cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 38 Documents
Search results for , issue "Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014" : 38 Documents clear
SUBTITUSI PAKAN SEGAR DENGAN PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAKN KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) Rahadiyani, Mega; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.679 KB)

Abstract

Pakan merupakan unsur terpenting dalam menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting bakau. Pakan buatan sangat diperlukan terutama pada budidaya secara intensif yang membutuhkan pakan buatan sebagai sumber energi utama, sedangkan pada saat ini pembudidaya kepiting bakau (S. paramamosain) masih menggunakan pakan segar yaitu berupa ikan rucah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan persentase terbaik dalam subsitusi pakan segar dengan pakan buatan  terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau di Desa Tapak kecamatan Tugu, Semarang pada Januari – Maret 2014Hewan uji yang digunakan adalah Kepiting Bakau (S. paramamosain) dengan ukuran 122,5±1,5 g. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 kali ulangan yaitu perlakuan A (0% pakan buatan dan 100% pakan segar), B (25% pakan buatan dan 75% pakan segar), C (50% pakan buatan dan 50% pakan segar), D ( 75% pakan buatan dan 25% pakan segar) dan E (100% pakan buatan dan 0% pakan segar).Hasil penelitian menunjukan bahwa subtitusi pakan segar dengan pakan buatan terdapat pengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kelulushidupan kepiting bakau (S. paramamosain). Perlakuan D (75% pakan buatan dan 25% pakan segar) memiliki hasil tertinggi dengan nilai pertumbuhan bobot mutlak sebesar 18,50±2,62 g. Nilai kelulushidupan kepiting bakau (S. paramamosain) berkisar antara 66,67-100%. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak dan beberapa parameter kualitas air terdapat pada batas minimum. Feeds is constitutes primal element in prop growth and survival rate of mud crabs. Indispensable artificial feeds especially on treatmenting intensively which need brand feeds as source of main energy, meanwhile for the moment mud crabs ( S. paramamosain ) still utilize fresh feeds which is as fish.  This research intent to know influence and best percentage in subtituation fresh feeds with feeds artificialing to growth and survival rate of mud crabs at Desa Tapak kecamatan Tugu, on January – March 2014.Animal tests that is utilized is mud crabs ( S. paramamosain ) with measure 122,5±1,5 g. This research did by method experimentaling to utilize fledged random design (RAL) with 3 time replicate which is treatment A (0% artificial feeds and 100% fresh feeds), B (25% artificial feeds and 75% fresh feeds), C (50% artificial feeds and 50% fresh feeds), D.( 75% artificial feeds and 25% fresh feeds) and e (100% artificial feeds and 0% fresh feeds).The result showed that subtitusi of fresh feeds with artificial feeds to be gotten reality influence (P<0,05) to growth and not significant (P>0,05) to survival rate of mud crabs ( S. paramamosain ). Treatment D (75% artificial feeds and 25% fresh feeds) having supreme result with appreciative absolute weight growth as big as 18,50±2,62 g. The survival rate of mud crab (S. paramamosain) ranged from 66.67 to 100.00%. Water quality on preserve media exists on gyration that reasonably and some water quality parameter exists on minimum bounds. 
AGENSIA PENYEBAB VIBRIOSIS IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) PADA KOLAM BEKAS TAMBAK UDANG Indrarini, Dani; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.383 KB)

