cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 33 Documents
Search results for , issue "Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017" : 33 Documents clear
STUDI KASUS KEBERADAAN PENYAKIT IMNV (INFECTIOUS MYONECROSIS VIRUS) PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI PERTAMBAKAN PEKALONGAN, JAWA TENGAH Sarah, Humidah; Prayitno, Slamet Budi; Haditomo, Alfabetian Harjuno Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.207 KB)

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) menjadi salah satu spesies andalan bagi pertambakan di indonesia. Salah satu kendala pada pembudidaya udang vaname saat ini adanya penyakit IMNV (Infectious Myonecrosis Virus). Pekalongan merupakan salah satu produksi udang vaname yang cukup penting di Jawa Tengah. Pemantauan penyakit penting seperti IMNV sangat perlu dilakukan untuk mengetahui potensi resiko tertular dan tersebarnya penyakit IMNV di Pekalongan. Peneltian ini bertujuan untuk mengkaji status kesehatan udang khususnya dari infeksi IMNV pada tambak intensif di Kota Pekalongan. Metode penelitian yang dilakukan adalah menggunakan metode studi kasus, dengan melakukan pengambilan sampel udang melalui purposive random sampling dan wawancara kepada pemilik tambak. Jumlah udang 144 ekor dari 8 tambak terpilih. Hasil real time PCR dan analisa histopatologi terhadap organ daging bagian ekor menunjukkan bahwa 25% tambak contoh terinfeksi IMNV yaitu di desa Krapyak dan desa Kandang Panjang, sedangkan hasil histopatologi menunjukkan bahwa jaringan daging udang mengalami nekrosis. Berdarsarkan hasil diatas, tambak intensif di Kota Pekalongan memiliki potensi terinfeksi IMNV pada tahap sedang. Vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) became a prime species cultivated in brackish water  ponds in Indonesia. The problem that are often found in field, is IMNV (Infectious Myonecrosis Virus) disease. Pekalongan district is one of important shrimp produces in Central Java. Disease monitoring program is an importanted step that should be carried out especially for IMNV infection. This was to evaluate the potential disease infection and spread into the culture area. The aim of this research was to study the health status of intensive shrimp culture in Pekalongan with regard IMNV infection. 144 shrimp were randomly selected brackish water intensive ponds. The sample were then analysed by real time PCR to correct the present of IMNV. Histopathologycal study was also cound. The research showed that 25% of intensive shrimp ponds samples were infected by IMNV. Furthemore, their caudal flesh demmostrated necrosis. This can be concluded that shrimp ponds in Pekalongan mildly risk of IMNV.
PENGARUH PEMBERIAN REKOMBINAN HORMON PERTUMBUHAN (rGH) MELALUI METODE ORAL DENGAN INTERVAL WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN BAWAL AIR TAWAR (Colossoma macropomum) Kurniawan, Andri; Basuki, Fajar; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.935 KB)

