cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015" : 11 Documents clear
PENAMBAHAN SERBUK DAUN BINAHONG (Anredera cardivolia) PADA PAKAN TERHADAP RESPON IMUN, KELULUSHIDUPAN DAN STATUS KESEHATAN UDANG WINDU (Penaeus monodon) YANG DIINFEKSI Vibrio harveyi Utomo, Agil Setya; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.383 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan serbuk daun binahong (Anredera cardivolia) pada pakan terhadap respon imun, kelulushidupan dan status kesehatan udang windu (P. monodon) yang diinfeksi V. harveyi. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen mengunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Udang uji yang digunakan berukuran berat 9 g. Udang dipelihara dalam media bervolume 10 L pada akuarium yang berukuran 30 cm x 40 cm x 60 cm. Udang uji dipelihara selama 31 hari, yaitu 7 hari aklimatisasi, 14 hari pemberian pakan perlakuan dan 10 hari paska uji tantang. Uji tantang dilakukan pada hari ke 14 setelah perlakuan. Perlakuan A yaitu dengan konsentrasi binahong sebanyak 0 g/100 g pakan, perlakuan B dengan konsentrasi 4 g/100 g pakan, perlakuan C dengan konsentrasi 8 g/100 g pakan dan perlakuan D dengan konsentrasi 12 g/100 g pakan. Hasil penelitian menunjukan ada pengaruh terhadap respon imun yang ditunjukan dengan bertambahnya jumlah total hemosit (THC) dengan hasil tertinggi ditunjukan oleh perlakuan B yaitu 2.640 x 107 sel/mL pada pemeriksaan hari ke 12 (H4). Peningkatan jumlah total hemosit terbaik ditunjukan oleh perlakuan B sebelum di infeksi V. harveyi. Kelulushidupan tertinggi di tunjukan oleh perlakuan D dengan SR sebesar 83 %. Dapat disimpulkan bahwa konsentrasi terbaik adalah perlakuan B (4 g/100g). The aims of this study are to determine of addition binahong powder A. cardivolia in feed to the immune response, health status and survival rate of tiger prawn (P. monodon) that were infected by V. harveyi. The study was conducted by using the experimental method with completely randomized design (CRD), 4 treatments and 3 replications. The verage weighth of experimental shrimp was 9 g. Shrimp was maintained in aquarium 30 cm x 40 cm x 60 cm with 10 L media with stoking density 8 shrimp per aquarium. Cultivation period was 31 days with 7 day acclimatization, 14 days treatment and 10 days after challenge by V. harveyi. Challenge test performed on day 14 after treatment. The A. cardivolia consentration in each treatment were (A) 0 g/100 g of feed, (B) 4 g/100 g of feed, (C) 8 g/100 g of feed and (D) 12 g /100 g of feed. The results showed that there was an effect of the treatment on immune response that it shown by increasing total hemocytes count number (THC) with highest result shown in treatment B, 2,640.107 cell/mL on 12th(H4) day examination and the higest result in survival was shown in treatment D with 83% survival rate. It can be concluded that the best treatment is B (4 g/100 g).
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK JAHE MERAH (Zingiber officinale var. Rubrum) PADA MEDIA PEMELIHARAAN TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN PERTUMBUHAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) YANG DIINFEKSI BAKTERI Edwardsiella tarda Prastiti, Linuwih Aluh; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.878 KB)

