cover
Contact Name
Agnes Anania Triavika Sahamastuti
Contact Email
agnes.ats@maranatha.edu
Phone
+6281282735885
Journal Mail Official
jurnal.shj@maranatha.edu
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha. Jl. Prof. drg. Surya Sumantri, M.P.H. No. 65, Bandung, Jawa Barat
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Sound of Health Journal
ISSN : 30905443     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.28932/shj
Core Subject :
Sound of Health Journal is an open access journal that publishes scientific articles in the form of research paper, scientific analysis, or academic-based reviews in the field of health sciences which include, but are not limited to, the fields of medicine, pharmacy, biotechnology, health technology, psychology, clinical and health industry technology, as well as other related topics. The topics may cover fundamental issues up to the application stage. This journal aims to facilitate scientific papers publication in the health sector, provide quality scientific articles that can be used as references and increase the research and publication enthusiasm among academics and health practitioners. This journal seeks to make a tangible contribution to improving community quality of life through the sharing of accurate and relevant information. This journal is published 3 (three) times a year in March, July and November. The editorial board is under Maranatha Christian University. The entire publication process will go through a peer-review stage to ensure the validity and suitability of the article to be published. We encourage authors to submit their work and share findings that can have a positive impact on the health landscape.
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
Efek Vitamin B12 dalam Mempersingkat Waktu Reaksi Rekognisi Mahasiswa dengan Obesitas Joanne Ardiya; Sylvia Tanumihardja; Decky Gunawan
Sound of Health Journal Vol 1 No 1 (2025)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/shj.v1i1.10402

Abstract

Kondisi obesitas pada mahasiswa memengaruhi fungsi kognitif. Terdapat hubungan antara defisiensi kadar vitamin B12 dengan kondisi obesitas. Vitamin B12 merupakan mikronutrisi yang bermanfaat dalam menjaga kesehatan sistem saraf. Waktu reaksi rekognisi merupakan metode yang sederhana, valid, reliabel dan murah untuk menilai fungsi kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian vitamin B12 dalam mempersingkat waktu reaksi rekognisi mahasiswa dengan obesitas. Desain penelitian ini merupakan eksperimental semu (quasi experimental) dengan desain simple randomized pre-test post-test with controlled group design, dilakukan pada 40 subjek mahasiswa laki-laki yang obesitas, berumur 17-21 tahun, yang dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan (vitamin B12) dan kelompok kontrol (plasebo). Metode pengukuran waktu reaksi rekognisi dengan menggunakan aplikasi Reaction Training yang dilakukan dua kali yaitu pre-test dan post-test dengan intervensi vitamin B12 dan plasebo yang diberikan selama 30 hari. Data yang terkumpul dianalisis statistik dengan uji Mann-Whitney dengan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan terhadap selisih rerata waktu reaksi pada kelompok subjek yang mengonsumsi vitamin B12 dengan kelompok subjek yang mengonsumsi plasebo pada mahasiswa dengan obesitas dengan nilai p <0,001. Kesimpulan penelitian ini bahwa terdapat pengaruh pemberian vitamin B12 dalam mempersingkat waktu reaksi rekognisi mahasiswa dengan obesitas.
Efek Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa Oleifera L.) Terhadap Penurunan Kadar Kolesterol Total dan Berat Badan Tikus Wistar Jantan Model Dislipidemia Nadya Galilea Mendila; Penny Setyawati Martioso; Sugiarto Puradisastra
Sound of Health Journal Vol 1 No 1 (2025)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/shj.v1i1.10857

