cover
Contact Name
Putra Afriadi
Contact Email
putraafriadi12@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal_imaji@uny.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni
ISSN : 16930479     EISSN : 25800175     DOI : -
IMAJI is a journal containing the results of research/non-research studies related to arts and arts education, including fine arts and performing arts (dance, music, puppetry, and karawitan). IMAJI is published twice a year in April and October by the Faculty of Languages and Arts of Universitas Negeri Yogyakarta in cooperation with AP2SENI (Asosiasi Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik se-Indonesia/Association of Drama, Dance, and Music Education Study Programs in Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2017): IMAJI OKTOBER" : 11 Documents clear
PENGEMBANGAN KREATIFITAS DAN INOVASI PENCIPTAAN KARYA TARI DENGAN METODE LABORATORIUM TARI (STUDI KASUS: YAYASAN SENI DUTA SANTARINA BATAM) Mega Lestari Silalahi
Imaji Vol 15, No 2 (2017): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6534.988 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i2.16029

Abstract

Penelitian ini merupakan formula alternatif baru pengembangan kreativitas dalam penciptaan karya tari yang menjadi penopang bagi pengayaan ilmu dan pengalaman pada proses mencipta karya tari. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, penelitian tindakan (Action Research) melalui metode Laboratorium Tari, dalam mengembangkan dan menghasilkan produk karya tari berdasarkan proses kreatifitas. Laboratorium Tari adalah program dan proses pencarian dan penemuan hasil kebaruan tari, berupa bentuk pelatihan dengan pengembangan skill, proses kreatif dan inovatif, serta eksekusi temuan dengan hasil pementasan karya dalam bentuk karya tari baru maupun pembaharuan dari karya sebelumnya yang telah dirancang oleh peneliti dengan model eksperimen yang dilakukan atau diciptakan oleh koreografer dan penari Duta Santarina.Kata kunci: laboratorium tari, kreatifitas dan inovasi DEVELOPMENT OF CREATIVITY AND INOVATION TO CREATE DANCE WITH DANCE LABORATORY METHOD(CASE STUDY: YAYASAN SENI DUTA SANTARINA BATAM)AbstractThis research is a new alternative formulation to develop creativity in dance creation which plays as the foundation of the process. The method is qualitative approach, Action Research through Dance Laboratory method, in developing and producing the dance work based on creativity process. Dance Laboratory is a program and process of finding novelty of the dancing, in the form of training with skill development, creative and innovative process, and execution as a result of staging works in the form of new dance works and renewal of previous works which have been designed by researchers with experimental model performed or created by choreographer and dancer Duta Santarina.Keywords: dance laboratory, creativity and innovation
FOTOGRAFI DALAM DESAIN KOMUNIKASI VISUAL (DKV) Prayanto Widyo Harsanto
Imaji Vol 15, No 2 (2017): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6534.962 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i2.18298

