cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017" : 30 Documents clear
ANALISA USAHA KEGIATAN PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus Vannamei) DI POKDAKAN SUDI MAKMUR KECAMATAN PALANG KABUPATEN TUBAN, JAWA TIMUR Wiguna, Ghani Bagas; Elfitasari, Tita; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.7 KB)

Abstract

Prospek dari pengembangan usaha pembesaran udang vaname di POKDAKAN Sudi Makmur Kecamatan Palang Kabupaten Tuban memiliki potensi yang baik karena tingginya permintaan pasar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek teknis dan aspek finansial kegiatan pembesaran udang vaname POKDAKAN Sudi Makmur Kabupaten Tuban. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah studi kasus. Hasil dan kesimpulan yang diperoleh yaitu berdasarkan Aspek teknis budidaya , pembesaran udang vaname meliputi persiapan media budidaya, penebaran benih, pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, panen dan pemasaran.  Hasil penelitian ditinjau dari aspek ekonomi berupa modal investasi berkisar Rp. 28.950.000 sampai dengan Rp. 41.600.000,-, biaya variabel berkisar Rp. 511.000.000 sampai dengan Rp. 361.100.000 /tahun, pendapatan sebesar Rp. 976.800.000 sampai deengan Rp. 1.272.800.000/tahun Berdasarkan hasil dari penelitian ini, disimpulkan bahwa usaha pembesaran udang vaname secara intensif di Kabupaten Tuban dikatakan layak untuk di jalankan dengan nilai PP rata-rata sebesar 0.53 sampai dengan 0.61 tahun, nilai NPV 3,395,134,139 sampai dengan 7,969,643,695; B/C ratio 1.7 sampai dengan 1.9 . The prospect of the development of vannamei shrip hatchery business in POKDAKAN Sudi Makmur Palang regency  district Tuban has a good potency because demand for shrimp is also quite high. The purpose of this research is to analyse technical aspect and financial aspect of  development of vannamei shrimp in POKDAKAN Sudi Makmur in district Tuban. The data collection method used in this research is interview method and questionnaire distribution method. Results and conclusions obtained are based on technical aspects of vannamei shrimp hatchery include culture preparation, feed management, water quality management and marketing method.  The result of this research based on economical aspect is capital investation is Rp. 28.950.000 to Rp. 41.600.000,-, variabel cost Rp. 511.000.000 to Rp. 361.100.000,-/year, income Rp. 976.800.000 to Rp. 1.272.800.000,-/year. Based on the result of this research concluded that intensive vannamei shrimp culture at district Tuban is feasible to be continued with averge PP 0.53 to 0.61, NPV 3,395,134,139 to 7,969,643,695,-, B/C ratio 1.7 to 1.9.
INFESTASI Octolasmis PADA KEPITING BAKAU (Scylla serrata) HASIL BUDIDAYA DARI DESA SURODADI, KABUPATEN DEMAK, JAWA TENGAH Herlinawati, Annisa; Sarjito, - -; Haditomo, A.H. Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.517 KB)