Abstract

Prevalensi dislipidemia dan obesitas, serta penyakit kardiovaskular terus meningkat secara global dengan angka kematian akibat dislipidemia sekitar 2,6 juta per tahun. WHO di tahun 2022 menyatakan obesitas sebagai epidemi global. Pemberian statin sebagai obat dislipidemia sering menimbulkan efek samping miositis dan dapat mengakibatkan rabdomiolisis. Moringa oleifera L. (daun kelor) adalah herba yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan, karena mengandung senyawa aktif polifenol yang terdiri dari flavonoid, asam fenolik, fitosterol, saponin, dan tanin, sehingga diharapkan dapat menurunkan risiko dislipidemia dan obesitas. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol daun kelor (EEDK) terhadap penurunan kadar kolesterol total (K-Total) dan berat badan (BB) tikus Wistar jantan model dislipidemia. Penelitian laboratorium eksperimental dengan rancangan acak lengkap ini menggunakan 25 tikus Wistar jantan model dislipidemia yang diciptakan dengan metode induksi eksogen pakan tinggi lemak (PTL) dan Propiltiourasil (PTU) 0,01% selama 21 hari. Subjek penelitian dibagi menjadi 5 kelompok sesuai perlakuan; yaitu diberikan EEDK 250 mg, 500 mg, 750 mg/kgBB, simvastatin 0,9 mg/kgBB dan kontrol negatif (KN) tanpa perlakuan tambahan disertai PTL dan PTU 0,01% selama 14 hari. Pengukuran kadar K-Total dilakukan dengan metode enzimatik CHOD-PAP. Hasilnya, EEDK dosis 750 mg/kgBB menurunkan kadar K-Total secara sangat bermakna (p <0,01), namun tidak menurunkan BB (p >0,05). Kesimpulan yang diperoleh adalah ekstrak etanol daun kelor dosis 750 mg/kgBB dapat menurunkan kadar kolesterol total tikus Wistar model dislipidemia, namun tidak menurunkan berat badan.
Gambaran Tingkat Keparahan Gejala Gastropati Diabetik Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RS Immanuel Bandung Dyandra Aulia Hafizhah Althaf; Limdawati Kwee; Julia Windi
Sound of Health Journal Vol 1 No 1 (2025)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/shj.v1i1.10901

Abstract

Diabetes melitus (DM) adalah penyakit metabolik paling umum yang berhubungan dengan peningkatan glukosa darah dan resistensi insulin yang dapat menyebabkan komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler, dan kerusakan neuropati otonom. Gastropati diabetik merupakan komplikasi diabetes melitus yang menyebabkan terganggunya sistem saraf otonom sehingga memengaruhi laju pengosongan lambung menjadi lebih lama dari sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran keparahan gejala gastropati diabetik pada pasien DM tipe 2 di RS Immanuel Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan menggunakan lembar kuesioner Patient Assessment of Upper Gastrointestinal Disorders-Symptom Severity Index (PAGI-SYM) yang memiliki 6 subskala pada 33 orang subjek penelitian. Hasil penelitian didapatkan kejadian gastropati diabetik pada penderita DM Tipe 2 paling banyak di usia 51-60 (42%), lebih sering terjadi pada perempuan (60%), dengan rerata tingkat keparahan gejalanya berada di tingkat ringan (1,59). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tingkat keparahan gejala gastropati diabetik pada pasien DM tipe 2 di RS Immanuel Bandung berada pada tingkat sangat ringan dan ringan. Penelitian selanjutnya diperlukan untuk mengetahui korelasi antara tingkat keparahan dengan kadar gula darah penderita DM tipe 2.
Pengaruh Tingkat Depresi Terhadap Fungsi Kognitif Pada Lansia Jacky Umbu Hula; Sijani Prahastuti; Diana Krisanti Jasaputra
Sound of Health Journal Vol 1 No 1 (2025)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/shj.v1i1.10907