Abstract

Pengembangan dan penerapan teknologi untuk meningkatkan efisiensi budidaya ikan bawal air tawar berkaitan dengan upaya peningkatan pertumbuhan telah banyak dilakukan, namun upaya tersebut masih memiliki kekurangan diantaranya metode yang kurang aplikatif dan tidak sesuai dengan isu keamanan pangan. Penggunaan protein rekombinan hormon pertumbuhan (rGH) ikan adalah salah satu alternatif yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian rGH melalui metode oral dengan interval waktu berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan benih ikan bawal air tawar (C. macropomum) serta mengetahui interval wantu pemberian rGH terbaik. Penelitian dilaksanakan di Laboraturium Departemen Akuakultur Universitas Diponegoro, Semarang,  Jawa Tengah pada bulan  Januari-Maret 2017. Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan bawal air tawar (C. macropomum) dengan bobot rata-rata 2,67±0,05 g dan panjang 5,61±0,01 cm. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan yaitu, pemberian rGH dengan dosis 2 mg/kg pakan dengan interval waktu yang berbeda: A (tanpa rGH), B (3 hari sekali), C (4 hari sekali), D (5 hari sekali). Variabel yang diukur meliputi: Jumlah Konsumsi Pakan (JKP), Rasio Konversi Pakan (FCR), Pertumbuhan Panjang Mutlak, Pertumbuhan Bobot Mutlak, Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR), Kelulushidupan, dan Kualitas Air. Penelitian berlangsung selama 45 hari. Nilai JKP pada perlakuan A 194,65±12,05 g; B 197,57±5,88 g; C 197,55±5,89 g; D 198,99±4,47 g; FCR pada perlakuan A 1,34±0,07; B 1,12±0,02; C 1,20±0,05 g; D 1,26±0,02 g; Pertumbuhan Panjang Mutlak pada perlakuan A 2,41±0,04 cm; B 2,99±0,16 cm; C 2,80±0,24 cm; D 2,55±0,12 cm;  Pertumbuhan Bobot Mutlak perlakuan A 7,55±0,54 g; B 8,84±0,25 g; C 8,41±0,10 g; D 8,00±0,10 g;  SGR perlakuan A 2,83±0,15 % bobot/hari; B 3,15±0,12 % bobot/hari, C 3,06±0,07 % bobot/hari; D 2,96±0,06 % bobot/hari  dan SR pada perlakuan A 93,33±7,64 %; B 98,33±2,89 %; C 96,67±5,77 %; D 96,67±2,89 %. Hasil yang didapatkan menunjukkan pemberian rGH melalui metode oral sangat efektif untuk digunakan pada benih ikan bawal air tawar, dan pemberian rGH dengan interval waktu 3 hari menghasilkan laju pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik. The development and application of technology to improve the efficiency of tambaqui fish cultivation in relation to efforts growth increase has been done, but these efforts still have shortcomings among the methods that are less applicable and not in accordance with food safety issues. The application of recombinant growth hormone (rGH) is one of the alternatives that can be done to solve the problem. This research aims to determine the influence of recombinant growth hormon (rGH) by oral administration methods with different time intervals on the growth and survival of C. macropomum fry as well as examining the best dosage of rGH. The experiment was conducted at the Department of Aquaculture Diponegoro University Laboratory, Semarang, Central Java, in January – March 2017. Fish samples used are the fry of C. macropomum with an average weight of 2,67±0,05 g and length of 5,61±0,01 cm. This reaserch used experimental method with completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments with 3 time repetitions. The treatments is administration of rGH 2 mg/kg of feed with different time intervals: A (without rGH), B (once for three days), C (once for four days), D (once for five days). The variables measured include total consumtion feed, feed conversion ratio (FCR), absolute length growth, absolute weight growth, spesific growth rate (SGR), survival, and water quality. The experiment lasted for 45 days. Total consumtion feed value on treatment A 194,65±12,05 g; B 197,57±5,88 g; C 197,55±5,89 g; D 198,99±4,47 g; FCR value on treatment A 1,34±0,07; B 1,12±0,02; C 1,20±0,05 g; D 1,26±0,02 g; absolute growth length on treatment A 2,41±0,04 cm; B 2,99±0,16 cm; C 2,80±0,24 cm; D 2,55±0,12 cm;  absolute growth weight on treatment A 7,55±0,54 g; B 8,84±0,25 g; C 8,41±0,10 g; D 8,00±0,10 g;  SGR on treatment A 2,83±0,15 %weight/day; B 3,15±0,12 % weight/day, C 3,06±0,07 %weight/day; D 2,96±0,06 % weight/day and survival rate on treatment A 93,33±7,64 %; B 98,33±2,89 %; C 96,67±5,77 %; D 96,67±2,89 %. The results obtained show that rGH administration via oral method very effective to be application in tambaqui fish fry, and rGH administration at 3 days intervals resulted in the best growth rate and survival rate. 
PEMBERIAN EKSTRAK BAWANG PUTIH DALAM PAKAN SEBAGAI IMUNOSTIMULAN TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN PROFIL DARAH IKAN PATIN (Pangasius sp.) Nursatia, - -; Sarjito, - -; Haditomo, Alfabetian Harjono Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.465 KB)

