cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Paradigma
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 337 Documents
INTEGRASI VIRTUAL ANTAR CYBERFANDOM K-POP DALAM BLOGOSPHERE ARISTARKHUS P, MAXEL
Paradigma Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berkembangnya kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi diera modern, menimbulkan berbagai macam budaya baru yang populer. Salah satunya adalah budaya Korea Selatan melalui K-pop. Budaya populer K-pop menimbulkan kelompok massa baru yang mengatasnamakan diri mereka sebagai K-pop lovers yang terdiri dari berbagai macam fandom. Didalam dunia maya, fandom dikenal sebagai  cyberfandom. Didalam dunia K-pop lovers banyak sekali bermunculan fenomena-fenomena baru yang menarik, salah satunya adalah fenomena fanwar dan fenomena ini hanya dapat ditemukan di dalam dunia maya. Pada sisi yang lain, internet mampu mengintegrasikan antar cyberfandom ke dalam sebuah komunitas virtual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana integrasi virtual antar cyberfandom dibangun didalam blogosphere. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif 2.0. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis hacking. Subjek penelitian ini adalah 4 komunitas virtual didalam sosial media facebook dan 4 komunitas virtual didalam sosial media twitter. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi kegiatan-kegiatan virtual baik dalam bentuk opini maupun agregasi algoritma yang berpengaruh dan berhubungan terhadap pembangunan integrasi virtual antar cyberfandom K-pop dalam blogosphere. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasannya integrasi virtual antar cyberfandom K-pop yang ada di dalam blogosphere dibangun oleh dua faktor, yaitu konstruksi diskursif dan konstruksi non diskursif. Konstruksi diskursif, dapat diidentifikasi melalui dua bagian yaitu jargon file dan perilaku bloging dengan hasil ‘we are one’; ‘chingu’ dan penggunaan istilah ‘K-lop lovers’ sebagai jargon file dan like/ dislike, favorite, anonym, share, tag-spam sebagai bentuk periaku bloging. Sedangkan konstruksi non diskursif, diidentifikasi melalui fitur-fitur agregasi algoritma yang ada didalam blogosphere, seperti members, followers, following, hyperlink-wall dan search engine yang terdiri dari puluhan hingga puluhan ribu anggota. Kata Kunci: Integrasi Virtual, Cyberfandom K-Pop, Blogosphere   Abstract The expansion sophistication of information technology and communication in the modern era, creating many new popular culture. One of them is the South Korean culture through K-pop.  K-pop culture creating a new group as known as K-pop lovers which consists of various fandom. In the virtual community, fandom known as cyberfandom. In the world of K-pop lovers emerging a lot of attractive new phenomena, (1)one of it is a fanwar and it only can be found in virtual community. On the other side, the Internet is able to integrate between cyberfandom into a virtual community. This research aims to find out how the virtual integration between cyberfandom built in the blogosphere.  .This research using qualitative 2.0 method. Analysis method which used is hacking analysis method. The research subject are 4 virtual community at facebook and 4 virtual community at twitter. The focus of this research is to identify activities virtual, in the form of opinion and aggregation algorithms the effect to the virtual integration between cyberfandom K-pop on blogosphere . The results showed the virtual integration between cyberfandom K-pop is in the blogosphere was built by two factors, namely the discursive construction and non discursive construction. Discursive construction, may be identified through the prayer part namely jargon file and behavior bloging with findings 'we are one'; 'Chingu' and use terms 'K-pop lovers' file as jargon and like/ dislike, favorite, anonym, share, tag and spam as form bloging behavior. While the non-discursive construction, identified through aggregation algorithm features that exist in the blogosphere, as members, followers, following, hyperlink-wall and search engines. Keywords: Virtual Integration, Cyberfandom K-Pop, Blogosphere
MOTIF-MOTIF ETOS KERJA EKSEKUTIF MUDA DI GRAHA PENA SURABAYA AYU AGUSTINE, GITA
