cover
Contact Name
Dara Fatia
Contact Email
darafatia@usk.ac.id
Phone
+6285260959380
Journal Mail Official
jsu@usk.ac.id
Editorial Address
Gedung FISIP, Universitas Syiah Kuala Jl. Teuku Nyak Arief, Darussalam, Banda Aceh, Aceh - Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Sosiologi USK: Media Pemikiran & Aplikasi
ISSN : 22525254     EISSN : 26548143     DOI : 10.24815
Core Subject :
Jurnal Sosiologi USK: Media Pemikiran & Aplikasi (JSU) is an international, open-access, and double-blind peer-reviewed journal committed to fostering critical sociological inquiry and empirical research. The journal serves as an academic forum for researchers, academicians, and practitioners to disseminate original studies, theoretical reflections, and critical perspectives on contemporary social dynamics. JSU prioritizes manuscripts that demonstrate a strong sociological orientation by integrating theory, methodology, and empirical evidence to analyze social structures, relations, and transformations. Interdisciplinary approaches are welcomed, provided that sociology remains the primary analytical framework. Accredited SINTA3, JSU maintains rigorous editorial standards and ethical publishing practices, contributing to the development of contextual, policy-relevant, and internationally engaged sociological knowledge.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "vol. 20 no. 1 (2026)" : 8 Documents clear
Gatekeeping Practices in Maintaining News Credibility: A Study of UKM Pers DETaK's Online News Portal at Universitas Syiah Kuala Naily Jannati; Rahmat Saleh
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 20 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v20i1.383

Abstract

This study examines the gatekeeping practices of the UKM Pers DETaK editorial team in pursuing news credibility on the DETaK online news portal at Universitas Syiah Kuala. As a campus-based news organization, UKM Pers DETaK is expected to provide timely, accurate, and balanced information while maintaining editorial independence within the higher education environment. This study employed a qualitative descriptive approach, using gatekeeping theory and Shoemaker’s Hierarchy of Influences as the analytical framework. Data were collected through semi-structured interviews with key members of the UKM Pers DETaK editorial board for the 2023–2024 period, individuals who had served as news sources in DETaK's reporting, and relevant documentation concerning the news production process. The data were analyzed through data reduction, categorization according to the individual, media routines, organizational, extramedia, and ideological levels of influence, followed by thematic interpretation. The findings indicate that the editorial team pursues news credibility by restricting members' involvement in campus politics, providing staged journalism training, conducting editorial planning meetings, carrying out direct field reporting, implementing multi-stage verification and editing procedures, publishing follow-up stories when confirmation remains incomplete, and maintaining clear distinctions among news reports, opinion pieces, editorials, feature stories, and articles. At the organizational level, DETaK strengthens editorial professionalism through role differentiation, editorial evaluations, consultations with alumni, and strategic social media management. At the extramedia and ideological levels, the editorial team seeks to maintain issue diversity, respond to audience feedback, and navigate relationships with news sources and university authorities. This study does not assess students’ perceptions of or trust in the DETaK online portal; instead, it explains the editorial strategies and gatekeeping practices employed to produce accurate, balanced, and ethically responsible campus journalism. abstrak Penelitian ini menganalisis praktik gatekeeping redaksi UKM Pers DETaK dalam mengupayakan kredibilitas pemberitaan pada portal online DETaK di Universitas Syiah Kuala. Media kampus menghadapi tuntutan untuk menyajikan informasi secara cepat, akurat, dan berimbang, sekaligus menjaga independensi redaksi dalam lingkungan institusi pendidikan tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teori gatekeeping dan konsep hierarchy of influence dari Shoemaker sebagai kerangka analisis. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan anggota inti redaksi UKM Pers DETaK periode 2023–2024, narasumber pemberitaan DETaK, serta dokumentasi yang berkaitan dengan proses produksi berita. Data dianalisis melalui reduksi, pengelompokan berdasarkan level individual, rutinitas media, organisasi, ekstramedia, dan ideologi, kemudian disajikan untuk memperoleh pola praktik redaksional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya menjaga kredibilitas dilakukan melalui pembatasan afiliasi politik kampus bagi anggota, pelatihan jurnalistik bertahap, rapat proyeksi, peliputan langsung, verifikasi dan penyuntingan berlapis, penggunaan berita lanjutan ketika konfirmasi belum lengkap, serta pembedaan yang jelas antara berita, opini, editorial, feature, dan artikel. Pada tingkat organisasi, DETaK menerapkan pembagian peran redaksional, evaluasi hasil penyuntingan, diskusi dengan alumni, dan pengelolaan media sosial sebagai representasi profesional media. Pada tingkat ekstramedia dan ideologi, redaksi berupaya menjaga keberagaman isu, merespons masukan pembaca, serta mempertimbangkan relasi dengan narasumber dan institusi kampus. Penelitian ini tidak mengukur persepsi atau tingkat kepercayaan mahasiswa terhadap portal DETaK, tetapi menjelaskan strategi dan praktik redaksional yang dijalankan untuk mengupayakan pemberitaan yang akurat, berimbang, dan sesuai dengan etika jurnalistik.
Symbolic Interaction and Student Self-Identity Formation in Child-Friendly Schools: A Meadian Analysis Fritz Hotman Damanik; Oman Sukmana
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 20 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v20i1.852

