cover
Contact Name
Wulandari Dianningtyas
Contact Email
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Phone
+6282121181003
Journal Mail Official
jurna.lemigas@esdm.go.id
Editorial Address
BBPMGB LEMIGAS Jl. Ciledug Raya Kav. 109. Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK DAN GAS BUMI (LPMGB)
Published by LEMIGAS
Core Subject :
LPMGB aims the dissemination of information on research activities, technology engineering development and laboratory testing in the oil and gas field. Manuscripts in English are accepted from all in any institutions, college and industry oil and gas throughout the country and overseas.
Arjuna Subject : -
Articles 584 Documents
Analisis Produktivitas Sumur Diperforasi Menggunakan Persamaan Kurva IPR Aliran Dua Fase edward tobing
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 2 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.2.65

Abstract

Persamaan kurva Inflow Performance Relationship (IPR) yang tersedia sampai saat ini dikembangkan untuk kondisi sumur open hole. Dalam aplikasi Analissa Sistem Nodal pada sumur yang diperforasi, perhitungan kehilangan tekanan dalam lubang perforasi merupakan hal yang sangat penting. Pada saat ini persamaan yang digunakan secara luas untuk memperkirakan kehilangan tekanan melalui lubang perforasi adalah persamaan Blount, Jones dan Glaze2). Persamaan tersebut diturunkan untuk aliran satu fase (fase gas atau minyak saja), dengan demikian pemakaian persamaan tersebut tidak memadai untuk sumur produksi aliran dua fase. Dalam tulisan ini, diusulkan persamaan kurva Inflow Performance Relationship untuk sumur yang diperforasi, dan diproduksikan dari reservoir bertenaga dorong gas terlarut (aliran dua fase minyak dan gas). Persamaan tersebut dikembangkan menggunakan simulator sumur tunggal aliran dua fase (Eclipse 2001A 4)) yang dikombinasikan dengan persamaan aliran dua fase dalam lubang perforasi yang diturunkan oleh Perez dan Kelkar3). Pada rentang yang luas dari sifat batuan dan fluida reservoir serta geometri perforasi, digunakan untuk mengembangkan persamaan dengan cara statistik.
Metode Pengambilan Data Pendukung Konsumsi Minyak Lumas pada Uji Jalan sebagai Unjuk Kerja Minyak Lumas Rona Malam Karina
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 2 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.2.66

Abstract

Rancang bangun mesin yang mensyaratkan penggunaan minyak lumas sesuai dengan API service mesin, kualitas konstruksi mesin, material mesin, kondisi operasi, perawatan mesin, bahan bakar dan kualitas minyak lumas yang dipakai adalah variabel yang mempengaruhi konsumsi minyak lumas, namun demikian yang perlu diperhatikan sebelum dilakukan uji jalan adalah adanya persiapan dari kendaraan uji yang akan dipakai yaitu verifikasi dan rekondisi mesin kendaraan. Dalam makalah ini disajikan beberapa metode pengambilan konsumsi minyak lumas yang harus dipilih sebelum dilakukan road test, agar pelaksanaan pengambilan percontoh pada ketepatan penambahan minyak lumas atau bahan bakar dapat terukur dan terkoreksi dengan tepat, sehingga konsumsi minyak lumas yang dihasilkan dapat diketahui dengan tepat dan benar.
Pengembangan Model Jaringan Pipa Salur Gas dengan Menggunakan Algoritma Sederhana edward ML tobing
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 3 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.3.67

