cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 1 (2021): April 2021" : 8 Documents clear
Transformasi Spasial Peri-Urban di Sekitar Sungai Ciliwung dan Keberlanjutan Kegiatan Wisata Berbasis Sungai Mega Sesotyaningtyas; Wiwik D. Pratiwi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1035.296 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i01.p03

Abstract

Peri-urban area has been developed into both residential and tourist development. However, such development has caused serious environmental degradation, as in the case of the development of a peri-urban area of the Ciliwung River. To address this condition, the Komunitas Ciliwung Depok has established Saung Pustaka Air (SPA) as an education and conservation based-tourism. This article aims to describe the spatial transformation taking place around the Ciliwung River in 2009-2019 and to analyze the evolution and the blueprint of the SPA as river-based tourism using the Tourist Area Life Cycle (TALC) Model. This study shows that the conversion from open space into built areas is very significant to note. Meanwhile, the TALC model shows that the SPA is in its "involvement" phase. Tourist facilities and the accessibility to the site are adequate, and both residents and government involvement in all tourism activities as well as development efforts. Various comprehensive policies and strategies need to be done to prevent environmental degradation around the Ciliwung River, especially in the downstream areas. The community also needs to be involved intensively in every environmental conservation activity and decision-making process.Keywords: transformation; peri-urban; Sungai Ciliwung; tourism AbstrakDaerah peri-urban telah dibangun menjadi kawasan perumahan dan pariwisata. Namun, pengembangan kawasan yang semacam ini telah menyebabkan penurunan kualitas lingkungan, seperti yang terjadi di Kawasan peri-urban Sungai Ciliwung. Untuk mengatasi hal ini, Komunitas Ciliwung Depok mendirikan Saung Pustaka Air (SPA) sebagai wisata konservasi dan eduksi. Berdasarkan hal ini, maka artikel ini bertujuan untuk menggambarkan transformasi spasial di sekitar Sungai Ciliwung tahun 2009-2019, serta menganalisis evolusi dan arah pengembangan SPA sebagai wisata berbasis sungai menggunakan model Tourist Area Life Cycle (TALC). Hasil studi menunjukkan bahwa transformasi spasial di sekitar sungai sangat signifikan, dari lahan terbuka atau kawasan hijau menjadi kawasan terbangun. Sedangkan, evolusi dan arah pengembangan destinasi wisata SPA berada pada tahap “involvement”. Tahap ini menunjukkan bahwa fasilitas wisata maupun aksesibilitas menuju lokasi telah memadai bagi wisatawan, bahkan penduduk lokal dan pemerintah daerah juga telah terlibat dalam kegiatan wisata dan upaya pengembangannya. Berbagai kebijakan dan strategi yang lebih komprehensif masih perlu dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mencegah terjadinya degradasi lingkungan sekitar Sungai Ciliwung, terutama di bagian hilir sungai. Masyarakat sekitar juga perlu diikutsertakan secara intensif dalam setiap kegiatan pelestarian lingkungan dan pengambilan keputusan.Kata kunci: transformasi; peri-urban; Sungai Ciliwung; wisata
Transformasi Bentuk Griya Joglo pada Akomodasi Wisata – Studi Kasus pada Cocoa Ubud Sri Indah Retno Kusumowati; Widiastuti .; I Wayan Kastawan
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1096.437 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i01.p04

