cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Rekayasa Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
PENGARUH PERSENTASE COAKAN PADA DENAH BANGUNAN STRUKTUR FLATSLAB TERHADAP GAYA GESER DAN SIMPANGAN PUTRA ANGGARA, WAHYU
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/18 (2018): Wisuda ke-91 Periode 1 Tahun 2018
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coakan adalah lubang pada sudut bangunan, SNI 1726:2012 menjelaskan bentuk bangunan dibagi menjadi dua jenis dilihat dari persentase coakan, yaitu beraturan dan tidak beraturan. Dikatakan bangunan tidak beraturan jika memenuhi salah satu klasifikasi ketidakberaturan bangunan. Besarnya persentase coakan berpengaruh pada gaya geser dan simpangan. Penelitian bertujuan mengetahui perbedaan gaya geser dan simpangan akibat adanya penambahan coakan. Direncanakan memiliki 11 lantai, menggunakan struktur flatslab, berdiri di Surabaya dengan kondisi tanah lunak. Analisa dilakukan dengan software ETABS 2016. Hasil penelitian menunjukkan rasio perbandingan gaya geser antara bangunan A, dengan bangunan B (1:0.97), dengan bangunan C (1:0.76), dengan bangunan D (1:0.92). Simpangan arah melintang, perbandingan displacement antara bangunan A dengan bangunan B (1:1.31), dengan bangunan C (1:1.35), dengan bangunan D (1:1.32). Sedangkan arah memanjang, perbandingan displacement antara bangunan A, dengan bangunan B (1:1.36), dengan bangunan C (1:1.66), dengan bangunan D (1:1.40). Bangunan dengan coakan >15% (bangunan B, C, D) merupakan bangunan tidak beraturan dan masuk kondisi tidak aman karena simpangan antar lantai melebihi simpangan ijin. Kata Kunci: Coakan, Gaya Geser, Simpangan, Bangunan Beraturan dan Tidak Beraturan ABSTRACT Re-entrannt corners is a hole in the corner of the building, SNI 1726: 2012 describes the criteria of building form is divided into two types seen from the percentage of re-entrant corners, namely irregular and irregular. It is said the building is irregular if it meets one of the classification of building irregularities. The amount of re-entrant corners percentage also affects the shear force and drift. This research is to know the difference of shear force and drift due to the addition of re-entrant corners. The building is planned to have 11 floors,using flatslab methodsin Surabaya with soft soil conditions. The analysis was done with ETABS 2016. The results showed the ratio of shear force between building A, with building B being 1: 0.97, with building C being 1: 0.76, with building D being 1: 0.92. Cross direction drift, the roof displacement ratio between building A and building B is 1: 1.31, with building C being 1: 1.35, with building D being 1: 1.32. While the direction is elongated, the displacement ratio between building A, and building B is 1: 1.36, with building C being 1: 1.66, with building D being 1: 1.40. Buildings with re-entrant corners > 15% (model B, C, D) are irregular building and have unsafe condition because drift does not exceed the limit of drift. Keywords: Re-entrant Corners, Shear Forces, Drift, Regular and Irregular Building
PENGARUH SUBTITUSI FLY ASH DENGAN LIMBAH MARMER TERHADAP KUAT TEKAN DAN POROSITAS BETON GEOPOLIMER PADA NAOH 15M NUR FITRIAH SARI, BINTI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/18 (2018): Wisuda ke-91 Periode 1 Tahun 2018
