cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Ruang
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
RUANG merupakan jurnal penelitian ilmiah yang memberikan kontribusi pengetahuan terkait perencanaan wilayah dan kota. Jurnal ini dipublikasikan oleh Perencanaan Wilayah dan Kota.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ruang" : 9 Documents clear
Desa Wisata Kampoeng Djowo Sekatul Kab. Kendal Sebagai Obyek Wisata Berkelanjutan: Kasus Kampoeng Djowo Sekatul, Kec Limbangan, Kab Kendal Yoga Adhi Nugroho; Nurini .
Ruang Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.41 KB)

Abstract

Abstark: Kampoeng Djowo Sekatul adalah Objek wisata yang terdapat di Kabupaten Kendal yang memiliki potensi pariwisata yang besar yang telah memperhatikan aspek keberlanjutan seperti pariwisata yang berbasis lingkungan,ekonomi dan pelestarian budaya yaitu budaya Jawa. Dengan potensi yang ada terdapat beberapa masalah di antaranya kurangnya infrastruktur pendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan seperti contoh pada aspek lingkungan tidak adanya sistem persampahan yang baik dan buruknya kondisi beberapa fasilitas wisata seperti contoh area bermain yang tidak terawat , menyebabkan munculnya pertanyaan  Apakah Kampoeng Djowo Sekatul merupakan obyek wisata berkelanjutan? dan bagaimanakah arahan untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan di Kampoeng Djowo?Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dengan metode kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif serta menggunakan metode analisis pembobotan mendapatkan hasil bahwa Kampoeng Djowo merupakan obyek wisata berkelanjutan dengan nilai sebesar 73%. Untuk aspek yang paling berkembang yaitu sektor ekonomi dengan nilai sebasar 81,25%. Sedangkan untuk aspek keberlanjutan yang kurang berkembang adalah aspek lingkungan dengan nilai sebesar 62,5%. Maka arahan yang tepat sebagai arahan untuk mengembangkan Kampoeng Djowo sebagai obyek wisata berkelanjutan dengan pembenahan dan pengadaan infrastruktur yang di nilai kurang seperti persampahan, dan menjalin hubungan kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat. Kata kunci : desa wisata, wisata berkelanjutan  Abstract: Abstark: kampoeng djowo sekatul are objects wisata that was found in the county of kendal which has great potential tourist destinations that has been taking into account the aspect of sustainability such as tourism, based on the environment economy and the preservation of cultural that is, a culture of java.With the potential that exists there are some of the problems of them lack of the supporting infrastructure development of tourism sustained as an example on environmental aspects the absence of a system of waste good and bad condition of the several facilities wisata as an example the playing area, which are not maintained properly causing the appearance of the question whether kampoeng djowo sekatul is the object of wisata sustainable?Based on the results of the analysis made by quantitative methods with quantitative descriptive analysis techniques as well as using analytical methods that get results weighting Kampoeng Djowo is a sustainable tourism with a value of 73%. For the most developed aspect of the economic sectors with the highest sebasar 81,25%. As for the less-developed sustainability aspect is environmental aspects with a value amounting to 62.5%. Then the appropriate referrals as referrals for developing Djowo Kampoeng as sustainable tourism with improvements in infrastructure and procurement of less value like persampahan, and build a relationship of good cooperation between the Government and the community Keyword : tourism village, sustainable tourism 
IDENTIFIKASI PERMUKIMAN KUMUH DI PUSAT KOTA JAMBI May Istikasari; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.885 KB)