Abstract

Jaringan pipa salur adalah alat transportasi gas alam yang mempunyai faktor keamanan yang cukup baik serta ekonomis. Jaringan pipa salur ini akan sesuai dengan kapasitasnya, bila didesain dengan optimal. Untuk mendesain atau mengevaluasi jaringan pipa salur gas yang optimal, dapat dilakukan dengan menggunakan model simulasi jaringan pipa salur gas. Model simulasi jaringan pipa gas dalam tulisan ini telah dikembangkan dengan menganggap aliran dalam pipa adalah steady state. Analisis terhadap aliran steady state dilakukan untuk menentukan distribusi tekanan aliran gas pada setiap node dan laju alir pada setiap(elemen penghubung node) leg, di mana sekurang-kurangnya satu harga tekanan node serta supply atau demand pada node lainnya diketahui. Dalam makalah ini, metode yang digunakan untuk menganalisis aliran steady state pada jaringan pipa gas adalah algoritma sederhana dengan ciri step-forward yang dikembangkan oleh Tian-Adewuni.Dalam metoda ini, harga tekanan node langsung dikoreksi dari setiap iterasinya berdasarkan ketidakseimbangan laju alir massa pada node tersebut, karena perkiraan harga tekanan yang digunakan untuk menentukan laju alir massa gas dalam pipa pada tahap iterasi sebelumnya belum tepat. Dengan menggunakan algoritma ini, maka dapat mengembangkan model simulasi jaringan pipa gas tanpa menggunakan matriks aljabar, dan dapat memecahkan masalah jaringan pipa gas dengan model jaringan Nodal.
Efek Minyak Tanah dalam Minyak Solar 48 terhadap Sifat-Sifat Fisika/Kimia dan Kinerja Mesin Djainuddin Semar
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 3 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.3.74

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengamati perubahan sifat-sifat fisika/kimia dan kinerja mesin yang memakai dua jenis bahan bakar yaitu minyak solar tanpa dicampur dengan minyak tanah dan minyak solar yang dicampur dengan minyak tanah. Minyak solar dan minyak tanah yang dipakai dalam studi ini berasal dari Pertamina. Hasil analisis minyak solar yang dicampur dengan minyak tanah menunjukkan bahwa sifatsifat fisika/kimia dan kinerja mesin lebih rendah daripada minyak solar tanpa dicampur minyak tanah. Hasil studi ini sebagai masukan ke Pemerintah dalam menentukan mutu minyak solar dan penempatan spesifikasi minyak solar mendatang.
Pengaruh Pemakaian Minyak Lumas pada Komponen Mesin Diesel Melalui Uji Jalan Rona Malam Karina; Dimitri Rulianto
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 3 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.3.77

Abstract

Untuk mengetahui penetapan waktu penggantian (drain interval) yang paling efektif dan ekonomis, serta untuk menganalisis problem gangguan serius dan kerusakan pada mesin kendaraan perlu dilakukan uji jalan dengan cara menganalisis karakteristik fisika-kimia minyak lumas baru dan minyak lumas bekas serta rating terhadap komponen mesin. Pada makalah ini disajikan hasil analisis rating terhadap komponen kendaraan mesin diesel yang dipakai pada uji jalan setelah menempuh jarak 20.000 kilometer. Penelitian ini dilakukan dengan cara: merekondisikan mesin dengan mengganti beberapa komponen utama mesin dan melakukan penyetelan sesuai spesifikasi yang direkomendasikan pabrik pembuatnya; melakukan running-in sejauh + 1000 km; dan melakukan uji jalan dengan target pelaksanaan mencapai jarak tempuh 20.000 km, yang dilakukan terhadap 4 percontoh minyak lumas mesin diesel dengan 6 kendaraan uji dan kondisi operasi normal ± 300 km per hari meliputi route dalam dan luar kota. Berdasarkan hasil evaluasi rating beberapa komponen mesin yang terdapat pada 6 (enam) kendaraan uji, bahwa 4 (empat) jenis minyak lumas mesin diesel SAE 15W40, API CH-4 yang digunakan dapat digunakan sampai jarak 20.000 km.
Pengaruh Bahan Pengaktif Isopropil Alkohol dan Metanol dalam Proses Urea Dewaxing terhadap Spindle Oil (SPO) Raffinate Edi Gunamawan
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 3 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.3.78

