cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 1 (2015): April 2015" : 8 Documents clear
KARAKTER TAPAK PERMUKIMAN KUMUH DI KOTA DENPASAR Ayu Wadhanti
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.439 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i01.p04

Abstract

Abstract This article examines the development of slum settlements across Denpasar City. The government's latest identification shows 35 slum areas expanding in four districts of North, West, East and South Denpasar. Each exhibits a specific stage of development, which varies from one slum to another. This research attempts to understand the spatial characteristics of slum settlements, by studying both determining factors and processes. Qualitative research methods are used for 8 selected case studies. What emerges is that slums have been developed either on rented land or within inadequately constructed buildings. Dominant influences include the provision of infrastructure; building form and materials in use; occupation and social conditions of the inhabitants. Additionally, these areas tend to grow in unprotected land/space located along rivers; within settlement areas; within the city's economic centre; within a neglected building; and on unproductive land consequent upon specific government activities and programs. Key words: Slums, development factor, site Abstrak Artikel ini mengkaji proses kemunculan permukiman kumuh di Kota Denpasar. Berdasarkan identifikasi terakhir yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Denpasar, terdapat 35 titik kumuh yang tersebar di empat kecamatan, yaitu Denpasar Utara, Selatan, Timur dan Barat. Masing-masing menunjukan tahapan perkembangan yang spesifik, serta berbeda antara satu dengan yang lainnya. Penelitian ini mencoba memahami karakteristik dari ruang-ruang kota yang memiliki kecenderungan untuk berkembang menjadi permukiman kumuh, dengan mengkaji faktor-faktor penentu serta proses kemunculannya. Metode penelitian kualitatif telah digunakan dalam mengkaji kondisi ini di 8 titik kumuh. Ditemukan bahwa, permukiman informal cenderung muncul di atas dua tipe lahan, yaitu lahan sewa dan lahan tidak dipakai yang ada pada site-site konstruksi. Faktor-faktor penentu perkembangannya termasuk keberadaan infrastruktur pendukung permukiman; adanya bangunan yang terbengkelai; keberadaan bahan bangunan; ketersediaan pekerjaan di area sekitarnya; serta kondisi sosial penghuni. Sementara itu, karakter ruang dalam kota yang memiliki kecenderungan untuk berkembang menjadi permukiman kumuh adalah lahan yang bersebelahan dengan sungai;  berada di area permukiman; berdekatan dengan pusat kota; memiliki bangunan yang tidak terpakai; merupakan lahan negara yang tidak terpakai karena adanya kegitan atau rencana khusus pemerintah yang belum diaktualisasikan. Kata kunci: Permukiman kumuh, faktor pembangunan, tapak
PERUBAHAN PEMANFAATAN LAHAN PELABA PURA DI DESA PEKRAMAN PANJER, KOTA DENPASAR Kadek Wisnawa
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.434 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i01.p07

Abstract

Abstract The study has two purposes. The first is to find out the importance of tanah pelaba pura (communal land dedicated to a temple) to the the pengemong pura (community members who act as caretakers to the temple). The second is to study how views of pengemong pura towards tanah pelaba pura have shifted which consequently influence the use of communal land. The study implements naturalistic research approaches. Tabulation and verification of the data collected throughout the study have been presented in maps, matrices and charts. Changes in views on and uses of tanah pelaba pura have been divided into five different time frames: Period I before 1980 - this was when the new land administration was introduced by the Indonesian State; Period II of 1990 - this was the beginning of the implementation of land consolidation policy; Period III of 1995 when tanah pelaba pura was used for communal purposes to build public facilities; Period IV of 2003-2005, when there were huge political and economic pressures placed upon the tanah pelaba pura; and Period V of 2010-2012 when the economic value of this communal land determines its use rather than socio-cultural concerns. Keywords: Land use change, pelaba pura land Abstrak Penelitian ini memiliki dua tujuan. Pertama, menstudi arti penting tanah pelaba pura (lahan komunal yang didedikasikan untuk mendukung operasional pura) bagi pengemong pura (anggota masyarakat yang bertanggung jawab terhadap keberadaan pura). Kedua, mengkaji bagaimana pandangan para pengemong pura terhadap tanah pelaba pura berubah yang secara konsekuensi berpengaruh terhadap pemanfaatannya. Studi ini menerapkan pendekatan naturalistik. Data-data yang diperoleh telah ditabulasi, diverifikasi, dan dipresentasikan ke dalam peta, matix, dan diagram. Perubahan pandangan serta pemanfaatan lahan dibagi ke dalam lima periode waktu: Periode I-sebelum 1980, dimana tata aturan baru terkait administrasi lahan diperkenalkan oleh Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia; Periode II-1990, merupakan awal diterapkannya kebijakan konsolidasi lahan; Periode III-1995 ketika lahan pelaba pura yang seyogyanya dimanfaatkan untuk mewadahi kegiatan-kegitan pendukung keberadaan pura dimanfaatkan sebagai wadah pembangunan beragam fasilitas publik; Periode IV-2003-2005 dimana faktor ekonomi dan politik menjadi aspek penentu pemanfaatan lahan pelaba pura; Periode V-2010-2012, era dimana faktor ekonomi menjadi dasar pertimbangan utama pemanfaatan lahan pelaba pura, dibanding aspek sosial dan budaya. Kata kunci: Perubahan pemanfaatan lahan, lahan pelaba pura
KAJIAN PROPORSI CANDI TEBING GUNUNG KAWI, TAMPAKSIRING-GIANYAR Anak Agung Gede Raka Gunawarman
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.88 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i01.p05

