cover
Contact Name
Rizki Rahmawati Lestari, S.KM. M.Kes
Contact Email
nurlailynurlily08@gmail.com
Phone
+6281266432727
Journal Mail Official
nurlailynurlaily08@gmail.com
Editorial Address
Bangkinang, Kampar Riau, Indonesia
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Journal of Integrated Knowledge and Innovation
ISSN : -     EISSN : 30906377     DOI : https://doi.org/10.31004/jiki.v2i1.35
Core Subject :
Journal of Integrated Knowledge and Innovation adalah jurnal yang menerbitkan artikel penelitian yang mencangkup multidisiplin, yang meliputi : Humaniora dan ilmu sosial, ilmu politik kontemporer, ilmu pendidikan, ilmu agama dan filsafat, ilmu teknik, bisnis dan ekonomi, Koperasi, teknologi, ilmu kesehatan, ilmu kedokteran, pengembangan SDM, ilmu seni desain dan media. jurnal ini diterbitkan oleh Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, yang diterbitkan dalam 2 kali dalam setahun yaitu Mei, dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 43 Documents
Penggunaan Media Sosial dan Perilaku Remaja di SMA Negeri 2 Tuban Hanyokro Bagus Prastyo; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Wahyuningsih Triana Nugraheni
Journal of Integrated Knowledge and Innovation Vol. 2 No. 1 (2026): Vol.2 No.1 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tabusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jiki.v2i1.56

Abstract

Platform digital seperti media sosial kini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari keseharian remaja, mulai dari sekadar mengobrol, mencari bahan bacaan, hingga mengisi waktu luang dengan hiburan. Ketika intensitas pemakaiannya cukup tinggi, ada kecenderungan hal itu ikut membentuk pola perilaku mereka sehari-hari. Fase remaja sendiri memang rawan, karena pada masa inilah pencarian jati diri berlangsung sehingga pengaruh dari luar termasuk media sosial jadi lebih mudah menempel dan berpotensi mengubah cara mereka bersikap di lingkungan sosial. Riset ini disusun untuk memotret gambaran intensitas penggunaan media sosial serta perilaku pada siswa kelas XI SMA Negeri 2 Tuban. Rancangan penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi mencakup seluruh siswa kelas XI di sekolah tersebut, berjumlah 150 orang, dan sampel yang diambil sebanyak 110 remaja melalui teknik Simple Random Sampling. Dua variabel yang diteliti adalah penggunaan media sosial dan perilaku remaja. Data dihimpun lewat kuesioner, lalu diolah dengan statistik deskriptif berupa distribusi frekuensi dan persentase. Temuan menunjukkan hampir seluruh responden (86,4%) tergolong memiliki intensitas penggunaan media sosial tinggi. Sementara itu, sebagian besar (69,1%) menunjukkan perilaku negatif, dan yang lebih spesifik lagi, 73,3% remaja dengan intensitas pemakaian tinggi justru berperilaku negatif. Banyak hal ikut membentuk perilaku remaja, baik yang datang dari dalam diri mereka sendiri maupun dari luar. Media sosial termasuk salah satu faktor eksternal yang berperan cukup besar di sini. Dipakai dengan cara yang tepat, media sosial sebenarnya bisa mendatangkan manfaat, semisal untuk menggali informasi seputar pendidikan, mengasah kreativitas, memperluas pergaulan, sampai melatih kemampuan berkomunikasi. Namun kalau pemakaiannya kebablasan, dampaknya justru berbalik arah: kontrol diri menurun, gaya hidup jadi lebih konsumtif, muncul kecenderungan meniru hal-hal yang kurang pantas, dan interaksi sosial secara langsung dengan orang-orang di sekitar pun ikut berkurang.
Pola Makan Balita dengan Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Wire Mochammad Anselmo Ega Putra Wicaksono; Su’udi Su’udi; Titik Sumiatin; Teresia Retna Puspitadewi
Journal of Integrated Knowledge and Innovation Vol. 2 No. 1 (2026): Vol.2 No.1 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tabusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jiki.v2i1.57

