cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 467 Documents
Indeks Entomologi dan Sebaran Vektor Demam Berdarah Dengue di Provinsi Maluku Utara Tahun 2015 Dian Perwitasari; Roy Nusa RES; Jusniar Ariati
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 4 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i4.242

Abstract

One effort in controlling the Aedes aegypti mosquito is to find out the breeding place. Until now it is known that the breeding sites of Aedes aegypti are found in urban areas, therefore the purpose of this study is to determine the potential for breeding of Aedes aegypti mosquito and entomology index in urban areas. The study was conducted in 2015 using a cross-sectional method. The results showed that the container with positively Aedes aegypti larvae was found in all three districts, Ternate at 29.6%, Tidore Kepulauan at 28.5% and East Halmahera at 29.0%. The entomology index of Container Index (CI) was (29.5%), House Index (HI) was 35.3% and Breteau Index (BI) was 69.2%, while larva free number was 64.7%. From the results of this study, it was concluded that Aedes aegypti larvae mostly found in bathtub inside the house. Tubs and plastic buckets were the type of container that were found with most positively larvae. The average ldengue vector arvae density based on CI, HI and BI (Aedes aegypti and Aedes albopictus) in the three districts / cities in North Maluku Province scale was 5-8 and included in the medium risk category. This showed that the entomology index in the North Maluku region was still low. Monitoring of the spread of mosquito breeding sites in all parts of Indonesia is still needed to reduce cases of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Abstrak Salah satu upaya dalam pengendalian nyamuk Aedes aegypti adalah dengan mengetahui tempat perkembangbiakannya. Hingga saat ini diketahui bahwa tempat perkembangbiakan Aedes aegypti banyak ditemukan di daerah perkotaan, oleh sebab itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dan indeks entomologi di daerah perkotaan. Penelitian dilakukan pada tahun 2015 dengan menggunakan metode potong lintang. Hasil menunjukkan bahwa kontainer dengan positif jentik Aedes aegypti ditemukan di ketiga kabupaten yaitu Ternate sebesar 29,6%, Tidore Kepulauan sebesar 28,5%, dan Halmahera Timur sebesar 29,0%. Indeks entomologi Container Index (CI) sebesar (29,5%), House Index (HI) sebesar 35,3% dan Breteau Index (BI) sebesar 69,2%, sedangkan Angka Bebas Jentik sebesar 64,7%. Dari hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa bak mandi yang berada di dalam rumah paling banyak ditemukan jentik Aedes aegypti. Jenis kontainer yang paling banyak ditemukan positif jentik yaitu pada bak mandi dan ember plastik. Rata-rata kepadatan jentik vektor dengue (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) berbasis CI, HI, dan BI di ketiga kabupaten/kota di Provinsi Maluku Utara skala 5-8 dan termasuk dalam kategori risiko sedang. Hal ini menunjukkan bahwa indeks entomologi di wilayah Maluku Utara masih rendah, sehingga masih diperlukan pemantauan sebaran tempat perkembangbiakan nyamuk di seluruh wilayah Indonesia untuk mengurangi kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
Hubungan Kejadian Karies Gigi dengan Konsumsi Air Minum pada Masyarakat di Indonesia Made Ayu Lely Suratri; Tince Arniati Jovina; Indirawati Tjahja Notohartojo
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 3 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i3.254

