cover
Contact Name
Abdul Hakim Wahid
Contact Email
hakim.wahid@uinjkt.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrefleksi@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat
ISSN : 02156253     EISSN : 27146103     DOI : -
Core Subject : Social,
Refleksi (ISSN 0215 6253) is a journal published by the Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta. The Journal specializes in Qur'an and Hadith studies, Islamic Philosophy, and Religious studies, and is intended to communicate original researches and current issues on the subject. This journal welcomes contributions from scholars of related disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2005): Refleksi" : 12 Documents clear
Korupsi Berbasis Tradisi: Akar Kultural Penyimpangan Kekuasaan di Indonesia Achmad Zainuri
Refleksi Vol 7, No 2 (2005): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v7i2.25824

Abstract

Korupsi di negeri ini merambah ke semua lini bagaikan gurita. Penyimpangan ini bukan saja merasuki kawasan yang sudah dipersepsi publik sebagai sarang korupsi. Tapi juga menyusuri lorong-lorong instansi yang tak terbayangkan sebelumnya bahwa di sana ada korupsi. Satu per satu skandal keuangan di berbagai instansi negara terbongkar. Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dipenuhi aktivis demokrasi, akademisi, dan guru besar, pun tak steril dari wabah korupsi. Di Departemen Agama (Depag), kasus korupsinya bahkan telah menyeret mantan orang nomor satunya sebagai tersangka. Tulisan ini mencoba mengungkap akar tradisi dan kultural dari penyimpangan tersebut.
Hermeneutika Agama Islam: Menempatkan Relevansi Agama dan Kesalehan Sosial Kusmana Kusmana
Refleksi Vol 7, No 2 (2005): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v7i2.25825

Abstract

Hermeneutika atau pemahaman atau penafsiran peran agama dalam konteks kehidupan manusia secara individu atau masyarakat secara terbuka memosisikan agama sebagai salah satu pedoman kehidupan di antara pedoman kehidupan lainnya. Dalam posisi seperti ini, peran agama berada dalam kontroversi pro dan kontra. Setidaknya ada dua kelompok besar, yaitu mereka yang menganggapnya peting dan mereka yang menganggapnya sebagai penghalang bagi kehidupan manusia. Figur-figur seperti Namrud, Firaun, Sigmund Freud, Karl Marx, Nietzsche, dan lain-lain, dalam titik tekanya masing-masing memandang bahwa peran agama secara sosio-politis menunjukkan fungsi yang justru menghalangi kemajuan masyarakat, mengancam kekuasaan dan sistem yang telah dibangun oleh elite agama, budaya, dan politik. Sebaliknya, kelompok besar lainnya sama sekali tidak meragukan peran agama bagi kehidupan manusia. Agama adalah petunjuk bagi manusia menuju jalan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tulisan ini mencoba menelaah peranan penting agama (baca; Islam) bagi seluruh kehidupan manusia sebagai wujud aktualisasi dari misi Islam sebagai rahmat bagi semesta alam yang sangat berdimensi sosial.
Paradigma Pemilihan Kepala Negara di Zaman Khulafa Al-Rasyidin Sirojuddin Aly
Refleksi Vol 7, No 2 (2005): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v7i2.25821

Abstract

Dalam khazanah Ilmu Politik banyak model pemilihan pemimpin sebuah pemerintahan. Ada yang melalui proses pemilihan langsung, ada juga melalui perwakilan. Di dalam Islam model pemilihan juga beragam. Keragaman pemilihan tersebut berlangsung pasca Rasulullah saw. wafat, yaitu sejak masa Khalafa al-Rasyidin. Hal ini terjadi karena di dalam al-Qur’an maupun hadis tidak ada keterangan yang secara tegas dan detail membincangkan proses pemilihan kepala negara. Tulisan ini mengulas paradigma pemilihan pemimpin pada masa Khalafa al-Rasyidin. Ia mencoba mengulas sistem pemilihan terhadap empat khalifah, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali yang menurut penulis memiliki perbedaan satu dengan lainnya. Lebih jauh tulisan ini juga mengupas secara komparatif beberapa sistem politik modern dengan konsepsi yang ditawarkan oleh Islam.
Islam dan Tata Masyarakat Dunia Masri Mansoer
Refleksi Vol 7, No 2 (2005): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v7i2.25827

