cover
Contact Name
Rendy Anggriawan
Contact Email
bipfapertaunej@gmail.com
Phone
+6285946410007
Journal Mail Official
bipfapertaunej@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kalimantan, Sumbersari, Universitas Jember.
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmiah Pertanian
Published by Universitas Jember
ISSN : -     EISSN : 23388331     DOI : https://doi.org/10.19184
Berkala Ilmiah PERTANIAN (BIP) is an electronic journal (e-journal) that established in August 2013 and publishes scientific articles, especially research results of students in the University of Jember in agriculture in general which includes Agriculture (Fields of Cultivation, Soil and Pests and Plant Diseases), Agricultural Technology (Agricultural Engineering and Technology) and Agricultural Socio-Economics. In addition, BIP also receives manuscript of research-based articles from outside the University of Jember through the OJS acceptance system (Open Journal System). The submitted article should not been submitted or published in any other scientific journals or is being review by a reviewer. This e-journal (BIP) publishes quarterly for August, November, February, and May.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2019): MEI" : 8 Documents clear
KARAKTERISTIK FISIK FLAKE BERBAHAN BAKU TEPUNG JAGUNG, TEPUNG AMPAS TAHU DAN MOCAF Nur Karimah Rakhmawati; Ahmad Nafi; Andrew Setiawan Rusdianto
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 2 No 2 (2019): MEI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v2i2.16162

Abstract

ABSTRACT Flake is made from cereals such as wheat, corn, rice, or tubers. Indonesia's wheat imports in 2017 rose about 9% to11.48 million tons. One of the local food stuffs used in the manufacture of flake is corn flour. However, the protein content is still very low at around 9.2%. Then needed other materials that can increase the added value of the dregs know. The addition of mocaf containing starch is high enough to help maintain flake crispness. The purpose of this research is to know lightness, hue, water absorption, and rehydration time of corn flour flour, dregs and mocaf. This research was conducted on three stages, namely: 1) making tofu waste flour, 2) flake processing, 3) physical properties test. The design of the study used CRD (Completely Randomized Design) factorial with one factor, namely: corn flour, tofu waste flour, and mocaf (5% : 35% : 60%; 5% : 40% : 55%; 5% : 45% : 50%; 5% : 50% : 45% dan 5% : 55% : 40%) with four repetitions. The result of analysis showed that flake of corn flour, tofu waste flour and mocaf had the physical characteristic of color with lightness value of about 72,83 - 80,75; hue value of about 107.36 - 108.03 (yellow); water absorption value of about 67.27 - 117.25%; and rehydration time of about 321 - 562 seconds. Keywords: flake, mocaf, tofu waste flour, corn flour ABSTRAK Flake terbuat dari serealia seperti gandum, jagung, beras, atau umbi-umbian. Impor gandum Indonesia pada 2017 naik sekitar 9% menjadi 11,48 juta ton. Oleh sebab itu perlu inovasi dalam rangka pemberdayaan pangan lokal untuk pembuatan flake dengan menggunakan bahan tepung jagung. Namun, kandungan proteinnya masih sangat rendah yaitu sekitar 9,2%. Maka diperlukan bahan lain yang dapat meningkatkan nilai tambah yaitu ampas tahu. Penambahan mocaf yang mengandung pati cukup tinggi dapat membantu mempertahankan kerenyahan flake.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui lightness, hue, daya serap air, dan waktu rehidrasi flake tepung jagung, tepung ampas tahu dan mocaf. Penelitian ini dilakukan dengan tiga tahap, yaitu: 1) pembuatan tepung ampas tahu, 2) pembuatan flake, 3) uji fisik. Rancangan penelitian menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan perlakuan formulasi tepung jagung, tepung ampas tahu dan mocaf (5% : 35% : 60%; 5% : 40% : 55%; 5% : 45% : 50%; 5% : 50% : 45% dan 5% : 55% : 40%) dilakukan empat kali pengulangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa flake tepung jagung, tepung ampas tahu dan mocaf memiliki karakteristik fisik lightness 72,83 – 80,75; nilai hue 107,36 –108,03 (yellow); nilai daya serap air 67,27 – 117,25%; dan waktu rehidrasi 321 – 562 detik. Kata Kunci: flake, mocaf, tepung ampas tahu, tepung jagung
STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI MUTU BIJI KAKAO MULIA DI PTPN XII KEBUN RENTENG KABUPATEN JEMBER Rizqiyatul Halaliah; Rudi Wibowo; Agus Supriono
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 2 No 2 (2019): MEI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v2i2.16177

