cover
Contact Name
Putra Afriadi
Contact Email
putraafriadi12@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal_imaji@uny.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni
ISSN : 16930479     EISSN : 25800175     DOI : -
IMAJI is a journal containing the results of research/non-research studies related to arts and arts education, including fine arts and performing arts (dance, music, puppetry, and karawitan). IMAJI is published twice a year in April and October by the Faculty of Languages and Arts of Universitas Negeri Yogyakarta in cooperation with AP2SENI (Asosiasi Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik se-Indonesia/Association of Drama, Dance, and Music Education Study Programs in Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2018): IMAJI APRIL" : 10 Documents clear
PROSES KREATIF TARI LENGGASOR DI SANGGAR WISANGGENI KABUPATEN PURBALINGGA BANYUMAS Wien Pudji Priyanto
Imaji Vol 16, No 1 (2018): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.348 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v16i1.19427

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses kreatif dalam penciptaan tari Lenggasor di sanggar Wisanggeni di kabupaten Purbalingga Banyumas. Objek penelitian adalah Proses Kreatif Tari Lenggasor di Sanggar Wisanggeni Kabupaten Purbalingga. Sedangkan subjek penelitian yaitu koreografer atau pencipta gerak tari, pencipta gendhing atau iringan, penari dan salah seorang staf dari dinas kebudayaan kabupaten PurbalinggaSusianti, S.Sn sebagai seorang pencipta atau kreator tari Lenggasor memiliki ide dan gagasan untuk mengembangkan tari Lengger dengan warna, rasa dan bentuk yang baru yang lebih dinamis dan atraktif sehingga mampu memberikan apresiasi kepada masyarakat. Proses kreatif muncul ketika  pencipta memiliki kegelisahan untuk dapat mengembangkan lebih jauh atas materi yang sudah ada. Dalam penciptaan karya seni tari Lenggasor  pencipta secara otomatis akan dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan atau keinginan ide dan kreativitas untuk mengembangkan tari Lengger menjadi sebuah karya  yang baru atau dari yang sudah ada  menjadi sesuatu yang lebih menarik. Proses kreatif penciptaan tari lenggasor tidak lepas dari tahapan eksplorasi, improvisasi, evaluasi dan pembentukan. Tari Lenggasor tercipta atas dasar pengembangan gerak tari Lengger yang sudah ada sejak zaman dahulu yang sampai saat ini tetap hidup sebagai khasanah kekayaan seni tradisional di Banyumas.Kata kunci : Proses Kreatif, Tari Lenggasor, Sangggar Wisanggeni.
REGENERASI SENI KUDA LUMPING SARI MUDA BUDAYA DUSUN SANGKALAN, DESA BAPANGSARI, KECAMATAN BAGELEN, KABUPATEN PURWOREJO, PROVINSI JAWA TENGAH Swastika Dinar Kasih
Imaji Vol 16, No 1 (2018): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.24 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v16i1.22267

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan regenerasi Seni Kuda Lumping sari Muda Budaya Dusun Sangkalan, Desa Bapangsari, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Terdapat 3 objek penelitian yaitu Grup Sari Muda Budaya dan Kesenian Rakyat Kuda Lumping sebagai objek material, serta regenerasi sebagai objek formal. Sedangkan untuk subjek penelitian adalah anggota dan pengurus grup. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan: (1) observasi partisipatif, (2) wawancara, (3) dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dengan membandingkan informasi antar narasumber dan trianggulasi metode.Proses regenerasi Grup Sari Muda Budaya yang berjalan 29 tahun secara alamiah dan berencana. Adapun 4 langkah yang dilakukan grup untuk meregenarasi yaitu melalui inisiatif anggota senior, mengembangkan gerakan tari yang sudah ada, merawat dan memperbaharui perlengkapan fasilitas grup. Permasalahan yang mendukung dan menghambat proses regenarasi grup serta faktor-faktor yang mempengaruhi regenerasi seperti: motivasi dan keaktifan anggota di dalam grup, peran orang tua anggota dan masyarakat umum penikmat seni Kuda Lumping mempengaruhi regenerasi grup Sari Muda Budaya .  Selain itu juga, fasilitas grup, perhatian pemerintah, frekuensi pentas, publikasi di media sosial dan tuntutan pekerjaan. Proses regenerasi Grup Kuda Lumping Sari Muda Budaya mampu meregenerasi anggotanya dan tetap eksis hingga empat generasi ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Kata Kunci: Regenerasi, Grup Sari Muda Budaya, Seni Tradisional, Kuda Lumping
MAKNA FILOSOFI TARI PERSEMBAHAN DAN RELEVANSINYA TERHADAP KARAKTER MASYARAKAT KOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU Fatia Kurniati; Kuswarsantyo Kuswarsantyo
Imaji Vol 16, No 1 (2018): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.596 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v16i1.14592