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Belakangan ini, isu  pemanasan global menjadi perhatian di  dunia. Hal ini berdampak pada tuntutan akan green building terutama pada green material construction. Salah satu alternatif guna mengatasi dampak negatif dari produksi Semen Portland (PC) adalah menggunakan beton geopolimer. Beberapa peneliti menyebutkan bahwa beton geopolimer berpotensi menghasilkan sifat mekanik yang lebih baik dengan adanya kandungan CaO pada fly ash dan dengan cara meningkatkan konsentrasi larutan NaOH. Limbah marmer memiliki kandungan CaO tinggi sebesar 98,63%. Penelititan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh subtitusi fly ash dengan limbah marmer pada NaOH 15M terhadap kuat tekan dan porositas beton geopolimer. Pengujian dilakukan pada silinder dia. 10cm dan tinggi 20cm dengan variasi persentase subtitusi sebesar 10%, 30% dan 50%. Larutan alkali aktifator menggunakan molaritas 15M dan perbandingan SS/SH (Sodium Silikat : Sodium Hidroksida) 1 : 1,5.  Beton diuji pada umur 7 dan 28 hari dengan masing-masing 3 benda uji. Metode pembuatan  dan pengujian berstandar pada SNI serta mix desaign mengacu pada Nart and Sharker. Hasil penelitian menunjukkan kuat tekan dan porositas yang maximal terjadi pada subtitusi 10%. Hasil kuat tekan beton geopolimer pada umur 28 hari dengan subtitusi sebesar 0%, 10%, 30% dan 50% berturut–turut adalah 23.01 MPa, 31.83 MPa, 27.86 MPa, 19.72 MPa, dan porositas beton geopolimer sebesar 3.2%, 2.4%, 5.1%, dan  6.7%. Kata Kunci: beton geopolimer, limbah marmer, fly ash, kuat tekan, pororsitas, aktifator. Abstract In recent years, issues of global warning is a concern in the world. This has an impact on the demand for green building mainly in green construction materials. One alternative to overcome the negative impact of the production of Portland cement (PC) is using geopolymer concrete. Some researchers say that the geopolymer concrete could potentially result in better mechanical properties by addition to the content of CaO in the fly ash and by increasing the concentration of NaOH solution.  A marble waste production has a high CaO content of 98.63%. This study was aimed to determine the effect of substituting fly ash with marble waste in NaOH 15M of compressive strength and porosity geopolymer concrete. Tests carried out on cylinders dim. 10cm and 20cm high with a substitution percentage variation that is used by 10%, 30% and 50%. Alkaline activator solution using 15M molarity ratio SS / SH (Sodium Silicate: Sodium Hydroxide) 1: 1.5. Test carried of Specimen at the age of 7 and 28 days with each of the three test specimens. Methods of making and testing standards of the SNI and mix desaign refers Nart and Sharker. The results showed that the compressive strength and porosity m occurs at 10% substitution. The results of compressive strength of geopolymer concrete at 28 days with the substitution of 0%, 10%, 30% and 50% respectively is 23.01 MPa, 31.83 MPa, 27.86 MPa, 19.72 MPa, and the porosity of the geopolymer concrete at 3.2%, 2.4%, 5.1%, and 6.7% . Keywords: geopolymer concrete, marble waste, fly ash, compressive strength, porosity, activator.
PENGARUH SUBTITUSI LIMBAH MARMER PADA FLY ASH TERHADAP KUAT TEKAN DAN POROSITAS BETON GEOPOLIMER PADA MOLARITAS 10M AGUS ARIFIN, IMAM
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/18 (2018): Wisuda ke-91 Periode 1 Tahun 2018
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semen merupakan material yang hampir tidak bisa dihindari penggunaanya pada setiap pembangunan bidang infrastruktur. Gas rumah kaca yang dihasilkan dari proses pembuatan 1 ton semen kurang lebih juga sejumlah 1 ton. Masalah tersebut bisa dihindari dengan cara mengganti, atau mengurangi komposisi semen pada pembuatan beton. Beton geopolimer dibuat tanpa menggunakan semen, beton geopolimer dibuat menggunakan bahan dasar fly ash. Fly ash akan menjadi bahan pengikat setelah direaksikan dengan larutan alkali aktivator. Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa kandungan CaO pada fly ash berpengaruh terhadap kuat tekan beton geopolimer. Limbah marmer merupakan material sisa produksi yang memiliki kandungan CaO tinggi, yaitu sebesar 98,63%. Penelititan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh subtitusi limbah marmer pada fly ash, dan kaitannya dengan kuat tekan dan porositas beton geopolimer. Pengujian dilakukan dengan benda uji silinder dengan diameter 10 cm dan tinggi 20 cm. Larutan alkali aktivator menggunakan molaritas 10M dan perbandingan SS/SH (Sodium Silikat : Sodium Hidroksida) 1 : 1,5. Variasi persentase subtitusi yang digunakan sebesar 10%, 30% dan 50%. Hasil penelitian menunjukkan subtitusi limbah marmer sebesar 10% memiliki kuat tekan paling tinggi pada umur 28 hari, yaitu sebesar 27,62 MPa dan porositas sebesar 5,45%. Kata Kunci: beton geopolimer, limbah marmer, fly ash, kuat tekan, pororsitas, aktifator, binder, pemanasan global. Abstract Portland cement is one of building material almost inevitable in use for every infrastructure development. Greenhouse gases which is generated by production process of 1 ton cement is also approximately 1 ton.  In case of decreasing this problem, it’s necessary to look for alternative material for reduce of cement using. Geopolymer concrete is made without using of portland cement, it is made of fly ash base material. Fly ash become a binder after it has been reacted with an alkaline activator solvent. A lot of research about geopolymer concrete has been done, some of the result indicate that CaO content in fly ash give effect on compressive strength of geopolymer concrete. Marble waste is residual material of production that has high number of CaO content, which is equal to 98,63%. This research aim to determine the effect of marble waste substitution on fly ash and it’s correlation to compressive strength and porosity of geopolymer concrete. The test is done by cylindrical test object with 10 cm diameter and 20 cm height. Alkaline activator solvent using 10M molarity and SS/SH ratio (Sodium Silica : Sodium Hydroxide) 1:1,5. Variation of percentage substitution used is 10%, 30%, and 50%. The result show 10% substitution of marble waste has highest compressive strength on 28 days old, that is 27,62 MPa for compressive strenght and 5,45% porosity. Keywords: geopolymer concrete, fly ash , compressive strength, porosity, activator, binder, global warming
PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN TINGGI BADAN MANUSIA TERHADAP 3 KELOMPOK YANG BERBEDA Susanti, Anita; Aryani Soemitro, Ria Asih; Suprayitno, Hitapriya
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/18 (2018): Wisuda ke-91 Periode 1 Tahun 2018
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan tinggi badan manusia dipengaruhi oleh jenis kelamin, ras, dan usia. Oleh karena itu diperlukan suatu penelitian mengenai perbandingan pengukuran tinggi badan manusia pada 3 kelompok yang berbeda. Tujuan dari pengukuran tinggi badan ini adalah untuk mengetahui nilai rata-rata, nilai minimum, nilai maksimum, range, varians, standar deviasi. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah pengumpulan data sekunder dan data primer. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara melakukan pengukuran tinggi badan pada 89 mahasiswa (populasi) S1 Teknik Sipil UNESA 2015, 37 mahasiswa (populasi) S1 Teknik Sipil UNESA 2016, dan 30 siswa (sampel) Bintara AL 2017. Hasil pengukuran tinggi badan manusia terhadap 89 mahasiswa (populasi) S1 Teknik Sipil UNESA 2015 memiliki nilai rata-rata 163.51 cm, nilai minimum 148 cm, nilai maksimum 184 cm, range 36 cm, nilai varians data 60.03, nilai standar deviasi 7.75. Hasil pengukuran tinggi badan manusia terhadap 37 mahasiswa (populasi) S1 Teknik Sipil UNESA 2016 memiliki nilai rata-rata 165.14 cm, nilai minimum 147 cm, nilai maksimum 180 cm, range 33 cm, nilai varians data 68.22,  nilai