Paradigma Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Perbincangan mengenai status sosial dalam pekerjaan menjadi trending topic yang menghangat pada setiap kesempatan. Seperti pada penelitian ini misalnya, kedudukan menejerial dan supervisor telah di miliki oleh beberapa para pekerja muda dengan range usia dua puluh tahunan. Hal yang kemudian bersanding dan dipertaruhkan dalam ranah ini adalah bagaimana etos kerja dari individu atau kelompok tersebut. Sudah menjadi hal yang biasa ketika kita dihadapkan oleh kedudukan atau jabatan eksekutif yang oleh orang lama pada sebuah perusahaan dan menjadi pertanyaan jika posisi eksekutif tersebut diisi oleh orang baru. Mengutip dari tokoh yang menginspirasi banyak pemuda yakni Billy Boen dalam bukunya Young On Top memaparkan bahwa “Kamu tidak perlu menunggu berumur lima puluh tahun untuk menjadi orang yang sukses. Kalau bisa sukses di usia muda kenapa mesti nunggu tua,” Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami etos kerja serta motif para eksekutif muda di Graha Pena Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian adalah para pekerja dewasa muda yang sudah mencapai jenjang karir seperti manager maupun supervisor berusia 20 – 30 tahun yang bekerja di Graha Pena Surabaya. Penelitian ini meggunakan teknik purposive dalam menentukan subyek. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik snowball. Hasilnya, para eksekutif muda ini mempunyai empat aspek etos kerja yaitu rajin pada awal bekerja, efisiensi, rasionalitas dalam mengambil tindakan dan energik yang juga terdapat pada tiga belas sikap masyarakat yang beretos kerja tinggi menurut Gunnar Myrdal dengan didukung motif-motif tindakan yang diadaptasi dari fenomenologi Alfred Schutz, yakni terdapat dua motif tindakan yakni motif sebab (because motive) dan motif tujuan (in order to motive). Kata kunci: Etos kerja, Motif Tindakan, Eksekutif Muda    ABSTRACT Discussion on the status of social work became a trending topic that warms up at every opportunity. Like this for example, research on the position of menejerial and supervisors have been owned by a couple of young workers with a range of age twenty annual. Things then biting and at stake in the realm of this is how the work ethic of the individual or the group. It has become the usual things when we are confronted by an executive office or position at long on by a company and become a question if the positions are filled by new people. To quote from the character that inspired many young men namely Billy Boen in book ‘Young On Top’ expose that “you don’t have to wait five years to become a successful person. If it can be successful at a young age why must wait for old?” The purpose of this research is to know and understand the work ethic and the motives of the young executives at Graha Pena Surabaya. This research is qualitative research using the approach of phenomenology. The subject of this research is the young adult workers who have reached career as manager or supervisor was 20 – 30 years whoworked at Graha Pena Surabaya. This research with purposive technique in the determining for the subject of the informant. Data collection techniques using snowball. As a result, the young executive has four  aspects of work ethic that is diligent in the early work, efficiency, rationality n the taking action and energetic that also exists in thirteen attitudes that etnic work is high according to Gunnar Myrdal with supported actions motives adapted from the phenomenology of Alfred Schutz, there are two motives of actions: motives cause (because motives) and purpose (in order to motives) Keywords: Work Ethic, The Motive of The Act, The Young Executive
RASIONALITAS POLITIK PEMILIH PEMULA DI TEGALSARI SURABAYA ASTANTI, DIAH
Paradigma Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pemilihan umum merupakan salah satu realisasi dari sistem demokrasi berfungsi  menampung aspirasi masyarakat yang pluralistik, dalam menentukan calon pemimpin rakyat. Demokrasi bermakna “rakyat berkuasa” atau government or rule by the people”. Pendidikan politik yang masih cenderung rendah berdampak pemilih pemula menjadi sasaran praktik money politic. Selain itu, sikap apatis dan terdapat golput dalam pemilihan umum merupakan efek nyata dari rendahnya pendidikan politik. Mendasar pada persoalan tersebut maka peneliti tertarik untuk mengkaji rasionalitas politik pemilih pemula pada pemilihan umum presiden tahun 2014. Penelitian ini menggunakan teori tindakan rasionalitas Weber dan motif tindakan Alfred Schutz untuk membongkar motif sebab (because of motive) dan motif tujuan (in order to motive) rasionalitas politik pemilih pemula. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi lebih bermaksud untuk memahami motif sebab dan motif tujuan partisipasi politik pemilih pemula pada pemilihan umum presiden tahun 2014. Teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah melalui wawancara mendalam (indepth interview). Sedangkan analisis data diawali dengan menelaah data dan mengkategorisasikan data yang diperoleh, kemudian menganalisis dengan menggunakan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukan motif sebab (in order to motive) partisipasi politik pemilih pemula didorong oleh beberapa motif yakni, dorongan sosialisasi politik, dorongan peer group, dan dorongan pengalaman organisasi. Sedangkan motif tujuannya yakni, mencari pengalaman, mencari hiburan serta mengisi waktu luang, dan mengikis sikap apatis. Selain itu, partisipasi juga didorong oleh adanya pemberian sejumlah uang, sembako, kaos, dan pemberian barang-barang lainnya. Kata Kunci: motif sebab, motif tujuan, fenomenologi, rasionalitas, pemilih pemula. Abstract The general election is one of the realization of the democratic system that serves accommodating the aspirations of the pluralistic, especially in determining a leader of the candidates  The meaning of democracy as viewed from  to mean "people power" or "government or rule by the people". Politics education still tend to be low impact voters were subjected to the practice of money politic. In addition, there is apathy and abstention in elections is the real effect of the lack of political education. Fundamental to the issue of the researcher is interested in assessing the political rationality of voters in presidential elections in 2014. This study uses the theory of actions rationality by Weber and action motives Alfred Schutz to dismantle the because of motive and in order to motive political rationality of voters. This study uses a qualitative study using phenomenological approach Alfred Schutz. Qualitative research with phenomenological approach rather intends to understand the causes and motives motives of political participation of voters in the presidential elections in 2014. The research technique used in the study was through in-depth interviews. While the data analysis begins by examining the data and categorize the data obtained and analyzed using phenomenology. Results of the study, in order to motive political participation of voters are driven by multiple motives is, encouragement of political socialization, encouragement peer group, and boost organizational experience. While the motive of the goal, looking for experience, looking for entertainment and leisure time, and erode apathy. In addition, participation is also encouraged by the provision of a sum of money, food, t-shirts, and the provision of other items. Keywords: Because of motive, in order to motive, phenomenology, political rational, voters.
DRAMATURGI SANTRI DALAM MENYIKAPI PERATURAN DI PONDOK PESANTREN ANWARUL HAROMAIN TRENGGALEK AGUS LATIF, M.
Paradigma Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kehidupan sehari-hari santri di pesantren tidak akan pernah luput dari berbagai macam peraturan yang mengontrol mereka. Begitu pula dengan kehidupan di esantren Anwarul Haromain, dimana terdapat berbagai macam peraturan yang berlaku seperti halnya diharuskan berbahasa asing dan dilarang merokok. Akan tetapi, dalam kesehariannya banyak ditemui berbagai praktik pelanggaran yang ternyata luput dari pantauan ustad ataupun kyainya. Ternyata dalam kehidupan kesehariannya, beberapa santri melakukan praktik dramatrugi. Sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui lebih dalam lagi agar bisa diketahui bentuk serta motif atau alasan dibalik prilaku dramaturginya para santri.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan teori dramaturgi Erving Goffman, yang disajikan dengan format deskriptif. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara serta observasi partisipan. Teknik observasi partisipan digunakan untuk melihat secara langsung praktik keseharian santri di pesantren, sedangkan wawancara dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi tambahannya. Keduanya dipadukan untuk saling mendukung dan melengkapi satu sama lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para santri melakukan praktik dramaturgi di tiga lokasi, yakni di asrama/kamar, selanjutnya di lingkungan pesantren, dan lokasi terakhir di tempat mengaji bersama. Secara umum, santri pelaku dramaturgi di panggung depannya menampilkan sikap ideal seperti peduli kebersihan, taat aturan serta rajin mengikuti kegiatan. Adapun di panggung belakang, atribut tersebut mereka lepaskan sesuai dengan keadaannya. Sedangkan faktor yang melatar belakangi atau mempengaruhi adanya dramaturgi karena beberapa hal, seperti kyai yang jarang di pesantren, teladan yang kurang dari ustad, minimnya sarana aktualisasi diri bagi para santri, dan masih minimnya fasilitas pendukung di pesantren. Kata Kunci: Dramaturgi, Pesantren, Santri.  