cover
Contact Name
Fidrayani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
psga@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender
ISSN : 14122324     EISSN : 26557428     DOI : 10.15408/harkat
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender is published by the Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. the journal has been issued two times a year. Harkat invites scholarly articles on gender and child studies from multiple disciplines and perspectives, including religion, education, psychology, law, social studies, etc.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
“SEKOLAH RAMAH ANAK” BERBASIS PERDA: STUDI PADA PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 189 TAHUN 2010 TENTANG KAWASAN TANPA ASAP ROKOK (KTAR) Yudi Armansyah
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 11 (1), 2015
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3145.471 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v15i1.10428

Abstract

Sekolah dalam fungsi yang sebenarnya, selain sebagai tempat proses belajar mengajar juga merupakan wahana bagi anak-anak untuk melakukan aktualisasi dan sosialisasi diri. Dalam kegiatan sosial tersebut, anak-anak pastinya sering menggunakan fasilitas sekolah, seperti ruang kelas, taman bermain dan halaman sekolah. Namun, sering didapati para peserta didik tersebut belum memperoleh tempat bermain yang sehat dan bersih akibat pencemaran udara di lingkungan sekolahnya. Hal tersebut diakibatkan masih ditemukan para wali murid, penjaga sekolah, bahkan ironisnya, guru yang merokok di lingkungan sekolah. Hal ini tentu saja, tidak sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Nyatanya sekolah masuk ke dalam tujuh kawasan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai wilayah bebas asap rokok. Bahkan, untuk kota Jambi sendiri, sejak tahun 2010 telah mengeluarkan peraturan daerah yang tertuang dalam Surat Keputusan Walikota Jambi Nomor 189 Tahun 2010 tentang Kawasan Tanpa Asap Rokok (KTAR). Kajian ini berupaya menggali sejauhmana, efektifitas dari peraturan peraturan tersebut. Utamanya di lingkungan Sekolah Dasar (SD) sebagai locus utama kajian. Apakah sekolah telah menjadi tempat yang nyaman dan bersih bagi anak-anak ketika bersosialisasi dengan sesamanya, atau sebaliknya sekolah masih mengabaikan kesehatan peserta didiknya.
MEMPERKUAT KEWIRAUSAHAAN PEREMPUAN MELALUI UMKM SEBAGAI PENOPANG LAJU PEMBANGUNAN PEREKONOMIAN Mohamad Alen Aliansyah
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender, 12 (2), 2016
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2317.013 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v12i2.7571

Abstract

Pasca dibentuknya Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women atau CEDAW oleh PBB, hak-hak perempuan dalam kehidupan sosial terus muncul kepermukaan, hak yang terus mencuat adalah di bidang perekonomian. Hak perempuan dalam perekonomian mengalami perkembangan dengan perannya yang signifikan terhadap perekonomian, hal tersebut dikarenakan tuntutan perkembangan ekonomi dunia. Dalam menghadapi perkembangan dunia, pembangunan ekonomi menjadi agenda untuk mengejar perkembangan ekonomi dunia. Sehingga, tulisan ini bertujuan memperlihatkan peran kewirausahaan perempuan terhadap pembangunan ekonomi. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan jenis data sekunder. Singkatnya, dalam agenda pembangunan ekonomi harus bertumpu pada perekonomian domestik yang padat karya, oleh karena itu perlu pembenahan dan penguatan kewirausahaan perempuan.
PENCEGAHAN DAN PERLINDUNGAN ANAK BERBASIS GAMPONG DI ACEH Abidin Nurdin
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 14(2), 2018
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4169.614 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v14i2.12813