Abstract

Kebutuhan penggunaan karya fotografi untuk elemen iklan cetak saat ini masih tinggi. Iklan cetak di Indonesia 98% menggunakan ilustrasi dengan menggunakan teknik fotografi. Serta, pengetahuan dan keterampilan fotografi telah diberikan sebagai mata kuliah wajib di Perguruan Tinggi yang memiliki Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV). Tujuan tulisan ini adalah untuk mengingatkan betapa pentingnya pelajaran fotografi di desain grafis atau DKV, sehingga penting untuk dikelola dengan baik. Selepas tahun 1990-an dunia fotografi mulai memasuki era teknologi digital yang merubah budaya kerja di industri. Dari ketergantungan pada kemampuan skill manual manusia, berubah menjadi serba komputerisasi (digital). Era analog sedikit demi sedikit telah ditinggalkan karena di era digital kegiatan memotret dan paradigma tentang fotografi sudah bergeser. Dunia fotografi dulu dianggap kegiatan yang sulit dan mahal, namun sekarang relatif murah dan mudah. Teknologi boleh berkembang serta paradigma dapat bergeser, tetapi fungsi dan makna pada karya fotografi tetap penting serta diperlukan dalam desain komunikasi visual. Pendidikan Tinggi DKV tentunya ingin menciptakan sumber daya insani yang kompeten pada bidangnya dan diharapkan dapat memberikan kontribusi optimal di lapangan kerja. Alangkah baiknya apabila lembaga pendidikan mempedulikan profesi yang sesuai dengan levelnya.Kata kunci: fotografi, pendidikan DKV, desain komunikasi visual PHOTOGRAPHY IN VISUAL COMMUNICATION DESIGNAbstractThe need for photography works for printed advertisement is still high. Ninety-eight percents of printed advertisements in Indonesia use illustrations from photography techniques. In addition, the knowledge and skills of photography have been given as compulsory subjects in Higher Education which have a Visual Communication Design Program. The purpose of this paper is to remind us of the importance of photography lessons in graphic design that it is important to be well managed. After the 1990s the world of photography began to enter the age of digital technology that changed the work culture in the industry, from its dependence on human or manual skills into a completely computerized (digital) one. The analogue era has been gradually abandoned because in the digital era photographing activities and the paradigm about photography have shifted. The world of photography was once considered a difficult and expensive activity, but is now relatively cheap and easy. echnology may evolve as well as paradigms may shift, but the function and significance of photography work remain important and necessary in visual communication design. The purpose of a Visual Communication-Design program in Higher Education is to create competent human resources that are able to contribute optimally in the field of work. It would be nice if the educational institutions care about the profession in accordance with the level.Keywords: photography, visual communication design, education
PERUBAHAN SOSIAL DALAM TARIAN SEUDATI PADA MASYARAKAT ACEH Meipur Yanti
Imaji Vol 15, No 2 (2017): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6535.007 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i2.18295

Abstract

Agama Islam dan budaya masyarakat Aceh merupakan satu kesatuan. Agama Islam menjadi sumber utama dalam kebudayaan masyarakat Aceh, sehingga semua kesenian di Aceh, dalam hal ini seni tari, selalu dikaitkan dengan nilai keagamaan. Tari Seudati yang merupakan warisan budaya nenek moyang orang Aceh adalah salah satu tarian tradisional yang terus dilestarikan dan berkembang di kalangan masyarakat Aceh secara nasional maupun internasional. Proses perubahan meliputi: proses reproduksi dan proses transformasi, dari masa ke masa, dan mengikuti perkembangan zaman. Tari Seudati mengalami beberapa kali perubahan sosial, dikarenakan adanya penambahan norma-norma, nilai-nilai, adat, dan agama di masyarakat Aceh. Hasil dari perubahan sosial pada Tari Seudati kini terbagi menjadi dua yaitu: seudati agam (seudati laki-laki) sebagai tari tradisional dan seudati inong (seudati perempuan) sebagai tari kreasi. Seudati inong merupakan pengembangan dari seudati agam. Walaupun ada beberapa kali perubahan sosial dalam Tari Seudati, masyarakat Aceh tetap mengikuti norma-norma, nilai-nilai, adat, dan agama yang telah ditanamkan pada diri masyarakat Aceh sejak dahulu.Kata kunci: perubahan sosial, tari seudati, masyarakat aceh SOCIAL CHANGES IN SEUDATI DANCE IN ACEH SOCIETYAbstractThe religion of Islam and the culture of the people of Aceh is a unity. Islam is a major source of Acehnese culture, so that Art in Aceh, in this case dance, is always associated with religious values. Seudati Dance which is the cultural heritage of Acehnese ancestors is one of the traditional dances that continues to be preserved and developed among the people of Aceh nationally and internationally. The process of changes includes: the process of reproduction and the process of transformation, from time to time, keeping up with the changing times. Seudati dance experienced several times of social change, due to the addition of norms, values, customs, and religion in the people of Aceh. The result of social changes in Seudati Dance are now divided into two: seudati agam (seudati male) as traditional dance and seudati inong (seudati female) as dance creations. Seudati inong is the development of seudati agam. Although there are several times of social change in Seudati Dance, the people of Aceh still follow the norms, values, customs, and religions that have been implanted on Acehnese society long ago.Keywords: social changes, Seudati dance, Aceh society
PENGEMBANGAN KEMAMPUAN MUSIKALITAS GURU DI TK PANTI DEWI BERBAH SLEMAN Fransisca Xaveria Diah Kristianingsih; Yunike Juniarti Fitria
Imaji Vol 15, No 2 (2017): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6534.971 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i2.18300