Abstract

Abstrak: Pesatnya perkembangan Kota Jambi yang berfungsi sebagai pusat kegiatan serta menyediakan layanan primer dan sekunder menjadi daya tarik penduduk untuk bertempat tinggal dan bekerja terutama di daerah pusat Kota Jambi. Sebagai daerah yang terletak di pusat kota Jambi tentunya tidak terlepas dari adanya permasalahan permukiman terutama keberadaan permukiman kumuh. Tujuan dari penelitian ini adalah  menemukan lokasi permukiman yang termasuk dalam kawasan kumuh di Pusat Kota Jambi. Identifikasi kawasan permukiman kumuh dilakukan berdasarkan parameter penilaian kawasan permukiman kumuh yang telah ditetapkan oleh Direktorat Pengembangan Permukiman berdasarkan kondisi fisik bangunan, aksesbilitas, kependudukan, status tanah, dan kondisi prasarana lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan lokasi yang merupakan kawasan permukiman kumuh di Kecamatan Pasar Jambi yang berlokasi di Kelurahan Sungai Asam dan Kelurahan Beringin dengan tingkat kekumuhan sedang, dan Kelurahan Orang Kayo Hitam dengan tingkat kekumuhan yang tinggi. Kawasan permukiman permukiman kumuh tersebut dikarenakan kawasan tersebut sering tergenang banjir bila musim penghujan dan kualitas lingkungan yang rendah akibat dari buruknya kondisi bangunan dan jarak bangunan yang sangat rapat,serta kondisi prasarana lingkungan seperti kondisi jalan lingkungan, kondisi drainase, kondisi air minum, kondisi air limbah dan kondisi persampahan yang buruk. Sehingga kualitas lingkungan permukiman di kawasan tersebut menjadi menurun dan menyebabkan munculnya permukiman kumuh yang berdampak pada menurunnya kualitas hidup masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.Kata Kunci : Permukiman Kumuh, Pusat Kota, Jambi Abstract: The rapid growth of Jambi to be the central of activities and primary and secondary services provider attracts people to live and to work In Jambi, especially in the central area. As an area located in Central of Jambi, it has issue about the settlement, especially about the existence of slum area. The aim of this research is to identify and determine slum area in the central of Jambi. The determination of slum area is based on assessment parameter which set by Directorate of settlement development based on the physical condition of the buildings, accessibility, population, land tenure, and the condition of infrastructure. Based in the research, the location of slum area is in Pasar jambi, specifically in Sungai Asam Village and Beringin Village, on middle level of slum area, meanwhile Orang Kayo Hitam Village is on high level. The slum area is happened because it is often flooded in the rainy season and its bad quality of environment due to the bad condition and no space for each building, and also the condition of infrastructure such as the road, the drainage, the water, the sanitation, and the waste management is in bad condition. Therefore, the quality of the area is decreased so it creates slum area which affected to bad quality life for the people. Keywords: Slums, Downtown, Jambi 
KONSEPSI PENGELOLAAN BERKELANJUTAN PASAR APUNG BANJIR KANAL BARAT KOTA SEMARANG Ismi Farhani; Broto Sunaryo
Ruang Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.004 KB)

Abstract

Abstrak: Keberadaan Banjir Kanal Barat sebagai kawasan pengendali banjir Kota Semarang, memunculkan adanya aktivitas baru di dalamnya. Kawasan ini memiliki potensi untuk didirikan sebuah kawasan wisata air, yaitu pasar apung serta atraksi wisata di dalamnya. Pasar apung yang direncanakan, akan dibangun seluas 3200m2 sepanjang 150m pada sisi barat setelah jembatan rel kereta api. Pada sebuah perencanaan, hal yang harus diperhatikan selanjutnya adalah mengenai konsep pengelolaan mulai dari pembangunan hingga ke pengelolaan pasar apung. Untuk itu tujuan dari tugas akhir perencanaan ini adalah tersusunnya konsepsi pengelolaan berkelanjutan pasar apung Banjir Kanal Barat. Dari hasil pengumpulan data dan analisis data ditemukan bahwa adanya keterbatasan dana dan keterbatasan teknis pengelolaan pasar apung dari pihak pemerintah. Untuk itu dibutuhkan hubungan kerjasama pemerintah-swasta dalam pembangunan dan pengelolaan berkelanjutan pasar apung Banjir Kanal Barat Kota Semarang. Model kerjasama dengan pihak swasta yang dapat digunakan adalah Built Operation Transfer (BOT) dimana kontrak yang dilakukan selama 20 tahun. Selama kurun waktu tersebut pihak swasta melakukan pembangunan, pengelolaan, pengoperasian, pendayagunaan, dan pengambilan keuntungan, sedangkan pihak pemerintah membantu pihak swasta dalam segala hal fasilitasi dan menyiapkan tim monitoring untuk mengawasi keberlangsungan pasar apung hingga pada akhirnya pasar apung tersebut menjadi aset seutuhnya bagi pihak pemerintah setelah masa kontrak kerjasama berakhir. Dari hasil analisis pembiayaan finansial, diketahui bahwa pihak swasta akan mengalami pengembalian modal pada tahun ke-8 lebih 2 bulan, serta mendapatkan Net Present Value (NPV) sebesar Rp 5.110.238.364, sedangkan dari pembiayaan ekonomi pengemabalian modal pada tahun ke-8 dengan NPV sebesar Rp 699.570.833. Secara ekonomi, perencanaan ini layak untuk dijalankanKata Kunci: konsepsi pengelolaan, pasar apung, kerjasama pemerintah swasta  Abstract: The existence of Banjir Kanal Barat (West Floodway) as a flood control area in Semarang City, create new activities in this area. This area is potential for floating market planning with several tourism attractions. Floating market will be built within 3200 m2 and 150m along the west side of BKB after the railway bridge. In a planning process, the next concern will be making a managerial concept from the construction until operational management. Therefore, the aim of this planning thesis is to arrange a sustainable management concept for floating market in Banjir Kanal Barat. Based on the data analysis, there is a financial and operational management limit for the floating market from The Government. Hence, cooperation between the government and private is needed as Public-Private Partnership (PPP). The cooperation model that can be used for this project is Built Operation Transfer (BOT), which has contract for 20 years. During the period, the private sector does the construction, management, operational, utilization, and profit collection, while the government helps in facilitating and preparing the monitoring team to monitor the sustainability of floating market, until the floating market can be fully government’s asset after the contract ends. The results of the analysis of financial, the payback period occurred after 8 year over 2 months, and get a Net Present Value (NPV) of IDR 5,110,238,364, while the analysis of economic occurred after 8 year and get a NPV of IDR 699 570 833. Economically, this plan feasible.Key words: managerial concept, floating market, public private partnership
KONSEP DESA WISATA HUTAN MANGROVE DI DESA BEDONO, KECAMATAN SAYUNG, KABUPATEN DEMAK Eko Prasetyo; Djoko Suwandono
Ruang Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.777 KB)

