cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
PERKEBUNAN TEBU DI MADIUN MASA BELANDA TAHUN 1900-1930 RETNO WULAN, DYAH; TRILAKSANA, AGUS
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan perkebunan tebu yang ada di Madiun pada tahun 1900-1930 memang menarik untuk diteliti dan dipelajari secara mendalam. Pada awal abad ke-20, Madiun berperan dalam menjadikan Hindia Belanda sebagai penghasil gula terbaik dan terbesar di dunia mengalahkan Kuba, Suriname, dan Filiphina. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi sekarang yang harus mengimpor gula dari luar negeri. Pemerintah mengambil kebijakan untuk mengimpor gula karena pabrik gula dalam negeri belum mampu memenuhi suplai kebutuhan gula dalam negeri karena banyak pabrik gula yang tua dan tidak mampu berproduksi secara efisien.Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah 1) Bagaimana kondisi perkebunan tebu di Madiun pada tahun 1900-1930?, 2) Bagaimana dampak adanya perkebunan tebu terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Madiun pada tahun 1900-1930?, dan 3) Bagaimana dampak krisis ekonomi tahun 1930 terhadap perkebunan tebu dan industri gula di Madiun? Dengan tujuan dari penulisan skripsi ini adalah mendeskripsikan perkembangan perkebunan tebu di Madiun dari tahun 1900 sampai 1930 dan dampak yang diakibatkan dari adanya perkebunan tebu di Madiun dari segi ekonomi, serta dampak adanya depresi ekonomi dunia yang melanda tahun 1930 terhadap produksi dan harga gula di Madiun. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, maka metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah, yang meliputi 4 tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Tahap heuristik adalah tahap dalam pencarian sumber fokus penelitian yang diperoleh dari koleksi arsip untuk sumber utama, buku-buku yang relevan untuk sumber sekunder, serta skripsi, jurnal, dan internet untuk sumber tersier yang dapat dijadikan data pendukung pada fokus penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkebunan tebu di Madiun pada tahun 1900-1930 dapat berkembang pesat di daerah Madiun karena memiliki kondisi geografi yang mendukung untuk tumbuh kembang tanaman tebu. Jenis tanah yang mendominasi daerah Madiun adalah tanah alluvial dan lathosol yang cocok untuk tanaman tebu. Selain itu, daerah Madiun termasuk dalam daerah iklim sedang yang memiliki curah hujan yang merata dan memiliki sumber air yang melimpah karena diapit oleh pegunungan serta dilewati oleh aliran Bengawan Madiun yang bermuara ke Bengawan Solo. Perkebunan tebu di Madiun mengalami perkembangan pesat, mulai dari pembangunan irigasi sampai modernisasi sarana prasarana. Perkebunan tebu di Madiun juga berdampak pada kondisi sosial yaitu dengan banyaknya tenaga kerja yang diserap hingga dikenalnya uang sebagai alat pembayaran, serta dampak depresi ekonomi 1930 yang mengakibatkan harga gula menjadi turun dan menimbulkan konflik sosial, seperti pembakaran lahan, pemogokan kerja buruh, dan munculnya perbanditan. Bagi masyarakat yang2menyewakan lahannya untuk perkebunan tebu (petani sikep), mereka mendapatkan uang sewa dan prioritas menjadi pekerja perkebunan, namun uang sewa yang diterima kerap kali tidak cukup untuk membayar pajak ataupun memenuhi kebutuhan hidup.Kata Kunci : Perkebunan Tebu, Madiun, tahun 1900-1930
PERKEBUNAN TEBU DI MADIUN MASA BELANDA TAHUN 1900-1930 RETNO WULAN, DYAH; TRILAKSANA, AGUS
