cover
Contact Name
Fidrayani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
psga@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender
ISSN : 14122324     EISSN : 26557428     DOI : 10.15408/harkat
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender is published by the Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. the journal has been issued two times a year. Harkat invites scholarly articles on gender and child studies from multiple disciplines and perspectives, including religion, education, psychology, law, social studies, etc.
Arjuna Subject : -
Articles 162 Documents
KONTRIBUSI WANITA KARIER MUSLIM DALAM PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF TERHADAP KESEHATAN DAN KESETARAAN GENDER DALAM KERANGKA TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Maziyati, Nailil; Luthfiyah
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.45747

Abstract

Abstract. This research analyzes the role of career women in exclusive breastfeeding from an Islamic perspective and its relevance to the Sustainable Development Goals (SDGs) program. Using a Systematic Literature Review (SLR) approach with the PRISMA protocol, this study reviewed 10 selected articles from 309 articles identified from various scientific databases. The analysis results show a harmonization between Islamic teachings on exclusive breastfeeding and SDGs related to maternal and child health. Integration of health technology, development of supportive infrastructure in the workplace, and the maqasid sharia approach are key aspects in facilitating Muslim career women to provide exclusive breastfeeding. This research recommends the development of integrated policies that consider the perspectives of fiqh schools and the socio-economic context of career women to achieve a balance between professional demands and the obligation to provide exclusive breastfeeding within the sustainable development framework. Abstrak. Penelitian ini menganalisis peran wanita karier dalam pemberian ASI eksklusif dari perspektif Islam dan relevansinya dengan program Sustainable Development Goals (SDGs). Menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA, penelitian ini mengkaji 10 artikel terpilih dari 309 artikel yang diidentifikasi dari berbagai database ilmiah. Hasil analisis menunjukkan adanya harmonisasi antara ajaran Islam tentang ASI eksklusif dan tujuan SDGs terkait kesehatan ibu dan anak. Integrasi teknologi kesehatan, pengembangan infrastruktur pendukung di tempat kerja, dan pendekatan maqasid syariah menjadi aspek kunci dalam memfasilitasi wanita karier Muslim untuk memberikan ASI eksklusif. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan kebijakan terintegrasi yang mempertimbangkan perspektif madzhab fiqh dan konteks sosio-ekonomi wanita karier untuk mencapai keseimbangan antara tuntutan profesional dan kewajiban memberikan ASI eksklusif dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.
CARING TOGETHER: GRASSROOTS CHILDCARE, URBAN INCLUSION, AND COLLECTIVE RESILIENCE Asrori, Saifudin; Ismai’il, Muhammad; Shabbir, Ahmad; Jamilah, Joharotul
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.48945

Abstract

Abstract. As urbanization accelerates in Indonesia, access to affordable, inclusive, and culturally relevant childcare remains a persistent challenge for urban families, particularly among working-class and marginalized communities. This study investigates Rumah Anak, a community-led childcare initiative in an urban neighborhood of Indonesia, to understand how grassroots caregiving models foster social cohesion, reciprocal care, and resilience amidst institutional fragmentation and resource scarcity. Using a qualitative case study approach that includes semi-structured interviews, participant observation, and document analysis, the research identifies three interrelated dynamics: trust-building and social bonding, reciprocal caregiving as a local ethic, and grassroots navigation of institutional ambiguity. The findings illustrate that Rumah Anak functions not merely as a substitute for formal daycare, but as a form of relational social infrastructure that strengthens community ties, supports maternal employment, and enhances child development. The study concludes that community-based childcare systems, when adequately supported, hold transformative potential for inclusive urban development and call for policy frameworks that center care as a shared civic responsibility.   Abstrak. Di tengah percepatan urbanisasi di Indonesia, akses terhadap layanan pengasuhan anak yang terjangkau, inklusif, dan sesuai dengan konteks budaya masih menjadi tantangan besar, terutama bagi keluarga kelas pekerja dan kelompok marjinal. Penelitian ini mengkaji Rumah Anak, sebuah inisiatif pengasuhan anak berbasis komunitas di kawasan urban Indonesia, untuk memahami bagaimana model pengasuhan akar rumput mampu membangun kohesi sosial, praktik perawatan timbal balik, dan ketahanan kolektif di tengah fragmentasi kelembagaan dan keterbatasan sumber daya. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipan, dan analisis dokumen, penelitian ini mengidentifikasi tiga dinamika utama: pembangunan kepercayaan dan ikatan sosial, etika lokal dalam perawatan timbal balik, serta adaptasi komunitas terhadap ambiguitas institusional. Temuan menunjukkan bahwa Rumah Anak bukan sekadar alternatif dari daycare formal, melainkan berfungsi sebagai infrastruktur sosial relasional yang memperkuat jaringan komunitas, mendukung partisipasi kerja perempuan, dan meningkatkan perkembangan anak. Studi ini menyimpulkan bahwa sistem pengasuhan berbasis komunitas, jika didukung secara memadai, memiliki potensi transformatif dalam pembangunan kota yang inklusif dan menuntut kerangka kebijakan yang menempatkan perawatan sebagai tanggung jawab sipil bersama.
PEREMPUAN, TAFSIR, DAN KEADILAN GENDER: STUDI KRITIS HERMENEUTIKA DALAM TRADISI KEILMUAN ISLAM Ningsih, Wahyu; Susanti, Rizki
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.48948