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan : (1) untuk mengetahui makna filosofi dari Tari Persembahan, (2) untuk mengetahui relevansi makna filosofi Tari Persembahan terhadap karakter masyarakat Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi non partisipant, wawancara dan dokumentasi serta teknik analisis yang digunakan yaitu reduksi data, display data dan verifikasi data. Dari hasil penelitian yang didapat menjelaskan bahwa makna filosofi yang terkandung dalam Tari Persembahan berasal dari adab sopan santun yang dimiliki masyarakat Melayu yang termasuk dalam filosofi masyarakat Melayu yaitu Adat Bersendikan Syarak Syarak Bersendikan Kitabullah, yang didapati dalam gerak tari, kostum tari, properti tari dan juga proses latihan. Sedangkan gerak-gerak yang ada dalam Tari Persembahan berasal dari tradisi menjunjung duli dan kemudian dikembangkan menjadi ragam-ragam gerak baru. Relevansi antara makna filosofi Tari Persembahan dan karakter masyarakat Kota Pekanbaru Provinsi Riau adalah dalam hal filosofinya, yaitu makna dari Tari Persembahan merupakan adab sopan santu masyarakat Melayu yang juga terkandung dalam filosofi masyarakat Melayu yang mendiami Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Makna filosofi tersebut kemudian direlevansikan dalam bentuk nilai karakter diantaranya nilai menghormati, nilai menghargai, nilai kerja keras, nilai kerjasama, nilai disiplin, nilai bersahabat, dan nilai cinta tanah air.Kata kunci: Tari Persembahan, makna filosofi, nilai karakter Abstract This research aims: (1) to know the philosophy meaning of Persembahan Dance, (2) to know the relevance of philosophy meaning of Persembahan Dance to society character of Pekanbaru city of Riau Province. The type of research used in this research is qualitative, data technique that used are non participant observation, interview and documentation. The data were analyzed by data reduction, data display and data verification. The results showed, the philosophical meaning contained in the Dance of Persembahan derived from courtesy of respect that belongs to the Malay society which is included in the philosophy of the Malay society, namely Adat Bersendikan Syarak Syarak Bersendikan Kitabullah, which is found in the movement of dance, dance costume, dance property and also Process exercise. While the movements that exist in the Persembahan Dance comes from the tradition of menjunjung duli and then developed into a variety of new motions. The relevance between the meaning of philosophy of Persembahan Dance and the society character of Pekanbaru city of Riau Province is in terms of its philosophy, that is the meaning of Persembahan Dance is courtesy of Malay community also embodied in the philosophy of Malay people who inhabit Pekanbaru city of Riau Province. The meaning of this philosophy is then renovated in the form of character value, the value of respect, the value of appreciating, the value of hard work, the value of teamwork, the value of discipline, the value of friendship and the value of patriotism.Keywords: Persembahan Dance, Philosophy meaning, character value
NILAI-NILAI SAKRAL WAYANG ORANG LAKON “LUMBUNG TUGU MAS” DALAM UPACARA TRADISI SURA DI DUSUN TUTUP NGISOR, SUMBER, DUKUN, MAGELANG Ria Ervina
Imaji Vol 16, No 1 (2018): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.008 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v16i1.22268

