN KENDAL Yanti, Fefi Tri; Suryanto, Agung; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.202 KB)

Abstract

Pengembangan potensi wisata bahari dapat dilaksanakan melalui pemanfaatan obyek dan daya tarik wisata secara optimal. Berbagai obyek dan daya tarik wisata yang dapat dimanfaatkan antara lain ekosistem pesisir pantai, keragaman flora dan fauna (biodiversity). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman responden tentang kondisi ekosistem pesisir, mengetahui tingkat pemahaman responden objek wisata pesisir, dan mengetahui kelayakan ekosistem pesisir sebagai objek wisata di Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu Kendal. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai Maret 2014 di pesisir Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu, Kendal. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dengan wawancara kepada empat macam responden yaitu masyarakat desa, aparat, pengunjung, dan pengguna tentang empat ekosistem pesisir seperti mangrove, pantai, tambak, dan muara. Jumlah responden yang diambil sebanyak 100 orang dengan jumlah masing-masing 30 masyarakat desa, 20 aparat, 20 pengunjung, dan 30 pengguna. Analisis data menggunakan perhitungan hasil kuisioner tentang pemahaman masyarakat terhadap obyek wisata dan kelayakan wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemahaman responden terbilang rendah, hanya sekitar 19% yang tahu kondisi ekosistem mangrove, pantai, tambak dan muara pesisir Desa Mororejo, sedangkan tingkat pengetahuan responden tentang obyek wisata pesisir desa Mororejo juga tergolong rendah yaitu 14,12%. Kondisi ekosistem di sekitar pesisir desa Mororejo untuk ekosistem mangrove tergolong kurang baik, untuk ekosistem pantai, tambak dan muara tergolong cukup baik. Kelayakan ekosistem pesisir desa Mororejo untuk wisata cukup baik, tetapi ekosistem mangrove tergolong kurang baik, sedangkan pantai, tambak dan muara tergolong cukup baik sehingga secara keseluruhan kelayakan ekosistem pesisir di desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu Kendal dapat dimanfaatkan sebagai obyek wisata pendidikan yaitu ekosistem mangrove dan ekosistem tambak sedangkan wisata rekreasi yaitu ekosistem pantai dan ekosistem muara. Development of marine tourism potential can be done through utilization of tourism objects and attraction optimally. Various tourism objects and attraction that can be used include coastal ecosystem (beach), diversity of flora and fauna. The purpose of this study were to determine the level of understanding of the respondents about condition of coastal ecosystems, the level of knowledge of the coastal tourism attractions, and the feasibility of coastal ecosystems as a tourist attraction in the Mororejo village, Kaliwungu District Kendal. The experiment was conducted from February to March 2014 in the coastal village of Mororejo, Kaliwungu District, Kendal. The method used was descriptive approach with interviews to four kinds of respondents (villagers, officials, visitors, and other users) of the four coastal ecosystems such as mangroves, beaches, ponds, and estuaries. The number of respondents who were taken as many as 100 people with the amount of 30 villages, 20 officers, 20 visitors, and 30 other users. Analysis of the data using the calculation results from questionnaires about people’s understanding of tourism and tourist feasibility. The results showed that the level of understanding of the respondents relatively low, only 19% knew the condition of mangrove ecosystems, beaches, fish ponds and coastal estuaries of Mororejo village, while the level of knowledge on tourist attraction of mangrove ecosystems, beaches, ponds and coastal estuaries of Mororejo village is also quite low at 14,12%. Conditions of coastal ecosystems of the Mororejo village for mangrove ecosystems is less, for the fish pond and estuarine ecosystems are quite good. The feasibility of Mororejo village coastal ecosystem for tourism is well enough, but the mangrove ecosystem is not good, while beaches, fish ponds and estuaries is quite good so overall feasibility of coastal ecosystems in the Mororejo village, Kaliwungu Disctrict Kendal can be used as a tourist attraction, namely education mangrove ecosystems and ecosystem pond while recreational tourism that coastal ecosystems and estuarine ecosystems. 
STRUKTUR POPULASI TIRAM (Saccostrea cuccullata Born, 1778) PADA EKOSISTEM MANGROVE DAN NON-MANGROVE DI SEMARANG, JAWA TENGAH Rismawati, Ulfah; Afiati, Norma; Suprapto, Djoko
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.782 KB)