Abstract The daily life in boarding students will never escape from a variety of regulations that control them. Similarly with life in boarding anwarul haromain, where there are various kinds of regulations as is the case required foreign speech and of smoking. However , in the daily , many found a variety of the practice of the offense it is excluded from the observation kyai or religious teachers . Apparently, in the life of his routine, some santri do the practice of dramaturgy. So that there should have been further research , to better understand the capable of being known as well as for the form of a motive or justifies ensure the santri dramaturgy.The method that used in this research is qualitative methods by using the theory of dramaturgy Erving Goffman, which served with the format of descriptive. Data collected using the technique of interviews and participan observation. Participan observation techniques used to see directly the practice of daily life in boarding students, while interview utilized to get additional information. Both of them combined for mutual support and complement each other.The results of research shows that the students do the practice of dramaturgi in three locations , namely on a room/dormitory , next in the around of boarding , and the last in a place of them recite yellow book(Kitab Kuning) together. In general, student of boarding school do the practice dramaturgy in front stage show an ideal as for cleanliness, obedient rules and diligently followed the event. While in the back stage , those attributes they let go according to circumstances. While the factors that influence the occurrence of dramaturgy, becaused by some things , as kyai rare in boarding , the example of less than religious teachers and the lack of self actual facilities for students . Key Words: Dramaturgy, Boarding School,Student
PRAKTIK SOSIAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN IDIOT MELALUI MODEL KERAJINAN DI DESA KARANGPATIHAN KECAMATAN BALONG KABUPATEN PONOROGO MUNAWAROH, RODHOTUL
Paradigma Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kemiskinan merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sebuah masyarakat, baik itu di wilayah perkotaan maupun di wilayah pedesaan. Minimnya sumberdaya manusia menjadi salah satu faktor munculnya kemiskinan yang semakin hari semakin meningkat. Permasalahan kemiskinan dapat kita dijumpai salah satunya di wilayah Kabupaten Ponorogo yakni di desa Karangpatihan. Uniknya adalah permasalahan kemiskinan di desa ini, dibarengi pula dengan permasalahan masyarakat dengan down syndrome. Dalam mengatasi permasalahan kemiskinan yang dialami oleh kelompok tuna grahita, organisasi desa menerapkan program pemberdayaan yang ditujukan untuk kelompok tersebut. Studi ini bertujuan untuk mengaplikasikan konsep – konsep Pierre Bourdieu tentang praktik sosial dengan rumus generatif (habitus x modal) + ranah = praktik.  Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan strukturalis genetis Pierre Bourdieu. Penelitian ini dilakukan di kampung idiot desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam melakukan pemberdayaan di lokasi Balai Pelatihan Kerja, pelatih memiliki beberapa habitus yang diterapkan bagi kelompok tuna grahita agar pemberdayaan berjalan dengan baik. Habitus yang ditanamkan kepada tuna grahita adalah pelatihan intensive yang dilakukan setiap minggunya, dengan intensitas waktu 2-3 jam. Selama pelatihan berlangsung, pelatih selalu menanamkan pemahaman tentang bahasa Indonesia kepada para tuna grahita, serta pemberian motivasi agar mereka tidak mudah putus asa  Dalam praktik pemberdayaan ini, modal sosial sangat ditekankan, hal ini Nampak pada keikutsertaan tuna grahita di lokasi BLK, menunjukkan bahwa hanya kelompok tuna grahita yang berada dekat dengan lokasi yang aktif mengikuti program pemberdayaan ini. Pada konsep modal budaya, tuna grahita dibedakan atas beberapa kategorisasi, yakni ringan, sedang dan berat. Kata kunci : Pemberdayaan, Tuna grahita, Praktik Sosial   Abstrack Poverty is the that cannot be separated from the life of a society , whether it is in urban areas or in rural areas. Lack of human resources is one factor the emergence of poverty day by day increase. Poverty problems we can found one of them is in the Ponorogo, in a Karangpatihan village. Uniquely is poverty problems in this village accompanied the problems the community with down syndrome. In solve the problems poverty experienced by idiots human, village organization apply empowerment program devoted to the group.  