cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Paradigma
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 337 Documents
DRAMATURGI MENCARI PASANGAN PADA KAUM HOMOSEKSUAL (GAY) ARDIANSYAH, HENDRA
Paradigma Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Homoseksual merupakan relasi seks jenis kelamin yang sama atau rasa tertarik dan mencintai jenis seks yang sama, baik secara emosional atau kasih sayang, maupun secara erotik terhadap sesama jenis, dengan atau tanpa hubungan fisik. Dalam penelitian ini menggunakan konsep dari Erving Goffman mengenai Dramaturgi, bagaimana seorang bisa memunculkan panggung depan serta panggung belakang dalam masyarakat. Sifat penelitian ini bersifat deskriptif yang dilakukan untuk memperoleh gambaran jelas mengenai bagaimana kehidupan seorang individu gay menjalani dramaturgi dalam proses mencari pasangan sejenisnya, sedangkan metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif, metode kualitatif adalah berusaha menggali, memahami, dan mencari fenomena sosial. Subjek penelitian dipilih dengan teknik snowball sampling, teknik ini digunakan dengan tujuan agar key informant memberikan jalan untuk mendapatkan subjek penelitian lain. Hingga peneliti mendapatkan titik jenuh, dan akhirnya penelitian diakhiri.Hasil penelitian ini menemukan adanya sifat dasar seorang gay dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam.Pertama,top.Dalam kesehariannya top berperan sebagai laki-laki yang maskulin. Kedua, bottom.Bottom adalah seorang gay yang berperan sebagai perempuan dalam hubungan seksualnya, sedangkan yang ketiga adalah Vers, dapat dikatakan sebagai biseksual dalam konteks seksualitas. Seorang vers dapat berperan sebagai laki-laki serta perempuan dalam aktifitas seksual, dan melihat permainan peran (dramaturgi) pada kaum homoseksual, dari panggung depan dan panggung belakang seorang homoseksual(gay). Kata Kunci : Homoseksual , sifat dasar, Kualitatif, Dramaturgi   ABSTRACT Homosexual is relation sex the same, or taste interested and love the same kind of sex, emotionally or affection, and erotic against same sex, with or without psychic connections. In this research using the concept of erving goffman about dramaturgy, how a stage can bring up front stage and backstage in society. The nature of research this is a descriptive who is conducted to gather clear image about how the life of a individual gay undergo dramaturgy in the process looking for partners the like, while methods used to research this is qualitative, the qualitative method is trying digging, understand, and find social phenomena.The subject of study chosen to technique snowball sampling, this technique used in order to make key informant give a way to get the subject of study other. Researchers get point saturated, and finally research terminated. The result of this research shows the existence of the nature of a gay can be split into 3 (three) kind of. First,top. In his routine top had a role a man who masculine. Second, bottom. Bottom is a gay acting as women in sexual relations, third is vers, be considered as bisexual in the context of sexuality. Vers can serve as men and women in sexual activity, and see role play (dramaturgy) in the gay, from the front stage and back stage a homosexual (gay). Keywords: Homosexual , Nature , Qualitative , Dramaturgy
RASIONALITAS BURUH PABRIK SIDOARJO YANG KULIAH DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO MASROTIN,
Paradigma Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendidikan di era globalisasi saat ini sangat penting untuk buruh pabrik. Pendidikan menciptakan sumberdaya manusia yang mampu bersaing di era global. Kualitas sumberdaya manusia dilihat dari tingkat pendidikan dan wawasan yang dimiliki. Seperti halnya buruh pabrik yang biasanya hanya bergelut dengan hasil dan bahan-bahan mentah produksi, memilih untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Perguruan tinggi menjadi sarana buruh pabrik untuk bermobilitas ke strata yang lebih tinggi. Tindakan yang dilakukan buruh pabrik memiliki tujuan yakni, mengubah status sosial dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif  untuk memperoleh gambaran mengenai rasionalitas buruh pabrik yang kuliah di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dari Alfred Schutz  yaitu because motive in order to motive. Subyek penelitian ini menggunakan purposive sampling, dengan pertimbangan subyek penelitian  merupakan mahasiswa di Universitas Muhmammadiyah Sidoarjo. Data dari penelitian ini  dikumpulkan melalui teknik wawancara dan observasi serta mengumpulkan dokumen-dokumen pendukung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, bawasannya buruh pabrik yang memilih kuliah di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo memiliki motif penyebab (because motive), antara lain kondisi ekonomi keluarga dan nilai pendidikan keluarga. Selain itu motif tujuan (in order to motive) buruh pabrik dari tindakannya melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yaitu, keinginan buruh untuk memiliki kehidupan yang lebih baik lagi, baik dari segi pendidikan maupun dari segi ekonomi. Kata kunci: pendidikan, buruh pabrik, mobilitas. Abstract Education in the future is currently very important to factory workers. Education created human resources capable of competing in the era of global. Quality of human resources