cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2019)" : 21 Documents clear
ANALISIS SS400 HASIL CARBURIZING MEDIA ARANG TEMPURUNG KELAPA-BACO3 DENGAN VARIASI TEMPERATUR PEMANASAN DAN HOLDING TIME DITINJAU DARI PENGUJIAN KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO FAIZATUL ABIDAH, AIDHA; SUKMA DRASTIAWATI, NOVI
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Peningkatan kapasitas produksi yang semakin besar meningkatkan persaingan kualitas dan harga peralatan pertanian terutama produk cangkul sampai menimbulkan, permasalahan, yaitu banyaknya peralatan pertanian yang diimpor dari Cina, sehingga merugikan pande besi dan industri peralatan pertanian. Industri baja menyediakan material SS400, namun bahan yang disediakan kurang keras pada permukaan material. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan penelitian guna meningkatkan kualitas kekerasan permukaan, dengan dilakukan proses pack carburizing pada baja SS400. Tujuan penelitian ini mendapatkan material dengan permukaan yang keras.Penelitian ini menggunakan metode pack carburizing. Arang tempurung kelapa yang digunakan dalam proses carburizing adalah 250 gram dan 20% BaCO3. Dalam penelitian ini disediakan kontainer atau wadah yang diisi arang tempurung kelapa-BaCO3 dan material SS400 kemudian dipanaskan pada temperatur 845ºC kemudian di holding time 2 dan 3 jam. Selanjutnya untuk temperatur 955ºC dengan holding time 2 jam dan 3 jam. Sesudah proses carburizing dilakukan pengujian kekerasan rockwell dan foto struktur mikro.Hasil pengujian kekerasan, semakin tinggi temperatur dan holding time semakin keras permukaan material SS400, serta struktur mikro yang banyak terbentuk adalah fase martensit. Pada hasil pengujian kekerasan menunjukan temperatur 845?C holding time 2 jam mengalami peningkatan dengan kekerasan sebesar 683,7 HV. Temperatur 845?C holding time 3 jam nilai kekerasan mengalami peningkatan sebesar 736 HV. Temperatur 955?C holding time 2 jam nilai kekerasan mengalami peningkatan sebesar 828 HV. Temperatur 955ºC holding time 3 jam nilai kekerasan mengalami peningkatan sebesar 868,3 HV. Kata kunci: pack carburizing, arang tempurung kelapa-BaCO3, baja SS400, temperatur pemanasan, holding time, kekerasan material, struktur mikro. Abstract Enhancement production capacity making competition for quality and price of agricultural equipment, especially hoes products, causing problems, namely the large amount of agricultural equipment imported from China, which is detrimental to iron industry and the agricultural equipment industry. The steel industry,provides SS400 material, but the material provided is less hard on the surface of the material. To overcome the above problems, research is carried out to improve the quality of surface hardness, by carrying out the carburizing pack process on SS400 steel. The purpose of this research is to get material with a hard surface.This method uses the pack carburizing method. Coconut shell charcoal used in the carburizing process is 250 grams and 20% BaCO3. In this study provided containers or containers filled with coconut shell charcoal-BaCO3 and SS400 material then heated at a temperature of 845ºC then holding time 2 and 3 hours. Next for the temperature of 955ºC with a holding time of 2 hours and 3 hours. After the carburizing process rockwell hardness testing and microstructure photos were carried out.The results of hardness testing, the higher the temperature and holding time the harder the surface of the SS400 material, and the micro structure that is formed is the martensite phase. The results of the hardness test showed a temperature of 845?C holding time of 2 hours had increased with a hardness of 683.7 HV. 845?C temperature holding time 3 hours the hardness increased by 736 HV. 955?C temperature holding time 2 hours the hardness value increased by 828 HV. 955ºC temperature holding time 3 hours hardness value increased by 868.3 HV. Keywords: pack carburizing, coconut shell charcoal-BaCO3, SS400 stell, heating temperature, holding time, material hardness, microstructure
