cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Reproduksi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 3 (2019)" : 7 Documents clear
Hubungan Status ASI Eksklusif dan Pemberian Kolostrum dengan Kejadian Autisme pada Anak di Bawah 10 tahun Khaerina, Umi; Herini, Siti; Ismail, Djauhar
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.42832

Abstract

Background: The cause of autism until now is still not exactly known. One of the efforts in preventing the occurrence of autism is intervention early with giving colostrum and exclusive breastfeeding. The number of autism in Indonesia according to data released by the Central Bureau of Statistics in 2010 was estimated at 2.4 million people. Based on data from autism special school Bina Anggita Yogyakarta, recorded increase in the number of students from the beginning of the school in 2001 were 15 students, in 2009 the number increased to 32 students and in 2013 were 45 students.Objective: To determine the relationship between the status of exclusive breastfeeding and giving colostrum to the incidence of autism in children under 10 years.Methods: This research is a quantitative study with a matched case control study design. Subjects were children aged under 10 years who consisted of children with autism were 19 cases and 19 controls for normal children in Yogyakarta. The independent variable in this study in the provision of colostrum and exclusive breastfeeding, and dependent variable was autism. The counfounding variables are gastrointestinal infections, low birth weight and maternal age. Retrieval of data collected using a questionnaire. Univariable data analysis using frequency distribution, bivariate statistics using the McNemar test, multivariable analysis was not performed because the bivariate analysis, all variables are not significantly.Results: Of the five variables that were related to the occurrence of autism, five variables are not statistically significant and two variables that increase the risk of autism gastrointestinal infection (p=0,09 OR 3,5 CI 95%; 0,66-34,53) and low birth weight (p=0,17 OR 4 CI 95%; 0,39-196,9).Conclusions: There was no significant relationship between the giving of colostrum, exclusive breastfeeding and maternal age, but clinical gastrointestinal infection and low birth weight were risk factor  of autism. Keywords: Colostrum, exclusive breastfeeding, autism.
Pengaruh Sapa Orangtua Remaja Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Oangtua tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi Widiyastuti, Dyah; Nurcahyani, Lia
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.055 KB) | DOI: 10.22146/jkr.45496

Abstract

ABSTRAK Latar belakang : Seks pranikah merupakan masalah yang rentan terjadi pada remaja. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Pendidikan kesehatan reproduksi sangat penting, tetapi mayoritas orangtua memiliki pengetahuan kurang serta persepsi negatif terhadap kesehatan reproduksi remaja.Tujuan : Menganalisis perbedaan pengetahuan, sikap dan perilaku orangtua sebelum dan setelah diberikan intervensi Sapa Orangtua Remaja.Metode : Rancangan penelitian quasi experimental non randomized pre test  and post test one group design. Subjek penelitian ini adalah 35 orangtua siswa Sekolah Dasar Pamitran Kota Cirebon dengan kriteria inklusi dan eksklusi.  Instrumen penelitian meliputi kuesioner dan modul Sapa Orang Tua Remaja . Analisis data menggunakan uji wilcoxon dan paired t-test.Hasil dan pembahasan : Terdapat perbedaan yang bermakna pengetahuan sikap dan perilaku orang tua sebelum dan setelah intervensi (p value 0,003 ; 0,000 dan 0,013).Kesimpulan : Sapa orangtua remaja dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku orangtua tentang kesehatan reproduksi remaja.  
Analisis Hubungan Clinical Autonomy Terhadap Kepuasan Kerja Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Dalam Tindakan Seksio Sesarea Pada Sistem Jaminan Kesehatan Nasional Mappaware, Nasrudin Andi; Emilia, Ova; Hadijono, Soerjo; Malinta, Umar; Hakimi, Mohammad; Soetrisno, Soetrisno; Tiro, Eddy
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.454 KB) | DOI: 10.22146/jkr.49209