Abstract

ABSTRACT There were nine centre areas of cocoa production in 2009-2013. On those years, East Java was one of the centre area where has the positive increasing of cocoa production. State-owned plantation still dominated cocoa plantation in East Java. One of these companies is PTPN XII (lit: Nusantara Plantation XII Co. Ltd) which has developed Java Cocoa (Kakao Mulia). It has the high value of cocoa seed. Renteng plantation is the sub-plantation of PTPN XII. It is in second regional division. Java Cocoa (Kakao Mulia) can be found widely in Renteng specifically in Kedaton Afdeling. This study aimed to know: (1) factor which causing the unsuccessful achieved the target production of Java Cocoa (Kakao Mulia) in Renteng sub-plantation, PTPN XII plantation, Jember Regency. (2) the main factor behind unsuccessful cocoa production target in Renteng Sub plantation, PTPN XII plantation, Jember Regency. (3) formulate an appropriate alternative strategy to improve production capacity of Java Cocoa (Kakao Mulia) in PTPN XII plantation, Jember Regency. The study was held purposively in Renteng Sub-plantation area of PTPN XII. The result showed that : (1) production target of cocoa dry seed’s quality in Kedaton Afdeling (2014 -2015) cannot be achieved successfully because several factors such as : human resources, raw materials, method and environment. (2) the main factor behind this unsuccessfull production target was extremely unpredictable weather. This factor has frequency score equal to six and percentage for 20%. (3) the best alternative and priority strategy in order to increase capacity of cocoa dry seed’s quality in Kedaton Afdeling is through preventive action against unpredictable weather. This strategy was chosen based on weight score for 0.463 and inconsistency ratio for 0.05; Keywords: Java Cocoa (Kakao Mulia), causal diagram, pareto diagram, Analytical Hierarchy Process (AHP) ABSTRAK Terdapat sembilan wilayah sentra produksi kakao di tahun 2009-2013. Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu daerah sentra yang memilki pertumbuhan produksi yang bernilai positif jika dibandingkan dengan wilayah sentra yang lain. Salah satu status pengusahaan yang mengembangkan budidaya tanaman kakao dengan produksi dan luas wilayah terbesar di Jawa Timur adalah perkebunan negara. PTPN XII merupakan perkebunan milik negara yang mengembangkan budidaya kakao termasuk jenis kakao yang memiliki nilai jual yang tinggi yaitu kakao mulia. Kebun Renteng merupakan salah satu kebun milik PTPN XII yang terletak di wilayah II. Kakao mulia dibudidayakan di Afdeling Kedaton. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan tidak tercapainya target produksi mutu kakao mulia di Kebun Renteng PTPN XII Kabupaten Jember; (2) mengetahui faktor utama yang menyebabkan tidak tercapainya target produksi mutu kakao mulia di Kebun Renteng PTPN XII Kabupaten Jember; (3) mengetahui strategi alternatif yang dipandang cocok untuk meningkatkan produksi mutu kakao mulia di PTPN XII Kebun Renteng Kabupaten Jember. Penelitian ini dilakukan secara sengaj di Kebun Renteng PTPN XII. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Faktor yang menyebabkan tidak tercapainya target produksi mutu kakao mulia di Afdeling Kedaton (2014-2015) adalah sumber daya manusia, bahan baku, metode dan lingkungan. (2) Faktor utama tidak tercapainya target produksi mutu kakao mulia di PTPN XII Kebun Renteng adalah perubahan cuaca yang ekstrim. Faktor tersebut mempunyai frekuensi sebesar enam dengan bobot persentase sebesar 20%. (3) Strategi alternatif yang menjadi prioritas utama dalam mencapai tujuan meningkatkan produksi mutu kakao kering di Afdeling Kedaton adalah tindakan pencegahan atau tindakan antisipasi perubahan cuaca yang ekstrim yang mana hasil ini didapat dengan menunjukkan angka bobot sebesar 0,463 dengan nilai incosistency ratio sebesar 0,05 Keywords: Kakao Mulia, Diagram Sebab Akibat, Diagram Pareto, AHP
KOPI KAYU MANIS CELUP DENGAN VARIASI TINGKAT PENYANGRAIAN KOPI DAN KONSENTRASI BUBUK KAYU MANIS Lailatul Nichmah; Sih Yuwanti; Sony Suwasono
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 2 No 2 (2019): MEI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v2i2.16168

