cover
Contact Name
Putra Afriadi
Contact Email
putraafriadi12@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal_imaji@uny.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni
ISSN : 16930479     EISSN : 25800175     DOI : -
IMAJI is a journal containing the results of research/non-research studies related to arts and arts education, including fine arts and performing arts (dance, music, puppetry, and karawitan). IMAJI is published twice a year in April and October by the Faculty of Languages and Arts of Universitas Negeri Yogyakarta in cooperation with AP2SENI (Asosiasi Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik se-Indonesia/Association of Drama, Dance, and Music Education Study Programs in Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2017): IMAJI APRIL" : 11 Documents clear
PRODUK SENI NUSANTARA DALAM KONTEKS EKONOMI KREATIF Muh. Abdul Aziz
Imaji Vol 15, No 1 (2017): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.451 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i1.15686

Abstract

AbstrakEkonomi kreatif menjadi salah satu tulang punggung pertumbuhan perekonomian Negara. Kita dapat mengamati bahwa industri kreatif semakin aktif sehingga penyerapan tenaga kerja akan semakin tinggi dan dapat di pastikan pengangguran akan semakin berkurang. Terbukti pada tahun 2014 ekonomi kreatif berkontribusi sebesar 7,1% terhadap PDB nasional, mampu menyerap 12 juta tenaga kerja, serta memberikan kontribusi perolehan devisa negara sebesar 5,8%. Namun beberapa sub-sektor yang ada di dalam ekonomi kreatif, potensi di bidang seni (kriya, seni rupa, tari, dan musik) masih dirasa kurang maksimal. Artikel ini merupakan sebuah upaya menganalisis potensi seni di bidang ekonomi kreatif dalam memaksimalkan penjualan produk/jasa kesenian. Peneliti mencoba mengkaji potensi seni dengan menggunakan teori dari Philip Kotler, yaitu teori bauran pemasaran (marketing mix). Alat-alat bauran pemasaran (marketing mix) yang populer sering digunakan meliputi: produk (product), harga (price), saluran distribusi (place), dan promosi (promotion). Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan metode studi literatur.Kata kunci: produk seni, ekonomi kreatif, bauran pemasaran. NUSANTARA ART PRODUCTS IN THE CONTEXT OF CREATIVE ECONOMYAbstractCreative economy has become one of the backbones of the country’s economy growth. We can observe that the creative industries are increasingly active so the absorption of labor will be higher and can make sure that unemployment will be reduced. Proven in 2014 the creative economy account for 7.1% to GDP, able to absorb 12 million workforce, as well as foreign exchange earnings contributing countries amounted to 5.8%. However, some sub-sectors in the creative economy, the potential in the field of Arts (fine art, craft, dance, and music) are still considered insufficient. This article will analyze the potential of art in economics creative in maximizing the sales of your products/services. Researchers try to assess the potential of art by using the theory of Philip Kotler, i.e. the theory of marketing mix. The tools of marketing mix (the marketing mix) which is popular often used include: product (product), the price (price), the distribution channels (place), and promotion (promotion). This study used a descriptive-qualitative approach using methods of study of literature.Keywords: art product, creative economic, the marketing mix.
LUKISAN PRASEJARAH GUA LEANG-LEANG KABUPATEN MAROS, SULAWESI SELATAN: KAJIAN SIMBOL S. K. LANGER Muhammad Gazali
Imaji Vol 15, No 1 (2017): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.05 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i1.13886