Abstract

Kepiting bakau (S. serrata) memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga layak untuk dibudidayakan. Salah satu masalah pada budidaya kepiting adalah adanya parasit octolasmis. Parasit octolasmis dapat menyebabkan terganggunya sistem respirasi, penurunan bobot tubuh, kondisi inang menjadi lemah, dan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis parasit octolasmis yang menginfeksi kepiting bakau, mengetahui gejala klinis kepiting bakau yang terinfeksi parasit octolasmis, dan mengetahui nilai intensitas, prevalensi, dan dominasi parasit octolasmis. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai Maret 2017. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi, dan metode pengambilan sampel menggunakan metode random sampling. Materi yang digunakan yaitu 100 ekor kepiting bakau yang berasal dari Desa Surodadi, Kabupaten Demak dengan panjang rerata 8,47 ± 0,53 cm dan bobot rerata 119,8 ± 25,71 g. Pengamatan parasit octolasmis dilakukan pada organ target yaitu organ insang pada kepiting bakau untuk selanjutnya diamati dibawah mikroskop. Parasit octolasmis yang telah ditemukan sebanyak dua jenis yaitu Octolasmis cor dan Octolasmis angulata. Gejala klinis pada kepiting bakau yang terinfeksi parasit octolasmis adalah insang berwarna hitam dan adanya struktur seperti kecambah pada bagian insang. Nilai intensitas intensitas (37), prevalensi (36%) dan dominasi (57,8%) dimiliki oleh parasit Octolasmis cor, sedangkan nilai intensitas (24), prevalensi (40%) dan dominasi (42,1%) dimiliki oleh parasit Octolasmis angulata. Mud crab has a high economic value so very potential feasible to be cultivated. One of the problems in the cultivation of mud crab is the presence of parasites octolasmis. The parasites can causes disruption of octolasmis respiration system, decreased body weights, condition of the host to be weak, and death. This study aimed to know parasites octolasmis that infected mud crab, the determine clinical signs of mud crab infected parasites octolasmis, and determine intensity, prevalence, and dominasi of parasites octolasmis. This research was conducted in January to March 2017. The methode used in this research is a exploratory and a random sampling methode. This research used 100 of mud crab that culture from the Surodadi Village, Demak with an average length of 8,47 ± 0,53 cm and an average weight of 119,8 ± 25,71 g. Observation parasites octolasmis gills at mud crab to be observed under a microscope. Parasites that have been found are two types, namely Octolasmis cor and Octolasmis angulata. Mud crab whose infected by parasites octolasmis have clinical signs such as the gills are black and the structure like sprouts. The intensity (37), prevalence (36%), and dominasi (57,8%) is parasites Octolasmis cor and intensity (24), prevalence (40%), and dominasi (42,1%) is parasites Octolasmis angulata.
PENGARUH JUS NANAS DENGAN KONSENTRASI BERBEDA TERHADAP DERAJAT PEMBUAHAN DAN PENETASAN TELUR IKAN PATIN (Pangasius pangasius) Larasati, Stya; Basuki, Fajar; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.951 KB)

Abstract

Ikan patin (Pangasius pangasius) merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Kendala dalam budidaya ikan patin ini adalah proses pemijahan, salah satunya adalah rendahnya derajat penetasan telur. Hal ini disebabkan telur ikan patin mempunyai daya rekat yang menyebabkan telur menggumpal. Sifat adhesive pada telur disebabkan karena adanya lapisan glukoprotein atau senyawa gula dan protein yang terdapat pada permukaan telur. Upaya untuk menghilangkan daya rekat pada telur ikan patin salah satunya adalah dengan pemberian jus nanas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus nanas pada telur ikan patin dengan konsentrasi berbeda terhadap derajat pembuahan dan penetasan telur ikan patin (P. Pangasius). Penelitian ini dilaksanakan di Satuan Kerja Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar  (PBIAT) Ngrajek, Magelang pada bulan Januari - Maret 2017. Ikan uji yang digunakan adalah telur ikan patin yang berasal dari pemijahan sepasang induk jantan dan betina dengan bobot 1,8 kg – 2,5 kg. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 kali ulangan yakni perlakuan A (tanpa jus nanas), perlakuan B (1 % jus nanas), perlakuan C (2 % jus nanas) dan perlakuan D (3% nanas). Variabel yang diukur meliputi tingkat pembuahan telur (FR), tingkat penetasan telur (HR), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian jus nanas pada telur ikan patin berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap kelulushidupan dan tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) terhadap tingkat pembuahan dan tingkat penetasan. Perlakuan B menunjukkan hasil terbaik terhadap tingkat pembuahan 83,15 % ± 6,61, tingkat penetasan 70,95% ± 6,40 dan kelulushidupan 63,54 % ± 1,36. Catfish ( pangasius pangasius )  is a commodities that have high economic value.The problem faced on catfish the process of spawning .one of them is the low degrees of  hatching rate .because catfish eggs has an  adhesive power that causes eggs clot . Of the nature of adhesive on eggs caused as a result of the layers of glukoprotein or compound sugar and proteins on the surface of the egg. One of the efforts to deprive  adhesive power of  egg catfish is giving a  pineapples juice .The purpose of this study is to understand  of the influence of the provision from pineapples juice to egg catfish by the different concentration against degrees fertilization and hatching rate eggs catfish ( P .Pangasius ) . The research conducted in working unit spawning and cultivation of fish freshwater ( PBIAT ) Ngrajek , Magelang from january to march 2017 .Fish test used is catfish eggs  derived from spawning a pair of broodstoke male and female with weights 1.8 kg - 2.5 kg . This reaserch used experimental method with completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments with 3 time repetitions. The treatment A ( without pineapples juice ) , treatment B( 1 %  pineapples juice ) , treatment C ( 2 % pineapples juice) and treatment D (3 % pineapples juice) .Variable measured covering level fertilization rate (FR), hatching rate ( HR ) , survival rate ( SR ) and water quality .This research result indicates that the the juice of pineapples to the catfish eggs significantly( P< 0.05) of survival rate and not significantly ( P> 0.05 ) on the fertilization degrees and hatching degrees .Treatment B results showed best on the fertilization rate 83,15 % ± 6,61 ,hatching rate 70,95 % ± 6.40 and survival rate 63,54 % ± 1.36 .
PENGARUH HUFA (Highly Unsaturated Fatty Acids) DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP TOTAL KONSUMSI PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIPELIHARA PADA SALINITAS BERBEDA Widayati, Noor; Subandiyono, - -; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.182 KB)