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membantu proses pengembangan kemampuan musikalitas guru di TK Panti Dewi Berbah Sleman sehingga kemampuan guru dalam bernyanyi dan mengiringi menjadi lebih optimal. Penelitian dilaksanakan bulan April sampai November 2017 menggunakan metode penelitian tindakan, dengan prosedur perencanaan, pelaksanaan, penilaian hasil, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan musikalitas guru semakin berkembang. Hal ini tampak pada hasil penilaian mendapat kategori baik meliputi kemampuan dasar bernyanyi dengan komponen artikulasi, intonasi dan ritmis, serta kemampuan dasar mengiringi dengan komponen harmoni akord, irama, dan tangga nada. Dengan cara melatih guru memahami membaca notasi musik, peka terhadap nada, irama dan tempo serta mengiringi lagu menggunakan keyboard, tindakan ini telah berhasil membantu guru di TK Panti Dewi dalam mengembangkan dan meningkatkan kemampuan musikalitasnya.Kata kunci: pengembangan, kemampuan musikalitas, guru DEVELOPMENT OF TEACHERS’ MUSICAL ABILITY IN KINDERGARTEN PANTI DEWI BERBAH SLEMANAbstractThis study aims to assist the process of the development of teachers’ musical ability in kindergarten Panti Dewi Berbah Sleman so that the ability of teachers in singing and accompanying to be more optimal. The study was conducted from April to November 2017 using action research method, with planning procedures, implementation, results assessment and reflection. The results showed that the teachers’ musical abilities were growing. It can be seen from the result that it was categorised as good category in the basic ability to sing with articulation, intonation and rhythmic components and basic ability to accompany with chord, rhythm and cadence harmony components. Through training, teachers understand how to read music notes, sensitive to tone, rhythm, and tempo and use the keyboard while singing, this action has successfully helped teachers at Panti Dewi Kindergarten in developing and improving their musical ability.Keywords: development, musical ability, teachers
EVALUASI PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 PADA MATA PELAJARAN SENI TARI SMA NEGERI DI SLEMAN YOGYAKARTA Lusi Susilowati; Sutiyono Sutiyono
Imaji Vol 15, No 2 (2017): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6534.991 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i1.14034

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan evaluasi pelaksanaan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran seni tari di sekolah menengah atas Negeri di Sleman Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Model evaluasi yang digunakan adalah evaluasi formatif yang dikembangkan oleh Scriven. Subjek dalam penelitian ini adalah dua guru dan 59 murid dari dua SMA Negeri di Sleman, Yogyakarta yang ditentukan dengan teknik sampling purposive. Instrumen yang digunakan adalah angket, panduan observasi, panduan wawancara, dan dokumentasi. Angket digunakan untuk mengetahui dan mengukur perencanaan pembelajaran dan cara mengajar guru. Observasi dilakukan untuk pengecekan kesesuaian antara RPP dan silabus dengan kegiatan pembelajaran. Wawancara dan dokumentasi digunakan untuk memperdalam informasi. Validasi instrumen yang digunakan adalah validasi expert judgment, dan teknik triangulasi data digunakan untuk menganalisis data yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) pemahaman guru terhadap Kurikulum 2013 dalam kategori sangat cukup, ini dibktikan dari jawaban interviuw yang memuaskan; 2) perencanaan pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas sudah sangat sesuai dan hal ini dapat terlihat dari rata-rata penilaian angket yang diberikan, yaitu 80,3; 3) dan pelaksanaan pembelajaran sangat sesuai dan hal ini dapat dilihat dari rata-rata penilaian angket siswa terhadap berlangsungnya proses pembelajaran yaitu 80,59.Kata kunci: evalusi pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013, seni tari THE EVALUATION OF CURRICULUM 2013 IMPLEMENTATION ON ART DANCE SUBJECT IN STATE SENIOR HIGH SCHOOLSIN SLEMAN YOGYAKARTAAbstract The objective of this research is to describe the evaluation of the implementation of Curriculum 2013 on the art dance subject in state senior high schools in Sleman, Yogyakarta. This research was evaluation research with qualitative descriptive approach. The evaluation model was a formative evaluation which was developed by Scriven. The subjects of this research were two teachers and 59 students of two states senior high schools in Sleman, Yogyakarta which were selected by using the random sampling technique. The instruments were a questionnaire, observation guide, interview guide, and documentation. The questionnaire was used to know and to measure the lesson plan and the procedure of the teaching and learning process. The observation guide was used to check the compatibility among lesson plans and syllabus with the teaching and learning process. The interview guide and documentation were used to deepen the information. The instrument validities used were expert judgment and triangulation. The triangulation was used to analyze the data, consisting of data reduction, presentation, and conclusion. The result of this research shows that 1) the teachers’ comprehension of Curriculum 2013 is defficient enough 2) the planning of the teaching and learning process is very suitable, which could be seen from the average result of the questionnaire which is 80,3; 3) the implementation of the teaching and learning process is very suitable. Which could be seen from the average of students’ questionnaire result of the teaching and learning process, which is 80,59.Keywords: development, method, sight reading, rhythmic
FUNGSI DAN MULTIKULTURALISME DALAM SENI DIDONG PADA MASYRAKAT GAYO KABUPATEN ACEH TENGAH Putra Afriadi
Imaji Vol 15, No 2 (2017): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6535.026 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i2.18296