Abstract

Abstract. This paper aims to examine gender relations in Islam by analyzing Qur’anic verses and prophetic traditions frequently used as the basis for gender norms, such as QS An-Nisa’ [4]:34 and QS al-Ahzab [33]:33, and comparing them with verses that emphasize reciprocity and justice. Using a historical-ethical hermeneutic approach, the study examines how socio-cultural contexts and interpretive methods influence the meanings of religious texts. The findings reveal that patriarchal norms often influence classical interpretations, while contemporary scholars, such as Amina Wadud and Nasr Hamid Abu Zayd, advocate for more just and contextual readings. The discussion highlights that, in its essence, Islam promotes principles of equality and justice, allowing for ijtihad in interpreting texts. The study concludes that reinterpreting religious texts through the lens of tawhid, justice, and maqasid al-shari‘ah is essential in fostering an ethical, inclusive, and human-centered understanding of women in Islam.   Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengkaji relasi gender dalam Islam melalui analisis ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang sering dijadikan dasar norma gender, seperti QS An-Nisa’ [4]:34 dan QS al-Ahzab [33]:33, serta membandingkannya dengan ayat-ayat yang menekankan kesalingan dan keadilan. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika historis dan etis untuk mengungkap bagaimana konteks sosial dan metode penafsiran memengaruhi pemaknaan terhadap teks keagamaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa tafsir klasik banyak dipengaruhi oleh budaya patriarkal, sementara penafsiran kontemporer oleh tokoh seperti Amina Wadud dan Nasr Hamid Abu Zayd menawarkan pendekatan yang lebih adil dan kontekstual. Pembahasan menunjukkan bahwa Islam secara prinsip mengajarkan kesetaraan dan keadilan, serta membuka ruang ijtihad terhadap teks. Kesimpulannya, reinterpretasi teks keagamaan yang berlandaskan pada prinsip tauhid, keadilan, dan maqasid al-shari‘ah sangat penting dalam membangun pemahaman yang etis, inklusif, dan manusiawi terhadap perempuan dalam Islam.  
EVALUASI KELEMBAGAAN KEBIJAKAN KOTA LAYAK ANAK DI KOTA DEPOK Saikhu, Nanang; Murod, Ma’mun; Noer, Khaerul Umam
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 19(1), 2023
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v19i1.34358