This study aims to apply the concept of Pierre Bourdieu about social practice, and then with the  generative perspective, its (habitus x capital) + field = practices. This research in a qualitative with the approach genetic Pierre Bourdieu structuralist. The study is done  in idiots village expecially Karangpatihan village in Ponorogo city. The research results show that in conduct empowerment at the house of job training, coach have some habit to applied for the human idiots that empowerment going well. Habitus who implanted in idiots human intensive training is conducted on a weekly basis ,to the intensity of the time of 3 hours. During training held, coach always infuse understanding of language in indonesia to the idiots human, and granting motivation so that they do not easily discouraged. In practice this empowerment, social capital very much stressed, this is visible on participation to idiots human at the BLK, shows that only idiots human located near locations actively participate in this empowerment program. The concept capital culture, idiots human distinguished over some categorisation, namely light , medium and heavy.     Keywords: Empowerment, Tunamentally disabled, Sosial Practice
PROSES PEMBENTUKAN IDENTITAS SEKSUAL KAUM GAY DI SURABAYA SATRIO AJI, DENY
Paradigma Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Membincangkan persoalan tentang Gay seringkali menimbulkan perdebatan di kalangan ilmuwan sosial dan masyarakat. Gay dianggap sebagai penyakit dan suatu ketidaknormalan dalam konteks masyarakat yang heteronormatif. Namun terlepas dari polemik yang ada penelitian ini secara spesifik membahas tentang bagaimana proses pembentukan identitas seksual dikalangan kaum Gay di Surabaya. Dengan menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan kajian identitas Stuart Hall, konsep yang digunakan yakni eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Sedangkan metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan konstruksi sosial. Lokasi dan waktu penelitian ini yakni di Taman Bungkul, bulan Oktober-Maret 2016. Hasil penelitian ini yakni menemukan bahwa identitas seksual terbentuk melalui dua tahapan sosialisasi. Sosialisasi pertama yakni dari keluarga, namun nilai yang ditanamkan banyak ketidakcocokan sehingga mereka merasa bukan seperti yang diharapkan, karena merasa dirinya Gay sehingga mereka masuk kedalam kelompok-kelompok Gay dan mengalami sosialisasi yang kedua. Tahapan sosialisasi kedua inilah mereka menjalani tahapan eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi, dan ternyata identitas seksual mereka sangatlah cair dan bisa berubah sesuai dengan kondisi sosio-kultural. Kata Kunci : Indetitas, Seksual, Gay   Abstract Discuss the issue of Gay often creates debate among social scientists and the public. Gay regarded as a disease, and an abnormality in the context of society heteronormative. But apart from the polemic that no studies have specifically discusses how the process of identity formation among the Gay sex in Surabaya. By using the theory of social construction of Peter L. Berger and identity studies Stuart Hall, who used the concept of externalization, objectification, and internalization. While research method used is a qualitative approach to social construction. The location and time of this research that in Taman Bungkul, months from October to March, 2016. The results of this study which found that sexual identity is formed through two stages of socialization. The first socialization of the family, but the values ??instilled many inconsistencies so that they feel is not fetched as expected, because he felt he Gay so that they get into groups Gay and socialization experience of the latter. This second stages of socialization they undergo stages of externalization, objectification, and internalization, and it turns out their sexual identity is fluid and can change according to the socio-cultural. Key Words : Identity, Sexuality, Gay  
INTERAKSI SOSIAL IBU-IBU RUMAH TANGGA (STUDI INTERAKSI SIMBOLIK PADA KELOMPOK ARISAN MACANERS) ROCHMAHWATI, YENI