Abstract

Seni Didong berperan besar dalam mempersatukan etnis Gayo yang memiliki berbagai macam pendapat mengenai nilai-nilai moral dan estetika. Didong memiliki fungsi, antara lain: fungsi ekspresi emosional, fungsi tentang kenikmatan estetis, fungsi hiburan, fungsi komunikasi, fungsi representasi simbolis, fungsi respon fisik, fungsi konfornitas terhadap norma-norma sosial, fungsi validasi tentang institusi-institusi sosial dan ritual-ritual keagamaan, fungsi tentang kontribusi terhadap kontinuitas dan stabilitas budaya, fungsi kontribusi terhadap integrasi masyarakat. Masyarakat Gayo harus menyatukan paradigma tentang seni pertunjukan Didong dan Didong Jalu sebagai identitas budaya daerah. Dalam persepektif multikulturalisme, Didong merupakan sebuah sarana untuk menyatukan seluruh etnis yang ada di daerah Gayo, bukan sebaliknya. Didong tidak diklaim sebagai kepemilikan setiap daerah melainkan kepemilikan bersama dan harus dapat menyatukan pemahaman estetika tentang apa yang ada dalam pertunjukan Didong secara keseluruhan, sehingga tidak terjadi kesalah pahaman yang dapat merusak nilai seni dari Didong itu sendiri.Kata kunci: budaya, Didong, Didong Jalu, fungsi, multikulturalisme FUNCTION AND MULTICULTURALISM IN DIDONG ART IN GAYO SOCIETY OF ACEH CENTRAL DISTRICTAbstractDidong art plays a major role in unifying the Gayo ethnic who have a wide range of opinions regarding moral and aesthetic values about the existing culture. Didong art has such functions as: emotional expression function, function of aesthetic pleasure, entertainment function, communication function, symbolic representation function, physical response function, conformity function to social norms, validation function of social institutions and religious rituals, functions on contribution to continuity and cultural stability, contribution function to community integration. Gayo society should unify the paradigm about Didong and Didong Jalu performing arts as the cultural identity of the region. In multicultural perspectives, Didong is a means to unite all ethnic groups in the Gayo area, not the other way around. Didong is not claimed as possession of any area but a joint ownership and must be able to unite aesthetic understanding of what is in the Didongshow overall, so there is no misunderstanding that can damage the value of art of Didong itself.Keywords: culture, Didong, Didong Jalu, function, multiculturalism
DIMENSI KARAKTER DALAM PENILAIAN PROSES BERKARYA SENI LUKIS PESERTA DIDIK SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Trie Hartiti Retnowati; Djemari Mardapi; Bambang Prihadi
Imaji Vol 15, No 2 (2017): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6534.994 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i2.18845

