cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Edutech
ISSN : 08521190     EISSN : 25020781     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Edutech adalah jurnal majalah ilmiah di Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia yang terbit sebanyak tiga kali dalam setahun pada bulan Februari, Juni, dan Oktober. Semua artikel yang dikirim melalui proses peer review double blind dan ulasan editor sebelum di publikasikan.Jurnal Edutech atau kepanjangan dari Educational Technology ini menerima artikel tentang pendidikan, teknologi pendidikan dan komunikasi
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2017): GLOBAL EDUCATION" : 8 Documents clear
RANCANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN DARING DI PERGURUAN TINGGI: STUDI KASUS PADA MATA KULIAH KURIKULUM PEM-BELAJARAN DI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Dewi, Laksmi
EDUTECH Vol 16, No 2 (2017): GLOBAL EDUCATION
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v16i2.7616

Abstract

Abstract. This research aims to develop online learning program of Curriculum and Instruc-tion Course to enhance effectiveness and efficiency which include tools and management of online learning, system of evaluation, and assessment of effectiveness and efficiency of online learning. The online learning program was conducted to facilitate the high number of classes that should be served. The research method used was design and development, where the program developed was in the form of prototype which was then tested in limited scale. The analysis of the problems re-vealed that students’ competency was influenced by their low motivation because Curriculum and Instruction course was regarded as second level course. An online learning program was devel-oped to enhance students’ competency in studying Curriculum and Instruction course through sev-eral steps consisting of preparation/development, implementation, and evaluation using systemic approach.Keywords: online learning, design and development, higher education institutionAbstrak. Penelitian ini bertujuan mengembangkan program pembelajaran daring pada Mata Kuliah Kurikulum dan Pembelajaran untuk mendukung efektivitas dan efisiensi pelaksanaan perkuliahan, mengembangkan perangkat dan tatakelola Pembelajaran Daring, dan mengembangkan sistem penilaian dan melakukan penilaian terhadap efektivitas dan efisiensi Pembelajaran Daring pada Mata Kuliah MKDK Kurikulum dan Pembelajaran yang efektif dan efisien. Hal ini didasarkan pada banyaknya kelas yang harus dilayani proses pembelajarannya. Metode penelitiannya menggunakan metode design dan pengembangan, yaitu metode dimana program yang dikem-bangkan baru berbentuk prototype yang kemudian dapat diujicobakan secara terbatas. Hasil dari analisis masalah pada penelitian ini adalah masih rendahnya penguasaan kompetensi belajar maha-siswa dipengaruhi oleh rendahnya motivasi belajar mahasiswa yang menyebutnya bahwa mata kuliah Kurikulum dan Pembelajaran dianggap sebagai kelompok mata kuliah level kedua. Kemudi-an melalui penelitian ini mengembangkan model pembelajaran daring meningkatkan kompetensi belajar mahasiswa, pada mata kuliah MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. Program pembelajaran melalui tahapan persiapan/ pengembangan , pelaksanaan, dan evaluasi, dengan menggunakan pen-dekatan sistemik.Kata Kunci: Pembelajaran daring, Perancangan dan Pengembangan, Perguruan Tinggi
PENGALAMAN KOMUNIKASI GURU HOMESCHOOLING Hakim, Aji Zul; Hafiar, Hanny; Puspitasari, Lilis
EDUTECH Vol 16, No 2 (2017): GLOBAL EDUCATION
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v16i2.4125