Abstract

ABSTRAK  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  nilai-nilai sakral wayang orang lakon “Lumbung Tugu Mas” dalam upacara tradisi Sura di dusun Tutup Ngisor, Sumber, Dukun, Magelang.Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif-kualitatif. Datanya berdasarkan kata-kata, wawancara, observasi, dan dokumen  lampiran foto-foto. Objek penelitian ini adalah wayang orang lakon “Lumbung Tugu Mas” dalam upacara tradisi Sura di Tutup Ngisor, Sumber, Dukun, Magelang. Penelitian ini difokuskan pada niliai-nilai sakral wayang orang lakon “Lumbung Tugu Mas” dalam upacara tradisi Sura di dusun Tutup Ngisor, Sumber, Dukun, Magelang. Dalam penelitian ini isntrumen penggumpulan data, yaitu peneliti sendiri. Alat bantu yang digunakan adalah: alat tulis, buku catatan, perekam video, serta kamera. Keabsahan data di peroleh melaluli perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan pengamatan, trianggulasi, adan menggunakan bahan referensi.Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat nilai-nilai sakral dalam wayang orang lakon “Lumbung Tugu Mas”. Adapun nilai-nilai sakral itu adalah : a) Nilai hubungan manusia dengan Tuhan: 1). Slametan, 2). Yasinan, 3).uyon-uyon, 4). Ruwatan, 5). Pementasan tari sakral, 6). Kirab jantilan, 7). Kemitan. , b) Nilai hubungan manusia dengan manusia : 1). Pasang tarub, 2). Slametan, 3). Pasang sesaji, 4). Pementasan wayang orang lakon “Lubung Tugu Mas”,, 5. kemitan, c) Niliai hubungan  manusia dengan alam :1). pemilihan waktu, 2). Pemilihan tempat, 3). Sesaji, 4). Slametan, 5). Pasang sesaji, 6). Cerita wayang orang lakon “Lubung Tugu Mas” . Kata Kunci: Nilai- Nilai Sakral, Wayang Orang lakon “ Lumbung Tugu Mas”, Upacra Tradisi Sura.
MAKNA SIMBOLIS RAGAM GERAK TARI JATHIL OBYOG MASAL 95-NAN DALAM KESENIAN REYOG OBYOG DI DESA PULUNG, KABUPATEN PONOROGO Farida Nur Apriani; Sutiyono Sutiyono
Imaji Vol 16, No 1 (2018): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.963 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v16i1.22266

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna simbolis ragam gerak, perbedaan, dan bentuk penyajian tari Jathil Obyog Masal 95-nan dalam kesenian reyog obyog di Desa Pulung, Kabupaten Ponorogo, .Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Objek penelitian adalah Makna Simbolis Ragam Gerak Tari Jathil Obyog Masal 95nan dalam Kesenian Reyog Obyog di Desa Pulung Kabupaten Ponorgo. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber.Hasil penelitian yang diperoleh yaitu: 1) makna simbolis ragam gerak , a) Nyongklang (prajurit yang melakukan perjalanan mengemban tugas), b) Jalan drap ditempat (kewaspadaan), c) Sembahan (meminta keberkahan Tuhan), d) Pacak gulu (kelincahan melihat situasi), e) Jalan lenggang (kerilekan agar tidak lalai akibat kelelahan), f) Edreg (keluwesan), g) Loncatan (tidak membuat masalah), h) Edreg mundur (mengetahui daerah sekelilingnya), i) sabetan (senjata harus selalu dibawa), j) bumi langit ulat-ulat (tetap sigap), k) polah kaki (rela dan berani mati untuk tugas yang diemban), l) ukel karna (mencari kabar terbaru), m) kebyak sampur, n) bumi langit (sumpah sakti prajurit haruslah tetap dipegang), o) jalan empat (kesigapan prajurit), p) uncal sampur (kepiawaiyan menggunakan senjata) , q) sabetan kibaran, r) lawung (menerima perintah harus dicermati), s) sabetan kibaran, t) keplok dara (antara prajurit harus terjalin persatuan dan kesatuan), dan u) perangan (prajurit sedang berlatih perang dan melatih kekompakan), 2) Tarian Jathil Obyog dalam kesenian Reyog Obyog tidak mengalami kesurupan, 3) Bentuk penyajian dimulai dari tampilnya jathilan, bujang ganong, dan dadak merak.  Kata Kunci : Jathil Obyog, Makna Simbolis tari Jathil Obyog Masal 95-nan.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN DAN KREATIFITAS SISWA DALAM MEMAINKAN MUSIK TRADISIONAL MELALUI METODE TUTOR SEBAYA Dedi Kurniadi
Imaji Vol 16, No 1 (2018): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.933 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v16i1.21280

