cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 467 Documents
Effect of Ethanolic Leaves Extract of Peperomia pellucida (L) Kunth as Antimalarial and Antioxidant Nanang Yunarto; Hanief Mulia Ar Rossyid; Lisa Andriani Lienggonegoro
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i2.132

Abstract

In malaria infection, the Plasmodium parasites break down hemoglobin in the host's red blood cells into toxic free heme and amino acids. Plasmodium is also capable of converting free heme to non-toxic hemozoin through a polymerization process. Malaria infection, on the other hand, also triggers the formation of free radicals that affect the pathophysiology of malaria. Suruhan leaf (Peperomia pellucida (L.)Kunth) has long been used as an antimalarial and is known to contain large flavonoids that function as antioxidants. In this study, leaf extraction, inhibitory activity of heme polymerization assay, and antioxidant activity assay were performed. Organoleptically, leaf extract obtained in the form of dry blackish green coloured extractswith a bitter taste and the typical scent of suruhan leaves. The yield of the extract obtained was 18.28%, water content was 7.73%, drying shrinkage was 9.16%, and total ash content was 0.46%. The IC50 value of inhibition activity of heme polymerization of ethanol extract of the Suruhan leaves was 0.93 mg / mL, smaller compared to chloroquine(1.48 mg / mL)while the value of IC50. antioxidant activity of ethanol extract of leaf syrup was 32.94 mg / mL compared to Vitamin C of 4 mg/mL. In conclusion,ethanolic leaves extract of suruhan has inhibitory activity of heme polymerization and antioxidant activity so that it has potentiality as antimalarial drugs
Sistem Rujukan Maternal dan Neonatal di Daerah Kepulauan (Studi Kasus di Provinsi Papua dan Maluku) Heny Lestary; Sugiharti Sugiharti; Mujiati Mujiati
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i2.177

Abstract

Maternal and neonatal health services are aimed to produce a healthy and quality generation and reduce maternal mortality rate (MMR) and infant mortality (IMR). MMR and IMR in Indonesia tend not to improve. Targeted reduction of MMR and IMR will be difficult to achieve if not given appropriate intervention, both socially, economically and culturally, as well as stabilization of referral system. In 2015, research on maternal and neonatal referral system in Papua and Maluku provinces was conducted. Data were collected at selected health centers, District hospitals, provincial hospitals, and regional referral hospitals. Study design is cross sectional. Data collection was done by interview, document review, verbal autopsy, and survey to health facilities and infrastructure. The results show that both provinces already have Governor Decree related to health care system and regionalization policy, but have not translated into Mayor Decree in each selected district. Referral flow indicates that there are still many health workers / families who choose directly to the district hospital or provincial hospital or health worker who refers to other closer regency hospitals. The number of maternal and neonatal deaths is still high, the unavailability of OBGY and Pediatricians, low compliance of the BEONC and CEONC standards. Consumables and drugs are often depleted because of the lack of coordination, uncontrolled stock, and the late of drug requests. Event though maternal and neonatal referrals have been financed through National Health Insurance, however still many shortcomings, both in terms of funding flows and problems in administrative completeness, as well as unavailability of accommodation and transportation costs for families and midwives who will accompany mother. Abstrak Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas serta mengurangi Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). AKI dan AKB di Indonesia cenderung tidak mengalami perbaikan. Target penurunan AKI dan AKB akan sulit dicapai jika tidak diberikan intervensi yang tepat, baik secara sosial, ekonomi dan budaya, serta pemantapan sistem rujukan. Pada tahun 2015 dilakukan penelitian sistem rujukan maternal dan neonatal di Provinsi Papua dan Maluku. Pengumpulan data dilakukan di puskesmas terpilih, RSUD Kabupaten, RSUP Provinsi, dan RSUP Rujukan Regional. Disain penelitian studi potong lintang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, penelusuran dokumen, autopsi verbal, dan check list kelengkapan sarana dan prasarana. Hasil penelitian menunjukkan kedua provinsi sudah memiliki PerGub terkait dengan sistem pelayanan kesehatan dan kebijakan regionalisasi, namun belum diterjemahkan ke dalam PerBup di masing – masing kabupaten terpilih. Alur rujukan menunjukkan masih banyak tenaga kesehatan/keluarga yang memilih langsung ke RS kabupaten/RS provinsi atau tenaga kesehatan yang merujuk ke RS kabupaten lain yang lebih dekat. Jumlah kematian maternal dan neonatal masih tinggi, tidak tersedianya DSOG dan DSA, sarana prasarana masih belum sesuai standar PONED dan PONEK, ketersediaan dan kecukupan alat di Provinsi Papua masih di bawah 50 persen. Bahan habis pakai dan obat sering habis karena tingkat koordinasi, pengontrolan stok, dan daftar permintaan obat kurang terkontrol. Pembiayaan rujukan maternal dan neonatal melalui sistem JKN dan Jamkesda, namun banyak mengalami kekurangan, baik dalam hal alur pembiayaan maupun permasalahan di kelengkapan administrasi, serta tidak tersedianya biaya akomodasi dan transportasi bagi keluarga dan bidan pendamping pasien.
Kesahihan dan Keandalan Uji Jalan Enam Menit pada Lintasan 15 Meter Nury Nusdwinuringtyas; Idrus Alwi; Faisal Yunus
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i2.178