Abstract

Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang dialami oleh lansia dan dapat menyebabkan gangguan fungsi kognitif. Gangguan fungsi kognitif merupakan permasalahan yang dapat mengganggu aktivitas sehingga menurunkan kualitas hidup dari lansia. Menjaga kualitas hidup agar tetap produktif menjadi tanggung jawab yang penting dalam menyikapi peningkatan populasi lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat depresi terhadap fungsi kognitif pada lansia. Jenis penelitian menggunakan studi analitik observasional dengan desain cross-sectional. Data primer diperoleh melalui wawancara pada 56 lansia yang berusia ≥ 60 tahun menggunakan kuesioner GDS (Geriatric Depression Scale) untuk mengukur depresi dan MoCA-Ina (Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia) untuk menilai fungsi kognitif. Analisis data menggunakan uji chi-square menunjukkan adanya pengaruh yang sangat signifikan antara tingkat depresi terhadap fungsi kognitif pada lansia dengan nilai p <0,001. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa depresi menjadi faktor risiko penting terhadap penurunan fungsi kognitif pada lansia. Oleh karena itu, pengelolaan depresi yang tepat dapat membantu meminimalkan risiko gangguan kognitif pada lansia. Penelitian ini dapat menjadi latar belakang untuk membuka wawasan baru dalam upaya perawatan kesehatan mental dan kognitif pada lansia.
Pengaruh Konsumsi Kopi Terhadap Kualitas Tidur Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Gleneges Octaverina Siregar; Irna Permanasari Gani; July Ivone
Sound of Health Journal Vol 1 No 1 (2025)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/shj.v1i1.11180

Abstract

Kopi adalah jenis minuman yang berasal dari proses ekstraksi dari biji tanaman kopi. Kopi sering dikonsumsi oleh masyarakat luas karena kadar kafein yang cukup tinggi. Kafein yang terkandung pada kopi memiliki efek yang dapat meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi rasa kantuk, tetapi kafein juga dapat memberikan efek negatif terhadap kualitas tidur. Kafein bekerja dengan memblokir reseptor adenosin yang menimbulkan efek kewaspadaan yang berdampak pada perpanjangan latensi tidur dan penurunan efisensi tidur. Penelitian ini dilakukan untuk memahami pengaruh konsumsi kopi terhadap kualitas tidur mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode cross sectional menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Pengambilan sampel menggunakan metode whole sampling pada 211 responden dan didapatkan 164 mahasiswa yang memenuhi kriteria subjek uji. Data yang diperoleh lalu  dianalisis dengan menggunakan chi-square. Nilai p yang didapatkan adalah p=0,302 (p >0,05), sehingga disimpulkan bahwa konsumsi kopi tidak berpengaruh terhadap kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha.
Pengaruh Konsumsi Serat Pada Status Gizi Kurang Anak Sekolah TK “X” Kota Bandung Tahun Ajaran 2022/2023 Bunga Adinda Syadzarani; Desman Situmorang; Hartini Tiono
Sound of Health Journal Vol 1 No 1 (2025)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/shj.v1i1.11183

Abstract

Permasalahan kurang gizi di Indonesia merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi. Masalah gizi pada anak usia sekolah di Indonesia dapat dipengaruhi oleh asupan makanan yang kurang bergizi, termasuk kurangnya asupan serat yang berasal dari sayur dan buah-buahan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh antara konsumsi serat terhadap status gizi kurang pada anak sekolah di TK “X” Kota Bandung tahun ajaran 2022/2023. Studi dilakukan secara observasional analitik dengan desain studi cross-sectional. Penelitian ini mengambil data dari 35 anak usia 4-6 tahun di TK “X” Kota Bandung yang tidak memiliki penyakit ginjal dan penyakit jantung, tidak mengonsumsi kortikosteroid jangka panjang, serta tidak memiliki kelainan tulang belakang. Data diperoleh menggunakan kuesioner estimated food record berupa pola asupan serat yang kemudian dianalisis hubungannya dengan status gizi kurang pada anak sekolah di TK “X” Kota Bandung. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa sebanyak 68,6% subjek uji dengan asupan serat yang rendah ternyata memiliki status gizi yang cukup, dan hanya 22,9% subjek uji dengan asupan serat yang rendah menderita kurang gizi. Sebaliknya, sebanyak 2,8% subjek uji dengan konsumsi serat yang cukup berada dalam status gizi kurang dan hanya 5,7% subjek uji dengan konsumsi serat yang cukup berada dalam status gizi yang baik (p=0,60). Berdasarkan data yang diperoleh, disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh konsumsi serat terhadap status gizi kurang pada anak sekolah di TK “X” Kota Bandung tahun ajaran 2022/2023.
Karakteristik Faktor Risiko Pasien Non-ST-Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) Berdasarkan EZ-CVD Risk Score Rumah Sakit Immanuel Bandung Periode Juli-Oktober 2024 Alifa Rahma Salsabila; Inez Felia Yusuf; Edwin Setiabudi
Sound of Health Journal Vol 1 No 1 (2025)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/shj.v1i1.11192