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan perkebunan tebu yang ada di Madiun pada tahun 1900-1930 memang menarik untuk diteliti dan dipelajari secara mendalam. Pada awal abad ke-20, Madiun berperan dalam menjadikan Hindia Belanda sebagai penghasil gula terbaik dan terbesar di dunia mengalahkan Kuba, Suriname, dan Filiphina. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi sekarang yang harus mengimpor gula dari luar negeri. Pemerintah mengambil kebijakan untuk mengimpor gula karena pabrik gula dalam negeri belum mampu memenuhi suplai kebutuhan gula dalam negeri karena banyak pabrik gula yang tua dan tidak mampu berproduksi secara efisien.Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah 1) Bagaimana kondisi perkebunan tebu di Madiun pada tahun 1900-1930?, 2) Bagaimana dampak adanya perkebunan tebu terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Madiun pada tahun 1900-1930?, dan 3) Bagaimana dampak krisis ekonomi tahun 1930 terhadap perkebunan tebu dan industri gula di Madiun? Dengan tujuan dari penulisan skripsi ini adalah mendeskripsikan perkembangan perkebunan tebu di Madiun dari tahun 1900 sampai 1930 dan dampak yang diakibatkan dari adanya perkebunan tebu di Madiun dari segi ekonomi, serta dampak adanya depresi ekonomi dunia yang melanda tahun 1930 terhadap produksi dan harga gula di Madiun. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, maka metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah, yang meliputi 4 tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Tahap heuristik adalah tahap dalam pencarian sumber fokus penelitian yang diperoleh dari koleksi arsip untuk sumber utama, buku-buku yang relevan untuk sumber sekunder, serta skripsi, jurnal, dan internet untuk sumber tersier yang dapat dijadikan data pendukung pada fokus penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkebunan tebu di Madiun pada tahun 1900-1930 dapat berkembang pesat di daerah Madiun karena memiliki kondisi geografi yang mendukung untuk tumbuh kembang tanaman tebu. Jenis tanah yang mendominasi daerah Madiun adalah tanah alluvial dan lathosol yang cocok untuk tanaman tebu. Selain itu, daerah Madiun termasuk dalam daerah iklim sedang yang memiliki curah hujan yang merata dan memiliki sumber air yang melimpah karena diapit oleh pegunungan serta dilewati oleh aliran Bengawan Madiun yang bermuara ke Bengawan Solo. Perkebunan tebu di Madiun mengalami perkembangan pesat, mulai dari pembangunan irigasi sampai modernisasi sarana prasarana. Perkebunan tebu di Madiun juga berdampak pada kondisi sosial yaitu dengan banyaknya tenaga kerja yang diserap hingga dikenalnya uang sebagai alat pembayaran, serta dampak depresi ekonomi 1930 yang mengakibatkan harga gula menjadi turun dan menimbulkan konflik sosial, seperti pembakaran lahan, pemogokan kerja buruh, dan munculnya perbanditan. Bagi masyarakat yang2menyewakan lahannya untuk perkebunan tebu (petani sikep), mereka mendapatkan uang sewa dan prioritas menjadi pekerja perkebunan, namun uang sewa yang diterima kerap kali tidak cukup untuk membayar pajak ataupun memenuhi kebutuhan hidup.Kata Kunci : Perkebunan Tebu, Madiun, tahun 1900-1930
KEDAULATAN RAKYAT TAHUN 1974 – 1994 MADELEINE RUBBA, RUTH; LIANA, CORRY
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembredelan pers dilakukan secara masif pasca tragedi MALARI 1974. Begitu banyak surat kabar yang berhasil di bredel pada Orde Baru, namun lain halnya dengan surat kabar milik Yogyakarta yaitu Kedaulatan Rakyat yang berhasil melewati Orde Baru yang begitu represif serta pembredelan di tahun 1974 hingga 1994. Kedaulatan Rakyat tentu memiliki sebuah upaya agar terhindar dari pembredelan Orde baru serta berhasil melewati Orde Baru yang begitu mengekang pers khususnya surat kabar. Kedaulatan Rakyat mengambil langkah yang hati - hati serta selalu waspada agar tidak terbawa arus kritik terhadap pemerintah yang begitu tajam yang terjadi pada saat itu. Pada prosesnya Kedaulatan Rakyat ikut terlibat aktif dalam melakukan kritik terhadap kebijakan - kebijakan pemerintah maupun kondisi politik pada masa tersebut namun tetap dilakukan dengan prinsip meniti buih, ngono yo ngono, ning ojo ngono dan mili ning ora melu keli.Kata Kunci: Kedaulatan Rakyat, Pembredelan
PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DESA GONDOSULI KECAMATAN GONDANG TULUNGAGUNG 2013-2017 DIO MAULANA, ANDRE; , ARTONO