Abstract

Tata kehidupan dunia diwarnai oleh beragam ideologi. Masing-masing ideologi menawarkan masa depan yang paripurna. Sosialisme mengagungkan kolektivitas dan mengabaikan individualitas yang bertujuan akhir untuk memenuhi kebutuhan material secara bersama. Sebaliknya kapitalisme (liberalisme) menempatkan manusia sebagai individu yang bebas dan berhak menentukan sendiri hidupnya dan melakukan apa saja yang dipandang baik dan benar untuk meraih keuntungan bagi dirinya. Dari kedua ideologi besar dunia tersebut, Islam tidak menafikan atau menempatkan diri pada salah satu kutub di atas. Islam menempatkan diri secara sintesis dan menjadi alternatif di antara kecenderungan ekstremitas beragam ideologi secara seimbang dan adil. Karena itu, hubungan yang hendak dibangun oleh Islam adalah kemitraan dan kerja sama yang saling menguntungkan demi kesejahteraan hidup seluruh anak manusia. Tulisan ini mengulas sisi universalitas Islam sebagai landasan paripurna untuk membangun tatanan masyarakat dunia.
Pemikiran Politik Islam Klasik dan Pertengahan: Tinjauan terhadap Konsep Hubungan Agama dan Negara Sukron Kamil
Refleksi Vol 7, No 2 (2005): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v7i2.25822

Abstract

Pemikiran dan praktik politik Islam sangat beragam. Ia hadir sebanyak babakan sejarah yang mewarnai dunia Islam. Oleh karenanya ia tidak bisa dipahami melalui satu sudut pandang yang dapat memunculkan penilaian sepihak – sebagaimana sering dilakukan oleh Barat. Sulit dipungkiri bahwa dalam sejarahnya Islam melahirkan beragam praktik politik kekuasaan, mulai yang otoriter sampai yang demokratis. Tulisan ini ingin melihat khazanah pemikiran politik Islam klasik dan pertengahan yang terkait dengan beberapa isu seperti hubungan agama dan negara, legitimasi otoritarianisme, bentuk pemerintahan teokrasi, demokrasi, dan aristokrasi, serta isu tentang masyarakat ideal. Dari pemaparan tersebut diharapkan dapat diperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang konsepsi politik Islam yang berkembang pada masa klasik dan pertengahan relevansinya dengan saat ini.
Kodifikasi Hadis: Menelusuri Fase Penting Sejarah Hadis Nabawi Ahmad Tholabi Kharlie
Refleksi Vol 7, No 2 (2005): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v7i2.25828

Abstract

Perjalanan sejarah hadis Nabawi yang panjang dan berliku telah menempatkannya sebagai obyek yang tidak pernah sepi dari kontroversi dan perseteruan wacana. Salah satu persoalan krusial yang kerap menjadi bahan perdebatan di pelbagai kalangan adalah menyangkut sejarah penulisan dan pembukuan hadis. bahkan, wacana (discourse) mengenai kodifikasi ini telah dijadikan senjata ampuh oleh orientalis dan para ingkar al-Sunnah (suatu kelompok yang menentang sunah) untuk mendiskreditkan hadis atau sunah serta menggugat autentisitasnya sebagai sumber hukum Islam kedua, setelah al-Qur’an. pertentangan di kalangan umat Islam, demikian halnya yang menjadi kritik para orientalis, berkutat pada persoalan keabsahan penulisan dan pembukuan hadis jika dilihat dari aspek pertimbangan normatif, hingga akhirnya bermuara kepada keraguan terhadap otoritas sunah itu sendiri dalam sistem besar: Syariat Islam. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan klarifikasi awal terhadap pro dan kontra seputar kodifikasi hadis nabi tersebut.
Understanding Muslim Plurality: Problems of Categorizing Muslims in Postcolonial Indonesia Muhamad Ali
Refleksi Vol 7, No 2 (2005): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v7i2.25823

Abstract

Islam di Indonesia telah mendapat perhatian akademik yang cukup besar. Salah satu penemuan pentingnya adalah kategorisasi kepercayaan dan perilaku orang Islam, yang membuktikan pluralitas Islam. Namun demikian, kategorisasi-kategorisasi – seperti santri-abangan-priayi, tradisionalis-modernis, politikal-kultural, fundamentalis-liberal, great tradition-little tradition, dan global-lokal, harus disikapi secara kritis. Kategorisasi yang paling tepat adalah yang lebih dekat kepada kenyataan. Santri-abangan-priayi yang dikembangkan pada tahun 1960-an menunjukkan sentrisme Jawa dalam studi Islam Indonesia dan memperlihatkan suatu sistem tertutup yang statis, yang harus hati-hati ketika digunakan untuk menunjuk orang Islam di luar Jawa dan di masa sekarang.
Kodifikasi Hadis: Menelusuri Fase Penting Sejarah Hadis Nabawi Ahmad Tholabi Kharlie
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol 7, No 2 (2005): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v7i2.25828