Abstract

Tingginya permintaan pasar terhadap ikan lele menyebabkan pembudidaya bekerja keras untuk meningkatkan hasil produksi melalui upaya budidaya intensif dalam pemanfaatan lahan bekas tambak. Seiring dengan adanya pemanfaatan lahan bekas tambak yang memiliki kandungan salinitas rendah, maka dimungkinkan untuk terdeteksinya bakteri genus Vibrio. Vibriosis merupakan penyakit bakterial yang sangat merugikan usaha budidaya ikan karena dalam waktu yang sangat singkat dapat menimbulkan tingkat kematian yang tinggi. Metode yang digunakan adalah metode eksploratif. Ikan sampel diambil dari Desa Bulumanis Kabupaten Pati dan Desa Desa Wonosari Kabupaten Demak sebanyak 10 ekor yang diduga terserang penyakit bakteri. Isolasi bakteri menggunakan media TCBS. Organ yang diisolasi yaitu luka – luka pada permukaan tubuh, hati, dan ginjal ikan lele. Hasil isolasi diperoleh 23 isolat lalu diseleksi berdasarkan morfologi koloni hingga diperoleh 5 isolat (LPL14, LDL8, LPG10, LPL4, dan LDH1) untuk uji postulat koch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis ikan lele yang terserang Vibriosis adalah luka kemerahan/borok (ulcer) pada permukaan tubuh, hemoragi (luka kemerahan), perut berisi cairan kuning dan sirip gripis yang disertai luka kemerahan. Identifikasi bakteri dilanjutkan dengan uji biokimia. Agensia penyebab Vibriosis ikan lele pada kolam bersalinitas rendah adalah bakteri genus Vibrio  (LPL 14, LDL 8, dan LPG 10), Vibrio vulnificus (LDH 1), dan Vibrio harveyi (LPL4). Pengamatan histopatologi diperoleh bahwa terjadi kerusakan pada organ hati berupa kelainan nekrosis, degenerasi vakuola, melanomakrofag, dan kongesti. High market demand of catfish causes an increase of the farmer effort to increase the production by extensification using unproductive brackish pond area. In a row of using a brackish pond area which has a low salinity, consequently Vibriosis are detected in the pond culture. Vibriosis is a bacterial diseases that can causes loss in aquaculture at a short time can lead a high mortality rate. Research method used explorative method. 10 samples of fish were taken from Bulumanis village, Pati regency and Wonosari village, Demak regencies which were potentially infected by Vibrio. Isolation of bacteria were done in TCBS medium. Bacterial isolates were collected from fish lesion on the body surface, liver, and kidney of catfish. Isolation were able to gained 23 isolates and then 5 isolates (LPL14, LDL8, LPG10, LPL4, and LDH1) were selected based on colony morphology to do postulates koch’s test. The results of this research showed that the clinical signs of catfish infected by Vibrio were redness lesions/ulcer on the body surface, hemorrhagic, fluid inside stomach, and fin eroded with redness wound. Bacterial identification through biochemical test revealed that the causative agent of catfish disease at brackish pond area were bacteria of the genus Vibrio (LPL 14, LDL 8, and LPG 10), Vibrio vulnificus (LDH 1), and Vibrio harveyi (LPL4). Observation of histopathology found necrosis, vacuolar degeneration, melanomacrofage, and congestion in the liver.
EFIKASI PERENDAMAN EKSTRAK SAMBILOTO (Andrographis paniculata Ness) DENGAN SALINITAS BERBEDA DAN PENGARUHNYA PADA KELULUSHIDUPAN SERTA INDEKS FAGOSITOSIS IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIINFEKSI Aeromonas hydrophila Darma, Rahmi Gusti; Sarjito, -; Haditomo, Alfabetian Harjuno Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.202 KB)

