cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Humaniora
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Pendidikan Humaniora (JPH) terbit 4 (empat) kali setahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember, berisi artikel-artikel tentang pendidikan humaniora baik ditulis dalam bahasa Indonesia maupun asing. Artikel yang dimuat berupa hasil penelitian dan hasil pemikiran. Jurnal Pendidikan Humaniora (JPH) diterbitkan oleh Pascasarjana Universitas Negeri Malang dengan Nomor ISSN 2338-8110.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2: June 2020" : 5 Documents clear
Politeness Value Adoption from Petitih Minangkabau Proverbs on Bibliocounseling as KIPAS Counseling Model Ibrahim Ali Husein; Andi Mappiare-AT; Fattah Hanurawan
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 2: June 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The purpose of this research was to identify and describe about the value of politeness in pepatah petitih Minangkabau. This research used a descriptive apporoach using with analysis strategi of Gadamerian hermeneutic. The results of the identification value are then adopted into a format and content of bibliocounseling to develop social skills of students’. The result of analysis showed that there were 7 (seven) values of politeness in pepatah petitih Minangkabau. These value are summarized into 4 (four) elements of social skills to the conception of kato nan ampek. The stage activity bibliocounseling was based on the stege of the counseling model of KIPAS which consists of good news, data interation or internalization, planning of action, actualization of planning, and celebration.Key words: politeness value, Pepatah Petitih Minangkabau, bibliocounsellng,  KIPAS counseling modelAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan nilai kesopanan dalam pepatah petitih Minangkabau. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan menggunakan strategi analisis hermeneutika Gadamerian. Hasil dari identifikasi nilai tersebut kemudian diadopsi menjadi format dan isi bibliokonseling untuk mengembangkan kecakapan sosial siswa. Hasil analisis menunjukkan terdapat 7 (tujuh) nilai kesopanan dalam pepatah petitih Minangkabau. Nilai tersebut terangkum ke dalam 4 (empat) unsur kecakapan sosial menurut konsep kato nan ampek. Tahap kegiatan bibliokonseling mengacu pada tahapan konseling model KIPAS yang terdiri dari kabar gembira, integrasi data atau internalisasi, perencanaan tindakan, aktualisasi rencana, dan selebrasi.Kata kunci: nilai kesopanan, Pepatah Petitih Minangkabau, bibliokonseling, model konseling KIPAS
ILLOCUTIONARY ACTS AND POLITENESS STRATEGIES IN EFL CLASSROOM INTERACTION AND THE STUDENTS’ PERCEPTIONS Mida Alifia Soviana; Nurul Mukminatien
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 2: June 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study explores illocutionary acts and politeness strategies employed by the academic staff and also the students’ perceptions on the academic staff’s language and politeness strategies in EFL classroom interaction. Twelve different classes of six English academic staff in one term lasting 100 minutes each were observed and recorded and then transcribed. The results showed that four out of five types of illocutionary acts were employed; directive, representative, commisive, and expressive. Concerning the use of politeness strategies in the academic staff’s illocutionary acts, bald on-record, positive, negative and off-record politeness strategies were all employed. This study also indicates that most of the university students expressed agreement to the use of polite language in the classroom interaction. Key words: illocutionary acts, face threatening acts, politeness strategies, perceptionAbstrak:Penelitian ini membahas tentang tindak ilokusi dan strategi kesopanan yang digunakan oleh para dosen dan persepsi dari mahasiswa mereka terkait penggunaan bahasa dan strategi kesopanan oleh dosen di interaksi kelas Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing. Dua belas kelas yang berbeda dari enam dosen Bahasa Inggris dengan waktu pertemuan masing-masing 100 menit telah diobservasi, direkam, dan ditranskrip. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa para dosen menggunakan empat dari lima macam tipe tindak ilokusi, yaitu: direktif, representatif, komisif, dan ekspresif. Sehubungan dengan strategi kesopanan yang ditemukan di tindak ilokusi para dosen, disimpulkan bahwa para dosen menggunakan tipe kesopanan bald on-record, kesopanan positif, kesopanan negatif, dan kesopanan off-record. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa setuju atas penggunaan bahasa yang sopan di dalam interaksi kelas.Kata kunci: tindak tutur ilokusi, tindak tutur ancaman, strategi kesopanan, persepsi