Abstract

Tiram (Saccostrea cuccullata), merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting. Pengambilan tiram umumnya dilakukan secara tidak teratur baik jumlah, ukuran dan waktunya sehingga diduga hal tersebut berpengaruh terhadap struktur populasi. Penelitian ini dilakukan di Pantai Mangkang yang merupakan daerah bermangrove dan Pantai Maron yang non-mangrove, Semarang Jawa Tengah selama bulan Juli – September 2014, yang bertujuan untuk mengkaji perbedaan struktur populasi tiram berdasarkan perbedaan pada ekosistem mangrove dan non-mangrove. Metode survei deskriptif digunakan dalam penelitian ini dengan teknik pengambilan sampel bersifat purposive random. Jumlah sampel tiram yang terkumpul selama tiga bulan (Juli – September, 2014) pada daerah bermangrove yaitu 209 individu, sedangkan pada daerah non-mangrove berjumlah 253 individu. Kisaran panjang cangkang tiram pada ekosistem mangrove yaitu 12,00 – 82,20 mm dan untuk berat basah total yaitu 1,01 – 55,03 g. Pada daerah non-mangrove kisaran panjang cangkang yaitu 21,30 – 82,00 mm dan berat basah totalnya 2,04 – 83,45 g. Kerapatan populasi tiram di daerah bermangrove berkisar 16 – 96 individu/m2 dan pada daerah non-mangrove yaitu 24 – 104 individu/m2. Pola distribusi pada ekosistem mangrove dan non-mangrove umumnya mengelompok. Sifat pertumbuhan yang didapat dari analisis hubungan panjang berat yaitu alometrik negatif, dimana b<3. Pada pengamatan Indeks STORET (Kepmen LH No. 115, 2003) diperoleh hasil yaitu perairan Pantai Mangkang (Mangrove) dan Pantai Maron (Non-Mangrove) masuk kategori perairan tercemar sedang. Oysters (Saccostrea cuccullata) is the one of the fisheries resource that has an important economic value. Collection of oysters usually done in irregular either total, size and time allowing allegedly this impact on the structure of population. This research is conducted in Mangkang Beach wich is a mangrove areas and Maron beach is a non-mangrove areas, Centtral Java Sea during July – September 2014 with a purpose to study the differences of structure population based on mangrove and non-mangrove areas. Methods that used in this study was descriptive survey with purposive random sampling. Variable observed  i.e  physic, chemist, biology, social and economic factors. Total of sample that collected during three months (July – September) in mangroves areas 209 individuals and in non-mangrove areas 253 individuals. The range of shell length in mangroves ecosystem is 12,00 – 82,20 mm and the total weight is 1,01 – 55,03 g. In non-mangrove ecosystem the range of shell length is 21,30 – 82,00 mm and the total weight is 2,04 – 83,45 g. Population density of oyster in mangrove and non-mangrove areas is generally clumped. Correlation of length and weight of oysters has a meaning negative allometric both of mangrove and non-mangrove, wich  b<3. Sex ratio of oysters both of mangrove and non-mangrove areas is not balanced, wich the male less than female. The results of STORET Index (Kepmen LH No. 115, 2003) categorised that both the waters in mangrove and non-mangrove ecosystem as relatively contaminated.
STRATEGI PENGEMBANGAN OBYEK WISATA ALAM PANTAI SUWUK KABUPATEN KEBUMEN JAWA TENGAH Mongi, Elrin Meivian; Purwanti, Frida; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.43 KB)

