cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 467 Documents
Kajian Tumbuhan Obat yang Banyak Digunakan untuk Aprodisiaka oleh Beberapa Etnis Indonesia Fauzi Fauzi; Harto Widodo; Sari Haryanti
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 29 No 1 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v29i1.466

Abstract

Abstract Sexual disorders in men can cause depression, stress, unable to have children so thatit disrupts family harmony. To overcome this problem, various ethnic groups from generation to generation utilize the plants around them. Any substance that arousing sexual desire or libido is known as aphrodisiac. This article aims to find out the types of plants and plants that are often used by various ethnic groups in Indonesia for aphrodisiacs. Data were obtained from Data Management Laboratory of NIHRD Republic of Indonesia. The method was carried out through literature review with searches from various references and analysis of data from community-based ethnomedicine and medicinal plant sexploration activities in Indonesiain 2012, 2015, and 2017. Based on data analysis, it was identified 204 types of plants used for aphrodisiacs included in 78 families. There are five families of plants that are widely used, namely Zingiberaceae, Euphorbiaceae, Arecaceae, Fabaceae, and Rubiaceae. The type of plant that is often used isImperata cylindrica (L.) Raeusch. (19 ethnicities), Zingiber officinale Roscoe. (used in 17 ethnicities) Areca catechu L. (14 ethnicitiies), Eurycoma longifolia Jack. (10 ethnicities), and Piper nigrum L. (9 ethnicities). Based on literature studies, plants that have been carried out pre-clinical testing as aphrodisiacs are Zingiber officinale Roscoe., Eurycoma longifolia Jack, and Piper nigrum Abstrak Gangguan seksual pada pria dapat menyebabkan depresi, stres, dan tidak dapat memiliki keturunan sehingga mengganggu keharmonisan rumah tangga. Untuk mengatasai masalah tersebut, berbagai etnis di Indonesia secara turun temurun memanfaatkan tumbuhan di sekitar mereka. Suatu bahan yang memiliki efek membangkitkan gairah seksual atau libido dikenal dengan sebutan aprodisiaka. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui golongan famili dan jenis tumbuhan yang sering digunakan berbagai etnis di Indonesia untuk aprodisiaka. Data diperoleh dari Laboratorium Manajeman Data, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI. Metode dilakukan melalui tinjauan literatur dengan penelusuran dari berbagai referensi dan analisis data hasil kegiatan eksplorasi pengetahuan lokal etnomedisin dan tumbuhan obat berbasis komunitas di Indonesia yang dilaksanakan pada tahun 2012, 2015, dan 2017. Berdasarkan analisis data, teridentifikasi 204 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan untuk aprodisiaka yang termasuk ke dalam 78 famili. Terdapat lima famili tumbuhan yang banyak digunakan, yaitu Zingiberaceae, Euphorbiaceae, Arecaceae, Fabaceae, dan Rubiaceae. Jenis tumbuhan yang sering digunakan adalah Imperata cylindrica (L.) Raeusch. (digunakan oleh 19 etnis), Zingiber officinale Roscoe. (17 etnis), Areca catechu L.(14 etnis), Eurycoma longifolia Jack. (10 etnis), dan Piper nigrum L. (9 etnis). Berdasarkan studi literatur, tumbuhan yang sudah dilakukan uji praklinik sebagai aprodisiaka adalah Zingiber officinale Roscoe, Eurycoma longifolia Jack, dan Piper nigrum L.
Analisis Faktor-Faktor Risiko terhadap Kejadian Stunting pada Balita (0-59 Bulan) di Negara Berkembang dan Asia Tenggara Gladys Apriluana; Sandra Fikawati
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 4 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i4.472