Abstract

Walk test is a test that often used because walking is a basic activity. There are time-based walk tests and some are based on track length. A 6-minute walk test is a time-based walk test with a distance trevaled as a result. A 6-minute walk test is frequently used as functional clinical capacity trial. This test is performed on a straight track. The length of the track varies from 10-meters to 85-meters. This study examined the reliability and validity of a 6-minute walk test on a 15-meter track. The 15-meter track with markers every 3-meters, 30-centimeters wide to the right and left from the center line. The subject went straight as close to the center line as possible. When the subject arrived at both ends, the subject rotated with the three step method. The study compared the 6-minute walk test on the 15-meter track with three-step rotating method with on Biodex® gait trainer gold-standard. This study involved subjects as many as 123 healthy Indonesians adults (58 men, 65 women), and obtained Cronbach alpha of 0.999 and Pearson correlation value of 0.998. This shows that the results of the 15-meter trajectory test have validity and precision values which are as good as the 6-minute walk test without spinning. Abstark Uji jalan merupakan uji yang sering dipakai karena berjalan merupakan aktivitas dasar. Uji jalan ada yang berbasis waktu dan berbasis panjang lintasan. Uji jalan enam menit merupakan uji berbasis waktu dengan jarak tempuh sebagai hasil keluarannya. Uji jalan 6 menit merupakan uji klinis kapasitas fungsional yang sering dipergunakan. Uji ini dilakukan pada lintasan lurus. Panjang lintasan bervariasi dari 10 meter hingga 60 meter.. Penelitian ini meneliti keterandalan dan kesahihan uji jalan enam menit pada lintasan 15 meter. Lintasan sepanjang 15 meter dengan marka setiap tiga meter, lebar lintasan 30 sentimeter ke kanan dan ke kiri dari garis tengah. Subyek berjalan lurus sedekat mungkin dengan garis tengah lintasan. Ketika subyek tiba pada ke dua ujung , berbalik arah dengan metoda tiga langkah. Penelitian ini membandingkan uji jalan 6 menit pada lintasan 15 meter dengan metoda berputar pada ke dua ujungnya dengan baku emas uji jalan 6 menit pada Biodex®gait trainer. Melibatkan subyek 123 orang Indonesia dewasa sehat (58 laki-laki), didapatkan Cronbach alfa 0,999 dengan nilai korelasi r= 0,998. Hal ini memiliki arti bahwa hasil lintasan 15 meter memiliki kesahihan dan nilai ketepatan yang sama baiknya dengan uji jalan 6 menit.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Studi Agen Perubahan di Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi) Rustika Rustika; Noor Edi Widy Sukoco; Tety Rachmawati
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i2.179