Abstract

Background: In Indonesia, the National Health Insurance System (NHIS) is an implementation of law No. 40 of 2004 on the National Social Insurance System in health sector with universal health coverage (UHC) concept. Therefore, the satisfaction of specialist’s work will be very influence towards hospital works. The previous research (Nasruddin, 2017) about factor analysis related to job satisfaction of doctor specialist for obstetrics and gynecology (SpOG) toward Sectio Caesarea (SC) on NHI showed that medical service (transparency and remuneration) and working condition have significant correlation towards work satisfaction of doctor SpOG in SC on NHI.    Objective: to analyze the correlation of clinical autonomy on job satisfaction of doctor SpOG on Sectio Caesarea on National Health Insurance system.Method: A quantitative research by applying analytic observational study with cross sectional design.Materials and Research: This research was conducted in Makassar. A number of sample was 73 doctors SpOG. Data was obtained by clinical autonomy questionnaire having been tested its validity and reliability. The result of the research was analyzed by using chi-square test.  Result: Based on the correlation of characteristics towards work satisfaction of doctor SpOG in SC on National Health Insurance system found that age category between 36 – 45 years old is satisfied, female is satisfied, working duration more than 5 years is dissatisfied and public hospital status is dissatisfied. There is no correlation between clinical autonomy in this case is control overwork (p = 0.170) and prerogative obtain need service (p = 0.240) on job satisfaction of doctor SpOG in Sectio Caesarea on National Health Insurance System.Conclusion: There is no relation between clinical autonomy on job satisfaction of doctor SpOG in Sectio Caesarea on National Health Insurance System. Even though the doctors SpOG are not satisfied with NHI (medical service and working condition) but the doctors are able to work professionally with clinical autonomy. Keywords: clinical autonomy, doctor SpOG, National Health Insurance System 
Hubungan Maternal Early Obstetric Warning Score (MEOWS) dengan Perawatan di Intensive Care Unit pada Pasien Preeklamsia Berat di RSUP DR. Sardjito Tamara, Yosi; Lutfi, Muhammad; Prawitasari, Shinta
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.652 KB) | DOI: 10.22146/jkr.49330

Abstract

Latar Belakang: Preeklamsia merupakan masalah kedokteran yang serius dan memiliki kompleksitas yang tinggi. Preeklamsia dapat setiap saat mengalami perburukan, sehingga dibutuhkan suatu metode yang mudah digunakan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi adanya perburukan. Salah satunya adalah Modified Early Obstetrics Warning Score (MEOWS) yang merupakan salah satu parameter untuk memudahkan mendeteksi secara dini adanya risiko tinggi pada pasien obstetri. Diharapkan perburukan yang terjadi dapat dicegah atau dikurangi risikonya dengan menempatkan pasien preeklamsia berat menurut level of care disesuaikan dengan kebutuhan pasien.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mencari cut off point skor MEOWS pada pasien preeklamsia berat dalam menentukan tempat perawatan.  Metode: Penelitian dengan desain kohort retrospektif. Data diambil dari rekam medis, dengan subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data penelitian dikumpulkan, diolah dan dilakukan analisis data univariat, bivariat dan multivariat untuk mengetahui hubungan antar variabel.Hasil dan Pembahasan: Sampel pada penelitian ini berjumlah 187 subyek penelitian. Karakteristik skor MEOWS IGD ≥8 berjumlah 70 subyek dan skor MEOWS IGD <8 berjumlah 117 subyek. Pasien yang dirawat di ICU berjumlah 15 subyek dan yang dirawat selain di ICU berjumlah 174 subyek. Hasil perhitungan mendapatkan nilai cut off point skor MEOWS adalah 7,5 (dibulatkan menjadi skor 8). Terdapat hubungan bermakna antara skor MEOWS ≥8 dengan perawatan di ICU (RR 3,34; CI 95%: 1,19-9,38). Terdapat hubungan yang bermakna juga antara skor MEOWS ≥ 8 dengan kejadian bayi IUFD (RR 9,91; CI 95%: 2,098-40,27).Kesimpulan: Pasien preeklamsia berat dengan skor MEOWS ≥8 memiliki risiko untuk dirawat di ICU 3,34 kali lipat dibandingkan dengan pasien preeklamsia berat dengan skor MEOWS <8. Pasien preeklamsia berat dengan skor MEOWS ≥8 memiliki risiko untuk kejadian bayi IUFD 9,91 kali lipat dibandingkan dengan pasien preeklamsia berat dengan skor MEOWS <8.  Kata Kunci: Modified Early Obstetric Warning Score (MEOWS); preeklamsia berat; intensive care unit 
Faktor yang Mempengaruhi Skor Apgar Menit Pertama pada Seksio Sesarea dengan Anestesi Spinal Setiawan, Ide Pustaka; Hadiati, Diah Rumekti; Attamimi, Ahsanudin
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.06 KB) | DOI: 10.22146/jkr.49332