Abstract

Ikan nila (O. niloticus) merupakan ikan air tawar yang dapat hidup pada air bersalinitas. Salinitas dipengaruhi oleh reaksi osmotik dalam tubuh ikan tetapi kemampuan yang dimilliki ikan nila untuk mempertahankan salinitas berbeda tidak mampu melindungi dari serangan bakteri. Upaya yang dilakukan untuk mencegah serangan bakteri A. hydrophila salah satunya menggunakan bahan alami yaitu ekstrak sambiloto (A. paniculata Ness) yang dimasukan pada media salinitas berbeda. Penelitian ini bertujuan mengetahui konsentrasi salinitas yang paling efektif untuk menyerap ekstrak sambiloto dan pengaruh ekstrak sambiloto terhadap kelulushidupan ikan nila yang diinfeksi A.hydrophila. Ikan nila yang digunakan sebanyak 120 ekor dengan ukuran 7,5±0,03 cm. Perendaman ikan dengan salinitas 0, 5, 10, dan 15 ppt. Dosis ekstrak yang digunakan adalah 100 ppm dalam 5 L air dengan 3 kali ulangan dan direndam selama 5 jam. Setelah itu ikan disuntik bakteri A. hydrophila dengan kepadatan 108 CFU/ml. Nilai rata-rata kelulushidupan tertinggi hingga terendah berturut-turut yaitu 81,14% (perlakuan C), 78,93% (perlakuan D), 72,29% (perlakuan B) dan 54,70% (perlakuan A). Perendaman ikan dengan salinitas berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan ikan nila yang diinfeksi A. hydrophila. Perendaman ikan pada salinitas 10 ppt yang ditambahkan ekstrak sambiltoto merupakan perendaman terbaik yang memberi pengaruh pada indeks fagositosis. Diketahui nilai tertinggi indeks fagositosis perlakuan C (70,33%).  Tilapia (O. niloticus) is one of fish fresh water can live in the salinity. Salinity affected by osmotic reaction in fish body but the ability in tilapia for maintain by different salinity not able to protect bacterial desease. Efforts are being made to prevent bacterial attack one A. hydrophila using natural ingredients that extracted from sambiloto (A. paniculata Ness) and put into in different salinity media. The aim of this study to determine the effective concentration of salinity to absorb the effect of the extract of sambiloto and effect of sambiloto extract on survival of tilapia which has infected by A.hydrophila. 120 Tilapia this research used with lenght of 7.5 ± 0.03 cm. The treatment used with a salinity of 0, 5, 10, and 15 ppt . With extract dose 100 ppm in 5 L of water with 3 replications and deeping for 5 hours . After that, the  fishes were injected with bacteria A. Hydrophila in density of 108 CFU / ml . The average value of the highest survival rate to the lowest row is 81.14 % ( treatment C ), 78.93 % ( treatment D ), 72.29 %  ( treatment B ) and 54.70 % ( treatment A ) . The deeping treatment in different salinity did not significantly affect survival of tilapia which infected by A. hydrophila . Soaking the fish at 10 ppt salinity with sambiltoto extract gives the best immersion effect on phagocytosis index. It is discovered that the highest value of phagocytosis index treatment C ( 70.33 % ) .
PENGARUH PENAMBAHAN KOTORAN AYAM, SILASE IKAN RUCAH DAN TEPUNG TAPIOKA DALAM MEDIA KULTUR TERHADAP BIOMASSA, POPULASI DAN KANDUNGAN NUTRISI CACING SUTERA (Tubifex sp.) Masrurotun, -; Suminto, -; Hutabarat, Johannes
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.082 KB)