Abstract

Homeschooling is an alternative education model for child who find it less suited to formal school. In the development of this model reap the pros and cons in the society. Various attemps were made by institutions and association to change the paradigm of society, on of them by optimizing the role of teacher. Research with phenomenological approach is sought to know the communications behavior of homeschooling teacher. Eight teacher from four homeschooling institutions are involved through some in-depth interviews. In addition, data collection is done through participant obersvation and study of literature. The result showed the meaning of homeschooling affected by their experience in teaching, which affects their act in the form of personal branding, including their communications behaviour in contributing to the socialization of homeschooling.Homeschooling merupakan model pendidikan alternative bagi anak yang merasa kurang cocok dengan sekolah formal. Dalam perkembangannya model pendidikan ini menuai pro dan kontra di masyarakat. Berbagai upaya dilakukan oleh lembaga dan asosiasi untuk merubah paradigma masyarakat, salah satunya dengan optimalisasi peran guru. Penelitian dengan pendekatan fenomenologis ini berupaya mengetahui perilaku komunikasi Guru Homeschooling. Delapan orang Guru Homeschooling dari empat lembaga di Kota Bandung dilibatkan melalui wawancara mendalam. Selain itu, pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan pemaknaan homeschooling oleh guru dipengaruhi pengalaman mereka selama mengajar, yang mempengaruhi tindak lanjut mereka dalam membentuk personal branding, termasuk perilaku komunikasi mereka dalam berkontribusi pada sosialisasi homeschooling.
STUDI IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBASIS KKNI PADA PROGRAM STUDI S1 ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS INFORMATIKA DAN BISNIS INDONESIA direja, Ardi cahya
EDUTECH Vol 16, No 2 (2017): GLOBAL EDUCATION
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v16i2.7756

Abstract

Abstract. This research is motivated by the rules and laws issued by the government regard-ing the implementation of the Indonesian National Qualification Framework (KKNI) in higher education curriculum. The principle of KKNI is to assess an individual in the aspects of knowledge, competencies, and skills in accordance with the learning achievements obtained through educational process which is shown by certain descriptor levels. This research seeks to see the procedure implementation of KKNI based curriculum in Communication Science under-graduate study program of Indonesia Informatics and Business University (UNIBI), which in-cludes planning, implementation, and evaluation procedures as well as factors affecting the imple-mentation of KKNI based curriculum. The research method used was descriptive qualitative and the data was collected through observation, questionnaire, and documentary study. The subject of this research was the head of UNIBI Communication Science Study Program and all the lecturers in the study program. This research found that the planning of KKNI curriculum in UNIBI Com-munication Science Study Program has aligned with instructions from Belmawa and Ristekdikti. The implementation was not yet optimal but it was already in accordance with the government’s rules. In addition, the study program has not conducted holistic evaluation because the KKNI cur-riculum is just recently applied in 2016/2017 academic year and therefore could only evaluate the performance of lecturers and students’ learning outcome. In short, factors affecting the implemen-tation of KKNI curriculum include the curriculum itself, lecturers, students, facilities and infra-structure, and stakeholders.Keywords: Curriculum Implementation, Indonesian National Qualification Framework (KKNI), Communication Science Study ProgramAbstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peraturan dan undang-undang yang dikeluar-kan pemerintah terhadap pemberlakuan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) pada kurikulum pendidikan tinggi. Prinsip KKNI adalah menilai seseorang dalam aspek keilmuan, keahlian dan keterampilan sesuai dengan capaian pembelajaran yang diperoleh melalui proses pen-didikan, pelatihan kerja atau pengalaman yang telah dilampui, ditunjukan melalui deskriptor level tertentu. Penelitian ini berusaha melihat bagaimana prosedur penyelenggaraan Implementasi Ku-rikulum berbasis KKNI pada Program Studi (Prodi) S1 Ilmu Komunikasi Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (UNIBI) meliputi prosedur perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam Implementasi Kurikulum berbasis KKNI. Metode penelitian disini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan observasi, angket wawancara dan studi dokumen. Subjek Penelitian disini ialah Kepala Prodi Ilmu Komunikasi UNIBI dan seluruh Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UNIBI. Hasil Penelitian menggambarkan bahwa perencanaan kurikulum KKNI pada Prodi Ilmu Komunikasi UNIBI sudah sesuai dengan instruksi dari Belmawa dan Ristekdikti, pelaksanaan Implementasi Kurikulum KKNI belum optimal namun sudah sesuai dengan aturan pemerintah dan prodi hanya baru mengimplementasikan kurikulum yang bersifat pembaharuan dokumen, Prodi Ilmu Komu-nikasi belum melakukan evaluasi kurikulum KKNI secara menyeluruh, hal tersebut dikarenakan kurikulum KKNI baru diterapkan pada tahun ajaran 2016/2017 jadi Prodi ilmu komunikasi hanya melakukan evaluasi kinerja dosen oleh mahasiswa dan evaluasi hasil belajar mahasiswa, (4) hal-hal yang mempengaruhi implementasi kurikulum KKNI diantaranya kurikulum itu sendiri (Kurikulum KKNI), dosen, mahasiswa, sarana prasarana, stakeholders.Kata Kunci : Implementasi, Kurikulum, KKNI
CORPORATE BRANDING COWORKING PLACE IN BANDUNG (CORPORATE BRANDING COWORKING SPACE DI BANDUNG) Damayanti, Dewi; Novianti, Evi; Priyatna, Centurion C.
EDUTECH Vol 16, No 2 (2017): GLOBAL EDUCATION
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v16i2.5171