Abstract

Gurami (O. gouramy) adalah salah satu jenis ikan air tawar yang dipilih pembudidaya untuk dipelihara. Namun kendala yang sering dialami dalam membudidayakan kultivan ini adalah serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri E. tarda. Penggunaan antibiotik dalam jangka panjang dapat berdampak negatif, diantaranya dapat menimbulkan resisten terhadap bakteri dan dapat mencemari lingkungan. Penggunaan bahan alami mulai berkembang untuk pengobatan ikan yang terserang penyakit, salah satu bahan alami yang digunakan yakni ekstrak jahe merah (Z.officinale var. Rubrum). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis, pertumbuhan, serta pengaruh perendaman ekstak jahe merah sebagai terhadap kelulushidupan ikan gurami yang diinfeksi bakteri E. tarda. Ikan gurami yang digunakan sebanyak 120 ekor dengan ukuran 7 - 9 cm dan diinfeksi bakteri E. tarda dengan kepadatan 108 CFU/ml secara intramuskular. Perendaman ekstrak jahe merah dilakukan pada hari ke 3 pasca infeksi setelah muncul gejala klinis seperti timbulnya luka (ulcer), pendarahan (haemorhagic), dropsy dan geripis pada ekor, sirip dada dan punggung. Perendaman ekstrak jahe merah berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan gurami yang diinfeksi bakteri E. tarda. Nilai rata – rata kelulushidupan terendah hingga tertinggi berturut – turut yaitu 3,33% (perlakuan A), 26,67% (perlakuan B), 40,00% (perlakuan C) dan 56,67% (perlakuan D). Gourami (O. gouramy) is one of freshwater fish that has choosen as cultured fish by farmers. However, there are problems in culturing this cultivan, one of them is disease caused by E. tarda. Long-term use of antibiotics have a negative impact, which could cause resistance to bacteria and contaminate environment. Red ginger extract (Z. officinale var. Rubrum) as natural ingredients could be used as alternative treatment for this disease. This research aimed to determine clinical sign, growth rate and effect of short bathing of red ginger extract on survival rate of gourami that were infected with E. tarda bacteria. Gourami used were 120 fish with 7 - 9 cm in size and infected with E. tarda with density of 108CFU/ml intramuscularly. Immersion in red ginger extract was conducted on 3rd day post infection after the clinical sign was showed such as ulcer, haemorhage, dropsy, and erosion at caudal, pectoral and dorsal fin. Short bathing in red ginger extract significantly (P <0.05) affected the survival rate of gourami were infected with E. tarda but did not affect growth rate. Average values of the survival rate respectively are 3,33% (treatment A), 26.67% (treatment B), 40.00% (treatment C) and 56.67% (treatment D).
PRODUKSI NAUPLII DAN COPEPODIT Oithona sp. YANG DIKULTUR DENGAN PERBEDAAN DIET MIKROALGA (Chlorella vulgaris, Chaetoceros calcitrans, DAN Isochrysis galbana) Syarifah, Dian Hidayah; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.117 KB)

Abstract

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Oithona sp. dapat digunakan sebagai pakan alami kegiatan budidaya air laut. Nauplii dan copepodit Oithona sp. mempunyai ukuran yang sesuai untuk pakan pertama larva ikan.Perlu dilakukan kajian tentang produksi Oithona sp. agar mencapai maksimal sehingga mampu mencukupi kebutuhan dalam kegiatan budidaya. Kajian 5 diet mikroalga dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap produksi nauplii dan copepodit sekaligus untuk mendapatkan diet dengan hasil terbaik pada kedua stadia tersebut. Penelitian eksperimental laboratoris ini dilakukan di Laboratorium Pakan Hidup Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara dengan rancangan percobaan acak lengkap (RAL) masing-masing 3 pengulangan untuk setiap perlakuan. Perlakuan diet berdasarkan pada dosis 0.01 mg berat kering mikroalga untuk setiap satu individu copepoda. Kelima perlakuan diet untuk kultur Oithona sp. selama 22 hari adalah C. vulgaris (Cv); Cv+I. galbana (Ig) (1:1); Cv+C. calcitrans (Cc) (1:1); Cc+Ig (1:1); dan Cv+CC+Ig (1:1:1). Kultur Oithona sp. dilakukan pada botol kaca vial 50 ml dengan volume air laut 10 ml dan kepadatan awal Oithona sp. stadia dewasa 1 ind.ml-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian diet mikroalga yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) pada produksi nauplii dan copepodit Oithona sp. Kepadatan nauplii (39,83 ± 2,334 ind.ml-1) dan copepodit (12,93 ± 0,170 ind.ml-1) adalah maksimum pada hari ke 22. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa diet Cc+Ig dan Cv+Cc+Ig masing-masing menghasilkan produksi nauplii dan copepodit terbaik. Diet Cc+Ig disarankan sebagai diet untuk pengembangan kultur Oithona sp. selanjutnya. Many research had showed that Oithona sp. could be used as a live food on marine culture activity. Nauplii and copepodit Oithona sp. have the suitable size for the fish fry. A studied about Oithona sp. production must be done to get the maximum production so it can fulfill the need of culture. The studied of 5 microalgal diet purposed to look for the diet effect for nauplii and copepodit production and also to got the best production of both stadia. This experimental laboratoris had done in Live Feed Laboratorium of Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara with Completely Randomized Design (CRD) triplicate for each treatment. Microalgal diet treatment based on 0.01 mg microalgal dry weight for one individu of copepod. That five trathments for 22 days Oithona sp. culture were C. vulgaris (Cv); Cv+ I. galbana (Ig) (1: 1); Cv+ C.calcitrans (Cc) (1:1); Cc+Ig (1:1); and Cv+Cc+Ig (1:1:1). Oithona sp. cultured on 50 ml vial glass bottle with 10 ml seawater and initial density of Oithona sp. adult stage was 1 ind.ml-1. The experimental result showed that the given of different microalgal diet had  significant effect  (P< 0,05) for nauplii and copepodit production of Oithona sp. Density of nauplii (39,83 ± 2,334 ind.ml-1) and copepodit (12,93 ± 0,170 ind.ml-1) were maximum on 22 day of culture respectively. Conclusion based on this experimental result was Cc+Ig and Cv+Cc+Ig diet produced the best result each on nauplii and copepodit density. Cc+Ig diet was suggested as the diet for the next development of Oithona sp. culture.
PENGARUH PROTEIN DAN ENERGI YANG BERBEDA PADA PAKAN BUATAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) Putranti, Gita Paramadina; Subandiyono, -; Pinandoyo, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.535 KB)