Abstract

The long and winding historical journey of the Prophetic Hadith has placed it as a subject that is never devoid of controversy and discourse disputes. One of the crucial issues often debated across various circles revolves around the history of the writing and compilation of Hadith. Indeed, discourse regarding this codification has been wielded as a potent weapon by Orientalists and those who deny the Sunnah (a group opposing the Sunnah) to discredit the Hadith or Sunnah and challenge its authenticity as the second source of Islamic law after the Quran. The contention among Muslims, as criticized by Orientalists, revolves around the issue of the validity of the writing and compilation of Hadith when viewed from normative considerations (such as the sayings of the Prophet, the reports of the Companions, and the followers), ultimately leading to doubts about the authority of the Sunnah itself within the broader framework of Islamic Law. This paper aims to provide initial clarification on the pros and cons surrounding the codification of the Prophetic Hadith.
Understanding Muslim Plurality: Problems of Categorizing Muslims in Postcolonial Indonesia Muhamad Ali
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol 7, No 2 (2005): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v7i2.25823

Abstract

Islam in Indonesia has received significant academic attention. One important finding is the categorization of beliefs and behaviors of Muslims, which proves the plurality of Islam. However, these categorizations—such as santri-abangan-priayi, traditionalist-modernist, political-cultural, fundamentalist-liberal, great tradition-little tradition, and global-local—must be critically approached. The most appropriate categorization is one that is closer to reality. The santri-abangan-priayi categorization developed in the 1960s demonstrates Javanese centrism in the study of Indonesian Islam and shows a static, closed system that should be carefully used to refer to Muslims outside of Java and in the present era. The traditionalist-modernist category actually carries modernization assumptions and therefore should not be viewed statically. The differentiation of political-cultural is also difficult to apply in many cases, such as when an Islamic group is involved in both political and cultural activities simultaneously. Similarly, the terms great tradition-little tradition to refer to Sharia Islam and Sufi Islam are less relevant in cases where specific Islamic groups practice both Sharia and Sufism simultaneously, besides the fact that the terms big and small assume one pattern is more valuable than others religious patterns. The global and local perspectives in understanding the diversity of Islam can avoid overly general labeling, but it is still difficult to determine which aspects are global and which are local and challenging to measure religious change accurately. Even more challenging in understanding the plurality of Islam is how to determine a religious act and what is not religious (secular).
Hermeneutika Agama Islam: Menempatkan Relevansi Agama dan Kesalehan Sosial Kusmana Kusmana
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol 7, No 2 (2005): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v7i2.25825

Abstract

Hermeneutics, or the understanding and interpretation of the role of religion in the context of individual or societal life, positions religion as one of the guiding principles alongside others. In this position, the role of religion is subject to controversy, with at least two major groups: those who consider it important and those who see it as an obstacle to human life. Figures such as Nimrod, Pharaoh, Sigmund Freud, Karl Marx, Nietzsche, and others, in their respective emphases, view the socio-political role of religion as hindering societal progress, threatening the power and systems established by religious, cultural, or political elites. Conversely, another significant group does not doubt the role of religion in human life at all. Religion serves as guidance for humans towards salvation and happiness in both the worldly life and the hereafter. This article seeks to examine the important role of religion (specifically Islam) in all aspects of human life as an actualization of Islam's mission as a mercy to the entire universe, with a strong social dimension.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2005 2022