Abstract

Ubud is a destination for nature, rural and culture-based tourism, where many locally inspired architectural designs for tourist accommodations are found. Cocoa Ubud is for instance owes its architectural existence to a Grya Joglo, a Javanese traditional home. The purpose of this study is to analyze the background of selecting this home as the main architectural form of the Cocoa Ubud, how the joglo has been transformed into accommodation for tourists, and how the community responds to the whole process. This research uses a case study combined with field observations and interviews as methods for data collection. This study finds that the main reason for choosing the grya joglo is due to its classic, nice and likable shape. Accommodation of the architecture of the grya joglo includes the transformation of functions and physical forms as well as adding local decorative elements, such as those used in Balinese traditional homes. In terms of the community’s perception towards the design of Cocoa Ubud, Griya Joglo is welcomed as an accommodated architectural style in the area, especially when it is done in combination with Balinese architectural elements.Keywords: Cocoa Ubud; joglo; balinese traditional architecture; tourist accommodation AbstrakUbud merupakan destinasi wisata alam, pedesaan dan budaya, dimana beragam akomodasi yang diinspirasi oleh arsitektur radisional bisa dinikmati. Cocoa Ubud misalnya diinspirasi oleh grya joglo – rumah tradisional Jawa. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa latar belakang pemilihan bentuk Griya Joglo sebagai akomodasi wisata, menganalisa transformasi bentuk yang terjadi sehubungan dengan penyesuaiannya terhadap arsitektur Bali dan tanggapan masyarakat terhadap akomodasi wisata berbentuk Griya Joglo di Ubud. Metode yang dilakukan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan dilakukan dengan cara observasi lapangan dan mewawancarai pihak terkait. Dari hasil wawancara dengan pemilik ditemukan, bahwa pemilik memilih akomodasi wisata berbentuk Griya Joglo karena bentuknya yang klasik, indah dan disukai tamu. Berdasarkan observasi lapangan ditemukan bahwa transformasi bentuk yang terjadi adalah penambahan dinding pada area badan bangunan pada sektor penanggap dan penyelak wingking sehubungan fungsinya sebagai kamar tidur dan kamar mandi dan penambahan ornamen tradisional Bali pada kepala, badan dan kaki serta penggunaan komponen arsitektur Bali pada tiang penanggap. Masyarakat sekitar Cocoa Ubud menerima bangunan Griya Joglo sebagai akomodasi wisata di Ubud karena bangunan tersebut dibangun diluar area perumahan tradisional dan telah menyesuaikan dengan arsitektur tradisional Bali dengan menggunakan ornamen tradisional Bali. Kata kunci: Cocoa Ubud; joglo; arsitektur tradisional bali; akomodasi wisata
Detil Publikasi Jurnal Ruang-Space
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.235 KB)

Abstract

Pengaruh Konfigurasi Ruang terhadap Jumlah Pengunjung pada Bangunan Komersial Mal di Pontianak Andi .; Zairin Zain; Uray Fery Andi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.653 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i01.p05

Abstract

Ayani Megamall has a higher number of visitors than Matahari Mall. The two malls also have different shapes of spatial configuration. This condition gives rise to a research hypothesis that Ayani Megamall has a higher number of visitors because the spatial configuration of the Ayani Megamall is better. The purpose of this study was to determine the effect of the spatial configuration of the mall on the number of visitors from two case studies of malls with different conditions. Spatial configuration affects human behaviors in using space. These behaviors can be analyzed in the analysis of connectivity, integration, and intelligibility which are formulated in the space syntax method. This study used the space syntax method with a convex map representation model. The value of space syntax analysis for the two malls as compared to find out a better spatial configuration of the mall. The number of visitors between the two malls was compared based on the visitor occupancy formula which involved not only the number of visitors but also the area of the mall building. The research shows that Ayani Megamall has a better spatial configuration and thus the research hypothesis is accepted. This finding can be concluded that the spatial configuration affects the number of visitors. The better the configuration of the mall space, the smoother the mall's business will be.Keywords: spatial configuration; shopping mall; space syntax; occupancy AbstrakAyani Megamall memiliki jumlah pengunjung yang lebih banyak daripada Matahari Mall. Kedua mal ini juga memiliki bentuk konfigurasi ruang yang berbeda. Kondisi ini memunculkan hipotesis penelitian yaitu Ayani Megamall memiliki jumlah pengunjung yang lebih banyak karena konfigurasi ruang Ayani Megamall lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh konfigurasi ruang mal terhadap jumlah pengunjungnya dari dua studi kasus mal yang memiliki kondisi yang berbeda. Secara teori, konfigurasi ruang mempengaruhi perilaku manusia dalam menggunakan ruang. Perilaku tersebut dapat dianalisis dalam analisis connectivity, integration, dan intelligibility yang dirumuskan dalam metode space syntax. Penelitian ini menggunakan metode space syntax dengan model representasi convex map. Nilai analisis space syntax kedua mal dikomparasikan untuk mengetahui konfigurasi ruang mal yang lebih baik. Jumlah pengunjung antara dua mal dikomparasi berdasarkan rumus okupansi pengunjung yang tidak hanya melibatkan faktor jumlah pengunjung tetapi juga luas bangunan mal. Hasil temuan penelitian memperlihatkan Ayani Megamall memiliki konfigurasi ruang yang lebih baik sehingga hipotesis penelitian terbukti benar. Temuan ini dapat disimpulkan bahwa konfigurasi ruang mempengaruhi jumlah pengunjung. Semakin baik konfigurasi ruang mal semakin lancar usaha mal tersebut..Kata kunci: konfigurasi ruang; mal; space syntax; okupansi
Editorial: Tahun ke-2 bersama Covid-19, Belajar dari Pandemi dalam Merencanakan Lingkungan Terbangun Gusti Ayu Made Suartika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.845 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i01.p01

Abstract

-
Transformasi Elemen Rancang Bangun Tradisional dalam Tampilan Arsitektur Bangunan Kekinian Sylvia Agustine Maharani; Gusti Ayu Made Suartika; Kadek Edi Saputra
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1209.547 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i01.p06