standar deviasi 8.26. Hasil pengukuran tinggi badan manusia terhadap 30 siswa (sampel) siswa Bintara AL 2017 memiliki nilai rata-rata 167.30, nilai minimum 160.5 cm, nilai maksimum 176 cm, range 15.5 cm, nilai varians data 11.41, nilai standar deviasi 3.38. Grafik distribusi frekuensi yang dihasilkan dari pengukuran tinggi badan terhadap 3 kelompok yang berbeda secara teoritis berdistribusi normal. Hasil perbandingan pengukuran tinggi badan dari 3 kelompok yang berbeda diketahui bahwa tinggi badan rata-rata yang paling tinggi adalah siswa Bintara Angkatan Laut (AL) 2017 sebesar 167.30 cm. Kata Kunci: tinggi badan, rata-rata, range, varians, standar deviasi
PENGARUH PENAMBAHAN ABU DASAR (BOTTOM ASH) PADA TANAH LEMPUNG EKSPANSIF DI DAERAH SURABAYA BARAT TERHADAP NILAI POTENSIAL SWELLING WIJAYA, ORYN
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/18 (2018): Wisuda ke-91 Periode 1 Tahun 2018
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah ekspansif adalah istilah yang digunakan pada tanah yang potensi pengembangan atau penyusutan yang tinggi oleh pengaruh perubahan kadar air. Dalam pembangunan konstruksi, jenis tanah ini memiliki daya dukung yang lemah sehingga mengakibatkan kerusakan struktur pada konstruksi dan akan mengalami banyak kerugian jika tidak dilakukan perbaikan sifat tanahnya. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui pengaruh penambahan abu dasar PT. Wilmar Nabati Indonesia, Gresik dalam menurunkan nilai potensial pengembangan dan mendapatkan komposisi abu dasar PT. Wilmar Nabati Indonesia, Gresik untuk memperbaiki nilai potensial pengembangan tinggi menjadi sedang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental yang dilakukan di Labolatorium Mekania Tanah Universitas Negeri Surabaya. Variabel komposisi campuran tanah lempung ekspansif dan Abu dasar dengan variasi 0%, 12,5%, 25%, 37,5%, 50% dan 62,5%. Rangkaian pengujian ini antara lain pengujian sifat fisik tanah, berat jenis tanah, kepadatan ringan tanah dan pengembangan tanah. Nilai pengembangan untuk variasi campuran abu dasar 0%, 12,5%, 25%, 37,5%, 50% dan 62,5% masing-masing 5,14%, 4,07%, 2,59%, 1,62%, 0,96% dan 0,21%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penambahan abu dasar mampu menurunkan nilai pengembangan pada tanah lempung ekspansif yang semula tinggi menjadi rendah. Kata Kunci: tanah ekspansif, abu dasar, potensi pengembangan. Abstract Expansive soils is a term used on land with high potential swelling or shrinkage by the effect of the changes in moisture content. In building construction, this type of soil has a weak soil bearing capacity resulting in structural damage to the construction and will be having a lot of harm if not improvement of soil properties. The purpose of this research is to know the effect of the addition of bottom ash of PT Wilmar Nabati Indonesia, Gresik in lowering the value of potential swelling and get the basic composition of bottom ash of PT Wilmar Nabati Indonesia, Gresik to improve high potential swelling medium. This research uses experimental research methods conducted in the Laboratory Mekanika Tanah State University of Surabaya. The variable composition of expansive soils and bottom ash base with variations 0%, 12.5%, 25%, 37.5%, 50% and 62.5%. The test subjects include testing of atterberg limit test, specific gravity test, standard proctor test and potential swelling test. Value of potential swelling for bottom ash mixed variations of 0%, 12.5%, 25%, 37.5%, 50% and 62.5% are 5.14%, 4.07%, 2.59%, 1.62%, 0.96% and 0.21%. The results showed that the addition of bottom ash is able to degrade the value of potential awelling on the original high expansive soil into low. Keywords: expansive soil, bottom ash, potential swelling.