Abstract

AbstrakLukisan di gua Leang-Leang merupakan salah satu artefak budaya sebagai bukti kekayaan dan simbol peradaban manusia. Lukisan merupakan abstraksi ide-ide, religi mitis, dan sumber pandangan hidup masyarakat prasejarah. Makna simbol lukisan mampu membongkar dan menjelaskan ide-ide tentang religi, interaksi sosial, estetik, dan pandangan hidup masyarakat prasejarah. Melalui teori estetika simbolis S. K. Langer merupakan simbol ekspresi. Karya seni merupakan simbol seni secara khusus. Lukisan prasejarah gua Leang-Leang sebagai karya seni merupakan simbol seni itu sendiri. Lukisan merupakan simbol presentasional, makna simbolnya harus dilihat dari keseluruhan bukan parsial. Bentuk ekspresi inilah disebut karya seni yang merupakan proyeksi dari gejolak perasaan. Lukisan prasejarah gua Leang-Leang adalah virtual space, atau gambaran dari mitos-mitos yang dipercayai dalam kehidupan masyarakatnya.Kata Kunci: lukisan, gua Leang-Leang, S.K. Langer, simbol S.K LANGER SYMBOL ANALYSIS OF PREHISTORIC PAINTINGS IN LEANG-LEANG CAVE IN MAROS REGION, SOUTH SULAWESIAbstractPaintings in the Leang-Leang caves is one of the cultural artifacts and the evidence of richness and symbol of human civilization. These paintings are the abstract ideas of religious, mythical, and source of prehistoric society. Meaning of the symbols of painting could break down and explain ideas about religion, social interaction, aesthetic and way of life of prehistoric people. Through the symbolic aesthetic theory S. K. Langer who thinks art is a symbol of expression. The work of art is a symbol of art in particular. Prehistoric cave paintings Leang-Leang as a work of art is a symbol of art itself. Painting is a presentational symbol, the meaning of the symbol should be seen from a whole rather than partial. This is a form of expression called a work of art which is a projection of emotional rollercoaster. Prehistoric cave paintings Leang-Leang is a virtual space, or the depiction of myths believed in the life of society.Keywords: paintings, Leang-Leang, cave, S. K. Langer, symbol
KETIKA ORANG SENI MENYOAL MASYARAKAT: TEGANGAN DIALEKTIK ANTARA MOMEN KEINDAHAN DAN KEBENARAN Kasiyan Kasiyan
Imaji Vol 15, No 1 (2017): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.707 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i1.15738

Abstract

AbstrakTulisan ini hendak mengedepankan kajian perihal fenomena dialektis antara seni dengan masyarakatnya, yang sampai saat ini kerap menyisakan persoalan secara sosiologis. Sebagai bagian dari entitas sosial yang menyejarah, seni sebagaimana halnya dengan kebudayaan apa pun lainnya, keberadaannya senantiasa berada dalam ruang medan dan sekaligus arena produksi kulturasi, yang secara dialektis membentuk serangkaian proses habituasi kesadarannya yang tak pernah mengenal henti. Di antara sekian pluralitas tegangan pemaknaan terhadap realitas seni di masyarakat tersebut, yakni ketika seni lebih dimaknai sebagai jagad dan momen keindahan yang kemudian menghadirkan konstruksi “realisme sosial” di satu sisi, dan lebih mengedepankan momen kebenaran yang mendorong hadirnya konstruksi “realisme sosialis” di sisi yang lainnya. Dua kutub interseksi pemaknaan seni dan masyarakatnya yang dikotomis ini, sejatinya bisa didamaikan di antaranya dengan perspektif Platonian dan juga Aristotelian, yang konstruksi gagasannya cenderung mengafirmasi kesetaraan antara diktum keindahan dan kebenaran.Kata kunci: dialektika, seni, masyarakat, momen keindahan, momen kebenaran WHEN ARTISTS ASK QUESTIONS ABOUT SOCIETY: THE DIALECTICAL TENSION BETWEEN MOMENT OF BEAUTY AND TRUTHAbstractThis paper would like to discuss the dialectical phenomenon between arts and society that until today leaves sociological problems. As a part of a historical social entity, arts similar to other elements of culture is always in the midle of a cultural production area, which dialectically forms a sets of never ending habitual processes of consciousness. One of the tensions of plurality related to the understanding of art reality in the society is the fact that art is interpreted as the universe and moment of beauty which then presents the construction of ‘social realis’ on one side and puts forward the moment of truth encouraging the the appearance of ‘socialist realism’ on the other one. This dichotomy of interpretation of art and its society can be reconciled by means of Platonian perspective and Aristotelian perspective of which its construction of ideas tends to affirmthe dictum of beauty and truth equallyKeywords: dialectics, art, society, the moment of beauty, the moment of truth
BENTUK, PERUBAHAN FUNGSI, DAN NILAI-NILAI EDUKATIF PADA MUSIK TARI JAPIN TAHTUL DI AMUNTAI Siti Risa Noviyanti; Sutiyono Sutiyono
Imaji Vol 15, No 1 (2017): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.597 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i1.14033