Abstract

The title of this research is “Corporate Branding Coworking Space in Bandung” with the subtitle is “Descriptive Study of Corporate Branding Coworking Space in Bandung to Create Product Differentiation”. The high demand for economical workspace makes business coworking space growing. The growth happen in Bandung and make the level of competition coworking space in Bandung is quite high, especially with the uniformity of the product offered each coworking space. Seeing these growth, researchers interested in conducting research on how corporate branding coworking space in Bandung to create product differentiation.The purpose of this study is to discover how company create the vision, implemented vision to their corporate culture, and the compability between their vision and image of Bandung Digital Valley, Freenovation, and Ruang Reka that stakeholder created. The method used in this research is descriptive method with qualitative data and Hatch Schultz’s concept of corporate branding. The data collection techniques used in interviews, observation, and documentation study.The result of this study indicate that Bandung Digital Valley, Freenovation, and Ruang Reka focus to introduce the company to their target market. Started from create the vision of the company by founder based on their experiences and business opportunity. Then, the application of corporate vision to corporate culture. Non of Bandung Digital Valley, Freenovation, or Ruang Reka implement the vision into corporate culture. Last, Bandung Digital Valley, Freenovation, and Ruang Reka think it is not a right time to create corporate image because they need to improve the quality of their facility first.   Keywords : corporate branding, product differentiation, Bandung Digital Valley, Freenovation, Ruang RekaJudul penelitian yang diangkat adalah “Corporate Branding Coworking Space di Bandung” dengan sub judul Studi Deskriptif mengenai Corporate Branding Coworking Space di Bandung dalam Melakukan Diferensiasi Produk”.  Tingginya kebutuhan akan ruang kerja yang ekonomis membuat bisnis coworking space semakin berkembang. Perkembangan ini terjadi di Bandung dan membuat tingkat persaingan coworking space di Bandung cukup tinggi, terlebih dengan keseragaman produk yang ditawarkan tiap coworking space. Melihat perkembangan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai bagaimana corporate branding coworking space di Bandung dalam melakukan diferensiasi produk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pembentukan visi perusahaan, pengimplementasian visi ke dalam budaya, dan kesesuaian citra dengan visi Bandung Digital Valley, Freenovation, dan Ruang Reka yang dihasilkan oleh stakeholder. Mengacu kepada konsep Corporate Branding dari Hatch dan Schultz. Metode penelitian yaitu metode deskriptif dengan data kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Setelah melakukan penelitian hasil yang didapat menunjukkan bahwa Corporate branding Bandung Digital Valley, Freenovation, dan Ruang Reka diakui fokus pada pengenalan perusahaan ke target pasarnya. Dimulai dengan pembentukan visi oleh pendiri melihat dari pengalaman dan peluang yang dimiliki. Lalu, penerapan visi pada setiap aspek perusahaan, salah satunya budaya perusahaan tidak dilakukan oleh seluruh coworking space. Terakhir, pembentukan citra kepada stakeholder dirasa belum saatnya karena masih perlu meningkatkan kualitas internal namun sudah ada usaha kesana yang tidak disadari oleh  Bandung Digital Valley, Freenovation, dan Ruang Reka.Kata Kunci : pembentukan merek perusahaan, diferensiasi produk, Bandung Digital Valley, Freenovation, Ruang Reka.
PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN ICARE BERBANTUAN LEARNING MANAGEMENT SYSTEM UNTUK MENINGKATKAN PROSES PEMBELAJARAN Aulia, Fikri
EDUTECH Vol 16, No 2 (2017): GLOBAL EDUCATION
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v16i2.7972