Abstract

This article examines the construction of symbolic meaning in teacher-student interactions within child-friendly schools (Sekolah Ramah Anak/SRA) in Indonesia, analyzed through the lens of George Herbert Mead's Symbolic Interactionism. The child-friendly school paradigm positions educational spaces not merely as sites of cognitive transfer but as environments where students actively construct their sense of self through communicative encounters. Drawing on qualitative sociological analysis, this study explores how teachers and students engage in symbolic exchanges — including gestures, language, praise, and spatial arrangements — that contribute to the formation and negotiation of student identity. Mead's conceptual triad of mind, self, and society provides the analytical scaffolding for understanding how the “I” and “Me” of student selfhood emerge from internalized role-taking processes embedded in everyday classroom interaction. The findings suggest that child-friendly school policies, when meaningfully implemented, generate a rich symbolic environment that affirms student agency, cultivates positive self-concepts, and fosters prosocial identity formation. However, disparities in implementation quality reveal that institutional intent does not always translate into transformative symbolic practice. This article contributes to sociological understandings of education by foregrounding the micro-interactional dynamics that underpin macro-level educational reform and child rights frameworks. Abstrak Aktivitas Artikel ini mengkaji konstruksi makna simbolik dalam interaksi guru-siswa di Sekolah Ramah Anak (SRA) di Indonesia, dianalisis melalui perspektif Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead. Paradigma sekolah ramah anak memposisikan ruang pendidikan tidak sekadar sebagai tempat transfer kognitif, melainkan sebagai lingkungan tempat siswa secara aktif membangun konsep dirinya melalui interaksi komunikatif. Dengan menggunakan analisis sosiologis kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana guru dan siswa terlibat dalam pertukaran simbolik — meliputi gestur, bahasa, pujian, dan penataan ruang — yang berkontribusi pada pembentukan dan negosiasi identitas siswa. Triad konseptual Mead tentang pikiran (mind), diri (self), dan masyarakat (society) menjadi kerangka analitis untuk memahami bagaimana “I” dan “Me” dalam diri siswa muncul dari proses pengambilan peran (role-taking) yang terinternalisasi dalam interaksi kelas sehari-hari. Temuan menunjukkan bahwa kebijakan sekolah ramah anak, ketika diimplementasikan secara bermakna, menghasilkan lingkungan simbolik yang kaya, yang menegaskan agensi siswa, menumbuhkan konsep diri yang positif, serta mendorong pembentukan identitas prososial. Namun, kesenjangan kualitas implementasi memperlihatkan bahwa niat institusional tidak selalu terwujud menjadi praktik simbolik yang transformatif. Artikel ini berkontribusi pada pemahaman sosiologis tentang pendidikan dengan menonjolkan dinamika mikro-interaksional yang melandasi reformasi pendidikan tingkat makro dan kerangka hak anak.
Modal Sosial dalam Membentuk Ketahanan Pangan pada Masyarakat Miskin Perkotaan di Kecamatan Panjang, Bandar Lampung Anita Damayantie; Dewi Ayu Hidayati; Teuku Fahmi; Imam Mahmud
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 20 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v20i1.1220