Abstract

Penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) adalah salah satu penyakit yang sering menyerang ikan patin yang disebabkan oleh bakteri A. hydrophila. Penyakit ini mampu mengakibatkan kematian hingga 80%. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam pencegahan serangan bakteri A. hydrophila yaitu dengan menggunakan imunostimulan ekstrak bawang putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak bawang putih pada pakan terhadap kelulushidupan ikan patin yang diinfeksi bakteri A. hydrophila. Metode peneletian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Dosis ekstrak bawang putih yang digunakan pada penelitian ini adalah A (0 g/kg), B (10 g/kg), C (20 g/kg) dan D (30 g/kg). Ikan patin yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 156 ekor dengan bobot rata-rata 11,68±2,15 g/ekor dan rata-rata panjang 11,48±0,63 cm/ekor. Ikan diberi pakan dengan tambahan ekstrak bawang putih selama 14 hari. Ikan patin selanjutnya diinfeksi bakteri A. hydrophila dengan kepadatan 106 CFU/ml melalui intramuskular. Rata-rata kelulushidupan ikan patin yaitu 96,67±5,77% (perlakuan C dan D), 93,33±11,55% (perlakuan B), 73,33±5,77% (perlakuan A). Hasil penelitian diperoleh bahwa pemberian ekstrak bawang putih dalam pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan patin. Dosis yang dapat digunakan untuk imunostimulan dalam meningkatkan kelulushidupan yaitu 10 g/kg (perlakuan B). The Motile Aeromonas Septicemia (MAS) is a disease that often attack catfish that are caused by the bacteria A. hydrophila. The disease is capable  resulting mortality up to 80%. One effort that can be made in the prevention of attacks the bacteria A. hydrophila immunostimulant by using garlic extract. This research aims to determine the effect of garlic extract on diets on survival rate and blood profile catfish that infected bacteria A. hydrophila. The experiment consisted of 4 treatments with 3 replications. doses used in this study were A (0 g/kg), B (10 g/kg), C (20 g/kg) and D (30 g/kg). The catfish used in this study were 156 tails with average weight of 11.68±2.15 g and and average length of 11.48±0.63 cm. The catfish are given feed with garlic extraxct for 14 days. The catfish were infected with A. hydrophila at density 106 CFU/ml through intramuscular.The average survival rate of catfish were 96.67 ± 5.77% (Treatment C and D), 93.33±11.55% (treatment C), 73.33±5.77% (treatment A). The result showed that garlic extract had significant effect (P <0.05) of survival rate.  The dose that can be use to improve  survival rate is 10 g/kg (treatment B).
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK DAUN TEMBAKAU (Nicotiana tabacum) TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN HISOTPATOLOGI HATI IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila Tarigan, Lidya Aprillia; Desrina, - -; Sarjito, - -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.149 KB)

Abstract

Penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) adalah salah satu penyakit yang sering menyerang ikan nila yang disebabkan oleh bakteri A. hydrophila. Penyakit ini mampu mengakibatkan kematian sebesar 80 – 100 % dalam jangka waktu 2 minggu. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengobati serangan bakteri A. hydrophila yaitu menggunakan bahan alami seperti ekstrak daun tembakau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman ekstrak daun tembakau terhadap kelulushidupan dan histopatologi hati ikan nila yang diinfeksi bakteri A. hydrophila. Metode peneletian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Dosis ekstrak daun tembakau yang digunakan pada penelitian ini adalah A (0 mg/l), B (250 mg/l), C (500 mg/l) dan D (750 mg/l). Ikan nila yang digunakan sebanyak 120 ekor, kemudian diinfeksi A. hydrophila dengan kepadatan 106 CFU/ml melalui intramuskular. Setelah muncul gejala klinis, dilakukan perendaman menggunakan ekstrak daun tembakau selama 10 menit. Rata-rata kelulushidupan ikan nila yaitu 63,33±25,17 (Perlakuan D), 56,67±15,28 (perlakuan C), 50,00±10,00 (perlakuan B), 20,00±10,00 (perlakuan A). hasil penelitian diperoleh bahwa perendaman ekstrak daun tembakau berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan nila. perlakuan D (750 mg/l) merupakan dosis optimum dengan kelulushidupan tertinggi dan tingkat kerusakan histologi hati paling ringan. The Motile Aeromonas Septicemia (MAS) is the bacterial disease of tilapia caused by A. hydrophila. The disease can to cause 80-100% of mortality within a period of 2 weeks. One of the effort used to control A. hydrophila infection was using  natural ingredient like Tobacco leaf (N. tabacum) extract. This study aims to determine the effect of  tobacco leaf extracts on survival rate and liver histopathology tilapia infected bacteria A. hydrophila. The experiment consisted of 4 treatments, each with 3 replications. doses used in this study were A (0 mg / l), B (250 mg / l), C (500 mg / l) and D (750 mg / l). 120 tilapias were used in this study. The experimental tilapias were infected with A. hydrophila at density 106 CFU/ml through intramuscular. After injection showing clinical signs, tilapias were immersed in N. tabacum extracts about 10 minutes. The average survival rate of tilapia were 63.33 ± 25.17 (Treatment D), 56.67 ± 15.28 (treatment C), 50.00 ± 10.00 (treatment B), 20.00 ± 10.00 (treatment A). The result showed that immersed tobacco leaf extracts had significant effect (P <0.05) of survival rate. Treatment D (750 mg / l) was the best dose with the highest survival rate and the least of histopathology cell changes in the liver.
ANALISA KESESUAIAN LAHAN UNTUK PENERAPAN INTEGRATED MULTI TROPHIC AQUACULTURE (IMTA) MELALUI PENDEKATAN SIG DI PESISIR KABUPATEN BREBES JAWA TENGAH Devinda Arsandi; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Aryati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.45 KB)