The Meaning of Sekura Cakak Buah Tradition of Saibatin Community Eka Purnama Sari; Budijanto Budijanto; Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 2: June 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Sekura Cakak Buah is the oldest tradition of saibatin community in Lampung Barat regency. The tradition that were born and developed in tandem with the civilization of the people certainly have profound meaning and values. This research aims to uncover and explore the meaning and value of sekura cakak buah tradition for indigenous saibatin communities and to understand the implementation of meanings and values of tradition in the lives of saibatin community. The study used qualitative design with an understanding approach to the  meaning of ethnography. Data were analyzed by analyzing domains, taxonomic, components and cultural theres. The results of the study showed that the meaning of sekura cakak buah tradition for the saibatin community is self-identity, life, and sosial life. The meaning and values are implemented in community’s lives which are namely cultural meaning and values including: self identity, cultural heritage, and regional icon; the meaning and value of religion includes the almighty god, praying, giving thanks and ngejalang (forgiving each other; the meaning and values of the economy include activities in the Pasar Tumpah dan Lamban Sekura; as well as the meaning and social values including kinship and relatives, equality between fellow being, beguai jejama (working together) and social relationship of saibatin community.Key words: tradition, indigenous community, social relationship, identity, saibatin communityAbstrak: Sekura Cakak Buah merupakan tradisi tertua masyarakat saibatin di Kabupaten Lampung Barat. Tradisi yang lahir dan berkembang beriringan dengan peradaban masyarakatnya tentu memiliki makna dan nilai yang mendalam. Penelitian ini bertujuan mengungkap dan menggali makna dan nilai tradisi sekura cakak buah bagi masyarakat adat saibantin, dan memahami implementasi makna dan nilai tradisi dalam kehidupan masyarakat saibatin. Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan pemahaman makna ethnografi. Data dialisisis dengan analisis domain, taksonomi, komponen, dan tema budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna tradisi sekura cakak buah bagi masyarakat saibatin adalah identitas diri, kehidupan, dan kehidupan sosial masyarakat. Makna dan nilai tradisi terimplementasi dalam kehidupan masyarakatn yang tercakup dalam makna dan nilai budaya meliputi: identitas diri, warisan budaya, dan ikon wilayah; makna dan nilai religi (keagamaan) meliputi Ketuhanan Yang Maha Esa, berdoa, bersyukur, berserah, dan ngejalang (saling memaafkan); makna dan nilai ekonomi meliputi aktivitas di Pasar Tumpah, dan Lamban Sekura; serta makna dan nilai sosial meliputi kekeluargaan dan kekerabatan, kesamaan antar sesama, beguai jejama (bekerja sama) dan hubungan sosial masyarakat saibatin.kata kunci: tradisi, masyarakat adat, hubungan sosial, identitas, masyarakat saibatin
Swear Words in Early Childhood Communication Yuli Rahayu Indriani; Hardika Hardika; Ach. Rasyad