Abstract

Abstract. Learning is a process of education conducted by the teacher to the learner, the learning will be more effective when utilizing media. The development of information and communication technologies have an important role in learning. In addition to media, instructional design is also influential in the learning process. In this study, researchers are interested in researching the development of ICT-assisted with learning design to improve the effectiveness of learning. This research aims to find hipotetik model of instructional design development ICARE assisted learning management system to improve the learning process, in addition to knowing their effectiveness. This type of research is research and development. Defined by the Borg and Gall (2003), that "educational research and development is a process used to develop and validate educational products". Further they also suggested 10 measures of research and development, which can be simplified into the following five main steps: (1) conduct an analysis of the product to be developed; (2) develop the initial product; (3) expert validation and revision; (4) small scale field trial and revision products; (5) large scale field tests and the final product. Researchers recommend that (1) the application of instructional design ICARE-assisted Learning Management System should need to be developed to became a blended learning are more effective, (2) the findings in this research so that it can be used more broadly.Keywords: Instructional Design ICARE, Learning Management System, Learning ProcessAbstrak. Pembelajaran merupakan proses pendidikan yang dilakukan oleh pengajar kepada peserta didik, pembelajaran akan lebih efektif apabila memanfaatkan media. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi memiliki peran penting dalam pembelajaran. Selain media, desain pembelajaranpun akan berpengaruh dalam proses pembelajaran. Dalam penelitian ini, peneliti tertarik untuk meneliti pengembangan desain pembelajaran dengan berbantuan TIK untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model hipotetik tentang pengembangan desain pembelajaran ICARE berbantuan learning management system untuk meningkatkan proses pembelajaran, selain itu untuk mengetahui keefektifannya. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan. Ditegaskan oleh Borg dan Gall (2003), bahwa “educational research and development is a process used to develop and validate educational products”. Lebih lanjut mereka pun mengemukakan 10 langkah penelitian dan pengembangan, yang dapat disederhanakan menjadi lima langkah utama berikut: (1) melakukan analisis produk yang akan dikembangkan; (2) mengembangkan produk awal; (3) validasi ahli dan revisi; (4) ujicoba lapangan skala kecil dan revisi produk; (5) ujicoba lapangan skala besar dan produk akhir. Peneliti menyarankan (1) penerapan desain pembelajaran ICARE ber-bantuan Learning Management System hendaknya perlu dikembangkan agar tercipta pembelajaran blended (blended learning) yang lebih efektif, (2) temuan dalam penelitian ini agar dapat diakomodir secara lebih luas.Kata Kunci : Desain Pembelajaran ICARE, Learning Management System, Proses Pembela-jaran
IMPLEMENTASI MANAJEMEN PROFESI DAN KARIER KEPALA SEKOLAH Perdana, Novrian Satria
EDUTECH Vol 16, No 2 (2017): GLOBAL EDUCATION
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v16i2.5762