Abstract

Stunting is a disorder of linear growth caused by chronic malnutrition. The short stature of under-fives is the cause of 2.2 million of all cause of under-five mortality worldwide. The purpose of this literature review was to analyze the effects of determinant risk factors on the incidence of stunting in children under-fives. The design of this study was a literature review. The articles selected were articles of correlation research using cross-sectional studies. The respondents were children with stunting aged 0-59 months. Inclusion criteria to select articles were studies on children with stunting, age 0-59 months, developing countries (including Southeast Asia), had growth chart, still had complete parents. The search process to exclude the articles used for this literature review using the PRISMA method.The results showed that nutritional status factors with birth weight <2,500 gram had a significant effect on the incidence of stunting in children and a risk of stunting of 3.82 times. Maternal education factors have a significant effect on the incidence stunting in children and have a risk of experiencing stunting 1.67 times. Low household income factors were identified as significant predictors of stunting in children under five by 2.1 times. Poor sanitation factors have a significant effect on the incidence of stunting in infants and have a risk of experiencing stunting by 5.0 times. The conclusion of this study is the lower birth weight (LBW), the level of maternal education, household income, and the lack of hygiene sanitation of the house, so the risk of a toddler being stunting is greater. Abstrak Stunting adalah gangguan pertumbuhan linier yang disebabkan kurang gizi yang berlangsung kronis. Keadaan gizi balita pendek menjadi penyebab 2,2 juta dari seluruh penyebab kematian balita di seluruh dunia. Tujuan dari review literatur ini adalah menganalisa efek dari faktor-faktor risiko determinan terhadap kejadian stunting pada balita. Desain penelitian ini adalah literature review. Artikel-artikel yang dipilih dengan search engine adalah artikel correlation research yang menggunakan study cross-sectional dengan respondennya adalah anak dengan stunting usia 0-59 bulan. Kriteria inklusi artikel yang dipilih adalah anak dengan stunting, berusia 0-59 bulan, wilayah negara berkembang (termasuk wilayah Asia Tenggara), memiliki KMS, masih memiliki orang tua lengkap. Proses pencarian hingga pengeksklusian artikel-artikel yang digunakan untuk review literatur ini menggunakan metode PRISMA. Hasil penelitian menunjukkan faktor status gizi dengan berat badan lahir < 2.500 gram memiliki pengaruh secara bermakna terhadap kejadian stunting pada anak dan memiliki risiko mengalami stunting sebesar 3,82 kali. Faktor pendidikan ibu rendah memiliki pengaruh secara bermakna terhadap kejadian stunting pada anak dan memiliki risiko mengalami stunting sebanyak 1,67 kali. Faktor pendapatan rumah tangga yang rendah diidentifikasi sebagai predictor signifikan untuk stunting pada balita sebesar 2,1 kali. Faktor sanitasi yang tidak baik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian stunting pada balita dan memiliki risiko mengalami stunting hingga sebesar 5,0 kali. Kesimpulan penelitian ini adalah semakin rendahnya berat badan lahir (BBLR), tingkat pendidikan ibu, pendapatan rumah tangga, dan kurangnya hygiene sanitasi rumah maka risiko balita menjadi stunting semakin besar.
Kajian Kebijakan tentang Informasi dan Pelayanan Obat yang Mendukung Pengobatan Sendiri di Masyarakat Sudibyo Supardi; Andy Leny Susyanti; Harimat Herdarwan
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 29 No 2 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v29i2.481