Abstract

ABSTRAKPenelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di Kelas VIII A SMPN I Sukaresmi dalam upaya meningkatkan kemampuan dan kreatifitas siswa dalam memainkan musik tradisional. Dengan melihat hasil belajar siswa yang masih dibawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (77), maka peneliti merasa perlu mengadakan penelitian. Metode Penelitian Tindakan Kelas ini diawali dengan perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, obserfasi dan refleksi. Kegiatan ini dilaksanakan sebanyak dua kali, yaitu pada siklus I dan siklus II, dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan dan kreatifitas siswa dalam memainkan musik tradisional yang merupakan akar permasalahannya. Pada hasil penelitian, terbukti adanya peningkatan dalam kreatifitas memainkan musik tradisional yang dimiliki siswa melalui pembelajaran dengan menggunakan metode tutor sebaya. Hal ini dapat dilihat dari hasil penilaian Seni Budaya khususnya Musik Tradisional pada Siklus I dan Siklus II. Siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM pada Pra Penelitian sebanyak 24 orang (63,16%), pada Siklus I berkurang menjadi 13 orang (34,21%) berarti naik sekitar 29% dari sebelumnya, dan setelah pelaksanaan tindakan kelas pada Siklus II seluruh siswa yaitu 38 orang (100%) mencapai nilai KKM (77,00) tidak ada lagi siswa dengan nilai dibawah KKM (0%). Sedangkan nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 72,03 pada Pra Siklus, 77,05 pada Siklus I dan pada Siklus II 80,55. Penggunaan Metode Tutor Sebaya dalam seni musik tradisional ini sangat efektif dan cukup menyenangkan serta tidak membosankan. Berdasarkan angket respon siswa setelah belajar dengan menggunakan metode tutor sebaya ini, data kuantitatif dan kualitatif membuktikan  90% siswa menyatakan senang, 10% siswa masih merasa kesulitan dengan metode pembelajaran ini. Dari uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan metode tutor sebaya dalam seni musik tradisional dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam kreatifitas memainkan musik tradisional, oleh karena itu peneliti menyarankan untuk menggunakannya sebagai alternatif dalam pembelajaran Seni Budaya Khususnya Seni Musik Tradisional Nusantara.Kata kunci: Tutor Sebaya, Kreatifitas Bermusik ABSTRACT This Classroom Action Research was carried out in Class VIII A of SMPN 1 Sukaresmi in an effort to improve students' abilities and creativity in playing traditional music. By looking at student learning outcomes that are still below the Minimum Completeness Criteria (77), the researchers need to conduct research. This Classroom Action Research Method begins with action planning, action execution, observation and reflection. This activity was carried out twice in cycle I and cycle II, with the aim to improving the ability and creativity of students in playing traditional music which is the root of the problem. In the results of the study, it was proven that there was an increase in creativity in playing traditional music owned by students through learning using peer tutoring methods. This can be seen from the results of the assessment of Cultural Arts, especially Traditional Music in Cycle I and Cycle II. Students who scored under the Minimum Completeness Criteria in Pre-Research were 24 people (63.16%), in Cycle I it was reduced to 13 people (34.21%), it means there was an increase about 29% than before, and after the class action in Cycle II all students were 38 people (100%) reached the minimum completeness criteria (77.00) there were no more students with a score below the minimum completeness criteria (0%). While the average score obtained by students was 72.03 in the Pre-Cycle, 77.05 in Cycle I and in Cycle II 80.55. Using Peer Tutor Methods in traditional music art is very effective and quite fun and not boring. Based on the student response questionnaire after learning using this peer tutoring method, it was proven and 90% of students expressed pleasure, 10% of students still felt difficulties with this learning method.From the description above, the researcher concludes that the use of peer tutoring methods in the traditional music art can improve students' ability and creativity to play traditional music, therefore researchers recommend using peer tutoring methods as an alternative in learning the Cultural Arts, especially the Traditional Music of the Archipelago
MITOLOGI KESENIAN NINI THOWONG Ulivia Ulivia
Imaji Vol 16, No 1 (2018): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (941.927 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v16i1.22265

Abstract

AbstrakKesenian Nini Thowong menjadi seni tradisi masyarakat Grudo sebagai permainan meminta keselamatan. Nini Thowong yang menjadi karya seni dengan unsur ritual yang tinggi dengan memasukan roh ke dalam boneka. Hal ini antara lain berfungsi  sebagai mitos untuk menyembuhkan penyakit. Nini Thowong terdiri dari dua kata, nini dan thowong. Nini dalam bahasa Jawa artinya nenek, dan thowong diartikan kosong. Nini Thowong adalah seorang perempuan yang sudah tua (roh alus) dan menempati tempat boneka yang masih kosong. Benda ini kemudian digunakan untuk memanggil roh halus agar mau menempatinya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yang mendeskripsikan Mitos Nini Thowong. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif karena bermaksud untuk mendeskripsikan, menginterpretasi dan menganalisis kondisi-kondisi yang terjadi secara mendalam, tanpa mengubah fakta yang terjadi. Secara semiotik, Nini Thowong merupakan media penyampaian pesan keagamaan lewat lagu-lagu yang dinyanyikan. Melalui fisik boneka Nini Thowong, antara lain bermakna bahwa dalam diri manusia terdapat sifat baik yang dilambangkan dengan warna putih dan buruk dengan warna hitam. Melalui sesaji antara lain bermakna adanya cita-cita luhur, untuk membangun bangsa dan negara.
LURIK PADA INTERIOR ( INOVASI DAN APLIKASI) Siti Badriyah
Imaji Vol 16, No 1 (2018): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.227 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v16i1.22447