Abstract

Ikan  mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu jenis ikan tawar yang bernilai ekonomis penting, ikan ini tergolong ikan omnivora. Protein merupakan kunci yang diperlukan untuk pertumbuhan ikan mas. Pemberian protein yang cukup dalam pakan perlu dilakukan agar pakan tersebut dapat diubah menjadi protein tubuh secara efisien. Kadar protein dan rasio protein terhadap energi pakan harus sesuai dengan kebutuhan ikan agar pakan buatan dapat efisien dan memberikan pertumbuhan yang optimal.Ikan uji yang digunakan adalah ikan mas dengan bobot rata-rata 1,38±0,11 g.ekor-1 dan padat tebar 1 ekor.l-1. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (kadar protein 27%), B (kadar protein 30%), C (kadar protein 33%) dan D (kadar protein 36%) dengan nilai E/P setiap perlakuan sebesar 9 kkal/g protein. Data yang diamati meliputi laju pertumbuhan relatif (RGR), protein efficiency ratio (PER), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), tingkat konsumsi pakan (TKP), kelulushidupan (SR), dan kualitas air.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kadar protein dalam pakan buatan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap RGR, PER dan EPP namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap SR dan TKP. Persentase optimal yang dapat meningkatkan pertumbuhan ikan mas yaitu pakan buatan dengan kadar protein 30% pada pakan buatan mampu menghasilkan 1,87% untuk RGR. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk budidaya ikan mas. Carp (Cyprinus carpio) is one of fresh water fish which have an important economics value, carp is an omnivora. Protein is the key which is needed for growth. Protein enough in fish feed can changed to be body protein eficiently. The stadia and size of fish determined the amount of dietary protein and energy required in diets.The fish samples which were used in this experiment are the seed of the carp which had average of weight, 1.38 ± 0.11 g.fish-1 and stocking density 1 fish.l-1. The study was carried out experimentally by using a completely randomized design (CRD) of 4 treatments and 3 replications. The treatments in this research were treatment A (27% of protein), B (30% of protein), C (33% of protein), and D (36% of protein)with value of E/P is 9 kkal/g protein each treatment. The data observed were relative growth rate (RGR), protein efficiency ratio (PER), efficiency of feed utilization (EPP), feed consumption rate (FCR), survival rate (SR), and water quality.The results showed that the different of protein was significantly (P <0.05) of the RGR, PER and EPP but not significantly different (P> 0.05) to FCR and SR. Optimal percentage that can increase the growth of channel catfish the optimal is 30% of protein in the feed is able to produce 1.87% for RGR. Water quality in the maintenance medium contained in a decent range for  farming carp.
PATOGENISITAS DAN SENSITIVITAS AGENSIA PENYEBAB PENYAKIT BAKTERIAL PADA IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) TERHADAP BERBAGAI MACAM OBAT BEREDAR Yanti, Nuri Nia; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.958 KB)