Abstract

Lemak merupakan komponen penting di dalam pakan ikan.  Lemak digunakan sebagai sumber energi yang dapat berfungsi membantu proses metabolisme, osmoregulasi, dan menjaga keseimbangan di dalam air.  Semua aktivitas biologis tersebut membutuhkan energi, dan diharapkan pemberian HUFA akan mempengaruhi total konsumsi pakan pertumbuhan ikan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh maupun interaksi penambahan HUFA pada pakan terhadap total konsumsi pakan dan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan salinitas yang berbeda.  Pakan diberikan dengan cara at satiation sebanyak 3 kali sehari pada pukul 08.00, 12.00 dan 16.00 WIB.  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial.  Percobaan yang dilakukan yaitu dengan ordo (3x2) dan masing-masing diulang sebanyak 3 kali.  Faktor pertama yaitu pemberian HUFA dengan 3 tingkatan, faktor A yaitu 0, 1, 2% untuk perlakuan A1, A2 dan A3.  Faktor kedua adalah faktor B dengan 2 salinitas yang berbeda pada media budidaya yaitu 0 dan 10 ppt untuk perlakuan B1 dan B2.  Variabel yang diamati yaitu total konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi ratio (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), dan survival rate (SR).  Hasil penelitian menunjukan bahwa HUFA maupun salinitas dalam pakan buatan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap TKP, EPP, PER, dan RGR namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai SR.  Terdapat interaksi antara HUFA dan salinitas untuk hasil TKP, EPP, PER, dan RGR namun tidak terdapat interaksi pada SR.  Perlakuan A3B2 menunjukkan hasil tertinggi untuk TKP (108,04±1,29g), EPP (64,45±2,94%), PER (2,01±0,03%), RGR (3,88±0,19%/hari), dan SR A2B2 (96,67±5,77%).  Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa perlakuan A3B2memberikan hasil tertinggi untuk RGR, EPP, TKP, dan PER. Perlauan A2B2 memberikan hasil tertinggi untuk SR. Fat is one the important components in fish feed.  Fat was used as energy sourceand involved in metabolic process, osmoregulation, and maintained of fluidal osmotic the fish.  All of those biological activities required energy, and dietary HUFAs were expected could affect the rate of feed consumption and growth of the fish.  The use of HUFAs (Highly Unsaturated Fatty Acids) to know the influence of dietary HUFAs on feed consumption and growth of tilapia (Oreochromis niloticus) which was maintained in various media salinities. The fish was fed for 3 times a day (i.e. at 08.00 am, 12.00 and 16.00 pm ), by applying at satiation feeding method.  The experimental design used was of factorial- randomized completely design (RCD) with the order of (3x2) and each treatment was repeated for 3 times.  The first factor was dietary HUFAs (i.e factor A) with 3 levels that were factor A was trial diets with 0, 1, and 2% dietary HUFAs, for the treatment of A1, A2, and A3, respectively.  The second factor B (i.e various media salinities) with 2 level, that were 0 and 10 ppt, for the treatment of B1 and B2, respectively.  The variables measured were were food consumption rate (FCR), food efficiency utilization (FEU), protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR), and survival rate (SR). The result showed that both HUFAs and different media salinities had significantly affected (P<0,05) on FCR, FEU, PER, and RGR values, but didn’t for the SR (P>0,05) value.   There was an interaction for HUFAs and different media salinities factor on the values of the FCR, FEU, PER, and RGR, but didn’t for SR.  The treatment of A3B2 showed the highest value for FCR (108,04±1,29g), FEU (64,45±2,94%), PER (2,01±0,03%), RGR (3,88±0,19%/ day), and SR (96,67±5,77%).  The conclusion of this research was that treatment A3B2 resulted on the highest values of FCR, FEU, PER and RGR, while the treatment of A2B2 resulted on the highest value of SR.
PENGARUH LAMA WAKTU PERENDAMAN EMBRIO DALAM PROPOLIS TERHADAP MASKULINISASI IKAN CUPANG (Betta splendens) Nazar, Danella Austraningsih Puspa; Basuki, Fajar; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.425 KB)