Abstract

Lahan masyarakat Brebes tergerus oleh arus laut yang terus masuk ke daratan sehingga mengurangi luasan daratan dan menenggelamkan wilayah pertambakan warga. Tambak warga menjadi salah satu mata pencaharian warga yang berada pada wilayah pesisir Kabupaten Brebes terkhusus di Desa Kaliwlingi. Wilayah tambak yang sudah terkena abrasi air laut, tidak dapat lagi dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan budidaya.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui luasan perairan Kabupaten Brebes yang dapat digunakan kegiatan budidaya berbasis IMTA, serta langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesesuaian lahan guna penerapan kegiatan budidaya berbasis IMTA. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang didukung oleh data – data kuantitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pengambilan data pada lokasi penelitian seperti parameter fisika, biologi dan kimia perairan diperoleh dengan sampling di lapangan yang kemudian diolah pada citra satelit sehingga dihasilkan suatu model dasar peta tematik dengan bantuan software ArcGis 10.3 dan Microsoft Excell. Peta dasar tematik yang dihasilkan kemudian digunakan untuk penentuan lokasi yang sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut, ikan bandeng serta kerang hijau. Hasil penelitian menunjukkan hanya terdapat area seluas seluas 24,5 ha yang dapat dilakukan budidaya berbasis IMTA terdapat pada titik sampling VI dan untuk 1.332,5 ha tergolong sesuai bersyarat. Wilayah yang tergolong dalam kategori sesuai bersyarat dapat ditingkatkan kelas kesesuaiannya dengan dilakukannya pemberian pakan buatan pada budidaya bandeng untuk meningkatan unsur hara tanah, pada budidaya rumput laut dapat menggunakan metode budidaya long line , sedangkan pada budidaya kerang hijau dapat dilakukan dengan penempatan bambu sebagai media penempelan yang ditancapkan pada saluran inlet tambak. The land of Brebes is eroded by ocean currents that continue to enter the mainland, reducing the land area and drowning the people's aquaculture area. Pond area that has been exposed to sea water abrasion, can no longer be utilized by the community for cultivation activities.  The growth of seaweed, mussels and milkfish depend on the environmental conditions. These seaweed, mussels and milkfish live properly when they get its own criteria on a good environmental conditions.  The purpose of this research were to analize the Brebes coastal area that can be used for IMTA and give some reasonable advice for the area that can’t be used for IMTA.This research was descriptive research that provided with some quantitative data.  The method used in this research is a case study with data collection at the research sites such as the parameters of physics, biology and chemistry obtained by sampling water in the field and then processed with satellite images to produce a basic model of thematic maps using ArcGis 10.3 and Microsoft Excell.  The thematic maps can be used to determine the appropriate location for the cultivation of seaweed, mussels and milkfish . The results showed that research locations covering 1,357 ha, there is only an area of 24.5 ha to do cultivation based on IMTA that located at  6°47'56.16" S ; 109° 2'7.44"  E and the rest 1.332,5 ha classified in appropriate conditional  .   The area that classified in appropriate conditional can be improved by giving artificial feed for the milkfish which is can improving nutrient on the water ; for the seaweed cultivation can be improved by change the cultivation method into long line method ; whereas the cultivation of mussels can be improved by placing bamboo as a media attachment that is placed to the water entrance (inlet) of the ponds
KEBERADAAN White Spot Syndrome Virus (WSSV) PADA UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) DI PERTAMBAKAN KOTA PEKALONGAN Latritiani, Rusthesa; Desrina, - -; Sarjito, - -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (923.146 KB)

