cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Edutech
ISSN : 08521190     EISSN : 25020781     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Edutech adalah jurnal majalah ilmiah di Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia yang terbit sebanyak tiga kali dalam setahun pada bulan Februari, Juni, dan Oktober. Semua artikel yang dikirim melalui proses peer review double blind dan ulasan editor sebelum di publikasikan.Jurnal Edutech atau kepanjangan dari Educational Technology ini menerima artikel tentang pendidikan, teknologi pendidikan dan komunikasi
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1 (2018): INTERDISIPLINER PEMBELAJARAN" : 8 Documents clear
PENGGUNAAN MODEL NUMBER HEAD TOGETHER DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI TOPIK DASAR-DASAR ILMU GEOGRAFI UNTUK PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA Taufiq, Ahmad -
EDUTECH Vol 17, No 1 (2018): INTERDISIPLINER PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i1.12268

Abstract

Abstract. This study focused on Geography subject of Grade X students of SMA 2 Subang, which was motivated by low students’ achievement. Teachers are therefore required to create collaborative class atmosphere. One of the learning models that emphasize cooperation is the Numbered Heads Together method of cooperative learning model. This study aimed to find out students’ response on the implementation of the Numbered Heads Together method in teaching fundamentals of Geography basic competence. This study used descriptive qualitative approach and Kemmis and Taggart model of action research. The results indicated that there was an increase in students’ achievement through the application of the Numbered Heads Together method. This was shown by comparing the test results in cycle 1 and cycle 2, which although were still below the Minimum Mastery Criteria of 70, were able to unfold the students’ desire to have a class that was not boring. Teachers should be more creative in addressing the paradigm change toward a more student-centered learning. The learning model used must be continually perfected and in accordance with the condition of the school environment. Packaging of teaching materials should consider the available guideline and time allocation so that the sorting of the materials can be inte-grated with the model. The application of any learning model should focus on creating active in-stead of passive learning activities.Abstrak. Penelitian ini berfokus pada pembelajaran geografi kelas X SMA Negeri 2 Subang, yang dilatarbelakangi oleh rendahnya prestasi belajar siswa. Maka guru dituntut untuk menciptakan suasana kelas yang mengandung unsur kolaborasi. Salah satu penerapan pembelaja-ran yang berorientasi pada model belajar kooperatif adalah Number Head Together. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk respon peserta didik terhadap model pembelajaran Number Head Together pada kompetensi dasar Dasar-Dasar Ilmu Geografi. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif berupa penelitian tindakan kelas. Model Penelitian Tindakan Kelas yang digunakan adalah Kemmis dan Taggart. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pening-katan prestasi yang terjadi dalam pembelajaran dengan model kooperatif tipe Number Head To-gether. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan hasil tes pada siklus 1 dan siklus 2. Kes-impulan dari penerapan model Number Head Together pada proses pembelajaran topik Dasar-Dasar Ilmu Geografi secara umum belum membuahkan hasil yang menunjukkan ke arah perbaikan prestasi, sebab nilai rata-rata yang diperoleh peserta didik belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (70) meskipun terjadi peningkatan hasil tes pada siklus 1 dan siklus 2, tetapi lebih kepada terungkapnya keinginan siswa untuk melakukan model yang mampu membuat situasi kelas yang tidak membosankan. Guru harus lebih kreatif dalam menjawab perubahan paradigma pembelaja-ran kearah student center. Model yang dikembangkan tersebut harus terus di sempurnakan dan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah. Kemasan bahan ajar harus melihat patokan dan alokasi waktu yang ada sehingga pemilahan materi mampu dipadukan dengan model yang tersebutPenera-pan model apapun haruslah berpatokan pada menciptakan kegiatan pembelajaran, sehingga siswa dipandang aktif dan tidak pasif.
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MULTILITERASI TERHADAP PENGEMBANGAN KETERAMPILAN LITERASI MEDIA PESERTA DIDIK PADA PROGRAM BK-TIK Pramida, Deuis; Johan, Riche Cynthia; Darmawan, Deni
EDUTECH Vol 17, No 1 (2018): INTERDISIPLINER PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i1.9937