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenjangan kawasan perkotaan dan perdesaan menjadi tantangan bagi pemerintah untuk meminimalisir proses urbanisasi. Pengembangan kawasan minapolitan merupakan upaya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan nelayan dan meningkatkan konsumsi perikanan nasional. Berdasar keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.35/kempen-kp/2013 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan di Desa Gondosuli Kecamatan Gondang Tulungagung.Penelitian ini mengambil rumusan masalah tentang (1) Arah pengembangan kawasan minapolitan di desa Gondosuli Kecamatan Gondang Tulungagung? (2) Dampak terhadap kehidupan sosial budaya dan ekonomi masyarakat Gonsosuli?. Penulis mengambil rentang waktu tahun 2013-2017 sesuai program pemerintah berlangsung selama 5 tahun.Hasil penelitian ini menjelaskan arah pengembangan minapolitan di desa Gondosuli mendapat dukungan pemerintah daerah dalam bentuk investasi, kredit, pengadaan fasilitas ?cold-storage were housing serta penelitian dalam bentuk penyuluhan maupun were housing. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tulungagung sebagai leading sector melaksanakan berbagai kegiatan seperti : pembangunan gedung pertemuan kelompok, bantuan alat pencetak pakan, pembangunan jalan, Sertifikasi Hak Atas Tanah Pembudidaya Ikan (Sehatkan).Pengembangan kawasan minapolitan memberikan dampak sosial budaya dan perekonomian bagi masyarakat desa Gondosuli. Dampak sosial budaya dari pengembangan kawasan minapolitan membuat hubungan silaturahmi semakin dekat dengan terbentuknya kelompok pembudidaya. Pagelaran kesenian wayang, jaranan dan lomba pemancingan gratis merupakan bentuk rasa syukur dari hasil budidaya. Dibidang ekonomi budidaya perikanan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan mengurangi angka pengangguran.Kata kunci: Minapolitan, Gondosuli, Sosial Budaya dan Ekonomi.
PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DESA GONDOSULI KECAMATAN GONDANG TULUNGAGUNG 2013-2017 DIO MAULANA, ANDRE; , ARTONO
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenjangan kawasan perkotaan dan perdesaan menjadi tantangan bagi pemerintah untuk meminimalisir proses urbanisasi. Pengembangan kawasan minapolitan merupakan upaya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan nelayan dan meningkatkan konsumsi perikanan nasional. Berdasar keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.35/kempen-kp/2013 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan di Desa Gondosuli Kecamatan Gondang Tulungagung.Penelitian ini mengambil rumusan masalah tentang (1) Arah pengembangan kawasan minapolitan di desa Gondosuli Kecamatan Gondang Tulungagung? (2) Dampak terhadap kehidupan sosial budaya dan ekonomi masyarakat Gonsosuli?. Penulis mengambil rentang waktu tahun 2013-2017 sesuai program pemerintah berlangsung selama 5 tahun.Hasil penelitian ini menjelaskan arah pengembangan minapolitan di desa Gondosuli mendapat dukungan pemerintah daerah dalam bentuk investasi, kredit, pengadaan fasilitas ?cold-storage were housing serta penelitian dalam bentuk penyuluhan maupun were housing. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tulungagung sebagai leading sector melaksanakan berbagai kegiatan seperti : pembangunan gedung pertemuan kelompok, bantuan alat pencetak pakan, pembangunan jalan, Sertifikasi Hak Atas Tanah Pembudidaya Ikan (Sehatkan).Pengembangan kawasan minapolitan memberikan dampak sosial budaya dan perekonomian bagi masyarakat desa Gondosuli. Dampak sosial budaya dari pengembangan kawasan minapolitan membuat hubungan silaturahmi semakin dekat dengan terbentuknya kelompok pembudidaya. Pagelaran kesenian wayang, jaranan dan lomba pemancingan gratis merupakan bentuk rasa syukur dari hasil budidaya. Dibidang ekonomi budidaya perikanan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan mengurangi angka pengangguran.Kata kunci: Minapolitan, Gondosuli, Sosial Budaya dan Ekonomi.