Abstract

Cacing sutera adalah salah satu jenis pakan hidup yang disenangi karena mempunyai kandungan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan larva ikan. Media hidup cacing sutera terdiri dari lumpur dan bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan media kultur dengan fermentasi kotoran ayam, silase ikan rucah dan tepung tapioka terhadap biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera.  Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari- Maret 2014 bertempat di BBI Siwarak, Ungaran. Materi yang digunakan adalah cacing sutera berukuran 1,0-1,3. Jumlah cacing yang ditebar 10 gram untuk luasan 0,065 m2 dan debit air 0,35 l/menit. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan A (kotoran ayam 100%), B (kotoran ayam 50%, silase ikan rucah 45%, dan tepung tapioka 5%), C (kotoran ayam 50%, silase ikan rucah 40%, dan tepung tapioka 10%), dan D (kotoran ayam 50%, silase ikan rucah 35%, dan tepung tapioka 15%).Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan pupuk kotoran ayam, silase ikan rucah dan tepung tapioka memberikan pengaruh nyata (p<0,05) terhadap biomassa, populasi, dan nutrisi cacing sutera. Nilai biomassa, populasi, nutrisi tertinggi terdapat pada perlakuan D sebesar 79,42 grm/0,065 m2, 29.808,67 ind/0,065 m2 dan 44,33%. Berdasarkan hasil, dapat disimpulkan bahwa kombinasi kotoran ayam, ikan silase dan tepung tapioka dapat meningkatkan produksi biomassa, populasi dan nutrisi dari cacing sutra (Tubifex sp.). Tubifex sp. is one of the type of natural food organisms that can be cultured in mud or organic materials. Tubifex sp has good nutrition for growth of fish larvae. The purpose of this research are to observe the various effect  of the addition in culture medium with different combination of chicken manure, fish silage, tapioca flour on to biomassa, population and silk worm nutrition content. The research conducted during Januari - Maret 2014 in BBI Siwarak Ungaran. The silk worm density used was 10 grm/0,065m2 with length 1,0-1,3±0,0 and water debit 0,35 L/menit. The research used Completely Randomized Design (CDR) with of 4 treatments and 3 replications. Those treatments were A (100% chicken manure); B (50% chicken manure, 45% silage fish and 5% tapioca); C (50% chicken manure, 40% silage fish, and 10% tapioca); and D (50% chicken manure, 35% silage fish, and 15% tapioca).The results showed that the addition of culture medium of Chicken manure, Silage  fish and Tapioca flour have significanly effect (p<0,05) on the biomass, population and nutrition of protein content in the silk worm. Were the biomassa, population, and protein content of Tubifex sp. were attained value of 79,42 grm/0,065 m2 , 29.808,67 individual/0.065 m2, and 44,33 %, respectively. Based on the results, it can be concluded that combination of chicken manure, silage fish and tapioca can increased the biomass production, population and nutrition content of silk worm.
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK PEPAYA DAN EKSTRAK NANAS TERHADAP TINGKAT PEMANFAATAN PROTEIN PAKAN DAN PERTUMBUHAN LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus) Rahmawan, Haris; Subandiyono, -; Arini, Endang
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.773 KB)

Abstract

Pemberian ekstrak pepaya dan ekstrak nanas pada pakan buatan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan protein pakan dan pertumbuhan lobster air tawar.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan ekstrak pepaya dan nanas terhadap tingkat pemanfaatan protein pakan serta keterkaitan dengan nilai efisiensi pemanfaatan pakan, protein efisiensi rasio, laju pertumbuhan relatif, dan kelulushidupan.  Serta mengetahui dosis terbaik dari penambahan kombinasi ekstrak pepaya dan ekstrak nanas terhadap pertumbuhan lobster air tawar.  Lobster uji yang digunakan adalah dengan ukuran 1,5-2 cm dengan kepadatan 100 lobster/m3.  Frekuensi pemberian pakan masing-masing 2 kali sehari, menggunakan metode at satiation.  Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan yaitu pakan buatan dengan penambahan ekstrak pepaya dan nanas dengan perbandingan sebesar 100:0; 75:25; 50:50; 25:75; 0:100% untuk perlakuan A, B, C, D dan E.  Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan dengan menggunakan perbandingan 50:50% treatment C memberikan pengaruh tertinggi (P<0,05) terhadap nilai EPP, PER dan RGR yaitu masing-masing sebesar EPP 45,91±4,86, PER 1,15±0,12 dan RGR 0,79±0,06 dan kelulushidupan (SR) memberikan pengaruh yang sama (P>0,05) yaitu SR 95,83%.  Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak pepaya dan nanas dengan perbandingan yang sama dalam pakan mampu meningkatkan nilai EPP, PER dan RGR pada lobster air tawar.  Papaya and pineapple extracts on the artificial diets freshwater lobster (Cherax quadricarinatus) were expected to be able to improve the dietary protein utilization and growth of lobster.  This study aimed to determine the effects of various combinations of the papaya and pineapple exstracts to utilization of dietary protein, growth, and survivors of the lobster.  Determine the best dose of the addition of a combination of papaya and pineapple extracts on the growth of lobster.  The trial lobster used was 1,5-2 cm with its density of 100 lobster/m3.  The feed frequency applied was 2 times a day and was at satiation method.  This study used a completely randomized design with 5 treatments and 3 replicates.  They were practical diets with the ratio of papaya and pineapple extracts addition in the diet 100:0; 75:25; 50:50; 25:75; 0:100% for treatment A, B, C, D and E respectively.  The data showed that the trial diet with ratio of 50:50%, that was treatment C, resulted on the highest effect (P<0,05) on the values of EPP (e.g. 45,91±4,86), PER (e.g. 1,15±0,12) and RGR (e.g. 0,79±0,06). Survival rate (SR) resulted on similar effect (P>0,05), that were SR 95,83%.  It was concluded that the addition of extract papaya and pineapple with similar ratio onto feed increased the values of EPP, PER and RGR of the freshwater lobster. 
PENGGANTIAN TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG KEPALA LELE DALAM PAKAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN JUVENIL UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) Prawira, Mohammad Aditya; Sudaryono, Agung; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.488 KB)