PENGARUH PENGGUNAAN BOTTOM ASH BATU BARA DAN LIMBAH KARBIT SEBAGAI SUBSTITUSI SEMEN PADA CAMPURAN PAVING BLOCK BHAKTI PURNASETA TOKEDE, BRIAN
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/18 (2018): Wisuda ke-91 Periode 1 Tahun 2018
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri pembuatan kertas PT. Tjiwi Kimia, Mojokerto menghasilkan produk sisa berupa limbah bottom ash, dengan kandungan kimia berupa silika (Si). Limbah las karbit merupakan limbah pengelasan dengan kandungan unsur Ca sebesar 97,21%. Dengan demikian bottom ash dan limbah las karbit memungkinkan untuk digunakan sebagai substitusi semen pada campuran paving block. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan limbah bottom ash batu bara dan limbah las karbit sebagai subtitusi semen pada campuran paving block terhadap kualitas paving, sesuai dengan SNI 03-0691-1996. Pembuatan benda uji dilakukan dengan mengkombinasikan campuran bottom ash sebesar 30% untuk setiap variasi ditambah dengan campuran limbah las karbit berturut-turut 0,13%, 0,14%, 0,15% 0,16%, 0,17% dari berat semen. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan bottom ash dan limbah las karbit  pada paving block, maka dilakukan pengujian pada kualitasnya. Pengujian terhadap kualitas meliputi sifat tampak, penyerapan air, kuat tekan, dan keausan yang dilakukan setelah benda uji mencapai umur 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan substitusi bottom ash dan limbah las karbit yang digunakan akan berpengaruh pada kuat tekan, penyerapan air dan ketahanan aus paving block. Pada proporsi 30% bottom ash dan 15% limbah las karbit didapatkan hasil paling optimal yang meliputi penyerapan air, kuat tekan dan ketahanan aus. Kata Kunci: Bottom ash, limbah las karbit, paving block, penyerapan air, kuat tekan, keausan. Abstract Paper making industry PT. Tjiwi Kimia, Mojokerto produces waste products as bottom ash waste, with chemical content of silica (Si). Carbide welding waste is a welding waste with a Ca element content of 97.21%. Thus bottom ash and waste carbide welding allow it to be used as a cement substitution on paving block admixture. This study aims to determine the effect of waste bottom ash coal and waste wastewater waste as substitution of cement on paving block mixture to paving quality, in accordance with SNI 03-0691-1996. The preparation of the specimen was carried out by combining the bottom ash mixture of 30% for each variation plus the mixture of waste carbide wastes by 0.13%, 0.14%, 0.15% 0.16%, 0.17% by weight of cement . To determine the effect of using bottom ash and waste of carbide weld on paving block, then tested on its quality. Tests on quality include visible properties, water absorption, compressive strength, and abrasion resistance that is done after the test object reaches the age of 28 days. The results showed that substitution of bottom ash and waste of carbide welding used will influence on compressive strength, water absorption and abrasion resistance. In the proportion of 30% bottom ash and 15% of carbide welding waste obtained the most optimal results that include water absorption, compressive strength and abrasion resistance. Keywords: Bottom ash, waste carbide weld, paving block, water absorption, compressive strength, abrasion resistance.
PENGARUH PENGGUNAAN ABU DASAR (BOTTOM ASH) PADA PAVING BLOCK DENGAN CAMPURAN LIMBAH KERANG SEBAGAI SUBTITUSI SEMEN ACHMAD GHOZALI, HILAL
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/18 (2018): Wisuda ke-91 Periode 1 Tahun 2018