Abstract

Abstrak: Desa Bedono merupakan salah satu desa di wilayah pesisir kabupaten Demak yang memiliki potensi wisata mangrove dan religi. Sebagai salah satu desa yang memiliki potensi tersebut, Desa Bedono belum dikembangkan secara optimal. Untuk megembangkan potensi tersebut diperlukan sebuah perencanaan yang matang. Agar perencanaan tersebut tidak salah sasaran, perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu untuk mengidentifikasi kelayakan kawasan yang akan dijadikan sebagai obyek perencanaan. Pada penelitian ini digunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Analisis yang dilakukan yaitu terkait dengan elemen pariwisata. Hasil dari penelitian kemudian dijadikan sebagai masukan untuk merancang desain kawasan wisata di Desa Bedono. Perancangan desain tersebut dilakukan dengan menganalisis kebutuhan ruang, elemen perancangan, kriteria terukur dan tak terukur, kemudian dari hasil analisis perancangan dihasilkan sebuah siteplan desa wisata Bedono.Kata Kunci: Konsep, Pesisir, Desa Wisata Abstract: Bedono Village is one village in coastal area of Demak with mangrove and religious tourism potential. However, that potential is not developed optimally yet. To develop that potential, Bedono needs a good planning. Therefore, this research is made to identify the eligibility of area as a planning object. This research use qualitative descriptive method. The analysis is containing of tourism elements. The result of this research will be an input for the design of Bedono tourism area. The design is made through analysis of area needs, design elements, measurable and un-measurable criteria. Those analysis will be the basic of a siteplan for Bedono tourism area.Key words: Concepts, Coastal, Village Tourism
PERENCANAAN PASAR APUNG BERKELANJUTAN DALAM UPAYA PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA AIR BANJIR KANAL BARAT KOTA SEMARANG Nandha Pradipta Budoyo; Djoko Suwandono
Ruang Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.406 KB)