Abstract

White Spot Syndrome Virus (WSSV) merupakan virus penyebab penyakit bintik putih pada udang. Sejak pertama terdeteksi di Taiwan pada tahun 1992, penyakit bintik putih ini telah menyebar secara global diikuti dengan pengaruh sosial-ekonomi yang cukup besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keberadaan WSSV pada udang vannamei (Litopenaeus vannamei) di Pekalongan Utara, Jawa Tengah. Studi kasus ini dilakukan pada November - Desember 2016 menggunakan metode purposive random sampling. Tambak udang yang digunakan sebagai titik pengambilan sampel merupakan tambak yang mempunyai riwayat terserang WSSV. Dari enam belas tambak di Pekalongan Utara dipilih secara acak delapan tambak sebagai titik sampling yang tersebar di tiga desa (desa Degayu, desa Kandang Panjang dan desa Krapyak). Dari setiap tambak diambil 18 ekor udang dengan menggunakan anco. Untuk pemeriksaan udang sampel secara PCR dan histologi menggunakan sistem pooling.Deteksi WSSV dilakukan menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan pengamatan secara histopatologi. Hasil studi ini menunjukkan bahwa tiga udang dari delapan tambak positif terinfeksi WSSV, dengan nilai prevalensi adalah 37,5%. Hasil dari nested PCR menunjukan band 333 bp. Pengamatan histopatologi yang dilakukan pada udang vannamei dilakukan pada organ insang dan hepatopankreas. Terlihat ada beberapa badan inklusi dan hipertrofi pada inti. Kesimpulan studi ini menunjukan bahwa terdapat udang yang terinfeksi ringan WSSV pada budidaya udang vannamei di Kota Pekalongan. White spot syndrome virus (WSSV) is the causative agent of the white spot disease on shrimp. Since firstly detected in Taiwan in 1992, the disease has spread globally and followed with considerable socio-economic consequences. The objective of the present study was to evaluate the presence of WSSV in Litopenaeus vannamei at North Pekalongan, Central Java. This case study was held on November - December 2016 using a purposive random sampling method. The ponds were selected as sampling point is the ponds that has history experience infected by White Spot Syndrom Virus. From sixteen ponds in North Pekalongan were selected randomly eight ponds as sampling point that spread in the three villages (Degayu village, Kandang Panjang village and Krapyak village). From each ponds were selected eighteen shrimps using an anco.  The shrimps that was examined with PCR and histopathological observation used pooling system.This research using nested polymerase chain reaction (PCR) and histopathological observation to detect WSSV. The results of this study showed that there are three ponds were positive WSSV from eight ponds, with the prevalence was 37,5%. The result of nested PCR revealed the bands is 333 bp. Histopathological observation was performed on L. vannamei at gills and hepatopancreas. There are some inclusion bodies and hypertrophy on nucleus. In conclusion, this study showed that there was lightly infectious WSSV on vannamei shrimps in Pekalongan City.
PENGGUNAAN EKSTRAK AKAR TUBA (Derris elliptica) DENGAN DOSIS YANG BERBEDA UNTUK PEMBIUSAN BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DALAM PENGANGKUTAN SISTEM TERTUTUP Prasetyo, Muhammad Deny Haris; Desrina, - -; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.833 KB)

Abstract

Pengangkutan benih ikan jarak jauh membutuhkan bahan anastesi yang bertujuan menurunkan metabolisme ikan. Salah satu sumber anastesi yang potensial secara alami terdapat di Indonesia adalah akar tuba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak akar tuba dengan dosis berbeda terhadap kelulushidupan benih ikan nila pada pengangkutan sistem tertutup, mengetahui dosis pemberian ekstrak akar tuba terbaik dan mengetahui pengaruh pemberian anastesi ekstrak akar tuba terhadap profil darah yang terdiri dari leukosit, eritrosit, hemoglobin, hematokrit. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah benih ikan nila ukuran 6-8 cm, ekstrak akar tuba, sterofoam kotak, kantong plastik, mobil pengangkutan, pipet tetes, spuit suntik, dan antikoagulan (EDTA). Metode yang digunakan adalah metode eksperimental. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan, 3 ulangan dan waktu pengangkutan selama 10 jam. Dosis ekstrak akar tuba yang digunakan adalah perlakuan A: 0 ml/L, B: 0,3 ml/L, C: 0,4 ml/L, D: 0,5 ml/L dengan kepadatan benih ikan 30 ekor/L air. Hasil yang diperoleh menujukkan kelulushidupan benih pasca pengangkutan tertinggi terdapat pada perlakuan B dengan menggunakan dosis 0,3 ml/L yaitu sebesar 70±0,03% dan kelulushidupan terendah terdapat pada perlakuan D dengan dosis 0,5 ml/L yaitu 28±0,01%. Hasil analisa profil darah menunjukkan jumlah leukosit berada pada kisaran normal dan untuk eritrosit, hematokrit, hemoglobin berada dibawah kisaran normal. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa dosis terbaik untuk penggunaan ekstrak akar tuba adalah 0,3 ml/L,  kelulushidupan tertinggi diperoleh sebanyak 70±0,03%. Profil darah leukosit berada pada kisaran normal dan eritrosit, hematokrit, hemoglobin berada dibawah kisaran normal. Pemberian ekstrak akar tuba potensial untuk digunakan sebagai bahan anastesi dalam pengangkutan benih nila sistem tertutup. The transportation of fish seed is done by farmers for long distance. In nature there are still many natural resources that can be used to be anastesi, including tuba roots. Anesthesia is required to make the fish faint during transportation. The material used in this study is 6-8 cm tilapia seeds, tuba root extract, box sterofoam, plastic bag, transport car, drip blade, injection syringe, EDTA bottle. The method used is experimental method. The experimental design used was Completely Randomized Design with 4 treatments, 3 replications, with time 10 hours of transport. The dosage of tuba root extract used was A: 0 ml/L, B: 0.3 ml/L, C: 0.4 ml/ L, D: 0.5 ml / L with 150 fish / fish density. The result obtained is the best life using dose 0,3 ml /L that is 70 ± 0,03 and lowest life with dose 0,5 ml/L that is 28 ± 0,01. As for the leukocyte blood profile in the normal range and for erythrocytes, hematocrit, hemoglobin is abnormal range. The result of the research, it can be concluded that the best dosage for tuba root extract is 0.3 ml/L, the best survival rate is 70±0,03%, leukocyte are in the normal range and erythrocytes, hematocrit, hemoglobin is below the normal. Giving of potential tuba root extract for use as an anesthetic in the transportation of nile tilapia seeds in closed systems.
PENGARUH VITAMIN C DAN PROBIOTIK DALAM PAKAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Pangestyastuti, Indira; Suminto, - -; Pinandoyo, - -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.542 KB)