Abstract

Industri pengolahan ikan lele dapat menghasilkan produk hasil samping  (kepala lele) yang dapat dibuat tepung sebagai pengganti bahan baku protein utama dalam pakan.  Tepung kepala lele digunakan untuk menggantikan tepungikan dalam pembuatan pakan buatan untuk juvenil udang vaname  (Litopenaeus vannamei).  Penelitian ini dirancang untuk mengetahui pengaruh penggantian tepung ikan dengan tepung kepala lele dalam pakan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan juvenil udang vaname dalam skala laboratorium. Perlakuan yang diujikan adalah penggantian tepung ikan dengan tepung kepala lele sebesar 0% (A), 25% (B), 50% (C), 75% (D) dan 100% (E). Juvenil udang vaname  (2,47±0,07g) dipelihara dengan kepadatan 10 ekor perwadah (10 L) dan diberi pakan buatan tiga kali sehari pada pagi (07.00), siang (12.00) dan sore hari (17.00) secara ad libitum mengikuti kebutuhan jumlah pakannya. Juvenil udang vaname dipelihara selama 42 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung kepala lele mampu menggantikan tepung ikan hingga 50% dan tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap efisiensi pemanfaatan pakan (25,59-29,64), protein efisiensi rasio (0,89-0,98) dan laju pertumbuhan spesifik (1,69-1,85%bobot/hari) juvenil udang vaname. Penggantian tepung ikan hingga 100% dengan tepung kepala lele tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap kelulushidupan juvenil udang vaname. Penelitian ini membuktikan bahwa tepung kepala lele dapat menggantikan tepung ikan dalam ransum pakan buatan, sampai dengan penggantian 50% tanpa mempengaruhi efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan juvenil udang vaname. Catfish processing industry can produce byproducts (catfish) which can be made of flour as a substitute for primary raw materials in feed protein. Flour catfish heads used to replace fish meal in the manufacture of artificial diets for juvenil shrimp vaname (Litopenaeus vannamei). This study was designed to determine the effect of flour replacement of fish meal with catfish heads in the feed efficiency of feed utilization and growth of juvenil shrimp vaname on a laboratory scale. The treatment being tested is the replacement of fish meal with catfish heads flour at 0% (A), 25% (B), 50% (C), 75% (D) and 100% (E). Vaname juvenil shrimp (2.47 ± 0.07 g) maintained at densities of 10 individuals per container (10 L) and artificial fed three times daily in the morning (07:00), lunch (12:00) and afternoon (17:00) ad libitum follow amount of feed needs. Vaname juvenil shrimp maintained for 42 days. The results showed that the flour could replace the head catfish up to 50% fish meal had no effect (P> 0.05) on feed utilization efficiency (25.59 to 29.64), protein efficiency ratio (0.89 to 0.98) and specific growth rate (1.69 to 1.85% / day) of juvenil shrimp vaname. Replacement of fish meal up to 100% with flour head catfish no effect (P> 0.05) on the survival of juvenil shrimp vaname. This study proves that the flour can replace the head catfish fish meal made in feed rations, up to the replacement of 50% without affecting the efficiency of feed utilization and growth of juvenile shrimp vaname.