Abstract

Abstract The term ''candi'' in Indonesia generally refers to sacred buildings, legacies of Hindu-Budha Kingdoms. Candi is often considered a masterpiece erected based on certain architectural guidelines including those pertaining to site selection and proportion. Rock cut candi is one among many forms of structure found in certain areas across the Nusantara. In its objective to study the proportion of a rock cut candi, this article takes Gunung Kawi of Gianyar Regency-Bali, as a case study. The study analyzes the proportion of its physical elements, which are classified into three groups: leg; body; and head elements. Each category is constructed of lower, body and upper frame. This research implements Manasara-Silpasastra principles in regard to proportion of sacred structures. Manasara-Silpasastra proposes five categories of ratio of width to height, which are santika, paushtika, parshnika/jayada, adbhuta, and sarvakamika (Acharya, 1927). The research finds that the proportion between width and height at Gunung Kawi Rock Cut Candi falls into the category of paushtika. This is reflected in the ratio of its height to the width of its foot, which is 2:1. Keywords: Rock cut candi, physical elements of candi, proportion, Manasara-Silpasastra Abstrak Istilah 'candi' di Indonesia diartikan sebagai bangunan suci, peninggalan kerajaan Hindu-Budha. Candi seringkali dipandang sebagai peninggalan yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kearsitekturan, termasuk yang berkenaan dengan pemilihan site, rasio, dan proporsi. Dalam tujuannya untuk mengkaji proporsi dari sebuah candi, artikel ini  mengambil Candi Tebing Gunung Kawi (Kabpaten Gianyar) sebagai studi kasus. Candi tebing merupakan salah  satu struktur yang hanya ditemukan di beberapa lokasi tertentu di Nusantara. Studi ini mengkaji elemen fisik candi yang dibagi dalam tiga kelompok elemen, yaitu kaki, badan, dan kepala. Masing-masing kelompok terdiri dari bagian badan dan bagian atas. Dalam penghitungan proporsi candi, penelitian ini mengimplementasikan prinsip-prinsip Manasara-Silpasastra, khususnya yang berkenaan dengan bangunan suci. Manasara-Silpasastra menawarkan lima kategori proporsi lebar terhadap tinggi dari sebuah candi, yaitu: santika, paushtika, parshnika/jayada, adbhuta, dan sarvakamika (Acharya, 1927). Untuk kasus Candi Gunung Kawi ditemukan bahwa rasio antara tinggi dan lebar dasar candi mengikuti prinsip paushtika: 2:1. Kata kunci: Candi tebing, elemen pembentuk candi, proporsi, Manasara-Silpasastra
TIPOLOGI SETTING DAN AKTIVITAS REKREASI DI SEPANJANG TUKAD BADUNG, KOTA DENPASAR Nyoman Gema Endra Persada
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (987.988 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i01.p06