STUDI HASIL PROSES PENGELASAN FCAW (FLUX CORED ARC WELDING) PADA MATERIAL ST 41 DENGAN VARIASI MEDIA PENDINGIN TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN STRUKTUR MIKRO ARDIANSAH, ARI; , YUNUS
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Di era sekarang Perkembangan teknologi di bidang kontruksi yang semakin maju tidak dapat dipisahkan dari pengelasan karena pengelasan mempunyai peranan yang sangat penting dalam rekayasa dan reparasi logam. Teknik penyambungan logam dengan pengelasan mulai dikembangkan sejak abad ke 19. FCAW (Flux Cored Arc Welding) merupakan las busur listrik fluk inti tengah / pelindung inti tengah. FCAW merupakan kombinasi antara proses SMAW, GMAW dan SAW. Sumber energi pengelasan yaitu dengan menggunakan arus listrik AC atau DC dari pembangkit listrik atau melalui trafo dan atau rectifier.FCAW adalah salah satu jenis las listrik yang memasok filler kawat las secara mekanis terus ke dalam busur listrik yang terbentuk di antara ujung filler kawat las dan metal induk. Baja yang digunakan adalah baja karbon rendah yang juga disebut baja lunak, baja lunak ini adalah baja yang mudah dilas, dapat dilas dengan semua cara pengelasan. Kemampuan suatu jenis media dalam mendinginkan spesimen bisa berbeda-beda, media pendingin merupakan suatu subtansi yang berfungi dalam menentukan kecepatan pendinginan yang dilakukan terhadap material yang telah diuji dalam perlakuan panas. Berdasarkan latar belakang, penelitian ini berfokus pada ?Studi Hasil Proses Pengelasan FCAW (Flux Cored Arc Welding) pada Material ST 41 dengan Variasi Media Pendingin Terhadap Kekuatan Tarik dan Struktur Mikro?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kekuatan tarik dan struktur mikro pada hasil pengelasan FCAW pada material baja karbon rendah ST 41 dengan menggunakan variasi media pendingin (udara, air dan oli). Data dari hasil penelitian dengan variasi media pendingin udara, oli dan air terhadap pengelasan FCAW baja karbon rendah ST 41. Adalah sebagai berikut, kekuatan tarik rata-rata tertinggi menggunakan media pendingin udara sebesar 51,7 N/mm², media pendingin oli sebesar 48,34 N/mm² dan kekuatan tarik rata-rata terendah menggunakan media pendingin air sebesar 44,16 N/mm². Hasil uji struktur mikro proses pengelasan FCAW dengan variasi media pendingin menghasilkan perpaduan batas butir ferit dan perlit. Kata kunci: Las FCAW, Kekuatan Tarik, Struktur Mikro,Media Pendingin Abstract In the current era, technological developments in the field of increasingly advanced construction cannot be separated from welding because welding has a very important role in the engineering and repair of metals. Metal connecting techniques with welding began to be developed since the 19th century. FCAW (Flux Cored Arc Welding) is an electric arc welding center core fluk / middle core protector. FCAW is a combination of the SMAW, GMAW and SAW processes. The welding energy source is by using AC or DC electric current from a power plant or through a transformer and / or rectifier. FCAW