Paradigma Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Modernitas merupakan salah satu dampak adanya globalisasi. Globalisasi mengakibatkan perilaku konsumtif masyarakat. Perilaku konsumsi merupakan simbol kelas menengah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat simbol yang digunakan oleh Ibu-ibu rumah tangga dalam kelompok arisan Macaners serta mengetahui pemaknaan atas simbol tersebut. Tujuan tersebut akan dijelaskan dan dianalisis menggunakan teori Interaksi simbolik Herbert Blumer, teori masyarakat konsumsi Baudillard dan teori gaya hidup Machine and leeuwen. Penelitian menggunakan paradigma definisi sosial dengan metode kualitatif dan pendekatan interaksi simbolik. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode observasi dan wawancara. Setelah data terkumpul, data akan dianalisis dengan mengkategorisasikan data dan membuat simpulan. Hasil penelitian menunjukan bentuk interaksi yang dilakukan anggota kelompok mencakup tiga objek yaitu objek sosial, objek fisik dan objek abstrak. Ketiga objek tersebut dikomunikasikan dan dimaknai oleh masing-masing anggota. Pemaknaan yang dilakukan berdasarkan kesamaan pengetahuan masing-masing anggota. Proses pemaknaan dilakukan melalui interaksi sosial baik verbal maupun non verbal. Hasil pemaknaan terhadap tiga objek tersebut kemudian dijadikan dasar tindakan bersama. Tindakan bersama dapat dilihat melalui kesamaan konsumsi dan kesamaan gaya hidup. Kata kunci : kelompok arisan, interaksi, simbol, pemaknaan   Abstract Modernity  is one of the effects of globalization. Globalization results in the consumer behavior of society. Behavior is a symbol of middle-class consumption.This study aims to look at the symbols used by mothers in household savings and loans groups Macaners and know the meaning of the symbol. The objectives will be explained and analyzed using symbolic interaction theory Herbert Blumer, Baudillard consumption society theory and the theory of lifestyle Machine and Leeuwen. Research using social definition paradigm with qualitative methods and approaches symbolic interaction. Data is collected using observation and interview methods. Once the data is collected, the data will be analyzed to categorize the data and make inferences. The results Showed a form of interaction that do members of the group includes three objects are objects of social, physical objects and abstract objects.  All three objects are communicated and understood by each member. Meanings are done based on common knowledge of each member. Meaning the process is done through social interaction both verbal and non-verbal. Results of the meaning of the three objects are then used as a basis for joint action. Concerted action can be seen through the similarity of consumption and lifestyle similarities. Keywords: Social gathering group, interaction, symbol, meaning
PRAKTIK SOSIAL KOMUNITAS OUTSIDER DI JOMBANG NURDIANSYAH, REZZA
Paradigma Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPunk adalah sekelompok individu yang menyuarakan anti kemapanan, anti penindasan dan mendukung kebebasan. Dalam praktiknya dikehidupan nyata mereka berlaku bebas sesuai keinginan mereka. Gaya punk pada dasarnya adalah cara  pemaknaan terpisah, sadar diri dan ironi. Punk adalah satu gaya memberontak yang menciptakan perpaduan pembangkangan dengan karakter abnormal seperti piercing, binlainers, rambut yang diwarnai. Mereka tidak menyadari bahwa dibalik sebuah kebebasan, mereka terikat oleh doxa yang menindas mereka melalui peraturan-peraturan. Outdsider adalah kelompok punk yang berada di Indonesia khususnya yang berada di Kabupaten Jombang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk praktik sosial berdasarkan habitus menjadi anggota outsider. Penelitan ini menggunakan pendekatan struktural genetis milik Bourdieu, dibantu dengan proposisi teori praktik sosial Pierre Bourdieu guna mengindetifikasi praktik perjuangan kelas anggota outsider yang ada di Jombang. Subyek penelitian yaitu anggota outsider yang berada di Jombang dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi partisipatif dan wawancara mendalam. Hasilnya kelompok yang mendominasi komunitas outsider di Jombang adalah kelompok pelajar dan anak jalanan. Modal budaya berupa kemampuan bermusik dan habitus tentang punk  yang membuat kedua kelompok tersebut bisa merubah status.  Kata kunci: Doxa, Habitus, Modal, Ranah, Praktik Sosial Punk, OutsiderAbstractPunk is a group of individuals who voiced anti-establishment, anti-oppression and support freedom. In practice real life they apply freely as they wish. Punk style is basically the way the meaning of a separate, self-conscious and ironic. Punk was a rebellious style that creates a fusion of defiance with abnormal characters such as piercing, binlainers, colored hair, and others. But they do not realize that behind a freedom they are bound by their oppressive doxa through regulations in a group they do not realize. Outdsider is a punk group who were in Indonesia, especially those in Jombang. This study aimed to identify the forms of social practices based habitus become members outsider, which is used as a member of the