Abstract

Abstract The Revitalization of Badung River has provided a significant waterfront for Denpasar. Having been used for irresponsibly disposed waste, this river has now emerged as a significant public space. It has promoted diverse recreational activities engaged by urban dwellers of both Denpasar and its surrounding areas. This paper analyses the relationship between numerous spatial settings along the river and their contained recreational activities. The potential attraction of each spatial setting is evaluated by the presence of one or more of the following elements, visible sceneries; aesthetic plants; shade trees; fish; planned space; abandoned or/and vacant  land. Meanwhile, type of activities pertained to recreational function of this waterfront include relaxing; sitting around; fishing; chatting; snacking; resting after work; ceremonial activities; and food vendoring (permanent and non-permanent). The research then makes a connection between each spatial element and activities to draw certain relationships between space and its use. Keywords: Badung River, public space, spatial setting, recreational activities Abstrak Kegiatan revitalisasi Sungai Badung telah menghasilkan daerah aliran sungai yang penting bagi Kota Denpasar. Setelah sekian lama dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan limbah kota, area ini muncul sebagai ruang publik yang signifikan. Area ini mengundang terjadinya beragam aktivitas rekreasi yang dilaksanakan baik oleh penduduk kota yang berasal dari Denpasar dan area-area di sekitarnya. Paper ini menganalisa hubungan antara beragam setting keruangan yang terjadi di sepanjang aliran sungai ini dengan aktivitas rekreasi yang terjadi di dalamnya. Ketertarikan dari setiap spasial setting dievaluasi berdasarkan keberadaan dari satu atau lebih elemen-elemen berikut ini: pemandangan (view); tanaman hias; pohon peneduh; ikan hias berenang dalam aliran air sungai; ruang-ruang yang direncanakan; dan ruang-ruang tidak/belum terencanakan. Sementara itu, kegiatan rekreasi yang telah terjadi adalah: bersantai; duduk-duduk; bersenda gurau; memancing; menikmati makanan kecil; istirahat dari kerja; upacara keagamaan; dan berjualan makanan kecil. Penelitian ini kemudian mengkorelasikan antara ruang serta kegiatan yang terjadi dalam rangka mengkaji hubungan antara tempat dan pemakainya. Kata kunci: Tukad Badung, ruang publik, setting keruangan, aktivitas rekreasi
Book Review : Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi Ngakan Putu Sueca
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.082 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i01.p09

Abstract

-
PEMANFAATAN LAHAN PRA DAN PASCA REKLAMASI DI PULAU SERANGAN I Gede Surya Darmawan
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.024 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i01.p08

Abstract

Abstract Reclamation of the Serangan Island, south of Bali, a controversial decision, has expanded the physical size of the Island from 111 to 481 hectares between 1995 and 1998. The project was carried out by PT. Bali Turtle Island Development (BTID), who also has been the legal owner of the reclaimed land since then. In consequence, there are two types of areas existing. The first is that of the residential area of existing local inhabitants, and second is the reclaimed land of the BTID. This article discusses the pattern of land use changes and factors underlining the spatial changes taking place on Serangan Island before and in the aftermath of reclamation activity. While land use changes are inevitable, there are several reasons. These include physical dimensions of the reclaimed and non-reclaimed land, as well as economic; socio-cultural; policy and political factors. Keywords: Land use change, factors, pre-and post-reclamation Abstrak Reklamasi Pulau Serangan di sebelah selatan Pulau Bali yang merupakan sebuah keputusan kontroversial, telah memperluas ukuran fisik dari Pulai ini dari 111 menjadi 481 hektar. Kegiatan ini dilaksanakan dalam kurun waktu 1995-1998, oleh PT. Bali Turtle Island Development (BTID), yang kemudian menjadi pemilik sah dari semua lahan hasil reklamasi. Sebagai konsekuensinya, muncul dua tipe lahan. Pertama, lahan permukiman yang ditempati warga Pulau Serangan, dan kedua, lahan reklamasi BTID. Artikel ini membahas tentang patrun perubahan penggunaan lahan beserta faktor-faktor pemicunya sebelum dan sesudah dilaksanakannya reklamasi di Pulau Serangan. Disini diakui jika perubahan tata guna lahan merupakan fenomena yang tidak terelakan. Namun untuk kasus Pulau Serangan alasan-alasan pemicunya melingkupi: adanya perbedaan ukuran fisik yang sangat signifikan dari lahan permukiman warga dibandingkan dengan lahan hasil reklamasi BTID; faktor ekonomi; sosial-budaya; kebijakan dan faktor politis. Kata kunci: Pemanfaatan lahan, faktor, pra dan pasca reklamasi
CORPORATE ENVIRONMENTAL RESPONSIBILITY DAN PENINGKATAN KUALITAS FISIK PANTAI KUTA, BALI I Wayan Yudiartana
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.248 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i01.p02