Abstract

Abstract. The study reviewing issues about " the effectiveness application of learning multiliteracy model in development media literacy skills of student in BK-TIK program at Indonesia university of education pilot laboratories junior high school (Lab. School) at Cibiru Bandung”, while the general purpose of this study was to describe the effectiveness application of learning multiliteracy model in development media literacy skills of student in BK-TIK program at Indonesia university of education pilot laboratories junior high school (Lab. School) at Cibiru Bandung. The method used in this study is a quasi-experimental, with single group interrupted time series design, while the population of student class VII in BK-TIK program at Indonesia university of education pilot laboratories junior high school (Lab. School) at Cibiru Bandung as many as 60 people with a sample of 30 people. Data processing hypothesis test with two-sample t-test (paired sample test) aided SPSS Statistics 20 and then drawing conclusions. Based on the research results obtained in the field, in general it can be concluded that the application of learning models multiliterasi effectively to the development of media literacy skills of students in BK-TIK program. In particular, the research conclusions can be described as follows, concluding the first, there is a significant difference before and after applying the learning model multiliterasi to the development of media literacy skills aspect critical understanding. The second conclusion, there is a significant difference before and after applying the learning model multiliterasi on media literacy skills development aspect of social competence. Abstrak. Penelitian ini mengkaji tentang permasalahan “efektivitas penerapan model pembelajaran multiliterasi terhadap pengembangan keterampilan literasi media peserta didik pada program BK-TIK di SMP Laboratorium Percontohan UPI Kampus Cibiru Bandung”, sedangkan tujuan umum dilakukannya penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan efektivitas penerapan model pembelajaran multiliterasi terhadap pengembangan keterampilan literasi media peserta didik pada program BK-TIK di SMP Laboratorium Percontohan UPI Kampus Cibiru Bandung. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen, dengan desain penelitian yang digunakan Single group interrupted time series design, sedangkan populasi peserta didiknya kelas VII Program BK-TIK di SMP Laboratorium Percontohan UPI Kampus Cibiru Bandung, sebanyak 60 orang dengan sampel 30 orang. Pengolahan data uji hipotesis dilakukan dengan uji t-dua sampel (sampel paired test) berbantuan SPSS Statistics 20 dan selanjutnya penarikan simpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh di lapangan, secara umum dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran multiliterasi efektif terhadap pengembangan keterampilan literasi media peserta didik pada program BK-TIK. Secara khusus, simpulan penelitian dapat diuraikan sebagai berikut, simpulan yang pertama, penggunaan model pembelajaran multiliterasi secara signifikan efektif terhadap pengembangan keterampilan literasi media peserta didik aspek critical understanding sebelum dan sesudah menerapkan model pembelajaran multiliterasi. Simpulan yang kedua, penggunaan model pembelajaran multiliterasi secara signifikan efektif terhadap pengembangan keterampilan literasi media peserta didik aspek social competence sebelum dan sesudah menerapkan model pembelajaran multiliterasi.
ANALISIS DESKRIPTIF TINGKAT KEPERCAYAAN PELANGGAN PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA, Tbk BERDASARKAN DIMENSI INTEGRITY Soedardji, Imam; Febrina, Diah
EDUTECH Vol 17, No 1 (2018): INTERDISIPLINER PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i1.12250

Abstract

Abstrak. Perkembangan internet yang cepat telah mengubah cara kehumasan berhub-ungan dengan masyarakat. Hal ini diikuti oleh fenomena dunia yang tanpa batas dimana tidak ada batasan bagi pengguna untuk memberikan respon terhadap suatu produk atau layanan yang berdampak pada kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun oleh perusahaan dan publiknya. Petisi tentang IndiHome pada situs change.org mengindikasikan bahwa pelanggan me-rasa kecewa dan tidak lagi percaya pada Telkom. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan kuesioner sebagai instrumen yang diberikan pada pelanggan dan pendukung petisi IndiHome pada situs change.org. Berdasarkan temuan dan analisis data, tingkat kepercayaan pelanggan pada Telkom jika dikaitkan dengan integritas dapat diketahui berada pada tingkat se-dang. Sekalipun demikian salah satu indikator integritas, yakni kejujuran memiliki penilaian negatif paling tinggi bila dibandingkan dengan indikator pemenuhan informasi maupun kehanda-lan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan tabel distribusi frekuensi dan kemudian dibagi ke dalam tiga kategori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi integritas berada pada level moderat. Abtract. The rapid development of the internet changes the way of public relations get con-nected with their public. It also followed by “borderless” world which means limitless on users to argue about a product or service that may result in damage to the trust that has been established for many years by the company and their publics. Petition about IndiHome on Change.org means if customers feel disappointed and can’t longer believe Telkom. This study used quantitative de-scriptive research with questionnaire as a research instrument and distributed to consumers and supporter of petition about IndiHome on Change.org. Based on the findings and data analysis, the level of customers' trust on Telkom in relation to integrity is at a moderate level. Yet, one of the indicators of integrity, that is honesty, has the highest negative rating compared to information fulfillment and reliability indicators. The data was analyzed using table of distribution of frequen-cy and then recoded into three categories. The findings suggest that the dimension of integrity is at moderate level.
The Development of Covey Trust Concepts Inside University Gamayanto, indra; Sukamto, Titien; Nugraha, Rizka; Rohmani, Asih; WM, Ibnu Utomo; Syukur, Abdul
EDUTECH Vol 17, No 1 (2018): INTERDISIPLINER PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i1.8552