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri batubara menghasilkan limbah bottom ash yang memiliki kandungan yang sama dengan semen yaitu silika (Si). Bottom ash yang didapat dari PT. Tjiwi Kimia mengandung silika (Si) sebanyak 19,6% dan mengandung kalsium (Ca) sebanyak 7,56%, sehingga dibutuhkan limbah kerang sebagai campuran tambahan untuk menutupi kekurangan kalsium (Ca) pada bottom ash. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh limbah bottom ash dan limbah kerang sebagai subtitusi semen pada paving block, karena paving block saat ini semakin digemari sebagai alternatif perkerasan jalan. Pembuatan paving block menggunakan pasir pasuruan, semen Gresik PPC, air yang berasal dari tempat industri paving block di Surabaya. Paving block dibuat dengan ukuran 21 x 10.5 cm dengan tebal 6 cm dengan komposisi 1 semen : 3 pasir. Pengujian dalam penelitian ini meliputi pengujian kuat tekan, penyerapan air dan ketahanan aus. Benda uji dibuat dengan 6 variasi, yaitu 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50% bottom ash dari berat semen, dan masing-masing varasi mendapat tambahan 2% kerang dari berat semen. Hasil pengujian kuat tekan 10%, 20%, 30% dan 40% bottom ash masuk ke dalam mutu B, sedangkan 50% bottom ash masuk ke dalam mutu D. Hasil pengujian penyerapan air 10% dan 50% bottom ash masuk ke dalam mutu D, sedangkan 20%, 30% dan 40% bottom ash masuk ke dalam mutu B. Hasil pengujian ketahanan aus 10% dan 20% bottom ash masuk ke dalam mutu B, sedangkan 30%, 40% dan 50% bottom ash masuk ke dalam mutu A. Kata Kunci: Bottom ash, Kerang, Ketahanan aus, Kuat tekan, Paving block, Penyerapan air. ABSTRACT The coal industry produces a bottom ash waste that has the same content as cement, silica (Si). Bottom ash obtained from PT. Tjiwi Kimia contains silica (Si) as much as 19.6% and contains calcium (Ca) of 7.56%, so it takes shell waste as an additional mixture to cover the deficiency of calcium (Ca) on bottom ash. The purpose of this research is to know the effect of bottom ash waste and shell waste as cement substitution in paving block, because paving block is now more popular as an alternative pavement. Making paving block using Pasuruan sand, Gresik PPC cement, water coming from paving block industrial area in Surabaya. Paving block made with size 21 x 10.5 cm with thickness 6 cm with composition 1 cement: 3 sand. Tests in this study include testing of compressive strength, water absorption and wear resistance. The test specimens were made with 6 variations, ie 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, and 50% bottom ash of the weight of cement, and each varation received an additional 2% of the shell from the weight of the cement. The results of the 10%, 20%, 30% and 40% bottom ash compressive strength go into quality B, while 50% bottom ash goes into quality D. The results of water absorption tests of 10% and 50% bottom ash fall into D , while 20%, 30% and 40% bottom ash categurize into quality B. The results of 10% wear resistance and 20% bottom ash test go into B quality, while 30%, 40% and 50% bottom ash enter into quality A. Keywords: Bottom ash, Shells, wear resistance, Strength press, Paving block, Water absorption.
ANALISIS PRODUKTIVITAS ALAT BERAT PADA PEKERJAAN PENGURUKAN DI PROYEK JAVA INTEGRATED INDUSTRIAL PORTS AND STATE ( JIIPE ) DI GRESIK - JAWA TIMUR WULANDARI, LARAS
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/18 (2018): Wisuda ke-91 Periode 1 Tahun 2018
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proyek pembangunan “Java Integrated Industrial Ports and State (JIIPE) di Gresik dilakukan pekerjaan cut and fill untuk meratakan permukaan tanahnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah dan jenis alat berat yang akan digunakan dengan luas pembangunan 1761 ha, dengan demikian kita dapat merencanakan penggunaan alat dengan tepat dan memperhitungkan produktivitas dalam penggunaan alat tersebut. Metode penelitian dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat data dari masing-masing alat berat untuk memperoleh waktu siklus. Data alat yang ditinjau dari bulldozer meliputi jarak angkut, waktu maju, waku ganti perseneling, dan waktu mundur, Excavator meliputi waktu muat bucket, waktu putar bermutan, waktu buang muatan, waktu putar kembali dan idle time, Dump truck meliputi waktu berangkat, waktu kembali, waktu antri, waktu bongkar matan dan idle time. Bulldozzer meliputi jarak angkut, waktu maju,waktu mundur, waktu ganti preseneling dan idle time, Vibrator roller meliputi lebar pemadatan, panjang pemadatan, tebal lapisan, waktu maju, waktu mundur, jumlah pass yang di perlukan dan idle time dengan satuan m3/jam. Masing-masing kombinasi akan dihitung dari produktivitas alat berat. Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan, maka diperoleh produktivitas rata-rata alat berat  Bulldozer D85E-SS adalah 49,11 m3/jam. Produktivitas rata-rata alat berat  Dump Truck adalah 2,68 m3/jam. Produktivitas rata-rata alat berat  Exavator 72,96 m3/jam, produktivitas rata-rata alat berat  Vibrator Roller 211-D adalah 465,75 m3/jam. Penyelesaian pekerjan pengurugan  dalam waktu 10 tahun (sesuai kontrak) membutuhkan 152 Dump Truck, 9 Bulldozer dan 1 Vibrator Roller. Kata Kunci : Alat Berat, Produktivitas, Kombinasi. Abstract The Java Integrated Industrial Ports and State (JIIPE) development project in Gresik is done by cut and fill work to smooth the ground surface. The purpose of this study is to know the number and types of heavy equipment to be used with the construction area of 1761 ha, thus we can plan the proper use of the tool and take into account the productivity in the use of the tool. Research method is done by observing and recording data from each heavy equipment to obtain cycle time. The tool data reviewed from bulldozer includes hauling distance, forward time, gear shifting time, and backward time, Excavator includes bucket load time, timed play time, wasted time, turn time and idle time, Dump truck includes departure time, return time , time queuing, unloading time matan and idle time. Bulldozzer includes hauling distance, forward time, backward time, change time of preseneling and idle time, Vibrator roller covering compaction width, compaction length, layer thickness, forward time, backward time, required number of pass and idle time with m3 / hour unit. Each combination will be calculated from the productivity of the machine. Based on the calculation that has been done, then obtained the average productivity of heavy equipment Bulldozer D85E-SS is 49,11 m3 / hour. The average productivity of Dump Truck is 2.68 m3 / hour. The average productivity of Exavator 72.96 m3 / hour, the average productivity of Vibrator Roller 211-D is 465.75 m3 / h. Completion of the loading work within 10 years (under contract) requires 152 Dump Trucks, 9 Bulldozers and 1 Vibrator Roller. Keywords: heavy equipment, Productivity, Combination.
ANALISIS PRODUKTIVITAS PEMANCANGAN DENGAN ALAT JACK-IN PILE JENIS HYDROLIC STATIC PILE DRIVER PADA PROYEK APARTEMEN GRAHA GOLF SURABAYA WIDYAN HADI, BRIAN
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/18 (2018): Wisuda ke-91 Periode 1 Tahun 2018
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat produktivitas pekerjaan alat jack-in pile, mengetahui koefisien tenaga kerja dan alat jack-in pile dan mengetahui perbandingan durasi waktu antara prediksi penjadwalan dengan jadwal yang telah dilaksanakan. Penelitian ini berjenis kuantitatif. Pengumpulan data dengan metode observasi, dokumentasi dan wawancara. Metode observasi untuk memperoleh data jumlah tenaga kerja, volume pekerjaan serta durasi pekerjaan yang mewakili kondisi keseluruhan area kegiatan pemancangan. Hasil dari penelitian ini adalah produktivitas yang dihasilkan dari pemancangan dengan Hydraulic Static Pile Driver  tipe 460 Ton  45,444 meter/jam, sedangkan Hydraulic Static Pile Driver  tipe 1000 Ton 60,240 meter/jam. Koefisien pekerja kerja operator backhoe 0,00019 OH, surveyor 0,00230 OH, mandor 0,00464 OH. Pada alat HSPD 460 Ton nilai koefisien pekerja operator jack 0,00660 OH,operator crane 0,00660 OH, checker 0,00660 OH, assisten surveyor 0,00660 OH, tukang 0,00255 OH, pekerja 0,013326 OH, operator generator set 0,00660 OH. Pada alat HSPD 1000 Ton nilai koefisien pekerja operator jack 0,00360 OH, operator crane 0,00360 OH, checker 0,00360 OH, assisten surveyor 