Abstract

Abstract. This study aims to analyze the institutional evaluation of the Policy for the Implementation of a Child Friendly City (KLA) in Depok City. The research background is that several institutional indicators have not been fulfilled in realizing KLA in Depok City. This research method uses a qualitative-descriptive approach with data collection techniques in the form of interviews, observation, and documentation studies. The public policy evaluation theory used is based on William N. Dunn's criteria, namely Effectiveness, Efficiency, Adequacy, Alignment, Responsiveness, and Accuracy. From the results of this study, the following conclusions were drawn: First, Effectiveness, institutional indicators of KLA policies have gone well with the formation of 11 sub-districts, 63 sub-districts, and 600 Child Friendly RWs. However, there are still several sub-districts and kelurahans that do not yet have Child-Friendly RWs and there are several Child-Friendly RWs that are not yet running well. Second, Efficiency, institutional support from the budgeting side is still inadequate, especially for sustainable programs. Third, Adequacy, KLA institutions have fulfilled adequacy but still needs to be improved further. Fourth, Alignment, KLA policy institutions have been evenly implemented by involving elements of the government, the business community, and the media. However, media participation is still not optimal. Fifth, Responsiveness, KLA institutions have received positive responses from implementers, such as regional apparatus organizations (OPD), the KLA Task Force, and the community. However, there are still implementers who do not understand much about KLA policies in Depok City so that it needs to beimproved further. Sixth, Accuracy, KLA policy institutions are considered to be on target and in accordance with KLA institutional indicators. However, it still needs further improvement in its implementation. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis evaluasi kelembagaan kebijakan Penyelenggaraan Kota Layak Anak (KLA) di Kota Depok. Penelitian dilatarbelakangi masih belum terpenuhinya beberapa indikator kelembagaan dalam mewujudkan KLA di Kota Depok. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik pengambilan data berupa wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Adapun teori evaluasi kebijakan publik yang digunakan berdasarkan kriteria William N. Dunn, yaitu Efektivitas, Efisiensi, Kecukupan, Perataan, Responsivitas, dan Ketepatan. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh kesimpulan: Petama, Efektivitas, indikator kelembagaan kebijakan KLA telah berjalan baik dengan terbentuknya 11 kecamatan, 63 kelurahan, dan 600 RW Ramah Anak. Namun, masih ada beberapa kecamatan dan kelurahan yang belum memiliki RW Ramah Anak dan ada beberapa RW Ramah Anak belum berjalan baik. Kedua, Efisieni, dukungan kelembagaan dari sisi penganggaran masih belum memadai, terutama untuk program berkelanjutan. Ketiga, Kecukupan, kelembagan KLA telah memenuhi kecukupan namun masih perlu ditingkatkan lagi. Keempat, Perataan, kelembagan kebijakan KLA telah merata dilakukan dengan melibatkan unsur pemerintah, masyarakat dunia usaha, dan media. Namun, partisipasi media masih belum optimal.  Kelima, Responsivitas, kelembagaan KLA telah mendapat respon positif dari para pelaksana, seperti organisasi perangkat daerah (OPD), Gugus Tugas KLA, dan masyarakat. Namun, masih terdapat pelaksana yang belum banyak memahami kebijakan KLA di Kota Depok sehingga perlu ditingkatkan lagi. Keenam, Ketepatan, kelembagaan kebijakan KLA dinilai sudah tepat sasaran dan sesuai dengan indikator kelembagaan KLA. Namun, masih diperlukan peningkatan lebih lanjut dalam implementasinya. 
REFORMULATING GENDER NORMS IN SAUDI ARABIA: CULTURAL LIBERALIZATION UNDER VISION 2030 Muttaqin, Fakih Fadilah; Hady, Yazid; Krisnawati, Nofi Maria; Susanti, Endang; Rohwati, Siti
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.49070

Abstract

Abstract. This article examines the process of gender norm reconstruction in Saudi Arabia within the framework of Vision 2030, focusing on the state's strategy of selectively liberalizing culture to support its authoritarian modernization project. In the conservative Wahhabi tradition, women's positions have been limited by legal, social, and religious structures. However, since 2016, under the leadership of Crown Prince Mohammed bin Salman, the Saudi government has initiated a series of reforms that have allowed women to drive, work in the public sector, and access entertainment and cultural spaces. This article uses a qualitative-analytical approach with an exploratory-descriptive design through discourse and policy analysis, as well as a theoretical framework of modernization, state feminism, and ideological control in authoritarian states. It was found that gender reforms in Vision 2030 are not merely a form of emancipation, but rather a state strategy to build new legitimacy, attract global investment, and reframe national identity without overhauling the authoritarian political order. This study makes an important contribution to understanding the dynamics of gender in contemporary Muslim societies and development politics in the Gulf region.   Abstrak. Artikel ini mengkaji proses rekonstruksi norma gender di Arab Saudi dalam kerangka Visi 2030, dengan fokus pada strategi negara dalam meliberalisasi budaya secara selektif untuk menopang proyek modernisasi otoriter. Dalam tradisi Wahhabisme yang konservatif, posisi perempuan selama ini dibatasi oleh struktur hukum, sosial, dan religius. Namun sejak 2016, di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, pemerintah Saudi menginisiasi serangkaian reformasi yang mengizinkan perempuan untuk mengemudi, bekerja di sektor publik, serta mengakses ruang hiburan dan budaya. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif-analitis dengan desain eksploratif-deskriptif melalui analisis wacana dan kebijakan, serta kerangka teori modernisasi, feminisme negara, dan kontrol ideologis dalam negara otoriter. Ditemukan bahwa reformasi gender dalam Visi 2030 bukan semata bentuk emansipasi, melainkan strategi negara untuk membangun legitimasi baru, menarik investasi global, dan membingkai ulang identitas nasional tanpa merombak tatanan politik yang otoriter. Kajian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika gender di masyarakat Muslim kontemporer dan politik pembangunan di kawasan Teluk.
METODOLOGI TAFSIR DAN GERAKAN GENDER:PEMBACAAN AL-QURAN FEMINIS MUSLIM MENURUT ASMA BARLAS Napsiyah, Siti; Romlah, Siti
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.49208

