cover
Contact Name
Wulandari Dianningtyas
Contact Email
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Phone
+6282121181003
Journal Mail Official
jurna.lemigas@esdm.go.id
Editorial Address
BBPMGB LEMIGAS Jl. Ciledug Raya Kav. 109. Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK DAN GAS BUMI (LPMGB)
Published by LEMIGAS
Core Subject :
LPMGB aims the dissemination of information on research activities, technology engineering development and laboratory testing in the oil and gas field. Manuscripts in English are accepted from all in any institutions, college and industry oil and gas throughout the country and overseas.
Arjuna Subject : -
Articles 584 Documents
Pengaruh Air dan Etanol terhadap Reaktivitas Hidrogenolisis Isoamil Alkohol pada Katalis Ni/Zeolit tri yono; oberlin sidjabat
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.42.2.113

Abstract

Air, etanol (etilalkohol) dan isoamil-alkohol dapat membentuk larutan azeotroph. Di dalam limbah cair, keberadaan alkohol selalu didapatkan bersama-sama dengan larutan berair. Minyak fusel mengandung berbagai macam senyawa alkohol, seperti etanol dan isoamilalkohol. Di dalam penelitian ini, dilakukan proses hidrogenolisis antara campuran isoamil-alkohol dengan air dan juga campuran antara isoamil-alkohol dan etanol dengan masing-masing kadar air atau etanol yang divariasikan. Katalis yang digunakan adalah Ni/Zeolit dengan kandungan Nikel 0,4% berat yang dibuat dengan metoda impregnasi basah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bila jumlah kadar air meningkat (bertambah) maka konversi isoamil-alkohol akan menurun (berkurang). Di lain fihak, bila jumlah kadar etanol meningkat (bertambah) maka konversi isoamil-alkohol akan meningkat (bertambah).
Kelayakan Ekonomi Pabrik Bioetanol Kapasitas 60 Kl Per Hari Danang Sismartono; Niken Atmi Sutrisningrum; Heru Prasetio Prasetio
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.42.2.114

Abstract

Makalah ini menguji kelayakan ekonomi dengan studi kasus pabrik bioetanol kapasitas 60 kl per hari, hasil simulasi cashflow model ekonomi didapatkan harga jual bioetanol Rp 4.233 per liter dan indikator ekonomi IRR 17,99%, NPV Rp 7.816 Milyar, POT 6.1 tahun dan PI 1.15. Hasil tersebut merepresentasikan bahwa secara ekonomi pabrik bioetanol kapasitas 60 kl per hari layak untuk didirikan. Kelayakan ekonomi yang dihasilkan dapat digunakan oleh Badan Usaha atau Badan Usaha Tetap dalam memutuskan kebijakan bisnisnya.
Tinjauan Kritis terhadap Periodisasi Undang-Undang Paten di Indonesia dan Hubungannya dengan Peningkatan Jumlah Paten Domestik Mercy Marvel
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.42.2.115

Abstract

Penghapusan pengaturan atau penghapusan penyebutan “ Pemeriksa Paten “ dari Undang- Undang Paten, tidak perlu dilakukan sebagaimana telah dilakukan pada ”Naskah RUU Paten”. Alasannya, karena Pemeriksa Paten mempunyai tugas utama membantu pemerintah dalam memberikan hak ekslusif paten pada masyarakat yang sesungguhnya mutlak diperlukan dalam Undang-Undang Paten sebagai payung hukum yang kuat. Penghapusan dan perubahan Pasal 51 dan Pasal 1 ayat (8) sangat bertentangan dengan semangat Pemerintah R.I yang justru mendorong lahirnya jabatan fungsional untuk mendukung profesionalisme dan akuntabilitas publik. Indonesia sampai dengan ketiga periodisasi Undang-Undang Patennya saat ini, selama 16 tahun belum mampu meningkatkan jumlah (%) pertumbuhan paten domestik yang didominasi oleh jumlah (%) pertumbuhan paten asing 92,56 %. Oleh karena itu untuk memperkuat Undang-Undang Paten ke depan, diperlukan bangunan Sistem Hukum Hak Kekayaan Intelektual, selain mampu melindungi lebih banyak lagi teknologi paten domestik yang berasal dari industri dalam negeri sendiri, tetapi juga harus dapat mendorong dan lebih mengutamakan kepentingan nasional.
Hubungan antara Porositas dengan Kedalaman untuk Reservoir-Reservoir Batupasir di Indonesia Barat Bambang Widarsono
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 42 No 3 (2008)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.42.3.116