Abstract

Universities and education are important factors that need to be taken very seriously as the pro-cess will produce useful human resources to create useful progress for the community. The 8th Habits Method is one of the most proven methods to apply at the University level, especially to lecturers and students. Applying The 8th Habits Method is a big challenge that deserves to be accepted because it will result in the discovery of the purpose of life or the sound (meaning) of self as we know that there are many students (millennial generation) who do not have it and this may also happen to the lecturer. Dr Maggie Gilewicz in her book entitles Why Young Adults Don’t Know What to Do With Their Lives And What Can Be Done About It? argues that students and young adults do not know how they spend their life time because nothing can encourage them and no support from the environment (Gilewicz, 2017). On the other hand, parents focus on build-ing the millennial children’ self-esteem and always protect them from disappointments (Vance and Stephens, 2010). This paper offers some hypothesis and its application to the lecturers and students because both cannot be separated and should work in synergy to achieve The 8th Habits. Internal and external influences are also things that need to be examined and responded positively as these are two factors that can be one of the inhibiting factors in applying The 8th Habits-Covey trust systems. Finally, it is important that lecturers and students keep learning to be able to think and be positive, creative and flexible to be able to apply The 8th Habits-covey trust systems. Universitas dan pendidikan adalah faktor penting yang harus disikapi dengan sangat serius meng-ingat kedua factor ini akan menghasilkan sumber daya manusia yang berguna untuk menciptakan kemajuan dalam masyarakat. The 8th Habits Method merupakan salah satu metode yang paling terbukti dapat diterapkan di tingkat perguruan tinggi, khususnya pada dosen dan mahasiswa. Pen-erapan The 8th Habits Method adalah suatu tantangan besar yang harus dihadapi karena akan berujung pada penemuan tujuan hidup atau makna diri karena sebagaimana yang kita ketahui ban-yak mahasiswa (generasi millennial) yang tidak memilikinya dan hal sama dapat pula terjadi pada dosen. Dr Maggie Gilewicz dalam bukunya yang berjudul Why Young Adults Don’t Know What to Do With Their Lives And What Can Be Done About It? berpendapat bahwa maha-siswa dan remaja dewasa tidak mengetahui bagaimana mereka akan menghabiskan masa hidup mereka karena tidak ada yang mendukung mereka termasuk dukungan dari lingkungan (Gilewicz, 2017). Di sisi lain, orangtua terpaku pada bagaimana agar anak-anak mereka dapat menghargai diri mereka dan selalu melindung mereka dari hal-hal yang dapat mengecewakan mereka (Vance and Stephens, 2010). Artikel ini menawarkan hipotesis dan aplikasinya pada dosen dan mahasiswa kerena keduanya tidak terpisahkan dan harus bersinergi untuk mencapai The 8th Habit. Pengaruh internal dan eksternal penting pula untuk diketahui dan direspon secara positif karena dua faktor ini dapat menjadi penghalang penerapan The 8th Habit-Covey trust systems. Oleh karena itu, penting bagi dosen dan mahasiswa untuk terus belajar agar dapat berpikir dan menjadi positif, kreatif, dan fleksibel sehingga dapat menerapkan The 8th Habit-Covey trust systems.
KONSELING KELUARGA PADA KELUARGA DENGAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Yulismi, Muftiah
EDUTECH Vol 17, No 1 (2018): INTERDISIPLINER PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i1.12368