Abstract

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada balita akibat kekurangan gizi kronis yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berumur dua tahun (1000 Hari Pertama Kehidupan). Orang tua umumnya baru menyadari balitanya mengalami Stunting setelah berumur di atas dua tahun, padahal Stunting berdampak pada gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola makan pada balita Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Wire Kabupaten Tuban. Jenis penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki balita Stunting sebanyak 79 ibu, dengan jumlah sampel sebanyak 66 ibu balita yang dipilih melalui teknik Cluster Random Sampling. Variabel penelitian ini adalah pola makan balita Stunting. Pengumpulan data menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruhnya (90,9%) pola makan balita cukup pada orang tua berumur >35 tahun, sebagian kecil (9,1%) pola makan balita kurang. Sebagian besar (70,0%) pola makan balita cukup pada orang tua berpendidikan SMP, sebagian kecil (15,4%) pola makan balita kurang pada orang tua berpendidikan Perguruan Tinggi. Sebagian besar (52,4%) pola makan balita cukup pada orang tua yang bekerja, dan sebagian besar (64,4%) pola makan balita cukup pada orang tua yang tidak bekerja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan pola makan yang memenuhi gizi seimbang dan adekuat sejak masa kehamilan, baik dari kualitas, kuantitas, maupun keberagaman makanan yang dikonsumsi, sangat penting dalam pencegahan Stunting. Pemenuhan jenis makanan bergizi, frekuensi makan yang teratur, serta jumlah asupan yang sesuai kebutuhan dapat membantu menunjang pertumbuhan dan perkembangan balita. Orang tua disarankan memberikan makanan dengan gizi seimbang, dengan mengupayakan setiap kali makan terdapat sumber karbohidrat, protein hewani, protein nabati, serta sayur dan buah.
Aktifitas Fisik dan Resiko Kejadian Hipertensi Pada Remaja Di Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Tuban Hibatullah Aditya Prabawa Atmaja; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Wahyuningsih Triana Nugraheni
Journal of Integrated Knowledge and Innovation Vol. 2 No. 1 (2026): Vol.2 No.1 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tabusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jiki.v2i1.58

Abstract

Hipertensi sering disebut sebagai “pembunuh diam-diam” dan saat ini sedang mengalami transisi epidemiologis yang memengaruhi remaja. Menurut studi SKI tahun 2023, 10,7% penduduk Indonesia berusia 18 hingga 24 tahun menderita hipertensi, sedangkan laporan WHO tahun 2024 memperkirakan bahwa 1,4 miliar orang di seluruh dunia mengidap kondisi tersebut. Kurangnya aktivitas fisik akibat gaya hidup yang tidak aktif, yang semakin umum di kalangan remaja, merupakan faktor risiko yang dapat diubah. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki korelasi antara aktivitas fisik dan risiko hipertensi pada remaja yang terdaftar di Program Diploma Tiga Keperawatan Kampus Tuban. Analisis ini dirancang sebagai penelitian deskriptif dengan menggunakan kerangka kerja cross-sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh mahasiswa keperawatan berusia 18 hingga 20 tahun di Universitas Tuban pada tahun akademik 2025–2026, dengan total 137 remaja, di mana 102 di antaranya dipilih dari kelompok tersebut. Pengambilan sampel dilakukan secara sengaja. Variabel yang diteliti adalah aktivitas fisik dan risiko hipertensi. Alat yang digunakan meliputi Kuesioner Baecke, serta pengukuran tinggi badan, berat badan, dan tekanan darah sesuai dengan klasifikasi ESH-ESC tahun 2018. Analisis data dilakukan secara deskriptif (univariat). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja (53,9%) melakukan aktivitas fisik yang intens / berat. Hipertensi merupakan faktor risiko bagi 75,5% remaja secara keseluruhan, dan bagi 80% di antara mereka yang aktif secara fisik/beraktifitas fisik berat, risikonya bahkan lebih tinggi; bagi 50% di antara mereka yang tidak aktif secara fisik/aktifitas ringan, risikonya sebesar 50%, sedangkan bagi 50% sisanya, risikonya sama sekali tidak tinggi. Aktivitas fisik intens pada remaja sebagian besar disebabkan oleh tuntutan akademis dan klinis yang ketat, bukan oleh olahraga terorganisir yang justru mengurangi risiko hipertensi; oleh karena itu, kemungkinan terjadinya tekanan darah tinggi tetap ada meskipun aktivitas tersebut dianggap berat. Hipertensi tidak selalu disebabkan oleh olahraga ringan karena risikonya bersifat kompleks, yang berarti tidak hanya satu faktor yang meningkatkan risiko tersebut. Sebaliknya, sejumlah faktor berbeda dapat saling berkontribusi sehingga meningkatkan risiko tersebut.