seen from the level of education and insight owned. Like factory workers that are usually just struggling with the results and raw materials production, choose to continue their studies in college. College become a means of factory workers to moving into strata higher. Act done factory workers having a purpose namely, changing social status in society. This research using qualitative methods to obtain an overview of rationality factory workers who lectures at the university of muhammadiyah sidoarjo. This research used the phenomenology of alfred schutz that is because motive in order to motive.The subject of this research using purposive sampling, with the subjects research is student at the university of muhmammadiyah sidoarjo. Data from the study collected through technique interview and observation and collected the documents supporting. The result of the research indicated, that factory workers who chose to college on muhammadiyah sidoarjo have a motive cause (because motive)  between other conditions economy of a family and value of education family. In addition the motive (in order to motive) factory workers of their actions continuing education in universities namely, a factory workers for have a better life again, both in terms of education and economic aspect. Keywords: education, factory workers , mobility
PEMBENTUKAN HABITUS BARU MAHASISWA PERANTAUAN SUMBAWA DI SURABAYA (STUDI TENTANG BENTUK ADAPTASI DAN BENTUK HABITUS BARU MAHASISWA SUMBAWA DI SURABAYA) PUTRA HANDI AKSAN, SHEVA
Paradigma Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pendidikan merupakan hal yang sangat penting di era globalisasi seperti saat ini. Setiap Individu berlomba untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik guna meningkatkan kualitas hidupnya. Hal ini juga disadari oleh para calon mahasiswa yang berasal dari daerah Sumbawa untuk menempuh pendidikan ketempat terbaik guna memenuhi keinginan mereka yang haus akan ilmu pengetahuan. Peneliti mengkaji pembentukan habitus baru mahasiswa perantauan di Surabaya (studi tentang strategi adaptasi dan bentuk adaptasi mahasiswa Sumbawa di Surabaya). Kajian yang digunakan teori adaptasi dari Everett S Lee dan teori habitus dari Pierre Bourdieu. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di perguruan tinggi yang ada di Surabaya, baik perguruan tinggi Negeri maupun perguruan tinggi swasta yang memiliki mahasiswa perantaun dari pulau Sumbawa. Teknik yang digunakan dalam pemilihan informan yaitu dengan cara purposive, dimana peneliti sudah menentukan informan yang dianggap cukup tahu mengenai cara adaptasi dan bagaimana bentuk habitus barunya, peneliti juga terjun langsung dengan menjadi participant as observer. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua cara yaitu primer dan sekunder. Penggalian data primer menggunakan teknik observasi dan in-dept interview serta data sekunder. Teknik analisis data yang dilakukan adalah dengan metode triangulasi. Hasil dari penelitian ini adalah mahasiswa perantauan beradaptasi dengan lebih membuka diri terhadap lingkungan sekitar seperti mereka sering melalukan interaksi kepada masyarakan maupun teman baru mereka, serta pentingnya peran jaringan sosial dalam melakukan adaptasi. Habitus baru yang timbul ditanah perantauan sangatlah banyak, mahasiswa juga harus memperhatikan faktor modal atau dana yang mereka miliki. Peran orang tua sangatlah penting agar mahasiswa perantauan dapat bertahan ditanah perantauan. Kata Kunci : Pendidikan , Jaringan Sosial, Kualitatif, Habitus Baru. ABSTRACT Education is very important in the era of globalization. Each individual race to get the best education in order to improve the quality of life. It is also recognized by the students from the region to study the place of Sumbawa best to meet the wishes of those who thirst for knowledge. Researchers examined the formation of new habitus overseas students in Surabaya (the study of adaptation strategies and adaptation Sumbawa students in Surabaya). The study, which used the theory of adaptation of Everett S Lee and theory of Pierre Bourdieu's habitus. This study uses a qualitative approach. In this study, researchers took high diperguruan location in Surabaya, both State colleges and universities have a student Private perantaun of the island of Sumbawa. Techniques used in the selection of informants is by way purpusive, where researchers have determined the informant is considered enough to know about how to adapt and how to form a new habitus, researchers also directly involved with being a participant as observer. Data collection techniques in this study using two ways: primary and secondary. The primary data collection using observation and in-dept interviews and secondary data. Data analysis technique is done by triangulation method. Results from this study are overseas students adapt to the more open to the surrounding environment as they are often put through interaction to the communities and their new friends, as well as the importance of the role of social networks in the adaptation. New habitus arising lands overseas very much, the students also have to take into account the capital or the funds they have. The role of parents is very important that students be able to survive on the ground overseas colony. Keywords: Education, Social Networking, Qualitative, New habitus.