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 1 (2025): Refleksi Vol. 23 No. 2 (2024): Refleksi Vol 23, No 2 (2024): Refleksi Vol 23, No 1 (2024): Refleksi Vol. 23 No. 1 (2024): Refleksi Vol. 22 No. 2 (2023): Refleksi Vol 22, No 2 (2023): Refleksi Vol 22, No 1 (2023): Refleksi Vol. 22 No. 1 (2023): Refleksi Vol. 21 No. 2 (2022): Refleksi Vol 21, No 2 (2022): Refleksi Vol. 21 No. 1 (2022): Refleksi Vol 21, No 1 (2022): Refleksi Vol 7, No 2 (2005): Refleksi Vol 20, No 2 (2021): Refleksi Vol 20, No 2 (2021) Vol. 20 No. 2 (2021): Refleksi Vol 20, No 1 (2021): Refleksi Vol. 20 No. 1 (2021): Refleksi Vol 19, No 2 (2020): Refleksi Vol. 19 No. 2 (2020): Refleksi Vol. 19 No. 1 (2020): Refleksi Vol 19, No 1 (2020): Refleksi Vol 18, No 2 (2019): Refleksi Vol 18, No 1 (2019): Refleksi Vol 17, No 2 (2018): Refleksi Vol 17, No 1 (2018): Refleksi Vol 16, No 2 (2017): Refleksi Vol 16, No 1 (2017): Refleksi Vol. 16 No. 1 (2017): Refleksi Vol 15, No 2 (2016): Refleksi Vol 15, No 1 (2016): Refleksi Vol 14, No 2 (2015): Refleksi Vol 14, No 1 (2015): Refleksi Vol. 13 No. 6 (2014): Refleksi Vol 13, No 6 (2014): Refleksi Vol. 13 No. 5 (2013): Refleksi Vol 13, No 5 (2013): Refleksi Vol 13, No 4 (2013): Refleksi Vol. 13 No. 4 (2013): Refleksi Vol. 13 No. 3 (2012): Refleksi Vol 13, No 3 (2012): Refleksi Vol. 13 No. 2 (2012): Refleksi Vol 13, No 2 (2012): Refleksi Vol 13, No 1 (2011): Refleksi Vol. 13 No. 1 (2011): Refleksi Vol. 11 No. 2 (2009): Refleksi Vol 11, No 2 (2009): Refleksi Vol 11, No 1 (2009): Refleksi Vol. 11 No. 1 (2009): Refleksi Vol. 10 No. 3 (2008): Refleksi Vol 10, No 3 (2008): Refleksi Vol 10, No 2 (2008): Refleksi Vol. 10 No. 2 (2008): Refleksi Vol. 10 No. 1 (2008): Refleksi Vol 10, No 1 (2008): Refleksi Vol 9, No 3 (2007): Refleksi Vol. 9 No. 3 (2007): Refleksi Vol 9, No 2 (2007): Refleksi Vol. 9 No. 2 (2007): Refleksi Vol 9, No 1 (2007): Refleksi Vol. 9 No. 1 (2007): Refleksi Vol 8, No 3 (2006): Refleksi Vol. 8 No. 3 (2006): Refleksi Vol 8, No 2 (2006): Refleksi Vol. 8 No. 2 (2006): Refleksi Vol. 8 No. 1 (2006): Refleksi Vol 8, No 1 (2006): Refleksi Vol 7, No 3 (2005): Refleksi Vol. 7 No. 3 (2005): Refleksi Vol. 7 No. 2 (2005): Refleksi Vol. 7 No. 1 (2005): Refleksi Vol 7, No 1 (2005): Refleksi Vol 6, No 3 (2004): Refleksi Vol. 6 No. 3 (2004): Refleksi Vol 6, No 2 (2004): Refleksi Vol. 6 No. 2 (2004): Refleksi Vol. 6 No. 1 (2004): Refleksi Vol 6, No 1 (2004): Refleksi Vol 5, No 3 (2003): Refleksi Vol 5, No 1 (2003): Refleksi Vol. 5 No. 1 (2003): Refleksi Vol 4, No 3 (2002): Refleksi Vol. 4 No. 3 (2002): Refleksi Vol. 4 No. 2 (2002): Refleksi Vol 4, No 2 (2002): Refleksi Vol 4, No 1 (2002): Refleksi Vol. 4 No. 1 (2002): Refleksi Vol. 3 No. 3 (2001): Refleksi Vol 3, No 3 (2001): Refleksi Vol 3, No 2 (2001): Refleksi Vol. 3 No. 2 (2001): Refleksi Vol. 2 No. 3 (2000): Refleksi Vol 2, No 3 (2000): Refleksi Vol 2, No 2 (2000): Refleksi Vol. 2 No. 2 (2000): Refleksi Vol. 2 No. 1 (2000): Refleksi Vol 2, No 1 (2000): Refleksi Vol 1, No 3 (1999): Refleksi Vol. 1 No. 3 (1999): Refleksi Vol 1, No 2 (1999): Refleksi Vol. 1 No. 2 (1999): Refleksi Vol. 1 No. 1 (1998): Refleksi Vol 1, No 1 (1998): Refleksi More Issue