Abstract

Porositas batuan sebagai data penting bagi kegiatan produksi minyak dan gas (migas) memiliki hubungan yang unik, meskipun bervariasi, dengan kedalaman. Secara umum porositas mengecil dengan bertambahnya kedalaman, dan pengetahuan ini menjadi suatu aset yang sedikit banyak dapat digunakan untuk berbagai aplikasi di industri migas antara lain untuk mengontrol keakuratan porositas hasil evaluasi log sumuran. Pertanyaan yang selalu hadir adalah apakah hubungan antara porositas dan kedalaman yang ada di literatur cukup valid untuk kasus-kasus di Indonesia. Tulisan ini menyajikan usaha untuk mencari validitas bagi hubungan porositas – kedalaman yang ada di  literatur. Sebagai data penguji diambil porositas 157 percontoh batuan dari 15 lapangan minyak yang berasal dari 6 cekungan di Indonesia bagian Barat. Hasil utama dari studi ini adalah tidak validnya hubungan porositas – kedalaman yang ada dan bukti bahwa tingginya tingkat sementasi dan heterogenitas dari batuan-batuan reservoir di Indonesia. Hasil penting lainnya adalah sebuah hubungan matematis porositas – kedalaman yang sedikit banyak dapat dianggap mewakili untukreservoir-reservoir di Indonesia Barat.
Karakterisasi Biosurfaktan yang Dihasilkan Bakteri Providencia rettgeri dan Bacillus subtilis dari Reservoir Minyak di Indonesia sri Kadarwati
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 42 No 3 (2008)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.42.3.117

Abstract

Biosurfaktan merupakan suatu surfaktan yang disintesis oleh organisme. Zat ini mempunyai kemampuan antara lain menurunkan tegangan antarmuka antara minyak-air, yang berpotensi untuk meningkatkan perolehan minyak. Penelitian ini mempelajari karakterisik biosurfaktan yang mencakup kinetika pembentukan, jenis, dan komposisi senyawa penyusun biosurfaktan yang dihasilkan oleh bakteri Providencia rettgeri dan Bacillus subtilis dari reservoir minyak di Indonesia. Peningkatan produksi biosurfaktan baik dari Providencia rettgeri maupun Bacillus subtilis sesuai dengan kurva pertumbuhannya, ditandai dengan semakin banyaknya jumlah populasi sel semakin meningkat  juga produksi biosurfaktannya. Pada percobaan ini, sebagai sumber karbon digunakan glukosa dan minyak mentah (hidrokarbon). Pada awal pertumbuhan, glukosa dimanfaatkan terlebih dahulu, sehingga kandungan glukosa akan menurun dan habis pada jam ke- 60. Produksi biosurfaktan meningkat kembali, karena kedua bakteri menggunakan sumber karbon lain yaitu hidrokarbon yang ada di dalam media. Biosurfaktan yang dihasilkan kedua jenis bakteri tersebut mempunyai struktur yang sama dengan surfaktin, dengan kandungan masing-masing sebesar 22,09 ppm dan 27,54 ppm. Selain itu didapat 17 macam kandungan asam amino, sesuai dengan yang terkandung di dalam surfaktin, sebagai kontrol, kecuali prolin dan sistin.
Penelitian dan Kajian Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Kegiatan Eksplorasi dan Produksi Minyak dan Gas Bumi R Desrina
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 42 No 3 (2008)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.42.3.118