FENOMENOLOGI KIMCIL SMK SWASTA SIDOARJO DI KALANGAN KOMUNITAS MUSIK UNDERGROUND REZA IRAWAN, DHIMAS
Paradigma Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kimcil merupakan singkatan dari kimpet (kelamin) cillik. Di dalam kalangan Underground, kimcil merupakan istilah yang diciptakan oleh laki-laki untuk perempuan ABG usia 15-18 tahun penganut seks bebas. Penelitian ini memfokuskan pada motif-motif seksual yang dilakukan oleh kimcil yang selalu menimbulkan sensasi seperti halnya berpakaian seksi, suka berfoto di area stage dengan pose yang tidak seronoh, merokok, dan suka mempromosikan dirinya yang memang suka akan seks melalui media sosial messengger seperti halnya BBM (Blackberry Messengger). Semua dilakukan semata-mata guna menarik perhatian lawan jenis di kalangan komunitas musik underground. Penelitian ini menggunakan teori Fenomenologi dari Alfred Schutz yang memfokuskan pada motif (sebab dan tujuan) yang tidak lepas dari intersubjektivitas, yakni sebuah tindakan yang dilakukan murni berdasarkan proses interaksi individu yang terjalin beserta pengalaman masa lalu pada individu serta ruang lingkup sosialnya. Subyek penelitian ini adalah perempuan disalah satu SMK Swasta di Sidoarjo yang tergabung pada suatu familly atau komunitas musik Underground . Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara sedangkan pada teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif yang dikemukakan oleh Miles dan Hubberman, teknik analisis ini menggunakan tiga tahap diantaranya yakni reduksi data, display atau penyajian data dan yang terakhir kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kimcil yang menjalin hubungan dengan banyak laki-laki dan melakukan aktivitas seks bebas dengan segala sensasi yang diciptakannya tersebut memiliki motif sebab karena kurangnya perhatian keluarga, lingkungan pergaulan yang menarik, pengalaman seks di masa lalu, suka sama suka, kesenangan semata (kesenangan akan seks), dan kurang terpenuhinya kebutuhan secara ekonomi. Motif tujuannya yakni agar terkenal di kalangannya, menyalurkan hasrat seksual, seks sebagai perlawanan, sensasi seks yang berbeda, mendapatkan perlakuan lebih (hadiah berupa materi atau barang). Kata Kunci: Kimcil, Pergaulan bebas, Remaja, Seks, Motif-Motif seksual   Abstract Kimcil an abbreviation of kimpet (sex) cillik (small). In the Underground kimcil is a designation created by men on women 15-18 years of age ABG free sex adherents with every sensation it creates. This study focuses on the motives of sexual performed by kimcil which always give rise to sensations in attracting the attention of the opposite sex in the underground music community, especially in children band that includes the underground music that is considered attractive. This study uses the theory of phenomenology of Alfred Schutz that focuses on the motives (causes and objectives) that can not be separated from intersubjektivitas which is an action taken based purely on the individual interaction that exists along with past experience on the individual and social scope. The method used is qualitative descriptive phenomenology alfred Schutz. The subjects were women in one of the private vocational schools in Sidoarjo belonging to a family or Underground music community. Data collection technique used observation and interviews, while the data analysis technique using an interactive model proposed by Miles and Hubberman, this analysis technique uses three stages of which the data reduction, display or presentation of the data and the final conclusions. The results showed that kimcil that relationships with many men, and sexual activity is free with every sensation he created has motives of which the motive Because, due to the lack of attention to the family, milieu attractive, sexual experience in the past, consensual, the sheer pleasure (joy of sex), and lack of fulfillment of economic needs. While the goal is to the well-known motif in his circle, channeling sexual desire, sex as resistance, the sensation of different sex, get more treatment (gifts of materials or goods). Keywords: Kimcil, Teens, Free sex, Sexual Motive  
PRAKTEK KONTROL SOSIAL KELUARGA TERHADAP KEHAMILAN TIDAK DIKEHENDAKI DI KALANGAN REMAJA DI DESA KEMANGI GRESIK MAULIDIYA, PUTRI