Abstract

Food security defined as the availability, quality, quantity, nutritional value, and accessibility of food for individuals and nations to lead healthy, active, and productive lives sustainably, is a critical human need. Social capital is a crucial factor in achieving food security. While social capital, typically in the form of kinship, family ties, and cooperation, is often perceived as exclusive to rural communities with strong values and norms, urban communities in Panjang District, Bandar Lampung City, demonstrate high social capital in addressing various issues, including food security. This study aims to deeply examine how social capital shapes food security for the urban poor in Panjang District, Bandar Lampung. The research employed a descriptive qualitative approach using, interviews, observation, and documentation for data collection. Data processing involved reduction, presentation, conclusion drawing, and data verification. The findings reveal that food security among the urban poor in Panjang District is achieved through the development of bonding social capital, bridging social capital, and linking social capital relationships. This study contributes both theoretically by offering a novel perspective on food security formation in urban poor communities through the development of bonding, bridging, and linking social capital (distinguishing it from previous research), and practically by serving as a guide for various stakeholders, including the community, local government, NGOs, and corporate social responsibility (CSR) initiatives, in designing more effective and integrated interventions and empowerment programs to enhance urban food security. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana modal sosial membentuk ketahanan pangan di kalangan masyarakat miskin perkotaan di Kecamatan Panjang, Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk pengumpulan data. Pengolahan data meliputi reduksi, penyajian, penarikan kesimpulan, dan verifikasi data. Temuan menunjukkan bahwa ketahanan pangan masyarakat miskin di Kecamatan Panjang terbentuk melalui interaksi tiga bentuk modal sosial, yaitu bonding, bridging, dan linking social capital. Modal sosial pengikat muncul melalui solidaritas internal keluarga dan tetangga, modal sosial penghubung berkembang melalui jejaring antarwarga lintas agama dan etnis, sedangkan modal sosial penghubung vertikal tercermin dalam akses masyarakat terhadap program bantuan pangan pemerintah dan dukungan donatur. Secara teoritis hasil penelitian memperkaya kajian sosiologi perkotaan dengan menjelaskan mekanisme relasional yang menghubungkan modal sosial dan ketahanan pangan dalam konteks masyarakat urban miskin yang sebelumnya lebih banyak dikaji pada konteks pedesaan. Secara praktis temuan penelitian memberikan dasar bagi pemerintah daerah, LSM, serta program CSR dalam merancang intervensi berbasis komunitas yang lebih terintegrasi untuk memperkuat ketahanan pangan perkotaan.
Peran Komunitas Pendakian “Lagidigunung” dalam Mematahkan Stereotip Gender pada Pendaki Perempuan di Kota Malang Zunita Thubatussalamah; Amanah agustin
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 20 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v20i1.1816

Abstract

Mountain climbing has long been socially constructed as a masculine activity associated with physical strength, courage, endurance, and leadership. Consequently, female hikers frequently encounter gender stereotypes that question their physical capabilities, technical competence, and leadership capacity in outdoor activities. This study aims to analyze the role of the Lagidigunung community in challenging gender stereotypes toward female hikers in Malang City, Indonesia. The study employed a qualitative approach using a case study method. Data were collected through participant observation during community activities in the Greater Malang area between 2024 and 2025, in-depth interviews with the founder, community leaders, and members, as well as documentation of community activities. Data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model, supported by the perspectives of intersectional feminism and Social Identity Theory. The findings reveal that Lagidigunung functions as a social space that promotes women's empowerment by providing equal opportunities in leadership, decision-making, route navigation, trail opening, and educational activities within the community. These practices represent a form of resistance to patriarchal constructions that traditionally associate mountain climbing with masculine identities. Furthermore, social solidarity among members and the representation of women through the community’s social media platforms contribute to the formation of a collective identity characterized by confidence, independence, competence, and resilience among female hikers. The study demonstrates that the process of challenging gender stereotypes is not merely reflected in the increasing participation of women in mountain climbing activities, but also in the community's active efforts to create inclusive spaces for leadership, social support, and positive representation. The novelty of this research lies in its examination of a local hiking community as an agent of social transformation that not only deconstructs gender stereotypes but also facilitates the construction of a collective social identity among female hikers. This study contributes to the development of gender and community sociology by highlighting how recreational communities can serve as strategic arenas for promoting gender equality in public spaces. Abstrak Aktivitas pendakian gunung selama ini cenderung dikonstruksikan sebagai ruang maskulin yang identik dengan keberanian, kekuatan fisik, dan kemampuan kepemimpinan. Konstruksi tersebut memunculkan berbagai stereotip gender yang menempatkan perempuan sebagai kelompok yang dianggap kurang kompeten dalam aktivitas outdoor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunitas Lagidigunung dalam mematahkan stereotip gender terhadap pendaki perempuan di Kota Malang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi partisipatif selama kegiatan komunitas di Malang Raya pada periode 2024–2025, wawancara mendalam dengan pendiri, pengurus, dan anggota komunitas, serta dokumentasi aktivitas komunitas. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman dengan perspektif feminisme interseksional dan teori identitas sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Lagidigunung berperan sebagai ruang sosial yang mendorong pemberdayaan perempuan melalui pemberian akses yang setara dalam kepemimpinan, pengambilan keputusan, navigasi pendakian, pembukaan jalur, serta kegiatan edukatif komunitas. Praktik tersebut menjadi bentuk resistensi terhadap konstruksi patriarki yang selama ini mengasosiasikan aktivitas pendakian dengan identitas maskulin. Selain itu, solidaritas antaranggota dan representasi perempuan dalam media sosial komunitas berkontribusi dalam membangun identitas kolektif perempuan pendaki yang lebih percaya diri, mandiri, dan kompeten. Temuan penelitian menunjukkan bahwa proses pematahan stereotip gender tidak hanya terjadi melalui peningkatan partisipasi perempuan dalam aktivitas pendakian, tetapi juga melalui praktik komunitas yang secara aktif menciptakan ruang kepemimpinan, dukungan sosial, dan representasi yang lebih inklusif. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis komunitas pendakian sebagai agen transformasi sosial yang berperan dalam mendekonstruksi stereotip gender sekaligus membentuk identitas sosial perempuan pendaki di tingkat lokal. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian sosiologi gender dan komunitas dengan menunjukkan bahwa komunitas berbasis hobi dapat menjadi ruang strategis dalam mendorong kesetaraan gender di ruang publik.
Tourism Business Growth and the Limits of Local Labor Absorption: Evidence from Rahtawu Tourism Village, Kudus Regency, Indonesia Muchammad Sugianto; Isna Maylani
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 20 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v20i1.1873

