cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
JURNAL PSIKOLOGI UDAYANA
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 02 (2017)" : 20 Documents clear
PERAN EFIKASI DIRI DAN MOTIVASI INTRINSIK TERHADAP RESILIENSI ORANGTUA DENGAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) DI BALI Wulandari, Ni Nyoman Tri Marheni; Supriyadi, Drs.
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.811 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p10

Abstract

Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk menilai, mengatasi, dan meningkatkan diri ataupun mengubah dirinya dari keterpurukan atau kesengsaraan dalam hidup yang membuat seseorang berhasil menyesuaikan diri dalam berhadapan dengan kondisi yang tidak menyenangkan. Kemampuan resiliensi dipengaruhi oleh keyakinan individu terhadap kemampuan yang dimiliki dalam menjalani suatu tugas. Di samping itu dorongan dari dalam diri individu untuk menjalani suatu tugas juga dapat mengembangkan kemampuan untuk beradaptasi dari keterpurukan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran efikasi diri dan motivasi intrinsik terhadap resiliensi orangtua dengan anak berkebutuhan khusus pada Sekolah Luar Biasa (SLB) di Bali. Subjek penelitian ini adalah 78 orangtua dengan anak berkebutuhan khusus pada SLB di Bali. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah two stage cluster sampling dalam probability sampling. Instrumen penelitian ini adalah skala resiliensi, skala efikasi diri dan skala motivasi intrinsik. Hasil yang diperoleh dari analisis regresi ganda menunjukkan nilai R=0,686 (p<0,05) dan koefisien determinasi sebesar 0,471, dengan demikian dapat disebutkan bahwa efikasi diri dan motivasi intrinsik secara bersama-sama berperan sebesar 47,1% dalam menjelaskan varian resiliensi orangtua dengan anak berkebutuhan khusus. Koefisien beta efikasi diri sebesar 0,340 dan siginifikansi 0,008 (p<0,05) menunjukkan efikasi diri ,berperan terhadap resliensi. Koefisien beta motivasi intrinsik sebesar 0,473 dan signifikansi 0,000(p<0,05) menunjukkan motivasi intrinsik berperan dalam menjelaskan varian resiliensi. Hal ini menunjukkan setiap kenaikan 0,340 pada efikasi diri dan 0,473 pada motivasi intrinsik, terjadi peningkatan 1 poin pada resiliensi orangtua dengan anak berkebutuhan khusus pada SLB di Bali. Kata Kunci: resiliensi, efikasi diri, motivasi intrinsik, orangtua dengan anak berkebutuhan khusus
PROSES GRIEVING DAN PENERIMAAN DIRI PADA IBU RUMAH TANGGA BERSTATUS HIV POSITIF YANG TERTULAR MELALUI SUAMINYA Yunita, Anna; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.63 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p01

Abstract

Salah satu permasalahan kesehatan yang menjadi perbincangan di dunia adalah HIV-AIDS. Hingga tahun 2013 terdapat 35 juta orang dengan HIV di seluruh dunia (UNAIDS, 2014). Populasi yang berisiko tinggi dalam penularan HIV-AIDS di Indonesia yakni, pengguna narkoba suntik, wanita pekerja seks, dan laki-laki yang berhubungan seks dengan sesama laki-laki (UNAIDS, 2009). Memasuki tahun 2010, terjadi peningkatan jumlah infeksi HIV-AIDS pada kelompok ibu rumah tangga (Kemenkes RI, 2013). Menurut Dalimoenthe (2011) ibu rumah tangga terjangkit HIV dari suami yang melakukan penyimpangan sosial, baik karena seringnya berganti-ganti pasangan seks atau penggunaan narkoba suntik. Tertular HIV dapat menyebabkan timbulnya berbagai kesulitan yang berhubungan dengan harga diri, isolasi sosial, dan kurangnya kesejahteraan psikologis (Asante, 2012). Peters (2013) menemukan kondisi grivieng wajar terjadi pada individu dengan HIV. Maciejewski, Zhang, Block, dan Prigerson (2007) menemukan bahwa penerimaan diri dapat meningkat apabila kondisi grieving menurun. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui proses grieving dan penerimaan diri pada ibu rumah tangga berstatus HIV positif yang tertular melalui suaminya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, menggunakan responden sebanyak 5 orang ibu rumah tangga yang berstatus HIV positif yang tertular dari suaminya. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, FGD, dan observasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa proses grieving yang dilalui meliputi tahapan penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Terdapat dua bentuk penerimaan, yakni penerimaan negatif dan penerimaan positif. Ketika ibu rumah tangga mengembangkan bentuk penerimaan secara positif, akan berlanjut menuju proses penerimaan diri yang pada akhirnya membentuk self-compassion dan self-disclosure. Kata kunci : grieving, penerimaan diri, ibu rumah tangga, HIV
DINAMIKA MEMAAFKAN PADA KORBAN PELECEHAN SEKSUAL Yudha, I Nyoman Bagus Darma; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.933 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p18