Abstract

Number of hypertension cases in Cicurug, West Java, Health Center of Sukabumi District is 40% reported risk factors which are smoking habit, and clean healthy living behavior (PHBS) amounted 70%. Non communicable diseases control effort which is done by agent of change (AoC) through community empowerment. These activities could be held in collaboration with Corporate Social Responsibility (CSR). Operational research to analyze the implementation of CSR in community empowerment. Community empowerment is conducted in Nyangkowek Village (As Intervention Village) and Purwasari Village (As Control Village), Cicurug District, Sukabumi Regency. It has been selected 20 AoC from each village. Data were collected by in-depth interviews and observations. The AoC triggered has improved the knowledge, attitude and behavior of AoC in the control of NCD, they became promoters in controlling NCD risk factors for themselves, families, and community. Community empowerment through the selection of candidates and triggering AoC is the key to the successful implementation of P2TMBM. AoC as the spearhead in changing the risky behavior of NCD in the community that is coronary heart, hypertension, and obesity. CSR program in Cicurug District is able to develop community empowerment in controlling NCD risk factors. Health Office and Puskesmas are expected to be facilitators in forming AoC. Assistance by CSR is needed in the effort to control smoking behavior, diet and physical activity. Abstrak Jumlah kasus hipertensi di Puskesmas Cicurug Kabupaten Sukabumi sebesar 40%, dengan faktor risiko yang terlaporkan kebiasaan merokok, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebesar 70%. Pengendalian penyakit tidak menular dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat dengan pemicuan agen perubahan (agent of change). Tujuan penelitian untuk menerapkan program pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian penyakit tidak menular berbasis masyarakat (P2PTM) melalui agen perubahan.Kegiatan tersebut terselenggara atas dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) yang ada di Kabupaten Sukabumi. Metode penelitian adalah Riset operasional yang dilaksanakan dengan program CSR dalam pemberdayaan masyarakat. Tempat kegiatan di Desa Nyangkowek (intervensi pemicuan P2TMBM,) dan Desa Purwasari (kontrol).Penelitian ini dilakukan di bulan Februari- Oktober2015. Terpilih 20 agen perubahan dari masing-masing desa. Cara pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemicuan pada AOC telah berhasil meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku Agent of Change dalam pengendalian penyakit tidak menular serta mereka menjadi promotor dalam pengendalian faktor risiko PTM baik untuk dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat sekitarnya. Pemberdayaaan masyarakat melalui pemicuan, pemilihan calon ‘Agen Perubahan’ serta dukungan CSR merupakan kunci keberhasilan program. Program CSR di Kecamatan Cicurug mampu mengembangkan pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian faktor risiko PTM. Untuk keberlanjutan program pemberdaayan masyarakat dengan model pemicuan P2TMBM, diharapkan dinas kesehatan dan puskesmas dapat menjadi fasilitator dalam pembentukan ‘Agen Perubahan’ berikutnya, dalam upaya pengendalian perilaku merokok, pola makan dan aktifitas fisik dengan pendampingan oleh CSR.
Peran Indikator Pelayanan Kesehatan untuk Meningkatkan Nilai Sub Indeks Kesehatan Reproduksi dalam Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) Lely Indrawati; Dwi Hapsari Tjandrarini
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i2.180

Abstract

In Indonesia, measuring the success of development of a region is increasingly needed with the enactment of the Regional Autonomy System (OTDA). There are many methods or indicators that can be used as a measuring tool. The Public Health Development Index (IPKM) is one of the indicators that can be used to measure the success of community health development. This study aims to explore the correlation between several indicators of sub-index of Health Service (Yankes) and sub-index of Reproductive Health (Kespro) which become part of IPKM. Another purpose of this analysis is to find out which indicators are most leveraging for the Kespro sub-index. The method to analyse the data used Multiple Linear Regression with the district as the unit of analysis. According to the RISKESDAS 2013 data, there are 497 districts/cities in 33 provinces in Indonesia. RISKESDAS 2013 and Podes 2011 data are used by IPKM 2013. The results of the analysis show that the largest indicator giving the leverage of Kespro sub-index. That are the coverage of birth delivery by health worker in health facilities after controlled by the proportion of physicians per sub-district, the proportion of adequate posyandu per region and the health service coverage ownership (Jaminan Pelayanan Kesehatan/JPK) in each district. Abstrak Pengukuran keberhasilan pembangunan suatu daerah semakin dibutuhkan dengan berlakunya sistim Otonomi Daerah (Otda) di Indonesia. Banyak metode atau indikator yang dijadikan alat ukurnya. Untuk mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat, Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) menjadi salah satu indikator yang digunakan. Penelitian ini bertujuan menggali hubungan beberapa indikator pembentuk sub indeks Pelayanan Kesehatan (Yankes) terhadap sub indeks Kesehatan Reproduksi (Kespro) yang menjadi bagian dari IPKM. Tujuan lain dari analisa ini yakni menggali indikator mana yang paling memberi efek ungkit bagi sub indeks Kespro. Metode analisa yang digunakan adalah Regresi Linier Berganda dengan kabupaten sebagai unit analisanya. Terdapat 497 kabupaten di 33 provinsi di Indonesia sesuai dengan jumlah kabupaten pada saat Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dikumpulkan pada tahun 2013. Riskesdas 2013 dan Podes 2011 menjadi sumber data yang digunakan IPKM 2013. Hasil dari analisa didapat indikator yang paling besar memberikan daya ungkit sub indeks Kespro yakni cakupan persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan setelah dikontrol proporsi jumlah dokter per kecamatan, proporsi jumlah posyandu per desa dan kepemilikan Jaminan Pelayanan Kesehatan (JPK) di setiap kabupaten.
Konstruksi Plasmid Rekombinan untuk Inisiasi Translasi Enhance Green Fluorescent Protein oleh Internal Ribosomal Entry Site HIV-1 Cintera Rahmagiarti; Silvia Tri Widyaningtyas; Budiman Bela
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i2.181