Paradigma Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Wilayah Gresik terkenal dengan budaya religinya yang mempunyai slogan ‘Gresik berhias iman’ Sekolah yang berbasis agama pun banyak ditemukan dikota Gresik, akan tetapi masi ditemukan remaja yang mengalami kehamilan  tidak dikehendaki. Fenomena ditemukan di sebuah desa yang masih memegang budaya religi, yakni di Desa Kemangi Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik. Untuk itu peneliti mengangkat satu permasalahan yaitu tentang  pola praktek kontrol sosial keluarga terhadap kehamilan tidak dikehendaki di kalangan remaja di lokasi tersebut.Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah : mengapa terjadi kehamilan tidak dikehendaki dalam budaya religi, apakah ada keterkaitan antara kejadian kehamilan tidak dikehendaki dalam budaya religius dengan kontrol sosial keluarga dan bagaimana potret keluarga remaja yang kehamilan tidak dikehendaki. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui keterkaitan kontrol sosial keluarga dengan remaja yang mengalami kehamilan tidak dikehendaki.Penelitian ini menggunakan teori generatif (habitus x modal) + ranah = praktek, penelitian menggunakan metode diskriptif kualitatif, yang mengambil subyek penelitian sebanyak 6 (enam) orang, dengan teknik purposive. Analisis data dilakukan dengan menerapkan model analisis data (habitus x ranah) + modal = praktik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya faktor yang melatarbelakangi remaja mengalami kehamilan tidak dikehendaki dan hal itu berkaitan dengan habitus yang tertanam dalam keluarga tersebut yakni remaja kurang perhatian dan afeksi, remaja tidak diberikan pendidikan seks, dan remaja menempati lingkungan baru karena tidak lagi sekolah didesanya. Dan keadaan keluarga dari remaja berbeda-beda karena memiliki modal ekonomi, modal sosial, modal budaya serta modal prestise yang berbeda-beda. Dan memang ada  keterkaitan kontrol sosial keluarga dengan remaja yang mengalami kehamilan tidak dikehendaki dikarenakan praktek sosial dari keluarga menghasilkan bahwa kontrol sosial keluarga membuat remaja mengalami kehamilan tidak dikehendaki. Kata kunci: habitus,ranah,kontrol sosial. Abstract Gresik region known fo its religious culture that has as logan Gresik ornate faith. Faith based schools that also are found in  the city Gresik, but if found that teenage pregnancy is not desired. The phenomenon was discored in the town of Gresik in a village that still holds religious culture, which is in the village of the District Basil Bungah Gresik. To the researchers raised the issue that is about social control families against. Unwanted pregnancies among teenagers in the village of the District Basil Bungah Gresik. The formulation of the problem of this research is: why pregnancy is not desired in religious culture, wether there is a correlation between the incidence of unwanted teenage pregnacies. This study aims to determine the factors behind teen pregnancy is not desired, to know the family circumstance of the juvenile and to determine the relevance of social control families with adolescents who experience unwanted pregnancy. This study use the theory of generative (habitus x capital)+domain + practice, research using qualitative descriptive method, which take study subjects 6(six) people, using puposive. Analysis was performed by applying data not desired and it related to the habitus that is embededded in the family of the juvenile lack of attention and affection, teens are not given sex eduaction and teens occupy the new environment because there is no schooling his village. The results showed that the factors behind teen pregnancy is not desired and it is related to the habitus is embedded in the family of the juvenilelack of attention and affection, teens are not given sex education and teens occupy the new environment because there is no schoolin his village. In adolescents and family circum stancevary because of the economic capital, social capital, cultural capital and capital prestige different. And indeed there are link ages of social control families with adolescents who experience unwanted pregnanciesdue to the social practices of the family generate social control families that make adolescents experience unwanted pregnancies. Keywords: habitus, sphere, social control
ANALISIS DISKURSUS IKLAN PASTA GIGI PEPSODENT FERIAN IKARYATI, PUTRI