Abstract

Istilah limbah bahan berbahaya dan beracun (limbah B3) sering mempunyai arti yang bersifat ambigu. Di dalam peraturan pemerintah istilah limbah B3 digunakan lebih untuk mendifinisikannya dari aspek hukum (legal definition) untuk menyatakan limbah sebagai limbah B3 atau bukan limbah B3. Regulasi tentang limbah B3 ini semula dituangkan di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tahun 1994, PP No. 19/1994. Definisi limbah B3 di dalam PP tersebut kemudian diubah seiring dengan revisi peraturan tersebut yang menjadi peraturan baru, PP 18/1999. Sesuai peraturan yang termuat di dalam PP 18/1999, beberapa limbah dari kegiatan industri minyak dan gas bumi (migas) secara spesifik dikategorikan sebagai limbah B3. Di sisi lain di dalam peraturan pemerintah (PP 85/99 Pasal 7 ayat (5)) dicantumkan kalimat yang menyatakan bahwa limbah tersebut dapat dinyatakan limbah B-3 setelah dilakukan uji karakteristik dan atau uji toksikologi. Apakah ketentuan uji toksikologi untuk menentukan nilai LD50 dapat diberlakukan terhadap limbah lumpur minyak (sludge) atau lumpur pemboran misalnya, mengingat sludge atau lumpur pemboran ini sangat tidak mungkin untuk dapat di umpankan kepada hewan uji. Selain itu, pasal lain di dalam peraturan pemerintah (PP 85/1999 Pasal 8 ayat (2)) menyebutkan bahwa limbah B3 migas yang spesifik dapat dikeluarkan dari daftar tersebut oleh instansi yang bertanggung jawab, apabila dapat dibuktikan secara ilmiah bahwa limbah tersebut bukan limbah B3 berdasarkan prosedur yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab. Selanjutnya ayat 3 Pasal 8 menyebutkan bahwa pembuktian secara ilmiah dilakukan berdasarkan: (a). Uji karakteristik; (b). Uji toksikologi; dan atau: Hasil studi yang menyimpulkan bahwa limbah yang dihasilkan tidak menimbulkan pencemaran dan gangguan kesehatan terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya. Ketetapan-ketetapan di dalam PP 85/1999 khususnya tentang limbah B3 kegiatan eksplorasi dan produksi (EP) migas ini sering menimbulkan interpretasi yang kontroversial dan tidak dapat dilaksanakan di lapangan. Penelitian dan kajian ini mencoba menjawab tentang hal-hal tersebut.
Pengembangan Model Kompresor pada Jaringan Pipa Gas yang Komplek edward tobing
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 42 No 3 (2008)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.42.3.119

Abstract

Model simulasi jaringan pipa salur gas yang komplek dikembangkan dengan anggapan aliran dalam pipa adalah steady state. Analisis aliran steady state dalam jaringan pipa gas tersebut dilakukan untuk menentukan distribusi tekanan aliran gas pada setiap ”node” dan laju alir pada setiap”leg”, dengan mengetahui sekurang-kurangnya satu harga tekanan node serta supply atau demand pada node lainnya. Untuk mendesain dan menganalisis sistem jaringan pipa yang komplek dengan adanya peralatan kompresor, posisi leg digantikan oleh kompressor dengan menambahkan dua buah node, yaitu pada suction (inlet) dan discharge (outlet). Model simulasi ini kemudian dapat menghitung daya kuda (horse power) kompresor yang diperlukan untuk mengalirkan gas ke konsumen.
Optimalisasi Transesterifikasi Minyak Kelapa Sawit Menjadi Biodiesel dengan Katalis NaOH Heri Herizal; Maizar Rahman
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 42 No 3 (2008)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.42.3.120