Abstract

Tourism village development is often promoted as a rural economic strategy that can create local employment, diversify livelihoods, and strengthen community-based economic activities. However, the relationship between tourism business growth and labor absorption is not always automatic, particularly in emerging tourism villages where most enterprises remain small-scale, family-based, and informal. This study aims to analyze tourism business growth, local labor absorption, and village government policy in Rahtawu Tourism Village, Kudus Regency, Central Java, Indonesia. This research used a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and documentation involving village government officials, BUMDes managers, tourism business owners, and tourism workers. The findings show that tourism businesses in Rahtawu have grown in culinary services, tourism area management, accommodation, local transportation, and recreation facilities. Nevertheless, the sector absorbed only approximately 94 workers, including 7 workers in BUMDes-managed tourism business, 62 workers in individually owned tourism businesses, and 25 workers in the local motorcycle taxi association. Compared with 1,453 unemployed residents in the village, tourism-related employment remains limited. The limited impact is caused by the dominance of micro and family-based businesses, fluctuating tourist visits, informal work arrangements, and the absence of specific village policies for tourism workforce development. This study concludes that tourism business growth alone is insufficient to generate significant employment unless supported by stronger institutional coordination, business upgrading, human resource development, and community-based tourism governance. Abstrak Pengembangan desa wisata sering dipromosikan sebagai strategi ekonomi pedesaan yang dapat menciptakan lapangan kerja lokal, mendiversifikasi mata pencaharian, dan memperkuat kegiatan ekonomi berbasis masyarakat. Namun, hubungan antara pertumbuhan bisnis pariwisata dan penyerapan tenaga kerja tidak selalu otomatis, terutama di desa pariwisata negara berkembang di mana sebagian besar perusahaan tetap berskala kecil, berbasis keluarga, dan informal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan bisnis pariwisata, penyerapan tenaga kerja lokal, dan kebijakan pemerintah desa di Desa Wisata Rahtawu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi yang melibatkan aparat pemerintah desa, pengelola BUMDes, pemilik usaha pariwisata, dan tenaga pariwisata. Temuan tersebut menunjukkan bahwa bisnis pariwisata di Rahtawu telah berkembang di bidang jasa kuliner, pengelolaan kawasan pariwisata, akomodasi, transportasi lokal, dan fasilitas rekreasi. Namun demikian, sektor ini hanya menyerap sekitar 94 pekerja, termasuk 7 pekerja di bisnis pariwisata yang dikelola BUMDes, 62 pekerja di bisnis pariwisata milik individu, dan 25 pekerja di asosiasi ojek setempat. Dibandingkan dengan 1.453 penduduk pengangguran di desa, pekerjaan terkait pariwisata tetap terbatas. Dampak yang terbatas disebabkan oleh dominasi usaha mikro dan berbasis keluarga, kunjungan wisatawan yang berfluktuasi, pengaturan kerja informal, dan tidak adanya kebijakan desa khusus untuk pengembangan tenaga kerja pariwisata. Studi ini menyimpulkan bahwa pertumbuhan bisnis pariwisata saja tidak cukup untuk menghasilkan lapangan kerja yang signifikan kecuali didukung oleh koordinasi kelembagaan yang lebih kuat, peningkatan bisnis, pengembangan sumber daya manusia, dan tata kelola pariwisata berbasis masyarakat.
Gender Reflection of Women's Affirmative Action Policies to Realizing Gender Equality In Indonesia Dwi Astuti; Hartanto; Syakdiah
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 20 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v20i1.1990