is one type of electric welding that supplies mechanical filler welding wire into an electric arc formed between the filler ends of weld wire and metal parent. The steel used is low carbon steel which is also called soft steel, this soft steel is steel that is easily welded, can be welded by all welding methods. The ability of a type of media to cool specimens can vary, cooling media is a substance that functions in determining the speed of cooling carried out on materials that have been tested in heat treatment. Based on the background, this study focuses on "Study of FCAW Welding Process Results in ST 41 Materials with Cooling Media Variations on Tensile Strength and Micro Structures". The purpose of this study was to determine the tensile strength and microstructure of FCAW welding results on ST 41 low carbon steel material using a variety of cooling media (air, water and oil). Data from the results of the study with variations in air, oil and water cooling media on welding FCAW low carbon steel ST 41. The following are the highest average tensile strength using air conditioning media of 51.7 N / mm², oil cooling media of 48, 34 N / mm² and the lowest average tensile strength using water cooling media of 44.16 N / mm². The microstructure test results of the FCAW welding process with variations in cooling media produce a mixture of ferrite and pearlite grain boundaries. Keywords: FCAW Welding, Tensile Strength, Micro Structure,Colling Media
ANALISA PENGENDALIAN KUALITAS TUNGKU KOMPOR DENGAN METODE STATISTICAL PROCESS CONTROL (SPC) DI PT. ELANG JAGAD ANANG PAMBUDI, MOH.; , ISKANDAR
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dunia industri manufaktur logam sangat diperlukan sebuah metode untuk mengurangi kecacatan dalam kualitas sebuah produk termasuk produk tungku kompor. Proses pengendalian terhadap kualitas terhadap produk diperlukan metode Statistical Process Control (SPC) yang dimana metode ini sangat efektif untuk menyelesaikan permasalahan mengenai kecacatan yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat defect proses tungku kompor dengan metode Statistical Process Control (SPC), mengetahui penyebab faktor yang mengakibatkan kerusakan atau defect pada process tungku kompor dan mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mengurangi tingkat defect pada proses tungku kompor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis statistika deskriptif analitis. Objek yang digunakan dalam pengendalian kualitas produksi ini adalah cacat tungku kompor yang mengalami titik dan patah. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah menyusun check sheet dan histogram, membuat diagram peta kendali, membuat diagram pareto dan membuat penyusunan terkait permasalahan serta solusi perbaikan menggunakan tabel diagram fishbone. Hasil penelitian presentase pada produk tungku kompor di PT. Elang Jagad sebesar 3,83% pada periode Desember 2018 hingga April 2019 dengan batas kendali maksimal 0,0383 dengan cacat titik yang mencapai persentase 88,6% dan cacat patah yang mencapai persentase 11,4%. Kata Kunci: Statistical Process Control (SPC), Produk Cacat, Tungku Kompor.
STUDI EKSPERIMEN PENGARUH KECEPATAN MAKAN PADA PROSES HOT TURNING TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN DAN AKURASI DIMENSI MATERIAL AISI 4140 MENGGUNAKAN LPG HEATING SYSTEM CHRISTIAN NINGRUM, DEVY; HAFIZH AINUR RASYID, AKHMAD