Abstract

ABSTRACT Coffee powder as one of the processed products of the roasting coffee had a weakness that was giving a waste of brewing dreg. One of the efforts which could be done to reduce the brewing dreg was by making the dip coffee. Besides the dip coffee, the herbal coffee products such as the cinnamon was one of the diversification products of the processed coffee to obtain a new aroma and flavour and to obtain the healthy effect. This research aimed to know the dip cinnamon coffee characteristics by the roasting coffee difference level, the cinnamon powder concentration, and the treatment which resulted a good dip cinnamon coffee on its physical, chemical and organoleptic characteristics. This research used the Completely Randomized Design which consisted two factors; they were the roasting coffee level (light, medium, dark) and the cinnamon powder concentration (2%, 4%, 6%). Each treatment was used 3 repetitions. The physical and chemical characteristics test and the organoleptic preference were done on the dip cinnamon coffee product. The gained data of this research was calculated and analyzed using ANOVA and descriptive which were described in histogram. The research result showed that the best treatment from the chosen affectivity test result was the dark roasting coffee by 2% of the cinnamon powder concentration which resulted 26.13 of the lightness steeping value, 0.60% of sari content, 34.46 mg GAE/gram of the polyphenol total, 70.34% of antioxidant activity, color preference 7.08 (more prefer), aroma preference 7.04 (more prefer), taste preference 6.56 (less prefer), and whole preference 7 (more prefer).Keywords: Dip coffee; Cinnamon; Roasting level ABSTRAK Kopi bubuk sebagai hasil olahan kopi sangrai memiliki kelemahan yaitu masih meninggalkan ampas hasil penyeduhan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi ampas hasil penyeduhan diantaranya dengan pembuatan kopi celup. Selain kopi celup, produk kopi herbal seperti penggunaan kayu manis juga merupakan salah satu diversifikasi produk olahan kopi untuk memperoleh aroma dan cita rasa baru serta memperoleh efek kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat kopi kayu manis celup dengan perbedaan tingkat penyangraian kopi dan konsentrasi bubuk kayu manis serta perlakuan yang menghasilkan kopi kayu manis celup dengan sifat fisik, kimia, dan organoleptik yang baik. Penelitian ini dirancang denganmenggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor, yaitu tingkat penyangraian kopi (light, medium, dark) dan konsentrasi bubuk kayu manis (2%, 4%, 6%). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Pengujian karakteristik fisik dan kimia serta kesukaan organoleptik dilakukan terhadap produk kopi kayu manis celup. Data yang didapat dari hasil pengamatan diolah dan dianalisis secara ANOVA dan Deskriptif yang digambarkan dengan histogram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik dari hasil uji efektivitas yang terpilih adalah perlakuan penyangraian kopi dark dengan konsentrasi bubuk kayu manis 2% yang menghasilkan nilai lightness seduhan 26,13, kadar sari 0,60%, total polifenol 34,46 mg GAE/gram, aktivitas antioksidan 70,34%, kesukaan warna 7,08 (agak suka), kesukaan aroma 7,04 (agak suka), kesukaan rasa 6,56 (sedikit suka), dan kesukaan keseluruhan 7 (agak suka).Kata Kunci: kopi celup, kayu manis, tingkat penyangraian
KARAKTERISTIK CAKE YANG DIBUAT DENGAN SUBTITUSI CAMPURAN TEPUNG PISANG BATU (Musa balbisiana colla) DAN UBI JALAR KUNING (Ipomea batatus L.) Nugroho Setya Budi; Yhulia Praptiningsih; Maryanto Maryanto
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 2 No 2 (2019): MEI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v2i2.16170