Abstract

Sebagai pembentuk identitas Indonesia, banyak kain tradisional yang saat ini sudah mengalami berbagai inovasi. Tujuan dari inovasi ini agar kain tradisional dapat tetap eksis mengikuti perkembangan zaman. Salah satu kain tradisional yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan adalah kain lurik. Pengaplikasian kain lurik pada bidang interior dapat menjadi sebuah inovasi yang perlu diperhitungkan. Kain lurik dapat dikombinasikan pada elemen interior dan juga furniture serta dapat menjadi elemen dekoratif ruangan. Selain itu jika diterapkan dengan kombinasi gaya dan material pendukung lain sehingga dapat melahirkan hibriditas desain yang memiliki esensi/ nilai. Sehingga aplikasi dari kain lurik yang berinovasi dapat melahirkan produk-produk yang berkualitas dan juga dapat meningkatkan penghasilan bagi pengrajinnyta.Kata Kunci: Lurik, Desain Interior, Aplikasi, Inovasi
PENCIPTAAN PADA TUNDHA RINUMPAKA Sukisno Sukisno
Imaji Vol 16, No 1 (2018): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.334 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v16i1.22441

Abstract

Proses penciptaan Pada Tundha Rinumpaka ini adalah sebuah pergelaran dalam rangka Macapatan rutin yang diadakan oleh komunitas macapat, dan lembaga pemerintah. Kegiatan Macapat ini diselelnggarakan secara bergilir dari suatu tempat ke tempat yang lain. Universitas Negeri Yogyakarta yang diampu oleh Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah, mendapat giliran sebagai tuan rumah. Dalam acara tersebut Pendidikan Bahasa Daerah menyuguhkan sebuah konser karawitan dengan garapan Pada Tundha Rinumpaka. Konser karawitan ini digelar untuk memberikan wawasan bahwa tembang Macapat bisa digarap dalam bentuk seni pertunjukan yang mandiri, bukan hanya sekedar karawitan sebagai pengiring, tembang sebagai pelengkap dalam berbagai sajian karawitan.
FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH TEMBANG DI JURUSAN PENDIDIKAN SENI TARI UNY EMG Lestantun
Imaji Vol 16, No 1 (2018): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (760.97 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v16i1.22264

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) Pelaksanaan pembelajaran mata kuliah tembang di jurusan pendidikan seni tari UNY. 2) Mengetahui faktor-faktor apa saja yang menghambat proses pembelajaran mata kuliah tembang di jurusan pendidikan seni tari UNY.Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan pada saat mata kuliah berlangsung dengan metode observasi,wawancara, dan dokumentasi.Hasil dari penelitian yang dilakukan pada 10 mahasiswa di kelas N semester 4 pada mata kuliah tembang adalah : Faktor-Faktor Penghambat Mata Kuliah Tembang di jurusan pendidikan seni tari UNY pada mahasiswa luar jawa,sering mengalami kesulitan pada logat,pengucapan. Perbedaan bahasa dan cara pengucapan antar daerah yang berbeda,notasi yang menggunakan bahasa jawa,pengalaman awal pada tembang. Kata Kunci : Faktor Penghambat,Pembelajaran,Tembang ABSTRACTThis study aims to determine: 1) Implementation of learning courses in the department of dance education UNY. 2) Knowing what factors are inhibiting the process of learning courses in the department of dance education UNY.This research uses descriptive qualitative. This research is done at the time of course with observation method, interview, and documentation.The results of the research conducted on 10 students in grade 4th semester on the tembang course are: Factors inhibiting the Tembang Course in the department of dance education of UNY on the students outside Java, often have difficulty on the accent, pronunciation. Differences in language and the way of pronunciation between different regions, notations that use the Java language, the initial experience on the song. Keywords: Inhibiting Factor, Learning, Tembang

Page 1 of 1 | Total Record : 10