Abstract

AbstractThe prevalence of dental caries in Indonesia is quite high, the results of the 2013 Basic Health Research (Riskesdas) population in Indonesian with 25,9% problems with their teeth and mouth. The average dental caries measured by the DMF-T index was 4.6, which means that the average Indonesian population has experienced tooth decay as much as 5 teeth per person. Dental caries can occur due to low dental and oral hygiene, and less exposure to fluorida. The incidence of dental caries is also related to the fluorine content contained in drinking water. The purpose of the study was to determine the relationship between dental caries and drinking water consumption in Indonesia. This study is a non-intervention research with cross-sectional design conducted by the National Institute of Health Research and Development, Ministry of Health of the Republic of Indonesia through Riskesdas 2013. The study population was all Indonesians aged ≥ 12 years in 33 provinces, 497 districts/cities. Collecting Dental data is done by conducting interviews and oral and dental examinations. The results showed that almost all types of drinking water sources can cause dental caries except the type of drinking water from refill water, with p> 0,05 (p = 0,178) and retail tap water, with p> 0,05 (p = 0.307) and also almost all types of water sources that are widely used for household needs can cause dental caries except the type of water source from dug well is protected, with p> 0,05 (p = 0,979), where OR: 1,026 (CI 95 %: 0.979-1.076). The Conclusio is the incidence of dental caries has to do with at the drinking water except the type of drinking water from refill water. AbstrakPrevalensi karies gigi di Indonesia cukup tinggi, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 penduduk Indonesia yang bermasalah dengan gigi dan mulutnya sebesar 25,9%. Rata-rata karies gigi yang diukur dengan indeks DMF-T sebesar 4,6 yang berarti rata-rata penduduk Indonesia telah mengalami kerusakan gigi sebanyak 5 gigi per orang. Karies gigi dapat terjadinya karena rendahnya kebersihan gigi dan mulut, dan kurang terpaparnya dengan fluorida. Kejadian karies gigi berhubungan juga dengan kandungan fluor yang terdapat dalam air minum. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui hubungan antara kejadian karies gigi dengan konsumsi air minum masyarakat di Indonesia. Metode penelitian ini merupakan penelitian non intervensi dengan desain penelitian potong lintang yang dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Riskesdas Tahun 2013. Populasi penelitian adalah seluruh penduduk Indonesia yang berusia ≥ 12 tahun di 33 provinsi, 497 kabupaten/kota. Pengumpulan data gigi dilakukan dengan melakukan wawancara dan pemeriksaan gigi dan mulut. Hasil penelitian menunjukkan hampir semua jenis sumber air minum dapat menyebabkan terjadinya karies gigi kecuali jenis air minum dari air isi ulang, dengan nilai p>0,05 (p= 0,178) dan air ledeng eceran, dengan nilai p>0,05 (p= 0,307) dan juga hampir semua jenis sumber air yang banyak dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangga dapat menyebabkan terjadinya karies gigi kecuali jenis sumber air dari sumur gali terlindungi, dengan nilai p>0,05 (p= 0,979), dimana OR: 1,026 (CI 95%: 0,979-1,076). Kesimpulan penelitian menunjukkan kejadian karies gigi ada hubungannya dengan konsumsi air minum kecuali jenis air minum dari air isi ulang.
Deteksi Virus Penyebab Infeksi Saluran Pernafasan Akut di Rumah Sakit (Studi Pendahuluan dengan Uji Fast-Track® Diagnostik) Vivi Setiawaty; Maretra Anindya Puspaningrum; Arie Ardiansyah Nugraha; Daniel Joko Wahyono
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 4 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i4.257

Abstract

Abstract Acute respiratory infections (ARI) is the leading cause of morbidity and mortality in the world and Indonesia. Information on the virus that causes ARI is still limited. The aim of this study was to detect the virus that causes ARI hospitalized cases in three sentinel surveillance hospitals of severe ARI. Laboratory testing of 30 nasal and throat swab specimens from ARI hospitalized cases at Deli Serdang Hospital, Wonosari Hospital and Kanudjoso Djati Hospital during August - September 2016. Laboratory testing were carried out at the Virology Laboratory of the Center for Biomedical Research and Development and Basic Health Technology. This research is a preliminary study using Fast-Track Diagnostics multiplex Real-time RT-PCR to detect 21 viruses. The viruses that have been detected are Human Metapneumovirus (21.2%), Human Parainfluenza Virus 1 (12.1%), Influenza B (6.1%), Human Coronavirus-OC43 (6.1%), Human CoronavirusNL63 (6.1%), Human Parainfluenza Virus 2 (3.0%), Human Rhinovirus (3.0%), and Human Adenovirus (3.0%). Of the 17 samples that tested positive for viruses, 14 of them were single cases of infection while the other three were cases of co-infection between Human Coronavirus-NL63 and Human Parainfluenza Virus 1, Human Metapneumovirus with Human Coronavirus-OC43, and Human Adenovirus with Human Rhinovirus. The most detected virus from ARI hospitalized cases are the Human Metapneumovirus. Abstrak Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan penyakit menular yang menjadi penyebab utama 1 morbiditas dan mortalitas di dunia dan Indonesia. Informasi virus penyebab ISPA masih terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeteksi virus penyebab kasus ISPA rawat inap di tiga rumah sakit sentinel surveilans ISPA berat. Pemeriksaan pada 30 spesimen swab hidung dan tenggorok dari kasus ISPA rawat inap di RSUD Deli Serdang, RSUD Wonosari, dan RS Kanudjoso Djati selama bulan Agustus–September 2016. Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Virologi Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan menggunakan FastTrack Diagnostics multiplex Real-time RT-PCR untuk mendeteksi 21 virus. Virus-virus yang berhasil dideteksi adalah Human Metapneumovirus (21,2%). Human Parainfluenza Virus 1 (12,1%), Influenza B (6,1%), Human Coronavirus-OC43 (6,1%), Human Coronavirus-NL63 (6,1%), Human Parainfluenza Virus 2 (3,0%), Human Rhinovirus (3,0%), dan Human Adenovirus (3,0%). Dari 17 sampel yang dinyatakan positif mengandung virus, 14 diantaranya merupakan kasus infeksi tunggal sedangkan tiga lainnya merupakan kas us koinfeksi antara Human Coronavirus-NL63 dengan Human Parainfluenza Virus 1, Human Metapneumovirus dengan Human Coronavirus-OC43, dan Human Adenovirus dengan Human Rhinovirus. Virus yang paling banyak terdeteksi dari spesimen kasus ISPA rawat inap adalah Human Metapneumovirus.
Kemandirian dan Ketersediaan Obat Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN): Kebijakan, Harga, dan Produksi Obat Raharni Raharni; Sudibyo Supardi; Ida Diana Sari
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 4 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i4.269