Abstract

Abstract. Burden borne by the Principal in leading his school is not matched by the clarity of the position of Principal which in Permendiknas No. 28 of 2010 states that the principal is a "teacher who was given the additional task to lead ....". This makes the load a Principal to grow because he is also a teacher must fulfill teaching hours as much as 6 hours. Under these condi-tions, the authors conducted a study with the aim of the study include: (1) analyze the status of professions principal, (2) analyzing the career path (career path) the principal, and (3) analyze the suitability of legislation related to the duties and burdens working with the school principal conditions that occur in the field. The sample was elementary school principal to BC in the city of Palembang in 2016. The results of this study include: (1) Most of the characteristics of the profes-sion has been owned by the principals in the city of Palembang, except for earnings not describe a significant difference with the level of the job, (2) to become principals in the city of Palembang, to date, in accordance with existing regulations, which must be held by the teacher, not the other positions. There was also a school principal who was appointed did not pass training for candi-date principal, but there were appointed through political appointments / selection of regional heads, (3) the pattern of recruitment of principals in the city of Palembang yet fully implementing the Ministerial Regulation No. 28 of 2010, even to this day do not all principals have NUKS.Keywords: Principal, Profession, Career PathsAbstrak. Beratnya beban yang dipikul oleh Kepala Sekolah dalam memimpin sekolahnya tidak diimbangi dengan kejelasan posisi Kepala Sekolah yang mana dalam Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010 menyebutkan bahwa Kepala Sekolah adalah “guru yang diberi tugas tambahan untuk memimpin….”. Hal ini membuat beban seorang Kepala Sekolah ber-tambah karena dia juga seorang guru yang harus memenuhi jam mengajar sebanyak 6 jam. Ber-dasarkan kondisi tersebut, penulis melakukan penelitian dengan tujuan penelitian antara lain: (1) menganalisis status keprofesian kepala sekolah, (2) menganalisis jalur karier (career path) kepala sekolah, dan (3) menganalisis kesesuaian peraturan perundang-undangan terkait dengan tugas dan beban kerja kepala sekolah dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Sampel penelitian ini adalah kepala sekolah jenjang SD hingga SM di kota Palembang pada tahun 2016. Hasil penelitian ini antara lain: (1) Sebagian besar ciri-ciri profesi telah dimiliki oleh kepala sekolah di kota Palem-bang, kecuali mengenai penghasilan yang belum menggambarkan perbedaan yang signifikan dengan jenjang jabatan tersebut, (2) Untuk menjadi kepala sekolah di kota Palembang hingga saat ini telah sesuai dengan regulasi yang ada, yaitu harus dijabat oleh guru, tidak jabatan lain. Ada juga kepala sekolah yang diangkat juga tidak melewati Diklat Calon Kepala Sekolah, tetapi ada yang diangkat melalui jabatan politik/pilihan kepala daerah, (3) Pola rekrutmen kepala sekolah di kota Palembang belum sepenuhnya mengimplementasikan Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010, bahkan hingga saat ini tidak semua kepala sekolah memiliki NUKS.Kata Kunci: Kepala Sekolah, Profesi, Jalur Karier
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN INKLUSI PADA SEKOLAH DASAR Kurniawati, Lia
EDUTECH Vol 16, No 2 (2017): GLOBAL EDUCATION
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v16i2.6152

Abstract

Abstract. The learning process and the handling of Children with Special Needs (ABK) grade inclusions pinned to the classroom teacher in several schools without teacher inclusion Spe-cial Assistants (GPK) the background for this thesis. Theoretically GPK still needed to be able to assist the process of Teaching and Learning Activities (KBM) and according to researchers it will have implications for the management of classroom learning the handling of children with special needs and other students joined in the inclusive classroom. Special Advisors Teacher procurement program has not been met and this is an obstacle. As a first step to determine the problem, the au-thors examined the inclusive learning management with or without Teacher Special Assistants (GPK) in order to improve the service quality of education both in process and outcome. The im-plementation are not of cooperation team of child psychologists, pediatricians, neurologists, and psychologists who can contribute greatly to the effectiveness of teaching children with special needs. From the findings of the researchers in the field can provide recommendations that the live-liness of the school component can be improved by following IHT or KKT program organized by the Department of Education so that the provincial level without any GPK implementation of inclu-sive education learning can be run in accordance with national education goals.Keywords : Inclusive, Learning, Education, Teacher, GPKAbstrak. Proses pembelajaran dan penanganan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) kelas inklusi ditumpukan kepada guru kelas pada beberapa sekolah inklusi tanpa Guru Pendamping Khu-sus (GPK) yang melatar belakangi penelitian tesis ini. Secara teoritis GPK tetap dibutuhkan untuk dapat membantu proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan menurut peneliti hal ini akan ber-implikasi pada manajemen pembelajaran di kelas terhadap penanganan anak berkebutuhan khusus maupun siswa lainnya yang tergabung dalam kelas inklusif. Pengadaan Guru Pembimbing Khusus belum terpenuhi dan hal ini merupakan kendala. Sebagai langkah awal untuk mengetahui masalah tersebut, penulis meneliti manajemen pembelajaran inklusif dengan atau tanpa Guru Pendamping Khusus (GPK) guna meningkatkan layanan mutu pendidikan baik proses maupun hasil. belum ter-laksananya kerjasama tim yang terdiri dari para ahli psikologi anak, dokter anak, dokter neurologi, dan psikolog yang dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap efektifitas pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Dari hasil temuan dilapangan peneliti dapat memberikan rekomendasi bah-wa keaktifan komponen sekolah dapat ditingkatkan dengan mengikuti IHT atau program KKT yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan tingkat Provinsi sehingga tanpa GPK pun penyeleng-garaan pembelajaran pendidikan inklusif dapat berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.Kata Kunci : Inklusi, Pembelajaran, Pendidikan, Guru, GPK
RESTORASI PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN (Studi Inovasi Manajemen Kurikulum PPL melalui Kolaborasi Pendekatan Craft, Competency dan Reflective Model) Mustaqim, Mujahidil
EDUTECH Vol 16, No 2 (2017): GLOBAL EDUCATION
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v16i2.6782