Abstract

Dewasa ini semakin banyak kasus pelecehan seksual terjadi, korban pelecehan seksual tidak memandang usia dan jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan data yang dimiliki Direktorat Reaserse Kriminal Umum Polda Bali, pada tahun 2014 tercatat 87 kasus pelecehan seksual, sedangkan di tahun 2015, hingga Maret 2015 baru tercatat 18 kasus pelecehan seksual. Pelecehan seksual dapat menimbulkan berbagai dampak, baik secara psikologis, fisik, maupun dalam bidang pekerjaan. Dalam mengatasi dendam kepada pelaku pelecehan seksual, memaafkan menjadi satu cara yang dapat dilakukan oleh para korban untuk menghapus trauma yang dirasakan. Memaafkan merupakan sesuatu yang penting tapi juga sulit untuk dilakukan. Memaafkan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat dan setiap individu akan mengalami proses yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui bagaimana dinamika memaafkan pada korban pelecehan seksual dengan pelaku (teman baik, ayah, paman, tetangga) dan jenis kelamin korban pelecehan seksual (laki-laki dan perempuan). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Jumlah responden terdiri dari dua orang perempuan dan dua orang laki-laki sebagai korban pelecehan seksual, beserta satu significant others dari satu responden. Hasil penemuan dalam penelitian ini dibagi dalam tiga fase, yaitu Fase I: Pengalaman, bentuk dan dampak pelecehan seksual, Fase II: Proses, tujuan dan motivasi perilaku memaafkan dan Fase III: Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku memaafkan. Dalam penelitian ini, satu responden perempuan dan satu responden pria dapat memaafkan pelaku, sedangkan responden penelitian lainnya tidak dapat memaafkan pelaku, sehingga penelitian ini menemukan bahwa perilaku memaafkan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin korban. Kata Kunci: Dinamika memaafkan, pelecehan seksual, korban pelecehan seksual
PENYESUAIAN DIRI PADA WARIA ADJUSTED DI BALI Puji Palupi, Agra Putri; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.982 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p06

Abstract

Pada hakikatnya manusia diciptakan dengan jenis kelamin yang berbeda (pria dan wanita), namun dalam kenyataannya, kini telah banyak pria yang berdandan atau bergaya seperti seorang wanita. Seharusnya pria yang berdandan selayaknya seorang wanita akan merasa malu, namun pria-pria ini adalah tipe pria yang berbeda dari biasanya. Indonesia memiliki sebutan yang berbeda bagi pria-pria yang memiliki penampilan seperti wanita, yaitu waria atau “wanita pria”. Jumlah waria di wilayah Bali hingga tahun 2015 menurut LSM Gaya Dewata Bali mencapai 973 orang. Banyak masyarakat yang menganggap kaum waria adalah kaum yang melanggar kodrat sebagai manusia sehingga masyarakat cenderung memberi label buruk kepada kaum waria. Banyaknya diskriminasi yang diterima, kaum waria tetap berani menampilkan diri sesuai dengan keinginannya. Kaum waria yang berani “menampilkan diri” ditengah masyarakat pada siang atau bahkan malam hari disebut sebagai kaum waria yang adjusted dan yang membedakannya dengan waria yang lain adalah dari penyesuaian diri yang dilakukan. Kemampuan kaum waria yang adjusted dapat bertahan ditengah-tengah masyarakat tidak lepas dari proses penyesuaian diri yang menyertai. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui Bagaimana proses Penyesuaian Diri pada Waria Adjusted di Bali. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah empat orang waria yang telah adjusted lebih dari tiga tahun. Penelitian ini menghasilkan tiga kategori temuan, yaitu kategori I: karakteristik partisipan secara umum, karakteristik II: proses penyesuaian diri (yang merupakan temuan utama dalam penelitian ini) dan kategori III: kondisi setelah menjadi waria adjusted. Kata Kunci: waria adjusted, penyesuaian diri, Bali?
GAMBARAN KESEJAHTERAAN SUBJEKIF PADA WANITA YANG MENGALAMI INVOLUNTARY CHILDLESSNESS Sari, Ni Luh Krishna Ratna; Widiasavitri, Putu Nugrahaeni
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.47 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p11