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses hot turning adalah proses pembubutan material dengan penambahan pemanasan dimana untuk menjadikan material lebih lunak dengan mengurangi kekuatan gesernya dan mengurangi biaya pemesinan. Pelunakan benda kerja adalah metode yang lebih efektif daripada memperkuat alat pemotong dalam mesin konvensional. Pada proses hot turning dengan kenaikan temperatur permukaan pada benda kerja, hal ini akan berpengaruh terhadap tingkat kekasaran dan akurasi dimensi permukaan benda kerja. Variasi feeding yang berbeda juga mempengaruhi terhadap tingkat kekasaran dan akurasi dimensi permukaan benda kerja, Sehingga menimbulkan permasalahan yaitu bagaimana pengaruh variasi kecepatan makan pada proses hot turning terhadap tingkat kekasaran dan akurasi dimensi permukaan baja AISI 4140. Penelitian ini dilakukan dengan memvariasikan kecepatan makan 0.04 mm/min, 0.09 mm/min, 0.14 mm/min dengan penambahan temperatur. Benda kerja yang digunakan pada proses hot turning adalah AISI 4140 dengan kekerasan 44 HRC. Sesudah proses dilakukan, selanjutnya pada benda kerja dilakukan pengujian kekasaran permukaan dan keakurasian dimensi. Hasil pengujian kekasaran permukaan menunjukkan bahwa semakin tinggi kecepatan makan pada proses hot turning maka hasil tingkat kekasaran rendah. kekasaran paling rendah didapat pada feeding 0.04mm/min yaitu 1,783 µm, sedangkan nilai kakasaran permukaan yang paling tinggi didapat pada feeding 0.14mm/min yaitu 3,882 µm. Penurunan tingkat kekasaran diiringi juga dengan penurunan keakurasian dimensi. Kata kunci: Hot Turning, LPG Heating System, Kekasaran Permukaan dan Keakurasian Dimensi
PENGARUH VARIASI WAKTU CELUP DAN TEGANGAN TERHADAP BEBAN PUNTIR DAN STRUKTUR MIKRO BAJA ST41 PADA PROSES PELAPISAN NIKEL FAHMY SATRIADI WASKITO, YOGA; MAHENDRA SAKTI, ARYA
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pelapisan logam merupakan proses pelapisan yang menggunakan prinsip pengendapan logam dengan cara elektrokimia. Pemilihan jenis material yang digunakan pada penelitian ini adalah baja ST41 yang merupakan baja karbon rendah. Aplikasi baja ST41 ini digunakan untuk peralatan otomotif. Bahan yang digunakan untuk melapisi baja ST41 pada penelitian ini menggunakan nikel yang merupakan logam keras, ulet, bias ditempa, dan berwarna putih keperakan. Nikel merupakan konduktor panas dan listrik yang cukup baik. Pelapisan logam dilakukan menggunakan dua variasi, yaitu variasi tegangan diantaranya 6 volt, 9 volt, dan 12 volt. Variasi yang kedua adalah variasi lama pencelupan diantaranya 15 menit, 20 menit, dan 25 menit. Pelapisan logam yang dilakukan melalui variasi-variasi tersebut akan menghasilkan tingkat kepadatan yang berbeda pada setiap material, sehingga peneliti melakukan analisa kepadatan pada setiap material setelah mendapatkan perlakuan pelapisan logam. Pada penelitian ini, baja ST41 melalui proses uji Scanning Electron Microscope (SEM) yang dilakukan setelah proses pelapisan nikel serta menganalisa lama pencelupan dan tegangan. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat kepadatan lapisan dari setiap material setelah perlakuan pelapisan logam yang kemudian dilakukan analisa kerapatan menggunakan alat uji scanning electron microscopy (SEM). Adalah kerapatan 89,5% saat dicelup dengan waktu 15 menit pada tegangan 12 volt, dan kerapatan 95,5% dengan waktu 25 menit pada tegangan 12 volt. Kata Kunci: Baja ST 41, Electroplating nickel, kerapatan.
PENGARUH VARIASI AIR FUEL RATIO (AFR) PADA GASIFIER TERHADAP KUANTITAS NYALA API SYN GAS PADA GASIFIKASI BIOMASSA CANGKANG SAWIT RIANSYAH, DIKY; HERU SUTJAHJO, DWI