Abstract

ABSTRACT Cake is made from wheat flour, sugar, and eggs. The supply of wheat flour depends on wheat import. The wheat imports predicted to continue to increase, so it is necessary to find an alternative to reduce the use of wheat flour as a primary ingredient of cake sourced from local raw materials which low utilized. Balbisiana banana was a low class of banana which had a low optimal utilization because it was disliked by the people. Balbisiana banana had a dark lightness so it was needed to add the yellow sweet potato flour to increase the brightness of the cake. Balbisiana banana and yellow sweet potato flour could be used as wheat to substitution because had high starch content, good nutritional value and low IG value. The purpose of this research was to know the influence of the proportion of balbisiana banana and yellow sweet potato flour on the physical and organoleptic characteristics of cake, to know the proportion of balbisiana banana and yellow sweet potato flour on cake with good properties and high preference, and chemical properties of cake high preference. The results showed that the proportion of balbisiana banana and yellow sweet potato flour significantly affected on color (lightness), loaf volume, and staleness, and there were difference on preference of color, flavor and overall but not difference taste and staleness (p <0.05). Cakes with good properties and high preference were P5 (10% balbisiana banana flour: 40% yellow sweet potato flour) and P6 (50% yellow sweet potato flour). This cake had moisture content 26,21% - 27,58%, ash content 1,19% - 1,26%, fat content 20,42% - 21,23%, protein content 11,45% - 11,74%, and carbohydrate content 38,26% - 40,65%. Keywords: balbisiana banana flour, yellow sweet potato, cake ABSTRAK Cake adalah kue berbahan dasar terigu, gula, dan telur. Ketersediaan terigu tergantung pada hasil impor gandum. Impor terigu diprediksi akan terus mengalami peningkatan, sehingga perlu dicari alternatif untuk mengurangi penggunaan terigu sebagai bahan dasar cake yang bersumber dari bahan baku lokal yang belum termanfaatkan secara optimal. Pisang batu termasuk pisang kelas rendah yang pemanfaatannya kurang optimal karena kurang disukai. Tepung pisang batu memiliki warna cenderung gelap sehingga perlu penambahan tepung ubi jalar kuning untuk meningkatkan kecerahan warna cake. Tepung pisang batu dan ubi jalar kuning dapat digunakan sebagai bahan substitusi terigu karena adanya kandungan pati yang tinggi, memiliki nilai nutrisi yang baik dan juga memiliki nilai IG yang rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh proporsi tepung pisang batu dan tepung ubi jalar kuning terhadap karakteristik fisik dan organoleptik cake, mengetahui proporsi dengan tepung pisang batu dan tepung ubi jalar kuning pada cake dengan sifat-sifat yang masih baik dan disukai, serta kandungan kimia cake perlakuan yang masih baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi tepung pisang batu dan tepung ubi jalar kuning berpengaruh nyata terhadap warna (lightness), daya kembang, dan staleness, serta terdapat perbedaan tingkat penerimaan panelis terhadap parameter warna, aroma dan keseluruhan namun tidak terdapat perbedaan tingkat penerimaan panelis terhadap parameter rasa dan tekstur (p<0,05). Cake dengan sifat-sifat yang masih baik dan disukai terdapat pada proporsi P5 (10% tepung pisang batu: 40% tepung ubi jalar kuning) dan P6 (50% tepung ubi jalar kuning). Karakteristik kimia cake yang masih baik mengandung kadar air 26,21% - 27,58%, kadar abu 1,19% - 1,26%, kadar lemak 20,42% - 21,23%, kadar protein 11,45% - 11,74%, dan kadar karbohidrat 38,26% - 40,65%. Kata kunci: pisang batu; ubi jalar kuning; cake
ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI CABE JAWA (Peeper retrofractum) Di RESORT WONOASRI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI (TNMB) KABUPATEN JEMBER Deby Rimba Samudra Fernandez Dacosta; Luh Putu Suciati; Djoko Soejono
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 2 No 2 (2019): MEI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v2i2.16172