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 2: June 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: There has many differ perception about the meaning of swear words in daily communication, so that this research’s aim was to described those swear word’s meaning. The focus of this research is meaning of swear words that said by children age 4-6 years in RA Al-Azhar Bantur. This research used descriptive qualitative method, thereby the collected data  was found on research field. The result showed that the swearing words commonly spoken by children was jancuk, taek, bedhes, patek, goblok, gendeng, and jangkrik. Children did not know the meaning of those swearing words, but they assume that swearing is a taboo and it is not a good thing if they did.Key words: swearing, swear words, children communication, children social lifeAbstrak:Banyak perbedaan persepsi terhadap makna penggunaan kata-kata misuh dalam komunikasi sehari-hari sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna tersebut. Fokus pada penelitian ini adalah makna kata-kata misuh yang digunakan oleh anak usia 4-6 tahun di RA Al-Azhar Bantur. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif sehingga data yang diperoleh adalah fakta di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata misuh yang biasa diucapkan oleh anak adalah jancuk, taek, bedhes, patek, goblok, gendeng, dan jangkrik. Anak tidak mengetahui makna sebenarnya, namun mereka menganggap bahwa misuh adalah hal yang tabu sehingga tidak baik jika dilakukan.Kata kunci: bicara kotor, kata kotor, komunikasi anak, kehidupan sosial anak
EXPLORING ENGLISH LECTURERS’ BELIEFS ABOUT THE USE OF NATIVE LANGUAGE IN THE EFL CONTEXT Muhammad Hidayat; Gunadi Hari Sulistyo
Jurnal Pendidikan Humaniora Vol 8, No 2: June 2020
Publisher : Pascasarjana UM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The beginning of the twentieth century was the time when the ELT theoreticians and academics prohibited the use of mother tongue with the assumption that teaching and learning a new language in the exclusive and monolingual approach must be better-off. After obtaining its dominance in language teaching methodology, this monolingual approach began to be questioned. Moreover, what is up-to-date in works of literature and theories is not essentially indicating what actually arrives on the scene in the EFL classroom practices. The students' own-language (OL) has survived over the years. This research explored the lecturers' beliefs about the use of own-language by focusing on certain variables in the context of EFL. The findings clearly provide shreds of evidence that their beliefs about own-language, particularly in their classroom practices, are more complicated than generally presented in the ELT literature. Subsequently, the results could offer a description of how the lecturers use the own-language based on their own beliefs. The report also confirms that own-language is unavoidable and becomes a part of new language learning. Lastly, some considerations for ELT teachers, lecturers, and further researchers are provided at the end of the discussions.Key words: native language use, lecturers’ beliefs, EFL context Abstrak:Awal abad kedua puluh adalah saat dimana para ahli teori dan akademisi pengajaran Bahasa Inggris melarang penggunaan bahasa ibu dengan asumsi bahwa bahasa baru harus diajarkan dan dipelajari secara eksklusif dan dengan satu bahasa. Setelah memperoleh dominasinya dalam metodologi pengajaran bahasa, pendekatan monolingual ini mulai dipertanyakan. Selain itu, apa yang terbaru dalam literatur dan teori tidak serta merta mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi dalam praktik kelas Bahasa Inggris. Kenyataannya, bahasa sendiri telah bertahan selama bertahun-tahun. Penelitian ini mengeksplorasi kepercayaan dosen tentang penggunaan bahasa sendiri dengan berfokus pada variabel-variabel tertentu dalam konteks Pengajaran Bahasa Inggris. Temuan dari penelitian ini jelas membuktikan bahwa kepercayaan mereka tentang bahasa sendiri, khususnya dalam praktik kelas, lebih rumit daripada yang umumnya disajikan dalam literatur pengajaran Bahasa Inggris. Selanjutnya, hasil penelitian ini menyajikan deskripsi tentang bagaimana umumnya para dosen menggunakan bahasa sendiri berdasarkan kepercayaan mereka. Laporan penelitian ini juga menegaskan bahwa bahasa sendiri tidak dapat dihindari dan bahkan menjadi bagian dari pembelajaran sebuah bahasa baru. Terakhir, beberapa pertimbangan untuk guru, dosen, dan peneliti selanjutnya dalam dunia pengajaran Bahasa Inggris disediakan di bagian akhir diskusi.Kata kunci: bahasa ibu, persepsi dosen, konteks EFL

Page 1 of 1 | Total Record : 5