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap: (1) Bentuk pertunjukkan musik Japin Tahtul di Amuntai, Hulu sungai Utara, Kalimantan Selatan; (2) Perubahan fungsi dari musik Japin Tahtul; dan (3)  nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam musik Japin Tahtul. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan pendekatan etnomusikologi dan beberapa teori terkait sejarah, sosiologi dan antropologi. Penelitian ini dilaksanakan di Amutai, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Data diperoleh melalui observasi, dokumentasi dan wawancara. Kemudian data dianalisis menggunakan tehnik analisis data kualitatif yang terdiri dari reduksi data, presentasi data, dan kesimpulan. Hasl dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Bentuk pertunjukkan musik Japin Tahtul mengalami perubahan yang meliputi: para pemain, alat musik, teks lagu, kostum, sajak, tempat dan waktu pertunjukan; (2) Perubahan fungsi dari musik Japin Tahtul yang awalnya merupakan pendukung pertunjukkan tari, kini dapat tampil sendiri sebagai pertunjukkan musik; (3) Musik Japin Tahtul mengandung nilai-nilai pendidikan yang dapat ditemukan di musiknya itu sendiri, termasuk lirik lagu, alat musik dan quartrains.Kata kunci: bentuk, perubahan fungsi, nilai-nilai pendidikan THE FORM, THE FUNCTION CHANGES, AND EDUCATIONAL VALUES IN JAPIN TAHTUL MUSICAbstractThis study aims to reveal: (1) the form of Japin Tahtul Music performance in Amuntai, North Hulu Sungai, South Kalimantan; (2) the change of the function of Japin Tahtul Music; and (3) the educational values containing in Japin Tahtul Music. This study is a qualitative research using the ethnomusicology approach assisted with some additional knowledge including history, sociology, and anthropology. This research was conducted in Amuntai, North Hulu Sungai, South Kalimantan. The data were collected through observation, documentation, and interview. The data were analyzed using qualitative data analysis techniques consisting of data reduction, data presentation, and conclusion. The results of the study are as follows. (1) The form of Japin Tahtul Music performance in Amuntaihas experienced changes that include the players, musical instruments, song texts, costumes, rhymes, venues, and time of the show. (2) The function changes of Japin Tahtul music which was originally music accompaniment of dancecan now stand on its own as a form of musical performance. (3) Japin Tahtul Music contained Educational values, which can be found in the music itself, including song lyrics, musical instruments, and quatrains.Keywords: form, function change, educational values
UNSUR MAGI TUKANG TARI PADA SENI TARI TRADISI PACU JALUR DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI PROVINSI RIAU Desti Kumala Sari
Imaji Vol 15, No 1 (2017): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.994 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i1.17450

Abstract

AbstrakPacu Jalur merupakan sebuah tradisi dari masyarkat Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau yang mengandung unsur seni berupa seni rupa, tari, musik dan sastra yang merupakan filosofi dari kehidupan masyarakat setempat serta di dukung oleh unsur olahraga dan magis. Percampuran tradisi ini menjadikan Pacu Jalur sebagai salah satu objek pariwisata unggulan Provinsi Riau yang berkembang sejak abad ke 17 sampai sekarang. Perkembangan ini tidak terlepas dari peranan masyarakat yang mampu menjaga dan melestarikan tradisi ini hingga sekarang. Adapun unsur kepercayaan masyarakat setempat yang sangat memegang teguh budaya nenek moyang sebagai bukti penghormatan dan perlindungan terhadap lingkungan, unsur magis sangat kental pada tradisi ini mulai dari awal sampai akhir prosesi yang tak luput dari pengaruh magis berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat.Kata kunci: unsur magi, Tukang Tari, Pacu Jalur MAGIC ELEMENTS OF TUKANG TARI IN PACU JALUR DANCE TRADITION IN THE DISTRICT OF KUANTAN SINGINGI, RIAU PROVINCEAbstractPacu Jalur is a tradition in Kuantan Singingi regency of Riau Province, which contains art elements in the form of art, dance, music, architerature, and the philosophy of local community and supported by elements of sports and magic as well. The mixing of this tradition makes the Pacu Jalur as one of the leading tourism objects of Riau Province that developed since the 17th century until now. This development is not spared from the role of society that can keep and preserve this tradition until now. As for the element of belief of the local community that is strongly upholding the culture of the ancestors as a proof of respect and protection of the environment, the magic element is very thick in this tradition from the beginning to the end of the procession did not escape from the magic influence based on local beliefs.Keywords: magic element, Tukang Tari, Pacu Jalur
RANCANG BANGUN MUSIK ANGKLUNG MODEL ELECTONE ORGAN PERPADUAN KOMBINASI BAS, HARMONI, DAN MELODI Susilo Pradoko; Fransisca Xaveria Diah; H. T. Silaen
Imaji Vol 15, No 1 (2017): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.853 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i1.14134