Abstract

ABSTRACT One of the supporters of the national parks of Meru Betiri National Park (TNMB) in land rehabilitation is for the purpose of enhancing the ability and independence community in benefiting forest resource and land optimally. Chilli plant is a plant endemic to Java, which is in the Meru Betiri National Park National Park (TNMB) in addition Java is chili plants intercrop in Meru Betiri National Park as it can grow under the shade of a tree of principal. In addition the existence of the programme planning of aquaculture farming Java Chilli can also increase the income of farmers in land rehabilitation of Meru Betiri National Park National Park (TNMB). This research aims to know the: (1) financial feasibility analysis of effort of land rehabilitation Resort Java Chilli Wonoasri Meru Betiri National Park National Park (TNMB) District Jember; (2) the sensitivity of farming Java Chili against the decline in production and a decrease in the price of production. The research results showed that: (1) analysis ofthe feasibility of farming chili Java at Resort Wonoasri Garden Meru Betiri National Park (TNMB) with the investment criteria of Jember District shows the result with the value as follows: Net Present Value (NPV) worth Rp 94,783,796; PR worth 13.63; Net benefit Cost (Net/B/C) worth 13.63; Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C) worth 3.71 and Internal Rate of Return (IRR) is worth 43.7%. Based on the results of financial eligibility criteria then Java chili farming deserves to be run and developed. (2) J ava chili farming is not sensitive to a decrease in production of 40% so that the Java chili farming is still eligible to run and developed and insensitive Java chili farming is taking action against a price reduction of 18%.Keywords: Java Chili, Feasibility Analysis, Sensitivity Analysis ABSTRAK Salah satu kegiatan pendukung Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) di lahan rehabilitasi adalah dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam mendapatkan manfaat sumberdaya hutan dan lahan secara optimal. Tanaman cabe jawa merupakan tanaman endemik yang berada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) selain itu tanaman cabe jawa merupakan tanaman sela di Taman Nasional Meru Betiri karena dapat tumbuh dibawah naungan pohon pokok. Selain itu dengan adanya program tersebut perencanaan budidaya usahatani cabe jawa juga dapat meningkatkan pendapatan petani di lahan rehabilitasi Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) analisis kelayakan finansial usaha cabe jawa lahan rehabilitasi Resort Wonoasri Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Kabupaten Jember; (2) sensitivitas usahatani cabe jawa terhadap penurunan produksi dan penurunan harga produksi. Hasil penelitianmenunjukan bahwa: (1) analisis kelayakan usahatani cabe jawa di Resort Wonoasri Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Kabupaten Jember dengan kriteria investasi menunjukkan hasil dengan nilai sebagai berikut: Net Present Value (NPV) bernilai Rp 94.783.796; PR bernilai 13,63; Net benefit Cost (Net B/C) bernilai 13,63; Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C) bernilai 3, 71 dan Internal Rate of Return (IRR) bernilai 43,7%. Berdasarkan hasil kriteria kelayakan finansial maka usahatani cabe jawa layak untuk dijalankan dan dikembangkan. (2) Usahatani cabe jawa tidak peka terhadap penurunan produksi sebesar 40% sehingga usahatani cabe jawa masih layak untuk dijalankan dan dikembangkan dan usahatani cabe jawa tidak peka tehadap penurunan harga sebesar 18%. Kata Kunci: Cabe Jawa, Analisis Kelayakan, Analisis Sensitiitas.
IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN MOLEKULER 21 VARIETAS PADI AROMATIK (Oryza sativa L.) BERDASARKAN PENANDA RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) Irza Guari Syah Fitri; Tri Handoyo
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 2 No 2 (2019): MEI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (804.3 KB) | DOI: 10.19184/bip.v2i2.16174