Abstract

Abstract Self-medication is the use of medicines by someone to treat pain complaints or self-recognizable symptoms and some chronic diseases that a doctor has diagnosed by. The purpose of the study is to obtain information about the problems and the role of pharmaceutical institutions in medicine information and services supporting self-medication in the community. The research design used a descriptive study in the form of policy studies and legislation related to medicine information and services in self-medication. Data sources are policies and legislation regarding medicine information and services regarding self-medication. The results of the study indicate: the problem of self-medication is there are no laws and regulations specifically regulate self-medication along with technical instructions on the role of each pharmaceutical institution. The problem with medicine information is that the central government program in providing medicine information has not been followed up by many district/ city health offices; people tend to buy medicines at retail in illegal medicine services facility, so they cannot read the information on the medicine packaging; and there are still many medicine advertisements in the mass media that have not provided objective and complete medicine information. The problem of medicine service policy is the lack of supervision, so that there are many illegal medicine service facilities in the community and lack of presence of pharmacy personnel in medicine information and services at pharmacies and drug stores. It is recommended that the Ministry of Health establish legislation and norms, standards, procedures and criteria for self-medication as a basis for government pharmaceutical institutions, private sector and professional organizations to support them. Abstrak Pengobatan sendiri adalah penggunaan obat oleh seseorang untuk mengobati keluhan sakit atau gejala yang dapat dikenali sendiri dan beberapa penyakit kronis yang pernah didiagnosis dokter. Tujuan kajian adalah mendapatkan informasi tentang permasalahan dan peran institusi farmasi dalam informasi obat dan pelayanan obat yang mendukung pengobatan sendiri di masyarakat. Rancangan penelitian menggunakan studi deskriptif berupa kajian kebijakan dan peraturan perundang-undangan terkait informasi obat dan pelayanan obat dalam pengobatan sendiri. Hasil kajian menunjukkan permasalahan pengobatan sendiri adalah belum ada peraturan perundangan yang khusus mengatur pengobatan sendiri beserta petunjuk teknis peran masing-masing institusi farmasi. Permasalahan dalam informasi obat adalah program pemerintah pusat dalam pemberian informasi obat belum ditindaklanjuti oleh semua Dinas Kesehatan kabupaten/kota; masyarakat cenderung membeli obat secara eceran di sarana pelayanan obat ilegal, sehingga tidak dapat membaca informasi pada kemasan obatnya; dan masih banyak iklan obat di media massa yang belum memberikan informasi obat yang objektif dan lengkap. Permasalahan dalam pelayanan obat adalah kurangnya pengawasan, sehingga banyaknya sarana pelayanan obat ilegal di masyarakat dan kurangnya kehadiran tenaga kefarmasian dalam informasi dan pelayanan obat di apotek dan toko obat. Disarankan agar Kementerian Kesehatan menetapkan peraturan perundangan-undangan dan norma, standar, prosedur, dan kriteria tentang pengobatan sendiri sebagai dasar bagi institusi farmasi pemerintah, swasta, dan organisasi profesi mendukungnya.
Hubungan Obesitas Sentral dengan Gangguan Mental Emosional pada Kelompok Usia Produktif Enung Nur Khotimah; Olwin Nainggolan
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 29 No 3 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v29i3.501

Abstract

Abstract Obesity is the buildup of fats in the body that makes body weight outside the ideal limit and is associated with several risks of morbidity and mortality. Central obesity is considered better for assessing the level of obesity compared to obesity using the Body Mass Index (BMI). Many studies show high levels of fat in the body are known to be related to poor mental health functions. The purpose of the study was to look at the relationship between central obesity with an emotional mental disorder in the 15–65-year productive age group using Riskesdas’s 2013 data. In this study, emotional mental disorder (GME) was obtained with the Self Reporting Questionnaire (SRQ) instrument. The results show a very significant relationship between central obesity with emotional mental disorder with risk magnitude OR 1.13 (P-value 0.00; 95%CI 1.09-1.19) after being controlled age variable, the region of residence, socioeconomic status, marital status, job status. Socioeconomic status is the most effective it has on the emotional mental disorder with OR 1.56 (P-value 0.00; 95%CI 1.49-1.65). The risk range of emotional mental disorders is affected not only by individual factors but also by other factors especially the social determinants in which individuals reside Abstrak Obesitas adalah penumpukan lemak dalam tubuh yang menyebabkan berat badan di luar batas ideal dan dikaitkan dengan beberapa risiko morbiditas dan mortalitas. Obesitas sentral dianggap lebih baik untuk menilai tingkat obesitas dibandingkan dengan obesitas menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Banyak penelitian menunjukkan kadar lemak yang tinggi dalam tubuh diketahui terkait dengan fungsi kesehatan mental yang buruk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara obesitas sentral dengan gangguan mental emosional pada kelompok usia produktif 15-65 tahun menggunakan data Riskesdas 2013. Dalam penelitian ini, gangguan mental emosional (GME) diperoleh dengan instrumen Self Reporting Questionnaire (SRQ). Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang sangat signifikan antara obesitas sentral dengan gangguan mental emosional dengan besarnya risiko OR 1,13 (nilai-P 0,00; 95% CI 1,09-1,19) setelah dikendalikan variabel umur, wilayah tempat tinggal, status sosial ekonomi, status perkawinan, dan pekerjaan status. Status sosial ekonomi adalah yang paling efektif pada gangguan mental emosional dengan OR 1,56 (P-value 0,00; 95% CI 1,49-1,65). Rentang risiko gangguan mental emosional dipengaruhi tidak hanya oleh faktor individu tetapi juga oleh faktor lain terutama faktor penentu sosial di mana individu berada.
Formulasi Krim Tabir Surya Ekstrak Etanol Daun Kersen (Muntingia calabura L.) untuk Kesehatan Kulit Anita Dwi Puspitasari; Dewi Andini Kunti Mulangsri; Herlina Herlina
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 4 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i4.524