Abstract

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) adalah ikan air tawar yang menjadi salah satu komoditas unggulan di Indonesia, yang  ditunjukan dengan permintaan pasar  meningkat. Peningkatan  permintaan pasar harus diimbangi dengan meningkatnya produktivitas budidaya ikan nila, salah satunya melalui kualitas pakan. Oleh karena itu perlu peningkatan kualitas pakan dengan menambahkan vitamin C dan probiotik pada pakan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji  pengaruh dan interaksi  antara vitamin C  dan probiotik terhadap  efisiensi pakan, pertumbuhan  dan kelulushidupan ikan nila (O. niloticus). Ikan uji yang digunakan  adalah ikan nila  dengan bobot individu rata-rata 3,24±0,17 g/ekor. Pemberian  pakan  yaitu  pada  pukul 09.00, 13.00 dan 16.00 secara relative feeding rate (5%) dari bobot biomasa.  Ikan uji dipelihara dengan padat tebar 1 ekor/2l dengan  lama  pemeliharaan 42 hari. Penelitian  ini dilakukan dengan metode eksperimen faktorial dengan dua faktor (ordo 2x3) dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah penambahan vitamin C pada pakan dengan dosis 500 mg/kg, dan 1000 mg/kg dan penambahan probiotik dengan dosis 105,106, dan 107 CFU/mL. Data yang diamati meliputi total  konsumsi pakan (TKP), rasio konversi pakan (FCR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio efisiensi protein (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), kelulushidupan (SR) dan kualitas air.  Hasil penelitian menunjukan perlakuan A2B3 menghasilkan TKP sebesar 227,13 g, FCR sebesar 1,55,  EPP sebesar 63,56%, PER sebesar 2,11% dan  RGR sebesar 3,58% per hari. Kualitas air pada media  pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan uji. Kesimpulan dari penelitian  ini adalah vitamin C dan probiotik memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) dan terjadi  interaksi  yang  mempengaruhi variabel nilai total konsumsi pakan (TKP), rasio konversi pakan (FCR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP),  protein efisiensi rasio (PER), dan laju pertumbuhan relative (RGR), dan vitamin C dan probiotik tidak memberikan  pengaruh yang nyata (P≥0,05) terhadap tingkat konsumsi pakan (TKP) dan tidak  terjadi interaksi terhadap nilai kelulushidupan (SR). Tilapia (Oreochromis niloticus) is a freshwater fish that became one of the leading commodities in Indonesia, showed that the market demand increases. Theincreasedof  market demand should be offset by increased productivity of tilapia fish farming, one of them is through the quality feed. For that we need to improve the quality feed by adding vitamin C and probiotics in the feed. This research aims to examine the effect and interaction of vitamin C and probiotics on feed efficiency, growth and survival of tilapia (O. niloticus).The trial fishwas nile tilapia (O. niloticus) with the average body weight was 3,24±0,17 g/fish.  The feeding frequency was at 09.00, 13.00 and 16.00,  by applying relative feeding rate method with(5%) from weight of biomass.  The fish was cultured in an aquarium with stocking density of 1 fish/2lfor42 days. This research was used an experimental factorials with two factors( order 2x3 ) and3 replicates. The treatmentswere the addition vitamin C in the feed doses of 500 mg/kg and 1000 mg/kg, and probiotic doses of 105,106, dan 107 CFU/mL.The measured data included thefood consumption ratio, food convertion ratio (FCR,) feed efficiency (FE), protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR), survival rate (SR), and water quality. Treatment A2B3 produced the  value of  TKP was 277,13 g, FCR was 1,55, FE was 63,56%, PER was 2,11%, and RGR was 3,58%/day.  Water quality parameters during rearing period were suitable for the trial fish.The  research conclusion that vitamin C and probiotic was significantly effect (P<0,05) and there was interaction on  food consumption ratio,  food convertion  ratio (FCR,) feed efficiency (FE), protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR),but vitamin C and probiotic was not significantly effect (P≥0,05) on food consumption ratio and there was not  interaction on survival rate (SR).
PENGARUH KOMBINASI PEMBERIAN ENZIM PAPAIN PADA PAKAN BUATAN DAN PROBIOTIK PADA MEDIA PEMELIHARAAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN BAWAL AIR TAWAR (Colossoma macropomum) Fatchurochman, Vava; Rachmawati, Diana; Hutabarat, Johannes
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.394 KB)