Capital and Sphere outsider outsider Jombang anniversary event of the outsider in Jombang. This study takes the subject of outsider members who are in Jombang by using techniques of data collection participant observation and interviews with the study subjects. This research uses genetic structural approach belongs to Bourdieu, assisted with the proposition of the theory of social practices of Pierre Bourdieu to identifying the practice of class struggle outsider members in Jombang. The result is a community group that dominates the outsider in Jombang is a group of students and street children. Cultural capital in the form of musical ability and habitus of punk that makes the two groups could change the status.Keywords: Doxa, habitus, capital, Sphere, Social Practice Punk, Outsider
AKTUALISASI DIRI KORP PELAJAR PUTRI JAWA TIMUR DI RANAH BUDAYA PATRIARKI RIRIN NADHIROH, DIANA
Paradigma Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak  Korp Pelajar Putri (KPP) sebagai lembaga semi otonom IPPNU memiliki tugas mengawal setiap kebijakan IPPNU dan kegiatan pengkaderan yang ada di kota/kabupaten. Akan tetapi KPP  seringkali mendapat tanggapan negatif dari berbagai pihak salah satunya dari pengurus yang ada di kota/kabupaten dalam kinerjanya. Hal ini karena lembaga tersebut tidak pernah memperlihatkan eksistensi mereka dan hanya bisa bekerja sama dengan Lembaga Corp Brigade Pembangunan yang merupakan partner mereka. Oleh karena itu sebagai upaya untuk membuktikan ketidakbenaran atas tanggapan negatif tersebut, KPP Jawa Timur menunjukkan kemampuan mereka yang selama ini dianggap remeh dengan menunjukkan potensi mereka melalui Greencamp. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami aktualisasi diri KPP Jawa Timur diranah budaya patriarki melalui kegiatan Greencamp. Penelitian ini menggunakan konsep aktualisasi diri dalam perspektif Sosiologi Weber yakni status dan peran. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif yang lebih mementingkan penghayatan dalam menangkap suatu gejala. Adapun pendekatan yang digunakan yakni interaksionisme simbolik untuk memahami perilaku dan interaksi yang ditampilkan lewat simbol dan makna. Hasil dari penelitian ini adalah KPP memiliki status yang harus dipertahakan sehingga meski memiliki kewenangan khusus, tapi keberadaan mereka bisa terancam apabila tidak menjalankan fungsinya.Untuk itu, upaya aktualisasi yang dilakukan memiliki tujuan untuk mempertahankan statusnya dengan melakukan suatu peran. Melalui greencamp, KPP berhasil mendapatkan prestise serta previlege dari pihak-pihak yang dulunya meremehkan kemampuan mereka. Adapun interaksionisme simbolik salah satunya ditandai bahasa seperti penggunaan kode kepolisian “86” dalam kehidupan sehari-hari yang artinya siap, serta istilah “balik kanan” yang artinya pulang.  Kata Kunci : Aktualisasi, Patriarki, Organisasi.   Abstract Korp Pelajar Putri (KPP) as a semi-otonomous institution of  IPPNU have the task of guarding all policies of IPPNU as well as oversee the ectivities of cadres in the city. However, KPP often received negative respons from various parties, one of the officials who were under them in performance. This is because these institutions never showed the existence of their own and can only work together with Corp Brigade Pembangunan institution which is their partner. Therefore an attempt to prove theuntruth on such negative response, KPP East Java want to shows their abilities who had been underestimated by demonstrating their potential through Greencamp. The purpose of this research is to understand self-actualization of KPP in patriarchal culture throught Greencamp. This study use the concept of self-actualization in Weber Sociological perspective of the status and role. The  research method used is a qualitative ascribe more comprehensive in capturing a symptom.. As for the approach used the symbolic interactionism to understand the behavior and interaction was shown by symbols dan meanings. The result of this study are KPP East Java has a status that must be maintined so although they have a special authority, but their existence is threatened if does not perform it’s function. Therefore, the effort undertaken actualization has a goal to maintain the status dan role. Through Greencamp activity, KPP East Java managed to get prestige daan previlege of parties that used to undesestimate their abilities. As for the symbolic interactionism is marked languages such as the use of police code “86”in the daily life which means ready and the term “right” which means to return Key Words : Actialization, Patriarchy, Organization.