Abstract

Telah dilakukan percobaan sintesis biodiesel melalui transesterifikasi minyak kelapa sawit (CPO) dengan metanol dan NaOH sebagai katalisnya. Untuk memperoleh kondisi operasi yang optimum maka beberapa variabel proses digunakan seperti konsentrasi katalis NaOH yang konsentrasinya antara 0,46-1,84%-berat, rasio molar Metanol/CPO yang besarnya sekitar 6-12, waktu reaksi antara 15-120 menit dan temperatur reaksi sekitar 50-65°C. Variabel yang optimal tersebut dipakai untuk memaksimalkan perolehan metil ester (biodiesel). Dalam studi ini perolehan biodiesel yang maksimal adalah sekitar 99%-berat. Produk tersebut dapat diperoleh pada kondisi operasi optimum sebagai berikut : konsentrasi NaOH = 1,38%, rasio molar = 10, waktu reaksi = 60 menit dan temperatur = 60°C. Karakteristik biodesel yang dihasilkan seperti viskositas kinematis, berat jenis, titik nyala dan sebagainya, masih berada pada batasan yang tercantum dalam SNI Biodiesel.
Potensi Hidrokarbon Sub-Cekungan Bandarjaya Provinsi Lampung Bambang Wiyanto; Taufan Junaedi; Sulistiyono Sulistiyono; Hendhy Prabawa; Yuli Wibowo; Diana Pratiwi
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 43 No 1 (2009)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.43.1.121

Abstract

Sub-Cekungan Bandarjaya terletak di Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung. Secara tektonik kawasan ini merupakan bagian dari sub-Cekungan Palembang Selatan yang memanjang berarah baratlaut – tenggara. Stratigrafi sub-Cekungan Bandarjaya secara berurutan sebagai berikut: Batuan dasar berupa batuan metamorf sekis khlorit berumur pra-Tersier, di atasnya diendapkan runtunan batuan Tersier dari Formasi Lahat, Formasi Talang Akar, Formasi Baturaja, Formasi Gumai, Formasi Air Benakat , Formasi Muara dan Formasi Kasai. Potensi hidrokarbon di sub-Cekungan Bandarjaya teridentifikasi dengan ditemukannya beberapa rembesan migas dan dari hasil pemboran sumur eksplorasi (Ratu-1 dan Tujoh-1). Batuan induk hidrokarbon berasal dari serpih Formasi Lemat dan serpih Formasi Talang Akar, dengan tipe kerogen II-III, dan tingkat kematangan awal matang-matang (Ro 0,56-1%). Batuan reservoir utama batupasir dari Formasi Talang Akar dengan porositas antara 13 – 23%, dan Batugamping terumbu-bioklastik dari Formasi Baturaja dengan porositas berkisar antara12 – 18%. Migrasi hidrokarbon secara vertikal melalui bidang-bidang patahan secara umum migrasi dari arah tenggaratimur ke barat-baratlaut dengan tidak menutup kemungkinan terjadinya migrasi lokal. Perangkap hidrokarbon berupa perangkap struktur (antiklin yang berkombinasi dengan blok sesar) dan perangkap stratigrafi (pinch out). Berdasarkan analisis dan interpretrasi data seismik pada sub-cekungan ini dapat diidentifikasi 8(delapan) prospek, yaitu: LAF-1, LAF-2, TAF-1, TAF-2,TAF-3, BRF, GAF-1 dan GAF-2. Hasil perhitungan sumberdaya hidrokarbon pada masing-masing prospek menunjukkan awal isi sumberdaya minyak (original oil resources/OOIP)= 2.460.959,21 MSTB, sedangkan sumberdaya minyak yang dapat diambil (recoverable oil resources) sebesar =615.239,80 MSTB (Tabel 1).
Perubahan Sifat-Sifat Fluida Reservoir pada Injeksi CO2 Sugihardjo Sugihardjo; Hadi Purnomo
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 43 No 1 (2009)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.43.1.122