Abstract

National Health Insurance (JKN) is a guarantee program that provides health protection to participants to obtain health care benefits and protection in meeting the basic health needs provided to everyone who pays contributions or whose contributions are paid by the government. Health insurance coverage includes promotive, preventive, curative and rehabilitative including medicines and medical devices. Since the enactment of JKN on 1 January 2014, the demand for generic drugs has greatly increased. JKN drug independence is needed in terms of drug availability, access and affordability of JKN drug.The aimed of this research is to find out the independence and availability of drugs in the JKN era. The study design was cross sectional by conducting interviews, Round Table Discussion, and tracking secondary data documents.The results of this study obtained government policies related to JKN drug price, especially generic drugs, have not fully considered the interest of community and the interest of the pharmaceutical industry, as well as drug price control policies to ensure the availability of drugs both in number and type in the JKN era, especially generic drugs that have not been optimally accessed by the public.The government needs to encourage the independence of JKN drugs, especially generic drugs that have not been fulfilled, with the development of domestic production of medicinal raw materials to support JKN, which is currently mostly imported and the price of imported raw materials continue to rise.The priority of production of medicinal raw materials based on local extractive and fermentative. Abstrak Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), merupakan program jaminan yang memberikan perlindungan kesehatan kepada peserta untuk memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang membayar iuran atau yang iurannya dibayar oleh pemerintah. Jaminan pelayanan kesehatan meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, termasuk obat dan alat kesehatan. Sejak diberlakukannya JKN pada 1 Januari 2014, permintaan obat generik sangat meningkat pesat. Kemandirian obat JKN diperlukan dalam hal ketersediaan obat, akses, dan keterjangkauan obat JKN. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemandirian dan ketersediaan obat era JKN. Desain penelitian adalah cross sectional, dengan melakukan wawancara, round table discussion, dan penelusuran dokumen data sekunder. Hasil penelitian diperoleh kebijakan pemerintah terkait harga obat JKN khususnya obat generik, belum sepenuhnya mempertimbangkan kepentingan masyarakat dan kepentingan industri farmasi,serta kebijakan pengendalian harga obat untuk menjamin ketersediaan obat baik jumlah dan jenisnya di era JKN, khususnya obat generik, belum optimal diakses oleh masyarakat. Pemerintah perlu mendorong kemandirian obat JKN khususnya obat generik yang belum terpenuhi, dengan pengembangan produksi bahan baku obat dalam negeri untuk mendukung JKN, yang saat ini sebagian besar masih impor dan harga bahan baku impor yang terus naik. Prioritas produksi bahan baku obat yaitu berbasis sumber daya lokal, ekstraktif, dan fermentatif
Karakteristik Pasien Demam Berdarah Dengue pada Instalasi Rawat Inap RSUD Kota Prabumulih Periode Januari–Mei 2016 Rika Mayasari; Hotnida Sitorus; Milana Salim; Surakhmi Oktavia; Yanelza Supranelfy; Tri Wurisastuti
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 29 No 1 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v29i1.271