Abstract

Kebutuhan pangan nasional mengharapkan ketersediaan ikan gurami (Osphronemus gouramy) pada tahun 2015 sebanyak 26,005 ton. Hal ini mendorong para pembudidaya untuk mengoptimalkan hasil produksi ikan gurami. Namun seiring dengan berjalannya kegiatan budidaya, muncul banyak kendala yang dapat menurunkan hasil produksi, salah satunya ialah serangan penyakit bakteri. Untuk menanggulangi penyakit bakteri tersebut dilakukan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan beredar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui agensia penyebab penyakit bakteri yang menginfeksi ikan  gurami, mengetahui sensitivitasnya terhadap tiga macam obat beredar dan gejala klinis ikan gurami pasca penyuntikan bakteri melalui uji patogenisitas. Isolasi dilakukan pada 10 ekor ikan sampel yang berasal dari Banjarnegara pada hati, ginjal, mata dan luka pada media TSA (Tryptone Soy Agar). Dosis obat yang digunakan pada uji sensitivitas sesuai dengan anjuran dalam kemasan, sedangkan kepadatan bakteri yang digunakan pada uji patogenisitas yaitu 108 CFU/ml sebanyak 0,1 ml. Hasil isolasi diperoleh 21 isolat (NF 1, NF 2, NF 3, NF 4, NF 5, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 11, NF 12, NF 13, NF 14, NF 15, NF 16, NF 17, NF 18, NF 20, NF  21, BSJ 6, BSJ 14), kemudian berdasarkan karakter morfologi dilakukan uji sensitivitas 11 isolat terhadap obat uji. Hasil uji sensitivitas isolat NF 1, NF 2, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 11, NF 12, BSJ 6 dan BSJ 14 sensitive terhadap obat C, kecuali NF 16 bersifat resistence. Sedangkan terhadap obat A dan B isolat NF1, NF2, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 12, NF 16 dan BSJ 6 bersifat resistence, kecuali NF 11 bersifat intermediate. Uji biokimia 6 isolat didapatkan bakteri Aeromonas hydrophilla (NF 6 dan NF 8), Enterobacter agglomerans (NF 11 dan BSJ 6), Staphylococcus aureus (NF 16) dan Aeromonas jandaei (BSJ 14), yang kemudian dilakukan uji patogenisitas. Hasil uji patogenisitas ditunjukkan dengan kemunculan gejala klinis berupa borok pada tubuh (A. hydrophilla), tubuh menghitam/gelap (E. agglomerans), exopthalmia/mata menonjol (S. aureus), sedangkan A.jandei tidak ditemukan gejala klinis spesifik. National food’s requirement expect, the availability of gouramy (Osphronemus gouramy), were increased 26.005 ton in 2015. Those requirement encourage fish farmer to optimize gouramy production. In the same time there are many problems that can decrease gouramy production, one of them is a diseases caused by pathogenic bacteria. Treatment, for that usually use artificial medicine that sold in the market. The purpose of this research was to know the causative agents of bacterial disease that infected gouramy and to know bacterial sensitivity to three commercial medicines and to know clinical sign of gouramy that bacteria injection by patogenisity. There were ten moribund fish’s taken from Banjarnegara with target organ were liver, kidney, eye and wound. Bacteria from those organs were isolated on TSA (Tryptone Soy Agar) Media. Medicine dosage for sensitivity as recommended in the package, and bacterial’s density for patogenisity was 108 CFU/mL : 0,1 mL. Isolation of 4 organs revealed. Eleven isolate were selected for sensitivity test out of using twenty one isolates, (NF 1, NF 2, NF 3, NF 4, NF 5, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 11, NF 12, NF 13, NF 14, NF 15, NF 16, NF 17, NF 18, NF 20, NF 21, BSJ 6 dan BSJ 14).  Three commercial medicine A, B, and C, were exposed to those eleven isolates. Sensitivity test revealed that all 11 isolates (NF 1, NF 2, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 11, NF 12, BSJ and BSJ 14) sensitive to medicine C. Only isolate NF 16 was resistence. To medicine A and B, while others resistence. moreover isolates NF 11 was intermediate. Marphology and biochemical test of 6 isolates revealed that there were : Aeromonas hydrophilla (NF 6 and NF 8), Enterobacter agglomerans (NF 11 dan BSJ 6), Staphylococcus aureus (NF 16) and Aeromonas jandaei (BSJ 14). Patogenisity test confirmed 6 bacteria were pathogenisc with clinical signs as follows : ulcer on body (A. hydrophylla), exopthalmia (S. aureus), blackenedat on body (E. agglomerans) and no specific clinical sign (A. jandaei).
STRATEGI PENGEMBANGAN BUDIDAYA TAMBAK UDANG VANNAME (Litopenaeus vannamei) DI KABUPATEN KENDAL, JAWA TENGAH Andi Sagita; Johannes Hutabarat; Sri Rejeki
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.029 KB)