Abstract

ABSTRACT Aromatic rice (Oryza sativa L.) is one type of rice that has aroma and high selling price than non-aromatic rice. The variety development is needed to form superior aromatic rice. The variety development requires information about kinship and diversity between varieties. Kinship analysis with identification of morphological characteristics is an observation based on taxonomic approach. This research aims to determine the morphological characteristics and kinship of 21 aromatic rice varieties. The research was conducted from March to September 2018 with a randomized block design (RBD) of 3 replications. Observation variables used plant height (cm), number of productive tillers (tiller), age of flowering and harvesting (days), weight of 100 grain (gram), shape of grain, color of grain, color of rice and DNA band pattern as molecular data. Morphological data were analyzed by variance (ANOVA) and cluster analysis with UPGMA program (Unweight Pair Group Method with Arithmetic Mean) using DIST Coefficient on NTSYS 2.02 software. Molecular data showed in visualisation of DNA band using Primer OPB-07 based on RAPD marker. The research results showed the differences in morphological characters and kinship levels. Cluster analysis forms 2 clusters and 2 sub-clusters. Keywords: Aromatic Rice, Mophological Diversity, RAPD, Dendrogram ABSTRAK Padi aromatik (Oryza sativa L.) merupakan salah satu jenis padi yang memiliki aroma wangi dan memiliki harga jual yang lebih tinggi dibanding padi biasa. Pengembangan varietas diperlukan untuk membentuk padi aromatik yang lebih unggul. Pengembangan varietas membutuhkan informasi tentang kekerabatan dan keanekaragaman antar varietas. Analisis kekerabatan dengan identifikasi karakteristik morfologi merupakan suatu observasi berdasarkan pendekatan taksonomi. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfologi dan molekuler 21 varietas padi aromatik. Percobaan dilakukan di mulai Maret - September 2018 dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 3 ulangan. Variabel pengamatan menggunakan tinggi tanaman (cm), jumlah anakan produktif (batang), umur berbunga dan panen (HSS), bobot 100 gabah, bentuk gabah, warna gabah, dan warna beras serta pola pita DNA sebagai data molekuler. Data morfologi dianalisis dengan ragam (ANOVA) serta dianalisis gerombol dengan program UPGMA (Unweight Pair Group Method with Arithmetic Mean) menggunakan DIST Koefisien pada software NTSYS 2.02. Data molekuler ditunjukkan dalam bentuk visualisasi DNA menggunakan primer OPB-07 berdasarkan penanda RAPD. Hasil percobaan menunjukkan perbedaan karakter morfologi dan tingkat kekerabatan yang berbeda. Analisis gerombol membentuk 2 cluster dan 2 sub-cluster. Kata kunci: Padi Aromatik, Kekerabatan Morfologi, RAPD, Dendrogram
PENGARUH JENIS AUKSIN TERHADAP PEMBENTUKAN KALUS DAN DAYA REGENERASI TIGA VARIETAS PADI LOKAL Zaiyin Rizky Ageng Maulidia; Wahyu Indra Duwi Fanata
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 2 No 2 (2019): MEI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1006.39 KB) | DOI: 10.19184/bip.v2i2.16175

Abstract

ABSTRACT Indonesia is rich in rice genetic diversity in the form of javanica rice. Subspecies javanica have some superiority characters, among others a strong plant tissue, but in generally they have low productivity. Weaknesses of javanica rice can be repaired by biotechnology through genetic transformation techniques from callus of plant. Auxin types and genotypes are important factors for callus induction and plant regeneration. Therefore, this research held for know callus introduction and plant regeneration of three varieties of Javanica rice (Pendok, Genjah Arum, and Menthik Wangi Susu) combined with type of auxin (2,4-D and pychloram). The experimental design of RALs two factorials, there are three varieties of rice (Pendok, Genjah Arum, and Menthik Wangi Susu) and two types of auxin (2,4-D and Pychloram) and analyzed by DMRT α5%. The results of this study is Mentik Wangi Susu have highest regeneration than Pendok and Genjah Arum. The use of 2,4-D resulted in a higher callus induction and plant regeneration than pychloram in the three rice varieties used. While the best combination of treatments for callus induction and regeneration is Menthik Wangi Susu and 2,4-D. Keyword: auxin, javanica, callus induction, plant regeneration. ABSTRAK Indonesia kaya akan keragaman genetik padi berupa padi javanica. Padi sub spesies javanica memiliki beberapa keunggulan diantaranya jaringan tanaman yang kuat, namun pada umumnya mempunyai tingkat produktivitas gabah yang rendah. Kelemahan pada padi javanica dapat diperbaiki dengan bioteknologi melalui teknik transformasi genetik menggunakan jaringan kalus. Genotip dan jenis auksin merupakan faktor penting dalam induksi kalus dan regenerasi tanaman padi secara in vitro. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui daya pembentukan kalus dan regenerasi pada tiga varietas padi javanica, yaitu Pendok, Genjah Arum, dan Menthik Wangi Susu yang dikombinasikan dengan perlakuan jenis auksin berupa penggunaan 2,4-D dan pikloram. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL dua faktorial yaitu varietas tanaman padi dan jenis auksin dengan pengujian menggunakan DMRT α5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga varietas padi yang digunakan, varietas Mentik Wangi Susu menunjukan daya regenerasi yang tertinggi dibandingkan varietas Pendok dan Genjah Arum. Penggunaan 2,4-D menghasilkan tingkat pengkalusan dan regenerasi yang tinggi dibandingkan pikloram pada tiga varietas padi yang digunakan. Sedangkan kombinasi perlakuan yang terbaik untuk induksi kalus dan daya regenerasi adalah penggunaan varietas Menthik Wangi Susu dan auksin dalam bentuk 2,4-D. Kata Kunci: auksin, javanica, induksi kalus, regenerasi tanaman.
SIKLUS HIDUP PENGGEREK BUAH KOPI (Hypothenemus hampei Ferr.) PADA PERBEDAAN PAKAN ALAMI BUAH KOPI DAN PAKAN BUATAN Muhammad Erfan; Hari Purnomo; Nanang Tri Haryadi
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 2 No 2 (2019): MEI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v2i2.16176