Abstract

Abstract Dengue hemorrhagic fever is an acute epidemic disease that requires a good and complete clinical examination accompanied by an accurate laboratory examination if clinical symptoms are inadequate. The delays in diagnosis results in an increased risk of death. Hospital facilities and health workers are very influential in the recovery of patients with dengue fever. . This scientific paper presents the characteristics of patients (gender, age, temperature, leukocytes, hematocrit, platelets, hemoglobin) in patient of dengue fever in Prabumulih City Hospital. Data analysis was performed on medical record data of patients with dengue fever who were hospitalized in January-May 2016 at Prabumulih City Hospital. This type of research is descriptive analytic with retrospective design. The data discussed is the result of observing the patient’s clinical condition from the first day to the eighth day. The majority of DHF patients are female with the most age groups at 0-4 years. The body temperature of the highest DHF patients on day 1 was 39.80 C and on the eighth day showed a normal temperature of 36.50 C. The lowest hematological value on day 1 was leukocytes of 1,600 cells/mm3 , hematocrit was 27.9%, platelets were 8,000 cells / mm3 , hemoglobin 9.4 gram / dL. The lowest hematological value on the last six days of treatment is 5,600 cell / mm3 leukocytes, 27.9% hematocrit, 74,000 cell / mm3 platelets, 9.7 gram/dL hemoglobin. Hematological values for normal leukocytes and platelets while platelets and hemoglobin did not approach normal values. Abstrak Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit epidemik akut yang memerlukan pemeriksaan klinis yang baik dan lengkap disertai pemeriksaan laboratorium yang akurat jika gejala klinis tidak memadai. Keterlambatan dalam diagnosis mengakibatkan peningkatan risiko kematian. Fasilitas rumah sakit dan tenaga kesehatan sangat berpengaruh dalam kesembuhan pasien demam berdarah. Naskah ilmiah ini menyajikan karakteristik pasien (jenis kelamin, umur, suhu, leukosit, hematokrit, trombosit, dan hemoglobin) rawat inap demam berdarah di RSUD Kota Prabumulih. Analisa data dilakukan terhadap data rekam medis pasien demam berdarah yang rawat inap bulan Januari-Mei 2016 di RSUD Kota Prabumulih. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan desain retrospektif. Data yang dibahas adalah hasil pengamatan keadaan klinis pasien mulai pada hari pertama hingga hari ke delapan. Mayoritas pasien DBD berjenis kelamin perempuan dengan kelompok umur terbanyak pada 0-4 tahun. Suhu tubuh pasien DBD tertinggi pada hari ke 1 adalah 39,80 C dan pada hari ke delapan menunjukkan suhu normal yaitu 36,50 C. Nilai hematologi terendah pada hari ke 1 yaitu leukosit sebesar 1.600 sel/mm3 , hematokrit 27,9%, trombosit 8.000 sel/mm3 , hemoglobin 9,4 gram/dL. Nilai hematologi terendah pada hari ke enam terakhir perawatan yaitu leukosit 5.600 sel/mm3 , hematokrit 27,9%, trombosit 74.000 sel/mm3 , hemoglobin 9,7 gram/dL. Nilai hematologi untuk leukosit dan trombosit normal sedangkan trombosit dan hemoglobin tidak mendekati nilai normal.
Penentuan Nyamuk Anopheles spp sebagai Vektor Filariasis di Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur Ni Wayan Dewi Adnyana; Hanani M . Laumalay; Mefi Mariana Tallan
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 29 No 2 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v29i2.281