Abstract

Ikan cupang (Betta splendens) berkelamin jantan merupakan salah satu jenis ikan yang digemari oleh masyarakat. Ikan cupang berkelamin jantan memiliki keunggulan pada bentuk dan warnanya. Upaya untuk memperoleh populasi jantan dapat dilakukan dengan cara pengalihan kelamin dengan melakukan perendaman embrio dalam propolis. Propolis berfungsi sebagai antioksidan, diantaranya adalah chrysin, pinobaksin, vitamin C, katalase dan pinocebrin. Zat chrysin merupakan salah satu jenis flavonoid yang diakuai sebagai salah satu penghambat enzim aromatase atau lebih dikenal sebagai aromatase inhibitor. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan tersebut adalah A 0 jam, perlakuan B selama 8 jam, perlakuan C selama 16 jam dan perlakuan D selama 24 jam dengan dosis yang sama yaitu 100µl. Data yang diamati meliputi derajat penetasan, persentase jantan dan betina (%), kelulushidupan (SR) dan kualitas air.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman menggunakan propolis pada embrio dengan lama waktu yang berbeda memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap persentase jantan dan betina sedangkan pada derajat penetasan dan kelulushidupan tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Persentase kelamin jantan pada perlakuan A sebesar 44,23%±1,50, perlakuan B sebesar 48,68%±2,75, perlakuan C sebesar 53,81%±1,84 dan perlakuan D sebesar 69,94%±3,86. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran layak untuk budidaya Ikan Cupang (B. splendens). Kesimpulan dari penelitian ini adalah perendaman menggunakan propolis dalam embrio dengan lama waktu perendaman yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase jantan dan betina ikan cupang (B. splendens) dan lama waktu perendaman yang terbaik adalah pada perlakuan D dengan lama waktu perendaman 24 jam yang menghasilkan persentase jantan sebanyak 69,94%. Male Betta fish is one of popular ornamental fish. Male Betta fish has an aestethical feature, espicially on it’s caudal fin. The attempt to obtain the percentage of male fish can be done by sex reversing with embryos immersion in propolis. Propolis has a functions as antioxidant, such as chrysin, pinobaksin, vitamin C, catalase and pinocebrin. Chrysin is flavonoid-type which able to inhibit Aromatase enzyme (aromatase inhibitors). This research is conducted by applying completely randomized desing (CRD), which consists of 4 treatments and 3 replicates. The treatment is A 0 hour, B treatment for 8 hours, treatment C for 16 hours and D treatment for 24 hours with the same dose of 100 µl. Measuring variables this research were hatching rate, the percentage of males and females (%), survival rate (SR) and water quality. The results showed that embryos immersion in propolis with different lenght of time had significant different (P < 0.05) in male and female fish percentage, then it’s hatching rate and survival rate had not significant different (P > 0.05). The percentage of male fish in treatment A was 44.23%±1,50, treatment B was 48.68%±2,75, treatment C was 53.81%±1,84 and  treatment D was 69.94%±3,86. Water quality in the media, there is a range of decent maintenance for Betta fish farming (B. splendens). The conclusion of this research was that submergence using propolis in embryos with different immersion time gives a real influence against the percentage of males and females fish betta (B. splendens) and long soaking is best at the treatment D when with the old 24 hour immersion which produced 69.94% of male fish..
KAJIAN KESESUAIAN LAHAN TAMBAK UDANG VANAME (litopenaeus vannamei) DI KECAMATAN CIJULANG DAN PARIGI, PANGANDARAN, JAWA BARAT DENGAN PENERAPAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Kusuma, Winanda Adi; Prayitno, Slamet Budi; Ariyati, Restiana Wisnu
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.64 KB)