Abstract

Abstract. This study aimed to describe the counseling process of family with special needs children. The method used was descriptive case study with single case. The subject of this study was a family that has a child with special needs, in this case low vision. Families who have chil-dren with special needs often experience problems in handling them, which affect the children’s development and may lead to social barriers because they rarely interact with their peers and ex-hibit impolite behaviors. The procedures in describing the case followed the following stages: (1) Observation stage, (2) Designing family counseling program, (3) Implementing family counseling program, (4) Evaluation and reflection of family counseling program, and (5) Writing research report. The study found that both parents and counselor worked cooperatively in preparing the program to shape polite behavior in the child. This was carried out by first determining the desired final behavior that is to make the child behave more politely especially to other people. To achieve this, parents need to decide what they should do to guide the child’s behavior. After doing the counseling session, both father and mother started implementing the program. They synergized and worked together to share roles in the child care. The father is more of a rule maker while the mother played a role in supervising the child’s everyday activities. Parents also conducted more various activities with their child.Keywords:Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses konseling keluarga yang terjadi pada keluarga dengan anak berkebutuhan khusus. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan kasus tunggal. Subjek pada penelitian ini adalah sebuah keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus, yaitu anak dengan low vision. Keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus seringkali mengalami permasalahan dalam menangani anak. Permasala-han yang dialami keluarga tentu berdampak pula terhadap perkembangan anak. Pada kasus ini, anak mengalami hambatan sosial, dimana anak jarang terlibat interaksi dengan teman sebaya serta perilaku anak yang dianggap kurang memperhatikan nilai kesopanan. Deskripsi tahapan yang digunakan dalam metode untuk mendeskripsikan kasus ini dilakukan dengan prosedur yaitu (1) Tahap Observasi, (2) Perancangan program konseling keluarga, (3) Pelaksanaan program konsel-ing keluarga, (4) Evaluasi dan refleksi pada program konseling keluarga, (5) tahap Penulisan laporan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah bahwa orang tua dan konselor mempersiapkan program untuk membentuk perilaku sopan pada anak. Prosedur yang dilakukan diantaranya adalah menentukan perilaku akhir yang diinginkan, yaitu Orang tua berharap bahwa anak dapat berting-kah laku lebih sopan terutama kepada orang lain. Pemilihan langkah-langkah pembentukan per-ilaku, yaitu orang tua menentukan sikap apa saja yang perlu dilakukan agar perilaku anak terarah dan mencapai tujuan yang diinginkan., Pemilihan reinforcer yang alami. Setelah melakukan sesi konseling, ayah dan ibu mulai melaksanakan program yang telah dibuat. Ayah dan ibu bersinergi melakukan berbagi peran dalam pengasuhan anak. Ayah lebih berperan sebagai pembuat aturan dan ibu berperan dalam mengawasi anak sehari-hari. Selain itu, orang tua juga melakukan kegiatan yang lebih bervariasi bersama anak.
PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DALAM UPAYA PENCEGAHAN KENAKALAN REMAJA Perdana, Novrian Satria
EDUTECH Vol 17, No 1 (2018): INTERDISIPLINER PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i1.9860