Abstract

Ikan bawal air tawar (C. macropomum) memiliki keunggulan yaitu: kebal penyakit, nafsu makan tinggi, pertumbuhannya cepat, ekonomis penting dan mudah dibudidayakan. Keberhasilan budidaya ikan bawal air tawar dipengaruhi oleh pakan dan kualitas air. Permasalahan pada pakan adalah efisiensi pemanfaatan pakan masih rendah sehingga berakibat pada biaya produksi pada pakan yang mencapai 60%. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan enzim eksogenus, seperti enzim papain. Enzim papain memiliki fungsi memecah polipeptida menjadi monopeptida, sehingga meningkatkan jumlah asam amino dan lebih mudah terserap oleh ikan yang meningkatkan percepatan pertumbuhan. Kualitas air yang buruk akan menyebabkan rendahnya kelulushidupan ikan. Hal tersebut dapat diatasi dengan probiotik. Probiotik dapat mendekomposisi bahan organik atau material beracun dalam air sehingga kualitas air akan menjadi lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui interaksi dan perlakuan terbaik kombinasi pemberian enzim papain pada pakan buatan dengan probiotik pada media pemeliharaan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan ikan bawal air tawar (C. macropomum). Penelitian ini menggunakan metode eksperimental RAL pola faktorial dengan dua faktor, faktor pertama berupa enzim papain yang terdiri dari tiga taraf perlakuan dan faktor kedua berupa probiotik yang terdiri atas dua taraf perlakuan dan masing-masing diulang sebanyak tiga kali (ordo 3x2x3). Hewan uji berupa benih ikan bawal air tawar (C. macropomum) (bobot rerata 2,45±0,08 g/ekor) dengan kepadatan 1 ekor/L yang dipelihara selama 42 hari. Perlakuan yang digunakan adalah Perlakuan A1B1 (Pakan uji 0,25 g/kg papain dan 1 mL/L probiotik), Perlakuan A1B2 (Pakan uji 0,25 g/kg papain dan 2 mL/L probiotik), Perlakuan A2B1 (Pakan uji 0,50 g/kg papain dan 1 mL/L probiotik), Perlakuan A2B2 (Pakan uji 0,50 g/kg papain dan 2 mL/L probiotik), Perlakuan A3B1 (Pakan uji 0,75 g/kg papain dan 1 mL/L probiotik) dan Perlakuan A3B2 (Pakan uji 0,75 g/kg papain dan 2 mL/L probiotik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis nilai terbaik adalah perlakuan A3B1 yang mampu menghasilkan nilai sebesar 82,15 % (EPP) dan 8,51%/hari (RGR). Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan uji. C. macropomum has the advantage of its high immunity, high appetite, rapid growth, economically important and easy to cultivate. The success of tambaqui cultivation is influenced by feed and water quality. The problems in fish feeding is its low feed efficiency ratio. which causes high production cost that reaches 60%. This problem could be overcome by utilizing an exogenous enzymes, such as papain enzyme. Papain enzyme has a function to breaking down polypeptides into monopeptides, thereby it increases the amount of amino acids and more easily absorbed by fish which can increase its growth acceleration. Poor quality water leads to low survival rate of fish, but that problem could be overcome by utilizing probiotics. Probiotics have an ability to decompose organic matter or toxic materials in water, so that it improve water quality. The purpose of this study was to know the interaction and to know rhe best dose of combination of papain enzyme in artificial feed with probiotics on culture media toward efficiency of feed utilization, growth and survival of C. macropomum. This study applied factorial experimental complterly randomize design with two factors, where the first factor was the enzyme papain which consists of three levels of treatment and the second factor was a probiotic consisting of two levels of treatment and each repeated three times (order 3x2x3). The Sampling fish that used in this study was fry C. macropomum (initial weight average 2,45±0,08 gr) with density 1 fish/L for 42 day culture. The treatments used are A1B1 treatment (feed diet 0.25 g/kg enzyme papain and 1 mL/L probiotics), treatment A1B2 (feed diet 0.25 g/kg enzyme papain and 2 mL/L probiotics), treatment A2B1 (feed diet 0.50 g/kg enzyme papain and 1 mL/L probiotics), treatment A2B2 (feed diet 0.50 g/kg enzyme papain and 2 mL/L probiotics), treatment A3B1 (feed diet 0.75 g/kg enzyme papain and 1 mL/L probiotics) and the treatment A3B2 (feed diet 0.75 g/kg enzyme papain and 2 mL/L probiotics). The combination best dose among the treatment was A3B1 (feed diet 0.75 g/kg enzyme papain and 1 mL/L probiotics) with EPP 82.15% and RGR 8.51% / day. Water quality in the maintenance media contained in the reasonable range for the maintenance of the test fish.
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG TESTIS SAPI DENGAN DOSIS YANG BERBEDA DALAM PAKAN YANG MENGANDUNG rGH TERHADAP RASIO JENIS KELAMIN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Huda, Rachmat Nurul; Susilowati, Titik; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.507 KB)