Abstract

Udang vanname (Litopenaeus vannamei) merupakan komoditas perikanan yang dikembangkan di Kabupaten Kendal, pengembangan budidaya udang vanname tersebut saat ini menggunakan cara pembudidayaan yang masih sederhana hingga teknologi intensif. Permasalahan dari penelitian ini adalah bahwa pengembangan yang sekarang dilakukan masih perlu penentuan strategi yang sesuai dengan potensi, daya dukung lingkungan dan kondisi wilayah pengembangan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji profil budidaya dan menentukan strategi pengembangan budidaya tambak udang vanname di Kabupaten Kendal, kemudian menentukan prioritas strategi berdasarkan analisis Quantitative Strategies Planning Matrix (QSPM) serta implikasi manajemen. Jenis penelitian  ini adalah penelitian deskriptif, dengan metode studi kasus (case study). Berdasarkan analisis SWOT kekuatan (S) yang paling besar pengaruhnya untuk pengembangan budidaya tambak udang vanname di Kabupaten Kendal adalah tata lingkungan budidaya (0,33), sedangkan kelemahan terbesar adalah sumber daya manusia (SDM) dan produk hasil budidaya (0,23), serta peluang (O) terbesar adalah kegiatan  manajemen tambak (0,37), dan ancaman (T) terbesar adalah penyakit viral (0,25). Dalam persaingan keunggulan strategis Kabupaten Kendal berada pada posisi persaingan aman (favorable) dengan jumlah skor pembobotan variabel internal sebesar 3,11. Total skor pembobotan dari peluang yaitu sebesar 1,72 dan dari ancaman adalah 1,07. Berdasarkan matriks SWOT diperoleh rangking strategi alternatif yaitu berturut-turut strategi SO (3,92), ST (3,27), WO (2,64) dan WT (2,01),  sedangkan berdasarkan kuadran analisis berada pada kuadran 1 (Growth Oriented Strategy). Berdasarkan analisis QSPM, Total Attractive Score (TAS) diperoleh prioritas strategi utama yaitu Strategi WO1 (TAS = 6,964) yaitu meningkatkan kompetensi dan profesionalisme SDM melalui implikasi manajemen berupa kegiatan penyuluhan rutin dan berkala, sedangkan strategi pilihan terakhir adalah strategi WO3 (TAS = 6,678) yaitu memanfaatkan sumber dana yang ada untuk meningkatkan hasil produksi budidaya melalui kegiatan partisipatif, kerjasama dan kemitraan yang saling menguntungkan. Vanname shrimp (Litopenaeus vannamei) is a commodity that is developed in Kendal, the development of vanname culture currently adapted was simple cultivation to intensive technology method. The problem of this study is that the development is now done still need to determine the appropriate strategy with  the potential,  carrying capacity of the environment and conditions of  development area. The purpose of this study is to assess profile and also development strategy of vanname shrimp brackishwater culture in Kendal, then  priorities  strategies based on Quantitative Strategies Planning Matrix (QSPM) analysis and implication management. This study used descriptive method that is a case study. Based on SWOT analysis, the result showed that Strength (S) for developing vannamei shrimp brackishwater culture in Kendal Regency is environmental culture management as the most influence(0.33), but the biggest weakness are human resources and culture production (0.23), while the biggest opportunity (O) is pond management (0.37) and the biggest threat (T) is viral diseases (0.25). On the competitive strategic advantage, Kendal Regency is in a safe position (favorable), with the number of weighting internal variables about 3.11. Total score weighting of opportunities and threats are 1.72 and 1.07. Ranking of alternative strategy gained based on the SWOT matrix  are SO (3.92), ST (3.27), WO (2.64) and WT (2.01) while quadrant analysis is in 1stquadrant (Growth Oriented Strategy). Based on QSPM analysis, Total Attractive Score (TAS) obtained the key strategic priority is WO1 (TAS= 6,964) which is to improve human resource competence and professionalism through management implications in the form of routine and periodic extension activities, while the last strategy choice is WO3 (TAS=6,678) by utilize the existing funding sources to increase the aquaculture production  through participatory, cooperation and partnerships activities.
PENGARUH KANDUNGAN PROTEIN PAKAN YANG BERBEDA DENGAN NILAI E/P 8,5 kkal/g TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) Masitoh, Dewi; Subandiyono, -; Pinandoyo, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.233 KB)