Abstract

Abstrak: Banjir kanal barat merupakan salah satu kanal di Kota Semarang yang berfungsi sebagai pengendali banjir yang sering melanda Kota Semarang. Banjir kanal barat memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata air. Hal ini dikarenakan akses menuju kawasan banjir kanal barat cukup mudah dan memiliki view yang menarik. Tidak hanya potensi wisata saja yang ada di banjir kanal barat namun juga ada permasalahan yang berkembang di kawasan banjir kanal barat ini. Selama masa normalisasi, sekitar 500 pedagang kaki lima digusur tanpa adanya relokasi. Kondisinya pun saat ini masih kurang tertata sehingga kurang menarik untuk dikunjungi. Metode yang digunakan dalam perencanaan ini adalah metode campuran (mix method). Metode kualitatif digunakan dalam penelitian sedangkan metode kuantitatif digunakan dalam perencanaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi lapangan dan telaah dokumen. Konsep yang akan digunakan untuk mengembangkan banjir kanal barat ini adalah sustainable floating market. Lokasi yang akan menjadi lokasi perencanaan berada di sebelah utara jembatan kereta api dengan luas wilayah perencanaan adalah sebesar 3200 meter persegi. Berdasarkan analisis kelayakan proyek didapat BCR untuk analisis ekonomi sebesar 1,72 dan BCR untuk analisis finansial sebesar 1,86 sehingga dapat disimpulkan bahwa proyek perencanaan wisata air pasar apung berkelanjutan ini layak untuk dilaksanakan.Kata kunci: wisata air, mix method, sustainable floating market Abstract: Flood western canal is one of the canals in the Semarang which serves as a flood control that often occurs in Semarang. Flood western canal has the potential to be developed into a water tourism area. This is because access to the area west flood canal is quite easy and has an interesting view. Not only are there potential for tourism in the west flood canal but there is also a growing problem in the western area of the flood channel. During the normalization period, around 500 hawkers evicted without relocation. This condition is still less arranged so less attractive to visit. The method used in this project is a mixed method. Qualitative methods used in the study while the quantitative methods used in planning. Data collection techniques used were interviews, field observations and document review. Concepts that will be used to develop the western flood canal floating market is sustainable. The location will be the location of the planning is to the north of the railway bridge to the planning area is equal to 3200 square meters.Based on project feasibility analysis obtained BCR of 1.72 for economic analysis and financial analysis of the BCR for 1.86 so it can be concluded that the project planning sustainable tourism water floating market is feasible.Keywords: Water tourism, mixed methods, sustainable floating market 
PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN BARU DAN STRATEGI PENGADAAN TANAH BAGI MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI KECAMATAN BANYUMANIK Handayani Hutapea; Djoko Suwandono
Ruang Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.646 KB)

Abstract

Abstrak: Tingginya intensitas pembangunan, jumlah penduduk yang terus meningkat, harga rumah di pasar sangat mahal dan tanah merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui membuat MBR sulit menjangkau rumah yang layak huni dan murah. Penelitian bertujuan untuk membantu MBR terutama yang bekerja dan bertempat tinggal di Kecamatan Banyumanik dapat mengakses rumah yang layak huni. Penelitian ini menggunakan  pendekatan metode survey dan analisis data menggunakan perpaduan metode kualitatif dan metode kuantitatif. Metode kuantitatif digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik MBR,dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif dan sumber data dengan cara penyebaran kuesioner dan observasi. Untuk pendekatan metode kualitatif digunakan untuk mengkaji kebutuhan ruang, fasilitas dan desain tapak, mengkaji peluang dari program lembaga yang sesuai. Untuk pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil dari penelitian ini berupa penyusunan perencanaan pembangunan perumahan baru dan merumuskan strategi pengadaan tanah untuk pengadaan perumahan bagi MBR. Pembangunan perumahan murah dan layak huni memerlukan waktu yang cukup lama dikarenakan pengadaan tanah dilakukan MBR secara swadaya dan belum ada bantuan untuk pengadaan tanah.  Rekomendasi diusulkan kepada Pemerintah untuk membuat kebijakan terkait ketersediaan tanah, mengajak investor bekerja sama untuk membantu MBR dalam menyediakan tanah terkait pengadaan rumah secara swadaya. Kata Kunci : Pembangunan Perumahan Baru, Pengadaan Tanah , Masyarakat Berpenghasilan Rendah Abstract : The high intensity of development, the population increase, houses prices are very expensive and land is a resource that can not be updated make the low-income communities difficult to access the low-cost housing and livable. This research was aim to help the low-income communities that working and live in Kecamatan Banyumanik. This study used a survey method and analysis data using mixed method combination of qualitative methods and quantitative methods. Quantitative methods are used to identify the characteristics of low-income people and analyzed using descriptive analysis techniques and data sources by questionnaires and observation. Qualitative methods to assess the needs of space, facilities and design for a site, assesses the opportunities of the program agencies. Data collection is by in-depth interviews and document review. The results is a new housing development planning and formulating strategies of land acquisition to housing development for low-income communities. Construction of housing development takes a long time due to land acquisition is the low-income communities independently and there is no help for land acquisition. Recommendations proposed to the Government to make policies related to land availability, invites investors collaborate to assist in providing land acquisition for the low-income communities independently.Keywords: New Housing Development, Land Acquisition, Low-Income Communities
DAMPAK HUBUNGAN KOTA DAN DESA DALAM PERKEMBANGAN PARIWISATA DI KAWASAN BANDUNGAN (Studi Kasus: Kecamatan Bandungan dan Kelurahan Bandungan) Doddy Aditya Pratama; Soegiono Soetomo
Ruang Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.312 KB)