Paradigma Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini tentang analisis diskursus iklan pasta gigi Pepsodent. Studi ini bertujuan untuk mengaplikasikan konsep dan teori Roland Barthes untuk mengkaji makna yang ada pada iklan pasta gigi Pepsodent. Dengan menggunakan perspektif Roland Barthes tersebut dapat dipahami bahwa iklan bukan semata-mata tontonan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan analisis diskursus sebagai pendekatan. Semiologi Roland Barthes sebagai pisau bedahdalam melihat makna yang ada pada iklan Pepsodent.Dalam iklan Pepsodent terdapatkode dan juga makna, dengan diskursusyang mengasumsikan bahwa semua objek dan tindakan dalam iklan penuh makna. Pepsodent menggunakan kode-kode tertentu untuk membentuk realitas pada iklan. Pada Iklan ini terdapat perubahan slogan dan makna. Makna dari slogan tersebut saling berkaitan dengan tema besar yang digunakan. Dengan slogan dan tema yang berbeda terdapat makna konotatif dan denotatif. Selain itu terdapat kritik yang menyesatkan dalam penayangan iklan.Sehingga Pepsodent memiliki sisi positif dan negatif. Kata Kunci: Iklan, Pasta gigi Pepsodent, Diskursus   Abstract This research about discourse analysis toothpaste Pepsodent advertising. The study aimes to apply the concept and theory Roland Barthes to assess meaning that is in advertisements toothpaste pepsodent. Using Roland Barthes perspective it can be understoot that advertising is not merely a spectacle. This research using qualitative method and discourse analysis as an approach. Semiology Roland Barthes as a scalpel in see the existing meaning in advertisements pepsodent. Pepsodent advertisements contained in the code and meaning. With a discourse that assumes that all objects and actions in a meaningful advertising. Pepsodent certain use codes to form reality in advertisement. In advertisements this there was a change in slogan and meaning. The meaning of the slogan related to the theme of large used. With the slogan and different themes are connotative and denotative meanings. In addition there are criticism that mislead in advertising. So pepsodent has positive and negative sides. Keywords: Advertising, Toothpaste Pepsodent, Discourse
RITUAL ALIRAN MUSIK BLACK METAL UNDERGROUND PADA BAND JAHANAM DALAM PERSPEKTIF SEMIOTIKA LIZA, NUR
Paradigma Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Beragam aliran genre musik metal yakni diantaranya Thrash metal, Death metal, Grindcore, Metalcore, Deathcore, Progressiv metal, Folk metal, Matchcore, Alternative metal, Ghotic metal, dan Black metal memiliki keunikan dalam menciptakan alunan lagu dan seperti halnya aliran musik Black metal yang dikenal sebagai musik satanik memiliki ritual pemujaan dengan menggunakan kelinci sebagai hewan pemujaan. Dengan menggunakan perspektif Ferdinand de Saussure tersebut dapat dipahami bahwa alat ritual yang dilakukan oleh Band Jahanam asal Kota Mojokerto memiliki makna sebagai sistem tanda ditinjau dari aspek penanda dan petanda serta penggabungan dari  konsep sakral dan profane Emile Durkheim yang terdapat sebuah kesakralan dari alat ritual tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan analisis semiotika sebagai pendekatan yang bertujuan untuk menjelaskan makna tanda pada alat-alat ritual tersebut. Dari alat ritual dapat disimpulkan bahwa setiap alat-alat  yang terdapat dalam ritual aliran musik Black metal pada band Jahanam memiliki sebuah makna yang tidak hanya untuk mengkomunikasikan melainkan memaknai sesuai dengan sistem terstruktur dari tanda. Alat-alat ritual yang terdiri dari kostum, aksesoris, kelinci, bunga, dan dupa sebagai wujud penyempurnaan dalam ritual terdapat sisi ritus. Setiap simbol yang dipergunakan dalam ritus, memiliki makna penanda dan petanda sebagai wujud dari kegelapan yang tampak dalam alat ritual tersebut. Kata Kunci: Black metal, ritual, semiotika   Abstract Diverse the genre of music and thrash metal of metal, death metal, grindcore, metalcore, deathcore, progressiv metal, folk metal, matchcore, an alternative metal, ghotic metal, and black metal to its uniqueness in creating alunan song and just like the music black metal known as music satanik having rituals using rabbits as a cult.Using perspective ferdinand de saussure it can be understood that a ritual performed by a band hell the city mojokerto have meaning as a sign in terms of the signifiant and signifier and integration of the concept of sacral and profane emile durkheim that is a sacred of a the rite the.This research using qualitative and analysis logician the approach which aims to explain the meaning of mark on things the rite. Of a ritual it can be concluded that every things contained in ritual of a tool ritual can be concluded that every the tools there are on rites the flow of music black metal detector band hell have a meaning that is not only to communicate but the handling in accordance with a system of marks structured Tools ritual consisting of costum , accessorie , rabbits, flowers, and incense as a form of the on rites there are side rites. Every symbol be used in rites, having a meaning signifiant and signifier as a result of darkness that look in the rite instrument . Keywords: Black metal, ritually, semiotic  