Abstract

Penelitian bertujuan menyusun instrumen penilaian nontes berupa penilaian proses berkarya seni lukis yang terintegrasi dengan penilaian karakter, sebagai upaya mempersiapkan peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menuju dunia kerja. Teknik penilaian yang digunakan berupa teknik observasi, penilaian diri, dan penilaian antarteman. Berdasarkan studi awal terbatas, pada saat ini belum ada intstrumen penilaian proses berkarya seni lukis yang terintegrasi dengan penilaian karakter untuk menilai proses berkarya seni secara objektif dan utuh. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan dari Borg and Gall yaitu melakukan (1) studi awal untuk menemukan temuan-temuan penelitian yang terkait dengan produk yang akan dikembangkan, (2) pengembangan instrumen penilaian proses berkarya seni rupa, dan (3) pengujian instrumen di lapangan yang hasilnya digunakan untuk perbaikan. Focus Group Discussion (FGD) digunakan untuk penentuan konstruk, kisi-kisi, dan dilakukan telaah item-item instrumen oleh praktisi dan pakar pendidikan seni rupa. Hasil penelitian ini berupa instrumen penilaian proses berkarya seni lukis yang terdiri atas penilaian persiapan dan penilaian pelaksanaan berkarya seni lukis. Penilaian persiapan berkarya seni lukis berupa lembar observasi dengan rubrik penilaian yang mencakup 6 dimensi, yaitu kesiapan mental, kesiapan fisik, kesiapan alat dan bahan melukis, sikap responsif, dan sikap proaktif dan terdiri atas 8 item dengan empat pilihan. Penilaian pelaksaan berkarya seni lukis berupa lembar penilaian antarteman mencakup 4 dimensi, yaitu penuangan ide, pemanfaatan waktu, dan sikap disiplin dan terdiri atas 9 item dengan dua pilihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian proses berkarya seni rupa dapat melatih pembentukan karakter pada siswa SMK seni rupa, khususnya untuk program studi seni lukis.Kata kunci: instrumen nontes, berkarya seni rupa, karakter DIMENSIONS OF CHARACTER IN ASSESSMENT OF PAINTING PROCESS OF VOCATIONAL HIGH SCHOOL STUDENTSAbstractThe objective of this research is to develop a non-test instrument in the form of assessment of painting process which integrates with character assessment as an effort to prepare students of Vocational High School (SMK) in the work field. Assessment techniques used are in the form of techniques of observation, self assessment, and peer assessment. Based on preliminary studies, there is currently no documented assessment of painting process integrated with character judgment to assess the process of artwork objectively and intactly. This research uses research and development design from Borg and Gall which includes (1) preliminary study to find research findings related to product to be developed, (2) development of assessment instrument of fine arts process, and (3) testing instrument in the field where the results are used for improvement. Focus Group Discussion (FGD) is used for the determination of constructions, grids, and the review of instrument items by practitioners and art education experts. The result of this research is the assessment instrument of painting process which consists of the assessment of preparation and the assessment of performance of painting. The assessment of preparation of painting is in the form of observation sheet with rubric assessment covering 6 dimensions, namely mental readiness, physical readiness, preparedness of tools and painting materials, responsive attitude, and proactive attitude and consists of 8 items with four choices. The assessment of performance of painting is in the form of a peer assessment sheet covering 4 dimensions, namely the pouring of ideas, the use of time, and the attitude of discipline and consists of 9 items with two choices. The results showed that the assessment of the process of works of fine arts can train the formation of students characters in vocational high school of fine arts, especially for the study program of painting.Keywords: non-test instrument, fine arts, character
NELAYAN SEBAGAI IDE PENCIPTAAN TARI TAREK PUKAT DALAM KAJIAN INTERAKSI SIMBOLIK Fitriani Fitriani
Imaji Vol 15, No 2 (2017): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6535.008 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i2.18294