Abstract

Urea Dewaxing adalah suatu proses pengambilan lilin dalam suatu minyak dengan urea. Untuk memperbaiki proses urea dewaxing biasanya perlu ditambahkan dengan bahan pengaktif, dalam penelitian ini digunakan isopropil alkohol dan metanol. Bahan pengaktif ini akan mengubah struktur urea dari tetragonal menjadi heksagonal dalam pembentukan kompleks dan jumlah bahan pengaktif optimum tidak tergantung dari jenis minyak di dewaxing. Kelebihan bahan pengaktif dalam proses tidak memberi efek baik terhadap proses pembentukan kompleks, tetapi malah dapat merusak kompleks. Proses ini tanpa menggunakan pelarut karena bahan pengaktif ini dengan mudah dapat melarutkan parafin dan ureanya terhadap bahan dasar spindle oil. Urea digunakan dalam bentuk kristal, makin banyak jumlah kristal sampai batas tertentu, semakin banyak nparafin yang dapat diperoleh, karena pembentukan kompleks semakin baik dan harga titik tuangnya semakin turun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa isopropil alkohol mempunyai pengaruh yang lebih baik dalam melakukan proses urea dewaxing dengan pertimbangan harga titik tuang lebih rendah (-100C) , waktu pengadukan lebih singkat (2 jam), dan pengambilan lilin yang lebih banyak.
Studi Emisi Pencemar Biodiesel dari Minyak Goreng Bekas pada Mesin Diesel Generator 5 KVA Mardono Mardono
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 42 No 1 (2008)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.42.1.80

Abstract

Penggunaan biodiesel (FAME – Fatty Acid Methyl Ester) sebagai pengganti bahan bakar mesin Diesel berkembang sangat pesat dalam usaha mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak bumi. Namun di Indonesia perkembangan pemanfaatan biodiesel terkendala oleh harga biodiesel yang lebih tinggi dari bahan bakar Diesel otomotif (minyak solar) yang masih disubsidi oleh pemerintah. Dengan demikian penggunaan minyak goreng bekas atau minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel mempunyai peluang untuk mendapatkan biodiesel dengan harga yang lebih murah. Minyak jelantah adalah bahan yang terbuang dan sangat berbahaya bagi kesehatan apabila digunakan kembali sebagai minyak goreng karena sifatnya karsinogen, dan dengan proses transesterifikasi dapat diubah menjadi ester yang mempunyai karakteristik mendekati bahan bakar Diesel. Pada studi ini, biodiesel yang dibuat dari minyak jelantah diuji sebagai bahan bakar pada mesin Diesel generator 5 KVA. Dalam uji penerapannya di laboratorium bahan bakar biodiesel murni B-100 maupun campuran B-10 dan B-50 dianalisis emisi opasitas asap, HC dan CO dari gas buangnya dan dibandingkan dengan emisi gas buang dari bahan bakar referensi minyak Solar. Di samping itu, konsumsi bahan bakarnya juga dibandingkan. Hasil studi menunjukkan bahwa biodiesel dari minyak goreng bekas B-10, B-50, B100 dapat menjadi bahan bakar pengganti yang ramah lingkungan. Opasitas asap, emisi HC dan CO dari mesin diesel generator 5 KVA pada beban listrik sampai 2000 Watt secara signifikan masingmasing turun sampai -66,4%, -24,6% dan -28,6%, namun konsumsi bahan bakarnya meningkat antara 2,3% - 9,2%, masih diperlukan studi lanjutan untuk melihat pengaruhnya pada pembentukan deposit pada sistem injeksi bahan bakar dan ruang bakar mesin.
Perubahan Sifat Kebasahan Fluida dan Sifat Kelistrikan Batuan Reservoir: Isu Lama, Persoalan Aktual Bambang Widarsono
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 42 No 1 (2008)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.42.1.83