Abstract

Sunlight has many health benefits, but high sun exposure can also cause skin problems ranging from redness, inflammation, and the worst is triggering the appearance of skin cancer. One way to protect the skin from the sun is by using a sunscreen. Kersen Leaf (Muntingia calabura L.) has a high total flavonoids and total phenolic so that it can be used as a natural active ingredient for making sunscreen creams. The purpose of this study was to formulate and evaluate sunscreen cream preparations with variations in the concentration of ethanol extract of Kersen Leaf Muntingia calabura L.) and to know the SPF value. Extract of kersen leaves (Muntingia calabura L.) using the maceration method with 70% ethanol. The extract was concentrated using a rotary evaporator. Four formulas were made with variations in the concentration of ethanol extract of kersen leaves. Formula 1 (cream base) without ethanolic extract of kersen leaves; formula 2 with ethanol extract of 1 gram kersen leaves; formula 3 with ethanol extract of 2 grams kersen leaves and formula 4 with ethanol extract of 3 grams kersen leaves. The four formulas were tested for physical, chemical and SPF values. Testing the SPF value using spectrophotometric method. For sticky power does not meet standard because it is less than 4 seconds. The Formula 1 SPF value is 0.1149; formula 2 is 7.6574 (extra protection); formula 3 is 13.7847 (maximum protection); and formula 4 is 19.0871 (ultra protection). The greater the concentration of ethanol extract of kersen leaves the greater the SPF value. From the results of the study, it was found that the four formulas fulfilled the requirements of physical and chemical characteristics, namely organoleptic, homogeneity, distribution, and viscosity, and had a significant SPF values, namely formula 2, 3 and 4. Abstrak Sinar matahari memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, namun paparan sinar matahari yang tinggi juga dapat menyebabkan masalah kulit mulai dari kemerahan, peradangan, dan yang paling buruk adalah memicu munculnya kanker kulit. Salah satu cara untuk melindungi kulit dari sinar matahari yaitu dengan menggunakan tabir surya. Daun kersen (Muntingia calabura L.) mempunyai kandungan flavonoid total dan fenolik total yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan aktif alami untuk pembuatan krim tabir surya. Tujuan penelitian ini untuk melakukan formulasi dan evaluasi sediaan krim tabir surya dengan variasi konsentrasi ekstrak etanol daun kersen (Muntingia calabura L.) serta mengetahui nilai SPF-nya. Ekstraksi daun kersen menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Ekstrak dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Dibuat empat formula dengan variasi konsentrasi ekstrak etanol daun kersen. Formula 1 (basis krim) tanpa ekstrak etanol daun kersen; formula 2 dengan ekstrak etanol daun kersen 1 gram; formula 3 dengan ekstrak etanol daun kersen 2 gram; dan formula 4 dengan ekstrak etanol daun kersen 3 gram. Keempat formula diuji karakteristik sifat fisika, kimia dan nilai SPFnya. Pengujian nilai SPF menggunakan metode spektrofotometri. Untuk daya lekat belum memenuhi standar karena kurang dari empat detik. Nilai SPF Formula 1 sebesar 0,1149; formula 2 sebesar 7,6574 (proteksi ekstra); formula 3 sebesar 13,7847 (proteksi maksimal); dan formula 4 sebesar 19,0871 (proteksi ultra). Semakin besar konsentrasi ekstrak etanol daun kersen semakin besar nilai SPF-nya. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa keempat formula memenuhi persyaratan karakteristik sifat fisika dan kimia yaitu organoleptis, homogenitas, daya sebar pH, dan viskositas, serta memiliki nilai SPF yang bermakna yaitu formula 2, 3, dan 4.
Pemberian Obat Massal Pencegah Filariasis di Desa Mbilur Pangadu Kabupaten Sumba Tengah Varry Lobo; Anderias Karniawan Bulu; Monika Noshirma
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 3 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i3.530