PENGARUH PEMBERIAN REKOMBINAN HORMON PERTUMBUHAN (rGH) MELALUI METODE PERENDAMAN DENGAN LAMA WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN LELE VARIETAS SANGKURIANG Triwinarso, Wisnu Hadi; Basuki, Fajar; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.4 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pertumbuhan benih ikan lele sangkuriang yang diberi rekombinan hormon pertumbuhan dosis 2mg/L dengan metode perendaman dengan lama waktu yang berbeda dan mengkaji waktu yang optimal benih ikan lele sangkuriang yang diberi rekombinan hormon pertumbuhan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan lele sangkuriang. Penelitian ini dilaksanakan di Satker PBIAT Ngrajek, Magelang, pada bulan Agustus-November 2013. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan perendaman dengan larutan rekombinan hormon pertumbuhan 2mg/L perlakuan A selama 0 menit, perlakuan B 30 menit, perlakuan C 60 menit, dan perlakuan D 90 menit. rGH yang digunakan berasal dari ikan kerapu kertang (ElrGH). Hasil pengamatan pertumbuhan bobot spesifik perlakuan A sebesar 5,642±0,025 %/hari, perlakuan B sebesar 6,510±0,055 %/hari, perlakuan C sebesar 6,358±0,108 %/hari, perlakuan D sebesar 6,240±0,179 %/hari. Pengukuran panjang mutlak didapat hasil perlakuan A mendapatkan hasil 4,18±0,07 cm, pelakuan B 5,35 ± 0,03 cm, perlakuan C 5,30 ± 0,09 cm, dan perlakuan D 5,25 ± 0,23 cm. Nilai konversi pakan pada perlakuan A 0,751±0,008, perlakuan B 0,457±0,022, perlakuan C 0,514±0,010, perlakuan D 0,543±0,008. SR yang didapat selama pemeliharaan pada perlakuan A 82,67±1,53%, Perlakuan B 79,00±3,00% , perlakuan C 75,33±2,52%, perlakuan D 73,00±1,00%. Pemberian rekombinan hormon pertumbuhan melalui metode perendaman pada ikan lele sangkuriang dengan lama waktu 30 menit dapat meningkatkan pertumbuhan bobot spesifik, pertumbuhan panjang mutlak, dan kelulushidupan, serta menurunkan rasio konversi pakan. Pemberian rekombinan hormon pertumbuhan dapat meningkatkan SGR sebesar 15,90%, panjang mutlak 28%, kelulushidupan 13,25%, dan menurunkan FCR 64,33% The purpose of this study was to assess the effect of seed growth sangkuriang catfish fed with recombinant growth hormone dose 2mg / L through immersion method with different time and assess the optimal time sangkuriang seed catfish fed recombinant growth hormone on growth and seed survival rate catfish sangkuriang. This study was conducted in Unit Freshwater Fish Hatchery Center (SATKER PBIAT) Ngrajek, Magelang, August-November 2013. Research using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. Immersion treatment with recombinant growth hormone solution of 2 mg / L treatment A for 0 min, 30 min treatment B, treatment of C 60 mins, and treatment D 90 minutes. The rGH used from giant grouper fish (rElGH). The observation of SGR treatment of A 5,642±0,025 %/day, treatment of B 6,510±0,055 %/day, treatment of C 6,358±0,108 %/day, treatment of D 6,240±0,179 %/day. The absolute length measurements that showed growth optimum results at A 4,18±0,07 cm, treatment of B 5,35 ± 0,03 cm, treatment of C 5,30 ± 0,09 cm, and treatment of D 5,25 ± 0,23 cm. Feed conversion value in treatment A 0,751±0,008, treatment B 0,457±0,022, treatment C 0,514±0,010, treatment D 0,543±0,008. SR obtained during the maintenance treatment A 82,67±1,53%, treatment B 79,00±3,00% , treatment C 75,33±2,52%, treatment D 73,00±1,00%. Administration of recombinant growth hormone through immersion method at catfish sangkuriang long 30 minutes can increase the growth of a specific weight, length of absolute growth, and survival, as well as lower feed conversion ratio. Administration of recombinant growth hormone can increase by 15.90% SGR, the absolute length of 28%, the survival of 13.25%, and 64.33% lower FCR
PENGARUH VITAMIN C DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP TINGKAT KONSUMSI PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) Gunawan, Ary Sarining Airmawati; Subandiyono, -; Pinandoyo, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.468 KB)