Abstract

Abstract. Gender inequality in Muslim communities is often linked to misunderstandings of Islamic teachings found in the Qur’an. In recent decades, Muslim feminist scholars have offered renewed interpretations that highlight the principles of justice and equality. One prominent figure in this movement is Asma Barlas, whose works, including Believing Women in Islam and its Indonesian translation Cara Al-Qur’an Membebaskan Perempuan, have become important references for scholars who seek to challenge patriarchal readings of the Qur’an. This study investigates the interpretive approach developed by Barlas and explores how her ideas contribute to a more equitable understanding of Qur’anic teachings. This research uses a qualitative method that focuses on the exploration of meaning through reflective and interpretive analysis. A library research technique is applied to examine a wide range of written sources that explain the hermeneutical foundations used by Barlas. The findings show that Barlas presents a reading of the Qur’an that emphasizes liberation and moral equality. She argues that biased interpretations arise from the influence of patriarchal structures, not from the Qur’anic text. Through a hermeneutic method that considers historical context and present circumstances, she offers a framework that supports gender justice and provides an alternative path for interpreting the Qur’an in contemporary Muslim thought.   Abstrak. Ketimpangan gender dalam masyarakat Muslim sering dikaitkan dengan pemahaman yang kurang tepat terhadap ajaran Islam dalam Al-Qur’an. Kondisi ini mendorong munculnya para pemikir feminis Muslim yang menawarkan pembacaan ulang teks suci dengan penekanan pada nilai keadilan dan kesetaraan. Salah satu tokoh yang berpengaruh dalam arus pemikiran ini adalah Asma Barlas. Karyanya yang berjudul Believing Women in Islam dan terjemahannya Cara Al-Qur’an Membebaskan Perempuan telah menjadi acuan penting dalam studi tafsir feminis. Penelitian ini bertujuan menelaah metode penafsiran yang dikembangkan oleh Barlas serta melihat kontribusinya dalam menghadirkan pemahaman Al-Qur’an yang lebih egaliter.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menekankan analisis makna melalui pembacaan reflektif dan interpretatif. Teknik studi pustaka diterapkan untuk menelusuri berbagai sumber tertulis yang menjelaskan dasar hermeneutika yang digunakan oleh Barlas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Barlas menawarkan cara membaca Al-Qur’an yang menonjolkan pembebasan dan keadilan moral. Menurutnya, penafsiran yang bias tidak muncul dari teks Al-Qur’an, tetapi dari kerangka sosial patriarkal yang mempengaruhi para penafsir. Melalui metode hermeneutika yang memperhatikan konteks sejarah dan keadaan masa kini, ia menghadirkan kerangka penafsiran yang mendukung keadilan gender dan memberi arah baru bagi kajian tafsir kontemporer.  
PAMALI DAN KONSTRUKSI GENDER DALAM MASYARAKAT BANTEN: ANTARA TRADISI, TABU, DAN KONTROL SOSIAL Nur, Gian Nova Sudrajat
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(2), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v12i2.38604