Abstract

AbstractFilariasis program in Indonesia is carried out through two main strategies, namely breaking the chain of transmission with mass drug administration in endemic areas and clinical case management. This research was aimed to assess the implementation of administration of filariasis preventive drugs in Mbilur Pangadu village, Central Sumba Regency. Mass drug administration in Central Sumba is the first program that has been carried out and has not been evaluated yet. The study was conducted with a descriptive survey method of Mbilur Pangadu Village population aged ≥ 13 years. The results showed that the majority of respondents who did not receive the drug were in all age groups (> 50%), sex male (64.7%), lack of knowledge about filariasis (85.8%) and distance of treatment posts difficult to reach (65.4%). Most respondents with high or low knowledge did not receive drugs (>50%), but they received the program well. Health activities have an impact of drug acceptance, which is 95.6%. The method of distribution and side effects of treatment does not affect the behavior of taking medication. Guidelines for the implementation of mass treatment must be known and can be carried out by all health workers to achieve the expected target. AbstrakProgram filariasis di Indonesia dilakukan melalui dua strategi utama, yaitu memutuskan rantai penularan dengan pemberian obat massal di daerah endemis dan penatalaksanaan kasus klinis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai pelaksanaan pemberian obat massal pencegah filariasis di Desa Mbilur Pangadu Kabupaten Sumba Tengah. Pemberian obat massal di Sumba Tengah adalah program yang pertama kali dilakukan dan belum pernah dievaluasi. Penelitian dilakukan dengan metode survei deskriptif pada seluruh penduduk Desa Mbilur Pangadu yang berumur ≥13 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang tidak menerima obat berada pada semua kelompok umur (> 50%), berjenis kelamin laki-laki (64,7%), pengetahuan kurang tentang filariasis (85,8%) dan jarak pos pengobatan sulit dijangkau (65,4%). Sebagian besar responden dengan pengetahuan tinggi maupun rendah tidak menerima obat (>50%), namun mereka menerima program dengan baik. Keaktifan petugas kesehatan sangat berdampak terhadap penerimaan obat yaitu 95,6%. Cara pendistribusian dan efek samping pengobatan tidak berdampak pada perilaku minum obat. Pedoman pelaksanaan pengobatan massal harus diketahui dan bisa dilaksanakan oleh seluruh petugas kesehatan agar mencapai terget yang diharapkan.
Pemanfaatan Tumbuhan Famili Fabaceae untuk Pengobatan Penyakit Liver oleh Pengobat Tradisional Berbagai Etnis di Indonesia Harto Widodo; Abdul Rohman; Sismindari Sismindari
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 29 No 1 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v29i1.538

Abstract

Abstract Liver disease is one of the leading causes of death globally. Recently, its prevalence and mortality rate continue to increase. It was reported that Indonesia’s hepatitis prevalence was 1.2% in 2013. Indonesia is the world second largest megabiodiversity country and inhabited by 1,068 ethnicities. Both are assets to explore medicinal plants as well as local knowledge to overcome various diseases. Ethnomedicine research by the National Institute of Health Research and Development (NIHRD) of Republic of Indonesia in year of 2012, 2015, and 2017 resulted in local etnopharmacology and medicinal plants in Indonesia. One important information is data on the use of medicinal plants for the treatment of liver disease by traditional healers from various ethnic groups in Indonesia. Analysis of the information set shows that the most widely used plant species for the treatment of liver disease by battra are included in Fabaceae family. Therefore, further studies of the literature regarding the use of empirical, compound content, therapeutic activities and pharmacology of plant species are used as support or even correction for their use in the treatment of liver disease. Various properties as antibiotics (against viruses, bacteria, parasites, fungi), anti-inflammation, antioxidants, hepatoprotectors, and immunomodulators support the use of these species for the treatment of liver disease. Further research is needed to provide basic data on its use in traditional medicine, obtain and develop new drug compounds, and reveal broader use, not to mention toxic and anti-nutritional compounds. This information is expected to be useful for those who are involved in the ethnobotany, botany, pharmacognosy, and pharmacology fields. Abstrak Penyakit liver termasuk salah satu penyakit yang menjadi penyebab kematian utama secara global, dengan angka kematian terus mengalami peningkatan. Hepatitis merupakan salah satu penyakit liver, prevalensi di Indonesia pada tahun 2013 mencapai 1,2%. Sebagai negara megabiodiversitas nomor dua di dunia yang dihuni oleh 1.068 etnis/suku bangsa, Indonesia kaya akan tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai penyakit. Riset etnomedisin oleh Badan Litbang Kesehatan RI pada tahun 2012, 2015, dan 2017 menghasilkan metadata pengetahuan lokal etnofarmakologi dan tumbuhan obat Indonesia. Salah satu informasi pentingnya yaitu data pemanfaatan tumbuhan obat untuk pengobatan penyakit liver oleh pengobat tradisional (battra) dari berbagai etnis di Indonesia. Analisis terhadap set informasi tersebut menunjukkan bahwa spesies tumbuhan paling banyak digunakan untuk pengobatan penyakit liver termasuk dalam famili Fabaceae. Oleh karena itu, dilakukan studi literatur mengenai pemanfaatan empiris, kandungan senyawa, aktivitas terapeutik dan farmakologi spesies-spesies tumbuhan tersebut sebagai dukungan atau bahkan koreksi terhadap pemanfaatannya untuk pengobatan penyakit liver. Berbagai khasiat sebagai antibiotik (terhadap virus, bakteri, parasit, jamur), anti-inflamasi, antioksidan, hepatoprotektor, dan imunomodulator menyokong pemanfaatan spesies tersebut untuk pengobatan penyakit liver. Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk memberikan data dasar penggunaannya dalam pengobatan tradisional, mendapat dan mengembangkan senyawa obat baru, serta mengungkap pemanfaatan yang lebih luas tak terkecuali pula terhadap senyawa toksik dan anti-nutrisi. Informasi ini diharapkan dapat bermanfaat bagi yang menggeluti bidang etnobotani, botani, farmakognosi, dan farmakologi.
Hubungan antara Pengetahuan Responden yang Pernah Menderita Hepatitis tentang Perilaku Penularan Hepatitis C dengan Antibodi Anti Hepatitis C (Titer Anti-HCV) di Indonesia Noer Endah Pracoyo; Wibowo Wibowo; Raflizar Raflizar; Felly Philipus Senewe
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 4 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i4.632