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen musik angklung. Seorang pemain musik angklung biasanya hanya memainkan satu nada dari bagian melodi saja. Penelitian ini mengembangkan teknik bermain angklung sehingga seorang pemain angklung mampu memainkan melodi, harmoni, iringan, dan bas sekaligus. Seorang pemain secara simultan mampu memainkan sebuah lagu beserta iringan musiknya serta nada-nada bas yang bersesuaian. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode Research Development. Peneliti merancang konstruksi untuk seperangkat melodi, iringan harmoni, serta iringan bas. Proses penelitian dilalui dengan merancang produk, memvalidasi rancangan, merevisi rancangan, proses pembuatan perangkat angklung melodi, bas, dan harmoni. Revisi Produk dilakukan dengan dengan penyempurnaan teknik, uji coba pemakaian, dan akhirnya penggunaan dalam pementasan saat presentasi hasil penelitian. Hasil rancangan diwujudkan dalam pembuatan angklung model electone dan setelah menjadi wujud rangkaian melodi dimainkan tangan kanan dengan sistem tuts piano, bas angklung dimainkan dengan kaki, harmoni akor dimainkan tangan kiri. Produk kesatuan angklung ini disebut dengan angklung garbha swara. Seorang pemain mampu menghadirkan sebuah lagu dengan iringan harmoni serta pilihan nada-nada bas yang berkesesuaian dengan lagu tersebut.Kata kunci: angklung, model electone, kombinasi, garbha swara DEVELOPING MODEL OF ANGKLUNG ELECTONE ORGAN: THE COMBINATION OF BASS, HARMONY, AND MELODYAbstractThis research aims to develop angklung musical instrument. A player of angklung usually only plays one note of the melody parts only. This study developed a technique of playing the angklung so that a player is able to play the melody, harmony, and bass accompaniment simultaneously. A simultaneous player is able to play a song with musical accompaniment and bass tones corresponding. The method in this research is Research Development. The researchers designed the construction of a set of melody, harmony accompaniment, and bass accompaniment. The research process is done by designing products, validating the draft, revising the draft, manufacturing process of the melodic angklung device, bass, and harmony. Revising the product is done by perfecting the technique, testing the product, and using the product on a stage performance. The results of the draft is realized by manufacturing a model of angklung electone organ. After the model is done, a set of harmony is played using the right hand with piano keys system, angklung bass is played using the feet, harmony chords are played using the left hand. This unitary product is called angklung garbha swara. A player is able to present a song to the accompaniment of harmony as well as a large selection of bass tones that correspond with the song.Keywords: angklung, electone model, combination, garbha swara
KESENIAN MADIHIN DI BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN DALAM TINJAUAN AKSIOLOGI DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN KARAKTER M. Budi Zakia Sani
Imaji Vol 15, No 1 (2017): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (754.708 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i1.14452

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan; (1) bentuk, struktur, dan fungsi kesenian Madihin, (2) nilai-nilai aksiologis yang terkandung di dalam kesenian Madihin, dan (3) relevansi nilai-nilai yang terkandung dalam kesenian Madihin terhadap pendidikan karakter. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi.. Objek material dalam penelitian ini adalah kesenian Madihin di Banjarmasin. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian Madihin mengandung hierarki nilai moralitas yang meliputi; (1) nilai religiusitas, (2) nilai toleransi, (3) nilai disiplin, (4) nilai kerja keras, (5) nilai kreatif, (6) nilai komunikatif, (7) nilai tanggung jawab, dan (8) nilai cinta tanah air. Nilai-nilai tersebut memiliki relevansi dengan nilai pendidikan karakter. Nilai tersebut bisa dijadikan sebagai sarana untuk membangun pendidikan karakter di Indonesia.Kata kunci: kesenian Madihin, aksiologi, dan pendidikan karakter MAHIDIN ART IN BANJARMASIN SOUTH KALIMANTAN IN THE AXIOLOGY PERSPECTIVE AND THE RELEVANCE TO CHARACTER EDUCATION AbstractThis research aims to reveal; (1) forms, structures, and functions of Madihin Art, (2) the axiological value of Madihin art, and (3) relevance the value of Madihin art to character education. This research is uses qualitative research with ethnography approach. The material object of this research was Madihin art in Banjarmasin. The data were collected through observation, interviews, and documentation. The data were analyzed using Miles and Huberman framework, which covers data reduction, presentation, and conclusion drawing. The results show that Madihin art contains morality value hierarcy, consisting of; (1) religiousity, (2) tolerance, (3) discipline, (4) hardworking, (5)  creativity, (6) communicativeness, (7) responsibility, and (8) patriotism. Those values can be made as a medium of supporting character education in Indonesia.Keywords: Madihin art, axiology, character education
IDENTITAS BUDAYA MUSIK GAMBUS DI PALEMBANG Alfathul Mukarram
Imaji Vol 15, No 1 (2017): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.142 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i1.13885