Abstract

Udang vaname merupakan salah satu produk perikan terbesar yang menjadi komoditas ekspor. Produksi udang vaname pada tahun 2010-2014 mengalami kenaikan rata-rata sebesar 20,49 %. Daerah sekitar muara sungai Kecamatan Cijulang dan Parigi adalah salah satu daerah yang banyak mengembangkan budidaya tambak udang vaname. Namun dalam pengembangannya sering mengalami kegagalan panen. Dengan demikian perlu dilakukan uji untuk mengevaluasi dan menganalisis kesesuaian lahan tambak. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah Sistem Informasi Geografis (SIG). Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian lahan tambak di Kecamatan Cijulang (Desa Kondangjajar, Desa Sanghyang Kalang, Desa Margacinta) dan Kecamatan Parigi (Desa Karangjaladri), Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat dan mengetahui pemenuhan kebutuhan air selama masa produksi udang vaname. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Metode survei ini dilakukan untuk mendapatkan data primer yang berupa data kualitas perairan, baik parameter fisik maupun kimia. Selain itu, dilakukan kegiatan untuk mengumpulkan data-data sekunder. Data yang diperoleh tersebut kemudian diolah pada citra satelit sehingga dihasilkan suatu model dasar peta tematik, peta dasar tematik yang dihasilkan kemudian digunakan untuk mengevaluasi kelayakan tambak serta mengetahui perubahan yang terjadi, sehingga dapat menduga nilai potensi produksi tambak. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – April 2017. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum kondisi perairan tambak udang di Kecamatan Cijulang dan Parigi Secara keseluruhan dapat mendukung usaha budidaya udang vaname. Dari tujuh titik yang diamati tergolong kedalam kategori sesuai (S2) dan kategori sangat sesuai (S3). Ketersediaan pompa untuk pemenuhan kebutuhan air selama produksi di setiap titik penelitian telah terpenuhi ≥ 100%. Vannamei shrimp is one of the biggest fishery export commodity. Its production in 2010-2014 increased around 20,49 %. The area around Cijulang and Parigi subdistrict estuary is one of the area which are developing vannamei aquaculture. However, on its development, harvest failure frequently happened. Therefore, some test should be conducted to evaluate and analyze the pond suitability. One of the alternatives which can be used is Geographical Information System (GIS). The aim of this study was to analyze the pond suitatibility in Cijulang Subdistrict (Kondangjajar, Sanghyang Kalang, Margacinta Village) and Parigi Subdistrict (Karangjaladri Village), Pangandaran District, West Java Province and determine the fulfillment of water needs during vannamei production. The research used survey method. The survey was conducted to obtain primary data in the form of water quality data, both physical and chemistry parameter. Secondary data was also obtained to support the findings. The data obtained then processed on satellite imagery, so the basic model of the thematic map was produced. The result of the basic thematic map then used to evaluate the pond suitatibility as well as determine the changes that occur, also able to analyse the pond’s production potential value. This study was conducted on March-April 2017. This result showed that in general, the pond condition in Cijulang and Parigi subdistrict relatively able to support the vannamei production. From the seven spots observed was classified into suitable category (S2) and very suitable category (S3). The pump availability for the fulfillment of water needs during production on each research spots has been fulfilled.
PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG BUNGKIL KELAPA SAWIT DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Rusmiyati, - -; Suminto, - -; Pinandoyo, - -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (882.061 KB)

Abstract

Kendala budidaya ikan nila adalah mahalnya harga bahan baku pakan. Oleh karena itu, upaya mengurangi mahalnya bahan baku pakan dapat memanfaatkan tepung bungkil kelapa sawit (BKS). BKS mengandung nutrisi yang cukup baik yaitu protein 16,7 %; serat kasar (SK) 22,94 %; lemak  6,26 %; abu 3,43 % dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 40,24 %. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dan dosis optimal penggunaan BKS terhadap EPP dan pertumbuhan ikan nila serta mengetahui dosis dalam pakan. Ikan uji yang digunakan adalah ikan nila dengan bobot rata-rata 3,10±0,39 g/ekor dan padat tebar 1 ekor/L. Pemberian pakan pada pukul 08.00 dan 16.00 WIB secara at satiation. Metode pada penelitian ini adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan A (0% BKS), B (5% BKS), C (10% BKS), dan D (15% BKS). Data yang diamati meliputi total konsumsi pakan (TKP), laju pertumbuhan relatif (RGR), rasio efisiensi protein (PER), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan BKS berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap TKP, RGR, PER dan  EPP tetapi tidak berpengaruh nyata (P≥0,05) terhadap SR. Perlakuan dengan pakan C menghasilkan dosis optimal TKP sebesar 7,25% dengan nilai maksimal 98,06 g; RGR sebesar 7,18% dengan nilai maksimal 2,09 %/hari, PER sebesar 7,12% dengan nilai maksimal 1,65% dan EPP sebesar 7,59% dengan nilai maksimal 49,11%. The problems of nile tilapia cultureis the expensive price of raw material feed. Therefore, to reduced the expensive price of raw material feed can use of Palm Kertel Meal (PKM). PKM contains good enough nutritions  such as protein of 16.7%; crude fiber (SK) of 22.94%; lipid of 6.26%; the ashes of 3.43% and nitrogen free extract (BETN) of 40.24%. The aims of this research to determine the effects and the optimal dose of PKM on artificial feed to diet utilization efficiency and growth of nile tilapia. The experimental fish used was tilapia with the average body weight of 3.10 ± 0.39 g/fish and density 1 fish/L. Feeding frequency at 08.00 and 16.00 by at satiation. Method in this research was an Experimental with a Complete Randomized Design (RAL) of four treatments and three repititions. The treatment of A (0% PKM), B (5% PKM), C (10% PKM), and D (15% PKM). The measured data included, feed consumption rates (TKP), relative growth rate (RGR), protein efficiency ratio (PER), diet eutilization fficiency (EPP), survival rate (SR) and water quality. The results showed that the used of palm kertel meal gives a significant effect (P < 0.05) on TKP, RGR, PER and EPP but not significant effect (P > 0.05 ) on SR. The treatment C showed optimal value of TKP 7,25% with the maximum value 98,06 g; RGR 7,18% with the maximum value 2,09 %/day, PER s 7,12% with the maximum value 1,65% dan EPP 7,59% with the maximum value 49,11%.
ANALISA POTENSI PRODUKSI TAMBAK IKAN BANDENG (Chanos chanos) DI KECAMATAN WEDUNG DENGAN PENERAPAN APLIKASI TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH Widiana, Giacinta Risti; Prayitno, Slamet Budi; Widowati, Lestari Lakhsmi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.111 KB)