Abstract

Indonesia  taken various efforts to achieve gender equality. One of them is in the political area, with an affirmative action policy related to the representation of women as members of legislature. It is to increase women's representation in decision-making institutions which will have an effective impact on solving women's problems in Indonesia. This research was conducted by literature review method with qualitative descriptive analysis. The studies conducted that there are two main approaches to create gender equality, namely the pragmatic approach and strategic approach. Pragmatic approach related to solving various cases of gender injustice and making legal policies. While the strategic approach as an effort to raise awareness and educate on gender equality and change the cultural structure for all levels of society. An affirmative action was just making policies and not completely solving the problem of gender inequality in Indonesia strategically and not effective enough in creating gender equality in Indonesia. Abstrak Indonesia menjadikan kesetaraan gender sebagai salah satu agenda penting pembangunan melalui berbagai kebijakan, termasuk penerapan kebijakan afirmatif dalam representasi politik perempuan. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum mewajibkan partai politik mencalonkan paling sedikit 30% perempuan sebagai calon anggota DPR dan DPRD. Penelitian ini bertujuan menganalisis sejauh mana kebijakan afirmatif tersebut berkontribusi terhadap terwujudnya kesetaraan gender di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur melalui analisis kritis terhadap hasil-hasil penelitian terdahulu, regulasi, dan berbagai literatur yang berkaitan dengan representasi politik perempuan. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori representasi politik Hanna Pitkin dan teori patriarki Joan Acker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan afirmatif telah meningkatkan representasi politik perempuan, namun belum secara substantif mewujudkan kesetaraan gender. Efektivitas kebijakan masih dihadapkan pada berbagai kendala, antara lain keterbatasan kader perempuan yang berkualitas, lemahnya komitmen partai politik dalam proses rekrutmen dan penempatan calon, masih kuatnya budaya patriarki dalam organisasi politik, serta belum optimalnya kapasitas sebagian perempuan terpilih dalam memperjuangkan kepentingan perempuan. Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan afirmatif perlu disertai dengan penguatan kapasitas politik perempuan, komitmen kelembagaan partai politik, serta transformasi struktur sosial patriarkal agar tujuan kesetaraan gender dapat diwujudkan secara lebih efektif.
Keterlibatan Perempuan dalam Politik Lokal dan Pembangunan Daerah di Kabupaten Aceh Barat Arfriani Maifizar; Farisah Humaira; Sri Handayani; Riki Yulanda; Yulina Astuti
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 20 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v20i1.2196