Abstract

Abstrak: Hubungan kota dan desa merupakan suatu bentuk interaksi yang terjadi karena adanya aktivitas yang mengaitkan keduanya, salah satunya yaitu pariwisata. Hal ini terjadi karena adanya tiga faktor penyebab berjalannya aktivitas tersebut, yaitu faktor rekreasi, bisnis dan hiburan. Ketiga faktor tersebut merupakan faktor yang paling dominan terjadi di kawasan Bandungan karena adanya peranan dari orang-orang desa dalam  melayani orang-orang kota sebagai wisatawan yang berwisata selama selama satu hingga dua hari di hari weekend. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan rekreasi karena adanya potensi alam yang dimiliki oleh kawasan desanya tersebut. Hal tersebut menimbulkan suatu hubungan antara penduduk kota dengan penduduk desa. Selain itu, Bandungan juga memiliki kedekatan jarak dari kota Semarang dan Ungaran. Sehingga hal tersebut pula menimbulkan keramaian yang dikarenakan adanya peningkatan fasilitas pariwisata, dan berdampak ke lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana dampak pariwisata yang ditimbulkan dari kedatangan penduduk kota yang melakukan rekreasi ke kawasan Bandungan dari segi fisik dan non-fisiknya?. Metode yang digunakan adalah metode purposive sampling dengan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak pariwisata terhadap tiga aspek, yaitu kondisi ekonomi, sosial-budaya, dan kondisi fisiknya. Dimana untuk dampak pariwisata terhadap kondisi ekonomi dan sosial-budayanya cenderung positif. Salah satunya hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja. Namun tidak demikian dengan perkembangan fisiknya yang cenderung berdampak negatif, karena bersifat merusak sistem ekologi lingkungan. Hal ini dikarenakan belum adanya kebijakan penataan ruang yang jelas di kawasan Bandungan. Sehingga kesimpulan dan rekomendasinya adalah, kawasan Bandungan merupakan salah satu contoh kawasan yang mengalami perubahan dari kawasan pedesaan menjadi perkotaan yang memerlukan tindakan penataan sesuai dengan peraturan daerah setempat. Kata Kunci : Pariwisata, Hubungan Kota-Desa, Ekonomi, Sosial, Budaya, Fisik Lingkungan, Urbanisasi Satelit.  Abstract: Urban-Rural’s Relationship is a form that occurs both of these activities . By causing of three factors of activity progressed , are recreation , business and entertainment . Those three is the most dominant factor in Bandungan had utilized , because this type is activity that is done by common travelers. They do from urban to rural tourism held by one until two days at the weekend. In fact, can be invoking relationship between dweller and villagers. Furthermore the  distance Of Bandungan is not far from the city of Semarang and Ungaran. Thus, this activity will lead the crowd resulting from an increase in tourism facilities, of course, also have an impact on changes in physical and non-physical in the region, both positive and negative impacts. The question in this study is to know what kind of tourism impacts arising from the arrival of the city's population recreation area to Bandungan?. Related to aspects of the services performed by residents around the city residents (tourists) that impact on the non-physical changes to the physical condition. The method used is descriptive qualitative analysis method. The results is to determine the impact of tourism on three aspects, namely economic, social-cultural, and physical environment. Where to the impact of tourism on socio-economic conditions and culture tend to be positive. But not so with the physical development of the region which tends to have a negative impact, because it is damaging the ecology of environment due to the lack of a clear spatial planning policies in Bandungan. So, it was concluded that Bandungan’s region changed into urban areas that require action in accordance with the regulatory region structuring the local area.Keywords: Tourism, Urban-Rural Interaction, Economy, Social, Culture, Physical Environment, Satelite Urbanization.
IDENTIFIKASI PERKEMBANGAN STRUKTUR RUANG PERKOTAAN PADA KORIDOR JALAN UTAMA DI KELURAHAN KALICACING, KOTA SALATIGA Paramita Dyah Maharani PP; Djoko Suwandono
Ruang Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.835 KB)