Abstract

Abstract. This paper discussed the prevention and protection of village-based ABH with the Adat approach in Aceh. The number of ABH continues to grow which is caused by factors, the environment, wrong students, families are not harmonious, the lack of religious education. Not only in Indonesia, but also in Japan, the Philippines, Malaysia and Bangladesh formal legal processes have been left to be replaced by non-formal or diversion. However, the problem is the community's readiness and the responsibilities of parents in providing prevention and protection for ABH. In Aceh with traditional power which is thick with religious values it is able to provide prevention and protection even rehabilitation to village-based ABH. Some villages in Aceh have succeeded in making reusam gampong (village regulations) that put forward aspects of prevention and protection as well as strengthening traditional institutions (keuchik, tuha peut and teungku imum) and the role of parents. Sanctions given that are educational for example, cleaning meunasah, adhan for some time, memorizing some surahs in the Koran.Abstrak. Tulisan ini membahas tentang pencegahan dan perlindungan ABH berbasis gampong dengan pendekatan Adat di Aceh. Jumlah ABH terus bertambah yang disebabkan oleh faktor, lingkungan, salah didik, keluarga tidak harmonis, minimnya pendidikan agama. Saat ini bukan saja di Indonesia, tetapi juga di Jepang, Filipina, Malaysia dan Bangladesh proses hukum formal mulai ditinggal diganti dengan non formal atau diversi. Namun demikian yang jadi masalah adalah kesiapan masyarakat dan tanggung jawab orang tua dalam memberikan pencegahan dan perlindungan terhadap ABH. Di Aceh dengan kekuatan adat yang kental dengan nilai-nilai agama mampu memberikan pencegahan dan perlindungan bahkan rehabilitasi pada ABH yang berbasis gampong. Beberapa gampong di Aceh telah berhasil membuat reusam gampong (peraturan desa) yang mengedepankan aspek pencegahan dan perlindungan serta penguatan lembaga adat (keuchik, tuha peut dan teungku imum) serta peran orang tua. Sanksi yang diberikan yang bersifat mendidik misalnya, membersihkan meunasah, azan dalam beberapa waktu, menghafal beberapa surah dalam al-Quran. 
PERLINDUNGAN ANAK PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN PERUNDANG-UNDANG nurlaila harun
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 14(1), 2018
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2926.138 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v14i1.10398

Abstract

Abstract. Children are children, and not little adults. Thus, the treatment of children whether involved in criminal acts or those experiencing social problems must be addressed for the welfare of children. The need for children adoption within Indonesian Islamic community will also be increasingly important for those who need it, in order to obtain legal certainty in which can be obtained by a court decision including the decision of the Religious Court. The marriage law and religious justice law have regulated in detail about child care and guardianship which are compiled in a compilation of Islamic law. The Law on Religious Courts explicitly states that the Religious Courts are a court for Muslims regarding cases or matters that are in its authorities. Muslims in this case are not only adults but also children. Unfortunately, the issue of children protection is not referred explicitly in the authorities of the Religious Courts. However, to serve and to fulfill the legal needs of Muslims regarding to child care, the Religious Courts, at the request of someone who adopts a child based on Islamic law, may issue a decision on adoption in terms of the child concerned as a proof of completion of the will must be regulated in the Compilation of Islamic law of Religious Courts. Consequently, the rights and obligations of parents who have adopted children with Islamic law have special characteristics that are different from the rights and obligations of parents who have adopted children without Islamic law. Abstrak. Anak-anak adalah anak-anak, dan bukan orang dewasa kecil. Dengan demikian, perlakuan terhadap anak-anak apakah terlibat dalam tindakan kriminal atau mereka yang mengalami masalah sosial harus ditangani untuk kesejahteraan anak-anak. Kebutuhan adopsi anak dalam komunitas Islam Indonesia juga akan semakin penting bagi mereka yang membutuhkannya, untuk mendapatkan kepastian hukum yang dapat diperoleh melalui keputusan pengadilan termasuk keputusan Pengadilan Agama. Hukum perkawinan dan hukum keadilan agama telah mengatur secara rinci tentang pengasuhan anak dan perwalian yang disusun dalam kompilasi hukum Islam. Undang-Undang tentang Pengadilan Agama secara eksplisit menyatakan bahwa Pengadilan Agama adalah pengadilan bagi umat Islam tentang kasus atau hal-hal yang ada dalam otoritasnya. Muslim dalam hal ini tidak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak. Sayangnya, masalah perlindungan anak tidak dirujuk secara eksplisit dalam otoritas Pengadilan Agama. Namun, untuk melayani dan memenuhi kebutuhan hukum umat Islam terkait perawatan anak, Pengadilan Agama, atas permintaan seseorang yang mengadopsi anak berdasarkan hukum Islam, dapat mengeluarkan keputusan tentang adopsi dalam hal anak yang bersangkutan sebagai bukti penyelesaian kehendak harus diatur dalam Kompilasi hukum Islam Pengadilan Agama. Akibatnya, hak dan kewajiban orang tua yang mengadopsi anak dengan hukum Islam memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan hak dan kewajiban orangtua yang mengadopsi anak tanpa hukum Islam. 
PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK USIA DINI PERSPEKTIF ISLAM Ali Mukti
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender, 12 (2), 2016
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3207.483 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v12i2.7562