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKebutuhan energi listrik baik dengan mencari energi baru maupun dengan Hampir semua bagian dari pohon kelapa sawit secara komersial bisa dimanfaatkan, terutama di sektor energi dan manufaktur. Namun demikian, cangkang sawit memiliki penggunaan yang sangat terbatas, hanyalah dibiarkan kering kemudian dibakar dan ada pula yang dibiarkan membusuk, padahal cangkang sawit memiliki potensi yang tinggi dan layak digunakan sebagai bahan baku biomassa gasifikasi. Gasifikasi merupakan proses konversi energi dari bahan padat (biomassa) menjadi syn gas (gas hasil sintesa) yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Banyaknya udara yang masuk ke dalam gasifier akan berpengaruh terhadap laju alir massa syn gas dan kualitas dari syn gas. Penelitian ini dilakukan dengan metode ekperimental diskriptif kuantitatif dan kualitatif bertujuan untuk mengetahui pengaruh Air Fuel Ratio yang masuk ke dalam gasifier terhadap kuantitas nyala api syn gas yang ditinjau dari visualisasi nyala api, lama nyala api, dan temperatur nyala api. Pada gasifikasi cangkang sawit menggunakan gasifier tipe up draft. Variasi Air Fuel Ratio (AFR) dilakukan dengan cara mengatur kecepatan putaran udara dari blower yang masuk ke dalam reaktor dengan mengatur bukaan katup pada blower. Dari hasil penelitian didapatkan rata-rata tinggi nyala api syn gas pada AFR 0,2 0,3, 0,5, 0,8 dan 1,1 masing-masing adalah 13.5 cm, 18 cm, 23 cm, 45 cm, dan 53 cm. Sedangkan lama nyala api pada AFR 0,2 0,3, 0,5, 0,8 dan 1,1 masing-masing adalah 20 menit, 100 menit, 80 menit, 50 menit, dan 30 menit. Temperatur rata-rata nyala api pada AFR 0,2, 0,3, 0,5, 0,8 dan 1,1 masing-masing adalah 137 0C ,269 0C, 186 0C, 174 0C, dan 153 0C. Visualisasi nyla api terbaik yakni pada AFR 0,3 didapatkan profil api biru dengan temperatur tertinggi.Kata Kunci : Air Fuel Ratio, Gasifikasi, Syn Gas.AbstractAlmost all parts of oil palm trees can be used commercially, especially in the energy and manufacturing sectors. However, palm shells have very limited use, are used to be left dry and then burned and some are left to rot, even though palm shells have high potential and are suitable to be used as raw material for biomass gasification. Gasification is the process of converting energy from solid materials (biomass) to syn gas (synthesis gas) that can be used as fuel. Much of the air entering the gasifier will be directed towards the syn gas mass flow rate and the quality of syn gas. This research was carried out by descriptive quantitative and qualitative experimental method aimed to determine the effect of Air Fuel Ratio that goes into the gasifier to the syn gas flame quantity which is viewed from the visualization of the flame, the duration of the flame, and the flame temperature. In the palm shell gasification using a gasifier type up draft. Air Fuel Ratio (AFR) variation is done by adjusting the speed of air rotation from the blower that enters the reactor by adjusting the valve openings on the blower. The results of the research obtained are as follows average flame height syn gas nm at AFR 0.2, 0.3, 0.5, 0.8 and 1.1 is 13.5 cm, 18 cm, 23 cm, 45 cm, and 53 cm respectively. Whereas the flame duration at AFR 0.2 0.3, 0.5, 0.8 and 1.1 is 20 minutes, 100 minutes, 80 minutes, 50 minutes and 30 minutes, respectively. The average flame temperature at AFR 0.2, 0.3, 0.5, 0.8 and 1.1 are 1370C, 2690C, 186 0C, 1740C and 1530C, respectively. The visualization of the best flame is that the AFR 0.3 has a blue flame profile with the highest temperature.Keywords : Air Fuel Ratio, Gasification, Syn Gas.