Abstract

Protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan, baik untuk pertumbuhan maupun untuk menghasilkan tenaga. Jenis dan umur ikan menentukan jumlah kebutuhan protein. Untuk mengetahui kebutuhan energi pada ikan, harus terlebih dahulu mengetahui tingkat kebutuhan protein optimal dalam pakan bagi petumbuhan. Nilai E/P bagi pertumbuhan optimal ikan bekisar antara 8-9 kkal/gram.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh kandungan protein pakan yang berbeda dengan nilai E/P 8,5 kkal/g terhadap pertumbuhan ikan mas (C. carpio).  Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Perlakuan yang diterapkan adalah perlakuan A, B, C, dan D (27%; 30%; 33%; dan 36%). Hewan uji yang digunakan adalah ikan mas (C. carpio) dengan bobot rerata 1,76±1,42 gram dengan padat penebaran 1 ekor/liter air yang ditampung dalam toples plastik ukuran 8 liter, dengan masa pemeliharaan selama 35 hari. Frekuensi pemberian pakan yaitu 3 kali sehari pada pukul 08.00, 12.00, dan 16.00 WIB. Metode pemberian pakan dalam penelitian ini dengan menggunakan at satiation.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein dalam pakan buatan dengan kadar yang berbeda pada tiap perlakuan, memberikan perbedaan nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan relatif, efisiensi pemanfaatan pakan dan protein efisiensi rasio pada ikan mas (C. carpio), sedangkan pada variabel tingkat konsumsi pakan dan kelulushidupan tidak berbeda nyata (P>0,05). Pada perlakuan B merupakan hasil terbaik yang menghasilkan nilai TKP (19,73±0,06 g), EPP (55,58±1,11%), PER (1,86±0,04%), RGR (2,94±0,10%/hari), dan SR (95,83±7,22%). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa dengan adanya perbedaan kadar protein pada pakan buatan memberikan pengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan relatif, efisiensi pemanfaatan pakan dan protein efisiensi rasio, tetapi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat konsumsi pakan dan kelulushidupan ikan mas (C. carpio). Protein played an important role, weather for growth and producing energy. The stadia and size of fish determined the amount of dietary protein and energy required in diets. To determine the energy requirements on the fish, must first determine the level of need for optimal protein in feed for growth. Value DE/P for optimal growth of the fish ranged between 8-9 kcal/g.The aim of this research was to review the influence of various dietary protein level on the growth of carp (C. carpio). The experimental method used was completely randomized design (CRD), which consisted of 4 treatments and 3 replicates. The treatments applied was treatment A, B, C, and D, that were diet with protein level of 27, 30, 33, and 36%,  respectively. The trial fish used was carp (C. carpio) with the average body weight of 1.76±1.42 gram. The fish was maintenance in 8 l-plastic tanks for 35 days with its density of 1 fish/l. The fish were feed 3 times a day, at 08.00, 12.00, and 16.00, by applying at satiation method.   The data showed that various dietary protein resulted significantly different (P<0.05) on the relative growth rate (RGR), feed utilization efficiency (FUE), and protein efficiency ratio (PER); while for the feed consumption rate (FCR) and survival rate (SR) were not significantly different (P>0.05). Treatment B indicated the best result with FCR value (19.73±0.06 g), FUE (55.58±1.11%), PER (1.86±0.04%), RGR (2.94±0.10%/day), and SR (95.83±7.22%), respectively. It was concluded that the various dietary protein level affected significantly different on the relative growth rate, feed utilization efficiency, and protein efficiency ratio; but did not the feed consumption rate and survival rate values.
PENGARUH KEPADATAN BERBEDA MENGGUNAKAN rGH PADA PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Sibarani, Dian Afdelima; Susilowati, Titik; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.583 KB)