Abstract

Eksponen saturasi (n) adalah salah satu parameter yang memainkan peran penting sekali dalam pengestimasian saturasi air dengan menggunakan data log sumur. Permasalahan yang telah diketahui secara meluas tetapi belum ditangani dengan optimum sampai sat ini adalah adanya perbedaan yang berarti antara data eksponen saturasi yang diukur pada kondisi atmosfer dan pada kondisi reservoir, akibat adanya perubahan sifat kebasahan (wettability) batuan, sedangkan fakta menunjukkan bahwa sebagian besar data tersebut diukur pada kondisi atmosfer. Artikel ini menyoroti kembali permasalahan lama yang masih tetap aktual ini dengan tujuan memperingatkan kembali pentingnya masalah ini. Penyebab-penyebab terjadinya perbedaan tersebut seperti perubahan sifat kebasahan, efek ekstrasi, efek cara pensaturasian, dan efek akibat kompresi dan pemanasan dibahas dengan cukup mendalam. Efek dari ketidakpastian dalam estimasi saturasi air akibat data eksponen saturasi yang tidak representatif juga disajikan secara grafis. Tulisan ini ditutup dengan diskusi mengenai kemungkinan-kemungkinan yang dapat diambil dalam meminimalisasi kemungkinan terjadinya perubahan sifat kebasahan batuan agar batuan percontoh yang hendak diukur di laboratorium memiliki sifat kebasahan yang merepresentasikan keadaan di reservoir.
Penelitian Sensitivitas Angka Oktana Bensin yang Beredar di Indonesia Djainuddin Semar; Pallawagau La Puppung
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 42 No 1 (2008)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.42.1.84

Abstract

Sensitivitas adalah selisih antara angka oktana riset dan angka oktana motor dari bensin. Sensitivitas bahan bakar bensin merupakan ukuran seviritas operasi dari mesin Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan sensitivitas tiga jenis bensin yaitu bensin 88 bertimbal dan tanpa timbal, bensin 91 (Pertamax) dan bensin 95 (Pertamax Plus) yang dipasarkan di Indonesia. Penelitian ini memakai 16 percontoh bensin dari Pertamina (Depot dan SPBU) dari 5 propinsi di Indonesia. Hasil analisis sensitivitas (S) percontoh bensin Indonesia adalah sebagai berikut: bensin 88 bertimbal S = 3,2 – 5,1; bensin 88 tanpa timbal S = 10,6 – 11,4; bensin 91 (Pertamax) S = 10,5 – 12,6; bensin (Pertamax Plus) S = 12,5 – 13,0.
Aditif yang Terkandung dalam Paket Aditif Pelumas untuk Otomotif dan Industri Sesuai Perkembangan Teknologi subiyanto subiyanto
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 2 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.2.85

Abstract

Pelumas dibuat dari bahan dasar pelumas ditambah aditif. Bahan dasar pelumas ada yang berasal dari minyak bumi dan disebut dengan base oil, dan yang berasal dari sintetis. Aditif pelumas banyak jenisnya, tergantung dari fungsinya yang akan diembannya. Aditif pelumas dibuat secara sintesa kimia. Pembuat aditif memproduksi aditif dalam bentuk komponen atau paket aditif. Komponen aditif lebih ditekankan pada jenis komponen penaik indeks viskositas dan aditif titik tuang, yang digunakan untuk memperbaiki karakteristik base oil. Sedangkan paket aditif pelumas pembuatannya lebih ditekankan pada perbaikan unjuk kerja. Dalam paket aditif biasanya terdapat aditif komponen jenis deterjen, anti aus, anti korosi, anti oksidasi, anti busa dan aditif pemodifikasi gesekan. Pelumas dikelompokkan dalam dua segmen besar yaitu segmen otomotif dan segmen industri. Formula pelumas otomotif telah banyak berubah oleh karena adanya peraturan pemerintah terkait, dan permintaan pabrik kendaraan. Permintaan aditif untuk segmen industri tumbuh lebih cepat dari pada segmen otomotif, walaupun naiknya masih sedang-sedang saja. Pada segmen otomotif, minyak lumas mesin adalah pemakai aditif yang paling besar dibanding minyak lumas roda gigi tranmsisi manual dan gardan serta Automatic Transmission Fluid (ATF). Untuk industri, minyak lumas mesin juga paling banyak pemakaiannya diikuti minyak hidrolik dan minyak lumas pengolahan logam. Karena kemajuan teknologi, periode penggantian pelumas makin lama, sehingga mengurangi keuntungan produsen, sebaliknya menguntungkan pemakai.