Abstract

Latar Belakang: Seksio sesarea membawa konsekuensi morbiditas dan mortalitas pada ibu dan bayi. Morbiditas ibu pada seksio sesarea seyogyanya tidak diikuti dengan kejadian morbiditas pada bayi khususnya rendahnya nilai skor APGAR sehingga berpotensi menjadi asfiksia pada bayi baru lahir. Faktor risiko terjadinya asfiksia yang dinilai dari rendahnya skor APGAR pada bayi baru lahir saat dilakukan secara seksio sesarea dengan anestesi spinal perlu diketahui agar ada usaha untuk meminimalisasi kejadian asfiksia tersebut.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya skor APGAR menit pertama pada seksio sesarea dengan anestesi spinal.Metode:  Penelitian ini adalah studi observasional dengan rancangan penelitian crossectional study dengan cara observasi langsung proses seksio sesarea elektif yang menggunakan anestesi spinal dan dilihat luaran skor APGAR bayi baru lahir pada menit pertama. Uji statistik yang digunakan untuk analisis bivariat adalah uji Chi Square, Fisher Exact serta Mann-Whitney. Sedangkan analisis multivariat dilakukan dengan uji regresi logistik. Pengolahan data untuk pengujian statistik menggunakan SPSS 21.Hasil dan Pembahasan: Terdapat 93 subjek memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini. Terjadinya penurunan tekanan darah sistolik (RR 1,05; CI 0,40–2,75; p=1,00), terjadinya penurunan tekanan darah diastolik (RR 0,93; CI 0,33–2,59; p=0,56), terjadinya penurunan MAP (RR 0,72; CI 0,28–1,86; p=0,35) pasca induksi anestesi, pemanjangan waktu insisi kulit hingga bayi lahir ≥5,5 menit (RR 1,63; CI 0,65–4,12; p=0,44) dan rendahnya kadar Hb sebelum operasi (RR 1,22; CI 0,44–3,37; p=0,47) berhubungan tidak signifikan dengan rendahnya skor APGAR menit pertama pada seksio sesarea dengan anestesi spinal. Sedangkan interval waktu induksi anestesi hingga bayi lahir ≥12,5 menit (RR 2,91; CI 1,10–7,72; p=0,04) dan interval waktu insisi uterus hingga bayi lahir ≥3 menit (RR 3,48; CI 1,51–8,02; p=0,01) berhubungan kuat serta bermakna secara signifikan baik secara statistik maupun klinis menyebabkan skor APGAR menit pertama <7 pada bayi baru lahir secara seksio sesarea dengan anestesi spinal.Kesimpulan: Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya skor APGAR menit pertama pada seksio sesarea dengan anestesi spinal adalah interval waktu induksi anestesi hingga bayi lahir ≥12,5 menit dan interval waktu insisi uterus hingga bayi lahir ≥3 menit.Kata kunci: seksio sesarea; asfiksia; anestesi spinal; skor APGAR
Kualitas Hidup Satu Tahun Pasien Kanker Serviks yang telah Dilakukan Histerektomi Radikal di RSUP DR. Sardjito Yogyakarta Fuadi, Afif; Pradjatmo, Heru; Kusumanto, Ardhanu
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.511 KB) | DOI: 10.22146/jkr.49348