Abstract

Injeksi gas CO2 ke dalam reservoir minyak merupakan EOR proven technology untuk menaikkan perolehan minyak. Sifat dasar dari gas CO2 adalah mampu tercampur dengan minyak, sehingga dapat mengubah sifat-sifat minyak. Perubahan sifat-sifat minyak pada injeksi CO2 dapat diamati di laboratorium. Analisis telah dilakukan dengan percontoh minyak diambil dari suatu reservoar undersaturated, dengan oAPI gravity 41.06, dan tekanan saturasinya 835 psig. TTM (tekanan terbaur minimal) fluida ini sebesar 2150 psig. Perubahan sifat-sifat fluida diamati dengan menginjeksikan CO2 secara bertahap. Komposisi CO2 injeksi berkisar antara 26,56 sampai dengan 55,96 persen mol. Sifat-sifat fluida yang diamati meliputi: tekanan saturasi, pengembangan minyak, kelarutan CO2, densitas, viskositas, dan komposisi fluida. Tekanan saturasi naik dari 835 psig menjadi 1850 psig. Faktor pengembangan minyak berkisar 1.10 sampai 1.41. Densitas minyak naik antara 14 sampai 45% pada tekanan saturasinya. Sedangkan harga viskositas minyak turun antara 51 sampai 76% pada tekanan saturasinya dibandingkan dengan harga viskositas mula-mula. Kelarutan CO2 akan naik dengan naiknya tekanan injeksi.

Page 6 of 59 | Total Record : 584


Filter by Year

1980 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 60 No 2 (2026) Vol 60 No 1 (2026) Vol 59 No 3 (2025) Vol 59 No 2 (2025) Vol 59 No 1 (2025) Vol 58 No 3 (2024) Vol 58 No 2 (2024) Vol 58 No 1 (2024) Vol 57 No 3 (2023) Vol 57 No 2 (2023) Vol 57 No 1 (2023) Vol 56 No 3 (2022) Vol 56 No 2 (2022) Vol 56 No 1 (2022) Vol 55 No 3 (2021) Vol 55 No 2 (2021) Vol 55 No 1 (2021) Vol 54 No 3 (2020) Vol 54 No 2 (2020) Vol 54 No 1 (2020) Vol 53 No 3 (2019) Vol 53 No 2 (2019) Vol 53 No 1 (2019) Vol 52 No 3 (2018) Vol 52 No 2 (2018) Vol 52 No 1 (2018) Vol 51 No 3 (2017) Vol 51 No 2 (2017) Vol 51 No 1 (2017) Vol 50 No 3 (2016) Vol 50 No 2 (2016) Vol 50 No 1 (2016) Vol 49 No 3 (2015) Vol 49 No 2 (2015) Vol 49 No 1 (2015) Vol 48 No 3 (2014) Vol 48 No 2 (2014) Vol 48 No 1 (2014) Vol 47 No 3 (2013) Vol 47 No 2 (2013) Vol 47 No 1 (2013) Vol 45 No 3 (2011) Vol 45 No 2 (2011) Vol 45 No 1 (2011) Vol 44 No 3 (2010) Vol 44 No 2 (2010) Vol 44 No 1 (2010) Vol 43 No 3 (2009) Vol 43 No 2 (2009) Vol 43 No 1 (2009) Vol 42 No 3 (2008) Vol 42 No 2 (2008) Vol 42 No 1 (2008) Vol 41 No 3 (2007) Vol 41 No 2 (2007) Vol 41 No 1 (2007) Vol 40 No 3 (2006) Vol 40 No 2 (2006) Vol 40 No 1 (2006) Vol 39 No 3 (2005) Vol 39 No 2 (2005) Vol 39 No 1 (2005) Vol 38 No 3 (2004) Vol 38 No 2 (2004) Vol 38 No 1 (2004) Vol 37 No 1 (2003) Vol 36 No 3 (2002) Vol 36 No 2 (2002) Vol 36 No 1 (2002) Vol 24 No 2 (1990) Vol 24 No 1 (1990) Vol 23 No 3 (1989) Vol 23 No 1 (1989) Vol 21 No 3 (1987) Vol 21 No 2 (1987) Vol 21 No 1 (1987) Vol 20 No 3 (1986) Vol 20 No 2 (1986) Vol 20 No 1 (1986) Vol 19 No 3 (1985) Vol 19 No 2 (1985) Vol 19 No 1 (1985) Vol 18 No 3 (1984) Vol 18 No 2 (1984) Vol 18 No 1 (1984) Vol 17 No 2 (1983) Vol 15 No 1 (1981) Vol 14 No 3 (1980) Vol 14 No 2 (1980) Vol 14 No 1 (1980) More Issue