Page 4 of 59 | Total Record : 584


Filter by Year

1980 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 60 No 2 (2026) Vol 60 No 1 (2026) Vol 59 No 3 (2025) Vol 59 No 2 (2025) Vol 59 No 1 (2025) Vol 58 No 3 (2024) Vol 58 No 2 (2024) Vol 58 No 1 (2024) Vol 57 No 3 (2023) Vol 57 No 2 (2023) Vol 57 No 1 (2023) Vol 56 No 3 (2022) Vol 56 No 2 (2022) Vol 56 No 1 (2022) Vol 55 No 3 (2021) Vol 55 No 2 (2021) Vol 55 No 1 (2021) Vol 54 No 3 (2020) Vol 54 No 2 (2020) Vol 54 No 1 (2020) Vol 53 No 3 (2019) Vol 53 No 2 (2019) Vol 53 No 1 (2019) Vol 52 No 3 (2018) Vol 52 No 2 (2018) Vol 52 No 1 (2018) Vol 51 No 3 (2017) Vol 51 No 2 (2017) Vol 51 No 1 (2017) Vol 50 No 3 (2016) Vol 50 No 2 (2016) Vol 50 No 1 (2016) Vol 49 No 3 (2015) Vol 49 No 2 (2015) Vol 49 No 1 (2015) Vol 48 No 3 (2014) Vol 48 No 2 (2014) Vol 48 No 1 (2014) Vol 47 No 3 (2013) Vol 47 No 2 (2013) Vol 47 No 1 (2013) Vol 45 No 3 (2011) Vol 45 No 2 (2011) Vol 45 No 1 (2011) Vol 44 No 3 (2010) Vol 44 No 2 (2010) Vol 44 No 1 (2010) Vol 43 No 3 (2009) Vol 43 No 2 (2009) Vol 43 No 1 (2009) Vol 42 No 3 (2008) Vol 42 No 2 (2008) Vol 42 No 1 (2008) Vol 41 No 3 (2007) Vol 41 No 2 (2007) Vol 41 No 1 (2007) Vol 40 No 3 (2006) Vol 40 No 2 (2006) Vol 40 No 1 (2006) Vol 39 No 3 (2005) Vol 39 No 2 (2005) Vol 39 No 1 (2005) Vol 38 No 3 (2004) Vol 38 No 2 (2004) Vol 38 No 1 (2004) Vol 37 No 1 (2003) Vol 36 No 3 (2002) Vol 36 No 2 (2002) Vol 36 No 1 (2002) Vol 24 No 2 (1990) Vol 24 No 1 (1990) Vol 23 No 3 (1989) Vol 23 No 1 (1989) Vol 21 No 3 (1987) Vol 21 No 2 (1987) Vol 21 No 1 (1987) Vol 20 No 3 (1986) Vol 20 No 2 (1986) Vol 20 No 1 (1986) Vol 19 No 3 (1985) Vol 19 No 2 (1985) Vol 19 No 1 (1985) Vol 18 No 3 (1984) Vol 18 No 2 (1984) Vol 18 No 1 (1984) Vol 17 No 2 (1983) Vol 15 No 1 (1981) Vol 14 No 3 (1980) Vol 14 No 2 (1980) Vol 14 No 1 (1980) More Issue