Abstract

Latar Belakang: Kanker serviks merupakan kanker paling banyak ketiga yang ditemukan pada seorang wanita. Secara keseluruhan lebih dari 85% terjadi pada negara-negara berkembang. Insidensi rata-rata paling tinggi di wilayah Sub Sahara Afrika, Amerika Latin dan Karibia, Melanesia dan Asia Barat, Australia/Selandia Baru. Variasi geografis yang besar mencerminkan ketersediaan skrining yang memungkinkan untuk mendeteksi lesi prakanker dan prevalensi terjadinya infeksi Human Papillomavirus (HPV). Modalitas skrining dan strategi pengobatan telah berevolusi, dengan kemajuan terapi saat ini yang meliputi tindakan pembedahan, kemoterapi dan radiasi, penderita kanker serviks dihadapkan pada efek samping pasca pengobatan lengkap. Sehingga dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup mereka.Tujuan: Mengetahui kualitas hidup satu tahun pasien kanker serviks yang telah dilakukan histerektomi radikal.Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dengan cara melakukan wawancara dengan pasien saat periksa di poli onkologi menggunakan instrumen dari EORTC QLQ C30 versi 3.Hasil dan Pembahasan: Rata-rata penderita kanker serviks berusia 45-55 tahun yaitu 21 orang (37,5%), tidak menopause, dengan paritas antara 1-2 dan indeks massa tubuh normal. Jenis histopatologi terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa dan grade sedang. Sebagian besar tidak terdapat keterlibatan kelenjar getah bening, lymphovascular space invation (LVSI) dan tidak dilakukan kemoterapi adjuvan. Kualitas hidup pasien kanker serviks termasuk dalam katagori baik dengan nilai rata-rata status kesehatan global >87,5% dan pada domain skala fungsi dan gejala >90%. Hanya saja terdapat hubungan yang bermakna yang ditunjukkan pada variable usia dengan nilai p=0,020 dan RR=0,545 dan keterlibatan kelenjar gertah bening dengan nilai p=0,008.Kesimpulan: Pada penelitian ini kualitas hidup pasien kanker serviks yang telah dilakukan histerektomi radikal di RSUP Dr. Sardjito sangat baik.Kata Kunci: Kanker serviks; Kualitas Hidup; Histerektomi radikal
Faktor-Faktor yang Meningkatkan Prognosis Fetal dan Maternal pada Kehamilan dengan Kanker Ovarium Imantika, Efriyan; Prawitasari, Shinta; Hadiati, Diah Rumekti
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.597 KB) | DOI: 10.22146/jkr.51766

Abstract

Background: Pregnancy complicated by ovarian cancer presents relation between controlled growth in pregnancy and uncontrolled growth in cancer. The management of pregnancy illustrate conflict between optimal maternal therapy and fetal life for best prognosis at all. The incidence was low but it occured in reproductive age women and most found in the first pregnancy. It is important to analyze factors that improve the prognosis of pregnancy and appropiate management to prevent fetal and maternal morbidity and mortality. Objectives: To analyze factor on pregnancy complicated by ovarian cancer that improve fetal and maternal prognosisMethods: This is descriptive analytic study with cohort retrospective design using medical records of pregnancy patient complicated by ovarian cancer that underwent treatment at Sardjito Hospital Yogyakarta on 2010, January till 2017, December. All statistical analysis were done by statistic software for computer.Results: There were 18 research subjek had been undergone treatment at Sardjito Hospital for 8 years. Factors on pregnancy related to prognosis of pregnancy complicated by ovarian cancer were late gestational age at the cancer diagnosis and epithelial histopathology type. That factors have better prognosis than early gestational age and non-epithelial histopathology clinically (p=0.18; CI 95% 0.4-104.2; OR 6,5) and (p=0.29; CI 95% 0.36-30.12; OR 3.28). Timing of surgery intervention improve prognosis of pregnancy statistically and clinically significant (p=0.02; OR=4.2). Conclusion: Factors on pregnancy complicated by ovarian cancer that is late gestational age at the cancer diagnosis, epithelial histopathology type and timing of surgery intervention type II-III improved fetal and maternal prognosis. Best management of pregnancy lead to better prognosis.Keywords: prognosis of pregnancy, ovarian cancer. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7