0,00360 OH, tukang 0,00182 OH, pekerja 0,007128 OH,operator generator set 0,00360 OH. Pada alat Crane Service nilai koefisien pekerja operator 0,00010 OH dan kru 0,00010 OH. Nilai koefisien alat pancang 0,01459 sewa-jam. Simulasi penjadwalan dengan metode PDM  dengan pergerakan alat HSPD mirip huruf ‘S’ didapat 52 hari. Kata Kunci: Produktivitas, Koefisien Pekerja, Simulasi Penjadwalan Abstract The purpose of this study is to know the level of work productivity of jack-in pile, the coefficient of labor and jack-in pile and the comparison of time duration between scheduling prediction with schedule that has been implemented. This type of the research is quantitative. Data were collected by observation, documentation and interview. Observation method for obtaining data on the amount of labor, volume of work and duration of work that represents the overall condition of the area of ??erection activities. The result of the reseach is productivity generated from Hydraulic Static Pile Driver type 460 Ton 45,444 meters / hour, while Hydraulic Static Pile Driver type 1000 Ton 60,240 meters / hour. Coefficient of worker operator backhoe 0.00019 OH, surveyor 0.00230 OH, foreman 0.00464 OH. On HSPD 460 Ton coefficient of operator operator jack 0,00660 OH, crane operator 0,00660 OH, checker0,00660 OH, assistant surveyor 0,00660 OH, artisan 0,00255 OH, worker 0,013326 OH, operator generator set 0,00660 OH. At HSPD tool 1000 Ton coefficient value of operator operator jack 0,00360 OH, crane operator 0,00360 OH, checker 0,00360 OH, assistant surveyor 0,00360 OH, artisan 0,00182 OH, worker 0,007128 OH, operator generator set 0.00360 OH. At Crane Service the coefficient value of operator worker 0.00010 OH and crew 0.00010 OH. Coefficient of HSPD is 0.01459 hour-rent. Simulation of scheduling using PDM method with HSPD movement like alphabets ‘S’ is 52 days. Keywords: Productivity, Coefficient of Worker, Scheduling Simulation
ANALISIS PERBEDAAN VOLUME NAIK TURUN PENUMPANG DI TIAP-TIAP STASIUN PEMBERHENTIAN KA KOMUTER SURABAYA-SIDOARJO (SUSI) Aryani Soemitro, Ria Asih; Suprayitno, Hitapriya
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/18 (2018): Wisuda ke-91 Periode 1 Tahun 2018
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya peningkatan kualitas pelayanan KA Komuter dapat ditingkatkan dengan melakukan perbaikan dari sisi waktu pelayanan (hari kerja, hari libur, jam sibuk dan jam tidak sibuk) dan aspek perpindahan moda.  Kedua upaya tersebut penting dilakukan guna menarik minat masyarakat dari kendaraan pribadi beralih menggunakan angkutan umum dalam hal ini Kereta Api (KA). Kurangnya minat masyarakat menggunakan KA juga berdampak pada jumlah penumpang yang naik dan turun di tiap-tiap stasiun berbeda-beda jumlahnya. Oleh karena itu diperlukan penelitian mengenai analisis perbedaan volume naik turun penumpang di tiap-tiap stasiun pemberhentian KA Komuter. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis hasil penelitian terdahulu terkait volume naik turun penumpang KA Komuter Surabaya-Sidoarjo (SUSI). Hasil penelitian diketahui bahwa perbedaan volume naik dan turun penumpang KA Komuter SUSI disebabkan karena pemanfaatan guna lahan yang berbeda-beda di tiap-tiap lokasi stasiun. Pergerakan penumpang KA Komuter SUSI dari dua arah yang berbeda di jam keberangkatan pagi, siang dan sore hari berdasarkan hasil penelitian terdahulu diketahui bahwa Stasiun Semut, Stasiun Gubeng, Stasiun Sidoarjo, Stasiun Porong dan Shelter Buduran memiliki bangkitan perjalanan tinggi dan berpotensi sebagai stasiun yang memiliki jumlah penumpang naik cukup besar dibandingkan dengan stasiun-stasiun lainnya. Stasiun Porong, Stasiun Sidoarjo, Stasiun Waru, Stasiun Wonokromo dan Stasiun Gubeng memiliki tarikan perjalanan tinggi dan berpotensi sebagai stasiun yang memiliki jumlah penumpang turun cukup besar dibandingkan dengan stasiun-stasiun lainnya. Kata kunci: volume penumpang naik turun, KA Komuter SUSI, guna lahan, bangkitan, tarikan.