UJI KUALITAS SYNGAS GASIFIKASI BIOMASSA CANGKANG SAWIT TERHADAP AFR DAN KADAR AIR PADA GASIFIER TIPE UPDRAFT MYZHAR, RAMLY; HERU SUTJAHJO, DWI
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Peningkatan produksi kelapa sawit dari tahun ke tahun, berbanding lurus dengan peningkatan volume limbah kelapa sawit. Limbah industri kelapa sawit mengandung bahan organik yang tinggi, penanganan yang tidak tepat dipastikan berakibat mencemari lingkungan sekitar. Limbah kelapa sawit adalah sisa hasil tanaman kelapa sawit yang tidak termasuk dalam produk utama proses pengolahan kelapa sawit, baik berupa limbah padat dan cair. Limbah padat kelapa sawit antara lain tandan kosong, cangkang dan sabut (fiber). Pada penelitian ini menggunakan metode analisa deskriptif kualitatif dan kuantitatif, digunakan biomassa cangkang sawit sebagai bahan bakar yang berasal dari Medan. Penulis memvariasikan empat AFR yaitu 0,3; 0,5; 0,8; 1,1 dan mengkondisikan kadar air biomassa cangkang sawit sesuai kandungan air di lapangan yaitu setelah melalui proses produksi. Kadar air dan AFR mempengaruhi durasi pembentukan syngas hasil gasifikasi biomassa, durasi pembentukan syngas pada AFR 0,3; 0,5; 0,8; 1,1 secara berurutan adalah 26 menit, 22 menit, 19 menit dan 14 menit. Kualitas syngas bisa dilihat secara visual melalui hasil pemabakaran syngas, pada AFR 0,3 didapatkan api biru, AFR 1,1 didapatkan nyala api jingga. Semakin kaya kandungan flammable gas dalam syngas, maka nyala api syngas berwarna biru dan semakin sedikit kandungan flammable gas dalam syngas, maka nyala api akan berwarna kuning kemerah-merahan/jingga. Terjadi kecenderungan penurunan presentase H2, CH4 dan CO pada syngas di AFR 0,3; 0,5; 0,8; dan 1,1 presentase H2 dan CH4 mengalami tren penurunan untuk senyawa CO sendiri pada syngas mengalami penurunan ke 4%. Penurunan CO pada masing-masing AFR terjadi karena terbentuknya CO2 sebagai dampak dari reaksi pembakaran yang tinggi dengan meningkatnya AFR. Kata Kunci : AFR, Gasifier, Cangkang sawit, Syngas, Kadar air. Abstract The increase in palm oil production from year to year is directly proportional to the increase in the volume of oil palm waste. The oil palm industry waste contains high organic matter, improper handling is sure to result in polluting the surrounding environment. Oil palm waste is the residual yield of oil palm plants which are not included in the main products of palm oil processing, both in the form of solid and liquid waste. Solid palm oil waste includes empty bunches, shells and fiber. In this study using qualitative and quantitative descriptive analysis methods, palm kernel shell biomass was used as fuel originating from Medan. The author varies four AFRs which are 0.3; 0.5; 0.8; 1,1 and condition the water content of palm kernel shell biomass according to the water content in the field after going through the production process. Water content and AFR affect the duration of syngas formation of biomass gasification results, duration of syngas formation at AFR 0.3; 0.5; 0.8; 1,1 in a row are 26 minutes, 22 minutes, 19 minutes and 14 minutes. The quality of syngas can be seen visually through the combustion of syngas, in the AFR 0.3 a blue flame is obtained, the AFR 1.1 is found in an orange flame. The more rich the content of flammable gas in syngas, the syngas flame is blue and the less content of flammable gas is in syngas, the flame will be reddish / orange. There is a tendency to decrease the percentage of H2, CH4 and CO in syngas at AFR 0.3; 0.5; 0.8; and 1.1 percent H2 and CH4 experienced a downward trend for the CO compound itself on syngas which decreased to 4%. The decrease in CO in each AFR occurs because of the formation of CO2 as a result of high combustion reactions with increasing AFR. Keywords: AFR, Gasifier, Palm shell, Syngas, Moisture content.