Abstract

Kepadatan merupakan hal yang penting dalam usaha pendederan karena akan mempengaruhi oksigen terlarut dan ammonia. Pemberian rGH dengan metode oral atau melalui pakan terbukti dapat mempercepat pertumbuhan ikan dikarenakan rGH yang tercampur dalam pakan dapat lebih mudah masuk kedalam tubuh ikan. Fungsi dari rGH adalah sebagai pengatur pertumbuhan, reproduksi, system imun, tekanan osmosis pada ikan teleostei, dan  pengatur metabolism. Pemanfaatan sistem resirkulasi dapat menciptakan lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan ikan. Hal tersebut dapat menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi dalam wadah budidaya dengan mortalitas yang rendah dan tingkat kelulushidupan yang tinggi. Sistem resirkulasi merupakan wadah pemeliharaan ikan yang menggunakan system perputaran air yaitu air mengalir dari satu wadah ke wadah yang lain melalui filter yang berguna untuk menjaga kualias air. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh kepadatan yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila yang menggunakan rGH dengan kepadatan berbeda pada sistem resirkulasi dan untuk mengetahui kepadatan yang dapat memberikan pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik. Penelitian ini dilakukan di Balai Benih Ikan Siwarak, Ungaran, Kab. Semarang. Penelitian dilakukan selama 63 hari dari bulan November 2014 – Januari 2015. Wadah yang digunakan berupa akuarium ukuran (50x30x30) cm3 sebanyak 12 buah yang diisi air sebanyak 20 liter dan dialiri air dari ember yang sudah diisi dengan filter bioball. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan padat penebaran 20, 40, 60 dan 80 ekor/wadah, dimana masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Jenis pakan bubuk berupa pakan komersial diberikan secara at satiation. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah padat penebaran tidak berbeda nyata terhadap kelulushidupan, namun memberikan perbedaan yang nyata terhadap pertumbuhan panjang mutlak dan perbedaan yang sangat nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik. Kepadatan yang dapat memberikan pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik terdapat pada padat penebaran sebanyak 20 ekor/wadah, dimana dengan nilai Pertumbuhan Panjang Mutlak adalah 9,08±0,43, nilai SGR 9,07 %/hari, nilai FCR 1,18±0,00, dan PER 3.33±0.10, nilai kelulushidupan terbaik adalah perlakuan A (padat penebaran 20 ekor/wadah) yang sama besarnya dengan perlakuan B (padat penebaran 40 ekor/wadah) yaitu sebesar 96,67 %. Density is important factor in breeding method because it will affected to dissolved oxygen and ammonia level. Giving rGH with oral method or adding into feed  has been proven to increasing the growth of Tilapia because rGH which adding into feed can enter to fish body easily. Function of rGH as growth, reproduction, immune system, osmotic pressure in teleost fishes and metabolism system controlling. Using recirculating system can creating an optimal environment for fish’s growth. If that will happen, can produce a high productivity in culture pond with low mortality and high survival rate. Reciculating system is fish culture tank that using water circulating then flowing tank to tank through a filter which function is maintaining of water quality. This research was aimed to find out the effect of different rearing density that using  rGH to growth and survival rate of Tilapia larvae in recirculating system and knows the best density for increasing growth and survival rate. This research was conducted in 63 days from November 2014 to January  2015 at Balai Benih Ikan Siwarak, Ungaran, Kab. Semarang. The fish culture tank is an aquarium size of 50x30x30cm, total amount 12, each aquarium filled water 20 liters and flowing water from bucket that filled with bioball filter. This research used Completely Randomised Design with five treatment (stock density 20, 40, 60 and 80 fish/tank) and three replication. Feed type is a powder commercial feed with using feeding method at satiation. The results is different rearing density not significantly different for survival rate, but significantly different for relative growth rate (RGR) and very significantly different for Specific Growth Rate (SGR). Stocking density that giving the best growth and survival rate is 20 fish/tank (treatment A) with RGR 9,08 ± 0,43, SGR 9,07%/day, FCR is 1,18±0,00 and PER 3,33±0,10, the best survival rate in treatment A (20 fish/tank) and treatment B (40 fish/tank) is 96,67%.
PENGARUH KANDUNGAN LEMAK DAN ENERGI YANG BERBEDA DALAM PAKAN TERHADAP PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN PATIN (Pangasius pangasius) Munisa, Qorina; Subandiyono, -; Pinandoyo, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.82 KB)