Abstract

Wisata alam merupakan pemanfaatan sumberdaya alam atau daya tarik panorama alam untuk kegiatan wisata. Salah satu obyek wisata alam di Kabupaten Kebumen adalah Pantai Suwuk. Tujuan penelitian untuk  mengetahui potensi daya tarik wisata alam di Pantai Suwuk; mengetahui profil dan persepsi pengunjung, tingkat kepuasan wisata, kepedulian lingkungan, dan menyusun strategi pengembangan wisata alam Pantai Suwuk Kebumen. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dimana potensi daya tarik wisata disajikan dengan piktogram. Pengambilan sampel responden dilakukan dengan menggunakan teknik accidental sampling sedangkan penyusunan strategi pengembangan wisata dilakukan menggunakan teknik FGD (Forum Group Disscussion) dan analisis SWOT. Pantai Suwuk memiliki luas 5,5 ha dengan 3 formasi tumbuhan pantai yaitu mangrove, pes-caprae, dan barringtonia. Potensi daya tarik wisata pantai Suwuk meliputi wisata alam dan buatan dengan 9 atraksi yaitu pemandangan alam (skor 1839); museum pesawat terbang (skor 1797); penyewaan perahu (skor 1671); kuliner (skor 1671); kebun binatang (skor 1653); penyewaan ATV (skor 1548); rekreasi berenang (skor 1473); berkuda (skor 1244) dan memancing (skor 1053). Pengunjung sebagian besar mendapat informasi OWA Pantai Suwuk secara lisan (88.89 %); dengan tujuan rekreasi 73.33%; frekuensi kunjungan 3-5 kali (35.56%) dan datang bersama teman 42.22 %, dengan lama kunjungan 1-2 jam (22.22%) serta 62.22 % menyatakan biaya wisata termasuk cukup murah. Tingkat kepuasan pengunjung termasuk dalam kategori puas dan kepedulian terhadap lingkungan termasuk dalam kategori sangat peduli. Strategi prioritas dan alternatif pengembangan wisata meliputi pengembangan kompentensi, pengembangan fasilitas, keterlibatan masyarakat, peningkatan kerjasama, peningkatan pemahaman lingkungan, peningkatan peran lembaga, peningkatan konsep pariwisata alam, pengembangan wisata edukasi, dan pengelolaan sampah serta kebersihan. Nature tourism is usage of natural resources or nature panorama for tourism activities. One of nature tourist attraction in the Kebumen district is the Suwuk beach. The research aims to identify tourism potential of natural attractions on the Suwuk beach; to know profile and perceptions of the visitors, tourist satisfaction levels, environmental awareness, and to set nature tourism development strategy of Suwuk Beach Kebumen. The research used a qualitative descriptive approached in which potency of tourism attraction presented in pictogram. Sampling respondents were conducted using accidental sampling while tourism development strategies was set up using FGD technique and SWOT analysis. The Suwuk beach has an area of 5.5 ha with 3 coast vegetation formations ie mangrove, pes-caprae, and Barringtonia. Potency of touriwm attraction on the Suwuk coast include tourism on natural and artificial consist of 9 attractions ie panoramic view (score 1839); aircraft museum (score 1797); boat rentals (score 1671); culinary (score 1671); the zoo (score 1653); ATV rentals (score 1548); recreational swimming (score 1473); horse riding (score 1244) and fishing (score 1053). Most visitors got verbal information (88.89 %); with the purpose for recreation (73.33%); frequency of the visit 3-4 times (35.56%); and come with friends (42.22%) with stay duration 1-2 hours (22.22%); and stated that the destination is in cheap cost The visitor satisfaction level are in satisfied category, environmental awareness in the level of very concern. Priorities and alternative of tourism development strategies include develop competency, facilities, community involvement, collaboration, increase environmental awareness, the role of institutions, improve the nature tourism concept, develop educational tourism and waste management as well as hygiene.
LAJU SEDIMENTASI PADA KARANG MASSIVE DAN KARANG BERCABANG DI PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA Rahmitha, Inesa Ayuniza; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.991 KB)

Abstract

Pulau panjang merupakan kawasan perairan laut di utara Kota Jepara. Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang terdapat di wilayah pantai daerah tropis. Terumbu karang memiliki berbagai macam bentuk morfologi yaitu tipe bercabang, massive, kerak, meja, daun, serta jamur. Laju sedimentasi diduga berbeda pada dua bentuk morfologi karang yaitu karang massive dan bercabang. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengambilan data penutupan karang menggunakan metode Line Transect. Sedimen dalam pengukuran laju sedimentasi diambil menggunakan sediment trap yang diletakkan masing-masing pada karang tersebut selama 14 hari. Terdapat 3 genera karang massive yang ditemukan di lokasi penelitian yaitu genus Goniastrea, Favites dan Goniopora sementara pada karang bercabang adalah genus Porites dan Acropora. Nilai presentase penutupan karang hidup dari karang massive yaitu 36,83% dan karang bercabang 46,84%. Laju sedimentasi pada karang massive dan karang bercabang di perairan Pulau Panjang, Jepara yaitu antara 0,54 – 2,78 mg/cm3/hari pada karang massive sedangkan pada karang bercabang antara 0,43 – 1,25 mg/cm3/hari. Laju sedimentasi pada dua tipe karang menunjukkan perbedaan dimana laju sedimentasi pada karang massive lebih tinggi dibandingkan dengan karang bercabang. Panjang island is an island that located in the north of Jepara city. Coral reefs is one of teh ecosystem in the coastal area in the tropical region. Coral reefs has various morphology type such as branching, massive, encrusting, tabulate, foliose and mushroom. Sedimentation rate are suppossed to be different in two coral morphology. The method of this study is descriptive method. The method of data collection is Line Transect. Sediment in sedimentation rate measurement, taken by sediment trap that placed in those coral types for 14 days. There are 3 genera coral founded in the study site were Goniastrea, Favites and Goniopora genus from massive coral then Porites and Acropora genus from branching coral. The coral nappe of massive coral is 36,83% whereas branching coral is 46,84%. Sedimentation rate in Panjang island waters are 0,54 – 2,78 mg/cm3/day in massive coral then branching coral are 0,43 – 1,25 mg/cm3/day. Sedimentation rate between two types coral shows the difference, where the sedimentation rate in the massive coral are higher than in the branching coral.
KELIMPAHAN HEWAN MAKROBENTOS PADA DUA UMUR TANAM Rhizophora sp. DI KELURAHAN MANGUNHARJO, SEMARANG Kusumaningsari, Sandra Devita; Hendrarto, Boedi; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.913 KB)