Abstract

Sindrom koroner akut (SKA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia, dengan insidensi SKA yang terus meningkat setiap tahunnya, serta diperkirakan mengalami lonjakan angka mortalitas dalam beberapa dekade mendatang. Di Amerika Serikat, mayoritas kasus SKA masih didominasi Non-ST-Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI), ditandai dengan tingginya prevalensi kasus ini daripada manifestasi SKA lainnya.  Berbagai faktor risiko dapat mendukung terjadinya NSTEMI, seperti jenis kelamin, usia, riwayat keluarga dengan premature MI, riwayat hipertensi, riwayat diabetes, dan status merokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik faktor risiko beserta gambaran skor risiko pasien NSTEMI di Rumah Sakit Immanuel Bandung berdasarkan EZ-CVD risk score. EZ-CVD risk score merupakan self report tool untuk menilai risiko terkena penyakit kardiovaskular 10 tahun ke depan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif (univariat) dengan teknik whole sampling. Pada penelitian ini terdapat 23 pasien NSTEMI dengan distribusi terbesar pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 17 orang (73,9%); kelompok usia ≥70 tahun dan 49-54 tahun masing-masing 6 orang (26,1%); tidak memiliki riwayat keluarga premature MI sebanyak 18 orang (78,3%); tidak memiliki riwayat hipertensi sebanyak 14 orang (60,9%); tidak memiliki riwayat diabetes melitus sebanyak 18 orang (78,3%); perokok sebanyak 9 orang (39,1%); dan memiliki risiko rendah terkena penyakit kardiovaskular sebanyak 15 orang (65,2%). Penelitian ini memberikan gambaran mengenai karakteristik pasien NSTEMI yang dapat digunakan sebagai faktor risiko dalam upaya preventif terhadap kejadian NSTEMI.
Gambaran Anemia Pada Pasien Dewasa-Lansia dengan PPOK di Rumah Sakit Immanuel Bandung Periode Oktober - Desember 2023 Edbert Hanafi Widjaja; Abram Pratama; Hendra Subroto
Sound of Health Journal Vol 1 No 1 (2025)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/shj.v1i1.11213

Abstract

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah penyakit yang terkait dengan gaya hidup yang dapat diobati serta dicegah. PPOK umumnya menyerang orang lanjut usia, di mana prevalensi penyakit komorbid cukup tinggi. Anemia akibat penyakit kronis adalah jenis yang paling umum terlihat pada PPOK, diikuti oleh anemia defisiensi besi, terutama terkait dengan peradangan sistemik kronis dan gangguan pemanfaatan zat besi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kejadian anemia pada pasien PPOK di RS Immanuel Bandung periode Oktober hingga Desember 2023. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder. Hasil dari penelitian ini adalah mayoritas pasien anemia berada pada kelompok usia 60-74 tahun (42,9%), diikuti oleh kelompok usia 75-90 tahun (26,5%). Laki-laki lebih banyak mengalami anemia (83,7%) dibandingkan dengan perempuan (16,3%). Komorbid yang cukup banyak dilaporkan oleh pasien PPOK dengan anemia, diantaranya hipertensi, gagal jantung, asma, dan tuberkulosis (TB). Komorbid hipertensi ditemukan pada 30 pasien PPOK dengan anemia (61,2%) dan gagal jantung pada 15 pasien PPOK dengan anemia (30,6%). Namun, prevalensi komorbid lainnya seperti asma dan TB lebih rendah, masing-masing 14,3% dan 16,3%.  Hal ini menunjukkan bahwa faktor usia, jenis kelamin, dan adanya penyakit komorbid dapat memiliki peran penting dalam penanganan klinis dan terapi pasien PPOK dengan anemia.
Gambaran Faktor Risiko Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Immanuel Bandung Cindy Cristina Sari Simatupang; Anindita Adhika Oeij; Hoo Yumilia
Sound of Health Journal Vol 1 No 1 (2025)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/shj.v1i1.11216