Abstract

Abstract. Many cases of juvenile delinquency that occurred in the community allegedly be-cause there are lack of exemplary and intensive supervision in our educational and community components. According to this reality, it is urgent to know the strategy of strengthening character education in schools to prevent juvenile delinquency. The purpose of this paper is to examine strat-egies in preventing juvenile delinquency through strengthening character education. This paper uses the theory of habituation from the Skinner, such as spontaneous activities, exemplary meth-ods are also a series of behaviorism theory from John Watson, and conditioning activities that are similar to behaviorism theory from Edwin Guthrie . This study includes the type of literature study research by finding reference theory that relevant to the cases or problems found. The data that have been obtained then analyzed by descriptive analysis method. The conclusions from this litera-ture study includes 1) education in Indonesia still focused on cognitive aspect or academic, while the aspect of soft skills or non academic which is the main element of character education so far still get less attention. 2) implementation of strategies to strengthen character education in schools in preventing juvenile delinquency, can be integrated into existing subjects, local content, self-development. 3) the headmaster as the leader of the school organization is fully responsible for the character building of students, so as a model school requires special efforts to integrate the values of character into the learning process and routine activities in schools. Based on the above conclu-sions, some suggestions were formulated: 1) learning in schools should focus on soft skills or non academic (affective and psychomotor) which are the main elements of character education through teaching and learning activities or extracurricular activities; 2)The national education ministries should formulate learning models that use the character component as the largest com-ponent; 3) the national education ministry should cooperate with TNI and POLRI by conducting education to defend the country that there are character and nationalism elements. Abstrak. Maraknya kasus kenakalan remaja yang terjadi di masyarakat diduga ku-rangnya keteladanan dan pengawasan intensif dari komponen pendidikan dan masyarakat. Ber-dasarkan hal tersebut, mendesak untuk diketahui strategi penguatan pendidikan karakter di sekolah dalam mencegah kenakalan remaja. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penulisan ini adalah untuk mengkaji strategi dalam mencegah kenakalan remaja melalui penguatan pendidikan karakter. Penulisan ini menggunakan teori pembiasaan dari Skinner, berupa kegiatan-kegiatan spontan, metode keteladanan yang juga sejalan dengan teori behaviorisme dari John Watson, dan kegiatan pengkondisian yang sejalan dengan teori behaviorisme dari Edwin Guthrie. Penelitian ini termasuk jenis penelitian studi literatur dengan mencari referensi teori yang relefan dengan kasus atau per-masalahan yang ditemukan. Data-data yang sudah diperoleh kemudian dianalisis dengan metode analisis deskriptif. Kesimpulan dari studi literatur ini antara lain: 1) Pendidikan di Indonesia masih terfokus pada aspek-aspek kognitif atau akademik, sedangkan aspek soft skills atau non-akademik yang merupakan unsur utama pendidikan karakter selama ini masih kurang mendapatkan per-hatian; 2) Implementasi strategi penguatan pendidikan karakter di sekolah dalam upaya pencega-han kenakalan remaja dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, muatan lokal, pengembangan diri, dan budaya sekolah, dan 3) Kepala sekolah sebagai pemimpin organisasi sekolah bertanggungjawab penuh terhadap pembinaan karakter peserta didik, sehingga sebagai teladan sekolah diperlukan upaya khusus untuk mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam proses pembelajaran dan aktivitas rutin di sekolah.. Berdasarkan kesimpulan di atas, dirumuskanbeberapa saran: 1) Pembelajaran di sekolah sebaiknya diutamakan menekankan pada soft skills atau non-akademik (afektif dan psikomotorik) yang merupakan unsur utama pendidikan karakter melalui KBM dan kegiatan ekstrakurikuler; 2) Kemendikbud sebaiknya merumuskan model penilaian yang menggunakan komponen karakter sebagai komponen terbesar; 3) Kemendikbud bekerjasama dengan TNI dan POLRI sebaiknya mengadakan pendidikan bela Negara yang dida-lamnya memuat unsur budi pekerti dan nasionalisme.
EVALUASI PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN LMS SCHOOLOGY PADA MATAKULIAH COMPUTER APPLICATION Wakhidah, Rokhimatul; Maftuh, Moh Farid
EDUTECH Vol 17, No 1 (2018): INTERDISIPLINER PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i1.10617