Abstract

Abstrak : Pertumbuhan kota yang cukup pesat menyebabkan kawasan berkembang mengikuti alur jaman dan gaya hidup masyarakatnya. Tidak adanya peraturan daerah yang kuat untuk melestarikan kawasan ini sehingga banyak kawasan yang mengalami perkembangan struktur ruang perkotaan. Permasalahan terbesar terjadi pada kawasan pusat perkotaan di Kelurahan Kalicacing yaitu Koridor Jalan Letjen Sukowati, Jalan Semeru, Jalan Jendral Ahmad Yani, dan Lapangan Pancasila. Lokasi kawasan yang berada pada pusat perkotaan dengan Lapangan Pancasila sebagai ikon alun-alun perkotaan membawa kawasan ini menuju perubahan yang cukup signifikan dan tidak beraturan. Perubahan struktur ruang perkotaan di Koridor-koridor Jalan Utama Kelurahan Kalicacing, Salatiga dikaji dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian berbasis observasi lapangan. Metode analisis deskriptif kualitatif dilakukan guna mendeskripsikan hasil perkembangan fisik dan non-fisik kawasan studi berdasarkan landasan teori yang digunakan. Pendekatan kualitatif pada penelitian ini fokus pada identifikasi fisik dan non-fisik kawasan. Dimana pendekatan sejarah digunakan untuk melakukan analisis urban tissue dan pola perkembangan wilayah, selanjutnya melakukan analisis kondisi fisik wilayah studi, dan terakhir pendekatan sistem aktivitas digunakan untuk melakukan analisis kondisi non-fisik wilayah studi. Selanjutnya hasil observasi akan dianalisis dengan menggunakan analisis perancangan kota hingga dihasilkan seberapa besar tingkat perkembangan struktur ruang perkotaan pada Koridor Jalan Letjen Sukowati, Jalan Semeru, Jalan Jendral Ahmad Yani, dan Lapangan Pancasila di Kelurahan Kalicacing, Kota Salatiga. Dengan dilakukan penelitian terhadap perkembangan struktur ruang perkotaan kawasan pusat perkotaan diharapkan dapat menghidupkan kembali struktur ruang kawasan yang mulai tidak beraturan, dapat mengembangkan nilai-nilai dari potensi yang ditemukan dan dapat dikembangkan untuk berbagai sektor, dan juga mengevaluasi seberapa jauh upaya pemerintah untuk mempertahankan kawasan sesuai dengan peraturan yang ada.Kata kunci       :     struktur ruang perkotaan, koridor jalan, pusat perkotaan Abstract: As the city is quite loved since the colonial era, Salatiga nowadays has a lot of historical value in the form of objects of cultural heritages. As found in around the Kalicacing, Salatiga. The biggest problems occur in areas of urban centers in Main Corridor of Kalicacing namely Lt. Sukowati St, Semeru St, Jenderal Ahmad Yani St, and Lapangan Pancasila. Location area within the urban centers of the Lapangan Pancasila as urban square icon to bring this region to the significant changes and irregular. Changes in the structure of urban space corridors Kalicacing, Salatiga will be examined using a qualitative approach to this type of research based on field observations. Methods of qualitative descriptive analysis was conducted to describe the results of the physical and non-physical study area based on the theoretical basis that is used. Qualitative approach in this study focused on identifying the physical and non-physical region. Where the historical approach is used to perform the analysis of the urban tissue and the pattern of regional growth, further analyzing the physical condition of the study area, and the last activity of the systems approach is used to perform the analysis of non-physical conditions of the study area. Furthermore, the observation will be analyzed using urban design to the extent resulting spatial structure of urban development on Lt. Sukowati St, Semeru St, Jenderal Ahmad Yani St, and Lapangan Pancasila in the Kalicacing, Salatiga. By doing research on the development of urban spatial structure of urban central region is expected to revive the area spatial structure began irregularly, can develop the values of the potential are found and can be developed for various sectors, and also evaluate how far the government's efforts to maintain the appropriate region with existing regulations.Keywords       :     space structure, street elements, central business districts
TINGKAT AKSESIBILITAS FASILITAS SOSIAL BERDASARKAN KONSEP UNIT LINGKUNGAN DI PERUMNAS BANYUMANIK KOTA SEMARANG Eko Setyo Widyonarso; Nany Yuliastuti
Ruang Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.519 KB)