PENGARUH VARIASI UKURAN CANGKANG SAWIT PADA PROSES GASIFIKASI TERHADAP PERFORMA GASIFIER TIPE UPDRAFT SATRIYA NUGROHO, ADITYA; HERU SUTJAHJO, DWI
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cangkang kelapa sawit adalah salah satu bahan baku biomassa yang jumlahnya cukup melimpah di Indonesia. Salah satu alternatif yang menarik karena sifatnya yang renewable yang proses terbentuknya membutuhkan waktu yang lebih singkat. Penggunaan biomassa umumnya digunakan pada sektor rumah tangga kususnya di pedesaan dengan cara dibakar secara langsung. Tetapi apabila biomassa tersebut hanya dibakar secara langsung maka akan timbul permasalahan yaitu nilai bakar yang rendah dan kadar emisi polutan yang tinggi (Fisafarani,2010). Gasifikasi merupakan suatu bentuk peningkatan penggunaan energi yang terkandung di dalam bahan biomassa melalui suatu konversi dari bahan padat menjadi syn gas dengan menggunakan proses degradasi termal material-material organik pada temperatur tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan metode diskriptif kuantitatif dan kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi ukuran cangkang sawit yang dibakar di dalam gasifier terhadap performa gasifier menggunakan gasifier tipe updraft. Variasi dilakukan dengan cara memisahkan ukuran cangkang kelapa sawit menggunakan wire mesh dengan ukuran mesh 2 dan mesh 3. Pada proses gasifikasi Air Fuel Ratio (AFR) diatur sebesar 0,3 atau kecepatan udara 1,3 m/s. Kemudian akan diamati bagaimana temperatur nyala api, tinggi nyala api, lama nyala api, serta warna api syn gas. Hasil penelitian ini di dapatkan rata-rata temperatur nyala api dengan AFR 0,3 biomassa mesh 2 dan mesh 3 adalah 255?C dan 230?C. Tinggi nyala api dengan AFR 0,3 biomassa mesh 2 dan mesh 3 didapatkan rata-rata 17,4 cm dan 16,6 cm. Lama nyala api dengan AFR 0,3 biomassa mesh 2 dan mesh 3 masing-masing adalah 100 menit dan 80 menit. Sedangkan visualisasi api yang di dapatkan mesh 2 dengan profil api berwarna biru dan mesh 3 didapatkan profil api biru kemerahan. Hasil terbaik dari penelitian ini adalah biomassa dengan ukuran mesh 2. Kata kunci : Cangkang kelapa sawit, gasifikasi, biomassa, gasifier, syn gas.
PENGARUH VARIASI MEDIA ARANG TEMPURUNG KELAPA, TONGKOL JAGUNG, DAN KAYU JATI PADA METODE PACK CARBURIZING TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO BAJA SS400 KURNIAWAN, OKTA; SUKMA DRASTIAWATI, NOVI
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kapasitas produksi cangkul yang semakin besar meningkatkan persaingan industri cangkul dalam negeri dan luar negeri. Oleh karena itu menimbulkan permasalahan banyaknya cangkul luar negeri dari Cina yang mempunyai kualitas lebih baik terutama kekerasan permukaan mata cangkul, hal tersebut mengancam industri cangkul di Indonesia. Untuk mengatasi permasalahan diatas dilakukan penelitian dengan tujuan meningkatkan kualitas kekerasan permukaan material baja SS400 dengan metode pack carburizing. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi media tempurung kelapa, tongkol jagung, dan kayu jati pada metode pack carburizing terhadap kekerasan dan struktur mikro baja SS400. Metode yang digunakan pada penelitian ini yakni eksperimen pack carburizing dengan variasi media arang tempurung kelapa, tongkol jagung, dan kayu jati. Baja SS400 dengan dimensi 100 mm x 50 mm x 2 mm dimasukkan ke dalam kontainer (wadah) yang sudah terisi campuran kalsium karbonat (CaCo3) dan media arang kemudian kontainer ditutup dipanaskan menggunakan muffle furnace sampai temperatur 950ºC, holding time 2 jam dan quenching dengan media air. Pengujian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji kekerasan berskala vickers dan uji struktur mikro. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pack carburizing dengan variasi media arang tempurung kelapa, tongkol jagung, dan kayu jati berpengaruh terhadap kekerasan dan struktur mikro baja SS400, Nilai kekerasan yang tertinggi dari hasil penelitian ini adalah variasi media arang tempurung kelapa sebesar 861 HV dan yang terendah adalah media arang tongkol jagung sebesar 669,6 HV sedangkan media arang kayu jati sebesar 838,1 HV. Hasil pengujian struktur mikro terbentuk fasa martensit pada permukaan material baja SS400 setelah perlakuan proses pack carburizing dengan variasi media arang tempurung kelapa, tongkol jagung, dan kayu jati yang dilanjutkan proses holding time dan quenching, fase martensit yang terbentuk lebih dominan pada variasi media arang tempurung daripada variasi media arang kayu jati, dan tongkol jagung. Kata kunci : pack carburizing, baja SS400, variasi media carburizing, holding time, quenching.