Abstract

Diabetes melitus (DM) adalah penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak memproduksi insulin yang cukup atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif. Jumlah kasus DM terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir sehingga menimbulkan masalah besar dalam bidang ekonomi dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari gambaran faktor risiko pasien DM tipe 2 di Rumah Sakit Immanuel Kota Bandung berdasarkan usia, jenis kelamin, obesitas, hipertensi, status merokok, riwayat keluarga menderita DM, riwayat berat badan lahir rendah (BBLR), stres, dan aktivitas fisik. Desain penelitian ini adalah observasional deskriptif menggunakan data rekam medis dan kuesioner terhadap pasien DM tipe 2 di Rumah Sakit Immanuel Kota Bandung. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dan didapatkan 76 orang pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi pasien DM tipe 2 berdasarkan usia adalah 67 orang (88,1%) berusia 45 tahun; berdasarkan jenis kelamin, 45 orang (59,2%) adalah perempuan; berdasarkan status obesitas, 40 orang (52,6%) menderita obesitas; berdasarkan status hipertensi, 51 orang (67,1%) menderita hipertensi; berdasarkan status merokok, 46 orang (60,5%) merokok; berdasarkan riwayat keluarga menderita DM adalah tidak ada riwayat keluarga menderita DM sebanyak 40 orang (52,7%); berdasarkan riwayat BBLR, 61 orang (80,2%) tidak memiliki riwayat BBLR; berdasarkan status stres, 46 orang (60,5%) menderita stres; dan berdasarkan aktivitas fisik adalah aktivitas fisik ringan sebanyak 41 orang (53,9%). Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan dan informasi ilmiah mengenai faktor risiko DM tipe 2 dan menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya.
Anesthetic Management for Thoracotomy in A Geriatric Patient with Bronchiectasis who Underwent Lobectomy Complicated by Severe Aortic Stenosis: A Case Report Joseph Rusli; Angela Mulyana Sugiaman; Arfian Pascalis Kurniawan; Indra Hapdijaya; Julia Windi Gunadi
Sound of Health Journal Vol 1 No 1 (2025)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/shj.v1i1.11228

Abstract

Bronchiectasis, characterized by the abnormal and permanent dilation of the bronchi and the destruction of the elastic and muscular layers of the bronchial wall, often arises from infections such as tuberculosis and pneumonia. This condition can lead to significant morbidity and potential mortality due to loss of lung function. Surgical intervention could be considered in cases of failed medical therapy or persistent symptoms. Anesthetic management for thoracotomy and lung resection in these patients is crucial, particularly when complicated by severe aortic stenosis (SAS), which poses additional risks for perioperative complications. This condition requires careful anesthetic strategies to optimize outcomes. In this case report, a 77-year-old male with chronic bronchiectasis and severe aortic stenosis was scheduled for elective thoracotomy lobectomy. The patient experienced persistent cough and dyspnea, with preoperative spirometry indicating moderate restriction. Echocardiography revealed critical aortic stenosis and low ejection fraction, indicating high surgical risk. Anesthesia induction involved fentanyl, midazolam, and atracurium, followed by intubation with a left-sided double-lumen tube for one-lung ventilation. Intraoperatively, hemodynamic stability was maintained with dobutamine and nitroglycerin. The patient successfully underwent a thoracotomy lobectomy lasting approximately 4.5 hours with manageable blood loss. He was transferred to the ICU for postoperative care and was extubated on the second postoperative day. He was discharged on the tenth postoperative day without complications. This case highlights the importance of hemodynamic stability in patients with bronchiectasis and severe aortic stenosis undergoing thoracotomy lobectomy. Careful anesthetic management and monitoring are crucial to prevent complications, and dobutamine and nitroglycerin effectively maintain stability during surgery for better outcomes.