Abstract

Abstract. This study examines how pamali or kapamalian, as part of a culturally inherited tradition, constructs gender roles within Banten society. Utilising a descriptive qualitative approach grounded in social construction theory and theory of gender performativity, the research employs in-depth interviews and autobiographical narratives to explore the role of pamali in shaping gender identities. The findings indicate that pamali is more frequently applied to women, reflecting greater restrictions on their roles and freedoms compared to men. Men are constructed as breadwinners, decision-makers, and public figures, while women are positioned as domestic beings who conform to cultural norms. Additionally, pamali serves as a tool for social control, not only preserving traditional values but also reinforcing gender-based social hierarchies. The study highlights that, although considered irrelevant in the modern era, certain aspects of pamali continue to influence individual behaviour and sustain social harmony. This research advocates for a reinterpretation of traditions to align with contemporary values of gender equality. Abstrak. Penelitian ini menganalisis bagaimana pamali atau kapamalian, sebagai bagian dari tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun, mengonstruksi gender dalam masyarakat Banten. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis teori konstruksi sosial dan teori performativitas gender, penelitian ini menggunakan wawancara mendalam dan narasi otobiografis untuk mengeksplorasi peran pamali dalam membentuk identitas gender. Temuan menunjukkan bahwa pamali lebih banyak diterapkan pada perempuan, mencerminkan pembatasan yang lebih besar pada peran dan kebebasan mereka dibandingkan laki-laki. Laki-laki dikonstruksi sebagai pencari nafkah, pengambil keputusan, dan makhluk publik, sementara perempuan diposisikan sebagai makhluk domestik yang patuh pada norma budaya. Selain itu, pamali berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang tidak hanya menjaga nilai-nilai tradisional tetapi juga memperkuat hierarki sosial berbasis gender. Penelitian ini mengungkap bahwa, meskipun dianggap tidak relevan pada era modern, beberapa pamali tetap memengaruhi perilaku individu dan menjaga harmoni sosial. Penelitian ini menyerukan perlunya interpretasi baru mengenai tradisi  agar sesuai dengan nilai-nilai kesetaraan gender pada masa kini.  
MALE FEMINIST DI INDONESIA: TINJAUAN LITERATUR TENTANG PARTISIPASI, REPRESENTASI, DAN TANTANGANNYA Noferdy, Rahmat; Valentina, Tience Debora
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(2), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i2.47174

Abstract

Abstract. The feminist movement began with women's resistance to gender inequality, which in its development also involved the participation of men as male feminists. This study aims to examine the existence, development, forms of participation, and the meaning of male feminist involvement in Indonesia. This study used a literature review method on six selected articles from 2015-2024 obtained from Google Scholar and Publish or Perish, with inclusion criteria set on discussions of male participation in feminism. Thematic analysis was conducted to identify patterns, variations in findings, and research gaps. The results of this study show that the existence and involvement of male feminists are manifested in gender communities, educational campaigns, media presentations, and the dissemination of education on social media. Religiosity, particularly moderate Islam, is also a contextual factor that plays a role in men's involvement in the feminist movement. However, the existing literature is still dominated by studies on representation and does not explore the experiences and negotiations of men's identities. The findings in this study demonstrate that men's involvement is complex and contextual, so that a deeper and more critical empirical study is needed.   Abstrak. Gerakan feminisme bermula dari perlawanan perempuan terhadap ketidaksetaraan gender yang dalam perkembangannya turut melibatkan partisipasi laki-laki sebagai male feminist. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji eksistensi, perkembangan, bentuk partisipasi, dan makna keterlibatan male feminist di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode literature review terhadap enam artikel terpilih pada rentang tahun 2015-2024 yang didapatkan dari Google Scholar dan Publish or Perish, dengan penetapan kriteria inklusi pada pembahasan mengenai partisipasi laki-laki dalam feminisme. Analisis tematik dilakukan guna mengidentifikasi pola, varian temuan, dan celah penelitian. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwasannya eksistensi dan keterlibatan male feminist termanifestasi pada komunitas gender, kampanye edukasi, presentasi media, dan penyebaran edukasi di media sosial. Religiusitas, khususnya islam moderat turut menjadi faktor kontekstual yang berperan dalam keterlibatan laki-laki dalam gerakan feminisme. Akan tetapi, literatur yang ada masih didominasi oleh kajian mengenai representasi dan kurang mengeksplorasi pengalaman serta negosiasi identitas laki-laki. Temuan pada penelitian ini memperlihatkan bahwasannya keterlibatan laki-laki bersifat kompleks dan kontekstual, sehingga diperlukan kajian empiris yang lebih dalam dan kritis.  
KESETARAAN GENDER DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT HUMANISME: MEMBANGUN RELASI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN YANG ADIL DAN HARMONIS Zaidaan Zulkaisi, Muhammad; Akbar Novianto, Fauzan
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(2), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i2.47216