Abstract

Human immunodeficiency virus (HIV) is a virus that causes acquired immunodeficiency virus syndrome (AIDS). The HIV genome has a cap structure at 5’ and polyadenylation at 3’ on mRNA resulting in a translation initiation through scanning at 5'untranslated region (UTR). The Vpr protein produced during viral replication causes the 5'cap scanning to be inhibited so HIV-1 can directly recruit the ribosome at the start codon via internal ribosomal entry site (IRES). IRES activity is high at G2/M phase and highest expression in monocyte cell line (THP-1) and lymphocyte (HPB-ALL). The role of HIV IRES however, is not yet known in infection of nondividing cells by HIV-1. HIV-1 IRES and egfp from pcDNA5FRT/TO were amplified with PCR. The insert DNA (HIV-1 IRES_egfp) and pcDNA3.1(+) were digested with EcoRI and ApaI and then ligated. The verification was performed with PCR colonies, restriction verification, and sequencing. The size of insert DNA is 1067 bp while the vector is 5379 bp. E. coli transformed with DNA ligation produces 70 colonies, control of ligation produces 5 colonies, and negative control didn’t grow. 19 colonies contain recombinant DNA, restriction verification was of the appropriate size, and the sequence verification didn’t find any mutation. Therefore, the subcloning process pcDNA3.1_IRES HIV-1_egfp was successfully performed. Abstrak Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan virus penyebab acquired immunodeficiency virus syndrome (AIDS). Genom HIV memiliki struktur cap di 5’ dan poliadenilasi di 3’ mRNA sehingga proses inisiasi translasi melalui pemindaian 5’cap pada struktur untranslated region (UTR) di 5’ mRNA HIV. Protein Vpr yang dihasilkan selama replikasi virus menyebabkan pemindaian melalui 5’cap terhambat sehingga HIV-1 dapat langsung merekrut ribosom pada kodon awal translasi melalui struktur internal ribosomal entry site (IRES). Aktivitas IRES tinggi pada fase G2/M dan ekspresi gen tinggi pada sel line monosit (THP-1) dan limfosit (HPB-ALL). Namun, peran IRES HIV-1 belum diketahui pada sel tidak membelah yang merupakan sel target pada infeksi HIV-1. DNA sekuen IRES HIV-1 dan egfp dari pcDNA5FRT/TO diamplifikasi dengan PCR. DNA sisipan (IRES HIV-1_egfp) dan pcDNA3.1(+) dipotong dengan EcoRI dan ApaI lalu DNA sisipan diligasi dengan pcDNA3.1(+). Verifikasi hasil klona dilakukan dengan PCR koloni, verifikasi restriksi, dan sekuensing. Restriksi DNA sisipan menghasilkan pita berukuran 1067 pb. Restriksi vektor plasmid menghasilkan pita berukuran 5379 pb. E.coli yang ditransformasi DNA ligasi menghasilkan 70 koloni, kontrol ligasi 5 koloni, dan kontrol negatif tidak tumbuh. 19 koloni terverifikasi mengandung DNA rekombinan, verifikasi restriksi memiliki ukuran sesuai, dan verifikasi sekuensing tidak terdapat perubahan basa. Oleh karena itu, proses subkloning pcDNA3.1_IRES HIV-1_egfp berhasil dilakukan.
Hubungan Pemberian Air Susu Ibu (ASI) dengan Riwayat Sakit Bayi 0–6 bulan di Indonesia (Analisis Data Riskesdas 2013) Amir Suudi; A Muchtar Nasir; Nida Rohmawati; Sudarto Ronoatmodjo
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 29 No 1 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v29i1.182