PENGARUH MEDIA WEBSITE DALAM PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DAN KEMAMPUAN LITERASI DIGITAL TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PERKEMBANGAN ISLAM DI NUSANTARA KELAS X DI SMA NEGERI 1 SOOKO KABUPATEN MOJOKERTO FITRIA ANGGRAINI, ARISTA; , RIYADI
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini sedang digalakkan pembelajaran dengan memanfaatkan perkembangan teknologi seperti penggunaan website, pembelajaran berbasis online dan sebagainya. Sejarah memerlukan kemampuan literasi yang sangat tinggi agar mampu menyimpulkan dan menganalisis suatu peristiwa dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar penggaruh penggunaan website exe terhadap kemampuan literasi digital dan hasil belajar peserta didik di SMA Negeri 1 Sooko Kabupaten Mojokerto. Tujuan penelitian ini lebih terfokus pada hasil belajar peserta didik dalam ranah kognitif. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode penelitian pre experiment design. Teknik pengambilan data menggunakan angket dua jenis, tugas analisis artikel, dan nilai tes tulis. Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan analisis statistik regresi berganda dengan bantuan software spss 25. Data ini diolah untuk mengetahui pengaruh media website dalam pembelajaran Discovery Learning dan kemampuan literasi digital terhadap hasil belajar peserta didik. Berdasarkan hasil pengelolahan dan analisis, pengaruh media website dalam pembelajaran Discovery Learning terhadap hasil belajar sebesar 0,728, pengaruh media website dalam pembelajaran Discovery Learning terhadap kemampuan literasi digital sebesar 0,900, pengaruh kemampuan literasi digital terhadap hasil belajar sebesar 0,784, sedangkan pengaruh media website dalam pembelajaran Discovery Learning dan kemampuan literasi digital terhadap hasil belajar secara bersama-sama sebesar 61,8%. Adapun pengaruh variabel lain yang tidak diteliti sebesar 38,2%.Kata Kunci : media website, kemampuan literasi digital, hasil belajar, sejarah
PERJUANGAN HARUN BIN SAID DALAM KONFRONTASI MILITER GANYANG MALAYSIA TAHUN 1963-1966 HASANAH, NUR; , ARTONO
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konfrontasi Militer Ganyang Malaysia merupakan bentuk penolakan Indonesia terhadap Federasi Malaysia yang dipicu oleh perbedaan perspektif tentang rencana integrasi sebagian wilayah Kalimantan Utara yang meliputi Sabah, Sarawak, dan Brunei kedalam Federasi Malaysia. Konfrontasi Militer Ganyang Malaysia diserukan oleh Presiden Soekarno dengan mengumandangkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora). Untuk mendukung Operasi Dwikora, Pemerintah Indonesia mengerahkan sukarelawan dari kalangan militer dan rakyat sipil. Salah satu sukarelawan yang melaksanakan Operasi Dwikora adalah Harun bin Said dari Korp Komando Angkatan Laut (KKO-AL).Penelitian ini membahas tentang (1) Perjuangan Harun bin Said dalam konfrontasi Militer Ganyang Malaysia tahun 1963-1966; (2) Akhir perjuangan Harun bin Said dalam konfrontasi Militer Ganyang Malaysia tahun 1963-1966. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari empat tahapan yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pada tahap heuristik, sumber yang diperoleh berupa sumber primer yaitu Arsip Nasional RI dan Arsip Kota Surabaya, sedangkan sumber sekunder diperoleh dari buku dan wawancara.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Harun bin Said ikut berkontribusi dalam Operasi Dwikora yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia untuk melancarkan aksi Konfrontasi Militer Ganyang Malaysia. Dalam Konfrontasi ini banyak sukarelawan dan ABRI dikirim ke beberapa wilayah di Malaysia dan Singapura untuk melakukan aksi sabotase. Harun bin Said menjadi salah satu sukarelawan yang menerima misi rahasia untuk melakukan sabotase di Singapura. Setelah berhasil melaksanakan sabotase dengan meledakkan Mc Donal House, Harun bin Said ditangkap oleh Pemerintah Singapura dan perjuangannya harus berakhir di tiang gantungan Singapura.Kata Kunci : Harun bin Said, Konfrontasi Militer Ganyang Malaysia, Operasi Dwikora