Abstract

Tarek Pukat merupakan salah satu dari bentuk kesenian yang merupakan wujud kebudayaan hasil olah pikir, gagasan masyarakat pesisir Aceh. Tarek Pukat adalah gambaran aktivitas masyarakat pesisir yang memiliki rasa keindahan (estetika) yang ditimbulkan dari gerak, syair, dan musik. Setiap komponen terdapat kearifan lokal yang memiliki makna, isi pesan tentang norma-norma sosial, nilai-nilai budaya, dan sebagai wujud kebudayaan yang mengatur sistem sosial dalam menata aktivitas kehidupan sosial masyarakatnya. Interaksi simbolik lebih menekankan studinya tentang perilaku manusia pada hubungan interpersonal, bukan pada keseluruhan kelompok atau masyarakat. Proporsi paling mendasar dari interaksi simbolik adalah perilaku dan interaksi manusia itu dapat dibedakan, karena ditampilkan lewat simbol dan maknanya. Mencari makna dibalik yang sensual menjadi penting didalam interaksi simbolis. Tari Tarek Pukat ini difungsikan sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya dan tradisi masyarakat Aceh pesisir, khususnya saat menangkap ikan di laut. Tarian ini dimaknai sebagai gambaran sikap gotong royong. Kata Kunci: Tarek Pukat, Interaksi Simbolik FISHERMAN AS THE IDEA OF CREATION OF TAREK PUKAT DANCE IN SYMBOLIC INTERACTION STUDYAbstractTarek Pukat is one of arts which is formed of cultural thoughts, or ideas of coastal communities of Aceh. Tarek Pukat describes coastal community activities that have a sense of beauty (aesthetics) arising from motion, poetry, and music. Each component has a local wisdom that has a meaning, a message content about social norms, cultural values, and cultural forms that regulate the social life of the community. Symbolic interaction focuses more on the study of human behavior on interpersonal relationships, not on the whole group or society. The most fundamental proportion of symbolic interaction is that human behavior and interaction can be distinguished, because of events through symbols and their meaning. Seeking the meaning behind the sensuality becomes important in symbolic interaction. Tarek Pukat dance is functioned as a form of appreciation of the culture and traditions of coastal communities, especially when fishing in the sea. This dance is interpreted as a picture of mutual cooperation.Keywords: Tarek Pukat, Symbolic Interaction
METODE PEMBELAJARAN THINK-PAIR-SHARE, KECERDASAN KINESTETIK, DAN PENINGKATAN KETERAMPILAN MOTORIK SENI TARI DI SMP MUHAMMADIYAH 3 DEPOK Rinanti Murdianing Sunyar; Kuswarsantyo Kuswarsantyo
Imaji Vol 15, No 2 (2017): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6534.975 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i2.14527

Abstract

Penelitian eksperimen ini bertujuan mengetahui perbedaan efektivitas penerapan metode pembelajaran Think-Pair-Share dan metode imitasi dengan kecerdasan kinestetik yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik terhadap peningkatan ketrampilan motorik pada mata pelajaran seni tari di SMP Muhammadiyah 3 Depok. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif, eksperimental-semu dengan teknik analisis data yang digunakan teknik analisis two way anova. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) hipotesis pertama yang berbunyi “adanya perbedaan yang signifikan pada keefektifan metode Think-Pair-Share dibandingkan dengan metode imitasi jika ditinjau dari peningkatan ketrampilan motorik peserta didik pada mata pelajaran seni tari di SMP Muhammadiyah 3 Depok” teruji kebenarannya dengan nilai Fhitung sebesar 8.086 (2) hipotesis kedua yang berbunyi “adanya perbedaan yang signifikan pada kecerdasan kinestetik yang dimiliki masing-masing peserta didik terhadap ketrampilan motoriknya pada mata pelajaran seni tari di SMP Muhammadiyah 3 Depok” teruji kebenarannya dengan nilai Fhitung sebesar 13.148 dan (3) hipotesis ketiga yang berbunyi “adanya perbedaan yang signifikan pada penerapan metode pembelajaran Think-Pair-Share dan kecerdasan kinestetik yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik terhadap peningkatan ketrampilan motorik pada mata pelajaran seni tari di SMP Muhammadiyah 3 Depok” diterima secara empiris dengan nilai Fhitung sebesar 4.242.Kata kunci: Think-Pair-Share, kecerdasan kinestetik, ketrampilan motorik, seni tari THINK-PAIR-SHARE LEARNING METHOD, KINESTHETIC INTELLIGENCE, AND MOTOR SKILLS IMPROVEMENT OF DANCE LESSONSAT SMP MUHAMMADIYAH 3 DEPOKAbstractThis experiment research aims to know the effectiveness of the implementation ofThink-Pair- Share learning method and imitation method and kinesthetic intelligence that belongs to each of the student in the improvement of motor skills in the subject of dance art in SMP Muhammadiyah 3 Depok. The approach used in this research is the quantitative, quasi experimental design. The data collection instruments used in this research were questionnaires and tests. Data analysis techniques used in this research were descriptive statistic and analysis technique of two way anova. This experiment research shows that: (1) the first hypothesis which says “there are significant differences on the effectiveness of Think-Pair-Share method compared with imitation method reviewed from the improvement of students motor skills in the subject of dance art in SMP Muhammadiyah 3 Depok” is accepted with an Fcount 8.086, (2) the second hypothesis which says “there is a significant differences in the kinesthetic intelligence that belongs to each of the student toward the motor skills in the subject of dance art in SMP Muhammadiyah 3 Depok” is accepted with Fcount 13.148, and (3) the third hypothesis saying “there is a significant difference in the implementation of Think-Pair-Share learning method and kinesthetic intelligence that belong to each of the student in the improvement of motor skills in the subject of dance art in SMP Muhammadiyah 3 Depok” is empirically accepted with the Fcount of 4.242.Keywords: Think-Pair-Share, kinesthetic intelligence, motor skills, dance art
KESENIAN NANDUNG DI MASYARAKAT MELAYU KOTA RENGAT KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROVINSI RIAU (KAJIAN SEMIOTIKA) Rofiandri Suardi
Imaji Vol 15, No 2 (2017): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6535.008 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i2.18297