Abstract

It is undeniable to express that architectural designs have a defining role in developing an identity, impression, and finally sense of a place. Traditional architecture which grows and develops along with the course of culture, natural conditions, geography, topography, and the social system, has characterized the existence of vernacular architecture of certain localities. The idea of embracing traditional architectural principles and forms into the current design of a built form has always been a real challenge. This encounter is even intensified when design in architecture is understood as a process of addressing needs, ideas, inspiration, conformance to a set of guidelines, as well as an embedded message an architect would like to convey through her/his design. This article discusses the approaches and efforts made by Grounds Kent Arsitek Indonesia (GKAI) in embracing traditional Balinese architecture in designing The Alantara Resort Sanur. This is a study that applies a qualitative approach, implementing interviews and in-depth design observations as its methods in data collection. By focusing on the building style, the results of this study show that there was a great deal of re-interpretation process of Balinese traditional architecture taking place, including 1) adaptation in the application of the Tri Angga concept; 2) domination in the use of local building materials; 3) adjustment in techniques as to how traditional building decorative elements are produced and used; 4) modification in the spatial hierarchy of certain structures; and 5) simplification in form of ornaments and decorative elements in use. Keywords: traditional architecture; the architecture of the current building; building style AbstrakTidak bisa dipungkiri jika karya arsitektur memiliki peran penting di dalam membangun identitas, rasa dan kesan dari sebuah tempat - sense of place. Disini peran arsitektur tradisional yang tumbuh dan berkembang seiring perjalanan budaya, kondisi alam, geografi, tofografi, beserta sistem sosial kemasyarakatan memberi ciri pada keberadaan arsitektur vernacular. Menjadi tantangan bagi para arsitek untuk mengakomodasi wujud tradisi rancang bangun ini ke dalam desain, sebelum memunculkan karya desain yang merupakan peleburan antara ide, tradisi, dan kaidah-kaidah karya kekinian, serta pesan yang ingin disajiikan. Artikel ini membicarakan tentang pendekatan serta upaya yang dilakukan oleh Grounds Kent Arsitek Indonesia dalam merangkul arsitektur tradisional Bali di dalam mendesain The Alantara Resort Sanur. Ini merupakan sebuah studi yang menerapkan pendekatan kualitatif, dengan metode interview dan observasi desain yang mendalam. Dengan berfokus pada tampilan bangunan, hasil penelitian menunjukan adanya reintrepetasi arsitektur tradisional yang mencakup 1) adaptasi penerapan konsep Tri Angga; 2) dominasi dalam pemanfaatan bahan bangunan lokal; 3) pengolahan teknik pemanfaatan ragam hias tradisional pada badan bangunan; 4) penyesuasian skala hierarkhi vertical bangunan; dan 5) penyederhanaan pada ornamen dan ragam hias.Kata kunci: arsitektur tradisional; arsitektur bangunan masa kini; tampilan bangunan
Kajian Townscape Koridor Jalan Pahlawan Tabanan I Gde Putu Esa Prakara Nayaka; Anak Agung Ayu Oka Saraswati; Ni Ketut Ayu Siwalatri
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (932.69 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i01.p02