PENGARUH INTENSITAS KEHADIRAN WUS (WANITA USIA SUBUR) DALAM SOSIALISASI KELUARGA BERENCANA TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN FREKUENSI PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI DI DESA ROGOJAMPI, KECAMATAN ROGOJAMPI - BANYUWANGI CADARFALINI, ANTIQUE
Paradigma Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini mencermati pengaruh intensitas kehadiran WUS terhadap pengambilan keputusan untuk menggunakan alat kontrasepsi. Lokasi penelitian berada di Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Studi ini bertujuan untuk mengetahui, memahami dan menganalisa sejauh mana pengaruh intensitas kehadiran WUS (Wanita Usia Subur) dalam sosialisasi keluarga berencana terhadap pengambilan keputusan frekuensi penggunaan alat kontrasepsi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan eksplanasi survei sebagai pendekatan dan uji regresi sebagai analisis data. Besarnya pengaruh intensitas kehadiran WUS (wanita usia subur) dalam sosialisasi keluarga berencana terhadap pengambilan keputusan frekuensi penggunaan alat kontrasepsi di desa Rogojampi, adalah 41,3%. Dalam masyarakat, sosialisasi KB merupakan sebuah inovasi yang masuk dalam pengetahuan individu. Sebuah inovasi tidak langsung diterima begitu saja oleh WUS, tetapi melalui beberapa tahap yang harus dilalui untuk menerima inovasi tersebut sehingga WUS bisa mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan apa yang ia butuhkan. Davis & Blake mengatakan ada 3 proses reproduksi yaitu, intercourse (hubungan seksual), conseption (pembuahan), gestation (kehamilan). Program KB hanya membatasi sampai tahap conception. Kesimpulan yang dapat diambil bahwa terdapat pengaruh antara intensitas kehadiran sosialisasi KB dengan frekuensi penggunaan alat kontrasepsi, namun ada 58,7% pengaruh lain yang mempengaruhi frekuensi penggunaan alat kontrasepsi. Kata Kunci: Sosialisasi, WUS, Pengambilan Keputusan, Alat Kontrasepsi  Abstract This research about the effects of the intensity of WUS ( women fertile ) in socialization family planning to decision making the frequency of contraceptives in the village Rogojampi , in Rogojampi – Banyuwangi. The study aims to understand and analyze the extent to which the intensity of WUS (women fertile) in socialization family planning to decision making the frequency of contraceptives. This research uses the quantitative and eksplanasi survey as a proxy regression test as analysis data. How major intensity the presence of WUS (women fertile) in socialization family planning to decision making the frequency of contraceptives in the village Rogojampi, is 41,3 %. In society, socialization family planning is an innovation in individual knowledge. An innovation not were accepted by simply by WUS, but through some steps that to go to receive innovation so the WUS can take the right decision according to that which they need. Davis & amp; blake said there are three process of reproducing namely, intercourse (sexual intercourse), conseption (fertilization), gestation (pregnanc). The family planning program only limit reached the stage of conception. Which a conclusion can be taken that is the between the intensity of the presence of the socialization of kb with the frequency of the contraceptive usage, but there is 58,7 % the influence of another that affects frequency contraceptive usage. Keywords: socialization, women fertile, decision making, contraceptiv

Page 6 of 34 | Total Record : 337