Abstract

Budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) terus dikembangkan hingga saat ini. Berbagai teknologi dalam bidang perikanan telah diterapkan, salah satunya yaitu sex reversal dalam hal ini jantanisasi. Ikan nila jantan lebih cepat pertumbuhannya dari pada ikan nila betina sehingga dapat meningkatkan hasil produksi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung testis sapi dan dosis terbaik tepung testis sapi dalam pakan yang mengandung  rGH terhadap rasio jenis kelamin, pertumbuhan dan kelulushidupan ikan nila. Bahan uji yang digunakan adalah larva ikan nila dengan stadia larva yang berumur 7 hari setelah lepas kuning telur dan memiliki bobot rata-rata 0,07 gram/ekor. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu dengan menambahkan tepung testis sapi dengan dosis pada perlakuan A (0%/kg pakan), perlakuan B (3%/kg pakan), perlakuan C (6%/kg pakan) dan, perlakuan D (9%/kg pakan). Pakan pada setiap perlakuan dalam penelitian ini telah ditambahkan rGH dengan dosis 2 mg/kg pakan. Data yang diamati meliputi rasio jenis kelamin, laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan tingkat kelulushidupan (SR) ikan nila. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan C (6% tepung testis sapi/kg pakan) memberikan hasil terbaik dimana nilai rasio jenis kelamin jantan sebesar 74,44±5,09% dan laju pertumbuhan spesifik sebesar 9,48±0,10% bobot/hari. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu adanya pengaruh nyata terhadap rasio jenis kelamin dan tingkat pertumbuhan spesifik, namun tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kelulushidupan ikan nila dengan pemberian dosis tepung testis sapi terbaik adalah 6% tepung testis sapi/kg pakan. Tilapia fish (Oreochromis niloticus)cultivation still continue to be developed until nowdays. Many fisheries technology had been applied, and one of them is sex reversal which is masculinization. Male tilapia fish grows faster than the female one, so this can boost the produce of the fish. This research aims to know the effect of cow testicle flour addition and determine the best dosage on the fish feed which contains rGH towards the male-sex ratio, growth, and survival rate of tilapia fish. The material which used in this research was tilapia fish (O. niloticus) which under the larvae phase 7 days post the separated egg yolk which have average weight of 0,07 grams/each. This research used experimental methods with Completely Randomized Design of 4 treatments and 3 times of repetitions. The treatments in this research was addition of  different dosage of bull testicle which treatment A (0%/kg fish feed),treatment B (3%/kg fish feed), treatment C (6%/kg fish feed) and, treatment D (9%/kg fish feed). The fish feed in every treatment had been added with 2mg rGH/kg fish feed. Data observation  during this research were male-sex ratio, specific growth rate (SGR), and survival rate (SR) of tilapia fish. Results of the research showed that treatment C (6%/kg fish feed) gave the best result as male-sex ratio by 74,44±5,09% and specific growth rate by 9,48±0,10% weight/day. Conclusion obtained from this research was: there was different result  towards the male-sex ratio and specific growth rate, but there was no difference between the treatments towards the survival rate, the best bull testicle flour dosage was 6%/kg fish feed.

Page 2 of 4 | Total Record : 33