Abstract

Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu ikan air payau yang banyak diminati di Indonesia untuk dikembangkan. Ikan bandeng di Kecamatan Wedung banyak dibudidayakan dalam tambak dengan sistem ekstensif, yaitu sistem budidaya tanpa pemberian pakan tambahan sehingga seluruh hidupnya bergantung pada ketersediaan pakan alami berupa klekap pada tambak tersebut. Kurangnya informasi mengenai karakteristik perairan dan ketersediaan klekap di sekitar lahan budidaya tambak bandeng di Kecamatan Wedung menyebabkan pemanfaatan lahan yang tidak optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa kesesuaian lahan budidaya tambak bandeng serta menganalisa potensi produksi tambak bandeng di Kecamatan Wedung berdasarkan ketersediaan klekap sebagai sumber pakan alami ikan bandeng. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus yang meliputi 2 tahapan, yaitu pengumpulan data dan analisa data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengukuran langsung ke lapangan sebanyak 7 titik penelitian dan wawancara terhadap petani tambak. Data yang telah didapat kemudian diolah dengan menggunakan ArcGis 10.0. Pengohanan data dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu pembuatan peta dasar, pembuatan peta kontur sebaran spasial dari setiap parameter, overlay, layout dan scoring. Data yang dihasilkan berupa model spasial. Analisa kesesuaian perairan dilakukan dengan pembuatan matriks kesesuaian kemudian pembobotan dan penghitungan skor berdasarkan tingkat pengaruh dari setiap parameter terhadap daerah yang berpotensi untuk budidaya bandeng. Selanjutnya dilakukan analisa potensi produksi berdasarkan ketersediaan klekap. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah luasan tambak Kecamatan Wedung sebesar ± 1.663 ha termasuk dalam kategori cukup sesuai (S2) dan tambak dengan luas ± 1.911 ha masuk dalam kategori sesuai bersyarat (S3). Dilihat dari faktor ketersediaan klekap pada titik I memiliki potensi bandeng 663 kg, titik IV sebanyak 990 kg dan titik VII sebanyak 955 kg. Pertambakan di kecamatan Wedung memiliki potensi untuk dikembangkan karena memiliki total ketersediaan klekap sebesar 120% dari total kebutuhan bandeng.    Milkfish(Chanos chanos) is the one of fishes of brackish water much demanded in Indonesia to be developed. Milkfish in Wedung subdistrict lot of cultivated in ponds with extensively scale, is the system cultivication without additional feed so the entire life  relied on the availability natural feed of klekap on that ponds. Lacking of information regarding the characteristic of the water and availability of klekap around the ponds of milkfish in Wedung subdistrict as led to the utilization of locations became unoptimum. The study was aimed to analysis the suitability of cultivating lands ponds of milkfish and analysis of milkfish ponds potention production in Wedung subdistrict based on availability of klekap as natural feed. The method used is data collection by survey in the field and then analyzed. The data had been collected was done by direct measurement in the field and interviews with fish farmers. The data have been obtained were processed by using ArcGIS 10.0. The steps started with  with base map creation stages, Making contour map of the spatial distribution of each parameter, Overlay, Layout and Scoring which earned spatial model. The analysis was made by making the waters suitability matrix, then weighting and calculating the score based on the degree of each parameter influenced towards the potential areas for cultivation of milkfish. Further analysis based on availability klekap production potential. The results obtained fromt his study is about ± 1.663 ha ponds area in Wedung subdistrict belong to S2 category and ponds with an area ± 1.911 ha belongs to S3 category. Seen from the availability of klekap in station 1 has potential production of bandeng about 663 kg, station IV about 990 kg and station VII about 955 kg. Ponds area in Wedung subdistrict hasthe potential to be developed having total klekap availability about 120% of totalneeds ofmilkfish.
PENGARUH PEMBERIAN PROPOLIS MELALUI PERENDAMAN EMBRIO DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP KEBERHASILAN JANTANISASI PADA IKAN CUPANG (Betta splendens) Indreswari, Annisa Rizkia; Susilowati, Titik; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.409 KB)