Abstract

Hepatitis C virus (HCV) is a viral disease that becomes the world’s second problem after hepatitis B virus disease. The prevalence of HCV 3% or about 130-170 million people in the world are infected with HCV. In most developed countries the prevalence is below 1%, but in Asian countries the prevalence is higher. The aim of this study was to find the relationship between hepatitis C immunity (anti-HCV titre) behavior from the Riskesdas 2007. Data was a cross-sectional study, by analyzing anti-HCV titre data and data on age, gender and behavioral variables (use of needles injections, use of razors, condom use and sexual behavior). The total number of respondents who were tested for antibodies was 20,648. The reseach was done in March – October 2014. The results of the study of behavioral variables (using a shared razor, using condoms during sex and changing partners) had no significant association with anti hepatitis C antibody titers, while the age variable and syringe use variables had a significant correlation with p = 0.001. The conclusion of this study was that there was no significant relationship between treatment (shared razor use, condom use and changing sex partners) between people who had hepatitis C and anti hepatitis C antibody titers. Abstrak Virus Hepatitis C (HCV) merupakan penyakit virus yang menjadi masalah kedua dunia setelah penyakit virus hepatitis B. Prevalensi HCV 3% atau sekitar 130-170 juta orang di dunia terinfeksi HCV. Di sebagian besar negara maju prevalensi di bawah 1%, tetapi di negara-negara Asia prevalensinya lebih tinggi. Tujuan dari penelitian ini untuk mencari hubungan antara pengetahuan responden tentang perilaku penularan hepatitis C dengan kekebalan hepatitis C (titer anti-HCV) dari data Riskesdas 2007. Desain penelitian cross-sectional, dengan menganalisis data titer anti-HCV dan data variabel umur, jenis kelamin dan variabel pengetahuan tentang perilaku (penggunaan jarum suntik, penggunaan pisau cukur, pemakaian kondom, dan perilaku seksual). Total responden yang diperiksa antibodi sebanyak 20.648. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Oktober 2014. Hasil penelitian variabel perilaku (penggunaan pisau cukur bersama, menggunakan kondom saat berhubungan seks dan berganti pasangan) tidak ada hubungan yang bermakna dengan titer antibodi anti hepatitis C, sedangkan variabel umur dan variabel penggunaan jarum suntik terdapat hubungan yang bermakna dengan nilai p=0,001. Kesimpulan penelitian ini tidak ada hubungan yang bermakna antara perilaku (penggunaan pisau cukur bersama sama, penggunaan kondom dan berganti ganti pasangan seks) antara orang-orang yang pernah menderita hepatitis C dengan titer antibodi anti hepatitis C.
Ekstrak Propolis Memperbaiki Profil Berat Badan Tikus Model Kanker Payudara yang Diinduksi dengan 7,12-dymethyilbenz(a) antracene (DMBA) Zauhani Kusnul; Suryono Suryono; Anas Tamsuri
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 29 No 2 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v29i2.640