Abstract

AbstrakMusik gambus Melayu merupakan salah satu genre seni musik yang lahir dari perpaduan budaya Timur Tengah dan Melayu. Di Kota Palembang, aliran musik ini bukan genre baru, tetapi telah hadir sejak ratusan tahun lalu seiring bertumbuh kembangnya etnis Arab di bumi Sriwijaya. Masyarakat etnis Arab juga memiliki perilaku, kebiasaan, maupun keakraban terhadap masyarakat Kota Palembang. Beberapa etnis Arab yang ada di Kota Palembang dapat dikatakan sebagai minoritas. Akan tetapi, ada beberapa etnis (suku) Arab yang memunculkan identitas estetik masyarakat di Kota Palembang dengan mempertunjukan kesenian-kesenian mereka, salah satunya etnis Arab yang mempertahankan kebudayaan mereka melalui kesenian musik gambus. Musik gambus di Kota Palembang juga merupakan salah satu genre musik yang khas dan unik. Genre musik di Kota Palembang adalah perpaduan musik gambus klasik, musik gambus Melayu, dan musik gambus modern. Aliran seni musik ini kerap dilantunkan dalam berbagai hajatan warga Kota Palembang, mulai dari kelahiran, khitanan, hingga pernikahan.Kata kunci: musik gambus, identitas budayaGAMBUS MUSIC IN PALEMBANG CITY: AN ANALYSIS OF CULTURAL IDENTITYAbstractThe music of Gambus Melayu was One genre of musical arts which is born from a blend of Middle Eastern culture and Melayu. In Palembang city, The music of Gambus Melayu is not a new genre. It has been there since hundreds of years ago, together with the development of Arab ethnicity on earth of Sriwijaya. Some Arab minor tribe gives esthetic value in arts performance in Palembang. They maintain it through Gambus Melayu music. Gambus music in Palembang is the combination between classic gambus, Melayu gambus, and modern gambus. It plays in traditional ceremonies and celebration such as the birth celebration, circumcision, and wedding parties.Keywords: the music of gambus, cultural identity
NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME PADA MUSIK TRADISIONAL TALI DUA DI PULAU BATANG DUA KOTA TERNATE MALUKU UTARA Vega Ricky Salu
Imaji Vol 15, No 1 (2017): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.988 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i1.17453

Abstract

AbstrakPendidikan Multikultural dalam konteks keindonesiaan memiliki peran dan fungsi yang sangat penting. Sebagai negara yang memiliki keberagaman budaya, masyarakat rentan dengan konflik sosial. Salah satu keberagaman itu terdapat Pulau Batang Dua. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana nilai-nilai musik tradisional Tali Dua dan bagaimana nilai-nilai pendidikan multikulturalisme pada musik tradisional Tali Dua di Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara dapat dilakukan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis data yang digunakan adalah verifikasi data, reduksi data, dan penyajian data. Hasil penelitian menunjukan, bahwa nilai-nilai pendidikan multikulturalisme dapat dilihat dalam fungsi musik Tali Dua pada acara perkawinan dan acara Lawidi. Nilai pendidikan multikulturalisme juga terdapat pada internal kelompok musik Tali Dua, yakni setiap karakter dan kultur anggota yang berbeda menyatu dalam kelompok musik Tali Dua sebagai nilai-nilai budaya bangsa yang harus dijaga, dilestarikan, dan dikembangkan.Kata kunci: pendidikan multikultural, musik tradisi, Musik Tali Dua EDUCATIONAL VALUES OF MULTICULTURALISM IN TALI DUA TRADITIONAL MUSIC IN BATANG DUA ISLAND, TERNATE CITY, NORTH MALUKUAbstractMulticultural education in Indonesia has a very important role and function. As a country with cultural diversity, people are vulnerable to social conflict. One of the diversities is in Batang Dua Island. The problems in this research are how the traditional musical values of Tali Dua and the values of multicultural education on Tali Dua traditional music in Batang Dua Island, Ternate, North Maluku can be done. The method used in this research is the qualitative approach. Data collection techniques used in this research are observation, interviews, and document studies. Data analysis involves data verification, data reduction, and data presentation. The results showed that the values of multicultural education can be seen in the function of Tali Dua music at the wedding ceremony and Lawidi event. The value of multicultural education is also found in the musical group of Tali Dua, that is, each character and culture of different members converge in the group as the nation’s cultural values that must be maintained, preserved, and developed.Keywords: multicultural education, traditional music, Tali Dua Music
PELESTARIAN KESENIAN MOP-MOP DI KABUPATEN ACEH UTARA Umul Aiman
Imaji Vol 15, No 1 (2017): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.659 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i1.14818