Abstract

Abstrak: Perumnas Banyumanik merupakan salah satu perumahan skala besar (massal) yang dibangun Perum Perumnas Reginal V Kota Semarang pada tahun 1978 sampai 1979. Perumnas ini dibangun dengan jumlah 5.024 unit terdiri tiga tipe (D21, D33 dan D36). Kualitas lingkungan perumnas yang berumur 34 tahun pada kondisi sekarang mengalami penurunan, menyebabkan penurunan minat penghuni mengakses fasilitas sosial yang ada di perumnas. Padahal seharusnya perumahan ideal mempertimbangkan kemudahan penghuni mengakses fasilitas sosial. Konsep unit lingkungan menjelaskan bahwa perumahan ideal adalah perumahan yang mempertimbangkan jarak, cara mengakses dan waktu tempuh yang singkat. Secara tersirat konsep tersebut mempertimbangkan akan akses yang mudah untuk meningkatkan minat mencapai fasilitas sosial. Penurunan tersebut dikhawatirkan juga menurunkan tingkat aksesibilitas fasilitas sosial yang sekarang. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat aksesibilitas fasilitas sosial berdasarkan konsep unit lingkungan di Perumnas Banyumanik. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa tingkat aksesibilitas fasilitas sosial di perumnas ini termasuk dalam kategori indeks aksesibilitas tinggi, dengan nilai indeks mencapai 2.40. Tingkat aksesibilitas tersebut paling tinggi pada fasilitas peribadatan (nilai indeks mencapai 2.58). Sedangkan tingkat aksesibilitas terendah pada fasilitas pendidikan (nilai indeks mencapai 2.14). Apabila ditinjau dari tipologi rumah, tingkat aksesibilitas sarana lingkungan tertinggi pada tipe rumah D33 dengan nilai indeks mencapai 2.45 (tinggi). Secara umum tingkat aksesibilitas fasilitas sosial di Perumnas Banyumanik dipengaruhi oleh radius pelayanan fasilitas sosial dengan nilai indeks 2.77 (tinggi), tingkat pencapaian dengan nilai indeks 2.06 (menengah) dan nilai indeks intensitas penggunaan 2.38 (tinggi). Tingkat pencapaian pada kemudahan menengah menjelaskan semakin tingginya penghuni perumnas yang mengakses fasilitas sosial di luar perumnas. Berdasarkan penelitian ini pemerintah diharapkan meningkatkan kualitas daya tarik fasilitas sosial yang ada di dalam perumnas untuk meningkatkan minat mengakses.Kata Kunci : neighborhood unit concept, social infrastructure, accessibility to facilities Abstract: Perumnas Banyumanik is one of mass housing that was built Perum Perumnas Reginal V Kota Semarang in 1978-1979. Perum Perumnas Reginal V Kota Semarang has built 5.024 unit consist of D21, D33 and D36. After 34 years the quality of Perumnas environment has decreased, that condition makes interest to access social facilities decreasing. Whereas the ideal housing should consider the ease of access to Perumas residents. The neighborhood unit concept explained the ideal housing has  consider the  distance, the way to access social facilities and short lapse of time. On the other side, that concept consider the ease of access to increase the interest to access the social facilities. That decreasing skeptically will decrease current accessibility level of social facilities. Therefore, the purpose of this research is to measure the accessibility rate of neighborhood social facilities based on neighborhood unit concept in Perumnas Banyumanik. The result based on analysis are the accessibility level of Perumnas social facilities is high with index value reaches 2.40. The highest accessibility rate is worship facilities  (index value reaches 2.58). Even though the lowest is educational facilities (index value reaches 2.14). The highest of accessibility rate of the neighborhood social facilities of house tipology  is D33 type with index value reaches 2.45 (high). Generally, the accessibility level of social facilities influenced by the services facilities radius with index value 2.77 (high), achievement rate with index value 2.06 (medium) and intensity of use rate with index value 2.38 (high). The intensity of use rate is medium explain that Perumnas residents who access the social facilities outside Perumnas is increasing. Based on this research, the government expected to increase the Perumnas social facilities attraction quality to increase housing residents  access interest.Keywords: neighborhood unit concept, social infrastructure, accessibility to facilities

Page 1 of 1 | Total Record : 9