Abstract

Ikan cupang yang berkelamin jantan mempunyai warna yang lebih menarik dan memiliki nilai komersial lebih tinggi daripada betina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman propolis terhadap persentase kelamin jantan ikan cupang, serta dosis terbaik. Propolis berfungsi sebagai antioksidan, di dalam propolis chrysin yang diduga dapat digunakan untuk pengarahan kelamin. Chrysin merupakan salah satu bahan penghambat enzim aromatase atau lebih dikenal dengan aromatase inhibitor. Aromatase inhibitor merupakan penghambat dari reaksi enzim aromatase sehingga tidak terjadi biosintesa estrogen, akibatnya hanya akan muncul efek jantanisasi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen dan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan tersebut adalah A dosis 0 µl, perlakuan B dosis 50 µl, perlakuan C dosis 100 µl, dan perlakuan D dosis 150 µl dengan waktu perendaman yaitu 24 jam. Data yang diamati meliputi derajat penetasan telur, persentase jantan dan betina (%), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukan bahwa derajat penetasan telur ikan cupang tertinggi adalah pada perlakuan D 90.00%±4.00. Persentase kelamin jantan dan betina perlakuan A yaitu 49.12%±1.52; 50.88%±1.52, perlakuan B 67.04%±5.80; 32.96%±5.80, perlakuan C 72.53%±3.00; 27.47%±3.00 dan perlakuan D 63.20%±5.26; 36.80%±5.26. Kelulushidupan (SR) ikan cupang tertinggi adalah pada perlakuan D 90.36%±2.63. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran layak untuk budidaya Ikan Cupang (B. splendens) yaitu suhu 25-280C; pH 7,8-8,0; dan DO 2,55-3,02 mg/l. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perendaman menggunakan propolis dengan dosis yang berbeda pada perendaman embrio memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap persentase jantan dan betina sedangkan pada derajat penetasan dan kelulushidupan tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Dosis terbaik adalah pada perlakuan C dengan dosis perendaman 100 µl selama 24 jam yang menghasilkan persentase jantan sebesar 72,53%±3.00. Male betta fish has attractive color than female betta fish. This research aimed to know the effect of propolis in embryo Immersion with different doses on masculinisation percentage of Betta Fish (Betta splendens). Propolis has a function as antioxidant and its chrysin is able to affect sex-reversal in fish. Chrysin is known as aromatase inhibitor. Aromatase inhibitor inhibits biosynthesise of estrogen, so that would make masculinization effect in fish. This research applied experimental method with Completely Randomised Design (CRD) which consists of 4 treatments and 3 replicates. Treatment A was 0 µl of propolis; Treatment B was 50 µl; Treatment C was 100 µl; and Treatment D was 150 µl with 24 hours immersion time. Measuring variables of this research were hatching rate, male and female percentage, survival rate (SR) and water quality. The results showed that hatching rate in the highest was in treatment D 90.00±4.00%. Male and female percentage value in Treatment A was 49.12±1.52% (male) and 50.88±1.52% (female); Treatment B 67.04±5.80% and 32.96 ±5.80%; Treatment C 72.53±3.00% and 27.47±3.00%; and Treatment D 63.20±5.26% and 36.80±5.26%. Survival rate (SR) in The highest was in treatment D 90.36±2.63%. Water quality range value were temperature 25-28oC; pH 7.8-8.0; and DO 2.55-3.02 mg/l. The conclusion of this research was that embryo immersion with different doses of propolis  made significant effect (P<0.05) on male and female percentage. Treatment C (100 µl of propolis) given the highest percentage number of male betta fish 72.53±3.00.
PEMANFAATAN TEPUNG DAUN LAMTORO (Leucaena leucocephala) YANG DIFERMENTASI DALAM PAKAN BUATAN UNTUK PERTUMBUHAN BENIH IKAN MAS (Cyprinus carpio) Handayani, Tri; Susilowati, Titik; Subandiyono, - -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.91 KB)