Abstract

Salah satu tujuan penting dari menikah adalah untuk mendapatkan keturunan. Hasil penelitian Blackmore, Lawton, dan Vartanian (2005) menunjukkan wanita memiliki keinginan yang besar untuk segera memenuhi tuntutan tradisionalnya untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu. Tidak semua wanita dapat memenuhi keinginan untuk dapat memiliki anak setelah menikah. Ada yang ingin memiliki anak namun mengalami kerusakan fisik yang menyebabkan peluang untuk hamil menjadi berkurang seperti infertilitas, hal ini disebut dengan involuntary childlessness. Mengalami involuntary childlessness membuat wanita merasakan berbagai penderitaan psikologis sehingga akan memengaruhi kesejahteraan subjektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, dan melibatkan tiga orang responden yang mengalami involuntary childlessness. Metode pengambilan data menggunakan wawancara dan observasi yang dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan menggunakan theoretical coding (open coding, axial coding, dan selective coding). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan subjektif pada wanita yang mengalami involuntary childlessness pada awalnya mengalami banyak afek negatif, namun melalui proses penyempitan atensi dengan afek negatif yang proporsinal dan dengan melakukan emotion-focused coping responden mampu membangun afek positif seperti merasa bersyukur dan rasa senang. Mengalami involuntary childlessness tidak lantas membuat wanita menjadi tidak puas dengan hidupnya, kepuasan diperoleh dari pekerjaan yang dimiliki dan kualitas hubungan pernikahan yang baik. Faktor-faktor yang memengaruhi kesejahteraan subjektif pada wanita yang mengalami involuntary childlessness adalah kepribadian, kualitas hubungan pernikahan, dukungan sosial, dan lingkungan sosial-budaya. Kata kunci: involuntary childlessness, kesejahteraan subjektif
GAMBARAN KEPERCAYAAN, KOMITMEN PERNIKAHAN DAN KEPUASAN HUBUNGAN SEKSUAL PADA ISTRI DENGAN SUAMI YANG BEKERJA DI KAPAL PESIAR Maharupa Asmarina, Ni Luh Putu Gede; Lestari, Made Dia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.458 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p02

Abstract

Menikah adalah tugas perkembangan manusia pada usia dewasa awal. Meningkatnya kebutuhan hidup dan keinginan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik untuk kehidupan rumah tangga membuat suami bekerja di Kapal Pesiar. Banyak isu seputar kehidupan kapal pesiar yang mempengruhi pasangan pernikahan jarak jauh. Kepercayaan, komitmen pernikahan, dan kepuasan hubungan seksual menjadi hal penting untuk mempertahankan pernikahan jarak jauh ini. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bagaimana gambaran kepercayaan, komitmen pernikahan dan kepuasan hubungan seksual pada istri dengan suami yang bekerja di kapal pesiar.Metode penelitian ini adalah kualitatif fenomenologi yang mewawancarai tiga subjek ibu rumah tangga yang bersuami pekerja di kapal pesiar, usia pernikahan minimal tiga tahun, dan minimal telah menjalani pernikahan jarak jauh minimal satu tahun. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa kepercayaan dipengaruhi oleh dua hal besar hal yang pertama adalah memercayai, dipercayai dan karakteristik tujuan orang lain dimana jaminan kepercayaan, pengingkaran janji dan prasangka dan pandangan positif istri menjadi fakor yang memengaruhi. Hal kedua adalah hubungan kekuasaan dan komunikasi yang dipengaruhi oleh komunikasi itu sendiri dan pengambilan keputusan. Komitmen pernikahan di pengaruhi oleh dua faktor besar yaitu level kepuasan dan investasi serta kualitas alternatif. Kepuasan hubungan seksual sendiri dipengaruhi oleh komunikasi dan keseimbangan kedudukan serta afeksi. Dari ketiga hal tersebut komunikasi menjadi hal yang sangat penting dan berpengaruh dalam kelangsungan kehidupan pernikahan jarak jauh khususnya suami yang bekerja di kapal pesiar. Kata kunci: Istri, pernikahan jarak jauh, kepercayaan, komitmen pernikahan, kepuasan hubungan seksual, kapal pesiar
PERAN POLA ASUH AUTORITATIF DAN KONSEP DIRI TERHADAP KECERDASAN SOSIAL REMAJA AWAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI DI DENPASAR Pratiwi, Kadek Indah; Rustika, I Made
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.031 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p19