Abstract

Abstract Filariasis is one of the neglected vector diseases and is still a problem in Indonesia. Reported from two districts in NTT Province, namely in East Sumba Regency there were 22 chronic cases and in Southwest Sumba Regency, the finger blood survey results in 2013 had an mf rate of 4.2%. The purpose of this study was to determine which Anopheles species act as vectors and obtain bionomic information from these vector species. Using the Human landing collection method, thoracic surgery and mosquito probosis. In addition, a larval breeding habitat survey was also carried out and measurements of the physical state of the Anopheles larvae breeding environment in the study area. The results of the study were obtained by An mosquitoes. vagus positively contains stage 3 filaria larvae in East Sumba Regency while in Southwest Sumba is An. sundaicus. Biting density per person per night (MBR) An. vagus of 2.8 individuals / person while the bite density of An sundaicus is 3 individuals / person. Biting and resting behavior of these two species tended to be exophagic with two peaks of biting density namely midnight and early morning. An Larva. vagus is found in buffalo and rice fields while An larvae. sundaicus is found in swamps, wells, puddles and stalls. The physical environmental factors of each habitat of the two species are generally the same, namely temperatures ranging from 26-28 0C, pH 6-8, water tends to be quiet and all habitats exposed to direct sunlight. The difference in the physical environmental factors of the habitat of these two species is only in the concentration of water salinity, which is all An habitat. vagus is 0 ‰ while An. sundaicus ranges from 3-5 ‰ Abstrak Filariasis merupakan salah satu penyakit tular vektor yang pernah terabaikan dan hingga kini masih menjadi masalah di Indonesia. Dilaporkan dari dua kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yaitu di Kabupaten Sumba Timur terdapat 22 kasus kronis dan di Kabupaten Sumba Barat Daya, hasil survei darah jari pada tahun 2013 didapatkan mf rate sebesar 4,2%. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan spesies Anopheles apa yang berperan sebagai vektor serta mendapatkan informasi bionomik dari spesies vektor tersebut. Menggunakan metode Human landing collection, pembedahan toraks dan probosis nyamuk Selain itu juga dilakukan survei habitat perkembangbiakan larva serta pengukuran keadaan fisik lingkungan habitat perkembangbiakan larva Anopheles di wilayah penelitian. Hasil penelitian diperoleh nyamuk An. vagus positif mengandung larva stadium 3 filaria di Kabupaten Sumba Timur sedangkan di Sumba Barat Daya adalah An. sundaicus. Kepadatan mengigit per orang per malam (MBR) An. vagus sebesar 2,8 ekor/orang sedangkan kepadatan menggigit An. sundaicus sebesar 3 ekor/orang. Perilaku mengigit dan istirahat kedua spesies ini cenderung eksofagik dengan dua puncak kepadatan mengigit yaitu tengah malam dan menjelang pagi. Larva An. vagus ditemukan pada kubangan kerbau dan sawah sedangkan larva An. sundaicus ditemukan di rawa, sumur, genangan dan kobakan. Faktor fisik lingkungan masingmasing habitat kedua spesies tersebut pada umumnya sama yaitu suhu berkisar 26-28 C, pH 6-8, air cenderung diam dan semua habitat terpapar matahari langsung. Perbedaan faktor fisik lingkungan habitat kedua spesies ini adalah hanya pada konsentrasi salinitas air yaitu semua habitat An. vagus adalah 0 ‰ sedangkan An. sundaicus berkisar 3-5‰.
Gambaran Peran Apoteker sebagai Konselor dalam Pengobatan HIV-AIDS pada Ibu dan Anak Rini Sasanti Handayani; Yuyun Yuniar; Andi Leny Susyanty; Heny Lestary; Sugiharti Sugiharti
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 4 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i4.329