Abstract

Mengingat pentingnya fungsi hutan mangrove dalam penyediaan habitat beragam jenis biota yang berasosiasi didalamnya, maka masalah kerusakan hutan mangrove yang terjadi perlu diatasi dengan upaya pengelolaan seperti melakukan kegiatan penanaman kembali hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan hewan makrobentos serta mengetahui pengaruh perbedaan dua umur tanam Rhizophora sp. terhadap kelimpahan hewan makrobentos di Mangunharjo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bersifat studi kasus sedangkan pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Langkah pertama yaitu menentukan lokasi sampling dimana stasiun A yaitu Rhizophora sp. umur 3 bulan dan stasiun B yaitu Rhizophora sp. umur 12 bulan. Setiap stasiun ditentukan 3 titik sampling dimana tiap titik sampling dilakukan 3 kali ulangan. Pengambilan sampel hewan makrobentos pada setiap titik sampling digunakan pipa paralon berdiameter 10 cm dengan cara menekannya ke dalam substrat sampai kedalaman 30 cm. Sampel yang diperoleh dibawa ke laboratorium kemudian diidentifikasi dengan menggunakan buku identifikasi dari FAO serta dilakukan checklist. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2014, di Kelurahan Mangunharjo, Semarang. Hasil penelitian ini ditemukan sepuluh genera dari dua stasiun yaitu Littorina, Natica, Melanoides, Telescopium, Cassidula, Anadara, Nereis, Capitella, Uca dan Sesarma. Kelimpahan individu hewan makrobentos yang terdapat pada stasiun A sebanyak 1250 Ind/m3 dan stasiun B sebanyak 2450 Ind/m3. Indeks keanekaragaman (H’) pada stasiun A sebesar 1,15 dan stasiun B sebesar 1,46. Indeks keseragaman (e) pada stasiun A adalah 0,60 dan stasiun B adalah 0,67. Hasil analisa menggunakan uji Chi-Square menunjukkan bahwa perbedaan dua umur tanam Rhizophora sp. berpengaruh terhadap kelimpahan masing-masing spesies makrobentos. Given the importance of the function of mangrove forests in the provision of diverse habitat types associated biota in it, then the problem of destruction of mangrove forests that occur need to be addressed by management efforts such as conducting replanting mangrove forests. This study aimed to determine the diversity and abundance of animals and determine the effect of age differences in the two planting Rhizophora sp. against animal abundance makrobentos in Mangunharjo.The method used in this research is descriptive method of case studies while sampling using purposive sampling method. The first step is determining the location of sampling where station A is Rhizophora sp. 3 months of age and station B is Rhizophora sp. the age of 12 months. At each station is determined three sampling points where each point of sampling performed 3 repetitions. Macrobenthic animals sampling at each sampling point used the pipe diameter of 10 cm by pushing it into the substrate to a depth of 30 cm. The samples obtained were taken to the laboratory and then identified using identification book from FAO and do checklist. This study was conducted in May 2014, in the village Mangunharjo, Semarang. The results obtained in this study were found of ten genera at two stations are Littorina, Natica, Melanoides, Telescopium, Cassidula, Anadara, Nereis, Capitella, Uca and Sesarma. Macrobenthic abundance of individual animals that are on station A 1250 Ind/m3 and station B as much as 2450 Ind/m3. Diversity index (H') at station A and station B at 1,15 by 1,46. Uniformity index (e) at station A and station B is 0,60 is 0,67. Chi-Square test showed that the difference in the two age planting Rhizophora sp. makrobentos effect on frequency of occurence.
PERBANDINGAN NILAI HUE PADA BEBERAPA JENIS KARANG BERDASARKAN STATUS PENUTUPANNYA DI PULAU KARIMUNJAWA Larosa, Erick Setiawan; Purnomo, Pujiono Wahyu; Subiyanto, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.914 KB)