Abstract

Abstract Many factors are associated with illness of infant 0-6 months. The objective of this study is to know the association between exclusive breastfeeding and illness of infants 0-6 months in Indonesia. This study uses secondary data from cross sectional survey of Basic Health Research (Riskesdas) in 2013, with a sample of 5,017 infant 0-6 months. Results showed the prevalence of infants who are exclusively breastfed was 30,24%, the prevalence of was 18.24%, the prevalence of illness among non-exclusive breastfeeding infants was 19.57%, the prevalence of illness among exclusive breastfeeding infants was 15,16%. Analyze of Cox regression show that crude prevalence ratio (PR) of illness among non-exclusive breastfeeding compared with PR of illness among exclusive breastfeeding infants was 1.29 (95% CI 1.13-1.48), and PR of illness among non-exclusive breastfeeding compared with PR of illness among exclusive breastfeeding infants adjusted by mother’s education level was 1,29 (95% CI 1.05-1.41). Conclusions, infants 0-6 months who are not exclusively breastfed have 1.29 times higher risk of getting illness compared with who receive exclusive breastfeeding, adjusted by mother’s education level. It is recommended to increassing efforts to give exclusive breastfeeding infants as early as possible until six months, with increassing knowledge of mother and commitment of stakeholder to completed equipment of early breastfeeding initiation. Abstrak Banyak faktor yang berhubungan dengan kejadian sakit bayi, salah satunya pemberian air susu ibu (ASI). Untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI terhadap riwayat sakit pada bayi 0-6 bulan di Indonesia, maka dilakukan penelitian menggunakan data sekunder hasil survei cross sectional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, dengan sampel sebanyak 5.017 bayi 0-6 bulan. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi bayi 0-6 bulan yang mendapat ASI esklusif sebesar 30,24% dengan prevalensi sakit sebesar 18,24%. Prevalensi sakit pada bayi yang tidak diberikan ASI ekslusif sebesar 19,57%, sedangkan prevalensi sakit pada bayi yang diberikan ASI eksklusif sebesar 15,16%. Analisis regresi Cox menunjukkan bahwa rasio prevalensi kasar antara bayi sakit yang tidak mendapat ASI eksklusif dengan yang mendapat ASI eksklusif sebesar 1,29 (95% CI 1,13-1,48). Rasio prevalensi antara bayi sakit yang tidak mendapat ASI eksklusif dengan yang mendapat ASI eksklusif setelah dikontrol variabel pendidikan ibu sebesar 1,29 (95%CI 1,05-1,41). Kesimpulannya, bayi 0-6 bulan yang tidak mendapat ASI eksklusif memiliki risiko sakit sebesar 1,29 kali dibandingkan yang mendapat ASI eksklusif, setelah dikontrol oleh variabel pendidikan ibu. Disarankan adanya peningkatan upaya pemberian ASI eksklusif pada bayi baru lahir sedini mungkin hingga enam bulan, dengan meningkatkan pengetahuan ibu dan komitmen stakeholder melengkapi perlengkapan praktek inisiasi menyusui dini (IMD).
Identifikasi Anopheles Spp. sebagai Tersangka Vektor Malaria di Kabupaten Purworejo Tahun 2015 Wening Widjajanti; Revi Rosavika Kinansi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 29 No 4 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v29i4.185