Abstract

Jalan Pahlawan is the main road of Tabanan City, the center for government offices of Tabanan Regency in Bali. This road used to be dominated by buildings dedicated to offices. Over time, however, this is no longer the case. It has been decorated with other building types that eventually change its visual character. This study aims to analyze the visual character of 2 segments of the Jalan Pahlawan corridor. The study uses a qualitative descriptive method by applying the townscape theory, namely serial vision (place and content). The study limits its research by only investigating the first layer of buildings that exist on both sides of the Jalan Pahlawan. This study shows that 3 segments have focal points while the other segment does not. This is due to the low visual diversity created by building sited in this corridor. The largest viscosity is found in the Tabanan Regent's Office which has a 35-meter border of undeveloped area. Sidewalks for pedestrians are found on both the northern and southern parts of the corridor which are also well decorated by thick vegetation. Vegetation is important in creating shade, but it should be wisely selected so it will not omit visual character potentially created by a series of unique buildings that exist along the corridor.Keywords: building façade; serial vision; townscape; street corridor AbstrakJalan Pahlawan merupakan jalan protokol yang menjadi pusat pemerintahan di Kota Tabanan di Bali. Seiring berjalannya waktu, dominasi bangunan perkantoran mulai berkurang dengan munculnya berbagai jenis bangunan lain. Hal tersebut menyebabkan terjadinya perubahan karakter visual. Studi ini bertujuan untuk menganalisis karakter visual dari 2 segmen di sepanjang koridor Jalan Pahlawan untuk mengetahui perubahan karakter visual di sepanjang koridor tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menerapkan teori townscape, yaitu serial vision (place dan content). Batas penelitian berupa satu lapis deret bangunan yang saling berhadapan di sepanjang koridor Jalan Pahlawan. Penelitian ini menunjukkan bahwa 3 segmen memiliki focal point dan 1 segmen tidak punya. Ini disebabkan rendahnya keragaman visual pada wajah bangunan di koridor ini. Viscosity terbesar ditemukan pada Kantor Bupati Tabanan yang memiliki garis sempadan 35 meter. Trotoar untuk pejalan kaki ditemukan di bagian utara dan selatan dari koridor ini yang juga dipenuhi dengan pepohonan yang lebat. Vegetasi berperan penting dalam menciptakan keteduhan, namun harus dipilih secara bijaksana sehingga keberadaannya tidak menghilangkan visual karakter yang dimunculkan oleh bangunan-bangunan yang unik yang berada di sepanjang koridor.Kata kunci: fasad bangunan; serial vision; townscape; koridor jalan
Persepsi dan Motivasi Pemangku Kepentingan terhadap Pengembangan Ekowisata Tondok Bakaru Darmawan Risal; Harsani .; Harlina .; Hiskia Roynaldi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (826.742 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i01.p07

Abstract

Tondok Bakaru Village in Mamasa Regency was designated as a Desa Sadar Wisata in 2019, as an effort to increase the local economy. The purpose of this study to determine the perceptions and motivations of stakeholders towards the development of Tondok Bakaru ecotourism. The phenomenological approach is used to analyze correlations between the proposed development with the economic development, ecology, and socio-culture. Study results are classified based on class intervals listed on the assessment graphs completed with associated descriptions. Notable findings here are as follows. Stakeholder's perception of Tondok Bakaru ecotourism development is on a ‘very agreeable’ scale. This is due to a ‘high desire’ scale expressed by stakeholders to have active roles in the development of ecotourism in Mamasa. Stakeholder motivation towards economic development is also on a ‘high scale’. Many stakeholders also express that it is necessary to improve tourism infrastructures, provide support for orchid cultivation-related business, development of networks for food provision, and other supporting facilities. Aspiration for the development of ecology-based tourism is also on a rather ‘high’ scale, as the concept of Tondok Bakaru ecotourism has not been well-conceived that indeed has disrupted the hydrological system, land conservation, and preservation of flora and fauna. Moreover, aspiration for socio-cultural development is on a ‘very high’ scale. This is influenced by a great concern on the gradual extinction of Tondok Bakaru Village’s socio-cultural assets.Keywords: ecology; economy; ecotourism; stakeholder; socio-culture AbstrakDesa Tondok Bakaru di Kabupaten Mamasa ditetapkan menjadi Desa Sadar Wisata pada tahun 2019 sebagai upaya peningkatan daya tahan ekonomi lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi dan motivasi pemangku kepentingan terhadap pengembangan ekowisata Tondok Bakaru. Pendekatan fenomenologi digunakan untuk menganalisis persepsi dan motivasi terhadap pengembangan ekowisata yang berkaitan dengan ekonomi, ekologi dan sosial budaya di Tondok Bakaru. Hasil analisis dikelaskan berdasarkan interval kelas pada grafik penilaian dan pemaknaannya diuraikan secara deskriptif kualitatif. Persepsi terhadap pengembangan ekowisata Tondok Bakaru berada pada skala sangat setuju karena didasari oleh adanya keinginan yang tinggi dari pemangku kepentingan untuk berperan aktif pada pengembangan ekowisata di Kabupaten Mamasa. Motivasi pemangku kepentingan terhadap pengembangan ekonomi berada pada skala tinggi. Terbatasnya penunjang ekonomi ekowisata sehingga perlu dilakukan pembenahan infrastruktur, pengadaan inkubasi kelompok usaha budidaya tanaman anggrek, makanan dan penyewaan fasilitas penunjang. Motivasi pada pengembangan ekologi ekowisata pada skala agak tinggi karena konsep pengembangan ekowisata Tondok Bakaru belum tertata dengan baik yang memungkinkan terganggunya sistem hidrologi, konservasi lahan dan pelestarian flora fauna. Motivasi pada pengembangan sosial budaya berada pada skala sangat tinggi karena dipengaruhi oleh keprihatinan pada asset sosial budaya yang saat ini terancam punah.Kata kunci: ekologi, ekonomi; ekowisata; eemangku kepentingan; eosial budaya

Page 1 of 1 | Total Record : 8