Abstract

Terumbu karang merupakan Ekosistem pantai yang produktif dan kaya akan keanekaragaman hayati. Karimunjawa merupakan suatu kepulauan dengan berbagai ekosistem seperti mangrove, lamun dan terumbu karang. Daerah tersebut merupakan kawasan konservasi, salah satunya adalah ekosistem terumbu karang. Untuk memantau kondisi terumbu karang, Selain menghitung penutupan karang, dapat juga dilakukan dengan menghitung nilai hue. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan nilai hue pada beberapa jenis karang berdasarkan status penutupannya dan mengetahui hubungan nilai hue antar kedalaman pada berberapa jenis karang. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2014 di pulau Karimunjawa. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling dengan deskriptif analitis sebagai desain penelitiannya. Desain ini bertujuan untuk mendeskripsikan penutupan karang dengan nilai hue beserta perameter kualitas air pada dua kedalaman berbeda di tiga stasiun (Nyamplungan, Batu Topeng dan Tanjung Gelam). Analisis perbedaan nilai hue menggunakan uji varian dan uji beda nyata terkecil. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa nilai hue pada beberapa jenis karang menunjukkan adanya perbedaan. Dimana nilai hue dari Porites lobata sebesar 39 0 - 44 0, Acropora formosa sebesar 53 0 - 68 0 dan Acropora palifera sebesar 40 0 - 57 0. Perbedaan tersebut dikarenakan adanya perbedaan  warna pada setiap jenis  karang. Selain itu, nilai hue dari beberapa jenis karang di kedalaman berbeda juga menunjukan adanya perbedaan. Dimana nilai hue porites lobata pada kedalaman pertama di  stasiun I sebesar 39,6 0, stasiun II sebesar 47,2 0 dan sebesar III sebesar 35,8 0, sedangkan pada kedalaman kedua di stasiun I sebesar 41,6 0, stasiun II sebesar 530 dan stasiun III sebesar 55 0. Perbedaan tersebut dikarenakan nilai TSS yang lebih tinggi di kedalaman kedua dibandingkan dengan kedalaman pertama. Nilai hue pada beberapa jenis karang tidak memiliki hubungan dengan nilai penutupan karang. Nilai hue cenderung lebih tinggi pada kedalaman kedua dibandingkan pada kedalaman pertama. Coral reefs are the ecosystem of shore that are productive and rich of biodiversity. Karimunjawa is an archipelago with having various ecosystem such as mangrove, sea grass and coral reefs. That area is a conserved area, one of them is the ecosystem of coral reefs. To monitoring the condition of coral reefs, beside counting the coral cover, it can be also done by counting hue value. The purpose of this research was to compare hue value of some coral species by covers status, and to determine the relationship of hue value with depth at some coral species. This research conducted in November 2014 at the island of Karimunjawa. The method used in this research was purposive sampling with descriptive analitycal as research design. This design purposed to describe coral covers with the hue value along with the parameters of water quality at two different depths of three stations (Nyamplungan, Batu Topeng and Tanjung Gelam). Analysis for differences of hue values used variant test and least significant difference test. The research result showed that there were significan defferent of hue value among coral reef species. Where hue value of Porites lobata at 39 0 - 44 0, Acropora formosa at 53 0 - 68 0 and Acropora palifera at 40 0 - 57 0. It was caused by defference of color in every coral species. Moreover, hue value of some coral species at defferent depth also showed that there is a defference, where hue value of Porites lobata in the first depth at station I at 39,6 0, station II at 47,2 0 and station III at 35,8 0, whereas in the second depth at station I at 41,6 0, station II at 530 and station III at 55 0. It was caused by TSS value which is higher in the first depth than the second depth. Hue values of some coral species did not have the relationship with coral cover. Hue value at second depth was higher than first depth.

Page 1 of 2 | Total Record : 14