Abstract

Abstrak: Maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak di bawah umur saat ini sudah sangat memprihatinkan bahkan dapat dikatakan dalam kondisi kritis dan darurat sehingga sangat meresahkan, butuh penanganan khusus dan serius dari berbagai kalangan, terutama dari pihak keluarga, pegiat pendidikan, pakar hukum, tokoh agama dan juga pemerintah agar kondisi tersebut segera dapat tertangani dan diantisipasi. Kekerasan seksual yang terjadi saat ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa ataupun anak remaja saja akan tetapi sudah sering terjadi pada anak usia 2-6 tahun atau yang disebut dengan anak usia dini. Maraknya kasus kekerasan seksual tersebut perlu segera ditangani secara intensif salah satunya dengan melakukan upaya preventif melalui pendidikan seks sejak anak usia dini. Hal ini menjadi penting dilakukan agar anak mulai faham mengenai masalah seksualitas sehingga terhindar dari ancaman pelecehan seksual. Tulisan ini merupakan hasil penelitian library research yang isinya mencoba menemukan gambaran mengenai perlunya pendidikan seks pada anak sejak usia dini sebagai upaya preventif terhadap pelecehan seksual dengan berdasarkan perkembangan psikologi anak (perkembangan kognitif dan perkembangan seksual) serta bagaimana memberikan pendidikan seks terhadap anak usia dini dalam perpsektif Islam. Mengingat masyarakat kita masih tabu ketika mendengar istilah pendidikan seks, apalagi diterapkan untuk anak yang masih berada pada usia dini.
KONSEPSI AL-QURAN TENTANG PEREMPUAN PEKERJA DALAM MENSEJAHTERAKAN KELUARGA Isna Rahmah Solihatin
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender, 13(1), 2017
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.061 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v13i1.7714

Abstract

Problem utama yang didiskusikan dalam tulisan ini adalah bahwa tidak jarang ditemui perempuan yang mengeksplor kemampuan dirinya dalam sektor publik melalui pekerjaan yang dilakukan, namun dipandang sebelah mata dengan dalih adat patriarki dan agama, serta tidak jarang juga kehilangan haknya sebagai perempuan dalam bekerja. Tulisan ini menggunakan Al-Quran serta Hadis sebagai rujukan utama sebagai bentuk legalitas perempuan dalam bekerja di sektor publik. Implikasi dari tulisan ini diharapkan agar tidak ada lagi anggapan miring terhadap perempuan pekerja, juga dapat meminimalisir adanya perenggutan hak perempuan pekerja melalui kebijakan-kebijakan yang diberikanoleh Agama dan Negara.
KEBIJAKAN 6 BULAN MASA CUTI MELAHIRKAN UNTUK MENGHINDARKAN PEKERJA MENGALAMI DEPRESI DAN STRES SAAT MEMBERIKAN ASI Asep prasetyo
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 11 (2), 2015
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2841.401 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v11i2.10442

Abstract

Penelitian ini mencoba mengetahui pentingnya kebijakan memperpanjang hak cuti melahirkan bagi karyawan menjadi 6 bulan dibandingkan merevisi atau menetapkan hukum lain mengenai penyediaan Ruang ASI di tempat kerja. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui apakah kebijakan Ruang ASI yang selama ini diterapkan oleh Perusahaan telah memadai untuk menjamin terselenggaranya program ASI ekslusif serta sebagai bahan pertimbangan untuk melegalkan memperpanjang masa cuti melahirkan menjadi 6 bulan. Data lapangan didapat melalui survei online menggunakan aplikasi Google form yang dipublikasikan di dalam website Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Adapun studi kepustakaan juga dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang ASI, bagaimana terbentuknya ASI dan manfaatnya, serta kondisi yang dialami oleh seorang ibu saat melahirkan. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa kebijakan memperpanjang masa cuti melahirkan lebih manusiawi dibandingkan dengan merevisi kebijakan Ruang ASI karena seorang ibu yang lebih fokus dalam mengasuh anak di awal pasca melahirkan lebih memberikan ketenangan dan kenyamanan. Sedangkan seorang ibu yang mendapatkan porsi cuti sedikit dan terbebani oleh pekerjaan kantor cenderung dapat menyebabkan stres yang dapat mengurai kualitas dan produksi ASI.   
SEKOLAH ALAM: ALTERNATIF PENDIDIKAN RAMAH ANAK Ahmad Hamadani
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 11 (1), 2015
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3248.775 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v15i1.10433