KAJIAN HISTORIS: TARI MAYANG MADU SEBAGAI KESENIAN KHAS KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2005-2016 IKE NURRACHMA MULYA, FERYSCA; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia utuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya telah tersusun dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat ikut berperan penting dalam perkembangan dan pelestarian terhadap suatu kebudayaan yang ada. Demikian juga dengan masalah kesenian yang merupakan salah satu unsur kebudayaan yang cukup penting dalam masyarakat. Kesenian adalah salah satu bentuk aktivitas masyarakat yang dalam perkembangannya tidak dapat berdiri sendiri, artinya perkembangan pada suatu kesenian bergantung dari masyarakat itu sendiri. Selain itu, kesenian juga merupakan sarana dalam mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia dan perwujudan dari kebudayaan yang menunjukkan nilai etik dan estetika suatu masyarakat.Penelitian ini menitik beratkan pada kesenian Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan. Tari Mayang Madu merupakan tari khas daerah Kabupaten Lamongan. Nama Mayang Madu diambil dari gelar Raden Qasim yang biasa disebut Sunan Drajad. Sunan Drajad merupakan tokoh penyebar agama Islam di Jawa khususnya di Lamongan. Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas maka penulis mengambil rentang waktu antara tahun 2005-2016 yang diciptakan oleh Arif Anshori selaku seniman Kabupaten Lamongan.Berdasarkan latar belakang di atas, maka memunculkan rumusan masalah (1) Bagaimana latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan? (2) Bagaimana perkembangan Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan pada tahun 2005-2016?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahap (1) heuristik, (2) kritik, (3) interprestasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan tentang latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan dikarenakan tari ini merupakan salah satu tari yang mengandung unsur-unsur Islami dan pertam kali tari yang diperkenalkan ke masyarakat Lamongan. Tari Mayang Madu diciptakan tahun 2005 oleh Arif Anshori yang dilatarbelakangi oleh program kerja Dinas Pendidikan dan Kebudyaan. Tema tari ini diambil dari kegigihan tokoh Sunan Drajad dalam menyebarkan agama Islam di Lamongan.Tahun 2005 Tari Mayang Madu dikenal masyarakat setelah pementasan pertama kali di Obyek Wisata Makam Sunan Drajad di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Tahun 2006 Tari Mayang Madu digunakan sebagai pelatihan guru-guru seluruh Kabupaten Lamongan dan sebagai bentuk pembelajaran muatan lokal di sekolah SMP dan SMA. Seiring berjalannya waktu masyarakat Lamongan mengakui bahwa Tari Mayang Madu merupakan tarian khas daerah Lamongan dan setiap ada acara resmi di Lamongan, tari ini sering ditampilkan.Perkembangan Tari Mayang Madu dapat dilihat dari beberapa kali mengikuti event-event dan acara kenegaraan/kepemerintahan baik di dalam kota maupun di luar kota. Pelestarian Tari Mayang Madu, sanggar seni Tri Melati memegang peran penting sebagai tempat pelatihan terstruktur bersama para anggota sanggar. Tahun 2016 mulai mengalami penurunan karena sudah muncul tari kreasi baru yang selalu bermunculan disetiap tahunnya.Kata Kunci: Tari Mayang Madu, Lamongan, Kajian Historis
KAJIAN HISTORIS: TARI MAYANG MADU SEBAGAI KESENIAN KHAS KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2005-2016 IKE NURRACHMA MULYA, FERYSCA; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia utuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya telah tersusun dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat ikut berperan penting dalam perkembangan dan pelestarian terhadap suatu kebudayaan yang ada. Demikian juga dengan masalah kesenian yang merupakan salah satu unsur kebudayaan yang cukup penting dalam masyarakat. Kesenian adalah salah satu bentuk aktivitas masyarakat yang dalam perkembangannya tidak dapat berdiri sendiri, artinya perkembangan pada suatu kesenian bergantung dari masyarakat itu sendiri. Selain itu, kesenian juga merupakan sarana dalam mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia dan perwujudan dari kebudayaan yang menunjukkan nilai etik dan estetika suatu masyarakat.Penelitian ini menitik beratkan pada kesenian Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan. Tari Mayang Madu merupakan tari khas daerah Kabupaten Lamongan. Nama Mayang Madu diambil dari gelar Raden Qasim yang biasa disebut Sunan Drajad. Sunan Drajad merupakan tokoh penyebar agama Islam di Jawa khususnya di Lamongan. Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas maka penulis mengambil rentang waktu antara tahun 2005-2016 yang diciptakan oleh Arif Anshori selaku seniman Kabupaten Lamongan.Berdasarkan latar belakang di atas, maka memunculkan rumusan masalah (1) Bagaimana latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan? (2) Bagaimana perkembangan Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan pada tahun 2005-2016?