Abstract

Abstract This study aims at determining corporate environmental (CER) responsibilities along Kuta Beach (Bali) in relation to future forms of development, specifically the disposal of waste. For the last one and a half decades, this situation has generated such serious problems that the involvement of all stakeholders is now critical if issues are to be solved in generating a garbage free environment. The engagement of corporate hotel developers is viewed as an absolute determinant of such improvement. Here, not only is an ecologically sound approach to waste management wholly necessary, but the provision of associated infrastructure surfaces as a vital component in the process. Keywords: Corporate environmental responsibility (CER), waste management, quality of space Abstrak Studi ini bertujuan untuk menentukan wujud tanggung jawab terhadap lingkungan alamiah dari beragam pelaku bisnis yang berada di sepanjang Pantai Kuta (Bali) serta keterlibatan mereka dalam pembangunan di masa depan. Ini khususnya yang berkaitan dengan penanganan bahan buangan. Dalam 15 tahun terakhir, situasi ini telah muncul sebagai permasalahan yang serius yang jika hendak ditangani akan mensyaratkan keterlibatan para pelaku bisnis. Penelitian ini memfokuskan bahasannya pada partisipasi perusahaan perhotelan, yang dipandang sebagai faktor penentu yang memiliki peran mutlak di dalam memperbaiki kondisi penanganan sampah yang telah ada sampai saat ini. Selain membutuhkan pendekatan yang berwawasan lingkungan, studi ini juga menemukan bahwa, penanganan bahan buangan di Pantai Kuta juga secara vital membutuhkan infrastruktur dalam proses pelaksanaannya. Kata kunci: Corporate environmental responsibility (CER), penanganan sampah, kualitas ruang
INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN KUMUH DI KECAMATAN DENPASAR BARAT Desak Made Sukma Widiyani
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (879.843 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i01.p03

Abstract

Abstract The Mayor of Denpasar has designated 35 slum areas, nine being located in the most populous area of West Denpasar, with the provision of infrastructure remaining a critical issue. The following research had two objectives. First, to identify current conditions in existing problem areas. Second, to expose the underlying determinants affecting current provision. Three case studies are undertaken using qualitative research strategies in (i) Dauh Puri Kauh Village; (ii) Tegal Kertha Village; (iii) and Pemecutan Kelod Village. Four types of infrastructure require an urgent attention - road networks, fresh water, waste material, and latrine facilities. Natural, artificial, and social factors are identified that affect the condition and provision of infrastructure, with the potential to inform future government strategy in regard to slum environments. Key words: Slums, slums infrastructure Abstrak Sembilan dari 35 titik kumuh yang ditentukan oleh Bapak Walikota Denpasar beralokasikan di Denpasar Barat. Keterbatasan pengadaan infrastruktur merupakan permasalahan krusial bagi permukiman informal ini. Ada memiliki dua tujuan yang ingin dicapai melalui pelaksanaan studi ini. Pertama, mengkaji permasalahan yang ada. Kedua, menstudi faktor-faktor penentu yang mempengaruhi pengadaannya. Dengan mengimplementasikan pendekatan serta metode penelitian kualitatif, tiga titik kumuh  telah dipilih sebagai studi kasus, termasuk yang berlokasikan di (i) Desa Dauh Puri Kauh; (ii) Desa Tegal Kertha; dan (iii) Desa Pemecutan Kelod. Terdapat empat wujud infrastruktur yang harus memperolah perhatikan secara cepat, yaitu: pembangunan jaringan jalan, pengadaan air bersih, penanganan limbah, dan keberadaan fasilitas mandi-cuci-kakus (MCK). Kondisi ini dipengaruhi oleh beragam faktor yang dikategorisasikan menjadi faktor alam, buatan, dan sosial. Diharapkan agar hasil studi ini bisa dijadikan masukan bagi beragam usaha yang ditujukan untuk memperbaiki kualitas lingkungan permukiman kumuh. Kata kunci: Permukiman kumuh, infrastruktur permukiman kumuh

Page 1 of 1 | Total Record : 8