Abstract

Kecerdasan sosial merupakan kemampuan yang dimiliki individu untuk menjalin hubungan dan kerjasama, mengorganisir, peka membaca reaksi dan perasaan orang lain, serta mampu menangani perselisihan yang muncul. Kecerdasan sosial merupakan aspek mental yang berkembang karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola asuh dan konsep diri. Pola asuh autoritatif berperan dalam meningkatkan kecerdasan sosial karena orangtua lebih hangat, menunjukkan penerimaan yang positif, menerapkan komunikasi dua arah, dan tanggap terhadap anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pola asuh autoritatif dan konsep diri terhadap kecerdasan sosial pada remaja awal. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah remaja awal yang sedang menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri di Denpasar. Sampel pada penelitian ini berjumlah 100 orang. Hasil uji regresi berganda menunjukkan koefisien regresi sebesar 0,559 dan koefisien determinasi sebesar 0,312, dengan signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05), dengan demikian terdapat peran pola asuh autoritatif dan konsep diri terhadap kecerdasan sosial remaja awal. Koefisien beta terstandarisasi dari pola asuh autoritatif menunjukkan nilai sebesar 0,388, dan signifikansi 0,001 (p<0,05), sehingga pola asuh autoritatif berperan secara signifikan terhadap kecerdasan sosial remaja awal. Koefisien beta terstandarisasi dari konsep diri menunjukkan nilai sebesar 0,223, dan signifikansi 0,047 (p<0,05), sehingga konsep diri berperan secara signifikan terhadap kecerdasan sosial remaja awal. Kata Kunci: Kecerdasan sosial, pola asuh autoritatif, konsep diri, remaja awal.
PERAN KOMPONEN CINTA PADA SIKAP TERHADAP HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH REMAJA AKHIR YANG BERPACARAN DI KABUPATEN BANGLI Premaswari, Chitta Dhyana; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.192 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p07

Abstract

Sikap terhadap hubungan seksual pranikah adalah serangkaian evaluasi dan respon individu yang meliputi kognitif, afektif, dan konatif yang menggambarkan sejauhmana individu menerima atau setuju dan menolak atau tidak setuju terhadap hubungan seksual yang dilakukan pasangan yang belum terikat tali pernikahan. Sikap terhadap hubungan seksual pranikah dipengaruhi oleh faktor cinta yang terdiri dari komponen intimacy, passion, dan commitment. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran komponen cinta (intimacy, passion, commitment) pada sikap terhadap hubungan seksual pranikah remaja akhir yang berpacaran di Kabupaten Bangli. Subjek penelitian ini adalah remaja akhir di Kabupaten Bangli yang memiliki pacar dan berusia 18-22 tahun sejumlah 115 orang subjek. Teknik pengambilan sampel menggunakan two stage cluster sampling. Hasil yang diperoleh dari analisis regresi berganda menunjukkan nilai R2= 0,359 (p<0,05), hal ini berarti bahwa intimacy, passion, commitment secara bersama-sama berperan sebesar 35,9% dalam menjelaskan sikap terhadap hubungan seksual pranikah. Koefisien beta terstandarisasi intimacy sebesar -0,138 dan signifikansi 0,227 (p>0,05) menunjukkan bahwa intimacy tidak berperan pada sikap terhadap hubungan seksual pranikah. Koefisien beta terstandarisasi passion sebesar 0,787 dan signifikansi 0,000 (p<0,05) menunjukkan bahwa passion berperan pada sikap terhadap hubungan seksual pranikah. Koefisien beta terstandarisasi commitment sebesar -0,213 dan signifikansi 0,080 (p>0,05) menunjukkan bahwa commitment tidak berperan pada sikap terhadap hubungan seksual pranikah. Hal ini menunjukkan bahwa hanya komponen passion yang berperan secara parsial pada sikap terhadap hubungan seksual pranikah remaja akhir yang berpacaran di Kabupaten Bangli. Kata kunci: sikap terhadap hubungan seksual pranikah, intimacy, passion, commitment, remaja akhir yang berpacaran
EFEKTIVITAS SELF-TALK POSITIF UNTUK MENINGKATKAN PERFORMA ATLET BASKET Indraharsani, I.A. Saraswati; Budisetyani, IGAP Wulan
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.358 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p12