Abstract

Abstract. This research aimed to determine the evaluation of learning outcomes that have used LMS Schoology in the learning process compared to the previous semester on Computer Ap-plication Course that has not been using LMS. The evaluation is seen from the ability of lecturers in the use of LMS Schoology, to know the ability of students in the use of LMS Schoology, and to know the communication activity of lecturers and students in LMS Schoology. LMS Schoology is used as part of the blended learning model, which is collaborate class learning with online learn-ing. The research used descriptive qualitative method. Data collection tool was questionnaire is given to students who have used LMS Schoology. The study was conducted on English Language Students of 2nd Semester year academic 2016/2017. Data analysis technique used in analyzing questionnaire score is by calculating the percentage of the answer. As a basis for decision making on the assessment of the use of LMS Schoology, the qualification criteria adapted from Arikunto were used. The results showed that lecturers have been able to use the basic features of LMS. Stu-dents are able to use the features of downloading material and uploading tasks. Lecturers who also act as observer and researcher still have not maximized some of the existing features provided by the LMS. The lecturers and students were less active as lecturer still use direct communication rather than communication through news update on LMS. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi hasil pembelajaran yang telah menerapkan LMS Schoology di dalam proses pembelajaran dibandingkan dengan matakuliah Computer Application semester sebelumnya yang belum menggunakan LMS. Evaluasi yang di-maksud dilihat dari kemampuan dosen dalam penggunaan LMS Schoology, untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam penggunaan LMS Schoology, dan untuk mengetahui keaktifan komunikasi dosen dan mahasiswa di dalam LMS Schoology. LMS Schoology digunakan sebagai bagian dari model pembelajaran blended learning, yaitu pembelajaran di kelas yang memadukan dengan pembelajaran online. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Alat pengum-pul data berupa angket yang diberikan kepada mahasiswa yang telah menggunakan LMS Schoolo-gy. Penelitian dilakukan terhadap Mahasiswa Bahasa Inggris Semester 2 TA 2016/2017. Teknik analisis data yang digunakan dalam menganalisis skor angket yaitu dengan menghitung persentase jawaban. Sebagai dasar pengambilan keputusan tentang penilaian penggunaan LMS Schoology, digunakan kriteria kualifikasi yang diadaptasi dari Arikunto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosen sudah mampu menggunakan fitur dasar LMS. Mahasiswa mampu menggunakan fitur mengunduh materi dan mengunggah tugas. Keaktifan dosen dan mahasiswa masih kurang karena dosen masih menggunakan komunikasi secara langsung daripada melalui pembaruan kabar melalui LMS.
CORPORATE REBRANDING FRAMEWORK OLEH CGV CINEMAS Khairunnisa, Silka; Hafiar, Hanny; Bakti, Iriana
EDUTECH Vol 17, No 1 (2018): INTERDISIPLINER PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i1.12249

Abstract

Abstract. The purpose of research are to determine the stages of analysis, planning and eval-uation of corporate rebranding framework of CGV Blitz to be CGV Cinemas. This research uses descriptive method with qualitative data type. Data collection method used in this research is in-terview, observation, and literature study.The results of this research showed that CGV Cinemas has been rebranding but in reality there are still many stakeholders from CGV Cinemas that tar-geted for rebranding that still not aware of the rebranding of CGV Blitz to CGV Cinemas by doing three stages of analysis, planning and evaluation. In this study concluded that at the analysis stage, planning and evaluation, communication campaign that CGV Cinemas do to internal cus-tomer has not been able to optimally because there’s still employee that did not undetstand with CGV Cinemas concept and still miscalled the old brand.At the evaluation stage, CGV Cinemas are not doing an evaluation after communication campaign and only doing an evaluation at the time of execution of socialization in the form of question and answers and CGV Cinemas are doing evaluation in focus group discussion to some customers but those evaluation was evaluation non formal and not spread and did not have a structured results that’s why those evaluation could not be used as a measure of success while doing or after doing a rebranding to customers Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tahapan analisis, perencanaan dan evaluasi corporate rebranding framework CGV Blitz menjadi CGV Cinemas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis data kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CGV Cinemas sudah melakukan rebranding namun pada ken-yataannya masih banyak stakeholders dari CGV Cinemas yang menjadi target untuk rebranding yang masih tidak mengetahui adanya rebranding CGV Blitz menjadi CGV Cinemas dengan melakukan tiga tahapan yaitu tahapan analisis, perencanaan dan evaluasi. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa pada tahap analisis, perencanaan dan evaluasi, communication campaign yang CGV Cinemas lakukan ke internal customer masih belum optimal dikarenakan, masih ada karya-wan yang belum paham dengan konsep CGV Cinemas dan masih salah menyebut merek lamanya dan CGV Cinemas tidak mengadakan evaluasi sesudah mengadakan kampanye komunikasi dan hanya melakukan evaluasi pada saat pelaksanaaan sosialisasi dalam bentuk tanya jawab dan CGV Cinemas melakukan evaluasi focus group discussion ke beberapa customer namun evaluasi terse-but merupakan evaluasi non formal dan tidak menyeluruh serta tidak mempunyai hasil yang ter-struktur maka dari itu evaluasi tersebut tidak dapat dijadikan ukuran keberhasilan saat melakukan maupun sesudah melakukan rebranding terhadap customer.

Page 1 of 1 | Total Record : 8