Abstract

AbstrakMop-Mop dalam bahasa Aceh yang berarti mengunyah, seni pertunjukan ini dikatakan Mop-Mop karena tingkah laku pemainnya yang lucu ketika berakting dengan mulut monyong kedepan seperti orang mengunyah makanan. Kesenian Mop- Mop diangkat dari keseharian masyarakat dalam berumah tangga, yang terkadang sering terdapat perselisihan antara suami istri. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang menghambat pelestarian kesenian Mop-Mop dan Upaya-upaya yang dilakukan dalam melestarikan kesenian Mop-Mop. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang pengambilan datanya melalui obrservasi langsung dan wawancara mendalam dari informan-informan kunci. Hasil Penelitian menyimpulkan bahwa adapun faktor-faktor penghambat dalam melestarikan kesenian Mop-Mop diantaranya yaitu (1) faktor ekonomi (2) faktor usia, (3) faktor jarak, (4) faktor kurangnya undangan untuk mengisi acara-acara hiburan, (5) faktor kurangnya perhatian dari pemerintah, (6) faktor kurangnya apresiasi masyarakat terhadap kesenian Mop-Mop, (7) faktor agama, (8) faktor kurangnya pengetahuan generasi muda terhadap kesenian Mop-Mop. Oleh karena itu, diperlukan beberapa upaya atau langkah nyata dari masyarakat khususnya pemerintah agar kesenian ini bisa tetap lestari di tengah-tengah arus modernisasi dan globalisasi seperti sekarang, diantaranya: (1) pemerintah memberikan perhatian lebih kepada kesenian Mop-Mop, (2) masyarakat khususnya generasi muda mempunyai kesadaran (berpartisipasi) dalam melestarikan kesenian Mop-Mop, (3) sanggar Meurak Jeumpa Aceh beserta pemerintah untuk bisa melengkapi dan memperbanyak buku-buku tentang kesenian Mop-Mop, (4) seniman Mop-Mop senantiasa mengajak anak-anak disekitar lingkungan para seniman untuk berpartisipasi dalam latihan Mop-Mop. Mop-Mop adalah bagian dari kekayaan kesenian di Aceh. Seharusnya memperoleh ruang perhatian untuk direvitalisasi, kesenian Mop-Mop sekarang sudah sangat langka dan perlu perhatian khusus agar kesenian ini tetap diakui keberadaannya. Kata kunci: Pelestarian, kesenian Mop-Mop MOP-MOP ART CONSERVATION IN THE DISTRICT NORTH ACEHAbstractMop-Mop in Aceh language which means chewing, is a funny performing arts as the players perform amusing shapes of mouth like chewing food while acting. It comes from daily marriage life which reflect common domestic argumentation. This study examines the factors that inhibit the preservation of Mop-Mop art and the efforts in preserving it. This study is categorized as field research and the data were gained through direct observation and in-depth interviews with the key informants. The result of this study concludes that the inhibiting factors in preserving Mop-Mop art are: (1) economic factor (2) age factor, (3) distance factor, (4) lack of invitation to perform the Mop-Mop art, (5) lack of attention from the government, (6) less public appreciation of Mop-Mop art, (7) religious factors, (8) factors of youth’s lack of knowledge on Mop-Mop art. Therefore, it takes some concrete efforts or steps from the public, especially the government so that this art can be sustainable in the midst of the current modernization and globalization, such as: (1) the government gives more attention to the art of Mop-Mop, (2) the community Especially the young generation have awareness (participate) in preserving Mop-Mop art, (3) Meurak Jeumpa Aceh studio and government to be able to equip and reproduce books about Mop-Mop art, (4) Mop-Mop artists always invite children Around the environment of artists to participate in Mop-Mop rehearsal. Mop-Mop is a part of the valuable art in Aceh. Since Mop-Mop performing art is very rare, it needs revitalization. Thus, it needs special attention so that this art can exist and recognized.Keywords: preservation, Mop-Mop art

Page 1 of 2 | Total Record : 11