Abstract

Pakan merupakan faktor terpenting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan dalam kegiatan budidaya ikan, didalam pakan harus mengandung nutrisi yang lengkap. Penggunaan lemak dalam pakan sangat penting dalam menunjang pertumbuhan, karena lemak merupakan sumber energi yang memiliki nilai cukup tinggi dibanding protein dan karbohidrat. Pengunaan lemak sebagai “Protein sparing effect” yaitu pengganti protein sebagai sumber energi, sehingga penggunaan energi yang berasal dari protein dapat digunakan untuk menunjang pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kandungan lemak dan energi yang berbeda dalam pakan terhadap pemanfaatan pakan dan pertumbuhan patin (P. pangasius).Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Perlakuan yang diterapkan adalah perbedaan kandungan lemak dan energi antara lain pada perlakuan A (8%, 281,98 kkal); B (9%, 286,74 kkal); C (10%, 289,45 kkal); dan D (11%, 296,21 kkal). Ikan uji yang digunakan adalah patin (Pangasius pangasius) yang berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Ikan uji yang digunakan dengan bobot rata-rata 6,48±0,68 g/ekor, dengan padat tebar 1 ekor/liter. Pakan diberikan 3 kali dalam sehari yaitu pada sekitar pukul 08.00 WIB, pukul 12.00 WIB, dan pukul 16.00 WIB. Pemberian pakan diberikan secara at satiation.Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan lemak dan energi yang berbeda dalam pakan buatan, memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap EPP, PER, dan RGR pada patin (P. pangasius), sedangkan pada variabel TKP dan SR tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05). Perlakuan D diperoleh hasil tertinggi dengan nilai TKP (25,27±0,06g), EPP (54,62±0,93%), PER (1,82±0,03%), RGR (0,75±0,02%/hari), dan SR (95,83%).Kandungan lemak dan energi yang berbeda dalam pakan, memberikan pengaruh nyata terhadap EPP, PER, dan RGR; tetapi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap TKP dan SR patin (P. pangasius). Feed played an important role in fish farming and therefor, it should contain complete nutrition. The use of fat in fish diet was required for energy supply and producing of growth. The fat was used to subtitute energy source from protein, so the use of protein for fish growth can be optimaled. This study was aimed to observe the influence of different fat and energy on the feed utilization and growth of P. pangasius.The experimental method used was completely randomized design, which consisted of 4 treatments and 3 replicats, that were trial diets with ratio of  treatment A (8%, 281.98 kkal); B (9%, 286.74 kkal); C (10%, 289.45 kkal); dan D (11%, 296.21 kkal) respectively. The ratio of vegetable oil : animal oil was equal. The fish used was P. pangasius, which was quired from Banjarnegara, Central Java. It’s average body weight of 6.48±0.68 g. The fish was maintenance in 8 l-tanks for 35 days. with a stocking density of 1 fish/l. The fish were feed 3 times a day, at 08.00, 12.00, and 16.00 by appliying at satiation method.The fish fed on resulted on dietary of different fat and energy on the feed on values significantly different (P<0.05) on the EPP, PER and RGR. But for feed in TKP and SR values (P>0.05).  TKP value (25.27±0.06g) EPP (54.62±0.93%) , PER (1.82±0.03%) , RGR (0.75±0.02%/day), and SR (95.83%).It was concluded that the influence of different fat and energy on the feed utilization and growth of pangasius in feed significantly effect on, EPP, PER,  and RGR while for TKP and SR where not significantly different.
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle) DENGAN KONSENTRASI YANG BERBEDA TERHADAP GEJALA KLINIS, KELULUSHIDUPAN, HISTOLOGI DAN PERTUMBUHAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) YANG DIINFEKSI Vibrio harveyi Annisa, Nur; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.875 KB)

Abstract

Bakteri Vibrio harveyi merupakan salah satu agensia penyebab vibriosis yang dapat menyebabkan kematian pada udang, sehingga menimbulkan kerugian secara ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi perendaman ekstrak daun sirih (Piper betle) berbeda terhadap gejala klinis, kelulushidupan, histologi dan pertumbuhan udang Vaname (L. vannamei) yang diinfeksi V. harveyidan mengetahui konsentrasi terbaik dari perendaman ekstrak daun sirih (Piper betle).Udang uji yang digunakan berjumlah 120 ekor dengan ukuran ±7 cm. Penginfeksian V. harveyi sebanyak 0,1 mL dengan konsentrasi 106 CFU/ml pada bagian intramuskular.Pada penelitian ini digunakan konsentrasi ekstrak daun sirih dengan konsentrasi perlakuan 0 ppm, 500 ppm, 800 ppm dan 1100 ppm. Gejala klinis yang muncul adanya warna memerah pada bagian ekor dan telson serta seluruh tubuh, perubahan warna kehitaman pada hepatopankreas serta udang terlihat pasif.  Perendaman (dipping) dilakukan selama 10 menit. Hasil penelitian diperoleh bahwa perendaman ekstrak daun sirih memberikan pengaruh nyata terhadap kelulushidupan dan histopatologi hepatopankreas udang vaname akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan udang vaname. Hasil ini juga diperoleh bahwa penggunaan konsentrasi1100 ppmmerupakan konsentrasiekstrak daun sirih terbaik untuk mengobati udang vaname yang terinfeksi V. harveyi. Vibrio harveyi isone of vibriosis agents that couldmass mortality in farmed shrimp, therefore result in significant losses in shrimp farming. The purpose of this researchis to find out the effect of various immersion concentration of betel leaves extract (Piper betle) toward clinical symptoms, survival rate, histology and growth of vannamei (L. vannamei) thatinfectedby V. harveyi and to determine the best concentration of immersion betel leaves extract (Piper betle).Infection was carried out by intramuscular infection of 0,1 ml of 106 CFU/ml V. harveyi. When clinical sign was shown redness on the tail and telson up the whole body flushed, discoloration and shrimp hepatopancreas blackened shrimp ponds passive then soaked with betel extract for 10 minutesThe result of the betel leavesextract immersion that give a significant effect on survival and histopathological hepatopancreas vaname but, it did not significantly affect the growth of shrimp vannamei. The result of this research which are the using concentration 1100 ppm is the best concentration to treat infected white shrimp V. harveyi.

Page 1 of 2 | Total Record : 11