Abstract

Abstract. This article is based on the fact that until now there has not been any serious at-tempt to improve field experience practice (PPL). This was indicated by a number of common problems that occur surrounding fiend experience practice, such as inability to maximally meet the goals of the program, ambiguity of supervisor teachers’ job description in educating student teachers, and loose and asymmetrical coordination between teachers college (LPTK) as producer and schools as industry. Thus, there needs to be restoration of field experience practice which is initiated by establishing PPL curriculum management which collaborates Craft, Competency and Reflective Models. This article presents three principal suggestions, which were obtained from literature study and data collection from observation and interview. First, there should be design innovation of PPL curriculum management using Craft, Competency and Reflective Models ap-proach by formulating success criteria and instructional plan of the program to be used as guid-ance of supervisor teachers in educating student teachers. In so doing, there will be change in the process of educating the students which is usually accidental instead of as planned. Second, it is important to formulate elaborate job description of supervisor teacher during introduction, train-ing, and evaluation periods based on the common problems that usually occur so that the role of the supervisor teacher can be optimized, which will impact the students’ teaching competency. Third, there should be simultaneous, continuous, and intensive coordination between teachers college (LPTK) and schools in order to create symbiotic relationship in establishing prospective professional future teachers.Keywords: field experience practice, curriculum management, teacher education model, Craft, Competency and Reflective ModelsAbstrak. Artikel ini didasari atas seputar distorsi praktek pengalaman lapangan (PPL) namun hingga kini belum benar-benar tersentuh oleh iktikad perbaikan. Hal ini tampak dari sepu-tar realitas lazim antara lain pada beberapa kasus disebutkan bahwa belum maksimalnya pen-capaian tujuan PPL, ketaksaan kerangka kerja (job description) guru pamong dalam mendidik ma-hasiswa PPL, dan koordinasi yang masih dinilai belum erat dan simetris antara Lembaga Pendidi-kan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai produsen dan sekolah sebagai industri. Maka untuk menangani persoalan ini, maka perlunya restorasi kegiatan PPL sehingga kompetensi lulusan kegiatan PPL dapat lebih terstandar dari sebelumnya dan tujuan PPL dicapai dengan optimal. Selain itu, kegiatan PPL dapat memberi makna khusus dan manfaat yang mendalam bagi calon guru sebelum terjun ke dunia kerja. Sehingga, kesan yang selama ini masih berbekas bahwa guru baru tidak “well prepared” saat memasuki dunia mengajar tidak lagi muncul. Hal ini dapat tercapai dengan menginisiasi tiga hal berikut, yaitu: Pertama, perlunya sebuah inovasi yakni mendesain manajemen kurikulum PPL menggunakan pendekatan craft, competency, dan reflective model me-lalui perumusan kriteria keberhasilan PPL dan rencana pembelajaran PPL yang dimakudkan men-jadi pedoman bagi guru pamong dalam mendidik praktikan. Kedua, pentingnya rumusan deskripsi lebih lanjut tentang job description guru pamong pada masa pengenalan, pembimbingan dan eval-uasi praktikan didasarkan pada persoalan yang kerap terjadi pada kegiatan PPL. Ketiga, perlunya koordinasi antara LPTK dan sekolah secara simultan, kontinu dan intens dimana saling memberi hubungan timbal balik dalam upaya membentuk bibit calon guru yang profesional. Artikel ini di-tulis dengan menggunakan pendekatan library research dengan menelaah sejumlah literatur.Kata kunci : Praktek Pengalaman Lapangan, Manajemen Kurikulum, Model Pendidikan Guru

Page 1 of 1 | Total Record : 8