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahap (1) heuristik, (2) kritik, (3) interprestasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan tentang latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan dikarenakan tari ini merupakan salah satu tari yang mengandung unsur-unsur Islami dan pertam kali tari yang diperkenalkan ke masyarakat Lamongan. Tari Mayang Madu diciptakan tahun 2005 oleh Arif Anshori yang dilatarbelakangi oleh program kerja Dinas Pendidikan dan Kebudyaan. Tema tari ini diambil dari kegigihan tokoh Sunan Drajad dalam menyebarkan agama Islam di Lamongan.Tahun 2005 Tari Mayang Madu dikenal masyarakat setelah pementasan pertama kali di Obyek Wisata Makam Sunan Drajad di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Tahun 2006 Tari Mayang Madu digunakan sebagai pelatihan guru-guru seluruh Kabupaten Lamongan dan sebagai bentuk pembelajaran muatan lokal di sekolah SMP dan SMA. Seiring berjalannya waktu masyarakat Lamongan mengakui bahwa Tari Mayang Madu merupakan tarian khas daerah Lamongan dan setiap ada acara resmi di Lamongan, tari ini sering ditampilkan.Perkembangan Tari Mayang Madu dapat dilihat dari beberapa kali mengikuti event-event dan acara kenegaraan/kepemerintahan baik di dalam kota maupun di luar kota. Pelestarian Tari Mayang Madu, sanggar seni Tri Melati memegang peran penting sebagai tempat pelatihan terstruktur bersama para anggota sanggar. Tahun 2016 mulai mengalami penurunan karena sudah muncul tari kreasi baru yang selalu bermunculan disetiap tahunnya.Kata Kunci: Tari Mayang Madu, Lamongan, Kajian Historis
KAJIAN HISTORIS: TARI MAYANG MADU SEBAGAI KESENIAN KHAS KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2005-2016 IKE NURRACHMA MULYA, FERYSCA; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia utuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya telah tersusun dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat ikut berperan penting dalam perkembangan dan pelestarian terhadap suatu kebudayaan yang ada. Demikian juga dengan masalah kesenian yang merupakan salah satu unsur kebudayaan yang cukup penting dalam masyarakat. Kesenian adalah salah satu bentuk aktivitas masyarakat yang dalam perkembangannya tidak dapat berdiri sendiri, artinya perkembangan pada suatu kesenian bergantung dari masyarakat itu sendiri. Selain itu, kesenian juga merupakan sarana dalam mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia dan perwujudan dari kebudayaan yang menunjukkan nilai etik dan estetika suatu masyarakat.Penelitian ini menitik beratkan pada kesenian Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan. Tari Mayang Madu merupakan tari khas daerah Kabupaten Lamongan. Nama Mayang Madu diambil dari gelar Raden Qasim yang biasa disebut Sunan Drajad. Sunan Drajad merupakan tokoh penyebar agama Islam di Jawa khususnya di Lamongan. Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas maka penulis mengambil rentang waktu antara tahun 2005-2016 yang diciptakan oleh Arif Anshori selaku seniman Kabupaten Lamongan.Berdasarkan latar belakang di atas, maka memunculkan rumusan masalah (1) Bagaimana latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan? (2) Bagaimana perkembangan Tari Mayang Madu sebagai kesenian khas Kabupaten Lamongan pada tahun 2005-2016?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahap (1) heuristik, (2) kritik, (3) interprestasi, dan (4) historiografi.Hasil penelitian ini menjelaskan tentang latar belakang terciptanya Tari Mayang Madu menjadi kesenian khas Kabupaten Lamongan dikarenakan tari ini merupakan salah satu tari yang mengandung unsur-unsur Islami dan pertam kali tari yang diperkenalkan ke masyarakat Lamongan. Tari Mayang Madu diciptakan tahun 2005 oleh Arif Anshori yang dilatarbelakangi oleh program kerja Dinas Pendidikan dan Kebudyaan. Tema tari ini diambil dari kegigihan tokoh Sunan Drajad dalam menyebarkan agama Islam di Lamongan.Tahun 2005 Tari Mayang Madu dikenal masyarakat setelah pementasan pertama kali di Obyek Wisata Makam Sunan Drajad di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Tahun 2006 Tari Mayang Madu digunakan sebagai pelatihan guru-guru seluruh Kabupaten Lamongan dan sebagai bentuk pembelajaran muatan lokal di sekolah SMP dan SMA. Seiring berjalannya waktu masyarakat Lamongan mengakui bahwa Tari Mayang Madu merupakan tarian khas daerah Lamongan dan setiap ada acara resmi di Lamongan, tari ini sering ditampilkan.Perkembangan Tari Mayang Madu dapat dilihat dari beberapa kali mengikuti event-event dan acara kenegaraan/kepemerintahan baik di dalam kota maupun di luar kota. Pelestarian Tari Mayang Madu, sanggar seni Tri Melati memegang peran penting sebagai tempat pelatihan terstruktur bersama para anggota sanggar. Tahun 2016 mulai mengalami penurunan karena sudah muncul tari kreasi baru yang selalu bermunculan disetiap tahunnya.Kata Kunci: Tari Mayang Madu, Lamongan, Kajian Historis