Abstract

Fungsi makanan bagi ikan adalah sebagai sumber energi yang diperlukan dalam proses fisiologi ikan. Oleh karena itu, makanan hendaknya mengandung vitamin, sebagaimana juga protein, lemak dan karbohidrat. Vitamin diperlukan untuk proses metabolisme dalam tubuh,  seperti kolagen yang berperan dalam membentuk tulang rawan untuk memacu pertumbuhan.   Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh Vitamin C dalam pakan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan ikan nila merah (O. niloticus).  Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL)  yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Ikan diberi pakan buatan dengan kandungan vitamin C berbeda (0,0; 0,05; 0,10; dan 0,15%).  Variabel yang diamati meliputi laju pertumbuhan relatif, panjang total relatif, tingkat konsumsi pakan, efisiensi pemanfaatan pakan, protein efisiensi rasio, dan kelulushidupan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian vitamin C sebesar  1,0% menghasilkan laju pertumbuhan relatif sebesar 2.07% per hari, panjang total relatif sebesar 0,53%, tingkat konsumsi pakan sebesar 31,88g, efisiensi pemanfaatan pakan sebesar 73,88%, protein efisiensi rasio sebesar 2,46% dan kelulushidupan sebesar 100%.  Hasil penelitian ini dapat simpulkan bahwa pemberian vitamin C (1,0%) pakan mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan serta pertumbuhan ikan nila merah (O.niloticus). Diet was required as an energy source in physiological process of fish body. Therefore, diet should contain vitamin as well as proteins, fats, and carbohydrates. Vitamin was required in metabolic process to form collagen and then cartilage, to support the fish growth.This research was conducted to study the effect of vitamin C in practical diet on the diet consumption efficiency and tilapia growth. The experiment method used in this research was completely randomized design with 4 treatments and 3 replicates. Fishes were fed with practical diet contained different dietary vitamin C (0,0; 0,05; 0,10; and 0,15%). The variables observed were relative growth rate, relative total length, diet consumption rate, diet consumption efficiency, protein efficiency ratio, and survival rate of tilapia (O. niloticus). The data showed that the addition of vitamin C of 1% (treatment C) resulted on the best value on relative growth rate i.e. 2,07%/ day, relative total length i.e. 0,53%, diet consumption rate i.e. 31,88 g, diet consumption efficiency i.e. 73,88%, protein efficiency ratio i.e. 2,46%  and tilapia survival rate of 100%. It was suggested that the dietary vitamin C of 0,10% in the diet could be applied in tilapia culture to  increase diet consumption efficiency and tilapia growth.

Page 4 of 4 | Total Record : 38