EKOLOGI DAN IDEOLOGI MEDIA: ANALISIS WACANA KRITIS PADA PEMBERITAAN PROGRAM SURABAYA GREEN AND CLEAN TYAS UMARTONO, SANDI
Paradigma Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tulisan ini berfokus pada wacana yang dikembangkan oleh perusahaan media Jawa Pos, terkait dengan program yang dilaksanakan untuk menjaga kelestarian lingkungan Surabaya, yakni program Surabaya Green and Clean. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis wacana dalam media pemberitaan program Surabaya Green and Clean, dan juga untuk membedah kepentingan dan ideologi yang dikandung dalam wacana yang dikembangkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis wacana kritis Fairclough yang memadukan kombinasi tradisi analisis tekstual bahasa dalam ruang tertutup, dengan konteks masyarakat yang lebih luas, dan dibantu dengan proposisi teori sosial kritis Mazhab Frakfurt guna membedah ideologi yang terkandung dalam wacana yang dikembangkan. Hasilnya, unsur-unsur bahasa yang dikandung dalam teks memberikan gambaran persuasif pada masyarakat, yang didukung pula dengan opini yang menguatkan dari pihak pemerintah maupun ahli yang terlibat. Situasi kerusakan lingkungan mendapat justifikasi secara politis dari pihak pemerintah, untuk mendapatkan atensi serius dari berbagai pihak. Kolaborasi yang dibangun oleh pihak korporasi media Jawa Pos dengan korporasi Unilver memberikan efek legitimasi secara saintifik, mengingat pentingnya kesadaran akan kesehatan lingkungan bagi masyarakat luas. Kata Kunci : Analisis Wacana Kritis, Media, Ekologi, Surabaya Green and Clean   Abstract This research focused on discourse that implemented by media corporation Jawa Pos, in case of program that implemented to keep Surabaya environment, it is Surabaya Green and Clean. The purpose of this research is to analize the discourse in media that report about Surabaya Green and Clean program, and also to breakdown interest and ideology in that discourse. This research use Fairclough’s critical discourse analysis that combine language textual analysis tradition, with further society context, and also this research helped by theortical proposition of social critical theory of Mazhab Frankfurt to breakdown the ideology that was contained in that discourse. The result, shows that the language unsures that were contained in the text give persuasive effect to public, that also supported by statement from government and the expert. The situation of enviromental damage get political justification from the government, to get serious attention from everyone. Jawa Pos and Unilever collaboration give scientific legitimate effect, to remind the importance of healthful environment awareness for public. Keywords: Critical Discourse Analysis, Media, Ecology, Surabaya Green and Clean
EKSPLOITASI ANAK JALANAN (STUDI KASUS PADA ANAK JALANAN DI SURABAYA) SUKRUN NIHAYAH, EMY
Paradigma Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Anak jalanan merupakan masalah sosial yang terdapat dalam masyarakat.Masalah sosial terjadi ketika status sosial seseorang terganggu dan fungsi sosial tidak berjalan dengan baik serta hal ini berkaitan dengan peran yang hilang atau malah dihilangkan. Letak anak jalanan sebagai masalah sosial adalah karena dengan menjadi anak jalanan mereka telah kehilangan hak-hak seperti hak untuk sekolah atau mendapatkan pendidikan.Dimana pada masa itu seharusnya mereka mendapatkan pendidikan dan pengajaran, tetapi yang ada malah keadaan sebaliknya dimana mereka harus bekerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan memaparkan apa saja motif orangtua dalam mengeksploitasi anaknya dan menjelaskan bagaimana wujud eksploitasi anak yang dilakukan oleh orangtua. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz dan analisis data kualitatif. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa seorang anak bisa menjadi anak jalanan tentu karena berbagai faktor pendukung yang melatarbelakanginya. Faktor pendukung yang melatarbelaknginya tersebut tidak lain karena adanya motif orang tua mereka sendiri yang sengaja menyuruh mereka bekerja di jalanan. Motif atau faktor orang tua mempekerjakan anak mereka menjadi anak jalanan adalah disebabkan karena faktor utama yaitu faktor ekonomi.Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, bahwa keberadaan anak-anak jalanan dapat mudah kita jumpai di kota-kota besar misalnya Surabaya. Kehidupan kota besar yang keras dan penuh persaingan membuat seseorang yang tidak mampu untuk menghadapi atau melaluinya akan membuat mereka tereliminasi. Jadi tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan yang berat di kota-kota besar menjadi alasan lemahnya kehidupan ekonomi. Kata Kunci: anak jalanan, eksploitasi, orang tua.   ABSTRACT Street children is a social problem that is present in the social society. Problem occurs when a person's social status and impaired social functioning are not going well and it relates to the role of the missing or even be lost. Location of  street children as a social problem is due to become street children they has lost the rights such as the right to school or get education. At the time they are supposed to get an education and teaching, but that there is even the opposite situation where they have to work. The aim of this study is to describe and explain what motives in exploiting his parents and explain how a form of exploitation of children by parents. This study uses descriptive phenomenology Alfred Schutz and qualitative date analysis. The results in this study indicate that a child could become street children is certainly due to various factors supporting the background. Background factor  supporting the other not because of the motives of their own parents who deliberately sent them to work on the streets. As for the motive or factor parents employing their children become street children is caused by factors such as the first economic factor.Like we have seen previously, that the existence of street children can easily be encountered in large cities for example Surabaya. Big city life is hard and full competition makes a man unable to face or through it will make them eliminated. So it can not be denied that the weight of life in big cities is the reason of weak economic life. Keywords: street children, exploitation, parents.
MAKNA PENDIDIKAN FORMAL BAGI ORANG TUA SISWA DI PULAU POTERAN MASITHA, DEWI
Paradigma Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (2016)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Orangtua harus memiliki kualitas diri yang memadai sehingga anak akan berkembang sesuai dengan harapan. Penelitian ini bertujuan mengkaji tentang makna pendidikan formal bagi orangtua siswa di Pulau Poteran Kecamatan Talango Kabupaten Sumenep. Adapun dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi Alfred Shcutz, untuk menganalisis realitas sosial yang ada secara utuh.  Hasil dari penelitian ini terdapat tiga faktor yang mempengaruhi adanya pergeseran makna pendidikan formal yaitu  kondisi ekonomi dalam keluarga orangtua siswa, faktor budaya dan aksesibilitas. Alasan individu khususnya orangtua siswa memberi dampak terhadap persepsi orangtua terhadap pendidikan formal dikarenakan tingginya rasa malu  terhadap lingkungan dan untuk meningkatkan status sosial keluarga. Kata Kunci: Makna, Pendidikan Formal, Orangtua, Siswa   ABSTRACT Education is responsibility together between family, society and government. Parents must haves acceptable it-self quality, until child will expand in accordance with expectation. This research purposed to review about of the meaning formal education for parents on the island of Poteran Kecamatan Talango Kabupaten Sumenep . this research using qualitative descriptive methode phenomenology alfred shcutz, to analyze social reality that is full. The result of this research there are three factor that influences a result of the shift meaning formal education that is economic conditions in family parents , cultural factors and accessibility .Reason individual especially parents make an impact on perception parents to education formal to the high shame with the environment and to increase the social family . Keyword: Meaning, Education Formal Parent Student

Page 4 of 34 | Total Record : 337