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari penggunaan self-talk positif pada atlet basket untuk meningkatkan performanya. Self-talk merupakan salah satu teknik mental training yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi intrinsik dalam diri atlet. Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang dibangun dalam diri pemain yang dapat memunculkan sebuah perilaku tertentu, sehingga cenderung lebih kuat serta tahan lama. Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti merumuskan masalah apakah penggunaan self-talk efektif untuk meningkatkan performa atlet basket. Penelitian ini merupakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode ekperimen dengan rancangan kuasi-eksperimen. Subjek pada penelitian ini merupakan 12 orang atlet basket putra yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pencatatan poin setelah pemberian treatment self-talk, kuesioner self-talk, dan kuesioner pertanyaan terbuka. Uji validitas dan reliabilitas kuesioner self-talk yang terdiri dari 20 item menyatakan bahwa terdapat dua item tidak valid sehingga jumlah item yang valid adalah 18 item dengan koefisien reliabilitas 0,886. Data yang diperoleh dari hasil pencatatan poin dianalisis dengan menggunakan uji-t non-parametrik yaitu uji Mann Whitney U. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok ekperimen dan kelompok kontrol setelah pemberian treatment self-talk (p<0,05, p=0,005) dan ditunjukkan pula pada nilai kelompok eksperimen antara sebelum dan setelah treatment self-talk (p,0,05, p=0,003). Dari hasil tersebut, dapat diartikan bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa self-talk efektif untuk meningkatkan performa pemain basket diterima. Kata kunci : motivasi intrinsik, self-talk positif, atlet basket, performa
PENGARUH KEPUASAN KERJA DAN KONFLIK PERAN TERHADAP INTENSI TURNOVER PADA KARYAWAN BANK DI DENPASAR Dewi, Nyoman Ayu Trisa Mustika; Wulanyani, Ni Made Swasti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.559 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p15

Abstract

Intensi turnover adalah keinginan dan pemikiran karyawan untuk menarik diri dari perusahaan secara sukarela dengan tujuan untuk mencari alternatif pekerjaan lain dan belum terwujud dalam bentuk perilaku nyata. Faktor yang dapat memengaruhi intensi turnover karyawan adalah kepuasan kerja dan konflik peran. Kepuasan kerja adalah keadaan dan emosi positif yang merupakan hasil dari evaluasi atau penilaian mengenai pekerjaannya yang menyangkut penyesuaian diri yang sehat dari para karyawan terhadap kondisi dan situasi kerja. Konflik peran adalah kondisi dimana terdapat tekanan peran berasal dari keluarga dan pekerjaan yang dapat menyebabkan kesulitan dalam menjalankan salah satu peran dan memengaruhi peran yang lain. Turnover karyawan dapat terjadi pada daerah-daerah yang permintaan tenaga kerjanya tinggi seperti di kota-kota besar. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan di Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh dari kepuasan kerja, dan konflik peran terhadap intensi turnover pada karyawan bank di Denpasar. Subjek pada penelitian ini berjumlah 111 karyawan. Alat ukur penelitian yang digunakan adalah skala intensi turnover, skala kepuasan kerja dan skala konflik peran. Hasil dari uji analisis regresi berganda menunjukan bahwa kepuasan kerja dan konflik peran bersama-sama berpengaruh sebesar 51,9% terhadap intensi turnover karyawan bank di Denpasar (R=0,721). Kepuasan kerja berpengaruh secara signifikan terhadap intensi turnover (?=-0,168). Konflik peran berpengaruh secara signifikan terhadap intensi turnover (?=0,562). Kata Kunci: Intensi turnover, kepuasan kerja, konflik peran, karyawan bank.

Page 1 of 2 | Total Record : 20