Abstract

Abstract. This research aims to reconstruct the concept of gender equality through the lens of humanist philosophy to address the inequality in relations between men and women. The main issue addressed is the existence of rigid role dichotomies in society, resulting in structural subordination for women and the psychological burden of toxic masculinity for men. The method employed is qualitative, using a library research approach through content analysis of primary humanist philosophy literature and secondary literature on contemporary gender issues. The results show that humanist philosophy provides a strong ethical foundation for viewing gender as an ontological dignity that transcends biological attributes. This analysis reveals that just gender equality can only be achieved through the harmonization of relations, where both parties are recognized as equal subjects in self-actualization. The conclusion of this study emphasizes that the humanism approach is capable of shifting the paradigm from a competition for rights to an inclusive humanitarian dialogue, which ultimately serves as a foundation for creating sustainable social harmony.   Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi konsep kesetaraan gender melalui lensa filsafat humanisme guna mengatasi ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan. Masalah utama yang diangkat adalah adanya dikotomi peran yang kaku dalam masyarakat yang mengakibatkan subordinasi bagi perempuan dan beban psikologis berupa toxic masculinity bagi laki-laki. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) melalui analisis konten terhadap literatur primer filsafat humanisme dan literatur sekunder terkait isu gender kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat humanisme menyediakan landasan etis yang kuat untuk memandang gender sebagai martabat ontologis yang melampaui atribut biologis. Analisis ini mengungkapkan bahwa kesetaraan gender yang berkeadilan hanya dapat dicapai melalui harmonisasi relasi, di mana kedua belah pihak diakui sebagai subjek yang setara dalam aktualisasi diri. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan humanisme mampu mengubah paradigma persaingan hak menjadi dialog kemanusiaan yang inklusif, yang pada akhirnya menjadi fondasi bagi terciptanya kerukunan sosial yang berkelanjutan.  
KONSTRUKSI MASKULINITAS DAN PERILAKU BUNUH DIRI PADA LAKI-LAKI DALAM BUDAYA PATRIARKI: SEBUAH NARRATIVE REVIEW Sukarini, Ni Ketut Nita Sukarini; Tience Debora Valentina
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(2), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i2.48633

Abstract

Abstract. Patriarchal culture continues to be perpetuated in various countries, including Indonesia. This study aims to examine the construction of masculinity in men who engage in suicidal behavior within the framework of patriarchy. The method used is a literature study with a narrative review approach, reviewed through literature searches from three databases, namely Semantic Scholar, ScienceDirect, and ProQuest. The selection process was based on the PRISMA diagram, and 15 journals were obtained that met the inclusion and exclusion criteria. The results show that patriarchal values inherited through social structures and cultural norms shape the meaning of masculinity, where men are required to always be strong, autonomous, and use their bodies as a space to express pressure. The denial of masculine values is often interpreted as a form of social failure that may contribute to suicidal ideation and behavior. These findings imply the importance of cultural approaches in building adaptive masculine identities to prevent suicidal behavior.   Abstrak. Budaya patriarki masih dilanggengkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konstruksi maskulinitas pada laki-laki yang berperilaku bunuh diri dalam bingkai patriarki. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan narrative review yang dikaji melalui penelusuran literatur dari tiga basis data, yaitu Semantic Scholar, ScienceDirect, dan ProQuest. Proses pemilihan didasarkan pada diagram PRISMA dan diperoleh 15 jurnal yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai patriarkal yang diwariskan melalui struktur sosial dan norma kultural membentuk pemaknaan maskulinitas, yaitu laki-laki dituntut untuk senantiasa kuat, berotonomi, dan menjadikan tubuh sebagai ruang ekspresi tekanan. Pengingkaran terhadap nilai maskulin sering kali dimaknai sebagai kegagalan sosial yang dapat berkontribusi terhadap munculnya ideasi hingga perilaku bunuh diri. Implikasi temuan ini mendorong pendekatan budaya untuk membangun identitas maskulinitas yang adaptif untuk mencegah perilaku bunuh diri.