Abstract

Lamtoro (Leucaena leucocephala) merupakan salah satu bahan pakan alternatif sebagai sumber karbohidrat yang keberadaannya berlimpah di alam.  Lamtoro mengandung nutrisi yang cukup baik yaitu protein kasar sebesar 27,89%, lemak kasar sebesar 8,73%, serat kasar sebesar 19,13%, abu sebesar 11,33%, serta bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) sebesar 33,12%. Serat kasar daun lamtoro sulit dicerna oleh ikan.  Upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah melalui proses fermentasi. Melalui proses fermentasi diharapkan dapat menguraikan karbohidrat kompleks menjadi sederhana, sehingga meningkatkan kandungan nutrisi lamtoro. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung daun lamtoro yang telah di fermentasi ke dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan benih ikan mas (Cyprinus carpio).  Ikan uji yang digunakan adalah ikan mas (C. carpio) dengan bobot individu rata-rata 2,30±0,02 g/ekor.  Pakan diberikan pada pukul 08.00 pagi dan 16.00 sore secara at satiation. Wadah yang digunakan adalah bak dengan kapasitas 15 liter.  Ikan uji dipelihara selama 40 hari dengan padat tebar 1 ekor/l.  Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Perlakuan A, B, C dan D dengan konsentrasi masing-masing sebesar 0, 5, 10 dan 15%.  Data yang diamati meliputi total konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), laju perumbuhan relatif (RGR), kelulushidupan (SR) dan kualitas air.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi daun lamtoro memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap TKP, EPP, PER dan RGR dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap SR. Perlakuan C memberikan nilai tertinggi pada TKP sebesar 69,03%, EPP sebesar 41,89%, PER sebesar 1,23% dan RGR sebesar 3,14%/hari.  Parameter kualitas air selama penelitian berada pada kisaran yang layak untuk kehidupan ikan mas (C. carpio).  Kesimpulan yang diperoleh yaitu pakan daun lamtoro hasil fermentasi dapat meningkatkan proses pertumbuhan ikan mas (C. carpio).Lamtoro (Leucaena leucocephala) was one of the alternative feed ingredients that could be used a as carbohydrate source which was available abundantly in the nature.  Lamtoro leaves contained valuable nutrients such as crude protein of 27,89%, crude lipid of 8,73%, crude fiber of 19,13%, ash of 11,33%, and nitrogen-free extract of 33,12%. Leucaenas crude fiber was difficult to be digested by fish.  The solution for that problem was by applying fermenting proccesses.  Through the fermenting processes reduce crude fiber composition improve lamtoro nutritive value. This experiment was to study the influence of leave lamtoro flour which has been fermented into practical diets on the growth of carp (Cyprinus carpio) seeds.  The trail fishes used were carp (C. carpio) seeds with the average body weight of 2,30±0,02 g/fish.  Feeding frequency applied was twice a day, i.e., at 08.00 a.m and 16.00 p.m, and by appliying at satiation method.  The container used was a tub with a capacity of 15 liters. The fishes were cultured for 40 days with the stocking density of 1 fish/l.  The experimental method used was completely randomize design (RCD) with 4 treatments and 3 replicates.  The treatment of A, B, C, and D were the trial diets with the prosentation of lamtoro leave flour of 0, 5, 10, and 15%.  The measured data included for of feed consumption rate, feed efficiency (FE), protein efficiency ratio (PER) relative growth rate (RGR), survival rate (SR) and water quality parameters.  The data showed that the used of fermented lamtoro into the diets resulted on significantly effects (P<0,05) on the feed consumption rate, FE, PER on the highest biological indicators and RGR valuess, but not for SR value.  Treatment C resulted that feed consumption rate 69,03%, FE 40,62%, PER 1,23% and RGR 3,14%/day.  The water quality parameters during this study were varied for into suitable range the fish life.  It was can be concluded that fermenting lamtoro leaf feed increase the growth process of carp (C. carpio) seeds.

Page 2 of 3 | Total Record : 30