Abstract

Nandung adalah salah satu sastra lisan yang ada di Kota Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Nandung dilantunkan oleh ibu-ibu yang ingin menidurkan anaknya di dalam buaian. Isi syair nandung adalah tentang pengajaran agama, kasih sayang orang tua, pengajaran dan pendidikan, akhlak mulia, dan nasehat-nasehat. Pengkajian makna dalam syair nandung ini menggunakan teori semiotika, yakni memahami tanda dari sintaksis, semantik dan pragmatik. Hasil kajian dari syair nandung ini adalah pertama tentang sintaksis, yaitu tentang teks, terdapat 4 baris kalimat pada 1 bait yang serupa dengan pantun, dengan bait yang tersusun dari sampiran dan isi, dengan berpola a b dan a b. Kedua, tentang semantik, membahas tentang arti kata/bahasa, bahwa syair nandung memiliki arti tentang petuah agama, kasih sayang orang tua, akhlak mulia, pengajaran dan pendidikan, serta nasehat. Konsep ketiga yaitu pragmatik, membahas tentang makna dari hubungan antara teks dan arti kata/bahasa, bahwa yang diharapkan dari syair nandung ini adalah agar kelak anak-anak menjadi orang yang patuh kepada agama, orang tua, serta menjalani kehidupan dengan akhlak yang mulia. Makna yang terdapat dalam syair nandung ini adalah dalam menjalani kehidupan harus berpegang teguh pada agama, selalu melakukan kebaikan, mengingat jasa-jasa orang tua yang telah mendidik dan membesarkan anaknya, dan melakukan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Kata kunci: nandung, makna, semiotika Aart Van Zoest. A SEMIOTIC STUDY ON NANDUNG ART IN MELAYU COMUNITY IN RENGAT CITY, INDRAGIRI HULU DISTRICT, RIAU PROVINCE Abstract Nandung is one of the existing oral literatures in Rengat City, Indragiri Hulu Regency of Riau Province. Nandung is sung by mothers who want to put their children sleeping in the cradle. The contents of this poem are about the teaching of religion, parental love, teaching and educating, noble character, and advice. To study the meaning of this poem is by using the semiotics theory of Aart Van Zoest, about understanding of syntactical, semantic and pragmatic signs. The first result of the analysis of this poem is about syntax, which is about the text, there are 4 lines of sentences in a stanza similar to the pantun, with stanzas composed of sampiran (introduction) and contents, patterned a b and a b. The second concept is semantics, discusses about the meaning of the word/language, that poem has a meaning about religious advice, parental affection, noble character, teaching and education, and advice. The third concept is pragmatic, discusses about the meaning contained from the relationship between text and the meaning of words / language, that is expected from this poem is children could become obedient to religion, to parents, and live a life with a morally noble. The meaning contained in this poem is living a life must stickle to religion, always do good, considering the love of parents who have educated and reared their children, and do all the commands of Allah and stay away from all his prohibitions. Keywords: nandung, meaning, semiotics, Aart Van Zoest.

Page 1 of 2 | Total Record : 11