PERANCANGAN MESIN PENAKAR TEPUNG OTOMATIS BERBASIS REVERSE ENGINEERING DAN KEBUTUHAN CUSTOMER SYAHRUL SYAH, SYEIHAN; PRIJO BUDIJONO, AGUNG
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

UD Alam Raya Serasi adalah usaha dagang yang bergerak dibidang makanan yang memproduksi Roti Lapis Kukus Suroboyo. Dalam proses produksi roti, diperlukan bahan-bahan dalam takaran tertentu untuk menghasilkan roti yang nikmat sesuai dengan resep. Salah satu bahan utama yang digunakan adalah tepung, tepung harus ditakar dengan berat tertentu agar sesuai dengan resep. Selama ini di pabrik tersebut menggunakan alat penakar dengan merk Fillmach S01P kapasitas 25 Kg dengan sistem Auger Filler. Namun masih ada kekurangan dari alat tersebut diantaranya, dari segi kemudahan perbaikan dan pembersihan pada hooper karena masih menggunakan flens dan baut. Adanya tepung yang jatuh dari output dan ketelitian sistem penakaran. Sistem agitator yang masih menyisakan tepung yang menempel di dinding hooper. Penelitian ini bermaksud untuk merancang ulang mesin penakar tepung otomatis yang sesuai dengan kebutuhan customer menggunakan metode reverse engineering. Pengambilan data dilakukan dengan observasi langsung pada mesin tersebut dengan maksud untuk memperoleh informasi yang sesuai dengan tujuan penelitian. Setelah memperoleh data kekurangan mesin penakar tepung, porses redesign untuk memperbaiki kekurangan pada mesin tersebut. Kemudian di lakukan perhitungan perancangan elemen mesin hingga didapatkan dimensi komponen terpasang, untuk menvalidasi dilakukan Interference Check dan motion analysis untuk mengetahui efek dari perbaikan desain menggunakan software solidwork. Hasil penelitian menunjukkan desain agitator dengan modifikasi tambahan teflon tebal 3 mm yang dapat diatur jarak himpitannya sejau 10 mm dengan permukaan corong input dapat menyapu tepung dengan baik hingga tepung dapat bergeser dan tidak menempel di permukaan corong input. Desain dengan modifikasi dimensi pitch berbeda menghasilkan kepadatan tepung didalam tabung output, sehingga debit aliran lebih konsisten yang akan meningkatkan kepresisian proses pengisian. Desain komponen corong output setelah modifikasi adalah dengan merubah sistem penguncian yang dirubah menjadi menggunakan sistem penguncian alur dengan 3 baut model T. Perubahan ini menghasilkan percepatan proses pelepasan corong saat melakukan repair atau perawatan mesin menjadi 4 kali lebih cepat yaitu hanya membutuhkan waktu 15 detik untuk pelepasan, membutuhkan 4 langkah pada proses pelepasan. didapatkan kapasitas mesin sebesar 231.5 kg/jam dan menggunakan daya listrik sebesar 0.229 kw (229 W) sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak perlu ada perubahan motor penggerak dan transmisi pada mesin ini. Kata kunci: mesin penakar tepung otomatis, reverse engineering, auger.

Page 1 of 3 | Total Record : 21