Abstract

Ministry of Health estimates there are 9,000 pregnant women HIV positive who give birth every year in Indonesia. HIV-positive pregnant women must get Anti Retroviral treatment with a minimum level adherence to the use of anti-retroviral drugs of 90 - 95% drug to get a response to suppresing the virus by 85% . Physiological changes during pregnancy and breastfeeding can affects the drug kinetics in pregnant and lactating women. In children, non-compliance can be caused by saturation, limited drug preparation for children, side effects and other diseases that accompany it. In this article, we will analyze the extent to which pharmacists act as counselors for HIV-AIDS treatment for mothers and children. Data were taken from 2 qualitative studies, namely Implementation Study of Prevention of mother-to-child transmission (PMTCT) Program at HIV-AIDS Referral Hospital in West Java Province in 2014 and Study on Access of HIV-AIDS and Opportunistic Infection Treatment for Children in Ten Districts of Indonesia in 2015. Data collection was carried out by in-depth interviews with pharmacists and doctors who handled pregnant women and children with HIV-AIDS. Data were analyzed using triangulation and content analysis method. The results showed that pharmacists had not been involved as drug counselors and support from the management of the hospitals did not yet exist, so the pharmacist could not yet as a counselor as a form of pharmaceutical services according to standards set by the government Therefore, the role of pharmacist as counselor needs to be improved, because the success of the treatment is highly dependent on the successful collaboration of doctors, nurses, and pharmacists. In order for the pharmacists play a role, it is necessary to get training on HIV-AIDS treatment. In addition, the government needs to advocate for hospital management to facilitate the pharmacist’s counseling as form of counselor. Abstrak Kementerian Kesehatan memperkirakan terdapat 9.000 ibu hamil HIV positif yang melahirkan di Indonesia setiap tahun. Ibu hamil dengan HIV positif harus mendapatkan pengobatan anti retroviral dengan minimal tingkat kepatuhan penggunaan obat Anti Retroviral sebesar 90 - 95% untuk mendapatkan respon penekanan jumlah virus sebesar 85%. Perubahan fisiologi selama kehamilan dan menyusui dapat berpengaruh terhadap kinetika obat pada ibu hamil dan menyusui. Pada anak, ketidakpatuhan dapat disebabkan karena jenuh, sediaan obat untuk anak yang terbatas, efek samping, dan penyakit lain yang menyertai. Pada artikel ini dianalisis sejauh mana apoteker berperan sebagai konselor pengobatan HIVAIDS pada ibu dan anak. Data diambil dari dua penelitian kualitatif yaitu penelitian Studi Implementasi Layanan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) pada Rumah Sakit Rujukan HIV-AIDS di Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 dan Penelitian Akses Pengobatan HIV/AIDS dan Infeksi Oportunistik pada Anak di Sepuluh Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun 2015. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dengan apoteker dan dokter yang menangani ibu hamil dan anak dengan HIVAIDS. Analisis data dengan tri angulasi dan analisis konten. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa apoteker belum dilibatkan sebagai konselor obat dan dukungan dari pihak manajemen RS belum ada, sehingga apoteker belum dapat berperan sebagai konselor sebagai salah satu bentuk pelayanan kefarmasian sesuai standar yang telah ditetapkan pemerintah. Oleh karena itu peran apoteker sebagai konselor perlu ditingkatkan karena keberhasilan pengobatan sangat tergantung keberhasilan kolaborasi dokter, perawat,dan apoteker. Agar apoteker dapat lebih berperan maka perlu mendapatkan pelatihan tentang pengobatan HIV-AIDS. Selain itu pemerintah perlu melakukan advokasi kepada manajemen RS untuk memfasilitasi apoteker melakukan konseling sebagai bentuk konselor.
Pengembangan Modul Konseling Alat Kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) bagi Bidan Ferina Ferina; Benny Hasan Purwara; Elsa Pudji Setiawati; Hadi Susiarno; Muniroh Abdurrahman; Hadyana Sukandar
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 29 No 1 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v29i1.384