Abstract

This study aims to analyze women's political participation in regional development through the implementation of representative functions in the Regional House of Representatives (DPRK) of West Aceh Regency. The study focuses on how women carry out legislative, budgeting, oversight, and representative functions in supporting regional development, as well as the challenges they encounter in performing these roles. This research employed a qualitative method with a descriptive approach. Data were collected through interviews, observations, and documentation, and analyzed using the Gender and Development (GAD) theory proposed by Caroline Moser. The findings reveal that female members of the DPRK contribute to regional development by accommodating and articulating public aspirations, participating in discussions on development programs within their respective commissions, exercising oversight functions, and engaging in policy deliberations related to public health, social welfare, community empowerment, and the protection of vulnerable groups. These representative functions are carried out based on institutional responsibilities assigned through commissions and electoral constituencies rather than gender identity. Nevertheless, women continue to face challenges stemming from patriarchal culture, gender stereotypes, and public perceptions that question women's leadership capacity, which affect their political participation within the legislative institution. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis partisipasi politik perempuan dalam pembangunan daerah melalui pelaksanaan fungsi representasi di DPRK Kabupaten Aceh Barat. Fokus penelitian diarahkan pada bentuk partisipasi perempuan dalam menjalankan fungsi legislasi, penganggaran, pengawasan, dan representasi masyarakat serta hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan fungsi tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teori Gender and Development (GAD) yang dikembangkan oleh Caroline Moser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anggota DPRK perempuan berpartisipasi dalam pembangunan daerah melalui penyerapan dan penyampaian aspirasi masyarakat, pembahasan program pembangunan sesuai bidang komisi, pelaksanaan fungsi pengawasan, serta keterlibatan dalam pembahasan kebijakan yang berkaitan dengan kesehatan, kesejahteraan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan kelompok rentan. Pelaksanaan fungsi representasi tersebut dilakukan berdasarkan pembagian tugas kelembagaan sesuai komisi dan daerah pemilihan, bukan berdasarkan identitas gender. Meskipun demikian, perempuan masih menghadapi hambatan berupa budaya patriarki, stereotip gender, serta persepsi masyarakat terhadap kepemimpinan perempuan yang memengaruhi partisipasi politik mereka dalam lembaga legislatif.
Reproduksi dan Transformasi Nilai Sosial dalam Keluarga Kawin Anom pada Masyarakat Banjar Pesisir Purnama Sari; Tri Nur Putri; Salwiyah Fitriani; Tri Rahmadana; Rivie Selvianti
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 20 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v20i1.2241

Abstract

Kawin Anom, a local Banjar term referring to early marriage, remains prevalent in rural communities and is often associated with various forms of social vulnerability. However, studies examining how families formed through Kawin Anom simultaneously reproduce and transform social values in child-rearing practices remain limited. This study aims to analyze the reproduction and transformation of social values within Kawin Anom  families among the coastal Banjar community in Paluh Manan Village, Deli Serdang Regency, and to identify the strategies employed by parents to transmit these values to their children. This research employed a descriptive qualitative approach using Pierre Bourdieu’s theory of social reproduction and the concept of social value transformation as analytical frameworks. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation involving ten key informants from Kawin Anom families, supported by community leaders and village officials. Data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, which consists of data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that Kawin Anom families continue to reproduce various social values, including religiosity, responsibility, honesty, discipline, hard work, social concern, and independence. At the same time, a transformation of values has occurred, reflected in parents’ changing perceptions of the importance of education, their aspirations for their children’s future, and their desire to break the intergenerational cycle of Kawin Anom. The transmission of values is carried out through role modeling, habituation, advice, storytelling, rewards, and sanctions. These findings suggest that Kawin Anom families function not only as sites for the reproduction of social values but also as arenas in which social change is negotiated within the coastal Banjar community. Abstrak Praktik Kawin Anom yang masih bertahan di masyarakat pedesaan sering dikaitkan dengan berbagai kerentanan sosial. Namun, kajian mengenai bagaimana keluarga pelaku Kawin Anom mereproduksi sekaligus mentransformasikan nilai-nilai sosial dalam pengasuhan anak masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis reproduksi dan transformasi nilai sosial dalam keluarga Kawin Anom pada masyarakat Banjar pesisir di Desa Paluh Manan, Kabupaten Deli Serdang, serta strategi yang digunakan orang tua dalam mentransmisikan nilai-nilai tersebut kepada anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan teori reproduksi sosial Pierre Bourdieu dan konsep transformasi nilai sosial sebagai kerangka analisis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap sepuluh informan utama dari keluarga Kawin Anom, serta didukung oleh tokoh masyarakat dan aparat desa. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana melalui proses kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga Kawin Anom tetap mereproduksi berbagai nilai sosial, seperti religiusitas, tanggung jawab, kejujuran, disiplin, kerja keras, kepedulian sosial, dan kemandirian. Di sisi lain, terjadi transformasi nilai yang ditandai oleh perubahan cara pandang orang tua terhadap pentingnya pendidikan, harapan terhadap masa depan anak, serta keinginan untuk memutus mata rantai Kawin Anom antargenerasi. Transmisi nilai dilakukan melalui keteladanan, pembiasaan, nasihat, cerita, pemberian penghargaan, dan sanksi. Temuan ini menunjukkan bahwa keluarga Kawin Anom tidak hanya berperan sebagai ruang reproduksi nilai sosial, tetapi juga menjadi arena negosiasi perubahan sosial dalam masyarakat Banjar pesisir.

Page 1 of 1 | Total Record : 8