Abstract

Abstract Body weight is a general indicator for assessing health status. Various diseases cause drastic weight loss, including cancer. Propolis is a bee product that has various therapeutic effects such as; anti-bacterial, antitumor, antioxidant and immunomodulatory. Propolis is also reported to be able to reduce digestive organ disorders, increase appetite and improve metabolic processes. Chemicals such as 7.12-dymethyilbenz (a) antracene (DMBA) are widely reported to have strong carcinogenic effects, especially in Sprague–Dawley rat. This study aims to assess the effect of propolis extract on the weight of Sprague–Dawley female rat induced with DMBA (7,12-dymethylbenz (a) antracene). Twenty-four female Sprague–Dawley rats 45-50 days old were induced by DMBA with a combination of injection and oral methods, as negative controls 6 Sprague–Dawley rats without DMBA induction. At the 11th week randomized negative control rats and DMBA treated rats were taken for histopathological examination of breast tissue. After it was found that rat with DMBA treatment were positive for breast cancer, in the 12th week the rat that had received DMBA treatment were divided into 4 groups, 3 groups received oral propolis extract through a gastric sonde with doses 50, 100 and 200 mg in 1 ml of corn oil, 1 group as a positive control did not get the treatment of propolis extract. Body weight is weighed before starting treatment and monitored every two weeks to 15 weeks. The results of weighing showed that the group of rat that received DMBA increased their body weight lower than the group without DMBA, and then the treatment group of propolis extract increased their body weight higher than the group without the treatment of propolis extract. The results showed that the treatment of propolis extract had a potency to improve the body weight profile of rat breast cancer model induced by DMBA. Abstrak Berat badan merupakan indikator umum untuk menilai status kesehatan. Berbagai penyakit menyebabkan penurunan berat badan yang drastis, diantaranya adalah kanker. Propolis merupakan produk lebah yang memiliki berbagai efek terapi seperti; anti bakteri, anti tumor, antioksidan dan imunomodulator. Propolis juga dilaporkan mampu menurunkan gangguan organ pencernaan, peningkatan nafsu makan, dan perbaikan proses metabolisme. Bahan kimia seperti 7,12-dymethyilbenz(a)antracene (DMBA) banyak dilaporkan memiliki efek karsinogenik yang kuat khususnya terhadap tikus Sprague–Dawley. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh pemberian ekstrak propolis terhadap berat badan tikus Sprague–Dawley betina yang diinduksi untuk mengalami kanker payudara dengan DMBA. Sebanyak 24 ekor tikus Sprague– Dawley betina berumur 45-50 hari diinduksi dengan DMBA dengan kombinasi metode injeksi dan oral, sebagai kontrol negatif 6 ekor tikus Sprague–Dawley tanpa induksi DMBA. Pada minggu ke-11 diambil secara acak tikus kontrol negatif dan tikus perlakuan DMBA untuk dilakukan pemeriksaan histolopatogi jaringan payudara. Setelah didapatkan bahwa tikus dengan perlakuan DMBA positif mengalami kanker payudara, pada minggu ke-12 tikus yang telah mendapat perlakuan DMBA dibagi menjadi 4 kelompok, 3 kelompok mendapat ekstrak propolis oral melalui sonde dengan dosis masing-masing 50, 100, dan 200 mg dalam 1 ml minyak jagung, 1 kelompok sebagai kontrol positif tidak mendapat perlakuan ekstrak propolis. Berat badan ditimbang sebelum mulai perlakuan dan dipantau tiap dua minggu sampai 15 minggu. Hasil penimbangan berat badan menunjukkan bahwa kelompok tikus yang mendapat DMBA peningkatan berat badannya lebih rendah dibanding kelompok tanpa DMBA, dan selanjutnya kelompok perlakuan ekstrak propolis kenaikan berat badannya lebih tinggi dibanding kelompok tanpa perlakuan ekstrak propolis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak propolis memiliki potensi memperbaiki profil berat badan tikus model kanker payudara yang diinduksi dengan DMBA.
Front Matter Media Vol 28 no 2
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 2 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i2.642

Abstract