Abstract

ABSTRACT Coffee Berry Borer (Hypothenemus hampei Ferr.) Is the main pest in coffee plants in Indonesia. Characteristics of coffee berries that are attacked by pests, there is a small hole in the coffee berry and powder around it. Control is carried out biologically, technically, and chemically. These control techniques need to be tested for effectiveness in the laboratory. The test requires the insect H. hampei as a test insect. H. hampei can be obtained by mass propagation. Mass propagation can be done using artificial diet. This study was conducted to determine the effect of artificial diet on the life cycle of H. hampei. This study uses descriptive methods on 2 types of feed treatment; natural diet of coffee berry and artificial diet made from wheat powder and coffee powder. The results showed that the number of eggs produced by H. hampei in natural diet treatment could range from 30 to 46 eggs and every 3 days observation could lay eggs from 0 to 22 eggs. The percentage of eggs that succeeded in being imago was 95.32% with a sex ratio of 1: 10. The duration of life of H. hampei ranged from 100 to 150 days, with a period of 5-6 days, larvae 18-19 days and pupae 4-5 days. In the artificial diet, the egg method is able to grow into a second instar larval stage with a life span of 19 days. Keywords: Life Cycle, Coffee Berry Borer, Natural Diet, Artificial Diet ABSTRAK Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei Ferr.) merupakan hama utama padla tanaman kopi di Indonesia. Ciri – ciri buah kopi yang terserang hama ini, yaitu terdapat lubang kecil pada buah kopi dan serbuk disekitarnya. Pengendalian dapat dilakukan secara biologi, kultur teknis, dan kimiawi. Teknik – teknik pengendalian tersebut perlu diuji keefektifannya di laboratorium. Pengujian tersebut memerlukan serangga H. hampei sebagai serangga uji. Serangga H. hampei dapat diperoleh dengan perbanyakan secara massal. Perbanyakan massal dapt dilakukan dengan menggunakan pakan buatan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pakan buatan terhadap siklus hidup serangga H. hampei. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif pada 2 macam perlakuan pakan; pakan alami buah kopi dan pakan buatan dari bahan dasar bubuk gandum dan bubuk kopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah telur yang dihasilkan serangga H. hampei pada perlakuan pakan alami mampu berkisar 30 – 46 telur dan setiap 3 hari pengamatan dapat bertelur 0 – 22 telur. Persentase telur yang berhasil menjadi imago 95,32% dengan sex rasio 1 : 10. Lama hidup H. hampei berkisar 100 – 150 hari, dengan masa telur 5 – 6 hari, masa larva 18 – 19 hari dan masa pupa 4 – 5 hari. Pada pakan buatan yang menerapakan metode telur mampu tumbuh menjadi stadia larva instar 2 dengan masa hidup larva sampai 19 hari. Kata Kunci: Siklus Hidup, Penggerek Buah Kopi, Pakan Alami, Pakan Buatan

Page 1 of 1 | Total Record : 8