Abstract

Abstract Purworejo District is a malaria endemic area in Central Java Province with Annual Parasite Incidence (API) value of 1.96 per 1,000 population. This figure is still above the Ministry of Health's Strategic Plan target for 2015 - 2019. Indigenous cases are still being reported in Purworejo District until 2017. Prevention of malaria transmission is carried out by controlling Anopheles spp. as a malaria vector. This study aims to identify the behavior and habitat where Anopheles spp. as a malaria vector suspect in Purworejo District. The method of catching mosquitoes is in the form of Human landing collection, animal bait, light traps which are carried out starting at 18.00 to 06.00 in the morning, resting in the morning both inside and outside the house. Data variables taken in the form of biting activity, the number of mosquitoes caught, and environmental conditions at the study site. The results of the study were: the species of Anopheles leucosphyrus , Anopheles maculatus, Anopheles vagus, Anopheles indefinitus, Anopheles barbirostris, Anopheles kochi, and Anopheles balabacensis. The peak activity of biting Anopheles spp. occur at 01.00 - 02.00 and 04.00 - 05.00 in the morning. Anopheles spp. most found in lagoon. Efforts to prevent mosquito bites are done using long-sleeved clothing or using repellents or household pesticides, avoiding doing activities outside the home at night and placing larva predators on lagoon. Abstrak Kabupaten Purworejo merupakan kabupaten endemis malaria di Provinsi Jawa Tengah dengan nilai Annual Parasite Incidence (API) mencapai 1,96 per 1.000 penduduk. Angka tersebut masih berada di atas target Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015–2019. Kasus indigenous juga masih dilaporkan di Kabupaten Purworejo sampai dengan tahun 2017. Pencegahan penularan malaria dilakukan dengan pengendalian nyamuk Anopheles spp. sebagai vektor malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku dan habitat tempat ditemukannya nyamuk Anopheles spp. sebagai tersangka vektor malaria di Kabupaten Purworejo. Metode penangkapan nyamuk berupa human landing collection, umpan hewan, dan light trap yang dilakukan mulai pukul 18.00 – 06.00 pagi, resting pagi hari baik di dalam maupun di luar rumah. Variabel data yang diambil berupa aktivitas menggigit, jumlah nyamuk yang tertangkap, dan kondisi lingkungan di lokasi penelitian. Hasil penelitian berupa : spesies Anopheles yang tertangkap adalah Anopheles leucosphyrus, Anopheles maculatus, Anopheles vagus, Anopheles indefinitus, Anopheles barbirostris, Anopheles kochi, dan Anopheles balabacensis. Puncak aktivitas menggigit Anopheles spp. terjadi pada pukul 01.00 – 02.00 dan 04.00 – 05.00 dini hari. Nyamuk Anopheles spp. paling banyak ditemukan pada lagun/goba. Upaya pencegahan gigitan nyamuk dilakukan dengan menggunakan pakaian lengan panjang atau menggunakan repellent atau pestisida rumah tangga, menghindari melakukan aktivitas di luar rumah pada malam hari, dan menempatkan predator larva pada lagun/goba.
Disparitas Balita Kurang Gizi di Indonesia Sri Poedji Hastoety; Nunik Kusuma Wardhani; Sihadi Sihadi; Kencana Sari; Dwi Siska Kumala Putri; Rika Rachmalina; Nur Handayani Utami; Made Dewi Susilawati; Reviana Chitijani; Febriani Febriani
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 3 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i3.219