Abstract

Sekolah sudah sejak lama dipercaya oleh banyak kalangan sebagai tempat untuk memperoleh pendidikan. Kepercayaan ini disertai pemberian tanggung jawab kepada sekolah untuk menghadirkan lingkungan yang aman dan nyaman bagi peserta didik. Namun, data dari riset yang dilakukan LSM Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) yang dirilis awal Maret 2015 menunjukan, 84% anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Hal ini merupakan paradoks ditengah lahirnya UU Nomor 35 tahun 2014. Padahal anak adalah tunas bangsa, aset berharga yang merupakan bagian dari suatu negara. Banyaknya kasus kekerasan pada anak yang terjadi di sekolah secara langsung telah mencoreng citra pendidikan yang selama ini dipercaya oleh banyak kalangan sebagai tempat dimana proses humanisasi berlangsung. Minimnya sekolah yang hadir dengan membawa konsep lingkungan ramah anak menjadi salah satu penyebabnya. Oleh karena itu, Indonesia perlu memiliki sekolah tidak hanya dengan konsep pendidikan unggul, namun juga dapat menghadirkan lingkungan ramah anak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif interpretatif, yang dilakukan di Sekolah Alam Bintaro Kota Tangerang Selatan. Data primer diambil dari observasi dan wawancara sedangkan data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan. Analisis teks yang digunakan adalah bersifat kualitatif, yaitu merupakan proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang mudah dipahami.Hasil penelitian menunjukan bahwa kehadiran Sekolah Alam di Bintaro Kota Tangerang Selatan membawa angin segar ditengah maraknya kasus kekerasan yang terjadi di sekolah. Sekolah Alam Bintaro Kota Tangerang telah menunjukan bagaimana sistem sekolah yang dibentuk secara apik mampu menghadirkan alternatif lingkungan pendidikan yang layak bagi anak.
REKONSTRUKSI MATERI DAKWAH UNTUK PEMBERDAYAAN PEREMPUAN: PERSPEKTIF TEOLOGI FEMINISME Masthuriyah Sa’dan
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender, 12(1), 2016
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4814.512 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v12i1.7578

Abstract

Dakwah adalah sebuah kegiatan untuk menyampaikan pesan-pesan agama yang dilakukan oleh seorang da’i. Kegiatan dakwah gencar di laksanakan, akan tetapi dakwah hanya bersifat ukhrawi-oriented, dan bukan sosial-kontekstual. Akibatnya  dakwah belum mampu menyelesaikan persoalan ummat yang terkait dengan isu-isu perempuan. Ironisnya, dakwah yang disampikan oleh para da’i justru menambah dan memperkuat beban perempuan dalam kerangkeng agama. Akibatnya perempuan terpasung dalam otoritas teks yang di dalangi oleh laki-laki. Oleh sebab itu, sebenarnya ada yang perlu dirubah dalam dakwah. Salah satunya adalah perubahan konten materi dakwah. Rekonstruksi materi dakwah dilakukan dengan menggunakan analisa teologi feminis dalam hal ini feminis muslim
PENERAPAN DALIL SYAR’I : UPAYA MENCIPTAKAN LINGKUNGAN KERJA RAMAH MANUSIA Muhammad Farid
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 14(2), 2018
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2137.176 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v14i2.12821

Abstract

Abstract. The difference between causal about gender and its practice makes problems related to economy, welfare and education more prominent. The majority understands that gender is an equal right between men and women. Such understanding is what erodes the role as well as the inner degree of a woman. This condition can be seen in the current work environment which increasingly alienates women from their families. So that the work environment that should be a factor driving the economy becomes a new problem because of its inferiority towards women and children. Islam as a religion of mercy for all nature provides solutions and enlightenment related to the problem. With the application of the arguments syar’i (Islamic law) is expected to all run accordingly. So that balance and satisfaction will be achieved by all parties. In this paper describes a good work environment from an Islamic perspective, namely a work environment that is friendly to children, women and the company itself.Abstrak. Adanya perbedaan antara kausal tentang gender dan praktiknya membuat masalah-masalah terkait dengan ekonomi, kesejahteraan dan pendidikan semakin mencuat. Mayoritas memahami bahwa gender merupakan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan secara penuh. Pemahaman seperti itulah yang sejatinya menggerus peran sekaligus derajat bathiniah seorang wanita. Kondisi tersebut dapat dilihat pada lingkungan kerja kekinian yang semakin menjauhkan perempuan dengan keluarganya. Sehingga lingkungan kerja yang seharusnya menjadi faktor pendorong ekonomi justru menjadi masalah baru sebab ketidak ramahannya terhadap perempuan dan anak. Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam memberikan solusi dan pencerahan terkait masalah tersebut. Dengan penerapan dalil-dalil syar’i (hukum islam) diharapkan semua berjalan semestinya. Sehingga keseimbangan dan kepuasan akan dicapai oleh semua pihak. Dalam paper ini menjelaskan tentang lingkungan kerja yang baik perspektif islam, yaitu lingkungan kerja yang ramah anak, perempuan dan perusahaan itu sendiri. 

Page 7 of 16 | Total Record : 156