Abstract

Abstract The participation of IUD contraception has not reached a satisfactory rate. The factor that caused this because acceptors did not receive side-effects, fears of sexual intercourse disorders and the risk of malignancy. Lack of information through counseling causes this problems. It caused the ability of midwives to do counseling is still low. The counseling guide available on the form of Family Planning Decision Making Tools (ABPK) with the form of structured counseling has not been able to encourage midwives to conduct counseling properly. Too many ABPK sheets make it difficult for midwives to apply counseling practices. The aim of this study was to develop a IUD counseling module. The research design used was exploratory qualitative with a narrative approach. Samples were selected by purposive sampling, consisting of two counseling experts, three obstetricians experts, three experts from midwifery person from an Indonesian language expert, eight midwives practitioners and eight women of reproductive age. Data was collected by in-depth interviews of experts. Data were processed through the stages of transcription, reduction, coding, categorization to form a theme. The theme obtained was then developed into a draft module with a narrative literature review approach to produce a draft module for IUD counseling. The validity test of qualitative data was carried out by triangulation through midwife group discussions, discussion groups of fertile age women, and expert judgement in April to July 2017. The results of this study are a prototype of the IUD counseling module that can be applied as a guide for midwives because this module does not only contain how the technique of counseling, what will be conveyed in counseling and what distinguishes it from the previous module, in this module there is preparation that strengthens an important midwife to carry out counseling. Abstrak Keikutsertaan kontrasepsi Alat Kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) hingga saat ini belum memuaskan. Faktor yang menyebabkan diantaranya akseptor tidak menerima efek samping, khawatir gangguan hubungan seksual, dan risiko keganasan. Informasi melalui konseling yang kurang berkualitas menyebabkan masalah tersebut. Hal ini terjadi karena kemampuan bidan melakukan konseling masih rendah. Panduan konseling berupa Alat Bantu Pengambilan Keputusan ber-KB (ABPK) dengan bentuk konseling terstrukur belum mampu mendorong bidan melakukan konseling dengan baik. Lembar ABPK yang terlalu banyak menyulitkan bidan untuk konseling. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan modul konseling AKDR. Desain penelitian ini adalah exploratory qualitative dengan pendekatan naratif. Sampel dipilih dengan purposive sampling, terdiri dari 2 pakar konseling, 3 pakar Keluarga Berencana (KB)-dokter spesialis obstetri dan ginekologi, 3 pakar bidan, 1 pakar bahasa Indonesia, 8 praktisi bidan dan 8 Wanita Usia Subur (WUS). Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam untuk mendapatkan penjelasan yang memadai dari pakar. Data diolah melalui tahap transkripsi, reduksi, koding, kategorisasi hingga terbentuk tema. Tema yang diperoleh kemudian dikembangkan menjadi draf modul dengan pendekatan narrative literature review hingga dihasilkan draf modul konseling AKDR. Uji keabsahan data kualitatif dilakukan dengan triangulasi melalui diskusi kelompok bidan, diskusi kelompok WUS, dan expert judgement pada bulan April-Juli 2017. Hasil penelitian ini berupa prototipe modul konseling AKDR yang dapat diterapkan untuk menjadi panduan bagi bidan karena modul ini tidak hanya berisi bagaimana teknik konseling, informasi yang disampaikan dalam konseling dan yang membedakan dengan modul sebelumnya, dalam modul ini terdapat persiapan yang menguatkan seorang bidan penting melaksanakan konseling.
Pelaksanaan Registrasi Kematian dan Penyebab Kematian di Kota Ambon Tahun 2014 Eva Sulistiowati; Kartika Handayani
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 29 No 1 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v29i1.394

Abstract

Abstract The registration system of death and cause of death as part of a good Civil Registration and Vital Statistics System (CRVS) form the basis for planning, monitoring and evaluating development programs. Ambon City as one of the development areas for recording death and causes of death since 2010 shows results that are still under-estimated (below 7 permill). Evaluation of the implementation process is needed to find out the obstacles. The qualitative methods include in-depth interviews, Focus Group Discussion (FGD) and collecting secondary data as supporting data. The analysis is part of the Comprehensive Evaluation Study on the Development of the Death Registration System and the Causes of Death in 14 districts/cities in Indonesia in 2014, carried out by triangulation and thematically compiled. The results obtained that the system of birth and death registration in the city of Ambon is already well-organized: there are regional regulations regarding the administration of population administration even though they have not included information on causes of death; the difference in vital registration data from various agencies; limited human resources, funds, facilities and infrastructure; and public awareness to report births/deaths still low. To increase the coverage of death registration and causes of death, it is necessary: local government regulations that include the cause of death; formation of joint committees and “one data” vital statistics; Autopsy Verbal (AV) workshop/training; utilization of funds from the Regional Revenue and Expenditure Budget and Health Operational Costs optimally; cooperation with community leaders (Muhabet) and socialization to the community. Abstrak Sistem registrasi kematian dan penyebab kematian sebagai bagian dari Sistem Registrasi Sipil dan Statistik Vital (Civil Registrations and Vital Statistics/CRVS) yang baik menjadi dasar untuk perencanaan, monitoring, dan evaluasi program pembangunan. Kota Ambon sebagai salah satu daerah pengembangan kegiatan pencatatan kematian dan penyebab kematian sejak tahun 2010, menunjukkan hasil yang masih under estimate (dibawah 7 permil). Evaluasi proses pelaksanaan diperlukan untuk mengetahui kendala yang dihadapi. Metode yang digunakan kualitatif meliputi wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD) dan mengumpulkan data sekunder sebagai data pendukung. Analisis merupakan bagian dari Studi Evaluasi Menyeluruh Pengembangan Sistem Registrasi Kematian dan Penyebab Kematian di 14 kabupaten/kota di Indonesia Tahun 2014, dilakukan dengan triangulasi dan disusun secara tematik. Hasil yang diperoleh bahwa sistem pencatatan kelahiran dan kematian di Kota Ambon sudah tersistem dan tertata cukup baik, ada peraturan daerah tentang penyelenggaraan administrasi kependudukan walaupun belum mencakup keterangan penyebab kematian; adanya perbedaan data registrasi vital dari berbagai instansi; keterbatasan sumber daya manusia, dana, sarana prasarana; serta kesadaran masyarakat untuk melaporkan kejadian kelahiran/kematian yang masih rendah. Untuk meningkatkan cakupan registrasi kematian dan penyebab kematian, diperlukan: regulasi pemerintah daerah yang menyertakan penyebab kematian; pembentukan komite bersama dan “one data” statistik vital; workshop/pelatihan Autopsy Verbal (AV); pemanfaatan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Biaya Operasional Kesehatan (BOK) secara optimal; kerjasama dengan tokoh masyarakat (Muhabet), dan sosialisasi kepada masyarakat.
Determinan Kejadian Kanker Serviks di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Provinsi Aceh Faradilla Safitri; Nuzulul Rahmi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 29 No 1 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v29i1.437