Abstract

AbstractMalnutrition has a role not only to increase morbidity and mortality, but also to psychosocial aspects and intellectual development. Three criteria for malnutrition are: underweight, stunting and wasting, reflecting both past and present growth failures. Growth failure in children under five that occur simultaneously is strongly influenced by the socio-economic conditions of the family. This analysis discusses how disparities in malnourished children in Indonesia are seen from the socioeconomic dimensions of the household. The analysis was done by using Riskesdas 2013 data that was processed by using the HEAT (Health Equity Assessment Toolkit) program issued by WHO 2016. From the analysis, the prevalence of underweight, stunting and wasting simultaneously CIAF (Composite Index of Anthropometric Failure) was 2.5%. The lower the economy the higher the prevalence of underfive children experiencing CIAF, under-fives with CIAF mostly live in rural areas compared to CIAF children under five living in urban areas. There are still 15 provinces that have a CIAF prevalence higher than the national figure. CIAF toddlers are more prevalent in mothers with lower level education compared to mothers who have a fairly good level of education. CIAF toddlers occur more common at age over 36 months from the age under 36 months. The provincial dimension gives the highest disparity compared to other dimensions. Abstrak Kurang gizi mempunyai peran tidak hanya terhadap bertambahnya angka kesakitan dan kematian, tetapi juga terganggunya aspek psikososial dan perkembangan intelektual. Tiga kriteria kurang gizi yaitu underweight (berat kurang), stunting (pendek), dan wasting (kurus), mencerminkan kegagalan pertumbuhan baik di masa lalu maupun dimasa kini. Kegagalan pertumbuhan pada balita yang terjadi bersamaan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga. Analisis ini membahas bagaimana disparitas pada anak kurang gizi di Indonesia dilihat dari dimensi sosial ekonomi rumah tangga. Analisis dilakukan dengan menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang diolah dengan menggunakan program Health Equity Assessment Toolkit (HEAT) yang dikeluarkan oleh WHO 2016. Dari analisis yang dilakukan prevalensi balita yang mengalami underweight, stunting, dan wasting secara bersamaan Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF) (sebesar 2,5%. Semakin rendah status ekonomi rumah tangga semakin tinggi prevalensi balita mengalami CIAF. Balita dengan CIAF lebih banyak tinggal di perdesaan dibandingkan dengan balita CIAF yang tinggal di perkotaan. Masih ada 15 provinsi yang memiliki prevalensi balita CIAF lebih tinggi dari angka nasional. Balita CIAF lebih banyak terjadi pada ibu dengan tingkat pendidikan rendah dibandingkan dengan ibu yang mempunyai tingkat pendidikan cukup baik. Balita CIAF lebih banyak terjadi pada usia diatas 36 bulan dari pada usia dibawah 36 bulan. Dimensi provinsi memberikan perbedaan disparitas yang paling tinggi dibandingkan dengan dimensi lainnya.
Pemberian Makanan dengan Frekuensi Sesuai dan Beragam Merupakan Salah Satu Kunci Status Gizi Normal pada Baduta yang Memiliki Riwayat BBLR di Kota Bogor (Studi Kualitatif di Kecamatan Bogor Tengah) Indri Yunita Suryaputri; Nurillah Amaliah; Bunga Christitha Rosha; Kencana Sari
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 3 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i3.233

Abstract

AbstractThe level of infant mortality and morbidity in Indonesia still high. The factor that is one of the causes of neonatal death is Low Birth Weight (LBW). Therefore, knowing the practices of early initiation breast feeding, exclusive breast feeding, and child feeding of children with normal nutritional status who had low birth weight history is very important. This research is a qualitative study part of growth and development cohort study held in Kota Bogor in 2017. In-depth interviews were conducted to 12 informants of mothers who have children with normal nutritional status (WAZ/WHZ) who at birth had a history of low birth weight. The results showed that most of the informants did not practice early breast-feeding initiation. However, the practice of feeding shows that the frequency of feeding to children tends to be in accordance with recommendation from the WHO. Promotion and education are very necessary to be done for mothers and families to support the success of initial breast feeding practices, exclusive breast-feeding appropriate and varied frequency for low birth weight children. AbstrakTingkat morbiditas dan mortalitas bayi di Indonesia masih tinggi. Faktor yang menjadi salah satu penyebab kematian neonatus ialah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Oleh karena itu, mengetahui praktik Inisasi Menyusui Dini (IMD) dan pemberian Air Susu Ibu (ASI) esklusif serta pola pemberian makan pada bayi di bawah dua tahun (baduta) dengan status gizi normal yang mempunyai riwayat BBLR sangatlah penting. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif bagian dari penelitian kohor tumbuh kembang anak (TKA) tahun 2017 di Kota Bogor. Penelitian dilakukan dengan cara wawancara mendalam terhadap 12 informan ibu yang memiliki anak baduta dengan status gizi normal (BB/U dan BB/TB) yang pada saat lahir mempunyai riwayat berat badan lahir rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan tidak melakukan IMD. Namun pada praktik pemberian makanan memperlihatkan bahwa frekuensi pemberian makan kepada anak cenderung sesuai dengan anjuran dari WHO. Promosi dan edukasi amat perlu dilakukan pada ibu dan keluarga untuk mendukung keberhasilan praktik IMD, pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan dengan frekuensi sesuai dan beragam pada anak BBLR.