Abstract

Abstract Cervical cancer is one of the problem for women around the world. The incidence of cervical cancer in dr. Zainoel Abidin Regional General Hospital in 2015 was 54 cases, in 2016 there were 272 cases and in 2017 there were 80 cases. The purpose of this study is to analyze the causes of cervical cancer in General Hospital General Hospital of dr. Zainoel Abidin Aceh Province. This type of research is analytic survey using case-control design, the number of samples is taken based on the calculation of Lemeshow formula by calculating the minimum number of samples from the results of other people’s research, so that there are 21 cases, then the researchers make sample comparisons (1:2) 21 cases and 42 controls and sampling methods with accidental sampling. Collecting data on 7 June - 4 July 2018. The research instrument used a questionnaire. Data analysis in the form of univariate, bivariate and multivariate. The results bivariate analysis between age (p = 0.705, OR = 1.900), education (p = 0.655, OR = 1.467), occupation (p = 1.000, OR = 0.881), parity (p = 0.003, OR = 6.667), sexual behavior (p = 0.001, OR = 17.333), personal hygiene (p = 0.004, OR = 5.958), genetic (p = 0.005, OR = 10.000), oral contraceptives (p = 0.038, OR = 3.864). The results of dominant variables of multivariate analysis is sexual relations behavior with OR = 15.536. In conclusion there is a parity, sexual behavior, personal hygiene, genetics and oral contraception with cervical cancer incidence, while age, education and occupation are not related factors. Variable sexual relations behavior is the dominant factor in the incidence of cervical cancer. Abstrak Kanker serviks menjadi salah satu masalah kesehatan bagi perempuan di seluruh dunia. Angka kejadian kanker serviks di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Zainoel Abidin tahun 2015 sebanyak 54 kasus, tahun 2016 sebanyak 272 kasus dan tahun 2017 sebanyak 80 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab kejadian kanker serviks di RSUD dr. Zainoel Abidin, Provinsi Aceh. Metode penelitian ini bersifat analitik dengan desain kasus-kontrol, jumlah sampel diambil berdasarkan perhitungan rumus Lemeshow dengan melakukan perhitungan jumlah sampel minimal dari hasil penelitian orang lain, sehingga didapatlah jumlah sampel kasus sebanyak 21 orang, selanjutnya peneliti membuat perbandingan sampel (1:2) yaitu 21 kasus dan 42 kontrol dan cara pengambilan sampel dengan accidental sampling. Pengumpulan data tanggal 7 Juni–4 Juli 2018. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data berupa univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian analisis bivariat menunjukkan bahwa umur (p=0,705, OR=1,900), pendidikan (p=0,655, OR=1,467), pekerjaan (p=1,000, OR=0,881), paritas (p=0,003, OR=6,667), perilaku hubungan seksual (p=0,001, OR=17,333), personal hygiene (p=0,004, OR=5,958), genetik (p=0,005, OR=10,000), kontrasepsi oral (p=0,038, OR=3,864). Hasil analisis multivariat variabel yang dominan adalah perilaku hubungan seksual dengan OR=15,536. Kesimpulan menunjukkan ada hubungan paritas, perilaku hubungan seksual, personal hygiene, genetik dan kontrasepsi oral dengan kejadian kanker serviks, sedangkan umur, pendidikan, dan pekerjaan bukan faktor yang berhubungan. Variabel perilaku hubungan seksual merupakan faktor dominan kejadian kanker serviks.